Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 25 Juni 2010 di Masjid Baitul Futuh, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمّدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرّجيم.

 بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ

 

Hari ini dengan karunia Allah Ta’ala bersamaan dengan khotbah saya ini tengah dimulai pembukaan Jalsah Salanah Jemaat Jerman. Semoga Allah Ta’ala memberkati Jalsah ini dari segala segi. Semoga dengan segenap keberkatan-keberkatannya, Jalsah ini menjadi penyegar dan dapat meniupkan ruh baru pada iman-iman kita. Senantiasa perhatikanlah maksud-maksud yang mana Hadhrat Masih Mau’uda.s. telah menyelenggarakan Jalsah. Dan maksud-maksud itu adalah supaya setelah memahami hakikat bai’at, kita dapat meraih kemajuan dalam iman, ketakwaan dan kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasuls.a.w. yang melingkupi atau mengalahkan kecintaan-kecintaan duniawi, dapat meraih kemajuan dalam kebaikan-kebaikan, dapat melangkah maju setelah mendengar ceramah-ceramah ilmiah dan ruhani, tarbiyat dapat meningkatkan ilmu dan makrifat, dapat menegakkan ikatan cinta dan kasih sayang serta persaudaraan di antara sesama dan kita terus menerus meningkatkan ikatan-ikatan kekerabatan tersebut. Kita do’akan untuk saudara laki-laki dan saudara perempuan kita yang pergi meninggalkan kita pada tahun ini dan juga untuk mereka yang berpisah dengan kita dalam memenuhi janji bai’at mereka. Jadi apabila dalam tiga hari ini kita memperhatikan maksud-maksudnya, maka barulah kita akan meraih keberkatan dari jalsah ini.

Bersama itu saya juga ingin menyampaikan bahwa untuk meraih maksud-maksud tersebut dalam tiga hari kalian ini, berusahalah untuk mengubah kondisi kalian secara khusus dan juga panjatkanlah do’a-do’a. Seberapa bisa kalian berdo’a untuk diri kalian, berdo’alah juga di sini. Semoga Allah Ta’ala menjadikan setiap anggota Jemaat di sudut manapun di dunia mereka tinggal, semoga Dia menganugerahkan perlindungan khusus kepada mereka.

Dewasa ini di Pakistan tengah ada upaya untuk mempersempit situasi dan kondisi bagi Jemaat Ahmadiyah. Para penentang diberikan keleluasaan dengan sebebas-bebasnya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi langkah yang teguh kepada anggota Jemaat di Pakistan. Memperteguh iman mereka dan melindungi mereka dari setiap keburukan. Semoga sejalan dengan pengabulan dari pengorbanan-pengorbanan mereka, Allah Ta’ala memperlihatkan tanda yang luar biasa pada mereka.

Sebelum saya meneruskan topik inti berkenaan dengan Jalsah Salanah. Saya ingin juga menyampaikan perkara-perkara yang menyangkut dengan sistem persiapan. Saya ingin menarik perhatian kalian ke arah ini. Untuk pelaksanaan pengaturan-pengaturan atau persiapan-persiapan Jalsah, kalian semua mengetahui bahwa di dalamnya terdapat berbagai bidang dan ketua setiap bidang dan setiap petugas ditetapkan untuk mengkhidmati para tamu. Individu-individu yang berkaitan dengan berbagai bidang kehidupan Jemaat mempersembahkan dirinya untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Dengan karunia Allah Ta’ala pada umumnya mereka melakukan pengkhidmatan tanpa pamrih. Di antara mereka terdapat para pria dan wanita, remaja, orang-orang lanjut usia dan juga anak-anak. Setiap orang dari antara mereka dengan karunia Allah Ta’ala merupakan orang-orang yang menjalankan kewajiban- kewajibannya. Oleh karena itu para peserta Jalsah hendaknya bekerja sama sepenuhnya dengan para petugas. Untuk mendapatkan persiapan-persiapan jalsah yang terbaik terdapat beberapa peraturan-peraturan untuk persiapan-persiapan yang terbaik dan semua itu telah dibuat. Jadi jika ada petugas mengingatkan seorang tamu mengenai hal itu maka hendaknya berusaha mengamalkannya, bukannya menjadi marah atas sesuatu. Saya sebelumnya telah katakan kepada para petugas bahwa mereka hendaknya melaksanakan tugas-tugas mereka dengan berakhlak mulia atau dengan sopan santun.

