Ancaman Perang Nuklir dan Perlunya Keadilan

Pada 24 Maret 2012, Simposium Tahunan ke-9 tentang Perdamaian diselenggarakan di Masjid Baitul Futuh di Morden – sebuah Masjid terbesar di Eropa Barat – oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah di Inggris. Acara ini menarik perhatian lebih dari 1.000 orang tamu, termasuk para menteri, duta besar, anggota House of Commons (Dewan Rakyat) dan House of Lords (Dewan Bangsawan), Walikota London, berbagai pejabat lainnya, profesional, masyarakat di sekitarnya dan tamu dari seluruh lapisan masyarakat. Tema Simposium tahun ini adalah ‘Perdamaian International’. Pertemuan tahunan ke-3 ‘Hadiah Muslim Ahmadiyah untuk Kemajuan Perdamaian’ disajikan oleh Hadhrat Mirza Masroor Ahmad a.b.a. ke badan amal ‘SOS Children’s Village UK’ sebagai pengakuan atas upaya yang terus menerus mereka untuk meringankan penderitaan anak-anak yatim piatu dan terlantar di seluruh dunia untuk menuju pemenuhan visi-nya, yaitu ‘Rumah penuh kasih bagi setiap anak’.

Tamu yang hadir diantaranya: Rt Hon Justine Greening – MP, Sekretaris Negara untuk Transportasi
Jane Ellison – MP ( Battersea ) • Seema Malhotra – MP ( Feltham dan Heston ) • Tom Brake – MP ( Carlshalton dan Wallington ) • Virendra Sharma – MP ( Ealing dan Southall ) • Lord Tariq Ahmad – Wimbledon • HE Wesley Momo Johnson – Duta Besar Liberia • HE Abdullah Al Radhi – Duta Besar Yaman • HE Miguel Solano Lopez – Duta Besar Paraguay • Commodore Martin Atherton – Komandan Regional • Naval Councilor Jane Cooper – Worshipful Mayor dari Wandsworth Councilor • Milton McKenzie MBE – Worshipful Mayor  dari Barking dan Dagenham • Councilor Amrit Mann – Worshipful Mayor dari • Hounslow Siobhan Benita calon Walikota independen untuk  London • Diplomat dari beberapa negara lain termasuk India, Kanada, Indonesia dan Guinea.

Konsekuensi Merusak Perang Nuklir  dan Kebutuhan Mendesak bagi Keadilan

Oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad

Simposium Perdamaian Tahunan ke-9, London

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul-Masih Vaba tengah menyampaikan pidatonya pada acara tahunan Symposium Perdamaian yang ke 9.

Setelah membaca tasyahhud, ta’awwudz dan basmallah, Hadhrat Khalifatul Masih V a.b.a. mengatakan:

Kepada seluruh tamu: –Assalãmu ‘alaikum wa rahmatullãhi barakãtuhu

Hari ini, setelah jangka waktu satu tahun, saya kembali berkesempatan menyambut semua tamu yang terhormat pada acara ini. Saya sangat berterima kasih kepada Anda semua, karena telah meluangkan waktu untuk hadir pada hari ini. Memang, sebagian besar dari Anda telah akrab dengan acara ini yang dikenal dengan nama ‘Simposium Perdamaian’. Acara ini diselenggarakan setiap tahun oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah dan merupakan salah satu dari banyak upaya untuk mencoba dan memenuhi keinginan kami untuk terwujudnya perdamaian di dunia.

Pada hari ini, terdapat beberapa teman-teman baru yang untuk pertama kalinya datang di acara ini, sedangkan yang lain adalah teman lama yang telah mendukung upaya kami selama bertahun-tahun. Apapun itu, Anda semua sangat mengetahui dan memahami keinginan kami untuk menegakkan perdamaian di dunia, dan karena hasrat itulah kalian semua hadir pada acara ini.

Anda sekalian berada disini, dengan keinginan tulus bahwa dunia harus diisi dengan cinta, kasih sayang dan persahabatan. Inilah sikap dan nilai-nilai yang sangat diharapkan dan dirindukan sebagian besar penduduk dunia. Dalam pandangan inilah yang menjadi alasan mengapa Anda semua, yang datang dari berbagai latar belakang, bangsa dan agama, telah duduk di hadapan saya saat ini.

