Tim Ahmadiyah.Id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Ringkasan Khotbah Jumat
oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hazrat Mirza Masroor Ahmad
di Masjid Baitul Futuh 
London, 25 Maret 2016

TANGGAL 23 Maret merupakan hari penting bagi Jemaat Ahmadiyah. Ini adalah hari ketika tergenapinya janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Rasulullah saw. Nubuatan beliau saw menjadi terbukti dan kebangkitan Islam untuk kedua kalinya pun dimulai. Allah Ta’ala mengizinkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as untuk mengumumkan status beliau sebagai Al-Masih dan Mahdi yang dijanjikan. Beliau as akan mendirikan kembali ketauhidan Ilahi dengan bukti-bukti dan dalil-dalil, menampakkan keunggulan Islam di atas semua agama di dunia dan memenuhi hati dengan kecintaan terhadap Rasulullah saw.

Kita sungguh beruntung sudah bergabung di dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Mengingat pentingnya hari ini, maka Jemaat pun memperingatinya sebagai Hari Masih Mau’ud as dengan mengadakan berbagai pertemuan/majelis. Seraya menjelaskan tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as di dalam majelis tersebut dan juga bagaimana Jemaat ini berdiri, orang-orang juga bersyukur atas taufik karena telah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as sebagai bentuk ketaatan terhadap Hadhrat Rasulullah saw dan kemudian menyampaikan salam beliau saw untuk Al-Masih as tersebut.

Hendaknya kita menyadari bahwa seiring dengan kebahagiaan yang kita rasakan karena telah menerima Masih Mau’ud as, kita hendaknya juga harus memberikan perhatian terhadap tanggung jawab kita yang senantiasa meningkat lalu berupaya untuk memenuhinya. Apa tanggung jawab kita itu? Yakni melanjutkan tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga kita senantiasa termasuk ke dalam golongan orang-orang akan menciptakan langit baru dan bumi baru setelah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as.

Apa tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as? Seberapa jauh kita telah memahami dan mengamalkannya ? Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk menyebarkan tujuan ini?

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Allah Ta’ala mengutus beliau as untuk menghapuskan jarak antara manusia dan Tuhan lalu menegakan kembali pertalian kecintaan antara keduanya, untuk mengakhiri perang agama, untuk menzahirkan kebenaran agama yang tersembunyi dari dunia, untuk menunjukan kualitas teladan kerohanian yang tertutupi oleh keegoisan dan kegelapan dunia, untuk menampilkan kekuatan ilahi yang zahir di dalam diri manusia melalui amalan, bukan hanya kata-kata, serta untuk sekali lagi menanamkan tunas ketauhidan ilahi yang penuh kilau cahaya di antara umat manusia. Beliau as bersabda bahwa ini semua akan terjadi melalui kekuatan Allah Ta’ala. Sekarang, merupakan tugas para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as untuk menampilkan kepada dunia keindahan agama Islam yang hidup.

Ini merupakan kewajiban besar kita untuk meningkatkan serta memperkuat hubungan kita dengan Allah Ta’ala dan untuk memberitahukan kepada dunia bahwa perang agama akan berakhir dengan kedatangan Masih Mau’ud as dan sekarang, hanyalah pecinta sejati Hadhrat Rasulullah saw, yakni Hadhrat Masih Mau’ud as, yang dapat menyatukan umat ini dan yang telah datang dalam jubah kenabian. Untuk menzahirkan kebenaran-kebenaran ini, kita harus menjadi suritauladan, menunjukan kualitas kerohanian serta menghilangkan hawa nafsu lalu menjelaskan kepada dunia bahwa bahkan hingga hari ini Allah Ta’ala senantiasa berbicara dan mendengarkan doa-doa hamba-hamba-Nya lalu menjawabnya sebagaimana Dia dahulu mendengarkan doa-doa dan memberikan ketentraman di dalam diri para kekasih-Nya. Kita harus mengatakan kepada dunia bahwa Allah Ta’ala itu Esa dan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini tidak kekal dan akan binasa, kecuali Allah Ta’ala, sedangkan keabadian kita adalah tergantung kepada  hubungan kita dengan wujud-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis bahwa:

