Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Tahir Ahmad

Khalifatul Masih Ar-Rabbi ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

2 Agustus 2002

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ،

وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا وَوُضِعَ الْكِتَابُ وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ وَقُضِيَ بَيْنَهُمْ بِالْحَقِّ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ

Dan bumi bersinar dengan nur Tuhan-Nya dan catatan amal akan diletakkan dihadapan mereka dan semua nabi-nabi dan saksi-saksi akan didatangkan,dan keputusan akan diberikan diantara mereka dengan adil,dan mereka tidak akan diperlakukan dengan aniaya.

Hadhrat Abdullah bin Umar r.a. meriwayatkan bahwa saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa Allah telah menciptakan makhluk-Nya dalam kegelapan. Kemudian Dia memasukkan nur-Nya padanya. Maka bagi yang diterpa nur dia telah mendapat petunjuk dan siapa yang tidak bisa diterpa nur , dia telah sesat. Turmuzi Kitabul-Iman

Hadhrat Sufyan bin Auf a.s.berkata bahwa saya telah mendengar dari Abdullah bin Umar bin As bahwa pada suatu hari kami berada di dekat Rasulullah saw maka beliau bersabda: “Habar gembira bagi orang miskin”. Kepada beliau ditanyakan, wahai Rasul Allah saw, orang miskin yang mana ? Beliau bersabda: Orang-orang saleh diantara orang-orang yang jahat,yang kebanyakan orang dibandingkan mengitaatinya lebih banyak yang mengingkarinya/tidak mengitaatinya.Perawi berkata bahwa pernah pada suatu hari tatkala kami kumpul duduk didekat Rasulullah saw.di saat matahari baru terbit. Beliau bersabda: Pada hari kiamat orang-orang dari ummatku akan datang. Cahayanya akan bersinar bagaikan sang surya . Kami berkata wahai Rasul Allah ! Siapa ummat Tuan ini ? Beliau bersabda: Orang-orang miskin diantara para muhajirin yang selalu terhindar dari kejadian-kejadian yang tidak disukai. Diantara mereka jika ada yang wafat maka sebagian keinginan-keinginannya tetap terselubung/terpendam di dalam dada mereka. Mereka akan dikumpulkan dari segenap penjuru dunia.

Musnad Ahmad bin Hanbal

Allamah Abu Abdulah Qurtubi dalam menafsirkan ayat

وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا menulis: Maksud bumi itu menjadi َأَشْرَقَ-asyraqa ialah bumi menjadi terang.sebagaimana dikatakan

الشمش اذا اضاءت.و شرقت اذاطلعت وَأَشْرَقَتِ-asyraqatisyamshu idza adhaat wa sharaqat idza thalaat-Yakni شْرَقَتِ

أَشْرَقَت الشمشِ-asyraqati-sysyamsu-disebut apabila itu menjadi terang danشرقت الشمش syariqatisysyamsu- apabila matahari itu terbit .Dhahhak berkata bahwa maksud dengan بِنُورِ رَبِّهَاadalah بحكم ربها-bihukmi rabbiha-dengan perintah/dengan izin Tuhan-nya. Dan maksudnya hanya satu, yakni, bumi menjadi terang/diterangi .dan telah menjadi terang dengan berkat keadilan Tuhan dan dengan pemberian keputusan-Nya Tuhan yang penuh dengan kebenaran diantara hamba-hamba-Nya.dan kezaliman ialah kegelapan dan keadilan adalah nur.Dan dikatakan bahwa Allah pada hari kiamat akan menciptakan suatu nur.dan dengan itu akan menyelimuti permukaan bumi dan akan menyelimuti/meliputi permukaannya dengan itu. Maka dengan itu bumi akan menjadi terang.

Ibni Ibad berkata bahwa di dalam ayat ini maksud nur bukanlah sang surya dan sang rembulan, bahkan maksudnya ialah suatu nur yang secara khusus Tuhan akan ciptakan dan dengan itu bumi akan menjadi terang.

Tafsir Qurtubi

Allamah Fakhruddin Razi berkata bahwa dalam وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَاmaksudnya hanya adil. Karena difirmankan وَجِيءَ بِالنَّبِيِّينَ وَالشُّهَدَاءِ dan jelas bahwa menghadirkan saksi-saksi adalah hanya untuk menzahirkan keadilan. Dan begitu juga di akhir ayat berfirman وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ-yang menunjukkan pada hal bahwa maksud nur itu ialah menjauhkan kezaliman.

Razi

Allamah Ullusi berkata bahwa dalam وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا maksud nur sesuai ucapan Ibni Abbas a,s,ialah ini merupakan nur yang Allah tidak zahirkan pada benda-benda/bintang-bintang lahiriah yang bercahaya di dunia,yakni bulan dan sang surya, bahkan maksudnya ialah nur ruhani…..

