Sejarah Ahmadiyah Sumatera Utara

Tabligh Ahmadiyah Masuk ke Medan

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa setelah tiga bulan Maulana Muhammad Sadiq tinggal dan bertugas di Padang, beliau dipindahtugaskan ke Medan. Setibanya di Medan beliau bertemu dengan seorang pemuda asal India[1] bernama Abdul Hakim yang berprofesi sebagai pedagang roti canai dan martabak khas India. Sebagaimana biasa kedai beliau dikunjungi berbagai kalangan, termasuk diantaranya dari beberapa karyawan DSM[2] bagian bengkel. Dari beliaulah Maulana Muhammad Sadiq diberitahu bahwasanya diantara pelanggannya ada yang suka berbahas soal agama Islam. Tak berapa lama kemudian, Abdul Hakim memperkenalkan mereka dengan Maulana Muhammad Sadiq. Mereka telah lama secara rutin membahas hal-hal keIslaman dalam suatu kajian di bengkel DSM yang terletak di daerah Pulo Brayan Medan, dan selanjutnya mereka mengundang Maulana Muhammad Sadiq menjadi narasumbernya. Di bengkel tersebut beliau berkenalan dengan seorang pegawai bernama Marmin[3] dan beberapa rekan beliau[4].

ahmadiyah sumatera utara - muhammad sadiq

Gambar 4.1. Mln. Muhammad Sadiq, HA.Sy.

Dalam waktu singkat, Marmin, Said, Saidi, Saiban dan Hasyim Siregar bai’at ditangan beliau, sedangkan Tukenang[5] dan lainnya tidak bai’at. Maulana Muhammad Sadiq kemudian mendoakan agar Tukenang segera dapat dianugerahi keturunan, dan memang demikianlah adanya tak lama sesudah itu istri beliau mengandung dan segeralah Tukenang menyatakan  bai’at. Kala itu Bengkel DSM merupakan bengkel kereta api terbesar di Sumatera, sehingga banyak pekerja kereta api singgah disana. Semakin hari pengikut Ahmadiyah kian bertambah dan dengan tekun Maulana Muhammad Sadiq membimbing mereka.

 

Penentangan Mengiringi Perkembangan Ahmadiyah Sumatera Utara

 

Sebagaimana biasa, muncul perlawanan atas perkembangan Ahmadiyah di Medan. Salah satunya terjadi pada hari Idul Fitri tahun 1935 yang jatuh pada tanggal 7 Januari 1935. Di suatu tempat penyelenggaraan shalat Id di Medan, dengan imam Syekh Mahmud Khaiyyat[6] dan khatib Haji Bustami Ibrahim, dalam khutbahnya sang khatib mengkritisi paham Ahmadiyah. Beberapa hari setelah Id, dalam kurun waktu tiga bulan berturut-turut, organisasi Muhammadiyah mengundang seorang ulama asal Bukit Tinggi Syekh Muhammad Djamil Djambek untuk berdakwah menentang ajaran Ahmadiyah kepada masyarakat Medan, yang puncaknya diadakan Tabligh Akbar di gedung bioskop Hok Hoa di jalan Cantoon. Dalam tahun yang sama pula tepatnya pada 13 Juni 1935, organisasi Al-Jamiatul Washliyah menyelenggarakan Tabligh Akbar ’Menentang Kehadiran Kepertjajaan Ahmadi Qadian’. Banyak pemuka Islam[7] di Medan waktu itu yang bereaksi keras menentang Ahmadiyah, sehingga dapat dikatakan kedatangan Ahmadiyah memberi goncangan amat kuat kepada umat Islam kebanyakan disana.

Dalam perkembangan selanjutnya, para ulama penentang itu berkumpul dan mengeluarkan fatwa berkenaan Ahmadiyah, yang bunyinya antara lain:

  1. Menetapkan Hazrat Mirza Ghoelam Ahmad dicap kafir atas dasar pengakoean beliaoe sebagai nabi ataoe rasoel setelah Nabi Moehammad saw.
  2. Dan kepada pengikoet-pengikoet Hazrat Mirza Ghoelam Ahmad, jang mejakini beliaoe sebagai nabi ataoe rasoel joega termasoek kafir.

