Masjid – Sebuah Bangunan Untuk Perdamaian

Oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad, – Khalifah Ahmadiyah V

Saat Pembukaan Masjid Mahmood di Regina, Saskatchewan, Kanada

 

Pada Jumat 4 November 2016, Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, meresmikan masjid Mahmood di Regina, ibukota Provinsi Saskatchewan di Western Canada. Belaiu menyampaikan khotbah Jumat dari masjid yang baru dibangun ini dengan menguraikan tentang tujuan dibangunnya mesjid ini, yaitu untuk perdamaian yang sejati. Keesokan malam harinya, resepsi khusus dari peresmian masjid diadakan di Ramada Plaza Hotel di Regina. Lal Khan Malik, Presiden Jamaah Muslim Ahmadiyah, Kanada, menyampaikan sambutan singkat. Beberapa pejabat juga menyampaikan sambutan, termasuk Brad Wall, Gubernur  Saskatchewan; Michael Fougere, Walikota Regina dan Evan Bray, Kepala Polisi Regina.

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Para tamu yang terhormat, Assalamualaikum warohmatullahi wa barokaatuhu

Pertama-tama dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada semua tamu yang dengan ramah menerima undangan kami dan ikut bergabung dengan kami pada malam ini. Sebagian besar dari anda seanda bukanlah Muslim sehingga kehadiran anda disini dalam sebuah acara Islam telah memperlihatkan keterbukaan hati anda dan rasa toleransi, sehingga hal ini mengharuskan saya menyampaikan ucapaan terimakasih yang tulus dari lubuk hati paling dalam. Ucapan terimakasih ini bukanlah sekedar sopan santun belaka atau sebuah formalitas saja, melainkan bagian dari keimanan saya, karena Pendiri Islam, Nabi Muhammad saw telah mengajarkan bahwa barang siapa yang tidak berterima kasih kepada sesamanya, ia tidak bersyukur kepada Allah taala.

Oleh karena itu, ucapan terimakasih saya kepada anda semua sebenarnya adalah bentuk kewajiban agama saya dan merupakan bagian yang indah dari ajaran agama saya, yang dengannya setiap Muslim Ahmadi harus bertindak dan hidup dengan cara itu. Ucapan syukur ini saya curahkan lebih besar lagi karena kita telah melewati situasi hari ini yang bergejolak dan sangat berbahaya,  khususnya bagi dunia Islam. Kita semua menyadari kondisi dimana kelompok ekstremis Muslim tertentu telah terbentuk dan menunjukkan kebrutalan yang paling menakutkan dengan menagatasnamakan Islam. Selagi mereka berselisih satu sama lain, mereka pun tengah melancarkan perang terhadap para pemimpin dan penguasa mereka.

Demikian pula, pemerintah tertentu juga gagal memenuhi hak-hak warganya, sehingga terbentuklah kelompok pemberontak dan bangkit menentang dengan kekerasan. Akibat dari semua hal ini, telah terjadi kerusakan total pada masyarakat di beberapa negara Muslim. Bukannya hidup damai, bangsa-bangsa tersebut terperosok dalam siklus kekerasan dan perusakan yang tak masuk akal. Apa yang terjadi tidak lain adalah noda nyata bagi kemanusiaan.

Tentu saja, konflik atau kekerasan itu tidak sepenuhnya terjadi hanya di dunia Islam. Kita juga melihat perang saudara dan kerusuhan di beberapa negara non-Muslim, terutama di negara-negara ekonomi lemah dan kurang berkembang.  Meskipun demikian, memang kekacauan yang terjadi di dunia Muslim dianggap sebagai pusat permasalahan dunia dan menjadi perhatian terbesar. Hal ini disebabkan munculnya sejumlah teroris dan ekstremis yang mengaku Islam yang tidak hanya melakukan kekejaman di negara mereka sendiri tetapi juga telah mengekspor terorisme ke negeri lain. Jadi serangan-serangan keji yang sangat tidak dibenarkan itu telah terjadi beberapa kali disini, di belahan dunia Barat.

