Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad

Khalifatul Masih Ar-Rabbi ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

26 April 2002

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

InsyaAllah, mulai hari ini kita akan membahas sifat Tuhan كبر-kibr , كبريائ-kibriyai dan تكبر-takabbur..

Pertama-tama saya akan menyajikan arti dari segi lughat di hadapan saudara-saudara. Hadhrat Imam Ragib Aspahany rahmatullah ‘alaih dalam Al-Mufradaat dari segi ma’na mengartikan الكبر-alkibru,والتكبر-wa-ttakabburu dan والاستكبار-wal-istikbaaru dengan arti yang hampir mirip. Beliau menulis:كبر-kibr – merupakan kondisi yang karenanya manusia terperangkap dalam ujub. Dan ujub ialah manusia menganggap diri besar dari yang lain [takabbur] Dan takabbur yang paling besar ialah ingkar menerima kebenaran; dan berpaling /enggan dari beribadah merupakan sikap takabbur terhadap Tuhan.

الاستكبار-al-istikbaar bisa dua macam penggunaannya. Pertama,manusia menginginkan untuk menjadi besar lalu dia berupaya gigih untuk tujuan itu. Dan jika hal ini pada tempatnya memang layak manusia takabbur untuknya, maka akan menjadi محمود-mahmud,yakni layak dipuji. Kedua,manusia menzahirkan keagungan yang dusta dan menisbahhkan kebaikan-kebaikan/sifat-sifat baik yang tidak ada pada dirinya. Cara serupa iani adalah مذموم-madzmum,yakni layak dikecam. Di dalam Al-Quran

dalam arti yang yang kedua ada sebuah firman Tuhan [Albaqarah 36 A’raf 132]اَبَي وَاسْتَكْبَرَ…وَاسْتَكْبَرُوْافِى الاَرْضِ ….. وَاسْتَكْبَرُوْاوَكَانُواقَوْمًا مُجْرِمِيْنَ-abaa wastakbara…..wastakbaruw fil ardhi ….wastakbaruw wa kaanuw qauman mujrimiyna-Disini dari kata فاسْتَكْبَرُوْ mengingatkan pada sikap keras hati kaum Nabi Musa, mengingatkan pada menyombongkan diri ,keegoan,dan sikap angkuh kaum beliau .Sementara dari kataوكَانُوْقَوْمًا مُجْرِمِيْنَ-memberitahukan bahwa dosa-dosa mereka di masa lalulah faktor kesombongan mereka dan ketakabburan ini bukanlah merupakan hal yang baru bagi mereka,bahkan ini telah menjadi tradisi/adat istiadat mereka.

Allamah Ragib selanjutnya berkata: Peggunaan kata التكبر-attakabbur ada dengan dua macam. Satu, ialah yang pada hakekatnya seseorang memiliki banyak amal-amal baik dan di dalam itu ia memiliki amal baik lebih besar dari yang lain. Dalam arti ini Allah menyandang sifat takabbur.Oleh karena itu berfirman [Al-Hasyar 24]الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ –Maha perkasa Maha Penakluk Maha Agung. Arti kedua ialah: Ada seseorang yang secara dibuat-buat dan dengan cara dusta mendakwakan kesempurnaan dalam hal kebaikan. Dalam arti ini sifat ini digunakan sebagai sifat manusia sebagaimana berfirman-Nya: فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَAzzumar 71[Maka betapa buruknya tempat tinggal orang yang takbbur] Sesuai dengan itu dari segi arti pertama, adalah merupakan sifatمحموده-mahmudah – termasuk sifat yang layak dipuji dan dari arti yang kedua adalah sifatذم-dzam, yakni, sifat celaan /kecaman.

