Ikhtisar Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 11 Ikha 1392 HS/Oktober 2013 di Melbourne, Australia.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

Menyampaikan khotbah Jumat beliau dari Melbourne, Australia, Hadhrat Khalifatul Masih menyampaikan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda: “Aku diutus untuk meneguhkan keimanan dan membuktikan keberadaan Tuhan kepada orang-orang, karena keadaan rohaniah setiap bangsa telah sangat melemah dan akhirat dianggap hanya dongeng. Amalan setiap orang menunjukkan bahwa ia jelas tidak memiliki keyakinan dan ketergantungan pada Allah Ta’ala dan akhirat seperti keyakinan yang ia miliki terhadap dunia dan kemegahannya serta ketergantungannya pada sarana-sarana duniawi. Lidahnya berbicara banyak tetapi hatinya dikuasai oleh kecintaan kepada dunia. Kondisi ini jugalah yang Isa as. temukan pada orang-orang Yahudi dan seperti kebiasaan, jika iman melemah maka kondisi akhlak orang-orang Yahudi telah sangat memburuk dan kecintaan kepada Allah telah mendingin. Demikian jugalah kondisi di zamanku dan aku telah dikirim supaya zaman kebenaran serta keimanan kembali dan ketakwaan tertanam dalam hati. Masalah ini adalah penyebab utama keberadaanku. Aku telah diberitahu bahwa setelah menjauh langit akan datang lebih dekat ke bumi sekali lagi.”[2]

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa orang yang menyatakan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as perlu mengintrospeksi diri, seberapa banyak kita memenuhi tujuan kedatangan beliau. Beliau bersabda bahwa beliau telah datang untuk memperkuat keimanan, oleh karena itu kita perlu memeriksa apakah iman kita semakin menguat.

Beliau bersabda iman diperkuat dengan keyakinan yang sempurna pada Tuhan, tetapi orang terlalu bergantung pada sarana duniawi. Zaman ini ketergantungan pada Allah telah menjadi sekunder (sampingan), sedangkan pentingnya orang-orang duniawi dan hal-hal duniawi menjadi yang utama. Kita mendapati inilah kondisinya ketika kita melihat sekeliling. Kita tidak hanya perlu melihat sekeliling untuk mengetahui apakah dunia lebih bergantung pada keduniawian, yang lebih penting kita perlu mengintrospeksi diri apakah kita lebih mengandalkan sarana duniawi. Jika bahkan setelah baiat kita belum mengenal Wujud Tuhan sebagaimana mestinya, tidak ada nilainya menyebut diri Ahmadi. Jika hari ini kita membuat senang penguasa duniawi lebih daripada Tuhan, maka kita tidak memenuhi tujuan kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud as. Apakah kita mengutamakan untuk adat-adat duniawi atas agama?

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Mereka menyatakan Allah diutamakan dari semuanya, tetapi tindakan (mereka) menunjukkan bahwa hati mereka dikuasai oleh kecintaan kepada dunia.”

Hal ini dapat dilihat di sekitar, di kalangan umat Islam maupun non-Muslim bahwa kecintaan pada dunia, pengejaran (dunia) yang sia-sia dan ketidaksenonohan telah sangat menjauhkan dari mengingat Allah. Sebagai bentuk kecintaan kepada Allah, umat Islam diperintahkan shalat lima kali sehari, namun amalan mereka berbeda. Para Ahmadi harus terlebih dahulu memeriksa diri sendiri apakah mereka berusaha mengerjakan shalat sesuai dengan perintah Allah atau tidak. Jika tidak, maka kita mementahkan pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa tujuan kedatangan beliau adalah untuk memperkuat keimanan kepada Allah, untuk membawa langit [rohaniah] lebih dekat ke bumi.

Memang, kekurangan iman dan amalan kita tidak merugikan pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as, tetapi menghalangi kita dari, yang berhubungan dengan beliau dan membuat pernyataan kita sekadar pernyataan di lidah. Daripada meneliti keadaan iman orang lain, setiap Ahmadi perlu memeriksa dirinya berapa banyak dia telah memenuhi janji baiatnya dan tujuan Hadhrat Masih Mau’ud as serta melakukan perbuatan baik, dan sampai sejauh mana ia memenuhi janji mendahulukan iman diatas hal-hal duniawi.

