TINJAUAN SEGI KEROHANIAN

Jawaban secara rohaniah mengenai masalah ini ialah, bahwasanya Allah SWT. semenjak purbakala menjalankan tradisi begini, bahwa manakala dunia dirongrong oleh macam-macam keburukan dan berbagai tindakan amoral – menjauhkan diri dari nilai-nilai ruhani – manusia lebih mementingkan urusan keduniawian daripada urusan agama, maka Allah SWT. selalu mengirimkan seorang yang terpilih diantara hamba-hambaNya untuk membimbing mereka yang tersesat supaya kembali kepada-Nya lagi dan agar supaya agama-Nya yang pernah diturunkan ke dunia bisa hidup kembali. Sewaktu-waktu orang-orang yang diutus Allah ini membawa syariat dan sewaktu-waktu mereka datang untuk menghidupkan kembali syariat yang lama. Mengenai sunah Allah SWT. ini, Qur’an Karim dengan secara luar biasa menekankan dan berulang kali Al-Qur’an Karim meminta perhatian umat manusia, untuk mengenal Kemurahan dan Karunia Allah Taala ini.

Tidak diragukan lagi, bahwa Allah SWT. menempati satu martabat yang maha tinggi dan kebalikannya jika dibandingkan dengan martabat Allah itu, martabat insan lebih buruk lagi dari seekor ulat. Akan tetapi juga tiada diragukan lagi bahwa segala pekerjaan Allah SWT. mengandung penuh hikmah dan tidak ada satu pekerjaan yang dilakukan-Nya tanpa sebab dan tanpa faedah.

Allah SWT. berfirman di dalam Al-Qur’an Karim:

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَ الْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لَاعِبِيْنَ

“Dan tidaklah Kami jadikan langit dan bumi serta segala yang ada di antara keduanya itu sebagai permainan.” (Al-Anbiya: 17)

Maksudnya ialah bahwa Tuhan tidak begitu saja menjelmakan langit dan bumi ini bahkan di dalam penjelmaannya terdapat maksud, dan maksudnya ialah bahwa manusia hendaknya memanifestasikan segala sifat Allah Taala. Dan sesudah menjadi mazhar-Nya atau bayanganNya, ia berdaya upaya untuk mengenal-Nya langsung.

Semenjak zaman purbakala hingga kini Allah SWT. telah mengutus macam-macam orang yang menjadi mazhar-Nya pada masa-masa yang berlainan. Pernah Allah SWT. menjelmakan sifatnya dengan perantaraan Adam a.s., pernah pula menjelma dengan perantaraan Nuh a.s., pernah menjelma di dalam wujud Ibrahim a.s., pernah menampakkan dengan perantaraan wujud Daud a.s., pernah Musa a.s. menampakkan wajah Allah Taala ke dunia ini, dan pernah Isa Almasih a.s. menjelmakan di dalam dirinya cahaya demi cahaya Ilahi. Yang terakhir dan yang maha-sempurna ialah Muhammad Rasulullah SAW. yang menjelmakan segala sifat Allah SWT. ke dunia ini dengan cara menyeluruh dan secara terperinci dalam bentuk individual maupun secara kolektif. Begitu cemerlangnya dan begitu agungnya sifat-sifat Allah SWT. menjelma ke dunia sehingga seakan-akan wujud dari Rasulullah SAW. itu bagaikan matahari dan wujud para Nabi yang terdahulu itu laksana setabur bintang-bintang belaka. Sesudah Rasulullah SAW. semua syariat sudah habis dan segala jalan bagi para Nabi pembawa syariat sudah tertutup. Bukanlah karena berpihak atau karena sesuatu pertimbangan bahkan kami katakan demikian oleh karena justru Rasulullah SAW. telah membawa satu syariat yang demikian rupa, hingga memenuhi seluruh keperluan dan seluruh hasrat keinginan. Allah SWT. telah menyempurnakan janji-Nya dan melaksanakan maksud-Nya. Akan tetapi tidak ada jaminan mengenai manusia, bahwa ia tidak akan meninggalkan atau menyeleweng dari jalan yang benar dan tidak akan melupakan pelajaran yang suci itu. Allah SWT. dengan jelas berfirman di dalam Al-Qur’an:

يُدَبِّرُ الْأَمْرُ مِنَ السَّمَآءِ إِلَى الَأَرْضِ ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ فِى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ أَلْفَ سَنَةٍ مِمَّا تَعُدُّوْنَ

“Allah Taala merencanakan pekerjaan ini dari langit ke bumi, kemudian naik kembali kepada-Nya pada hari yang jangkanya seribu tahun menurut perhitungan kamu“ (Assajdah: 6)

Maksudnya ialah bahwa Allah Taala akan menurunkan Kalam-Nya dan syariat-Nya yang terakhir ini dari langit ke bumi. Tantangan manusia tidak akan menghambat rencana ini. Akan tetapi kemudian sesudah lewat satu masa, Kalam atau Firman-Nya ini, mulai naik ke langit dan dalam masa seribu tahun Firman-Nya akan menjauh dari alam dunia ini.