Fatwa itu diatasnamakan oleh ‘Comite Pemberantas I’tikad Ahmadijah Qadian’ yang didirikan pada 10 Oktober 1935 dengan beranggotakan sejumlah tokoh ulama terkenal seperti Abdurrahman Shihab sebagai Ketua, Mhd. Arsad Thalib Lubis sebagai Jurutulis, H.M. Hanafie sebagai Bendahara, dan beberapa Comisaris diantaranya Abdurrahman, Achmad Marzuki, Abdullah, Ismail, Abdul Malik, Mangaradja Ihutan, Djalaluddin, M.A. Dasuki, dan Kyai H.A. Madjid Abdullah[8]. Fatwa tersebut ditandatangani oleh sekitar 50 ulama[9] ,baik sebagai pribadi ataupun perwakilan lembaga. Isi keputusan itu terdiri dari 7 butir pernyataan berkenaan Ahmadiyah, antara lain:

  1. Mirza Ghoelam Ahmad dan pengikoetnya Kafir.
  2. Syahadat taoehid mereka telah binasa.
  3. Syahadat Rasoelloelah saw mereka sia-sia.
  4. Pergaoelan mereka dengan oemat Islam telah poetoes.
  5. Kalimah syahadat yang mereka tempelkan hanya oentoek menyesatkan oemat teroetama yang rendah pengetahoean agamanya.
  6. Da’wa bahwa mereka pengikoet Islam dan mengikoet Qoeran Karim tidak benar dan kosong semata.
  7. Segala perkataan mereka yang manis-manis abik dengan moeloet mereka sendiri ataoepoen jang tertoelis didalam madjallah2 dan soerat (siaran makloemat) jang sengadja mereka terbitkan, demikian jang mereka masoekan dalam soerat chabar. Jang dari kalimat2 nja terbajang party mereka ada toendoek didalam pandji2 Islam dan pengikoet Nabi Moehammad saw adalah doesta dan sesat semata2.

Selain ketujuh butir pernyataan tersebut, isi keputusan juga menetapkan 8 butir sikap bagi pengikut Ahmadiyah, yakni:

  1. Kalaoe mereka mati tidak haroes (haram) disembahjangkan, dikoeboerkan.
  2. Perkawinan (nikah) mereka, tidak sjah dan tidak halal dengan orang Islam.
  3. Sembelihan mereka tidak halal dimakan orang Islam.
  4. Tidak haroes mereka dibebaskan beribadat di Masjid2 dan langgar serta soeraoe2 wakaf oentoek orang Islam.
  5. Kitab Al-koeran dan Al-Hadist serta kitab2 agama kepoenjaan orang Islam tidak haroes diserahkan ketangan mereka.
  6. Oemat Islam tidak diharoeskan memberikan salam kepada mereka.
  7. Antara oemat Islam dengan mereka tiada poesaka mempoesakai.
  8. Dan lain-lain.

Komite itu juga memberi maklumat dengan mengutip satu artikel dari kitab Al-oi ‘lam biwaqah’hi ‘el Islam karangan Syekh Ibnu Hadjar Alhaitami, serta menghimbau umat Muslim Sumatera Utara agar menganggap murtad setiap pengikut Ahmadiyah, dan melakukan boikot total kepada mereka.

Akibat langsung dari fatwa ini adalah hujan cacian dan intimidasi kepada para Ahmadi disana. Kerap kali Ahmadiyah dijadikan bahan cerita gurauan sehari-hari[10]. Ada pula kisah memilukan tatkala para penentang itu melarang penguburan jenazah orang Ahmadi di pemakaman umum, bahkan pernah suatu keluarga Ahmadi disana dipaksa untuk menggali kembali makam anaknya yang baru meninggal supaya dikuburkan di luar pemakaman umum. Pemerintah setempat pada tahun 1935 memberikan sebuah lahan khusus pemakaman bagi warga Ahmadi disana. Akibat lainnya adalah penghentian kegiatan pembangunan Masjid Ahmadiyah disana yang dilakukan oleh pemerintah setempat, setelah adanya pendudukan Masjid oleh sekelompok pemuda yang didasarkan atas fatwa ini.

