Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 11 Juni 2010 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

 

Hari ini saya akan menyampaikan khotbah berkenaan dengan para syuhada yang menjadi sasaran kekejaman dan kebiadaban sekelompok teroris ketika melaksanakan ibadah shalat Jumat di Lahore. Sebagaimana telah saya katakan pada kesempatan khotbah Jumat yang lalu bahwa meskipun maut sudah berada di depan mata, tapi setiap Ahmadi yang berada di sana tidak merasa gentar. Mereka tidak memelas meminta belas kasihan di hadapan para teroris itu, tidak juga mengemis minta kehidupan kepada mereka, melainkan senantiasa sibuk berdoa dan berupaya untuk menyelamatkan satu sama lain. Memang mereka berusaha menyelamatkan nyawa orang lain setelah merelakan nyawanya sendiri, tetapi mereka tidak lantas panik berhamburan ke sana kemari.

Doa-doalah yang menjadi andalan mereka dalam melawan teroris yang sedang memberondongkan peluru ke arah mereka dengan cara yang biadab. Di antara orang-orang yang berdoa itu, sebagian orang mukmin telah dianugerahi derajat syuhada oleh Allah Ta’ala. Setelah meraih derajat itu, mereka telah dianugerahi kehidupan yang abadi oleh Allah Ta’ala. Insya Allah Ta’ala dalam sejarah Jama’at Ahmadiyah, mereka (para syuhada) akan selalu berkilau seperti bintang-bintang yang memancarkan cahayanya. Semoga Allah Ta’ala terus meninggikan derajat mereka. Walhasil, saya ingin menyampaikan riwayat hidup para syuhada itu.

Sebelum mengenang kebaikan mereka, saya ingin menjelaskan tentang suatu hal yang penting. Ahmadi dari berbagai Jemaat bertanya kepada saya bahwa bagi mereka yang ingin memberikan sumbangan dana (keluarga) syuhada, diserahkan kepada pos yang mana? Begitu juga beberapa saudara kita memberikan masukan, supaya dibuatkan fund untuk para syuhada. Hal ini disebabkan karena ketidaktahuan mereka, padahal fund (dana) untuk para (keluarga) syuhada dengan karunia Allah Ta’ala sudah dicetuskan sejak masa Khalifah ke IV yang dinamakan Sayyidina Bilal Fund, dan di masa saya juga pernah menggalang pengumpulan dana (Bilal Fund) pada kesempatan Hari Raya Id dan dalam dua khotbah saya dengan sangat rinci.

Dengan karunia Allah Ta’ala semata bahwa dari dana tersebut bisa membantu keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para syuhada. Bagi mereka yang membutuhkan, dari dana itulah kebutuhannya bisa terpenuhi. Jika dalam fund tersebut tidak ada dana, dengan karunia Allah Ta’ala tetap saja merupakan hak mereka dan tanggungjawab Jama’at juga untuk memikirkannya dan dengan karunia Allah Ta’ala kita akan selalu memperhatikan mereka. Bagaimanapun Sayyidina Bilal Fund sudah ada. Jika ada yang ingin menyumbangkan dana bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan oleh para syuhada, bisa membayarkannya pada pos tersebut. Hari ini dari semua syuhada, yang pertama akan saya sampaikan adalah:

(1) Yang terhormat Tn. Munir Ahmad Syeikh, disyahidkan di Darudz Dzikr. Beliau menjabat sebagai Amir Wilayah Lahore. Ayahanda beliau adalah Yang terhormat Tn. Syeikh Tajuddin seorang kepala stasiun yang baiat masuk ke dalam Jemaat pada tahun 1927. Beliau (Ayahanda Tn. Syeikh) adalah warga Jalandhar dan kawan dekat Almarhum Tn. Malik Saifur Rahman. Sebelum baiat, keduanya, Ayahanda Tn. Syeikh dan Hadhrat Tn. Mufti Malik Saifur Rahman adalah penentang keras Jemaat. Setelah mereka melihat buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as dan membaca syair-syair yang ditulis oleh Hadhrat Masih Mau’ud as yang isinya menggambarkan keagungan Hadhrat Rasulullah saw, maka pada diri mereka berdua timbul rasa penasaran dan setelah membaca beberapa buku (Hadhrat Masih Mau’ud as), hati mereka berdua menjadi suci bersih.

Alhasil, Tn. Syeikh Munir Ahmad adalah putera Tn. Syeikh Tajuddin. Tn. Syeikh Munir Ahmad meraih gelar LLB (Bachelor of Law) dan setelah lulus beliau bertugas sebagai hakim yang ditugaskan di berbagai tempat, dari hakim persidangan jabatan beliau meningkat menjadi hakim khusus anti korupsi kemudian menjadi hakim khusus di bea dan cukai dan juga bekerja untuk NAB sampai pensiun pada tahun 2000. Syeikh Sahib di setiap tempat sangat terkenal sebagai orang yang jujur dan adil. Siapapun yang bergaul dengan beliau, pasti akan mengenal beliau sebagai orang yang mencintai kejujuran dan keadilan serta tidak pernah takut dengan siapapun. Di Rawalpindi, beliau ditugaskan sebagai hakim untuk mengadili dua pihak yang bertikai. Pihak yang satu terdiri dari sekelompok wanita Ahmadi Lahore yang pengacaranya ialah Mujibur Rahman Sahib. Pihak kedua adalah sekelompok maulwi (ulama).

Tn. Munir Ahmad Syeikh mengatakan kepada kedua pihak tersebut, “Saya seorang Muslim Ahmadi, jika ada yang keberatan silahkan utarakan.” Lawan (penggugat) kelompok kedua (kelompok Maulwi) di pengadilan tersebut adalah orang-orang Ahmadi Paighami (Ahmadiyah Lahore yang menolak Khilafat II dan setelahnya), tapi mereka (kelompok Maulwi) mengatakan, “Kami menerima dan kami ingin supaya tuanlah yang akan memutuskan perkara ini.”

Sedangkan kelompok pertama diwakili oleh Mujibur Rahman yang seorang Ahmadi. Beliau (Mujibur Rahman) mengatakan, ”Saya khawatir jangan-jangan untuk menegakkan keadilan dan kejujuran, sang hakim (Syeikh Munir Ahmad Sahib) akan memberikan keputusan yang akan merugikan klien saya (kelompok wanita).” Tapi beliau (Syeikh Munir Ahmad Sahib) senantiasa menegakkan keadilan dan memutuskan suatu perkara atas dasar kejujuran dan keadilan, dan akhirnya pengadilan tersebut dimenangkan oleh kelompok wanita tadi, sebaliknya kekalahan berada di pihak kedua (kelompok Maulwi).

Beliau memiliki wawasan ilmu yang sangat luas, pemberani dan tegas dalam memberikan keputusan. Beliau selalu memperlakukan para pegawai dan orang-orang miskin dengan penuh kasih sayang. Memiliki sifat-sifat darwesy. Kapan saja saya berjumpa dengan beliau, sepanjang yang saya ketahui, beliau adalah orang yang sederhana. Dalam Jemaat, beliau pernah menjabat sebagai direktur Fazl-e-Umar Foundation. Selain itu sejak permulaan, beliau berkhidmat sebagai Sadr untuk daerah Model Town dan Garden Town.

Istri beliau menceritakan, “Beliau selalu menjaga dan membina kami (istri dan anak-anak). Beliau (Syeikh Munir Ahmad Sahib) selalu mengatakan, ‘Saya adalah anak seorang kepala stasiun yang miskin sedangkan mereka (anak-anak beliau) menganggap diri mereka sebagai anak seorang Hakim. Karena itu, maka mau tak mau saya harus memperhatikan segala keperluan anak-anak.’ Beliau ikut serta dalam nizam wasiyyat. Seperti yang telah saya sampaikan beliau disyahidkan di Darudz Dzikr.

Sehari sebelum beliau disyahidkan, saudara perempuan beliau menjelaskan berkenaan dengan Alwasiyat kepada Lajnah Imaillah bahwa Alwasiyat juga merupakan sarana untuk meraih surga. Ketika saudara perempuannya itu pulang ke rumah, dia menanyakan lagi kepada Syeikh Sahib, “Apakah yang saya katakan tadi benar?” Beliau menjawab, “Memang benar, namun jaminan hakiki untuk mendapatkan surga adalah dengan mati syahid.”

Istri beliau mengatakan, ”Sebelum disyahidkan saya menerima telepon dari suami (Syeikh Sahib) saya, beliau berkata, ‘Kepala dan kaki saya terluka.’ lalu berkata dengan suara keras, ‘Saya baik-baik saja.’ Para khuddam meminta supaya beliau dibawa ke basement (lantai bawah gedung), tapi Syeikh Sahib menolaknya. Ketika penembakan dimulai, maka beliau berdiri sambil mengangkat kedua tangan dan memerintahkan orang-orang untuk duduk, membaca shalawat dan banyak berdoa. Saat itu beliau tidak sedang membawa hand phone, lalu meminjam hand phone dari seorang pemuda dan menelpon ke rumah beliau dan kantor polisi. Polisi mengatakan, ‘Kami sudah sampai di tempat kejadian.’ Lantas dengan nada marah beliau berkata kepada para polisi, ‘Lalu kenapa tidak masuk ke dalam gedung?’ (Pada akhirnya-pent) seorang pemuda yang meminjamkan hand phone kepada beliau, mendengar suara beliau (Syeikh Sahib) untuk terakhir kalinya mengucapkan Asyhadu allâ ilâha illalLôh.

Istri beliau mengatakan, “Sebelum Syeikh Sahib pergi ke mesjid untuk melaksanakan shalat Jumat, beliau menyerahkan uang candah kepada saya dan mengatakan, ’Simpan uang ini olehmu!’ Karena sebelumnya beliau tidak pernah melakukan hal seperti itu, sehingga saya menjawab, ‘Simpanlah uang ini di tempat anda biasa simpan.’ Beliau menjawab, ‘Tidak, untuk hari ini simpanlah olehmu! Karena kantor tutup hari ini, oleh karena itu belum bisa dibayarkan hari ini.’ Begitu juga beliau memberitahu saya mengenai suatu case (perkara kasus). Syekh Sahib juga menceritakan suatu perkara kepada saya yang jadwalnya diundurkan, beliau menitipkan sejumlah uang amanat untuk disimpan dalam arsip perkara tersebut. Padahal sampai hari ini (selama ini) beliau belum pernah mendiskusikan mengenai suatu perkara apapun kepada saya”.

