Kebebasan Berpendapat dan Toleransi dalam Islam

Pidato Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Ahmadiyah

di Masjid Baitul Futuh, Morden, 25 Maret 2006

Para tamu terhormat, bapak-bapak dan ibu-ibu

Assalamu’alaikum warohmatullahi wa barokaatuhu

Beberapa bulan yang lalu, sebuah surat kabar Denmark menerbitkan beberapa kartun tentang Rasulullah saw yang sayangnya, penerbiatan itu dibuat untuk menggambarkan bahwa hukum dan ajaran yang dibawa oleh beliau adalah salah satu bentuk ekstremisme. Sebagai hasilnya terorisme dan kekejaman tumbuh di hati para pengikut Islam. Mereka menuduh umat Islam percaya bahwa solusi untuk semua permasalahan adalah dengan menerapkan cara-cara yang kejam dan biadab. Menurut mereka tidak ada konsep toleransi, perdamaian, cinta dan kasih sayang dalam Islam.

Pihak non-Muslim menarik kesimpulan berdasarkan perilaku dan tindakan keliru dari pihak yang disebut sebagai organisasi Jihad dan serangan bom bunuh diri. Alih-alih memecahkan masalah melalui kasih sayang dan saling menghormati, mereka menampilkan sikap keras kepala dan intoleran. Dan sayangnya juga,  beberapa ulama saat ini malah mendukung organisasi Jihad tersebut meskipun tindakan mereka benar-benar bertentangan dengan ajaran Islam.

Tapi saya ingin mengatakan satu hal – yang mungkin dapat ditafsirkan seolah-olah saya mendukung organisasi Jihad tersebut – kekuasaan sewenang-wenang yang diterapkan oleh negara-negara adidaya terhadap negara-negara miskin dan negara berkembang serta standar ganda yang mereka terapkan ketika terjadi kesepakatan antara mereka dengan negara-negara tersebut adalah penyebab alami reaksi kekerasan oleh bangsa-bangsa itu. Tentu saja ini bukanlah cara-cara Islam dan sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Pada saat ini,  kecenderungan tidak menyelaraskan diri dengan ajaran suatu keyakinan adalah suatu kelaziman di antara penganut agama lain sebagaimana umat Islam kebanyakan yang ber-islam di mulut saja meskipun perbuatan mereka tidak islami. Pada waktunya, dibutuhkan seorang reformer untuk menyelaraskan tindakan orang-orang dengan ajaran agama. Itulah sebabnya mengapa Jamaah Muslim Ahmadiyah memegang keyakinan bahwa dengan berlalunya waktu orang-orang mulai melupakan keimanan mereka, kemudian atas karunia-Nya, Tuhan mengutus para nabi atau reformer yang membawa kembali umat manusia ke jalan Allah, sehingga manusia ingat untuk menunaikan kewajiban mereka kepada sang pencipta dan terhadap sesama.

Kami umat Islam percaya bahwa ada sekitar 124.000 utusan Allah yang telah datang ke dunia ini. Mereka memperkenalkan pada satu Tuhan dan mengajarkan manusia untuk hidup dalam cinta dan kasih sayang antar satu sama lain. Utusan Allah yang terakhir yang membawa syariat dan ajaran yang baru adalah adalah Rasulullah saw. Dengan kata lain, seorang Muslim adalah yang percaya pada semua nabi dan reformer mulai dari Adam as sampai Nabi Muhammad saw.

Selain itu, Ahmadi Muslim yakin bahwa sesuai dengan nubuatan nabi-nabi terdahulu tentang sosok reformer di akhir zaman, sosok tersebut telah datang dan kami meyakininya. Namun demikian hukum dan ajarannya sama dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw.

Tujuan dari paparan ini adalah hendak menunjukkan bahwa sebuah agama yang mengharuskan meyakini dan menghormati semua utusan Allah, dan meyakini bahwa ajaran-ajaran yang disampaikan kepada mereka pada masa kedatangan mereka adalah benar – maka bagaimana bisa dikatakan bahwa agama seperti ini tidak mengajarkan toleransi terhadap agama lain? Bagaimana bisa dikatakan agama tersebut tidak mengajarkan perdamaian dan kerukunan dengan agama lain? Bagaimana bisa agama tersebut mengajarkan intoleransi agama dan menganjurkan hidup dengan orang lain selain dengan cinta dan kasih sayang? Tidak mungkin. Menyatakan bahwa dalam Islam ini tidak ada nilai-nilai kesabaran dan kebebasan berpendapat adalah suatu tuduhan yang tidak berdasar.