Reaksi keras juga datang dari Buya Hamka (putera dari Dr. Hadji Rasul Abdul Karim Amarullah), tokoh ulama asal Sumatera Barat yang menulis sebuah editorial dalam majalah Pedoman Masyarakat[11] di Medan yang menyatakan darah orang Ahmadi halal untuk ditumpahkan. Artikel ini mendapat respon[12] langsung dari Maulana Abubakar Ayyub yang mengajak Buya Hamka untuk berdebat mengenai pernyataannya itu, dan menyatakan bahwa sang penulis bertanggung jawab atas tulisannya tersebut. Namun surat ini tidak pernah mendapat tanggapan dari beliau, malahan beliau terus mengeluarkan pernyataan melalui berbagai tulisan baik di Majalah Hikmah[13] maupun dalam suatu buku Pelajaran Agama Islam karangan beliau sendiri, yang menghujat dan mengkritisi paham Ahmadiyah.

Semua penentangan dan segala bentuk aniaya yang diterima para Ahmadi di Medan tidak menyurutkan iman para awalin[14] ini, dan sejarah selamanya membuktikan bahwa akibat munculnya penentangan adalah semakin pesatnya perkembangan Jemaat Ahmadiyah di manapun, begitu pula di Medan.

Ahmadiyah Menjangkau Tebing Tinggi dan Tanjung Balai

 

Polemik antara Ahmadiyah dengan para ulama Sumatera Utara waktu itu sampai juga ke daerah Tebing Tinggi Deli[15]. Pada 28 Januari 1937, seorang guru bernama Amiruddin bai’at setelah lama mempelajari Ahmadiyah. Pada bulan yang sama sahabat beliau Dasyim Damanik juga bai’at di tangan Mln. Muhammad Sadiq, sehingga dari kedua mereka ini Jemaat Tebing Tinggi tumbuh berkembang hingga sekarang ini.

Dalam tahun 1948 terjadi revolusi sosial di Deli sehingga beberapa ulama yang turut mengeluarkan fatwa kafir kepada Ahmadiyah turut dibunuh karena dianggap pro feodalis atau kerajaan, sementara sebagian lainnya dihinakan oleh Allah Ta’ala[16].

Maulana Muhammad Sadiq juga mengunjungi kota-kota sekitar Medan termasuk diantaranya Tebing Tinggi Deli dan Tanjung Balai. Awal mulanya tabligh Ahmadiyah sampai di Tanjung Balai ini ialah ketika Mln. Muhammad Sadiq diajak oleh seorang Ahmadi bernama Nasboon Mahmud, SH ke kota kelahiran beliau itu, hingga dalam waktu singkat beberapa saudara Nasboon Mahmud dari kampung Kelapa Dua bai’at ke dalam Ahmadiyah.

 

[1] Beliau berasal dari kota Nagapatnam, yang sekarang menjadi bagian dari negara bagian Tamil Nadhu.

[2] Deli Spoor Matchappijj, adalah salah satu Perusahaan Kereta Api di daerah Deli.

[3] Menurut penuturan salah seorang putera beliau, bahwa Marmin berasal dari kalangan Muhammadiyah, sehingga kedatangan Mln. Muhammad Sadiq dengan beberapa pandangan barunya membuat beliau tertarik untuk mempelajarinya.

[4] Saiban, Said, Hasyim, Toekenang, Said dan sebagainya.

[5] Dalam satu riwayat, Tukenang meminta pembuktian kebenaran Ahmadiyah, dengan cara agar Maulana Muhammad Sadiq mendoakan agar istri beliau mengandung seorang anak, karena telah lama beliau berumah tangga, belum juga beliau dianugerahi keturunan.

[6] Beliau ayahanda dari Umar Khaiyat, penyiar radio Australia seksi Indonesia.

[7] Abdurrahman Shehab, Tengku Fakhruddin, Hadji Ismail Lubis, Hadji Abdul Madjid dan perkumpulan Islam seperti Aisyiah di Medan (Timbul Siregar, Sejarah Kota Medan (Medan: Yayasan Pembina Pancasila, Sumatera Utara, 1980), h. 66.

