Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Idul Fitri

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifatul Masih ar-rabi’ ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 3 Maret 1995 di Masjid Fadhl, London

“Assalamu ‘alaikum wa Rahmatullah”

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ، آمين

Beragam Pendapat Tentang Id & Jum’ah

Dengan karunia Allah Ta’ala, hari ini adalah Hari Id. Id kali ini, di kebanyakan negara, bergabung dengan Jum’ah. Biasanya tidak menyatu. Selain Arab Saudi, di kebanyakan negara lainnya, Jumah dan Id ini menyatu. Misalnya, di Amerika; Pakistan; di [Inggris] ini, dan di negara-negara lainnya.

Umumnya ada anggapan, jika ld dan Jumah menyatu, merupakan Id yang berat. [Yaa], kita melihatnya dari segi karunia Ilahi memang sangat beratlberbobot. Dua id menyatu. Itu adalah ce rita orang-orang yang suka pada praduga tak menentu, bahwa Id yang demikian terasa berat/sulit. Oleh karenanya, mereka berusaha dengan cara apapun untuk memisahkan [kedua id] ini.

Di [Inggris] ini pun upaya-upaya tersebut telah mereka lakukan. Mereka merekayasa sedemikian rupa sehingga Id tidak jatuh pada hari Jumat. Namun, hal itu baru akan dapat terjadi apabila puasa [mereka] sampai 31 hari. Tetapi, ketika Ramadhan masuk; kemudian telah pula diadakan penelitian yang rinci; Jemaat Ahmadiyah pun telah menulis di surat-surat kabar memaparkan keadaan yang sebenarnya, sehingga Id tersebut mutlak jatuh pada hari Jumat, dan tidak ada alternatif lain, maka mereka terpaksa harus merubah dasar pendirian mereka.

Kebanyakan mereka terpaksa harus menukar dasar pendirian mereka. Sampai-sampai banyak yang menelepon kepada kita: “Apa yang harus kami perbuat? Puasa kami jadi 31 hari jika Id jatuh pada hari Jumat?” Saya katakan pada mereka: “Terimalah apa yang diridhoi Allah. Apa yang diutarakan Allah, itulah yang hendaknya Anda kerjakan. Kemudaratan yang ditimbulkan oleh ulama atas diri Anda, Allah tidak bertanggung-jawab atas hal itu.”

Sebenarnya, pemimpin adalah orang yang berjalan di depan dan menggerakkan kaumnya berjalan mengikuti dari belakang. Bukan sebagai tukang hardik/perintah. Tetapi
orang-orang ini hanya main perintah/paksa saja. Mereka tidak mau berembuk; tidak mau menundukkan kepala untuk berbicara sama tinggi. Mereka berusaha memaksakan [segala sesuatu] dengan menggunakan tongkat-pentungan ilmu mereka – yang sebenarnya kosong dari ilmu dan dari takwa terhadap Allah. Sungguh malanglah kaum-kaum yang para pemimpin mereka telah menjadi orang-orang yang main perintah/paksa saja.

Kesatuan Dalam Jemaat Ahmadiyah

Pendek kata, Jemaat Ahmadiyah sangat berhutang-budi pada [pola] keridhoan yang telah menyatukan Jemaat ini pada tampuk sentral Khilafat, dan di sekitar poros itulah Jemaat ini berputar. Itu merupakan suatu ihsan yang luar biasa sehingga [kadang- kadang] manusia pada hakikatnya tidak dapat membayangkan. Sebagian orang [non-Jemaat] menelepon mengatakan: “Kalian adalah orang-orang yang beruntung. Dengan satu komando kalian serentak berdiri; dengan satu komando kalian serentak duduk. Kalau kami ini berantakan. Kami sama sekali tidak tahu harus mengikuti mullah yang mana dan harus meninggalkan yang mana pula?” Dan berkat yang bercucuran dalam setiap pekerjaan [Jemaat] pun merupakan akibat dari [pola kesatuan] tersebut.

Gejolak Pengorbanan Di Dalam Jemaat

Beberapa waktu yang lalu saya mencanangkan gerakan [pengorbanan] untuk masjid di Inggris. Gerakan ini dicanangkan sepuluh tahun [setelah saya hijrah] untuk mendirikan Mesjid Markas di Inggris. Sepuluh tahun yang lalu, imbauan yang dicanangkan adalah sebesar 500.000 pounds. Dan saat itu sudah terasa berat sekali. Benar-benar ekstra kerja-keras untuk mengumpulkannya. Kepada [Jemaat] di seluruh dunia pun dimintakan. Dengan karunia Allah, banyak dana terkumpul. Namun pada masa awal memang sangat berat.

Sekarang, sepuluh tahun kemudian, bukan sebagai markas Eropa, melainkan hanya sebagai mesjid markas Inggris telah dicanangkan gerakan [pengumpulan dana] sebesar 5.000.000 poundsterling. Dan dengan karunia Allah Ta’ala, perjanjian terus berdatangan dengan cepatnya dari mana-mana, dan pemasukan pun sudah mulai. Benak kita heran dibuatnya, apa yang tengah terjadi ini?

Gencarnya perjanjian yang datang dari kalangan [Jemaat] Inggris pun, dengan karunia Allah, sangat laju melebihi perkiraan yang diharapkan dari mereka. Tampak gambaran pengorbanan yang sangat menakjubkan. Tetapi, jemaat-jemaat luar-negeri pun tidak ketinggalan. Padahal saya tidak mengundang mereka secara terang-terangan untuk masuk ambil-bagian. Saya hanya memberikan isyarah bahwa saya memang tidak mengundang mereka masuk, tetapi pintu terbuka, jika mau masuk ya silahkan. Ternyata mereka menanggapi pesan tersebut sebagai suatu pesan yang ditujukan langsung kepada mereka.

Tetapi [dana yang terkumpul dari] mereka telah saya pisahkan dalam satu kantung tersendiri. Supaya, warga Jemaat Inggris jangan sampai tidak jelas terhadap upaya-upaya [pengorbanan] mereka. Nah, jangan Anda (Jemaat Inggris) menghitung-hitung [kantung yang satu] ini. Anda sekalian harus tetap mengumpulkan [jatah pengorbanan Anda yang sebesar] 500.000 pounds itu. Adapun yang masuk dari luar negeri, itu merupakan karunia Ilahi. Bila diperlukan, sebagian darinya akan diberikan pada Anda. Jika tidak, tentu akan dapat digunakan untuk mesjid lainnya. Jadi, Anda harus melakukan upaya-upaya gigih dari pihak Anda, supaya Jemaat Inggris dapat berdiri tegak di atas kaki sendiri.

Gambaran Pengorbanan Yang Lesu di Kalangan Luar Jemaat

Sebaliknya, orang-orang yang luput dari anugerah ini – Allah Ta’ala telah menganugerahkan keterpaduan pada Jemaat ini dalam bentuk Khilafat – kondisi mereka [sangat menyedihkan]. Pada kesempatan Jum’atul Vt,daa’ di akhir bulan Ramadhan lalu, ada seorang mullah yang mencanangkan [gerakan pengorbanan] di sebuah mesjid. Dia benar-benar mencecar para hadirin: “Kalian ini sungguh aneh! Begitu besarnya beban kita, kalian harus mencicil. Tetapi kalian tidak mau membayar; kalian tidak mau menyambut imbauan-imbauan saya. Oleh karena itu, sekarang juga, pada Jumah ini, saya memerlukan 150.000 pounds!”

Sang mullah tersebut habis-habisan berusalia. Ketika semuanya selesai, ternyata tidak sedikit pun dana masuk. Tidak ada seorang pun yang memberikan respons terhadap imbauannya. Seorang diantara liadirin saat itu ada yang menceritakan peristiwa ini kepada seorang sahabatnya yang Ahmadi. Saya mintakan supaya orang itu menuliskan [pernyataannya tersebut]. Nah, hal itu ada di tangan saya dalam bentuk tulisan.

Sungguh menggelikan. Sang mullah tersebut balas dendam. Dia memulai shalat Jumah, dan baru satu rakaat, dalam keadaan berdiri langsung dia mengucapkan salam. (Huzur dan hadirin tertawa -pen.). Sambil berdiri: “Assalamualaikum warrahmutullaah”. Dan ia langsung memerintahkan kepada seorang mullah lainnya: “Kau kumpulkan uang itu! Baru akan aku sempurnakan shalat ini jika mereka sudah bayar!”

Sang mullah pembantu itu pun sibuk mengumpulkan uang. Tidak tahu berapa yang terkumpul. Tetapi ketika sudah selesai, sang imam tersebut tetap menunjukkan kejujurannya, di memimpin shalat itu dua rekaat sampai selesai. Jika tidak [jujur], tentu bisa saja dia berhenti lagi pada rekaat pertama.

Ini adalah suatu ihsan Allah [pada Jemaat]. Sungguh jauh perbedaan dalam hal ruh pengorbanan [ini]. Beda langit dan bumi. Semoga Allah mengabadikan perbedaan itu untuk selamanya, dan senantiasa lebih menampakkan kekhususan [Jemaat] tersebut.

Dampak Positif Yang Ditimbulkan Oleh Siaran-siaran MTA

Khabar gembira dari saya, pertama adalah yang memang akan disampaikan pada kesempatan Id ini, dalam kaitan dengan tanggapan terhadap imbauan [pengorbanan] tadi itu. Allah Ta’ala telah menganugerahkan taufik kepada Jemaat untuk mempersembahkan pengorbanan-pengorbanan sangat luar biasa yang mampu menimbulkan kecemburuan.

Yang kedua, berkenaan dengan MTA (Muslim Television Ahmadiyya). Tidak ada waktu untuk menguraikan secara rinci dampak-dampak positif yang muncul secara global [berkenaan dengan MTA] ini. Namun saya ingin memaparkan ke hadapan Anda sekalian sebuah contoh dari dampak-dampak yang timbul di kalangan luar – khususnya di kalangan orang-orang Arab. Dan melalui khutbah ini pula saya memberikan jawaban kepada sang penulis surat [yang dimaksud].

