Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 22 April 2005 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّين*َ

الَّذِیۡنَ یُبَلِّغُوۡنَ  رِسٰلٰتِ اللّٰہِ وَ یَخۡشَوۡنَہٗ  وَ لَا یَخۡشَوۡنَ  اَحَدًا  اِلَّا اللّٰہَ ؕ وَ کَفٰی  بِاللّٰہِ  حَسِیۡبًا ﴿﴾

‘Alladziina yuballighuuna risaalaatiLlaahi wa yakhsyaunahu wa laa yakhsyauna ahadan illaLlaha wa kafaa biLlaahi hasiiba.’

“Orang-orang yang menyampaikan amanat Allah dan takut kepada-Nya, dan tiada mereka takut siapapun selain Allah. Dan cukuplah Allah sebagai penghisab.” (Al-Ahzab, 33 : 40)

Salah satu akhlak para Nabi Allah adalah keberanian. Dan ini semakin tumbuh karena keyakinan dan ketawakalan kepada Allah Ta’ala. Pekerjaan yang Allah Ta’ala serahkan kepada mereka, pekerjaan itu tidak dapat diselesaikan selama belum nampak keunggulan terhadap keberanian mereka. Seperti keunggulan-keunggulan lainnya, keunggulan ini juga paling banyak terdapat pada diri para Nabi dibandingkan orang-orang di zamannya.

Hadhrat Rasulullah saw yang merupakan khataman Nabiyyin, di dalam diri beliau keunggulan ini melebihi semua manusia, bahkan semua Nabi. Yang tidak ada yang menyamai beliau di zaman itu, dan tidak pula akan bisa didapati di masa mendatang. Keberanian yang Hadhrat Rasulullah saw perlihatkan dalam setiap kesempatan, tidak nampak contoh semacam itu pada seorang pemimpin dalam sejarah. Bahkan seperseratus atau seperseribunya pun tidak. Dalam keadaan sangat sulit sekalipun, untuk meninggikan semangat kaum, untuk meninggikan semangat teman-teman beliau, beliau mengajarkan mereka kesabaran, istiqamah, berani, dan tawakal pada Allah Ta’ala. Sikap perbuatan beliau adalah, walaupun seandainya beliau sendiri dan jatuh kepada musuh, tetap tidak memperlihatkan suatu ketakutan.

Ayat yang telah saya tilawatkan ini, didalamnya Allah Ta’ala berfirman, orang-orang yang menyampaikan pesan Allah dan takut kepada-Nya, dan tidak takut kepada selain-Nya, dan Allah maha cukup sebagai penghisab. Ini adalah sunnah Allah yang telah berjalan sejak sebelumnya. Hadhrat Rasulullah saw adalah yang menegakkan standar luhur melebihi semuanya. Amal beliau dan kesaksian para sahabat menjadi saksi bahwa keberanian yang beliau perlihatkan dalam menyampaikan pesan Tuhan, itu tidak ada bandingannya. Bahkan, dalam kecintaan kepada Allah, beliau berani dan tidak takut pada siapapun kecuali Allah Ta’ala.

Keunggulan ini dalam diri beliau pun sudah ada sejak sebelum wahyu Allah Ta’ala turun. Hadhrat Aisyah ra. menyebutkan dalam satu riwayat mengenai kebiasaan-kebiasaan beliau saw di zaman itu. Beliau r.anha menjelaskan bahwa di zaman awal, ketika wahyu mulai turun kepada Hadhrat Rasulullah saw, itu turun dalam bentuk ru’ya shalihah, yakni (beliau) sering menerima mimpi-mimpi dan lain-lain. Beliau r.anha berkata bahwa apa-apa yang beliau saw saksikan pada waktu malam (ini adalah peristiwa sebelum wahyu pertama) itu terlihat terang jelas seperti cahaya fajar/pagi. Kemudian beliau mulai suka berkhalwat. Beliau sendirian di gua Hira, beliau melewatkan bermalam-malam dalam ibadah keada Allah Ta’ala. Beliau membawa bekal sebanyak untuk selama beliau tinggal di sana. Ketika bekal habis maka beliau pulang kepada Hadhrat Khadijah ra. dan membawa tambahan bekal lalu pergi lagi ke gua Hira dan sibuk dalam ibadah. Sampai turun wahyu pertama kepada beliau dan kebenaran/haq datang kepada beliau.[2]

Jadi sebagaimana kecintaan dan ibadah beliau kepada Allah Ta’ala dikenal, keberanian beliau juga dikenal, sehingga tanpa rasa takut beliau biasa melewatkan bermalam-malam di gua-gua dan hutan, dimana terdapat berbagai macam bahaya.

Mengenai hal itu Hadhrat Masih Mau’ud as. Bersabda, “Masalah sebenarnya adalah, ketika lahir kecintaan dan kesenangan kepada Allah Ta’ala, maka lahir kebencian kepada dunia dan orang dunia. Secara alami dia mencintai kesendirian dan khalwat. Demikian pulalah keadaan Hadhrat Rasulullah saw beliau sedemikian fana dalam kecintaan kepada Allah Ta’ala sehingga beliau menemukan kelezatan dan kesenangan sempurna dalam kesendirian itu. Suatu tempat dimana tidak ada sarana kenyamanan dan kemudahan, dan orang pun takut pergi kesana, beliau melewatkan bermalam-malam sendiri disana. Dari situ diketahui juga betapa beliau sangat berani. Ketika hubungan dengan Allah Ta’ala kuat maka timbul keberanian. Karena itu orang mukmin tidak mungkin pengecut. Orang dunia memang pengecut. Dalam diri mereka tidak ada keberanian sejati.”[3]

Kemudian kita melihat bahwa setelah turunnya wahyu, dalam berbagai kesempatan beliau memperlihatkan keberanian. Dalam kehidupan 13 tahun di Makkah, yakni setelah pendakwaan keNabian beliau diancam dari segala penjuru, sesepuh (keluarga yang lebih tua) beliau serta pertolongan para penolong beliau berusaha disingkirkan dari beliau. Tetapi perwujudan keberanian itu sedikitpun tidak peduli pada hal itu.