“Hamba yang lemah ini telah diutus semata-mata untuk menyampaikan pesan kepada seluruh makhluk-Nya bahwa diantara seluruh agama yang ada di dunia ini, agama sejati yang sesuai dengan kehendak ilahi ialah yang telah dibawa oleh Al-Quran dan pintu yang masih senantiasa terbuka, yang membawa kepada rumah keselamatan, adalah: لا الہ الا اللہ محمد رسول اللہ . Tidak ada yang patut disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya. [Intisari Ajaran Islam, vol IV, hal 113]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa tujuan dari kedatangan beliau hanyalah untuk membangkitkan Islam kembali. Beliau as bersabda:

“Janganlah berfikir bahwa aku datang dengan membawa suatu syariat baru atau suatu kitab baru”.

Beliau as melanjutkan bahwa tidak ada syariat baru yang bisa turun karena syariat itu telah sempurna melalui Hadhrat Rasulullah saw dan Al-Quran merupakan Khatamul Kutub. Namun demikian, adalah benar bahwa segala keberkatan dan rahmat Hadhrat Rasulullah saw serta petunjuk Al-Quran senantiasa terasa segar di setiap zaman dan bukti dari keberkatan dan rahmat ini adalah pengutusan Hadhrat Masih Mau’ud as. Allah Ta’ala mengutus beliau as untuk menolong dan memelihara Islam yang pada saat itu sedang berada dalam kondisi lemah dan rapuh di segala sisi layaknya seperti anak yatim dan pengutusan beliau as itu sesuai dengan janji-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ 

“Sesungguhnya, Kami Yang telah menurunkan Peringatan Al-Quran  ini, dan sesungguhnya Kami baginya adalah Pemelihara.” [Al-Hijr, 15:10]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa kapankah Islam membutuhkan pemeliharaan dan pertolongan jika bukan pada saat kedatangan beliau as? Beliau as bersabda bahwa situasi pada saat tersebut adalah sama dengan perang Badr  yang mengenainya Allah Ta’ala berfirman:

 وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menolongmu di perang Badar ketika kamu masih lemah. Maka, bertakwalah kepada Allah swt. supaya kamu menjadi orang-orang bersyukur.” [Ali Imran, 3:124]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ayat ini membawa nubuatan bahwa ketika Islam berada dalam kondisi yang lemah pada abad ke-14, maka sesuai dengan janji-Nya, Allah Ta’ala akan menolong Islam.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ada dua tujuan kedatangan beliau as; untuk menegakkan umat Islam di atas ketakwaan dan kesucian sehingga mereka menjadi umat Islam sejati yang sedemikian rupa sebagaimana yang Allah Ta’ala kehendaki di dalam kata ‘Muslim’. Dan bagi umat Nasrani, kedatangan beliau as adalah untuk menghapuskan ajaran salib dan untuk menghilangkan Tuhan palsu yang diciptakan oleh umat nasrani, hingga dunia akan benar-benar melupakannya dan hanya Tuhan yang Maha Esa-lah yang layak untuk disembah. Beliau as bersabda bahwa racun dari reaksi kotor para penentang beliau as dalam hal tujuan kedatangan beliau as akan menghancurkan mereka sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ

“Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada siapa yang melampaui batas dan  pendusta besar.” [Al-Mu’min, 40:29]