Setelah pensiun bahkan sebelum itu, Syekh Sahib pernah mengajukan dua kali permohonan kepada Hadhrat Khalifatul Masih IV rh supaya wakaf beliau diterima. Hudhur rh bersabda kepada beliau, ”Lakukanlah pekerjaan yang sedang tuan jalani saat ini, karena dengan perantaraannya tabligh Jemaat lebih efektif untuk saat ini supaya orang-orang mengenal, bagaimana (kualitas akhlak-Pent) para pejabat Ahmadi.” Salah seorang putera beliau mengatakan, “Saya pernah menyarankan kepada beliau untuk membayar pengawal pribadi demi keselamatan.” Beliau menjawab, ”Apa gunanya? Jika saya mati tertembak, maka saya akan menjadi syahid.”

Seorang Muballigh Jemaat kita, Tn. Mubasyir Majid yang bertugas di Gulberg, Lahore, menulis satu peristiwa tentang beliau, “Pada tahun 1997-1998 saya menerima telepon dari muballigh wilayah bahwa ada ulama besar ghair Ahmadi yang ingin berjumpa dengan kami berdua (kedua muballigh). Ulama itu pejabat tinggi perkumpulan ulama Pakistan. Kami berdua berencana untuk pergi menemui ulama tersebut. Saya heran apa perlunya berjumpa dengannya, masalah datang. Akhirnya saya pergi dengan muballigh wilayah untuk berjumpa dengan ulama besar itu. Kantor sekretariatnya terletak di tengah-tengah taman hijau. Ketika kami tiba di sana, kami bertemu dan berkenalan dengannya. Ia menjabat sebagai sekretaris Majlis Ulama Pakistan dan dia juga adalah penentang keras Jemaat. Ia menceritakan, ‘Orang-orang bea cukai telah mengadukan saya ke pengadilan untuk disidang atas tuduhan palsu. Yang menjadi hakim pada persidangan saat itu adalah orang yang sangat aneh (Syekh Sahib). Sudah tiga kali saya menghadapi persidangan. Setiap kali saya mengikuti persidangan, setelah duduk di kursi, sang hakim memukul meja dengan kerasnya dan berkata, ”Listen every body! Saya adalah seorang Ahmadi, mulailah proses persidangan ini!’

Maka, ulama ini mengatakan, ”Saking takutnya, belum apa-apa rasa-rasanya jantung saya sudah copot setengahnya. Apa yang beliau katakan itu, saya rasakan di dalamnya terkandung pesan, ‘Nak, sekarang kamu sudah berada dalam genggamanku, kini kamu tidak akan kulepaskan’. Demi Tuhan, tolonglah saya supaya saya bisa selamat darinya (Syekh Sahib). Saya rasa pak hakim akan menghukum saya atas dasar pertentangan mengenai agama. Orang yang aneh sekali. Sudah saatnyakah? Tepatkah kondisinya? Orang ini datang lalu memukul meja dan mengumumkan bahwa dia adalah seorang Ahmadi, membuat saya berkeringat dingin.”

Muballigh Sahib menceritakan lagi, ”Saya katakan kepadanya, ‘Anda keliru dan tidak memahami pesan dari apa yang pak hakim katakan itu. Dengan menggebrak meja sambil berkata, ”Semuanya dengarkan, saya adalah seorang Ahmadi!” Maksudnya bukanlah beliau ingin mengintimidasi dan menakut-nakuti tuan, melainkan maksudnya adalah, ”Dengarkanlah dengan baik! Saya adalah (hakim) seorang Ahmadi, saya tidak akan menerima uang suap apapun ataupun mendengarkan rekomendasi siapapun, dan saya juga tidak bisa dipengaruhi sehingga menghasilkan putusan yang berat sebelah. Saya hanya takut kepada Allah semata.”’

‘Tujuan beliau (hakim) yang sebenarnya adalah ingin menyampaikan bahwa kasihanilah kami, jangan memaksakan kehendak kepada kami dengan rekomendasi apapun, kami tidak akan melakukan hal yang demikian.’

Singkat kata, orang itu sangat kebingungan dan khawatir, ‘Jika dia mengintimidasi saya nanti, bagaimana nasib saya?’ Muballigh kita berkata, ‘Sesuai dengan perkataan tuan, jika tuan tidak bersalah, kami meyakinkan tuan bahwa jika hanya atas dasar perselisihan keagamaan, beliau tidak akan memvonis hukuman kepada tuan.’ Setelah itu kami meninggalkan sekretaris Majlis ulama itu. Lima hingga enam bulan kemudian saya menerima telepon dari PA (asisten pribadi) yang memberitahukan, ‘Beliau (sekretaris majlis ulama) dinyatakan bebas tidak bersalah oleh pengadilan dan tuan ulama kami yang merupakan pimpinan majlis ulama menyampaikan ucapan terima kasih kepada tuan.’ Saya (Muballigh) menjawab, ‘Sampaikanlah kepada beliau untuk tidak perlu berterima kasih kepada kami, sampaikanlah ucapan terima kasih itu kepada Imam Mahdi Akhir zaman, dengan ajaran-ajaran dan quwwat qudsiyah (kekuatan suci) beliau-lah telah menciptakan satu Jemaat yang menghidupkan akhlak yang telah hilang dari dunia ini.’ Inilah standard kejujuran dan keadilan beliau (Syekh Sahib), sangat luar biasa dan manusia pemberani.”

Pada tahun yang lalu ketika saya (Hudhur a.t.b.a.) mengangkat beliau menjadi Amir Jemaat Lahore, saya menulis kepada beliau, “Jika ada kesulitan dan ingin meminta petunjuk secara langsung, jangan ragu dan silakan hubungi saya.” Suatu hari saya menerima telepon dari beliau, saya menanyakan apakah baik-baik saja? Beliau menjawab, “Saya memanfaatkan izin yang Hudhur berikan untuk mengontak secara langsung dan meminta petunjuk Hudhur, walaupun pekerjaan berjalan dengan baik dan ingin mengucapkan salam kepada Hudhur.” Beliau orang yang sederhana. Beliau orang yang selalu berkonsultasi, menemani dan mengajak bekerja bersama dengan seluruh pegawainya.

Sadr Lajnah wilayah Lahore menceritakan kepada saya, ”Ketika Syekh Sahib ditetapkan oleh Hudhur sebagai Amir wilayah, kami berfikir, bagaimana Amir Jemaat yang telah terpilih ini? Kebanyakan orang tidak mengenal beliau, tapi setelah bekerja di bawah bimbingan beliau, baru diketahui bahwa beliau pasti telah memenuhi segala tanggung jawabnya dan dengan penuh kasih sayang bekerja bersama dengan semua orang. Beliau memiliki keistimewaan yang sangat banyak. Semoga Allah Ta’ala memberikan tempat kepada beliau diantara orang-orang terkasih-Nya.”

(2) Syahid kedua adalah Mayor Jenderal (Purn) Tn. Nasir Choudry, putera dari Tn. Choudry Safdar Ali, warga Bahlulpur, Tahsil Psyarwar, Distrik Sialkot. Ayahanda beliau seorang Inspektur (Jenderal), syahid pada tahun 1930 ketika melaksanakan tugas. Saat itu Jenderal Sahib (Nasir Choudry) berumur 10 tahun. Nenek Jenderal Sahib juga adalah ibu sepersusuan dengan Hadhrat Choudry Sir Zafrullah Khan Sahib. Pada tahun 1942, Jenderal Sahib diberbantukan di Komisi Ketentaraan lalu pergi ke Bangalore untuk tugas.

Selama perang dunia II, beliau ditugaskan di barisan depan (Frontier Force) di Burma. Pada tahun 1943, beliau dinikahkan oleh Sayyid Sarwar Syah Sahib r.a., beliau selalu mengatakan, “Hadhrat Mirza Basyir Ahmad ra. dan Hadhrat Mirza Syarif Ahmadr.a. hadir dalam pernikahan saya.” Walhasil, prestasi beliau sebagai tentara terus meningkat. Pada tahun 1971 beliau menjadi komandan pada divisi yang beliau buat sendiri di Rajhastan, yaitu div-33. Di sanalah beliau terkena peluru pada bagian lutut yang sampai sekarang peluru tersebut masih bersarang, karena dokter tidak bisa mengeluarkannya. Pada saat penyerangan tersebut, sekretaris pribadi beliau pun terluka. Beliau mengirim sekretaris yang terluka tadi ke Haedar Abad dengan menggunakan helikopter, tapi beliau sendiri sampai ke Haedar Abad dengan menggunakan kereta api.

 Dokter selalu mengatakan, jika beliau mulai bisa berjalan lagi, itu adalah mukjizat semata. Peluru tidak dikeluarkan karena berbahaya dan bisa berakibat fatal. Beliau seorang yang berkemauan keras, terus melakukan latihan sehingga dengan karunia Allah Ta’ala kaki beliau sembuh dan kembali berjalan lagi. Selama 20 tahun beliau menjabat sebagai sekretaris Islah-wa-Irsyad di Jemaat Lahore. Pada tahun 1987 sampai beliau disyahidkan, berkhidmat sebagai Sadr Model Town. Ketika disyahidkan beliau berumur 91 tahun, dengan karunia Allah, beliau adalah seorang mushi dan disyahidkan di mesjid Model Town.

Istri beliau menuturkan, “Beliau orang yang sangat mukhlis dan sangat mencintai khilafat, dawam (teratur) dalam mendirikan shalat, bertakwa dan memiliki rasa simpati yang mendalam terhadap Jemaat. Suatu kali beliau pernah kesulitan untuk mendapatkan sopir, saya (istri) menyarankan untuk mengambil sopir dari anggota peletonnya. Beliau menjawab, ‘Tidak, Allah Ta’ala telah banyak memberi kepada saya, saya sendiri yang akan mengeluarkan dana untuk itu.’”

Beliau ikut serta dalam nizam Al-Wasiyat sejak permulaan tahun 1943. Waktu itu yang menjabat sebagai Naib Amir Lahore adalah Mayor Latif Ahmad Sahib, yang juga pensiunan tentara. Sedangkan beliau (Choudry Sahib) adalah seorang (purnawirawan) Mayor Jenderal. Sambil bercanda, Mayor Latif sering mengatakan, “Lihatlah sekarang Jenderal pun menjadi bawahan saya dalam kepengurusan Jemaat.” Karena Mayor Sahib adalah seorang Naib Amir pada saat itu. Sambil tersenyum beliau menjawab, ”Tugas kita adalah taat. Semenjak saya menjadi Ahmadi dan bertugas demi Jemaat, (di mata saya – pent) tidak ada lagi perbedaan antara seorang mayor dan jenderal.”