الكبرياء-Al-kibriyaa’,disebut bagi yang menganggap dirinya lebih tinggi/tidak layak untuk itaat dan setia. Sifat ini selain untuk Tuhan tidak layak untuk siapapun. Sesuai dengan itu Dia berfirman [dalam surah Al-Jatsiah 36]: وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ –Dan kepunyaanlah segala keagungan di seluruh langit dan bumi. Dan didukung juga oleh hadis yang terdapat dalam hadis qudsi dimana Allah berfirman:

الكبرياءردائ والعظمة ازارى فمن نزعنى فى واحد منهماقصمته-alkibriyaau ridaaiy wal ‘azhmatu izaariy faman naza’ani fi waahidin min huma qashamtuhu- Yakni alkibriyaa/Kebesaran adalah selimut-Ku, ‘azhmat [keagungan] adalah hamparan-Ku, dan barangsiapa yang ingin merampas salah satu dari keduanya,maka ِAku akan mematahkan tengkuknya. التكبير-Bukanlah mematahkan leher dalam arti secara zahir,tetapi kepala ketakabburannya akan Saya kebawahkan [rontokkan ].

التكبير-Attakbiyru- Diucapkan saat menganggap seseorang besar sambil mengucapkan الله اكبر menzahirkan kebesaran dan keagungan Tuhan. Dan begitu juga diucapkan pada saat merasakan kebesaran-Nya dan mengakui kebesaran-Nya. Dia berfirman dalam surah Albaqarah 186:. وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ –Supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang telah diberikan-Nya kepada kamu.

Setelah menerangkan artinya secara lughat yang paling pertama beberapa ayat yang ada kaitannya dengan topik ini dan hadis-hadis juga akan disampaikan dan kemudian kutipan Hadhrat Masih Mauud a.s. dan sabda-sabda Hadhrat Khalifatul Masih I yang akan disampaikan

Al-Isra 112:. وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا –Dan katakanlah,segenap pujian adalah bagi Allah,yang tidak pernah membuat anak ,dan tidak ada sekutu di dalam kerajaan-Nya ;dan Dia tidak pernah terpaksa memiliki teman yang seolah-olah pada waktu lemah menjadi penolong-Nya Dan sanjungkanlah Keagungan-Nya dengan sebesar-besarnya.

Kemudian surah Haj 38;

 لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ –Dagingnya sekali-kali tidak akan sampai pada Tuhan dan tidak pula darahya,akan tetapi ketakwaanmulah yang akan sampai pada-Nya. Demikianlah Dia menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia telah berikan kepadamu. Dan berikanlah habar suka bagi orang-orang yang berbuat kebaikan.

Kemudian ada tiga ayat surat Mudatstsir1-3:يَاأَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ(1)قُمْ فَأَنْذِرْ(2)وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ – Hai orang yaang berselimut bangunlah dan peringatkanlah. Dan agungkanlah Kebesaran Tuhanmu.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. menerangkan bahwa Rasulullah saw bersabda kepada seseorang: Saya menasehatkan padamu untuk bertakwa dan menyanjung Keagungan/Kebesaran Tuhan pada setiap ketinggian.

Nabi yang mulia saw bersabda: Ada dua kebisaan yang jika seorang muslim senantiasa mengingatnya, maka dia akan masuk ke dalam surga . Petama, membaca 10 x سبحان الله-subhaanallah sesudah setiap, dan membaca 10 x الحمدلله-alhamdulillah dan membaca10 x الله اكبر-allaahu akbar. Dan yang kedua, sebelum tidur membaca 33 x سبحان الله-subhaanallah dan 33 x الحمد لله-alhamdulillah dan 34 x membaca الله اكبر-allaahu akbar.

Ayat 24 surah Al-Hasyar: هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ-Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia.Dia adalah raja ,Maha suci ,Sumber segala kedamaian Pelimpah kedamaian,Maha Pelindung,Maha Perkasa,Maha Penakluk Maha agung Maha suci Allah dari apa yang mereka sekutukan.

