Solusi Islam untuk Perdamaian Dunia

Oleh Hadhrat Mirza Masroor

11 Mei 2013 di Montage Beverly Hills, CA, Amerika Serikat

Para tamu yang terhormat السلام علیکم ورحمۃ اللہ وبرکاتہ

Pertama-tama, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada semua tamu yang telah menerima undangan kami untuk acara ini dan berkat kehadirannya telah memeriahkan acara ini. Saya juga berterimakasih kepada para tamu yang terhormat yang telah berbicara dan memberikan pujian kepada Ahmadiyah, dan saya juga berterimakasih kepada semuanya yang dengan itikad baik, telah memberikan hadiah-hadiah, khususnya simbol Kunci Kota  ini (key to the city/kunci kota = kebebasan akses di lingkungan kota). Terimakasih untuk semua ini. Pendekatan ramah yang Anda lakukan terhadap organisasi keagamaan Islam sangat jelas tergambar dengan kehadiran Anda dan hal ini menunjukkan bahwa Anda memiliki sikap yang sangat toleran, serta memiliki keinginan yang kuat untuk belajar tentang Islam.

Dengan beberapa kata ini, saya ingin membahas isu yang sangat penting yang sangat mendesak untuk dibicarakan di dunia saat ini. Apa yang ingin saya bahas adalah sesuatu yang telah menyebabkan Islamophobia di dunia Barat dan non-Muslim. Tidak dapat dipungkiri bahwa ketakutan dan kecemasan tersebut dipicu oleh tindakan-tindakan mereka yang menyebut dirinya Muslim atau kelompok Muslim.

Namun tidak dapat diragukan juga bahwa tindakan terorisme atau ekstrimisme yang mereka perbuat sama sekali tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam yang hakiki. Makna hakiki dari ‘Islam’ adalah perdamaian, keamanan dan pemberian jaminan perlindungan dari segala macam marabahaya dan kejahatan. Al-Qur’an juga menyatakan bahwa ini merupakan ajaran yang disampaikan oleh seluruh Utusan Allah taala.

Islam menghendaki umat Islam untuk mematuhi ajaran-ajarannya dan yang paling mendasar diantara ajaran tersebut adalah mereka tidak hanya harus memenuhi hak-hak Allah, tetapi sama pentingnya dengan itu mereka harus memenuhi hak-hak ciptaan-Nya. Al-Qur’an telah memancarkan sinar terang di atas keindahan ajaran para nabi dengan memastikan bahwa mereka semua (para Nabi) mengajak manusia untuk memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak sesama.

Bagaimana mungkin kemudian, ketika disatu sisi Allah telah memuji kualitas semua agama yang mengajak seluruh umat manusia untuk memenuhi hak-hak Allah dan manusia, tetapi disisi lain Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw, – yang kepadanya Kitab Agung telah diturunkan – untuk tidak membangun perdamaian dan keamanan di dunia? Bagaimana mungkin mereka (Rasulullah & umatnya) diperintahkan untuk menimbulkan kehancuran dan menghancurkan perdamaian dan keamanan dunia? Tentunya tidak akan ada orang bijak yang bisa menerima hal ini.

Keadilan dan kejujuran sejati menghendaki bahwa seseorang seharusnya tidak  menilai Islam dengan penuh prasangka atau dengan asumsi-asumsi yang salah berdasarkan kabar angin, tetapi ia harus mempelajari agama ini dan mencoba mengembangkan pemahaman terhadap ajaran-ajarannya sebelum mengkritik agama tersebut atau pun pendirinya. Sebuah keputusan tentang masalah apapun hanya dapat dilakukan setelah seseorang mempelajari ajaran-ajarannya secara mendalam dan berupaya keras untuk mempelajari hakikatnya.

Kebenaran atau realitas agama apapun hanya dapat dipelajari dari mereka yang menjalankannya atau dari mereka yang berusaha memahami ajarannya yang otentik. Hari ini, Jemaat Ahmadiyah-lah yang menyatakan mengikuti ajaran Islam yang orisinil dan hakiki serta terus berupaya menyebarkannya.

Setelah mendengar hal ini, Anda mungkin bertanya bagaimana Ahmadiyah bisa mengklaim bahwa merekalah yang memahami ajaran yang hakiki, padahal sebagian besar umat Muslim dan ulama Islam justru tidak menganggap Ahmadiyah sebagai Islam.

