Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat

Pembukaan Masjid Mahmud, Malmo, Swedia

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad
13 Mei 2016 di Masjid Mahmud di Malmo, Swedia

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آَمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْم الْآَخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآَتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ (التوبة :18)

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan tetap mendirikan sholat dan membayar zakat serta ia tidak takut kecuali kepada Allah; maka mudah-mudahan mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (Surah at-Taubah, 9:18)

الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ[(الحج: 42)

“Orang-orang yang, jika kami teguhkan mereka di bumi, mereka mendirikan sholat dan membayar zakat dan menyuruh berbuat kebaikan dan melarang dari keburukan. Dan kepada Allah kembali segala urusan (Surah Al-Hajj, 22:42)

Alhamdulillah, Allah Ta’ala mengizinkan dan memungkinkan Jemaat kita, Islam Ahmadiyah di Swedia untuk membangun masjid kedua mereka yang dinamakan Masjid Mahmud. Anggota jemaat baik yang pria maupun yang wanita menunjukkan ketulusan, keikhlasan dan kesungguhan yang luar biasa dalam pembangunan masjid ini. Mengingat Jemaat kita Swedia ini jumlahnya relatif sedikit, proyek pembangunan masjid ini terbilang proyek yang luar biasa besar sekali bagi mereka. Banyak dari anggota

Jemaat Swedia yang tidak memiliki pekerjaan, ada juga para orang tua, anak-anak dan Ibu rumah tangga. Sementara anggota Jemaat yang memiliki penghasilan menunjukkan saling berlomba dalam pengorbanan yang sangat besar, para wanita dan anak-anak juga tidak ketinggalan dalam memberikan contoh luhur untuk mendahulukan keimanan di atas hasrat dan keinginan dalam hal-hal duniawi guna pembangunan rumah Tuhan ini.

Siapakah orang yang tidak memiliki keinginan dan kebutuhan mereka masing-masing? Faktanya, terutama dalam zaman sekarang ini ketika ha-hal materi dan bersifat keduniawian yanga tidak terhitung jumlahnya menarik perhatian seseorang, maka melihat semangat pengorbanan harta para Ahmadi tentu ia akan heran dan tercengang. Bukan hanya pembangunan satu buah masjid, melainkan banyak program pembangunan masjid-masjid, rumah-rumah misi dan pusat shalat/mushalla, juga pembelian dan pembangunan pusat-pusat Tabligh. Bersamaan dengan itu, ada juga infaq-infaq (pengeluaran-pengeluaran) lain yang dilaksanakan.

Sementara di waktu yang sama, pembayaran candah-candah (iuran-iuran) juga berjalan selaras. Hal ini dilakukan di seluruh dunia. Para Ahmadi yang berkecukupan yang tinggal di negara-negara maju tidak hanya mencukupi kebutuhan mereka sendiri dalam program pembangunan masjid di Negara mereka sendiri, bahkan, mempersembahkan pengorbanan keuangan guna membantu dan menyokong kebutuhan para Ahmadi yang kurang mampu di Negara-negara yang lebih miskin. Yaitu mereka sangat membantu dengan memenuhi kekurangan dalam memenuhi keperluan Jemaat di Negara-negara berkembang sebagai akibat kondisi kehidupan ekonomi yang berkekurangan di Negara-negara tersebut.

Pendek kata, dengan karunia Allah Ta’ala, banyak orang dalam Jemaat yang cenderung bersemangat dan ingin sekali berkorban harta. Semangat untuk membelanjakan harta di jalan Allah dan Jemaat ini, pada zaman ini telah ditanamkan kedalam diri kita oleh sang pengabdi sejati dari Rasulullah  saw (yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as). Sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud  as dulu terkagum-kagum oleh pengorbanan harta oleh para Jemaat, pengorbanan ini terus membuat kagum orang-orang sampai hari ini. Semua ini adalah karena karunia Allah semata dan sebagai bentuk terpenuhinya janji yang dibuat-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud  as bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan beliau.

Sebagaimana telah saya sampaikan, pembangunan masjid ini, ditambah dua ruangan tempat tinggal diatasnya, kantor, perpustakaan dan sebagainya menelan biaya sejumlah 37,5 juta krona, atau 3,2 juta poundsterling (sekitar Rp 61,2 milyar). Terdapat juga tempat tinggal muballigh dan dapur yang dalam proses penyelesaian. Manajemen pengurus berpikir bahwa pembangunannya akan menelan biaya tambahan sebesar 8 – 10 juta krona (sekitar Rp 13 – 16 milyar).

Seperti biasa dalam sebagian besar proyek Jemaat kita yang lain, banyak pekerjaan pembangunan ini dilakukan dengan Wikari Amal yang menghemat banyak biaya. Para sukarelawan (voluntir) bekerja tanpa lelah dan sebagian dari mereka menginap di sini, hanya pulang ke rumah mereka sebentar sehingga pekerjaan pembangunan tersebut dapat diselesaikan dengan segera dan pembukaannya dapat dilakukan pada waktu yang ditentukan. Namun memang beberapa bagian masih belum selesai.