Hal penting kedua bagi para peserta khususnya yang ingin saya katakan adalah hendaknya memperhatikan lingkungan sekitar masing-masing. Walaupun ada yang menangani bidang keamanan, tetapi orang jahat yang ingin melakukan tindak kejahatan bisa saja melakukannya. Sementara sekarang ini rencana-rencana para penentang di setiap tempat ingin mendatangkan kerugian atau sekurang-kurangnya menciptakan keresahan di kalangan warga Jemaat. Di Jalsah juga meskipun keamanan dari segala sisi telah diupayakan, namun para teroris bisa saja masuk dengan tipu muslihat. Keamanan atau penjagaan merupakan persiapan yang menyeluruh, karena itu dengan persiapan kemananan yang khusus hendaknya bekerja sama secara utuh.

Seandainya sepuluh kali pun kalian harus menyodorkan diri untuk diperiksa, maka tampilkanlah diri kalian. Ini bukan merupakan kelancangan terhadap diri kalian atau bukan merupakan satu corak keraguan terhadap diri kalian, melainkan ini untuk penjagaan bagi kalian. Jangan menganggap hal itu suatu persoalan besar yang ada nilainya. Jika bersama seseorang ada seorang tamu yang sedang datang, maka izin baru akan diberikan kepadanya jika dapat izin dari pihak penanggung jawab dan para penanggung jawab merasa puas dengan cukup [bukti]. Atau corak mekanisme apapun yang para penanggung jawab telah tetapkan, maka [para tamu] harus melalui itu.

Semoga Allah Ta’ala menjaga kalian semua dalam perlindungan-Nya dan menganugerahkan taufik-Nya. Semoga kalian sebisa mungkin mengambil manfaat sebanyak-banyak dari Jalsah.

 Kini saya kembali kepada topik khotbah dan topik khotbah hari inipun berkisar pada paparan kenangan baik dari para syuhada Lahore, yang mana dengan mengorbankan jiwanya, mereka telah meletakkan jalan-jalan baru bagi pemikiran-pemikiran kita. Dalam daftar urutan nama para syuhada hari ini, nama paling pertama yang ada di hadapan saya adalah sebagai berikut:

(48.) Mukaram Khalil Ahmad Sulanggi Sahib, beliau adalah putra Mukaram Nasir Ahmad Sulanggi Sahib. Daftar susunan ini tidak dengan alasan pada faktor khusus, tetapi sebagimana data-data yang di hadapan saya, [maka itu] yang saya akan terangkan. Hubungan nenek moyang Khalil Ahmad Sulanggi Syahid adalah dari kampung Khara dekat Qadian, beliau berasal dari sana. Kakek beliau Hadhrat Master Muhammad Bakhs Sulanggir.a. Sahib merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Mukaram Abdul Qadir pedagang penggilingan atau pemilik penggilingan gandum juga merupakan kerabat beliau.

Setelah pembagian [India-Pakistan] mereka ini pindah ke Gujranwalah. Setelah beliau menyelesaikan pendidikan insinyur bidang kelistrikan di perguruan tinggi pemerintah Lahore, selama 5 tahun beliau bekerja di WAPDA (bagian pengairan), kemudian dengan ayahnya beliau mulai berbisnis. Sesudah ayah beliau wafat, beliau memulai bisnisnya sendiri. Pada tahun 1997 beliau ini datang ke Lahore dan di sini (Lahore) beliau terus menjalankan bisnis dan setahun sebelumnya untuk mengekspor karpet beliau memulai pekerjaan di Amerika dan kemudian tinggal di Amerika. Sebelumnya di Pakistan juga beliau cukup lama tinggal sambil bisnis.

Beliau telah melakukan pengkhidmatan di Pakistan sebagai Nazim Athfal, sebagai Qaid Wilayah, Qaid Khuddamul Ahmadiyah kabupaten Gujranwala, Qaid Majlis Ansharullah wilayah Lahore, Sadr dan anggota Shan’at wa Tijarat untuk Dewan Syura Pusat, beliau juga berkhidmat sebagai Sekretaris Khas kabupaten Lahore.

