Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Berjuang untuk mencapai Akhlak yang Luhur: Ajaran-Ajaran Islam

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

13 Januari 2017 di Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

Beberapa orang berpikiran bahwa agama menghalangi mereka dari kebebasan dan menempatkan sanksi pada mereka. Namun, tentang hal ini Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an,

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan Dia tidak menjadikan bagi kalian kesulitan dalam agama.” (Surah Al-Hajj, 22:79).

Artinya, agama tidak menempatkan kesulitan apapun pada kalian. Hal mana itu berarti tujuan Syariat adalah untuk mengurangi beban umat manusia dan tidak hanya itu saja bahkan ingin menyelamatkan umat manusia dari segala macam kesulitan dan setiap jenis bahaya.

Jadi, dalam ayat ini Allah menjelaskan, “Agama, yaitu agama Islam yang diturunkan (dipilihkan) untukmu, di dalamnya tidak ada perintah yang menciptakan kesulitan. Sebaliknya, baik yang terkecil maupun yang terbesar, semua perintah membawa rahmat (belas kasih) dan berkah untuk engkau.”

Yang salah adalah pemikiran manusia, firman-firman Allah tidak mungkin salah. Selama kita menjadi makhluk-Nya, jika kita tidak bertindak atas perintah-Nya maka kita akan merugikan diri kita sendiri. Jika manusia tidak mengindahkan maka setan yang telah bersumpah dari hari pertama bahwa ia akan menyesatkan umat manusia, akan membuang manusia ke dalam lubang kehancuran. Jika kita ingin menyelamatkan diri dari serangan setan maka kita harus mematuhi semua perintah Allah. Ada banyak hal yang tampaknya terlihat kecil dan dengan berlalunya waktu kita mulai menganggap itu adalah normal, tetapi hal-hal ini menghasilkan kerusakan yang dahsyat. Dengan demikian orang yang beriman harusnya tidak menganggap perintah-perintah Allah yang terkecil adalah tidak penting.

Akhir akhir ini, kita melihat bahwa sebagian besar orang telah menjauh dari agama. Hal ini membuat kriteria-kriteria mereka akan baik dan buruk juga telah berubah. Misalnya saat ini kita melihat bahwa ketelanjangan sedang meningkat di kalangan laki-laki maupun perempuan atas nama kebebasan. Fashion mengadaptasi hal ini. Keterbukaan yang vulgar menjadi tanda kemajuan. Rasa malu sudah tidak tersisa lagi. [Kerendahan hati, kesopanan dan kesederhanaan telah menjadi suatu hal yang tidak diketahui.] Dan hal ini bisa saja berpengaruh kepada anak laki-laki dan perempuan kita yang tinggal di dalam masyarakat ini di sini, dimana dalam kadar tertentu juga terjadi.

Beberapa gadis ketika mereka mencapai usia pubertas menulis kepada saya: “Mengapa Hijab (Pardah, kesopanan dan kesederhanaan) dalam Islam diharuskan? Mengapa kita tidak bisa keluar dengan jins ketat dan blus tanpa penutup atau mantel? Mengapa kita tidak bisa berpakaian seperti gadis-gadis Eropa?”

Hal pertama sebelumnya, kita harus senantiasa ingat bahwa jika kita ingin mengutamakan agama dibanding duniawi maka tidak ada jalan lain selain kita harus menyesuaikan diri dengan ajaran agama. Jika kita menyatakan bahwa kita adalah Muslim dan kita teguh pada agama maka pembatasan-pembatasan yang demikian adalah diperlukan. Kita juga harus bertindak atas perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad saw).

Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda,

فَإِنَّ الْحَيَاءَ مِنْ الْإِيمَانِ

fa-innal hayaa-a minal iimaan.’

“Sesungguhnya rasa malu adalah bagian dari iman.”[1]

Karena itu, demi menyelamatkan iman kita maka pardah dan dan berpakaian sederhana adalah diperlukan atas kita. Jika penduduk negara-negara maju atas nama kebebasan dan kemajuan telah melepaskan kesopanan dan kesederhanaan mereka, itu adalah karena mereka juga telah menyimpang jauh dari agama.

Karena itu, seorang wanita Ahmadi yang telah mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as dan telah berjanji mengutamakan agama diatas urusan duniawi. Demikian pula, seorang gadis Ahmadi yang telah mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as dan telah berjanji mengutamakan agama diatas urusan duniawi, demikian pula para wanita dan para laki-laki Ahmadi, telah berjanji mengutamakan agama diatas urusan duniawi bahwa mustahil bagi mereka untuk mengutamakan agama diatas urusan duniawi tanpa bertindak dan berlaku sesuai dengan perintah-perintah agama.

Merupakan keberuntungan nasib kita bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan semuanya dengan luas dan terbuka kepada kita pada masa ini. Beliau as bersabda mengenai ketiadaan Hijab dan kemesuman (ketidaksopanan), “Beberapa orang menitikberatkan pada ketiadaan Hijab kaum wanita seperti para warga Eropa, namun hal ini tidak tepat sama sekali. Membiarkan bebas tanpa batas kepada kaum wanita adalah akar penyebab kebejatan moral.

Lihatlah kondisi moralitas para penduduk di negara-negara tempat kebebasan semacam ini diterima? Jika karena ketidaksopanan, kebebasan dan ketiadaan pardah lalu mereka meningkat dalam moralitas, akhlak dan kesucian, maka kita mengaku salah. Tapi sangat jelas bahwa ketika pria muda dan wanita muda yang mana terdapat kebebasan dan tanpa hijab juga maka betapa berbahayanya hubungan mereka.