Misalnya, dalam satu tahun terakhir saja telah terjadi serangan teroris di Paris, Brussels, Orlando dan kota-kota besar lainnya dimana sejumlah orang tak bersalah telah terbunuh secara kejam dan biadab. Kejadian-kejadian itu telah menciptakan iklim ketakutan di kalangan orang-orang non-Muslim Barat, dan sebagai efeknya kita melihat meningkatnya istilah ‘Islamophobia”. Jadi, meskipun anda telah hadir pada acara ini dan anda telah berhubungan secara pribadi dengan orang-orang Ahmadi, mungkin saja beberapa diantara anda seanda masih memiliki kecurigaan dan rasa takut pada masjid kami.

Anda mungkin meyakini bahwa saat Muslim Ahmadi tidak memiliki masjid, mereka hidup disini sebagai bagian integral masyarakat. Namun sekarang setelah mereka memiliki tempat ibadah sendiri, mungkin anda merasa khawatir dimana mereka akan mengunci pintu masjid mereka dan menutup diri dari masyarakat, bahkan lebih buruk, mereka dapat menjadikan masjid mereka untuk melakukan kegiatan ekstremis, melancarkan penyerangan dan merusak ketenangan masyarakat. Mengingat segala hal yang telah saya jelaskan tentang kondisi dunia saat ini, saya tidak akan menyalahkan jika anda memendam keberatan seperti itu, dan tentu saja saya anggap kekhawatiran tersebut sebagai hal yang bisa dipahami. Dalam hal ini, di awal ini saya ingin menjelaskan kepada anda seanda bahwa tujuan masjid dibangun adalah sangat mulia dan bukanlah penyebab kerusuhan, melainkan sebagai sarana meletakkan dasar perdamaian sejati yang berkelanjutan di dunia.

Tujuan utama masjid dibangun adalah sebagai tempat bagi orang-orang untuk berkumpul dan beribadah secara bersama-sama kepada Allah, dan sebagai tempat bersujud dan menyerahkan diri di hadapan-Nya dan memohon rahmat dan kasih sayang-Nya. Namun tidak cukup hanya berdoa untuk perdamaian dan kemakmuran diri pribadi saja, melainkan tugas seorang Muslim adalah mendoakan juga perdamaian dan kesejahteraan orang lain, terlepas dari agama atau latar belakang mereka, karena Nabi Muhammad saw telah bersabda bahwa penting bagi seorang Muslim untuk menginginkan bagi orang lain apa yang mereka inginkan untuk diri sendiri. Jadi jika kita menginginkan perdamaian, keamaanan, cinta dan penghormatan untuk diri kita sendiri maka kita juga harus mengharapkannya untuk orang lain. Dengan demikian, masjid bukanlah tempat menyebarkan konflik dan kebencian, melainkan dibangun dengan maksud mengajak orang bersama-sama dan bersatu dalam perdamaian, kerukunan dan saling menghormati.

Nabi Muhammad saw adalah perwujudan sempurna dari prinsip ‘menginginkan untuk orang lain apa yang diinginkan untuk diri sendiri’. Dikarenakan keprihatinan beliau menyaksikan orang-orang semakin menjauh dari Pencipta mereka, Nabi Muhammad saw menghabiskan malam demi malam menangis bersujud di hadapan Allah dengan penuh penyerahan diri.

Setiap doa beliau selalu dipanjatkan dengan penuh keperihan kepada Allah Taala bahwasanya mengapa orang-orang tidak mengubah akhlak dan rohani mereka? Mengapa mereka menolak meninggalkan kekejaman mereka? Mengapa mereka tidak berhenti dari perbuatan buruk? Sehingga akibatnya, mengapa mereka mau menempatkan diri pada resiko mendapatkan hukuman dari Allah yang Maha Kuasa? Penderitaan dan kesedihan Nabi Muhammad saw begitu mendalam dan kondisi kegelisahan dan keputusasaannya begitu besar, sehingga dalam Al-Quran, Allah taala bertanya langsung kepada beliau, apakah beliau akan ‘bersedih sampai binasa’ karena manusia tidak hidup dalam damai dan tidak memenuhi hak-hak Pencipta dan diantara mereka sendiri. (Asy-Syu’ara: 4)

Dengan demikian, setiap jiwa raga Nabi Muhammad saw memancar keluar sebagai musim semi rahmat dan kasih sayang abadi bagi umat manusia. Dan umat Islam sejati, yang mengikuti beliau, tidak boleh memasuki masjid dengan niat yang buruk atau keinginan untuk menyakiti orang lain.