 

Ajaran Islam Tentang Toleransi

Karena keterbatasan waktu, saya akan sajikan beberapa contoh-contoh ajaran Islam tentang toleransi, apa maksud kebebasan berekspresi dan hak untuk mengeluarkan pendapat dan bagaimana contoh yang ditunjukkan Nabi Muhammad saw dari ajaran yang indah ini serta sunnah-sunnah apa yang mesti diikuti oleh umat Islam. Sehingga saya berharap, beberapa aspek penting dari ajaran-ajaran ini akan menjadi jelas.

Tapi pertama-tama, saya ingin mengatakan bahwa arti dari “Islam” mengandung makna antidote dari kekejaman, disharmonisasi dan intoleransi. Saya akan mendefinisikan beberapa makna utama dari kata Islam. Salah satu artinya adalah damai, penyerahan diri dan ketaatan, dan juga berarti menciptakan kerukunan dan perdamaian. Salah satu makna lainnya adalah menghindari orang yang menyakiti, arti lainnya adalah hidup bersama secara harmonis. Tujuan dari penjelasan tentang kata Islam yang diberikan oleh Allah pada agama ini adalah karena seluruh ajaran-ajaran dan hukum-hukum yang dibawa oleh Rasulullah saw penuh dengan cinta, toleransi, kesabaran, dan kebebasan hati nurani dan berbicara dan hak untuk mengungkapkan pendapat.

Setelah penjelasan singkat ini, izinkan saya menyebutkan ajaran tentang kebebasan hati nurani, berkeyakinan dan berpendapat dan juga toleransi yang diajarkan oleh Al-Quran. Perlu diingat bahwa ketika sesuatu dikaitkan dengan agama, maka referensi utama haruslah berasal dari kitab suci agama yang menjadi prinsip hukum dan ajaran yang dipegang.

Ketika Rasulullah saw mendakwahkan diri bahwa beliau adalah utusan Allah dan atas bimbingan Allah pula menyatakan bahwa beliau adalah seorang nabi dengan membawa syariat terakhir. Dan satu-satunya sarana keselamatan adalah dengan menerima Islam dan menyesuaikan diri dengan perintah-perintah Allah yang Mahakuasa, kemudian pengumuman ini dinyatakan sebagai berikut oleh Allah yang Mahakuasa:

وَقُلِ الحَقُّ مِن رَبِّكُم ۖ فَمَن شاءَ فَليُؤمِن وَمَن شاءَ فَليَكفُر

Dan katakanlah, “Inilah kebenaran dari Tuhan-mu; maka barangsiapa menghendaki, maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki, maka ingkarlah.” ( Q.S 18: 30 )

Selanjutnya, urusan Allah taala sendiri untuk memberi balasan pada orang yang tidak beriman, di dunia maupun di akhirat. Oleh karena itu, wahai Nabi dan wahai orang-orang yang beriman pada nabi ini, tugas kalian hanyalah menyampaikan pesan tersebut.  Untuk kepentingan menciptakan lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang serta toleransi, kalian harus menyebarkan pesan ini dengan penuh kebaikan. Karena Anda yakin bahwa dengan ajaran Tuhan yang diberikan kepadamu, agama kalian adalah benar dan berdasarkan pada kebenaran. Ini adalah prasyarat bagi terciptanya kebaikan bagi orang lain, bahwa apa yang kalian anggap benar untuk diri kalian, kalian harus menyebarkannya juga pada seluruh umat manusia dan juga melibatkan mereka dalam perintah ini.

Mungkin bisa saja diajukan keberatan seperti ini bahwa pilihan untuk beriman atau tidak beriman yang diberikan kepada orang-orang Mekah itu diberikan pada saat posisi umat Islam masih sangat lemah. Maka kata itulah yang dipergunakan sehingga orang-orang kafir Mekkah tidak membinasakan umat Islam dengan kejam.

