Sejarah Ahmadiyah di Jakarta

Tabligh Ahmadiyah Masuk ke Batavia

Maulana Rahmat Ali sampai di Batavia pada tahun 1931 untuk melebarkan sayap Ahmadiyah di Pulau Jawa, setelah sebelumnya bertugas di Sumatera Barat. Pada mulanya beliau menumpang tinggal di sebuah rumah petak kecil di kawasan Bungur, yang didiami keluarga Daud Bangso Diradjo, Ahmadi asal Padang. Di rumah tersebut tinggal juga famili Daud yang lain yakni Jamal dan Acin. Lambat laun rumah tersebut dirasakan kurang memadai sebagai tempat kegiatan Ahmadiyah, sehingga kemudian mereka pindah ke sebuah rumah besar yang terletak di Defensielijn van den Bosch nomor 139, Weltevreden, dengan sewa 40 gulden sebulan[1].

Pada waktu itu di Batavia sudah ada pula pengikut Ahmadiyah yang lain dari Padang yakni Abdul Gani, Abdul Jalil dan Maralin. Setelah pindah ke rumah baru itu, Rahmat Ali mulai melakukan kegiatan dakwahnya, sehingga tidak berapa lama rumah tersebut ramai dikunjungi orang yang ingin mendapat penjelasan tentang Ahmadiyah. Diantara usaha beliau untuk menghimpun orang adalah dengan mengadakan kursus Bahasa Arab. Kursus ini diikuti oleh beberapa orang pegawai, diantaranya: Soemarna, R. Hidayat, R. Moh. Anwar dari Garut, Tahar Sutan Marajo dari Padang, serta Hasan Delais dari Palembang.

Dari Sawah Besar, seorang Manado bernama Th. Dengah beserta isterinya Nyi R. Soekarsih dari Sukabumi, serta Simon Kohongia yang menumpang pada keluarga Dengah itu sering juga mengunjungi Maulana Rahmat Ali. Akhirnya rumah di Jalan Defensielijn van den Bosch itu menjadi tempat serba guna untuk dakwah, kursus, dan juga sebagai Masjid. Kelanjutannya sudah dapat ditebak bahwa keluarga Dengah dan Simon Kohongia lantas bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah. Hingga sekarang keturunan dari keluarga-keluarga tersebut merupakan orang-orang Ahmadi yang mukhlis.

Oleh karena dari hari ke hari pengikut Maulana Rahmat Ali bertambah banyak juga maka mereka bersepakat membentuk pengurus. Susunan pengurus Ahmadiyah pertama Betawi terbentuk pada tahun 1932 dengan ketua Abdurrazak dan Sekretaris Simon Kohongia yang juga dilengkapi dengan beberapa Sekretaris lainnya yang beranggotakan lebih kurang 27 orang.

Ketika Ahmadiyah pada tahun 1932 telah mulai berkembang di Batavia dan Bogor, dari beberapa orang Ahmadi timbul keinginan untuk menerbitkan sebuah majalah bulanan, agar seruan Ahmadiyah itu lebih meluas. Ketika itulah Hasan Delais, Taher Marajo, Abul Aziz Shareef , Abdul Samik, Yahya Pontoh, Th. Dengah, Abdul Razak dan Abdul Gani berusaha untuk menerbitkan majalah bulanan yang diberi nama “Sinar Islam[2]. Majalah tersebut dipimpin oleh sebuah komisi yang bernama “Commissie van Redactie“, beralamat di Def. v.d. Bosch 139 Weltevreden. Mulai saat itulah Ahmadiyah melancarkan pertablighan melalui Majalah “Sinar Islam” yang sekaligus dipergunakan juga untuk menjawab tuduhan dan fitnahan yang dilontarkan berbagai organisasi dan majalah-majalah[3] mereka. Oleh orang-orang Ahmadi majalah yang baru terbit dijadikan mass media yang giat sekali diedarkan sehingga sampai pula di kalangan kaum intelek.

ahmadiyah di jakarta

Gambar 6.1. Foto bersama Ahmadiyah Jakarta tahun 1936 bertempat di Gang Kleykamp.

