Karakteristik Khusus Bahasa Arab  

Terdapat lima karakteristik khas dari bahasa Arab yang membuktikan secara konklusif kalau bahasa ini adalah bahasa yang diwahyukan, yang semuanya akan kami uraikan secara rinci di tempatnya yang sesuai. Yang dimaksud dengan karakteristik itu adalah:

  1. Bahasa Arab memiliki pola akar kata yang sempurna yang sejalan dengan kebutuhan Bahasa lain tidak memiliki pola ini.
  2. Nama-nama bagi Tuhan, benda-benda langit, flora, fauna, benda padat dan anggota tubuh manusia dalam bahasa Arab mengandung makna kebijakan yang Bahasa-bahasa lainnya tidak ada yang mampu menandingi mengenai hal ini.
  3. Sistem kata-kata dasar dalam bahasa Arab bersifat sempurna yang terdiri dari semua kata benda dan kata kerja dari akar yang Pengaturan kata-kata itu dalam pola yang baik akan menggambarkan saling keterkaitannya. Karakteristik seperti ini tidak dijumpai secara sempurna dalam bahasa-bahasa lainnya.
  4. Langgam (idiom) dalam bahasa Arab mengandung pengertian yang amat Bahasa Arab mampu menyampaikan konotasi yang ekstensif melalui penggunaan artikel tertentu, tekanan pengucapan atau pun urutannya, dimana bahasa lainnya harus menggunakan beberapa kalimat dan istilah guna mengemukakan hal yang sama.
  5. Bahasa Arab memiliki akar kata dan langgam yang menjadi sarana sempurna untuk mengekspresikan pandangan dan renungan fikiran manusia yang paling halus sekali

Karena kami telah memulai upaya guna membuktikan dan menggambarkan semua karakteristik bahasa Arab tersebut, perlu kiranya hal itu dilakukan dalam bahasa Arab juga dan dengan cara itu bisa diberikan ilustrasi mengenai hal ini dalam bahasa tersebut. Kalau karena itu ada yang mengklaim bahwa ada bahasa lain yang juga mengaku sebagai bahasa yang diwahyukan atau dianggap menjadi induk dari segala bahasa maka sepatutnya yang bersangkutan mengemukakan pola pandangannya dengan cara yang sama. Jika kemudian kami terbukti telah berdusta dalam pernyataan kami bahwa bahasa Arab memiliki kelima karakteristik khas tersebut, dimana ada cendekiawan bahasa Sanskerta atau bahasa lainnya dapat membuktikan kalau karakteristik itu juga terdapat di dalam bahasa mereka atau bahkan lebih baik dari bahasa Arab, kami berjanji dengan sesungguhnya bahwa kami akan segera memberinya hadiah sebesar lima ribu rupees.

Apa yang kami minta dari para pembela bahasa-bahasa lainnya ialah agar mereka mampu membuktikan kalau bahasa mereka juga mempunyai sifat-sifat sebagaimana yang telah dijelaskan berkaitan dengan bahasa Arab. Sebagai contoh, adalah merupakan persyaratan bagi suatu bahasa yang dikatakan sebagai diwahyukan dan ibu segala bahasa, untuk memiliki semua akar kata yang mampu mengalihkan fikiran manusia ke dalam kata-kata sedemikian rupa sehingga jika ada yang ingin menguraikan secara rinci seperti misalnya tentang Ketauhidan Ilahi dan polytheisme, hak-hak Allah dan hak manusia, akidah agama dan alasan yang mendukung, kecintaan dan hubungan antar manusia, kebencian dan dendam, puji-pujian dan nama-nama suci Allah, penolakan akidah agama palsu dan dongeng- dongeng, petunjuk dan ancaman penghukuman, akhirat, pedagangan dan pertanian, astrologi dan astronomi, fisika dan logika, pengobatan dan lain- lainnya, maka akar kata bahasa bersangkutan harus mampu membantunya sedemikian rupa dimana setiap konsep pemikiran ditopang oleh akar kata yang sejalan. Dengan cara demikian dapat ditegakkan keyakinan bahwa Wujud Yang Maha Sempurna yang telah menciptakan manusia, juga sejak awal telah menciptakan akar kata yang mampu mengekspresikan konsep-konsep pemikiran manusia.

Fitrat rasa keadilan akan mendorong kami harus mengakui jika karakteristik seperti itu terdapat juga dalam suatu bahasa selain bahasa Arab, yaitu mengandung pola indah dari akar kata yang selaras dengan struktur alamiah konsep pemikiran manusia serta mampu mengemukakan dalam kata-kata, ilustrasi dari setiap perbedaan halus berbagai tindakan. Bila ternyata akar katanya memang memadai untuk memenuhi semua keperluan guna pengungkapan konsep-konsep pemikiran, maka tidak diragukan lagi kalau bahasa itu memang diwahyukan karena yang seperti itu hanya mungkin merupakan hasil ciptaan Allah Swt dimana setelah membekali manusia dengan kapasitas untuk mengekspresikan dalam kata- kata berbagai konsep yang kompleks maka sewajarnya juga Dia membekali manusia dengan sarana akar kata verbal yang selaras dengan konsep pemikirannya. Dengan demikian maka firman dan tindakan Allah Swt akan saling terkait secara selaras.