Sebaliknya, mereka masuk ke masjid dengan keyakinan teguh meminta dan memohon ke hadirat Allah Ta’ala semoga seluruh dunia dapat bersatu dalam perdamaian dan diselamatkan dari kemurkaan Allah di akhirat. Oleh karena itu, sebuah masjid yang benar akan menjadi penjamin perdamaian bagi semua orang, semua lapisan masyarakat. Dan naudzubillah min dzaalik, jika masjid tidak dibangun dengan niat baik maka ia tidak memenuhi tujuannya.

Pada suatu kesempatan, di masa Nabi Muhammad saw terdapat “masjid” yang didirikan untuk tujuan menimbulkan kerusakan dan keresahan diantara masyarakat. Maka di dalam Al-Quran disebutkan bahwa Allah taala memerintahkan Nabi Muhammad saw untuk menghancurkan masjid tersebut karena telah dibangun dengan niat buruk, bukan untuk menyembah Allah atau untuk memenuhi hak-hak manusia. Akhirnya masjid tersebut dibuat rata dengan tanah. Ini adalah ajaran Islam yang luar biasa, dimana umat Islam diajarkan bahwa untuk memenuhi tujuan dari sebuah masjid, bukan hanya khusus untuk Pencipta mereka, tetapi juga untuk menghargai dan peduli kepada sesama manusia.

Alhasil, dari setiap perspektif, pada hakikatnya menyembah Allah terkait erat dengan pemenuhan hak-hak manusia. Inilah sebabnya mengapa Pendiri  Jemaat Muslim Ahmadiyah menjelaskan bahwa ajaran Islam bisa diringkas dalam dua baris – pertama, mencintai Allah taala dan memenuhi hak-hak-Nya dan kedua, mencintai makhluk-Nya dan memenuhi hak-hak mereka. Dengan karunia Allah, Jemaat Muslim Ahmadiyah selalu mengikuti ajaran ini dan dimanapun kami membangun masjid atau membentuk suatu komunitas, kami akan dikenal dengan komitmen untuk mengkhidmati orang lain. Kami telah diakui dalam memberikan pengorbanan untuk urusan kemanusiaan. Dimanapun ada kebutuhan, Jemaat Muslim Ahmadiyah berada di garis depan untuk mengkhidmati umat manusia.

Pelayanan kemanusiaan kami ada di setiap tempat, tanpa memandang etnis, agama atau latar belakang seseorang. Dan satu-satunya tujuan kami adalah memberikan kenyamanan kepada mereka yang membutuhkan dan menyediakan mereka sarana kehidupan yang lebih baik. Oleh karena itu, masjid kami tidak hanya sebagai tempat untuk beribadah kepada Allah, tetapi juga berfungsi sebagai pusat berkumpul dan merencanakan berbagai cara untuk membantu masyarakat setempat. Satu-satunya rencana yang ada di masjid-masjid Muslim Ahmadi adalah untuk menetukan bagaimana kami dapat meredakan kepiluan dan kesedihan orang-orang yang kehilangan dan kekurangan. Satu-satunya program yang kami rencanakan adalah untuk menghapus beban berat keputusasaan dari mereka yang menderita kesulitan dan kemalangan.

Sebagai contoh, kami telah membangun ratusan sekolah dan puluhan rumah sakit di negara berkembang dalam rangka menyediakan pendidikan dan kesehatan untuk orang-orang yang tinggal di bagian dunia yang terpencil. Demikian juga kami menyediakan akses air bersih di banyak desa dan kota-kota dimana sebelumnya fasilitas tersebut belum ada. Hidup disini, di Barat sangat mudah berpuas diri menikmati manfaat air yang sebenarnya, tinggal membayar biaya rutin kepada pengelola air bersih, air mengalir dari keran kita. Sehingga sulit memahami bagaimana putus asanya orang-orang yang tinggal di Afrika dan negara-negara miskin lainnya untuk keperluan yang tidak ternilai harganya ini.