Di Mesjid Nur, yaitu mesjid yang di Model Town, beliau biasa duduk di kursi di bagian luar gedung. Ketika penembakan dimulai pada hari itu, seorang saudara Ahmadi bernama Rosyan Mirza Sahib meminta Jenderal Sahib untuk masuk ke dalam. Tapi beliau menjawab, ”Silakan tuan ajak yang lainnya terlebih dulu.”, lalu beliau masuk sendiri ke dalam hall dan duduk di kursi yang berada di bagian belakang hall tersebut. Setelah itu orang-orang turun menuju basement (lantai dasar) dan mereka pun berupaya untuk mengajak Jenderal Sahib bersama mereka. Tapi beliau menjawab, ”Biarkan saya tetap di sini.” Lalu teroris melemparkan sebuah granat ke arah beliau dan meledak di dekat kaki beliau yang mengakibatkan beliau dan orang tua yang berada di dekat beliau pun terjatuh. Tapi beliau masih bisa bangkit dan duduk kembali di kursi, lalu si teroris menembaki beliau, sehingga leher beliau tertembus sebuah peluru, maka syahidlah beliau dalam posisi bersujud di atas kursi.

Seperti yang saya (Hudhur Aqdas) katakan bahwa beliau pun telah mengkhidmati Jemaatnya dengan penuh kerendahan hati, kesetiaan dan telah menyempurnakan janji bai’atnya. Beliau bisa saja mendapatkan maqam syahid ini dalam berbagai keadaan ketika beliau bertugas di angkatan bersenjata, tapi ada saja kebiasaan para hamba-Nya yang Allah Ta’ala sukai. Allah Ta’ala pun menganugerahkan maqam syuhada ini kepada beliau. Akan tetapi Allah Ta’ala mengenugerahkan maqam itu ketika status beliau sebagai pekerja Masih Muhammadi yang sedang bertugas dan beribadah. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

(3) Tn. Aslam Bharwana Syahid, putera dari Tn. Raja Khan Bharwana. Ayah beliau adalah warga Jhang dan bai’at pada zaman Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Tn. Aslam Bharwana memperoleh gelar dalam mechanical engineering dari Universitas Taxila dan sejak tahun 1981, bekerja pada Pakistan Railway. Beliau anggota Majlis Ansharullah yang setia. Setiap hari Jumat, beliau biasa menyampaikan pengumuman. Pada saat kejadian, beliau baru saja selesai membacakan pengumuman. Beliau disyahidkan dalam usia 59 tahun di Darudz Dzikr. Tn. Naseem Mahdi dan Tn. Parwazi adalah kakak ipar beliau dan Tn. Maulwi Ahmad Khan adalah mertua beliau.

Beliau bertugas sebagai Chief Engineer pada mechanical engineering Railway Pakistan. Beliau kepala pada level ke-20 dan arsip sudah terkumpul untuk mendapatkan level ke-21. Beliau sedang menunggu kenaikan pangkat dalam pekerjaannya. Namun Allah Ta’ala menganugerahinya pangkat yang agung dalam ke-syahid-an, di mana pangkat keduniawian tidak ada artinya sama sekali.

Seorang khadim yang sedang bertugas mengatakan, “Saat kejadian, telah diusahakan untuk mengajak beliau ke basement, tapi beliau menolaknya dan berkata, ‘Saya akan tetap di sini, silakan tuan ajak yang lainnya ke basement.’ Sedangkan beliau sendiri pergi keluar hall menuju taman, untuk bisa memberitahu yang lainnya. Ketika membuka pintu, ternyata si teroris berada di depannya, lalu menghujani beliau dengan peluru.”

Beliau selalu berhasil dalam menjalankan tugas-tugas kepengurusan yang penting dalam Jemaat. Selain pernah menjabat sebagai Qaid daerah Rawalpindi dan Lahore, beliau pun pernah berkhidmat sebagai Sekretaris tarbiyat mubayyiin baru, Sekretaris Jaidad Lahore dan menjadi pengawas pemakaman di Handogajar Lahore. Beliau adalah seorang pemberani dan selalu giat bekerja siang malam dengan penuh keikhlasan. Ketika beliau mendapatkan tugas dinas di Quetta, saat itu Ziaul Haq sebagai presiden Pakistan. Karena memiliki kedudukan terhormat sebagai kepala stasiun, beliau pun mendapatkan posisi duduk di bagian depan. Ketika beliau duduk di barisan depan, saat itu tengah memuncak penentangan terhadap Jemaat dalam hal pengucapan dua kalimah syahadat, – maksudnya orang Ahmadi dilarang mengenakan logo-logo kalimah syahadat. Kendati ordinansi tengah hangat-hangatnya (di Pakistan), tapi beliau tetap mengenakan logo kalimah syahadat pada pakaian beliau dan duduk pada barisan depan.

Pak Gubernur mengingatkan beliau, ”Tuan silakan duduk di bagian belakang atau mohon logo kalimah syahadatnya dilepaskan (dari pakaian)!” Beliau menjawab, ”Saya tidak bisa melepaskan logo kalimah syahadat, tidak juga karena takut saya akan duduk di belakang. Kalau tuan menginginkan, silakan pulangkan saya ke rumah atau saya dipecat dari pekerjaan!” Beliau tetap duduk di kursi bagian depan sampai selesai. Begitu juga pada masa-masa menghadapi cobaan, beliau menjabat sebagai Qaid daerah Lahore. Beliau selalu mempersiapkan dan menugaskan para pemuda Ahmadi untuk mengawasi keadaan pada saat itu. Beliau sendiri pun cukup lama melaksanakan tugas menjaga pintu gerbang. Beliau adalah seorang yang banyak menolong orang lain dan mendedikasikan (membaktikan) dirinya untuk mengkhidmati kemanusiaan.

Istri beliau menceritakan bahwa almarhum suaminya adalah orang yang sangat mencintai Khilafat dan Jemaat, selalu mendahulukan tugas-tugas Jemaat. Beliau sangat bahagia dalam mewakafkan hidupnya. Setelah pensiun, beliau mewakafkan hidupnya kepada Jemaat dan selalu menjaga kesehatannya karena “Saya telah mewakafkan hidup kepada Jemaat dan supaya saya bisa berkhidmat di dalam Jemaat.” Beliau dawam (teratur) dalam mendirikan shalat berjamaah dan seorang pejabat pemerintahan yang jujur, karena itu di setiap tempat beliau sangat dihormati. Selama masa pendidikannya beliau mendapatkan beasiswa dari Jemaat sebagai seorang anak yatim. Oleh karena itu beliau dawam dalam memberikan sumbangan untuk program pemeliharaan anak yatim. Selain itu beliau pun dawam dalam membayar candah-candah yang lainnya. Sebelum di-syahid-kan, salah seorang saudara dekat beliau melihat mimpi, ia mendengar suara, “Bersiaplah untuk memilih para syuhada!”

Saya (Hudhur) sendiri pun menyaksikan bahwa beliau pekerja yang sangat rendah hati dan sangat menghormati pengurus-pengurus Jemaat dalam jabatan apapun. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Amin

(4) Tn. Asyraf Bilal, putra dari Tn. Abdul Latif. Sebagian besar kerabat beliau adalah ghair Ahmadi. Kakek dari pihak ibu beliau adalah Khuda Bakhsh Sahib, baiat pada masa Hadhrat Mushlih Mau’ud ra.. Beliau adalah penduduk Inggris yang sedang berkunjung ke Pakistan. Beliau selalu ikut dalam berbagai pengorbanan harta. Beliau mendapatkan keberkatan untuk mempersembahkan sesuatu kepada Jemaat dengan membangun Baitudz Dzikr di Shalimar Town. Profesinya adalah sarjana tehnik (engineer) dan memiliki workshop factory sendiri. Ketika di-syahid-kan beliau berusia 56 tahun dan dengan karunia Allah Ta’ala beliau berkhidmat di dalam Jemaat sebagai sekretaris Tahrik Jadid dll.

Disyahidkan di Baitudz Dzikr. Beliau adalah seorang mushi. Peluru menembus bahu kiri beliau keluar dari jantung bagian depan. Dengan kuatnya beliau menekan badannya dengan tangan lalu memasukkan tangannya ke saku pakaian untuk menelpon sopir beliau, mengatakan, “Saya tertembak, tapi jangan katakan pada siapapun.” begitu juga satu butir peluru menembus leher beliau. Seorang anak bernama Nitsar Ahmad yang sejak kecil tinggal bersama beliau, berkenaan dengan mereka, saksi mata menceritakan bahwa ketika Bilal Sahib akan terjatuh, anak tersebut memeluknya, tapi beliau sudah dalam kondisi sekarat. Ketika Nitsar mengangkat kepala dan berusaha untuk mendengar detak jantung beliau, si teroris menghujani peluru lagi ke arah mereka berdua, yang juga mengakibatkan syahidnya anak tersebut, anak tersebut telah mendapatkan gelar syahid setelah membuktikan kesetiaan kepada beliau (Bilal Sahib). Semasa hidupnya beliau selalu sibuk dalam Dzikir Ilahi dan istighfar dan menangis ketika mendirikan shalat. Istri beliau menanyakan sebabnya, maka beliau menjawab, ”Ini adalah wujud rasa syukur saya kepada Allah Ta’ala. Aku adalah orang yang banyak kelemahan dan kekurangan.”

Beliau selalu terdepan dalam khidmat khalq (mengkhidmati kemanusiaan) dan pengorbanan harta. Setiap bulan ratusan ribu beliau sumbangkan untuk pengkhidmatan kemanusiaan. Beliau pun menjalankan klinik pengobatan gratis. Beliau membelanjakan uang setiap bulan untuk kepentingan banyak orang. Siapapun yang datang ke rumah beliau untuk meminta pertolongan, beliau selalu memberikannya dan mengatakan, “Tak perlu datang kepada orang lain [untuk meminta pertolongan], mintalah selalu kepada saya”.

