Masjid Sebagai Pusat Perdamaian dan Keamanan

Hazrat Mirza Masroor Ahmad – Khalifah Ahmadiyah V

Sebagai bagian dari perjalanan ke Kanada, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifah Kelima, Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, meresmikan Masjid Baitul Amman di Kota Llyodminster di Western Canada pada 5 November 2016. Keesokan harinya beliau menyampaikan pidato utama pada acara khusus peresmian masjid, dengan penyampaian yang menenteramkan para tamu dan tetangga sekitar bahwa tujuan masjid adalah untuk menyebarkan perdamaian, bukan perselisihan. Berikut kami muat pidato lengkapnya.

 “Bismillahir Rahmanir Rahim

Para tamu yang terhormat, Assalamualaikum Alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatohu.

Pertama-tama, dalam kesempatan ini saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua tamu yang telah bergabung bersama kami disini, di sore hari ini, pada kesempatan peresmian masjid baru. Acara ini bukanlah acara politik atau duniawi dan juga bukan acara yang disusun untuk membahas dan menganalisa permasalahan dunia; tetapi ini murni acara keagamaan yang diselenggarakan dalam rangka pembukaan tempat ibadah Islam – Masjid Baitul Amman – yang dibangun oleh komunitas Islam.

Berkumpulnya kita hari ini di tempat ini, adalah fakta yang tak terbantahkan bahwa kita tengah melewati masa sulit dan masa depan dunia menjadi semakin tidak menentu. Berbagai konflik terus meluas dan meningkat di banyak negara, khususnya di negara-negara Muslim. Orang-orang yang memiliki perhatian terhadap kondisi dunia saat ini walaupun hanya sedikit, mungkin memiliki kesan negatif terhadap Islam dan Masjid, dan melihatnya dengan pandangan ketakutan dan kecurigaan. Di hampir setiap siaran berita terdapat peristiwa pertumpahan darah dan kekerasan, sehingga pemerintah memerangi kelompok pemberontak setempat dan kemudian terus berkembang menjadi perang saudara, sehingga orang-orang yang tak berdosa menjadi sasaran dan terbunuh. Kebrutalan yang terjadi sangat mengerikan dan menjadi sumber aib bagi kemanusiaan.

Bukanlah senjata ringan yang berskala kecil yang kita lihat, tetapi rudal besar dan menakutkan yang ditembakkan, dan pemboman yang dahsyat dan serangan udara merupakan pemandangan yang lumrah. Kota-kota dilanda kehancuran dan tinggal hanya reruntuhan. Sungai darah mengalir di jalan-jalan, dan tak terhitung orang-orang yang kehilangan dan pergi mengungsi. Media-media berita menayangkan liputan secara global secara terus menerus tentang kekejaman tersebut, sehingga tidak mengherankan jika rasa was-was dan ketakutan terhadap Islam meningkat di kalangan sebagian non-Muslim. Keberatan-keberatan seperti itu sekarang semakin meningkat di beberapa negara seiring bertambahnya kebencian dan intoleransi oleh umat Islam.

Mengingat semua hal ini, kedatangan kalian dalam acara peresmian masjid ini, yang murni kegiatan Islam, telah menunjukkan tanda keberanian yang luar biasa pada diri kalian. Ini juga tanda bahwa kalian tidak termasuk orang-orang yang termakan keyakinan palsu bahwa Islam adalah agama kekerasan dan ekstremisme, tetapi kalian telah memahami bahwa perselisihan dan tiadanya perdamaian di negara-negara Muslim tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam. Hal ini menunjukkan bahwa kalian paham bahwa konflik yang sebenarnya terjadi adalah diakibatkan oleh pemerintah dan kelompok pemberontak, yang tanpa perikemanusiaan saling menegaskan dominasi antara satu sama lain dan mengutamakan kepentingan mereka sendiri diatas segalanya. Tetapi sebaliknya, dengan menjalin hubungan dengan pada Muslim Ahmadi, Anda akan melihat bahwa keyakinan dan praktik kami sangat kontras dengan kekerasan dan ketidakadilan yang dilakukan di dunia Muslim pada umumnya.

Setiap Muslim Ahmadi di setiap kota dan bangsa menolak segala bentuk ekstremisme dan merasakan kedukaan dan kepiluan yang sangat besar terhadap pembantaian dan kerusuhan yang terjadi di beberapa negara Muslim. Begitu juga, kami merasakan kepedihan yang mendalam ketika menyaksikan bom bunuh diri dan serangan brutal teroris lainnya yang terjadi tidak hanya di negara-negara Muslim, tetapi juga meluas ke negara Barat. Kami sepenuhnya mengecam kekejaman tersebut dan menganggap semua itu sebagai penghinaan nyata bagi ajaran Islam yang benar.