Saya akan menyampaikan beberapa riwayat yang sampai kepada kita tentang kezaliman dan penganiayaan terhadap beliau dalam masa kehidupan di Makkah. Yang darinya diketahui bagaimana beliau menghadapi semua hal itu dengan berani dan tanpa memperlihatkan kekhawatiran dan ketakutan. Yang beliau khawatirkan adalah orang-orang yang beriman kepada beliau. Beliau prihatin, jangan sampai mereka mendapat kezaliman. Ketika membaca riwayat-riwayat tersebut, kadang-kadang sesuai kecenderungan akal, hanya sebagian segi dari sirat tersebut yang nampak. Tapi jika diperhatikan, maka terdapat beberapa riwayat yang didalamnya, dalam setiap hadits, terlihat beberapa segi sirat dan akhlak beliau.

Ketika Hudhur saw di Makkah, beliau memperlihatkan keberanian, tanpa takut bertawaf di Ka’bah, dan disana beribadah dengan tatacara beliau. Ketika kaum Quraisy Makkah melihat beliau beribadah seperti itu di Ka’bah, mereka datang dengan sangat marah, “Dia mencaci-maki berhala-berhala kita, lalu tanpa malu-malu beribadah dengan caranya sendiri di hadapan kita, dan bertawaf juga.

Demikianlah suatu kali, dalam satu kesempatan –bagaimana kebiasaan Quraisy- Abdullah bin Amr bin Ash menyebutkannya. Dia berkata, “Suatu malam saya ada di dekat Ka’bah, semua orang-orang besar Quraisy berkumpul di Ka’bah, di dekat Hajar Aswad dan mulai membicarakan Hadhrat Rasulullah saw, ‘Dia mencaci-maki berhala-berhala, dan kita telah sangat bersabar. Sekarang kesabaran ini sudah sampai batasnya.’

Orang-orang ini terus berbicara ketika Hadhrat Rasulullah saw datang dan beliau sibuk bertawaf. Ketika dalam tawaf itu beliau lewat di dekat orang-orang itu, maka orang-orang kafir mencemooh beliau, mengatakan hal-hal yang tidak berguna tentang beliau. Demikianlah tiga kali terjadi demikian.

Saya merasakan kesedihan di wajah beberkat Hadhrat Rasulullah saw. Pada cemoohan yang ketiga kalinya beliau berdiri dan beliau bersabda, ‘Hai kelompok Quraisy! Sumpah demi Dzat yang jiwaku ada dalam genggaman kekuasaan-Nya, aku datang membawa kabar kebinasaan orang-orang seperti kalian.

Perkataan itu memberikan pengaruh sedemikian rupa kepada kaum Quraisy sehingga mereka terdiam bengong. Orang yang paling banyak bicara diantara mereka mulai berbicara dengan sangat lembut kepada Hadhrat Rasulullah saw dan berkata, ‘Anda silakan pergi!’ (apapun alasannya). Kemudian beliau pergi dari sana. Hari berikutnya orang-orang ini kembali berkumpul dan mengepung beliau dari segala sisi dan mulai berkata, ‘Kamulah yang menjelek-jelekkan berhala-berhala kami, mencaci-maki agama kami.’ Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘Ya, aku mengatakannya.’

Jadi lihatlah, betapa berani beliau saw sendiri, tanpa teman berjalan diantara gerombolan orang-orang dzalim dan lalim. Sama sekali tidak peduli pada apa yang  orang-orang dzalim dan tidak punya perikemanusiaan ini akan lakukan kepada beliau. Bukan hanya itu, beliau saw bahkan mengancam mereka, ‘Kalian yang hari ini berbicara melampaui batas kepadaku, bermulut besar kepadaku, menggunakan kata-kata kasar dan kotor yang jauh dari peri kemanusiaan terhadapku. Ketahuilah, kehancuran kalian akan terjadi melalui tanganku.’

Sekarang, barangsiapa yang punya sedikit saja rasa takut kepada dunia, dia tidak bisa mengatakan hal seperti ini. Dia, karena tuntutan kemaslahatan akan diam supaya jangan sampai aku semakin dianiaya. Tetapi singa Tuhan ini menantang semuanya, tanpa peduli pada siapapun, tanpa rasa takut, dan dalam tantangan itu, Allah Ta’ala memberikan ru’ub sedemikian rupa, sehingga walaupun mereka kelompok yang kuat, mereka semua terdiam atas hal itu, seakan-akan jiwanya telah keluar dari tubuh. Kemudian orang-orang yang berbuat jahat itu memperlihatkan kerendahan hati sedemikian rupa. Pendeknya, karena fitrat mereka jahat, fitrat mereka kotor, hari berikutnya orang-orang itu berkumpul lagi, dan duduk berkumpul demikian, tapi tidak mencemooh beliau dari jauh. Karena hari itu lebih banyak orang dari saat peristiwa yang terjadi hari sebelumnya, yakni semua terdiam atas perkataan beliau, seseorang berkata, ‘Kalau seperti ini kehormatan kita akan hilang, kehormatan kita akan jatuh, dan beliau akan berhasil dalam tujuan yang beliau bawa.’

Maka, pada hari berikutnya tidak mencemooh tapi mengepung beliau. Sekarang tidak ada jalan kabur. Semua orang berkumpul di sekeliling. Kemudian bertanya, ‘Apakah kamu menghina berhala-berhala kami dan menjelaskan keburukan-keburukannya. Beliau saw dalam keadaan itu pun bersabda, ketika dikepung dari segala penjuru, bahwa, ‘Ya, aku mengatakan kebenaran. Karena berhala kalian ini, benda malang ini tidak punya kekuatan. Ini dibuat dengan tangan kalian sendiri. Lihatlah, bagaimana beliau memberikan jawaban ini dengan sangat berani, dan sama sekali tidak peduli bahwa ‘Apa yang akan mereka lakukan kepadaku’. Dan atas hal itu, detik berikutnya mereka menganiaya beliau.