Seperti telah saya katakan, kami mengadakan konferensi ini setiap tahun. Dan pada setiap kesempatan, sentimen dan harapan yang sama telah diungkapkan oleh kita semua, yaitu perdamaian di dunia dapat terwujud di depan mata kita, dan setiap tahun saya juga meminta Anda semua berusaha mempromosikan perdamaian di mana pun Anda berkesempatan dan dengan kepada siapa pun Anda memiliki hubungan. Selain itu, saya juga meminta kepada mereka yang memiliki hubungan dengan partai politik atau pemerintahan, mereka juga harus menyampaikan pesan ini di lingkungan mereka. Sangat penting setiap orang menyadari bahwa untuk membentuk perdamaian dunia, terdapat suatu kebutuhan jauh lebih besar dari sebelumnya yaitu adanya prinsip nilai moral yang tinggi.

Sejauh yang berkaitan dengan Jemaat Ahmadiyah, dimana pun dan kapanpun ada kesempatan, kami secara terbuka mengungkapkan dan menyatakan pandangan kami bahwa hanya ada satu cara untuk menyelamatkan dunia dari kerusakan dan kehancuran yang terus berjalan. Karenanya kita semua harus berusaha menyebarkan cinta, kasih sayang dan perasaan kebersamaan. Yang terpenting, dunia harus menyadari Pencipta-nya, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Hal ini dikarenakan keimanan kepada Tuhan akan membawa kita pada cinta dan kasih sayang kepada makluk-Nya, dan ketika ini menjadi bagian dari karakter kita, saat itulah kita menjadi penerima Karunia Ilahi.

Kami secara terus menerus menyuarakan perdamaian dunia, dengan keperihan dan kesedihan yang mendalam dalam kalbu kami, yang menggugah kami mencoba dan meringankan penderitaan umat manusia dan menjadikan dunia yang kita tinggali ini sebagai tempat yang lebih baik. Dan tentunya, acara ini hanyalah salah satu upaya kami untuk mencapai tujuan tersebut.

Seperti yang telah saya katakan, Anda semua juga menyimpan keinginan-keinginan mulia ini. Selain itu, saya telah berulang kali menyerukan kepada para politisi dan pemimpin agama untuk terus mengupayakan perdamaian. Namun, terlepas dari semua upaya ini, kami menemukan bahwa kecemasan dan gejolak terus bergejolak dan meningkat di seluruh dunia. Di dunia saat ini kita menemukan begitu banyak perselisihan, kegelisahan dan kekacauan. Di beberapa negara, anggota rakyatnya berkelahi dan mengobarkan peperangan di antara mereka sendiri. Di beberapa negara rakyat berjuang melawan pemerintahnya, atau sebaliknya penguasa menyerang rakyat mereka sendiri. Kelompok teroris menyulut anarki dan kekacauan untuk memenuhi kepentingan pribadi mereka dan dengan sewenang-wenang membunuh perempuan tak berdosa, anak-anak serta orang tua. Di beberapa negara, partai politik saling bersitegang satu sama lain untuk memenuhi kepentingan mereka sendiri, bukannya bekerjasama untuk kemajuan bangsa mereka. Kami juga menemukan beberapa pemerintahan dan negara terus melirik ke arah sumber daya bangsa lain, karena rasa iri. Kekuatan utama dunia diwarnai oleh upaya untuk mempertahankan supremasi mereka, dan melakukan segala upaya untuk mengejar tujuan tersebut.

Terkait dengan segala hal ini, kita merasa bahwa baik Jemaat Ahmadiyah maupun sebagian dari kalian, yang merupakan bagian dari masyarakat, tidak memiliki kekuatan atau wewenang untuk mengembangkan kebijakan yang membawa perubahan positif. Hal ini karena kita tidak memegang kekuasaan pemerintahan ataupun jabatan.

Bahkan lebih jauh saya katakan bahwa para politisi – yang dengan mereka kami telah menjalin hubungan dengan baik dan selalu setuju dengan kami ketika mereka bekerja sama – juga tidak mampu bersuara. Sebaliknya, suara mereka juga tenggelam dan mereka dicegah untuk meneruskan pandangan mereka. Hal ini dikarena mereka terpaksa mengikuti kebijakan partai, atau mungkin karena tekanan eksternal dari kekuatan dunia lain atau sekutu politik yang membebani mereka.

Namun demikian, kita yang turut berpartisipasi dalam Simposium Perdamaian ini setiap tahun, tidak diragukan lagi memendam keinginan supaya perdamaian dapat ditegakkan dan tentu kita semua mengungkapkan pendapat dan perasaan kita bahwa cinta, kasih sayang dan persaudaraan harus ditegakkan di antara semua agama, semua bangsa, semua ras dan tentunya semua orang. Sayangnya, kita tidak berdaya untuk benar-benar membawa visi ini pada keberhasilan. Kita tidak memiliki kewenangan atau sarana untuk mencapai hasil yang kita dambakan.