Hanya saja kapasitas pemanfaatan akar kata dalam suatu formasi khusus untuk pengungkapan suatu konsep bukanlah suatu hal yang terdapat merata dalam semua bahasa. Banyak bahasa yang berkekurangan dalam hal ini dan terpaksa harus menggunakan kata-kata majemuk sebagai pengganti suatu kata dasar, dimana hal ini membuktikan kalau kata majemuk itu baru tercipta saat diperlukan oleh mereka yang menggunakan bahasa tersebut guna penyampaian ide pemikiran mereka. Karena itu, bahasa yang tidak memiliki kekurangan terhadap kelemahan demikian serta mempunyai kapasitas untuk memenuhi kebutuhannya dengan akar kata dan kata dasarnya, dimana kata-katanya sejalan dengan kinerja Tuhan, yaitu kemampuan pengungkapan konsep pemikiran pada tingkatnya yang sesuai, tanpa diragukan lagi disebut sebagai bahasa yang diwahyukan selaras dengan fitrat Ilahiah.

Sejujurnya patut diakui bahwa bahasa yang berciri khas sebagai sesuatu yang keluar dari “mulut” Allah Yang Maha Kuasa dan mempunyai sifat-sifat luar biasa serta menjadi ibu segala bahasa, adalah satu-satunya bahasa yang tepat bagi penyampaian wahyu yang paling sempurna. Wahyu-wahyu lainnya hanyalah merupakan cabang-cabang dari wahyu induk tersebut sebagaimana juga bahasa-bahasa lain merupakan cabang- cabang dari bahasa induk tersebut. Berdasarkan hal ini, nanti akan kami jelaskan pernyataan bahwa hanya Al-Quran saja yang mengandung wahyu hakiki yang sempurna dan lengkap. Kami juga akan mengembangkan thesis bahwa dengan mengakui bahasa Arab sebagai bahasa yang diwahyukan dan ibu dari segala bahasa, tidak saja kita harus mengakui bahwa Al-Quran adalah Firman Tuhan, tetapi juga hanya Al-Quran saja yang merupakan wahyu hakiki yang sempurna yang karenanya patut diberi nama Khatamal Kutub.

(Minanur Rahman, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, Ruhani Khazain, vol. 9, hal. 128-142, London, 1984).

Kemampuan Berbicara Sebagai Realitas Dasar

Perlu dikemukakan kalau penelitian atas kaidah-kaidah alam mendorong kita untuk mengakui bahwa sesuatu yang diciptakan atau datang dari Tuhan, pastilah akan membawa kita untuk mengakui keberadaan-Nya. Semua itu dibuktikan dari penelitian atas berbagai spesi ciptaan Tuhan. Karena itu jika bahasa Arab memang keluar dari “mulut” Tuhan sendiri, maka bahasa itu juga pasti memperlihatkan tanda-tanda tersebut sehingga bisa diyakini sepenuhnya kalau bahasa itu berasal dari Allah Yang Maha Kuasa tanpa intervensi upaya manusia. Segala puji bagi Allah karena bahasa Arab memang menunjukkan tanda-tanda demikian secara jelas dan nyata. Ayat yang menyatakan:

“Tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. 51, Adz-Dzariyat: 57) menyatakan tujuan pokok dari penciptaan manusia dengan segala kemampuannya. Begitu juga kaidah yang sama berlaku terhadap bahasa Arab sebagai bahasa manusia yang sebenarnya dan yang juga merupakan hasil ciptaan-Nya.

Bisa dimengerti kalau penciptaan wujud manusia belum akan dianggap lengkap jika tidak disertai juga dengan penciptaan kemampuannya untuk berbicara. Sesungguhnya keindahan dari kemanusiaan adalah kemampuannya berbicara beserta segala ikutannya. Jadi pengukuhan bahwa Allah Yang Maha Kuasa telah menciptakan manusia untuk menyembah-Nya juga mengandung arti bahwa Dia telah menciptakan realitas kemanusiaan yang berbentuk kemampuan berbicara, dimana kemampuan ini beserta semua kemampuan-kemampuan dan pengamalan lainnya adalah semata-mata untuk mengkhidmati Wujud-Nya.