Kemudian ayat surah Al-Jaatsiah 37-38:

فَلِلَّهِ الْحَمْدُ رَبِّ السَّمَوَاتِ وَرَبِّ الْأَرْضِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ-Maka segala puji kepunyaan Allah, Tuhan seluruh langit dan Tuhan bumi,yakni Dia-lah Rabb seluruh alam. Dan kepunyaan-Nya-lah segala keagungan diseluruh langit dan bumi dan Dialah yang Maha Perkasa Maha bijaksana.

Hadhrat Abdullah bin Abu Bakar bin Abdullah bin Qais meriwayatakan dari bapaknya bahwa Rasulullah saw bersabda: Di surga Aden diantara orang-orang dan penampakan wajah Tuhan Maha Pencipta ada sehelai selimut/kain keangkuhan sebagai penghalang di mukanya,yakni, jika ada di dalam diri manusia ketakabburan maka pada hari kiamat Allah tidak akan memandangnya.

Hadhrat Abu Said Khudri r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang merendahkan diri satu darjah demi untuk Allah,maka Allah akan meninggikan satu tingkat derajatnya sehingga Dia akan memberikannya tempat di عليين-Illiyyiyn dan barangsiapa yang takabbur satu derajat menandingi Tuhan ,maka Allah akan menjatuhkannya satu tingkat ke bawah sehingga dia akan memasukkannya di اسفل السافلين-asfalussaafiliyn-di tingkat yang paling bawah.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa saya mendengar Rasulullah saw bersabda: Angkuh/bangga diri dan takabbur terdapat sangat banyak pada para pemiara unta di padang sahara dan damai dan tenteram ada pada penggembala atau pemelihara kambing dan domba dan iman ini adalah Yamani dan hikmat/kebijaksanaan juga adalah yamani. Maksud Yamani adalah yang beberkah,yang memiliki kekuatan dan sesuatu yang bernilai dan berkedudukan.

Diriwayatakan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda: Ada tiga macam orang pada hari kiamat yang Tuhan sampai berbicara pun tidak dengannya,dan tidak akan menyatakan dia bersih/suci,dan tidak akan melihatnya dan untuknya akan tersedia azab yang mengerikan. Tiga macam orang itu adalah : Pezina buruk,Raja yang berdusta dan orang miskin/tak punya yang takabbur.

Hadhrat Jundub bin Abdullah r.a.berkata bahwa Rasulullah saw bersabda: Ada seorang yang berkata bahwa demi Allah, Allah tidak akan memaafkan si fulan. Maka Allah yang Maha Mulia keagungan-Nya berfirman : Siapakah yang sambil bersumpah berkata berkenaan daengan Saya bahwa Saya tidak memaafkan si fulan. Sungguh Saya telah memaafkannya dan hai orang yang bersumpah, Saya telah menyia-nyiakan amal-amalmu.

Hadhrat Salma bin Aqwa r.a. meriwayatkan bahwa takala keberadaan Rasulullah saw ada seorang yang makan dengan tangan kiri . Maka beliau bersadba:Makanlah dengan tangan kanan. Dia berkata, saya tidak bisa mengerjakan serupa itu.Beliau bersabda : Engkau sama sekali tidak akan pernah mendapat taufik untuk itu[melakukan dengan tangan kanan] karena hanya takabburlah yang telah mencegah dia untuk melakukan itu.- Dan akhirnya orang itu sama sekali tidak pernah bisa membawa tangannya ke mulutnya.Yakni, tangan kanannya menjadi lumpuh dan akhirnya dia sama sekali tidak bisa menggunakan tangan kanannya untuk ke dua kalinya.- Mungkin tangan kanannya menjadi lumpuh yang dengan tangan mana dia telah katakan bahwa saya dengan tangan inilah saya akan makan. Dia akhirnya dengan tangan itu dia tidak mendapat taufik untuk menggunakannya.

Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersbda; Pada hari kiamat Allah sama sekali tidak akan melihat pada orang yang menarik [ujung] kainnya karena takabbur. Adapun menarik kain ini merupakan tanda takabbur dan kecongkakan. Sebagian raja-raja dahulu juga ada kebiasaan bahwa kain tanda kebesaran yang sangat panjang sekali di belakang yang ditarik dan para pelayan –pelayan perempuan mengangkat itu. Berkenaan dengan Hadhrat Abu Bakar Siddik r.a. ada juga sebuah riwayat bahwa kadang-kadang kain beliau pun jatuh ke bumi.maka Hadhrat Rasulullah saw berkenaan dengan beliau bersabda bahwa [beliau] ini melakukan ini bukan karena takabbur, ini dilakukan karena kesederhanaan. Jadi, orang yang karena takabbur dia menarik kainnya, yakni, sangat panjang sesuatu yang dia pakai supaya menjadi tinggi keagungannya ini hanya merupakan tipuan ego belaka dan sama sekali tidak ada hakekatnya.

Diriwayatkan dari Hadhrat Jabir bin Abdullah r.a.bahwa Rasulullah saw bersabda: Diantara kalian orang yang paling dicintai dan pada hari kiamat orang yang duduk paling dekat dengan saya adalah orang yang paling baik akhlaknya. Dan diantara kalian yang paling saya tidak sukai dan pada hari kiamat orang yang paling jauh dari saya adalah orang yang banyak berbicara/ melebih-lebihkan dan orang yang berbicara dengan penuh kefasihan bagaikan aliran air sungai, berbicara dengan selebar-lebar mulutnya dan orang mutafakhar[yang memanggakan diri]. Sahabah bertanya, apa itu mutafaakhar itu ? bersabda: Orang yang takabbur.

Allamah Fakhruddin Razi di bawah tafsir ayat 24 Surah Al-Hasyar dalam menafsirkan sifat Al- Mutakabbir beliau bersabda: . Hendaknya diketahui kata Al- Mutakabbir untuk makhluk merupakan nama yang menunjukkan pada kecaman. Dan mutakabbir adalah yang menzahirkan kesombongan dan keberadaan hal ini pada makhluk merupakan kekurangan, karena takabbur dan membanggakan diri tidak lah layak baginya. Bahkan hendaknya dikatakan bahwa untuk manusia kata mutakabbir jika digunakan maka artinya adalah yang tertimpa kehinaan dan ketidak berdayaan. Yakni,apabila manusia menerangkan kebesarannya dengan dilebih-lebihkan maka dia itu dusta dalam melakukan hal seperti itu. Dan penggunaan kata متكبر-mutakabbir bagi manusia adalah menjadi sebab kecaman.Ya, walhasil untuk Allah swt segala corak kebesaran dan keagungan layak bagi-Nya. Jadi apabila Dia menzahirkan keagungan-Nya Dia dengan melakukan seperti itu dalam menerangkan keagungan dan keluhuran-Nya itu Dia memberikan bimbingan pada manusia Dan kata mutakabbir jika digunakan untuk zat Tuhan adalah menunjukkan pada pujian Tuhan yang paling tinggi.

Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. bersabda: المتكبر-Al-Mutabbiru- Terbebas/bersih dari semua sifat-sifat/kebaikan-kebaikan dan aib-aib makhluk dan Zat-Nya tinggi/bersih dari semua sekutu besar, kecil, baik di langit maupun di bumi. Kemudian berfirman :متكبر-mutakabbir –orang yang takabbur tidak pernah mencapai batas keagungannya dan tidak pernah meraih kesuksesan. Yakni,ini berkenaan dengan manusia yang dibicarakan . Saya telah melihat sendiri bahwa orang yang menjadi korban ketakabburan [seseorang]dan dia telah dianggap hina, pada akhirnya di tangan merekalah, bahkan dengan paku kedustaannya itulah yang [menghinakan] dilumatkan.

