Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz[1]

Tanggal 13 Fatah 1392 HS/Desember 2013

Di Masjid Baitul Futuh, UK

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ،

[آمين. ]

Sejak dua Jumat yang lalu saya sedang membahas tentang amal e islah atau perbaikan amal. Di dalam Khotbah Jumat yang baru lalu saya membahas ajaran yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dalam bentuk sekumpulan soal atau pertanyan. Atau saya ceritakan bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as menyampaikan ajaran itu kepada kita. Dan bentuk so’al jawab itu demikian: Apakah kita melakukannya atau tidak? Perbaikan amal kita belum selesai sampai batas yang telah disebutkan itu, ajaran Islam itu banyak sekali macamnya, banyak sekali perintah-perintah yang tercantum di dalam Kitab Suci Al-Qur’anul Karim. Oleh sebab itu untuk perbaikan amal kita Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberitahukan dengan jelas bahwa:

“Aku berkata dengan sebenar-benarnya bahwa, barangsiapa yang meninggalkan satu macam saja perintah walau sekecil apapun dari 700 perintah Allah Ta’ala di dalam Alqur’anul Karim, dia menutup pintu keselamatan dengan tangannya sendiri.”[2]

Maka bagi kita, alangkah menakutkannya hal itu. Di dalam setiap amal dan setiap langkah kita harus dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati sekali. Seperti telah saya katakan dalam Khotbah Jumat yang baru lalu, tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s adalah menerapkan Pemerintahan Al-Qur’anul Karim atas diri kita dan mengamalkan uswah hasanah (keteladanan terbaik) Hadhrat Rasulullah saw dan sunnah beliau Saw. Untuk menghasilkan hal itu Hadhrat Masih Mau’ud as telah berulang kali mengingatkan kita. Jika dengan jujur kita mengoreksi keadaan keadaan keimanan didalam diri kita sendiri, seperti telah saya katakan sebelumnya, setelah kita mendengar apa yang yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, hasil perbaikan amal kita bisa saja berlaku untuk beberapa hari, kemudian kembali lagi kepada kebiasaan yang dilakukan sebelumnya.

Maka keadaan kita seperti sebuah mainan boneka dakocan — seperti telah saya berikan misal dalam Khotbah yang lalu — terikat dengan spring per yang tersimpan di dalam sebuah kotak. Selama kotak itu tertutup boneka itu tetap ada di dalam. Begitu tutupnya terbuka tiba-tiba boneka dakocan itu melompat keluar dengan kekuatan spring per. Seperti itulah, selama nasihat dengan topik yang sama secara terus-menerus diberikan akan memberi kesan kepada orang banyak. Jika tekanan perhatian terhadap nasihat itu dihentikan maka spring jiwa atau spring keburukan-keburukan melompat sehingga menampakkan kembali keburukan seseorang.

Banyak orang-orang mukhlis telah mengirim surat kepada saya setelah mendengar Khotbah-khotbah yang baru lalu bahwa; Kami sedang berusaha sambil berdo’a dan memohon dido’akan juga bahwa berkat kesan-kesan khotbah-khotbah itu banyak sekali boneka keburukan telah ditutup di dalam kotak-kotak, dan semoga tetap tertutup di dalamnya dan sampai beberapa waktu lamanya memang tidak keluar lagi. Namun akhirnya perlu dipikirkan juga, apa sebabnya jack atau boneka dakocan itu berulang kali berusaha untuk keluar lagi dari dalam kotak itu.

Perbaikan suatu aspek tentu bisa dilakukan dengan menggunakan berbagai macam sarana dan sebab-sebab kekurangan atau kelemahan-kelamahannya juga akan dapat diketahui. Supaya penyebab-penyebabnya itu bisa diusahakan untuk dihilangkan. Jika penyebabnya tetap tidak dapat dihilangkan, maka setelah terjadi perbaikan-pun akan kembali kepada keburukan lagi. Ketika saya merenungkan hal ini dan menelaah lebih lanjut tentang ini, kemudian saya menjumpai sebuah analisa Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. Cara Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a menyusun karangan dan bahan pidato mempunyai kelebihan tertentu. Yaitu dengan membangkitkan suatu pertanyaan kemudian menjawabnya dengan contoh atau misal sambil mengemukakan ayat Al-Qur’an, Hadis atau sabda Hadhrat Masih Mau’ud as bagaimana cara beliau memecahkan suatu masalah tidak dapat dijumpai ditempat lain. Oleh sebab itu saya berpikir bahwa dengan mengambil faedah dan bimbingan dari Khotbah Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. saya akan menjelaskan sebab-sebabnya di hadapan semua.

Hambatan Pertama Perbaikan Amal

Yang paling utama diantara perkara-perkara yang menjadi penghalang perbaikan amal atau yang mempengaruhinya diantaranya adalah manusia menganggap ada dosa besar dan ada dosa kecil. Orang-orang atau sebagian Ulama sendiri yang memberi keputusan demikian dengan mengatakan bahwa banyak diantara dosa-dosa itu besar dan banyak diantaranya itu dosa kecil, dan hal itulah yang menjadi penghalang dalam upaya perbaikan amal. Pendapat demikian menimbulkan keberanian kepada manusia untuk berbuat dosa. Bahaya keburukan dan dosa-dosa itu sudah tidak ada lagi. Mereka menganggap mengerjakan dosa kecil itu tidak menimbulkan bahaya apa-apa, atau hukumannya tidak seberapa besar.[3]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda;

“Jika seseorang jatuh sakit, biar penyakit itu kecil atau besar, ringan atau berat, jika tidak diobati, dan tidak mau menanggung susah untuk itu, orang sakit itu tidak akan sembuh. Jika sebuah noda hitam timbul di bagian muka, tentu menjadi pikiran jangan-jangan tumbuh sedikit demi sedikit akhirnya muka menjadi hitam semuanya. Begitu juga maksiat itu adalah sebuah noda hitam tumbuh di permukaan hati. Saghaa-ir yakni ‘dosa-dosa kecil’ karena kelalaian lama-lama menjadi kabaa-ir ‘dosa-dosa besar’. Saghaa-ir adalah noda kecil yang akhirnya membuat muka menjadi hitam semuanya.”[4]