Sementara itu, para pekerja dan kontraktor bangunan memulai pekerjaan dan pergi/selesai sesuka mereka. Manajemen seharusnya juga memperhitungkan hal ini sebelum mengundang saya (Hadhrat Khalifatul Masih). Walau bagaimana pun, semoga Allah memberikan ganjaran kepada mereka yang telah berkorban harta atau mengambil bagian dalam pembangunan masjid ini! Masjid ini adalah masjid yang indah. Orang-orang lokal Swedia juga menghargai estetika dan seni dari masjid ini. Dua hari yang lalu perwakilan dari surat kabar dan radio mengunjungi masjid ini dan berkomentar bahwa masjid ini adalah masjid yang indah dan meningkatkan keindahan area di sekitarnya.

Berikut ini saya sampaikan beberapa contoh dari semangat pengorbanan yang telah ditunjukkan oleh para orang dewasa maupun anak-anak di sana:

Seorang anak perempuan berusia 11 tahun memberikan beberapa ratus krona (sekitar beberapa ratus ribu rupiah) dan mengatakan bahwa ia telah menabung dari uang sakunya selama beberapa lama. Seorang anak perempuan lain yang berusia 10-12 tahun memberikan 500 krona (sekitar Rp 800 ribu). Ia mengatakan bahwa ia memiliki 2 burung nuri piaraan yang dijualnya untuk mendapatkan uang untuk diberikan bagi pembangunan masjid ini. Anak-anak sangat ingin memiliki binatang piaraan di negara-negara ini, namun anak perempuan Ahmadi tersebut tidak memilih binatang peliharaannya, namun lebih memilih Rumah Tuhan (masjid).

Sesungguhnya memang, gairah, semangat dan pilihan yang benar adalah mencari Ridho Allah Ta’ala yang sudah dipahami oleh anak-anak Ahmadi. Mereka memiliki wawasan dan pengertian yang mendalam sejak awal bahwa Rasulullah  saw bersabda:

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ِللهِ تَعَالَى – وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ

Man bana masjidan liLlaahi banaLlahu lahu baitam fin jannah.’

Seseorang yang ikut serta dalam pembangunan masjid semata-mata karena Allah, maka Dia akan membuatkan rumah baginya di surga.”[1]

Rasulullah  saw juga bersabda bahwa masjid adalah bagian terbaik dari sebuah kota. [2] Aisyah radhiyallahu ‘anhaa menerangkan, Rasulullah  saw bersabda, bahkan memerintahkan untuk membangun masjid di kabilah-kabilah (lingkungan sesuku bangsa) atau di kawasan-kawasan atau di rumah-rumah (pemukiman).[3] Inilah sebabnya kita berusaha untuk membangun masjid dimana-mana.

Selain itu pembangunan masjid menjadi perkara penting bagi kita sebagaimana terdapat sebuah riwayat.

Para jurnalis sering bertanya tentang maksud dan tujuan dari membangun masjid-masjid di area mereka dan jawaban yang diberikan kepada mereka adalah kita membangun masjid-masjid bagi para Ahmadi untuk berkumpul dan menyembah Tuhan.

Seorang wanita muda melakukan I’tikaf dan memberikan perhiasannya kepada masjid. Perhiasan tersebut memang tidaklah banyak, namun hanya itulah yang dimiliki olehnya dan ia meminta agar tidak memberitahu orang tuanya karena perhiasan tersebut adalah pemberian dari mereka. Seorang wanita muda Wakaf e Nau yang lain menulis surat kepada ayahnya dan menaruh surat tersebut beserta dengan perhiasan dan uang sakunya yang ditabung di bawah bantal ayahnya. Ia menulis dalam surat tersebut: “Aku hanya punya ini, dan tidak ada lagi yang bisa kuberikan di jalan Allah.”

Wanita-wanita muda yang baru menikah yang masih dalam fase menikmati memakai perhiasan mereka juga memberikan semua perhiasan mereka untuk pembangunan masjid. Para wanita yang suaminya telah membuat perjanjian dan memberikan kontribusi pengorbanan mereka yang baik juga memberikan perhiasan dan tabungan mereka. Dua wanita tidak memiliki apa apa untuk diberikan namun mereka memiliki property di Pakistan yang mereka terima dari Ayah mereka. Mereka menjualnya dan memberikan hasilnya untuk pembangunan masjid.

Seorang anggota Khuddamul Ahmadiyah berjanji dalam jumlah yang besar, sebagian atas namanya, dan sebagian atas nama istrinya. Namun sayangnya suami istri tersebut berpisah (bercerai). Ketika dihubungi untuk pembayaran atas perjanjian tersebut, sang Ayah dari Khudam tersebut mengatakan bahwa mereka telah berpisah dan sang (mantan) istri akan membayar bagiannya sendiri. Namun sang Khudam mengatakan bahwa karena ia yang telah membuat perjanjian, maka ia yang akan memenuhi perjanjian tersebut. Ada orang-orang yang bahkan tidak memberi haknya kepada para wanita; namun ada juga seperti yang telah disebutkan, orang orang yang meskipun telah berpisah, memenuhi janji mereka. Sesungguhnya, orang orang seperti inilah yang layak disebut sebagai orang-orang beriman sejati.