Saya teringat beberapa tahun yang lalu, tepatnya di aula ini saat acara Simposium Perdamaian kami, saya menyampaikan pidato yang menjelaskan cara dan sarana untuk menegakkan perdamaian dunia, dan saya juga berbicara tentang bagaimana Perserikatan Bangsa Bangsa harus berfungsi. Setelah itu, sahabat yang kami kasihi dan hormati, Lord Avebury Eric, berkomentar bahwa pidato ini seharusnya disampaikan di PBB itu sendiri. Namun demikian, itu adalah wujud karakter beliau yang begitu baik dan murah hati. Namun, apa yang ingin saya katakan adalah sekedar menyampaikan atau mendengarkan pidato atau ceramah saja tidak cukup dan tidak akan mengarah kepada terwujudnya perdamaian. Tetapi persyaratan utama untuk memenuhi tujuan ini adalah keadilan sejati dan kejujuran dalam segala hal. Al-Quran Suci dalam Surah 4, ayat 136, telah memberi kita pelajaran dan prinsip emas yang membimbing kita tentang masalah ini. Dinyatakan bahwa sebagai sarana untuk memenuhi persyaratan keadilan, sekalipun Anda harus menjadi saksi dan bertentangan dengan diri sendiri, orang tua atau kerabat terdekat serta teman-teman anda, maka anda harus melakukannya. Ini adalah keadilan yang sejati di mana kepentingan pribadi disisihkan untuk kebaikan bersama.

Jika kita berpikir tentang prinsip ini pada tingkat kolektif, maka kita akan menyadari bahwa praktek lobi yang tidak adil yang berdasarkan kekayaan dan pengaruh harus ditinggalkan. Sebaliknya, perwakilan atau duta besar setiap negara harus maju dengan ketulusan dan dengan keinginan untuk mendukung prinsip-prinsip keadilan dan kesetaraan.

Kita harus menghapuskan segala bentuk prasangka dan diskriminasi, karena hal ini adalah satu-satunya cara untuk menciptakan perdamaian. Jika kita melihat Majelis Umum atau Dewan Keamanan PBB, kita menemukan bahwa sering sekali pernyataan atau pidato yang dibuat di sana menerima pujian besar dan pengakuan, tapi seolah tidak ada maknanya karena keputusan riil telah diputuskan sebelumnya. Jadi, ketika keputusan dibuat atas dasar tekanan atau melobi negara-negara besar, dibandingkan dengan cara demokratis yang benar, bukan dengan cara yang benar-benar demokratis, maka pidato tersebut kosong belaka, tidak berarti, dan hanya berfungsi sebagai alat kepura-puraan untuk menipu dunia luar.

Namun demikian, dengan semua ini tidak berarti membuat kita frustrasi, menyerah dan menanggalkan semua upaya kita. Sebaliknya – dengan tetap dalam koridor hukum – terus mengingatkan pemerintah akan kebutuhan saat ini. Dengan cara yang pantas kita juga harus menyarankan kepada kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan, sehingga pada tingkat global, keadilan dapat menang. Barulah kita akan melihat dunia menjadi surga yang damai dan harmonis yang kita semua kehendaki dan dambakan.

Oleh karena itu, kita tidak boleh dan jangan sampai menghentikan upaya kita. Jika kita menghentikan suara kita melawan kekejaman dan ketidakadilan, maka kita akan menjadi diantara orang-orang yang tidak memiliki nilai-nilai akhlak atau standar apapun. Apakah suara kita didengar atau tidak, berpengaruh atau tidak, hal itu tidak masalah. Kita harus terus memberi nasihat kepada orang lain untuk menuju perdamaian.

Saya selalu gembira ketika saya melihat – terlepas dari perbedaan agama atau kebangsaan – demi menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan – begitu banyak orang datang ke pertemuan ini untuk mendengarkan, belajar dan membicarakan tentang cara-cara membangun perdamaian serta kasih sayang di dunia. Jadi, saya akan meminta Anda semua untuk berusaha mewujudkan perdamaian, dengan segala kemampuan terbaik Anda sehingga kita dapat menjaga secercah harapan, yaitu akan datang suatu masa dimana perdamaian dan keadilan sejati akan ditegakkan di seluruh dunia.