Pada waktu syahid umur beliau 51 tahun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah seorang mushi. Beliau syahid di mesjid Darudz Dzikir. Syahid marhum sebulan sebelumnya datang dari Amerika ke Pakistan untuk urusan bisnisnya dan sampai ke mesjid Darudz Dzikir untuk menunaikan shalat Jum’at. Pada saat penyerangan beliau lama berada di halaman bawah, di bawah tangga, kurang lebih satu jam dengan warga Jemaat lainnya. Mungkin baru 20 menit beliau pergi, tetapi karena melihat seorang Ahmadi yang cedera, maka untuk melindunginnya dalam keadaan berusaha untuk menariknya ke bawah tangga, beliau menjadi sasaran teroris dan peluru bersarang di arah sebelah kanan dada beliau.

Cukup lama dalam kondisi terluka beliau tetap berada di bawah tangga. Tapi Allah Ta’ala mengabulkan ke-syahidan beliau karena itu beliau mendapatkan kedudukan syahid di masjid. Ketika terjadi serangan di Darudz Dzikir, maka beliau menelpon Sulanggi, anak beliau yang besar bahwa terjadi penyerangan seperti ini, karena itu serahkanlah pada Tuhan, berdo’alah semoga Allah Ta’ala melindungi semuanya dan katakan pula supaya berdo’a untuk orang-orang rumah.

Beliau merupakan sosok yang sangat mukhlis dan senantiasa terdepan dalam jihad pengorbanan harta. Beliau dari sejak kecil memperoleh kehormatan bekerja pada kedudukan-kedudukan tinggi dalam Jemaat. Beliau memiliki semangat yang tinggi dalam mengkhidmati Jemaat. Beliau merupakan pribadi yang senantiasa banyak mengambil bagian dalam setiap gerakan pengorbanan-pengorbanan harta. Senantiasa dalam posisi terdepan dalam pengorbanan-pengorbanan harta. Beliau menyuruh membangun masjid di RW Bagwanpur, Gujranwala. Untuk ruang resepsi Darudh Dhiafat, Rabwah beliau yang memberikan uang pengeluaran untuk itu.

Seorang sosok manusia yang soleh dan pekerja yang tekun. Beliau memberikan perhatian penuh pada pendidikan dan tarbiyat anak-anak. Sebelum memulai setiap pekerjaan, beliau senantiasa meminta restu dan bimbingan dari Khalifah. Di dalam diri beliau ketaatan kepada Khilafat tidak ada tandingannya. Dulu bisnis beliau ada di Pakistan. Mengenai bisnis beliau akibat dari kondisi lainnya, saya telah katakan padanya supaya pergi ke Amerika. Maka pada saat itu dari Lahore beliau bersiap-siap pergi ke Amerika. Beliau banyak membantu orang-orang Ahmadi yang tidak mempunyai mata pencaharian untuk mendapatkan pekerjaan.

Istri beliau mengatakan, “Kehidupan rumah tangga kami pun merupakan contoh atau model sebuah rumah tangga yang ideal. Beliau merupakan bapak dan suami teladan serta merupakan sosok yang dari segala segi setiap saat senantisa memperhatikan anak-anak dan istri.”

Jika ada seseorang yang mendatangi pintunya karena memerlukan sesuatu, maka beliau tidak pernah membiarkannya pergi dengan tangan hampa. Orang-orang datang pada beliau untuk mencari solusi tentang permasalahan-permasalahan mereka dan beliau biasa memberikan solusi yang sangat baik. Oleh karena itu beliau juga dijadikan sebagai anggota dewan pengurus kerajinan pusat.

Beliau merupakan sosok manusia yang murah senyum dan keceriaan senantiasa menghiasi wajah beliau. Setiap pekerjaan sulit yang diserahkan pada beliau, beliau mengambilnya dengan senang hati, bahkan kadang-kadang mengatakan ‘insya Allah Ta’ala akan selesai’. Dan Allah Ta’ala menganugerahkan kemampuan kepada beliau sehingga beliau menyelesaikannya dengan baik. Beliau juga mempunyai keahlian yang luar biasa dalam menggunakan orang lain. Bicara beliau sangat lunak dan lembut, akhlak sangat mulia. Misalnya tidak mesti bahwa kewajiban-kewajiban yang diberikan padanya itulah yang dikerjakannya. Jika sekretaris Waqfi Jadid memohon padanya untuk mengumpulkan candah bersamanya, walaupun bukan merupakan pekerjaannya, namun beliau keluar bersamanya.