Sesuai dengan ayat di atas, demikianlah cara Allah Ta’ala berurusan dengan para pendusta sedangkan para malaikat senantiasa diutus untuk melindungi apa yang dilakukan untuk menegakan keagungan Allah Ta’ala dan keberkatan nabi-Nya. Jika misi ini hanyalah urusan duniawi belaka, maka Allah Ta’ala akan melenyapkannya. Akan tetapi jika misi ini berasal dari Allah Ta’ala, dan memang ini adalah dari-Nya, maka para malaikat akan senantiasa melindunginya meskipun seluruh dunia menentangnya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa walaupun tidak ada seorang pun yang menyertai beliau as, misi ini akan tetap memperoleh keberhasilan. Penentangan ini adalah lazim bagi kemajuan misi ini dan sungguh tidak pernah terjadi bahwa seorang Nabi atau Khalifatullah diutus ke dunia ini lantas dunia menerimanya secara diam-diam. Jadi sunnahnya adalah meskipun yang datang itu adalah seseorang yang sedemikian sucinya, namun tetap saja orang-orang tidak akan tertinggal untuk mengganggunya.

Sekarang setelah 127 tahun berlalu, kita melihat bagaimana dukungan Allah Ta’ala senantiasa menyertai beliau as dan dengan karunia-Nya, jemaat ini memperoleh kemajuan. Lalu tanggung-jawab kita adalah hendaknya kita menciptakan perubahan suci di dalam diri kita dan jadilah sebagai pendukung agar tercapainya tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as sehingga kita pun memperoleh karunia dari kedatangan beliau as.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Allah Ta’ala telah mengutus beliau as untuk menunjukan kepada dunia suatu khazanah yang terlupakan dan tersembunyi dan untuk membersihkan Islam dari kotoran keberatan-keberatan. Ghairat Allah Ta’ala sedang bergejolak saat ini supaya kehormatan Al-Quran dibersihkan dari tuduhan orang jahat. Dalam kondisi seperti ini, para penentang hendak menyerang Islam dengan menggunakan pena. Oleh karena itu, jika dalam situasi seperti ini ada seseorang yang menggunakan kekerasan untuk membela Islam maka ia hanya akan mencoreng nama baik Islam. Islam tidak pernah ingin untuk menggunakan kekerasan tanpa ada suatu alasan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa hari ini, berbagai peperangan terjadi tanpa adanya dasar agama dan hanya dilancarkan karena urusan dunia. Jadi betapa keliru sekali untuk membalas para penentang yang melontarkan tuduhan dengan menggunakan kekerasan. Beliau as bersabda bahwa corak perang itu telah berubah. Oleh sebab itu, adalah penting untuk pertama-tama gunakanlah hati dan akal kita, sucikanlah jiwa dan carilah pertolongan dan kemenangan dari Allah Ta’ala secara tulus. Jika umat Islam menginginkan kesuksesan dan kemenangan dengan cara dengan kata-kata belaka, maka hal itu tidaklah mungkin terjadi. Allah Ta’ala tidak menyukai hal ini. Dia menyukai ketakwaan dan kesucian yang tulus, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah swt. beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” [An-Nahl, 16:129]

