Manusia yang sampai di relung kegelapan ini tidak akan memperoleh            keselamatan kecuali ia memang mendapat kehormatan untuk berbicara dengan Tuhan-nya atau memelihara silaturahmi dengan seseorang yang memang adalah penerima wahyu hakiki dan telah menyaksikan tanda-tanda Ilahi, yang melaluinya ia sampai pada kesimpulan bahwa ia sesungguhnya ada memiliki Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Pemurah dan Maha Penyayang, bahwa keimanannya pada agama Islam itu memang benar adanya serta Hari Penghisaban dan adanya surga dan neraka adalah realitas-realitas nyata.

Secara kebiasaan semua umat Muslim meyakini eksistensi Tuhan dan kebenaran Hadhrat RasulullahSaw namun keimanannya itu tidak memiliki dasar yang kuat. Melalui keimanan yang lemah demikian adalah tidak mungkin bagi mereka untuk terpengaruh secara mendasar dan mengembangkan kebencian hakiki terhadap dosa.

Terkait  Doa Dengan Kerendahan Hati [2]

(Nuzulul Masih, Qadian, Ziaul Islam Press, 1909;

Ruhani Khazain, vol. 18, hal. 485-486, London, 1984).

Pengertian Hakiki Tentang Keselamatan

Sayang sekali sebagian besar manusia tidak memahami makna hakiki
keselamatan. Menurut umat Kristiani, yang dimaksud dengan keselamatan adalah terhindarnya seseorang dari penghukuman atas dosa-dosa yang dilakukannya. Sebenarnya bukan itu makna hakiki keselamatan. Bisa saja seseorang tidak ada melakukan zinah, mencuri, bersaksi palsu, membunuh atau pun melakukan dosa apa pun namun tetap saja yang bersangkutan tidak mengenal keselamatan dalam pengertian sebagai pencapaian kesejahteraan abadi yang didambakan fitrat manusia. Hal itu hanya mungkin dicapai melalui kecintaan kepada Ilahi karena telah memahami eksistensi Wujud-Nya dan terciptanya hubungan yang sempurna dengan Dia dimana kasih mencuat dari kedua sisi.

Terkait  Manusia Berpaling Kepada Tuhan Dengan Penyesalan

Bagi seorang pencari kebenaran, yang menjadi masalah utama adalah bagaimana memperoleh kesejahteraan abadi yang menjadi dasar dari kebahagiaan dan kegembiraan abadi. Tanda dari suatu agama yang benar adalah memiliki dasar ajaran yang membawa manusia ke arah kesejahteraan demikian. Melalui bimbingan Al-Quran, kita memperoleh petunjuk bahwa kesejahteraan abadi bisa dicapai melalui pemahaman Allah Yang Maha Kuasa dengan kasih-Nya yang suci dan sempurna yang membangkitkan kegairahan di kalbu seorang pencinta.

Memang ini terdengarnya hanya sebagai untaian kalimat saja, namun sebuah buku yang tebal masih belum cukup untuk menafsirkannyan secara lengkap.

(Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906;

Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 359-360, London, 1984).

Apa yang dikemukakan Al-Quran dalam konteks ini dapat disimpulkan sebagai berikut:

Terkait  Tobat Membersihkan Noda Dosa

“Wahai hamba-Ku, janganlah pernah berputus asa akan Wujud- Ku. Aku akan tetap bersifat Maha Pemurah dan Maha Penyayang serta menyelimuti dan menutupi dosa-dosa serta mengampuninya. Aku ini lebih pengasih kepada kamu dibanding apa pun yang ada di alam. Tidak ada apa pun lainnya yang memiliki rahmat bagi kamu sebagaimana Wujud- Ku. Kasihilah Aku lebih dari kalian mencintai bapak-bapak kalian karena Kasih-Ku lebih besar dari kasih mereka. Jika kamu datang kepada-Ku maka Aku akan memaafkan dosa-dosamu dan jika kamu bertobat, Aku akan menerimanya. Bila kamu melangkah perlahan ke arah-Ku maka Aku akan berlari ke arah kamu. Ia yang mencari Wujud-Ku akan menemukan Aku
dan ia yang berpaling kepada-Ku akan menemui pintu-Ku terbuka. Aku mengampuni dosa-dosa mereka yang bertobat meski setinggi gunung sekali pun. Rahmat-Ku atas kamu sungguh besar dan Murka-Ku sungguh lembut karena kamu adalah mahluk-Ku. Aku telah menciptakan kamu, karena itu rahmat-Ku meliputi kamu semua.”

(Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906;

Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 56, London, 1984).