Seorang Khudam hanya bekerja paruh waktu namun meningkatkan perjanjiannya dari 100,000 krona (sekitar Rp 161 juta) ke 1 juta krona (sekitar Rp 1 Milyar) ketika sebuah seruan disampaikan untuk meningkatkan perjanjian. Ia membayar 50,000 krona (sekitar Rp 80,8 juta) pada minggu berikutnya. Ketika ditanya bagaimana bisa demikian, ia menjelaskan bahwa ia telah menjual mobilnya dan memberikan hasilnya ditambah dengan tabungannya. Tidak hanya ia dikaruniai dengan pekerjaan tetap, namun ia juga dapat membeli mobil yang lebih baik. Semangat pengorbanan inilah yang dapat dilihat dari para Ahmadi di berbagai belahan dunia!

Saya juga hendak menyampaikan mengenai luas masjid, pembangunannya dan kapasitasnya. Proyek pembangunan masjid ini dimulai pertama kali pada tahun 1999 ketika Tuan Ahsanullah membeli beberapa bidang tanah seluas 5.000 m2 dan mempersembahkannya kepada Jemaat. Tanah tersebut terletak dekat jalan raya dan masjid yang cantik tersebut dapat terlihat dari jauh. Tepi jalan utama yang menghubungkan Norwegia dan Swedia dengan Eropa semua, begitu pula seluruh kota besar di Swedia dan Norwegia dicapai dengan melewati jalan itu. Semoga Allah membuat setiap Ahmadi dapat memenuhi tugas-tugas mereka setelah pembangunan masjid ini dan semoga masjid ini melalui upaya-upaya tabligh akan menjadi sumber dari penyebaran Ketauhidan dan keindahan sejati dari masjid tersebut yaitu keindahan ajaran Islam, bersinar dengan terang benderang.

Kompleks masjid ini luasnya adalah 2.353 meter persegi dan memiliki 5 gedung yang besar. Ada ruang masjid seluas 1494 meter persegi atau hampir 1500 meter persegi dan juga sebuah aula olahraga seluas 700 meter persegi. Masjidnya memiliki dua aula untuk sholat, yang pertama untuk laki-laki dan yang kedua untuk para wanita. Beberapa orang di sini mengajukan pertanyaan bahwa dalam Islam para wanita dipisahkan dan tidak ditempatkan di dalam ruangan utama yang sama di Masjid. Maka, [masjid] ini adalah jawaban bagi mereka. Aula untuk kaum wanita dan aulia untuk kaum pria keduanya ada di dalam gedung yang sama dan berukuran persis sama. Kedua aula ini [aula/ruang utama untuk kaum laki-laki dan kaum wanita sama-sama] dapat menampung masing-masing 500 Jamaah sedangkan aula olahraganya dapat menampung 700 Jemaat. Sehingga secara total, 1700 Jemaat dapat melakukan sholat dalam waktu yang sama.

Dengan banyaknya tamu yang datang dari luar negeri pada hari ini, masjid ini lumayan penuh. Namun untuk penggunaan sehari-hari masjid ini sudah sangat besar dan bahkan jika seluruh Jemaat Swedia berkumpul di sini, maka masjid ini hanya akan penuh setengahnya. Adalah tanggungjawab Jemaat Swedia untuk meningkatkan jumlah Jemaat mereka. Mereka harus menghilangkan kesalahpahaman dari orang orang Swedia asli tentang Islam dan membawa mereka menuju Tauhid Ilahi. Sebagai tuntutan simpati bagi, bahkan, merupakan penunaian hak terhadap orang Swedia asli tersebut serta ‘hutang’ kita kepada mereka yang telah berbuat baik menerima kita, kita harus membalas jasa mereka dengan cara yang utama dan istimewa, yaitu dengan membawa mereka dekat kepada Allah. Hutang/kewajiban-kewajiban pembangunan masjid ini akan terbayar dengan tepat sasaran ketika masjidnya dipenuhi oleh sebanyak mungkin para Ahmadi yang memakmurkannya dengan shalat di dalamnya. Hendaknya juga membuat bagaimana para orang Swedia lokal mengenali ajaran Islam dengan melakukan tabligh kepada mereka.

Hadhrat Masih Mau’ud  as bersabda:

“Jemaat kita pada masa ini sangat memerlukan pembangunan masjid-masjid. Masjid adalah rumah Allah. Ketahuilah! Ketika sebuah masjid dibangun di sebuah desa atau di sebuah kota bagi kita maka dasar kemajuan Jemaat telah diletakkan. Jika ada sebuah desa atau sebuah kota yang tidak ada orang Islam di sana atau hanya ada sedikit orang Muslim di sana, dan kalian harapkan adanya kemajuan Islam di tempat tersebut, maka bangunlah masjid di sana. Allah Ta’ala sendiri yang akan menarik orang-orang Muslim ke masjid tersebut. (artinya, orang Muslim lainnya akan bergabung dengan kalian disamping para penduduk pribumi di situ. Beginilah bertambahnya jumlah kalian)

Namun, syarat atau niatan di balik pembangunan masjid tersebut harus niat yang baik dan tulus ikhlas. Tidak membangun kecuali hanyalah semata-mata demi memperoleh ridha Allah. Tidak boleh ada unsur hawa nafsu, keburukan, kerusakan ataupun kepentingan tertentu. (Jika demikian) maka Allah akan memberkahi perbuatan tersebut dengan berkah yang banyak.”