Air adalah sarana hidup tetapi masih banyak orang-orang di bagian dunia yang belum memiliki akses kepadanya atau bahkan tidak ada sama sekali. Di negara-negara Afrika, jika hujan turun tempat penampungan mereka dapat terisi, tetapi yang sering terjadi adalah musim kemarau sehingga tempat penampungan mereka menjadi kering, dan terjadi kelangkaan air yang parah. Dan faktanya, kalaupun terjadi hujan, mereka yang tinggal di pedesaan atau daerah terpencil itu masih belum memiliki akses terhadap air bersih, karena tempat penampungan yang mereka gunakan terkontaminasi dengan segala macam bakteri dan racun. Air yang sama yang mereka gunakan untuk minum, mandi, memasak, mencuci pakaian mereka, digunakan juga oleh hewan untuk minum dan seringkali tercemar oleh kotoran hewan. Kemudian, air kotor inipun tidak langsung tersedia dari keran, melainkan dibutuhkan upaya anak-anak untuk berjalan beberapa kilometer membawa wadah air diatas kepala mereka.

Saya pribadi pernah tinggal di Afrika selama beberapa tahun dan saya telah melihat dengan mata kepala sendiri. Di usia anak-anak yang harusnya mereka berada di sekolah dan bebas, mereka dipaksa oleh keadaan yang mengerikan yang berada di luar kendali mereka untuk mempertahankan rutinitas sehari-hari yang tak terbayangkan bagi kita yang hidup dalam kenyamanan di Barat ini. Keprihatinan sehari-hari tersebut jika dibandingkan dengan disini, di negara maju, hal itu sangat sepele. Yang paling kita khawatirkan hanyalah memastikan anak-anak kita berangkat ke sekolah tepat waktu setiap pagi atau masalah-masalah kecil yang sejenisnya. Masalah-masalah sepele tersebut adalah mimpi yang sangat jauh bagi orang-orang yang tinggal di negara tertinggal. Anak-anak disana akan memberikan apa saja untuk mendapatkan kesempatan yang anak-anak kita miliki disini. Apa yang akan mereka berikan untuk pergi ke sekolah setiap hari daripada berjalan menempuh jarak jauh untuk mengambil air untuk keperluan rumah tangga keluarga mereka sehari-hari.

Dengan demikian, dalam upaya menyediakan kenyamanan bagi orang-orang tersebut dan untuk menghilangkan dahaga mereka, Jemaat Muslim Ahmadiyah menyediakan akses air minum yang bersih melalui pemasangan pompa air tangan atau bertenaga surya. Biasanya relawan kami mengambil foto atau video dari momen ketika penduduk setempat melihat air mengalir dari keran untuk pertama kalinya dan kemudian mereka membagikannya kepada saya. Setelah hidup dalam kemelaratan, keceriaan dan suka cita dari wajah penduduk setempat – terutama anak-anak ketika melihat air bersih untuk pertama kalinya di depan pintu rumah mereka, adalah pemandangan wajib dilihat. Seakan semua harapan dan impian mereka telah terpenuhi sekaligus dan seolah-olah mereka adalah penerima harta dari seluruh dunia.

Kami, Muslim Ahmadi, bangga dapat melayani orang-orang tersebut dan menganggapnya sebagai berkah dimana kami dapat memberikan bantuan dan kemudahan kepada orang lain, karena ini adalah cara Islam. Alhasil, dimanapun Jemaat Muslim Ahmadiyah membangun masjid, masyarakat setempat segera mengenali dan secara terbuka membuktikan bahwa kami tanpa pamrih dalam melayani kemanusiaan, tanpa memandang perbedaan agama,  dan memberikan kontribusi dengan cara yang sebaik mungkin. Dengan cara yang sama, Muslim Ahmadi juga berusaha untuk mendukung dan membantu orang-orang yang dilanda bencana alam. Saya sebutkan salah satu contoh baru-baru ini, beberapa minggu yang lalu, Badai Matthew telah menyebabkan kerusakan dan kehancuran di Haiti. Alhasil, relawan Ahmadi Muslim segera dikirim kesana melalui Humanity First, yang merupakan organisasi bantuan kemanusiaan yang didirikan oleh Jemaat kami, dan mereka dapat membantu Angkatan Laut Belanda dalam upaya bantuan.