Surat ini datang dari Marokko. Ditujukan kepada segenap Saudara se-Jemaat Ahmadiyah. Oleh karena itu saya kira, biarlah saya sampaikan amanat ini kepada seluruh [warga Jemaat] pada kesempatan Id sekarang. Sebab, bukan ditujukan pada saya, melainkan kepada seluruh Saudara yang ada di dalam Jemaat Ahmadiyah. Kalimat pertamanya adalah:

“Dengan hormat, mobon saya juga diikut-sertakan dalam Jemaat Abmadiyah. Saya tidak mengada-ada, saya sangat tertarik pada acara-acara MTA. Ini merupakan suatu penghkidmatan yang sangat mulia. Sebelumnya memang saya sudah membaca dan mendengar tentang pengkhidmatan yang diemban oleh Jemaat. Pengkhidmatan yang Anda lakukan untuk orang-orang Muslim teraniaya, sangat menakjubkan. Gambaran Islam yang dipaparkan oleh Ahmadiyah, dari situ saya memahami bahwasanya dari aspek kemanusiaan seluruh dunia ini adalah safu. Jalan menuju kepada kebenaran pun hanya satu. Dan fondasi/dasar segenap agama juga safu. Agama seharusnya menjadi faktor pemersatu, bukan sebagai pemecah-belah. Jika bukan karena beban, tentu peperangan pun tidak akan ada. Dalam keadaan yang seperfi itulah Islam [harus] disebar-luaskan, sampai ia merebak ke seluruh dunia….

Namun, wabai Saudara-saudara Abmadi Muslim-ku! Wabai para penggenggam tali lslam dan Khilafat Rasyidah! Saya mengatakan ini bukan basa-basi, tetapi merupakan suatu kenyataan yang sebenarnya, dan Allab menjadi saksi akan kata-kata saya.

Alhamdulillaah, saya adalah seorang pemuda Muslim yang terpelajar. Di bidang kerohanian, saya telah banyak menuntut ilmu di berbagai lembaga pendidikan. Saya juga felab mengikuti beberapa insfitusi infernasional yang menyelenggarakan pendidikan melalui korespondensi. Dan saya juga pernah mengikuti pendidikan di sebuah lembaga pendidikan di Perancis. Terlampir saya sampaikan data-data saya….

Hz. Mirza Tahir Ahmad, yang merupakan Khalifah ke-IV, saya mempunyai keinginan yang keras untuk berjumpa dan duduk bersama beliau….

Terimalah saya di kalangan Anda sekalian, saya ingin menjadi salab seorang di antara Anda…”

Jadi, saya menyampaikan pesan penuh kecintaan ini dari Jemaat Ahmadiyah untuk beliau. Jawaban dari saya untuk beliau adalah: “Ahlan wa sahlan! Anda, dengan karunia Allah, adalah salah seorang di antara kami. Tidak hanya sekedar salah seorang di antara kami, tetapi juga saya menaruh harapan pada Anda, bahwa Anda akan menjadi pembuka jalan bagi masuknya ribuan orang ke dalam Ahmadiyah. Semoga Allah Ta’ala menjadikan Id ini penuh berkat bagi Anda.”

Nah, banyak sekali para pencari kebenaran yang telah memperoleh taufik untuk mengenal Jemaat Ahmadiyah melalui jalan ini – yakni melalui MTA. Dan dari hari ke hari, rasa ketertarikan seperti itu semakin meningkat.

Demikian pula, ada juga surat yan g datang dari Belarusia. Dan sebuah surat dari Ukraina. Di dalam surat ini , [yang bersangkutan] menulis kan:

“Saya adalah satu di antara sekian banyak orang Arab yang rutin mendengarkan acara-acara Anda. Dan dari hari ke hari rasa ketertarikan kami semakin meningkat. Kami merasa heran, ke mana saja Anda selama ini? Kami sama sekali tidak tahu sebelumnya, apa itu Jemaat Ahmadiyah, dan bahwasanya betapa tujuan-tujuan agung lslam banyak terkait dengannya….”

Jadi, semoga Allah Ta’ala melimpahkan taufik kepada para pengkhidmat, khususnya mereka yang terkait dengan MTA dalam bentu k apa saja. Semog a pengkhidmatan mereka diterima, dari segi apapun. Semoga AIlah juga memberikan ganjaran terbaik bagi mereka, dan senantiasa terus meningkatakan taufik-taufik pengkhidmatan itu.

Nasihat-nasihat yang saya sampaikan kepada seluruh Jemaat [di dunia] pada khutbah y ang lampau , tidak perlu saya ulangi lagi rinciannya di sin i. P ada kesempatan ld ini saya mengingatkan, bahwa acar-acara [produksi] Anda sangat dinantik an. Jika seluruh Jemaat di dunia mulai memproduksi acara-acara sesuai dengan petunjuk [yang telah diberikan], maka insya Allah, standar acara-acara kita akan meningkat. Dan sekarang pun, dengan karunia Allah, acara-acara yang tengah ditampilkan adalah baik dan menarik . Dan orang-orang pun setiap hari pada menuliskan bahwa: “Kami paham, setiap hari acara-acara MTA semakin bagus dari sebelumnya”.

Siklus Belajar-Mengajar & Ilmu Dari Allah Ta’ala

Kini saya kembali kepada materi yang telah saya singgung pada kesempatan Jumah yang lalu . Saya utarakan, pada permulaan Ramadhan – Jumah tgl. 10 Ramadhan – saya beritahukan kepada Jemaat bahwasanya manusia menuntut ilmu sepanjang hidupnya. Dan orang yang menganggap bahwa dia telah terlepas dari batas/ketentuan untuk menuntut ilmu, adalah orang yang takabbur dan bodoh. Untaian pencarian ilmu ini terus berkelanjutan sampai saat-saat akhir, dan memang harus terus berkelanjutan. Di situlah letak kemuliaan umat Muhammadiyah, dan begitulah pelajaran yang telah diberikan kepada umat Muhammadiyah: Allaahumma shalliy ‘alaa nmhan nadin wa’alaa aali muhammadin wabaarik wasallim. Yakni, teruslah belajar sampai nafas penghabisan, dan ajarkan [kepada yang lain].

Dalam kaitan itu telah saya jelaskan, lahan bagi saya untuk menuntut ilmu terhampar luas di seluruh dunia. Tidak perduli apakah itu [berasal dari] orang Muslim atau non-Muslim; apakah itu Ahmadi atau non-Ahmadi, dari mana saja ilmu itu datang, saya anggap sebagai kewajiban saya [untuk menerimanya]. Dan juga merupakan kewajiban utama bagi segenap umat Islam di seluruh dunia. Jangan Anda pikirkan siapa dan apa yang diucapkannya. Jika merupakan ilmu, itu adalah harta-kekayaan orang Muslim, dan hendaknya diambil. Jadi, seakan-akan [ilmu dan hikmah itu] keduanya secara utama diperuntukkan bagi orang- orang Muslim. Nah, yakinilah bahwa itu merupakan harta miliki Anda, dan di manapun Anda menemukannya, ambillah.

Setelah menjelaskan hal tersebut, saya kemukakan juga bahwa jangan pula Anda sekalian beranggapan saya hanya belajar ilmu dari Anda saja. Allah Ta’ala secara berkesinambungan memancarkan ilmu kepada saya dari Lang it. Dan il mu -ilmu y ang turun dar i Langit itu pun bukanlah hasil usaha saya. la merupakan karunia llahi. Dan saya yakini sebagai berkat dari kedudukan [saya sebagai khalifah]. Adalah Allah Ta’ala yang telah menunjuk orang yang hanya memiliki ilmu pengetahuan biasa ini untuk kedudukan tsb .. Jadi, bimbingan ilmu sekali lagi telah diemban sendiri oleh Allah Ta’ala melalui tangan-Nya

Rukya Yang Penuh Makrifat llahi

Tanggal 10 [Ramadhan] saya memaparkan hal-hal tersebut di atas. Dan pada malam antara Minggu dan Senin – yakni dua hari kemudian – pada penggalan akhir malam itu, sebelum Tahajjud, hanya dalam tempo satu menit saja, saya melihat sebuah rukya (mimpi) ringkas. Dalam rukya itu saya merupakan, apa yang sedang saya lakukan ; apa yang sedang terjadi.

Semuanya di luar ikhtiar saya. Masalahnya kecil saja, menarik, namun dalam rukya itu juga saya sudah merasakan bahwa ini merupakan suatu perkara yang berkaitan dengan ilmu-ilmu yang terus berkelanjutan. Bukan suatu perkara yang begitu saja habis sebaik rukya selesai.

Ketika saya bangun, pikiran-pikiran itu masih berjalan, padahal mimpi sudah selesai. Dan perkara itu terus menguasai pikiran saya sampai beberapa hari. Saya bilang, saya akan uraikan pada khutbah setelah Id. Akan tetapi beberapa hari lalu, putri sulung saya mendesak: “Ayah tidak tahu, betapa hal itu telah menimbulkan rasa penasaran di dalam hati kami untuk mengetahuinya. [Ada dua kemungkinan]: memang tidak mau memberitahu, atau mau. Kalau mau, cepatlah beritahu. Jika tidak, entahlah, entah apa masalahnya.” Dan [anak saya itu] mengatakan: “Ini bukan hanya pikiran saya saja, tetapi kaum ibu selalu meminta saya mendesak Ayah agar segera memberitahukannya.”

Rukya: Asmaa Ilahi (nama-nama/sifat Allah)

Baiklah sekarang saya beritahukan apa itu sebenarnya. Allah Ta’ala telah menggenggamkan ke tangan [saya] suatu point berkaitan dengan Asmaa Ilahi (nama- nama/sifat Allah Ta’ala). Dengan karunia Allah Ta’ala, di dalamnya telah terbuka suatu jalan yang tak terbatas untuk merenungkan Asmaa Ilahi. Dan hal itu berlangsung dengan pola sedemikian rupa sehingga manusia tidak dapat membayangkannya. Tidak mungkin perkara itu berkait dengan suatu pemikiran pribadi seorang manusia.