Oleh karena itu, hendaknya hal ini harus selalu ingat bahwa janganlah menganggap kecil terhadap dosa apapun. Sebab jika telah timbul anggapan ini yaitu ini adalah dosa kecil saja, maka benih penyakit ini lama-kelamaan akan berkembang. Sesuai dengan keadaan, dosa kecil juga bisa menjadi dosa besar. Maka dari segi ini kita semua perlu mengadakan peninjauan terhadap diri pribadi kita. Allah Ta’ala akan menuntut dan menghukum dosa itu sekalipun kecil. Apalagi dosa besar tentu akan dituntut dan dihukum. Maka apabila kita memandang kepada cara Hadhrat Rasulullah saw, kita akan mengetahui bagaimana beliau menjelaskan dosa kecil ataupun besar dan juga kebaikan. Beliau dalam memberi nasihat-nasihat disesuaikan dengan situasi dan keadaan setiap orang. Apabila seorang bertanya: Ya Rasulallah, apakah kebaikan yang paling besar itu? Beliau jawab: Berkhidmat kepada kedua ibu bapak, adalah kebaikan yang sangat besar. Menjawab pertanyaan seseorang yang bertanya tentang kebaikan yang paling besar beliau bersabda: Tahajjud adalah kebaikan yang sangat besar. Dalam menjawab pertanyaan seorang lagi, apakah kebaikan yang paling besar itu? Beliau bersabda: Kebaikan paling besar bagi kamu adalah, ikutlah kamu dalam berjihad. Jadi jelaslah dari sabda-sabda Hadhrat Rasulullah saw tersebut bahwa, kebaikan besar itu berbeda-beda sesuai dengan keadaan situasinya dan keadaan orang-orangnya.[5]

Segi kebaikan jihad juga perlu dijelaskan sebab kita dituduh oleh sebagian orang bahwa kita tidak melakukan jihad. Pada zaman ketika Islam mendapat serangan-serangan musuh menggunakan pedang waktu itu jihad dengan pedang merupakan kebaikan yang sangat besar dan pada waktu itu orang Muslim yang tidak ikut berperang tanpa alasan yang tepat, Allah Ta’ala menetapkan hukuman baginya. Akan tetapi di Zamannya Masih Mau’ud as Rasulullah saw bersabda : yadho’ul harba. Dia yakni Imam Mahdi akan meninggalkan peperangan, akan mengakhiri peperangan.[6] Sebab di akhir zaman atau di zaman sekarang cara serangan-serangan yang dilakukan musuh-musuh terhadap agama Islam akan berubah. Islam sebagai Agama tidak akan diserang menggunakan pedang lagi, melainkan Islam akan diserang melalui literature, press, media atau berbagai macam sarana lainnya. Islam akan diserang dengan perantaraan itu semua. Itulah sebabnya Masih Mau’ud as dan Jemaat beliau akan menggunakan senjata-senjata tersebut, karena dengan senjata-senjata itu serangan-serangan sedang dilakukan. Terhadap situasi itulah Masih Mau’ud as bersabda dalam bentuk sya’ir [terdapat dalam Zhamimah Tuhfah Golerwiyah, Ruhani Khazain jilid 17, halaman 77]:

 

Diin ke liye haraam hai ab jang o jidaal

Haramlah sekarang untuk agama berperang dan berkelahi

Jadi kebaikan perang menggunakan pedang berlaku pada suatu zaman, diperbolehkan bahkan sangat diperluan sekali, sebab pada waktu itu Islam sedang dihabiskan dengan semangat menggunakan senjata pedang. Sekarang menggunakan pedang sudah habis masanya, bukan kebaikan lagi, bahkan sudah dilarang dan diharamkan. Pedang tidak boleh digunakan lagi sampai pada waktu musuh-musuh Islam tidak menggunakan pedang untuk melawan Islam. Sekarang kebaikan dan Jihad yang diperbolehkan adalah Jihad menyebarkan ajaran Al-Qur’anul Karim, Jihad ilmu, Jihad menggunakan Press, sarana Media dan literature untuk menyebarkan keindahan ajaran Islam. Jika disebabkan kurang ilmu, atau disebabkan hal-hal lainnya tidak bisa ikut di dalam Jihad itu secara langsung, maka Jihad bisa dilakukan dengan mengurbankan uang atau harta untuk menyediakan Literature atau buku-buku. Akan tetapi jika Jihad dengan pengurbanan uang atau harta ini dilakukan, sedangkan hak-hak kewajiban terhadap anak-isterinya tidak diperhatikan, maka bagi dia bukan menjadi kebaikan besar atau Jihad. Melainkan bagi dia kebaikan besar adalah memenuhi hak-hak anak-isterinya, yang merupakan wajib atas dirinya. Meninggalkan hak-hak mereka, tidak memberi perhatian dan mengabaikan pendidikan anak-anak sekolah mereka, bagi orang yang seperti ini membuat dia menjadi orang berdosa.

Di Zaman Hadhrat Rasulullah saw, sekalipun Jihad itu diwajibkan atas setiap orang Muslim, seperti telah dijelaskan diatas, beliau saw menyebutkan : Mengkhidmati kedua Ibu-bapak adalah kebaikan besar. Jadi, dari segi situasi dan kesempatan, amal kebaikan besar adalah berbeda bagi setiap orang.