Istri beliau menceritakan, ”Ada perubahan sikap pada Asyraf Sahib sejak dua bulan terakhir, seperti menyelesaikan beberapa pekerjaannya lebih cepat lagi. Beliau meminta untuk meninggikan rumah orang Inggris dan menasihatkan kepada saya, ‘ambillah seorang pekerja wanita’. Lalu beliau menyelesaikan tugas untuk mengajukan visa seorang perempuan supaya bisa dibawa. Lima belas hari sebelum di-syahid-kan, beliau menginstruksikan kepada saya untuk mengerjakan beberapa proyek, saya katakan bahwa saya tidak akan bisa mengerjakannya.” Beliau mengatakan, ”Tidak akan bisa menyelesaikannya dengan baik.” Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. [Aamiin]

(5) Tn. Kapten (purn) Mirza Na’imuddin, putra dari Tn. Mirza Sirajuddin. Beliau adalah warga Fatahpur, Gujrat. Yang paling pertama bai’at dalam keluarga adalah kakek beliau. Mirza Muhammad Abdullah Sahib, darwesy Qadian adalah paman beliau dari pihak ayah. Beliau di-syahid-kan di Darudz Dzikr pada usia 56 tahun.

Istri beliau menceritakan peristiwa syahidnya sang suami, ”Beliau biasa pergi pada hari Jumat ke rumah puterinya untuk makan siang. Dalam keadaan terluka beliau menelepon puterinya pada pukul 2 siang, berkata, ‘Jaga ibumu!’ Saya menerima teleponnya, beliau menanyakan perihal keadaan saya. Saya (istrinya) jawab, ‘Baik-baik saja.’ Beliau mengatakan, ‘Allah Hafiz (semoga Tuhan menjagamu).’ Beliau lalu menanyakan kabar anak laki-lakinya, Amir.”

Beliau memberikan petunjuk ketentaraan kepada dua orang lainnya bagaimana untuk menjaga dan melindungi diri, sehingga dengan karunia Allah Ta’ala mereka berdua selamat. Beliau sendiri syahid dalam posisi duduk bersandar pada mimbar, menderita luka tembak pada perut beliau. Putera beliau pun, Amir Na’im, ikut terluka pada serangan itu. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesembuhan yang sempurna kepadanya.

Istri beliau menceritakan, ”Kehidupan sebagai suami istri, kami sangat ideal.” Beliau dianugerahi lima anak perempuan. Pada setiap kelahiran puterinya, beliau mengatakan, ”Telah datang Rahmat” dan pada setiap pasca kelahiran puterinya, beliau selalu mendapatkan promosi kenaikan pangkat. Inipun adalah satu pelajaran bagi orang-orang yang selalu mencaci istrinya jika melahirkan anak perempuan dan banyak pengaduan seperti ini yang sampai kepada saya (Hudhur).

Pangkat terakhir beliau adalah kapten. Karena kejujurannya, beliau dihargai dan dihormati oleh orang lain. Beliau seorang pemberani. Beliau ikut serta dalam peperangan pada tahun 1971 dan pada konfrontasi Kargil. Beliau sangat menginginkan untuk menjadi syahid, Allah Ta’ala pun menyempurnakan keinginan beliau dengan memberikan maqam syahid dalam keadaan beribadah.

(6) Tn. Kamran Rasyid putra Tn. Muhammad Arsyad Qamar. Kakek dari pihak ayah beliau, Tn. Hafiz Muhammad Abdullah, Ahmadi pertama di keluarga beliau. Beliau bai’at pada tahun 1918. Saat perpecahan India-Pakistan, beliau hijrah dari Jalandhar. Kamran Shab di-syahid-kan di usia 38 tahun di Darudz Dzikr. Beliau memperoleh gelar bachelor’s degree (sarjana) dalam art (seni) dan bekerja di bidang composing (penggubahan). Beliau adalah anggota Khuddamul Ahmadiyah yang sangat aktif dan berkhidmat di dalam Jemaat sebagai sekretaris Ta’lim, selain itu beliau berkhidmat juga di MTA. Sebelum itu beliau berkhidmat pada book department di Darudz Dzikr. Dengan karunia Allah Ta’ala, beliau adalah seorang mushi. Pada saat penyerangan teroris, dengan berani tanpa memperdulikan nyawanya, beliau keluar dan terus merekam kejadian itu dengan video untuk MTA. Tapi penyerangan para teroris telah mengakibatkan beliau syahid.

Istri beliau menceritakan, ”Beliau sangat santun, selalu mengawasi secara khusus ibadah shalat para putranya. Selama satu tahun terakhir ini, beliau sibuk dalam tugas-tugas di Darudz Dzikr.”

Tiga-empat hari sebelum disyahidkan, tidak seperti biasanya, beliau menjadi sangat pendiam. Beliau tidak pergi ke luar rumah tanpa membaca Al-Qur-an terlebih dahulu. Ketika ditanyakan kepada ibu beliau berkenaan dengan beliau, sang ibu menceritakan, “Pada hari Jumat setelah shalat shubuh, saya melihat mimpi di rumah sedang ada pernikahan. Di jalan kecil di luar tampak para wanita Ahmadi sedang duduk. Mereka bergembira melihat saya lalu mengalungkan kalung di leher saya. Ada seorang perempuan yang memeluk saya (ibunda Kamran) sambil memberikan bungkusan yang berwarna emas dan mengatakan, ‘Kami telah membuat mehendi. Kapan Anda akan membuatnya?’ Saya katakan nanti setelah sampai ke rumah.” [2] Demikianlah mimpi ibunda beliau.

Saudara laki-laki beliau menceritakan mimpinya, yakni Kamran (syahid) berdiri dengan tubuh dipenuhi bunga. Ibunda beliau menjabat sebagai ketua LI kelompok Darudz Dzikr dalam masa yang panjang, ayah beliau sebagai sekretaris Maal. Paman beliau, Muzaffar Ahmad Sahib pun di-syahid-kan pada peristiwa penyerangan itu. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat mereka. Amin.

(7) Tn. Ijaz Ahmad Baig, putra Tn. Anwar Baig. Beliau warga Langgarwal, sebuah kampung di dekat Qadian. Dari pihak ibu adalah kerabat dari Muhammadi Begum dan kakak ipar dari Timurjan Sahib putera dari Abdul Majid Sahib (Nizam Jan). Ketika di-syahid-kan beliau berusia 39 tahun. Beliau aktif pada Majlis Khuddamul Ahmadiyah dan di-syahid-kan di Darudz Dzikr. Istri beliau menceritakan bahwa beliau menderita infeksi urine (saluran kemih) selama 2 tahun. Inilah pertama kalinya beliau pergi untuk shalat Jumat setelah 2 bulan terakhir sebelumnya beliau persiapkan segala sesuatunya. Dua bulan kemudian kesehatannya membaik.

Setelah melihat beliau siap-siap, sang istri mengatakan, ”Saya sangat bahagia karena hari ini anda tampan seperti dulu lagi”. Tapi pada saat itu, Tuhan menghendaki lain. Beliau orang yang sederhana dan bertawakal, tidak pernah merasa bingung/khawatir, penyabar, beliau tidak pernah terpengaruh oleh sikap negatif orang lain. Beliau bekerja sebagai supir pribadi. Pada saat itu beliau bekerja sebagai supir pribadi Jendral Nasir Sahib Syahid. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau-beliau.

(8) Tn. Mirza Akram Baig putra dari Tn. Mirza Munawar Baig. Beliau adalah cucu dari Mirza Umar Baig Sahib. Umar Baig telah bai’at di tangan beberkat Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra.. Ketika terjadi pemisahan India-Pakistan, beliau hijrah dari Qadian. Tn. Ayyub A’zam Baig Syahid dari Wah Cantt adalah paman dari pihak ibu beliau. Menurut pengetahuan saya, beliau di-syahid-kan di Wah Cantt pada tahun 97-98.

Beliau di-syahid-kan di Darudz Dzikr dalam usia 58 tahun. Beliau adalah anggota Majlis Ansharullah dan beliau syahid karena pecahan granat yang dilemparkan oleh teroris. Kabar yang kami dapat mengenai beliau, pada saat kejadian beliau menelpon putranya dan mengatakan, ”Saya sedang terluka, doakan saya.” dan juga mengabarkan pada istri beliau bahwa beliau terluka biasa, doakan saya. Anak beliau yang paling besar yang bernama Farhan juga berada di mesjid pada saat penyerangan dan terus mencari sang ayah. Tapi ketika ada kabar angin yang mengatakan para teroris telah pergi meninggalkan gedung dan penyerangan pun selesai, maka beliau keluar dari hall. Ketika beliau pergi keluar, tiba-tiba beliau terkena tembakan peluru. Ternyata pengumuman tadi adalah keliru.

Beliau rajin beribadah, shalat lima waktu dan pekerja keras. Setiap tahun beliau selalu beritikaf, sangat berprinsip dan disiplin waktu. Istri beliau menceritakan, “Dengan keberadaan beliau di rumah, kehidupan di rumah kami sangat disiplin terhadap waktu, sangat menghormati orang tua, sangat menyayangi anak-anak. Beliau sering mengatakan kepada menantunya, ‘Raihan ibadah yang saya harapkan belum saya dapatkan, mungkin masih banyak kekurangan.’

Beberapa masa yang telah lalu, Syahid Marhum sendiri melihat mimpi, “Saya sedang berjalan di atas jembatan, setelah melangkah 7-8 langkah jembatan pun habis.” Beliau sendiri yang menafsirkan mimpi tersebut bahwa kehidupan beliau tinggal beberapa saat lagi dan Allah Ta’ala telah menganugerahkan maqam yang tinggi kepada beliau.

Putra beliau menceritakan, “Ketika ada seseorang di-syahid-kan, beliau selalu mengatakan, ‘Semoga ada kesempatan bagi kami untuk menjadi syahid.’ Pada saat kewafatan sang paman, beliau mengatakan, ‘Andai peluru yang menembus beliau itu menembus padaku juga’.

Sebelum menikah, beliau sendiri bermimpi, ”Saya sedang berdiri di taman yang ada rumah dan Hadhrat Masih Mau’ud as sedang melihat saya dari ketinggian. Saya mengatakan, ‘Ini adalah Hudhur.’” Beliau juga mimpi berziarah ke Ka’bah. Beberapa hari sebelum disyahidkan beliau bermimpi, ”Saya sedang makan nasi putih.” Kebanyakan ahli ta’bir mimpi mena’birkan mimpi tersebut yakni terpenuhinya keinginan seseorang dan ketinggian derajat. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Amin.

