Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis–ayyadahul-Laahu Ta’aalaa binashrihil-‘Aziiz pada 23 Januari 2004 di Masjid Fadhl, London

“Assalaamu‘alaikum wa rahmatul-Laah”

. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَ حْدَهٗ لَا شَرِيْكَ لَهٗ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَ رَسُوْلُهٗ .

. أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطٰنِ الرَّجِيْم . بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ .

. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ . الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ . مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ . إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ . إِهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ . صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ .

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ
وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ
وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang tua/ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya kalian. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (An-Nisaa’ 37).

Pada khutbah yang lalu saya sedikit telah menyampaikan terkait dengan perlakuan baik terhadap ke dua orang tua dan hak-hak mereka. Kini, dalam ayat yang telah saya tilawatkan tadi Allah berfirman bahwa “Sembahlah Aku (beribadahlah kepada-Ku), dan beribadahlah sebagaimana ibadah yang seharusnya. Baik berhala kecil atau berhala besar, atau berhala yang ditegakkan di dalam hati bagaimanapun juga jangan dapat mencegah kalian untuk beribadah kepada-Ku”.

Kemudian, terdapat perintah berlaku baik kepada kedua orang tua, “Perlakukanlah mereka dengan baik”. Perlakuan baik itupun tertera di berbagai tempat dalam berbagai ulasan-ulasan. Selanjutnya Dia berfirman bahwa, “Inilah merupakan dua hal mendasar (inti) yang andaikata itu terlahir dalam diri kalian maka untuk meraih kemajuan lebih lanjut akan ada lagi jenjang-jenjang (tahapan-tahapan) yang akan harus dilalui. Untuk mengamalkan agama pada ajaran yang benar kalian harus menunjukkan standar akhlak yang lebih tinggi lagi.

Apabila standar ini dapat berdiri tegak maka kalian berhak disebut orang Islam dalam arti hakiki, dan jika standar ini kalian telah tegakkan dan kalian telah menciptakan akhlak-akhlak yang tinggi dalam diri kalian maka benarlah bahwa kalian telah mencapai maksud kalian dan kalian telah menjadi waris dari karunia-karunia Allah dan – insya Allah – kalian akan terus menjadi waris karunia-karunia itu. Namun jika standar akhlak yang tinggi tidak kalian tegakkan dan terus menunjukkan ketakabburan dan setiap saat senantiasa terus berfikir bahwa ‘dengan cara bagaimanapun saja harus menonjolkan diri saya’, maka ingatlah (waspadalah) bahwa ini merupakan perkara-perkara yang sangat tidak disukai Allah, dan kalau demikian kalian tidak lagi menjadi orang-orang yang dapat membayar (memenuhi) hak-hak hamba-hamba-Nya, bahkan menjadi orang-orang yang menyia-nyiakan ibadat-ibadat kalian sendiri.

Andaikata kalian tidak menegakkan standar akhlak mulia yang tinggi, maka sejalan dengan itu kalian pun tengah menyia-nyiakan ibadat-ibadat kalian juga”.

Standar apa yang Allah inginkan untuk kita tegakkan? Dia berfirman, “Standar itu adalah perlakukanlah karib kerabat dengan baik. Karib kerabat dari pihak ibu bapak kalian yang merupakan karib kerabat kalian, karib-kerabat dari serahim/seibu. Kemudian orang-orang yang sudah nikah, karib kerabat baik dari pihak istri atau dari pihak suami. Semua ini adalah termasuk (tergolong) dalam kategori karib kerabat. Dan hal perlakuan baik terhadap semua, itu terdapat juga (termasuk di dalamnya) perintah yang sama, baik itu bagi perempuan maupun laki-laki, perintah itu sama. Yakni, apabila laki-laki dan perempuan satu dengan yang lain memperlakukan dengan baik kepada karib kerabat, bersikap baik terhadap keluarga dekat kedua belah pihak, berupaya membayar (memenuhi) hak-hak mereka maka jelas sekali jalinan cinta dan kasih- sayang di antara suami dan istri dengan sendirinya akan terus tumbuh berkembang. Mereka akan berupaya menunaikan hak-hak satu dengan yang lain, yakni melindungi ikatan tali kekerabatan, maka kalian akan menjadi orang-orang yang Aku senangi”.

Kemudian berfirman bahwa orang yang menjalani kehidupan bahagia dalam rumah tangga dia menjadi fana (larut) dengan lingkungannya sehingga tidak lagi khawatir dengan lingkungan sekitar. Maka Allah berfirman bahwa “Kalian memang telah meraih sebagian dari kerelaan (keridhaan) Aku, sebagian pekerjaan kalian tengah laksanakan, sejumlah petunjuk-petunjuk Aku kalian tengah amalkan, namun demikian standar orang yang beriman sungguh sangat tinggi, karena masih banyak tahapan-tahapan perlakuan baik yang kalian harus lalui, barulah kalian patut untuk disebut ‘ibaadurrahmaan (hamba Tuhan Yang Maha Pemurah).

Salah satu dari antara itu adalah perlakukanlah anak-anak yatim dengan baik, perhatikanlah pula mereka, janganlah biarkan mereka merasakan rasa kehilangan dalam masyarakat dan ingatlah hadits [Rasulullah saw.] yang mengatakan bahwa “Aku dengan orang-orang yang memelihara anak yatim akan bersama-sama dalam surga seperti ini sebagaimana [dekatnya di antara] dua jari”.

Panti Asuhan Anak-Yatim & Amanat Untuk Para Amir Nasional

Nah, dengan karunia Allah di dalam Jemaat sangat baik sekali penanganan terhadap anak yatim. Penanganan pada tingkat pusat pun sangat baik sekali meskipun namanya disebut ”Gerakan Seratus Anak-anak Yatim“, namun di bawah asuhan Panti Asuhan itu ratusan anak-anak yatim dipelihara sepenuhnya hingga mereka baligh, menyempurnakan pendidikan dan mendapat pekerjaan. Demikian pula tengah dipenuhi dan akan terus dipenuhi pula pengeluaran- pengeluaran pernikahan-pernikahan anak-anak perempuan yang miskin, dan dengan karunia Tuhan dalam hal itu Jemaat membantu dengan lapang dada dan kebanyakan para warga Jemaat yang mampu merekalah yang memberikan uang kepada Yayasan. Alhamdulillaah, jazakumullaah, saya sampaikan rasa ucapan terima kasih kepada semuanya.