Tidak lama setelah itu Rahmat Ali dalam bulan Maret 1933 pindah ke Gang Bunder di Pasar Baru. Beliau menempati rumah petak semi permanen milik H. Abdullah yang rumahnya cukup besar dan memiliki serambi depan yang luas. Dengan berpindahnya pusat kegiatan Ahmadiyah dari Defensielijn v.d. Bosch ke gang Bunder, maka alamat “Sinar Islam” pun dalam penerbitannya selanjutnya memakai alamat yang sama. Patut juga diketengahkan disini Majalah “Sinar Islam” terbit terus hingga tahun 1987[4].

 

Officieel Verslag Debat

Perdebatan dan diskusi terbuka adalah suatu metode dakwah yang sangat ampuh dipergunakan oleh Ahmadiyah. Dengan semakin meluasnya daerah pertablighan, semakin banyak pula reaksi dan perlawanan umum terhadap Ahmadiyah. Salah satu penantang sengit Ahmadiyah adalah organisasi Persis[5] yang dipimpin oleh A. Hassan, yang lebih dikenal dengan “Hassan Bandung” guru dari Almarhum Mohammad Natsir mantan Ketua Rabithah Alam Islami dan DDII[6] yang terkenal itu. Berkali-kali terjadi surat menyurat dan diskusi antara Ahmadiyah dan “Pembela Islam” yang merupakan media Persis itu, dan selanjutnya timbul kesepakatan diantara kedua belah pihak untuk mengadakan suatu pertemuan yang ketika itu disebut “Openbare Debatvergadering[7] yang pertama kalinya diadakan pada bulan April tahun 1933, bertempat di gedung Sociteit “Ons Genoegen” Naripanweg, Bandung[8].

Perdebatan ini mendapat perhatian luar biasa dari pengunjung yang terdiri dari orang-orang Ahmadi dan masyarakat Islam kota Bandung. Ketika perdebatan berlangsung selama beberapa hari di Bandung beberapa media pers di Bandung dan Batavia meliput peristiwa yang jarang terjadi ini. Nama Ahmadiyah semakin terkenal dan hal demikian sangat menguntungkan dakwahnya. Banyak diantara pengunjung memuji ketangguhan Ahmadiyah dalam perdebatan itu, tetapi tidak sedikit juga diantara mereka yang memutar balikkan fakta dengan mengatakan bahwa Ahmadiyah telah dikalahkan oleh A. Hassan dengan dalil-dalil yang tangguh. Beberapa Ulama dari Bandung, Singaparna, Tasikmalaya, Garut, Cianjur dan Sukabumi, yang dipelopori oleh Anwar Sanusi dan Al-Hadad lewat surat kabar Al-Mukmin, mencaci maki habis-habisan Ahmadiyah. Sebagai hasil dari perdebatan itu telah diterbitkan buku “Verslag Debat resmi” yang ditanda-tangani oleh kedua belah pihak yang berdebat, pemimpin dan Verslaggevernya.

Sementara itu masih ada pihak-pihak yang belum puas dengan hasil perdebatan itu dan mereka berusaha mempertemukan kembali kedua pihak itu dalam suatu perdebatan yang kedua. Setelah diadakan persiapan-persiapan seperlunya maka ditetapkanlah bahwa perdebatan kedua[9] itu akan diadakan di Gedung Permufakatan Nasional di Gang Kenari, Batavia.

Perdebatan ini mendapat perhatian yang luar biasa dari masyarakat Batavia dan empat puluh tahun kemudian Majalah Tempo mengutip halaman pertama dari Verslag Debat tersebut pada laporan Utama Majalah itu. [10]

Perdebatan ini juga dibukukan oleh kedua belah pihak dan Pihak Jemaat Ahmadiyah telah berkali-kali mencetak ulang notulen perdebatan itu[11]  itu sebagai alat pertablighan mereka kepada orang-orang yang ingin mengenal Ahmadiyah.

