Bertahanlah dalam Doa Dengan Penuh Perhatian

 

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

30 Juni 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Bulan Ramadhan datang dipenuhi dengan berkat-berkat yang tak terhingga. Orang-orang yang memahami hakikatnya akan dapat menyerap aliran karunia darinya. Banyak orang telah dan masih saja ada yang menulis surat kepada saya bahwa mereka mendapat taufik bukan hanya mendirikan secara baik ibadah-ibadah fardhu tetapi juga ibadah-ibadah nafal seperti menyimak Daras Al-Qur’an dan Hadits-Hadits. Mereka juga mendapat taufik shalat tarawih dan shalat Tahajud. Mereka juga mendapat taufik menamatkan pembacaan Al-Qur’an. Itu semua mereka peroleh hanya dan hanya sebagai karunia Allah semata. Sebagian dari mereka menulis, “Pada hari-hari ini keadaan kami sangat menakjubkan dan aneh. Keberuntungan ruhani yang kami nikmati dan berkat-berkat yang kami kumpulkan serta keyakinan akan eksistensi Tuhan yang kami merasa berbahagia akan hal itu; semua pemandangan ini dan semua keadaan ini semata-mata karena karunia Allah semata dan bukan sedikit pun karena keistimewaan kami.”

Sekarang, mereka juga menulis dalam suratnya berdoa, “Semoga perjuangan dan upaya-upaya yang kami lakukan berupa kelezatan rohani (selama bulan Ramadhan ini) akan tetap konsisten sepanjang tahun. Semoga karunia-karunia yang kami peroleh tidak menghilang disebabkan kelemahan-kelemahan kami, kekurangan-kekurangan kami, ketidakpedulian kami, kesombongan-kesombongan kami, sikap-sikap kami yang tidak menarik ridha Allah Ta’ala atau memenuhi huquuquLlah dan huquuqul ‘ibaad sehingga itu membuat kami mahrum dari keberkatan-keberkatannya. Semoga kami tidak menyia-nyiakannya.”

Kita berdoa semoga Allah Ta’ala memenuhi harapan mereka yang telah berusaha menyerap manfaat dari aliran-aliran karunia di bulan Ramadhan. Jika terdapat kelemahan dan kekurangan; semoga Allah Ta’ala memaafkan mereka semata-mata karena karunia-Nya saja. Semoga Dia mengabulkan usaha keras mereka yang dengan bersungguh-sungguh mereka lakukan, membuat dawam nikmat-Nya yang Dia karuniakan atas mereka di bulan Ramadhan dengan rahmat dan ampunan dari-Nya, mempertinggi tolok ukur-tolok ukur yang telah mereka raih dengan setinggi-tingginya, mengabulkan upaya yang dengan rendah hati mereka lakukan dan menambahkan segi-segi kebaikan mereka.

Tapi, setiap orang dari kita harus mendoakan dirinya sendiri agar tidak mundur melainkan maju senantiasa. Demikian pula, kita harus berusaha agar tolok ukur yang telah kita capai tidak menurun dalam hal menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah dan memenuhi hak-hak para hamba-Nya. Semoga langkah-langkah kita tidak tergelincir. Semoga kita tidak hanya stagnan (tetap) dalam kedudukan itu saja bahkan kita berusaha memohon pertolongan Allah untuk maju secara terus-menerus sesuai kemampuan kita dan kita berdoa semoga Dia menganugerahi kita taufik untuk itu.

Allah Ta’ala mengarahkan perhatian para hamba-Nya dengan berbagai cara kearah doa dan berfirman, “Aku dekat!” Dia tidak berfirman, “Aku dekat pada kalian hanya di bulan Ramadhan saja”, melainkan berfirman, “Siapa yang datang kepada-Ku dalam kondisi tertekan, akan Ku-kabulkan doanya” sebagaimana firman-Nya, أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ ۗ “Atau, siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya, dan melenyapkan keburukan, dan menjadikan kamu khalifah-khalifah di bumi ?” Selanjutnya, Allah berfirman, أَإِلَٰهٌ مَّعَ اللَّهِ ۚ قَلِيلًا مَّا تَذَكَّرُونَ “Adakah tuhan lain bersama Allah? Kamu sangat sedikit mendapat pelajaran.” (Surah An-Naml, 27 : 63) Artinya, hanya Allah yang mendengarkan doa orang yang sengsara. Kesulitan orang itu akan Dia jauhkan ketika orang yang dalam keaadaan sengsara itu menyeru-Nya. Siapa lagi yang dapat mendengarkan doa-doa dan mengabulkannya selain Allah? Hanya Allah-lah yang mendengarkan doa-doa seorang pendoa dan menyingkirkan kesulitan-kesulitannya.

