بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 27 Tabuk 1392 HS/September 2013

Di Masjid Taha, Singapura

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

 

Merupakan karunia Allah Ta’ala bahwasannya sekali lagi Dia telah memberi saya taufik untuk bertemu dengan para Ahmadi di kawasan ini. Kondisi di Malaysia dan Indonesia dari segi Kejemaatan adalah sedemikian rupa, sehingga saya sulit pergi ke sana. Karena itu, Singapura itulah tempat dimana Allah Ta’ala telah meyediakan sarana untuk pertemuan dengan para anggota Jema’at tersebut.

Semoga Allah Ta’ala segera menciptakan kondisi demikian rupa, sehingga di negara-negara tersebut tercipta kemudahan, bagi Jemaat juga tercipta kemudahan dan Khalifah-e-Waqt bisa pergi ke sana dengan mudah.

Kali ini lebih dari 3000 Ahmadi datang dari Indonesia dan Malaysia. Jumlah terbanyak adalah para Ahmadi dari Indonesia. Selain itu, datang juga para Ahmadi dari Thailand, Burma, Myanmar, Filipina, dan yang lainnya. Beberapa ghair Ahmadi juga datang. Bagaimanapun, ini merupakan ihsan (kebaikan) Allah Ta’ala bahwa Ia telah menciptakan sarana untuk pertemuan ini.

 Di kawasan ini, Indonesia adalah negara dimana terjadi banyak sekali penganiayaan terhadap para anggota Jemaat karena [menjadi] Ahmadi. Beberapa pensyahidan pun terjadi. Semua ini telah dan sedang terjadi di hadapan pemerintah yang berwenang. [penganiayaan] ini belumlah selesai, dan tidak hanya terjadi satu kali. Sekitar 7 tahun yang lalu saya pertama kali datang ke sini.

Beberapa waktu sebelum itu pun suatu mata rantai penganiayaan terhadap para Ahmadi di Indonesia telah dimulai. Mesjid-mesjid diserang, terjadi pengrusakan, properti Jemaat dirusak, para Ahmadi diserang, terjadi kerugian jiwa dan harta. Setelah itu, mata rantai permusuhan ini terus berlangsung semakin keras. Kerugian jiwa dan harta benda terus menerus terjadi; dan Saudara-saudara semua mengetahui, para Ahmadi disyahidkan dalam pengawasan polisi dengan cara yang sedemikian rupa kejam dan biadab. Sedemikian kejamnya, sehingga media lokal yang menyukai keadilan pun mengutuk kekejaman itu.

Dewasa ini, dunia telah menjadi sangat dekat karena media, sehingga penganiayaan yang terjadi dengan cepat tersebar ke seluruh penjuru dunia. Yakni, detail penganiayaan itu telah sampai ke setiap orang di dunia. Perhatian duniapun tertuju kepadanya dan untuk itu suara-suara (penentangan) pun dimunculkan. Bagaimanapun, kita juga berterima kasih kepada lembaga-lembaga ataupun orang-orang yang angkat bicara menentang kezaliman-kezaliman [yang dilakukan] untuk menentang Jemaat tersebut.

Tetapi, dalam setiap penganiayaan yang dilakukan terhadap Jemaat, Allah Taala menciptakan beberapa hasil yang baik dari segi yang lain. Karena panganiayaan terhadap para Ahmadi di Indonesia tersebut, Jemaat pun menjadi terkenal secara meluas di dunia. Ketika video [penganiayaan atau pensyahidan] ini diperlihatkan di suatu daerah yang sangat jauh di Afrika, ketika tiga Ahmadi itu disyahidkan, maka ketika menyaksikan video tersebut seorang yang sangat terpelajar memutuskan bahwa penganiayaan seperti demikian itu hanya dapat terjadi terhadap orang-orang yang beriman, “Oleh karena itu, sejak hari ini saya menerima Ahmadiyah, Islam hakiki.”

Akibat penganiayaan tersebut, tidak hanya di Indonesia yang terjadi bai’at-bai’at, bahkan bai’at ini terjadi juga di banyak tempat lain di dunia. Setelah Pakistan, Indonesia adalah negara dimana kisah-kisah kekejaman dan kebiadaban terus terjadi. Dimana para Ahmadi dianiaya dengan biadab.