Hasan Bashri dan Suddi memilih arti “adil” dari kata nur secara isti’arah/pinjaman. Di dalam Al-Quran di beberapa tempat mengambil/memilih arti nur itu dalam arti adil dan insaf/itaat. Untuk Al-Quran dan Burhan itu digunakan sebagai kata pinjam seolah-olah bumi akan bersinar dengan nur yang didalamnya akan menegakkan yang hak dan keadilan; Allah dalam hisab akan berlaku adil dan akan berlaku adil dalam hal nizam,dan akan berlaku adil dalam setiap kebaikan dan keburukan……

Maksud ayat وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَا bahwa dalam pengambilan keputusan para hakim Tuhan akan menampakkan diri dan kadang-kadang kata-kata itu ditakbirkan saebagai kata ityan. أَنْ يَأْتِيَهُمُ اللَّهُ فِي ظُلَلٍ مِنَ الْغَمَامِ وَالْمَلَائِكَةُ-Allah dan malaikat membawa mereka dalam naungan awan.

Ruhul Maani

Di dalam Tafsir Qumi diterangkan dalam refrensi Imam Ja’far Sadiq bahwa maksud rabbul-ardh maksudnya ialah Imam bumi.Atas hal itu akan dikatakan bahwa apabila itu akan zahir maka apa yang akan terjdi ? Imam Ja’far Sadiq berkata:Pada hari itu orang-orang akan berlepas /tidak perlu pada cahaya sang surya dan sang rembulan dan orang akan merasa cukup dengan cahaya Imam.

Dalam Irsyadul-muufiyd diriwayatakan dari Imam Ja’far Saddiq bahwa ketika Imam kami, yakni ketika majikan kami,yakni,Imam Qaaim/pengganti bangkit, maka pada waktu itu bumi akan bersinar dengan nur Tuhannya.dan orang-orang tidak memerlukan cahaya matahari dan bulan dan kegelapan akan hilang sirna.

Tafsir Assafi dibawah ayat Az-zumar 70

Hadhrat Masih Mauud a.s. dalam syair Urdu bersabda:

Pandanglah bunga dari Dia-lah air itu. Nur Dia-lah yang bersinar di dalam sang surya dan sanag rembulan. Dalam kcantikan orang-orang yang cantik juga nur Dia-lah itu. Apakah benda yang indah/cantik itu yang berkilauan di dalam tirai ? Lihatlah setiap mata yang fana.itulah Dia yang nampak. Setiap kalbu akan bergejolak dengan kecintaan terhadap-Nya.

Durussaamin .

Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Ini merupakan sunnah Tuhan bahwa tidak ada pekerjaan yang Tuhan kerjakan tampa sarana-sarana.Ya,ini kasus/masaalahnya berbeda, apakah sarana-sarana itu nampak pada kita atau tidak., tetapi di dalamnya tidak ada kata-kata/kalam yang sarana-sarana pasti ada. Seperti itulah nur-nur turun dari langit yang tatkala turun ke bumi akan mengambil corak sarana-sarana dan prasarana. Ketika Allah mendapatkan zaman Rasulullah saw terperosok dalam kegelapan dan kesesatan dan di segenap tempat merajalela kesesatan dan kegelapan dan telah menyelimuti dunia,maka untuk menjauhkan kegelapan dan untuk menggantikan kesesatan dengan petunjuk dan keberuntungan bersinar sang surya dari bukit Faran,yakni Rasulullah saw dibangkitkan.

Malfuzat Jilid Awwal hal. 61Jadid iddition

Kemudian bersabda: Cahaya agung yang dianugerahkan kepada manusia yang paripurna tidak terdapat pada wujud malaikat,tidak pula pada wujud bintang-kemintang ,tidak pula pada sang rembulan, tidak pula pada sang surya. Cahaya itu tidak terdapat pula di samudera-samudera dan sungai-sungai di dunia. Cahaya itu pula tidak terdapat di batu-batu delima atau yakut atau zamrud atau permata nilam yaitu mutiara. Pendek kata tidak terdapat pada semua benda di dunia atau samawi. Hanyalah di dalam diri sang manusia, yakni di dalam diri manusia paripurna yang perwujudannya yang penuh sempurna tinggi lagi luhur adalah terdapat pada majikan serta junjunmgan kita,Penghulu segala nabi ,Penghulu segenap makhluk hidup ,Muhammad mushtafa saw .Jadi cahaya itu dilimpahkan pada manusia itu dan menurut urutan martabatanya kepada seluruh pribadi yang sewarna dengannya,yakni kepada orang-orang yang sampai kadar tertentu mengandung warna itu pula …Kemegahan yang setinggi –tingginya sesempurn-sempurnannya dan selengkap-lengkapnya ada pada majikan kita, junjungan kita peamandu jalan kita nabi ummi sadiq dan yang kebenarannya diakui Muhammad mustafa saw.

Ainah Kamalati Islam hal 160-161

Ilham Hadhrat Masih Mauud a.s.: وَأَشْرَقَتِ الْأَرْضُ بِنُورِ رَبِّهَ Bumi bersinar dengan nur Tuhannya.

Tazkirah hal. 805 Cetakan1969

Pada tahun 1891 Hadhrat Masih Mauud a.s.mendapat ilham dalam bahasa Arab yang terjemahan bahasa urdunya ialah:

Dia Tuhan Yang Rahman untuk khalifah Sulthan-Nya mengeluarkan perintah bahwa dia akan dianugerahi negara yang besar dan hazanah-hazanah ilmu dan makrifat akan dibukakan ditangannya . Dan bumi akan bersinar dengan nur Tuhannya. Dan ini merupakan anugerah Tuhan dan pada pandanganmu hal ini aneh” .

Izalah Auham hal.856

Qamaruddin Shahid