Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 13 Wafa 1391 HS/Juli 2012

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

 

Setelah membaca Surat Al Fatihah, Hudhur (aba) bersabda bahwa setelah kesempatan Jalsah Salanah, beliau umumnya memberikan umpan balik (tanggapan) mengenai acara tersebut di waktu khotbah. Dengan karunia Allah Ta’ala, Jalsah Amerika Serikat dan Jalsah Kanada, yang diselenggarakan hanya selang satu minggu telah dapat dirampungkan dalam waktu dua pekan terakhir ini. Hudhur (aba) bersabda bahwa dalam hal ini; beliau tidak hanya mendapat kesempatan untuk langsung menyampaikan pidato kepada anggota Jemaat; beliau juga memiliki kesempatan unik untuk mendapatkan informasi dari sumber pertama tentang masalah-masalah tertentu, dan penguatan moral dan spiritual Jemaat selama pertemuan-pertemuan dengan beliau, yang kemudian membantu beliau dalam menyampaikan petunjuk-petunjuk khusus untuk membimbing anggota Jemaat. Dalam konteks ini, tur (lawatan, kunjungan) ke Amerika Serikat dan Kanada adalah sangat bermanfaat dan Hudhur (aba) bersabda bahwa beliau berharap dan berdoa bahwa para anggota Jemaat, baik pria dan wanita juga mengambil manfaat dari kunjungan beliau. Selain itu, pertemuan dengan tokoh-tokoh dan para politisi terkemuka tertentu juga membawa pengenalan Jemaat Ahmadiyah ke lingkaran yang lebih luas. Dengan berkat-berkat Allah, kedua negara meneruskan perluasan di bidang ini.

Bagaimana pun juga, Hudhur (aba) bersabda bahwa beliau ingin menguraikan topik syukur kepada Allah Ta’ala dalam menyikapi keberhasilan seperti yang telah diberikan kepada Jemaat. Setiap Ahmadi Muslim harus sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala karena Dia telah memungkinkannya (memampukannya, memberinya taufik) untuk berpartisipasi dalam Jalsah Salanah, yang merupakan sebuah acara (peristiwa) yang penuh keberkatan dan menguntungkan. Namun, tujuan sebenarnya dari Jalsah Salanah adalah untuk membawa transformasi (perubahan) murni dalam diri sendiri yang mana transformasi ini tidak hanya sementara tetapi harus menjadi permanen (seterusnya), dan ini dengan menerapkan usaha yang terus-menerus dalam hidup kita.

Hudhur (aba) mengingatkan kita bahwa orang percaya (beriman) yang menyelami lebih dalam bahasan syukur kepada Allah, ia menjadi penerima (pewaris) berkat-berkat yang lebih besar dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala, Yang Maha Benar dalam Firman-Nya, menjanjikan kepada hamba-Nya yang benar: Dan ingatlah ketika Tuhanmu menyatakan, لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ “Jika kamu bersyukur, Aku pasti akan memberikan lebih banyak lagi nikmat pada kamu.”(14:8)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala meningkatkan (menambah) karunia-Nya kepada mereka yang bersyukur kepada-Nya. Untuk seorang Muslim Ahmadi, nikmat terbesar atasnya adalah bahwa Allah Ta’ala telah memungkinkan dia untuk percaya pada Imam dan Mahdi zaman ini, yang telah datang untuk menuntun seluruh dunia. Setiap Ahmadi harus berusaha untuk memahami topik syukur ini, sehingga ia menjadi penerima karunia-karunia Allah, dan tidak menjadi orang yang tidak tahu bersyukur kepada Allah, dan dengan demikian menjadi penerima murka Allah.