Demikianlah perawi berkata bahwa saya melihat seseorang menarik sorban beberkat beliau saw. Abu Bakar ra. juga ada disana. Beliau melihat keadaan ini berdiri sambil menangis dan berkata kepada kaum Quraisy, ‘Apakah kalian akan membunuh orang yang mengatakan bahwa Tuhanku adalah Allah. Maka orang Quraisy melepaskan beliau dan pergi dari sana.[4]

Mereka ingin menyempurnakan niat berkumpulnya mereka pada hari berikutnya. Mereka tahu bahwa, ‘Ketika kita bertanya kepada beliau saw mengenai berhala-berhala kita, maka beliau pasti akan menzahirkan kebencian beliau, dan dalam keadaan itu kita akan memukuli beliau. Demikianlah dengan niat itu mereka menangkap beliau, tapi dengan pertolongan Hadhrat Abu Bakar ra. mereka melepaskan beliau. Mungkin ada juga beberapa orang lain yang memperlihatkan kesopanan. Pendeknya, dalam keadaan itu pun beliau memperlihatkan keberanian sedemikian rupa.

Kemudian lihatlah peristiwa keberanian beliau di Makkah, ketika seluruh pemimpin berkumpul lalu mendatangi paman beliau Abu Thalib, “Hentikanlah keponakanmu menyebarkan ajarannya. Jika tidak, kami tidak akan memandang engkau lagi.” Atas hal itu sang paman memanggil untuk menasehati beliau saw. Maka, beliau saw paham, “Sekarang pamanku pun tidak bisa menolongku.” Tetapi, pemikiran itu tidak mengurangi keberanian beliau saw. Bahkan, keyakinan dan keberanian beliau saw mengenai perintah Allah Ta’ala semakin bertambah kemudian bersabda, “Paman! Seandainya pun orang-orang ini meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, maka aku tidak akan meninggalkan pekerjaan itu sampai Allah Ta’ala menyempurnakannya atau aku sendiri binasa.”[5]

Anda sekalian mungkin sudah mendengar peristiwa tersebut. Saya pun telah menerangkan sebelumnya. Tapi ketika peristiwa itu dilihat dari segi keberanian beliau saw, nampak satu keagungan lain.

Seorang pedagang unta menjual unta kepada Abu Jahal, dan setelah mendapatkan untanya, Abu Jahal tidak membayarkan uangnya, dan membuat-buat alasan. Orang asing yang malang itu lelah dipermainkan. Dia meminta tolong kepada para pemimpin Quraisy, “Kasihanilah aku dan mintakan uangku dari Abu Hakam!” Para pemimpin itu, yang juga merupakan bagian dari masyarakat yang dzalim itu, yang pasti juga memakan uang dari banyak orang lainnya, bukannya menolong orang asing itu, tetapi justru mempermainkannya dan menunjukkan jalan kepada beliau saw.

Mereka mengarahkannya bukan dengan niat baik, tapi dengan niat bahwa ketika orang ini datang kepada beliau saw maka karena takut kepada Abu Jahal atau karena kedudukannya sebagai pemimpin Quraisy, dan juga karena dia adalah musuh beliau yang paling sengit, beliau akan menolak pergi kepadanya. Tetapi ketika orang asing itu datang kepada beliau saw, maka tanpa ragu, penjelmaan keberanian ini pergi bersama orang itu dan mendatangi rumah Abu Jahal lalu mengetuk pintunya.

Ketika Abu Jahal keluar dari rumah maka beliau saw berkata kepadanya, “Kamu harus memberikan uang orang ini.” Abu Jahal berkata, “Ya, harus memberikannya, segera kuambil.” Dia masuk ke dalam rumah dan mengambil uangnya lalu memberikannya. Jadi, pertolongan Allah Ta’ala pasti menyertai beliau. Dalam penglihatannya Allah Ta’ala memperlihatkan pemandangan sedemikian rupa, bahwa Abu Jahal melihat seekor unta yang menakutkan. Jadi keyakinan kepada Dzat Allah Ta’ala juga memberikan kepada beliau keberanian ini, sehingga beliau pergi ke rumah musuh yang berbahaya tanpa sarana perlindungan. Dan keberanian ini adalah kekhususan milik beliau.

Kemudian lihatlah, ketika hijrah dari Makkah maka tempat pertolongan pertama adalah sebuah gua di dekat situ. Para musuh mencari sampai kesitu. Beliau dan Hadhrat Abu Bakar duduk di dalam, dan kalau musuh mau maka bisa melihat beliau. Bahkan orang yang duduk di dalam berpikir bahwa pasti mereka akan melihat. Gua itu pun bukan gua yang mulutnya sempit dan ruangannya dalam, atau orang bisa pergi ke sebuah sudut yang tersembunyi. Hadhrat Abu Bakar gelisah. Tapi beliau saw sama sekali tidak memperlihatkan tanda kegelisahan. Hanya ada satu hal dalam pikiran, bahwa jika harus merasa takut pada sesuatu, maka itu adalah pada Dzat Allah Ta’ala dan ketika melakukan pekerjaan demi Allah Ta’ala, tidak perlu takut pada siapapun.

Hadhrat Abu Bakr ra. menerangkan peristiwa ketika duduk di dalam gua bahwa, “Saya berada di dalam gua bersama Rasul Karim saw Ketika saya mengangkat kepala dan melihat, maka nampak kaki para pengejar. Atas hal itu saya bertanya kepada Rasul Karim saw, ‘Ya Hadhrat Rasulullah saw! jika ada yang merendahkan pandangannya tentu akan melihat kita.’ Beliau bersabda sebagai jawabannya, ‘Hai Abu Bakar, kita berdua dan yang ketiga adalah Tuhan.’”