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa serangan yang dilancarkan atas nama Islam tidak akan mendukung Islam sama sekali namun malah mencoreng nama baik Islam. Membunuh orang-orang yang tidak berdosa akan menarik murka Allah Ta’ala. Hal seperti ini terjadi di Belgia akhir-akhir ini. Kekejaman para teroris dengan membunuh belasan orang yang tak berdosa serta melukai ratusan orang lainnya tidak akan pernah bisa meraih keridhaan Allah Ta’ala. Hadhrat Masih Mau’ud as dengan tegas telah menjelaskan bahwa peperangan yang dilakukan atas nama agama di zaman ini adalah dilarang dan hal tersebut hanya menyebabkan turunnya murka Allah Ta’ala. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa pesan yang melarang peperangan atas nama agama ini belum sampai kepada setiap orang. Semoga Allah Ta’ala memberikan pemahaman kepada mereka yang menyebut diri mereka sebagai umat Islam, namun malah melakukan kekejaman, baik dalam bentuk kelompok-kelompok ataupun pemerintahan. Semoga mereka senantiasa memberikan perhatian terhadap suara Imam Zaman ini lalu berhenti melakukan kekejaman dan kemudian beralih dengan menggunakan senjata hakiki yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as pada zaman ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa sekarang yang diperlukan pada masa ini adalah pena, bukan pedang (kekerasan). Para penentang kita telah menyerang agama Islam yang sejati dengan cara berbagai macam ilmu pengetahuan. Beliau as bersabda bahwa Allah Ta’ala telah memerintahkan beliau as untuk menggunakan kecakapan dalam tulisan untuk melawan dengan bantuan ilmu pengetahuan dan untuk menampilkan keberanian serta kharisma Islam. Beliau as bersabda bahwa bagaimana mungkin beliau melakukan hal tersebut tanpa karunia Allah Ta’ala, Dzat Yang menginginkan agama-Nya dibela melalui perantaraan beliau as.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa pada saat itu beliau menghitung ada sekitar 3000 tuduhan yang dilontarkan terhadap Islam dan jumlah ini mungkin sekarang sudah bertambah. Akan tetapi jangan beranggapan bahwa pondasi Islam sedemikian lemahnya sehingga dapat dilontarkan sekitar 3000 keberatan. Pada dasarnya, keberatan-keberatan yang berasal dari orang-orang yang picik ini memiliki dasar yang sangat lemah dan karena mereka tidak memiliki pandangan rohani maka mereka tidak dapat memahami hikmah dan makrifat yang dalam dibalik keberatan-keberatan tersebut.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa hakikat sebenarnya hanyalah apa yang dibawa oleh agama Islam. Beliau as yakin bahwa meskipun tidak ada Injil, Al-Quran, ataupun kitab-kitab para nabi Allah Ta’ala, Ketauhidan Ilahi akan senantiasa tetap terbukti karena tanda ketauhidan ilahi itu dapat ditemukan di dalam fitrat manusia. Menyatakan bahwa Allah Ta’ala memiliki seorang anak berarti menunjukan bahwa Allah Ta’ala akan menemui ajalnya karena seorang anak merupakan seorang ahli waris yang akan melanjutkan silsilah keturunannya. Jika Yesus merupakan anak Tuhan, maka pertanyaannya adalah apakah Tuhan itu akan mati? Pendek kata, dalam keyakinan ini, umat Nasrani tidak menunjukan rasa hormat terhadap Tuhan atau penghargaan bagi kemampuan manusia dan telah memegang suatu keyakinan yang tidak membawa cahaya ilahi di dalamnya. Ini adalah keunggulan agama Islam bahwa setiap zaman senantiasa disertai dengan tanda-tanda yang mendukungnya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Allah Ta’ala telah mengutus beliau as untuk menunjukan kebenaran Islam kepada dunia. Beliau as bersabda bahwa beberkatlah ia yang datang kepadaku untuk mencari kebenaran dan beberkatlah ia yang kemudian menerimanya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Al-Quran memberikan pengetahuan yang pasti berkenaan dengan Yesus yang turun dari tiang salib dalam keadaan hidup. Ketika umat Islam menghadapi banyak bencana selama ribuan tahun [sebelum beliau as], kebenaran ini pun masih hilang dari umat Islam dan keyakinan yang keliru pun masuk ke dalam umat Islam yang menyebutkan  bahwa Yesus naik ke langit dalam keadaan hidup dan akan turun ke bumi ketika mendekati hari kiamat. Namun demikian, beliau as bersabda bahwa Allah Ta’ala mengutus beliau as untuk menghapuskan kekeliruan yang telah menggerogoti umat Islam dan untuk menunjukan kebenaran Islam kepada dunia. Beliau as bersabda bahwa beliau as akan menyingkapkan hakikat sejati dibelakang kekeliruan yang ada di berbagai agama, khususnya untuk menghapuskan ajaran salib yang menjadi suatu penghalang bagi perkembangan kerohanian seseorang.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa meskipun berbagai alasan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as dikesampingkan, sebagaimana kesamaan antara Islam dan umat Musa, maka tetap ada kebutuhan akan kedatangan beliau as. Yesus datang 1400 tahun setelah Musa as. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa contoh yang beliau as sampaikan ini merupakan contoh seseorang yang datang sebagai buruz/bayangan dari seorang nabi Allah Ta’ala. Namun demikian, orang-orang yang mendakwakan bahwa Yesus sendiri akan turun di dalam wujudnya hendaknya memberikan bukti, yang sebenarnya tidak bisa mereka berikan. Dan jika mereka tidak dapat memberikan suatu bukti maka mengapa mereka melibatkan diri di dalam suatu hal yang diada-adakan. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa gagasan tersebut hendaknya dihindari karena akan membawa kepada kehancuran. Orang-orang yahudi menarik murka Ilahi karena menolak seorang nabi Allah Ta’ala dan hal ini disebabkan karena mereka menganggap suatu perumpamaan sebagai hal yang nyata. Kondisi yang sama juga terjadi saat ini. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa walaupun bagi umat Islam hari ini ada contoh umat Yahudi sebelum mereka, namun mereka masih tetap tidak dapat memahami.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ada 4 tanda kebenaran beliau as. Pertama adalah kemampuan bahasa Arab yang menakjubkan, kedua adalah pengabulan doa yang tak terhitung, ketiga adalah terbuktinya nubuatan beliau as dan keempat adalah makrifat dan pengetahuan rohani Al-Quran yang beliau perlihatkan.