Di Indonesia saat ini, peristiwa [penganiayaan] itu sampai batas tertentu mengalami penurunan, tetapi di Pakistan penganiayaan itu terus menerus berlangsung. Penganiayaan ini dilakukan atas nama Allah dan Rasulullah s.a.w., penganiayaan ini tengah berlangsung atas nama Allah yang ajaran-Nya justru dipenuhi dengan penunaian huququl i’baad (hak-hak hamba).

Penganiyaan terjadi atas nama Allah Yang mengajarkan kaum Muslimin untuk berkasih-sayang dan adil. Penganiayaan terjadi atas nama Rasul yang merupakan rahmatan lil ‘alamiin (rahmat bagi seluruh alam). Penganiayaan terjadi atas nama Rasul yang walaupun dalam keadaan perang melarang kezaliman, yang telah menunjukkan kemarahan yang keras terhadap sahabat beliau yang membunuh orang yang telah membaca syahadat. Ketika sahabat tersebut menjawab bahwa orang kafir ini membaca syahadat karena takut pada pedang, maka beliau s.a.w. bersabda, “Apakah engkau telah membelah hati orang itu dan melihat apakah kalimah syahadat itu dibaca karena takut pada pedang atau benar-benar dari hati?”

Di Pakistan, penganiayaan-penganiayaan ini memuncak. Orang yang membaca kalimah syahadat dianiaya. Dianiaya atas nama kalimah syahadat. Pengaruh dari [hal] ini dan pengaruh para mullah Pakistan tersebut yang memperngaruhi para mullah di Indonesia, yang sedang melakukan penganiayaan ini atau memprovokasi orang-orang terhadap hal itu. Kapanpun mendapat kesempatan, maka para penentang berusaha untu merugikan kita. Tetapi, inipun merupakan kebaikan Allah Ta’ala, yakni ketika para musuh yang menentang bertambah, maka keteguhan para Ahmadi pun meningkat lebih dari itu.

Para penentang kita tidak mengetahui bahwa Ahmadiyah adalah Islam Hakiki yang akar-akarnya telah ditancapkan di dalam hati kita. Tidak ada penentangan dan angin topan kencang yang dapat memisahkan kita dari akar-akar kuat keimanan kita.

Setelah melihat pemandangan karunia-karunia Allah, bagaimana bisa orang Ahmadi berpaling dari janji (baiat) yang telah ia buat dengan Allah? Setelah terikat dengan pecinta sejati Rasulullah s.a.w., bagaimana bisa ia memutuskan ikatannya ini? Ikatan ini adalah ikatan yang dapat lebih menguatkan ikatan kita dengan Allah Ta’ala dan Rasulullah s.a.w. yang menunjukkan jalan-jalan kemajuan iman yang tidak diketahui oleh umat Muslim ghair Ahmadi. Jadi, meskispun ada badai penentangan, setiap Ahmadi hendaklah meningkatkan keimanannya. Hendaklah selalu menegakkan contoh-contoh istiqamah (keteguhan), meningkat dalam keimanan dan keikhlasan. Hendaklah juga berdoa untuk keteguhan langkah, karena hanya dengan karunia Allah Ta’ala lah keteguhan langkah itu dianugerahkan.

Tunduk di hadapan-Nya dan melaksanakan semua kewajiban ibadah kepada-Nya sangatlah penting untuk memperoleh karunia-Nya. Demikian pula, berikanlah perhatian yang besar agar keadaan amal lebih baik dari pada sebelumnya.

Tunduk di hadapan Allah Ta’ala dan memperbaiki keadaan amal bukan hanya tugas para Ahmadi yang sedang ditimpa kekerasan, melainkan setiap Ahmadi hendaklah menginstrospeksi dirinya sendiri. Jika Ahmadi di Singapura, Ahmadi di Burma, Ahmadi di Thailand, Ahmadi di setiap negara di dunia tidak menginstrospeksi keimanan mereka, maka di dalamnya tidak akan ada kemajuan, dan jika dalam Ahmadiyah tidak ada kemajuan maka apa gunanya menjadi Ahmadi. Karena itu setiap Ahmadi hendaklah memberikan perhatian terhadap kemajuan iman dan keyakinannya.