Kita harus ingat bahwa ketika usaha manusia gagal, maka Tuhan Maha Kuasa menurunkan Ketetapan-Nya untuk menentukan nasib manusia. Sebelum Keputusan Tuhan dibuat dan memaksa manusia agar bergerak terhadap Dia serta menuju pemenuhan hak-hak manusia, maka akan jauh lebih baik jika orang-orang di dunia datang sendiri untuk memberi perhatian terhadap hal-hal penting diatas, karena ketika Tuhan dipaksa untuk mengambil tindakan, maka Kemurkaan-Nya akan benar-benar parah dan menakutkan.

Dalam situasi dunia sekarang ini, salah satu hal yang menakutkan adalah Takdir Tuhan berupa berlanjutnya perang dunia. Tidak diragukan lagi bahwa dampak dari perang tersebut dan kehancurannya tidak hanya terbatas para perang itu sendiri atau hanya generasi saat ini saja, tetapi akibatnya yang sangat mengerikan akan berlaku pada generasi yang akan datang. Salah satu konsekuensi tragis perang tersebut akan berakibat juga kepada anak-anak yang baru lahir, baik sekarang maupun di masa depan. Senjata yang ada pada saat ini sangat destruktif dan akan berdampak kepada generasi demi generasi anak-anak yang lahir dengan cacat genetik atau fisik yang parah.

Jepang merupakan salah satu negara yang telah mengalami dampak yang mengerikan perang atom, ketika diserang oleh bom nuklir dalam Perang Dunia Kedua. Bahkan saat ini jika Anda mengunjungi Jepang dan bertemu dengan masyarakatnya, Anda akan melihat ketakutan dan kebencian nyata di mata mereka dan dari apa yang mereka katakan. Namun bom nuklir yang digunakan pada waktu itu dan yang menyebabkan kerusakan luas, memiliki kekuatan yang jauh lebih kecil dibanding senjata atom yang saat ini dimiliki oleh negara-negara kecil sekalipun.

Konon di Jepang, meskipun tujuh dekade telah berlalu, namun efek dari bom atom masih terus terlihat pada anak-anak yang baru lahir. Jika seseorang tertembak peluru, maka kadang-kadang ia masih bisa bertahan hidup melalui perawatan medis, tetapi jika perang nuklir pecah, maka mereka yang berada di arena perang tidak akan memiliki keberuntungan, kita akan menyaksikan orang-orang akan langsung mati dan mengeras seperti patung, kulit mereka akan meleleh. Air minum, makanan dan semua tumbuhan akan terkontaminasi karena pengaruh radiasi. Dapat kita bayangkan jenis penyakit apa yang muncul akibat kontaminasi tersebut. Bahkan di lokasi yang tidak langsung terdampak, atau efek radiasinya agak kurang, tetap saja terdapat risiko penyakit yang jauh lebih tinggi, dan generasi yang akan datang juga akan menanggung risiko jauh lebih besar.

Oleh karena itu, seperti telah saya katakan, dampak menghancurkan dan merusak dari perang tersebut tidak akan terbatas pada perang itu dan sesudahnya, tetapi akan menjalar kepada generasi demi generasi. Ini adalah konsekuensi nyata dari perang tersebut.

Namun saat ini terdapat orang-orang yang egois dan bodoh yang sangat membanggakan penemuan mereka dan menyebut apa yang telah mereka kembangkan itu sebagai hadiah untuk dunia. Padahal apa yang disebut sebagai aspek menguntungkan dari energi dan teknologi nuklir itu bisa sangat berbahaya dan menyebabkan kerusakan yang luas, baik disebabkan oleh kelalaian atau kecelakaan.

Kita telah menyaksikan bencana tersebut, seperti kecelakaan nuklir yang terjadi pada tahun 1986 di Chernobyl, sekarang menjadi bagian Negara Ukraina, dan beberapa tahun lalu terjadi gempa bumi dan tsunami di Jepang, itu juga menghadapi bahaya besar dan negara berada dalam ketakutan. Ketika peristiwa seperti itu terjadi, maka sangat sulit untuk menghuni kembali daerah yang terkena dampak. Karena pengalaman khusus dan tragis itu, Jepang sudah sangat berhati-hati dan memang suatu hal wajar karena timbul rasa takut dan teror.