(9) Tn. Munawwar Ahmad Khan Sahib Syahid, putra Tn. Muhammad Ayyub Khan, penduduk kota Dairiyaan, Distrik Narowal. Beliau adalah sepupu dari Irfanullah Khan Sahib, Amir wilayah Narowal. Beliau memiliki sebuah bisnis permadani. Beliau di-syahid-kan di Baitudz Dzikr pada usia 65 tahun. Beliau adalah pembayar candah dawam dan memiliki antusiasme (semangat) besar dalam setiap pengorbanan harta. Jenazah beliau dimakamkan di pemakaman Handogjar Lahore. Selalu menekankan secara khusus kepada putera-puteri beliau untuk ikut serta dalam kelas-kelas tarbiyat. Beliau adalah seorang yang mukhlis, memiliki hubungan yang khusus dengan Allah Ta’ala. Istri beliau menceritakan. Sebelum ini, ketika situasi sedang memburuk, beliau mengatakan kepada saya (istri), ”Jika terjadi sesuatu dengan saya, jagalah selalu hubungan/kecintaan anak-anak kita dengan Ahmadiyah dan Khilafat.” Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan mengabulkan doa serta segala hasrat beliau untuk putera-puteri beliau. Amin.

(10) Tn. Irfan Ahmad Nasir Syahid, putra dari Tn. Abdul Malik. Kakek dari pihak ayah adalah Tn. Miyan Din Muhammad bai’at pada tahun 1934, penduduk Budomalhi, distrik Narowal. Buyut perempuan beliau, Hasin Bibi Sahibah adalah ibu yang menyusui putri Hadhrat Khalifatul Masih II, Mushlih Mau’ud ra., Amatul Qayyuum. Ayahanda beliau, Tn. Abdul Malik, mendapatkan taufik untuk berkhidmat sebagai perwakilan Al-Fazal, Tasyhidz-o-Khalid untuk Lahore, sekretaris Talimul Qur’an, sekr. Al Wasiyat Lahore.

Ketika disyahidkan usia beliau 31 tahun. Di Majlis Khuddamul Ahmadiyah beliau berkhidmat sebagai Muntazim Isya’at. Di-syahid-kan di Darudz Dzikr. Kakak beliau menceritakan tugas beliau biasanya mengatur lalu lintas oleh karena itu bisa jadi di antara para syuhada, beliau adalah orang yang paling pertama di-syahid-kan. Beliau adalah seorang mushi. Beliau orang yang sangat patuh dan tidak pernah mengatakan tidak atas apapun yang diberikan kepadanya. Senantiasa siap untuk melakukan pengkhidmatan. Di daerahnya beliau terkenal dengan sebutan pegawai yang bermasyarakat.

(11) Tn. Sajjad Azhar Bharwana Syahid, putra dari Tn. Meher Allah Yaar Bharwana. Beliau adalah keponakan Tn. Muhammad Aslam Bharwana Syahid, penduduk kota Jhang dan bekerja sebagai pegawai kontrak pada jawatan kereta api. Ketika di-syahid-kan usia beliau 30 tahun. Beliau anggota khuddam yang aktif dan penuh tanggung jawab. Beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat pada berbagai kepengurusan badan. Beliau di-syahid-kan di Darudz Dzikr. Beliau adalah seorang mushi dan selalu mencari kesempatan untuk mengkhidmati agama dan menaati segala perintah yang dibebankan kepada beliau. Orang yang sangat mukhlis.

Sampai pada saat terakhir, beliau terus memberikan informasi sebagai saksi mata peristiwa kepada Mu’tamid Sahib cabang, Shahbaaz Ahmad, melalui telepon dan pada saat memberikan informasi beliau di-syahid-kan.

Seorang khadim, Tn. Syu’aib Na’im, mengabarkan, “Tn. Sajjad pernah datang dan mengatakan kepada saya, ‘Untuk hari ini berikan saya tugas berjaga-jaga di sini. Jumat ini adalah Jumat terakhir bagi saya, karena setelah ini saya akan pulang ke kampung’. Beliau pun melaksanakan tugas menggantikan saya dan syahid pada saat melaksanakan tugas tersebut”. Memang beliau tidak kembali ke kampung halamannya, tapi Allah Ta’ala telah membawanya ke suatu tempat, di mana beliau akan mendapatkan keridhaan-Nya. Beliau adalah orang yang selalu siap untuk berkhidmat. Sepulang dari kantor pekerjaannya, beliau langsung pergi ke kantor Jemaat lalu bekerja di sana sampai pukul 11 atau 12 malam. Istri beliau menceritakan, “Seminggu sebelumnya saya bermimpi, Sajjad sahib pulang ke rumah dalam keadaan terluka dan berkata, ‘Perut saya terluka parah.’ Saya angkat pakaiannya, keluar darah dari perut beliau. Memang perut beliau terkena peluru.” Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya.

(12) Tn. Mas’ud Ahmad Akhtar Bajwa Syahid, putra dari Tn. Muhammad Hayat Bajwa. Ayah beliau adalah penduduk distrik Bahawal Nagar 191/7R, silsilah nenek moyang beliau dari Sialkot. Ayah beliau penanam benih Ahmadiyah di keluarga beliau. Berkat beliaulah Jemaat masuk di keluarga beliau. Beliau menerima Ahmadiyah dengan perantaraan Hadhrat Maulwi Abdullah Bajwa Sahib dari Kheoh Bajwa. Seorang saudara beliau menjabat sebagai ketua Jemaat di Cak. Beliau memperoleh pendidikan di Bahawalnagar lalu di Rabwah dan bekerja dengan wapda sampai beliau pensiun. Dari tahun 1975 sampai tahun 2000 beliau tinggal di Quetta dalam rangka tugas dinas dan dari sanalah beliau pensiun. Pada tahun 2001, beliau hijrah ke Lahore. Beliau adalah anggota Majlis Ansharullah yang aktif dan giat. Menjabat sebagai Zaim Ansharullah dan Amir kelompok Darudz Dzikr. Juga sebagai asisten Sekretaris Tabligh dan Isya’at dan sekretaris Talimul Qur’an kelompok Darudz Dzikr.

Beliau di-syahid-kan di Darudz Dzikr pada usia 72 tahun. Dengan karunia Allah Ta’ala, beliau adalah seorang mushi. Putra beliau, Dr. Hamid Sahib, yang saat ini berada tinggal di Amerika, mengatakan, “Karena kekurangan dana, saya tidak dapat mengajukan green card (izin) untuk tinggal di AS. Lalu ayah saya mengirim uang kepada saya $ 1.000 dan menyuruh saya untuk segera mengajukan green card, supaya bisa secepatnya datang ke Pakistan. Saya langsung mengajukannya, sehingga saya bisa mendapatkannya dalam waktu 25 hari.” Menurut orang-orang biasanya memakan waktu 6 bulan. Beliau sampai di Pakistan pada saat sang ayah di-syahid-kan. Diceritakan mengenai beliau, sebelum disyahidkan sementara beliau menderita luka yang mengeluarkan darah dari perutnya, beliau mengatakan kepada orang yang di sebelahnya, Miyan Mahmud Ahmad Sahib, ”Saya pergi, tolong jaga anak-anak saya.” Beliau (Mas’ud Ahmad) merobek kain pakaiannya lalu mengikatkannya pada luka orang lain, beliau terus merawat orang-orang sampai akhir hayat beliau. Beliau menggendong seorang anak sepanjang kejadian dan untuk melindungi anak tersebut, digendongnya di belakang beliau supaya tidak terkena peluru. Beliau terus memperhatikan semua orang dan menasihatkan mereka untuk banyak berdoa. Beliau sendiri terus sibuk membaca shalawat dan juga menasihatkan yang ada di dekat beliau, Miyan Mahmud Sahib, untuk terus membacanya.

Putra beliau (alm) akan menjadi murabi/mubaligh. Ia sedang meraih pendidikan tingkat ke lima di Jamiah Ahmadiyah Rabwah. Beliau (alm) menyukai qana’ah (puas dengan apa yang ada), seperti halnya memiliki rumah yang kecil. Akan tetapi beliau sangat bahagia. Beliau senantiasa mendengarkan dan menyusun khotbah-khotbah saya dengan penuh perhatian. Seperti inilah keinginan beliau berkenaan dengan wakil-wakil Markaz dan tokoh-tokoh Jemaat supaya datang ke rumah beliau dan beliau bisa memperoleh kesempatan untuk mengkhidmati mereka. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau serta mengabulkan semua doa-doa dan keinginan baik beliau yang diperuntukan bagi anak-anaknya dan bagi anak yang waqaf zindegi. Semoga Allah Ta’ala juga menyempurnakan untuk itu dan semoga Dia menganugerahkan taufik kepada anak yang waqaf zindegi untuk menjaga waqaf yang haq.

(13) Muhammad Asif Faruq Sahib adalah putra Liaquat Ali Sahib. Ayah beliau menyatakan bai’at tahun 1994. Pada tahun 1994, seorang laki-laki datang bersama Yth. Tn. Mubasyir Kehlo Sahib kepada ayah beliau. Beliau bertanya apakah ada soal yang akan ditanyakan, maka beliau (alm) menjawab, “Saya tidak ada pertanyaan. Cukup, saya ingin bai’at.” Jadi, beliau ini adalah seorang yang berfitrat baik. Ketika beliau mengerti perkara ini, maka tidak ada pertanyaan lagi. Setelah peristiwa itu, kemudian keluarganya melakukan bai’at. Umur beliau pada saat di-syahid-kan adalah 30 tahun dan beliau mendapat gelar BA – Bachelor (sarjana) di bidang Mass Communications (Komunikasi Massa). Beliau anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyyah yang aktif dan sebagai pegawai aktif di MTA Lahore. Beliau juga berkhidmat di Departemen Audio Video.

Beliau seorang mushi dan di-syahid-kan di Darudz Dzikr. Pada waktu terjadi penyerangan teroris, beliau keluar merekam untuk MTA dan dalam kejadian itu beliau turun dari lantai atas, sehingga beliau menjadi syahid terkena peluru teroris.

