Haruskan Islam ditakuti?

Oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad, – Khalifah Ahmadiyah V (aba)

Berikut ini kami sajikan sebuah pidato yang disampaikan oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad aba, Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, pada 9 Mei 2016, di Kopenhagen, Denmark. Dihadiri oleh berbagai politisi, akademisi, dan tokoh masyarakat, Huzur berbicara tentang bahaya yang mengancam akibat Perang Dunia Ketiga, krisis pengungsi, dan kewajiban umat Islam terhadap terhadap orang disekelilingnya.

Setelah membaca Tasyahhud, Ta’awwudz dan Bismillah, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V, pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah mengucapkan:

 

Para tamu yang terhomat, Assalamu alaikum warohmatullahi wa barokaatuhu

Pertama-tama, dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan banyak terimakasih kepada semua tamu-tamu kami yang telah menerima undangan kami pada acara resepsi ini. Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah sekte dalam Islam yang memiliki tujuan yang sangat jelas; kami berusaha untuk mengajak manusia lebih dekat kepada Sang Pencipta – Allah Yang Maha Kuasa. Kami berupaya menarik perhatian semua orang akan tanggung jawab mereka terhadap sesama dan pentingnya memperlakukan satu sama lain dengan cinta, kasih sayang dan penuh penghormatan. Dan kami berkeinginan dan berusaha membangun perdamaian sejati dan abadi di dunia ini. Kami, Muslim Ahmadi, meyakini bahwa Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah adalah sosok Nabi Isa dan Mahdi yang dijanjikan yang dinubuatkan oleh Al-Quran dan Rasulullah saw.

Baik Al-Quran maupun Rasulullah saw menubuatkan tanda-tanda khusus sebagai saksi akan kebenaran Almasih yang dijanjikan dan kami percaya bahwa semua tanda tersebut telah terpenuhi dalam mendukung pendakwahan Pendiri Jamaah kami. Beberapa tanda berkaitan dengan perkembangan dunia di masa Almasih dan Mahdi. Sebagai contoh, telah dinubuatkan bahwa Almasih dan Mahdi akan diutus saat teknologi modern dan sarana komunikasi telah berkembang sedemikian rupa sehingga orang-orang dari belahan dunia dapat disatukan dan saat itu terdapat pers dan media.

Selanjutnya, Nabi Muhammad saw menubuatkan tentang tanda samawi yang akan menyertai kedatangan Almasih yang dijanjikan, yaitu gerhana matahari dan bulan selama hari-hari yang telah ditentukan di bulan Ramadhan. Dan setelah pengakuan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad tanda samawi ini tergenapi dengan persis di belahan bumi Timur pada tahun 1894 dan di belahan bumi Barat pada tahun 1895.

Dengan demikian, setelah memperhatikan bagaimana tanda-tanda dan nubuatan Al-Quran dan Nabi Muhammad saw tersebut tergenapi dengan sempurna guna mendukungnya, kami, muslim Ahmadi, percaya bahwa pendiri kami, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as dari Qadian adalah Almasih dan Imam Mahdi yang Dijanjikan. Kami percaya bahwa beliau datang sebagai sumber kebenaran untuk menyampaikan ajaran Islam yang sejati dan gemilang ke seluruh dunia. Beliau mengajak orang-orang di seluruh dunia untuk hidup bersatu dalam damai dan beliau menanamkan kepada pengikutnya rasa simpati dan kasih sayang kepada manusia.

Teknologi modern saat ini telah memungkinkan dunia berkomunikasi dengan mudah. Ini adalah tanda Almasih di akhir zaman yang dinubuatkan oleh Nabi Muhammad saw. Sergey Nivens | Shutterstock.com

Dalam hal ini, Masih Mau’ud as pernah mengatakan:

“Mencintai umat manusia dan menunjukkan kasih sayang kepada orang lain adalah sarana ibadah yang sangat besar kepada Allah swt dan sebagai sarana luar biasa untuk meraih ridha dan ganjaran-NYa.”

Oleh karena itu, menurut keyakinan kami, Islam mengajarkan bahwa sebelum seorang Muslim memenuhi hak-hak manusia, ia tidak akan dapat memenuhi hak kepada Allah taala. Bahkan pada kondisi tertentu pemenuhan hak kepada sesama manusia lebih didahulukan dan diprioritaskan di atas hak-hak kepada Allah taala.