Tadi saya juga menyebutkan Malaysia, di sana juga terdapat penentangan. Dari waktu ke waktu kemarahan tetap ada, tetapi di sana tidak seperti kondisi di Indonesia. Saya mendengar, organisasi Muslim telah memasang sign board (papan peringatan) di berbagai tempat. Di atas papan itu tertulis “Qadiani bukan Muslim”, atau kata-kata yang sejenis itu. Sungguh, ketika seorang Ahmadi lewat dan melihat maka perasaannya menjadi terluka. Tulisan-tulisan yang tertulis di berbagai tempat ini mengganggu para Ahmadi. Tetapi karena orang Ahmadi tidak mengambil hukum ke tangannya (main hakim sendiri), mereka terus memelihatkan kesabaran.

Allah Ta’ala mengetahui bahwa kita adalah Muslim. kita tahu bahwa kita adalah Muslim yang lebih baik dari yang lain. Kita tahu bahwa hati kita penuh dengan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasulullah s.a.w.. Hadhrat s.a.w. bersabda, “Janganlah mengatakan kafir kepada orang yang mengucapkan laa ilaaha illalloh, Muhammadur rasuulullah. Karena perkataan kafir ini akan kembali kepada kalian.”[2]

Bahkan beliau bersabda, “Orang yang hanya mengatakan laa ilaaha ilallaah juga adalah Muslim.”[3]

Bahkan Quran Syarif menyatakan bahwa “Janganlah kalian mengatakan kepada orang yang mengucapkan salam kepada kalian bahwa ia bukan mukmin.”[4]

Jadi, inilah ajaran Quran Karim, tetapi orang-orang ini telah membuat Islam [versi] mereka sendiri. Demi keuntungan dan keinginan-keinginan pribadi mereka menjadikan perintah-perintah Allah Ta’ala sebagai bahan olok-olok di mata orang di luar [Islam].

Saya telah bertemu dengan Sadr (Presiden, Ketua Nasional) Jemaat Malaysia. Beliau mengatakan bahwa papan-papan itu memang terpasang, tetapi sekarang orang-orang tidak lagi mempedulikannya lagi. Orang-orang baik dari luar Jemaat juga sekarang sudah mengetahui bahwa apa yang tengah nampak saat ini adalah hanya untuk keuntungan-keuntungan pribadi para maulwi.

Demikianlah, mereka membuat Islam menjadi bahan tertawaan dan perolok-olokan di mata orang luar [Islam]. Mereka hendak memasukkan keinginan-keinginan pribadi mereka dan bertentangan dengan ajarah Islam yang lama. Tetapi Islam hakiki adalah yang merupakan perintah-perintah Allah dan Rasul.

Beberapa waktu lalu, seorang pendeta di Malaysia mengatakan bahwa “Tidak masalah jika orang-orang Kristen juga menggunakan lafadz Allah. Kami juga punya Allah.” Atas hal itu para ulama yang hanya nama tersebut menjadi ribut, [mereka mengatakan] “Bagaimana mereka bisa seberani itu?” Lalu diadakan persidangan di pengadilan, dan diputuskan bahwa hanya orang Muslim sajalah yang dapat menggunakan kata Allah, dan tidak ada yang berhak mengatakan bahwa “Allah adalah [Tuhan] kami juga.”

Seolah-olah orang-orang dunia ini membatasi nama Allah dengan kata Allah saja. Mereka menganggap bahwa kata Allah Ta’ala hanya dimonopoli oleh orang Muslim yang hanya nama ini. Jika mullah yang bodoh ingin melakukan itu, maka lakukanlah, yang mengherankan adalah para pengambil keputusan yang terpelajar, yang dengan keputusan itu sedang memburuk-burukkan Islam.