Keberatan ini adalah argumen yang lemah. Walaupun adanya perintah ini, kaum kafir Makkah tidak berhenti dalam hal kekejaman mereka terhadap umat Islam. Mereka menganiaya orang Islam disebabkan karena keimanan umat Islam. Beberapa orang disiksa diletakkan di atas batu yang membara, beberapa lainnya disuruh berbaring di atas pasir yang panas di bawah terik matahari. Beberapa mereka diikat kakinya pada dua unta dan unta tersebut ditunggangi ke arah yang berlawanan yang menyebabkan tubuh orang Islam terpotong menjadi dua bagian. Bahkan wanita-wanita  dipukuli dan tidak terhindar dari penyiksaan ini. Jadi jika ayat sebelumnya yang saya kutip dimaksudkan untuk menyelamatkan umat Islam dari kekejaman, maka sejarah membuktikan bahwa hal itu tidak mengarah pada tujuan itu. Perintah ini tidak terbatas pada saat itu saja tapi hal itu juga berlaku dalam Quran Suci untuk saat ini.

Saya telah memberikan contoh kekejaman yang biadab sehingga Anda dapat merenungkannya. Sekali lagi, untuk memperhatikan batasan waktu tersebut, saya berharap Anda akan memahami ini dari satu atau dua peristiwa yang akan saya hubungkan, sejauh mana Islam menjamin kebebasan hati nurani dan menuntut terciptanya toleransi dan persatuan.

Tidak tahan dengan kekejaman yang ditimbulkan oleh orang-orang sebangsa sendiri, kaum Muslim hijrah ke Madinah. Mulanya kaum muslim yang miskin dan lemah berhijrah bersama Rasulullah saw. Setelah kedatangan mereka perjanjian dibuat dengan orang-orang Yahudi Madinah yang bukan Islam pada saat itu, hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat bisa hidup bersama dan tetap bebas, dan menunjukkan bagaimana hak-hak satu sama lain diperhatikan.

Saya akan menyebutkan satu atau dua persetujuan dalam perjanjian tersebut untuk hidup berdampingan ini. Namun sebelum itu ajaran Quran suci menyatakan:

لا إِكراهَ فِي الدّينِ

”Tidak boleh ada paksaan dalam agama.” ( Q.S 2: 257 )

Perintah ini diturunkan di Madinah. Saya akan mengingatkan Anda bahwa pada saat itu mayoritas penduduk Madinah telah menjadi Muslim, atau mereka adalah orang-orang yang tidak tertarik pada agama dan mereka bergabung dengan kaum Muslim layaknya burung-burung pada kawanan yang sama. Bila dilihat dari sudut pandang ini, penduduk Muslim mewakili mayoritas. Di sisi lain orang-orang Yahudi yang berkuasa sebelum kedatangan Rasulullah saw ke madinah sekarang mereka telah berkurang dan menjadi minoritas. Sebagai konsekuensinya, dengan menjadi Kepala Negara, pemerintahan Rasulullah (saw) terbentuk dengan kuat. Meskipun demikian perintah tersebut menyatakan bahwa “Kalian tidak akan menggunakan paksaan dalam agama, juga tidak akan menggunakan kekuatan terhadap orang-orang lemah walaupun mereka bukan Islam yang telah bergabung dengan kalian sebagai kawan dan saudaramu, atau tidak akan menggunakan kekuatan terhadap orang Yahudi yang hidup di bawah wilayah kalian.”

Anda sekalian dapat melihat dari Perjanjian yang disusun, bagaimana suasana cinta dan kasih sayang, kebebasan beragama dan toleransi tercipta. Perjanjian itu berbunyi sebagai berikut:

  • Umat Islam dan Yahudi akan hidup bersama satu sama lain dalam kebaikan dan ketulusan dan tidak akan melakukan perbuatan yang berlebihan atau kekejaman apapun terhadap satu sama lain.
  • Orang-orang Yahudi akan terus menjaga keimanan mereka sendiri dan umat Islam dengan imannya;
  • Kehidupan dan hak milik semua warga negara harus dihormati dan dilindungi keamanannya dalam kasus kejahatan yang dilakukan oleh seseorang
  • Semua perselisihan akan mengacu pada keputusan Nabi Allah karena dia memiliki otoritas yang menentukan, tetapi semua keputusan yang menyangkut pribadi akan didasarkan pada aturan masing-masing.