Hadhrat Masih Mau’ud as menetapkan sepuluh syarat baiat. Beliau bersabda bahwa siapa saja yang ingin menjadi bagian dari Jemaat beliau harus menjaga ikatan yang kuat dengan beliau dan memenuhi sepuluh syarat tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud as berulang kali menasehati kita, menekankan poin ini dengan penuh kepedihan, bahwa jika mereka yang menghubungkan dirinya dengan beliau tidak menanamkan perubahan nyata yang lebih baik setelah menjadi Ahmadi, maka tidak ada perbedaan antara mereka dan orang lain. Kita harus berusaha dan mencapai standar yang Hadhrat Masih Mau’ud as harapkan dari kita.

Hadhrat Masih Mau’ud as menasehati para pengikut beliau: “Manfaat baiat bukanlah secara ritual. Baiat semacam itu tidak memiliki berkat. Seseorang hanya dapat meraih keberkatan baiat ketika dia maju secara rohaniah dan menjalin hubungan kecintaan dan ketulusan dengan orang yang dia baiat kepadanya. Sangat penting untuk mengembangkan hubungan ini. Jika seorang pencari tidak mengembangkan hubungan ini dan tidak melakukan upaya maka setiap keluhannya hanyalah sia-sia. Hubungan kecintaan dan ketulusan harus dikembangkan sebanyak mungkin dan dia harus menyerap tujuan orang yang kepadanya dia baiat secara amalan dan keyakinan. Dia harus segera bergerak kepada kejujuran dan menyembah Allah dan teruslah menghisab [mengkoreksi] diri dari pagi sampai malam!”[3]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Jangan beranggapan bahwa Tuhan senang hanya dengan baiat seseorang. Melakukan baiat hanyalah kulit luar sedangkan intinya ada di dalam.”

Beliau bersabda, “Kondisi seseorang hendaknya jangan seperti telur yang tidak memiliki kuning atau putih [telur] dan (terpaksa) dibuang. Dia harus memeriksa diri sendiri apakah dia hanya kulit belaka atau apakah ada isi di dalam!”

Setelah baiat seseorang harus mengembangkan keimanannya serta kecintaannya kepada Allah, dan karena kecintaannya kepada Allah ini dia harus mengembangkan kecintaan kepada Nabi yang dikasihi-Nya saw., Hadhrat Masih Mau’ud as, Khilafat dan kecintaan kepada satu sama lain.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa standar tinggi ketaatan harus dicapai. Ketaatan tidak berarti bahwa dia menerima keputusan Khalifah-e-Waqt dan nizam Jemaat yang sesuai dengannya tetapi menolak keputusan lain yang tidak sesuai dengannya. Jika seseorang menyatakan telah baiat maka dia harus memperlihatkan ketaatan yang sempurna.

Pernyataan mengikuti orang yang kepadanya dia baiat dan menjadi seorang Muslim hanya nyata ketika dia juga mengakui bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah kepunyaan Allah dan agama-Nya. Memang, melakukan baiat berarti menjual diri!

Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali menasehati seorang sahabat bahwa, “Perubahan adalah penting setelah mengambil baiat, dan jika tidak ada perubahan yang dilakukan maka perbuatan itu sama saja dengan mempermainkan baiat. Sesungguhnya orang yang melakukan baiat hanyalah orang yang kehidupan yang sebelumnya mati dan dia memulai kehidupan baru setelah baiat.”[4]

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa dengan karunia Allah, bahkan saat inipun kita diberikan orang-orang dengan tingkat keruhanian seperti yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yang bahkan orang lain mengakuinya.