Jadi peristiwa ini selain menampakkan keyakinan kepada Dzat Allah Ta’ala, juga terlihat keberanian beliau saw. Beliau juga bisa memberikan isyarat dengan diam, bahwa diamlah. Orang-orang berdiri di luar, jangan bicara. Tetapi karena keberanian dalam diri beliau saw yang disebabkan keyakinan pada Dzat Allah Ta’ala, beliau saw tidak peduli walaupun berdiri diatas kepala musuh dan bersabda, “Abu Bakar, jangan khawatir, Allah bersama kita.”[6]

Dalam menyampaikan peristiwa itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Para musuh ada di gua dan timbul berbagai macam pendapat. Sebagian berkata, ‘Periksalah gua ini karena jejak kakinya berakhir disini.’ Tetapi diantara mereka sebagian berkata, ‘Bagaimana bisa orang lewat dan masuk ke sini. Laba-laba memuat sarang. Merpati bertelur. Suara pembicaraan itu sampai ke dalam dan beliau saw mendengarnya dengan sangat jelas. Para musuh datang dalam keadaan mereka ingin menghabisi beliau saw. Dan mereka maju seperti orang gila. Tapi, lihatlah keberanian sempurna beliau saw, musuh ada diatas kepala dan beliau bersabda kepada sahabat sejati As-Shidiq beliau, لَا تَحۡزَنۡ اِنَّ اللّٰہَ مَعَنَا ۚ ‘Laa tahzan innAllaha ma’ana.’ – ‘Jangan cemas! Sesungguhnya Allah bersama kita.’

Kata-kata ini mengungkapkan dengan sangat jelas, bahwa beliau mengucapkannya dengan mulut beliau, karena ini menghendaki adanya sesuatu yang dikatakan (yakni kata-kata ini tidak bisa timbul tanpa diucapkan) dan hal ini tidak bisa dilakukan dengan isyarat. Di luar, musuh sedang bermusyawarah dan di dalam gua khadim (pembantu) dan makhdum (pemimpin) juga berkata-kata. Tidak mempedulikan bahwa musuh akan mendengar suaranya. Ini adalah bukti keimanan dan marifat sempurna kepada Allah Ta’ala. Tawakkal sepenuhnya pada janji-janji Allah Ta’ala. Untuk keberanian Hadhrat Rasulullah saw contoh ini sudah cukup.”[7]

  Kemudian setelah para musuh pergi, dan merasa tenang bahwa sekarang bisa keluar dari gua dan perjalanan selanjutnya bisa dimulai, beliau bersama Hadhrat Abu Bakar keluar dari gua. Dan sesuai yang telah direncanakan kendaraan sampai disana. Mereka mengendarainya dan perjalanan dimulai.

Tapi orang kafir Makkah telah menetapkan hadiah 100 ekor unta untuk menangkap beliau. Dan dalam keserakahannya orang-orang keluar mencari beliau. Salah satunya juga Suraqah bin malik. Dia menjelaskan bahwa, dengan terus memacu kuda saya telah demikian dekat kepada Rasul Karim saw sehingga saya mendengar suara bacaan Quran beliau. Saya melihat bahwa beliau sama sekali tidak melihat kekanan-kiri. Ya, Hadhrat Abu Bakar berulang kali melihat-lihat. Jadi dalam keadaan itu pun beliau saw sama sekali tidak merasa takut, bahkan dengan tenang menilawatkan kalam Ilahi.[8]

Dalam sebuah riwayat lain, beliau bersabda kepada Hadrat Abu Bakar, ‘Kenapa khawatir, Allah beserta kita.’ Dan ini adalah keyakinan sempurna kepada Dzat Allah Ta’ala. Beliau setiap saat dan dalam setiap kesempatan merasa yakin bahwa Dzat Allah Ta’ala beserta kita. Yang karenanya dalam keadaan yang paling berbahaya sekalipun beliau tidak pernah merasa takut.

Tabiat Hadhrat Rasulullah saw yang cinta damai tidak menghendaki peperangan. Tapi keberanian fitrati juga tidak menghendaki bahwa jika menghadapi musuh lalu memperlihatkan kepengecutan. Dan beliaupun menasehatkan kepada para sahabat beliau bahwa jika perang terjadi maka jangan memperlihatkan kepengecutan.

Demikianlah diriwayatkan mengenai hal ini Hadhrat Abdullah bin Abi Aufa ra. bahwa Hadhrat Rasulullah saw dalam suatu kesempatan menunggu untuk menghadapi musuh, sampai matahari terbenam. Kemudian beliau saw bersabda kepada orang-orang beliau, “Hai manusia! Janganlah mengharapkan berperang dengan musuh, melainkan mohonlah keselamatan kepada Allah. Akan tetapi, ketika berhadapan dengan musuh maka perlihatkanlah kesabaran dan istiqamah dan yakinlah bahwa surga ada dibawah naungan pedang.” Setelah itu beliau berdoa,

اَللهُمَّ منزل الْكِتَابَ وَ مُجْرِىَ السَّحَابَ وَ هَازِمَ الْاَحْزَابَ اَهْزِمْهُمْ وَ انْصُرْنَا عَلَيْهِمْ

‘Allahumma munzilal kitaaba wa mujriyas sahaaba wa haazimal ahzaaba, ihzimhum wanshurnaa ‘alaihim.’ – ‘Ya Allah! Yang menurunkan kitab, Yang menjalankan awan dan yang memberikan kekalahan kepada musuh, kalahkanlah orang-orang itu dan anugerahkanlah kemenangan kepada kami dengan pertolongan Engkau.’”[9]

Dan ketika beliau menjawab serangan musuh disertai dengan doa, maka beliau memperlihatkan mutiara unggul keberanian, sehingga manusia terheran-heran. Para pemberani dari antara sahabat pun dihadapan keberanian beliau tidak ada artinya, dan para sahabat sendiri menjadi saksi atas hal itu.