Allah Ta’ala berfirman: الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ — Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam. [Al-Fatihah:2]). Yakni Allah adalah Tuhan dari segala sesuatu, baik Muslim ataupun bukan Muslim. Kemudian Dia berfirman : اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ (Allah meluaskan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki. (Ar-Raad’: 27). Apakah ada wujud lain yang memberikan rezeki kepada orang Kristen, orang Yahudi, atau orang yang lain?

Menurut keputusan mereka ini [pengadilan Malaysia], jika seorang Kristen mengatakan bahwa “Allah memberi rezeki kepada saya,” maka dosa yang tidak bisa dimaafkan. Allah Ta’ala telah menyatakan di dalam Quran karim, melalui para nabi sebelumnya bahwa : اللَّهَ رَبَّكُمْ وَرَبَّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ — Allah adalah Tuhan kalian, dan Tuhan nenek moyang kalian dahulu. [Ash-Shaffat: 127]).

Jadi, dari mana orang Islam memiliki monopoli atas Allah. Kemudian kepada Ahli kitab Allah Ta’ala berfirman — yakni berkenaan dengan orang Kristen yang yang mengenainya pengadilan Malaysia telah memutuskan bahwa hanya orang Islam sajalah yang dapat menggunakan lafadz Allah, firman-Nya: قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلا نَعْبُدَ إِلا اللَّهَ — Katakanlah, “Hai Ahli-kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah (Ali-Imran : 65).

Yakni, kesamaan antara kaum Muslimin dan orang-orang Kristen adalah Dzat Allah. Sebagaimana orang Islam berhak untuk menyebut Allah, begitu juga orang-orang Kristen. Begitu juga, siapa pun berhak menyebut “Allah”.

 Jadi saya memberikan contoh-contoh ini, karena sebagian Ahmadi juga bertanya tentang ini. Banyak sekali contoh-contoh demikian di dalam Quran Karim. Ketika Allah Ta’ala menyatakan bahwa Dia adalah Rabb dari segala sesuatu, maka tidak ada seseorang, golongan, agama, pemerintahan, atau pengadilan yang dapat memopoli lafadz Allah. Allah Ta’ala bukanlah trade mark (merek dagang), dia adalah Rabbul ‘alaamiin (Tuhan seluruh alam).

Sekarang ini, hanya orang Ahmadi sajalah yang dapat menyampaikan kepada dunia bagaimanakah ajaran hakiki Islam itu, Dzat Allah Ta’ala dan kedudukan-Nya, apakah hakikat ajaran Al-Qur’an.

Orang-orang Islam ghair Ahmadi — sebagaimana telah saya katakan — menjadikan Islam sebagai bahan ejekan orang-orang luar. Bagaimanapun, merupakan tugas para Ahmadi di Malaysia untuk dengan bijak menjelaskan ajaran Islam yang hakiki kepada warga yang senegara dengan mereka. Katakanlah kepada mereka, “Mengapa kalian mengikuti para ulama yang hanya nama itu dan memburuk-burukkan ajaran Islam yang indah?” Semoga Allah Ta’ala menjauhkan tabir kebodohan mereka.

Saya telah menyebutkan Indonesia dan Malaysia. Mungkin para Ahmadi Singapura berpikir, “[Hudhur] ini datang ke negeri kami, tetapi menyebutkan negara-negara lain?”

Hal yang pertama adalah, setiap Ahmadi hendaknya ingat bahwa mukmin itu ibarat satu tubuh. Jika yang satu menderita, maka yang lainpun menderita. Oleh karena itu, setiap Ahmadi di dunia seharusnya merasakan penderitaan para Ahmadi yang tinggal di negara-negara dimana mereka dianiaya.

Kedua, saya juga mengatakan kepada para Ahmadi Singapura bahwa kondisi di sini baik. Pemerintah bukan hanya tidak mengizinkan siapapun untuk berbicara menentang suatu agama. Tetapi juga tidak melarang untuk menjelaskan keindahan-keindahan agamanya.