Dalam tahun 1930-an itu saja telah terjadi tiga kali[12] perdebatan Jemaat Ahmadiyah dengan pihak Pembela Islam yang kesemuanya memberikan efek yang bagus bagi pertablighan Ahmadiyah. Banyak juga orang-orang bergabung kepada Jemaat Ahmadiyah sehabis menyaksikan perdebatan itu. Umumnya Panitia penyelenggara perdebatan-perdebatan tersebut yang sebelumnya adalah orang-orang independen, setelah menyaksikan berkali-kali jalannya perdebatan itu tidak biasa mengelak lagi dan kemudian masuk kedalam Ahmadiyah. R.Mohammad Muhyidin yang bertindak sebagai Moderator pada perdebatan di Gang Kenari itu adalah salah seorang diantara mereka yang kemudian memilih untuk bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah, merupakan Ketua Hoofbestur Jemaat Ahmadiyah  yang pertama pada tahun 1935. Selain perdebatan dengan Pembela Islam, Jemaat Ahmadiyah juga ikut dalam perdebatan antara pihak Islam dan pihak Kristen yang diadakan di akhir tahun 1933 di kota Garut. Dari pihak Kristen Advent diwakili oleh pendeta-pendeta Wedding, Francis dan Meyers sedangkan dari pihak Islam diwakili oleh Maulana Rahmat Ali dari Ahmadiyah, KH Moestafa Kamil dari PSII dan Haji Ahmad Soebandi dari Muhammadiyah. Baik pihak PSII ataupun pihak Muhamadiyah kedua-duanya menyerahkan waktunya kepada Maulana Rahmat Ali untuk mengemukakan hujjah-hujjahnya kepada pihak Kristen Advent tesebut. Masalah kematian Yesus di tiang salib serta penebusan dosa menjadi topik yang diperbincangkan dalam perdebatan itu. Maulana Rahmat Ali dengan tangkas dan cekatan sekali mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang membuat pendeta-pendeta itu kagum, betapa Maulana Rahmat Ali mempelajari juga Bibel, tidak seperti kebanyakan Ulama-Ulama mainstream Islam lainnya yang sama sekali tidak mau menyentuh Al-Kitab orang Kristen tersebut. Perdebatan-perdebatan di tahun 1933 merupakan titik tolak perkembangan Ahmadiyah selanjutnya. Perdebatan-perdebatan itu telah mengundang beratus-ratus orang untuk memasuki Ahmadiyah dan mereka adalah benih-benih yang kemudian menyebar dan tumbuh lagi di tempat lain. Sebuah kesempatan mengembangkan Ahmadiyah dengan jalan pertemuan umum, ceramah-ceramah, diskusi dan bertukar pikiran kini terbuka lebar. Metode cara pertablighan ini tetap dilakukan oleh orang-orang Ahmadi diberbagai belahan dunia hingga sekarang ini. Suatu metode yang sangat ampuh untuk memperkenalkan Ahmadiyah dan menghimpun orang kedalam Jemaat ini.

Berdirinya Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Setelah sepuluh tahun Ahmadiyah ada di Nusantara dan sudah mendirikan Cabang-cabangnya di Bogor, Padang, Batavia, dan wilayah-wilayah lainnya, maka dirasakan perlu untuk membentuk Hoofdbestur atau Pengurus Besar (PB) menurut istilah sekarang. Untuk keperluan tersebut, maka pada tanggal 25 dan 26 Desember 1935 berkumpullah tokoh-tokoh terkemuka Ahmadiyah di Clubgebow Kleykampweg 41 Batavia. Mereka adalah: Maoelana Rahmat Ali HAOT,  R. Mohammad Moehyiddin, R. Kartaatmaja, Taher Gelar Soetan Toemenggoeng,  Sirati Kohongia, R. Soemadi Gandakoesoemah, Mohammad Tayib, Th. Dengah, Syagaf Tormoelo,  R. Hidayath, M. Oesman Natawijaya,  Soelaiman Effendi,  R. Soedita.