Demikianlah Hadhrat Bara’ bin ‘Azib menerangkan bahwa, ‘Sumpah demi Tuhan, ketika peperangan menjadi sengit maka kami bertarung dengan menjadikan Rasul Karim saw sebagai tameng dan diantara kami yang dianggap berani adalah orang yang berperang disamping Rasul Karim saw.[10]

Pada dasarnya, ketika perang berlangsung, tempat yang berbahaya mestinya adalah dimana Hadhrat Rasulullah saw berada. Karena inilah musuh berusaha bahwa ketika berperang dengan suatu kaum, mereka berusaha membunuh pemimpin kelompok lawan atau menawannya, supaya semangat kaumnya padam dan semangat para prajurit padam, dan perang berakhir. Karena itu semua kekuatan musuh dikerahkan ke pusat [yaitu pemimpin pasukan]. Khususnya ketika perang berhadap-hadapan dan pemimpin kaum juga ada disana, maka bayangkanlah betapa sengitnya prajurit lawan berusaha mencapai pusat itu.

Hadhrat Rasulullah saw, karena fitrat keberanian beliau sering maju ke depan para musuh. Maka dalam keadaan demikian bagaimana para sahabat setia beliau bisa tahan meninggalkan beliau sendiri. Bagi para sahabat pun dalam perang inilah tempat yang paling berat dan musuh pun berusaha bahwa target utama adalah Hadhrat Rasulullah saw. Karena itu usaha menyerang beliau saw lebih banyak dibandingkan usaha menyerang para sahabat.

Tapi lihatlah apakah kita mendapatkan pemimpin seperti beliau saw dalam suatu kaum. Yakni, orang-orang yang berkumpul di sekeliling beliau karena serangan musuh sangat sengit, (mereka berpikir) kita harus menjaga beliau dari mereka. Mereka justru mengakui bahwa Hadhrat Rasulullah saw menjadi tameng bagi mereka. Beliau pun menggagalkan serangan para musuh dalam perang dengan pemikiran ini, berperang dengan pemikiran ini, bahwa ‘Aku harus menjaga para sahabatku, aku harus menggagalkan serangan musuh.’ Jadi inilah contoh keberanian yang telah Hadhrat Rasulullah saw perlihatkan.

Kemudian, pada waktu perang Badar ada satu peristiwa tentang keberanian beliau. Diriwayatkan dari Hadhrat Anas bin Malik. Dia berkata, ‘Para sahabat Rasul Karim saw tiba dari Madinah dan mereka sampai di medan Badar lebih dahulu dari orang-orang musyrik. Lalu orang-orang musyrik juga sampai. Maka Rasulullah saw bersabda, ‘jangan ada diantara kalian yang maju selama aku tidak ada di depannya.

(yakni tetaplah di belakangku, dan waktu melawan musuh aku yang akan berada di paling depan)

Kemudian, ketika orang-orang musyrik maju mendekati pasukan Muslim, Hadhrat Rasulullah saw memerintahkan, ‘Majulah untuk meraih surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.[11]

Itu artinya, ketika perang benar-benar telah mulai, beliau kemudian memberikan izin kepada semuanya, “Sekarang perlihatkanlah keterampilan masing-masing dan terjunlah dalam peperangan. Sekarang jangan perlihatkan kepengecutan.” Beliau adalah yang terdepan dalam hal itu.

Kemudian Hadhrat Ali menerangkan mengenai perang beliau saw bahwa, ‘Ketika medan perang telah memanas dan di sekeliling Hudhur saw mulai terjadi pertempuran sengit – seperti yang telah saya katakan, bahwa banyak serangan kepada pusat- dia berkata, ‘Kami berlindung kepada Hadhrat Rasulullah saw dalam kesempatan semacam itu dibandingkan semua orang lain beliau yang paling dekat dengan musuh.’ Selanjutnya berkata, ‘di Badar saya melihat beliau, saya berlindung kepada beliau. sementara beliau sudah sampai sangat dekat dengan kaum kafir, pada hari itu Hudhur adalah orang yang berperang paling sengit.

Di tengah sengitnya peperangan, ketika terjadi perang berhadap-hadapan, dia tidak tahu siapa teman mereka yang ada di sisinya. Ketika Hadhrat Ali melihat, setelah selamat dari serangan musuh. Mungkin untuk melihat siapa yang menyelamatkanku dari serangan, maka dia melihat beliau saw berdiri di samping beliau. Mengenai Hadhrat Ali ra. sudah masyhur bahwa dia adalah seorang ahli perang, dan orang yang sangat pemberani. Tetapi, menerangkan mengenai keberanian beliau saw, Hadhrat Ali ra mengatakan bahwa ia ditolong oleh beliau saw. [12]

Kemudian, lihatlah perang Uhud, ketika setelah musyawarah ditetapkan untuk menghadapi musuh di luar, berlawanan dengan keinginan beliau, dan beberapa sahabat juga menyadari kesalahan mereka, dan atas hal itu mereka berusaha menghentikan Hadhrat Rasulullah saw, maka jawaban yang beliau berikan, selain memperlihatkan ketawakalan beliau, didalamnya juga nampak jelas keberanian beliau. Beliau bersabda, ‘Hal ini bertentangan dengan kemuliaan seorang Nabi bahwa setelah dia mengangkat senjata, kemudian meletakkannya lagi sebelum ada keputusan dari Allah Ta’ala.’

Itu artinya, sekarang apakah ada perintah dari Allah Ta’ala, atau akan diputuskan di medan perang. Sekarang saya tidak akan melakukan hal ini untuk selamat dari perang. Ini bertentangan dengan keberanian dan kejantanan dan Nabi ini pun adalah khatamul anbiya, sekarang bagaimana dia bisa memperlihatkan tindakan pengecut. Kemudian ketika karena kesalahan umat Muslim, sebagaimana yang terjadi, kondisi perang berbalik dan musuh menimpakan cukup banyak kerugian pada umat Muslim, umat Muslim tercerai-berai, ketika itu pun beliau berdiri seperti batu yang kokoh.