Seperti telah diterangkan dalam hadits di atas, Rasulullah saw. menetapkan jangka waktu tiga ratus tahun untuk masa kemurnian agama Islam dan Al-Qur’an juga menetapkan zaman itu dengan abjad Alif-Lam-Mim-Ra yang mempunyai nilai angka dua ratus tujuh puluh satu (271 tahun). Jika angka ini dijumlahkan dengan seribu tahun, dalam jangka waktu mana “ruh agama terbang ke langit” (masa kemunduran agama Islam), maka jumlah itu menjadi 1271. Hal ini berarti; bahwa hilangnya jiwa atau ruh dari agama Islam menurut keterangan Al-Qur’an, ialah pada tahun 1271 atau menjelang akhir abat ke-13. Biasanya di dalam zaman seperti itu, seperti diterangkan oleh Al-Qur’an, seorang Juru Penerang dan pembimbing pasti diutus oleh Allah SWT., supaya dunia senantiasa bebas dari genggaman belenggu syaitan dan agar supaya pemerintahan Ilahi jangan tenggelam untuk selama-lamanya. Jadi di masa sekarang ini, kedatangan seorang yang diutus oleh Allah SWT. semacam itu merupakan satu keperluan.

Satu masa, ketika di tengah-tengah masyarakat umat Nabi Nuh a.s. timbul keadaan krisis, maka Allah SWT. segera membimbing mereka. Demikian juga bila keadaan semacam itu timbul di tengah-tengah umat Nabi Ibrahim a.s. Nabi Musa a.s., dan Nabi Isa a.s., Allah SWT. memberikan bimbingan kepada umat-umat itu. Akan tetapi tidak masuk akal, bahwa apabila timbul krisis di tengah-tengah umat Nabi besar Muhammad Rasulullah SAW., Allah SWT. tidak berkenan memperbaiki umat ini.

Berkenaan dengan umat Rasulullah SAW. ada suatu perjanjiian dari Allah SWT., bahwa untuk mengamankan kekacauan kecil-kecilan, Allah SWT. akan selalu mengutus seorang pembaharu (mujadid) pada permulaan tiap-tiap abad, seperti sabda Rasulullah SAW. :

إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِاءَةِ سَنَةٍ مِنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

“Sesungguhnya Allah Taala akan mengutus untuk umat ini pada tiap permulaan seratus tahun, orang-orang yang akan memperbarui agama mereka bagi mereka”.   (Abu Dawud, Jilid 2, hal. 241).

Akal tidak menerima bahwa justru pada saat ini di kala timbulnya krisis yang dashyat, tentang mana Rasulullah SAW. bersabda, bahwa semenjak para anbiya diutus ke dunia, mereka semuanya memberi kabar, tetapi tidak seorang pun Utusan Allah dan tiada pula seorang Juru Penerang atau seorang Pembimbing yang datang. Tidak pula masuk di akal, bahwa untuk menghimpunkan kaum Muslimin agar  mereka kembali berdiri di atas landasan agama yang hakiki, tidak ada suara yang memanggil-manggil dan menghimbau-himbau mereka. Mustahillah bahwa tidak ada seutas tali terulur dari langit untuk mengangkat kaum Muslimin keluar dari jurang kegelapan dan lembah kemunduran.

Itu Tuhan yang semenjak Dia ciptakan alam persada ini, senantiasa mempertunjukkan sifat Pengasih-Nya dan sifat Penyayang-Nya telah mengutus Rasulullah saw. ke dunia. Dengan demikian Dia telah melipat-gandakan desakan arus sungai Rahim dan Karim-Nya, bukanya telah mematikan Sifat-Sifat-Nya itu. Apabila dahulu Allah Taala pernah berlaku kasih, maka Dia seyogyanya lebih menunjukkan kasihnya kepada umat Muhammad. Apabila dahulu Ia pernah berlaku sayang, maka Dia seyogyanya lebih memperlihatkan sayang-Nya terhadap umat Muhammad. Dan memang demikianlah nampak pada kenyataannya.

Al-Qur’an Karim dan Hadits mejadi saksi tentang hal ini, bahwa manakala nampak gejala krisis di dalam umat Muhammad, maka Allah SWT. senantiasa mengutus seorang Penggembala. Istimewa pula pada zaman akhir ini, ketika nampak gejala fitnah Dajjal, maka kemenangan bagi agama Kristen, kekalahan secara lahir bagi agama Islam, dan kaum Muslimin meninggalkan ajaran agama mereka, lalu mengekor kepada kebiasaan dan tradisi dari bangsa yang lain, maka seorang mazhar yang utama dari pribadi Rasulullah SAW. akan datang dengan tugas untuk mengadakan reformasi atau mengadakan perbaikan pada zaman itu. Tentang zaman itu Rasulullah saw bersabda :

لَايَبْقَى مِنَ الْإِسْلَامِ إِلَّا اسْمُهُ وَ لَا يَبْقَى مِنَ الْقُرْآنِ إِلَّا رَسْمُهُ

Maksudnya ialah, bahwa Islam akan tinggal hanya nama dan Qur’an akan tinggal hanya tulisan belaka. (Misykat, hal. 33)

Hikmah inti dari pelajaran Islam tidak akan nampak dan arti ayat-ayat Al-Qur’an akan menjadi gelap atau samar-samar.

Pendek kata, wahai saudara-saudara! Sesungguhnya Jemaat Ahmadiyah ini berdiri sejalan dengan Sunah Ilahi dan sesuai dengan nubuwatan-nubuwatan (kabar-kabar) dari Rasulullah SAW. dan para nabi sebelum beliau yang menerangkan tentang zaman ini. Andaikata terpilihnya Hazrat Mirza Ghulam Ahmad guna memikul tugas seperti dipaparkan diatas tidak cocok, maka kekeliruan ini adalah atas tanggungan Allah SWT. Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tidak bersalah. Akan tetapi jika Allah SWT. itu satu Zat yang Maha Mengetahui tentang segala yang ghaib dan bagi-Nya tidak ada rahasia tersembunyi, dan di dalam segala amal perbuatan-Nya terkandung hikmat yang berlimpah-limpah, maka baiklah diketahui bahwa pilihan-Nya kepada Hazrat Mirza Ghulam Ahmad itu, adalah pilihan yang tepat dan dengan menerima beliau ini, kebaikan akan datang kepada kaum Muslimin dan kepada masyarakat dunia umumnya.