[Tampak bahwa] saya tengah duduk di kantor. Dan saat itu adalah jadwal mulaqat (pertemuan pribadi). Seorang rekan Ahmadi membawa seorang penyair ghair Ahmadi. Dan [orang Ahmadi] itu mengatakan, beliau ini ingin bertanya. Saya katakan, ya, silahkan.

Maka orang itu bertanya: “Saya adalah seorang penyair yang konservatif (kolot; bersikap mempertahankan keadaan, kebiasaan, dan tradisi lama-pen.). Para penyair aliran modern selalu mengatakan pada saya, ‘Jadilah engkau penyair yang beraliran modern.

Paparkan pemikiran-pemikiran yang seperti kami ini. Konservatisme itu tidak betul’. Oleh karenanya, berilah petunjuk kepada saya, apa yang harus saya lakukan? Apakah saya tetap konservatif, atau harus modern?”

Mendengar hal itu, saya berkata padanya: “Pertanyaan Anda ini sendiri tampaknya tidak betul. Menurut saya, dalam syair, tidak ada perbedaan antara konservatisme dan modernisme. Sebab, syair itu berputar di sekitar keindahan, sebagaimana rayap yang beterbangan di sekitar lampu. Jika syair tersebut tidak berkait dengan keindahan, itu bukanlah syair. Sedangkan keindahan itu mengalir dari Asmaa Allah. Dan keindahan yang dimiliki Asmaa Allah, di dalamnya tidak terdapat zaman/waktu. Oleh karena itu, tidaklah dapat ditanamkan suatu perbedaan dari segi zaman/waktu, antara konservatisme dan modernisme.”

Ketika saya menjelaskan hal itu, matanya jadi luluh dalam kecintaan. Di dalam matanya timbul suatu ketakjuban yang luar-biasa. Seakan-akan ia mengatakan: “Saya hanya menanyakan suatu perkara kecil, tetapi Tuan telah menjelaskan suatu perkara yang sangat besar.” Dan sobat itu benar-benar berkeinginan mendengar kelanjutan uraian perkara tersebut. Tetapi, rukya itu habis. Paling lama satu menit – atau kurang dari itu – percakapan ini berlangsung. Ketika saya bangun, dari segi pikiran, rukya itu masih berlangsung. Rukya tersebut memang telah usai, tetapi pikiran yang telah digerakkannya tetap saja masih berjalan.

Asmaa Allah Ditinjau Dari Aspek Sharf

Dan ketika saya pusatkan perhatian ke arah itu, saya heran bahwa dalam pembahasan Asmaa Allah, tidak ada seorang ahli-tafsir pun yang pernah mengupas [masalah tersebut] dari sudut-pandang bahwasanya definisi sharf (saraf; ilmu bentukkata dalam gramatika) – yang secara umum di dalamnya kita ketahui bahwa pada ism/nama tidak terdapat [unsur] zaman/waktu – dapat diaplikasikan pada Asmaa Allah. Dan kalau di dalam ism/nama tidak terdapat [unsur] zaman/waktu, maka akan muncul di hadapan kita masalah azali (sesuatu yg tidak ada permulaannya) dan abadi (sesuatu yang tidak berkesudahan).

Ini suatu permasalahan yang sangat dalam. Penelaahan berkesinambungan sepanjang hidup pun tidak akan dapat meliputinya. Akan tetapi dalam proses berpikir tersebut telah menjadi jelas bagi saya, bahwa definisi sharf itu tidaklah sempurna, bahkan tidak berkelayakap disebut definisi. Sebab, yang dimaksud dengan definisi (ta’rif) adalah sesuatu yang menjelaskan sendiri; yang memaparkan sendiri materi yang dikandung olehnya; yang memaparkan sendiri batasan-batasan yang dimilikinya; yang meliputi setiap unsur dan setiap bagian yang ada padanya. Sedangkan definisi yang demikian itu tidak berkelayakan disandang oleh suatu apapun selain daripada Allah.

Jadi, definisi tersebut tidak mungkin dapat tepat digunakan bagi ism/nama-nama (kata benda) yang dibicarakan oleh [ahli] ilmu sharf. Kalau ada yang tepat, tidak pernah seorang pun menuliskan bahwasanya definisi ini tepat bagi suatu benda tertentu. Dalam kaitan ini, ketika saya menelaahnya lebih lanjut, maka banyak perkara yang tampil di hadapan. Beberapa diantaranya akan saya paparkan di hadapan Anda sekalian pada hari ini.

Pertama-tama, kenyataan yang tampil di hadapan adalah: apa yang dimaksud dengan azali dan abadi? Dan apa makna yang menyatakan bahwa hanya ism/nama sajalah yang tidak mengandung [unsur] zaman/waktu?

Kenyataan yang sebenarnya adalah, jika Anda menelaah Asmaa Ilahi, maka [Anda akan mendapatkan-Nya] azali dan abadi. Sedangkan seluruh perkara zaman/waktu, adalah berkaitan dengan makhluk-makhluk (wujud yang diciptakan). Zaman, pada zatnya, atau waktu pada zatnya tidaklah memiliki makna. Ia merupakan sebuah sifat yang terkandung di dalam suatu penciptaan; berkaitan dengan makhluk, yang mengandung makna berbeda dalam hubungannya dengan setiap makhluk.

Sesuatu Yang Berubah Pasti Terikat Oleh zaman/waktu

Setelah menelaah perkara tersebut, dalam rentetan itu juga saya mengerti bahwa: zaman/waktu memang tidak terdapat pada Allah Ta’ala ialah karena di dalam [Zat]-Nya tidak ada perubahan. Sesuatu yang di dalam zatnya terjadi perubahan, mutlak padanya terdapat [unsur] zaman/waktu. Sedangkan segenap makhluk yang ada, kesemuanya itu tengah berjalan dalam suatu proses peruhahan. Tidak ada suatu benda pun yang telah diciptakan/lahir lalu dia tetap berada dalam kondisi demikian (statis). [Ada dua kemungkinan]: benda itu sedang mengalami perkembangan, atau menjalani degradasi (kemunduran). Benda itu berkembang. ke arah kehidupan, atau semakin condong ke arah kematian.

Dan sembari menelaah perkara tersebut, saya pun jadi mengerti bahwasanya dalam satu waktu yang sama Allah Ta’ala itu berperan sebagai Wujud yang menghidupkan dan sekaligus Wujud yang mematikan. Dan tidaklah benar apabila dikatakan bahwa [Allah Ta’ala] itu dalam waktu tertentu merupakan Wujud yang menghidupkan lalu pada waktu lainnya Dia merupakan Wujud yang mematikan. [Justru] secara berkesinambungan kedua sifat-Nya itu beraksi bersamaan.

Seorang manusia, ketika mengarungi perjalanan hidup, maka setiap detik yang dia tinggalkan di belakang merupakan detik maut/kematiannya. Sedangkan setiap detik yang berkembang di depannya merupakan detik kehidupan baginya. Jadi, kehidupan itu justru muncul dari pintu berakhirnya maut/kematian, sedangkan yang dia tinggalkan di belakang merupakan garis maut/kematian. Berapa pun Anda perkecil bagian-bagiannya, materi ini akan tetap berkelanjutan demikian.

Jika Allah menghidupkan, Allah Ta’ala berfirman: “Aku menimbulkan kehidupan dari [suatu] kematian..” Maka, seluruh perjalanan yang ditinggalkan oleh [ciptaan] itu di belakang, kesemuanya merupakan jejak-jejak kematian baginya. Dan dia telah menerobos ke depan. Bagian yang ada di depan garis perhatasan itulah yang dinamakan kehidupan, sedangkan yang ada di belakang [garis perbatasan] tersebut merupakan kematian.

Nah, sekarang, jika seorang manusia atau suatu bangsa melakukan perjalanan yang bertolak belakang dengan itu, maka yang dia tinggalkan di belakang adalah jejak-jejak kehidupan dan detik demi detik dia tengah memasuki kematian. [Jadi], tidak perduli, apakah Allah menimbulkan. kematian dari kehidupan, atau menimbulkan kehidupan dari kematian, [yang jelas adalah], waktu/zaman merupakan sifat daripada makhluk. Allah yang merupakan Khaliq (Pencipta), pada-Nya tidak ada [masalah] waktu. Sebab di dalam wujud-Nya tidak ada perubahan.

Definisi Ism/Nama Yg Hakiki

Dari sudut-pandang itu, ketika saya kembali menelaah aspek sharf, saya menjadi heran: mengapa tidak ada sebelumnya seorang ahli-tafsir pun atau seorang ahli sharf yang memperhatikan bahwasanya definisi tersebut salah. Mengapa salah? Sebabnya adalah, ism/nama merupakan milik Allah, dan juga dimiliki oleh [benda-benda] selain-Nya. Kalau yang tadi itu merupakan definisi ism/nama, maka ketentuan itu mestinya harus juga berlaku bagi asmaa ghairullaah (nama wujud-wujud selain Allah). Tetapi kenyataannya definisi tersebut tidak pas untuk benda apa pun.

Jadi, ism/nama itu, pada hakikatnya, dari aspek definisi, kalau pun ada, hanyalah milik Allah [semata]. Selain daripada-Nya, tidak ada suatu ism pun. Sebab, tatkala suatu benda tercipta, maka timbullah nama-nya. Akan tetapi, setelah nama (ism) itu terbentuk, setiap detik perubahan yang terjadi pada zatnya justru menafikan nama/ism tersebut. Kecuali nama-nama anugerah yang berkaitan dengan Allah. Nama yang tidak membutuhkan perubahan itu merupakan nama yang mengalir dan hidup.