Untuk menjawab pertanyaan ini, pertama-tama, seperti yang telah saya sampaikan, Al-Qur’an telah jelas menyatakan bahwa Islam adalah agama yang damai dan tidak ada hubungannya dengan terorisme atau ekstrimisme. Dan kedua, dalam nubuatan agung Rasulullah saw, beliau bersabda bahwa seperti yang terjadi pada semua agama sebelumnya, akan datang suatu masa dimana keadaan Islam akan hancur dan rusak.

Ulama-ulama Islam akan menyebarkan ajaran-ajaran dan ideologi palsu, dan akan terjadi perpecahan serta konflik besar dalam tubuh umat Islam. Walaupun Al-Qur’an tetap terjaga keasliannya, akan terdapat penafsiran-penafsiran dan penjelasan yang keliru yang menjadikan umat Islam semakin jauh dari ajaran-ajarannya yang hakiki.

Menurut nubuatan tersebut, ketika keadaan yang menyedihkan ini terjadi, Allah taala akan mengirim Isa Almasih yang dijanjikan dan Imam Mahdi untuk menegakkan kembali Islam. Ia akan menjelaskan makna Al-Qur’an yang hakiki dan akan menerangkan kepada dunia tentang ajaran Islam yang benar yang diamalkan oleh Nabi Muhammad saw serta para khalifah beliau (Khalifah Ar-Rasyidin) 1400 tahun yang lalu.

Isa Almasih yang dijanjikan akan membimbing dunia menuju persatuan yang berlandaskan cinta kasih, perdamaian, kerukunan dan akan menumbuhkan semangat saling pengertian dan rekonsiliasi. Isa Almasih yang dijanjikan akan melakukan semua ini dengan mengikuti teladan nyata dari Rasulullah saw dan ajaran Al-Qur’an. Selain itu Isa Almasih yang dijanjikan akan mengakhiri semua bentuk peperangan atas nama agama.

Kami, Muslim Ahmadi, percaya bahwa Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, adalah sosok yang diutus sebagai Isa yang dijanjikan dan Imam Mahdi menurut nubuatan Nabi Muhammad saw. Kami percaya beliau datang sebagai mercusuar cahaya kebenaran untuk menyampaikan ajaran Islam yang hakiki dan tersebar ke seluruh dunia.

Setelah kata-kata pembuka ini, sekarang saya akan secara singkat menyampaikan beberapa contoh ciri khas Islam yang indah dan damai.

Sebelum saya memberikan contoh spesifik, saya harus menyebutkan bahwa orang yang mengikuti ajaran Al-Qur’an dengan pemahaman yang paling tinggi adalah Nabi Muhammad saw. Itulah sebabnya salah seorang istri beliau pernah mengatakan bahwa akhlak dan amal beliau adalah gambaran nyata atau refleksi sempurna dari ajaran Al-Qur’an.

Alhasil, jika seseorang mempelajari Al-Qur’an maka kehidupan dan akhlak Rasulullah saw akan nampak nyata dan jelas secara alami. Dalam waktu yang terbatas ini, tidak mungkin bagi saya untuk membahas semua aspek Al-Qur’an, bahkan tidak akan cukup waktu bagi saya untuk membahas hanya satu aspek dari ajaran Al-Qur’an. Meskipun demikian saya akan jelaskan secara singkat salah satu bagian dari ajaran Islam, yang sayangnya banyak disalahpahami di dunia modern ini sehingga menyebabkan timbulnya ketakutan di kalangan non-muslim.

Saya mengacu pada ajaran Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw terkait membangun perdamaian di dunia.

Al-Qur’an diturunkan Allah taala kepada Nabi Muhammad saw dan ayat pertama dari surah pertama Al-Qur’an telah memberikan pesan perdamaian. Ayat pertama itu berbunyi:

الحَمدُ لِلَّهِ رَبِّ العالَمينَ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Ayat ini berarti Tuhan yang disembah orang Islam, adalah Tuhan yang meliputi dan memelihara segala sesuatu dan semua manusia tanpa membeda-bedakan sedikitpun, Dia memenuhi semua kebutuhan makhluk-Nya. Dengan kata lain, Dia adalah Tuhannya orang Kristen, Tuhannya orang Yahudi, Tuhan bagi orang Hindu dan Dia bahkan memenuhi dan memberikan semua kebutuhan kepada mereka yang tidak percaya akan keberadaan-Nya.