Hadhrat Maulwi Abdul Karim ra menceritakan bahwa bahwa suatu kali seseorang dari Brelwi menulis surat kepada beliau ra bahwa apakah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad itu adalah Masih Mau’ud yang dinubuatkan oleh Hadhrat Rasulullah saw di dalam hadits? Ia meminta beliau ra untuk menjawab pertanyaannya ini dengan disertai sumpah. Beliau ra seperti biasa membalasnya dan mengutip beberapa kalimat dari buku Tiryaqul Qulub. Akan tetapi orang tersebut tidak merasa puas. Ia ingin Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sendiri menulis sumpah dengan penanya sendiri bahwa beliau as adalah Masih Mau’ud seperti yang dinubuatkan di dalam hadits oleh Hadhrat Rasulullah saw. Setelah shalat ashar, beliau ra menemui Hadhrat Masih Mau’ud as dengan membawa kertas dan pena seraya mengatakan apa yang terjadi. Hadhrat Masih Mau’ud as kemudian menulis bahwa “Sebelum ini pun aku pernah mendakwahkannya di dalam buku-buku saya dan disebarkan kepada orang-orang. Saat ini pun aku bersumpah atas nama Allah Ta’ala, yang jiwaku berada di tangan-Nya, bahwa akulah Masih Mau’ud yang telah dikabarkan oleh Hadhrat Rasulullah saw di dalam kitab-kitab hadits shahih.”

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan bahwa ada dua tujuan beliau as menyampaikan hal ini. Pertama adalah supaya keimanan Jemaat meningkat dan meraih kecintaan seperti yang diraih oleh orang-orang yang telah beriman kepada beliau as. Kedua adalah agar para penentang bisa berpikir dengan pikiran yang dingin bahwa apakah seorang pendusta bisa memiliki keangungan seperti ini, yakni menyampaikan sumpah di hadapan Allah Ta’ala yang mempunyai segala keperkasaan.