Jadi, dengan hikmah (bijaksana) perluaslah terus medan tabligh Saudara-saudara. Sampaikanlah Ahmadiyah, yakni Islam hakiki ke semua kalangan. Disini, para Ahmadi yang duduk di depan saya, baik dari Singapura ataupun negara lain, kita hendaknya ingat — apakah kondisinya baik atau tidak baik — kita kaum Muslim Ahmadi harus memperlihatkan wajah Islam yang sebenarnya kepada dunia, menunjukkan segi-segi indah Islam dan sirat (perjalanan hidup) Nabi S.a.w. kepada dunia.

Ambillah setiap segi dari sirat beliau s.a.w.. Allah Ta’ala berfirman bahwa segala segi beliau s.a.w. merupakan uswah hasanah (suri tauladan baik) bagi seorang Muslim sejati. Baik dalam urusan rumah tangga, pekerjaan dan lingkungan, perkara-perkara yang berhubungan dengan orang-orang luar atau dengan orang dari luar kaum. Beliau s.a.w. adalah contoh sempurna bagi kita.

Jadi, ketika kita harus menjelaskan sirat itu di hadapan orang-orang luar [Islam], maka kita sendiri pun harus mengamalkannya. Dengan contoh-contoh amalan Saudara-saudara, orang-orang luar akan tertarik kepada Islam. Ketika kita harus memperlihatkan wajah hakiki dari rahmatan lil’ ālamīn (rahmat untuk seluruh alam) kepada dunia, maka dalam setiap hal kita juga harus memperlihatkan contoh kasih-sayang, kecintaan, dan persaudaraan.

Ketika kita harus menzahirkan ajaran sejati Quran Karim kepada dunia, ketika kita harus memberitahukan dunia bahwa untuk memahami Al-Qur’an, pada zaman ini Allah Ta’ala telah mengutus utusannya yang merupakan pecinta sejati Nabi Muhammad s.a.w., maka tanpa menghubungkan diri dengan beliau s.a.w. kita tidak akan dapat memahami Al-Qur’an. Jika tidak menjalin hubungan dengan Imam Zaman, maka hanya akan saling memfatwakan kafir satu sama lain. Tanpa itu, orang-orang dari agama di luar Islam bukannya akan mendekati Islam, justru akan terus menjauhinya.

Jadi, merupakan tugas setiap Ahmadi untuk bersyukur atas kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala. Dia telah memberikan taufik kepada kita untuk menerima Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud yang datang di Akhir Zaman sesuai dengan nubuwatan-nubuwatan dari Nabi Muhammad s.a.w..

Tetapi bagaimana cara bersyukur kita? Untuk mensyukurinya, kita harus berusaha untuk menyelaraskan keinginan-keinginan kita sesuai dengan ajaran Islam yang benar, harus mengorbankan hasrat-hasrat kita, untuk memahami ajaran yang sejati harus berusaha gigih. Jadi, kita harus memberikan perhatian yang besar terhadap hal ini.

Masih banyak hal yang ingin saya sampaikan, tetapi saat ini tidak ada waktu untuk saya menyampaikan semuanya. Akan tetapi, merupakan ihsan (kebaikan) Allah Ta’ala, bahwa di zaman sekarang ini meskipun jauhnya jarak, Allah Ta’ala telah menghubungkan Jemaat dan khilafat melalui MTA. Karena itu, haruslah mendengarkan khotbah-khotbah saya dan program-program yang lainnya.

Saya telah mengevaluasi, sebagian pengurus juga tidak secara dawam mendengarkan khotbah-khotbah saya. Saya berusaha menyesuaikan khotbah-khotbah sesuai dengan kebutuhan waktu. Karena itu, Saudara-saudara sendiri harus menghubungkan diri dengan itu, agar dunia mengetahui bahwa ajaran Ahmadi di setiap tempat di dunia adalah satu.