Kini, selebihnya saya katakan pada segenap Amir seluruh dunia bahwa di negara Saudara masing-masing, periksalah di negara Saudara berapa jumlah anak-anak yatim Ahmadi yang lemah dari segi ekonomi, tidak dapat mejalani pendidikan, menemui kesulitan dalam memenuhi biaya-biaya makan dan minum mereka, sampaikanlah kepada saya. Khususnya, di negara-negara Afrika, Bangladesh, Hindustan, sangat kurang sekali perhatian ke arah ini, harus tambah memberi perhatian lagi ke arah ini.

Susunlah program yang rapi lalu mulailah menjalankan pekerjaan itu dan peliharalah anak-anak yatim di negara Saudara masing-masing. Harapan saya – insya Allah – dari segi materi orang-orang yang mampu dalam Jemaat akan ikut ambil bagian dalam pekerjaan mulia ini dan – insya Allah – biaya-biaya yang diperlukan untuk menangani itu tidak akan mengalami kekurangan. Tetapi para Amir Jemaat harus berupaya melakukan pemeriksaan ini dan mengetahui perincian-perinciannya selambat-lambatnya akan sempurna dalam tiga bulan mendatang dan sesudah itu baru kirimkan kepada saya, semoga Allah menganugerahi kepada semuanya taufik dan kepada kita pun Allah anugerahi taufik untuk dapat memenuhi hak-hak anak-anak yatim.

Kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Berbuat baik pulalah kepada orang-orang miskin”. Dalam kelompok orang-orang miskin itu termasuk juga orang-orang yang mengalami kesulitan dalam apa saja. Penuhilah keperluan-keperluan mereka. Pemeriksaan untuk itu pun setiap orang Ahmadi seyogianya senantiasa harus melakukan pamantauan di lingkungan mereka masing-masing.

Orang Miskin & Tetangga

Janganlah mengambil kesimpulan bahwa yang dimaksud orang-orang miskin hanyalah orang-orang yang meminta-meminta. Justru orang-orang yang meminta-minta dengan cara meminta-minta mereka itu sampai batas tertentu dapat memenuhi keperluan-keperluan mereka. Tetapi banyak sekali orang-orang miskin yang bertahan menghadapi penderitaan, tetapi mereka tidak siap (tidak suka/enggan) untuk meminta-minta. Dan mereka menjadi penyempurnaan dari ayat. لأيَسْألُونَ النَّاسَ إلْحَافَا (mereka tidak meminta-minta pada orang-orang). Maka berupayalah menjadikan mereka dapat berdikari.

Kemudian beliau bersabda bahwa “Tetangga juga berhak menerima perlakuan baik kalian itu dan yang paling berhak adalah tetangga kalian juga, perlakukanlah mereka dengan baik”. Bahkan penekanannya sedemikian rupa beliau tegaskan sehingga terfikir oleh kami, kata para sahabah, bahwa kini dalam harta warisan pun tetangga akan dinyatakan berhak.

Bersabda bahwa “Dari antara tetangga kalian terdapat pula karib kerabat kalian, baik itu keluarga dekat atau dari keluaga jauh. Tentu terfikir oleh kalian bahwa marilah kita berbuat baik kepada mereka karena mereka adalah keluarga kita, keperluan-keperluannya seyogianya kita harus penuhi”. Beliau bersabda bahwa “Tidak hanya terhadap tetangga yang memang keluarga, bahkan tetangga yang bukan keluarga kalianpun berhak mendapat perlakuan baik kalian, terhadap mereka pun perlakukanlah dengan baik. Kemudian teman sejawat kalian yang duduk bersama kalian itu semuanya berhak mendapat perlakuan baik kalian”.

Hadhrat Khalifatul-Masih I bersabda: “Di dalam itu termasuk juga orang-orang yang duduk bersama kalian di satu tempat duduk (dalam perjalanan). Kini lihatlah betapa luas ruang lingkupnya. Tidak hanya rekan seagama, tidak hanya rekan kalian saja, bahkan orang yang duduk bersama di sekolah, sekolah tingkat menengah, di universitas pun berhak untuk mendapat perlakuan baikmu; perhatikanlah juga mereka, berbuat baiklah dengan mereka, hadapilah mereka dengan akhlak yang mulia. Kemudian, di pasar-pasar terdapat para pemilik toko, satu dengan yang lain perlakukanlah dengan baik dan dengan akhlak yang luhur. Kemudian para pegawai di kantor-kantor, para Kepala Kantor dan para bawahan”.

Nah, Hadhrat Khalifatul-Masih I bersabda bahwa bukan hanya para pimpinan di kantor atau para bawahan, bahkan di departemen dimana Saudara- saudara bekerja setiap pegawai yang bekerja di departemen itu termasuk dalam katagori teman sejawat (teman duduk) Saudara-saudara dan berhak memperoleh perlakuan baik Saudara-saudara.

Kemudian pada saat dalam perjalanan, saat duduk di bus, saat duduk di kereta api orang-orang yang sama-sama duduk di kereta api inipun termasuk dalam kelompok ini perlakukanlah mereka dengan baik. Terkadang para musafir mengantuk, sering kali saya saksikan seperti itu, maka – sangat disayangkan – jika beradu dengan pundak atau dengan seseorang beradu maka musafir yang lain menjadi marah sambil berucap, “Duduklah, urus sendirilah diri Anda!”. Nah, hal-hal ini merupakan perkara kecil-kecil, namun karena itu terhitung dalam katagori tetangga, termasuk dalam katagori “orang yang duduk bersama kalian” karena itu sikapilah mereka dengan sikap yang baik.

Kemudian, satu adalah seorang musafir perlakukanlah musafir yang lain dengan baik. Selain itu terkadang dalam perjalanan ditemui kesulitan-kesulitan. Kereta rusak, bis rusak, mobil rusak, tiba di suatu tempat dan memerlukan pertolongan Saudara-saudara maka seyogianya Saudara-saudara memberikan bantuan, hendaknya memberikan petunjuk kepadanya, dan selama kesusahannya belum hilang (dibantu) seyogianya memberikan bantuan, semua ini berhak memperoleh perlakuan baik.

Kemudian berfirman, “Hamba sahaya kalian perlakukanlah pula dia dengan baik”. Memang, pada zaman ini gambaran tentang adanya “hamba sahaya” sudah tidak ada lagi, pada zaman yang lampau hamba sahaya itu ada. Tetapi para karyawan Saudara-saudara perhatikanlah keperluan-keperluan mereka, jika memerlukan bantuan berupayalah Saudara-saudara memenuhi keperluan mereka. Perhatikanlah keperluan-keperluan mereka dalam keadaan susah dan senang. Anak-anak mereka jika menemui kesulitan akibat himpitan ekonomi sehingga tidak dapat menjalani pendidikan maka bantulah mereka dan ajarilah mereka. Jika ada di antara mereka yang jenius (berbakat) dan setelah menempuh pendidikan menjadi orang yang mapan maka untuk Saudara-saudara tentu nerupakan faktor ganjaran yang berkelanjutan.