Bila kita renungi tentang apa sebenarnya yang dimaksud sebagai manusia, akan jelas bahwa ia adalah makhluk hidup yang sama sekali berbeda dari makhluk hidup lainnya karena kemampuan berbicaranya itu. Hal ini menjelaskan bahwa kemampuan berbicara merupakan realitas dasar daripada manusia, sedangkan kemampuan-kemampuan lainnya menjadi hamba dan tunduk kepada kemampuan tersebut. Karena itu jika ada yang mengatakan bahwa bahasa manusia tidak berasal dari Allah Yang Maha Agung, sama saja dengan mengatakan bahwa fitrat kemanusiaannya juga tidak berasal dari Dia. Adalah suatu hal yang pasti bahwa Tuhan adalah pencipta manusia dan karena itu juga menjadi Guru yang mengajarnya bicara. Lalu dalam bahasa apa sang Guru mengajar manusia, pastinya ditentukan oleh pertimbangan bahwa bahasa bersangkutan haruslah memadai untuk mengenali Tuhan, dimana kemampuan lain dari manusia melayani dirinya untuk memenuhi tujuan dari ayat:

“Tidaklah Aku menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. 51, Adz-Dzariyat: 57) dimana sebagaimana telah dijelaskan hanya bahasa Arab saja yang memenuhi persyaratan tersebut.

Bahasa Arab memiliki kemampuan luar biasa untuk menyampaikan kepada manusia pemahaman tentang Tuhan dimana bahasa ini dapat mengungkapkan secara indah dalam kata-kata dasarnya mengenai perbedaan di antara sifat-sifat Ilahi yang terdapat dalam hukum alam. Bahasa ini memperjelas perbedaan yang halus dan tersirat di antara sifatsifat Ilahi serta bukti Ketauhidan-Nya dalam hukum alam. Begitu pula berbagai bentuk rancangan Ilahi berkenaan dengan para makhluk-Nya yang dipaparkan secara indah. Bahasa tersebut menggambarkan secara jelas perbedaan tersirat di antara sifat-sifat dan fitrat Ilahi di satu sisi, serta rancangan dan kinerja-Nya di sisi lain, dimana semuanya itu tercermin dalam hukum alam.

Dengan demikian jelas kiranya bahwa Tuhan sejak awal telah dengan sengaja menciptakan bahasa Arab sebagai sarana manifestasi segala sifat-sifat, kinerja dan rancangan-Nya serta menggambarkan keselarasan di antara firman dengan hasil karya-Nya dan sebagai kunci untuk memecahkan segala hal yang berkaitan dengan misteri Ketuhanan. Kalau kita perhatikan karakteristik agung dan indah dari bahasa Arab tersebut, terasa jika bahasa-bahasa lainnya itu gelap dan berkekurangan. Tidak ada bahasa lain yang memiliki kualitas seperti yang inheren di dalam bahasa Arab yaitu bahwa bahasa ini merupakan cermin bagi sifat-sifat dan petunjuk Ilahi serta memberikan diagram rekflektif dari pola-pola alamiah berbagai aspek Ketuhanan.

Bila kita amati dengan bantuan fikiran yang waras dan jernih tentang pembagian sifat-sifat Ilahi sebagaimana tercermin secara alamiah dalam buku tentang alam ini sejak awalnya, kita juga akan menemukan pembagian yang sama dalam kata-kata dasar dari bahasa Arab. Sebagai contoh, bila kita mengamati berapa banyak aspek rahmat Ilahi secara dasarnya dipilah-pilah, maka hukum alam memberitahukan kepada kita bahwa rahmat-Nya memiliki dua aspek yaitu keberadaannya sebelum ada tindakan apa pun dari diri kita dan yang keberadaannya muncul setelah upaya kita. Sistem kebijaksanaan secara nyata membuktikan bahwa rahmat Ilahi dimanifestasikan kepada manusia dalam dua aspek sejalan dengan pemilahan dasarnya.

Dua Aspek Rahmat Ilahi

Pertama adalah rahmat yang dimanifestasikan kepada manusia tanpa perlu ada tindakan apa pun dari umat manusia. Sebagai contoh adalah penciptaan langit dan bumi, matahari dan bulan, planet-planet, air, udara, api dan segala karunia yang merupakan persyaratan pokok bagi kehidupan dan keselamatan manusia. Tidak diragukan lagi kalau semua karunia itu merupakan rahmat bagi manusia semata-mata karena sifat pemurah dan penyayang-Nya. Semua itu adalah rahmat yang telah beroperasi sejak sebelum adanya manusia.