Beliau tidaklah membawa amanat yang baru, melainkan amanat itu yang dahulu pernah disampaikan oleh Rasulullah SAW. ke dunia dan yang dunia telah melupakannya. Amanat yang dikemukakan oleh Al-Qur’an itulah yang dunia telah membelakanginya. Amanat itu mengatakan bahwasanya Pencipta dari alam mayapada ini adalah satu Zat Yang Maha Esa. Dia telah menjelmakan insan untuk mewujudkan Kecantikan-Nya dan kerahiman-Nya. Guna memamerkan sifat-sifat-Nya, Dia menjelmakan manusia untuk menjadi perantara, seperti firmanNya :

إِذْقَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى الْأَرْضِ خَلِيْفَةً

Dan ketika Tuhan engkau berkata kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. (Al Baqarah: 31)

Jadi Nabi Adam a.s beserta keturunannya adalah merupakan Khalifah atau wakil dari Allah SWT. Mereka itu dijelmakan untuk memanifestasikan sifat-sifat Allah Taala ke dunia. Maka menjadi kewajiban bagi segenap umat manusia, agar mereka membentuk kerangka kehidupan mereka sesuai dengan sifat-sifat Allah SWT. itu. Sebagaimana seorang wakil, harus selalu menyesuaikan segala tindak-tanduknya kepada kemauan orang yang diwakilinya, dan sebagaimana seorang pesuruh sebelum ia melaksanakan suatu pekerjaan yang baru baginya, ia harus meminta petunjuk dari majikannya, demikian pulalah kewajiban manusia, ia harus mengadakan perhubungan sedemikian rupa, sehingga Allah SWT. selalu memberikan bimbingan dalam tiap-tiap langkah dan tiap-tiap pekerjaannya, dan ia harus mencintai Allah SWT. lebih daripada kecintaannya kepada segala macam benda, dan di dalam segala macam urusan ia menyerahkan diri sepenuhnya kepada kebijaksanaan-Nya.

Untuk meyakinkan terhadap kewajiban inilah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. datang ke dunia ini. Tugas beliau ialah untuk menarik orang-orang yang berkecimpung dalam urusan keduniaan supaya menjadi orang-orang yang beragama, untuk mendirikan tahta kerajaan Islam di dalam hati sanubari manusia dan menempatkan kembali wujud Nabi Muhammad Rasulullah SAW. di dalam mahligai kerohanian mereka, yang kebalikannya sedang terus menerus digempur oleh kekuasaan syaitan – dari luar dan dalam – untuk menurunkan beliau dari mahligai kerohanian mereka itu.

Langkah pertama untuk mewujudkan maksud dan tujuan ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memperingatkan kaum Muslimin terhadap pentingnya isi dan bukannya kepada kulit. Dalam hal ini beliau menekankan bahwa hukum yang zahir (ekstern) pun amat penting, akan tetapi tanpa adanya jiwa, kemajuan tidak akan dapat dicapai. Oleh sebab itu, beliau mendirikan sebuah Jema’at dan di dalam perjanjian bai’atnya ditetapkan sebuah syarat, bahwa siapa-siapa yang masuk dalam Jema’at ini harus berikrar, bahwa “Saya akan mendahulukan kepentingan agama dari kepentingan dunia”.

Pada hakikatnya, penyakit inilah yang melumpuhkan kaum Muslimin yang tak ubahnya seperti rayap makan kayu. Sekalipun kemuliaan dunia sudah terlepas dari haribaan mereka, tetapi mereka masih juga mendambakan dunia. Dalam tanggapan mereka, kejayaan Islam itu berarti ia menguasai kerajaan. Di dalam hayalan mereka, kemajuan Islam itu berarti nampaknya kemajuan di bidang pendidikan dan perekonomian dari orang-orang yang mengaku beragama Islam. Padahal Rasulullah SAW. datang ke dunia, tidak dengan maksud agar orang-orang hanya cukup mengaku sebagai Islam saja, akan tetapi supaya menjadi Muslimin sejati yang berkualitas seperti oleh Al-Qur’an digambarkan dengan perkataan :

 مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ

Yang maksudnya, bahwa ia punya wujud semuanya diserahkan kepada Allah Taala dan hasrat keduniaannya tunduk kepada hasrat keagamaannya (Al-Baqarah: 113)

Nampaknya hal ini adalah suatu hal yang lumrah, akan tetapi pada hakikatnya, disinilah letak perbedaannya antara Islam dan agama-agama yang lain

Islam tidak mencegah orang-orang mencari kekayaan ilmu, memajukan perniagaan, perindustriaan, dan pertanian atau berjuang untuk memperkokoh kedudukan negara dan bangsanya. Islam hanya semata-mata bercita-cita merombak jalan pikiran manusia.

Tujuan dari usaha manusia di dunia ini mempunyai dua macam corak. Yang satu bertujuan hendak memperoleh isi dengan melalui kulit dan yang lainnya bertujuan hendak memperoleh kulit dengan melalui isi. Siapa-siapa yang mengharapkan untuk mencapai isi melalui kulit tidaklah dapat dipastikan, bahwa dalam usahanya itu akan berhasil, bahkan seringkali kegagalan-lah yang dijumpai. Akan tetapi siapa-siapa yang bertujuan untuk mendapatkan isi, dia akan memperoleh kulitnya juga.