Nah, inilah merupakan ajaran Islam yang indah yang dengan perlakuan baik Saudara-saudara dapat membangun masyarakat yang baik. Dan ada lagi hal-hal lain yang mana terdapat pula yang berkenaan dengan perlakuan baik dengan para tahanan dan para pasien yang sakit dan lain sebagainya. Jadi, apabila setiap orang menjadi orang yang berbuat baik kepada satu dengan yang lain dalam wilayahnya masing-masing maka kekacauan dunia akan terkikis habis dengan sendirinya dan kemudian mereka pun akan menjadi orang-orang yang beribadat kepada Tuhan, sehingga kemudian ini akan mendatangkan keuntungan demi keuntungan. Dan dewasa ini dengan perincian itu perlakuan baik ini tidak ada yang dapat mengerjakan kecuali orang-orang Ahmadi. Ini merupakan tanggung jawab besar yang harus kita emban karena itu sangat penting sekali memberikan perhatian yang serius ke arah ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as. dalam mengomentari surah Nisa’ ayat 37 bersabda: “Sembahlah Allah dan janganlah menyekutukan-Nya dengan apapun dan berbuat baiklah kepada ibu bapak dan kepada mereka yang merupakan karib kerabat – (dalam kalimah ini termasuk juga anak-anak, saudara dan semua keluarga/karib kerabat baik yang dekat maupun yang jauh kesemuanya termasuk di dalamnya) – Dan kemudian berfirman “Berbuat baik pulalah kepada anak-anak yatim dan kepada orang-orang miskin, kepada tetangga yang memiliki ikatan kekerabatan dengan kalian juga dan terhadap tetangga yang asing, dan terhadap rekan dalam suatu pekerjaan atau yang sama-sama dalam perjalanan, atau yang bersama-sama dalam shalat atau bersama sama dengan kalian dalam mencari ilmu agama dan mereka yang musafir dan segenap binatang yang yang berada dalam genggaman (penguasaan) kalian, berbuat baiklah terhadap semuanya. Allah tidak menjadikan orang-orang yang arogan sebagai kawan dan orang yang membangga-banggakan diri dan orang yang tidak mengasihi orang lain”. Casymai Makrifat & Ruhani Khazain jilid 23, hlm. 208-209.

Kini beberapa hadits saya akan sajikan. “Hadhrat Said bin ‘ash menerangkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hak saudara tua pada adik-adiknya yang kecil adalah sebagaimana hak bapak terhadap anak-anaknya. Yakni saudara tua/yang besar berada pada posisi bapak bagi anak- anaknya karena itu sopan santun dan memberikan pernghormatan padanya merupakan kewajiban”. Marasil Abu Daud bab fi birril-waalidain hlm. 197.

Terdapat sejumlah orang yang tidak menghormati saudara-saudara tuanya. Jangankan berbuat baik, bahkan justru memperlakukan mereka daegan sikap lancang. Mereka menyeretnya ke pengadilan, berupaya dari segala segi untuk mengorek-ngorek aibnya. Nah, orang-orang itu seyogianya mengambil pelajaran dari kisah itu.

Terkait dengan hak-hak ayah, Saudara-saudara telah menyimak pada khutbah yang lalu. Kemudian di dalam ini terdapat pula seperti itu nasihat untuk saudara/kakak yang tua bahwa “Perlakukanlah adik-adik yang kecil sebagaimana apa yang dilakukan oleh seorang bapak terhadap anak-anaknya”. Mudah-mudahan Allah menjadikan setiap orang Ahmadi menjadi orang yang menciptakan suasana cinta [dalam keluarga dan lingkungannya]. Terkadang di rumah- rumah tangga karena hal-hal kecil di antara suami istri terjadi cekcok dan perang mulut. Allah telah menciptakan laki-laki lebih tangguh dan lebih kuat. Jika pria diam (mengalah) maka mungkin lebih dari 80% pertengkaran akan berakhir di sana. Hanya yang perlu dicamkan ialah kuatkanlah tekad bahwa “saya akan memperlakukan (istri) dengan baik dan akan menyikapi [tindakannya] dengan sabar.”

Perlakuan Baik Terhadap Istri

Junjungan kita Muhammad Musthafa saw. contoh apa saja yang beliau tunjukkan kepada kita. Tertera dalam sebuah riwayat bahwa tatkala saat di rumah, Hadhrat Aisyah tengah berbicara agak sedikit dengan cepat-cepat [kepada Rasulullah saw.], tiba-tiba dari arah atas ayah beliau datang. Mendengar ini beliau tidak dapat mengendalikan emosi beliau dan beliau maju ke depan untuk memukul putri beliau bahwa, “Engkau ini berbicara seperti itu di hadapan Rasul Allah?”

Rasulullah saw. begitu melihat hal itu langsung menjadi penghalang di antara ayah dan putrinya dan menyelamatkan Hadhrat Aisyah dari hukuman yang diperkirakan akan menimpa. Tatkala Hadhrat Abu Bakar telah pergi maka Rasulullah saw. sambil bercanda bersabda kepada Hadhrat Aisyah ra., “Lihat, hari ini bagaimana saya telah menyelamatkan engkau dari [kemarahan] ayah engkau?” Jadi, perhatikanlah betapa tingginya teladan ini yang tidak hanya dengan diam beliau berupaya menuntaskan kasus (masalah), bahkan kepada Hadhrat Abu Bakar ra. yang merupakan ayah Hadhrat Aisyah ra. kepadanyapun inilah yang beliau katakan bahwa “Janganlah mengatakan sesuatu kepada Aisyah”. Dan kemudian dengan segera bercanda pada Hadhrat Aisyah ra. , dan dengan cara itu sungguh beliau telah mencairkan suasana yang sedang tegang.

Kemudian selanjutnya tertera sebuah riwayat bahwa beberapa hari kemudian Hadhrat Abu Bakar datang untuk kedua kalinya maka Hadhrat Aisyah tengah bercanda dengan senang hati dengan Hadhrat Rasulullah saw.. Hadhrat Abu bakar berkata, “Lihatlah, kemarin kalian telah mengikut sertakan saya dalam pertengkaran, kini ikut-sertakanlah juga saya dalam sukacita kalian” Abu Daud kitabul adab bab maajaa -a -fil mazaah.