Di satu tempat Hadhrat Masih Ma’ud as bersabda tentang doa,

“Tuhan dalam Al-Qur’an Syarif telah menentukan tanda-tanda untuk mengenal keberadaan-Nya yaitu Tuhan kalian adalah Tuhan Yang mendengar doa yang dipanjatkan dengan penuh gelisah atau sengsara sebagaimana Dia berfirman, أَمَّن يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ am may yujiibul mudhtharra idzaa da’aahu – ‘Siapakah yang mengabulkan doa orang yang sengsara apabila ia berdoa kepada-Nya?’”[1]

Selanjutnya, di suatu tempat Allah Ta’ala berfirman, ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ “Kalian berserulah kepada-Ku, niscaya Aku dengar.” (Surah Ghafir/Al-Mu-min, 40:61) Jadi, suatu hal yang mungkin untuk senantiasa menyertai kita dalam hal menyerap manfaat ruhani, menjadi dekat dengan Allah dan pemandangan pengabulan doa. Jika Allah Ta’ala telah memperlihatkan kepada kita pemandangan pengabulan doa dan kedekatan dengan-Nya meski terdapat kelemahan kita maka itu ialah supaya kita merasakan bahwa kita harus berusaha selalu untuk menjaga kedekatan yang telah Dia anugerahkan kepada kita.

Bukanlah suatu syarat bahwa Allah seharusnya lebih dekat dengan para hamba-Nya di bulan Ramadhan saja, atau tidak peduli apa yang dilakukan atau tidak dilakukannya, dia tidak akan dekat dengan Allah kecuali pada bulan Ramadan. Tidak demikian! Melainkan, bulan ini atau hari-hari ini, yang telah dipilih Allah itu sesungguhnya hanyalah untuk mengarahkan kita. Sebab, jika orang-orang berdiri untuk ibadah-ibadah secara jamaah dan mengarahkan perhatian pada Allah maka itu akan berpengaruh terhadap mereka yang lemah juga dan itu kan membuat mereka perhatian atas hal tersebut. Namun, Allah berfirman, إِنِّي قَرِيبٌ ۖ “Aku dekat tiap waktu.” Dia berfirman: “Pergilah ke Aku dan manfaatkan kedekatan dengan Aku sepanjang waktu. Dikarenakan kalian berada di bulan Ramadhan bersama-sama berkumpul untuk mendekati-Ku dan berdoa kepada-Ku, maka Aku akan meningkatkan berkat-Ku sebagai karunia khusus dari-Ku.” Hadhrat Rasulullah saw bersabda mengenai memfokuskan pada doa-doa dan meraih kedekatan Allah: اَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ اْلعَبْدُ مِنَ الرَّبّ فِى جَوْفِ اللَّيْلِ، فَاِنِ اسْتَطَعْتَ اَنْ تَكُوْنَ مِمَّنْ يَذْكُرُ اللهَ فِى تِلْكَ السَّاعَةِ فَكُنْ Sedekat-dekat hamba kepada Tuhannya adalah di tengah malam, sehingga jika kalian memungkinkan, kalian haruslah menjadi orang-orang yang mengingat Allah pada saat tersebut.”[2]

Banyak orang yang dapat membiasakan diri melaksanakan shalat Nawafil pada bulan Ramadhan. Jika mereka terus melaksanakan shalat tersebut (di luar bulan Ramadhan) secara permanen dan berdoa kepada-Nya serta berniat ibadah ketika akan tidur maka mereka dapat mencapai kedekatan dengan Allah dan manfaat-manfaat dari itu. Jika ada kedekatan dengan Allah Ta’ala maka manusia akan berada dalam perlindungan-Nya. Selain doa-doa di malam hari, kedekatan ini pun bisa diraih di siang hari juga dengan berdzikir dan beribadah.

Hadhrat Rasulullah saw memberikan perumpamaan perihal orang yang berdzikir Ilahi yang mengingatkan kita, مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ ”Perumpamaan orang yang berdzikir mengingat Allah dengan orang yang tidak berdzikir adalah seumpama orang yang hidup dan mati.”[3]

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah menyediakan sarana-sarana kehidupan ini bagi kita di sepanjang tahun. Dia juga menawarkan kedekatan-Nya setiap waktu. Dia juga menyediakan sarana-sarana untuk pengabulan doa-doa. Kalian akan dianggap mati jika kalian hanya membatasi diri kalian pada satu bulan dalam pencapaian ini dan tidak meneruskan menaruh perhatian pada firman Tuhan pada hari-hari selain Ramadhan. Jika kita ingin benar-benar mendapatkan kehidupan hakiki, kita harus mengingat Allah di ke-11 bulan yang lainnya juga.