Hudhur menyampaikan beberapa contoh ini. Mubaligh kita dari Burkina Faso menulis dia pernah melakukan perjalanan ke daerah jauh di perbatasan dengan Mali, di mana ada penentangan terhadap kita. Imam masjid di sana mengatakan bahwa meskipun adanya penentangan, ia mengakui bahwa ada tiga orang Muslim baik di desa yang patut diteladani dan semuanya adalah Ahmadi. Jadi bahkan pihak penentang mau tidak mau terpaksa mengakui bahwa setelah bergabung dengan Jemaat Ahmadiyah perubahan yang sejati timbul pada orang-orang. Contoh-contoh seperti ini yang lebih lanjut menjadi sarana tabligh. Memang, di mana pun kita hidup, kita perlu mengamalkan cara ini untuk memperluas sarana tabligh.

Seperti sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, kita harus berupaya untuk meraih cita-cita dan standar tinggi yang beliau harapkan dari kita. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa wajib manusia untuk membuat kondisi sedemikian rupa sehingga malaikat pun menyalaminya. Beliau bersabda bahwa setelah baiat kepada beliau seseorang harus selalu di bawah naungan keagungan Tuhan yang akan membantu menjauhkan dosa.”[5]

Beliau bersabda, jika seseorang tetap memikirkan dunia, tidak ada gunanya bertobat di tangan beliau, karena bertobat di tangan beliau menuntut suatu kematian, sehingga kehidupan baru dan kelahiran baru dapat diraih. Memang, hanya baiat yang tulus yang memberikan hasil. Beliau bersabda bahwa Tuhan menginginkan pernyataan baiat yang sepenuh hati. Orang yang menerima Hadhrat Masih Mau’ud as dengan tulus hati diampuni oleh Allah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang, dan dia menjadi seperti orang yang baru lahir dan malaikat melindunginya. [6]

Hadhrat Masih Mau’ud as menasehati pengikut beliau, bahwa setelah mereka menerima beliau, mereka harus mulai menjalani hidup mereka dengan cara yang sama sekali baru.[7]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Hakikat baiat harus sepenuhnya dipahami dan harus dilaksanakan. Dan hakikat baiat adalah bahwa orang yang baiat menanamkan perubahan tulus, serta takut kepada Tuhan, dan setelah mengetahui tujuannya yang sejati menunjukkan contoh yang murni.

Jika gagal melakukan ini, tidak ada manfaatnya melakukan baiat. Sebaliknya, baiat tersebut akan menjadi sebab hukuman yang lebih besar, sebab secara sengaja tidak mematuhi perjanjian setelah membuatnya adalah sangat berbahaya.”[8]

Hadhrat Masih Mau’ud as juga bersabda: “Melakukan baiat berarti menyadari hakikat baiat. Seseorang yang melakukan baiat secara langsung, menempatkan tangan di atas tangan, tetapi tidak mengerti atau tidak peduli tujuan sebenarnya maka baiatnya tidak berguna dan tidak memiliki arti di mata Allah. Sebaliknya, orang lain yang duduk ribuan mil jauhnya, melakukan baiat dengan tulus hati dan setelah menerima hakikat dan tujuan baiat ia menerapkan (mengamalkan) apa yang telah dia nyatakan, dan memperbaiki amalannya, orang ini seribu kali lebih baik daripada orang yang baiat secara langsung tetapi tidak menerapkannya.”[9]

Kita harus memberikan contoh seperti yang dikutip sebelumnya di wilayah yang jauh di Afrika di mana para Ahmadi menjadi teladan yang patut dicontoh sehingga bahkan pihak lawan terpaksa mengakui mereka.

Salah satu syarat baiat adalah “Akan mengikat tali persaudaraan dengan Hadhrat Masih Mau’ud as yang melebihi semua ikatan duniawi lainnya”.[10] Ini sedang diikuti di pelosok-pelosok dunia bahkan sampai hari ini.