Dan, tentu saja, ada poin-poin lainnya dalam perjanjian ini selain keempat poin yang saya kutip. Sekarang coba lihat upaya apa yang telah digunakan untuk membangun keadaan masyarakat yang penuh kebebasan dan kasih sayang. Pada waktu itu tidak ada hukum nasional. Setiap orang hidup sesuai dengan tradisi dan hukum klan atau suku. Nabi saw  tidak mengatakan bahwa Anda adalah minoritas, tetapi benar bahwa, Anda harus mematuhi undang-undang mayoritas Muslim. Sebaliknya, kondisi dari Perjanjian itu adalah bahwa urusan Anda akan ditentukan berdasarkan undang-undang Anda sendiri. Ini adalah Piagam pertama kebebasan hati nurani dan iman dalam Islam.

Contoh lain yang sangat baik tentang toleransi, Al-Quran menjelaskan bahwa bagaimanapun keadaannya, Anda tidak boleh meninggalkan toleransi. Terlepas dari kekejaman yang ditimbulkan pada kalian, kalian jangan bertindak selain dengan keadilan dan tidak membalas dendam dengan cara yang sama kejamnya. Jika kalian melakukannya, maka kalian adalah sesat, kata lain untuk sebutan keislaman kalian menjadi tidak berarti. Al-Quran menyatakan:

وَلا يَجرِمَنَّكُم شَنَآنُ قَومٍ عَلىٰ أَلّا تَعدِلُوا ۚ اعدِلوا هُوَ أَقرَبُ لِلتَّقوىٰ

”Janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa.” (Q.S 5: 9)

Ini adalah standar toleransi dan keadilan dalam Islam. Islam menganjurkan untuk tidak menanggapi tuduhan rendah dan hina dari lawan,  karena dengan melakukan itu maka akan membuat Anda sendiri menjadi kejam. Jika Anda dapat memaafkan, maka maafkanlah, itu lebih baik. Jika Anda harus membalas, maka balaslah luka kalian dengan tidak melebihi luka yang ditimbulkan pada kalian.

Sebuah contoh luar biasa tentang toleransi dan pengampunan adalah seperti yang diperlihatkan oleh Rasulullah saw yang mengampuni semua penganiaya pada saat Fattah Mekkah. Sejarah telah mencatat peristiwa ini. Ikrimah adalah musuh terbesar Islam. Meskipun amnesti umum telah diproklamasikan oleh Rasulullah saw pada hari kemenangan tersebut, Ikrimah memilih melawan umat Islam, ia akhirnya kalah dan kemudian melarikan diri. Ketika istri Ikrimah memohon pengampunan, Rasulullah saw pun mengampuni. Segera setelah pengampunan, ketika Ikrimah muncul ke hadapan Rasulullah saw, Ikrimah berkata kepada Rasulullah saw dengan sombongnya bahwa ‘Jika Engkau berpikir bahwa karena pengampunan Engkau saya juga akan menjadi seorang Muslim, maka saya jelaskan bahwa saya tidak menjadi Muslim. Jika Anda dapat memaafkan saya sementara saya tetap teguh pada keimanan saya, maka itu baik, tetapi jika sebaliknya saya akan pergi. Rasulullah saw bersabda: ’Tidak diragukan lagi Engkau bisa tetap teguh dengan keimanan Engkau. Engkau bebas dalam segala hal.’ Tambahan pula, ribuan orang-orang Mekkah pada waktu itu juga belum menerima Islam dan meskipun kalah mereka tetap mendapatkan hak kebebasan mereka dalam beragama. Jadi ini adalah ajaran Al-Quran dan contoh yang diberikan oleh Rasulullah saw mengenai toleransi.

Saya akan menyajikan beberapa contoh lain dari kebebasan berbicara dan toleransi. Suatu ketika Rasulullah saw membeli unta dari seorang Badui yang ditukar dengan sekitar 90 kilo kurma kering. Ketika Rasulullah saw sampai di rumah, ia menemukan bahwa semua kurma telah hilang. Dengan penuh kejujuran dan kesederhanaan, beliau mendatangi orang Badui tersebut dan berterus terang padanya, Wahai hamba Allah! Saya telah membeli unta dengan ditukar dengan kurma kering dan saya merasa bahwa saya memiliki banyak kurma tetapi ketika saya sampai di rumah, saya menemukan bahwa saya tidak memiliki kurma yang banyak. Orang Badui itu berkata: Dasar penipu! Orang-orang mulai memberitahu Badui untuk  berhenti berbicara dengan cara seperti itu terhadap Rasulullah saw, tetapi Rasulullah saw bersabda: Biarkan dia. (Musnad Ahmad bin Hanbal Vol.6 p.268 diterbitkan di Beirut)

Sekarang lihatlah, bagaimana cara seorang penguasa waktu tu berurusan dengan orang biasa. Ini adalah standar jaminan kebebasan berbicara dan standar kesabarannya.