Begitu juga kita dapat menyaksikan jika uang digunakan dalam pekerjaan yang salah atau dilarang oleh Tuhan hasilnya mendatangkan satu keburukan. Pada zaman sekarang terdapat mesin-mesin judi, berbagai macam jenis judi telah ditemukan. Banyak manusia yang menjadi budak lottery atau pecandu lottery pergi ke tempat mesin-mesin Judi. Di sana mereka bermain Judi menggunakan uang, mereka tidak berkata dusta, mereka tidak berbuat zalim, tidak membunuh, sebab mereka menganggap semua perbuatan itu adalah dosa-dosa besar. Akan tetapi ia tidak menganggap buruk terhadap main Judi, membelanjakan uang atau mensia-siakan uang dalam pekarjaan yang salah bahkan dilarang. Maka untuk orang semacam itu, membelanjakan uang dalam pekerjaan yang salah adalah pekerjaan dosa yang sangat besar. Karena sisa dosa yang lain dianggapnya sama dengan dosa sebelumnya.

Kemudian kita melihat lagi seorang perempuan yang memakai pakaian tidak menghiraukan rasa malu, pergi keluar dengan kepala terbuka, tanpa memakai kudungan atau pardah, sekalipun dia orang Ahmadi, atau menamakan diri orang Muslim Ahmadi, berjalan-jalan tanpa hijab, atau cadar penutup muka, berpakaian tidak sopan, memamerkan diri. Akan tetapi jika ia dimintai pengurbanan uang atau dimintai sumbangan untuk suatu kebaikan, diminta untuk bayar chandah, ia memberinya dengan hati rela. Atau dia benci kepada perkataan dusta dan dia tidak bisa bertahan jika seseorang berdusta kepadanya. Maka bagi dia kebaikan besar bukan membayar candah atau membenci perkataan dusta melainkan bagi dia kebaikan besar adalah mengamalkan perintah Al-Qur’an yakni jauhilah pakaian yang memalukan dan jagalah pardah. Orang yang tidak menaruh perhatian terhadap kebaikan yang dianggap kecil di satu waktu dia juga akan meninggalkan kebaikan yang besar. Pendeknya tolok ukur setiap kebaikan dan dosa terletak kepada keadaan setiap orang. Dalam berbagai macam kesempatan, pengertian tentang kebaikan dan keburukan amal, bagi berbagai macam manusia bisa berubah-ubah.

Maka selama manusia memandang keburukan ini besar dan yang ini kecil, kebaikan ini besar dan kebaikan ini kecil, selama itu pula manusia tidak akan terhindar dari keburukan dan tidak akan pula mendapat taufiq untuk berbuat kebaikan. Perkara ini harus selalu diletakkan di hadapan mata kita bahwa keburukan besar adalah yang manusia tidak mampu untuk meninggalkannya dan sangat sulit sekali melepaskan diri dari padanya dan sudah menjadi adat kebiasaan. Kebaikan besar adalah yang untuk mengerjakannya manusia merasa susah sekali. Jadi banyak sekali keburukan yang bagi seseorang adalah besar dan bagi orang lain kecil dan banyak sekali kebaikan yang sangat besar bagi seseorang dan bagi yang lain kecil.

Maka jika kita ingin ‘Amali ishlah’ memperbaiki amal pribadi sendiri maka paling utama kita harus membuang pikiran dari dalam lubuk hati, misalnya zina sebuah dosa besar, pembunuhan sebuah dosa besar, mencuri sebuah dosa besar, ghibat sebuah dosa besar dan selain dari itu semua, dosa apapun adalah dosa kecil. Anggapan seperti itu harus dikeluarkan dari hati sampai keakar-akarnya. Anggapan ini juga harus dikeluarkan dari dalam hati, bahwa puasa adalah kebaikan besar, zakat kebaikan besar, ibadah hajji juga kebaikan besar. Selain dari itu semua kebaikan apapun adalah kebaikan kecil-kecil, di kalangan orang-orang Muslim terdapat anggapan seperti itu. Jika anggapan seperti itu tidak dibuang dari dalam hati kita, maka amal kita akan menjadi lemah. Bagian amal kita akan menjadi kuat sekali apabila sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as berikut ini selalu kita perhatikan dengan seksama: “Orang yang tidak mengamalkan 700 perintah-perintah Al Qura’anul Karim akan menjadi orang yang menutup pintu keselamatan dengan tangannya sendiri.” Maka kita jangan menjadi seperti orang-orang Ghair yang menganggap sebagian dari kebaikan yang besar dan sebagian dari kebaikan yang kecil. Orang-orang Muslim lain menganggap puasa adalah kebaikan yang paling besar. Akan tetapi salat berjamaah tidak dianggap penting, namun puasa sangat penting sekali, harus ditaati sepenuhnya. Yang sudah wajib bayar zakat ia akan berusaha menghindari membayar zakat, namun puasa pasti akan dia lakukan, sebab jika puasa tidak lakukan maka dia akan menanggung dosa besar sekali.

Pada waktu menghindarkan diri dari membayar zakat-sekarang di Pakistan entah bagaimana keadaannya-setelah tahun 1974 orang-orang Ahmadi dinyatakan Non Muslim, beberapa orang Ghair Ahmadi yang punya Account atau rekening di Bank, setiap akhir tahun Pemerintah Paksitan secara paksa memotong uang zakat dari setiap Account atau rekening itu. Akan tetapi sesuai peraturan pemerintah orang-orang Ahmadi tidak dikenakan wajib zakat sebab mereka telah dinyatakan Non Muslim. Maka untuk menyelamatkan diri dari kewajiban mebayar zakat mereka menulis identitas didalam Buku Bank mereka sebagai Qadiani atau Ahmadi. Begitulah keadaan iman mereka. Mereka menganggap orang Ahmadi adalah Kafir maka demi menyelamatkan uang, mereka juga ikut-ikutan menjadi Kafir. Namun tidak tahu bagaimana keadaan sekarang. Demikianlah keadaan pada waktu itu. Mengapa telah terjadi demikian? Untuk menentukan standard kebaikan dan keburukan mereka tidak mengarahkan perhatian terhadap Allah Ta’ala dan tidak pula terhadap Rasul-Nya saw, melainkan mengikuti jejak mereka yang menamakan diri para Mufti-mufti dan para Ulama.