Orang yang melakukan baiat di negara-negara bekas-Soviet terutama sangat meningkat dalam keimanan dan ketulusan. Beberapa dari mereka menghadiri Jalsah Qadian tahun lalu dan setelah kembali ke rumah salah satu dari mereka menulis bahwa dia telah membaca tentang tempat beberkat itu dalam buku dan pernah melihatnya di TV, tetapi ketika ia menginjakkan kaki di sana ia merasakan suasana zaman Hadhrat Masih Mau’ud as datang kepadanya. Dia merasa dia bisa bernafas lega dan bisa melepaskan dirinya dari seluruh dunia. Dia mengatakan tidak mungkin mengungkapkan dengan kata-kata apa yang ia rasakan.

Ahmadi lain menulis bahwa dengan karunia Allah dia mendapat taufik untuk pergi ke Qadian dan menyampaikan salam kepada Mahdi seperti yang Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah perintahkan. Dia menggambarkan perasaannya mendengar adzan dari Masjid Ahmadiyah untuk pertama kalinya dan mengerjakan salat, mengunjungi makam Hadhrat Masih Mau’ud as. Dia menulis bahwa rasa syukur yang ia rasakan tidak bisa diungkapkan saat ia mengunjungi semua tempat-tempat suci di mana Hadhrat Masih Mau’ud as dulu berdoa dan tinggal. Ia mengatakan bahwa pengalaman berada di Qadian seakan berputar di sekitar kepalanya.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa banyak yang belum memiliki kesempatan untuk pergi ke Qadian tetapi ketulusan dan kesetiaan mereka sangat tinggi dan perhatian utama mereka adalah keruhanian mereka. Ketika Hudhur berada di Singapura beberapa minggu yang lalu banyak Ahmadi yang datang ke sana dari Indonesia. Beberapa tidak mampu membayar ongkosnya dan mereka menjual properti mereka untuk memenuhi ongkosnya. Permohonan doa mereka adalah supaya anak-anak mereka tetap teguh dalam keimanan dan tidak menyia-nyiakan apa yang telah mereka peroleh. Kecintaan mereka pada Khilafat sangat kuat dan itu adalah semata-mata demi Allah.

Menceritakan lebih banyak contoh mubayyi’in baru yang mengutamakan keimanan di atas hal-hal duniawi, Hudhur bersabda bahwa Amir Perancis menulis bahwa Abdul Aziz Sahib, seorang mubayyi’in baru sedang mencari pekerjaan ketika ia diberitahu bahwa Hadhrat Khalifatul Masih akan membuka Jalsah Salanah Jerman pada bulan Juni. Ia mengatakan ia akan menghadiri Jalsah bagaimana pun caranya karena ia memiliki keinginan kuat untuk bertemu Hadhrat Khalifatul Masih.

Ketika ia kemudian dihubungi mengenai apakah akan pergi ke Jalsah, ia mengatakan bahwa hari itu ia telah mendapatkan pekerjaan dan jika ia pergi begitu cepat setelah memulai ia bisa dipecat. Hudhur mengatakan terlepas dari situasi pengangguran di dunia, terutama di Eropa, ia masih mengatakan bahwa ia pasti akan pergi ke Jalsah, dan jika itu berarti ia kehilangan pekerjaannya, biarkanlah, ia harus bertemu dengan Hadhrat Khalifatul Masih. Dia kemudian mendapat taufik untuk baiat secara langsung.

Mubaligh kita dari Mali menulis bahwa mubayyi’in baru Adam Sahib diminta untuk menghadiri pertemuan Khuddam pada waktu yang bersamaan dimana ia ada pertemuan pekerjaan penting. Dia datang ke pertemuan Jemaat dan terlambat datang ke meeting pekerjaannya. Bosnya bisa saja kesal dengan dia, tetapi dia justru senang melihatnya dan juga memberinya sepeda motor sebagai hadiah. Adam Sahib percaya ini terjadi sebagai berkah dari Ahmadiyah.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa ia bertemu dengan beberapa orang di Jalsah Australia, beberapa dari mereka berasal dari Fiji, yang baru dalam pekerjaan mereka, tetapi mereka meninggalkan pekerjaan untuk datang ke Jalsah, sedangkan beberapa orang di Australia sendiri tidak menghadiri Jalsah ketika mereka seharusnya datang.