Hadhrat Rasulullah saw. benar-benar bersabar terhadap kemanjaan Hadhrat Aisyah ra.. Pada suatu ketika beliau bersabda kepada beliau bahwa “Aisyah, saya mengenal betul akan kemarahanmu dan kegembiraanmu”. Hadhrat Aisyah berkata, “Bagaimana itu?” Bersabda, “Apabila engkau senang kepada saya maka dalam ucapanmu engkau bersumpah dengan menyebut demi Tuhannya Muhammad tetapi tatkala marah maka engkau berbicara dengan menyebut Tuhannya Ibrahim.” Hadhrat Aisyah ra. berkata, “Ya Rasulullah saw., memang itu

benar, tetapi – sudahlah – saya hanya meninggalkan nama Hudhur di bibir saja (tetapi dari hati kecintaan terhadap Hudhur tidak dapat hilang)” (Bukhari kitabunnikah bab ghairatun- nisa’ wa wujdihinna.)

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as. bersabda: “Kecuali tindakan tidak senonoh (zina) semua prilaku akhlak buruk dan kelancangan dan sifat kasar perempuan seyogianya dihadapi dengan kesabaran”, dan bersabda, ”Menurut hemat kami, sungguh merupakan hal yang sangat memalukan apabila kita yang justru sebagai pria malah berperang dengan perempuan. Allah telah mejadikan kita sebagai pria dan pada hakikatnya ini merupakan nikmat yang sempurna kepada kita. Sebagai rasa syukur kepada-Nya ialah kita harus memperlakukan perempuan dengan halus dan lemah lembut”.

Pada suatu saat diadukan kepada beliau akan kasarnya perilaku seorang sahabah dan kelancangan ucapannya bahwa dia berperilaku kasar terhadap istrinya. Hudhur as. sangat sedih, menyesali dan sangat marah akan tindakannya itu dan beliau bersabda: “Kawan-kawan kita jangan seyogianya berprilaku seperti itu“. Hudhur terus berbincang-bincang terkait dengan seputar lingkungan perempuan dan kemudian pada akhirnya beliau bersabda: “Terkait dengan kondisi/keadaan saya, pada suatu saat saya memanggil istri saya dengan nada tinggi yang bercampur dengan kondisi hati yang pilu dan saya merasa bahwa suara nada keras itu bercampur dengan perasaan hati sedih dan dalam semua itu tidak ada ungkapan yang menyakitkan hati atau kata-kata kasar yang keluar dari mulut. Sesudah itu saya sampai lama terus memanjatkan istighfar dan saya terus melaksanakan shalat nafal dengan khusyuk dan tawaddu’ dan sayapun memberikan sedikit sedekah bahwa sikap kasar terhadap istri ini (jangan-jangan ini) merupakan akibat dari suatu maksiat [terhadap] Ilahi (Allah) yang terselubung”. Malfuzhat jilid I hlm. 307 Cetakan Rabwah.

Nah, inilah contoh sikap perlakuan baik kepada istri-istri yang nampak oleh kita pada zaman ini pada amal Hadhrat Masih Mau’ud as. dalam mengikuti majikan beliau saw.. Dan dengan mengamalkan inilah kita dapat menegakkan keamanan di rumah-rumah kita.

Pentingnya Menghubungkan Silaturahmi

Berkenaan dengan ikatan tali silaturrahmi terdapat perintah Allah [yang penjelasannya telah disampaikan sebelumnya] bahwa ini merupakan ikatan keluarga yang terdekat dan kita harus banyak memberikan perhatian pada hal itu. Bekenaan dengan itu terdapat sebuat riwayat Hadhrat Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw bersabda; رحم- rahim keluar dari kata رحمن – rahman dan Allah berfirman bahwa “Barangsiapa yang menyambung ikatan (silaturahmi) dengan kalian, maka Aku akan menyambung ikatan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskan hubungan dengan kalian, Aku akan memutuskan hubungan dengannya”. Bukhari kitabul adab baab man wash-shalah wash-shalahullaahu.

Bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menciptakan makhluk, sehingga tatkala Dia selesai dari menciptakannya maka rahm (Rahim – belas-kasih) berkata bahwa “Ini (saya) datang [memohon] perlindungan kepada Engkau dari sikap orang-orang yang memutuskan tali kekeluargaan (tali silaturrahmi)”. Maka Allah berfirman: “Ya. Apakah Engkau tidak rela/gembira bahwa Aku akan menyambung ikatan tali kekerabatan dengan orang yang mengikat tali kekerabatan dengan engkau?. Dan barangsiapa yang memutuskan ikatan tali kekeluargaan dengan engkau maka Aku akan memutuskan tali kekerabatan/tali silaturahmi dengannya”. Maka rahim/belas kasih itu menjawab, “Ya Rabb-ku, kenapa saya tidak akan rela pada hal itu?” Allah berfirman, “Kedudukan ini hanya engkau yang meraihnya”, dan kemudian Rasulullah saw. bersabda, “Jadi jika kalian menghendaki maka bacalah ayat Al-Quran ini

فَهَلْ عَسَيْتُمْ إنْ تَوَلَّيْتُمْ أنْ تُفْسِدُوافِي الَأرْضِ وَتُقَطِّعُواأرْحَامَكُمْ

Maka apakah kiranya jika kalian berkuasa kalian akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan?” Bukhari kitabul- adab man wash-shala wash-shallaahu.

Bersumber dari Ibni Shihab bahwa Muhammad bin Jubair bin Muth’am membertahukan kepadanya bahwa Dia mendengar Rasulullah saw. bersabda: يدخل الجنةقاطع لا – orang yang memutuskan tali silaturrahmi/kekeluargaan tidak akan masuk surga”. Bukhari kitabul- adab bab itsmul- qaathi’.

Nah, cermatilah betapa penegasan supaya memberikan perhatian dan menyambung ikatan tali kekerabatan. Sebab Allah menegakkan/mempertahankan hubungan (silarurahmi) dengan mereka yang mempertahankan hubungan dengannya dan memperlakukannya dengan baik. Hudhur saw. bersabda: “Orang yang mengikat ikatan tali silaturrahmi (mengikat ikatan tali kekeluargaan) bukanlah yang hanya sebagai ganti/imbalan dia menyambung hubungan, bahkan orang yang mengikat tali silaturrahmi adalah orang yang menyambung ikatan tali silaturrahmi dengan siapa ikatan kekeluargaan itu diputuskan”. Bukhari kitabuladab.

Yakni jika ada yang tengah menyambung/mempertemukan ikatan tali kekerabatan atau dia memperlakukan kalian dengan baik maka sebagai responnya kalian pun berlaku baiklah kepadanya. Jika ada yang ingin memutuskan jalinan tali kekerabatan sekalipun maka kalian sambunglah itu.