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. menceritakan sebuah kisah di zaman Hadhrat Masih Mau’ud as

Beliau r.a. bersabda: “Di dalam bulan Ramadhan Hadhrat Masih Mau’ud a.s sedang dalam safar atau perjalanan di kota Amritsar. Dalam keadaan puasa itu beliau sedang berpidato di hadapan orang ramai. Di waktu berpidato beliau merasa kekeringan dalam tenggorokannya, maka setelah melihat hal ini seorang kawan menyodorkan secangkir teh kepada beliau. Namun beliau menolaknya. Tidak lama kemudian tenggorokan beliau terasa kekeringan lagi. Perasaan kawan itu merasa terganggu kemudian ia menyodorkan lagi secawan teh. Kemudian beliau tolak lagi dan memberi isyarah juga dengan tangannya supaya jangan menyodorkan teh lagi. Akan tetapi ketika terasa kekeringan tenggorokan lagi dan merasa susah berbicara, maka ketiga kalinya orang itu menyodorkan cawan teh itu kepada beliau, maka Hadhrat Masih Mau’ud berpikir kalau ketiga kalinya ditolak lagi maka jangan-jangan orang itu menganggap beliau ria atau sombong dan kemudahan dalam berpuasa bagi seorang musafir, demi menunjukkan kesombongan di hadapan orang ramai, beliau tidak mengambil faedah dari secawan teh yang disodorkan oleh kawan itu kepada beliau. Maka akhirnya beliau mengambil satu teguk dari cawan itu. Kemudian tiba-tiba orang yang tengah duduk di dalam Majlis itu mulai riuh mencemoohkan beliau dan berkata: ‘Tengoklah ! Menda’wakan diri sebagai Mahdi, tapi di dalam bulan Ramadhanpun tidak berpuasa.’ Menurut pendapat mereka, puasa harus dilaksanakan sekalipun bertentangan dengan hukum Allah Ta’ala, bahwa orang musafir tidak boleh berpuasa.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda: “Mungkin 90% dari mereka itu salat-pun tidak melakukannya, mereka meninggalkan salat. 99% dari mereka pendusta, penipu dan perampok harta orang. Akan tetapi mungkin betul juga bahwa 99% dari mereka melakukan ibadah puasa juga, sebab mereka menganggap ibadah puasa itu kebaikan yang paling besar. Namun mereka tidak melakukan puasa seperti yang dilakukan oleh Hadhrat Rasulullah saw. Sambil berpuasa berkata dusta, melakukan ghibat, mencaci-maki dan sebagainya. Di sisi Allah Ta’ala puasa mereka itu dianggap tidak dianggap puasa, Tuhan tidak menerima puasa seperti itu, puasa hanya menahan lapar dan dahaga. Jika kita mengadakan peninjauan secara umum, maka kebanyakan orang-orang Muslim berpuasa hanya untuk menahan lapar dan dahaga. Namun menahan lapar dan dahaga ini menurut pendapat mereka adalah kebaikan yang sangat besar sekali, sesuai dengan derajatnya ia berada dalam keadaan lapar dan haus saja. Mereka mengira, dengan menambahkan beberapa kebaikan-kebaikan lainnya lagi cukuplah bagi mereka untuk mendapat pengampunan dari Allah Ta’ala. Orang-orang demikian bukanlah orang-orang yang mampu bertahan untuk menegakkan kebaikan-kebaikan diatas dunia ini dan bukan pula orang-orang yang mampu menentukan definisi atau pengertian dosa secara tepat. Mereka telah menentukan dengan kehendak sendiri batas pengertian kebaikan besar dan kebaikan kecil atau dosa besar dan dosa kecil. Sebagai dampaknya, mereka berusaha untuk meraih kebaikan besar yang telah mereka sendiri tetapkan itu dan keburukan yang mereka anggap kecil mereka tidak bersedia untuk melawannya, bukan untuk meninggalkannya, bahkan melawannyapun mereka tidak mampu. Sehingga setelah mereka melakukan suatu keburukan terus menerus melakukan keburukan. Padahal Islam telah menyatakan, suatu kebaikan itu besar jika terasa susah melakukannya dan bagi setiap orang kebaikan itu berbeda-beda keadaannya. Keburukan itu dinyatakan besar jika untuk menghindarkannya terasa susah sekali.

Maka, jika kita ingin melakukan islah atau perbaikan diri pribadi maka hal ini harus selalu mendapat penuh perhatian bahwa, kita harus berusaha untuk malakukan setiap kebaikan dan akan berusaha menghindarkan diri dari setiap keburukan. Kalau peraturan yang dibuat sendiri, tidak akan membuat kita mampu menjauhkan diri dari keburukan dan tidak akan membuat kita mampu melakukan suatu kebaikan. Kadangkala manusia menyusahkan dirinya sendiri jika ia mulai membuat keputusan menurut pengertiannya sendiri, keburukan yang mana yang harus dia tinggalkan dan yang mana harus dia biarkan, dan kebaikan yang mana yang harus dia lakukan dan yang mana yang jangan dia lakukan. Kebaikan-kebaikan yang nampaknya kecil-kecil disebabkan tidak ada perhatian terhadapnya, membuat manusia luput dari melakukan kebaikan-kebaikan itu. Kebanyakan keburukan yang nampaknya kecil dapat mencelakai rohaniah manusia sehingga tidak dapat diperbaiki kembali dan membuat manusia luput dari anugerah kebersihan dan kesucian dari Allah Ta’ala. Dan bisa juga akibat dari menganggap keburukan itu kecil, benih keburukan itu tetap terpelihara dan selalu berusaha mencari kesempatan untuk menampilkan dirinya.