Ini pun sebuah peristiwa besar. Hal ini disebutkan dalam berbagai riwayat. Di satu tempat disebutkan bahwa di perang Uhud dalam beberapa kesempatan Hadhrat Rasulullah saw hampir berdiri sendiri. Pada saat itu batu dari saudara Saad bin Abi Waqash [yang masih kafir], Utbah bin Abi Waqash, mengenai wajah beberkat beliau, yang mengakibatkan sebuah gigi beliau patah dan bibir beliau terluka. Tidak berapa lama Abdullah bin Syihab melemparkan batu lain. Dia melukai dahi beliau saw tidak berapa lama Ibnu Qamiah melemparkan batu ketiga, mengenai pipi beberkat beliau yang menyebabkan dua rantai dari topi besi beliau saw menancap di pipi beberkat beliau.[13]

Beliau saw berlumuran darah tapi tidak mencari tempat perlindungan dimana beliau saw bisa duduk untuk membalut luka, membersihkan darah, atau beristirahat. Hanya karena melihat keberanian beliau saw, umat Muslim pun berkumpul dan melawan musuh sebagaimana mestinya.

Kemudian lihatlah, dalam keadaan terluka itu, ketika beliau berlumuran darah, perang hampir berakhir, karena sekarang orang-orang kafir sedang merawat orang-orang mereka yang terluka, dan berusaha merusak wajah para syuhada Muslim. Ini adalah kebiasaan di zaman itu, yakni memotong hidung, telinga dan lain-lain [dari musuh mereka yang sudah terbunuh]. Jadi waktu itu, ketika perang sudah reda, maka Hadhrat Rasulullah saw pergi bersama para sahabat beliau ke tempat yang aman.

Di jalan, Ubay bin Khalaf (pimpinan kalangan musuh, Quraisy) melihat dan mengenali beliau, dan maju untuk menyerang beliau. Waktu itu beliau saw dalam keadaan terluka. Tapi waktu itu pun beliau memperlihatkan keberanian.

Mengenai kejadian itu diceritakan bahwa ketika Hadhrat Rasulullah saw bersandar di sebuah lembah, setelah terluka –dalam riwayat lain beliau sedang pergi ke sebuah bukit – pendeknya, Ubay bin Khalaf setelah melihat Hadhrat Rasulullah saw lalu menantang, ‘Hai Muhammad! (saw) jika hari ini kamu selamat maka hidupku tidak ada gunanya, sia-sia.’ Para sahabat bertanya, ‘Ya Hadhrat Rasulullah! Haruskah ada dari kami yang pergi kesana!’ Hadhrat Rasulullah saw bersabda, ‘Biarkan dia dan menyingkirlah dari jalan. Biarkan dia datang kepadaku.’ Ketika dia sampai ke dekat Hadhrat Rasulullah saw maka Hadhrat Rasulullah mengambil tombak, maju lalu menyerang lehernya yang menyebabkan dia terbungkuk sambil menjerit, lalu jatuh ke tanah dari kudanya, terjungkir balik.[14]

Dalam keadaan lemah seperti itu, darah mengalir tanpa henti, terluka, obat (salep) pun tidak ada, beliau saw tidak membiarkan para sahabat beliau saw maju, bahkan bersabda, ‘Tidak, aku yang akan melakukannya.’

Karena [dulu saat masih] di Makkah suatu kali dia telah menantang beliau saw bahwa beliau saw (na’udzubillah) akan mati di tanganku. Maka beliau bersabda, “Tidak, bahkan kamulah yang akan mati di tanganku.” Orang itu yang memakai tunggangan [berkuda bergerak maju mendekati Nabi saw hendak menyerang], secara lahiriah sehat, juga tidak terluka. Beliau saw berlumuran darah karena luka-luka, dan karena diatas tunggangan dia bisa menyerang beliau saw dengan lebih baik. Meskipun demikian beliau saw menegakkan contoh keberanian beliau dan mengatakan kepada para sahabat, “Tidak, kalian menyingkirlah. Aku yang akan menanganinya.” Karena luka tombak itu, setelah itu dia mati dalam perjalanan pulang ke Makkah.

Kemudian ada satu contoh lain keberanian. Hari berikutnya setelah perang Uhud, ketika Rasul Karim saw sampai di Madinah dengan para sahabat rombongan beliau, beliau mendapat berita bahwa kaum kafir Makkah sedang bersiap-siap menyerang Madinah kembali, karena sebagian orang Quraisy mencemooh satu sama lain, “Kalian tidak membunuh Muhammad (saw) –(na’udzubillah), tidak menjadikan wanita-wanita Muslim sebagai budak, tidak pula merampas harta kekayaan mereka.” Atas hal itu Rasul Karim saw memutuskan untuk mengejar mereka. Hudhur saw mengumumkan bahwa kita akan mengejar musuh dan yang akan ikut dalam pengejaran itu hanyalah para sahabat yang ikut dalam perang Uhud hari sebelumnya.[15]

Dalam keadaan ketika beliau saw sendiri juga terluka, dan kebanyakan sahabat juga terluka, bahkan mungkin semuanya terluka. Beliau memutuskan untuk mengejar musuh yang lebih banyak dari beliau. Dan juga meniupkan ruh ini dalam diri para sahabat bahwa jika kalian memperlihatkan keberanian maka kalian akan memperoleh keberhasilan. Keputusan beliau yang sangat berani ini sedemikian rupa sehingga membuat musuh menjadi gelisah, dan mereka yang berpikir untuk menyerang kembali, ketika mereka melihat bahwa, “Kita sedang dikejar.” Maka mereka berbalik dari situ pulang ke Makkah. Hal ini dari segi peperangan selain merupakan keputusan penting juga menampakkan keberanian beliau saw.

Kemudian terdapat riwayat keberanian beliau di perang Hunain. Diriwayatkan dari Abu Ishaq, dia berkata, “Suatu kali seseorang datang kepada Hadhrat Bara’ ra. dan bertanya kepada beliau, ‘Apakah anda memalingkan punggung ketika melawan musuh pada saat perang Hunain?’ Beliau ra menjawab, ‘Aku tidak bisa mengatakan mengenai semua orang, tapi aku akan bersaksi untuk Hadhrat Rasulullah saw bahwa ketika musuh menyerang dengan sengitnya sekalipun beliau tidak memalingkan punggung.’