Pada Konferensi ini terbentuklah susunan Hoofdbestuur Ahmadiyah Departemen sebagai berikut:

Presiden A’la   : R. Mohammad Muhyiddin

Sekretaris I      : Sirati Kohongia

Sekretaris II     : Moh. Usman Natawijaya

Anggota             :

  1. R. Markas Atmasasmita
  2. R. Hidajath
  3. R. Sumadi Gandakusumah
  4. R. Kartaatmaja
sejarah ahmadiyah jakarta

Gambar 6.2. R. Mohammad Muhyiddin, Presiden A’la pertama Hoofdbestuur (Pengurus Besar) Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia

Mohammad Muhyiddin menjadi Presiden A’la Ahmadiyah Indonesia selama 11 tahun, dari tahun 1935 s/d 1946, sebelum akhirnya beliau diculik oleh pemerintah Belanda pada delapan hari sebelum peringatan kemerdekaan Republik Indonesia pertama. Sampai dengan kini, jenazah beliau tidak diketahui dimakamkan dimana.

maulana rahmat ali

Gambar 6.3. Maulana Rahmat Ali (duduk di kursi paling tengah) berfoto bersama Pengurus Besar Anjuman Ahmadiyah Departemen Indonesia. Duduk di kursi dari kiri ke kanan: Usman, Dengah, Abdur Razak, Mln. Rahmat Ali, R. Moh. Muhyiddin, Sirati Kohongia, Assegaf. Duduk bersila dari kiri ke kanan: Hidayat, R. Kartaatmaja, R. Hidayat, R. Abdurrahman.

Pada tahun 1937 susunan tersebut dilengkapi lagi dengan Sub Office Tahrik Jadid yang dipegang langsung oleh R. Abdurrahman Ahmadi. Beberapa badan lainnya dibawah Jemaat Ahmadiyah menyusul terbentuk seperti Majlis Ansharullah, Lajnah Imailah, dan Majelis Khuddamul Ahmadiyah.

Maulana Rahmat Ali mengambil cuti lagi pada tahun 1937 dan kembali pulang ke Qadian selama satu tahun. Untuk itu diangkat R. Kartaatmaja dengan jabatan Pembantu Amir Muballigh menggantikan Maulana Rahmat Ali selama menjalankan cutinya itu. Sebelum Maulana Rahmat Ali mengambil cutinya, barisan Muballigh Nusantara diperkuat lagi dengan kedatangan Missionaris Tahrik Jadid. Imam Jemaat Ahmadiyah Internasional Hadhrat Khalifatul Masih II pada tahun 1936 telah mengirim dua orang Muballigh lagi dari Qadian menyusul permintaan orang-orang Ahmadi di Garut. Mereka itu ialah Maulana Abdul Wahid HA dan Maulana Malik Aziz Ahmad Khan yang diperbantukan kepada Maulana Rahmat Ali. Kedua orang Muballigh dari Pusat itu sampai di Batavia pada tanggal 13 April 1936, yang dijemput oleh Abdul Jalil dkk, dan untuk sementara ditempatkan di Gang Kleykamp 41 Batavia. Para Muballigh itu, yakni Sayyid Shah Muhammad al-Jaelani ditempatkan oleh Maulana Rahmat Ali di Purwokerto, Maulana Abdul Wahid, HA. ditugaskan di Garut pada tahun yang sama, dan Maulana Malik Aziz Ahmad Khan ditugaskan di Surabaya pada tahun 1937.

Pembangunan pertama Masjid Al-Hidayat di Jakarta selesai pada tahun 1937, dan peresmiannya dilakukan pada tanggal 20 Februari 1937 oleh R. Kartaatmaja selaku Wakil Amir Muballigh Anjuman Ahmadiyah Qadian Departemen Indonesia. Selang beberapa bulan setelah itu, dilaksanakan Kongres Ahmadiyah kedua, yakni tepatnya pada tanggal 12-13 Juni 1937 berlokasi di Masjid Al-Hidayath, Petojo Udik VII/10 Batavia Centrum (sekarang Jl. Balikpapan I/10 Jakarta Pusat), dan dihadiri oleh perwakilan Ahmadiyah dari Jakarta dan Jawa Barat. Dalam Kongres tersebut disusun AD/ART yang disesuaikan dengan bentuk organisasi di Markaz Ahmadiyah di Qadian, dan nama AAQDI ditetapkan menjadi ANJUMAN AHMADIYAH DEPARTEMEN INDONESIA (AADI). Penyusunan AD/ART tersebut oleh suatu panitia yang terdiri dari R. Moh. Muhyiddin, R. Hidayath, Mln. Abdul Wahid, HA.Sy. dan Mln. Malik Aziz Ahmad Khan.