Rasulullah SAW. beserta para pengikutnya telah berjuang demi untuk agama, akan tetapi tidaklah berarti bahwa mereka tidak merasakan kenikmatan-kenikmatan duniawi. Ini merupakan hal yang wajar bahwa kemewahan dunia berlari-lari seperti kacung-kacung mengikuti di belakang mereka yang memperoleh sukses dalam lapangan agama. Akan tetapi tidaklah merupakan satu syarat, bagi orang untuk memperoleh sukses dalam agama itu dengan merintis akan keduniaan. Sering kali mereka yang menjalankan praktek semacam itu gagal, bahkan imannya yang ada padanya pun sering kali berceceran dari tangannya.

Jadi Hadhrat Masih Mauud a.s. dengan perintah Allah SWT. telah mengarahkan perhatian dunia ke arah agama sambil mengikuti jejak langkah para Nabi yang dahulu. Di masa beliau dalam kalangan Muslimin terdapat dua macam aliran. Aliran pertama berpendirian bahwa kaum Muslimin sudah lemah keadaannya, oleh karena itu kaum Muslimin harus berusaha untuk memperoleh kekuasaan dunia. Aliran yang kedua digerakkan oleh beliau, mengatakan bahwa manusia harus kembali ke pangkuan agama dan konsekuensinya pasti bahwa Allah SWT. dengan sendirinya akan memberikan kemuliaan dunia juga.

Adakalanya orang beranggapan salah bahwa gerakan yang dicetuskan oleh beliau adalah sama seperti gerakan-gerakan Sufi dan lain-lainnya yang mementingkan ibadah sembahyang dan puasa kepada para pengikutnya yang saleh dan membuat mereka seperti gadis-gadis pingitan, duduk menyendiri dan menyepi di kamar peribadatan. Jika seandainya beliau demikian, maka beliau menganjurkan untuk memperoleh kulit dengan jalan isi. Tapi tidaklah sekali-kali beliau berbuat demikian. Manakala beliau menekankan arti hukum agama, beliau pun menekankan pula hal ini bahwa agama itu diadakan oleh Allah SWT. ialah untuk mencerdaskan akal-pikiran manusia. Beliau bersabda, bahwa barangsiapa menjalankan agama dengan kesungguhan hati dan tanpa pretensi atau dibuat-buat, maka agama itu membentuk di dalam dirinya suatu budi yang luhur serta menimbulkan suatu daya untuk berbuat amal dan menumbuhkan semangat pengorbanan. Beliau manganjurkan agar supaya orang-orang Mu’min menjalankan agama dengan sebenar-benarnya melakukan ibadah shalat, puasa, naik haji ke tanah suci Mekkah, dan membayar zakat yang kesemuanya harus di jalankan sesuai dengan apa yang di gariskan oleh Al-Qur’an. Al-Qur’an Karim tidak menghendaki shalat yang serupa demonstrasi gerakan-gerakan jasmani belaka, tidak menghendaki puasa yang hanya untuk menderita lapar semata, pergi ke Mekkah meninggalkan kampung halaman tanpa ada faedahnya dan membayar zakat sebagai suatu penghamburan harta belaka.

Tentang sembahyang dikatakan oleh Al-Qur’an :

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَ الْمُنْكَرِ

“Sesungguhnya shalat itu menghalangi manusia dari pada berbuat kejahatan dan perbuatan yang terlarang”. (Al-Ankabut: 46)

Jadi shalat yang tidak menghasilkan buah seperti diterangkan oleh Al-Qur’an itu, bukanlah sembahyang namanya.

Adapun berkenaan dengan puasa, Al-Qur’an suci telah mengatakan “La’allakum tattaquun”, yakni ibadah puasa itu ditetapkan untuk supaya di dalam jiwa manusia tertancap ketakwaan dan budi pekerti yang luhur. Jadi, apabila orang mengerjakan puasa, tetapi buah dari pada hal itu tidak tercapai, maka hal itu maknanya niatnya tidak lurus dan tidaklah ia mengerjakan puasa melainkan penganiayaan pada diri sendiri dengan mengosongkan perut.

Mengenai naik haji ke tanah suci Mekkah, Allah SWT. berfirman, bahwa ibadah ini merupakan suatu media (perantara) untuk menumpas pikiran-pikiran degil dan menjauhkan perselisihan-perselisihan. Jadi maksud daripada ibadah haji itu ialah untuk menghentikan kebiasaan dari mengeluarkan ucapan-ucapan kotor, perbuatan keji dan perselisihan.

Tentang zakat Allah SWT. berfirman:

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَ تُزَكِّيْهِمْ بِهَا

“Ambillah zakat dari harta benda mereka, supaya dengan ini membersihkan dan mensucikan mereka”. (At-Taubah: 103)

Maksudnya ialah, ditetapkan zakat itu gunanya untuk menciptakan kesucian pada tiap individu dan masyarakat serta untuk membersihkan rasa dan cita.