Namun demikian, meskipun sifat Muslim Ahmadi adalah damai dan toleran, mungkin masih ada diantara orang-orang disini atau masyarakat setempat yang masih menyimpan keberatan terhadap pembukaan masjid ini. Hal ini cukup dimengerti mengigat keadaan dunia saat ini, tetapi saya katakan lagi bahwa keikutsertaan kalian pada hari ini adalah tindakan yang sangat berani dan sebagai tanda terbukanya hati dan luasnya pikiran kalian. Atas sikap yang baik dan sangat terpuji ini saya ucapkan terimakasih banyak. Rasa penghargaan ini bukan sekedar gestur kosong atau bentuk sopan santun biasa, melainkan keluar dari ketulusan dan sesuai dengan keyakinan agama saya. Karena pendiri Islam, Nabi Muhammad saw bersabda bahwa seorang yang tidak bersyukur kepada hambanya, ia tidak bersyukur kepada Allah.

Nabi Muhammad saw mengajarkan bahwa berterimakasih kepada orang lain adalah sarana untuk meraih keridhaan Allah taala, mengucapkan rasa syukur sebetulnya adalah prinsip pokok bagi seorang Muslim sejati dan contoh yang indah dari ajaran Islam yang damai dan inklusif. Kemudian, Nabi Muhammad saw tidak mengatakan bahwa umat Islam membatasi penghargaan mereka hanya kepada umat Islam saja, melainkan beliau saw memerintahkan mereka harus menunjukkan rasa terimakasih kepada semua orang, tanpa memandang agama atau keyakinan mereka. Oleh karena itu, ungkapan terima kasih saya yang tulus juga merupakan bentuk kewajiban [ajaran] agama saya.

Persenjataan yang digunakan untuk mengancam negara-negara lain dan senjata ini menghancurkan kehidupan warga sipil yang tak terhitung jumlahnya.
© User guruXOX | Shutterstock.com

Setelah ucapan pembukaan ini, sekarang saya akan berbicara tentang masjid itu sendiri dan apa tujuan utamanya. Kata bahasa Arab untuk Masjid adalah ‘masjid’ yang secara harfiah artinya adalah tempat berkumpul orang-orang untuk menyembah Allah taala dengan penuh kerendahan hati dan penyerahan diri sepenuhnya. Jika seseorang memasuki masjid dengan hati yang lembut, menyadari diri sebagai insan tak berdaya, maka sekali-kali ia tidak akan pernah terbesit untuk melakukan suatu tindakan yang  membahayakan bagi orang lain atau menjadi penyebab terjadinya perselisihan dan permusuhan. Seorang Muslim yang beribadah dengan penuh kerendahan hati adalah muslim yang memiliki hati yang baik, peduli dan penuh kasih sayang, muslim  yang berupaya menjauhi tindakan-tindakan amoral, tindakan ilegal dan segala bentuk kejahatan.

Masjid adalah sarana berkumpulnya orang-orang untuk menyembah Sang Pencipta dengan penuh kerendahan hati, bukan untuk menyebarkan kerusuhan ataupun perpecahan. Oleh karena itu dalam Al-Quran Surah 5 ayat 3 Allah taala berfirman:

“Dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorongmu melampui batas karena mereka mencegah kamu dari Masjidil Haram. Dan, tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa; dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.

Ayat ini menuntut kewajiban seorang Muslim untuk menunjukan perilaku yang penuh kedamaian, kapanpun dan dimanapun. Disini Allah taala melarang orang-orang Islam awwalin  yang telah mengalami penganiayaan tanpa ampun untuk membalas dengan cara yang tidak adil atau melampaui batas terhadap para penindas mereka tersebut, meskipun mereka berusaha mencegah orang mukmin memasuki Ka’bah, Masjidil Haram, yang merupakan tempat yang paling dihormati dalam Islam. Alhasil, Al-Qur’an telah menetapkan standar toleransi, keadilan dan kesabaran yang belum ada sebelumnya, yang umat Islam harus taati, dimana mereka diharuskan untuk berprilaku secara adil, penuh kasih sayang dan jujur,  bahkan  terhadap mereka yang menghalang-halangi  kebebasan beragama mereka sekalipun.