Oleh karena itu, perhatikanlah betapa indahnya ajaran itu. Jadilah Saudara-saudara menjadi orang yang lebih utama mengulurkan tangan untuk berdamai. Jika setiap orang yang beriman mulai mengamalkan itu, apakah ada lagi perselisihan yang tersisa lagi? Di setiap tempat akan terwujud situasi yang aman. Kini memasyarakatkan ajaran itu dan mengajarkan ajaran akhlak yang luhur ini kepada semua keluarga adalah merupakan pekerjaan setiap Ahmadi. Oleh karena itulah Hadhrat Masih Mau’ud bersabda bahwa, “Dahuluilah dalam upaya damai, dan kendatipun kalian ada di pihak yang benar tempuhlah sikap rendah hati seperti layaknya orang yang salah”, barulah masyarakat yang berakhlak luhur ini dapat terwujud.

Contoh Hadhrat Rasulullah saw. & Hadhrat Masih Mau’ud as.

Contoh Rasulullah saw. sendiri dalam kaitan ini betapa tingginya. Dalam Bukhari kitaburriwaya, pada saat pendakwaan kenabian kebanyakan keluarga beliau menentang beliau, tetapi beliau bersabda bahwa, “Meskipun cabang keluarga si fulan memang tidak lagi menjadi kawan saya, bahkan menjadi musuh, namun bagaimanapun juga saya memiliki hubungan darah dengan mereka, dalam kondisi apapun saya harus terus membayar hak ikatan tali kekeluargaan”. Bukhari kitabul-adab.

Perhatikanlah ajaran yang beliau telah tunjukkan secara amaliah. Kemudian dalam mengikuti majikan dan panutan beliau Muhammad saw. apa contoh Hadhrat Masih Mau’ud as.? Simaklah peristiwa ini. Hadhrat Sahibzadah Mirza Basyir Ahmad ra. menerangkan: “Pada suatu saat Hadhrat Masih Mau’ud as. mendapat informasi bahwa Mirza Nizamuddin yang merupakan seorang penentang keras beliau jatuh sakit. Untuk menjenguknya Hudhur as. tanpa segan-segan pergi ke rumahnya, saat itu dia sakit sedemikian kerasnya sehingga fikirannya terganggu karenanya. Sesampai di rumahnya beliau menyarankan beberapa alternatif pengobatan yang – dengan karunia Tuhan – kesehatannya menjadi pulih kembali.

Ibu kami Hadhrat Ammajaan menuturkan bahwa meskipun Mirza Nizamuddin merupakan penentang keras, bahkan seorang yang sangat membenci beliau, namun begitu mendengar akan berita sakitnya beliau segera pergi ke rumahnya mengobatinya dan menyatakan rasa solidaritas terhadapnya.”

Inilah Mirza Nizamuddin yang telah menuntut Hadhrat Masih Mau’ud dengan kasus fiktif di pengadilan dan perlawanannya sedemikian rupa memuncaknya sehingga untuk menyakiti Hadhrat Masih Mau’ud as. dan para sahabah beliau dia telah menutup [jalan menuju] mesjid Hudhur, yakni menutup jalan rumah Allah dan terhadap orang-orang Ahmadi sedemikian rupa dia mendatangkan kesulitan-kesulitan yang menyakitkan sehingga naluri orang-orang yang bersih hatinya merasa enggan menyebutnya. Akan tetapi kondisi rahmat dan kecintaan Hudhur sedemikian rupa sehingga begitu mendengar kondisi sakit Mirza Nizamuddin, seorang musuh yang sedemikian anti itu tabiat beliau menjadi resah.” Sirat Thayyibah dari Hadhrat Mirza Basyir Ahmad hlm. 290-291.

Nah, inilah contoh Masih dan Mahdi itu. Kini kita setiap orang yang mengaku bergabung dalam Jemaat beliau seyogianya senantiasa mengintrospeksi diri bahwa sejauh mana kita mengamalkan itu. Terkadang terdapat sejumlah keluarga, tetangga yang bagaimanapun Saudara- saudara memperlakukannya dengan baik dia tidak berhenti mencari peluang untuk mendatangkan kerugian kepada tetangganya. Karakternya sudah bersenyawa dengan sikap ingin menimpakan kesusahan. Mereka termasuk dalam katagori sebuah barisan kalajengking yang sedang berjalan beriringan, yang tatkala seseorang bertanya siapa yang menjadi pemimpin/tokohnya. Mereka menjawab bahwa “Di atas alat penyengatnya yang manapun Anda meletakkan tangan dialah merupakan pemimpin”, dia akan menyengat.

Akan tetapi apa perintah yang seharusnya kita laksanakan. Berkenaan dengan orang seperti itu terdapat sebuah riwayat mengenai persangkaan baik bahwa pada suatu saat seorang mengadu kepada Rasulullah saw. bahwa, ‘Wahai Rasul Allah, saya memiliki sebuah anggota keluarga. Saya menyambung hubungan silaturrahmi dengannya, tapi mereka memutuskannya. Saya memperlakukannya dengan baik, tetapi malah dia membalasnya dengan sikap buruk. Mereka membalas kelemah-lembutan saya dengan kekasaran dan kejahilan. Nabi Karim saw. menjawab bahwa, “Jika mereka melakukan seperti apa yang engkau katakan maka seolah-olah engkau menimpakan tanah di mulutnya/menghinakannya. (Yakni dengan berbuat baik kepadanya engkau telah menjadikannya malu sedemikian rupa sehingga dia tidak layak lagi menunjukkan mukanya), dan dari pihak Allah akan menetapkan seorang penolong untukmu selama engkau tetap teguh dalam perlakuan baikmu”. Musnad Ahmad jilid 2 hlm. 200 Cetakan Beirut.

Berlaku Adil, Ihsan (kebaikan) & Memberi Seperti Kepada Kerabat Sendiri

Kemudian Abu Dzar Gaffari ra. mengatakan bahwa, “Kekasih saya [saw.] menasihatkan kepada saya beberapa perkara. Dari antara itu nomor satu ialah bahwa saya jangan melihat kepada orang yang memiliki kelebihan lebih dari saya dari segi harta dan kebesaran dll., yakni lebih bagus dari segi harta, bahkan saya harus melihat orang yang lebih rendah dari saya supaya timbul gejolak rasa syukur kepada-Nya. Hal kedua yang beliau nasihatkan adalah supaya mencintai orang-orang miskin dan membantu mereka. Kemudian hal ketiga yang beliau nasihatkan adalah bahwa bagaimanapun juga keluaga saya dan orang-orang terdekat saya marah kepada saya dan mereka tidak membayar (memenuhi) hak-hak saya, namun saya tetap mempertahankan hubungan saya dengan mereka dan saya terus membayar (memenuhi) hak-hak mereka”. Targib wa tarhib bahawalah tibrani.