Singkatnya, Islam menetapkan bahwa ketika seseorang dapat memenuhi hak-hak orang lain- terlepas siapa mereka dan apa yang mereka yakini – maka barulah ia dapat digolongkan sebagai seorang Muslim sejati.

Setelah kewafatannya pada tahun 1908, Hadhrat Masih Mau’ud as diteruskan dengan lembaga (nizam) Kekhalifahan, yang tujuannya, dan akan senantiasa terus berlangsung, yaitu untuk meneruskan dan memajukan misi Hadhrat Masih Mau’ud as dalam menyebarkan ajaran Islam yang sejati ke seluruh pelosok dunia.

Beberapa Klarifikasi Atas Kesalahpahaman Tentang Islam

Sekarang saya akan kemukakan beberapa ajaran Islam yang sejati dan saya akan mengklarifikasi beberapa kesalahan pahaman umum tentang agama Islam.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menyampaikan pidato yang dihadiri oleh para akademisi, pejabat tinggi, dan anggota masyarakat lainnya. © Makhzan-e-Tasaweer

Islam memberikan nasehat kepada umat manusia supaya membuang semua kebencian, permusuhan, dan dendam, sebaliknya Islam mengajarkan supaya bersatu dibawah panji cinta dan saling menghormati. Islam menganjurkan agar terciptanya perdamaian dan keadilan di semua tingkatan masyarakat dan diantara semua orang. Untuk itulah di dalam Al-Quran Surah Almaidah: 9, Allah taala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman,  hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah swt. Sesungguhnya, Allah swt.  Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.

Dalam ayat ini, Allah telah memerintahkan umat Islam untuk memperlakukan semua orang – bahkan musuh dan lawan sekalipun – dengan keadilan dan kewajaran. Dengan demikian Islam tidak memperkenankan kekejaman atau tindakan melampaui batas dalam keadaan apapun. Tanpa diragukan lagi, Nabi Muhammad saw telah menegakkan standar kebebasan beragama dan toleransi yang sangat tinggi di dunia.

Sebuah contoh utama dari hal ini adalah bagaimana Nabi Muhammad saw memperlakukan dan menghormati komunitas Yahudi dan non-Muslim lainnya setelah hijrah ke Madihan setelah tahun-tahun penganiayaan di kampung halamannya, Mekkah. Sebagian besar penduduk lokal Madinah menerima Islam sehingga mereka menyambut dan menerima Nabi Muhammad saw, tidak hanya sebagai pemimpin agama mereka, melainkan juga memilihnya sebagai penguasa Negeri.

Meskipun demikian, di Madinah masih ada kaum Yahudi dan juga non-Muslim. Dengan demikian, setelah diangkat sebagai penguasa negeri, Nabi Muhammad saw membuat suatu perjanjian perdamaian dengan orang-orang Yahudi dan kelompok-kelompok lain, berdasarkan prinsip-prinsip kebebasan beragama universal dan toleransi. Menurut perjanjian tersebut, kebebasan beragama orang-orang Yahudi dan masyarakat non-Muslim lainnya dilindungi dan dijamin oleh Nabi Muhammad saw.

Sejarah membuktikan bahwa Nabi Muhammad saw tidak pernah melanggar ketentuan perjanjian ini dan dibawah kekuasaan beliau hak-hak dan kebebasan beragama non-Muslim selalu ditegakkan. Ini adalah bantahan yang jelas bagi mereka yang mengatakan bahwa Islam memperbolehkan gerakan anti-Semit atau diskriminasi agama.

Contoh lain dari akhlak agung Nabi Muhammad saw nampak ketika beliau dikunjungi oleh delegasi Kristen dari kota Najran. Saat mengetahui mereka ingin beribadah, beliau menawarkan masjid beliau sendiri kepada mereka sebagai tempat untuk beribadah, sesuai tata cara Kristen dan keyakinan mereka.