Selama 3 tahun terakhir ini beliau tinggal di Darudz Dzikr dan berangkat kerja dari sana. Satu hari sebelum kejadian, beliau minta cuti dari pekerjaannya dan pulang ke rumah untuk Shalat Jumat. Beliau mengatakan bahwa ‘hari ini saya sudah menyelesaikan tugas’ dan beliau selalu berbicara bahwa ‘kehidupan dan mati saya di Darudz Dzikr inilah’. Kedua orang tuanya dan saudara laki-lakinya mengatakan bahwa ‘mati syahid merupakan kehormatan yang sangat mulia bagi kami’. Semoga Allah Ta’ala menjadikan darah ini sebagai faktor pengairan bagi Jamaat. Inilah semangat mereka. Kematian syahid adalah suatu keinginan yang suci dan merupakan solidaritas terhadap manusia. Ada 3 tempat keberadaan beliau yakni di rumah, di kantor atau di Darudz Dzikr. Beliau tidak pernah marah. Satu kali ibunya bertanya, “Putraku apakah engkau tidak marah?” Beliau menjawab bahwa ‘kami sebagai pekerja tidak pernah marah’.

Ayahnya memberitahukan, “Beberapa tahun yang lalu dirinya melihat dalam mimpi bahwa ‘seseorang telah menembak jantung saya’, yang tafsirnya saya kaitkan dengan kejadian di atas. Tetapi ketika anak saya di-syahid-kan, saya baru tahu inilah tafsir mimpi itu.”

Tanggal 5 Juni beberapa hari setelah beliau disyahidkan, Allah Ta’ala telah menganugerahkan anak laki-laki yang kedua kepada istrinya. Semoga Allah Ta’ala menjadikan anak beliau anak yang shaleh dan baik serta menjadikannya pengkhidmat agama dan ia mendapat umur yang panjang.

(14) Syekh Syamim Ahmad Sahib adalah putra Syekh Na’im Ahmad Sahib. Beliau adalah cucu dari Hadhrat Husen Sahib(r.a.) yang merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as.. Kakek beliau Yth. Tn. Syekh Muhammad Husen Sahib adalah sadr halqah Sulthan Faorah sampai 40 tahun. Di masa beliaulah di sana terdapat pembangunan mesjid. Beliau merupakan putra laki-laki satu-satunya dari orang-tuanya dan menjadi satu-satunya penjaga rumah tangganya. Usia beliau ketika di-syahid-kan adalah 38 tahun. Beliau bekerja di Bank Al Falah. Almarhum merupakan seorang anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyyah yang aktif. Beliau berkhidmat sebagai auditor di Halqah Athauf Park. Beliau di-syahid-kan di Darudz Dzikr.

Beliau selalu siap untuk memberikan pengorbanan harta. Beliau berakhlak sangat mulia. Beliau seorang yang selalu penuh kasih sayang. Beliau senantiasa melaksanakan tugasnya dengan bijaksana. Orang-orang di kantor beliau yang bukan Ahmadi datang menyampaikan belasungkawa, maka mereka mengatakan bahwa setiap waktu beliau selalu tersenyum dan membuat orang lain tersenyum. Ketika ibunya sakit, maka sepanjang malam beliau terjaga mengkhidmatinya. Pada waktu ayahnya sakit, maka sepanjang malam beliau terjaga kemudian menolongnya. Di atas pintu gerbang luar rumahnya terdapat tulisan kalimah tayyibah.

Ketika peristiwa itu terjadi di mesjid, beliau menelpon dua keponakannya dan memberitahukan adanya serangan. Orang-orang mengatakan setelah kejadian itu bahwa saat kejadian beliau berdiri di depan Amir Sahib. Teroris itu mengatakan kepada beliau, “Siapa di belakangmu?” Maka beliau menjawab, “Istri saya, anak saya dan Tuhan saya”. Lalu teroris itu mengatakan lagi, “Pergilah kamu bersama Tuhanmu!” Beliau menjadi sasaran tembakan peluru.

Ibunya mengatakan bahwa anaknya adalah seorang yang sangat penyayang dan selalu menyediakan apa yang diperlukannya. Almarhum memiliki setiap kebajikan dan memperhatikan kepada setiap orang. Istrinya mengatakan bahwa ‘ayah angkat saya menerangkan ketika anak beliau (alm) meninggal maka beliau suatu waktu mengeluh kepada Allah Ta’ala. Mengapa tidak diberikan anak? Lalu beliau membaca tulisan seorang wanita di Al Fazl’. Yakni, “Jika Allah Ta’ala memberikan anak pada saya, maka saya akan membayar candah Tahrik Jadid”. Lalu beliau mengatakan bahwa setelah membaca tulisan ini beliau mengatakan, “Wahai Allah dari hari ini saya akan mulai membayar candah Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid, maka anugerahkanlah anak kepada saya.” Yang mana kemudian istrinya melahirkan. Istrinya mengatakan bahwa kehidupan beliau (alm) adalah berkat candah-candah. Beberapa waktu sebelumnya beliau menceritakan sebuah mimpinya. Yakni Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) bersabda,. “Berikanlah anak-anak tuan kepada saya”, maka atas permintaan itu beliau me-waqaf-kan semua anak-anaknya ikut serta dalam gerakan Waqf-e-Nau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

(15) Tn. Muhammad Syahid adalah putra Tn. Muhammad Syafii. Kakek beliau menjadi Ahmadi pada tahun 1935. Beliau adalah penduduk distrik Kotli Khasymir. Umur beliau 28 tahun ketika di-syahid-kan. Beliau seorang anggota aktif Majlis Khuddamul Ahmadiyyah. Beliau di-syahid-kan di Darudz Dzikr. Pada waktu Jumat, tugas beliau dekat (mengawal) Amir Sahib di mihrab. Tugasnya adalah berjaga. Sebelum beliau disyahidkan, beliau menelpon ayahnya dan teman-temannya. Almarhum mengatakan, “Saya akan berusaha menangkap teroris itu.” Ada bekas tanda cakar kuku pada wajahnya seperti telah berkelahi dengan seseorang dan beberapa hari sebelum di-syahid-kan beliau mengatakan kepada teman-temannya, “Jika ada hutang-hutang saya, maka akan saya lunasi.” Kebiasaan buruk almarhum, merokok, sudah ditinggalkan beberapa bulan yang lalu. Perkara terakhir yang disampaikan beliau kepada saudaranya dengan suara yang sangat pelan berkata, “Jangan memberitahu ibu, jangan sampai ibu merasa khawatir.”

Beliau teratur dalam mengerjakan shalat dan biasa memberikan sedekah setiap sebelum Shalat Jumat. Hari itu juga ketika datang ke mesjid untuk bertugas pada shalat Jumat, maka beliau mengeluarkan sedekah 50 rupees, lalu pada tanggal itu ditemukan kuitansi di dalam sakunya. Penjaga mengatakan bahwa beliau senantiasa menyapa kepadanya dengan penuh hormat. Dua bersaudara bekerja di sebuah toko. Saudaranya yang kecil mengatakan kepada beliau, “Hari ini saya akan pergi shalat Jumat,” maka beliau mengatakan, “Tidak, pada kesempatan Jumat ini saya yang akan pergi. Jumat depan engkau yang pergi.” Beliau belum menikah. Ketika orangtuanya mengatakan agar segera menikah, maka beliau mengatakan supaya adik perempuannya menikah duluan. Semoga Allah Ta’ala menyelimuti beliau dalam Jubah Rahmat dan Maghfirah-Nya.

(16) Tn. Prof. Abdul Wadud putra Yth. Tn. Abdul Majid yang merupakan cucu Hadhrat Syekh Abdul Hamid Sahib ra., seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. dan beIiau (almarhum) adalah seorang profesor Bahasa Inggris di sebuah Goverment College di Lahore. Beliau seorang anggota Jamaat yang aktif. Istrinya juga merupakan sadr Lajnah Imailah di halqahnya. Pada kesempatan perayaan seabad Khilafat, atas usaha-usaha beliau, kegiatan tersebut dapat diselenggarakan dalam bentuk Jalsah yang sangat besar di halqahnya. Beliau memiliki tabiat seorang penyabar dan rendah hati. Beliau pernah dipenjarakan di jalan Allah yang berlangsung selama 7 tahun. Usia beliau saat di-syahid-kan adalah 55 tahun. Beliau adalah profesor dalam bahasa Inggris. Beliau pun mempunyai gelar LLB. Beliau bekerja pada Majlis Ansharullah dalam berbagai jabatan dan merupakan seorang pekerja yang mukhlis. Beliau juga sebagai Naib Zaim Ansharullah Lahore. Beliau pun pernah bekerja di Khudamul Ahmadiyah. Beberapa periode berkhidmat sebagai Sadr Halqah Musthofa Abad.

Beliau seorang mushi dan di-syahid-kan di Darudz Dzikr. Beliau pada saat itu terkena tembakan peluru teroris ketika berjalan menuju rumah Murrabbi. Yakni seorang teroris menembak dari depan dan digambarkan bahwa beliau di-syahid-kan di pintu rumah murrabbi.

Istrinya menerangkan, “Beliau lembut hati dan sangat penuh kasih sayang. Suaminya tidak pernah berbicara kasar selama 23 tahun pernikahannya. Beliau sangat tegas kepada anaknya pada dua hal yaitu dalam urusan shalat dan supaya ikut serta dalam kelas terjemahan Al-Qur-an yang dilakukan di rumah. Beliau melakukan Daras Hadits di rumahnya secara teratur. Sejak muda beliau selalu memperoleh kesempatan sebagai pengkhidmat. Beliau begitu bersemangat dan dipercaya dalam melakukan pekerjaan.”

Kakak-kakaknya memberitahukan, “Beliau selalu mengontak saudara-saudaranya. Di kalangan saudara-saudaranya, dalam setiap pekerjaan beliau selalu memberikan musyawarah berupa nasihat. Kadang-kadang jika ada kesulitan datang, beliau membantu dengan musyawarah. Ketika tengah membuat tempat tinggal untuk saudara bungsu. Semua saudaranya memutuskan untuk memberikan sejumlah uang kepada adiknya sebagai pinjaman dan beliau (alm) yang pertama membayar uang bagiannya dari antara semua saudaranya. Kapan saja kami mengatakan ada sesuatu yang diperlukan, beliau akan menolong, ‘Ambillah uang dari saya.’” Semoga Allah Ta’ala memelihara kebaikan dan keturunan beliau.