Bentuk rahmat yang kedua adalah yang mewujud karena amal baik manusia. Sebagai contoh, jika manusia berdoa secara khusuk maka doanya akan dikabulkan. Bila ia mengolah tanahnya secara tekun dan menebarkan benihnya, rahmat Ilahi akan menumbuhkan tanamannya sehingga menghasilkan panen yang melimpah. Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa rahmat Ilahi selalu menyertai siapa pun yang beramal saleh, tanpa membedakan apakah yang bersangkutan itu bersifat sekuler atau beragama. Apa pun yang kita kerjakan sepanjang selaras dengan kaidah-kaidah Tuhan, maka rahmat Ilahi akan menyertai dan menjadikan amalan kita memberikan hasil.

Kedua bentuk rahmat tersebut demikian esensialnya sehingga kita tidak mungkin selamat tanpanya. Tidak ada seorang pun yang akan menyangsikan eksistensinya. Keduanya merupakan manifestasi cemerlang yang mendukung keseluruhan pola kehidupan manusia. Kalau sudah diyakini bahwa Allah Yang Maha Agung telah menyebabkan mata air dari dua rahmat itu mengalir demi menopang dan guna penyempurnaan pohon kehidupan kita, maka sekarang kita akan melihat bagaimana kedua sumber mata air tersebut direfleksikan dalam bahasa Arab.

Karena sifat dari rahmat yang pertama maka AllahSwt dalam bahasa Arab disebut sebagai Rahmãn, dan karena sifat yang kedua maka Dia disebut sebagai Rahĩm. Adalah dengan tujuan untuk menggambarkan sifat dari bahasa Arab ini maka kami telah mengutarakan istilah Rahman di awal artikel ini. Karena sifat rahmat menurut pemilahan dasar terdiri dari dua jenis sebagai-mana diatur dalam hukum alam Ilahi, maka bahasa Arab pun mempunyai dua kata dasar untuk itu. Kriteria sifat dan kinerja Ilahi sebagaimana terdapat dalam hukum alam tersebut akan sangat membantu seorang pencari kebenaran untuk memahami perbedaan tersirat dalam bahasa Arab serta untuk menelaah pemilahan-pemilahan dalam kata-kata dasar bahasa itu sejalan dengan hukum alam.

Bila ada yang ingin meneliti perbedaan di antara sinonim-sinonim bahasa Arab khususnya yang berkaitan dengan sifat atau kinerja Tuhan, perhatian kiranya perlu diarahkan pada pemilahan sifat-sifat dan kinerja tersebut sebagaimana yang tercermin dalam hukum alam. Hal ini adalah karena tujuan hakiki dari bahasa Arab ialah mengkhidmati Ilahiah, dimana tujuan manusia adalah memahami Allah Yang Maha Kuasa dan hal ini bisa dicapai dengan cara mengetahui tujuan dari suatu ciptaan. Sebagai contoh, seekor lembu diciptakan dengan tujuan sebagai sarana transportasi atau meluku tanah. Kalau kita mengabaikan tujuan tersebut dan menggunakannya sebagai anjing pemburu maka hewan itu akan gagal dan dianggap tidak berguna. Sebaliknya, bila hewan itu kita gunakan di ladang menjalankan fungsi yang menjadi tujuannya maka akan terlihat bahwa lembu tersebut memiliki porsi tanggung jawab yang besar dalam sistem pemeliharaan kehidupan manusia.

Singkat kata, nilai sesuatu dinyatakan oleh kegunaannya dalam menjalankan fungsi tujuan hakikinya. Tujuan hakiki dari bahasa Arab adalah untuk menggambarkan wujud cemerlang dari semua manifestasi Ketuhanan. Mengingat pelaksanaan dari tindak yang halus dan tersirat tersebut serta menjaganya dari segala kesalahan adalah suatu hal yang berada di luar kemampuan manusia, maka Allah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang telah mewahyukan Al-Quran dalam bahasa Arab karena hanya bahasa ini saja yang memiliki pembedaan tersirat di antara berbagai kata dasar serta konotasi yang luar biasa kaya dalam kata-kata majemuknya. Semua kelebihan bahasa Arab tidak saja diakui oleh para ahli bahasa yang paling terkemuka, tetapi juga menunjukkan ketidak-mampuan manusia mencipta padanannya dalam mengungkapkan segala kebenaran dan wawasan yang dikandungnya.

Kita telah mempelajari perbedaan di antara Rahmãn dan Rahĩm dalam Kitab Suci Al-Quran sebagai salah satu contoh dalam pandangan kita tentang bahasa Arab ini. Setiap bahasa mengandung banyak sekali sinonim-sinonim, namun sepanjang kita belum memahami perbedaanperbedaan di antaranya dan sepanjang kata-kata tersebut tidak berkaitan dengan hal-hal mengenai Ketuhanan dan ajaran keagamaan, rasanya tidak perlu dihiraukan.