Hadhrat Masih Mauud a.s. dalam Karamaatussadiyqiyna bersabda:

:الذىيبعد ان تلق السعادات الكبر الذى هو رءس السيئات والضلال alkibrulladziy huwa ra’sussayyiaati wadhdholaalu-lladziy yub’idu an tulqissa’adaat.-Ketakabburan adalah pangkal/sumber keburukan dan kesesatan yang menjauhkan manusia dari nasib baik dan kebahagiaan.

Hadhrat Masih Mauud a.s. selanjutnya bersabda: Tidak ada orang yang dapat meraih cinta dan redha Ilahi selama belum tercipta/lahir dua sifat dalam dirinya. Pertama, mematahkan takabbur sebagaimana gunung yang tegak bediri yang dilihat seseorang dengan harus meninggikan kepala jatuh lalu menjadi rata dengan tanah. Begitu juga manusia hendaknya menghilangkan semua fikiran-fikiran angkuh dan sombong dan memilih sifat lemah lembut dan rendah hati. Dan kedua adalah, semua bubungan sebelumnya itu terputus sebagaimana gunung jatuh menjadi متصدعا-mutashaddi’an-hancur lebur berkeping-keping, demikian pula ikatannya yang semula yang menjadi penyebab kemarahan dan ketidak redhaan Tuhan semua ikatan serupa itu menjadi terputus.Dan kini pertemuan-pertemuannya, persahabatan-persahabatannya, permusuhan-permusuhannya dan kecintaan-kecintaannya hanya tersisa untuk Allah swt .

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Allah adalah Maha Penyayang dan Mahamulia. Dia memelihara manusia dari segala segi dan mengasihaninya dan karena kasih sayang inilah Dia mengirim utusan dan rasul-rasul-Nya supaya Dia menyelamatkan penduduk dunia dari dosa dan kehidupan yang serba kotor. Namun, takabbur merupakan penyakit yang sangat berbahaya. Apabila ini terlahir pada seseorang maka untuknya merupakan kematian ruhani. Saya sesungguhnya mengetahui bahwa penyakit ini adalah lebih besar dari pembunuhan. Orang yang takabbur menjadi saudara syaitan.Dan ketakabburannya [syaitan]inilah yang telah menghinakan syaitan. Oleh karena itu merupakan syarat orang mu’min supaya takabbur jangan ada di dalam dirinya supaya di dalam diri mereka terdapat rasa lemah lembut dan rendah hati.

Hadhrat Masih Mauud a.s. selanjutnya bersabda: Yang paling pertama melakukan dosa ialah Adam dan juga syaitan. Namun, takabbur tidak ada di dalam diri Adam, karena itu di hadapan Tuhan dia mengakui dosa-dosanya dan dosanya dimaafkan. Dari inilah bagi manusia melalui taubat ada harapan dosa-dosa dimaafkan.Akan tetapi, Syaitan telah berlaku congkak, maka dia maenjadi terkutuk. Sesuatu yang tidak ada pada manusia orang yang sombong tampa alasan siap mendakwakan hal itu. Di dalam diri para nabi banyak terdapat keahlian dan salah satu diantaranya adalah kemampuan menghilangkan ego/keakuan. Di dalam diri mereka sudah tidak ada sama sekali keakuan. Mereka telah memasukkan kematian dalam ego mereka. Keagungan adalah untuk Tuhan.Orang yang tidak takabbur dan memilih sikap rendah hati, mereka tidak akan sia-sia.

Hadhrat Masih Mauud a.s. selanjutnya bersabda: Saya sangat jijik untuk menjadi berhala. Saya justru datang untuk menolak penyembahan berhala,jangankan menjadi berhala sendiri lalu orang-orang memuja saya. Allah Yang Maha Mengetahui bahwa saya tidak pernah sedikitpun melebihkan diri saya atas yang lain. Menurut saya lebih [hebat keburukannya]dari seorang yang takabbur tidak ada, meskipun penyembah berhala dan orang kotor. Orang yang sombong tidak menyembah tuhan manapun, bahkan dia menyembah diri mereka.