Setiap kali saya merenungkan poin ini, saya menyadari bahwa saya percaya pada satu Tuhan yang merupakan Tuhan semua bangsa, semua ras dan semua agama, sehingga mustahil bagi saya dapat menyimpan kebencian apapun dalam hati saya terhadap suatu bangsa, ras dan agama tertentu. Dalam konteks ini saya ingin menyampaikan rasa simpati dan doa saya untuk para korban serangan Boston baru-baru ini. Kami sepenuhnya mengecam serangan ini.

Seorang Muslim diperintahkan Allah taala untuk shalat lima kali sehari dan membaca surah pembuka Al-Qur’an tersebut di setiap shalat mereka. Dan, setidaknya, seorang Muslim harus mengulangi doa bahwa Tuhannya adalah ‘Tuhan semesta alam’ tidak kurang dari tiga puluh dua kali setiap hari.

Seluruh dunia adalah ciptaan Allah dan Dia sangat mengasihi ciptaan-Nya. Jadi alasan kami memuji ‘Tuhan semesta Alam’ dan terus mengulanginya berkali-kali setiap hari adalah agar kami menyadari dan menerima keindahan dari semua orang dan semua bangsa karena mereka adalah bagian dari ciptaan Allah. Ketika keindahan dan kebaikan sesuatu bisa diterima, maka mustahil akan timbul kebencian atau permusuhan, melainkan cinta dan kasih sayang yang akan muncul.

Jika hal ini dipahami, maka tidak akan ada keraguan dalam hati seorang Muslim sejati bahwa ia tidak akan menimbulkan suatu permusuhan, niat jahat atau kebencian terhadap ciptaan Tuhan.

Inilah sebabnya mengapa Rasulullah saw, yang memiliki wawasan dan pemahaman paling tinggi terhadap Firman Tuhan, biasa melafalkan kalimat “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” tidak hanya di dalam shalat wajib saja, melainkan juga dalam shalat-shalat nafal lain yang beliau biasa lakukan yang tak terhitung jumlahnya. Melebihi semua orang, hati beliau saw senantiasa dipenuhi oleh rasa cinta kepada semua manusia dan sepenuhnya bebas dari segala bentuk kebencian dan dendam.

Rasulullah saw memiliki kecintaan kepada semua ciptaan Allah, terutama bagi umat manusia, karena manusia merupakan ciptaan terbaik Allah. Manusia telah diberikan hikmah untuk membedakan mana yang benar dan salah, oleh karenanya ada ganjaran atas kebaikan dan hukuman bagi kesalahan. Karena kecintaan tak terbatas kepada semua orang yang ditanamkan Tuhan di hati Rasulullahsaw, beliau sering merasakan penderitaan dan kesedihan atas keadaan umat manusia. Beliau terus menerus diliputi oleh kekhawatiran akan azab dan kemurkaan Tuhannya terhadap kaumnya karena kesalahan sebagian besar orang.

Nabi Muhammad saw terbiasa menghabiskan malam demi malam, memohon dan berdoa kepada Tuhan supaya mereka yang melupakan Allah dibimbing ke jalan yang benar. Beliau terbiasa merasakan beban ini dengan intensitas sedemikian rupa sehingga Allah taala telah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Rasulullah saw bisa saja membinasakan diri beliau sendiri karena kesedihan yang mendalam akan keadaan umat manusia. Rasulullah saw bagaikan terikat oleh kegelisahan dan keinginan hatinya untuk menyelamatkan orang-orang dunia dari kehancuran.

Sehingga menjadi sangat tidak adil bila banyak orang saat ini yang berupaya menodai akhlak beliau yang agung dengan mengatakan bahwa, naudzubillah min dzalik beliau saw membawa ajaran kekejaman, penindasan, dan ketidakadilan.

Saat ini, ketika kami, Jemaat Ahmadiyah menggaungkan slogan “Love For All Hatred For None” (Cinta untuk Semua, Kebencian tidak untuk siapapun) sebagai sarana untuk membangun perdamaian dunia, kami melakukannya sebagai perwujudan secara langsung ajaran-ajaran Al-Qur’an dan teladan mulia Rasulullah saw.

Rasulullah saw begitu disibukkan oleh hasratnya untuk mengkhidmati kemanusiaan dan untuk memenuhi hak-hak manusia, sehingga sepanjang hidupnya beliau selalu siap untuk misi tersebut. Bahkan setelah menjadi Nabi, yang merupakan tanggung jawab dan tugas yang sangat berat, beliau mengatakan bahwa siapa saja, kapan saja, baik muslim maupun non muslim, mengajaknya untuk terlibat dalam misi kemanusiaan, maka beliau pasti akan bergabung dengan mereka dalam upaya mengkhidmati umat manusia.