Pada suatu kesempatan Nabi Muhammad saw bersabda menekankan perihal dzikr kepada Allah dan memerintahkan untuk mengingat hal itu. Dalam sebuah riwayat disebutkan, وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ العَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ ، كَذَلِكَ العَبْدُ لاَ يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلاَّ بِذِكْرِ الله “Aku memerintahkan kalian untuk berdzikir kepada Allah sebanyak-banyaknya, karena perumpamaan hal itu (yakni, dzikir), seperti perumpamaan seseorang yang para musuh keluar (mengejar) di belakangnya dengan cepat, sampai ia (orang ini) datang kepada suatu benteng yang kokoh, lalu ia melindungi dirinya dari mereka (para musuh). Demikian pula seorang hamba tak akan ada yang dapat menyelamatkan dirinya dari setan, kecuali dengan dzikrullah (berdzikir kepada Allah).”[4]

Dengan demikian, Allah Ta’ala tidak membatasi pertolongan-Nya hanya di bulan Ramadhan saja melainkan firman-Nya, إِنِّي قَرِيبٌ ۖ “Aku dekat” di tiap saat dan tiap tempat. Perlindungan dari-Nya yang membentengi tersedia di tiap tempat dan di tiap waktu. Pintu-pintu perlindungannya terbuka senantiasa. Mereka yang terlindungi dari Allah ada di tiap tempat dengan rajin menghentikan setan. Demi menyelamatkan para hamba Allah, mereka setiap saat siap bersiaga. Jika manusia bertingkah laku – demi menyelamatkan diri dari musuh – dengan cara perilaku yang mengkhawatirkan karena kurangnya ilmu dan bukannya berlari menuju perlindungan Ilahi maka ini adalah dosanya, puncak kebodohan dan kepandirannya.

Tempat-tempat perlindungan dan benteng-benteng yang kita coba bangun selama bulan Ramadhan, harus kita gunakan dengan segala macam kehati-hatian untuk tetap berada dalam perlindungan dan tidak keluar dari sana karena tidak adanya kehati-hatian atau ketidakpedulian, kita menjadi mangsa (dalam cengkeraman) setan musuh bebuyutan kita. Setiap orang perlu terus berdoa dan mengupayakan kebaikan-kebaikan secara khusus setiap saat untuk tetap berada di tempat perlindungan Allah yang telah Dia sediakan untuk kita. Karena itu, fokuslah pada dzikrullah (mengingat Allah)

Bagaimanakah seharusnya kaifiyat (mutu) doa kita? Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Ingatlah! Tuhan Maha Ghani (Maha Cukup, tidak memerlukan sesuatu dari siapapun), apabila doa tidak dipanjatkan dengan sangat banyak, berulangkali dan penuh rasa perih kepada-Nya maka Dia tidak akan menghiraukannya. Tengoklah! Jika istri atau anak seseorang jatuh sakit keras atau seseorang harus menghadapi perkara yang sangat sulit dalam sidang di Pengadilan, maka disebabkan hal itu semua pasti perasaan orang itu akan sangat gelisah. Jadi, apabila di waktu memanjatkan doa tidak timbul rasa gelisah dan keperihan hati yang sesungguhnya pastilah usaha itu tidak akan menimbulkan hasil apa-apa. Keperihan hati saat berdoa adalah syarat utama dan sangat penting.”[5] Maka dari itu, perasaan tertekan dan tertindas amat penting untuk pengabulan doa. Hendaknya seseorang berdoa tidak dengan berkomat-kamit saja melafalkan suatu kalimat dengan corak kering melainkan harus ada gejolak, keperihan dan kecemasan dalam berdoa.[6]

Orang biasanya berdoa untuk dirinya sendiri dan dengan penuh keperihan sedemikian rupa melakukan doa itu sebagaimana telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa pada saat kerabat, istri dan anak seseorang mengalami kesulitan maka orang itu akan dengan penuh kepedihan berdoa. Namun, setiap orang beriman harus memperluas lingkaran [batasan] doa-doanya ini dan banyak berdoa bagi Jemaat, seluruh umat Muslim, berdoa untuk Negara masing-masing. Mereka juga harus berdoa bagi terciptanya kedamaian dan keadaan yang lebih baik bagi dunia secara umum. Mereka harus tidak melafalkan doa-doa secara kering saja tapi harus berdoa dalam rasa sakit di hati kita dan juga jiwa kita yang meleleh. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Madzhab saya ialah hendaknya kita jangan tidak menyertakan para musuh [orang-orang yang memusuhi] kita dalam doa-doa kita. Semakin luas doa-doa kita, maka semakin banyak manfaat yang akan kita terima dari Allah. Jika kita pelit (kikir) dalam hal ini [cakupan orang-orang yang didoakan], secara otomatis Allah akan jauh dari kita.”[7]

Karena itu, salah satu cara untuk mendapatkan kedekatan dengan Allah adalah dengan memperluas jangkauan lingkaran doa-doa kita dan tidak membatasinya. Itu artinya, selain ia mendapat ganjaran dari doa itu yang ia terima dari Allah, ia juga mendapat manfaat duniawi juga itu karena tiap orang berpengaruh terhadap yang lain secara lahiriah juga. Kepentingan dunia dan komunitas dunia sekarang saling terkait sejauh bahwa jika seseorang mendoakan orang lain, dia sebenarnya juga menguntungkan dirinya sendiri.