Sebaliknya, nama [yang kita kenal selama] ini, jika Anda menelaahnya, maka Anda akan mengerti bahwa nama itu pada dasarnya terdiri dari dua macam. Pertama: nama yang kosong dan tidak mengandung makna. Kalian dapat menamakan sesuatu benda sesuka hati kalian. Itu adalah nama yang jamid (statis); suatu nama yang mati. Ia tidak berhak disebut nama. Sebab, definisi kedua daripada nama adalah: [sesuatu] yang mengidentifikasikan suatu benda. Jika di dalam [nama] itu tidak terdapat kemampuan untuk memberikan indentifikasi, itu bukanlah nama.

Oleh karena itu, asmaa (nama-nama) dengan sendirinya akan keluar dari daftar yang kita miliki. Nama sifat yang di dalamnya tidak ada kaitan dengan sifat-sifat Allah Ta’ala, secara konstan tidak akan dapat pas bagi seseorang. [Umpamanya], jika seseorang karena hikmah/kebijaksanaannya yang tinggi dia disebut dan dinamakan hakiym (orang yang bijak), maka tatkala dia mencapai usia renta, dari hari ke hari [potensi] hikmah/kebijaksanaannya akan semakin berkurang…. Jadi, nama tersebut tidak memadai lagi untuk melambangkan sifat-sifatnya itu.

Hakikat Waktu, Zaman & Perubahan

Jadi, segala sesuatu yang terus berubah, di dalam nama-nya pasti terdapat [unsur] zaman/waktu. Dan arti daripada zaman/waktu itu adalah: hari ini dia lain, dan besok dia akan lain lagi (berubah). Dan dari perubahan itulah justru zaman/waktu tersebut dapat dideteksi. Ia dapat diketahui dari kecepatan terjadinya perubahan tersebut. Cobalah Anda bayangkan suatu benda yang di dalamnya tidak ada perubahan. Dia tetap seperti sediakala (statis). Jika ada benda yang seperti itu, berarti dia azali dan abadi. Dan padanya tidak ada [unsur] zaman/waktu.

Jadi, melalui penelaahan ini saya dapat mengerti tentang sifat azali dan abadi yang dimiliki Allah Ta’ala. Hanya Dia lah satu-satunya [Sang Wujud] Yang Bernama (Sahibul Asmaa). Dan setiap ism/nama-Nya itu adalah azali dan abadi, serta tidak ada suatu perubahan pun di dalamnya.

Adapun zaman/waktu yang kita rasakan dalam kaitan dengan Allah, pada dasarnya itu merupakan sifat [kita sebagai] makhluk. Yakni jika kita memandang-Nya dari sudut-pandang makhluk, maka pada Allah itu memang akan tampak adanya suatu zaman/waktu. Hal itu sama seperti apabila Anda berdiri [di sebuah stasiun], lalu kereta api lewat di samping Anda. Jika kereta api itu lewat di sebelah kanan Anda dan melaju ke depan, lalu Anda melihatnya, maka terasa seolah-olah Anda lah yang sedang mundur [dengan cepat] ke belakang. Tetapi, siapa [sebenarnya] yang sedang bergerak, dan siapa yang diam? Ketika peristiwa itu selesai, barulah Anda akan sadar, bahwa benda yang bergerak itu telah melesat maju ke depan, sedangkan wujud yang diam dan statis, berdiri tertinggal di belakang. Ketika kereta api itu telah lewat baru kita sadar: “Saya masih tetap di sini, dan tidak bergerak sedikit pun.” Dan kalau kereta api itu lewat di sebelah kiri Anda serta melaju datang dari depan, lalu Anda melihat ke arahnya, maka akan terasa seolah-olah Anda lah yang tengah melesat maju ke arah depan.

Jadi, dalam satu masa yang bersamaan, dengan melihat dari arah kiri, [orang yang melihat kereta-api] itu merasa mundur ke belakang. Dengan melihat dari arah kanan, dia merasa maju ke depan. Jika dilihat dari depan, kereta api melaju dari kanan ke kiri, maka orang itu merasa bahwa dia melaju ke arah kanan. Jika dia melihat ke belakang, dan kereta api melaju dari kiri ke kanan, maka orang itu merasa bahwa dia melaju ke kiri.

Jadi, zaman/waktu adalah sesuatu yang relatif. Dan ia merupakan nama dari suatu perubahan. Dari relatifitas perubahan itulah timbul zaman/waktu. Dari relatifitas perubahan itulah timbul kecepatan.

Akan tetapi, wujud yang sedang bergerak pun, apabila melihat suatu benda yang berdiam tegak, kadang-kadang dia juga menganggap bahwa justru benda itu lah yang sedang bergerak, dia sendiri tidak. Khususnya di masa kanak-kanak, ketika kami masuk ke stasiun, kami dengan penuh rasa tertarik sering menyaksikan hal itu. [Dari dalam kereta api yang melaju] kami melihat sebuah kereta api lain [yang berhenti], terasa seolah-olah kamilah yang berhenti dan kereta api yang satu lagi itu yang sedang melaju.

Sifat-sifat Allah Tidak Terikat Oleh Zaman/Waktu

Gambaran tentang zaman/waktu dan masa dalam kaitan dengan Allah, itu hanya timbul dalam sudut ‘pandang’makhluk. Sebaliknya, di dalam Zat Allah tidak ada [unsur] zaman/waktu. Setelah menelaah perkara ini, perhatian saya tertuju pada banyak perkara lainnya. Di antaranya pada Surah AI-Fathihah. Saya jadi heran melihat bahwa di dalam surah yang agung ini, dalam uraiannya tentang Allah Ta’ala, tidak ada masalah zaman/waktu.

“Bismillaahirohmaanirrohiym”, tidak ada masalah zaman/waktu. Kemudian firman- Nya: “Alhamdulillaahi Rohhil’aalamiyn, tidak ada masalah zaman/waktu. “Arrohmaanirrohiym”, [juga] tidak ada masalah zaman/waktu. “Maaliki yaumiddiyn”, tidak ada masalah zaman/waktu. Dia lah Sang Malik sejati. Dan ketika masalah manusia mulai disinggung, maka barulah tampak adanya [unsur] zaman/waktu. “Iyyaaka na’buduw wa iyyaaka nasta’iyn, ketika makhluk menjalin hubungan dengan Allah, maka terasa bahwa Allah itu tengah bergerak dalam suatu zaman/waktu. Padahal itu sebenarnya zaman/waktu milik makhluk, yang tengah dirasakan. Sedangkan Allah tetap azali dan ahadi, serta tidak heruhah-uhah. Tidak ada suatu perubahan pun yang terjadi pada-Nya.

Sembari menelaah perkara ini saya teringat, bahwa para filsuf Yunani pun telah memperdebatkan masalah ini sejak lama. Plato dan Aristoteles juga membahas masalah ini. Mereka mengatakan, suatu benda yang bergerak, akan membuang energinya. Oleh karena itu, jika pada Allah Ta’ala terdapat gerakan dan dalam [proses] penciptaan terdapat unsur gerakan Allah, maka Dia tidak dapat berupa Tuhan yang kamil, dan Dia tidak dapat menjadiTuhan yang abadi.

Setelah mengangkat permasalahan itu mereka telah berusaha untuk memberikan pemecahan-pemecahan. Namun khususnya yang mengakui adanya Tuhan dari antara kedua mereka, mengatakan: memang perkara ini di luar daya nalar kita, tetapi iradah Tuhan [beraksi] tanpa gerakan. Sedangkan [iradah llahi] itu menciptakan gerakan-gerakan (aksi). Pada hakikatnya inilah perkara yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah Ta’ala atau Asmaa [Allah. Di dalamnya tidak ada perubahan. Namun tatkala Dia menciptakan suatu makhluk , bersamaan dengan makhluk itu Dia ciptakan pula zaman/waktu.

Nah, jantung [kita] berdenyut dengan suatu kecepatan [tertentu]. Dengan [kecepatan] itulah timbul zaman/waktu seseorang. Jantung hewan-hewan kecil lebih cepat berdenyut. Umur mereka pendek. Zaman/waktu mereka pun berbeda-beda ukurannya. Inilah perkara yang meliputi segala sesuatu. Sampai-sampai para ilmuwan, hingga zaman tertentu berpendapat bahwa proton adalah sesuatu yang azali dan ahadi. Pada mulanya mereka memang tidak menyebutkannya azali, tetapi mereka jelas mengatakannya ahadi. Mereka mengatakan bahwa [proton] itu tidak dapat hapus/punah.

Akan tetapi, jika kita menelaah sifat-sifat Ilahi atau Asmaa Ilahi dari sudut pandang yang tengah saya paparkan ini, maka tidaklah mungkin ada suatu makhluk yang terlepas dari perubahan. Adalah mutlak di dalam makhluk terdapat perubahan. [Justru] itulah sebabnya [makhluk] berkembang ataupun maju. Atau, ia mulai menurun atau berkurang. Nah, mengenai anggapan tentang proton , bahwa [ mungkin] ia berkembang/bertambah , seluruh ilmuwan menolak anggapan itu. Tidak ada lagi pertanyaan di situ . Ia tidak berkembang; ia tidak bertambah sedikitpun. Oleh karenanya perkara yang kedua pasti terjadi. Yakni di dalamnya sedikit-banyak dan dari aspek tertentu pasti berlangsung perubahan (berkurang). Nah, pada zaman sekarang, para ahli fisika top mengakui bahwa mereka sampai saat ini, berdasarkan eksperimen, belum dapat memaparkan suatu bukti telak yang menyatakan berapa umur proton. Namun tidak diragukan lagi, bahwa tentu ia memiliki umur. Sesuatu yang lahir/diciptakan, mutlak di dalamnya terjadi perubahan . Sedangkan kondisi abadi (tanpa perubahan) hanya dimiliki oleh Allah Ta’ala. Selain daripada-Nya tidak ada yang demikian.