Ini adalah laporan yang jelas bahwa orang-orang mati dalam peperangan, jadi saat Jepang memasuki Perang Dunia Kedua, Pemerintah dan rakyat Jepang sadar bahwa sebagian besar orang akan terbunuh. Dilaporkan bahwa tiga juta orang meninggal di Jepang atau sekitar 4% dari populasi negara itu. Meskipun di sejumlah negara lain mungkin mengalami porsi kematian yang lebih tinggi dalam hal jumlah, namun kebencian dan keengganan berperang yang kita temukan pada rakyat Jepang tetap jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain. Alasan sederhana untuk ini tentu karena dua bom nuklir yang telah dijatuhkan di Jepang selama Perang Dunia II, dan dampak yang masih mereka saksikan dan rasakan sampai hari ini. Jepang telah membuktikan kebesaran dan ketangguhannya serta mampu merehabilitasi dan menghuni kembali kotanya dalam waktu yang relatif cepat. Tapi yang jelas, jika senjata nuklir digunakan lagi hari ini, maka sangat mungkin bagian-bagian dari negara-negara tertentu bisa benar-benar terhapus dari perpetaan dunia, mereka akan lenyap.

Perkiraan sederhana jumlah korban tewas akibat Perang Dunia II sekitar 62 juta orang dan dikatakan bahwa sekitar 40 juta orang yang tewas adalah warga sipil. Jadi, dengan kata lain, lebih banyak warga sipil yang tewas daripada anggota militer. Kehancuran seperti itu tidak hanya terjadi di Jepang, tetapi terjadi juga di tempat lain dalam peperangan biasa yang menggunakan senjata konvensional. Inggris harus menanggung kerugian sekitar setengah juta orang. Tentu saja, pada waktu itu masih berlangsung kekuasaan kolonial sehingga koloninya juga ikut berperang atas nama mereka. Jika kita gabungkan kerugian mereka, maka jumlah korban tewas meningkat hingga jutaan orang.

Di India saja, sekitar 1,6 juta orang merenggang nyawa. Namun, saat ini situasi telah berubah, negara-negara bekas koloni Inggris, yang dulu berjuang untuk Kerajaan Inggris, jika pecah perang hari ini, maka bisa jadi mereka akan melawan Inggris Raya. Selain itu, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, beberapa negara kecil juga telah memiliki senjata nuklir.

Apa yang menyebabkan ketakutan besar adalah suatu kenyataan dimana senjata nuklir itu berada di tangan orang-orang yang tidak memiliki kemampuan atau yang memilih untuk tidak berpikir panjang tentang dampak tindakan mereka. Dan faktanya, memang orang-orang seperti itu tidak peduli tentang konsekuensi, dan gegabah tanpa pertimbangan.

Jadi, jika negara-negara besar tidak bertindak dengan adil, tidak menghilangkan kekecewaan negara-negara kecil dan tidak menjalankan kebijakan secara bijaksana, maka situasi akan lepas kendali dan kehancuran yang akan mengikutinya akan berada diluar pemahaman dan imajinasi kita. Bahkan sebagian besar penduduk dunia yang menginginkan perdamaian juga akan menjadi korban kehancuran ini.

Oleh karena itu, ini adalah keinginan besar dan harapan saya bahwa para pemimpin dari semua negara menyadari kenyataan yang mengerikan ini, bukannya menerapkan kebijakan agresif dan memanfaatkan kekuatan untuk mencapai maksud dan tujuan mereka, sebaiknya mereka harus berusaha menjalankan kebijakan yang mempromosikan keamanan dan keadilan.

Baru-baru ini, seorang komandan militer senior Rusia mengeluarkan peringatan serius tentang potensi risiko perang nuklir. Dalam pandangannya perang tersebut tidak akan berkobar di Asia atau di tempat lain, tapi akan terjadi di perbatasan Eropa, dan ancaman itu mungkin berasal dan terpicu dari negara-negara Eropa Timur. Meskipun beberapa orang akan mengatakan bahwa ini hanya pendapat pribadi, saya sendiri tidak percaya pandangannya menjadi mustahil, tetapi terlepas dari itu, saya juga percaya bahwa jika perang semacam itu pecah, maka sangat mungkin negara-negara Asia juga akan terlibat.

Berita lain yang baru-baru ini tersebar secara luas adalah pandangan seorang mantan kepala badan intelijen Israel, Mossad. Dalam sebuah wawancara dengan saluran terkemuka di Amerika Serikat, CBS, ia mengatakan bahwa pemerintah Israel ingin menyerang Iran. Ia mengatakan bahwa jika serangan itu terjadi maka akan mustahil untuk mengetahui di mana atau bagaimana perang akan bisa diakhiri. Dengan demikian, ia sangat menyarankan untuk menentang serangan apapun. Terkait hal itu, menurut pendapat saya perang tersebut akan berakhir dengan kehancuran nuklir.