Termasuk sifat alami manusia untuk melemparkan pandangan buruk dan seringkali dikuasai oleh hawa nafsu di banyak kesempatan. Selama manusia masih memanjakan diri dalam pengumbaran kesenangan dan terlibat dalam kebejatan moral meskipun telah ada Hijab (pardah, kesopanan dsb), maka Anda sekalian dapat mengukur apa yang mungkin dapat terjadi jika percampuran antara wanita dan laki-laki ini dibiarkan bebas sebebas-bebasnya. Anda sekalian dapat menilai keadaan moralitas para lelaki jika mereka telah menjadi seperti kuda liar (sepenuhnya tanpa kekangan).

Mereka tidak takut akan Allah dan tidak percaya pada akhirat. Mereka telah membuat kenikmatan duniawi sebagai sesembahan mereka. Karena itu, hal pertama dan terpenting ialah memperbaiki kondisi moral dan akhlak kaum laki-laki sebelum menyeru kearah kebebasan dan tanpa pardah. Dan jika kondisi moral kaum laki-laki ini telah diperbaiki dan mereka telah mengembangkan kekuatan moral yang setidaknya nafsu seksual mereka tidak akan pernah mengalahkan mereka, maka hanya sesudah ini terjadi maka barulah kalian dapat membuka perdebatan tentang apakah pardah itu diperlukan atau tidak.

Jika tidak demikian, dalam kondisi sekarang, menyerukan kebebasan ini dan pergaulan tanpa pardah itu seolah-olah menempatkan domba-domba di depan para singa. Apa yang terjadi dengan orang-orang itu yang tidak melihat hasil dari sesuatu tindakan. Setidaknya mereka harus menggunakan nurani dan kesadaran mereka untuk melihat apakah kondisi para pria mereka telah demikian saleh dan suci sehingga para wanita dapat ditempatkan di depan mereka tanpa pardah.”

Kejahatan dan keburukan yang kita lihat dalam masyarakat saat ini, telah ditunjukkan gambarannya oleh setiap kata dari Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan demikian, kewajiban setiap Muslim Ahmadi, baik itu setiap gadisnya, pemudanya, laki-lakinya dan perempuannya untuk meningkatkan tingkat rasa malunya (kesopanan dan kesederhanaan) dan menyelamatkan diri dari keburukan masyarakat serta jangan terjangkiti penyakit rendah diri; dan bukan mengangkat pertanyaan, “Mengapa Hijab diwajibkan atas kita? Mengapa kita tidak bisa memakai celana jins dan blus ketat?” Ini adalah tanggung jawab orang tua terutama para ibu bahwa mereka harus mengajarkan tradisi dan nilai-nilai Islam dan menginformasikan kewaspadaan kepada anak-anak mereka di masa kecil mereka tentang keburukan yang tersebar di masyarakat. Hanya dengan demikian maka anak-anak kita akan berpegang teguh pada agama, menjadi baik dan terselamatkan dari kejahatan dan keburukan masyarakat yang maju dalam sangkaan rakyatnya ini. Di negara-negara ini orang tua harus melakukan Jihad amat kuat untuk menguatkan hubungan anak-anak mereka dengan agama dan menjaga rasa malu mereka. Untuk itu mereka harus menunjukkan contoh baik mereka guna penyempurnaan tujuan ini.

Beberapa hari sebelumnya seorang gadis menulis surat kepada saya,

“Saya telah menyelesaikan pendidikan tinggi dan akan mendapatkan jabatan senior di sebuah bank. Saya ingin bertanya jika di pekerjaan baru saya itu ada pelarangan menggunakan hijab atau bahkan juga mengenakan mantel, maka dalam hal ini apakah bisa bekerja di sana? Jika saya keluar kantor, saya akan memakai hijab. Saya telah mendengar Anda (Hudhur atba) pernah mengatakan bahwa perempuan yang bekerja dapat melepas burqa atau hijab mereka selama bekerja.”

Merupakan keberuntungan nasib gadis tersebut yang dengan itu ia menulis juga,

“Jika Anda tidak mengizinkan maka saya tidak akan mengambil pekerjaan itu.”

Ada banyak gadis telah menanyakan pertanyaan serupa, itu sebabnya saya berbicara tentang hal ini. Bahkan jika saya telah mengatakan, misalnya ada dokter wanita yang mana dalam situasi tertentu yang sangat terpaksa tidak bisa bekerja sambil mengenakan burqa atau hijab – misalnya dalam ruang operasi. Namun, sebagaimana biasa dalam ruang operasi pun, mereka memakai penutup kepala dan masker serta pakaian yang longgar. Selain dari keadaan itu, dokter wanita juga dapat bekerja memakai burqa dan hijab. Di Rabwah ada Dr. Fahmida, yang kita selalu melihatnya memakai burqa.

Lalu ada Dr. Nusrat Jehan di Rabwah, yang mana beliau sangat memperhatikan masalah Hijab. Beliau pernah kuliah di sini (Inggris). Beliau biasa datang ke London setiap tahun untuk memperbarui pengetahuan dan keterampilan beliau sesuai perkembangan terbaru. Beliau selalu tetap memakai hijabnya. Beliau sangat kuat dan tegas dalam hal itu. Tidak ada yang mengkritik beliau dalam pekerjaannya, dan keterampilan profesionalnya tidak melemah karena hijabnya. Beliau juga melakukan operasi-operasi besar. Jika seseorang memiliki keinginan kuat, maka ia akan dapat menemukan banyak cara untuk bekerja yang sesuai dengan ajaran agama.

