Siapa yang menganggap bahwa kata-kata mutiara yang diungkapkan seseorang sebagai hasil suatu renungan dan telaah sebagai suatu wahyu dan yang namanya wahyu tidak lebih dari hal demikian, sesungguhnya ia berada dalam kesalahan karena ketidak-tahuannya. Jika benar bahwa daya pikir manusia merupakan wahyu Ilahi maka sewajarnya manusia juga mampu melihat hal-hal tersembunyi melalui perenungan dan observasinya. Nyatanya, betapa pun bijaknya seseorang tetapi tetap saja ia tidak akan mampu mengemukakan hal-hal tersembunyi semata-mata melalui perenungan saja. Tidak juga ia akan mampu memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan Ilahi. Cara bicara yang bersangkutan tidak mengindikasikan adanya tanda-tanda kekuatan Tuhan dan betapa tekunnya pun ia berfikir, ia tidak akan mampu menemukan hal-hal tersembunyi yang berada di luar kemampuan akal, telaah dan inderanya yang lain. Begitu pula dengan bicara atau komposisi karangannya tidak akan mencapai suatu tingkatan tinggi yang tidak bisa ditandingi orang lain.

Dengan demikian cukup banyak alasan bagi seorang yang bijak guna menyimpulkan bahwa apa pun yang dihasilkan oleh daya pikir atau telaah manusia, tidak mungkin hal itu dikatakan sebagai firman Tuhan. Jika memang benar hal itu merupakan firman Tuhan maka yang bersangkutan akan memiliki akses ke segala hal yang tersembunyi dan ia akan mampu menjelaskan hal-hal tersebut karena kinerja dan firman Tuhan akan selalu selaras dengan manifestasi ke-Tuhanan.