Dengan bermigrasi (berhijrah, berpindah) ke negara-negara Barat, Allah Ta’ala memang memberikan kepada Anda berkat duniawi juga. Banyak dari mereka yang menjadi lebih baik daripada waktu sebelumnya. Ada orang-orang yang pasti mendapatkan ketidaksenangan (kemurkaan) Allah Ta’ala yaitu yang bermigrasi ke negara-negara ini (Barat) atas dasar dianiaya karena iman mereka, mencari suaka, dan ketika kondisi mereka membaik, mereka mulai mengkritik Jemaat, sehingga mereka menjadi jauh [dari Jemaat]. Dalam hal apapun, Jemaat tidak peduli dengan orang tersebut. Memang, pemisahan orang-orang seperti itu dari Jemaat juga merupakan karunia dari Allah Ta’ala, namun walau bagaimana pun setiap Ahmadi harus ingat bahwa rasa terima kasihnya (rasa syukurnya) hanya akan bermakna jika niat dan tujuannya adalah untuk mendapatkan keridhaan dan kedekatan Allah Ta’ala dan untuk tujuan ini, dia membawa transformasi murni dalam dirinya sendiri dengan mengikuti model (suri teladan) kita yang tercinta Nabi Muhammad (saw). Hal ini diceritakan dalam tradisi (Hadits) bahwa Nabi (saw) akan menghitung semua berkat (karunia) Allah di hari itu sebelum tidur di malam hari dan akan bersyukur kepada Allah Ta’ala untuk semua nikmat-Nya dan akan memuji Allah, yang telah memberikan kepada beliau kebaikan dan rahmat-Nya dan telah menganugerahkan kepada beliau karunia-karunia dalam kehidupan beliau. Kaki beliau akan membengkak dikarenakan lamanya ibadah beliau kepada Ilahi. Ketika beliau ditanya mengapa beliau menanggung beban penderitaan tersebut, beliau akan menjawab dengan mengatakan bahwa haruskah beliau tidak bersyukur kepada Allah untuk semua nikmat-Nya? [2] Dengan demikian kita harus mengikuti keteladanan beliau saw.

Allah Ta’ala menyatakan: إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحبِبْكُمُ الله
“Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku: maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni kesalahanmu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “(3:32).

Ini adalah cara untuk mencapai kasih (rahmat) Allah, yang pada gilirannya menuai imbalan lebih lanjut. Nabi (saw) tidak hanya bersyukur atas berkat-berkat duniawi saja, beliau akan mengungkapkan syukur kepada-Nya atas perlindungan dari berbagai kesulitan dan cobaan, sampai-sampai beliau pun bersyukur dalam hal-hal paling sepele sekali pun. Kita juga harus meniru teladan beliau saw dan mengikuti standar-standar dari rasa syukur beliau saw itu dalam kehidupan kita. Allah Ta’ala kemudian meningkatkan berkat-Nya atas orang-orang ini, sehingga sangat mendukung manusia itu sendiri untuk bersyukur kepada Allah. Allah Ta’ala berfirman: وَمَنْ يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ “Dan barang siapa bersyukur adalah bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, tetapi barangsiapa yang ingkar, sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak Membutuhkan Apa dan Siapa Pun) dan MahaTerpuji.” (27:41)

Hudhur (aba) bersabda, rasa terima kasih seharusnya tidak hanya datang dalam bentuk kata-kata atau ucapan, tetapi dalam tindakan praktis juga, seperti bahwa setiap bagian dari tubuh dan organ seseorang harus mengekspresikan bentuk syukur ini. Apa itu rasa syukur? Syukur adalah bahwa seluruh keberadaan seseorang harus bersujud di hadapan Allah dalam kerendahan hati dan mengekspresikan cintanya untuk-Nya; melakukan upaya untuk mendapatkan cinta itu; mengakui bahwa setiap berkat dalam hidupnya memang berasal dari-Nya; menyatakan pujian dan kemuliaan Allah dengan kata-kata di lidah; dan memanfaatkan karunia-Nya sehingga menjadi sumber untuk mendapatkan keridhaan Allah. Allah Ta’ala melingkupi hamba-hamba yang seperti itu dengan berkat dan karunia yang bertambah-tambah.