Di bagian akhir, saya meletakkan beberapa nasihat Hadhrat Masih Mau’ud a.s. untuk Saudara-saudara sekalian, yang dari situ dapat diketahui bagaimana standar yang ingin dilihat oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dari Jemaat beliau. Beliau bersabda, “Adalah penting, bahwa ikrar ‘saya akan mendahulukan agama dari pada dunia’, setiap saat telaahlah ikrar ini dan sesuai dengan itu, tampilkanlah contoh-contoh baik dari amal kalian yang hidup.”[5]

Kemudian beliau bersabda, “Pertolongan Allah Ta’ala akan menyertai mereka yang senantiasa melangkah maju dalam kebaikan. Mereka tidak berhenti di suatu tempat, dan merekalah yang mendapatkan akhir yang baik.”[6]

Kemudian bersabda, “Allah Ta’ala mengajarkan doa ini dalam Quran Karim: وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي — “Perbaikilah juga istri dan keturunanku” (QS. Al-Ahqaf :16). Bersamaan dengan doa-doa untuk perubahan suci dalam kondisi kalian, senantiasalah juga berdoa untuk keturunan dan istri kalian, karena banyak ujian yang menimpa seseorang karena anaknya, dan banyak juga karena istrinya.”[7]

Kemudian bersabda, “Hendaklah amal-amal kalian menjadi saksi bahwa kalian Ahmadi.”[8]

Bersabda, “Jemaatku hendaknya sangat mengingat hal ini, yakni janganlah melupakan Allah Ta’ala dalam keadaan apapun. Senantiasalah meminta pertolongan-Nya setiap saat. Tanpa Dia, manusia bukanlah apa-apa.”[9]

Jadi, setiap orang di antara kita haruslah mengistrospeksi dirinya sendiri, sudah sampai batas mana perubahan suci dalam diri kita? Sampai batas mana kita berusaha untuk menghubungkan anak-anak kita dengan Jemaat? Sampai batas mana kita mengamalkan ajaran Quran Karim? Amal yang sedemikian rupa, sehingga orang ghair pun setelah melihat kita akan mengatakan, “Ini adalah orang Islam yang lebih baik dari kami.”

Apakah contoh-contoh kita sedemikian rupa, sehingga dengan melihat kita para penentang Islam menjadi condong kepada Islam? Jika kita mendapatkan standar ini, maka insya Allah hal ini akan menjadi faktor yang mendekatkan kita dengan Allah Ta’ala dan juga memperbanyak jumlah kita; dan para penentang Jemaat kita pada suatu hari akan terbang dibawa angin.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kemajuan dalam iman dan keyakinan Saudara-saudara semua dan saya juga, serta senantiasa menempatkan Saudara-saudara dalam perlindungan-Nya setiap saat, dan menghancurkan setiap rencana orang yang memusuhi.

Penerjemah: Ataul Ghalib Yudi Hadiana

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Shahih bukhari Abu Dzar Al Ghifari ini, diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya di dua tempat; kitab Al Manaqib, Bab Nisbatul Yaman Ila Isma’il, hadits no. 3317 dan kitab Al Adab, Bab Ma Yanha Minas Sibab Wal La’ni, hadits no. 5698 dan Imam Muslim dalam shahihnya, kitab Al Iman, Bab Bayan Hali Iman Man Raghiba An Abihi Wahua Ya’lam, hadits no. 214.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْسَ مِنْ رَجُلٍ ادَّعَى لِغَيْرِ أَبِيهِ وَهُوَ يَعْلَمُهُ إِلَّا كَفَرَ وَمَنِ ادَّعَى مَا لَيْسَ لَهُ فَلَيْسَ مِنَّا وَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

Dari Abu Dzar, dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Tidak ada seorang lelakipun yang mengakui bapak kepada orang yang bukan bapaknya padahal ia tahu (kalau itu bukan bapaknya), kecuali dia telah kufur. Barangsiapa yang mengaku sesuatu yang bukan haknya, berarti dia tidak termasuk golongan kami dan hendaklah ia menempati tempat duduknya dari api neraka. Dan barangsiapa yang memanggil seseorang dengan panggilan “kafir” atau “musuh Allah” padahal dia tidak kafir, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh.