“Jemaat harus memiliki masjidnya sendiri dengan imam dari Jemaat yang dapat memberikan Khotbah dsb. Para anggota Jemaat harus berkumpul di dalam masjid tersebut untuk melakukan shalat berjamaah. Ada berkah dan karunia yang luar biasa di dalam berjamaah dan harmoni dalam kerukunan. Sedangkan jika jemaat saling menjauh dan terpecah-belah, maka dapat menyebabkan permusuhan dan perselisihan. Pada masa ini suatu keharusan yang sangat untuk menjunjung persatuan dan harmoni dalam kerukunan secara sangat serius dan luas. Tingkatkanlah kesatu-paduan dan persatuan. Abaikanlah perkara-perkara sepele dan remeh-temeh yang dapat menyebabkan perselisihan dan perpecahan.”[4]

Artinya, laranglah pertengkaran yang timbul dari perkara-perkara kecil dan tinggalkanlah prasangka buruk diantara kalian.

Hudhur  as telah bersabda bahwa kita harus mengabaikan masalah-masalah sepele yang dapat menciptakan perpecahan. Kita telah berbai’at di tangan Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita telah berbaiat dengan maksud guna meraih ridha Ilahi, sembari menjauhi pertengkaran pribadi, kita harus mengambil pelajaran dari jalan yang ditempuh orang Muslim lainnya zaman ini yang tidak hanya telah melupakan ajaran Islam, namun juga melewati jalan perpecahan dan memasukkan berbagai bid’ah. Selanjutnya, bukan hanya melupakan pokok-pokok Islam, mereka juga melupakan nilai-nilai akhlak. Hendaknya merenungkan pihak lainnya dan hendaknya kita tetap bersatu dalam satu pusat. Timbulkanlah kesatu-paduan dan kesepakatan diantara kalian. Jalanilah jalan-jalan yang ditunjukkan oleh Allah dan rasul-Nya. Dalam rangka itu saya hendak menyampaikan nasehat-nasehat Hadhrat Masih Mau’ud  as khususnya tentang shalat-shalat dan pembangunan masjid.

Hadhrat Masih Mau’ud  as bersabda:

“Maksud dari banyaknya pahala dan ganjaran untuk shalat berjamaah ialah karena itu menciptakan persatuan. Fokus perhatian agar dapat merawat dan memelihara persatuan ini telah ada dalam corak amalan, para mushalli (yang shalat) ketika berjamaah diperintahkan supaya kaki-kaki mereka pun dalam barisan (saf-safnya) selama shalat harus lurus, dan para Jemaat harus berdiri dengan bahu sejajar. Seolah-olah mereka tengah berada dalam pimpinan satu orang. Hal itu supaya nur (cahaya) ruhani dari seseorang akan meresap kepada orang lain (dikarenakan kerohanian seseorang ada yang lebih baik/banyak dibanding yang lain, maka dengan bersatu seperti itu cahaya rohani yang satu akan mengalir pada yang lain, dan itu supaya) “…luntur/hilang diantara mereka corak-corak keunggulan yang melahirkan keakuan, ‘ujub (kebanggaan) dan pengutamaan diri sendiri.” (inilah yang diharapkan oleh Hudhur  as agar kita menghilangkan dari diri kita kebanggaan diri dan keakuan.)

Perhatikanlah betul tentang hal ini bahwa manusia memiliki kapasitas untuk menyerap cahaya ruhani dari orang lain. Untuk tujuan persatuan maka diperintahkan melakukan shalat setiap hari di dalam masjid lokal secara berjamaah dan melaksanakan shalat mingguan (shalat Jumat) di masjid utama wilayah tersebut sekali dalam seminggu serta sekali setahun berkumpul untuk melaksanakan shalat ‘Eid di sana. Dan seluruh Muslim yang menghuni muka bumi berkumpul sekali setahun di Rumah Allah (Ka’bah). Tujuan dari segenap perintah ini adalah sama: yaitu persatuan.”[5]

Hadhrat Masih Mau’ud  as bersabda:

“Keindahan sejati dari masjid-masjid bukanlah pada fisik gedungnya, namun ada pada para mushalli (orang-orang yang shalat) yang melakukan shalat-shalat dengan ketulusan, keikhlasan dan kesungguhan. Jika tidak, banyak sekali masjid-masjid yang jadi lengang dan terlantar. (beliau menunjuk pada masjid-masjid kaum Muslimin saat itu)

Masjid Rasulullah  saw dulu kecil. Atapnya terbuat dari daun-daun pohon kurma dan ketika hujan, bocor. Keindahan dan kegembiraan dari masjid-masjid ada pada para jamaahnya yang shalat di dalamnya. Orang-orang yang cenderung pada keduniawian membangun sebuah masjid di zaman Rasulullah  saw masih hidup, namun masjid tersebut kemudian dirobohkan atas perintah Allah. Masjid tersebut disebut Masjid Dhirrar, yang artinya sesuatu yang merugikan dan merusak. Masjid tersebut diratakan dengan tanah. Berkaitan dengan masjid-masjid, diperintahkan agar masjid-masjid tersebut harus dibangun untuk ketakwaan.”[6]