Hudhur (aba) bersabda bahwa orang-orang menceritakan atau menulis kepada beliau tentang betapa indahnya Jalsah itu dan seberapa besar mereka menikmatinya. Hudhur (aba) bersabda bahwa Jalsah hanya dapat menjadi pengalaman yang bermanfaat jika setiap peserta dan setiap petugas hadir hanya dengan fokus yang lebih besar untuk menjadi penyembah (hamba) Allah yang penuh syukur, taat dan berusaha dengan semangat yang lebih besar untuk menyerap cinta Allah. Seseorang dapat membuat daftar semua perubahan yang ia ingin terapkan dalam dirinya sendiri dan kemudian membuat janji yang teguh untuk secara praktis mengimplementasikan perubahan-perubahan itu dalam hidupnya. Kemudian dia dapat membuat daftar sifat buruknya yang dia ingin menjauh darinya dan janji yang teguh untuk menjauhkan kesalahan-kesalahan itu dari dalam hidupnya. Upaya ini harus dilakukan sepenuh hati, dengan semua sarana dan kemampuan yang telah diberikan Allah. Lalu ia harus memuji Allah dan berjanji untuk tidak menyalahgunakan berkat yang Allah telah berikan kepadanya. Jika Allah telah memberikan Anda kemakmuran, kemudian gunakanlah itu untuk mendapatkan kedekatan dengan-Nya bukan untuk tujuan yang salah.

Dengan kasih karunia Allah, ada banyak anggota di Amerika Serikat yang telah diberkahi dengan kenyamanan (berkecukupan) dalam kehidupan mereka. Banyak di antara mereka membelanjakan dengan murah hati di jalan Allah. Semoga Allah memberkati mereka, Aamiin. Mereka harus selalu ingat nikmat Allah pada mereka dan senantiasa bersyukur untuk rahmat-Nya. Pengorbanan finansial (harta) tidak cukup dalam dirinya sendiri, harus disertai dengan ibadah dan rasa syukur kepada Allah Ta’ala. Terima kasih sejati (syukur yang hakiki) hanya ada dengan disertai penyembahan (peribadatan) yang benar. Di Kanada, orang-orang [Jemaat] tidak terbilang kaya secara finansial, tetapi standar pengorbanan keuangan mereka tinggi. Hudhur (aba) bersabda bagaimanapun, ada kebutuhan yang sangat (sungguh-sungguh) untuk meningkatkan standar ibadah dan memperbaiki kelemahan moral tertentu yang telah ada dalam pengamatan beliau. Apakah para Ahmadi yang tinggal di Amerika Serikat atau di Kanada atau tempat lain di dunia dalam hal ini, ekspresi sebenarnya dari syukur hanya akan terjadi ketika mereka menerapkan sebuah perubahan yang lengkap dalam hidup mereka. Ini hanya bisa terjadi ketika mereka menerapkan ajaran Al-Qur’an dan memenuhi janji mereka kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan mengikuti syarat-syarat baiat. Semoga Allah Ta’ala memungkinkan [memberi taufiq kepada] setiap Ahmadi untuk mencapai standar-standar syukur kepada Ilahi ini, Aamiin.

Cobalah untuk menganalisa diri sendiri, memeriksa situasi Anda, melihat secara dekat rumah tangga Anda dan menilai bagaimana Anda dapat meningkatkan standar syukur kepada Allah. Jika suami tidak memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, ia tidak bersyukur kepada Allah meskipun tindakannya yang lain saleh. Allah telah memberikannya istri dan anak-anak, oleh karena itu tanggung jawabnya adalah untuk menjaga mereka, dan dengan memenuhi tanggung jawabnya itu dia mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada Allah. Dia harus ingat bahwa ini bukan tanggung jawab duniawi tetapi tanggung jawab yang diberikan Allah. Demikian pula, jika istri tidak memenuhi kewajibannya terhadap suaminya, maka ia tidak syukur kepada Allah dan negasi/pengingkaran ini akan mengecualikannya dari antara mereka yang yang dicintai Allah. Oleh karena itu setiap individu dan setiap rumah tangga perlu menilai situasi. Hari dimana kita mulai mempraktekkan apa yang kita tablighkan di setiap tingkatan dan membuatnya menjadi sumber keridhaan Allah, kita benar-benar harus telah menerapkan ekspresi yang sangat signifikan dari rasa syukur kepada Allah Ta’ala lalu karunia dan nikmat Allah yang tak terbatas akan turun [kepada kita] secara terus menerus, dalam hal segi duniawi maupun rohani. Seseorang tidak boleh hanya mengharapkan kenyamanan duniawi, melainkan adalah tugas dari setiap Ahmadi untuk berhasrat akan nikmat Allah untuk memajukan kerohanian juga.