Teladan beliau adalah, tanpa memandang latar belakang agama, jika seseorang atau masyarakat yang kurang mampu membutuhkan bantuan, beliau pasti akan  membantu dan melayani orang tersebut. Meski menyandang nama besar sebagai Pendiri Islam dan Rasul Allah, beliau menganggap penting melakukan pekerjaan mulia ini terhadap non-Muslim.

Pertanyaannya yang mungkin timbul dalam benak sebagian orang adalah, jika Nabi Muhammad saw diliputi oleh kecintaan pada kemanusiaan, maka mengapa nama beliau dikaitkan dengan peperangan? Mengapa beliau turut dalam beberapa peperangan dan mengapa beliau mengirimkan pasukan ke medan perang?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menilai, apakah sikap pasisifme total, yang melarang segala bentuk peperangan, merupakan doktrin yang benar? Atau apakah peperangan diizinkan dalam keadaan ekstrim? Dan jika dalam kondisi tertentu hal itu diperbolehkan, lalu kondisi seperti apa yang dibutuhkan dan sejauh mana perang diizinkan? Dan bagaimana Islam mengajarkan tentang hal ini?

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya, ketika seorang Muslim mengucapkan segala puji bagi ‘Tuhan Semesta Alam‘, keindahan ciptaan Allah nampak di hadapannya dan ia terdorong untuk memuji dan terpikat kepadanya. Ketika ia mengakui keindahannya maka seseorang tidak akan menyimpan niat jahat atau kebencian terhadap ciptaan Allah.

Namun akan selalu ada orang-orang yang tidak mengamalkan ajaran ini dan bertekad menyebarkan kekacauan di masyarakat dan dunia. Islam telah memberikan bimbingan yang sangat jelas dan rinci tentang cara untuk memperbaiki orang-orang tersebut sehingga kedamaian dan harmonisasi global dapat terbangun. Allah taala berfirman dalam Al-Qur’an bahwa sekiranya Allah taala tidak menyingkirkan kejahatan sebagian manusia oleh sebagian lainnya, niscaya bumi akan penuh dengan kerusuhan, tetapi Allah taala adalah Tuhan Yang Maha Penyayang bagi semua manusia. (Q.S. 2: 252)

Jika kita merenungkan makna ayat ini, kita dapat melihat bahwa rasa damai itu adalah kondisi yang paling baik sehingga Allah taala secara alamiah telah menanamkan daya tarik rasa damai di dalam pikiran manusia. Namun kadang-kadang manusia melawan kecenderungan dan sifat alami tersebut. Keserakahannya, iri hati, kepentingan pribadi dan kebencian telah merasukinya dan mendorongnya sedemikian rupa sehingga dia tidak lagi memiliki kepedulian terhadap hak orang lain.

Akibatnya, kekacauan timbul di dalam masyarakat, di satu bangsa dan seluruh dunia. Orang-orang seperti itu semakin menjauh dari perdamaian. Tujuan mereka adalah menekan dan melanggar kebebasan yang dijunjung tinggi oleh masyarakat. Mereka menyerang hak dasar manusia seperti kebebasan hati nurani dan kebebasan berpendapat dengan jalan pemaksaan dan kekerasan. Dan tentunya, orang-orang tersebut juga menyerang kebebasan beragama dan berusaha untuk menekannya.

Dalam keadaan memaksa seperti inilah, Allah taala memberikan izin kepada umat Islam awal untuk merespon kekuatan dengan kekuatan. Izin ini diberikan hanya sebagai sarana untuk menghentikan kekacauan, untuk menghentikan kekejaman dan membangun perdamaian dan harmoni.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an bahwa Dia melimpahkan rahmat dan berkat-Nya kepada seluruh alam. Dia tidak berpihak pada satu bangsa atau daerah. Dia tidak menginginkan perdamaian hanya untuk beberapa daerah tertentu, melainkan Dia ingin melihat seluruh dunia penuh dengan kedamaian, kerukunan dan kasih sayang. Di hadapan Allah semua ciptaannya adalah sama dan setara.