Perlu diingat bahwa manusia tidak dapat mencipta kata-kata dasar tersebut, tetapi begitu sudah tercipta melalui kekuatan Ilahi maka manusia melalui penelaahannya dapat menemukan pembedaan tersirat yang terkandung dan pemanfaatannya sesuai tujuan. Sebagai contoh, para ahli tata bahasa setelah mempelajari bahasa alamiah ini menemukan bahwa bahasa itu merupakan ilustrasi dari sistem tatanannya, dan mereka selanjutnya memformulasikan tatanan itu untuk mempermudah pembelajaran bahasa tersebut. Begitu juga dengan Al-Quran, melalui penggunaan setiap kata di tempatnya yang sesuai, telah menggambarkan bagaimana kata-kata dasar bahasa Arab dapat dimanfaatkan, bagaimana kata-kata itu telah mengkhidmati Ketuhanan dan betapa halus perbedaan di antaranya.

Konotasi Beberapa Kata-Kata Bahasa Arab

Sekarang mari kita telaah beberapa konotasi dari sebuah kata bahasa Arab yang juga telah kami pilih dari Al-Quran yaitu kata Rabb. Kata ini muncul dalam ayat pertama dari Surah pertama dalam Al-Quran dimana dinyatakan:

“Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta.”

Kitab Lisanul Arab dan Tajul Urus yang merupakan dua buku leksikon (kamus) bahasa Arab yang paling dipercaya, telah mengemukakan bahwa kata Rabb mengandung tujuh konotasi yaitu: Mãlik (Tuan atau Pemilik), Sayyad (Tuan atau Penghulu), Mudabbir (Pengatur), Murabbi (Yang Memelihara/mendidik), Qayyũm (Tegak dengan Dzat-Nya sendiri), Mun’im (Pemberi) dan Mutammim (Penyempurna). Dari tujuh konotasi itu, tiga di antaranya berkaitan dengan keagungan Wujud Yang Maha Agung itu sendiri. Salah satunya adalah Mãlik yang membawa konotasi bahwa Dia adalah Pemilik alam semesta yang dapat menggunakannya menurut kehendak-Nya Sendiri dimana kepemilikan-Nya tidak ada berbagi dengan siapa pun. Kata ini dalam pengertiannya yang murni tidak dapat diterapkan pada siapa pun kecuali Allah Yang Maha Kuasa karena kendali penuh serta kekuasaan mutlak serta hak Yang sempurna tidak mungkin diterapkan kepada siapa pun kecuali Allah Yang Maha Agung.

Kata Sayyad mengandung konotasi bahwa terdapat banyak sekali bawahan yang melayani wujud bersangkutan semata-mata karena hasrat dan kepatuhan alamiah. Perbedaan di antara seorang raja dengan sayyad adalah seorang raja menaklukkan rakyatnya dengan kekuatan dan disiplin peraturannya, sedangkan pengikut sayyad patuh kepadanya secara sukarela semata-mata karena kecintaan dan hasrat yang tulus serta menganggapnya sebagai penghulu hanya karena rasa sayang. Seorang raja bisa saja dipatuhi dalam semangat demikian jika ia dalam pandangan rakyatnya memang dianggap sebagai seorang sayyad. Kata ini pun tidak bisa digunakan selain kepada Allah Swt karena kepatuhan yang tulus dan bersemangat tanpa memperhatikan kepentingan pribadi tidak mungkin dapat diberikan selain kepada Allah Swt Hanya Dia saja kepada siapa kalbu manusia bersujud karena hanya Dia itulah Sumber penciptaan diri mereka. Karena itulah setiap kalbu secara alamiah bersujud kepada-Nya.

Para penyembah berhala dan manusia lainnya juga memiliki hasrat untuk mematuhi sembahannya sebagai wujud Ketauhidan Ilahi, namun mereka gagal karena kekeliruan dan nafsu yang salah untuk mengenali sumber hakiki dari kehidupan dimana karena kebutaannya mereka telah mengarahkan hasrat mereka kepada benda-benda yang salah. Karena itulah mengapa mereka ada yang menyembah batu, Ramchandra,3] Krishna4] atau pun Yesus putra Maryam karena kekeliruan pandangan yang memandang sembahan mereka sebagai Tuhan yang benar. Mereka merusak diri mereka sendiri dengan menganggap makhluk lain sebagai Tuhan. Begitu pula dengan manusia yang mengikuti nafsunya sendiri dimana mereka telah tersesat dalam pencarian keruhanian mereka akan Yang Maha Terkasih dan wujud sayyad. Hati mereka sebenarnya juga mencari wujud sayyad yang benar tetapi karena gagal dalam mengenali hasrat hati mereka yang suci dan murni, akhirnya mereka menganggap harta kekayaan dan kesenangan duniawi sebagai sembahannya. Hal ini merupakan kesalahan diri mereka sendiri. Yang menjadi pencetus hasrat keruhanian yang sejati serta sumber murni dari segala konotasi adalah Wujud yang berfirman:

“Tidaklah Aku menciptakan Jin dan Manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. 51, Adz-Dzariyat: 57).