(17) Tn. Walid Ahmad putra Tn. Choudhry Munawar Ahmad. Kakek dari ayahnya, Choudry Abdul Hamid Sahib adalah Sadr Jemaat Mehrabpur, Sindh. Beliau menerima Ahmadiyah pada tahun 1952 dan pada tanggal 10 April 1984, kakeknya di-syahid-kan. Begitu juga kakek dari ibunya Yth. Tn. Choudry Abdul Razaq Sahib merupakan Amir Jemaat Nawab Shah, Sindh. Pada tanggal 17 April 1985, beliau juga di-syahid-kan. Ayahnya adalah Sadr Umumi, pegawai di Kantor Rabwah. Beliau (alm) sewaktu di-syahid-kan umurnya 17,5 tahun dan sedang menjalani pendidikan sebagai mahasiswa di Medical College. Beliau turut serta dalam gerakan Waqf-e-nau dan seorang mushi juga.

Beliau di-syahid-kan di Darudz Dzikr dan yang termuda di antara para Syuhada Lahore. Digambarkan, dari antara Ahmadi yang lain, beliau (alm) mahasiswa pertama yang tiba di Darudz Dzikr untuk Shalat Jumat pada hari tersebut dan waktu itu ketika dihubungi dengan HP, beliau memberitahuan bahwa ‘kaki saya tertembak dan tampak banyak tubuh para syuhada yang tergeletak di depan saya’. “Doakanlah.” Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan karunia.

Beliau berkunjung ke Rabwah dari Lahore. Ketika pergi dari Rabwah ke Lahore yang terakhir kali, maka ia menjumpai ke rumah teman-teman khudamnya dan beliau mengatakan kepada semuanya bahwa ‘saya ingin berjumpa, siapa tahu saya sudah menjadi syuhada’. Beliau dawam mengerjakan shalat 5 waktu dan seorang yang berbudaya serta taat. Orang yang lalu lalang di jalan, rekan-rekan dan teman-temannya selalu beliau ajak ke mesjid. Beliau merupakan pemuda yang cerdas. Beliau adalah satu-satunya anak laki-laki dari tiga saudara perempuannya.

Sekretaris Waqf-e-Nou memberitahukan tentang masa kanak-kanak beliau, “Walid Ahmad masih kanak-kanak, ketika berumur 11 tahun, satu hari saya tanya satu persatu kepada semua anak-anak waqf-e-nou di dalam kelas, ‘Kalau kamu sudah besar akan jadi apa?’ Tatkala giliran Walid Ahmad, beliau berkata, ‘Saya akan menjadi syuhada seperti kakek-kakeknya setelah besar nanti.’

Beliau begitu terkenal di kampusnya, sehingga setelah beliau di-syahid-kan teman-teman sekelasnya mengadakan 3 kali acara “memorial service” (kenangan pengkhidmatan) di mana yang hadir sebagian besarnya adalah mahasiswa non-Ahmadi. Dosen beliau menyatakan melalui telepon, ‘Kami para dosen dan mahasiwa telah membuat rencana datang ke Rabwah untuk ikut hadir pada acara penguburannya. Semua mahasiswa menangis tersedu-sedu dan menimbulkan kekhawatiran mengenai keadaan ini, setelah pergi ke Rabwah melihat wajah Walid, keadaannya akan benar-benar menjadi begitu sedih. Untuk itulah kami dengan sangat menyesal mengurungkan rencana ini. Lain waktu kami akan datang.’”

Semoga Allah Ta’ala menerima pengorbanannya dan semoga Dia menganugerahkan ratusan ribu Walid kepada Jemaat.

(18) Tn. Muhammad Anwar, putra Yth. Tn. Muhammad Khan, silsilah beliau berasal dari Sheikhupura. Beliau melakukan bai’at di masa kekhilafatan Hadhrat Khalifatul Masih III (rh). Pada waktu usia muda, beliau masuk Angkatan Bersenjata. Beliau pensiun sekitar 10 tahun yang lalu, kemudian mengabdikan dirinya sebagai security guard (pengawal keamanan) di Mesjid Baitun Nur, Model Town dan tugasnya ini dilakukan beliau dengan penuh kebaikan sampai waktu di-syahid-kan. Pada waktu di-syahid-kan umur beliau 45 tahun dan dan beliau meraih syahid (di sana sebagai security guard) di Majlis Model Town. Beliau adalah seorang mushi.

Pada peristiwa itu anak beliau pun, Athaul Haq, terluka parah yang berada di rumah sakit. Beliau sedang menjalankan tugasnya sebagai security guard (satuan pengamanan) di pintu gerbang Baitun Nur. Ketika beliau melihat dari jauh seorang teroris datang, maka seorang khudam berdiri bersama beliau dan mengatakan kepadanya bahwa ‘laki-laki ini saya kira bukan orang baik (mencurigakan)’. Maka khudam itu mengatakan bahwa ‘dalam perkara ini anda ragu kepada setiap orang’. Beliau mengatakan, “Tidak. Saya seorang tentara, saya curiga dengan cara gerak geriknya”. Pendek kata, waktu itu teroris itu datang mendekat dan dia mulai menyerang. Beliau pun melakukan perlawanan. Seorang khadim mengatakan kepada beliau, “Tuan masuklah ke dalam pintu gerbang”, lalu beliau katakan “tidak, saya tidak akan mundur.” Beliau memegang pemukul dan memukulkannya sehingga teroris itu terluka. Tetapi kemudian beliau ditembak oleh teroris lainny dan pada saat itulah beliau di-syahid-kan.

Beliau seorang yang banyak berkhidmat terhadap agama. Tidak pernah ada kesempatan untuk berkhidmat lepas dari tangan beliau. Beliau biasa membersihkan sendiri toilet mesjid dan menyapu. Ketika mesjid sedang dibangun, beliau bertugas 24 jam terus menerus. Beliau juga senantiasa sedapat mungkin mengkhidmati orang tuanya. Istrinya mengatakan bahwa sebelumnya beliau tidak dawam Shalat Tahajjud, tetapi dalam satu bulan terakhir ini beliau melakukan Shalat Tahajjud secara dawam. Pertanyaan pertama kepada anak-anaknya adalah, “Apakah sudah Shalat belum? Dan apakah sudah membaca Al-Quran Karim belum?” Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

(19) Tn. Malik Ansar-ul-Haq putra Yth. Tn. Anwarul Haq. Beliau juga adalah penduduk kampung Faizullah dekat Qadian. Umur beliau 63 tahun ketika disyahidkan. Beliau disyahidkan di Darudz Dzikr. Beliau keluar meninggalkan rumahnya pada jam 8:30 pagi dengan mengenakan baju baru untuk suatu pekerjaan, baru dari sana beliau pergi ke Darudz Dzikr untuk melaksanakan Shalat Jumat. Beliau tidak pernah meninggalkan shalat Jumat. Beliau duduk di kursi bagian depan. Beliau menderita luka karena pecahan granat dan begitu pula beliau terkena 5 tembakan peluru di tempat yang berbeda pada badannya. Dalam keadaan terluka, beliau dibawa ke Rumah Sakit Mayo dan sesampainya di sana beliau syahid. Menurut saudara iparnya, ‘Beliau paman saya dari pihak ibu dan ayah angkat juga.’

Beliau layak mendapat status syuhada. Hatinya bersih, seorang yang sangat sederhana. Tidak pernah ingin bertikai dengan orang lain. Beliau seorang yang selalu mengambil langkah pertama untuk menggalakkan perdamaian. Beliau menerima uang pensiun seadanya dan dari uang pensiun yang beliau terima itu, digunakan untuk menolong orang lain. Beliau sungguh-sungguh sangat mengabdi kepada Jemaat dan sangat mencintai Khilafat. Beliau orang yang mengkhidmati orang-tuanya. Alasan beliau mengambil pensiun dini dari pekerjaannya agar dapat mengkhidmati mereka.

Istrinya menerangkan bahwa kebiasaan beliau begitu baik. Jika diri beliau dan anak-anak beliau tidak harmonis, maka untuk menciptakan kedamaian di dalam rumah tangga, beliau juga senantiasa meminta maaf kepada anak-anaknya dan beliau sendiri meminta untuk dimaafkan. Dua bulan sebelum peristiwa pensyahidan, beliau menulis surat nasihat sebanyak 5 lembar kepada keluarganya dengan merujuk beberapa masalah. Di dalam surat itu beliau menulis sambil mengutarakan kepada anak-anaknya bahwa ‘saya pun minta maaf kepada anak-anak yakni inilah alasan saya memaafkan kalian. Walaupun saya tahu bahwa kalian tidak bersalah’. Banyak orang-orang yang datang bekunjung setelah beliau disyahidkan mengatakan bahwa ‘beliau itu telah menolong kami’.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan memberikan taufik kepada anak-anak beliau untuk meneruskan amal-amal shaleh beliau.

(20) Tn. Nasir Mahmood Khan, putra Yth. Tn. Arif Naseem. Ayah beliau Tn. Muhammad Arif Naseem bai’at pada tahun 1968. Beliau berasal dari distrik Amritsar, setelah pemisahan [India-Paksitan] beliau pindah ke Raiwind. Kemudian beliau menetap di Lahore. Beliau adalah seorang pegawai Khudamul Ahmadiyah yang sangat aktif dan pegawai agen percetakan. Ayah beliau juga berkhidmat sebagai pengurus Sekeretaris Ziro’at dan ibunya juga adalah sekretaris umum distrik Lahore. Beliau (alm) sendiri berkhidmat sebagai pengurus Nazim Umumi dan Naib Qaid Awwal untuk distrik Faedhi Town.

Beliau ikut serta dalam nizam Alwasyiat dan beliau disyahidkan di Darudz Dzikr. Pada waktu disyahidkan umur beliau 39 tahun. Saudara laki-laki beliau, Yth. Tn. Amar Mashood memberitahukan, “Ketika para teroris melakukan serangan di Darudz Dzikr, saya ada di dalam ruangan utama dan saudaranya berada di luar tangga. Pada saat penyerangan saya berbicara di telepon dengan beliau. Saya mengatakan, ‘Saya selamat.’ Di belakang tangga terdapat cukup banyak orang. Teroris melemparkan granat ke arah beliau, maka beliau menangkap granat itu kemudian beliau hendak melemparkannya kembali. Beliau ini masih muda. Beliau menangkap granat dengan tangannya sendiri, sehingga orang lain tidak terluka. Atau tidak sampai ada kerugian. Akan tetapi pada waktu itulah granat yang ada di tangannya itu meledak, sehingga beliau menjadi syahid. Beliau mati syahid demi untuk menyelamatkan orang lain.