Hudhur (aba) kemudian kembali ke topik mengenai ungkapan syukur kepada Allah yang menyangkut diri beliau. Beliau (aba) mengatakan bahwa pertama, beliau mengucapkan syukur kepada Allah Ta’ala untuk fakta bahwa Dia telah memberikan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dengan Jemaat yang demikian sangat setia pada Nizam-e-Khilafat. Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah bersabda takjub pada pengabdian dan kesetiaan yang diungkapkan oleh anggota Jemaat pada masa hidup beliau as juga. Ungkapan luar biasa dalam pengabdian penuh kesetiaan, yang telah berlangsung selama lebih dari dari seratus tahun, masih menerangi dengan kilauannya. Oleh karena itu, jangan padamkan pengabdian dan loyalitas yang ini ada diantara anda dan di antara generasi demi generasi kemudian. Kesetiaan ini seharusnya menjadi sumber syukur bagi anggota Jemaat juga, sehingga ikatan dengan Khilafat tetap kuat generasi ke generasi. Tidak peduli seseorang pergi ke bagian dunia yang mana, yang jelas ikatan, cinta dan kesetiaan dengan Khilafat tetap ajek di mana-mana. Hudhur (aba) bersabda bahwa beliau menyaksikan ekspresi cinta dan pengabdian yang luar biasa di Amerika Serikat dan menyaksikan di sini di Kanada juga, dari anak-anak dan orang dewasa, dari laki-laki maupun perempuan, dari pemuda dan orang tua. Ini adalah persepsi umum bahwa orang-orang di Amerika Serikat materialistis, tetapi Hudhur (aba) bersabda bahwa pengabdian dengan yang anggota Jemaat persembahkan selama dua minggu tinggal di sana adalah bisa dijadikan contoh, demikian besarnya sehingga mereka yang bertugas tetap tinggal dengan Hudhur (aba) sepenuhnya, tidak mempedulikan pekerjaan atau bisnis mereka. Bahkan ada di antaranya yang meninggalkan begitu saja lowongan pekerjaan yang baru diterimanya disebabkan belum berhak mendapat cuti, agar dapat mendampingi (bisa berada di dekat) Hudhur (aba). Semoga Allah membuat kemudahan untuk semua anggota Jemaat tersebut dan membalas mereka dengan ganjaran (pahala dari-Nya) karena cinta dan pengabdian mereka itu, Aamiin. Hudhur (aba) mengucapkan terima kasih kepada semua relawan dan peserta Jalsah Salanah Amerika Serikat dan Kanada yang memenuhi tugasnya dengan rasa tanggung jawab yang sangat. Kita harus berdoa untuk para relawan yang semoga Allah Ta’ala senantiasa mengaruniai mereka keyakinan, bahwa mereka mendapatkan lebih banyak lagi kepuasan dalam pengkhidmatan mereka kepada agama. Aamiin.

Hudhur (aba) bersabda bahwa beliau mengunjungi beberapa kota di Amerika Serikat, dan semua anggota Jemaat, apakah mereka itu pemukim asli atau pendatang baru, semua menyatakan cinta dan pengabdian. Namun, Hudhur (aba) lagi lagi mengingatkan semua anggota Jemaat bahwa ekspresi pengabdian hanya bisa bermakna jika para anggota Jemaat bersujud kepada Allah dalam penyerahan diri sepenuhnya dan memuji-Nya untuk nikmat-Nya yang dianugerahkan kepada mereka. Puncak dari topik syukur terhadap Allah adalah bahwa Khalifatul Masih dan anggota Jemaat menjadi hamba-hamba Allah sejati dan menjadi bersyukur kepada-Nya dengan cara sebagaimana yang seharusnya.