Saya baru-baru ini juga menemukan sebuah artikel di mana penulis menyatakan bahwa situasi dunia saat ini mirip dengan situasi di tahun 1932, baik dari segi ekonomi dan juga politik. Ia menulis bahwa di negara tertentu rakyat tidak mempercayai pada politisi atau demokrasi mereka. Ia juga mengatakan bahwa terdapat banyak kesamaan dan paralel lain yang bergabung untuk membentuk gambaran yang sama antara yang disaksikan hari ini dengan yang disaksikan pada saat sebelum pecah Perang Dunia Kedua. Beberapa orang mungkin tidak setuju dengan analisisnya, tetapi sebaliknya, saya setuju dengan itu dan karena itulah mengapa saya percaya bahwa pemerintah-pemerintah dunia seharusnya sangat khawatir dan prihatin pada keadaan saat ini. Demikian pula, hal ini harus merasuk dalam hati para pemimpin yang tidak adil di beberapa negara Muslim, yang tujuannya hanya mempertahankan kekuasaan dengan segala cara dan dengan biaya berapa pun. Jika tidak, tindakan dan kebodohan mereka akan menjadi sarana kematian bagi mereka sendiri, dan mereka akan membawa negara mereka menuju pada keadaan yang paling menakutkan.

Kami, yang tergabung dalam Jemaat Muslim Ahmadiyah, mencoba melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan dunia dan umat manusia dari kehancuran. Hal ini karena di masa ini, kami telah menerima Imam Zaman, yang dikirim oleh Allah sebagai Al Masih yang Dijanjikan, dan dirinya diutus datang sebagai hamba dari Nabi Suci Muhammad s.a.w., yang dirinya diutus sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia. Karena kami mengikuti ajaran Nabi saw, karenanya kami merasa sangat pilu dan menderita melihat keadaan dunia. Rasa pilu ini yang mendorong upaya kami untuk menyelamatkan manusia dari kehancuran dan penderitaan.

Oleh karena itu, saya dan semua Muslim Ahmadi berjuang untuk memenuhi tanggung jawab kami dalam mencapai perdamaian di dunia. Salah satu cara yang telah saya coba untuk mempromosikan perdamaian adalah melalui serangkaian surat yang saya tulis untuk para pemimpin dunia tertentu. Beberapa bulan yang lalu, saya mengirim surat kepada Paus Benediktus, yang disampaikan kepadanya secara pribadi oleh perwakilan Ahmadi. Dalam surat itu saya katakan kepada beliau, bahwa karena beliau adalah pemimpin denominasi agama terbesar dunia, beliau harus berusaha untuk membangun perdamaian.

Hal senada, baru-baru ini juga, setelah mengamati permusuhan antara Iran dan Israel yang terus bergejolak ke tingkat yang sangat berbahaya, saya mengirim surat kepada Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad, di dalam surat itu saya mendesak mereka untuk meninggalkan segala bentuk sikap terburu-buru dan kecerobohan saat membuat keputusan, demi umat manusia.

Saya juga baru-baru ini menulis surat kepada Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri Kanada, Stephen Harper, menyerukan pada keduanya untuk memenuhi peran dan tanggung-jawab mereka dalam menegakkan perdamaian dan keharmonisan di dunia.

Saya juga berencana untuk menulis dan mengingatkan pemimpin negara lain dalam waktu dekat.
Saya tidak tahu apakah surat-surat itu akan memberikan nilai atau pengaruh oleh para pemimpin yang saya kirimi surat, tetapi apapun reaksi mereka, sebuah upaya telah dilakukan oleh saya, sebagai Khalifah dan pemimpin spiritual jutaan Muslim Ahmadi di seluruh dunia, untuk menyampaikan perasaan dan kepiluan mereka tentang keadaan dunia yang berbahaya.

Saya jelaskan bahwa saya tidak pernah menyatakan sentimen ini karena perasaan takut pribadi, tetapi sebaliknya, saya termotivasi oleh cinta yang tulus untuk kemanusiaan. Cinta untuk kemanusiaan ini telah dikembangkan dan ditanamkan kepada seluruh umat Islam sejati melalui ajaran Nabi Muhammad s.a.w. yang seperti telah saya sebutkan, telah diutus sebagai sarana kasih dan rahmat bagi seluruh umat manusia. Mungkin Anda akan terkejut bahkan terguncang mendengar bahwa cinta kami untuk umat manusia adalah akibat langsung dari ajaran Nabi s.a.w. Pertanyaan yang mungkin timbul dalam pikiran Anda adalah mengapa kemudian ada kelompok teroris Muslim yang membunuh orang tak bersalah, atau mengapa ada pemerintah muslim yang untuk melindungi kursi kekuasaannya, mereka melakukan pembunuhan massal rakyat mereka?