[8]Comite Pemberantas I’tikad Ahmadijah Qadian’, Selebaran (Medan), 24 Desember 1950

[9] 1). Abdoerrahman Shihab (persoon), 2). Sjari (persoon Djurutulis), 3)  Sjech H. Djainoeddin (ex mufti Keradjaan Deli), 4). Sjech H.M. Ziadan (ex guru besar Maslurah, Tanjung Pura), 5). Sjech Abdoellah Afifoeddin, guru madrasah Tanjung Pura, 6). Sjech H.M. Noer Abd Karim Kadli (guru madrasah Tanjung Pura), 7). Sjech H. Zainoeddin Kadli (guru madrasah Tanjung Pura), 8). M. Nawi (guru agama Tanjung Pura), 9). H. Abdoel Djabar Kadli (guru Pematang Siantar), 10).  H.M. Djamil Dahlan (Guru kepala Pematang Siantar). 11). H. Moechtar Siddik, (guru Dj. W. Inst), 12). Sjech Salih Mufti (Kota Pinang), 13). H.M. Yoenus Kadli (guru Dj. W. Inst), 14). Sjech H. Soelaiman Mufti (dari Kualuh), 15). Sjech H. Moesa A. Aziz (Kadli suku pesisir Batu Bara), 16). H. Ismail (guru agama dari Tebing Tinggi),  17). H. Ibrahim (ex, guru agama di Tebing Tinggi), 18). Kyai H.A. Karim (guru agama di Bindjai), 19). Ustazd H.A.A. Hassan (guru besar Arabijah, Bindjai), 20) A. Rahim Haitami (guru besar Arabijah di Bindjai), 21). Z. Arifin Abbas (guru besar Arabijah di Binjai), 22). A. Wahhab (guru agara dari Bandar Sinembah), 23). H.M. Noer Kadli (guru dari Bandar Sinembah), 24). Sjech H.M. Joenus (guru besar Islamijah Medan), 25). H. Dja’far (guru besar Islamijah Medan), 26). Majlis Fatwa lil Djamjatil Waslijah, 27). Kyai H.A. Madjid Abdoellah (guru agama di Medan), 28). H. Mahmoed Ismail Loebis ( Kadli di Sei Kera, Medan), 29). H.Iljas (Kadli di Sei. Piring), 30). H. Zainal Abidin (kadli di Sei. Petisah Medan), 31). H.M. Thahir (guru kepala Dj. W. Petisah), 32). H. Joesoef Ahmad (guru Dj. W. Glugur, Medan), 33). Soehailiddin (guru Dj. W. Tanjung Mulia, Medan), 34). A. Moerad (Guru di Dj. W. Radja), 35). A. Rahman (guru di Dj. W. Radja), 36). A. Wahhab (guru di Dj. W. Belawan). 37). Kyai H.Mansoer (guru agama), 38). H. Zakaria (guru agama di Pandau), 39). H.A. Djalil (guru madrasah Islamijah), 40). Zakaria A. Wahab (guru agama di Pandau), 41). Oesman Soelaeman (guru agama di Pulo Brayan), 42). H. Mahmoed Aboebakar (guru agama di K. Silalas), 43). H.M. Ali (guru agama di Jl. Poeri Medan), 44). H.M. Dahlan (Kadli di  Arhemia), 45). Mahmoed Halwani (guru madrasah Rahmania), 46). Mhd. Saad (guru agama di Jl. Djeparis), 47). H.M. Siddik (guru agama di Kp. Pandau), 48). Sjech H. Hasan Ma’soem (Imam Paduka di Medan), 49). Sjech Mahmoed Chayat.

[10] Diantaranya ungkapan ‘lihatlah peci saya ini sudah rusak, padahal saya membelinya secara khusus (menempah), apalagi peci kodian (merujuk kota kelahiran Mirza Ghulam Ahmad)’.

[11] Pedoman Masyarakat, No. 3, h. 71 tanggal 27 Januari 1937.

[12] Surat tertanggal 19 April 1937.

[13] Majalah Hikmah, No. 2 tertanggal 19 Juni 1954

[14] Leman Siregar, A. Halim Siregar, Darwis, M. Said, Saidi, Hasyim, Saiban, M. Zein, M. Saleh, Wagimin, Ts. Biong, Amir Yoesoef, M. Ahmad Yoesoef, T. Ibrahim, Dahlan Madjid, Yardini Soetan Saripado, Boeang Marmin, Simin Marmin, Basyir Marmin, Bahari Marmin, Basri Marmin, Abdoel Hakim, Abdoel Hamid, Nasboon Ahmad, H. Alwi, A. Rahman Arifin, Zainoen Arifin.

[15] Kota ini terletak 80 km di tenggara kota Medan.

[16] Seorang diantaranya bahkan terlihat mengais-ngais tong sampah, berperilaku seperti orang gila.

 

(Visited 72 times, 1 visits today)