Upaya para relawan Ahmadi telah meninggalkan pengaruh mendalam dimana Komandan Angkatan Laut Belanda kemudian menulis surat penghargaan kepada kami dimana ia mengatakan bahwa ia belum pernah melihat organisasi lain yang melayani dengan penuh dedikasi, tidak mementingkan diri sendiri dan bekerja sebagai tim Humanity First.  Oleh karena itu, saya katakan lagi bahwa masjid yang sejati dan muslim yang sejati tidak perlu ditakuti. Jihad kami bukanlah jihad palsu dengan cara terorisme atau kekerasan, sebaliknya jihad kami sama seperti yang ditetapkan dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. Sepulang dari peperangan untuk mempertahankan diri yang terpaksa dilakukan umat Islam, beliau bersabda kepada para sahabat bahwa mereka telah kembali dari Jihad kecil, dan sekarang mereka menuju ke arah Jihad yang lebih besar, yaitu memenuhi hak-hak Allah dan manusia dan mereformasi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, jihad kami bukanlah jihad pedang, senjata atau bom. Jihad kami bukanlah jihad kekejaman, kebrutalan dan ketidakadilan. Sebaliknya Jihad kami adalah cinta, dan kasih sayang. Jihad kami adalah toleransi, keadilan dan simpati kepada manusia. Jihad kami adalah memenuhi hak-hak Allah dan makhluk-Nya. Kalaupun kami telah membentuk kelompok Jihadi, maka tujuannya bukanlah untuk menyerang secara brutal dan membunuh orang yang tak bersalah, atau untuk melancarkan serangan teroris yang keji di kelab, stasiun atau dimanapun, melainkan untuk memenuhi hak-hak semua orang, dimanapun dan kapanpun.

Untuk mencapai tujuan tersebut kami tidaklah mengangkat pedang atau senjata api, tetapi senjata pilihan kami adalah cinta, kasih sayang, simpati dan diatas segalanya, doa. Dengan demikian, sekarang masjid ini telah dibangun, saya yakin bahwa Muslim Ahmadi setempat tidak hanya akan meningkatkan perhatian mereka dalam beribadah kepada Allah, tetapi juga akan fokus lebih banyak lagi pada pelayanan kemanusiaan. Sebagai tetangga kami, anda akan melihat masjid ini akan berdiri sebagai suar cahaya yang menerangi masyarakat setempat dengan nilai-nilai universal berupa kebajikan, kasih sayang dan rahmat. Anda akan melihat masjid ini akan terbukti menjadi simbol perdamaian mulia, kemakmuran dan perlindungan bagi seluruh umat manusia.

Tentu saja, Al-Quran telah meletakkan penekanan besar pada hak-hak tetangga, dimana Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa Allah taala telah menarik perhatiannya terhadap hak-hak mereka sedemikian rupa sehingga beliau pernah berpikir mungkin tetangganya dimasukkan dalam ahli waris seseorang. Jadi, jika diantara tetangga kami masih memiliki keraguan atau kekhawatiran pada masjid ini, mereka harus menghapusnya sama sekali. Kami, Muslim Ahmadi akan peduli terhadap tetangga, melindungi mereka dan menghormati mereka sehingga kami dapat memenuhi tujuan dari agama kami. Para Ahmadi Muslim setempat, insyallah, akan membuktikan diri sebagai masyarakat yang taat dan setia di dalam masyarakat dan akan berusaha melayani anda semua dengan segala kemampuan mereka. Semoga Allah memberikan kemampuan kepada mereka.

Akhir kata, saya sekali lagi ingin mengucapkan terima kasih kepada anda semua yang telah menghadiri acara ini dan  saya ingin menegaskan kembali bahwa masjid kami akan tetap manjadi pusat perdamain dan niatan-niatan baik dan pintunya selalu terbuka bagi orang-orang dari semua agama dan keyakinan. Semoga Allah memberkati anda semua. Terima kasih banyak.


Sumber         : Reviewofreligions.org
Penerjemah : Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor           : Syihab Ahmad

(Visited 74 times, 1 visits today)