Demikian juga saya berkata kepada para peneliti wanita, jika ada wanita Ahmadi yang meraih kapasitas tinggi tertentu dan terlibat dalam melakukan penelitian maka di laboratorium ia harus terpaksa mengenakan pakaian laboratorium tertentu, maka mereka bisa memakai pakaian tersebut yang sesuai lingkungannya. Mereka boleh tidak memakai hijab karena mereka memakai penutup kepala di sana. Namun saat keluar dari tempat pekerjaan (laboratorium), mereka harus memakai Hijab Islami (kesopanan dan kesederhanaan berpakaian sesuai dengan yang diperintahkan oleh Islam).

Pekerjaan di Bank itu bukan termasuk pekerjaan pengkhidmatan kemanusiaan. Maka dari itu, izin melepas hijab tidak bisa diberikan untuk pekerjaan biasa. Khususnya jika kaum wanita dalam pekerjaannya yang itu masih mungkin untuk berpakaian dengan pakaian sehari-hari yang normal dan bermake-up. Tidak ada pakaian khusus yang diperlukan untuk pekerjaan itu.

Jadi, selalu ingat bahwa untuk menjaga rasa malu (kesopanan), diperlukan pakaian yang sopan dan sederhana. Saat ini cara popular dengan berhijab merupakan bagian dari busana sopan dan sederhana. Jika kita membuat-buat kelonggaran atau kemudahan apapun dalam hijab, maka kaum wanita akan membawa banyak perubahan pada pakaian mereka yang sopan dan sederhana itu dengan memunculkan banyak alasan dalam hal itu. Lantas mereka akan memilih warna masyarakat ini yang sudah ada ketidaksopanan yang merajalela. Penduduk dunia sudah terbengkokkan dimana-mana merubah orang yang berpegang teguh pada agama (relijius) agar menjauhi agama terutama orang-orang Muslim yang mempraktekkan Islam.

Di Swiss seorang gadis pergi ke pengadilan karena dia merasa tidak nyaman untuk berenang campur dengan remaja laki-laki, sementara peraturan sekolah mensyaratkan bahwa pelajaran berenang untuk remaja laki-laki dan perempuan dicampur. Dia meminta izin untuk berenang secara terpisah dengan gadis-gadis saja. Aktivis hak asasi manusia yang menyatakan menghargai hak asasi manusia mengatakan, “Iya, memang benar itu adalah hak asasi pribadi Anda untuk berenang tidak bersama remaja laki-laki tetapi hal tersebut bukanlah masalah besar yang untuk itu penuntutan hak dimenangkan sesuai permintaan Anda agar dapat diizinkan.”

Perhatikanlah! Ketika masalah tersebut menjadi hak ajaran Islam atau kesopanan dan rasa malu kaum perempuan, maka para aktivis organisasi-organisasi hak asasi manusia pun mulai membuat-buat alasan. Jadi dalam situasi-situasi yang demikian, para Ahmadi harus menjadi lebih sadar [tentang nilai-nilai Islam] dibanding sebelumnya. Jika berenang diwajibkan di sekolah-sekolah di sebagian negara, maka anak-anak perempuan harus memakai pakaian renang yang menutupi seluruh tubuh yang disebut Burkini (برقيني). Hal demikian supaya mereka sadar bahwa mereka harus mengenakan pakaian yang sopan dan sederhana sejak mereka kecil. Para orang tua (para ayah dan para ibu) harus mengajarkan hal ini kepada anak-anak mereka supaya berenang terpisah antara yang laki-laki dan perempuan dan orang tua pun harus berusaha demikian.

Kekuatan-kekuatan anti-Islam berusaha keras untuk menjauhkan umat Islam dari ajaran-ajaran agama dan tradisi keagamaan. Kekuatan ini berusaha untuk menghabisi ajaran Islam atas nama kebebasan berekspresi dan kebebasan berperilaku. Mereka ingin memainkan peran simpatik dengan cara manis seperti setan sehingga tidak disalahkan karena ‘terpaksa’ untuk menghabisi agama. Tapi kita harus ingat bahwa kebangkitan Islam pada zaman ini adalah tanggung jawab Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as. Dan untuk itu kita harus bekerja keras dan harus mengalami kesulitan juga. Kita tidak harus bertengkar atau berkelahi dengan orang-orang ini, tetapi harus memperlakukan mereka dengan kebijaksanaan.

Saat ini jika kita tunduk pada pendapat mereka (yang anti Islam, baik masyarakat maupun pemerintah) tentang satu pembatasan sebuah ajaran agama kita, maka perlahan-lahan lebih banyak larangan akan mereka terapkan dan hal ini akan berlangsung terus-menerus. Kita harus menekankan pada doa semoga Yang Maha Kuasa memberikan kita keberanian dan kekuatan untuk melawan gerakan-gerakan setan ini dan juga membantu kita. Dan jika kita memegang kebenaran –dan memang begitulah dengan yakin kita katakan-, ​​maka suatu hari mereka akan melihat kesuksesan kita. Adalah ajaran Islam yang pasti menang. (Insya Allah)

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan di satu tempat,

“Kebenaran memiliki tekad dan keberanian sementara pembohong selalu pengecut. Maka dari itu, seseorang yang hidupnya terlibat dalam pelanggaran dan kekotoran dosa akan selalu takut dan dia tidak mampu bersaing. Tidak seperti orang jujur ​​ia tidak bisa menunjukkan kebenaran dengan berani dan penuh tekad; dan ia tidak dapat memberikan bukti kesuciannya. Renungkanlah urusan duniawi niscaya akan Anda lihat seseorang yang diberikan sarana yang cukup untuk nafkah penghidupannya, ia akan memiliki orang yang iri di sekelilingnya. Semua orang kaya punya orang-orang yang iri di sekitar mereka dan mereka tetap dengan mereka. Sama halnya dengan situasi orang-orang yang beragama.