Di Amerika Serikat, Hudhur (aba) mencatat ketertarikan para pemuda yang telah ada pada diri mereka untuk menyampaikan pesan-pesan Islam Ahmadiyah kepada masyarakat dan membuat kontak (kenalan, pertemanan) yang sangat baik di luar Jemaat yang mana itu adalah hal yang terpuji (layak dihargai). Namun, hendaknya selalu diingat bahwa kontak ini tidak dilakukan untuk mendapatkan tujuan duniawi apapun, tetapi untuk memperkenalkan gambaran yang benar dan indah dari Islam kepada dunia dan mengumpulkan dunia di bawah bendera Nabi Suci Islam, Hadhrat Muhammad (shallallahu ‘alaihi wa sallam, saw), Insya Allah. Hudhur (aba) bersabda bahwa seorang wartawan dari CNN bertanya kepada Hudhur (aba) tentang kemungkinan (peluang) penyebaran Islam di Amerika Serikat. Hudhur (aba) menjawab dengan mengatakan bahwa gambaran Islam yang sebenarnya saat ini hanya disajikan oleh Jemaat Ahmadiyah, dan kemungkinan penyebarannya tidak hanya ada di Amerika Serikat tetapi di seluruh dunia, dan ini tidak dengan kekerasan (paksaan), melainkan dengan mengesankan hati masyarakat. Oleh karena itu, kaum muda kita, pria dan wanita, yang mengekspresikan cinta dan pengabdian kepada Khilafat, harus ingat bahwa tujuan kita bukan duniawi, melainkan semua yang kita katakan atau lakukan harus ditujukan untuk kemenangan Islam. Hal ini akan dicapai hanya jika kita berpaling dan menyerahkan iman yang kita kepada Yang Maha Esa. Secara keseluruhan, tur Amerika Serikat ini sukses besar. Semoga hasil yang bermanfaat dari tur itu terus bermunculan kendati setelah tur berakhir. Hudhur (aba) bersabda bahwa di beberapa tempat, mesjid baru dan pusat baru juga diresmikan, yang menunjukkan upaya dan fokus Jemaat USA terhadap pembangunan masjid. Upaya ini harus dilanjutkan. Hudhur (aba) bersabda hal lainnya untuk dicatat bahwa bangsa-bangsa yang maju tidak menujukkan mata mereka pada prestasi dan pencapaian-pencapaian mereka sendiri tetapi mereka menilai (melihat-lihat) kelemahan dan melakukan segala upaya untuk memperbaiki kelemahan mereka, karena ini adalah hal yang sangat penting. Inilah cara untuk mendapatkan bimbingan, buatlah catatan mengenai berbagai acara yang telah dilakukan, lengkap dengan segala kelebihan dan kekurangan aspek Kepanitiaan-nya. Dengan cara ini akan memungkinkan untuk meningkatkan kualitas acara pada tahun berikutnya. Contoh salah satu kelemahan yang luput dari perhatian Jamaat USA baik di tingkat Jamaat maupun perorangan [keluarga] adalah menyiapkan penanggulangan darurat baik yang disebabkan keterpurukan ekonomi maupun situasi seperti  peperangan. Padahal, USA berpengalaman dalam menghadapi berbagai bencana alam seperti topan badai [hurricanes] dan lain sebagainya. Oleh karena itu, manakala membangun Masjid atau Pusat Jamaat, cadangan suplai air dan aliran listrik berjangka-panjang haruslah dibuat. Karena sekarang ini, tanpa kedua suplai tersebut kehidupan tak dapat bertahan. Hudhur (aba) memberikan contoh betapa suatu topan badai [hurricane] berdampak kepada matinya aliran listrik di sekitar kompleks Masjid Baitur-Rahman [Siver Spring, Maryland) di waktu kunjungan beliau (Hudhur berada di Harrisburg pada saat itu), ternyata tak ada system cadangan penggantinya untuk mengatasi hal tersebut. Hudhur (aba) menyarankan prearrangement generator (Gen-Set ) siap pakai yang dapat segera mensuplai aliran listrik dan air secepatnya disediakan.