Hadhrat Khalifatul Masih IVr.h. ketika menghimbau untuk dana masjid Baitul Futuh, maka beliau segera mengirimkan janjinya dengan perantaraan fax dan beliau bayar secepatnya juga. Sekretaris Umur Ammah, Choudry Munawar Ali Sahib menerangkan bahwa dalam persiapan-persiapan Jalsah Salanah Qadian beliau diserahi menangani bidang transportasi dan dengan sangat baik beliau melakukan tugas ini. Beliau melakukan dengan penuh tanggung jawab pengurusan bis-bis, mobil-mobil dan transport lainnya yang diserahkan pada beliau. Karakteristik beliau jika sepanjang hari pun bekerja beliau senantiasa tetap tersenyum. Pembawaan beliau senantiasa selalu ceria. Kendati pun beliau pindah ke Amerika, pada tahun 2009 diadakan Jalsah Salanah di Qadian, pada saat itu beliau datang ke Pakistan dan melakukan pekerjaan itu dengan sangat baik; memberikan bantuan kepada orang-orang yang pergi ke Qadian.

 Ikatan saya dengan beliau juga cukup lama sejak zaman masa Khuddamul Ahmadiyah dulu. Kerja sama yang sempurna dengan pusat dan merupakan contoh dari ketaatan. Dalam kondisi apapun, kapan ada panggilan, maka tanpa mempedulikan pekerjaannya beliau segera hadir. Umumnya seorang pebisnis tidak meninggalkan bisnisnya. Kini pun ketika beliau pergi dari sini, beliau pergi setelah berjumpa dengan saya di London dan walaupun akibat situasi, saya katakan juga kepada beliau bahwa berhati-hatilah, namun singkat kata Allah Ta’ala telah menetapkan ke-syahid-an untuk beliau dan beliau telah syahid. Beliau khawatir bahwa para sepuh atau tokoh pendahulu dan para pengkhidmat dalam Jemaat yang merupakan orang yang paling pertama menerima Hadhrat Masih Mau’uda.s., sebagian anak-anak atau keturunan mereka tidak sedang melakukan pengkhidmatan. Sesungguhnya inipun merupakan hal yang menjadikan kesedihan dan menyakitkan diri beliau dan dengan rasa prihatin beliau mengutarakannya kepada saya lalu pergi dan beberapa urusan-urusan atas pertanyaan saya beliau beritahukan dan berkenaan dengan itu beliau memberikan pendapat atau pesan yang tulus. Beliau juga sangat bagus dalam memberikan pendapat.

Mantan Amir Gujranwala menulis, “Sulanggi Sahib biasa mengutarakan bahwa dalam perbandingan ikatan dengan Khilafat tidak ada artinya hubungan persahabatan dan kekerabatan. Pada tahun 1974 sebagian anggota keluarga Sulanggi memperlihatkan kelemahan. Pada saat itu umur beliau masih sangat kecil namun beliau meninggalkan keluarga lalu pergi ke rumah Amir Jemaat, Choudry Abdurrahman di mana semua anggota Jemaat mengungsi dan di sana beliau mulai melaksanakan tugas jaga. Choudry Sahib juga sangat terkesan atas pengorbanan beliau ini.”

Sebagaimana saya telah katakan bahwa beliau banyak mendapatkan taufik untuk melakukan pengorbanan harta. Mantan Amir ini (Choudry Sahib) menulis bahwa beliau merupakan orang yang memberikan pengorbanan di jalan Allah Ta’ala dengan hati yang lapang. Satu kali beliau mendapat satu kapling tanah yang kemudian sesudahnya beliau tidak dapatkan. Tapi harganya adalah 5 juta rupis (lima ratus juta rupiah). Beliau mengatakan bahwa ‘saya akan membayarnya’, namun itu tidak diperoleh. Tetapi sebagai perbandingannya ada lagi rumah lain yang harganya 4 juta 400 ribu rupis ( 440 juta rupiah) yang beliau peroleh, yang harganya beliau telah lunasi dan kini tengah digunakan oleh Jemaat sebagai guest house/rumah tamu. Sebelumnya juga cukup besar uang yang beliau telah berikan namun beliau tidak pernah mengatakan bahwa ‘baru saja dalam waktu yang dekat saya telah memberikan uang’.