Pertama dan sebelum yang lain-lain, doakanlah untuk Jemaat. Ini merupakan kewajiban setiap Ahmadi untuk secara dawam mendoakan anggota-anggota Jemaat dalam doa-doanya.

Setiap dari kita tahu keadaan-keadaan yang para anggota Jemaat Ahmadiyah hadapi di Pakistan. Setiap hari baik dari aparat pemerintah ataupun para Maulvi lokal, ada saja bentuk atau jenis penentangan-penentangan yang mereka lakukan seperti diantaranya mengajukan ke pengadilan. Semoga Allah menyelamatkan para Ahmadi dari para pembuat keburukan terhadap mereka. Kondisi dalam negeri di Pakistan yang terkini, pemerintah – untuk mengalihkan perhatian masyarakat – dengan berbagai sarana, cara atau jalan atau menyewa sekelompok orang untuk menyerang berusaha membuat kerugian bagi golongan lemah atau jumlahnya sedikit. Atau mereka membuat (menyuruh membuat) suatu gerakan dan setelah itu atas nama law and order (hukum dan ketertiban umum) orang-orang itu akan membuat undang-undang (UU) baru sesuai kehendak hati mereka yang dengan dijalankan UU itu pemerintah dapat meraih kursi suara lebih kokoh. Kabar-kabar seperti ini sering kita baca di media. Hakikatnya, Allah Ta’ala lebih tahu soal ini. Pemerintah-pemerintah masih saja berperilaku seperti politik pemerintah di masa lalu. Rencana-rencana seperti ini dilakukan oleh orang-orang politik. Maka dari itu, ada keperluan menaruh perhatian pada doa.

Para Ahmadi yang tinggal di Pakistan harus berdoa secara khusus. Saya juga pernah mengatakan berkali-kali sebelumnya bahwa tidak ditemukannya dalam doa-doa berupa kepedihan dan kegelisahan yang diperlukan, jadi Anda harus memberi perhatian khusus terhadap hal ini. Adapun terkait usaha lainnya selain doa-doa, kita tidak pernah main hakim sendiri (tidak mengambil hukum di tangan sendiri) dan kita tidak pernah di masa lalu dan tidak akan melakukan hal ini di masa mendatang juga. Melainkan, satu-satunya senjata yang kita miliki adalah doa-doa kita yang secara terus-menerus kita gunakan itu. Lantas, Tuhan menyelamatkan Jemaat dari rencana mereka, yang mereka siapkan untuk melenyapkan Jemaat dan akan menyelamatkan mereka di masa depan, bahkan Jemaat akan mendapatkan kemajuan lebih cepat dari sebelumnya, dengan izin Allah.

Begitu juga yang terjadi di Aljazair (Algeria), dimana ada banyak ketegangan dan tekanan terencana terhadap para Ahmadi di sana. Selain satu dua orang, umumnya mereka tetap kokoh dalam iman. Mereka mengirim surat kepada saya perihal itu, “Hudhur, jangan mencemaskan kami. Kami siap mengorbankan semua jenis pengorbanan.” Salah seorang bahkan menulis, “Saya baru jadi Jemaat. Benar bahwa kami Jemaat baru. Baru 10 tahun lalu berdiri Jemaat di Negara kami tapi sejarah pengorbanan kami sudah amat tua. Sebagaimana di masa lalu kami telah mengedepankan pengorbaan, lalu mengapa pada masa ini pun kami tidak mempersembahkan pengorbanan? Pemerintah bingung dengan masalah ini dan tidak mengerti orang Ahmadi itu jenis manusia yang bagaimana. Mereka tidak menunjukkan reaksi yang keras dan juga tidak berbalik dari keyakinan mereka. Semua siap – pria dan wanita – untuk menerima sanksi apapun, namun mereka tidak menerima untuk melepaskan iman mereka. Semua laki-laki dan perempuan siap menghadapi hukuman namun tidak siap melepaskan keimanannya.”