Al-Quran tidak mengajarkan balas dendam atau pembalasan, tetapi Al-Qur’an mengajarkan umat Islam untuk menampilkan keluhuran budi dan menjunjung tinggi nilai-nilai akhlak, bahkan dalam kondisi yang menantang sekalipun. Oleh karena itu, sekali lagi saya jelaskan bahwa tidak perlu takut pada masjid hakiki, karena masjid bukanlah tempat untuk membalas dendam atau kebencian tetapi masjid adalah rumah perdamaian, kerukunan dan persatuan yang dibangun semata-mata untuk menyembah kepada Allah taala. Selanjutnya, dalam Al-Quran Surah 4 ayat 37 Allah taala berfirman:

Dan, sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya; dan berbuat  baiklah terhadap kedua orang tua, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan handai taulan, dan orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang sombong, membanggakan diri”

Dalam ayat ini, Allah taala telah memerintahkan umat Islam untuk menampilkan nilai-nilai akhlak yang terbaik, kapanpun dan kepada siapapun. Hal ini menuntut umat Islam untuk mengkhidmati umat manusia dengan penuh kasih sayang, tanpa memandang warna kulit, kasta atau keyakinan. Dimulai dari lingkungan yang paling kecil, yaitu kepada orang tua, keluarga dan para sahabat, dan lebih luas lagi kepada fakir miskin, anak-anak yatim dan anggota masyarakat lain yang membutuhkan. Demikian juga, umat Islam diajarkan untuk mencintai, melindungi dan menghormati tetangga mereka. Dan menurut ajaran Islam, ruang lingkup dan jangkauan tetangga itu sangat luas. Tetangga tidak hanya mereka yang tinggal di dekat kita, tetapi juga orang lain, seperti rekan kerja seseorang atau teman dalam perjalanan. Dengan demikian, jangkauan cinta dalam Islam itu tidak terbatas. Jadi bagaimana mungkin seorang Muslim sejati dapat mencelakai atau menyebabkan kerusuhan di dalam masyarakat? Selanjutnya Allah taala telah menyatakan bahwa umat Islam tidak boleh menjadi mangsa arogansi atau kesombongan, melainkan ia harus rendah hati dan lemah lembut.

Serangan bom bunuh diri yang mendatangkan malapetaka di Timur dan Barat, menjadikan terorisme sebagai krisis global.
© Asianet-Pakistan | Shutterstock.com

Ini adalah cara hidup Islam, cara hidup Muslim sejati. Pada intinya, Islam menuntut umatnya untuk menunjukkan cinta dan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Hal ini mengharuskan umat Islam untuk berbagi dalam kebahagiaan orang lain dan turut merasakan duka dan kesedihan orang lain seolah-olah itu adalah duka dan kesedihan mereka sendiri. Singkatnya, seorang Muslim sejati adalah sosok pengasih dan penyayang. Dan masjid hakiki adalah pusat perdamaian dan keamanan bagi seluruh umat manusia.

Berdasarkan ajaran-ajaran kebajikan dan inklusif ini, bagaimana mungkin sebuah masjid dianggap sebagai tempat berbahaya atau sesuatu yang harus ditakuti? Tentu saja, dimanapun dan kapanpun Muslim Ahmadi membangun masjid, ia dibangun dengan tujuan ganda, memenuhi hak-hak Allah dan juga hak-hak manusia.

Masjid kami dibangun dengan tujuan membawa persatuan masyakat dan mengkhidmati tetangga kami dan masyarakat setempat. Masjid kami adalah mercusuar yang memancarkan perdamaian, cinta dan kemanusiaan. Dimanapun kami membangun masjid, atau kami membentuk komunitas Ahmadi, kami senantiasa membantu meringankan penderitaan masyarakat setempat, karena meraih ridha Allah taala berkaitan dengan pemenuhan hak-hak-Nya dan hak-hak manusia. Keyakinan kami mengajarkan bahwa ibadah-ibadah menjadi tidak berharga jika gagal dalam mencintai, mendukung dan menghargai orang-orang di sekitar kami. Dari ajaran ini, kami berusaha memberikan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat miskin dan sangat membutuhkan.