Pada waktu perayaan 100 tahun Jemaat, rumah tamu yang didirikan dari pihak Jemaat Lahore di Qadian untuk pembangunannya pun beliau telah memberikan sejuta rupis (100 juta rupiah). Rumah tamu Khuddamul Ahmadiyah yang ada di Rabwah untuk biaya renovasi beliau telah memberikan uang yang banyak. Singkatnya beliau senantiasa terdepan dalam pengorbanan harta dan juga dalam pengorbanan waktu.

Ketaatan, kerjasama dan penghormatan kepada orang yang mewakafkan diri dan kehormatan kepada para karyawan Jemaat pun sangat beliau perhatikan. Tidak ada kebanggaan atas kepemilikan uang. Seberapa pun harta terus datang pada beliau, saya melihat bahwa beliau tetap dalam keadaan memperlihatkan kerendahan hati.

(49.) Syahid kedua Mukaram Choudry Ijaz Nasrullah Khan Sahib, beliau adalah putra Choudry Asadullah Khan Sahib. Beliau ini merupakann keponakan dari Choudry Zafrullah Khan(r.a.) dan saudara sepupu Choudry Hamid Nasrullah Khan Sahib. Beliaupun senantiasa memperoleh taufik untuk melakukan pengkhidmatan kepada Jemaat. Beliau memperoleh karunia melakukan pengkhidmatan bersama 4 Khalifah Ahmadiyah. Bapak beliau Choudry Asadullah Sahib merupakan mantan Amir Jemaat Ahmadiyah kabupaten Lahore. Permulaan pendidikan beliau adalah di Qadian. Beliau menyelesaikan pendidikan SMU dan S1 nya di Lahore. Beliau menyelesaikan pendidikan BRIGHT LAW dari universitas hukum di London. Beberapa lama beliau praktek sebagai pengacara di London. Kemudian akibat sakitnya bapak beliau, atas petunjuk Hadhrat Khalifatul Masih IIIr.h., beliau kembali kemudian atas anjuran Hudhur a.t.b.a. pindah ke Islamabad. Kemudian pada tahun 1984 beliau pensiun dan sesudahnya tidak mengerjakan pekerjaan duniawi. Beliau mendapat taufik untuk berkhidmat dalam berbagai kedudukan yaitu kedudukan dalam tugas-tugas Jemaat. Beliau menjabat sebagai Naib Amir Islamabad, Naib Amir kabupaten Lahore, anggota Dewan Qadha, anggota Dewan Fiqah Komite dan pada waktu syahid usia beliau 83 tahun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang mushi dan syahid di masjid Darudz Dzikir.

Pada hari Jum’at setelah beliau siap, lalu keluar dari kamar. Maka begitu keluar dari kamar beliau mengatakan, “Saya sangat lemah”. Kemudian beliau sarapan pagi dan mengatakan kepada anaknya bahwa ‘saya akan pergi jam 12’. Anaknya mengatakan sebegitu cepat pergi sampai di sana akan kerja apa. Maka beliau menjawab bahwa ‘hati saya tidak menghendaki pergi meloncat dari atas orang-orang lalu duduk di shaf pertama’. Anak dan cucunya bersama beliau. Anaknya sebelum pergi tugas jaga mengatakan kepada beliau ‘dudukkanlah cucu bapak bersama bapak’. Biasa sebelum ada kejadian cucu beliau ini senantiasa beliau dudukkan bersama beliau. Beliau mengatakan kepada anaknya, “Jangan, bawalah bersama kamu”. Anak beliau mengatakan, “Saya ada tugas jaga”. Maka beliau mengatakan tidak sama sekali tidak. Maka anak beliau melepaskan anaknya, yakni cucu beliau, bersama orang lain entah siapa dan Allah Ta’ala melindungi anak dan cucu beliau kedua-duanya. Syahid mahrum ini duduk di kursi di ruang aula utama di depan mimbar mesjid di shaf pertama. Dari kanan beliau terjadi serangan yang sangat gencar yang karenanya peluru-peluru menerjang perut beliau. Seseorang memberitahukan kepada beliau bahwa Amir Choudry Sahib mengatakan kepada beliau bahwa beliau harus keluar, maka sebagai jawabannya beliau berkata bahwa ‘saya telah memohon ke-syahid-an’. Maka tubuh Amir Sahib dan tubuh beliau didapatkan dalam keadaan tergeletak di satu tempat yang sama.