Penyebab semua hal ini ialah terdapat senjata doa bagi para Ahmadi dan meyakini karunia-karunia Allah. Mereka juga meyakini suatu hari ujian ini akan berakhir dan Allah pasti mendengar doa mereka. Kita tunduk kepada Allah Yang memiliki semua kemampuan. Jika terdapat ikatan yang kuat dengan-Nya dalam diri seseorang, maka Allah akan menjadi pendukung dan perlindungan yang kuat baginya. Tuhan kita amat Agung dan Luhur dari semua raja dan pemerintah. Dia tidak bergantung pada siapapun dan pemerintah-pemerintah duniawi ini dan kekuatan-kekuatan duniawi tidak mampu menyamai sebutir dzarah pun dibanding dengan yang ada pada-Nya. Jika Tuhan kita Maha Agung hingga ke derajat demikian maka tidak perlu takut. Tidak diragukan lagi bahwa manusia menanggung ujian-ujian dan terpaksa menghadapi pengorbanan-pengorbanan namun kemenangan akhir ditentukan bagi yang Allah bersamanya. Sejarah Jemaat mengabarkan pada kita bahwa Allah Ta’ala melindungi Jemaat di setiap negeri dan tidak ada bagian bagi para musuh kecuali kekecewaan dan kegagalan.

Ada keharusan mendesak untuk membentengi diri dalam benteng Allah yang kuat melalui fokus kita pada permohonan doa dan dzikr Allah secara konstan dan berkali-kali. Inilah tugas setiap Ahmadi di Pakistan untuk fokus pada doa seperti yang saya katakan sebelumnya juga. Beberapa orang beranggapan telah aman dari bahaya secara langsung yang menyebabkan kekurangan beberapa orang dalam berdoa. Mereka tidak memperhatikan doa sebagaimana mestinya. Namun, mereka harus ingat bahwa mereka juga tengah mengalami cobaan dan ujian juga [dalam kondisi kemakmuran dan kemudahan] sehingga mereka harus masuk ke dalam perlindungan Tuhan untuk menyelamatkan iman mereka. Mereka harus berdoa sebelum menderita situasi yang seperti ini. Jika beberapa orang Jemaat telah menikmati kemudahan dan kenyamanan duniawi, mereka juga harus mendoakan semua saudara mereka yang mengalami ketidakadilan dan penindasan. Semoga Allah menghapus semua kekhawatiran mereka tentang Jemaat dengan sendirinya. [Aamiin]. Siapa yang berdoa demi menghapus kekhawatiran orang lain, berarti ia tengah menghilangkan kekhawatirannya sendiri.

Mereka yang tinggal di negara-negara Barat atau di negara maju tidak boleh menganggap diri mereka aman kebal. Para Ahmadi juga akan terdampak oleh kecenderungan anti Islam ini yang telah meningkat di negara-negara Barat yang maju. Mereka tidak peduli bahwa kita bukanlah pelaku tindak terorisme yang mana itu dilakukan sebagian kalangan Muslim lainnya. Kita damai, mencintai perdamaian dan mempraktekkan ajaran Islam yang menyebarkan kasih sayang dan persahabatan, namun tidak semua orang tahu siapa kita. Apa tujuan pengutusan Hadhrat Masih Mau’ud as?

Jika kita telah membawa pesan beliau ke semua orang, situasinya akan berbeda. Mereka yang melakukan pekerjaan semacam itu acak saja. Kejadian semacam itu juga terjadi di sini, di mana mereka yang anti Islam dan juga nasionalis ekstrim melakukan operasi semacam itu terhadap orang-orang Muslim seperti yang mereka lakukan terhadap golongan-golongan lain untuk menyakiti mereka.

Salah seorang Ahmadi menulis kepada saya, “Atasan saya senang dengan pekerjaan saya dan dia sangat memuji saya dan sangat terkesan dengan etika saya, tapi perlakuannya berubah dengan saya sejak waktu dekat ini. Dia menjadi menentang saya disebabkan penentangannya terhadap kaum Muslim dan sekarang ingin mengeluarkan saya dari pekerjaan.”Peristiwa semacam itu meningkat jika tidak dibatasi dan ditangani pada waktu yang tepat.

Ketahuilah bahwa tidak ada obat untuk hal-hal ini selain berdoa, dan tidak ada yang bisa menyelamatkan diri sendiri tanpa memperkuat hubungan dengan Allah. Jika Allah telah menyatakan, “Kalian datang kepada-Ku dengan ikhlas, dan jika kalian mendoa kepada-Ku niscaya Aku akan menanggapi seruan kalian.”

Kita harus memanfaatkan semua kemampuan kita untuk menggunakan sarana ini. Bila semua rencana gagal, kita harus menghadap dan mengadu kepada Allah Yang Maha Penerima Taubat, karena kita tidak dapat melepaskan diri dari perangkap dan masalah ini tanpa melakukan hal itu.