Maka kita harus berhati-hati sekali. Arus keburukan atau perbuatan keburukan-keburukan akan dapat diakhiri apabila semua sepakat berusaha dengan gigih untuk menanggulanginya. Sebuah Perkumpulan Masyarakat, atau sebuah Jemaat, setiap anggotanya harus berusaha kearah itu. Jika setiap orang membuat definisi kebaikan dan keburukan masing-masing, maka seorang akan menganggap sesuatu sebuah keburukan atau sebuah dosa besar namun orang lain lagi akan menganggapnya sebagai keburukan atau dosa kecil. Mungkin saja orang ketiga akan menganggapnya lain lagi. Dengan cara demikian keburukan-keburukan tidak akan dapat hilang lenyap. Keburukan-keburukan akan hilang lenyap jika semua anggota masyarakat mulai bersatu-padu dalam jalur pemikiran yang sama.

Misalnya, semua orang-orang Muslim menganggap makan daging babi paling buruk dari semua dosa bahkan lebih besar dari Syirik. Setiap penjahat, pencuri, perampok dan pezina yang mengaku diri sebagai orang Muslim, jika disuruh memakan daging babi maka ia akan berkata: “Saya seorang Muslim, bagaimana saya bisa memakan daging babi.” Sebabnya adalah, di kalangan orang-orang Muslim secara umum sudah timbul peemikiran bahwa memakan daging babi itu dilarang atau memakan daging babi itu haram hukumnya. Sekalipun tinggal dan lahir, dibesarkan dan bergaul dilingkungan masyarakat di sini, 99.99% orang-orang Muslim di sini merasa jijik kepada daging babi. Maka ini disebabkan perasaan yang telah ditimbulkan secara keseluruhan di kalangan orang-orang Muslim.

Jadi, untuk mencegah keburukan dan menegakkan kebaikan penting ditimbulkan perasaan untuk itu didalam hati setiap orang di kalangan masyarakat. Maka kebaikan kecilpun akan menjadi kebaikan besar. Dan keburukan kecil juga menjadi dosa besar. Selama di dalam hati setiap orang dari antara kita tidak timbul perasaan dan tidak ada usaha kearah itu keburukan-keburukan di dalam masyarakat akan tetap ada. Dan ia akan menjadi penghalang dalam usaha perbaikan amal.[7]

Hambatan Kedua Perbaikan amal

 

Sebab kedua atau hambatan di dalam usaha perbaikan amal adalah lingkungan atau kecenderungan untuk meniru orang lain. Allah Ta’ala telah menanamkan fitrat kecenderungan meniru yang zahir semenjak usia kanak-kanak. Oleh karena itu didalam fitrah anak-anak terdapat madah mencontoh. Madah atau fitrat itu diciptakan untuk faedah kita. Akan tetapi menggunakan madah yang salah bisa membinasakan manusia itu sendiri atau membawa kepada kehancuran. Dan semata-mata kesan kecenderungan meniru dan lingkungan, manusia belajar Bahasa dari kedua Ibu bapaknya atau belajar pekerjaan lainnya. Belajar kebaikan, setelah belajar kebaikan anak-anak menjadi berakhlaq baik dan luhur. Jika kedua ibu bapak baik, patuh menunaikan salat, rajin dan dawam membaca Al-Qur’an, tinggal bersama dengan penuh kasih sayang, membenci dusta, maka dibawa pengaruh mereka itu anak-anak menjadi para pelaku amal-amal saleh. Akan tetapi jika dusta, bertengkar, di rumah terjadi percekcokan dan perkelahian, tidak menghiraukan nama baik dan kehormatan Jemaat, apabila anak-anak menyaksikan semua keburukan-keburukan itu, maka disebabkan fitrat suka meniru dan disebabkan pengaruh lingkungan anak-anak itu belajar keburukan-keburukan itu dari mereka. Apabila mereka pergi keluar, melihat apa yang berlaku dalam lingkungan dan yang dilakuakan kawan-kawan, mereka belajar dari mereka itu. Oleh sebab itu saya berulang kali mengingatkan para orang tua agar mereka mengawasi pergaulan anak-anak mereka dengan lingkungan masyarakat luar. Di rumah juga anak-anak harus diawasi dalam menyaksikan program-program TV atau penggunaan Internet dan sebagainya.

Dan semua perkara ini harus mendapat perhatian dan harus selalu diingat bahwa tarbiyyat anak-anak dimulai semenjak usia kanak-kanak. Sekali-kali jangan timbul pikiran bahwa, apabila anak-anak sudah besar akan dimulai usaha tarbiyyat mereka. Usia dua atau tiga tahun juga adalah usia untuk memulai tarbiyyat kanak-kanak. Sebagaimana telah saya terangkan bahwa anak-anak belajar dari kedua ibu-bapak, dari saudara-saudara mereka yang sudah besar melihat dan meniru gerak-gerik mereka. Sekali-kali kedua ibu bapak jangan mengira anak ini masih kecil, apa yang diketahuinya?. Padahal mereka mengetahui akan segala sesuatu dan anak kecil selalu memperhatikan setiap gerak-gerik kedua ibu-bapaknya dengan cermat. Dan tanpa dipahami juga apa yang ia lihat langsung saja mengendap di dalam benaknya. Setiap waktu ia meniru apa yang dilihatnya. Anak-anak perempuan meniru gerak-gerik ibu-ibu mereka, di waktu mereka bermain mereka berusaha meniru pakaian yang dipakai ibu mereka. Anak laki-laki meniru gerak-gerik bapak-bapak mereka. Mereka meniru perbuatan baik maupun buruk kedua ibu-bapak mereka. Apabila mereka sudah meningkat usia sedikit besar apabila mereka mulai diajar dan diberi tahu; ini kebaikan dan ini keburukan misalnya dusta, berkata dusta adalah perbuatan buruk. Menepati janji adalah kebaikan. Akan tetapi jika anak tidak menyaksikan mutu kejujuran kedua ibu-bapak tidak tinggi, tidak pernah menyaksikan kedua ibu-bapak, atau anak-anak yang sudah besar, menepati janji-janji mereka, dari segi ta’lim memang anak-anak mungkin sudah faham bahwa berkata dusta adalah perbuatan buruk dan menepti janji adalah baik dan kebaikan akan tetapi secara amal nyata tidak akan berbuat demikian, sebab setiap hari di rumah mereka menyaksikan yang bertentangan dengan kenyataan.