Jadi selama buah daripada ibadah-ibadah itu belum tercapai, maka penunaian ibadah haji dan membayar zakat itu hanyalah merupakan pamer belaka. Masih Mau’ud a.s. bersabda, dirikanlah sembahyang, kerjakanlah puasa, pergilah naik haji, bayarlah zakat, akan tetapi ibadah-ibadah itu baru akan diterima apabila buah-buah ibadah itu tercapai dan engkau terhindar dari perbuatan-perbuatan keji dan terlarang, lagi pula di dalam diri engkau menjelma ketakwaan, engkau dengan secara mutlak menjauhkan diri dari kebiasaan omong kotor, perbuatan keji dan perselisihan, dan engkau mencapai kesucian pribadi dan masyarakat serta mencapai kebersihan rasa dan cita.

Akan tetapi orang-orang yang di dalam dirinya tidak mendapatkan buah-buah dari pada ibadah-ibadah itu, aku tidak akan menganggap mereka dari lingkungan Jema’at, sebab mereka mementingkan hanya kulit dan tidak bertujuan mengambil isi, seperti apa yang dimaksudkan oleh Allah Taala.

Demikian juga mengenai ibadah-ibadah lainnya beliau menekankan masalah isi dan mengatakan, bahwa tidak ada suatu hukum peraturan yang dikeluarkan oleh Islam tanpa mengandung hikmah di dalamnya. Allah Taala tidak dapat diraba oleh tangan, tapi dapat dijamah oleh pengindraan cinta. Tujuan dari agama ialah bukan hanya menguasai atas panca indra lahir saja, melainkan manakala Dia memerintahkan mata dan tangan, hal ini dimaksudkan untuk membersihkan hati sanubari dan emosi-emosi sehingga itu kekuatan-kekuatan yang bermukim di dalam diri manusia, dengan mana ia dapat melihat Allah Taala,dapat meraba Zat itu dengan sepuas-puasnya,dan daya-daya yang ada pada diri manusia itu dapat menyimak suara Ilahi.

Pendek kata sambil menekankan pentingnya hal-hal tersebut diatas, beliau telah membuka jalan baru guna kemajuan Islam dan kosekuensinya ialah berdirinya satu Jamaah yang meskipun nampaknya kecil, namun ia merupakan suatu Jamaah yang tekun dan gigih berjuang dengan mengesampingkan urusan keduniaan untuk mendahulukan urusan agama dan untuk merintis kemajuan kerohanian daripada Islam serta menegakan kerajaan rohani dari Yang Mulia Nabi Muhammad, Rasulullah SAW.

Silakan saudara berpikir dan memperbandingkan antara Jemaat Ahmadiyah yang kecil ini dengan kaum Muslimin yang umum dengan jumlahnya yang besar itu. Kendati pun demikian, apa yang sedang dikerjakan dan diperjuangkan oleh Jemaat Ahmadiyah dalam rangka penyebaran dan memajukan Islam merupakan tantangan, apakah dapat orang-orang Muslimin lainnya yang bilangannya ribuan kali banyaknya itu melaksanakan setengahnya atau seperempatnya saja? Sebabnya ialah, tak lain karena Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah menekankan kepada orang-orang Ahmadi agar mereka mengutamakan agama daripada dunia. Rahasia ini sudah terbuka kepada orang-orang Ahmadi sehingga amalan mereka merupakan suatu bentuk amalan yang baru. Shalatnya seorang Ahmadi yang sejati tidak sama dengan shalat yang dikerjakan oleh orang-orang Muslimin yang umum. Padahal coraknya shalat mereka sama, begitu pula pemakaian kata-katanya, akan tetapi yang berlainan ialah isinya (jiwanya). Orang Ahmadi shalat demi untuk shalat dan guna mempererat perhubungan dengan Allah SWT.. Mungkin saudara bertanya, apakah orang Muslimin yang lain mendirikan shalat tidak mengadakan perhubungan dengan Allah SWT? Jawab saya ialah, malangnya orang-orang Muslimin dewasa ini karena mereka mempunyai anggapan bahwa orang tidak dapat mengadakan perhubungan secara langsung dengan Allah SWT.. Sudah umum di kalangan kaum Muslimin menjalar kekeliruan paham demikian ini, bahwa Tuhan kini tidak bercakap-cakap lagi dengan manusia dan kebalikannya manusia tidak dapat menyampaikan kata-katanya ke hadirat Tuhan. Sudah lebih dari seabad lamanya, kaum Muslimin mengingkari turunnya wahyu Ilahi. Tidak ayal lagi bahwa sebelum zaman kita ini, di tengah-tengah umat Islam, terdapat orang-orang yang mengakui turunnya wahyu Ilahi secara terus menerus. Bukan hanya mengakui turunnya bahkan mereka berani berkata, bahwa Tuhan telah bercakap-cakap dengan mereka. Akan tetapi seabad sudah berjalan kamalangan ini menimpa umat Islam bahwa mereka dengan secara terbuka menyatakan keingkaran mereka kepada turunnya terus-menerus wahyu Ilahi. Bahkan ada beberapa ulama yang menjatuhkan fatwa kufur – keluar dari agama Islam – kepada orang yang menyatakan pendapat bahwa wahyu  Ilahi masih berlaku terus.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. tampil kedunia dan dengan lantangnya menyatakan, bahwa Allah Taala becakap-cakap dengan beliau, dan bukan dengan diri beliau saja, bahkan dia akan bercakap-cakap dengan orang-orang yang beriman kepada beliau serta mengikuti jejak beliau, mengamalkan pelajaran beliau dan menerima petunjuk beliau. Beliau berturut-turut mengemukakan kepada dunia Kalam Ilahi yang sampai kepada beliau dan menganjurkan kepada para pengikut beliau agar mereka pun berusaha memperoleh nikmat serupa itu.