Janganlah hanya menyoroti masalah terbatas pada orang-orang Muslim atau orang-orang Ahmadi saja, melainkan keadaan seluruh dunia beralih ke nasib yang demikian maju menuju murka Allah dan penghancuran dirinya sendiri. Kekuatan besar (Negara-negara adidaya) mengharap-harapkan terjadinya persaingan dan permusuhan di kalangan umat Islam yang telah menjadi boneka di tangan mereka. Hal itu melemahkan kekuatan mereka (umat Islam) dan menunda kemajuan negara mereka selama beberapa dekade. Rencana Amerika saat ini tampaknya sangat serius. Perang di Suriah telah diciptakan sehingga Iran akan turun tangan secara langsung untuk membantu Suriah dan mungkin juga mengirim pasukannya, yang memungkinkan Amerika dan Israel untuk berdua bersama melampiaskan permusuhan mereka ke Iran dan memulai perang langsung dengan Iran. Sayangnya, pemerintah Saudi Arabia berdiri di samping mereka berdua (AS dan Israel).

Hal inilah yang tampaknya terjadi, dan kekuatan ini bekerja dengan semua perencanaan yang dimotivasi oleh kebencian dan dendam untuk melemahkan kaum Muslimin. Jika perang ini dimulai, maka tidak akan terbatas itu saja, tapi Rusia juga akan membantu pihak kedua (Iran dkk), sesuatu yang telah ditunjukkan oleh Rusia dari waktu ke waktu. Dengan demikian, inilah kemungkinan munculnya gambaran perang global, yang oleh beberapa analis katakan sekarang. Sebagai hasil dari perang ini, negara-negara Islam yang telah membuat beberapa kemajuan akan tertunda (mundur) selama beberapa dekade. Beberapa negara Muslim saja telah mengalami kemunduran. Kerugian terbesar akan diderita umat Islam.

Masalah Qatar akhir-akhir ini adalah usaha lain untuk memprovokasi (memanas-manasi) perang antar umat Islam. Masalahnya lebih besar daripada perang melawan terorisme. Iri hati tampaknya lahir di hati karena sektarianisme (perbedaan golongan) dan ada upaya untuk mengendalikan kekayaan pihak lain dan membuat mereka sebagai sub ordinat (bawahan atau tunduk). Amerika Serikat (AS) mengizinkan Arab Saudi untuk terlebih dahulu memberlakukan pembatasan (pemboikotan) terhadap Qatar. Hal ini dilaporkan di media massa pada umumnya, karena langkah-langkah [dari pihak Saudi] ini diambil untuk memberlakukan larangan terhadap Qatar setelah mendapat izin dari AS selama tur presiden AS ke Arab Saudi. Setelah pemerintah AS menyelesaikan pekerjaan ini, mereka mengatakan bahwa Arab Saudi dan negara-negara sekutunya menempatkan kondisi yang sangat sulit untuk rekonsiliasi (perdamaian) dengan Qatar dan harus meringankan syarat-syarat mereka. Pemerintah AS juga mulai menunjukkan simpati kepada Qatar untuk berpura-pura bersikap netral dalam kasus ini. Negara-negara Islam tidak menyadari bahwa ini adalah plot melawan umat Islam, bahkan itu sebuah persekongkolan melawan Islam yang harus menyelamatkan diri darinya.

Bukan Timur Tengah dan negara-negara Arab saja yang mungkin dapat menyalakan api perang, tapi ketegangan antara Amerika dan Korea Utara juga meningkat dari hari ke hari. Pengamat situasi dan keadaan yang tampak mengatakan dengan jelas bahwa penggunaan senjata ringan atau perlakuan keras dari pihak Amerika Serikat atau penggunaan senjata oleh Korea – walau jika hanya untuk mengintimidasi pihak lain saja – akan menghasilkan perang yang menghancurkan di wilayah tersebut. Situasi dunia sangat serius dan menakutkan. China adalah sekutu Korea Utara, tapi juga merasakan perang yang mengerikan dan keseriusan situasi, mencoba untuk memberi pemahaman terhadap Korea Utara dan Amerika juga.

Penemuan-penemuan baru telah memfasilitasi bagi manusia kemudahan dalam banyak hal yang berkaitan dengan komunikasi, menyimpan catatan dan data dalam pelaksanaan urusan ekonomi dan pelaksanaan sistem lainnya. Komputer telah menggantikan banyak fungsi, dan penemuan ini sendiri bisa menjadi sarana untuk penghancuran dunia. Hari-hari ini cyber attack (serangan internet) berulang kali terjadi di negara tertentu kadang-kadang dan di dunia. Karena itu, seluruh sistem bisa menjadi rusak. Sistem layanan kesehatan nasional yang ada di Inggris (NHS) juga telah terganggu, dan sistem Bandar udara telah terganggu. Serangan cyber (siber) ini juga bisa memainkan peran berbahaya dalam penggunaan mesin-mesin perang dan menyebabkan perang meletus dan mengarah pada kehancuran. Seorang perwakilan NATO telah menjelaskan (mengancam) kapan pun ada serangan virus siber terhadap komputer NATO atau institusi sensitif lainnya di dunia, maka itu dapat menyebabkan perang ganas, tidak akan membiarkan serangan lain dari segi ini. Dia mengeluarkan peringatan ini.