Umer Sahib dari Pantai Gading menulis bahwa hari untuk Jalsah Salanah Pantai Gading semakin dekat, tetapi dia tidak punya sarana untuk melakukan perjalanan untuk itu. Dia berdoa kepada Tuhan bahwa Mahdi-Nya adalah benar dan ia ingin menghadiri Jalsah dan berdoa agar Tuhan menyediakan biaya perjalanannya. Sementara itu seorang kenalan non-Ahmadi meminta kepadanya bahwa ia juga ingin menghadiri Jalsah tersebut. Umer Sahib mendaftarkan dua nama tersebut (dirinya dan temannya) dalam daftar peserta Jalsah. Tinggal dua hari tetapi masih belum ada uang untuk perjalanan dan dia terus berdoa. Umer Sahib harus pergi ke desa terdekat, disana seseorang memberinya 20.000 Francs dan mengatakan uang itu untuk dia. 16.000 Francs dibayarkan untuk ongkos dua orang dan sisanya untuk biaya lainnya. Anugerah Allah seperti itu sangat meningkatkan keimanan. Demikianlah, bagaimana mungkin keraguan bisa muncul dalam hati orang-orang yang penuh keimanan seperti ini, bahwa na’udzubillaah Ahmadiyah adalah palsu atau ada keraguan tentang keberadaan Tuhan? Tetapi, sungguh, orang-orang maju dalam keimanan mereka!

Mubaligh kita di Swiss menulis tentang seorang wanita muda Ahmadi yang tinggal di Eropa. Dia memperoleh pendidikan profesional sambil bekerja di perusahaan. Dia adalah satu-satunya Muslim di perusahaan dan diberikan fasilitas untuk mengerjakan Shalat. Selama dia berada di sana, perusahaan tumbuh sangat cepat dan mereka menambahkan dua bangunan baru dan mempekerjakan orang-orang baru. Wanita muda ini menolak untuk melakukan renang campuran pada jam olahraga di perguruan tinggi tempatnya belajar.

Pihak pengelola kampus menekannya mengenai hal ini dan mengeluh kepada atasannya yang juga menekannya dan berkata ia beresiko dipecat. Wanita muda ini tetap teguh pada keimanannya dan karena gangguan tersebut akhirnya ia keluar sendiri dari pekerjaan itu dan bergabung dengan perguruan tinggi swasta. Ketika dia meninggalkan perusahaan itu, Allah memperlihatkan sesuatu yang menakjubkan. Perusahaan tersebut mengalami kerugian dan karyawan jadi berlebihan. Pertemuan diadakan untuk membahas penyebab kerugian dan seseorang di pertemuan tersebut mengatakan tampaknya kerugian itu disebabkan oleh kutukan seorang yang tidak berdosa. Seseorang dari perusahaan mengirim email kepadanya dan mengatakan bahwa dia telah menjadi topik pembicaraan mereka selama beberapa hari setelah ia pergi tetapi kemudian terlupakan.

Sekarang setelah MD (Managing Director) mengatakan dalam pertemuan itu bahwa nampaknya kerugian perusahaan disebabkan oleh kutukan dari orang yang tidak bersalah, dia sekali lagi diperbincangkan oleh orang-orang di perusahaan dan semua orang setuju bahwa dia memang tidak bersalah yang telah diperlakukan dengan tidak adil oleh perusahaan. Sementara itu, manajer yang telah mengganggunya dipecat. Wanita muda itu lulus ujian dengan nilai yang baik. Dia mendahulukan kesenangan Allah dan keinginan duniawinya juga terpenuhi.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda: “Di dalamnya adalah pelajaran bagi wanita muda atau anak perempuan dari kalangan kita, bahwa berkat Tuhan datang kepada kalian jika iman diutamakan daripada hal-hal duniawi. Tidak harus meniru segala sesuatu yang ada di sini [Barat]. ambil poin baiknya tetapi tinggalkan poin buruknya. Perempuan tidak dilarang berenang, mereka seharusnya berenang tetapi tidak dalam kondisi dicampur, gadis hendaknya hanya berenang dengan gadis-gadis.