Hadhrat Salman bin Amir ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Memberikan sedekah kepada orang miskin hanya akan mendapat ganjaran sedekah dan dengan memberikan [sedekah] kepada keluarga yang miskin akan mendapat ganjaran dua kali lipat. Satu adalah ganjaran sedekah, dan kedua ganjaran menunaikan hak-hak kekeluargaan/kekerabatan”.

Perkara yang menyangkut sedekah itu merupakan hal lain [yang diberikan pada orang miskin] dan membantu mereka (keluarga) hingga menjadi baik kondisi ekonomi mereka, tidak ada maksud menolong/memberikan pertolongan. Janganlah menamainya sedekah, tetapi bantuan seyogianya harus berikan.

Kemudian, bersumber dari Hadhrat Hudzaifah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda bahwa, “Janganlah kalian menjadi orang yang mengikuti kesusahan orang lain. Janganlah berfikir bahwa jika orang-orang memperlakukan kami dengan baik maka kami pun akan memperlakukan dengan baik. Dan jika mereka menganiaya kami maka kamipun akan menganiaya mereka. Bahkan senantiasa tegakkanlah diri kalian pada komitment bahwa orang-orang akan memperlakukan dengan baik maka kalianpun akan bebuat baik kepada mereka, dan apabila mereka memperlakukan buruk maka kalianpun tidak akan melanggar batas, bahkan akan berbuat kebaikan.”

Nah, dewasa ini, inilah merupakan keistimewaan orang-orang Ahmadi bahwa meskipun dalam berbagai penderitaan dan kesempitan dalam diri mereka terdapat rasa solidaritas terhadap tetangga mereka. Kapan saja memerlukan maka dengan segera mereka menawarkan diri untuk pengkhidmatan pada mereka dan mereka setiap saat senantiasa siap untuk hal seperti itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda: “Hal kedua yang berkaitan dengan rasa simpati terhadap ummat manusia dalam ayat ini adalah:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى

Sesungguhnya Allah menyuruh [kalian] berlaku adil dan berbuat ihsan/kebaikan, memberi kepada kaum kerabat”, An-Nahl 91.

Dan jika ingin lebih maju dari tingkatan itu maka lebih tinggi dari itu adalah tingkatan/kedudukan ihsan dan itu adalah melakukan kebaikan sebagai ganti dari perlakukan buruk saudaramu dan sebagai ganti dari sikap menyakitinya kalian datangkanlah ketenteraman

kepadanya dan bantulah mereka sebagai sikap ihsan dan akhlak luhur.

Kemudian sesudah itu adalah tingkatan itaa-idzhilqurba(memberikan pada keluarga/karib kerabat ) dan itu ialah yang merupakan sikap kalian bahwa seberapapun kalian berbuat baik pada saudaramu, atau seberapapun menampakkan rasa simpati pada ummat manusia [sebagai imbalannya] tidak diterima/diharapkan kebaikan lain dalam corak apapun darinya, bahkan itu keluar dari kalian tanpa adanya contoh untuk tujuan apapun sebelumnya, sebagaimana karena akibat dalamnya rasa gejolak kekerabatan seorang sahabat dekat memperlakukan dengan baik kepada saudara dekatnya yang lain.

Nah, ini merupakan kesempurnaan terakhir kemajuan akhlak, yaitu dalam simpati terhadap makhluk-Nya jangan ada faktor hawa nafsu dan tujuan pribadi di tengah-tengahnya, bahkan gejolak persaudaraan dan kekerabatan [terhadap] ummat manusia meraih pertumbuhan pada tingkat yang tinggi itu sehingga kebaikan itu keluar dari gejolak alami tanpa formalitas dan tanpa adanya contoh atau tanpa adanya sebagai akibat/konsekwensi tanda ungkapan rasa terima kasih, atau doa, atau sebagai konsekwensi dari corak apa saja”. Izalah Auham; , Ruhani Khazain jilid 3 hlm. 551-552.

Yakni apabila Saudara-saudara berbuat kebaikan maka jangan terfikir di dalam hati Saudara-saudara suatu niat untuk meraih imbalan atau untuk meraih suatu barang.

Resep Panjang Umur

Kemudian bersabda: “Barangsiapa yang tidak berlaku baik kepada karib kerabat/keluarganya maka dia bukanlah dari Jemaatku” Bahtera Nuh hlm. 17. Hadhrat Masih Mau’ud as. bersabda bahwa, “Kebaikan-kebaikan ini dan sikap kalian memperlakukan dengan baik kalian anak menadapatkan faedah untuk dirimu sendiri di dunia ini juga. Dan apa itu? Yaitu kalian akan mendapatkan ketenteraman dan umurmupun akan diberkati.”

Beliau bersabda: “Barangsiapa yang ingin menambah kehidupan/umurnya maka seyogianya menablighkan/menyebarkan pekerjaan-pekerjaan baik dan datangkanlah faedah pada makhluk Allah. Apabila Allah mendapatkan suatu hati yang telah berkehendak/berkeinginan mendatangkan faedah pada manusia, maka Allah menganugerahkan taufik kepadanya dan Dia akan memanjangkan umurnya; dan sejauh mana manusia kembali pada Allah dan memperlakukan makhluk-Nya dengan sikap lemah-lembut maka sebanyak itulah umurnya akan menjadi panjang dan Allah akan bersamanya dan menghargai kehidupannya; sebaliknya, sejauh dia tidak ada perhatian kepada Allah, tidak memperhatikan Allah maka Allah-pun tidak menghiraukannya… Di tempat ini ada satu soal lain yang muncul bahwa sejumlah orang yang saleh dan merupakan pilihan Allah mereka pada masa kecilnyapun pergi dari dunia ini (wafat) dan dalam kondisi ini seolah-olah peraturan ini tidak berlaku, tetapi ini merupakan kesalahan dan tipuan”. (Hudhur bersabda bahwa sebagian orang banyak berbuat baik… tetapi mereka wafat pada umur masih muda, ini bukanlah peraturan/ketentuan) Pada dasarnya tidaklah demikian. Peraturan ini tidak pernah tidak berlaku, tetapi terdapat suatu bentuk lain terciptanya/munculnya mafhum umur panjang dan itu adalah bahwa maksud sebenarnya kehidupan dan tujuan/maksud umur panjang adalah dicapainya kesuksesan dan tercapainya tujuan.