Para penduduk dunia menciptakan sendiri sarana-sarana menuju kehancuran mereka. Mereka pikir kemajuan duniawi menjamin perlindungan dan keamanan mereka. Amerika dan para sekutunya bekerja sebagai satu tim untuk menghancurkan dan menyebabkan kekacauan di negara-negara Muslim. Meskipun ada kemungkinan bahwa kemajuan ini mengarah menuju kehancuran, tetap saja kemudian orang-orang di dunia dan penguasa materi tidak peduli sedikit pun demi kepentingan pribadi mereka. Apalagi saat kepala Negara superpower lahiriah [Presiden Amerika Serikat] berbicara secara mengejek di cangkang istananya, bahwa dunia akan menurut sesuai dengan keinginannya. Hal ini membuat situasi semakin sulit. Dari ucapannya ini, satu hal jelas bahwa karena kesombongannya, dia bertekad untuk melenyapkan semua lawannya, apapun hakikatnya, terutama terhadap umat Muslim karena dia membenci mereka, tapi dia pun tidak sadar bahwa dengan ucapannya itu dia juga tidak akan aman dari konsekuensi yang mengerikan atas kondisi dunia yang diciptakan dengan berbagai cara.

Suatu kemalangan bagi umat Muslim ialah raja-raja mereka di tempat yang merupakan markas Islam bersifat tidak dapat dipercaya. Demi keuntungan pribadi dan dominasi regional, mereka justru jatuh dalam pangkuan negara-negara Non Muslim yang dengan itu justru memperlemah Islam. Inilah keadaan pemerintah kerajaan Saudi sebagaimana telah saya sebut sedikit tadi. Pemerintah-pemerintah Muslim umumnya telah menjadikan sejumlah besar penduduk mereka sebagai penentang mereka karena tindakan-tindakan zalim atas mereka. Mereka masih saja berbuat zalim demi mengokohkan pemerintahan mereka. Inilah yang terjadi di Suriah, Irah dan negara-negara lain sampai batas tertentu. Dengan berbuat demikian mereka berpikiran tengah menghilangkan kesulitan-kesulitan. Orang-orang ini tidak memahami bahwa satu-satunya solusi permasalahan-permasalahan tersebut adalah sesuai dengan yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad saw, yaitu menerima Al Masih yang dijanjikan dan Imam Mahdi.

Kita para Ahmadi ialah lemah. Pada kita tidak ada suatu kekuatan. Kita tidak mempunyai harta kekayaan. Kita tidak mempunyai pemerintahan. Namun, meski demikian, beruntunglah kita yang telah mengimani Al-Masih dan Al-Mahdi yang datang sesuai petunjuk dari Nabi Muhammad saw. Perdamaian ini akan terwujud dengan mengamalkan cara-cara yang sesuai penjelasan dan arahan Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika dunia dapat selamat dari peperangan-peperangan, kerusakan-kerusakan dan kehancuran-kehancuran maka terdapat satu-satunya jalan yaitu setiap Ahmadi berdoa dengan keperihan hati guna menyelamatkan umat manusia dari kehancuran. Kemudian, Hadhrat Rasulullah saw juga bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ “Doa yang dipanjatkan di saat menghadapi turun ibtila (ujian), apakah telah terjadi atau yang belum akan datang itu sangat bermanfaat [Doa-doa dapat membuat kemalangan, malapetaka, cobaan-cobaan dan kesengsaraan dapat ditahan dan dihadapi, dan kemalangan, malapetaka, cobaan-cobaan dan kesengsaraan yang akan datang dapat dihindari]. Ini merupakan kewajiban dari setiap hamba Allah Ta’ala untuk senantiasa memanjatkan doa.”[8]

Jadi, merupakan sesuai petunjuk Nabi Muhammad saw bahwa kita harus banyak-banyak menekankan diri pada berdoa. Hari ini setiap Ahmadi merasakan kesedihan para warga dunia dan merasakan kepedihan dan musibah yang belum turun atas mereka yang tidak mereka rasakan. Para Ahmadi ini lalu berdoa untuk mereka. Ketika para penguasa dan sekelompok warga berjuang demi keuntungan mereka, namun jutaan orang tak berdosa di dunia tidak tahu apa yang terjadi dengan mereka dan apa yang akan menimpa mereka segera, mereka tidak berbahaya dan tidak bersalah. Jadi tugas kita untuk mendoakan mereka.