Beliau bersabda pula bahwa sekurang-kurangnya lima kali sehari kaum Muslimin shalat, di dalamnya mereka senantiasa memanjatkan doa ke hadirat Ilahi demikian :

إِهْدِنَا الصِرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ

“Ya Tuhan, tunjukilah kami jalan yang lurus, jalan dari mereka yang engkau telah anugerahi nikmat-nikmat, yakni para anbiya suci yang terdahulu”. (Al Fatihah 6-7)

Maka tidaklah masuk di akal, bahwa doa yang diucapkan berkali-kali itu, selamanya tidak mempan dan Allah SWT. sama sekali tidak membukakan jalan kepada siapa pun di antara kaum Muslimin jalan yang telah dibukakan kepada para Nabi yang terdahulu. Dengan demikian, beliau dengan secara radikal telah mendobrak perasaan apatis (sikap masa bodoh) yang bercokol dalam hati kaum Muslimin.

Saya tidak mengatakan tiap-tiap Ahmadi, tetapi dengan yakin saya katakan bahwa tiap-tiap Ahmadi yang memahami maksud daripada Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dengan sebenar-benarnya, tidak melakukan shalat sedemikian rupa seolah-olah ia telah memenuhi kewajiban belaka. Ia melakukan shalat dengan pikiran seakan-akan hendak mengambil sesuatu dari Allah SWT., ia pergi untuk memperbaharui perhubungan dengan Allah SWT.. Siapa saja yang mengerjakan shalat dengan niatan-niatan ini, dapat memahami bahwa shalatnya tidaklah dapat dipersamakan dengan shalat dari orang-orang lain. Beliau begitu rupa menekankan pentingnya untuk mengadakan perhubungan dengan Allah SWT., sehingga beliau bersabda: Untuk mengakui kebenaran dakwahku banyak sekali Allah SWT. telah menunjukkan dalil-dalil, tetapi aku tidak akan mengatakan kepada kalian: “Pikirkanlah dan renungkanlah dalil-dalil itu”. Jika kalian tidak berkesempatan untuk memikirkan dan merenungkan dalil-dalil itu atau tidak merasa perlu, atau mungkin berpikir barangkali untuk mengambil keputusan dalam masalah ini, akal kalian membuat salah, maka aku menganjurkan mohon doalah kepada Allah SWT. mengenai diriku dan pintalah petunjuk-Nya yakni apabila hal ini benar, maka tunjukilah dan apabila hal ini bohong belaka, maka jauhkanlah. Beliau bersabda selanjutnya, bahwa apabila seseorang berdoa semacam ini, dengan hati yang bersih dan tanpa terpengaruh oleh sekelumit kefanatikan, dalam beberapa hari saja, pasti Allah SWT. membukakan pintu petunjuk-Nya dan akan menampakkan kepadanya kebenaran beliau. Ratusan bahkan ribuan orang telah melakukan cara demikian dan mereka telah memperoleh cahaya kebenaran.

Betapa logisnya dalil ini. Akal manusia bisa membuat kesalahan, akan tetapi Allah SWT. tidak mungkin keliru dalam memberi petunjuk. Betapa menyakinkannya hal ini kepada orang yang mengemukakan kebenaran dakwanya ke hadapan khalayak dunia, dengan saran untuk mengambil keputusan tentang kebenarannya dengan cara demikian. Apakah hal ini dapat dinamakan suatu kebohongan dari orang yang menyakinkan tentang kebenarannya dengan mengatakan: “Menghadaplah ke hadirat Tuhan dan tanyakanlah tentang dirimu?” Apakah seorang pendusta dapat berpikir demikian bahwa cara memutuskan begini akan menguntungkan dirinya? Orang sembarangan yang mengaku diutus Tuhan, lalu berani-berani mengambil cara seperti disebutkan di atas untuk membuktikan kebenarannya, sama halnya seperti dia telah menjatuhkan hukuman terhadap dirinya sendiri dan seolah-olah ia mengayunkan kapak untuk memenggal kedua belah kakinya sendiri. Akan tetapi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. senantiasa mengemukakan kepada dunia bahwa beribu-ribu dalil-dalil tersedia untuk membenarkan beliau, namun beliau berkata, bahwa “Apabila kalian tidak puas dengan dalil-dalil ini, janganlah mendengar perkataanku dan janganlah mendengar orang-orang yang menentangku, menghadaplah kepada Tuhan dan kepada-Nya tanyakanlah bahwa apakah aku ini benar ataukah dusta. Apabila Allah SWT. berkata, bahwa aku ini dusta, maka sudah yakinlah aku pendusta. Akan tetapi apabila Allah SWT. berkata bahwa aku benar, maka apa gunanya menolak kebenaranku?”