Islam Tersebar Melalui Perdamaian Bukan Pedang

Tuduhan lain yang sering ditujukan kepada Islam adalah bahwa Islam tersebar dengan kekerasan pedang. Tuduhan ini sama sekali tidak berdasar dan memang sangat jauh dari kebenaran. Semua peperangan yang dilakukan di masa Nabi Muhammad saw dan empat Khalifah Rasyidah yang meneruskan beliau, sepenuhnya bersifat defensif, yaitu  perang telah dipaksakan kepada mereka. Bahkan, walaupun dalam kondisi perang yang terpaksa dilakukan oleh umat Islam seperti itu, mereka masih berusaha melindungi dan menghormati tempat-tempat suci agama lain dan begitu juga dengan tokoh-tokoh suci mereka.

Namun, sayangnya di dunia saat ini, kita menyaksikan bahwa karakter agung Nabi Muhammad saw secara menyedihkan telah dibunuh. Bahkan di sini, di Denmark, beberapa tahun lalu, terdapat penerbitan kartun yang mengejek Nabi Muhammad saw dan menggambarkannya –  naudzubillai min dzaalik –  sebagai pemimpin imperialistik dan penganjur perang yang kejam.

Berbagai pejabat mendatangi acara. Atas, dari kiri ke kanan: Mr Jan Erik Messman, MP; Ulla Sandbaek, MP; Holger Schou Rasmussen, Walikota Lolland. Bawah: Bertel Haarder, Menteri Urusan Budaya dan Menteri Urusan Kegerejaan; Josephine Fock MP; Amir Nasional Jamaah Muslim Ahmadiyah Denmark, Zakaria Khan. © Makhzan-e-Tasaweer

Penggambaran yang tak adil terhadap Nabi Muhammad saw ini bertentangan dengan sejarah dan fakta kebenaran. Hal yang sebenarnya adalah Nabi Muhamamd saw senantiasa didominasi oleh tekad kuatnya untuk membangun perdamaian dan hak-hak kemanusiaan.

Bahkan, saat pertama kalinya Allah memberi izin kepada Nabi Muhammad saw untuk melakukan perang yang bersifat defensif terhadap kaum kafir Mekkah, hal itu diberikan untuk membela lembaga agama, bukan hanya untuk membela Islam.

Itulah sebabnya dalam Al-Quran surah Al-Hajj ayat 40-41 Allah taala berfirman bahwa jika para penyerang tidak dihentikan maka mereka tidak hanya sekedar menyerang umat Islam yang tak bersalah tetapi tujuan utama mereka adalah untuk menghancurkan semua agama. Allah sangat jelas menyatakan bahwa jika orang-orang Mekkah tidak dicegah dengan tegas maka tidak ada lagi gereja, sinagog, kuil, masjid atau tempat ibadah agama lain yang akan aman.

Ayat-ayat ini dengan sangat jelas menerangkan bahwa manakala umat Islam diizinkan untuk terlibat dalam perang defensif, izin itu diberikan untuk membela semua agama dan semua keyakinan, bukan untuk penaklukan suatu daerah  atau menyebarkan kekejaman. Mengingat ini semua, sungguh sangat menyedihkan bagi seorang Muslim sejati ketika mendengar para penentang Islam menyatakan bahwa Nabi Muhammad saw termotivasi oleh rasa haus kekuasaan dan nafsu untuk membangun imperium.

Melalui contoh Nabi Muhammad saw dan ajaran Al-Quran, semua umat Islam diajarkan untuk menjaga nilai-nilai semua agama dan tempat ibadah agama lain – tidak hanya masjid. Atthapol Saita | Shutterstock.com

Rasulullah saw tidak mencari kekuasaan, bukan juga terlibat dalam peperangan untuk menyebarkan Islam dengan kekuatan atau memaksa orang lain menjadi Muslim. Satu-satunya motivasi beliau adalah untuk membangun perdamaian dan kebebasan beragama universal. Oleh karena itu, inilah tugas seorang Muslim sejati yaitu senantiasa melindungi dan menghargai semua agama, baik itu Kristen, Yahudi ataupun agama lainnya. Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa selama perang, hanya orang-orang yang terlibat langsung dalam perang saja yang dapat diperangi. Beliau memberi perintah tegas bahwa jangan pernah menyerang orang yang tidak bersalah. Jangan ada wanita, anak-anak atau orang tua yang dijadikan sasaran. Beliau mengajarkan bahwa jangan menyerang para pemuka agama atau imam dan juga tempat-tempat ibadah. Nabi Muhammad saw lebih lanjut mengajarkan bahwa tidak boleh memaksa orang lain untuk masuk Islam.