Setan adalah musuh perbaikan diri. Seseorang harus menjaga catatan perbuatannya agar bersih di depan Allah dan menjaga hubungan yang kuat dengan-Nya. Tetaplah beruaha membuat Allah senang lalu jangan takut kepada siapapun atau merisaukan sesuatupun. Ia harus menahan diri dari tindakan-tindakan yang akan memunculkan murka dengan sendirinya. Dan semua itu tidak bisa terjadi tanpa dukungan yang tidak terlihat dan taufiq dari Allah Ta’ala. Usaha manusia saja tidak dapat membawa hasil yang baik. Selama Allah Ta’ala tidak memberikan karunia-Nya maka tidak ada apapun yang bisa terjadi. خُلِقَ الإِنسَانُ ضَعِيفًا (Surah An-Nisa, 4: 29) ‘Manusia adalah lemah, penuh dengan kesalahan dan dia dikelilingi oleh kesulitan dari segala arah’. Karena itu, seseorang harus berdoa agar Allah memberikan taufiq (kekuatan, kesempatan dan dorongan) untuk melakukan kebaikan dan membuatnya menjadi penerima berkat karunia-Nya dan dukungan tak terlihat dari-Nya.”

Dengan demikian, kita harus meyakinkan dunia dengan doa-doa. Dan demi dikabulkannya doa, kita harus membuat hubungan yang kuat dengan Allah. Kita harus ingat bahwa agama-agama lain tidaklah untuk selamanya. Agama-agama ini datang tepat pada masanya dulu dan menyediakan keperluan-keperluan pendidikan bagi masa turunnya agama-agama tersebut, dan kemudian selesai. Itulah sebabnya pada kitab-kitab mereka terdapat distorsi dan perubahan dalam jumlah besar. Tapi Islam sebagai agama terjaga dengan baik hingga sekarang karena ia datang untuk selamanya. Ajaran-ajaran Al-Qur’an baik untuk dipraktekan sampai hari kiamat (akhir dunia). Karena itu, tanpa rasa rendah diri, kita harus bertindak berdasarkan ajaran Al-Qur’an dan harus tetap teguh pada ajaran Islam dan Al Quran. Dan kita harus menyampaikan kepada orang-orang lain juga dan memberitahu mereka bahwa apa yang mereka katakan tentang ajaran Al-Qur’an bertentangan dengan kehendak Allah dan akan menyebabkan kehancuran.

Islam tidak mengikat manusia dalam larangan dan batasan tak berguna (tidak relevan), namun larangan dan batasan ini juga memiliki aspek-aspek yang lembut juga sesuai dengan tuntutan kebutuhan. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bukan hal yang termasuk dibenci jika ada orang sakit yang harus memeriksakan diri kepada dokter tertentu, dan untuk itu maka tidak ada hijab dalam batas tertentu. Sebab, tujuan yang paling utama dan lebih penting ialah menyelamatkan hidup manusia dan menyembuhkan manusia dari rasa sakit. Bahkan pada masa-masa sangat terpaksa (menderita dan terancam datangnya kematian), memakan makanan haram dan daging babi pun diperbolehkan. Tetapi itu hanya untuk menyelamatkan hidup manusia saja. Demikian pula alkohol dapat digunakan dalam obat-obatan.

Ringkas kata, cara yang kekuatan setan inginkan ialah supaya kita berperilaku sesuai tujuan mereka secara perlahan-lahan menghabisi agama dan membongkar batas-batasnya untuk selamanya. Kita para Ahmadi-lah yang harus melakukan Jihad menghadapi fenomena ini. Hal ini tika akan terjadi kecuali kita memberikan contoh perilaku yang sesuai ajaran agama di setiap segi dan tunduk sujud di hadapan Tuhan untuk mencari pertolongan-Nya dalam meraih keberhasilan.

Pada masa Hadhrat Masih Mau’ud as tidak ada jihad pedang – yang ada adalah jihad untuk mengoreksi diri (جهادُ إصلاحِ النفس jihaad ishlaahin nafs). Saya menyampaikan kepada Muslim Ahmadi yang tinggal di negara-negara maju khususnya dan umumnya para Muslim Ahmadi yang hidup di seluruh dunia: Mereka harus mencapai teladan yang lebih tinggi di negara-negara mereka dalam hal mencintai dan tulus kepada negara mereka, dalam berkorban untuk negara mereka, dan dengan melayani negara mereka dalam segala cara yang dimungkinkan. Ketika hal ini mereka lakukan, maka mulut (suara) kekuatan setan secara otomatis akan tertutup. Karena dengan demikian, mereka akan dikenal sebagai Muslim yang membawa negara mereka ke tingkat perkembangan nyata yang lebih tinggi dan mereka bukanlah yang bekerja menentang negara-negara tersebut.

Kita harus meyakinkan orang-orang itu dan pemerintah-pemerintah bahwa jika kita mengharuskan atas diri kita sendiri atau kaum kita karena ajaran agama kita memang demikian maka seharusnya pemerintah atau lembaga peradilan negara tidak berhak ikut campur dalam sistem kita karena itu akan menciptakan kericuhan. Hal ini akan membuat jarak antara penduduk setempat [pribumi, dalam kasus ini di Negara Barat] dan para pendatang [para Ahmadi di sana umumnya pendatang/pengungsi atau keturunannya]. Meskipun orang-orang yang mereka sebut pengungsi itu telah tinggal di sana selama hampir dua atau tiga generasi.

Ya! Jika seseorang [Ahmadi atau siapa saja] merugikan negara, atau tidak setia kepada negara, atau menyebarkan berita bohong (berita hoax) dan kebencian, maka Pemerintah memiliki hak untuk mengambil tindakan dengan menangkap mereka dan menghukum mereka. Namun akan menjadi sesuatu yang tidak benar bahwa jika seseorang mengambil bagian dalam kegiatan keagamaan sendiri, maka pemerintah tidak punya hak untuk mengatakan, “Jika Anda akan melakukan hal itu berarti Anda tidak menyesuaikan diri dalam masyarakat dan mengeruhkan suasana negara.”