Jika Tuhan menjadikan seorang menjadi kaya, maka orang itu tidak memiliki hak untuk merampas hak-hak orang miskin. Demikian pula jika ada bangsa atau negara yang kuat dan kaya maka mereka tidak memiliki berhak untuk merampas hak-hak negara lemah dan miskin. Allah taala dengan jelas mengatakan bahwa kekejaman seperti itu hanya akan menimbulkan perpecahan dan konflik.

Di mata Allah taala kedamaian merupakan tujuan yang utama dan yang terpenting, sehingga untuk membangunnya, jika anda terkadang harus mengorbankan idealisme yang lebih kecil maka tidak ada salahnya, karena hal itu untuk kebaikan manusia yang lebih luas.

Ketika izin perang defensif (mempertahankan diri) pertama kali diberikan dalam Islam, izin itu diberikan dalam kondisi saat umat Islam benar-benar menginginkan perdamaian, orang-orang kafir justru ingin menghancurkan perdamaian tersebut. Jika izin untuk melawan tidak diberikan kepada umat Islam pada saat itu maka semua agama akan berada dalam bahaya besar. Allah taala berfirman dalam Al-Qur’an:

Telah diizinkan bagi mereka yang telah diperangi, disebabkan mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah berkuasa menolong mereka.

Orang-orang yang telah diusir dari rumah-rumah mereka tanpa hak, hanya karena mereka berkata, “Tuhan kami ialah Allah.” Dan sekiranya tidak ada tangkisan Allah terhadap sebagian manusia oleh sebagian yang lain, maka akan hancurlah biara-biara serta gereja-gereja Nasrani dan rumah-rumah ibadah Yahudi serta masjid-masjid yang banyak disebut nama Allah di dalamnya. Dan pasti Allah akan menolong siapa yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa, Maha Perkasa. (Q.S. 22:40-41)

Dengan demikian sangat jelas bahwa Islam telah melakukan segala upaya untuk membangun perdamaian dan untuk melindungi semua agama lainnya. Bahkan saat perang defensif dibolehkan bagi umat Islam, Rasulullah saw memberikan aturan-aturan perang yang sangat ketat bagi pasukan Islam yang harus dipatuhi.

Rasulullah saw mengajarkan bahwa selama peperangan, hanya orang-orang yang terlibat langsung dalam perang saja yang harus diperangi. Beliau memberikan instruksi ketat bahwa orang yang tidak bersalah tidak boleh menjadi sasaran peperangan. Tidak boleh ada wanita, anak-anak atau orang tua yang ikut diserang. Beliau mengajarkan bahwa jangan menyerang para pemimpin agama atau imam di tempat ibadahnya. Rasulullah saw lebih lanjut mengajarkan tidak boleh ada orang yang dipaksa dan ditekan untuk masuk Islam.

Rasulullah saw mengajarkan bahwa ketika umat Islam terpaksa untuk berperang untuk menegakkan kedamaian, mereka tidak boleh menyebabkan ketakutan atau teror di tengah-tengah masyarakat, atau memperlakukan orang dengan cara yang kejam dan bengis. Beliau mengajarkan bahwa tawanan perang harus diperlakukan dengan perhatian dan kepedulian yang lebih besar melebihi perhatian terhadap dirinya sendiri. Beliau mengajarkan bahwa bangunan-bangunan tidak boleh menjadi sasaran penghancuran, bahkan pohon-pohon tidak boleh dirobohkan.

Jadi dalam kondisi tertentu peperangan diizinkan, Rasulullah saw memberikan pedoman dan aturan-aturan yang tak terhitung jumlahnya yang sangat penting untuk diikuti. Saya hanya menyebutkan sedikit saja.

Rasulullah saw bersabda dengan sangat jelas bahwa siapa saja yang bertindak bertentangan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan tersebut, maka ia berperang bukan karena perintah Allah untuk menegakkan perdamaian, melainkan ia berperang hanya untuk kepentingan dan keuntungan pribadi.

Mereka yang mengkritik Rasulullah saw di dunia saat ini harus merenungkan apakah aturan-aturan ini diikuti dalam perang-perang yang terjadi di era sekarang? Bukankah saat ini peperangan menggunakan senjata-senjata yang mengerikan sehingga menyebabkan orang-orang yang tidak bersalah ikut terbunuh tanpa pandang bulu?

Sebaliknya, Rasulullah saw melarang segala bentuk kerusakan-kerusakan yang tidak diinginkan dalam peperangan, sampai-sampai salah seorang sahabat secara tidak sengaja membunuh seorang anak dan hal itu menimbulkan ketidaksenangan dari Rasulullah saw dan beliau saw menegur keras sahabat tersebut atas tindakannya.