Tetapi sangat disayangkan, meskipun terdapat ajaran Mulia seperti itu, peperangan yang terjadi saat ini, kita biasa melihat peristiwa-peristiwa penembakan tanpa pandang bulu atau pemboman dimana orang-orang sipil yang tak berdosa lagi tak berdaya – wanita, anak-anak dan orang tua – telah dibunuh tanpa ampun. Umat Islam yang terlibat dalam perilaku biadab tersebut tidak lain akan mencemarkan nama baik agama mereka dan hal itu harus dikecam sekeras mungkin.

Meskipun demikian, kejahilan dan kejahatan yang terjadi diantara umat Islam ini memang pasti terjadi karena Nabi Muhammad saw telah menubuatkan kondisi demikian bahwa umat Islam benar-benar akan melupakan ajaran agama mereka. Kondisi tersebut akan terjadi pula di zaman ketika Allah menurunkan Almasih yang Dijanjikan untuk menghidupkan kembali Islam dan membangun masyarakat yang saleh yang beramal sesuai dengan ajaran-ajarannya yang sejati.

Tetapi, tidak juga dapat dikatakan bahwa dunia non-Muslim bersih atau tidak bersalah. Pastinya, ada juga beberapa kekuatan non-Muslim yang – terlepas dari pengakuannya untuk berjuang demi perdamaian – bersalah dengan membunuh atau melukai warga sipil tak berdosa di berbagai belahan dunia melalui peperangan yang membabi buta. Lagipula, faktanya pemerintahan Muslim saat ini tidak berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip Islam yang benar, yang penuh kejujuran, integritas dan keadilan bagi semua.

Dimanapun dan kapanpun ajaran Islam yang benar  dipraktekkan dengan sunguh-sungguh, kecantikan dan kebaikannya selalu dihargai oleh semua. Misalnya, di masa Hadhrat Umar ra, Khalifah II Rasulullah saw, Islam menyebar ke Suriah dan pemerintahan Muslim terbentuk. Sebagai bagian dari pemerintahannya, pajak sipil dikumpulkan dari warga Kristen, namun kemudian pemerintah Islam mengembalikan pajak tersebut karena Kekaisaran Romawi telah mengambil alih kekuasaan dan para penguasa Muslim tidak lagi mampu melindungi anggota masyarakat atau memenuhi hak-hak mereka.

Arab Spring yang baru-baru ini terjadi telah menunjukkan ketidakadilan dan ketidaksetaraan di dunia Islam, karena nilai-nilai Al-Quran belum dijunjung tinggi. ValeStock | Shutterstock.com

Para pemimpin Muslim tidak memiliki pilihan kecuali pergi, dan hal itu menyebabkan banyak penderitaan non-Muslim yang hidup dibawah kekuasaan mereka. Mereka menjadi sangat gundah dan memohon agar umat Islam kembali dan mereka berdoa khusus untuk ini. Tanpa ragu mereka menyatakan keinginan mereka agar umat Islam memerintah mereka lagi dan melindungi mereka dari ketidakadilan Kekaisaran Romawi.

Kemudian, ketika umat Islam kembali, yang pertama merayakannya adalah non-Muslim, yang menyadari bahwa hak-hak mereka akan ditegakkan kembali. Tentu saja, umat Islam di masa awal sangat adil dan jujur dalam segal hal. Misalnya, sebuah perkara dihadapkan kepada Hadhrat Umar ra, Khalifah Islam yang kedua, dimana salah satu pihak adalah seorang Muslim dan yang lainnya seorang Yahudi.

Setelah mendengarkan kasus tersebut dari pandangan mereka masing-masing, Hadhrat Umar ra justru mendukung orang Yahudi dan menentang Muslim. Islam juga mengajarkan bahwa sangat penting untuk menjaga perasaan dan pendirian orang lain. Suatu ketika saat bercakap-cakap dengan seorang Yahudi, Hadhrat Abu Bakar ra, yang merupakan orang terdekat Rasulullah saw, mengatakan bahwa status Nabi Muhammad saw lebih besar daripada status nabi Musa as. Setelah mendengar hal ini, orang Yahudi mengeluh kepada nabi Muhammad saw. Mendengar hal ini, Nabi Muhammad saw menegur Hazrat Abu Bakar ra dan bersabda bahwa ia seharusnya menghormati perasaan orang Yahudi.