Kita para Ahmadi harus ingat bahwa dunia sedang berada dalam masa-masa yang berbahaya. Setan secara agresif menyerang dari segala arah. Jika umat Islam dan khususnya Muslim Ahmadi, baik pria, wanita, dan anak muda, semuanya tidak mencoba untuk menjaga nilai-nilai agama supaya tetap hidup, maka tidak ada jaminan masa depan kita. Kita akan lebih bertanggung jawab dicengkram murka Tuhan dibanding orang-orang selain kita karena kita telah mengerti kebenaran, Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskannya sehingga membuat kita memahami itu dan meski demikian kemudian kita tidak mengamalkannya. Jadi, jika kita ingin menyelamatkan diri dari kehancuran maka mau tak mau kita harus hidup di dunia dengan mengamalkan setiap ajaran Islam dan mempercayainya dengan penuh keyakinan.

Jangan berpikiran bahwa kemajuan negara-negara maju adalah jaminan kemajuan dan hidup kita, dan kelangsungan hidup kita terjamin dengan melangkah bersama mereka. Kemajuan negara-negara maju telah mencapai puncaknya dan sekarang karena keburukan moral mereka, kejatuhan mereka sudah mulai dan ini juga jelas terlihat. Perbuatan mereka mengundang murka Allah bagi diri mereka sendiri. Mereka mengundang kehancuran. Jadi dalam situasi seperti itu kita harus menunjukkan kepada mereka jalan yang benar guna menyelamatkan mereka – bukannya beradaptasi dengan warna mereka. Jika kita tidak memperbaiki bangsa-bangsa ini – koreksi atau perbaikan atas mereka tampaknya sulit karena kesombongan mereka dan jauhnya jarak mereka dari agama – maka pemegang peran penting pembangunan dan kemajuan dunia di masa depan ialah bangsa-bangsa yang menjaga nilai-nilai agama dan moral yang tinggi.

Jadi, seperti yang saya katakan sebelumnya juga, bahwa merupakan kewajiban kita dan terutama kewajiban para muda/i bahwa mereka harus memperhatikan ajaran-ajaran Allah. Suatu keperluan bahwa bukannya dipengaruhi oleh dunia dan berjalan di belakang mereka, Anda harus membuat orang-orang di dunia untuk mengikuti Anda.

Ketika saya mulai pembicaraan tentang hijab dan saya ingin mengatakan dengan corak ini juga. Saya katakan dengan menyayangkan karena beberapa orang bertanya, “Tidak adakah hal lain selain Hijab untuk kemajuan Islam dan Ahmadiyah?” Beberapa orang mengatakan, “Ajaran-ajaran ini sekarang sudah kuno –na’udzu biLlah (kita berlindung kepada Allah)- jika kita ingin maju dalam menghadapi dunia maka kita harus meninggalkan hal-hal ini!”

Orang-orang tersebut harus tahu dengan jelas bahwa jika mereka terus mengikuti orang-orang duniawi dan tetap hidup seperti mereka maka bukannya bersaing unggul dengan dunia, mereka sendiri akan hilang dan tersesat di dalam dunia ini. Shalat-shalat mereka akan berubah menjadi gerakan-gerakan lahiriah belaka. Amal perbuatan baik mereka dan perbuatan taat mereka lainnya juga akan berubah menjadi warna lahiriah saja. Kemudian secara bertahap pada akhirnya mengikis dan menghilangkan semuanya. Dengan demikian, akan sangat berbahaya bagi seseorang untuk menganggap apa pun perintah Allah Ta’ala sebagai hal yang biasa saja (hal kecil). Untuk kemajuan Islam, semua perintah Allah dan Rasul-Nya (Nabi Muhammad saw) adalah diperlukan.

Pembatasan untuk pembatasan Hijab (Pardah) tidak hanya berlaku untuk kaum wanita. Dalam Islam pembatasan bukan hanya untuk kaum wanita saja melainkan perintah-perintah itu sama-sama ditujukan untuk pria dan wanita. Bahkan, Allah pertama-tama memerintahkan kaum laki-laki dengan memberitahu mereka cara-cara menjaga rasa malu dan Hijab. Dia berfirman dalam Alquran:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

“Katakanlah kepada kaum laki-laki yang beriman supaya mereka menahan mata mereka dan menjaga bagian pribadi mereka. Itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya, Allah sangat menyadari apa yang mereka lakukan. “(Surah An-Nur, 24:31).

Dalam ayat ini, Allah Ta’ala lebih dahulu memerintahkan kaum laki-laki untuk menjaga pandangan mata. Mengapa? ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ “Itu lebih suci bagi mereka.” Artinya, itu suatu keharusan untuk menjaga kehormatan diri dan kesucian. Jika tidak ada penjagaan kehormatan diri dan kesucian maka seseorang tidak akan sampai kepada Tuhan. Dengan demikian, sebelum memerintahkan kaum wanita, Allah Ta’ala perintahkan kaum pria untuk menahan diri dari semua yang dapat memicu emosi dan naluri mereka. Jika mereka melihat wanita dengan mata terbuka, bergaul membaur (bebas) dengan mereka, menonton film kotor, dan chatting (mengobrol) melalui media sosial dengan orang-orang non mahram (bukan kerabat yang mana tidak boleh terjalin pernikahan), semua ini membuat rusak kesucian dan kehormatan mereka.