Pandangan Hz. Masih Mau ‘ud as. Tentang Asmaa Allah

Setelah menelaah permasalahan tersebut, saya teringat, bahwa Hz. Masih Mau’ud adalah Imam zaman ini. Jika para ahli fiqih; ahli-tafsir; ilmuwan terdahulu, setelah menelaah perkara ini tidak sampai kepada point tersebut, tidaklah mungkin Allah Ta’ala tidak mengajarkan point itu kepada Hz. Masih Mau’ud as.. Maka saya instruksikan supaya segera disediakan semua tulisan Hz. Masih Mau’ud as. yang menyangkut masalah tersebut. Seluruhnya tentu tidak akan mungkin. Tetapi seberapa yang sudah diperoleh, tepat sekali berupa jawaban terhadap permasalahan [yang] saya [paparkan ini]. Nah, itu merupakan kebesaran Allah, dan merupakan tanda agung akan kebenaran Hz. Masih Mau’ud as..

Saya bacakan di hadapan Anda sekalian tulisan beliau as.. Yang menjadi topik bahasan adalah: nama-nama apa y ang telah diajarkan Allah kepada Adam? Dalam pembahasan ini H z.Masih Mau’ud as . menggunakan su atu dasar/pijakan yang mendapat sokongan dari Allah Ta’ala dan yang dip enuhi oleh nur Ilahi.

Berkenaan dengan nama -nama (asmaa) yang dimiliki oleh ghairullaah (wujud-wujud selain Allah), banyak ditemukan perselisihan pendapat. Yakni, dalam rujukan Adam, nama-nama apa saja yang telah diajarkan kepada beliau? Sebagian mengatakan, itu adalah Asmaa Ilahi. Dan jika itu Asmaa Ilahi, maka timbul perkara lain. Pada kesempatan ini saya akan membicarakan bagian yang kedua: apa yang dimaksud dengan asmaa; bagaimana mengenalinya; asmaa apa saja yang telah diajarkan kepada Adam itu?

Jika definisi sharf (gramatika) diaplikasikan pada kata ism (nama; kata-benda) , maka akan timbul perbedaan antara fi’il (kata-kerja), ism ( kata-benda), dan harf (partikel) . Dan mutl ak harus diakui bahwa [di dalam referensi tentang Adam itu ] Allah Ta’ala tidak ada mengajarkan tentang fi’il, dan tidak pula harf. Yang disebut hanyalah asmaa (bentuk jamak daripada ism), lalu selesai.

Hal yang dipaparkan oleh Hz. Masih Mau’ud as. setelah mengupas pembahasan ini, merupakan suatu kupasan penuh makrifat yang berasal dari Allah Ta’ala. Beliau as . bersabda:

Allah telah mengajarkan nama-nama kepada Adam. Pengajaran itu menunjukkan berbagai perkara. Salah satu di antaranya adalah, Allab Ta’ala telab mengajarkan kalimat melalui musammiyaat (ism; nama-nama). Dan yang dimaksud dengan musammiyaat adalah perkara-perkara [dalam kebidupan kita yang pengungkapannya dapat dilakukan melalui isyarah, tidak perduli apakah itu (pekerjaan) ataupun asmaa-e-makhluqaat (nama-nama makhluk). Sedangkan perkara kedua adalah, [kepada Adam, melalui Bhs. Arab, telah diajarkan hakikat-hakikat dan sifat/potensi-potensi yang tependam di dalam setiap benda.”

Setelah menjelaskan hal itu, berkenaan dengan manusia, beliau as. menjelaskan:

Sejauh yang berkaitan dengan nama-nama manusia, padanya tidak dapat diterapkan klasifikasi fi’il dan hmf. Tidak ada klasifikasi zaman/waktu.”

Beliau as. menjelaskan lebih lanjut: “Jika engkau mengatakan bahwa para ahli-gramatika telah mengkhususkan kata ism tersebut hanya untuk asmaa makhsushah (nama-nama khusus tertentu)…” – yakni nama-nama yang mengandung arti dan tidak terikat dengan salah satu dari antara ketiga zaman (dahulu; sekarang; mendatang) – jika engkau mengatakan, ” Bagaimana pula Anda telah memasukkan fi’il ke dalam nama-nama? Semuanya telah Anda masukkan., Padahal para ahli-gramatika mendefinisikan bahwa di dalam nama-nama tidak terdapat zaman/waktu?” Nah, dikarenakan ini merupakan pembahasan tentang makhluk, dalam kaitan itu Hz. Masih Mau’ ud as. bersabda:

Jawabannya adalah, itu merupakan istilah kelompok [ahli-gramatika] tersebut. Sedangkan bila kita telaah secara hakikatnya, itu merupakan istilah yang tidak dapat dipegang. Jika kalian menelaah makna ism dari segi makna-makna yang hakiki – dengan meninggalkan makna-makna istilah – kalian lihatlah, pengakuan mereka itu benar, bahwa di dalam ism tidak terdapat zaman/waktu. Dengan menelaah perkara itu, secara telak terbukti salah.”

Jadi, di dalam nama-nama makhluk mutlak terdapat [unsur] zaman/waktu. Zaman/waktu itu dapat ditemukan dalam tiga bentuk. Yang pertama, ia memiliki masa awal. [Kemudian] ia memiliki masa akhir. Yang kedua, sebagai makhluk, di dalam dirinya mulai terjadi perubahan. Tidaklah mungkin, sesuatu itu merupakan hasil-ciptaan lalu tidak terjadi perubahan pada dirinya. Sedangkan perubahan adalah nama [lain] bagi zaman/waktu. Jika perubahan terjadi, berarti zaman/waktu pun muncul. Jadi, waktu bukanlah sesuatu yang independen; yang telah diciptakan [tersendiri]. Waktu, merupakan sebuah sifat daripada penciptaan. Sedangkan Khaliq yang melakukan penciptaan, tidak berada di bawah sifat tersebut. Dia justru terlepas dari itu.

Jadi, di dalam Zat Allah tidak ada [unsur] zaman/waktu. Dia sudah ada dari sejak semula dan akan ada selamanya. Itulah artinya, bahwa sesuatu yang di dalamnya tidak ada perubahan, bagaimana mungkin di dalamnya terdapat [unsur] zaman/waktu. Nah, sesuatu yang di dalamnya tidak ada perubahan, statusnya sebagai azali (tidak ada permulaannya) merupakan suatu kesimpulan logika yang mutlak. Tidak ada alternatif lain.

Jadi, hanya ada satu Zat yang dapat dikatakan azali; yang di dalamnya tidak terdapat perubahan. Sedangkan setiap zat yang berubah, adalah mutlak bahwa dia memiliki suatu awal/permulaan. Tanpa itu, zat tersebut tidak akan dapat bermula/muncul Dan prinsip ini telah diakui oleh segenap peneliti; ahli mantik; filsuf; dan ilmuwan di seluruh dunia bahwa sesuatu yang berubah, pasti awal-nya ada, dan akhir-nya pun akan ada.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala, sebagai Khaliq (Sang Pencipta), terlepas dari ikatan zaman/waktu. Dan Dia lah satu-satunya yang memiliki keabadian. Dia tidak berawal, dan tidak pula berakhir.

Sifat. Azali & Abadi Allah Ta’ala

Kutipan-kutipan dari Hz. Masih Mau’ud as. telah terkumpul. Dari antaranya banyak sekali yang menguraikan permasalahan ini dengan kupasan-kupasan yang sangat menakjubkan. Akan tetapi ada sisi kedua, yang saya kira penelaahannya perlu terus dikembangkan. Yaitu: penelaahan terhadap perkara-perkara penciptaan dari aspek tersebut, dan benda yang tidak abadi, perlu diselidiki sampai batas mana ia dapat bertahan; bagaimana hal itu mungkin; dan bagaimana dapat diupayakan. lni adalah suatu perkara yang dapat membukakan banyak pintu kemajuan bagi kita. Akan tetapi pada kesempatan ini saya akan membacakan beberapa sabda Hz. Masih Mau’ud as. yang merupakan nur itu secara keseluruhannya. Permasalahan tersebut akan semakin terbuka melalui kutipan-kutipan ini.

Ini terdapat di dalam buku beliau bernama Purani Tahriraei, yang termaktub di dalam Rohani Khazain jilid 2. Dari itu terbukti segenap Asmaaul Husna. Yakni segenap sifat kamilah yang dapat dimengerti oleh akal atas dasar qudrat yang kamil; yang terkumpul di dalam Qudrat tersebut. Yakni, yang dimaksud dengan Asmaa llahi adalah Asmaaul Husna. Dan Alquranul Karim telah menguraikan sifat-sifat tersebut di bawah [istilah] AI-Husna sebagai Asmaa llahi. Dari itulah Hz. Masih Mau’ud as. berpendapat bahwa ism hasan termasuk di

dalam definisi Ism Ilahi. Dan itulah yang benar. Dari aspek tersebut beliau as. bersabda:

“Apa pun penelaahan yang dapat dilakukan oleh akal herkenaan dengan sifat- sifat kamilah [Allah Ta’ala], kemana pun ia sampai, akan ia dapati seluruh sifat kamilah itu dalam hentuk Asmaa Ilahi.

Manusia tidak dapat menerobos melebihinya, dan tidak pula dapat menghindar ke belakang. Tidak ada suatu gambaran husn-e-kamil (keindahan kamil) yang dapat dihayangkan oleh manusia yang ternyata tidak terdapat di dalam Asmaa llahi.”

Kemudian beliau as. bersabda:

Allah Ta’ala selamanya hertindak sesuai dengan sifat-sifat azali dan abarli yang Dia miliki.

Dalam kata lain, bertindaknya [Allah Ta’ala] atas sifat-sifat azali dan abadi itu, dapat disebut sebagai Qanun/Huktun llahi. Namun yang menjadi pembahasan kita adalah: mengapa gejala/tanda-tanda sifat azali dan abadi itu – atau Qanun Qadiym llahi – dianggap terbatas dan dapat dihitung?

Yaa, tanpa diragukan lagi, kita mengakui bahwa seluruh sifat yang terkandung di dalam Zat Allah Ta’ala, gejala/tanda-tanda dari sifat-sifat yang tak terbatas itu akan tampil pada waktu-waktunya…. Dan sifat-sifat itu memberikan dampak terhadap aspek-aspek bumi dan langit para makhluk.