Kemudian saya akan memberikan sebuah peristiwa tentang kebebasan beragama dengan mengacu pada orang-orang dari agama lain. Suatu ketika delegasi Kristen dari Najran datang kepada Nabi Muhammad saw. Dalam pertemuan dengan Rasulullah saw di Masjid Nabi di Madinah itu, waktu bagi peribadatan Kristen telah tiba dan mereka ingin segera berangkat. Rasulullah saw menawarkan kepada mereka untuk beribadah di masjid. Kemudian terbentuklah persetujuan dengan orang-orang Kristen Najran yang menjamin kebebasan mereka dalam beragama dan menetapkan kewajiban bagi umat Islam untuk meleindungi gereja-gereja mereka. Jangan ada gereja yang dihancurkan dan jangan ada satupun imam yang diusir atau dikeluarkan. Hak-hak mereka juga tidak akan dikurangi dan takkan ada satupun orang Kristen yang diminta untuk mengubah imannya. Pernyataan ini menyatakan bahwa Nabi saw memberikan jaminan pribadinya. Perjanjian ini selanjutnya menyatakan bahwa jika umat Islam ingin membantu membiayai perbaikan gereja-gereja Kristen, itu akan menjadi tindakan kebajikan bagi mereka.

Berkenaan dengan keadilan, kebenaran dan kebebasan beragama, pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as menyatakan bahwa terbukti bahwa setelah perselisihan antara seorang Muslim dengan seorang Yahudi dibawa ke hadapan Rasulullah saw. Rasulullah saw memutuskan bahwa orang Yahudi yang benar dan  menolak pernyataan seorang muslim. Kemudian mengutip sebuah ayat Al-Quran, beliau menyatakan bahwa ayat ini berarti ‘Wahai nabi, Ajaklah orang-orang ahli kitab dan orang-orang yang tidak tahu ke dalam Islam. Jika mereka masuk Islam, mereka akan mendapatkan bimbingan tetapi jika mereka berpaling maka pekerjaanmu hanyalah menyampaikan pesan dari Allah. Di dalam ayat ini tidak tertulis bahwa tugas kalian adalah berperang melawan mereka.

Jelas dari ayat ini bahwa perang hanya diizinkan terhadap musuh yang membunuh orang Islam atau mengganggu terciptanya perdamaian dan sibuk dalam pencurian dan perampokan. Dan perang ini adalah sebagai akibat beliau sebagai seorang panglima dan bukan karena kenabiannya. Allah berfirman ‘berperanglah di jalan Allah terhadap mereka yang memerangimu’, hal itu menyatakan bahwa ‘tidak ada kepentingan pada hal lainnya dan tidak melampaui batas’ karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Jadi ini adalah ajaran yang indah dari Islam dan contoh yang sempurna dari Nabi Muhammad saw, contoh-contoh yang telah saya gambarkan sebelumnya. Adalah cemoohan yang besar dengan menuduh bahwa tidak ada konsep kebebasan beragama dan hati nurani dalam Islam. Kita seharusnya tidak dapat menafsirkan bahwa kepentingan pribadi beberapa individu sebagai tindakan Islam dan juga tidak dapat ditafsirkan seperti itu.

Dalam kasus apapun, hal ini akan menjadi sangat jelas bahwa sementara ada kebebasan berbicara dan toleransi dalam Islam, ada juga rasa hormat bagi umat manusia dan kesabaran

Karena keterbatasan waktu, saya akan akhiri paparan saya. Saya sangat berterima kasih kepada Anda semua. Saya sangat berterima kasih kepada Anda yang telah datang pada hari ini untuk mendengarkan saya, dengan penuh rasa toleransi. Dengan berkumpul bersama, banyak kesalahpahaman satu sama lain dapat dihilangkan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih dari lubuk hati karena telah meluangkan waktu Anda  dengan kami hari ini. Terima kasih.


Sumber        : Review of Religions
Penerjemah : Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor          : Damayanti Natalia

(Visited 43 times, 1 visits today)