Itulah sebabnya Hadhrat Masih Mau’ud as secara khusus mengarahkan perhatian pada hal ini dengan nasehat yang amat jelas, beliau as bersabda,

“Itu adalah kalam Allah yang mengokohkan kita dengan penjelasannya yang amat terang seterang-terangnya, memberikan batasan pada semua pembicaraan, tindakan, gerak dan diam kita pada batas-batas yang tepat dan jelas; dan Dia mengajarkan kita adab (sopan-santun, kehormatan) kemanusiaan; dan Dia memperlihatkan pada kita jalan suluuk (jalur-jalur kerohanian) nan lurus. Dialah yang telah memberi kita mata, telinga, dan lidah dan lain-lain, memberikan kepada kita ajaran untuk mengontrol indra-indra kita tersebut dan berfirman dengan penekanan yang sangat: قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ ‘Katakanlah kepada orang-orang beriman agar mereka menahan pandangan mereka dan menjaga bagian kemaluan mereka. Itu lebih suci bagi mereka.’

Hal ini berarti orang-orang yang beriman harus membatasi pandangan mata dan telinga mereka, menjaga bagian-bagian pribadi mereka untuk tidak terlihat dan terekspos dari orang-orang terlarang (bukan mahram) dan membatasi diri dari segala macam visual (pandangan), verbal (pendengaran dan perkataan), dan tindakan terlarang – karena dengan cara ini batin mereka akan tetap bersih dan hati mereka akan tetap bebas dari segala macam nafsu ceroboh – karena sebagian besar hal ini (pandangan, pendengaran dan kemaluan) adalah bagian yang menimbulkan godaan terhadap nafsu binatang dalam diri dan menempatkan mereka pada kesengsaraan dan penderitaan. Sekarang, lihatlah bagaimana Alquran telah menekankan untuk menahan diri dari yang dilarang dan betapa secara mendalam Al Quran telah menjelaskan bahwa orang-orang beriman membatasi dan mengontrol mata, telinga, dan bagian-bagian pribadi mereka dan menyelamatkan mereka dari situasi yang tidak suci.”[2]

Kemudian, menjelaskan mengenai غض البصر (menahan pandangan), Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Akhirnya, hendaklah diingat juga bahwa sikap menghindarkan diri dengan memandang secara redup dan melihat benda-benda yang dibenarkan untuk dipandang, dalam bahasa Arab sikap demikian disebut ghadhul bashar (غض البصر). (Artinya, غض البصر dalam bahasa Arab ialah melihat hal hal dilarang dengan setengah membuka mata (redup) dan kemudian melihat dengan mata terbuka lebar terhadap hal-hal yang diperbolehkan untuk dilihat.) Dan setiap orang yang ingin tetap memelihara hatinya dengan suci, hendaknya ia jangan melayangkan pandangannya dengan liar kesana-kemari, seperti binatang-binatang, melainkan wajib baginya menerapkan kebiasaan ghadhu bashar dalam pergaulan hidupnya. Dan ini adalah suatu kebiasaan penuh berkat yang mengakibatkan keadaan alami tersebut berubah masuk ke dalam warna suatu akhlak yang kokoh, dan tidak akan menimbulkan pertengkaran sedikit pun bersamaan dengan keperluan-keperluan kehidupannya dalam pergaulan kemasyarakatan. Inilah akhlak yang disebut ihshon dan ‘iffat.”[3]

Lantas, di tempat lain Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda lebih lanjut,

“Artinya, katakan kepada orang-orang yang beriman untuk tidak memandang mereka yang bukan mahram; dan tidak melihat segala sesuatu yang mengundang secara syahwat (seksual). Janganlah menatap wajah. Janganlah menempatkan pandangan pada wajah yang dipandang tanpa pencegahan dan batasan. Janganlah pernah melihat wajah orang-orang bukan mahram dengan mata benar-benar terbuka – baik dengan nafsu ataupun tanpa nafsu – karena tindakan tersebut dapat mengakibatkan ketersandungan. Kesucian tidak akan pernah sempurna saat mata memandang secara mutlak, bahkan itu akhirnya akan membuat manusia menderita cobaan.

Jika pandangan mata seseorang tidak suci maka hati pun tidak dapat menjadi suci dan status kesucian yang diperlukan oleh setiap pencari kebenaran pun tidak akan tercapai. Dan dalam ayat ini juga menginstruksikan orang beriman untuk tetap menjaga semua lubang tubuh supaya keburukan tidak bisa masuk ke dalamnya. Dalam ayat ini kata فُرُوجَ (furuuj, lubang-lubang tubuh) berarti semua bagian tubuh yang digunakan untuk kinerja seksual, lalu telinga, hidung, dan wajah semua termasuk.

Sekarang lihatlah! Betapa tinggi dan agungnya semua ajaran ini yang pada segi apa pun tidak ekstrim (berlebihan) dalam إفراط أو تفريط (ifraath [terlalu banyak, inflasi] dan tafrith [kesia-siaan, deflasi]), melainkan semuanya diterangkan secara اعتدالٌ (adil, seimbang) dan penuh hikmah. Dan, pembaca ayat ini dapat segera memahami bahwa tujuan dibalik perintah dalam ayat tersebut untuk membatasi pandangan mata tanpa diragukan lagi ialah supaya pada suatu waktu tertentu orang-orang tidak jatuh ke dalam godaan. Masing-masing pihak, baik laki-laki maupun perempuan tetap aman beraktivitas.”[4]

Inilah ajaran Islam yaitu kaum lelaki-lah yang pertama diharuskan pada suatu batasan (larangan), baru kemudian kaum wanita diminta agar menjaga pembiasaan Hijab (pardah) meskipun telah ada ihthiyaath (langkah antisipasi) sebagaimana telah disebutkan. Bagaimana kita dapat mengatakan bahwa hijab itu tidak perlu di negara-negara [maju dan bebas] tempat mana ketidaksenonohan dan dosa mewabah dalam jangkauan luas, tempat mana travelings (perjalanan-perjalanan) dan pertemanan memunculkan banyak keburukan lain dalam masyarakat ini. Maka, berusahalah untuk menghindarinya.