Manifestasi Sifat-sifat Ilahi

Perkara ini memang sangat dalam. Saya kira, jika saya jelaskan kepada [para warga Jemaat] di seluruh dunia yang sedang mendengarkan khutbah Id ini, akan menyita waktu yang banyak. Tetapi yang ingin saya jelaskan adalah, penzahiran/manifestasi sifat-sifat [Allah Ta’ala] pun bebas dari ikatan zaman/waktu. Tidak ada kaitannya sedikit pun dengan zaman/waktu. Materi ini tampaknya berat dan sulit. Namun jika Anda menyimak tulisan- tulisan Hz. Masih Mau’ud as. seperti ini, maka permasalahan ini akan terus terbuka bagi Anda.

Di dalam Alquranul Karim Allah Ta’ala berfirman: “Kulla yawmin huwa fiy sya’nin. Fabi ayyii alaai rohbikuma tukazzibaan – [Setiap hari Dia menampakkan wujud-Nya dalam keadaan berlainan. Maka, dari antara nikmat-nikmat Tuhan kalian, yang manakah yang akan kalian dustakan?]” (Ah-Rahman:30-31).

“Setiap hari, setiap saat, Dia tampil dengan suatu keagungan/kemuliaan [tertentu]. Wahai keduanya; wahai yang kecil dan yang besar; orang-orang besar dan orang-orang kecil; wahai jin dan manusia! Yang manakah nikmat-nikmat Tuhan kalian yang akan kalian dustakan?”

Keagungan/kemuliaan itu menuntut adanya [pihak] yang menyaksikan. Nah, itu adalah salah satu aspek yang terdapat pada keagungan/kemuliaan. Jadi, dari sudut-pandang orang yang menyaksikan, jika Sifat-sifat llahi tampak sebagai sesuatu yang tetap dan tidak berubah, maka akan bangkit suatu pemandangan yang sangat mencekam dan memberatkan kalbu. Sesuatu yang tetap. Di dalamnya tidak ada perubahan; tidak ada perkembangan.

Akan tetapi, dari sudut pandang makhluk, keagungan/kemuliaan [Allah Ta’ala] yang tampil, di dalamnya tidak ada gerakan (pergeseran; perubahan). Keagungan/kemuliaan itu pada zatnya tidak berkaitan dengan waktu. Tetapi, tatkala ia tampil, dikarenakan yang menyaksikannya adalah makhluk, maka penampakkan itu [tampak] berkaitan dengan waktu. Dan penciptaan-penciptaan baru yang tengah bermunculan, itu pun merupakan manifestasi dari penampakkan yang abadi tersebut. Kesemua sifat [Allah Ta’ala] secara konstan beraksi dengan serentak. Adalah suatu anggapan yang salah bila menganggap-Nya [pada suatu kesempatan/waktu tertentu] berhenti tidak beraksi lagi. Jika berhenti, berarti sudah terikat oleh waktu.

Akan tetapi, dalam makna apa sehingga [dikatakan bahwa] Dia tampil [dengan sifat-Nya] secara serentak dalam waktu yang bersamaan, dan walau demikian Dia tetap saja bebas dari waktu? Inilah aspek menarik yang patut ditelaah.

“Kulla yawmin huwa fy sya’nin. Fabi ayyii alaai rohbikuma tukazzihaan – setiap hari kalian akan menyaksikan Aku dalam suatu keagungan/kemuliaan yang baru.” Sebenarnya, salah satu aspek yang terkandung di dalamnya adalah, sifat dan keadaan manusia yang selalu berubah-ubah. Berkenaan dengan Rasulullah saw. Allah Ta’ala berfirman: tatkala engkau menilawatkan Alquran dengan suatu sifat/kemuliaan tersendiri; kadang dengan kemuliaan ini; kadang dengan kemuliaan itu. Maka barulah perkara-perkara ini timbul. Jadi, sifat/pembawaan manusia itu berubah-ubah. Dan bagi setiap sifat/pembawaan akan tampak sebuah kemuliaan/keagungan Allah. Sifat makhluk berubah-ubah. Kebutuhan-kebutuhannya pun berubah. Zaman/waktu berubah. Nah, pada saat demikian bukan berarti bahwa keagungan/kemuliaan Allah itu yang baru lahir, melainkan pada saat itu barulah keagungan/kemuliaan tersebut mulai menampakkan eksistensinya; tampak mulai beraksi.

Adam Pertama Yg Telah Diajarkan Asmaa Allah

Ini adalah materi yang telah diuraikan oleh Hz. Masih Mau’ud as. di dalam berbagai tulisan beliau. Apakah seseorang itu memperoleh kesempatan untuk menelaahnya atau tidak, namun [kesemuanya] itu merupakan tulisan-tulisan sangat menakjubkan berkaitan dengan Sifat Allah Ta’ala, yang terdapat di dalam sekian banyak karangan Hz. Masih Mau’ud as..

Sembari menelaah aspek tersebut, perhatian saya tiga tertumpu pada kata Adam. Secara ringkas saya sampaikan bahwa seluruh perkara yang saya uraikan dalam kesempatan Id ini bukanlah sebagai ucapan yang muluk-muluk, melainkan, saya berusaha membukakan jendela-jendela pikiran Anda sekalian sehingga Anda pun dapat menyaksikannya melalui jendela-jendela itu. Nah, suatu manifestasi yang luar biasa akan terlihat oleh Anda.

Saya dalami juga, siapa yang dimaksud dengan Adam yang kepadanya telah diajarkan nama-nama itu? Satu segi adalah berkaitan dengan Adam pertama. Hz. Masih Mau’ud as. memaparkan terjemahan [ayat Al.-Baqarah:32] tersebut demikian: kepada Adam telah dianugerahkan sumber-sumber ilmu pengetahuan duniawi. Kemudian beliau jelaskan juga bahwa kepada Adam telah diajarkan perkara-perkara yang dapat dijelaskan tanpa melalui bahasa lain; yang dapat diterangkan melalui bahasa isyarah.

Ketika hal ini saya baca, saya menjadi takjub. Kita baru saja memulai program pengajaran bahasa-bahasa di MTA (Muslim Television Ahmadiyya), dan itu justru dengan cara demikian. Betapa kita telah mendapatkan dukungan dari sabda Hz. Masih Mau’ud as.. Cobalah Anda simak sekali lagi, terasa seolah-olah Hz. Masih Mau’ud as. lah yang menguraikan hal itu di hadapan kita.

“Yang dimaksud dengan musammiyaat adalah perkara-perkara [ dalam kehidupan] kita yang pengungkapannya dapat dilakukan melalui isyarah”

Perkara-perkara yang tidak dapat diungkapkan melalui isyarah, tidak dapat dikatakan musammiyaat. Materi ini sangat dalam. Sebabnya, Adam tidak tahu apa-apa. Adam pertama dahulu itu tidak mengetahui satu bahasa pun. Bagaimana Allah Ta’ala telah mengajarkan kepada beliau, selama di dalam diri beliau belum terdapat kemampuan untuk memahami bahasa isyarah, serta dapat mengerti suatu perkara melalui isyarah? [Kalau demikian] berarti Adam sedikit pun tidak dapat mempelajari sesuatu dari Allah Ta’ala kala itu.

Di dalam pembahasan itu, [Hz. Masih Mau’ud as.] juga memasukkan masalah if’al (amal/kata-kerja). Setelah memasukkan ifal tersebut, beliau memaparkan kesalahan-kesalahan definisi [di bidang] mantik dan gramatika. Yakni, [unsur] zaman/waktu terdapat pada setiap makhluk. Oleh karena itu, definisi tersebut tidak dapat diaplikasikan pada makhluk. Cobalah kalian telaah. Kalian akan tahu bahwa dari aspek ini, definisi tersebut sama sekali tidak tepat.

Nah, ketika perhatian saya tertuju pada MTA, justru kita tengah melaksanakan tugas-tugas yang sebenarnya telah dimulai oleh Adam. Yakni kita tengah berusaha mengajarkan bahasa-bahasa persis seperti cara Allah Ta’ala mengajar; bersikap; memberikan ilmu kepada Adam [pada masa awal dahulu].

Dan selanjutnya Hz.Masih Mau’ud as. menyinggung masalah bahasa: “Allah Ta’ala telah mengajarkan secara langsung Bhs. Arab kepada Adam dengan menggunakan isyarah. Dan semakin banyak makna yang dikuasai, bahasa pun dengan sendirinya terbentuk. Di dalamnya semakin banyak tercipta materilartikel-artikel”.

Rasulullah saw. Sebagai Adam Utama

Tetapi, pada aspek lainnya, ada pula seorang Adam yang lain. Yang dimaksud dengan Adam di sini adalah Adam rohaniah. Perkara ini pun berkaitan erat dengan Asmaa Ilahi. [Asmaa itu] tidak hanya ilmu-ilmu duniawi. Dimana saja Hz. Masih Mau’ud as. membahasnya sebagai ilmu-ilmu duniawi, disana yang beliau maksudkan adalah Adam pertama. Dan beliau as. telah memberikan suatu perbedaan yang jelas di situ. Secara rohani, yang dimaksud dengan Adam adalah Yang Mulia Muhammad Mustafa saw..

Jadi, Adam [pertama] yang telah bermula pada masa awal sebagai suatu sumber mata air, telah mencapai titik kesempurnaannya pada zaman Rasulullah saw.. Muhammad Mustafa saw. sebagai Adam, dan ayat suci tersebut pun sangat tepat diaplikasikan pada diri beliau saw. jika Asmaa itu diartikan sebagai Sifat-sifat Allah Ta’ala. “Allama aadamal- asmaa’a kullahaa”, Allah telah mengajarkan seluruh asmaa kepada Adam; tidak ada yang ditinggalkan-Nya sedikit pun (Al-Bagarah:32).