Mengalihkan perhatian terhadap Jalsah Kanada, Hudhur (aba) lagi lagi mengingatkan seluruh anggota Jemaat, tidak hanya di Kanada, tetapi di seluruh dunia, untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala dan memperkuat ikatan ini. Kedua, ungkapan cinta dan pengabdian dari anggota Jemaat adalah memang nyata. Salah satu keluarga Hudhur yang tiba dari Pakistan berkomentar bahwa anggota Jemaat Kanada telah jauh lebih unggul dibanding Jemaat AS dalam pengkhidmatan mereka dalam menyambut Hudhur (aba). Ini dikarenakan jumlah anggota Jamaat Kanada lebih besar dan telah dikaruniai dengan suatu pemukiman Jamaat yang bernama ‘Peace Village’ [atau ‘Desa Damai’] yang bersuasana khas dan menawan, lengkap dengan Masjid [Baitul Islam]-nya. Namun agar memperoleh faedah haqiqi dari berbagai unsur karunia yang khas tersebut, anda sekalian perlu mempraktekkan topik bahasan tasyakur haqiqi ini. Saudara-saudara telah diberi kesempatan untuk hidup sebagai sebuah Jemaat, dengan masjid di depan pintu saudara-saudara. Maka berusahalah untuk senantiasa memakmurkannya, yang niscaya akan memperelok tampilan [Masjid]-nya. Para anggota sesepuh pensiunan sangat boleh jadi datang pada setiap Salat Lima Waktu. Namun, tujuan haqiqi [keberadaan sebuah Masjid] baru akan terpenuhi apabila kaum muda maupun dewasanya sudah dapat memahami pentingnya ibadat dengan cara berbondong-bondong datang ke Masjid dan menegakkan tradisi kehidupan Jamaat.  Yakni apabila para pemudi [Nasirat] maupun [Lajnah] wanita dewasanya dapat menjaga kemuliaan derajat serta pardah mereka. Juga apabila para pemuda [Khuddam] maupun Ansar-nya mampu mengenali nilai-nilai akhlakul karimah mereka; yakni tidak terseret oleh arus hal-hal yang tidak berakhlak di sekitar lingkungannya. Pendek kata, tujuan haqiqi ini tak akan dapat tercapai hanya dengan ber-narre takbir di jalanan atau mendendangkan beberapa bait syair di sana-sini.

Para penduduk lokal, termasuk Walikota Kota Vaughan (di mana masjid itu berada), umumnya sangat terkesan oleh Jemaat dan memberitahu Hudhur (aba) betapa bangganya beliau (aba) karena memiliki warga (anggota) seperti mereka. Mereka juga mengakui bahwa Ahmadiyah adalah warga negara yang taat hukum. Ini adalah pandangan duniawi, tetapi kita harus menilai kondisi kita mengingat ajaran-ajaran Al-Qur’an seperti yang dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) secara mendalam. Standar moral dan spiritual tidak didasarkan pada peraturan duniawi tetapi pada ukuran-ukuran yang berasal dari Allah. Jadi, kita harus menerapkan ajaran Al-Qur’an dalam kehidupan kita.

Janganlah melihat ke bumi (duniawi), Anda harus berusaha untuk melihat ketinggian di langit (kerohanian) dan ketika ini terjadi, maka kita bisa bersyukur kepada Allah, yang juga ketika slogan dan semua perbuatan anda akan menuai hasilnya untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hudhur (aba) bersabda bahwa beliau telah menerima sejumlah surat dari pemuda/pemudi tentang bagaimana mereka telah merasakan suatu transformasi batin. Beberapa gadis telah mengenakan hijab (jilbab), yang lain telah menulis tentang perubahan lain mereka. Ini adalah niat yang Allah akan menerimanya, dan semoga Dia memungkinkan semua anak muda untuk menjadi orang Ahmadiyah yang sebaik mungkin. Hal ini juga membawa kita ke topik rasa syukur karena Allah saja yang dapat membawa perubahan dalam diri seseorang, karena itu mereka semua yang telah mengalami transformasi ini harus menjadikan hal itu permanen (tetap dan terus-menerus) dengan cara senantiasa memohon bantuan dan bimbingan Allah. Rumah tangga seharusnya menjadi tempat berlindung yang aman di mana cinta, kepercayaan dan kebenaran (kejujuran) dapat berkembang. Jika pernikahan terjadi bertentangan dengan kehendak/keinginan pria dan wanita, maka sempurnakanlah hubungan itu dengan hati yang terbuka (lapang dada), jika tidak, sampaikanlah kepada orang tua Anda sebelum pernikahan terjadi bahwa Anda tidak tertarik (menjalin pernikahan dengan calon dimaksud). Dasar dari pernikahan apapun adalah kebenaran (ketakwaan) dan iman. Ketika seorang pemuda meminta (menginginkan) seorang gadis yang religius, maka pemuda itu harus beragama juga. Penyatuan (pernikahan) itu akan menghasilkan lebih banyak lagi rumah tangga yang akan memancarkan citra (gambaran) surgawi. Jangan biarkan mata Anda tertuju ke semua kenyamanan duniawi ini. Jangan kewalahan atau kagum oleh kilau masyarakat yang Anda tinggal didalamnya. Jangan mengisi rumah Anda atau atau hati anda dengan perasaan ketidakpuasan (keserakahan). Berbagai kelebihan duniawi hendaknya justru dapat menjadi pendorong untuk bersyukur kepada Allah Ta’ala. Senantiasalah ingat akan [pengorbanan] para pendahulumu, masa lampau-mu, kemudian temukanlah berbagai karunia Allah yang kini kamu dapatkan, yang niscaya akan mengarahkan kamu kepada sikap tasyakur. Berusahalah dengan berbagai cara untuk menghilangkan perbedaan. Damaikanlah pertikaian antar kerabat keluarga, sehingga mengundang keridhaan Allah Taala atas dirimu. Ketika saya meninggalkan rumah saya di lingkungan ini, banyak anak meneriakkan slogan-slogan (Islam seperti takbir dst) dan mengatakan salam, yang bergema di atmosfer dan membuatnya muncul seperti surga. Namun, salam ini hendaknya tidak hanya sebatas di permukaannya saja, melainkan mendalam hingga ke pusat Jamaat-nya, yang niscaya akan menegakkan kedamaian di dunia ini, dan meretas jalan kebaikan pada kehidupan di akhirat nanti.  Jangan biarkan gairah ini mati. Upayakan untuk mencapai hakekat yang sebenarnya dari spiritualitas (kerohanian) yang akan menjadi tampak jelas ketika perbuatan-perbuatan kita menghasilkan kedekatan dengan Allah Ta’ala. Setiap Ahmadi harus memahami tanggung jawabnya dalam hal ini.