Maulwi Basyiruddin Sahib melihat dalam mimpi bahwa ada sebuah kendaraan putih yang turun dari langit, dari situ terdengar suara bahwa ‘saya datang untuk mengambil tuan’. Pada malamnya beliau menunaikan shalat Isya lalu tidur. Dan malam hari pada jam satu beliau bangun kemudian senantiasa sibuk dalam shalat tahajjud. Dan berdo’a merupakan pekerjaan beliau. Beliau mengatakan kepada setiap orang untuk berdo’a. Yakni berdo’a untuk kebaikan dan husnul khôtimah atau akhir hidup yang baik. Kecintaan beliau kepada Khilafat sampai pada puncak kulminasinya. Sebagai seorang pengkhidmat beliau sangat terpuji, beliau selalu memuji mereka bahwa betapa indahnya dan menawannya Jemaat, orang-orang setelah menyelesaikan pekerjaannya masing-masing mereka lalu sibuk dalam pekerjaan Jemaat. Manakala beliau duduk di tengah orang-orang, maka beliau bertabligh. Ketika majelis pertemuan selesai, maka beliau mengatakan jika ada yang merasa terganggu/tersinggung mohon dimaafkan. Dari seratus anak-anak yatim, beliau secara rutin memberikan belanja atau pengeluaran untuk seorang anak yatim. Ada seorang pembantu datang dari Rabwah yang hanya belajar sampai kelas tujuh, di rumah beliau berkata ‘ajarlah juga dia dan apa yang untuk pendidikan kalian memberikan barang-barang untuk anak-anak kalian, itu pula berilah dia’. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah seorang mushi. Anaknya menerangkan dan orang lainpun juga menulis ini bahwa dari sejak kecil beliau menjelaskan akan keinginan beliau bahwa semoga Allah Ta’ala menganugerahi taufik untuk melunasi washiyatnya di masa hidupnya. Maka seperti itulah yang terjadi dan tiga tahun sebelum syahid, Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau untuk pelunasan washiyat jaidad beliau. Dan beberapa hari sebelum syahid beliau telah melunasi semua candah-candahnya.

Beliau di Islamabad pada waktu masa kerjanya bekerja sebagai pencatat di monopoly control authority. Pada saat itu datang file (berkas) catatan bersama rekomendasi perdana menteri, waktu itu Bhutto sebagai perdana menteri. Ketika file itu datang, maka tampak pada Choudry Sahib peraturan-peraturan yang cacat hukum. Lalu beliau mengembalikan file itu sebagai tanda ketidaksetujuan beliau. (Coba bayangkan) file itu datang dari perdana menteri Pakistan. Beliau mengatakan, “Ini merupakan perkara yang bertentangan dengan undang-undang, saya tidak bisa menerima itu atau meluluskan itu. Ini adalah pekerjaan salah”. Sehingga perdana menteri yang pada waktu itu merupakan pemimpin yang sedang berkuasa menjadi sangat marah. Dan dengan mengancam, dia membuat catatan bahwa ‘akan diambil tindakan keras terhadap anda’. Choudry Sahib juga tidak menyembunyikan diri sebagai Ahmadi dan sesuai dengan peluang yang ada beliau juga bertabligh. Perdana menteri juga mengetahui bahwa beliau ini Ahmadi. Karena dalam urusan ini dia (perdana menteri) menggunakan kata-kata yang salah berkenaan dengan Choudry Zafrullah Khan(r.a.). Walhasil permasalahan ini sampai kepada Hadhrat Khalifatul Masih III, lalu Hudhur sambil berdo’a berkata, baiklah, kuatkan tekad dan kalau penakut maka buatlah permohonan pengunduran diri. Ketika Choudry Sahib menerima amanat Khalifatul Masih III, maka beliau mengatakan, “Apapun yang terjadi saya tidak akan mengundurkan diri”. Dan beliau menulis surat yang panjang kepada perdana menteri bahwa ‘jika saya mengundurkan diri maka bisa jadi dianggap ada yang saya sembunyikan. Saya tidak menyembunyikan apa-apa karena itu saya memutuskan untuk tidak mengundurkan diri’. Atas langkah yang beliau ambil itu, diambil tindakan untuk beliau. Dan beliau mendapat sebuah nota bahwa ‘anda telah dibebas tugaskan dari pengkhidmatan-pengkhidmatan dan tidak ada sebab yang diberitahukan. Kemudian beliau mengemukakan permasalahannya di hadapan Hadhrat Khalifatul Masih III dan memohon untuk dido’akan. Hudhur pun mendo’akan. Pagi berikutnya, kata beliau, “Saya keluar untuk menunaikan shalat subuh.” Maka pada saat beliau berjumpa dengan Choudry Abdul Haq, Amir pada saat itu, Amir Sahib mengatakan bahwa ‘saya tengah mendo’akan untuk tuan, lalu saya mendengarkan suara, “Jalanilah hari-hari libur anda atau berliburlah dan bergembiralah”.’ Maka ketika pemerintahan Bhutto berakhir dan tentara mulai mengadakan penggeladahan di semua perkantoran maka file beliau pun diketemukan. Berkas-berkas surat data mengenai beliau diketemukan dan ketika dimintai keterangan dan kemudian diketahui bahwa beliau dibebaskan dari dinas kepegawaiannya dengan tanpa alasan, maka atas hal itu segera diambil tindakan dan beliau kembali dikaryakan dan bersama itu pula ada catatan yang didapatkan bahwa masa dua tahun yang tuan dibebaskan tugaskan itu dianggap sebagai masa libur. Maka seperti itulah mimpi yang Allah Ta’ala telah perlihatkan kepada seorang Ahmadi lainnya pun menjadi sempurna. Dan inipun merupakan pekerjaan Tuhan yang unik bahwa jika seorang penentang Ahmadiyah telah membebas tugaskan beliau; maka pengaktifan kembali beliau bekerja pun; Dia menyuruh penentang Ahmadiyah yang telah melakukannya dan Ziaul Haq (penentang Ahmadiyah) telah mengembalikan beliau bekerja.