Nah, ayat ini dapat dipahami dalam dua bentuk tersebut. Pertama, perkara-perkara duniawi serta ilmu yang telah diajarkan kepada Adam, kalau bukan melalui sarana ilmuduniawi tersebut maka Adam tidak dapat memasuki ilmu-ilmu rohani pada masa itu. Belajar bahasa; belajar memahami makna-makna tertentu; belajar mengungkapkan makna-makna tersebut; memahami dasar dan falsafah segala sesuatunya. Nah, Hz. Masih Mau’ud as. menjelaskan bahwa semua perkara ini telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada Adam pertama. Dari beliau lah selanjutnya mulai mengalir untaian materi/artikel-artikel lainnya.

Sejauh yang berkaitan dengan Yang Mulia Muhammad Mustafa saw., yang dimaksud dengan “asmaa’a kullahaa” [bagi beliau saw.] adalah segenap sifat Allah Ta’ala. Nah, kalau kita berbicara tentang segenap, itu dari sudut pandang kita sebagai makhluk. Kita tidak dapat berbicara dengan melepaskan sudut pandang makhluk tersebut. Sebab, kalau tidak demikian, pendapat itu akan bertolak-belakang dengan sifat Allah Ta’ala yang sangat tidak terbatas itu.

Jadi, ingatlah, waktu pun timbul dari sudut-pandang makhluk. Dengan punahnya makhluk, ia akan ikut habis. Sedangkan sifat Allah Ta’ala, adalah sesuatu yang tidak terbatas. Namun tatkala makhluk melihat [sosok Allah Ta’ala] dari ruang-lingkupnya, maka sang makhluk hanya akan dapat memahami sifat-sifat tersebut sejauh yang masih dapat dicapai oleh batas-batas [pemahamannya] yang tertinggi. Tidak lebih dari itu. Jadi, “kullahaa” (segenap/seluruh) itu artinya adalah, Allah Ta’ala telah menganugerahkan kemampuankemampuan kepada manusia, dan seorang insan katnii telah bangkit dengan seluruh kemampuan tersebut. Dan sebagai akibat kesempurnaan kemampuan-kemampuan tersebut lah maka sang insan kamil – yang pada dasarnya merupakan Adam rohaniah – itu telah lahir (Rasulullah saw.).

Penerjemahan ini benar, bahkan sangat tepat, sebab yang menjadi topik pembahasan di dalam Alquranul Karim adalah masalah khalifah. Dan sebagai tanggapannya, Allah Ta’ala berfirman bahwa kepada Adam telah diajarkan segenap asmaa/nama. Yang menjadi pembahasan adalah masalah Khalifani/laah. Adam sedikit pun tidak disinggung disitu. Para malaikat mengatakan [kepada Allah Ta’ala]: “Tatkala Engkau akan menciptakan Khalifatullaah; akibat pendelegasian amanat dari Engkau ini maka orang-orang yang bejat akan ingkar. Dan sebagai konsekwensinya akan timbullah kekacauan di bumi; darah pun akan ditumpahkan.”

Dalam menanggapi itu [Allah Ta’ala] berfirman: “Allama aadamal-asmaa’a kullahaa.” Jika, secara utama, yang dimaksudkan di situ bukanlah sang Khalifah Utama (Rasulullah saw.); yang utama dari segi zaman; yang utama dan paling tinggi dari segi derajat/kedudukan; serta yang paling akhir dari segi maksud/tujuan, maka selama itu pula materi tersebut tidak akan relevan.

Tashih & Tahmid Kamil Dari Rasulullah saw.

Jadi, Allah Ta’ala telah mengatakan kepada para malaikat: “Kalian itu tidak dapat membayangkan, apa itu yang dinamakan Khalifanillaah yang bakal Aku ciptakan ini.

Pengetahuan kalian tentang Sifat-sifat Ilahi sangat terbatas. Sedangkan pengetahuan [sang khalifah] ini sangat jauh lebih tinggi dari pada pengetahuan kalian. Ada pun yang kalian katakan bahwa kalian bertasbih serta memanjatkan tahmid/pujian kepada-Ku, apalah arti kesemuanya itu dibandingkan dengan tasbih dan tahmid yang bakal dikumandangkan oleh hamba-Ku Muhammad. Rasulullah saw?”

Itulah Adam yang kepadanya Allah Ta’ala telah mengajarkan Asmaaul Husna. Yakni segenap Asmaaul Husna yang berkaitan dengan manusia; yang berkaitan dengan proses pencapaian derajat paling sempurna bagi manusia. Dan tatkala perkara-perkara tersebut telah diperlihatkan dalam bentuk tamsil – yang berkaitan dengan pribadi Rasulullah saw. – dan setelah memperoleh ilmu-ilmu dari Allah, maka peristiwa-peristiwa yang tampil kemudian, kesemuanya itu diisyaratkan oleh kata “hum”. Dan pemandangan kasyaf ini telah diperlihatkan kepada para malaikat. Pada saat itulah mereka mengakui: “Yaa, kami tidak punya pengetahuan akan itu. Seberapa banyak yang telah Engkau berikan, hanya sekadar itulah ilmu kami. Tidak lebih dari itu.”

Jadi, [dari sini] pun telah terbukti bahwasanya sumber segala ilmu pengetahuan hanyalah Allah Ta’ala. Dan hanya Allah Ta’ala lah yang menganugerahkan ilmu. Sebaliknya, orang yang mendakwakan diri memiliki ilmu yang berasal dari dirinya sendiri, adalah seorang yang jahil/bodoh dan merupakan iblis. Kemudian barulah masuk jawaban dari iblis. Betapa ia telah berlaku takabbur.

Hz. Masih Mau’ud as. bersabda: “Farisyte jiski hazrat me karey igrar-e-Ilahi”, yakni para malaikat adalah [makhluk-makhluk] yang mempersembahkan ikrar/pernyataan [keagungan] Ilahi di hadapan Allah Ta’ala. Namun setan Justru mendakwakan diri sebagai [makhluk] yang memiliki ilmu pengetahuan. Dan secara kasyqf, Allah Ta’ala telah menolak setan tersebut: “Engkau tidak berkelayakan untuk diajak bicara!” Sebaliknya, justru kepada para malaikat perkara ini diajarkan oleh Allah: “Ilmu asmaa yang akan diajarkan kepada Muhammad Rasulullah saw. itu adalah ilmu yang sangat agung. Dan dari segi itu, tatkala manusia akan melihat-Ku, maka Aku pun akan tampak sebagai Wujud yang lebih layak untuk mendapatkan tasbih; lebih layak untuk mendapatkan tahmid. Dan keagungan/kemuliaan-Ku yang sebenarnya, justru akan zahir sepenuhnya pada saat itu. Oleh karena itu, mengapa kalian menganggapnya tidak berguna?”

Hz. Masih Mau’ud as. Sebagai Adam Kedua

Inilah rnateri yang darinya dapat diketahui bahwa sebenarnya yang berhak disebut Adam Utama itu hanyalah Yang Mulia Muhammad Mustafa saw.. Dan dalam kaitan itu, Hz.Masih Mau’ud justru telah menjadi Adam Kedua. Jika Anda menyimak dari masa Yang Mulia Muhammad Rasulullah saw. sampai ke masa Hz. Masih Mau’ud as., sekian banyak ilmu pengetahuan tentang asmaa [yang dipaparkan oleh Hz.Masih Mau’ud as.], dari segi pemahaman dsb., ini bukan hanya sekedar pengakuan belaka. Silahkan simak seluruh kitab yang telah ditulis oleh para ulama terdahulu, maka [terbukti] bahwa uraian-uraian mereka itu tidak mencapai seperscrutus dari kupasan-kupasan Hz. Masih Mau’ud as. berkenaan dengan asmaa tersebut

Jadi, “asmaa’a kullalraa” itu pertama-tama telah diajarkan kepada Yang Mulia Muhammad Mustafa saw.. Dan beliau jugalah yang telah menjadi Adam bagi dunia rohaniah. Dan sebagai hamba beliau, di zaman berikutnya, tatkala nur beliau harus disebarluaskan dan yang akan merubah segenap kegelapan menjadi cahaya yang terang-benderang, maka pada saat itu pun telah dilahirkan pula seorang Adam Kedua. Yakni Hz.Masih Mau’ud as.. Dan kepada beliau pun telah dianugerahkan ilmu tentang asmaa tersebut.

Dari rukya ini saya memahami bahwa di zaman kita ilmu tersebut akan diberikan kemajuan-kemajuan yang lebih hebat. Dan Allah Ta’ala kembali telah memulai suatu era untuk mengajarkan ilmu tentang asmaa tersebut. Di dalam ruang lingkup sains/ilmu pengetahuan maupun di dalam ruang lingkup agama, akan ditemukan rahasia/perkara-perkara baru di bawah pancaran cahaya Asmaa llahi, yang akan menyinari sampai ke dasar-dasarnya.

Acara Lebaran & Ucapan ‘Id Mubarak

Waktu sudah. terlalu lama, sedangkan kita masih harus melakukan beberapa perkara lainnya. Kita memang punya banyak waktu, tetapi ada beberapa kesulitan yang menghalang sehingga terpaksa harus diselesaikan secepatnya.

Yang pertama adalah, hari ini merupakan hari Jumah. Saya sudah instruksikan, sholat Jumah diselenggarakan lebih cepat lebih baik. Pada pukul 12.00 matahari sudah condong, dan lima menit kemudian sudah mulai masuk waktu sholat Jumah. Jadi, kita sebaiknya memulai sholat Jumah pada waktu itu. Sebab banyak sekali saudara-saudara yang akan merayakan hari Id ini. Yakni untuk merayakan Id secara lahiriah.

Santapan berupa Asmaa. Ilahi toh sedang Anda nikmati. Tetapi tatkala Asmaa Ilahi itu menampakkan manifestasinya dalam bentuk musammiyaat, maka ia akan menjadi santapan bagi tubuh. Dan saat itu akan terasa suatu kenikmatan tersendiri. Oleh karenanya kita harus menyediakan juga waktu untuk itu. Jadi, insya Allah, kita akan mulai shalat Jumah secepatnya setelah pukul 12.00. Dan Jumah pun akan singkat saja.