Dari hal ini, jelas bahwa jika perempuan tidak diperbolehkan untuk berenang dengan laki-laki, maka laki-laki juga tidak diperbolehkan untuk berenang dengan wanita. Sehingga pembatasan ini tidak hanya untuk perempuan, namun juga untuk laki-laki. Perintah yang mensyaratkan kaum pria untuk menundukkan pandangan mata mereka tatkala berada di depan kaum perempuan telah mendirikan kehormatan wanita. Dengan demikian, setiap perintah dari Islam berpondasikan kebijaksanaan dan mengurangi kemungkinan terjadinya kejahatan (keburukan).

Tahun lalu di Jalsah Salanah Jerman saya berpidato di Gah kaum wanita yang di dalamnya saya jelaskan tentang perbedaan antara laki-laki dan perempuan, tanggung jawab, tugas dan hak-hak mereka masing-masing. Seorang wanita Jerman yang telah mendengarkan seluruh pidato datang kepada saya. Dia berkata: “Saya dulu berpikiran Islam merampas hak-hak perempuan, tetapi setelah mendengarkan pidato Anda, sekarang saya tahu bahwa Islam merinci lebih jelas tentang hak-hak perempuan dengan lebih teliti, menghormatinya dan melindungi kehormatan perempuan.”

Dengan demikian, seharusnya tidak ada gadis atau wanita Ahmadi dan tidak pula ada pemuda Ahmadi yang menderita sedikit saja perasaan rendah diri. Ajaran Islam saja-lah yang akan membawa dunia pada perdamaian dan kepada Allah Ta’ala. Suatu hari dunia akan sadar untuk merenungkan bahwa hanya ajaran Islam dan beramal dengannya yang akan membawa dunia pada perdamaian. Tidak ada pilihan lain.

Setelah Allah Ta’ala memerintahkan kaum lelaki untuk menundukkan pandangan mata dan menghormati perempuan kemudian Dia memerintahkan kaum wanita supaya menundukkan pandangan mata mereka dan mengajar mereka membiasakan diri dengan hijab mereka. Dia lalu menjelaskan bagaimana dan dengan siapa untuk menerapkan hijab. Jika Anda akan melakukan hal ini maka Anda akan sukses. Sebagaimana telah Allah firmankan di bagian akhir ayat bahwa hijab, kesopanan serta kesederhanaan adalah termasuk tanda-tanda keberhasilan Anda dan dengan demikian akan membuat lurus duniawi dan akhirat Anda. Dia berfirman,

وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ آبَائِهِنَّ أَوْ آبَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan menjaga bagian-bagian tubuh pribadinya, dan janganlah mereka menampakkan keindahan alami dan buatannya, kecuali yang tampak jelas dari padanya begitu saja. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan kecantikannya kecuali terjaga hanya kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (Surah An-Nur, 24:32)

Dengan menundukkan pandangan dari pihak perempuan maupun pihak laki-laki dan berpegang teguh pada hijab, akan menjamin keselamatan kesucian dan kehormatan kaum wanita. Di negara-negara maju nilai-nilai kehormatan dan penjagaan atas kesucian telah berubah. Di sana, pengertian hubungan terlarang (perzinaan) antara pemuda dan pemudi ialah jika dilakukan tanpa persetujuan (paksaan, bukan suka sama suka). Tetapi tidak dianggap sebagai perzinaan jika hal tersebut dilakukan dengan kesukaan.

Ketika degradasi sedemikian rupa terjadi di masyarakat maka menjadi lebih penting bagi seorang beriman untuk kembali kepada Allah dengan upayanya dan mencari pertolongan dengan doa untuk berlindung kepada-Nya. Para pengkritik mengatakan bahwa hak-hak perempuan dalam Islam terganggu dengan membatasi mereka untuk berpardah dan berpakaian sopan dan sederhana. Beberapa wanita terpengaruh oleh hal tersebut. Dalam Islam, Pardah tidak bertujuan  memenjarakan kaum perempuan, bukan membatasi perempuan di rumah saja dalam empat dinding rumah, sesungguhnya itu untuk menegakkan rasa malu.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Pada hari-hari ini hijab (pardah) Islami dikecam dengan keras. Tapi orang-orang ini, mereka tidak tahu bahwa hijab Islami bukan berarti penjara, melainkan sejenis penghalang satu sama lain antara pria dan wanita. Sebab, jika ada pembatasan, mereka akan diselamatkan dari ketersandungan. Seseorang yang berpikiran adil dapat memberitahu, ‘Bagaimana hasrat keinginan impulsif manusiawi tidak akan timbul diantara orang-orang yang mana kaum pria dan wanitanya yang bukan kerabat secara bebas dapat bertemu, pergi keluar berjalan-jalan bersama-sama tanpa batasan apapun?’ Kita telah mendengar banyak bahkan telah melihat juga bahwa di negara-negara tertentu diperbolehkan bagi seorang pria dan seorang wanita bukan mahram untuk tinggal di satu ruangan bahkan ketika pintu juga ditutup – ini mereka sebut budaya.

Pembawa Syariat Islam (Nabi Muhammad saw) tidak mengizinkan perilaku yang akan menyebabkan ketersandungan. Beliau saw bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ

‘Di mana saja seorang pria dan seorang wanita berjumpa secara khalwat (bersepi-sepi), maka yang ketiga ialah Setan.’