Sejak tahun 1937, sekretariat pengurus besar berkedudukan di dua tempat yakni di Jakarta dan Yogyakarta. Mln. Rahmat Ali berkedudukan di Jakarta, sedangkan Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jaelani berkedudukan di ibukota saat itu Yogyakarta. Perlu dicatat bahwa Mln. Sayyid Shah Muhammad Al-Jaelani diutus ke Indonesia pada tahun 1937, sebelumnya beliau bertugas di Singapura. Selain itu, Pada tahun 1937 juga susunan Hoofdbestuur (Pengurus Besar) tersebut dilengkapi lagi dengan Sub Office Tahrik Jadid yang dipegang langsung oleh R. Abdurrahman Ahmadi.

Dalam zaman pemerintahan Jepang, periode 1941 s/d 1945, akibat kebijakan pemerintah Jepang yang berkuasa saat itu, kegiatan tabligh dan organisasi Ahmadiyah praktis mengalami kevakuman yang hampir melumpuhkan organisasi. Masa ini dimanfaatkan oleh Mln. Rahmat Ali untuk menyiapkan naskah buku-buku penting dalam bahasa Indonesia, seperti: Kebenaran Al-Masih Akhir Zaman, Masyarakat Islam, Rukun Iman Mengenai Malaikat, Islam dan Dunia Baru, Rahasia-rahasia Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw., serta beberapa judul lainnya. Dalam pekerjaan penting ini, beliau mendapat bantuan dari Bakhtiar Martapura, R. Kartaatmaja, Joesoef Ahmadi, Suparja, Abdurrahman Ahmadi, dan Murtolo. Buku-buku tersebut kemudian diterbitkan oleh N.V. Neratja Trading Coy. setelah Jepang menyerah kepada sekutu.

Pada tahun 1950, Mln. Rahmat Ali HA.OT. dipanggil kembali ke Pakistan. Dengan demikian, berakhir sudah masa pengkhidmatan beliau sebagai Amir-Raisut Tabligh Ahmadiyah Indonesia selama 25 tahun, sejak tahun 1925.

Berdirinya Badan-Badan Dalam Jemaat Ahmadiyah Indonesia

Sejak kaum ibu Ahmadi ada di Indonesia, misalnya di Padang atau di Jakarta, di masing-masing tempat tersebut telah mulai ada perjuangan dan pengorbanan dari kaum ibu baik dalam bidang tabligh, pengorbanan waktu, harta, tenaga, pikiran dan juga turut merasakan boikot dari pihak penentang Ahmadiyah.

Pada tahun 1935 dibentuk badan Lajnah Imaillah (organisasi perempuan). Lajnah Imaillah Indonesia pertama kali diketuai oleh Ibu H. Abdullah. Sejak tahun 1938, organisasi Lajnah Imaillah sudah mulai meluas dan menjangkau beberapa wilayah di pulau Jawa.

Selain badan Lajnah Imaillah, pada tahun 1935 juga dibentuk badan Majelis Ansharullah (organisasi pria). Majelis Ansharullah Indonesia pertama kali diketuai oleh M. Haroen.

Gambar 6.4. Pengurus Pusat Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia (PP-MKAI) angkatan pertama. Dari kiri ke kanan: R. Adang Hamid (Qaid Nasional), R. Jamhur (Sekr. Umum), R. Hadi Iman Sudita (Sekr. Mal), R. Ahmad Anwar (Sekr. Jenderal) dan R. Ibrahim Jayaprawira (Sekr. Keanggotaan)

Gambar 6.4. Pengurus Pusat Majelis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia (PP-MKAI) angkatan pertama. Dari kiri ke kanan: R. Adang Hamid (Qaid Nasional), R. Jamhur (Sekr. Umum), R. Hadi Iman Sudita (Sekr. Mal), R. Ahmad Anwar (Sekr. Jenderal) dan R. Ibrahim Jayaprawira (Sekr. Keanggotaan)

 

Lajnah Imaillah

Gambar 6.5. Lajnah Imaillah Indonesia ketika bermusyawarah di Purwokerto. Tampak dalam gambar (kiri-kanan): ibu Saleh A. Nahdi, ibu Sayyid Shah Muhammad, ibu R. Joesoef Ahmadi, dan ibu Rasli.