Dengan kata lain, hanya penyembahan Dia sajalah yang menjadi tujuan diciptakannya manusia berikut segala kemampuannya, dimana semua itu diciptakan agar mampu mengenali dan menyembah Tuhan-nya. Ayat tersebut mengindikasikan bahwa penciptaan manusia telah dibekali dengan hasrat pencarian, pengenalan dan kepatuhan kepada Tuhan. Jika nyatanya manusia memang tidak dibekali demikian maka tidak akan ada manusia yang memburu nafsu, menyembah berhala atau menyembah manusia di dunia ini, karena semua kekeliruan itu muncul akibat kesalahan dalam mengungkap kebenaran. Hanya Allah saja yang sebenar-benarnya Sayyad.

Sifat lainnya adalah Mudabbir (Pengatur). Dalam kata itu terkandung pengertian bahwa semua usaha, keseluruhan sistem peristiwa di masa lalu serta segala konsekwensi di masa depan berikut pengaturan segala sesuatu di tempatnya yang sesuai tanpa kecuali. Atribut ini pun tidak mungkin dikenakan kepada siapa pun kecuali Tuhan karena perencanaan yang sempurna menuntut adanya pengetahuan tentang segala hal yang tersembunyi dan hal ini semata-mata hanya milik Allah Yang Maha Kuasa.

Keempat nama lainnya yaitu Murabbi, Qayyũm, Mun’im dan Mutammim mengindikasikan karunia yang dilimpahkan AllahSwt kepada manusia sebagai berkat dari sifat Pengendalian, Kepemimpinan dan Perencanaan yang maha sempurna. Murabbi berarti Dia yang memelihara, dimana pemeliharaan yang sempurna mencakup semua aspek kemanusiaan seperti jiwa, raga, fitrat dan kemampuan. Adapun sistem pemeliharaan itu tentunya berlanjut sampai tingkat puncak dari kemajuan manusia dalam jasmani dan keruhanian. Manifestasi titik awal dimana kemanusiaan bermula dan ciri-cirinya bergerak dari titik ketiadaan menuju eksistensi, juga termasuk dalam fungsi memelihara ini. Hal tersebut memperlihatkan bahwa kosa kata rububiyyat dalam bahasa Arab memiliki konotasi yang luas sekali karena mencakup keseluruhan dari titik ketiadaan sampai klimaks kesempurnaan. Nama-nama Sang Maha Pencipta dan sejenisnya merupakan turunan dari kata Rabb.

Adapun Qayyũm berarti wujud yang menjaga keseluruhan sistem, sedangkan Mun’im adalah Wujud Yang menurunkan semua karunia bagi manusia dan segala makhluk, sejalan dengan kapasitas dan hasrat mereka agar dapat mencapai klimaks sebagaimana dinyatakan ayat:

“Tuhan kami ialah Dia Yang memberikan kepada segala sesuatu bentuk yang serasi dan kemudian Dia memberi petunjuk kepadanya untuk melaksanakan tugasnya yang murni.” (QS. 20, Tha Ha: 51).

Berarti setiap makhluk telah dianugerahi semua fitrat yang diperlukan serta disediakan petunjuk guna mencapai puncak kesempurnaan. Kata Mutammim mengandung pengertian bahwa sistem Rahmaniyat Tuhan tidak akan mengandung cacat sedikit pun serta akan membawa kepada kesempurnaan dalam semua aspeknya. Jadi kata Rabb di atas mengandung semua bentuk konotasi sebagaimana diuraikan secara singkat.

Dengan sedih hati kami terpaksa mengemukakan adanya seorang penulis Kristen Eropa yang secara serampangan dalam salah satu bukunya menyatakan bahwa agama Kristen memiliki keunggulan di atas agama Islam karena mereka menggunakan istilah “Bapak” bagi Tuhan yang menurut mereka adalah suatu istilah yang cantik dan terkesan akrab, dimana nama ini tidak ada digunakan dalam Al-Quran. Mengherankan bahwa si kritikus ini tidak mempertimbang-kan pengertian keagungan dan kebesaran dari istilah “Bapak” dari leksikon (kamus bahasa) yang ada, karena kita baru bisa menghargai setiap kata jika jelas pengertiannya, sedangkan pengertian di luar leksikon tentunya tidak absah. Berdasarkan hal itu juga maka Firman Tuhan tidak mengabaikan leksikon sehingga seorang yang waras fikirannya tentunya merujuk terlebih dahulu kepada leksikon sebelum menetapkan posisi suatu kata.