Jadi, kalau ada orang yang sukses dan berhasil dalam cita-citanya/maksudnya dan tidak ada lagi cita-citanya yang tersisa dan sampai wafat dengan tenteram dia pergi dari dunia ini maka seolah-olah dia telah wafat dengan mencapai umur yang cukup/sempurna dan dia telah meraih maksud dari umur panjang. Mengatakannya mati pada umur pendek/tidak panjang merupakan kesalahan besar dan merupakan suatu kebodohan.

Sejumlah sahabah ada yang hanya mendapat umur 20 atau 22 tahun tetapi oleh karena pada saat wafatnya tidak tersisa lagi keinginan dan ketidak suksesan bahkan dia bangkit dengan mendapatkan kemenangan, karena itu dia telah mencapai tujuan hakiki kehidupan (umurnya artinya panjang pent.)” Al-Hakam jilid 7 no. 21 tanggal 24 Agustus 1903 hlm. 32 dengan referensi Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as. hlm. 739-740.

Kemudian beliau bersabda: “Jika kalian menghendaki bahwa Tuhan Yang di langit ridha pada kalian maka jadilah menjadi satu di antara satu dengan yang lain bagaikan dua orang bersaudara yang lahir dari rahim seorang ibu… Kasihanilah bawahan dan istri-istri kalian dan saudara-saudara kalian yang miskin supaya di langitpun kalian dikasihani. Jadilah kalian dalam arti yang sebenar-benarnya menjadi milik-Nya supaya Diapun benar-benar menjadi milik kalian”. Bahtera Nuh.

Semoga Allah menjadikan kita orang-orang yang dapat menunaikan hak-hak makhluk-Nya dan dengan memperlakukannya dengan baik kita menjadi orang-orang yang menjadikan Allah sebagai milik kita.

Berita Dukacita

Kini saya ingin menyebut beberapa orang-orang yang wafat yang pada jumaah yang lalu tidak dapat disebutkan.

Pertama-tama, Syekh Mahbub Alam Khalid Sahib. Beliau – dengan karunia Allah – berumur 95 tahun. Beliau adalah putra Khan Farzan Ali Khan Sahib. Pada tahun 1936 beliau mewakafkan hidupnya sesuai perintah Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. dan memulai pengkhidmatan terhadap Jemaat. Beliau merupakan sosok yang sangat rendah hati, mukhlis dan merupakan sosok yang senantiasa berkerja keras dan tekun. Sampai umur 68 tahun – dengan karunia Tuhan – beliau mendapat taufik berkhidmat pada Jemaat. Beliau bertugas sebagai guru di Madrasah untuk bagian nasirat/banat, kemudian di Madrasah Ahmadiyah dan kemudian beberapa lama mengajar di SMA dan kemudian sebagai Nazir Baitulmal (sekretaris Baitulmal), kemudian beliau bekerja sebagai sekretaris pribadi Hadhrat Khalifatul-Masih ke III. Kemudian sebagai Sadr, menjadi Sadr (Pimpinan) Sadr Anjuman Ahmadiyah. Pada tahun 1969 tatkala beliau pensiun dari guru SMA maka di kator Anjuman beliau di tetapkan sebagai Nazir Baitulmal (sekr mal) oleh Hadhrat Khalifatulmasih III, dan sampai wafat kurang lebih 37 tahun beliau berkhidmat sampai 37 tahun di kantor Anjuman Ahmadiyah.

Beliau merupakan seorang dari pendiri/perintis pengurus Khuddamul Ahmaddiyah. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. tatklala beliau mendirikan Badan khuddamul Ahmadiyah maka beberapa orang diantara pengurus yang pertama di antaranya adalah beliau dan beliau merupakan Sekjen pertama Khuddamul Ahmaddiyah. Kemudian beliau mendapatkan kesempatan untuk bekerja di berbagai bidang Khuddamul Ahmadiyah dan selama 12 tahun menjadi Qaid Umumi/Sekum Majlis Ansharullah Pusat.

Pada saat Hadhrat Khalifatulmasih III menjadi Sadr Ansharullah dan sampai wafat beliau senantiasa menjadi anggota kehormatan pengurus Majlis Ansharullah Pakistan. Kemudian pada tahun 2002 Hadhrat Khalifatul-Masih IV menetapkan beliau sebagai Sadr Sadr Anjuman Ahmadiyah dan sampai wafat beliau tetap memegang jabatan itu. Sampai akhir daya ingat beliau masih fit/baik dan beliau tetap menjalankan tugas beliau dengan sangat baik. Beliau meninggalkan 6 orang anak.

Berkenaan dengan beliau saya ingin memberitahukan secara singkat juga bahwa Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. di Qadian pada saat mulai mencanangkan sebuah program untuk menegakkan/mengikat tali hubungan persaudaraan di antara sesama [orang-orang Ahmadi], sehingga di antara dua anak laki-laki beliau persaudarakan menjadi bersaudara. Bagaimana itu terjadi, perinciannya cukup panjang.

Nah, Hadhrat Syekh Sahib menjadi saudara dari ayah saya, Sahibzadah Mirza Mansur Ahmad dan dengan beliau ikatan ini terwujud. Kemudian saya telah menyebut akan kerendahan hati dan keikhlasan beliau, sifat ini memang benar-benar sangat dominan sekali dalam diri beliau. Ini bukan hanya sekedar untuk menyebut belaka, bahkan saya juga memberitahukan bahwa tatkala Hadhrat Khalifatul-Masih IV menetapkan saya sebagai Nazir A’la dan sebagai Amir maqami (setempat/Pakistan), maka beliau pada waktu itu sebagai Nazir Baitulmal (pemegang departemen keuangan).

Meskipun beliau sebagai nazir yang senior dan dari segi umur pun beliau sangat dengan umur ayah saya, namun Syekh Sahib memperlihatkan contoh keitaatan yang memang banar-benar merupakan teladan dan terkadang melihat keitaatan dan keikhlasan beliau itu timbul juga rasa malu. Kemudian tatkala Hudhur rahimahullaah menjadikan beliau sebagai pimpinan Sadr Anjuman Ahmadiyah maka meskipun beliau memegang kedudukan tinggi, namun sejalan dengan kecintaan sisi keitaatan pun tidak beliau tinggal (Anir Maqami) dan itaat kepada Amir merupakan hal yang penting. Jadi, ini merupakan contoh yang tepat untuk semua.

Semoga Allah memperlakukannya dengan ampunan-Nya dan meninggikan derajat-serajatnya dan memberikannya tempat telapak-telapak kaki/kedudukan para pilihan-pilihan-Nya. Beliau adalah seorang mushi dan dimakamkan di Bahesyti Maqbarah. Semoga Allah menjadikan anak-anak beliau juga dapat bekerja seperti itu.