Saya akan jelaskan, kenyataan sebenarnya adalah, berbagai tindakan jahat seperti itu sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Al-Quran tidak memberikan izin bagi ekstremisme atau terorisme, dalam keadaan apapun.

Pada masa ini, menurut keyakinan kami, Allah taala telah mengutus Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dari Qadian, sebagai Al-Masih yang Dijanjikan dan Imam Mahdi, dalam pengabdian sepenuhnya kepada Nabi Muhammad s.a.w. Al Masih yang Dijanjikan diutus untuk menyebarkan ajaran Islam dan Al-Quran yang sejati. Beliau dikirim untuk menegakkan ikatan antara manusia dengan Tuhan. Beliau dikirim untuk menyadari dan mengakui hak-hak yang dimiliki oleh manusia satu sama lain. Beliau dikirim untuk mengakhiri semua bentuk peperangan agama. Beliau dikirim untuk membangun rasa hormat, kemuliaan dan penghargaan kepada setiap Pendiri agama apa pun. Beliau dikirim untuk menarik perhatian manusia agar mencapai standar akhlak tertinggi serta membangun perdamaian, cinta, kasih sayang dan persaudaraan di seluruh dunia.

Jika Anda pergi ke setiap bagian dunia, Anda akan menemukan kualitas ini tertanam dalam diri setiap Muslim Ahmadi sejati. Bagi kami, baik teroris atau ekstremis bukanlah contoh, bukan juga diktator Muslim yang kejam yang kami contoh, atau kekuatan Barat. Contoh yang kami ikuti adalah Pendiri Islam, Nabi Muhammad s.a.w. dan pembimbing kami adalah Al-Quran.

Jadi, dari Simposium Perdamaian ini, saya mengirim pesan ke seluruh dunia, bahwa pesan dan ajaran Islam adalah cinta, kasih sayang, kebaikan dan perdamaian. Sayangnya, kita menemukan bahwa minoritas kecil Muslim menyajikan gambaran Islam yang sangat menyimpang dari Islam dan bertindak berdasarkan keyakinan sesat mereka. Saya katakan kepada Anda semua, Anda jangan percaya bahwa itu adalah Islam yang sesungguhnya sehingga menjadikan tindakan sesat seperti itu sebagai lisensi untuk melukai perasaan mayoritas Muslim yang damai atau menjadikan mereka sebagai target kekejaman.

Al-Quran adalah Kitab Suci bagi semua Muslim, sehingga menggunakan bahasa kasar dan kotor atau ingin membakarnya, tentu akan menyedihkan serta melukai perasaan umat Islam. Kita telah menyaksikan bagaimana ketika hal ini terjadi sering mengarah kepada reaksi yang keliru dan tak pantas oleh Muslim ekstremis.

Baru-baru ini kami mendengar terjadi dua insiden di Afghanistan, beberapa tentara Amerika Serikat tidak menghormati Al-Quran, dan membunuh wanita serta anak-anak yang tidak berdosa di rumah mereka. Begitupula, seseorang dengan tanpa ampun menembak mati beberapa tentara Prancis di Perancis Selatan tanpa alasan apa pun, dan beberapa hari kemudian ia memasuki sekolah dan membunuh tiga anak-anak Yahudi yang tidak bersalah dan salah satu dari mereka adalah guru.

Kami menemukan bahwa perilaku ini benar-benar salah dan tidak pernah bisa menyebabkan lahirnya perdamaian. Kami juga melihat kekejaman tersebut secara teratur datang dari Pakistan dan tempat lainnya, sehingga semua tindakan ini memberikan kesempatan kepada penentang Islam untuk melampiaskan kebencian mereka dan menjadi dalih untuk mengejar tujuan mereka dalam skala besar. Beberapa tindakan barbar yang dilakukan pada skala lebih kecil sebenarnya bukanlah disebabkan permusuhan atau dendam pribadi, melainkan karena kebijakan yang tidak adil yang dijalankan oleh pemerintah tertentu, baik di dalam negeri dan di tingkat internasional.

Dengan demikian, supaya perdamaian di dunia dapat ditegakkan, adalah penting mengembangkan standar keadilan yang tepat di setiap tingkatan dan di setiap negara di dunia. Al-Quran menyatakan bahwa membunuh satu orang yang tidak bersalah tanpa alasan, sama dengan membunuh semua umat manusia.