Lihatlah hasil-hasil buruk yang diderita orang Eropa karena tradisi-tradisi buruk ini. Di banyak tempat mereka hidup dengan kehidupan tanpa tahu malu dan itu semua karena keburukan ini.

Jika Anda ingin menyelamatkan sesuatu dari pengkhianatan maka Anda harus menjaganya. Tapi jika Anda tidak mengamankannya dan berpikiran di sekitar Anda itu orang-orang baik, maka ingatlah bahwa hal yang demikian pasti akan menghancurkan.

Alangkah sucinya ajaran Islam yang menyelamatkan pria dan wanita dari kejatuhan dengan menjaga mereka terpisah. Itu tidak membuat hidup sulit. Suatu masalah seperti yang disaksikan di Eropa, yaitu adanya perkelahian keluarga dan orang bunuh diri di sana setiap hari. Kehidupan sebagian kaum wanita terhormat mereka, seperti kehidupan wanita tuna susila sebagai akibat langsung dari pertemuan bebas antara laki-laki dan perempuan non Mahram.”[5]

Hadhrat Masih Mau’ud as memberitahukan mengenai cara dan mutu Hijab (pardah):

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Katakanlah kepada wanita‑wanita yang beriman supaya mereka menahan pandangan mereka dari laki‑laki yang bukan mahram. Dan begitu pula hendaknya memelihara telinga mereka, yaitu janganlah mereka men­dengar suara yang dapat membangkitkan syahwat, tutuplah bagian-bagian tubuh mereka yang merupakan aurat dan jangan menampakkan bagian keindahan mereka kepada yang bukan mahram. Dan kenakanlah kain kudungan demikian rupa sehingga menutup kepala sampai ke dadanya, yakni kedua daun telinga, kepala dan kedua belah pelipis tertutup kudungan semuanya. Dan janganlah menghentak-hentakkan kedua kaki seperti para penari. Inilah upaya yang dengan mengikutinya akan dapat menyelamatkan dari ketergelinciran.’”[6]

Dan, saya juga ingin menjelaskan bahwa beberapa wanita mengangkat pertanyaan ini, “Kami memakai make-up. Jika kami mengenakan niqaab maka make-up kami bisa rusak. Dalam keadaan demikian bagaimana bisa kami membiasakan diri berhijab (berpardah)? Jika tidak memakai make up maka seseorang wanita dapat menerapkan standar minimal (paling kurang) dari berhijab sebagaimana telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yaitu wajah dan kedua bibir terbuka tetapi bagian wajah lainnya harus tertutup. Jika mereka ingin mengenakan makeup maka mereka harus berpardah dengan menutupi bibirnya. Mereka harus merenungkan apakah mereka ingin menyembunyikan kecantikan mereka sesuai dengan ajaran Allah atau mereka ingin menunjukkan kecantikan mereka dan make up mereka kepada dunia (orang-orang)?

Ada daftar rinci sebagaimana telah Allah Ta’ala jelaskan [dalam Al Qur’an] tentang siapa saja orang-orang yang di depan mereka, kaum wanita boleh menunjukkan ziinahnya (perhiasan, kecantikan, keindahannya). Mereka ialah kaum kerabat seperti para saudara dan saudarinya, suami, ayah dan ibu dan anak-anaknya. Makna dari kata menunjukkan ziinahnya di depan mereka ialah boleh tidak berhijab (tidak mengenakan pardah) di depan mereka. Jika seorang wanita ingin bermake-up maka ia boleh menggunakannya di depan mereka [di depan kerabat yang telah disebutkan tadi]. Bukan di depan orang-orang selain mereka. Allah Ta’ala telah menjelaskan rincian itu dalam Al Qur’an dan menyebut semua jenis hubungan kerabat ini sebagaimana Dia juga menjelaskan apa itu ziinah secara langsung seperti bentuk tubuh dan postur dan yang serupa itu. Dan, itu bukan berarti memakai jins dan blus di rumah di depan mereka juga atau pakaian yang seperti telanjang, dan jenis hijab yang ini wajib diberlakukan di depan para mahram (anggota keluarga yang tidak boleh ada hubungan pernikahan).

Demikian pula, saya ingin menyampaikan hal ini kepada para Muballigh dan istri mereka bahwa mereka harus berhati-hati dan menjaga sekali akan pakaian- pakaian mereka dan pandangan mata mereka. Sebab, Jemaat mengamati contoh keteladanan mereka juga. Istri para Muballigh juga sebagaimana para Muballigh, harus menunjukkan contoh tertinggi dalam semua aspek kehidupan.

Pada akhirnya, saya berdoa berdoa semoga Allah Ta’ala menjadikan para pria Ahmadi dan wanita Ahmadi kita menetapkan tolok ukur tinggi moralitas dan kesopanan serta membatasi diri dengan perintah-perintah Islam dalam setiap aspeknya. (آمين) Amin.

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono

Sumber referensi resmi: www.Islamahmadiyya.net (teks bahasa Arab), terjemahan dari bahasa Inggris oleh Ratu Gumelar (https://www.alislam.org/friday-sermon/2017-01-13.html) dan rekaman audio berbahasa Indonesia hasil penerjemahan langsung dari bahasa Urdu oleh Mln. Mahmud Ahmad Wardi (https://www.alislam.org/archives/sermons/mp3/FSA20170113-ID.mp3)

[1] Shahih Al-Bukhari, no. 23.

[2] Barahin Ahmadiyah, h. 102-103, catatan kaki.

[3] Filsafat Ajaran Islam, h. 102-103

[4] Tiryaqul Qulub, h. 20

[5] Malfuzhat jilid 1

[6] Filsafat Ajaran Islam h. 31-32