Sebagaimana Tuhan telah membekali manusia dengan kemampuan berfikir untuk memahami hal-hal yang mendasar, begitu juga Tuhan telah membekali mereka dengan kemampuan tersembunyi untuk menerima wahyu. Ketika logika manusia sudah sampai di batas kemampuannya maka pada saat itu Allah yang Maha Perkasa dalam rangka membimbing hamba- hamba-Nya yang hakiki dan saleh ke arah kesempurnaan pemahaman dan kepastian, akan memberikan petunjuk melalui wahyu dan kasyaf. Tahapan yang tidak mungkin lagi ditembus oleh logika, dapat ditembus melalui sarana wahyu dan kasyaf sehingga para pencari kebenaran akan mencapai kepastian penuh. Begitulah cara-cara Allah Swt dalam membimbing para Nabi yang diutus ke dunia yang dengan mengikutinya akan membawa mereka kepada pemahaman yang hakiki dan sempurna.

Tetapi seorang filosof kering biasanya lebih suka tergesa-gesa mengharapkan bahwa apa pun yang akan dikemukakan haruslah berlandaskan logika. Ia tidak menyadari bahwa logika tidak mungkin memikul beban yang berada di luar batas kemampuannya atau melangkah lebih jauh dari kapasitasnya. Ia tidak menyadari bahwa untuk mencapai tingkat keluhuran yang diinginkan, Allah Swt sudah membekali manusia tidak saja kemampuan berfikir tetapi juga kemampuan menerima wahyu. Sungguh sial sekali mereka yang hanya mampu memanfaatkan sarana- sarana mendasar dari sekian banyak kemampuan yang telah dikaruniakan kepada manusia guna mengenali Tuhan dan tetap tidak menyadari adanya kemampuan lain tersebut. Malang sekali mensia-siakan kemampuan tersebut karena tidak digunakan atau karena tidak mencari manfaat daripadanya. Seseorang yang tidak memanfaatkan kemampuannya menerima wahyu, malah menyangkal eksistensinya, tidak dapat dikatakan sebagai seorang filosof tulen, padahal eksistensi kemampuan seperti itu sudah dibenarkan oleh kesaksian ribuan orang-orang muttaqi dimana orang-orang itu telah memperoleh pemahaman yang sempurna melalui sarana tersebut.

(Surma Chasm Arya, Qadian, 1886;

Ruhani Khazain, vol. 2, hal. 87-90, London, 1984).