Kemudian dalam Malfuzhaat tertera juga sabda-sabda Hadhrat Masih Mauud a.s.:

Sebagaimana halnya iman lahir karena kerendahan hati dan bersedia meninggalkan pedapat pribadi, begitu juga ketidak jujuran/penipuan lahir karena ketakbburan dan keakuan, karena itu sebagai dampaknya pohon zaqum berada di neraka. Dan amal-amal buruk dan keangkuhan yang lahir karena ketakabbuaran dan mementingkan diri sendiri itu, itulah akan menjadi air mendidih dan air nanah yang akan didapatkan oleh penghuni-penghuni neraka.

Kemudian . sembari menerangkan cara untuk menjadi suci Hadhrat Masih Mauud a.s.bersabda:

Jadi, menurut saya, cara yang baik untuk menjadi suci dan tidak mungkin ada cara lain yang dapat diraih, yakni, manusia jangan takabbur atau membanggakan diri dalam corak apapun, tidak karena keilmuan, kekeluargaan dan tidak karena harta. Apabila Tuhan menganugerahi mata pada seseorang, maka dia melihat bahwa segenap cahaya yang bisa menyelamatkan dari kegelapan adalah datang dari langit. Dan manusia setiap saat selalu memerlukan cahaya langit. Matapun tidak bisa melihat selama cahaya matahari yang datang dari langit itu tidak ada. Begitu juga cahaya batin yang menjauhkan segenap corak kegelapan dan sebagai gantinya menciptakan takwa dan kesucian, itupun datangnya dari langit. Saya berkata dengan sebenar-benarnya bahwa ketakwaan manusia, iman,ibadat ,kesucian semua itu datangnya dari langit dan ini bergantung pada karunia Tuhan Jika ingin, Dia akan menegakkannya dan jika tidak, Dia bisa menjauhkannya. Jadi, makrifat sejati adalah manusia menganggap dirinya sesuatu yang tidak berarti apa-apa dan sambil jatuh di hadapan singgasana Ilahi dengan penuh kerendahan hati, penuh kecintaan memohon karunia-Nya dan memohon nur makrifat yang membakar gejolak ego manusia. Dan di dalamnyalah ada seberkas sinar yang menciptakan kekuatan dan panas untuk kebaikan. Kemudian, jika dengan karunia-Nya dia mendapat bagian dan pada suatu waktu dia dapat meraih keluasan dan lapang dada dan kemudian dia tidak takabbur dan memanggakan diri, bahkan dia tambah lebih maju dalam sikap lemah lembut dan rendah hati. Karena seberapa dia menggaggap dirinya tidak ada arti apa-apa, sebanyak itu pula kondisi dan cahaya-cahaya akan turun dari Tuhan yang akan mengantarkan nur dan kekuatan padanya. Jika manusia memegang akidah ini,maka diharapkan dengan karunia Tuhan kondisi akhlaknya akan menjadi baik.Di dunia ini, menganggap diri ada artinya pun merupakan takabbur. Dan inilah keadaan/kondisi yang akan tercipta lalu kemudian itu menjadi kondisi manusia, yakni dia melaknat pada yang lain dan menganggapnya hina.

Ada sebuah kutipan Hadhrat Masih Mauud a.s.:

Saya menasehatkan pada Jemaatku untuk menghindari takabbur, karena takbbur pada pandangan Tuhan kita Yang Maha Agung merupakan hal yang sangat tidak disukai. Dan kamu mungkin tidak akan mengerti apa takabbur itu. Maka pahamilah dari saya,saya berbicara dengan ruh Tuhan. Setiap orang yang menganggap saudaranya hina karena lebih berilmu, lebih bijaksana dan lebih memiliki keahlian dari dia,maka dia adalah takabbur. Karena dia tidak menganggap Tuhan sebagai sumber akal dan kebijaksanaan dan menyatakan dirinya ada sesuatunya[lebih]. Apakah Tuhan tidak kuasa untuk menjadikannya gila dan saudaranya yang dia anggap kecil Dia anugerahi akal,ilmu dan keahlian yang lebih baik darinya. Demikian jugalah orang yang dengan membayangkan harta dan kebesarannya dia menganggap hina saudaranya itupun takabbur, karena dia melupakan bahwa Tuhan-lah yang telah memberikan keagungan padanya. Dan dia adalah buta dan tidak mengetahui bahwa Tuhan Maha kuasa untuk menurunkan dalam satu detik azab yang menjadikannya satu ketika jatuh di dalam