Meskipun apa yang Hazrat Abu Bakar ra katakan itu sesuai dengan keyakinan Islam, Nabi Muhammad saw meminta agar seorang Muslim jangan membuat pernyataan seperti itu di hadapan orang Yahudi karena hal itu dapat membuat mereka sakit hati dan tersinggung. Ajaran Nabi Muhammad saw ini sangat mendalam dan mendasar sekali untuk membangun perdamaian antara pemeluk agama dan keyakinan yang berbeda.

Namun saat ini, kita melihat, atas nama kebebasan berekspresi, nabi-nabi dan tokoh-tokoh suci biasa dihina dan diolok-olok, meskipun ada banyak jutaan orang yang mengikuti ajaran mereka dan tidak tega melihat mereka diejek dengan cara ini. Jika kita benar-benar menginginkan perdamaian di dunia, maka kita perlu memikirkan dampak dari kata-kata dan perbuatan kita. Kita harus menghormati keyakinan dan nilai-nilai luhur orang lain. Ini adalah cara untuk mendobrak hambatan dan merobohkan tembok permusuhan dan kebencian yang telah terbangun di berbagai belahan dunia. Jelas sekali bahwa menciptakan perdamaian adalah kebutuhan yang paling penting dan mendesak. Ini harus menjadi cita-cita dan tujuan utama kita. Tiada yang menyangkal bahwa tindak kebencian dan kejahatan segelintri umat Islam tertentu telah berkontribusi signifikan atas banyak konflik yang disaksikan hari ini.

Beberapa orang telah membawa kebebasan pada tingkat yang ekstrim, dengan melukai sensifitas keberagamaan. Tetapi pada saat yang sama, Islam juga secara aktif menentang kekerasan yang dilakukan terhadap orang-orang yang menyinggung perasaan beragama. MyImages-Micha | Shutterstock.com

Namun, hal ini sangat jelas bahwa alasan mereka terlibat dalam kekejaman seperti itu dikarenakan mereka jauh dari ajaran Islam yang benar. Selain itu, terdapat kekuatan dunia non-Muslim tertentu yang juga menghembuskan api konflik melalui undang-undang dan kebijakan yang tidak adil. Lagipula, jika seseorang membaca Al-Quran dan mempelajari kehidupan Nabi Muhammad saw dari kacamata keadilan, bukan dari kacamata prasangka, mereka akan menyadari bahwa Islam adalah agama damai. Mereka akan menyadari bahwa Nabi Muhammad saw menghendaki perdamaian di setiap sisi kehidupannya. Mereka akan menyadari bahwa ajaran Al-Quran adalah penuh dengan cinta bagi seluruh umat manusia.

Menciptakan Perdamaian Adalah Tanggung Jawab Bersama

Hari ini, kita hidup di saat meningkatnya ketidakstabilan dan ketidakpastian. Dan setiap orang, di setiap penjuru dunia, perlu mengambil tanggung jawab pribadi untuk turut serta menciptakan perdamaian. Konflik terus menyala dan berkobar di seluruh dunia, maka dari itu janganlah dalam keraguan bahwa bayangan perang ada di hadapan kita. Berbagai aliansi dan blok-blok dengan cepat terbentuk di depan mata kita sehingga ketakutan terbesar saya bahwa kita bertanggung jawab besar mengarahkan pada bencana Perang Dunia Ketiga tanpa jeda untuk berpikir.

Sebenarnya, tidak akan sulit untuk mengatakan bahwa akar dari perang semacam itu telah terjadi. Jika kita ingin menyelamatkan diri kita sendiri, dan yang lebih penting, jika kita ingin melindungi anak-anak kita dan generasi mendatang dari azab peperangan dan dampaknya  yang merusak, maka kita harus memenuhi hak-hak Sang Pencipta dan hak satu sama lain. Kita harus menjaga dan menghargai satu sama lain, meskipun terdapat perbedaan kasta, keyakinan dan warna kulit.