Dengan memperhatikan kriteria tersebut, dari pengamatan kami ditemukan bahwa leksikon ada mengungkapkan kalau seseorang dilahirkan dari benih seorang lainnya dimana sang pemilik benih ini kemudian tidak lagi mempunyai hubungan langsung dengan kelahiran yang bersangkutan, maka dikatakan bahwa orang itu adalah bapaknya.
Jika yang dimaksudkan untuk menggambarkan bahwa Allah yang Maha Perkasa sebagai wujud yang mencipta seseorang secara sadar dan Dia Sendiri Yang akan membimbingnya ke arah kesempurnaan, dimana berdasar sifat Pemurah-Nya maka Dia melimpahkan karunia yang sepadan kepadanya dan Dia menjadi Maha Penjaga dan Maha Pemelihara, yang jelas leksikon tidak ada mengatur bahwa konotasi seperti itu boleh diekspresikan dengan kata “Bapak”. Leksikon memberikan istilah lain untuk ekspresi konsep seperti itu yaitu perkataan Rabb yang maknanya telah diuraikan di atas berdasarkan penjelasan leksikon. Kita tentunya tidak bisa menciptakan leksikon sendiri dan sepatutnya mengikuti pemilahan kata sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah Yang Maha Agung dari sejak awalnya.

Istilah “Bapak” Bagi Tuhan

Dari sini jelas kiranya bahwa penggunaan kata “Bapak” bagi Tuhan merupakan suatu penghinaan dan sikap tidak menghormati Wujud-Nya. Mereka yang mengarang cerita bahwa Yesus terbiasa menyebut Allah Yang Maha Kuasa sebagai “Bapak” dan bahkan meyakini kalau Tuhan adalah bapak beliau, sesungguhnya telah melakukan kesalahan memfitnah beliau dengan suatu pelanggaran keji yang palsu. Bisakah seseorang yang waras membayangkan bahwa Yesus akan melakukan hal seperti itu terhadap Allah Yang Maha Luhur yaitu menerapkan suatu kata yang menurut etimologi (ilmu akar kata) bermakna demikian rendah, menghina dan mensiratkan kelemahan dari sudut pandang mana pun?

Kata Ab (bapak) bermakna demikian rendah dan menghina dimana tidak ada tersirat fitrat kecintaan, pemeliharaan atau perencanaan di dalamnya. Sebagai contoh, seekor kambing jantan yang mengawini betinanya untuk melepaskan benih-benihnya, atau seekor banteng yang melepaskan nafsunya kepada seekor sapi betina untuk kemudian meninggalkannya tanpa memikirkan kemungkinan akan lahir anak sapi dari tindakannya itu, atau juga seperti babi yang selalu secara berulangkali sibuk melepas nafsunya tanpa memikirkan bahwa dari tindakannya itu akan lahir sekumpulan anak babi yang akan menyebar di muka bumi, tanpa diragukan lagi para jantan seperti itu disebut sebagai bapak mereka. Berdasarkan semua leksikon yang ada, perkataan “Bapak” tidak ada mensiratkan bahwa seorang bapak setelah melepas bibitnya lalu melakukan tindakan lainnya guna memastikan agar lahir seorang bayi, atau hal itu memang telah ia rencanakan saat melakukan persetubuhan. Malah sebenarnya kata “Bapak” dalam leksikon tidak ada menggambarkan keinginan yang bersangkutan mempunyai keturunan karena implikasi yang dimunculkan hanyalah tentang ia melepaskan bibitnya saja.

Karena itu bagaimana mungkin menggunakan kata yang demikian rendahnya terhadap Wujud Yang Maha Kuasa yang semua hasil kinerjaNya merupakan cerminan dari Perencanaan, Pengetahuan dan KekuasaanNya yang sempurna? Bagaimana dapat dibenarkan suatu kata yang bisa digunakan terhadap seekor sapi atau babi, juga digunakan terhadap Allah Yang Maha Agung? Alangkah jahatnya tindakan yang terus saja dilakukan oleh umat Kristen yang tuna ilmu itu. Mereka terkesan tidak mempunyai rasa malu, kepantasan atau pun pengertian tentang nilai-nilai kemanusiaan. Akidah penebusan telah melumpuhkan fitrat manusiawi mereka sehingga mereka jadinya tidak lagi punya perasaan.