Dengan bersandar kepada hal-hal materi, orang-orang duniawi berpikiran dalam benteng-benteng duniawi itu dapat membuat mereka aman dari dampak-dampak ini. Mereka tidak menyadari bencana-bencara dan kehancuran-kehancuran dengan cepat dan besar berada di depan mereka. Sekarang, para ghulam (pelayan) Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam jika pada satu segi harus berdoa untuk diri mereka sendiri semoga Allah Ta’ala menegakkan dan menguatkan keagamaan mereka, menambahkan perhatian mereka kearah doa dan hubungan dengan Allah dan menjauhkan kecemasan dan kesulitan mereka; pada saat yang sama juga harus berdoa bagi umat Islam. Semoga umat Islam dianugerahi akal sehat agar mereka memahami kedudukan dan tanggungjawab mereka. Semoga mereka (orang-orang Muslim non Ahmadi) tidak tergelincir jatuh ke pangkuan mereka yang anti Islam. Semoga demi keselamatan dan kemajuan mereka sendiri, mereka menjadi orang-orang yang beriman kepada utusan Allah Ta’ala.

Demikian pula, dengan penuh rintihan kita berdoa supaya Allah Ta’ala menyelamatkan kemanusiaan dari kehancuran. Berdoalah supaya tidak ada bala bencana peperangan. Dengan doa dan sedekah, bala musibah dapat disingkirkan. Jika terdapat kecenderungan kepada ishlaah (perbaikan diri) maka itu dapat membuat dunia selamat dari peperangan. Itu membahagiakan kita. Kita tidak akan bahagia bila sebagian dunia ini hancur lalu para penduduknya menjadi sadar dan tunduk kepada Allah Ta’ala dengan beriman kepada para utusan Allah. Tidak demikian. Melainkan, kita akan bahagia bila siapa pun tidak hancur karena perbuatan-perbuatannya yang buruk, dan kita berupaya dan berdoa untuk itu. Semoga warga dunia Dia berikan akal sehat untuk menyelamatkan diri dari akhir yang buruk. Jika ada tugas para pelayan Hadhrat Masih Mau’ud as adalah menyebarkan pesan bahwa memasuki benteng keselamatan sekarang terikat pada kepatuhan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as saja, seiring dengan itu kita juga harus mendoakan mereka dengan keyakinan bahwa Allah akan memberi mereka akal sehat setelah doa kita untuk mereka dan menyelamatkan mereka dari jatuh ke dalam jurang kebinasaan.

Semoga Allah membantu kita juga untuk memenuhi misi yang untuk itu Hadhrat Masih Mau’ud as diutus ke dunia yaitu membawa seluruh dunia di bawah bendera Nabi Muhammad saw. Kita harus menggunakan semua kompetensi dan usaha kita untuk melakukannya dan menyampaikan doa-doa kita hingga ke puncaknya, karena telah ditakdirkan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as akan mendapat kemenangan melalui sarana doa.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah diberi senjata doa. Oleh karena itu, sebagaimana telah saya katakan, kita harus menaruh perhatian khusus terhadap doa dan ibadah-ibadah bertambah lebih banyak dibandingkan sebelumnya sehingga setelah Ramadhan pun jalinan kita semakin kokoh dengan Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk itu. Aamiin.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Doa adalah harta kekayaan dan kekuatan yang amat besar. Al-Qur’an berkali-kali telah memotivasi dan juga menceritakan riwayat hidup orang-orang yang selamat dari musibah-musibah melalui perantaraan doa. Dasar kehidupan para Nabi ‘alaihimus salaam dan sarana hakiki dan sejati untuk keberhasilan dan keselamatan mereka ialah doa. Saya menasihati kalian untuk terus berlanjut dalam doa dengan maksud untuk menambah kekuatan kalian dalam keimanan dan amal perbuatan. Dengan berdoa, terjadi perubahan yang berdampak akhir yang baik dengan karunia Tuhan.”[9]

Semoga Allah Ta’ala menganugerahi kita khatimah bil khair (akhir yang baik), tidak terjadi selamanya pada diri kita berada dalam naungan setan dan kita hidup sesuai dengan apa-apa yang Allah Ta’ala perintahkan dan juga Rasul-Nya saw perintahkan. [آمين Aamiin.]

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Ayyamush Shulh, Ruhani Khazain jilid 14, halaman 259-260

[2] Riwayat dari ‘Amr bin ‘Absah ra dalam Sunan at-Tirmidzi, bab-bab tentang doa-doa, no. 3579.

[3] Shahih al-Bukhari,Kitab tentang doa-doa, bab manfaat dzikr Ilahi, no. 6407, riwayat Abu Musa al-‘Asy’ari

[4] Sunan At-Tirmidziy, Abwaabul Mitsaal, perumpamaan tentang shalat, no. 2863

[5] Malfuzhat, jilid 10, h. 137, edisi 1985, terbitan UK

[6] Malfuzhat, jilid 2, h. 336, edisi 1985, terbitan UK

[7] Malfuzhat, jilid 2, h. 74, edisi 1985, terbitan UK

[8] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang doa-doa; juga dalam Mustadrak dan al-Baihaqi.

[9] Malfuzhat, jilid 7, h. 268-269, edisi 1985, terbitan UK

(Visited 90 times, 1 visits today)