Adat kebiasaan anak-anak sungguh kuat semenjak usia kanak-kanak, oleh karena itu sesudah besar mereka tidak akan membenarkannya. Jika seorang ibu melihat anaknya malas mengerjakan salat, suami jika sampai di rumah bertanya kepada isterinya: Sudah salat atau belum ? Ia akan jawab: Belum ! Nanti sebentar lagi saya salat. Mendengar jawaban itu maka anak berkata (dalam hatinya), ini adalah jawaban yang sangat baik. Jika ada orang bertanya kepada saya: Sudah salat? Maka saya juga akan selalu jawab seperti itu: Belum! Nanti saya akan salat! Atau anak mendengar jawaban ibunya : Oh saya lupa, belum salat! Atau mendengar jawaban: Sudah sembahyang! Padahal anaknya sepanjang hari bersama dengan ibunya dan ia tidak melihat ibunya itu mengerjakan salat. Mendengar jawaban demikian dari ibunya, maka jawaban itu dicatat atau disimpan di dalam benak anak itu. Begitu juga jika suaminya salah dalam berbicara, didengar oleh anaknya, maka perkataan salah apapun yang diucapkan oleh Bapaknya anak itu mencatat atau menyimpan di dalam benaknya. Jadi kedua ibu bapak jika memberi tarbiyyat yang salah kepada anak-anak mereka atau melakukan perbuatan yang salah dihadapan anak-anak mereka, maka anak-anak juga akan membawanya kejalan yang salah juga. Jadi mereka memberi tarbiyyat yang salah melalui amal nyata mereka. Sesudah anak-anak menjadi besar jawaban sama itulah yang akan mereka berikan.

Begitu juga kelakuan tetangga dan teman-teman kedua Ibu bapak yang salah akan mempengaruhi anak-anak. Maka jika kita ingin memperbaiki amal anak-anak keturunan kita yang sesungguhnya agar di masa mendatang mutu perbaikan amal mereka semakin tinggi, maka kedua Ibu bapak harus memperhatikan keadaan diri mereka dan harus menjalin persahabatan dengan teman-teman yang baik dari segi amal perbuatan mereka. Walhasil, di masa usia kanak-kanak timbul kebiasaan meniru. Keadaan dan situasi lingkungan juga bisa mempengaruhi akal pikiran mereka. Jika anak-anak kita dibiarkan bergaul dalam lingkungan yang baik, maka mereka akan selalu melakukan amal perbuatan yang baik, dan jika mereka dibiarkan bergaul dengan lingkungan yang buruk akibatnya mereka akan selalu melakukan perbuatan yang buruk. Jika anak-anak yang selalu melakukan perbuatan buruk itu menjadi besar dan diberi pengertian bahwa barang-barang atau perkara-perkara ini buruk, dilarang jangan melakukan keburukan itu, maka keadaan mereka sudah terlanjur dalam keburukan akan susah untuk kembali kejalan yang baik. Dalam situasi demikian kedua Ibu bapak tidak perlu mengeluh bahwa anak mereka sudah hanyut dalam keburukan.

Jadi sungguh besar sekali tanggung jawab kedua Ibu bapak. Mereka harus menunjukkan dengan amal nyata, harus membuat anak-anak rajin menunaikan salat. Dengan amal nyata, harus membina anak-anak kearah kebaikan dan kebenaran, dengan amal nyata harus menunjukkan perbuatan yang baik-baik sambil menanamkan akhlaq yang tinggi dihadapan anak-anak agar mereka juga berusaha memiliki akhlaq yang tinggi. Kedua Ibu bapak harus menjauhkan diri dari sumpah-sumpah palsu, supaya anak-anak juga terhindar dari padanya.

Betapa besarnya pengaruh amal praktis terhadap usia kanak-kanak, dapat diambil dari contoh yang diberikan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. tentang seorang Sahabah Hadhrat Masih Mau’ud as yang berasal dari keluarga terhormat Sikh yang masuk Jemaat, dan beliau tidak memakan daging lembu. Teman-teman beliau melakukan sebuah cara untuk mendesak agar beliau memakan daging lembu. Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. pada suatu hari melihat beliau sedang berjalan menuju Guest House dan teman-teman beliau mengejar dari belakang sambil berkata: Hari ini kami akan memberi makan daging lembu kepada anda. Beliau sambil mengangkat kedua belah tangan berkata: Karena Allah, janganlah memaksa saya makan daging lembu! Pada suatu hari mereka atau temannya yang lain berhasil memaksanya untuk memakan sekerat daging lembu. Sambil merasa sangat jijik dipaksa memakan daging lembu itu, akhirnya muntah-muntah. Demikianlah akibat dari kebiasaan tidak memakan daging lembu semenjak kanak-kanak, sekalipun sudah besar dan telah menjadi seorang Muslim, tetap merasa jijik. Dari segi akidah atau kepercayaan beliau telah merubah, telah mengganti kepercayaan, namun oleh karena pengaruh contoh amal praktis kedua Ibu bapak beliau tetap merasa jijik terhadap daging lembu, perasaannya tidak bisa dirobah lagi.

Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda: “Dikarenakan amal perbuatan adalah suatu hal yang dapat dilihat dengan mata, maka manusia mudah menirunya, dan benih itu makin lama semakin tumbuh berkembang. Akan tetapi oleh karena akidah atau iman bukan suatu hal yang dapat dilihat dengan mata, maka ia tetap terbatas pada daerahnya sendiri. Akidah atau iman seumpama kulit pohon yang dicangkok kepohon yang lain, tumbuh tunas baru dari padanya dan timbul pula buah yang baru dari padanya. Jika ditempelkan secara khusus maka ia akan tumbuh. Sedangkan amal dapat dimisalkan dengan pohon yang tumbuh dari bijinya.”[8]

Jadi amal buruk mudah sekali untuk menyebar, dan amal buruk ini menyebar di dalam lingkungan mayarakat karena orang-orang kita sendiri atau karena perbuatan buruk pendatang dari luar. Yakni dalam tersebarnya kebaikan dan keburukan itu banyak mempengaruhi lingkungan masyarakat. Oleh sebab itu kita harus selalu menaruh perhatian penuh terhadap situasi seperti itu. Masih banyak lagi penyebab lainnya juga yang insya Allah akan dibahas kemudian.

Semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita agar kita selalu menaruh perhatian penuh terhadap perbaikan amal sendiri dan perbaikan amal anak keturunan kita juga. Amin !

 Hari ini telah diterima berita yang sangat menyedihkan dan memprihatinkan. Setelah salat Jumat akan melakukan salat jenazah ghaib bersama untuk Khalid Ahmad Albaraqi Sahib Shaheed dari Syria. Khalid Ahmad Albaraqi Sahib Shaheed dari Syria adalah seorang insinyur berusia 37 tahun. Pada tahun 1986 orang tuanya mendapat karunia bai’at masuk Jemaat di sebuah desa dekat Damaskus. Keluarga beliau termasuk yang pertama masuk Jemaat di daerahnya. Setelah bai’at masuk Islam Ahmadiyah, ayahnya menerima banyak sekali ancaman. Ayahnya dipenjara selama 6 bulan pada tahun 1989 dan dalam situasa sekarang ini ayahnya ditangkap dan dipenjara kembali pada tahun 2012 dan 2013. Semua saudara kandung Khalid Ahmad Albaraqi juga Muslim Ahmadi semenjak mereka lahir.

Khalid Albaraqi Shaheed diculik pada 18 September 2013 oleh cabang agen intelejen Syria setelah itu tidak diterima kabar lagi tentang Syahid marhum sampai pada tanggal 9 Desember 2013, ketika ayahnya dipanggil oleh agen cabang intelejen militer dan diserahkan kepada beliau beberapa lembar kertas sehubungan dengan pemberitahuan kematian putranya itu sejak tanggal 28 Oktober 2013. Inna lillahi wa inna ilahi rajiun.(mohon ditulis tulisan Arabnya)

Jenazah almarhum tidak diserahkan kepada ayah beliau. Diduga Khalid Albaraqi Saheb Syahid meninggal karena disiksa. Beliau banyak meninggalkan kenangan kebaikan, ketaqwaan, kebaikan akhlak dan kedisiplinanya dalam pempelajari agama yang disaksikan oleh banyak sekali orang Ahmadi dan ghair Ahmadi disana. Dawam sekali membaca Al-Qur’an dengan suaranya yang luar biasa merdunya. Beliau adalah seorang pria yang berhati lembut yang senantiasa melaksanakan semua tugasnya dengan penuh gembira dan riang hati. Suka menolong, ikhlas dan hubungan beliau sangat erat sekali dengan nizam Jemaat dan nizam Khilafat. Wujud yang mencintai negeri dan semua orang-orang dinegerinya. Pengkhidmatan terakhir sampai beliau ditangkap sebagai Sekretaris Talimul Qur’an dan Sekretaris Waqaf Arzi. Sebelumnya beliau terpilih menjadi ketua Jemaat Local. Dengan karunia Tuhan beliau menjadi musi dan orang yang dengan rutin membayar chandah. Istrinya juga seorang Ahmadi dan memiliki 3 orang anak. Anak perempuannya bernama Syurub dan anak laki-lakinya Ahmad. Umur keduanya kurang dari 6 tahun. Putranya yang terkecil Hisamuddin yang lahir beberapa minggu sebelum beliau diculik masuk dalam program Waqfi Noe.

Khalid Al-Baraqi menulis dalam Facebooknya sebelum diculik yaitu,;

Mencintai negeri adalah bagian dari iman”.

Wahai Tuhan! Jagalah negeri kami. Anugerahkanlah kepadanya keselamatan dari semua musibah. Dan jadikanlah lebih kuat dan lebih indah dibandingkan sebelumnya. Dan jadikanlah penduduknya lebih dekat lagi pada-Mu.

Wahai Tuhan! Dekatkanlah hati penduduknya satu dengan yang lainnya. Jadikanlah mereka orang yang mencintai satu dengan yang lainnya.

Wahai Tuhan! Berikanlah pertolongan-Mu untuk selama-lamanya untuk penyebaran keamanan, keselamatan dan kebaikan bagi orang-orang di negeri ini yang baik.

 Semoga Allah mengabulkan doa untuk negeri itu. Dan sempurna juga untuk seluruh umat muslim supaya segala macam kekacauan disana segera berakhir.

Tuan Thahir Nadim berkata, “Tuan Khalid Albaraqi kebanyakan melakukan kontak komunikasi melalui surat elektronik (e-mail). Ketika tinggal di Mesir saya mengenalnya. Contoh seorang pemuda yang sangat rendah hati dan pasrah diri. Sangat sederhana, baik, wajahnya yang penuh senyum, tinggal di satu rumah Jemaat di Damsyik (Damaskus) yang dipergunakan sebagai markaz. Beliau demikian haus akan ilmu. Seringnya datang kepada kami bersama pamannya. Berbincang-bincang berkenaan dengan topik ilmu pengetahuan. Kapan saja mendapat buku jemaat ditelaahnya dengan penuh kecintaan dan ketekunan. Diantara buku-buku tua dari perpustakaan tua jemaat sebagian adalah berbahasa Arab dan beliau suka mengeluarkan Majalah Jemaat Al Bushra edisi lama untuk mencari topik-topik lama kemudian disalin kedalam komputer dan katanya dikirim kepada kami. Beliau senang sekali membantu Jemaat untuk menerjemahkan ulang. Beliau mempunyai kecintaan yang sangat dalam terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan fana pada Khilafat. Beliau sangat berghairah sekali pada kesempatan Hari Masih Mau’ud mendengar program-program pembacaan syair-syair berbahasa Arab dimana dengan bersemangat menyampaikan ceramahnya. Beliau telah merekam satu Qasidah Hadhrat Masih Mau’ud as dengan suaranya yang merdu.