[3] Thabrani dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir No. 12912 dari Ibnu Umar menyebutkan:

“Kaffu ‘an ahli Laailaha illallah Laa tukaffiruuhum bi dzanbin. Fa man kaffara ahla Lailaha illallah fa huwa ila al-kufri aqrabu”. Artinya: “Tahan dirilah kalian terhadap orang-orang yang mengucapkan kalimat tauhid ‘Tiada Tuhan selain Allah’. Jangan kau hukumi mereka kafir lantaran mereka melakukan sebuah dosa. Barangsiapa yang mengkafirkan mereka, maka dia lebih dekat dengan kekufuran”

Shahih Muslim, Kitab tentang Iman, bab larangan membunuh orang kafir setelah berkata. ‘Laa ilaaha illallah’ menyebutkan:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ وَهَذَا حَدِيثُ ابْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَرِيَّةٍ فَصَبَّحْنَا الْحُرَقَاتِ مِنْ جُهَيْنَةَ فَأَدْرَكْتُ رَجُلًا فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَطَعَنْتُهُ فَوَقَعَ فِي نَفْسِي مِنْ ذَلِكَ فَذَكَرْتُهُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَقَتَلْتَهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا قَالَهَا خَوْفًا مِنْ السِّلَاحِ قَالَ أَفَلَا شَقَقْتَ عَنْ قَلْبِهِ حَتَّى تَعْلَمَ أَقَالَهَا أَمْ لَا فَمَا زَالَ يُكَرِّرُهَا عَلَيَّ حَتَّى تَمَنَّيْتُ أَنِّي أَسْلَمْتُ يَوْمَئِذٍ قَالَ فَقَالَ سَعْدٌ وَأَنَا وَاللَّهِ لَا أَقْتُلُ مُسْلِمًا حَتَّى يَقْتُلَهُ ذُو الْبُطَيْنِ يَعْنِي أُسَامَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ أَلَمْ يَقُلْ اللَّهُ { وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ } فَقَالَ سَعْدٌ قَدْ قَاتَلْنَا حَتَّى لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَأَنْتَ وَأَصْحَابُكَ تُرِيدُونَ أَنْ تُقَاتِلُوا حَتَّى تَكُونُ فِتْنَةٌ

Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutuskan kami dalam suatu pasukan. Suatu pagi kami sampai di al-Huruqat, yakni suatu tempat di daerah Juhainah. Kemudian aku berjumpa seorang lelaki, lelaki tersebut lalu mengucakan LAA ILAAHA ILLAALLAHU (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), namun aku tetap menikamnya. Lalu aku merasa ada ganjalan dalam diriku karena hal tersebut, sehingga kejadian tersebut aku ceritakan kepada Rasulullah. Rasulullah lalu bertanya: ‘Kenapa kamu membunuh orang yang telah mengucapkan Laa Ilaaha Illaahu? ‘ Aku menjawab, “Wahai Rasulullah! Sesungguhnya lelaki itu mengucap demikian karena takutkan ayunan pedang.” Rasulullah bertanya lagi: “Sudahkah kamu membelah dadanya sehingga kamu tahu dia benar-benar mengucapkan Kalimah Syahadat atau tidak?” Rasulullah terus mengulangi pertanyaan itu kepadaku hingga menyebabkan aku berandai-andai bahwa aku baru masuk Islam saat itu.” Usamah menceritakan lagi, “Sa’d telah berkata, ‘Demi Allah, aku tidak akan membunuh seorang muslim, hingga dia telah dibunuh oleh orang yang mempunyai perut yang kecil, yaitu Usamah.’ Usamah berkata lagi, ‘Seorang lelaki telah bertanya, ‘Tidakkah Allah telah berfirman, ‘(Dan perangilah mereka, sehingga tiada lagi fitnah, dan jadikanlah agama itu semata-mata karena Allah) ‘ (Qs. Al Anfal: 38). Maka Sa’d menjawab, “Sesungguhnya kami memerangi mereka supaya tidak berlaku fitnah, tetapi kamu dan para Sahabat kamu memerangi mereka, untuk menimbulkan fitnah.”

[4] Surah an-Nisa; 4:95

[5] Malfuzhat, jilid 5, hal. 605, Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[6] Malfuzhat, jilid 5,, hal. 456, Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[7] Malfuzhat, jilid 5, hal. 456, Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[8] Malfuzhat, jilid 5, hal. 272, Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[9] Malfuzhat jilid 5, hal. 279, Edisi 2003, Cetakan Rabwah