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Betapa tepatnya dan mudahnya cara untuk menguji kebenaran beliau ini. Ribuan orang telah mengambil faedahnya dari cara itu, dan semua orang yang sekarang hendak menjalankan cara demikian untuk menguji kebenaran beliau akan dapat mengambil faedahnya pula. Di dalam cara yang demikian itu sebenarnya beliau meletakkan hikmah, bahwa di dalam pandangan beliau agama itu lebih utama daripada urusan keduniaan. Beliau bersabda, bahwa untuk melihat benda-benda madiyah (materi), Allah SWT. telah menganugerahkan sepasang mata kepada manusia. Untuk mengerti seluk-beluk segala benda di dunia ini kepada manusia, Allah SWT. telah menciptakan matahari dan bintang-bintang. Jadi bagaimanakah mungkin bahwa Allah SWT. tidak memberikan suatu cara untuk memperlihatkan petunjuk-petunjuk kerohanian. Niscaya apabila seseorang mempunyai hasrat untuk melihat benda-benda rohani, Allah SWT. membukakan jalan kepadanya. Allah SWT. berfirman di dalam Al-Qur’an Karim :

اَلَّذِيْنَ جَاهَدُوْا فِيْنَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Barangsiapa yang berjuang dengan maksud untuk bertemu dengan Kami, kepadanya pasti Kami memperlihatkan jalan yang akan menyampaikannya kepada Kami”. (Al Ankabut : 70)

Kesimpulan ialah, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah membukakan jalan bagi Jemaat untuk mengutamakan agama daripada dunia dan begitu pula hal ini pun telah beliau kemukakan kepada orang-orang yang ingkar kepada beliau. Tuhan kita adalah Tuhan yang hidup. PemerintahanNya, baik dalam alam lahir maupun dalam alam batin, tetap masih berjalan. Adalah merupakan kewajiban bagi tiap-tiap orang Mukmin untuk mengadakan perhubungan yang lebih erat dan mendekatkan diri sedekat-dekatnya dengan Dia. Orang yang belum mendapat taufik untuk menerima petunjuk, baginya perlu agar ia memohonkan cahaya kebenaran dari Allah SWT. dan meminta bantuanNya untuk berusaha sampai kepada kebenaran.

Jadi, tugas dan amanat dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. pada pokoknya ialah untuk memperbaiki dunia dan untuk mengembalikan perhatian umat manusia kepada Tuhan, untuk menghidupkan keyakinan akan bertemu dengan Allah SWT. dan untuk mengenali kehidupan seperti yang dialami umat di zaman Nabi Musa a.s., Nabi Isa a.s., dan para Nabi lainnya.

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Bacalah kitab (suci) yang lama, begitu pula periksalah tarikh nenek moyang. Apakah nenek moyang kita menjalani kehidupan mereka untuk tujuan-tujuan materi? Apakah mereka hanya mengandalkan pekerjaan mereka kepada usaha-usaha madiyah? Untuk memperoleh kecintaan Allah Taala, siang malam mereka bersusah payah mengadakan usaha-usaha, dan di antara mereka ada yang telah mencapai sukses dan memperoleh mu’jizat dan pertanda-pertanda dari Allah SWT.. Penghidupan serupa inilah yang membuat mereka lebih terbuka dari pada kaum-kaum yang lain. Akan tetapi sekarang ini, hal apakah yang melebihkan kaum Muslimin dari pada orang-orang Hindu, orang-orang Kristen dan orang-orang yang beragama lainnya? Jikalau tidak ada kelebihannya, maka apakah guna adanya Islam? Pada hakekatnya kelebihan itu memang ada, akan tetapi kaum Muslimin telah melupakannya. Kelebihannya itu ialah, bahwa di dalam agama Islam, Kalamullah itu berlaku untuk selama-lamanya, dan senantiasa orang dapat mengadakan hubungan langsung dengan Allah SWT.. Demikianlah artian daripada karunia yang datang dari wujud Nabi Muhammad SAW. Arti karunia dari beliau itu bukanlah memperoleh gelar Sarjana Muda (BA) atau Sarjana (MA). Apakah tidak ada orang Kristen yang bergelar Sarjana Muda atau Sarjana? Berkat dari beliau bukan pula berarti bahwa orang-orang Islam memiliki dan menjalankan proyek-proyek industri yang besar. Apakah orang-orang Kristen dan orang-orang yang beragama lain tidak memiliki perindustrian? Berkat dari beliau bukan berarti kita telah mendirikan gedung-gedung perniagaan yang besar dan kita telah berhasil mengadakan hubungan perdagangan dengan negara-negara lain. Inipun semuanya dikerjakan oleh orang-orang Hindu, Kristen, Yahudi dan lain-lain. Arti berkat yang terbit dari wujud Rasulullah SAW. ialah bahwa dengan perantaraan beliau manusia dapat berhubungan langsung dengan Allah SWT., hati sanubari manusia dapat melihat wujud Tuhan, jiwa manusia dapat bersatu dengan Tuhannya, ia dapat mendengar Firman-Nya yang maha merdu, dan kepadanya nampak pertanda-pertanda dan mu’jizat-mu’jizat dari Allah Taala. Hal-hal inilah yang hanya didapat dengan jalan mengabdikan kepada Rasulullah SAW. dan hal-hal ini pulalah yang melebihkan pengikut-pengikut beliau dari umat-umat agama lain.

Pendek kata, ke tujuan inilah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. mengarahkan perhatian kaum Muslimin, dan hal yang dikemukakan kepada orang-orang yang tidak mengakui beliau pun ialah, bahwa Allah SWT. telah memberikan kepada beliau mutiara yang sudah hilang itu dan menganugerahkan harta pusaka itu yang telah tersia-sia.

Semua hal itu, beliau dapat dengan perantaraan dan berkat ketaatan mengikuti Rasulullah SAW, dan karena wujud Rasulullah, beliau mencapai martabat semulia itu.

Di samping itu banyak lagi karya-karya yang telah dilaksanakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s., walaupun karya-karya beliau termasuk sangat pentingnya dan amat agungnya, namun semua itu hanya merupakan embel-embel (subsider) belaka, jika dibandingkan dengan tugas beliau yang pokok itu, yakni mengutamakan agama dari pada dunia belaka dan menundukkan materialisme di bawah kekuasaan rohani. Hal ini merupakan satu kepastian, bahwa dengan jalan inilah Islam akan menang dari agama-agama yang lain.