Hal ini tentu luar biasa bahwa gairah berkorban yang luar biasa yang ada pada kaum laki-laki, kaum perempuan dan anak-anak untuk membangun masjid ini membuktikan kebenaran doa dan ajaran Hadhrat Masih Mau’ud  as telah membuahkan hasil berupa terciptanya dalam diri kita semangat mendahulukan agama dibandingkan hal-hal duniawi. Kita tidak akan pernah membangun masjid dengan maksud meraih keuntungan materi, melainkan kita membangun masjid murni untuk mereka yang beribadah kepada Allah Ta’ala, agar dapat meraih ridho-Nya sembari menghiasi diri dengan ketakwaan. Setelah menyelesaikan setiap pekerjaan yang murni demi meraih ridha Ilahi, kita harus memperhatikan dan berhati-hati bahwa setelah mencapai tujuan tertentu, kita tidak akan lalai terhadap tujuan dasarnya. Kita harus tidak punya pemikiran bahwa setelah kita membangun masjid indah berarti kita telah memenuhi kewajiban kita dan berhentilah semua pekerjaan.

Tidak demikian! Melainkan setiap orang dari penduduk negeri ini harus ingat bahwa pekerjaan yang sebenarnya justru telah dimulai sekarang setelah pembangunan masjid ini selesai. Itu adalah sesuatu yang harus diingat oleh setiap Ahmadi di Swedia, yaitu:

 مَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُون

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (51:57).

Maka dari itu, hendaknya diingat selalu bahwa kita berkewajiban menunaikan hak-hak ibadah kepada Allah dengan cara melakukan pembangunan masjid-masjid yang terus bertambah dan terus bertambah lalu memenuhi dan memakmurkan orang-orang yang shalat di dalamnya yang jumlahnya senantiasa bertambah. Kemudian, perhatikanlah! Bagaimana Allah Ta’ala menampakkan kecintaannya kepada para hamba-Nya dan memuliakan mereka dengan karunia-karunia-Nya.

Sebuah hadis mengisahkan bahwa Nabi  saw bersabda,

صَلَاة الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ وَحْدَهُ سَبْعًا وَعِشْرِينَ

‘Shalaatur rajuli fil jamaa’ati taziidu ‘ala shalaatihi wahdahu sab’an wa ‘isyriin.’

“Shalat seseorang dengan berjamaah lebih banyak 27 kali daripada shalatnya sendirian.”[7]

Beliau  saw juga bersabda dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah ra:

صَلَاة الرَّجُلِ فِي الْجَمَاعَةِ تُضَعَّفُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَفِي سُوقِهِ خَمْسًا وَعِشْرِينَ ضِعْفًا وَذَلِكَ أَنَّهُ إِذَا

تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً إِلَّا رُفِعَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ

وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ فَإِذَا صَلَّى لَمْ تَزَلْ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَيْهِ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ وَلَا يَزَالُ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاةٍ مَا انْتَظَرَ الصَّلَاةَ.

“Shalat seorang laki-laki dengan berjamaah dibanding shalatnya di rumah atau di pasarnya lebih utama (dilipat gandakan) pahalanya dengan 25 (dua puluh lima) kali lipat. Yang demikian itu karena bila dia berwudlu dengan menyempurnakan wudlunya lalu keluar dari rumahnya menuju masjid, dia tidak keluar kecuali untuk melaksanakan shalat berjama’ah, maka tidak ada satu langkahpun dari langkahnya kecuali akan ditinggikan satu derajat, dan akan dihapuskan satu kesalahannya. Apabila dia melaksanakan shalat, maka Malaikat akan turun untuk mendo’akannya selama dia masih berada di tempat shalatnya, ‘Ya Allah ampunilah dia. Ya Allah rahmatilah dia’. Dan seseorang dari kalian senantiasa dihitung dalam keadaan shalat selama dia menanti pelaksanaan shalat.”[8]

Jangan pula berpikiran bahwa Allah Ta’ala tidak memberikan pahala atas menunggu shalat. Tidak demikian! Melainkan ada ganjaran dan pahala juga bagi orang yang menunggu shalat di masjid. Sebuah hadis yang lain menyebutkan:

مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ وَرَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ نُزُلَهُ مِن الْجَنَّةِ كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

‘man ghada ilal masjidi wa raaha a’addaLlahu nuzulahu minal jannati kullamaa ghada au raaha.’ –

“Seseorang yang pergi ke masjid di pagi dan malam hari dan berdiam di sana [untuk beribadah], maka Allah akan menyambutnya dengan ramah dan hangat di Surga.”

Jadi, mereka yang datang ke masjid adalah para tamu Allah. Kita harus bersyukur kepada Allah atas pembangunan masjid baru di Swedia ini yang harus dilakukan dengan membangun kasih sayang dan kecintaan diantara kita satu sama lain yang jauh lebih besar daripada sebelumnya. Yaitu kalian yang tinggal di sini, dan seluruh Ahmadi yang tinggal di seluruh dunia. Dengan memperhatikan masjid-masjid berarti hak-haknya harus ditunaikan. Sekarang setelah masjidnya dibangun, maka teladan dan metode yang lebih baik akan ajaran Islam harus ditunjukkan dan diberitahukan kepada orang-orang lebih banyak lagi dibanding sebelumnya. Seperti yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud  as bahwa masjid-masjid adalah sumber penyebab untuk membuat orang orang sebagai Muslim. Jika amalan-amalan kita tidak sesuai dengan ajaran Islam dan kita tidak menyampaikan pesan Islam kepada yang lain, orang-orang hanya akan tertarik pada kubah masjid yang berpendar cahaya terang benderang, yang dapat dilihat dari kejauhan. Mereka hanya akan tertarik pada segi luaran secara fisik. Padahal daya tarik keindahan yang sejati pada masjid hanya akan melalui keindahan ruhani dengan cara beribadah di dalamnya.