Dalam memberikan nasehat kepada para Ahmadi, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Aku tidak menghendaki untuk mengambil beberapa kata dari orang-orang ketika baiat, karena tidak ada faedahnya sedikit pun. Yang terpenting adalah raihlah tazkiyah nafs (pensucian jiwa) yang memang itulah yang diperlukan. Oleh karena itu, pahamilah apa itu tazkiyah nafs dan amalkanlah. Tujuanku bukanlah untuk mengadakan perselisihan, diskusi atau perdebatan berkenaan dengan kewafatan Isa Al-Masih, namun ciptakanlah perubahan di dalam diri kalian dan jadilah manusia yang baru.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Beryukurlah karena kalian telah mendapatkan zaman ini yakni, zaman yang telah dinanti-nantikan oleh nenek moyang kita yang telah wafat tanpa mendapatkan zaman ini sebelumnya. Jadi menghargai atau tidak menghargai zaman ini dan mengambil manfaat dari zaman ini ataupun tidak adalah berada pada tangan kalian. Aku katakan berkali-kali kepada kalian dan tidak akan bisa menghentikannya bahwa Aku-lah yang diutus untuk mengishlah manusia pada zaman ini.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Aku telah diutus dengan cara yang sama dengan ia yang diutus setelah Musa as, dan yang jiwanya telah diangkat ke langit seraya memikul segala macam kesulitan pada masa Herodes”

Ketika Kalimullah kedua datang – yang  pada hakikanya merupakan yang pertama dan penghulu segala nabi [Hadhrat Rasulullah saw] – untuk mengakhiri Firaun-Firaun lainnya dan disebutkan berkenaan dengan beliau as:

إِنَّا أَرْسَلْنَا إِلَيْكُمْ رَسُولا شَاهِدًا عَلَيْكُمْ كَمَا أَرْسَلْنَا إِلَى فِرْعَوْنَ رَسُولا

“Sesungguhnya, Kami telah mengirimkan kepada kamu seorang rasul, yang menjadi saksi atasmu, sebagaimana Kami telah mengirimkan seorang rasul kepada Firaun.” [Al-Muzzammil, 73:16]

Beliau saw pun, sama halnya dengan Kalimullah pertama namun menduduki martabat yang lebih tinggi, diberikan janji akan kedatangan seorang Al-Masih seperti Al-Masih yang pertama. Setelah dikaruniai kekuatan, sifat dan karakteristik Isa Al-Masih putra Maryam, Al-Masih yang dijanjikan ini turun dari langit pada saat yang sama seperti saat turunnya Al-Masih yang pertama dan turun, yakni dengan selisih masa yang lebih kurang sama antara Kalimullah pertama dengan Isa Al-Masih putra Maryam, yakni 14 abad. Kedatangannya adalah dalam bentuk rohani, yang setelah mengalami kenaikan dalam rohani, lalu turun untuk mengadakan perubahan di dalam diri makhluk-Nya. Beliau as turun pada masa yang sama dalam berbagai segi dengan saat kedatangan Yesus putra Maryam sehingga ini pun menjadi tanda agar dapat dipahami bagi manusia. Setiap orang hendaknya memperhatikan agar tidak tergesa-gesa menolaknya, supaya ia tidak dihukum karena telah melawan Allah Ta’ala. Orang-orang dunia tidak akan menerima beliau as karena mengikuti secara membabi buta terhadap konsep yang lama. Akan tetapi waktu tersebut akan segera tiba ketika kesalahan mereka akan zahir. Seorang pemberi ingat telah datang ke dunia ini namun dunia tidak menerimanya. Akan tetapi, Allah Ta’ala akan menerimanya dan akan menegakan kebenarannya dengan cara yang luar biasa.” [Intisari ajaran Islam, Vol IV, hal 114-115]

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda: “Pada hari-hari ini, para Ahmadi mengucapkan mubarak via telepon berkenaan dengan tanggal 23 Maret ini. Demikian pula ucapan ini juga datang melalui Whatsapp. Jika ucapan mubarak ini dikirimkan dengan niat bahwa setelah menerima Hadhrat Masih Mau’ud as, mereka telah masuk ke dalam agama Islam yang telah diberi petunjuk dan kemudian menjadi penolong agama, maka barulah mereka tentu dibenarkan untuk mengirimkan ucapan mubarak. Tidak ada yang salah dalam melakukan hal demikian dan hal tersebut juga bukan bid’ah yang berbahaya.