Penerbitan Buku-Buku

Pada tahun 1938 Maulana Rahmat Ali kembali lagi ke Batavia, sehabis menjalankan cutinya di India dan langsung memangku jabatan sebagai Missionary in-charge (Kepala Muballighin). Beliau tinggal di jalan Petodjo Ilir, Batavia Centrum bersama bapak Acep Barmawi, kemudian pindah ke rumah R. Kartaatmadja, menunggu selesainya paviliun Masjid Hidayat yang sekarang ada di jalan Balikpapan I/10, Jakarta Pusat.

ahmadiyah jakarta pusat

Gambar 6.6. Masjid Hidayath, Jakarta Pusat, merupakan tempat terakhir Mln. Rahmat Ali tinggal dan mengendalikan aktivitas pertablighan di seluruh Indonesia. Tampak dalam gambar, di samping papan nama M. Rahmat Ali tertera papan nama besar ‘Neratja Trading Coy’, lembaga penerbitan Ahmadiyah. (foto diambil sekitar tahun 1949).

Selama masa pendudukan Jepang (1942-1945) kegiatan pertablighan secara terbuka praktis tidak dapat dilaksanakan, tetapi Maulana Rahmat Ali mengisi waktunya pada masa itu dengan menulis beberapa buku. Beliau mendiktekan isi buku dimaksud dan juru tulis menuliskannya selanjutnya diketikkan. Selanjutnya beliau melakukan koreksi atas naskah hasil ketikan. Cara seperti ini terbukti berhasil menghasilkan banyak tulisan dalam masa itu. Terkadang beliau mengucapkan terima kasih kepada anggota Jemaat yang membantu beliau dalam upaya mengetikkan naskah karangan beliau. Ucapan terima kasih itu misalnya mencantumkan nama mereka sebagai pengarang buku itu[13]. Selama dalam tiga tahun itu telah dipersiapkan beberapa naskah buku-buku pertablighan dalam bahasa Indonesia[14]. Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu, buku-buku tersebut diterbitkan oleh Penerbit Neratja Trading Coy[15] dan disebarluaskan keseluruh Nusantara. Dalam masa penjajahan Jepang ini telah disusun lebih dari 90 judul naskah. Ada laporan dari beberapa Muballigh kepada beliau yang menyangka pengurus Neratja Trading Company melanggar amanah dan sempat ada sidang luar biasa terhadap pengurus itu. Beliau menanyakan keabsahan dana operasional perusahaan dan pengurus telah memberi jawaban tertulis tentang masalah itu[16]. Namun hingga beliau pulang ke Qadian hanya 20 judul yang diterbitkan, tatkala beliau pulang sempat beliau titipkan naskah-naskah yang belum dicetak kepada pengurus Neratja Trading Company yang masih bersemangat.

Gambar 6.7. Pengintensifan kembali penerbitan Ahmadiyah dengan suatu badan penerbitan Neratja Trading Company, setelah sempat vakum pada masa pemerintahan Jepang. Berdiri di tengah Mln. Rahmat Ali, bersama A. Sadikin, R. Kartaatmaja, Supardja, R. Joesoef Ahmadi, E. Dullah, Tjutju Hanafiah, E. Toyyib, R. Boenjamin, R. Ahmad Anwar dan Ahmad Satiri.

Gambar 6.7. Pengintensifan kembali penerbitan Ahmadiyah dengan suatu badan penerbitan Neratja Trading Company, setelah sempat vakum pada masa pemerintahan Jepang. Berdiri di tengah Mln. Rahmat Ali, bersama A. Sadikin, R. Kartaatmaja, Supardja, R. Joesoef Ahmadi, E. Dullah, Tjutju Hanafiah, E. Toyyib, R. Boenjamin, R. Ahmad Anwar dan Ahmad Satiri.

 

[1] Sinar Islam Nomor Jubelium, op.cit, h.13-15.

[2] Dummy-number “Sinar Islam” diterbitkan pada bulan September 1932, dicetak di Percetakan van Velthuysen, Weltevreden (Jakarta).