Kejadian lain menunjukkan betapa besarnya penghargaan Rasulullah saw terhadap seluruh umat manusia.

Suatu ketika lewatlah satu prosesi pemakaman dan sebagai tanda hormat beliau berdiri (untuk memberikan penghormatan). Melihat hal itu seorang sahabat mengatakan:

“Ini adalah upacara pemakaman orang Yahudi”

mendengar hal ini, Rasulullah saw bersabda:

“Apakah dia bukan manusia? menghormati setiap manusia adalah kewajiban.”

Ini adalah sifat-sifat dan kualitas yang dapat membangun sikap saling menghormati dalam masyarakat dan membantu membangun perdamaian.

Saat ini dunia semakin gencar dalam mengkritik Islam dan Rasulullah, meskipun pada kenyataannya ajaran Islam dan teladan Nabi saw penuh dengan kecintaan terhadap kemanusiaan dan keinginan untuk menciptakan perdamaian di dunia. Sayangnya dunia saat ini tidak melihat atau mengerti apa yang sebenarnya terjadi saat ini.

Seperti yang telah saya sampaikan, kejahatan yang dilakukan sekelompok ekstremis yang mengaku Islam tidak ada hubungannya dengan ajaran Islam  yang hakiki. Jika ada penindasan terjadi di negara-negara Islam atau hak-hak publik yang terampas maka hal itu juga sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Rasulullah saw mengatakan bahwa kekejaman seperti itu sebenarnya hanya untuk kepentingan pribadi dan tentu saja bukan karena Allah.

Oleh karena itu, kebutuhan mendesak saat ini bukanlah berpandangan buruk dan menyimpan kesalahpahaman tentang Islam, akan tetapi semua orang yang menginginkan perdamaian harus bersatu dan mendiskusikan bagaimana menghentikan unsur-unsur kekejaman dan ketidakadilan.

Memfitnah atau menyerang Islam secara tidak adil bukanlah cara yang benar. Disamping negara-negara atau kelompok Islam tertentu, terdapat juga non-Muslim yang melakukan tindakan di mana orang yang tidak bersalah, wanita serta anak-anak telah kehilangan nyawa mereka atas dalih ‘menciptakan perdamaian’.

Dunia tengah bergerak menuju bayangan gelap peperangan yang akan melibatkan sebagian besar bumi ini. Jika perang ini pecah maka para wanita, anak-anak dan orang lanjut usia tak berdosa yang tak terhitung jumlahnya, semua akan binasa. Kerusakan yang terjadi akan lebih besar daripada yang kita saksikan dalam dua Perang Dunia sebelumnya, dan saya mengatakan ini karena menyadari sepenuhnya bahwa selama Perang Dunia Kedua, puluhan juta orang telah kehilangan nyawa mereka. Populasi dunia saat ini jauh lebih besar dan juga telah terjadi peningkatan senjata pemusnah massal maupun negara-negara haus perang. Dalam situasi seperti ini kehancuran yang akan terjadi pun akan berlipat ganda.

Mengingat semua ini, sangat penting bagi dunia internasional, khususnya negara-negara besar untuk memikirkan upaya-upaya yang diperlukan untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran yang mengerikan.

Ketakutan terhadap Islam atau upaya untuk mencemarkan nama baik Islam tidak akan menghasilkan apa-apa dan tidak akan membawa perdamaian dan persatuan. Sebaliknya, kunci perdamaian adalah dengan menghentikan kekejaman dan penindasan dimanapun itu terjadi dengan penuh keadilan dan kesetaraan. Hanya jika prinsip ini diikuti maka perdamaian dunia akan terwujud. Dan ini hanya akan terjadi ketika orang-orang di seluruh dunia mengenali Pencipta mereka.

Merupakan harapan dan doa saya agar seluruh dunia segera memahami kebutuhan ini sebelum semuanya terlambat.

Sebagai penutup, saya ingin kembali mengucapkan terimakasih kepada semua tamu yang telah meluangkan waktu dan tenaganya untuk datang dan menghadiri acara ini. Semoga Allah memberkati Anda semua. Terima kasih banyak.


Sumber        : Alislam.org
Penerjemah : Khaeruddin Ahmad Jusmansyah
Editor           : Yadli Rozali

(Visited 89 times, 1 visits today)