اسفل ا لسا فلين -asfalussaafiliyn dan sudaranya yang dia anggap hina Dia anugerahkan harta benda yang lebih baik dari itu.. Begitu juga orang yang takabbur akan kesehatan jasmaninya atau bangga akan kecantikan, kekuatan dan kekuasaannya dan memberikan nama pada saudaranya dengan maksud menghinakan dan memperolok-oloknya dan memperdengarkan aib-aib jasmaniahnya diapun juga adalah takabbur; dan dia tidak mengetahui tentang Tuhan yang dalam satu detik dapat menurunkan aib jasmani yang menjadikannya lebih buruk dari saudaranya dan [saudaranya] yang dihinakan, sampai pada waktu yang panjang memberikan berkat dalam kekuatannya, yang tidak kurang dan tidak pula sia-sia karena Dia mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Dan begitu juga orang yang sambil bertumpu pada kekuatannya dia malas dalam berdoa, diapun takabbur. Yang bertumpu pada kekuatannya dan malas dalam berdoa diapun takabbur. Karena dia tidak mengenal sumber kekuatan dan kekuasaan, dan menganggap dirinya lebih.. Maka, hai saudara-saudara yang mulia,ingatlah semua hal-hal itu, jangan sampai kalian dari suatu sisi dianggap sebagai seorang yang takabbur pada pandangan Tuhan dan kalian sampai tahu pun juga tidak. Seorang yang menyamakan saudaranya dengan kata yang salah secara takabbur diapun telah berlaku takabbur. Seorang yang tidak mau mendengar kata saudaranya dengan baik dan memalingkan muka, diapun telah berlaku takabbur. Seorang saudara miskin yang duduk disampingnya dan dia tidak menyukainya diapun telah berlaku takabbur. Dan seorang yang melihat orang yang berdoa dengan ejekan dan cemohan, diapun telah berlaku takabbur. Dan orang yang tidak mengitaati rasul dan utusan Tuhan sengan sepenuhnya, diapun telah berlaku takabbur dan orang yang tidak mendengar ucapan rasul dan utusan Tuhan dengan penuh perhatian dan tidak membaca tulisan-tulisannya dengan penuh perhatian diapun telah berlaku takabbur. Maka berusahalah, jangan ada bagian takabbur yang ada padamu supaya kamu jangan menjadi binasa,supaya kamu dan keluargamu memperoleh keselamatan. Tunduk/cenderunglah pada-Nya dan seberapa mungkin manusia cinta pada seseorang di dunia ini lakukanlah itu pada-Nya dan seberapa manusia bisa takut pada seseorang di dunia ini, takutlah kamu pada Tuhan-mu. Jadilah orang yang berhati bersih. Jadilah orang berkeinginan bersih, miskin/sederhana dan bersih dari keburukan supaya kamu dikasihani.

Dan pada akhirnya ada sebuah ilham Hadhrat Masih Mauud a.s. :”المتكبر –Al-mutakabbir. Ini adalah kalam Tuhan الله اكبر-Allaahu akbar[Allah Maha besar]”. Ini adalah kalimah Hadhrat Masih Mauud a.s. bahwa المتكبر –almutakabbir bukanlah berkenaan dengan saya, bahkan merupakan kalam Tuhan sendiri bahwa Allah-lah yang المتكبر-almutakabbir. الله اكبر-allaahu akbar[Allah Maha].

Qamaruddin Syahid