[3] Muslim India (Padang), Pembela Islam (Bandung), Batu Ujian (Payakumbuh), Dewan (Yogya), Sinar Atjeh (Kuraraja).

[4] Pada awal tahun 1987 Majalah ini dibredel oleh Departemen Penerangan karena majalah ini banyak menarik minat kalangan terpelajar dan beredar luas diantara Universitas dan Perguruan tinggi lainnya, tidak hanya di kalangan orang-orang Ahmadi saja. Sejak itu misi Majalah ini dilanjutkan oleh berbagai bulletin lainnya seperti “Edaran Khusus”, ” Suara Ansharullah”, “Suara Lajnah Imailiyah“, dan lain-lainnya.

[5] Persatuan Islam.

[6] Dewan Dakwah Islam Indonesia.

[7] Pertemuan Debat Terbuka.

[8] Agenda Debat sebagai berikut Tanggal 14 April 1933 : Tanya Jawab, Tanggal 15 April 1933 : Masalah hidoep matinya Nabi Isa a.s, Tanggal 16 April 1933: Lanjoetan masalah hidoep matinya Nabi Isa as.; Debater dari Ahmadiyah : Maoelana Rahmat Ali HAOT, Maoelana Aboebakar Ayoeb HA dan Maoelana Moehammad Sadiq HA. Debater dari Pembela Islam: A. Hassan cs.; Verslaggever: Taher Gelar Soetan Toemenggoeng,; Pimpinan: Moehammad Syafi’i dari PSII Bandoeng. Pengunjung: kurang lebih 1500 orang

[9] Tanggal 28 September 1933: Hidoep matinya Nabi Isa a.s.; Tanggal 29 September 1933: Ada tidaknya Nabi sesoedah  Nabi Moehammad SAW. ; Tanggal 30 September 1933: Kebenaran pendakwaan Hadhrat Mirza Ghoelam Ahmad a.s. ; Debaters pihak Ahmadiyah  adalah Maoelana Rahmat Ali HAOT dan Maoelana Aboebakar Ayyoeb HA sedangkan debaters pihak Pembela Islam  adalah  A. Hassan cs.; Verslaggever: M. Saleh SA.; Pemimpin: R. Moehyiddin. ; Pengunjung: kurang lebih 2000 orang

[10] Ahmadiyah, Sebuah Titik Yang Dilupa, Majalah Tempo nomor 29, 21 September 1974.

[11] Officieel verslag debat antara Pembela Islam dan Ahmadijah Qadian: peristiwa  besar abad 14H. by Pembela Islam (Organization); Ahmadijah Qadian (Organization); Publisher: Jakarta: Sinar Islam, [1979].

[12] Pertama tanggal 14-16 April 1933, kedua tanggal 28-29 September 1933 dan ketiga tanggal 3-5 November 1934.

[13]Takdir’ dikarang oleh Soepardja; ‘Hindu contra Muslim’ dikarang oleh Yusuf Ahmadi.

[14]Kebenaran Al-Masih akhir zaman“, “Masyarakat Islam“, “Rukun Iman mengenai malaikat“, “Islam dan Dunia Baru“, “Rahasia Isra’ dan Mikraj”.

[15] Badan Usaha ini didirikan pada 2 Oktober 1947 dengan akte notaris Sie Khwan Djioe. Terdaftar di Kehakiman Jakarta No. 259, tanggal 8 Oktober 1947 dan terdaftar di Pemerintahan No.79 tanggal 7 Oktober 1947 dengan Direktur R. Soepardja. Akta itu ditanda-tangani oleh R. Yusuf Ahmadi Soepardja, R. Bunyamin dan Bahroem Rangkoeti dan pejabat notaris O. Gaspers. LS. T. Han Sie Khwan Djioe.

[16] Tuan Soepardja kepada Khalifatul Masih IV tanggal 27 Mei 1987 menerangkan; Tidak mungkin dana operasional tersebut dari dana organisasi Jemaat, karena ketika Tuan Rahmat Ali meninggalkan Indonesia tidak memiliki harta benda. Beliau hanya meninggalkan 10 buku sudah dicetak, 13  buku siap disebarkan dan 20.000 buku siap dijual.

(Visited 135 times, 1 visits today)