Tak ragu lagi bahwa pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan dalam gejolak semangat yang sementara waktu tetap layak dihargai dan itu bermanfaat pula. Sebagian dari kalian berkorban dalam gejolak semangat yang sementara waktu sementara sebagian yang lain pengorbanan mereka telah lama berjalan bertahun-tahun yang lalu, terutama bagi anak anak dan kaum muda. Namun, kini tahap pengorbanan secara terus-menerus baru saja dimulai, yang mana dengan mengupayakan agar keindahan fisik masjid juga harus bisa disertai dengan keindahan ruhani. Dan ini adalah tugas yang sangat besar yang memerlukan keberlanjutan secara terus-menerus. Setiap Ahmadi harus berjanji untuk menjunjung keberlangsungan dari keindahan ruhani.

Ayat pertama dari dua Al Qur’an yang saya bacakan pada awal Khotbah ini ada di Surah at-Taubah menyatakan yang terjemahannya dalam bahasa Urdu sebagai berikut:

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian dan tetap mendirikan sholat dan membayar zakat serta ia tidak takut kecuali kepada Allah; maka mudah-mudahan mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (Surah at-Taubah, 9:18)

Hanya mereka yang beriman kepada Allah yang layak memakmurkan masjid-masjid Allah. Dengan demikian, tujuan dari dibangunnya masjid-masjid adalah beriman kepada Allah, dan keimanan ini disempurnakan ketika seseorang melindungi dirinya sendiri dari segala bentuk syirik (menyekutukan Allah) dan hanya menganggap Allah sebagai Maha Pemberi yang menyediakan segala sesuatu. Sebagai tambahan, ada iman kepada Hari Kemudian (akhirat) ada rinciannya. Ada disebutkan banyak hal tentang apa itu akhirat. Diantaranya, disebutkan bahwa akhirat lebih baik dari dunia. Namun, jika manusia hanya menunjukkan dan mencerminkan satu aspek dari keimanan ini bahwasanya Hari Kemudian (akhirat) lebih baik dari kehidupan ini, alih-alih berusaha keras untuk perkara-perkara duniawi, ia akan berupaya agar menjadi penerima pahala Hari Kemudian (akhirat).

Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلَدَارُ الْآَخِرَةِ خَيْرٌ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا

Dan sesungguhnya rumah akhirat itu lebih baik bagi orang orang yang bertakwa…” (6:33).

Rumah atau tempat tinggal yang demiakian yang dibuat oleh seseorang yang beriman sejati adalah dengan membangun masjid tapi membangunnya dengan ketakwaan. Memakmurkan dan memenuhi masjid-masjid ini dikaitkan dengan kebenaran, kebajikan dan ketakwaan.

Hadhrat Masih Mau’ud bersabda tentang ketakwaan:

“Agar dapat menjadi orang-orang yang bertakwa, adalah penting dengan tegas dan kukuh berhenti dan meninggalkan dosa-dosa utama seperti perbuatan zina, pencurian, merampas hak-hak orang lain, kemunafikan, keegoisan, penghinaan terhadap orang dan kekikiran. Pada akhirnya ia harus menghindari dan menjauhi akhlak-akhlak yang rendah. Selanjutnya, ia harus berkembang dalam penciptaan nilai-nilai moral yang mulia. (Artinya, ia harus menghindari laghaw, akhlak tercela, perbuatan mungkar, dan tidak hanya menciptakan pada dirinya akhlak luhur dan mulia saja lalu berhenti melainkan juga maju dan berkembang dalam hal itu)  “Orang tersebut harus memperlakukan orang lain dengan akhlak yang baik, kesantunan dan simpati”, (merupakan tuntutan akhlak dan ketakwaan bahwa ia harus dengan wajah yang menyenangkan, kecintaan, adab kesopanan dan akhlak yang baik sama rata tanpa memandang apakah mereka itu orang Islam ataukah bukan), “..dan menunjukkan kesetiaan dan keikhlasan kepada Allah Sang Maha Agung dan meraih maqaam Mahmud (kedudukan terpuji) untuk mengkhidmati orang lain.” (artinya ia melakukan perbuatan-perbuatan tersebut demi meraih ridha Ilahi) “…Manusia disebut sebagai orang benar dan bertakwa dengan mengikuti hal ini.” Seseorang disebut bertakwa bila memiliki segala sifat ini. Mereka yang mengumpulkan semua sifat ini di dalam dirinya itu merekalah yang bertakwa secara hakiki. [9]

Artinya, jika seseorang hanya memiliki salah satu sifat ini, maka ia tidak akan disebut orang bertakwa. Ia tidak bisa menjadi orang yang bertakwa sampai segenap nilai-nilai akhlak luhur itu terkumpul pada dirinya. Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya kesempatan ini membawa kita pada pemikulan tanggungjawab yang besar, kita harus membuat perubahan revolusioner besar guna memenuhi kewajiban-kewajiban dari masjid baru ini. Lalu, mengarahkan perhatian pada membiasakan shalat lima waktu berjamaah. Keindahan masjid secara terhormat ada pada jumlah orang yang shalat di dalamnya, yang beribadah secara ikhlas kepada Allah guna meraih ridha-Nya.