Jadi sekali lagi, sebagai seorang Muslim, saya akan menjelaskan bahwa Islam tidak mengizinkan kekejaman atau penindasan dengan cara atau dalam bentuk apa pun. Ini merupakan perintah mutlak dan tanpa pengecualian. Lebih lanjut Al-Quran menyatakan bahwa sekalipun terdapat negara atau orang-orang melakukan permusuhan, Anda tidak boleh berhenti dari bertindak dengan penuh keadilan saat Anda berhubungan dengan mereka. Permusuhan atau persaingan janganlah menuntun Anda untuk membalas dendam atau bertindak secara tidak proporsional.
Perintah penting lain yang diberikan kepada kita oleh Al-Quran adalah kekayaan dan sumber daya orang lain janganlah dipandang dengan rasa iri atau keserakahan.

Saya telah sampaikan hanya beberapa poin, tetapi ini sangat penting karena mereka meletakkan dasar perdamaian dan keadilan dalam masyarakat serta dunia yang lebih luas. Saya berdoa semoga dunia memberi perhatian terhadap isu-isu kunci ini, sehingga kita dapat diselamatkan dari kehancuran dunia dimana kita dipimpin oleh orang-orang yang tidak adil dan orang-orang yang tidak benar.

Saya ingin mengambil kesempatan ini untuk memohon maaf karena saya kadang-kadang mengambil sebagian waktu Anda, tetapi pada dasarnya tujuan membangun perdamaian di dunia benar-benar sangat penting.

Waktu terus berjalan, dan sebelum terlambat kita semua harus memberi perhatian yang sangat besar terhadap kebutuhan saat ini.

Sebelum saya mengakhiri pidato ini, saya ingin menyampaikan sesuatu hal penting. Seperti kita semua ketahui, hari ini Diamon Jubilee Ratu Elizabeth II tengah dirayakan. Jika kita mengatur mundur 115 tahun lalu, yaitu tahun 1897, Diamond Jubilee Ratu Victoria juga dirayakan. Pada saat itu, Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah mengirim ucapan pesan selamat kepada Ratu Victoria. Dalam pesannya, beliau menyampaikan penjelasan tentang ajaran Islam dan beliau juga mengirimkan doa bagi Pemerintah Inggris dan umur panjang untuk sang Ratu. Dalam pesannya, Masih Mau’uda.s. menulis bahwa kualitas terbaik Pemerintahan Ratu adalah di bawah pemerintahannya, semua orang diberikan kebebasan agama.

Di dunia sekarang ini, Pemerintah Inggris tidak lagi memerintah atas anak Benua, tapi prinsip-prinsip kebebasan beragama dan warisan hukumnya masih mengakar kuat dalam masyarakat di sana, dimana setiap orang diberikan kebebasan beragama.

Tentu saja, contoh yang sangat indah dari kebebasan ini sedang kita saksikan disini dimana para pengikut dari berbagai agama dan kepercayaan yang berbeda bergabung dalam satu tempat, dengan keinginan umum mencari perdamaian di dunia.

Oleh karena itu, dengan kata-kata dan doa yang sama seperti yang disampaikan oleh Masih Mau’ud a.s., saya mengambil kesempatan ini dengan tulus untuk mengucapkan selamat kepada Ratu Elizabeth. Sebagaimana yang dikatakan beliau:

Semoga ucapan selamat kami dipenuhi dengan kebahagiaan dan rasa syukur kepada Ratu kita yang penuh kasih. Dan semoga Yang Mulia Ratu selalu dijaga dalam kebahagiaan dan keselasaan.

Masih Mau’uda.s. lebih lanjut telah mendoakan Ratu Victoria, dan saya pun akan menggunakan kata-kata beliau dalam doa bagi Ratu Elizabeth:

“Wahai Tuhan Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia. Dengan Rahmat dan Karunia-Mu, berikanlah selamanya kebahagiaan kepada Ratu dan sebagaimana kami hidup bahagia di bawah kebajikan dan kebaikannya, dan berikanlah kebaikan dan belas kasih kepadanya sebagaimana kami hidup dalam damai dan kemakmuran di bawah kemurahan dan hukum yang benar.”

Inilah rasa syukur yang dipegang oleh setiap Muslim Ahmadi yang juga merupakan warga negara Inggris.
Pada akhirnya sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih kepada Anda semua yang telah hadir di sini dan telah menunjukkan cinta, kasih sayang dan persaudaraan.

Terima kasih banyak.

Sumber: Mirza Masroor Ahmad (2014), “Krisis Dunia dan Jalan Menuju Perdamaian”, Neratja Press, hal. 42-65. ISBN: 78-602-14539-0-2

(Visited 49 times, 1 visits today)