Berenang itu baik dan semua orang harus tahu bagaimana caranya berenang. Sekarang ini anak perempuan dimarahi jika berenang, tetapi nenek saya biasa memberitahu saya bahwa beliau adalah perenang yang sangat baik. Tidak ada kolam renang di masa itu dan berenang dilakukan kanal. sudah lebih dari 100 tahun yang lalu ketika beliau biasa berenang dan adalah perenang melawan arus yang sangat baik. Perempuan kita harus berenang tetapi harus dilakukan di bawah pengaturan “Khusus wanita”. Hal ini dapat dilakukan, saya telah melihat banyak tempat di Eropa dimana upaya telah dilakukan dan ini dimungkinkan.”

Seorang teman saya yang tulus adalah hakim Pengadilan Tinggi dan hakim Pengadilan Banding di Ghana telah dihormati sana. Dikatakan bahwa meskipun ia manusia yang berarti dia bisa berbuat keliru, tetapi ia tidak pernah melakukan korupsi dalam bentuk apa pun. Sedemikian rupa sehingga ia bahkan tidak menerima hadiah ucapan terima kasih. Dia tidak memiliki unsur korupsi dalam dirinya. Ghana Bar Association mendapati dia adalah hakim jujur, pekerja keras dan ​​ tidak bisa disuap.

Ini adalah jenis revolusi yang timbul dalam kehidupan orang yang menerima Hadhrat Masih Mau’ud as dan memahami hakikat baiat. Hal ini tentu saja cukup berkebalikan (berbeda) dengan bagaimana para hakim di Pakistan bekerja. Mereka mengambil keputusan dan kemudian mengubahnya karena takut pada para Maulwi. Banyak keputusan yang dibuat oleh Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung yang mendukung Jemaat, yang mendukung orang yang tertindas (korban), tetapi kemudian diubah. Ini sungguh kehormatan Jemaat bahwa tidak ada yang dapat menudingkan tuduhan pada mereka dan setiap Ahmadi harus berusaha dan mencapai hal ini.

Salah satu dari sepuluh syarat baiat adalah bahwa dia akan berusaha untuk memberikan manfaat bagi umat manusia sejauh kemampuan dan kekuasaan yang diberikan Tuhan kepadanya.

Presiden Sierra Leone menghadiri dan menyampaikan pidato pada Jalsah Salanah ke-52 mereka, dan menyampaikan penghormatan kepada Jemaat. Dia mengatakan dia ada di sana untuk menyampaikan penghormatan kepada jasa Jemaat Ahmadiyah untuk bangsa tersebut, dan sebagai presiden ingin menyebutkan penghormatan pemerintah dan rakyat negara itu untuk Jemaat. Dia mengatakan bahwa ini adalah pengamalan nyata motto Jemaat ‘Love for all hatred for none’ – “Cinta kasih untuk semua kebencian tidak untuk siapapun”, sehingga tanpa membeda-bedakan pendidikan diberikan melalui sekolah dan tanpa pembedaan pelayanan kesehatan diberikan melalui rumah sakit. Ia mengatakan ia berterima kasih kepada Jemaat dalam kapasitasnya sebagai presiden.

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda bahwa negara-negara kaya minyak tidak datang untuk membantu di daerah tersebut. Tetapi sekarang setelah melihat pengaruh Jemaat di sana, perwakilan dari beberapa negara Arab sudah mulai datang kesana menjanjikan sekolah, perguruan tinggi dan rumah sakit. Semoga Allah menjaga rasa keadilan rakyat daerah tersebut tetap terjaga dan semoga mereka tidak pernah berlaku tidak adil.