Kemudian beliau berkata, ‘Sebenarnya, ketika lasykar Muslim keluar untuk melawan kabilah Hawazin, mereka hanya mengenakan persenjataan yang sangat ringan. Yakni mereka hanya mengenakan jubah besi dari cincin logam, dan lain-lain dan tidak ada persenjataan berat, dan diantara mereka banyak sekali yang tidak bersenjata.

Tapi berkebalikan dengan itu, orang-orang Hawazin adalah pemanah terlatih yang berpengalaman. Ketika lasykar Muslim maju kearah mereka, mereka melontarkan panah kepada lasykar tersebut sedemikian rupa, seperti gerombolan belalang menyerang ladang. Tidak mampu menahan serangan tersebut, umat Muslim tercerai-berai. Sekelompok dari antara mereka maju kearah Hadhrat Rasulullah saw. Hudhur saw mengendarai seekor bagal (peranakan kuda dan keledai) yang tali kendalinya dipegang oleh paman beliau, Abu Sufyan bin Harits ibn Abdul Muthallib. Ketika melihat umat Muslim tercerai-berai seperti itu, turun sebentar dari bagal beliau dan berdoa kepada Tuannya. Lalu beliau naik ke bagal beliau dan memanggil umat Muslim untuk menolong dan maju ke arah musuh, dan beliau terus membaca syair berikut,

اَنَاْ النَّبِىُّ لَا كَذِبْ          اَنَاْ ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ

‘anan Nabiyyu laa kadzib                 ana bnu ‘Abdil Muthallib

Aku adalah Nabi Allah dan ini adalah hal yang benar, tapi aku adalah anak Abdul Muthalib.

Itu artinya, “Setelah melihat keberanianku yang luar biasa, jangan berpikiran bahwa aku adalah sesuatu yang melebihi manusia biasa. Aku adalah seorang manusia dan demikianlah aku memperlihatkan keberanian.”

Beliau terus memanjatkan doa berikut, اللَّهُمَّ نَزِّلْ نَصْرَكَ ‘Allahumma nazzil nashraka.’ Ya Allah, turunkanlah pertolongan-Mu.’

Kemudian Hadhrat Bara’ berkata, ‘Simaklah bagaimana keberanian Hudhur saw ketika perang merebak. Pada waktu itu Hudhur berada di paling depan dan berperang dengan paling berani. Kami menjadikan Hudhur sebagai tameng dan perlindungan. Yang dianggap paling berani diantara kami adalah yang berperang di samping Hudhur saw.”[16]

Jadi kita mendapatkan kesaksian dari berbagai tempat, bukan hanya sebagian sahabat.

Jadi inilah peristiwa-peristiwa perang, (yang menunjukkan) bagaimana beliau saw memperlihatkan keberanian. Dan bagaimana dalam perang-perang itu beliau memikirkan para sahabat. Beliau seorang pemimpin yang setiap saat selalu memikirkan rakyat beliau, orang-orang yang beriman kepada beliau. Memikirkan keselamatan mereka, dan ketika malam bangun dan memeriksa keadaan tanpa takut.

Dalam sebuah riwayat serupa itu disebutkan, diriwayatkan dari Hadhrat Anas ra. beliau berkata, “Nabi Karim saw adalah manusia yang paling tampan, dan manusia yang berani. Suatu malam penduduk Madinah merasakan bahaya. Dari suatu tempat terdengar suara, dan orang-orang berlarian kearah suara tersebut. Mereka mendapati Nabi Karim saw datang dari arah depan.

Beliau sedang kembali setelah memeriksa keadaan dan beliau mengendarai kuda Hadhrat Abu Thalhah tanpa pelana. Beliau menggantungkan pedang di leher beliau. Beliau melihat orang-orang itu datang dari arah depan, maka bersabda, ‘Tidak perlu takut, tidak perlu takut. Aku datang setelah melihat keadaan. Tidak ada hal yang membahayakan.’ Kemudian beliau bersabda mengenai kuda Abu Thalhah, ‘Aku mendapati  kecepatannya seperti samudera.’”[17]

Terdapat dalam satu riwayat lain bahwa pada hari-hari itu di Madinah terdapat bahaya serangan dari musuh. Yang karenanya setiap orang terus waspada jangan sampai musuh menyerang tiba-tiba. Dalam keadaan demikian, ketika terdapat bahaya dari musuh, waktu itu pergi sendiri untuk memeriksa lalu pulang kembali adalah penampakkan keberanian yang luar biasa. Kemudian, beliau dengan sangat khawatir dan terburu-buru, sehingga beliau tidak memasangkan pelana pada kuda. Beliau mengendarai kuda tanpa pelana supaya bisa segera memeriksa.

Orang lain baru berpikir apa yang dilakukan orang lain bahwa bagaimana caranya memeriksa, dari mana keributan itu datang. Tapi beliau saw, untuk menghilangkan kegelisahan kaum beliau, telah pulang sebelum mereka keluar membawa berita yang menenteramkan setelah berkeliling. Dalam keadaan biasa setiap orang bisa memeriksa. Tetapi seperti yang telah saya katakan, dalam keadaan ketika ada bahaya dari musuh tidak ada orang paling pemberani yang bisa memperlihatkan keberanian seperti itu. Sungguh, selain beliau saw orang lain tidak bisa.

Dari riwayat tersebut diketahui juga keahlian dan keberanian beliau saw berkendara karena kudanya pun keras kepala (menurut riwayat tersebut kuda itu sangat keras kepala) dan beliau mengendarainya tanpa pelana. Para penungang tahu bahwa mengendalikan kuda semacam itu sangat sulit, apalagi tanpa pelana. Pendeknya dari segi manapun dimana saja dirasakan perlu menampakkan keberanian, disana kita mendapati wujud yang paling terdepan dalam pujian tersebut adalah Hadhrat Rasulullah saw.