Masjid-masjid di zaman Rasulullah saw dibangun sebagai tempat untuk perdamaian dan ketenangan bagi semua orang.
© Aris Suwanmalee | Shutterstock.com

Misalnya, di Afrika dan bagian dunia lainnya, Jamaah Muslim Ahmadiyah terus menjangkau dan melayani masyarakat lokal dan berupaya memenuhi kebutuhan mereka, tanpa memandang agama, keyakinan dan latar belakang. Kami menyediakan pelayanan kesehatan dan pendidikan dengan membangun rumah sakit dan sekolah di bagian dunia yang sangat kekurangan. Kami juga bekerja menyediakan air minum bersih dan bersifat portable kepada orang-orang. Di sini, di dunia Barat susah memahami nilai setitik air karena keran dan shower mereka terus mengalir. Dengan mengunjungi bagian dunia paling terisolasi di Afrika dan dengan melihat dengan mata kepala sendiri anak-anak yang berjalan beberapa kilometer setiap hari di tengah panas terik demi untuk mengisi wadah air yang diletakkan di kepala mereka, barulah kalian dapat menyadari betapa berharganya kebutuhan air ini. Dan air yang harus mereka dapatkan dengan susah payah ini pun, jauh dari kata bersih, karena biasanya telah terkontaminasi menjadi sumber penyakit.

Dengan demikian, kami berusaha untuk meringankan kesulitan orang-orang seperti itu dengan memasang sumur dan pompa air yang menyediakan air minum yang bersih di depan pintu rumah mereka. Pancaran kebahagiaan yang terlihat di wajah orang yang kekurangan tersebut tak terlukiskan setelah melihat air bersih untuk pertama kalinya. Jadi mereka tidak lagi membawa bejana tanah liat diatas kepala mereka selama berjam-jam, kini anak-anak belajar di sekolah-sekolah yang dibuat oleh Jamaah Muslim Ahmadiyah. Kami sedang berusaha membebaskan mereka dari belenggu kemiskinan dan membantu mereka untuk berdikari sehingga mereka mampu melayani keluarga mereka bahkan juga negara mereka. Dengan melakukan pelayanan seperti itu, kami Muslim Ahmadi bergembira karena mengetahui bahwa kami mampu melayani tetangga kami dan mereka yang membutuhkan, dan melalui cara ini kami dapat mengikuti ajaran agama kami. Kami anggap ini sebagai karunia dimana kami dapat menghapuskan beban berat keputusasaan dari pundak orang-orang yang kurang beruntung tersebut.

Inilah Islam hakiki, selain menyembah Tuhan Yang Maha Kuasa, umat Islam berusaha dengan sungguh-sungguh menyediakan kenyamanan kepada orang lain.

Dalam waktu yang terbatas ini, saya hanya mampu memperkenalkan secara singkat ajaran Islam hakiki kepada kalian semua, tetapi saya yakin setelah mendengar kata-kata saya ini, kalian telah tercerahkan. Jika sebelumnya ada yang menyimpan keberatan tentang masjid ini, saya harap sekarang hal itu sudah hilang. Tentu saja, saya yakin, Insya Allah, kalian akan melihat sendiri bahwa masjid ini bukan hanya pusat ibadah Muslim Ahmadi, tetapi pusat perdamaian bagi seluruh umat manusia. Kalian akan menyaksikan dari dekat bahwa Muslim Ahmadi yang tinggal di daerah ini akan berusaha berbuat baik kepada tetangga mereka dan masyarakat lebih dari sebelumnya.

Humanity First adalah organisasi amal yang dijalankan oleh Jemaat Muslim Ahmadiyah yang berada di semua benua, dengan tujuan untuk membantu orang yang menderita kesengsaraan, terlepas dari ras, kelas sosial atau agama. Pelayanan tanpa pamrih untuk kemanusiaan ini adalah inti pokok ajaran Islam.
User Peaceworld11 | Dirilis di bawah CC BY-SA 4.0 | Wikimedia Commons

Saya berdoa semoga para tetangga kami dan tentunya semua anggota masyarakat dapat melihat dan menyaksikan sendiri standar kebaikan, kepedulian dan perhatian yang tinggi dari Muslim Ahmadi setempat. Dan saya berdoa semoga kita tidak menjadi penyebab kesedihan dan kesusahan bagi siapapun. Saya yakin bahwa Muslim Ahmadi setempat akan bertindak atas hal ini dan akan berusaha melayani umat manusia dengan tidak mementingkan diri sendiri dan dengan hati yang terbuka. Semoga Allah memberikan kekuatan kepada mereka untuk memenuhinya.

Sekali lagi, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semuanya karena telah bergabung dengan kami sore ini. Semoga Allah memberkati kalian semua. Terimakasih banyak.


Sumber        : reviewofreligions.org
Penerjemah: Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor           : Endang Sobari

(Visited 46 times, 1 visits today)