Ayat yang dibacakan di awal juga menarik perhatian pada memenuhi hak-hak orang yang kurang mampu dengan membayar Zakat. Seorang beriman sejati yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir menaruh perhatian pada penyucian harta-hartanya juga disamping membiasakan shalat secara disiplin dan beribadah lainnya. Cara terbaik guna menyucikan harta ialah dengan infaaq fi sabiliLlah (membelanjakan harta di jalan Allah) dan infaaq di jalan para hamba-Nya. Pada kenyatakannya, tidak ada lagi selain para Ahmadi yang benar-benar memiliki pemahaman yang mendalam terhadap pengorbanan harta. Allah Ta’ala dalam Al-Quran menarik perhatian pada zakat, infaaq harta di jalan-Nya dan juga mengarahkan perhatian secara khas agar Zakat ditunaikan.

Beberapa orang mengkritik kita bahwa Jemaat Ahmadiyah tidak berfokus pada penunaian pembayaran Zakat namun lebih berfokus pada jenis-jenis candah yang lain padahal itu adalah rukun (perintah mendasar) dalam Islam. Namun, perlu diketahui bahwa tuduhan itu keliru adanya. Kenyataannya, kita secara terus menerus mengarahkan perhatian kepada Jemaat berkaitan dengan Zakat dan kepada siapa Zakat itu wajib ditunaikan.

Saya (Hadhrat Khalifatul Masih) juga telah menjelaskan mengenai hal ini di dalam Khotbah-khotbah Jumat saya yang lalu di tahun lalu. Bagaimana mungkin kita tidak menaruh perhatian atas Zakat sementara Zakat memiliki hubungan yang sangat erat terhadap sistem Khilafat. Di dalam ayat-ayat setelah ayat tentang Khilafat di dalam Al Quran yang dikenal dengan Ayat Istikhlaf (Surah an-Nuur, 24:56) perhatian ditarik kepada ketaatan ibadah shalat dan zakat. Adapun mengenai pemungutan iuran lainnya maka seperti telah saya katakan Zakat tidaklah wajib bagi setiap orang. Zakat memiliki persyaratan, peraturan dan regulasi-regulasi tertentu. Disamping itu, dengan hasil pengumpulan Zakat saja juga tidak akan dapat menutupi seluruh pengeluaran Jemaat. Bahkan, program-program yang luas yang berjalan dibawah Nizham Khilafat di dunia ini menuntut agar terdapat pemungutan dana dalam bentuk selain Zakat.

Karena itu, adalah juga penting untuk membayar Candah secara teratur dan juga Candah Wasiat. Nizham al-Washiyat dan juga Nizham pengumpulan dana lainnya yang digalakkan dan dibayar bulanan secara teratur ada di dalam Jemaat. Nizham ini, Hadhrat Masih Mau’ud  as yang mendirikannya. Saya tak hendak untuk menguraikannya secara begitu rinci pada hari ini. Apa yang hendak saya jelaskan sekarang di sini ialah, bagaimanapun, dengan pembangunan masjid ini, tanggung jawab kita meningkat dan perhatian haruslah diberikan untuk memenuhinya. Hal ini dapat dicapai dengan menempa hubungan secara erat dengan Tuhan, dengan selalu mengingat tentang Hari Kemudian (akhirat), dengan meninggikan level ketakwaan dan kebenaran, Kita dapat memenuhi hal ini dengan melakukan berbagai upaya untuk meraih Ridha Allah Ta’ala dan dengan melakukan Shalat dan dengan memenuhi kewajiban melayani kemanusiaan (khidmat-e-Khalq).

Hal yang tidak diragukan lagi bahwa pada zaman ini telah ditetapkan agama akan punya martabat, kehormatan dan kemuliaan hanya melalui Hadhrat Masih Mau’ud  as dan memang sudah sedang terjadi karena beliau  as datang sebagai ghulam shadiq (pengabdi sejati) terhadap Rasulullah saw. Allah mengutus beliau  as untuk menunjukkan teladan kebenaran ajaran Islam, memperbaiki dan menghidupkan kembali kredibilitas dan kepercayaan terhadap Islam. Beliau  as adalah juga khatamu khulafa dan datang untuk memberitahukan keindahan Islam pada dunia. Maka dari itu, tujuan hakiki kedatangan beliau  as adalah menjelaskan kepada orang-orang akan kebagusan dan keindahan Islam.