Kita rasanya perlu menyimak keraguan yang dikemukakan oleh Max Muller 5] dalam jilid pertama bukunya yang berjudul Science of Languages dimana ia mengatakan: “Salah satu faktor yang menghambat kemajuan pengetahuan adalah karena kelakuan kelompok orang yang karena ingin mempermalukan orang lain, lalu menggunakan nama panggilan mencemoohkan, dengan akibat mereka tidak mampu memahami bahasa mereka yang dihinakan itu. Sepanjang kata liar dan serampangan (ajami) seperti yang diterapkan pada kelompok tersebut tidak dihapus dari kamus bahasa manusia untuk digantikan dengan kata “saudara” dan sepanjang belum ada pengakuan bahwa umat manusia sesungguhnya adalah satu spesi yang sama, maka tidak akan ada awal permulaan dari pengetahuan mengenai bahasa-bahasa.” Pernyataan di atas menunjukkan kalau si pengarang ini bersifat kritis terhadap bahasa Arab dan membayangkan bahwa ekspresi Ajam seperti diterapkan kepada mereka yang tidak berbahasa Arab adalah karena adanya pelecehan dan kefanatikan pandangan terhadap mereka. Ia melakukan kesalahan ini karena kefanatikan Kristiani dirinya telah menghalanginya memahami istilah ‘Ajam dan Arab itu apakah hasil ciptaan manusia atau berasal dari AllahSwt Ia sendiri mengakui dalam bukunya kalau manusia tidak memiliki kemampuan merumuskan kata-kata dasar suatu bahasa dengan kebisaan sendiri. Bahasa Arab memiliki dua kata yang saling terkait. Yang satu adalah Arab yang berkonotasi kefasihan dan penguasaan pengungkapan ekspresi, sedangkan yang lainnya adalah ‘Ajam yang bermakna tidak fasih dan berlidah kelu. Jika Max Muller menganggap bahwa kedua kata itu bukan berasal dari zaman purba dan Islam menciptanya hanya karena rasa kefanatikan, maka mestinya ia mampu menspesifikasikan istilah asli yang digunakan dalam konotasi tersebut karena tidak mungkin jika tidak ada kaitannya dengan masa-masa terdahulu. Kalau ternyata terbukti bahwa kedua ekspresi tersebut memang sudah demikian dari zaman purba, berarti kata-kata itu bukan merupakan hasil ciptaan manusia melainkan ciptaan Yang Maha Mengetahui yang telah mencipta manusia dengan fitrat yang berbeda-beda dimana Dia sendiri menerapkan kedua kata itu kepada berbagai bangsa sejalan dengan kemampuan mereka masing-masing.

Pandangan yang menyatakan bahwa kedua ekspresi yaitu Arab dan ‘Ajam tersebut telah diciptakan oleh beberapa orang hanya karena rasa fanatik dan memandang rendah orang lain, jelas bertentangan dengan fakta serta dusta adanya. Kami telah mengemukakan dalam buku ini bahwa kata Arab menggambarkan suatu realitas, dan memang benar adanya kalau bahasa Arab karena sistemnya tentang kata-kata dasar dan strukturnya yang halus serta keindahan-keindahan lainnya, menduduki posisi demikian tinggi sehingga membuat orang terpaksa harus mengakui bahwa jika dibandingkan maka bahasa lainnya itu terkesan dungu. Belum lagi dari pengamatan kami terkesan bahwa bahasa-bahasa lain itu bersifat kaku seperti benda-benda solid dan tidak mempunyai gerak ke arah perkembangan layaknya sesuatu yang sudah mati sehingga harus dikatakan bahwa bahasa tersebut menduduki posisi yang amat rendah. Bahasa Arab menyebut mereka yang non-Arab secara sopan dengan kata Ajam padahal sebenarnya mereka itu pun tidak pantas mendapat gelar tersebut. Deskripsi yang paling tepat dari kondisi rendah bahasa-bahasa mereka itu adalah sebagai bahasa-bahasa mati. (Minanur Rahman, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, Ruhani Khazain, vol. 9, hal. 145-161, London, 1984).

Agung sungguh bahasa Arab, betapa cantik perwujudannya dengan jubah yang cemerlang. Bumi telah menjadi lebih terang berkat nurnya yang agung dan terbukti kalau bahasa ini telah merangkum hasrat tertinggi manusia. Di dalamnya ditemui berbagai keajaiban dari yang Maha Bijaksana dan Maha Kuasa sebagaimana dapat dilihat dalam segala hal yang berasal dari sang Maha Pencipta. AllahSwt telah menyempurnakan keseluruhan kerangkanya dalam keindahan dan kecemerlangan, dimana tidak ada yang meragukan kesempurnaan ekspresi yang mencakup semua harapan manusia. Tidak ada satu tindakan pun, atau sifat-sifat AllahSwt, atau akidah manusia, yang tidak ada akar katanya dalam bahasa Arab. (Minanur Rahman, Manager Book Depot, Qadian, Talifo Ishaat, 1922, Ruhani Khazain, vol. 9, hal. 193-194, London, 1984).


Khalid, A.Q (Penerjemah). 2017. Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Ekstrak dari Tulisan, Pidato, Pengumuman dan Wacana Masih Mau’ud dan Imam Mahdi, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Hal 277-279). Jakarta: Neratja Press