Hudhur (aba) menginstruksikan penyelenggara (panitia Jalsah) untuk menghitung (mendata) kelemahan-kelemahan dalam Buku Merah dan mencoba untuk menemukan solusi untuk kelemahan ini ketika membuat pengaturan untuk Jalsah tahun depan. Hudhur (aba) telah menerima beberapa surat yang berisi keluhan-keluhan, yang paling spesifik mengenai pengaturan audio (tata suara). Hudhur (aba) merekomendasikan penyelidikan menyeluruh mengapa kesulitan teknis ini muncul setiap tahun. Pengamatan beliau sendiri adalah bahwa mungkin departemen-departemen (bagian-bagian panitia) organisasi tertentu tidak bekerja sama dan berkoordinasi satu dengan yang lain. Jika hal ini benar, tentulah terjadi keterpurukan di suatu Seksi yang lain. Maka [anggota] Panitia hendaknya memeriksa kembali niat mereka. Berkhidmatlah dengan kompak. Tuan Amir [Jamaat] hendaknya mengawasinya dengan seksama. Jangan mempercayai siapapun tanpa haq [mengujinya terlebih dahulu]. Hudhur (aba) pun menyarankan, disebabkan kekurang-disiplinan; suatu Jalsah biasa [bagi Jamaat Kanada] hendaknya diselenggarakan terlebih dahulu di Jamaat USA, di tahun yang sama ketika beliau merencanakan akan mengunjunginya. Namun, bagaimanapun juga segenap anggota Jamaat Kanada telah memperlihatkan keikhlasan pengkhidmatan mereka kepada Khalifah Waqt. Oleh karena itu, menurut hemat Hudhur (aba): Perlu diberi kesempatan sekali lagi kepada Panitia untuk membuktikan bahwa mereka dapat meningkatkan kinerjanya. Para pengurus yang memiliki niat atau motif duniawi perlu menilai diri mereka sendiri, tidak perlu seseorang untuk memberitahu mereka apa yang salah. Ingatlah! Niat mulia-lah yang akan disertai dengan kesuksesan. Hal yang lainnya yang akan menjauhkan kita dari kedekatan dengan Allah, dan na’udzu billaah (kita berlindung kepada Allah) sebagai gantinya malah mendapatkan murka-Nya. Untuk generasi muda, Hudhur (aba) menyarankan agar mereka harus tetap memfokuskan diri pada tindakan-tindakan mereka yang positif dan baik, dan meniadakan (mengesampingkan) kelemahan-kelemahan mereka. Jemaat Kanada telah membentuk kontak-kontak (rabtah) yang baik, banyak dari mereka yang telah Hudhur (aba) temui. Setiap Ahmadi harus ingat bahwa tindakan atau kata-kata mereka harus selalu memiliki tujuan penyebaran Islam Ahmadiyah sebagai motif.