Kemudian seorang sepuh kita, Hadhrat Maulana Said Anshari, yang wafat pada taggal 9 Januari. Inipun juga yang sangat aneh bahwa kelahiran beliau adalah pada hari Jumaah dan pada hari Jumaah pulalah kewafatan beliau. Beliau mewakafkan diri beliau pada tahun 1946. Hadhrat Khalifatul-Masih II menempatkan beliau sebagai murabbi/muballigh pertama kali di Malayu/Malaysia dan Singapura. Kemudian beliau tinggal di di Sumatera dan Britisy Borneo (Kalimantan Utara) yang dewasa ini disebut Malaysia, di sana beliau tinggal sampai tahun 1959.

Pada tahun 1961 kembali beliau ditugaskan di Singapura. Kemudian dari tahun 1964 sampai 1966 mengajar bahasa Indonesia di Jamiah Ahmadiyah. Pada tahun 1967 kembali beliau ditugaskan di Malaysia. Sekembalinya beliau selama 3 tahun beliau terus melakukan pengkhidmatan di kantor-kantor di Pusat. Kemudian dari tahun 1973 sampai tahun 1976 beliau pergi ke Malaysia kemudian sekembalinya beliau ditugaskan di Jamiah Ahmadiyah dan dari tahun 1980 sampai 2003 beliau melakukan pengkhidmatan di di Wakilut-Tabsyir dan Wakilul-Isyaat Rabwah. Beliau juga mendapatkan taufik untuk menterjemahkan beberapa buku dalam bahasa Indonesia.

Beliau merupakan sosok murabbi/pembimbing sepuh yang saleh, setia, mukhlis banyak berdoa dan seorang sosok yang alim beramal. Beliau mendapat taufik mengkhidmati Jemaat dengan penuh ikhlas, kerja keras, tekun dan tanpa pamrih sampai 57 tahun. Almarhum memiliki 6 orang anak perempuan. Sungguh beliau merupakan sosok yang berpribadi sederhana sangat rendah hati.

Semoga Allah meninggikan derajat beliau dan menurunkan maghfirah-Nya kepada beliau. Satu menantu beliau adalah muballigh kita, Nasim Bajwah. Semoga Allah menganugerahi taufik kepada anak-anak beliau dengan sabar dan dengan penuh semangat dapat menahan kesedihan ini.

Kemudian, Yth. Sahibzadah Mirza Rafi’ Ahmad, wafat pada hari kamis tanggal 15 Januari pada umur 77 tahun. Innaa lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun. Almarhum pernah menjadi Sadr Khuddamul Ahmadiyah Pusat. Beliau juga pernah bertugas sebagai muballigh di Indonesia dan juga pernah mengajar di Jamiah Ahmadiyah. Putra beliau Sahibzadah Abdush-Shamad Ahmad pada saat ini bekerja sebagai Sekretaris Majlis Karpardaz (pimpinan para karyawan). Di antara keluarga yang beliau tinggalkan selain seorang istri juga 3 anak laki dan 4 anak perempuan.

Beliau adalah putra Hadhrat Khalifatul Masih II. Pada saat Allah mendudukkan saya pada kedudukan khilafat maka dari pihak beliau saya mendapatkan surat yang menyatakan rasa rendah hati, keikhlasan dan kesetiaan beliau dan kemudian dalam setiap surat kondisi ini terus bertambah. Meskipun dengan saya terdapat ikatan keluarga yang sangat dekat, beliau adalah paman.

Dengan membaca kalimah-kalimah pernyataan ikhlas dan kesetiaan beliau hati penuh dengan pujian kepada Allah. Menurut hemat saya mungkin hanya beberapa saja keluarga saya yang lebih tua yang menyatakan kesetiaan dan keitaatannya seperti itu. Bukanlah maksudnya bahwa keluarga yang lain tidak menyatakan kesetiaannya seperti itu. Setiap orang memiliki cara-caranya masing-masing. Setiap individu keluarga Hadhrat Masih Mau’ud as. telah baiat di tangan khilafat dengan penuh keikhlasan. Banyak sekali di antara mereka yang lebih tua umurnya dari saya dan lebih berpengalaman.

Semoga Allah terus meningkatkan kecintaan dan kesetiaan kelurga kepada khilafat dan dengan setiap khilafat yang akan datang pun semua orang menunjukkan contoh/teladan keitaatan. Walhasil di sini merupakan bahasan tentang Mia Sahib. Beliau secara rutin menulis surat kepada saya untuk khusnul-khaatimah/hasil akhir yang baik. Semoga Allah memperlakukan beliau dengan sifat pemaaf-Nya. Pemakaman beliau pun karena beliau merupakan seorang mushi maka beliau dimakamkan di Bahesyti Maqbarah. Beliau senantiasa menulis surat kepada saya tentang istri beliau bahwa doakanlah untuk beliau supaya dia memperoleh kesehatan. Beliau memang tidak ada merasa sakit apa-apa. Walhasil Allah memiliki metode-Nya sendiri. Sama sekali tidak terfikir bahwa beliau sendiri akan pergi lebih duluan. Saudara-saudara doakanlah juga untuk istri beliau. Beliau terkena penyakit jantung. Istri beliau adalah putri Hadhrat Dr. Mir Muhammad Ismail.

Kemudian muballigh kita yang bertugas sebagai Raisuttabligh di Zimbabwe juga wafat beberapa waktu yang lalu. Nama beliau adalah Samiullah Qamar Sahib. Beliau adalah putra Athaullah Sahib, mantan wakil pimpinan manajer pabrik pengolahan kapas, Sind. Pada tahun 1977 beliau lulus syahid di Rabwah dan kemudian sampai 10 tahun melakukan pengkhidmatan di Pakistan dan kemudian kurang lebih selama 13 tahun beliau tinggal di Zambia dan Zimbabwe dan terus melakukan pengkhidmatan. Beliau Amir Jemaat Zimbabwe.

Beliau terus melakukan pengkhidmatan dengan tekun, ikhlas dan tidak mengenal lelah dan tiba-tiba beliau terkena serangan jantung dan wafat. Dengan demikian karena beliau wafat di luar negeri karena itu beliau mendapatkan kedudukan syahid. Di antara orang-orang yang beliau tinggalkan terdapat juga 2 orang ibu bapak beliau, istri dan lima anak perempuan, semoga Allah meninggikan derajat beliau dan menganugerahkan kepada keluarga itu kesabaran dan ketabahan dan semoga Dia sendiri yang memelihara anak-anak beliau. Almarhum adalah seorang mushi dan beliau dimakamkan di Bahesyti Maqbarah, Rabwah.

Pent : Qomaruddin Syahid