Ayat kedua yang saya bacakan di awal Khotbah ada di surah al-Hajj menyebutkan bahwa ketika Allah menganugerahi martabat, kehormatan dan kemuliaan, maka hal ini mengharuskan didirikannya Shalat, membayar zakat, menyuruh kepada kebaikan dan melarang dari keburukan. Sebagaimana sudah saya katakan, telah ditetapkan bahwa martabat, kehormatan dan kemuliaan agama di zaman ini dikaruniai melalui Hadhrat Masih Mau’ud  as dan telah ditetapkan pula bahwa sistem khilafat didirikan melalui beliau dan sungguh telah berdiri. Saat ini, di pojok-pojok dunia telah berdiri Jemaat Islam Ahmadiyah yang padanya terdapat Khilafat yang menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang benar. Khilafat ini menyampaikan pesan-pesan Ilahi dalam corak yang benar. Khilafat ini membangun masjid-masjid untuk pelaksanaan ibadah, dan bukanlah tempat bagi kejahatan dan perpecahan. Dan masjid-masjid ini menjadi sarana kekuatan bagi Islam dan menciptakan penghargaan, kehormatan dan kewibawaan dengan menyebarkan ajaran Islam. Artinya, dengan sarana itu Islam memperoleh kehormatan, kekuatan dan kemuliaan.

Singkatnya, merupakan tanggung jawab yang sangat besar bagi para Ahmadi untuk dapat mencerminkan hal ini dan mengerti hakekat tujuan ini. Kalian harus, bersamaan dengan berupaya memenuhi perjanjian-perjanjian, juga berusaha untuk senantiasa membentuk jalan pemikiran kalian agar sesuai dengan pencarian ridho Ilahi. Berkaitan dengan ayat ini, harus juga selalu diingat bahwa ketika para hamba sejati Tuhan mencari pertolongan dari-Nya, maka mereka akan menerima pertolongan itu. Mereka mencurahkan segenap kapasitas dan kekuatan mereka untuk kesejahteraan kemanusiaan dan juga memenuhi hak-hak Tuhan. Mereka takut kepada Tuhan dan berkembang dalam keimanan dan menjalani hidup mereka dalam ketakwaan. Mereka mengatakan dan menyerukan kepada orang lain untuk berbuat baik dan mencegah mereka berbuat buruk.

Semoga Allah swt membuat kita benar-benar memahami segala perkara ini dan menjadikan kita menunaikan hak-hak-Nya [kewajiban-kewajiban terhadap-Nya]. Semoga kita juga berkembang dalam cinta kasih yang saling bertimbal balik dengan Allah Ta’ala. Semoga kita juga memenuhi hak-hak masjid dan hak-hak tabligh. Semoga semangat dan gairah yang kita miliki dalam hal pengorbanan harta bukan hanya sementara waktu saja, melainkan menjadikan semangat dan gairah tersebut tak henti-hentinya mencapai kemajuan ruhani dan menjadi bagian dari kehidupan kita dan kita dapat secara kokoh memenuhi janji Bai’at yang telah kita buat kepada Imam zaman ini, yang merupakan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah  saw (Hadhrat Masih Mau’ud as). Semoga Allah mengaruniai kita semua taufik tersebut.

Penerjemah          : Ratu Gumelar (LI LA, Jaksel)

Editor                    : Dildaar Ahmad Dartono

Sumber referensi  : www.alislam.org (bahasa Inggris) dan

www.islamahmadiyya.net (Arab)

[1] Shahih Muslim, Kitab tentang Masjid-Masjid.

سَمِعَ عُبَيْدَ اللهِ الْخَوْلاَنِيَّ يَذْكُرُ: أَنَّهُ سَمِعَ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ عِنْدَ قَوْلِ النَّاسِ فِيْهِ حِيْنَ بَنَى مَسْجِدَ الرَّسُولِ صَلَّى

اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ قَدْ أَكْثَرْتُمْ وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ مَنْ بَنَى مَسْجِدًا ِللهِ تَعَالَى قَالَ بُكَيْرٌ حَسِبْتُ أَنَّهُ قَالَ

يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللهِ بَنَى اللهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّة

Ubaidullah al-Khaulani menyebutkan bahwa dia mendengar Utsman bin Affan Radhiyallahu’anhu, dia berujar kepada orang banyak ketika membangun masjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: Sekarang kamu telah banyak. Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw, bersabda, “Siapa yang membangun masjid karena Allah…” -Bukair berkata, Seingatku beliau bersabda, “Dengan maksud mencari wajah (ridho) Allah-, niscaya Allah membuatkan rumah di surga untuknya.”

[2] Shahih Muslim dalam Kitab al-Masajid wa Mawadhi’ as-Shalah,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَبُّ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ مَسَاجِدُهَا وَأَبْغَضُ الْبِلَادِ إِلَى اللَّهِ أَسْوَاقُهَا

Dari Abu Hurairah -ra- Rasulullah  saw bersabda, “Bagian negeri yang paling Allah cintai adalah masjid-masjidnya, dan bagian negeri yang paling Allah benci adalah pasar-pasarnya.”

[3]  Sunan Ibni Maajah, Kitaab al-Masaajidi wal Jamaa’aat, bab tathhiiril masaajidi wa tathyiibihaa hadits 758. Setelah menyebutkan perintah Nabi  saw untuk membangun masjid-masjid di perkampungan-perkampungan, juga terdapat perintah kebersihan dan membuatnya harum/wangi/berbau sedap.

[4] (Malfuzhat, Vo. 7, hal 119 – 120).

[5] (Malfuzhat, Vol. 8, hal. 247 – 248)

[6] (Malfuzhat, Vol. 8, hal 170)

[7] Shahih Muslim

[8] (Al-Bukhari, Kitabul Adzan no. 131 dan Muslim no. 649)

[9] (Malfuzhat, Vol. 8, hal 170)