Pada tanggal 1 April 2012 beliau menulis surat kepada saya memberitahukan tentang sebuah ru’ya yang pernah dilihat pada tahun 2006. Katanya: “Dari ru’ya itu saya faham bahwa saya akan menerima tanggung jawab dan suatu amanat yang sangat berat dan di dalam kasyaf itu saya diberitahu agar berpegang teguh kepada kebenaran dan jangan menunjukkan suatu kelemahan sedikitpun. Setelah melihat ru’ya beliau terpilih menjadi Ketua Jemaat. saya pikir ru’ya itu sekarang sudah sempurna. Namun di dalam ru’ya itu saya disuruh untuk berpegang teguh kepada kebenaran dan harus berani menyerahkan diri jangan menunjukkan kelemahan sedikitpun dan ditekankan untuk menyerahkan jiwa.”

Nampaknya memang dalam cara yang seperti itulah beliau telah menyerahkan diri dan tetap teguh mempertahankan iman tanpa merasa gentar sedikitpun. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

Di sana ada satu orang Muballigh kita tuan Anjum Parwiz yang mengatakan, “Almarhum seorang pekerja keras, ikhlas, dan bekerja bersama dengan penuh kepercayaan. Saya bekerja seperti ini karena saya seorang Ahmadi supaya orang-orang tahu, bahwa Ahmadi adalah benar, dapat dipercaya, pekerja keras dan berakhlak. Beliau sangat menyukai tabligh dikarenakan ada larangan bertabligh saat bekerja maka katanya,; “Saya dengan akhlak ahmadi berusaha untuk memberi pengaruh baik pada orang-orang supaya mereka sendiri memberikan perhatiannya.”

 Sangat mencintai negerinya seperti dilukiskan dari penjelasannya. Senantiasa memberikan pengertian pada teman-teman dan orang-orang dalam majlisnya, yaitu Cintailah negerimu karena inilah ajaran Islam yang benar. Dan saya memberikan khutbah dalam keadaan demikian. Dan beliau juga memperdengarkan khutbah-khutbah pada teman-temannya. Beliau ingin supaya kekerasan dalam kehidupan segera berakhir dan kota ini menjadi selalu aman. Akan tetapi sebagian orang yang memiliki fitrah buruk menentangnya. Nampaknya agen intelejen pemerintah telah berlaku aniaya pada beliau yang menyebabkan beliau mendapatkan nasib derajat Syahid ini.

 Semoga Allah Ta’ala meninggikan martabat beliau dan memberi kesabaran serta ketabahan kepada anak-anaknya dan memberikan kesabaran pada semua anggota Keluarganya yang ditinggalkan. Ameeen!!

Khalid Albaraqi Sahib Syahid telah menulis di dalam halaman Facebook-nya, sebelum beliau ditangkap. Katanya: “Love of one’s country is a part of faith. O God safeguard our country and free it from all difficulties and make it stronger than before and more beautiful and make its people closer to Thyself. And O God make the hearts of its people incline towards each other and make them such as would love each other. O God help the righteous people of this land spread peace and security forever.” May Allah accept this prayer in favor of this country and for the whole of the Muslim Ummah so that the disorder that prevails there comes to an end. (“Mencintai negeri seseorang adalah bagian dari iman, Ya Tuhanku, lindungilah negaraku, bebaskanlah dari berbagai macam kesulitan, dan kuatkanlah negaraku dan buatlah negaraku lebih indah dari sebelumnya dan jadikanlah penduduknya lebih dekat pada Engkau. Dan Ya Tuhan-ku! Jadikanlah hati bangsa ini saling cinta-mencintai satu sama lain. Ya Tuhanku! Tolonglah orang-orang yang mukhlis di negara ini dan sebarkanlah keamanan dan kedamaian dinegeri ini untuk selama-lamanya”)

Semoga Allah Ta’ala menerima doa ini demi kemanan negeri itu dan untuk semua ummat Muslim agar kerusuhan yang sedang berkecamuk di sana segera berakhir. Amin! Semoga Allah Ta’ala meninggikan martabatnya di dalam Surga Firdaus dan memberi kesabaran serta ketabahan kepada semua anggota Keluarganya yang ditinggalkan. Amiin!

Pengalihbahasa: Mln. Hasan Basri Sy

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazain jilid 19, halaman 26

[3] Khutubaat-eMahmud, Jilid 17, halaman 339, khotbah jumat 29 Mei 1936

[4] Malfuzhaat, jilid awwal, halaman 7, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[5] Khutubaat-eMahmud, Jilid 17, halaman 339-340, khotbah jumat 29 Mei 1936

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab ahaaditsil Anbiyaa (kitab tentang penyebutan para nabi), bab Nuzul Isa  (turunnya Isa)

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَيُوشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ، حَتَّى تَكُونَ السَّجْدَةُ الْوَاحِدَةُ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا». ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ وَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ: {وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلاَّ لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا}.

[7] Khutubaat-eMahmud, Jilid 17, halaman 342-346, khotbah jumat 29 Mei 1936

[8] Khutubaat-eMahmud, Jilid 17, halaman 346, khotbah jumat 29 Mei 1936