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud as bersabda mengenai keberanian beliau: “Ada saat ketika karena kefasihan penjelasan beliau saw, satu kelompok orang terheran-heran mengenai keadaan satu lukisan (gambaran). Di satu waktu, beliau memperlihatkan keberanian luar biasa di medan pertarungan. Ketika bicara tentang kepemurahan, beliau menghadiahkan gunung emas. Dalam memperlihatkan keutamaannya dalam kasih sayang, beliau melepaskan orang yang wajib dibunuh.

Pendeknya, teladan Hadhrat Rasulullah saw yang sempurna dan tidak ada bandingannya, yang Allah Ta’ala telah perlihatkan, permisalannya seperti sebuah pohon besar dimana orang berteduh di bawah naungannya dan dari segala sisinya memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka. Buahnya, bunganya, kulitnya, daunnya, pendeknya semuanya bermanfaat. Hadhrat Rasulullah saw adalah permisalan pohon besar itu yang naungannya sedemikian rupa, sehingga puluhan juta makhluk beristirahat dan berlindung di bawahnya seperti dibawah sayap induk ayam. Dalam peperangan yang dianggap paling berani adalah orang yang berada di samping Hadhrat Rasulullah saw karena beliau berada di tempat yang sangat berbahaya. Subhanallah! Betapa agungnya.

Lihatlah dalam perang Uhud, pedang beradu dengan pedang terjadi pertarungan yang sangat sengit sehingga para sahabat tidak dapat menahannya, tetapi beliau ini berperang di medan pertempuran dengan gagah berani. Ini bukanlah kesalahan para sahabat. Allah Ta’ala mengampuni mereka, bahkan didalamnya ada rahasia, yakni supaya teladan keberanian Hadhrat Rasulullah saw dapat diperlihatkan.

Dalam satu kesempatan pedang beradu dengan pedang dan beliau mendakwakan kenabian beliau (yakni menyinggung peristiwa perang Hunain, bahwa ‘Aku adalah Muhammad Rasul Allah.’) dikatakan bahwa di dahi beliau terdapat 70 luka, tapi luka ringan. Ini adalah akhlak yang agung.”[18]

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk mengikuti teladan beliau saw.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2]Shahih al-Bukhari, kitab awal turunnya wahyu bab awal turunnya wahyu kepada Rasulullah saw.

[3] Malfuzhat jilid 4 hal. 317 edisi baru – Al-Hakam tgl 10 Agustus 1905 hal. 2-3

[4] Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 2 halaman 218, cetakan Beirut.

[5] Ibn Ishaq dalam al-Maghaazi. ‘Yaa ‘ammi waLlahi lau wadha’uusy syamsa fii yamiini, wal qamara fii yasaarii, ‘alaa an atruka haadzal amra hatta yuzh-hiruhuLlahu au ahlaku fiihi maa taraktuhu.’

” يا عم! والله لووضعوا الشمس في يميني، والقمر في يساري، على أن أترك هذا الأمر حتى يظهره الله أو أهلك فيه ما تركته “.

[6] Shahih al-Bukhari, kitab Manaqib (keutamaan) orang-orang Anshar, bab hijrah Nabi saw dan para sahabat ke Medinah.

[7] Malfuzhat jilid 1 hal. 250-251 edisi baru – Al-Hakam tgl. 17-24 Maret 1905

[8] Shahih al-Bukhari, kitab Manaqib (keutamaan) orang-orang Anshar, bab hijrah Nabi saw dan para sahabat ke Medinah.

[9] Shahih al-Bukhari, kitab jihad dan penjelajahan, bab jangan mengharapkan bertemu dengan musuh; juga ada di Shahih Muslim, Kitab al-Jihad was Sair (Jihad dan perjalanan), bab hal yang baik untuk berdoa supaya menang saat berjumpa musuh.

[10] Muslim, kitab jihad, bab perang Hunain

قال البراء كنا والله إذا احمر البأس نتقي به وإن الشجاع منا للذي يحاذى به يعني النبي صلى الله عليه و سلم

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 3 hal 136-137 cetakan Beirut.

[12] Asy-Syifa fi Huquqil Mushthafa, Qadhi ‘Iyadh, al-Qismil Awwal (bagian pertama), al-bab ats-tsaani (bab kedua) fii Takmilillah Ta’ala lahu al-mahaasin khalqan wa khulqan wa qaraanahu jamii’il fadhail ad-diniyyah wad dunyawiyah fiihi nasqan, al-fashl fisy syaja’ah wan najdah.

‘Iyadh ibn Musa al-Yahshabi, kakek moyangnya tinggal di kota Basth, al-Andalus, tepi wilayah Garnathah (Granada) sekitar tahun 373 H/893 M. pindah ke al-Maghribiyah (Afrika Utara), Qadhi ‘Iyadh lahir pada 15 Syaban 476/28 Desember 1083 di kota Sabthah. Beliau seorang Qadhi (Hakim), Muarrikh (Sejarawan), dan Adib (Sastrawan).

قال علي رضي الله عنه : إنا كنا إذا حمي اليأس ـ و يروى : اشتد البأس ـ و احمرت الحدق اتقينا برسول الله ، فما يكون أحد أقرب إلى العدو منه و لقد رأيتني يوم بدر و نحن نلوذ بالنبي صلى الله عليه و سلم ، و هو أقربنا إلى العدو و كان من أشد الناس يومئذ بأساً.

[13] Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, perang Uhud, kepemimpinan Rasul pada hari Uhud

[14] Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam, Perang Uhud, terbunuhnya Ubay ibn Khalaf

[15] Tabaqaat al-kubra Ibnu Saad, dzikr ‘adada maghazi Rasul Allah, ghazwah hamra-atul asad.

[16] Shahih Muslim kitab jihad bab perang Hunain.

[17] Shahih Bukhari, kitab jihad, bab al-hamaa-il wa ta’liqis saif bil ‘unuq.

[18] Malfuzhat jilid 1 hal 84, edisi baru – Laporan Jalsah Salanah 1897, hal 152-153

(Visited 233 times, 1 visits today)