Saya merasa heran bahwa seseorang mengirimkan surat kepada orang-orang yang saling mengucapkan mubarak seraya menegur apa yang mereka perbuat serta berpendapat bahwa dengan berbuat demikian, mereka akan terlibat dalam bid’ah-bid’ah yang berbahaya seperti halnya umat Islam sekarang. Saya merasa heran bagaimana orang ini, yang saya pikir memiliki pengetahuan agama dan juga tahu bagaimana Nizam Jemaat berjalan, dapat berkata kepada orang-orang bahwa mereka akan terlibat dalam bid’ah-bid’ah yang berbahaya!

Umat Islam saat ini tidak memperoleh keberkatan Khilafat sebagaimana yang para Ahmadi peroleh dengan beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika tampak sesuatu yang keliru atau bid’ah yang berbahaya berkembang dan jika Khilafat ini benar dan adil, maka Khilafat inilah yang akan menghentikannya. Janganlah ragu dan perhatikanlah bahwa suatu perbuatan itu dilakukan atas dasar niat. Mungkin seseorang itu melakukannya dengan niat yang baik. Orang ini hendaknya menjadikan hal ini tetap berada di belakang perisai Khilafat. Janganlah berupaya untuk melangkahi Khilafat. Siapapun yang bersikap demikian, ia akan tergelincir. Hendaknya hal ini senantiasa diingat dan hendaknya persatuan itu dijaga dan tidak ada usaha untuk memaksakan kehendak seseorang terhadap Jemaat.

Saya akan memberikan suatu contoh berkenaan dengan hal ini. Ini bukanlah perkara yang besar namun bagaimana pandangan Hadhrat Masih Mau’ud as berkenaan dengan beberapa bid’ah yang berbahaya yang umat Islam ikuti! Hadhrat Masih Mau’ud as ditanya mengenai Qaza-e-Umri, yakni shalat yang dilaksanakan pada Jumat Terakhir untuk menggantikan seluruh shalat yang tertinggal. Beliau as bersabda bahwa itu adalah perkara yang tidak keruan. Bagaimanapun juga, suatu kali seseorang mendirikan shalat di luar jam yang ditentukan pada masa Hadhrat Ali ra. Seseorang bertanya kepada Hadhrat Ali, kenapa beliau as tidak menghentikannya? Hadhrat Ali ra menjawab bahwa ia takut kalau-kalau ia termasuk ke dalam ayat: أَرَأَيْتَ الَّذِي يَنْهَى  “Apakah engkau melihat orang yang melarang” [Al-‘Alaq, 96:10]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Jika seseorang secara sengaja meninggalkan shalat dengan pikiran bahwa ia akan melaksanakan Qaza-e-Umri, maka ia keliru. Namun jika ia melakukan shalat dalam corak penyesalan dan memperbaiki kesalahan, maka kenapa pula engkau menghentikannya? Pada akhirnya ia berdoa. Jadi, jangan sampai engkau bisa termasuk ke dalam ayat tersebut dengan menghentikannya.”

Jadi begitu berhati-hatinya mereka yang memiliki hak untuk mengeluarkan fatwa itu. Akan tetapi orang ini memperingatkan orang-orang yang mengirimkan ucapan mubarak lalu mengeluarkan fatwa. Jika sesuatu perlu dihentikan, maka itu adalah tanggung jawab Khalifa-e-Waqt untuk melakukan hal demikian melalui Nizam Khilafat.
Semoga Allah Ta’ala memberikan kita taufik untuk memahami tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as dan memperoleh taufik untuk mengamalkannya.

Diumumkan 3 shalat jenazah, salah satu diantaranya shalat jenazah ghaib. Pertama Mahmuda Saadi Sahiba, meninggal pada 22 Maret, di usia 94 tahun. Kedua, Nuruddin Chiragh Saihb, meninggal di usia 45 tahun. Ketiga, Syeda Mubaraka Begum Sahiba, meninggal pada 20 Maret di usia 83 tahun.

Penerjemah: Hafizurrahman;

Audio: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Shd

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ   وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ   أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

(Visited 165 times, 1 visits today)