Setelah itu Anda akan sibuk dengan acara masing-masing. Dari [Jemaat-jemaat] Afrika telah diterima sebuah permohonan yang sangat mendesak. Mereka mengatakan: “Huzur telah menetapkan masa tayangan bagi kami sebanyak 4 jam. Oleh karenanya, harap Huzur selesaikan khutbah ini dalam tempo 4 jam itu, atau, tambahkanlah lagi masa tayangan bagi kami.” Nah, inilah hal-hal yang mendesak saya supaya cepat menutup pembahasan ini.

lnsya Allah, sesudah itu ada beberapa hal yang akan kita lakukan. Kita juga akan saling bersalaman. Kaum ibu pun berkeinginan supaya saya datang ke tempat mereka barang beberapa menit saja, untuk mengucapkan “Assalamualaikum.” Sesudah itu kita akan sholat Jumah. Dari segi itu, jika khutbah ini saya tutup, tentu tidak berlebihan.

Sebelum menutup khutbah ini, saya menyampaikan salam penuh kecintaan dari diri saya sendiri dan dari segenap Anda sekalian, kepada warga Ahmadi di seluruh dunia – khususnya yang ikut serta dalam acara kita ini secara langsung [melalui MTA]. Dan saya menyampaikan hadiah “Id Mubarak”.

Selain itu, orang-orang yang tidak dapat mengikuti langsung, melalui mereka yang telah mendengarkan ini, sampaikanlah kepada orang-orang [yang luput] itu, “Assalamualaikum” dari saya dan juga hadiah “Id Mubarak”.

Banyak berdatangan fax dan telepon dari luar negri. Saya telah menyimak kesemuanya. Saya menelaahnya dengan penuh ketulusan serta kecintaan seperti halnya ketulusan dan kecintaan mereka dalam mengirimkan fax maupun telepon itu. Jadi, dari segi itu, saya ingin menyampaikan kepada mereka, bahwa pada saya maupun pada staf saya tentu tidak ada tenaga untuk menjawab langsung satu persatu kiriman mereka. Hal itu tidak memungkinkan. Namun saya mengucapkan terima kasih atas pesan-pesan Hari Raya tersebut. Jazakumullaah ahsanul jaza. Semoga Allah Ta’ala menjadikan id ini sangat beberkat bagi Anda sekalian.

Imbauan Doa Untuk Orang-orang Yg Teraniaya & Generasi Mendatang

Di dalam doa Id ini, tentu Anda akan mengenang saudara-saudara kita yang teraniaya. Yakni seperti yang telah saya tekankan pada kesempatan doa kemarin [setelah menutup acara Daras. Quran.]. Ada satu hal yang terlupa kemarin. Yakni untuk mendoakan generasi mendatang. Ingatlah di dalam doa-doa Anda anak-anak keturunan Anda di masa mendatang. Sebab taufik untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan baik yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada anak-anak keturunan kita, itu bukanlah pekerjaan yang memakan waktu satu atau dua tahun. Pekerjaan-pekerjaan itu menuntut penyelesaian sampai ratusan tahun.

Oleh karenanya, doakanlah, semoga Allah Ta’ala yang langsung akan tetap menegakkan/melestarikan anak-anak keturunan kita. Sebab hasil akhir dari anak-anak keturunan itulah yang merupakan buah hasil bagi segala upaya gigih yang dilakukan oleh seorang saleh. Jika seorang yang saleh telah membatasi upaya-upaya baiknya hanya sampai pada diri pribadinya saja, dan anak-anak keturunannya tidak dapat meneruskan amal-amal baik tersebut, itu merupakan kerugian yang sangat besar. Untuk itulah Allah Ta’ala telah mengajarkan doa ini kepada kita:

[Artinya: “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami agar istri-istri kami dan keturunan kami menjadi penyejuk mata kami; dan jadikanlah kami imam hagi orang- orang yang hertakwa”] (Al-Furqan:75).

Doa ini dapat juga dipakai untuk perorangan. Dan kalau sang istri yang memanjatkannya, maka azwaajinaa di situ berarti suami-nya. Kalau sang suami yang memanjatkannya, berarti itusang istri. “Wadzurriyaatinaa”, dan anugerahkan jugalah kepada kami kesejukan mata bagi
anak-anak keturunan kami di masa mendatang.

Apa yang dimaksud dengan kesejukan mata bagi anak-anak keturunan? Nah, di situ bukan berarti kemajuankemajuan duniawi. Kemajuan-kemajuan duniawi itu bersifat sementara.

Dan mata orang-orang mukmin tidak dapat menjadi sejuk hanya karena kemajuan-kemajuan duniawi.

“Waj’alnaa lilmuttaqiyna imaamaa”, dan jadikanlah supaya kami kembali kepada Engkau dalam keadaan sebagai pemimpin bagi orang-orang yang muttaqi. Yakni, ketika kami hadir ke hadapan Engkau, kami benarbenar berkelayakan disebut orang-orang muttaqi pada pandangan Engkau. Dan muttaqi pun bukan hanya terbatas pada diri sendiri saja, tetapi anak-anak keturunan kami pun hendaknya orang-orang muttaqi – yaitu yang akan terus berbaris panjang bergerak ke singgasana.

Inilah perkara yang berkali-kali telah saya uraikan. Hz. Masih Mau’ud a.s. mengungkapkan di dalam sebuah bait syair beliau, dan syair ini benar-benar menyentuh kalbu dengan sangat menakjubkan. “Ye ho me dekhlu taqwa sabhi ka. Jab ae wagat meri waqat sikha “. Yakni, “Aku pergi meninggalkan anak-anakku dalam keadaan menyaksikan mereka sebagai orang-orang yang muttaqi.”

Jadi, ini adalah doa yang sangat penting. Kemarin saya tidak ingat, dan tidak ada yang mengingatkan saya. Nah, ingatlah anak-anak keturunan anda sekalian di dalam doa Id ini. Semoga untaian kebaikan/amal saleh ini terus berkelanjutan hingga hari kiamat. Dan semoga mereka semakin maju dan maju.

Memanjatkan doa agar mereka jauh lebih maju dari kita, jika anda perhatikan doa seperti itu, adalah suatu hal yang sangat sulit. Memanjatkan doa supaya anak-anak keturunan di masa mendatang dapat meraih kemajuan yang lebih hebat daripada kita, adalah suatu doa yang sulit.

Akan tetapi seseorang yang memiliki kecintaan terhadap Allah Ta’ala dan terhadap amanat-Nya, dia dengan sendirinya akan mempelajari cara memanjatkan doa yang demikian.

Jadi, memanjatkan doa bagi generasi mendatang – semoga anak-anak keturunan kita pun lahir nantinya generasi-generasi yang lebih baik – merupakan tanda kecintaan kita terhadap Allah Ta’ala. Nah, panjatkanlah doa demikian.

Dan panjatkan juga doa bagi para sesepuh kita yang telah melakukan tugas-tugas besar; yang telah mendapatkan taufik dari Allah Ta’ala untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan agung. Doakan juga bagi anak keturunan mereka. Janganlah batasi doa tadi hanya pada anak-anak keturunan anda saja. Banyak para sesepuh kita yang anak-anak keturunan mereka sampai saat ini masih memperoleh taufik untuk berkhidmat di dalam Jemaat. Doakanlah semoga Allah Ta’ala mengkokohkan mereka dalam pengkhidmatan-pengkhidmatan itu; membuat mereka lebih maju di jalan-jalan tersebut; dan tatkala mereka wafat, semoga mereka wafat dalam keadaan menyaksikan ketakwaan para generasi penerus mereka., Dan masukkanlah doa ini ke dalam doa-doa yang akan anda panjatkan.

Pengkhidmatan untuk Orang-orang yang Menderita

Kepada orang-orang yang menanggung penderitaan di jalan Ahmadiyah pun saya sampaikan “Assalamu’alaikum ” dan hadiah “Id Mubarak”. Kepada segenap warga Ahmadi – besar, kecil, tua, muda, pria, wanita dan anak-anak – saya berharap semoga anda sekalian tidak melupakan perkara-perkara yang telah saya amanatkan sebelumnya. Ingatlah, anda harus membuat acara-acara khusus untuk mengkhidmati orang-orang miskin.

Kepada Jemaat Sierra Leone secara khusus telah saya berikan instruksi tentang hal itu. Dari sana pun sudah ada tanggapan. Orang-orang yang menderita, yang terpaksa mengungsi meninggalkan kampung halaman mereka, keadaan mereka serta tidak menentu. Mereka sangat menderita. Pada hari ld ini, paling tidak, buatlah rencana sedemikian rupa, supaya dalam kesempatan ini perut mereka tidak kosong kelaparan.

Jemaat Sierra Leone pertama-tama memberikan rencana skala kecil. Saya katakan, tidak. Saya ingin skala besar. Coba kembangkan lagi. Berikan mereka makanan, sejauh taufik yang ada. Allah Ta’ala akan menyediakan dananya. Maka dari mereka diterima informasi bahwa mereka telah mengembangkan program tersebut secara luas. “Huzur tidak usah risau. Insya Allah kami upayakan supaya jangan ada seorang pun yang masih kelaparan di kawasan kami, tanpa mendapat makanan.”

Nah, makanan pun diberikan, dan pesan pesan ruhaniah juga disampaikan. Tetapi pesan-pesan ruhaniah itu jangan disatukan dengan [bantuan] makanan tersebut. Masalah pesan keagamaan itu sendiri. Pada saat-saat kemiskinan memuncak, mencampurkan pesan-pesan keagamaan dengan upaya pengkhidmatan, tidak dibenarkan.

Oleh karenanya, jangan satukan kedua perkara itu pada saat ini. Kembangkan secara terpisah gerakangerakan pertablighan anda. Dan kembangkan juga sendiri gerakan-gerakan pengkhidmatan sosial anda.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik yang terbaik kepada kita untuk menerapkan semua perkara ini. Amin.
P
ent : MI /18-03- 95

(Visited 27 times, 1 visits today)