Di negeri mana kita berada, kita harus mempertahankan tanah air dengan menggunakan berbagai alat senjata. Kita dapat menundukkan sebagian dari musuh-musuh kita dengan jalan demikian. Akan tetapi suksesnya Islam untuk menguasai dunia ini ialah, hanya akan dapat dengan cara kerohanian seperti yang telah di peringatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s..

Apabila kaum Muslimin benar-benar memegang prinsip keagamaan mereka yang sejati, apabila mereka mengutamakan agama dari pada dunia, apabila mereka mementingkan tujuan-tujuan kerohanian daripada tujuan-tujuan materi, maka cara hidup yang cenderung ke arah foya-foya yang dewasa ini semakin populer di negeri kita karena pengaruh bangsa-bangsa barat, dengan sendirinya akan hilang lenyap. Dan orang-orang dengan spontan tanpa disuruh orang lain, akan menghentikan cara hidup yang tidak berguna itu, lalu akan menjalani penghidupan yang bersungguh-sungguh, lidahnya bertuah, dan tetangganya akan mengambil tealadan kepadanya, sehingga orang-orang yang beragama lain, akan berkata seperti orang Mekkah (dizaman Rasulullah SAW.) berkata “Lau kaanu Muslimin”. “Betapa bagusnya kalau kita pun jadi muslimin”. Berkata demikian, lalu seperti orang-orang Mekkah pula, lambat laun ucapan mereka menjelma menjadi amalan dan pada akhirnya mereka menjadi orang-orang Islam, sebab siapapun tidak dapat lama-lama menjauhi hal yang baik. Pada taraf pertama timbul suatu keinginan, lalu diikuti hasrat, kemudian datang suatu tarikan dan akhirnya manusia tanpa disadarinya menuju kearah benda itu. Demikianlah akan terjadi sekarang. Mula-mula kecintaan kepada Islam akan menyelinap ke hati orang-orang Muslim, lalu mengalir ke seluruh tubuh mereka, kemudian orang-orang yang belum memeluk agama Islam dengan sendirinya tidak akan segan-segan meniru kelakuan orang-orang Muslim paripurna itu. Dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang beragama Islam dan Islam akan menguasai seluruh dunia.

Wahai saudara-saudaraku yang tercinta! Di dalam tulisan yang sekecil ini, saya tidak dapat memaparkan dalil-dalil secara terperinci, begitu pula saya tidak dapat mengemukakan kepada anda segala sesuatunya mengenai tugas suci dari Ahmadiyah. Yang saya hadapkan kepada saudara-saudara hanya secara garis besarnya saja tentang tujuan dan maksud Ahmadiyah. Saya berharap benar saudara-saudara akan merenungkan tulisan ini dan silakan anda menimbang fakta ini, bahwa di dunia ini suatu pergerakan agama bagaimanapun tidak akan dapat mencapai kemenangan apabila cara yang di tempuhnya hanya dengan jalan keduniaan saja. Kemenangan dari pergerakan-pergerakan agama selamanya dicapai hanyalah dengan jalan perbaikan batin (taqwa), pertablighan dan pengorbanan. Apa yang tidak pernah terjadi dalam urutan masa semenjak Nabi Adam a.s. hingga sediakala, sekarangpun tidak akan kejadian. Dengan jalan atau cara bagaimana semenjak zaman bihari hingga sediakala seruan dan amanat Allah Taala tersebar di dunia, sekarang juga dengan cara demikian, seruan dan amanat dari Muhammad Rasulullah SAW. akan tersiar ke seluruh dunia.

Jadi, demi kesejahteraan diri pribadi, anak-cucu, sanak saudara, bangsa dan tanah air anda, dengarlah seruan Allah Taala dan berusahalah untuk memahaminya, agar supaya Allah Taala segera membukakan kepada anda pintu karunia-Nya dan anda tidak akan ketinggalan dalam derap langkah kemajuan Islam.

Banyak sekali tugas yang harus kita laksanakan sekarang, untuk itu kami menantikan kedatangan saudara-saudara, sebab sukses dari Allah itu datangnya, di samping oleh mu’jizat-mu’jizat, juga bertalian erat dengan penyebaran agama.

Mari datang! Mari kita bersama-sama dan bergotong-royong, pikul beban yang maha berat ini, beban yang harus dipikul untuk kemajuan Islam. Memang, perjuangan ke arah mana saudara kami ajak, amat sukar sekali. Banyak sekali meminta pengorbanan, melupakan diri sendiri, harus menelan kepahitan dan penghinaan. Akan tetapi di jalan Allah, kehidupan yang hakiki itu terletak di dalam penderitaan, dan tanpa penderitaan itu manusia tidak akan dapat sampai ke hadirat Tuhan, dan tanpa adanya keberanian menanggung penderitaan ini tidak mungkin Islam akan mendapat kemenangan. Tampillah dengan gagah berani! Peganglah piala kematian ini dan teguklah isinya, sehingga dengan kematian kami dan dengan kematian anda, Islam akan bernapas kembali dan agama yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Rasulullah SAW., dan dengan menerima kematian ini, kita pun akan menikmati kelezatan hidup yang kekal abadi, di hariban Kekasih kita.

Allahumma Amin!

Yang lemah,

MIRZA BASYIRUDDIN MAHMUD AHMAD

Imam Jemaat Ahmadiyah
24-10-1948

(Visited 18 times, 1 visits today)