Seorang politisi Sierra Leone juga menyampaikan pidato pada Jalsah Salanah ke-52 negara tersebut. Dia mengatakan bahwa dia telah menghadiri Jalsah Salanah Inggris berkali-kali dan menyadari kualitas tinggi orang di sana dan praktek mereka sesuai dengan ajaran Islam. Dia mengatakan semua ini membuatnya percaya bahwa masa depan Islam akan cerah karena Jemaat Ahmadiyah. Dia mengatakan jika mereka tidak bisa bergabung Jemaat, mereka juga hendaknya juga tidak mengatakan hal-hal yang salah tentang Jemaat karena kurangnya pengetahuan. Dia mengatakan sesuai dengan tema Jalsah dan poster dan spanduk yang dipajang, para Ahmadi benar-benar mencintai Hadhrat Muhammad Rasulullah saw.

Seorang mubayyi’in baru Aisyah Sahiba dari Spanyol menulis kepada Hadhrat Khalifatul Masih, bahwa ia dan suaminya yang Ahmadi tinggal dengan mertua mereka yang ghair Ahmadi. Ketika mereka duduk bersama mereka menjelek-jelekkannya yang sangat menyakitinya. Setelah baiat dia telah berhenti jabat tangan dengan laki-laki, sang mertua tidak menyukainya. Dia menulis bahwa suami dan istri tinggal dalam situasi ini dengan sabar dan memohon doa semoga Allah menganugerahkan mereka rumah terpisah [dari mertua] di mana mereka bisa mengamalkan ajaran Imam Zaman dengan bebas. Hendaknya tidak ada gadis atau wanita Ahmadi yang merasa rendah diri karena mereka tidak bisa menyapa laki-laki. Jika jabat tangan dengan laki-laki tidak diperbolehkan maka ini harus diikuti. Demikian pula laki-laki harus berusaha dan tidak melakukan jabat tangan dengan wanita. Jika ingin mendapatkan karunia Allah, maka semua perintah yang nampaknya kecil pun harus diikuti.

Seorang Sahib menulis dari India bahwa ulama ghair Ahmadi dan ekstremis menyerang rumah misi kita dan mengambil alihnya dan mengatakan mereka akan mengimami shalat dan jika Ahmadi ingin mereka bisa bergabung. Tidak seorang Ahmadi pun mengerjakan shalat di belakang mereka dan tetap teguh. Bagaimana bisa salat dikerjakan di belakang Imam yang tidak menerima Imam Zaman yang telah dikirim oleh Allah?

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Aku tahu betul bahwa bukan tugasku untuk menanamkan hal ini di hati orang lain. Dan aku tidak punya alat yang dengannya aku bisa meyakinkan hati manusia tentang apa yang aku katakan.” Beliau bersabda: “Ribuan orang telah maju dalam kecintaan dan ketulusan, tetapi karena kebiasaan lama atau kelemahan manusiawi, mereka demikian rupa sibuk dalam hal-hal duniawi sehingga agama terabaikan.”

Beliau juga bersabda: “Tujuan kami adalah supaya mereka dimurnikan dan tanpa pamrih sedemikian rupa sehingga mereka tidak menganggap hal-hal duniawi ada artinya dibandingkan dengan keimanan; dan segala macam kelalaian yang merupakan sumber yang menjauhkan dari Allah terhapus. Kecuali jika hal ini ditanamkan, kondisinya tetap berbahaya dan tidak memuaskan.”[11]

Kita perlu terutama memeriksa diri sendiri dan menyesuaikan kehidupan kita sesuai dengan keridhaan Allah. Semoga Tuhan memberi taufik kepada kita untuk melakukannya!

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Kitabul Bariyyah, Ruhani Khazain, jilid 13, halaman 291-294 hasyiyyah.

[3] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid 1, halaman 3-4

[4] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid 2, halaman 257, edisi 2003

[5] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid 2, halaman 397, edisi 2003

[6] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid 2, halaman 194, edisi 2003

[7] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid 2, halaman 195, edisi 2003

[8] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid 5, halaman 604-605, edisi 2003

[9] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid 5, halaman 457, edisi 2003

[10] Majmu’ah Isytihaarat, jilid awwal, halaman 160, terbitan Rabwah.

[11] Malfuzhat, Ruhani Khazain jilid pancjam (V), halaman 605

(Visited 40 times, 1 visits today)