Pada akhirnya, Hudhur (aba) kembali mengingatkan topik pentingnya syukur, mengatakan bahwa di satu segi, penerangan (lampu) di rumah tangga, suasana di sekitar area Masjid, semangat kesukarelaan semuanya adalah aspek rasa syukur, tetapi ini bersifat sementara. Namun kesyukuran ini harus [dibuat] permanen (terus-menerus, tetap) dan setiap Ahmadi harus selalu tetap siap untuk mengatakan ‘Labbaik!’ – “Siap!” untuk instruksi (perintah) Hudhur (aba). Hendaknya tidak menganggap kerisauan sebagai kesulitan dalam menghadapi norma-norma atau budaya Barat. Bila niatnya baik, maka tak akan’ ada yang dapat menghalangi kemajuan. Bangsa-bangsa yang maju adalah mereka yang tidak terpaku kepada berbagai kesulitan yang dihadapi. Melainkan, memusatkan perhatian dan segala daya upaya kepada tujuan utama mereka. Hal inilah yang akan membantu kita membawa sebuah revolusi di dunia ini. Pada akhir [khotbah], Hudhur (aba) berdoa bagi para anggota Jemaat.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ ‑ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

AlhamduliLlâhi nahmaduHû wa nasta’înuHû wa nastaghfiruHû wa nu-minu biHî wa natawakkalu ‘alayHi wa na’ûdzubiLlâhi min syurûri anfusinâ wa min sayyi-âti a-’mâlinâ may-yahdihil-Lâhu fa lâ mudhilla lahû, wa may-Yudhlilhû fa lâ hâdiya lah – wa nasyhadu al-lâ ilâha illal-Lôhohu wa nasyhadu annâ muhammadan ‘abduhû wa rosûluHû – ‘ibâdal-Lôh! Rohimakumul-Lôh! Innal-Lôha ya-muru bil‘adli wal-ihsâni wa iytâ-i dzil-qurbâ wa yanhâ ‘anil-fahsyâ-i wal-munkari wal-baghyi ya’idzukum la’allakum tadzakkarûn – udzkurul-Lôha yadzkurkum wad’ûHu Yastajiblakum wa ladzikrul-Lôhi akbar.

“Segala puji bagi Allah Ta’ala. Kami memuji-Nya dan meminta pertolongan pada-Nya dan kami memohon ampun kepada-Nya dan kami beriman kepada-Nya dan kami bertawakal kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah Ta’ala dari kejahatan-kejahatan nafsu-nafsu kami dan dari amalan kami yang jahat. Barangsiapa diberi petunjuk oleh Allah Ta’ala, tak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang dinyatakan sesat oleh-Nya, maka tidak ada yang dapat memberikan petunjuk kepadanya. Dan kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Ta’ala dan kami bersaksi bahwa Muhammadsaw. itu adalah hamba dan utusan-Nya. Wahai hamba-hamba Allah Ta’ala! Semoga Allah Ta’ala mengasihi kalian. Sesungguhnya Allah Ta’ala menyuruh supaya kalian berlaku adil dan ihsan (berbuat baik kepada manusia) dan îtâ-i dzil qurbâ (memenuhi hak kerabat dekat). Dan Dia melarang kalian berbuat fahsyâ (kejahatan yang berhubungan dengan dirimu) dan munkar (kejahatan yang berhubungan dengan masyarakat) dan dari baghyi (pemberontakan terhadap pemerintah). Dia memberi nasehat supaya kalian mengingat-Nya. Ingatlah Allah Ta’ala, maka Dia akan mengingat kalian. Berdoalah kepada-Nya, maka Dia akan mengabulkan doa kalian dan mengingat Allah Ta’ala (dzikir) itu lebih besar (pahalanya).”

 

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] كَانَ النَّبِيُّ لَيَقُومُ لِيُصَلِّيَ حَتَّى تَرِمُ قَدَمَاهُ أَوْ سَاقَاهُ فَيُقَالُ لَهُ، فَيَقُولُ: أَفَلا أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا؟