Masalah terorisme sekarang telah beralih ke Eropa, dengan Serangan Paris dan Brussel, hal yang menunjukkan ini sebagai masalah global. CRM | Shutterstock.com

Dan kita harus menghargai dan menghormati perasaan keagamaan dan suku bangsa satu sama lain. Tidak diragukan bahwa Pemerintah Muslim saat ini telah gagal mengatur warganya dan telah merampas hak-hak mereka secara tidak adil, sehingga akibatnya kelompok-kelompok ekstremis dan teroris telah mengambil keuntungan dan mendapatkan kekuatan. Kelompok-kelompok tersebut telah mendatangkan malapetaka dan kehancuran, tidak hanya di dunia Islam, tetapi juga telah menyebarkan jaringan teror mereka ke Barat.

Dengan demikian, ketakutan pada Islam dan Muslim telah mengakar dan terus meningkat. Sekali lagi saya jelaskan bahwa tindakan-tindakan-tindakan mengerikan dari orang-orang yang menyebut diri mereka Muslim itu,  tidak mewakili ajaran itu sendiri melainkan mereka memiliki kepentingan mereka sendiri. Dari penjelasan yang saya sampaikan, saya juga mendesak dan meminta para pemimpin Barat dan para politisi supaya memahami tanggung jawab mereka dengan memanfaatkan pengaruh apapun yang mereka miliki untuk membantu pemerintah Islam guna menciptakan perdamaian, tanpa keberpihakan. Bukannya dengan menjaga hubungan baik kepada para pemimpin Muslim untuk keuntungan politik atau finansial mereka sendiri. Jika tidak demikian, mereka sama-sama bertanggung jawab dalam merusak perdamaian dunia.

Saat ini terjadi peningkatan rasa takut dan was-was diantara orang-orang Eropa disebabkan oleh begitu banyaknya pengungsi yang memasuki Benua ini selama setahun terakhir. Perlu diingat bahwa sebagian besar pengungsi telah mencari perlindungan di Barat karena kekejaman yang luar biasa dan kehancuran yang mereka hadapi di negara mereka sendiri. Namun faktanya tidak ada satu negara, bahkan benua, yang memiliki kemampuan untuk menampung jutaan orang yang melarikan diri dari negara mereka yang dilanda perang. Jadi satu-satunya solusi adalah merumuskan kerangka kerja yang tulus untuk perdamaian di negara asal mereka dan mencoba mengakhiri kekejaman di tanah air mereka.

Karena itu, sekali lagi saya meminta semua tamu, khususnya para politisi dan tokoh-tokoh berpengaruh yang hadir disini, bahwa mereka jangan menyia-nyiakan kesempatan dalam bekerja untuk perdamaian dunia, karena tidak ada acara lain selain itu. Seperti yang telah saya sampaikan, Perang Dunia Ketiga semakin mendekat dengan cepat dan jika tidak dihentikan dari jalurnya itu, maka efek bencananya pasti akan berlangsung selama beberapa generasi, karena perang dunia di saat ini lebih memungkinkan penggunaan senjata nuklir. dampak perang seperti ini tak terbayangkan dan mustahil dipahami.

Semoga Allah memberikan akal dan kebijaksanaan kepada orang-orang di dunia ini. Semoga Dia, dengan karunia dan rahmat-Nya yang tak terbatas, melindungi kita semua dan memberikan taufik kepada umat manusia untuk dapat hidup bersama dengan damai dan rukun dan dapat memenuhi hak-hak satu sama lain setiap saat. Semoga kita dapat keluar dari getirnya konflik yang terjadi hari ini untuk masa depan yang lebih baik dan lebih cerah di mana semua bangsa dan semua kelompok dapat hidup berdampingan. Dan semangat cinta, kasih sayang dan kemanusiaan ditegakkan kembali.

Dengan kata-kata ini saya sekali lagi ingin mengucapkan terimakasih sudah bergabung dengan kami hari ini. Terimakasih banyak.


Sumber       : Review of Religions
Penerjemah : Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor         : Irfan Hafidhur Rahman

(Visited 145 times, 1 visits today)