Sejarah Ahmadiyah Sumatera Selatan

Tabligh Ahmadiyah Masuk ke Palembang dan Baturaja

Masih di pulau Sumatera, Palembang juga menerima pesan Ahmadiyah yang datang lewat para pedagang dari Gujarat India. Salah satunya adalah Abdurrahman, yang dalam penjelasannya menarik minat A. Halim, seorang putera asli Palembang. Selain oleh Abdurrahman, A. Halim juga menerima penjelasan tentang Ahmadiyah lewat buku-buku Ahmadiyah yang diberikan oleh Idin, sepupu A. Halim. Setelah mempelajari buku-buku tersebut dengan cermat, maka A. Halim beserta keluarganya menyatakan bai’at di tahun-tahun awal perkembangan Ahmadiyah di bumi nusantara. Dalam perkembangan selanjutnya, para Ahmadi awalin tersebut mendirikan Jemaat Ahmadiyah di Palembang.

Terbentuknya Jemaat Ahmadiyah ini menyulut rasa tidak senang, terutama dari kalangan keturunan Arab, yang dipelopori oleh seorang tokoh bernama Sayid Salim bin Jedan. Upaya penentangan ini tidak menghambat kegiatan tabligh Ahmadiyah, terlebih lagi pada tahun 1937 Mln. Ahmad Nuruddin datang ke daerah Plaju dan mengadakan dialog dengan seorang pendeta Kristen asal Timor disana. Dalam dialog tersebut sang pendeta ditemani oleh Abdullah Hasan, yang menumpang tinggal di rumah pendeta Kristen itu. Setelah mengikuti diskusi tersebut, Abdullah Hasan merasa tertarik dan bersimpati kepada Ahmadiyah. Mengetahui hal ini, sang pendeta melarang Abdullah Hasan untuk berhubungan dengan Ahmadiyah. Oleh karena mendapatkan ancaman, maka atas bantuan seorang Ahmadi bernama Masaruddin yang bekerja di KPM[1], Abdullah Hasan melarikan diri ke Jakarta. Beberapa tahun kemudian Abdullah Hasan kembali ke Baturaja, dan sejak tahun 1939 beliau berusaha mengembangkan Ahmadiyah di kalangan kerabatnya di Baturaja, hingga terbentuklah sebuah cabang Jemaat disana. Dari Baturaja, seorang da’i diangkat menjadi Muballigh yakni Hasan Tau, putera asli Ogan Komering Ulu.

[1] Konijjle Petroleum Maschappij.

 

(Visited 47 times, 1 visits today)