Beliau sebelumnya telah berwasyiat kepada semua orang di rumah, supaya semua pekerjaan rumah agar diurus sendiri. Beliau sangat ahli dalam pembuatan jaringan kerja dan telekomunikasi. Atas kesyahidan beliau, teman-teman non Ahmadi begitu banyak datang berkunjung. Saudaranya mengatakan, “Tatkala kami membeli sebuah mobil, pada waktu pergi hari raya Id dan lain-lain, maka pertama-tama orang lain yang sampai terlebih dahulu ke mesjid. Keluarganya tidak ada yang ikut bersama mereka. Baru lah beliau membawa kami semua anggota keluarganya ke mesjid. Satu minggu sebelum disyahidkan, beliau sendiri melihat mimpi, ‘Di dalam mimpi saya diperlihatkan bahwa saya ditepuk pada punggung dan ada yang mengatakan bahwa “Janganlah cemas, semua akan baik-baik saja!”’”

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan balasan yang lebih besar lagi kepada Jemaat dari pengorbanan-pengorbanan ini. Semoga Allah Ta’ala memperlihatkan keridhaan kepada Jemaat.

(21) Tn. Umair Ahmad Malik putra Tn. Malik Abdurrahman. Hadhrat Hafiz Nabi Bakhsh adalah buyutnya (ayah kakeknya), sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Mereka ini adalah penduduk kota Faizullah, dekat Qadian. Kakek beliau (alm) Tn. Malik Habiburrahman selain mengajar bahasa Inggris di Jamiah Ahmadiyah, juga mengajar di sekolah dan perguruan tinggi serta di tempat lain. Beliau juga adalah seorang kepala sekolah IT. Hakim Faisal Rahman Sahib adalah mubaligh Jemaat Ghondarkost. Ayah beliau Yth. Tn. Abdul Rahman Sahib merupakan kakaknya.

Beliau (alm) anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyyah yang aktif dan selama 7 tahun berkhidmat sebagai Nazim Isyaat distrik Lahore. Beliau bekerja di AACP sebagai Auditor. Beliau juga sebagai Sadr Kota Lahore selama 3 tahun. Ibu beliau juga berkhidmat sebagai pengurus, Sadr Lajnah Imaillah halqah Faishal Town. Beliau ikut serta dalam nizam Alwasyiat. Beliau berumur 36 tahun saat disyahidkan. Beliau terkena tembakan di mesjid Model Town. Dalam keadaan luka ketika sampai di Rumah Sakit Jinah, beliau syahid. Di hari Jumat itu tidak seperti biasanya beliau mengenakan pakaian putih baru, lalu keluar dari rumah. Ayahnya mengatakan, ”Hari ini engkau nampak sangat rupawan.” Pegawai kantor pun mengatakan demikian. Di dalam mesjid Baitun Nur, tidak seperti biasanya, beliau duduk di shaf depan. Teroris masuk ke bagian dalam ruangan shaf kedua menyerang dengan tembakan. Beliau menelepon ayahnya yang juga hadir di sini (Baitun Nur) dan beliau (alm) mengatakan, ”Allah Hafiz – Selamat Tinggal, “Saya pergi sekarang dan maafkanlah saya.”

Beliau juga menanyakan tentang saudara laki-lakinya dan minta air minum. Lalu seorang pegawai memberikan air minum kepada beliau. Suaranya sangat pelan dan menjadi lemah. Walaupun demikian beliau dibawa dengan menggunakan ambulan. Tekanan darahnya terus menurun. Ketika beliau sampai di rumah sakit, maka matanya terbuka kemudian melihat ibundanya dan meminta air kepada ibunya. Ketika ibunya mengusap wajahnya, maka beliau mencubit jarinya untuk memberitahukan kepada ibunya bahwa ‘saya masih hidup’ dan beliau syahid pada saat dioperasi, karena luka pendarahan di dalam.

Beliau punya banyak hubungan baik dan bekerja di bidang konstruksi dan kontraktor. Beliau mempunyai semangat yang tinggi dalam khidmat khalq. Orang-orang yang datang berkunjung atas kesyahidan beliau dan mereka mengatakan bahwa Umair seorang yang sangat baik. Di hadapan beliau, tidak ada suatu masalah apa pun. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

Iqbal Abid Sahib, muballigh Jemaat, menulis berkenaan dengan Umair Sahib, “Umair Ahmad adalah putra Malik Abdurahman Sahib pergi ke hadirat Allah dalam serangan teroris. Tatkala beliau terkena tembakan peluru, lalu beliau menelpon saya (murabbi) dan mengatakan, ‘Murabbi Sahib, Murabbi Sahib, Khuda Hafiz, Khuda Hafiz, Khuda Hafiz.’ dan suaranya semakin lemah. Terhadap pertanyaan itu beliau hanya ingin mengatakan bahwa di mesjid ada penyerangan dan saya terkena tembakan. Seakan-akan setelah beliau mengucapkan ‘Khuda hafizh, Khuda hafizh.’ Setelah ditanya, beliau mengatakan, ‘Kami akan pergi. Akan tetapi tanggung-jawab menjaga Ahmadiyah sekarang jatuh kepada Tuan. Cucuran darah kami.’”

Insya Allah Ta’ala, pengorbanan orang-orang yang berkorban itu akan memotivasi setiap Ahmadi generasi mendatang dan sedapat mungkin akan berusaha menegakkan keagungan nama Hadhrat Rasulullah saw di dunia ini dan tidak akan terputus dengan yang sebelumnya.

(22) Tn. Sardar Iftikharul Ghani putra Tn. Sardar Abdus Syakur. Beliau merupakan cicit dari Hadhrat Faid Ali ra., seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as.. Hadhrat Faid Ali ra. Sahib menjadi Ahmadi di tangan Hadhrat Rahmat Ali Sahib di Afrika. Setelah kembali dari Afrika bukannya beliau tinggal di Amritsar, malahan menetap di Qadian. Beliau turut serta dalam Nizam Al-Wasyiat.

Waktu disyahidkan umurnya 43 tahun. Beliau memperoleh status syahid di mesjid Darudz Dzikr. Biasanya beliau melaksanakan Shalat Jumat di Mesjid Baitun Nur, Model Town. Tetapi pada hari kejadian itu untuk menunaikan shalat Jumat, beliau berangkat dari kantornya (dari tempat pekerjaannya) menuju ke mesjid Darudz Dzikr. Sebelum disyahidkan, beliau menelpon Sardar Abdul Basit Sahib (yang merupakan paman dari fihak ibunya). Beliau juga menephon ke rumah dan beliau pun sedang membaca wirid yâ hafîzh, yâ hafîzh. Beliau juga mengatakan kepada pamannya supaya berdoa, “Doakanlah! Para teroris menyerang kami.” Beliau memberitahu kepada Istrinya bahwa di mesjid ada penyerangan, lalu istrinya menelpon beliau dan mengatakan “anda jangan pergi untuk shalat Jumat.” Tetapi ternyata diketahui bahwa beliau sudah berada di Baitul Dzikr. Beliau mengatakan supaya di rumah juga berdoa dan jam setengah tiga beliau menelpon temannya, seorang tentara kemudian mengatakan bahwa ‘dalam keadaan seperti ini tidak ada seorang pun polisi. Engkau datanglah untuk menolong orang-orang di mesjid’.

Beliau berusaha menyelamatkan orang lain, hingga beliau mati syahid. Dan beliau mendapat kesempatan menyelamatkan diri setelah menangkap seorang teroris. Namun teroris lainnya menembak beliau. Teroris yang ditangkap itu, dia berusaha melawan. Akan tetapi beliau menjadi syahid dan teroris itu pun terluka parah. Orang-orang mengatakan bahwa beliau ini bisa dengan mudah selamat jika beliau pada waktu itu menghindar dan beliau tidak menyerang teroris itu.

Beliau (alm) suka dan memiliki semangat yang besar untuk berkhidmat kepada kemanusiaan. Ketika seseorang memerlukan, beliau mengulurkan tangan, mendonorkan darahnya. Walaupun beliau sendiri selalu dalam keadaan sulit, namun beliau selalu menolong orang lain. Banyak mimpi yang sangat baik. Istrinya mengatakan bahwa ‘saya tidak pernah peduli bahwa saya hendak dijadikan sahabat atau teman’. Beliau selalu menolong semua pekerjaan di rumah. Bahkan sampai untuk mencuci piring juga, mencuci pakaian. Beliau memiliki tabiat seorang yang sangat sederhana. Beliau bisa menyembunyikan amal shalehnya, selalu sibuk beristighfar dan banyak membaca shalawat. Beliau selalu bertasbih dengan jari-jarinya. Beliau seorang yang suka berkhidmat dan hatinya lembut. Dalam segala segi, beliau adalah baik dan juga kepada sesama manusia. Beliau juga bersahabat dengan anak-anak dan beliau melakukan pengkhidmatan terhadap ibunya.”

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya dan memberikan kesabaran yang besar serta ketabahan kepada para keluarga yang ditinggalkan dan Allah Ta’ala menganugerahkan taufik yang luar biasa. Semoga Dia menegakkan kebaikan-kebaikan.

Insya Allah para syuhada yang lainnya akan saya sampaikan kemudian. Sebab riwayat hidup mereka ini cukup panjang untuk disampaikan. Semoga Allah Ta’ala menjaga setiap orang Ahmadi dalam perlindungan-Nya.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Mehndi/Mehandi/Mehendi,/Henna adalah suatu teknik untuk menggambar di tubuh yang merupakan Seni Tubuh kuno. Mehndi digunakan untuk menciptakan suatu etnis atau desain kontemporer yang rumit dan pola eksotis di berbagai bagian tubuh. Secara tradisional Mehndi diaplikasikan pada tangan dan kaki perempuan untuk mempersiapkan upacara khusus. Bahannya benar-benar alami (di Indonesia dikenal sebagai pacar), non-permanen dan tidak sakit. Tapi tidak hanya untuk seremonial saja, biasanya mehndi juga dipakai untuk keseharian, karena sifatnya yang tidak permanen maka desainnya pun bisa berganti-ganti. Daun Henna juga telah digunakan sebagai pewarna rambut selama ribuan tahun di Afrika Utara, Semenanjung Arab, Levant, dan Asia Selatan.