Anak beliau mengatakan bahwa ‘para aparat berwenang di Lahore mengatakan kepada kami bahwa demi untuk keselamatan, tukarlah mobil tuan, yakni nomor plat mobil supaya diganti. Dan supaya selalu berganti-ganti jalan pulang-pergi dari masjid Darudz Dzikr. Maka ketika saya mengatakan kepada ayah saya, kemudian beliau mengatakan “baiklah, lakukanlah itu” dan bersama itu pula ada petunjuk [kepada beliau dari aparat] bahwa sesekali tinggalkanlah Shalat Jumah. Ketika saya memberitahukan petunjuk ini kepada ayah saya, maka beliau mengatakan, “Shalat Jum’ah saya tidak akan tinggalkan walau apapun yang akan terjadi. Sebanyak-banyaknya musuh apa yang bisa dia perbuat, dia hanya akan men-syahid-kan kita dan apa lagi yang kita inginkan”.’

(50.) Syahid berikutnya adalah Choudry Hafiz Ahmad Kahlun Sahib, beliau adalah seorang pengacara. Ayah beliau adalah Choudry Nazir Ahmad Sahib dari Sialkot. Hubungan [domisili beliau] berasal dari kabupaten Sialkot, gelar pendidikan beliau adalah LLB. Secara rutin beliau bekerja sebagai pengacara. Sebelumnya beliau berdomisili di Sialkot kemudian pindah ke Lahore. Di Mahkamah Agung beliau bekerja sebagai pengacara. Pada saat syahid umur beliau 83 tahun dan ke-syahid-an beliau terjadi di masjid Model Town. [Pada hari kejadian] untuk menunaikan shalat Jum’at beliau berada di ruang utama masjid Baitun Nur. Pada saat penyerangan beliau terluka karena terkena tembakan di dadanya. Cukup banyak diusahakan untuk memulihkan nafas beliau, tetapi di sanalah beliau syahid. Mantan Jenderal Nasir Syahid, Mukaram Muhammad Ghalib Syahid dan Mukaram Choudry Ijaz Nasrullah Khan Syahid juga semuanya merupakan keluarga dari Hafiz Ahmad Kahlun Sahib.

Beliau (alm) ini memiliki karakter (kepribadian) yang sangat lembut. Beliau tidak pernah memarahi seseorang. Di rumah juga beliau memperlakukan para pembantu dengan baik. Beliau teratur dalam shalat. Kebanyakan beliau pergi shalat dengan berjalan kaki. Seorang putra beliau, Nasir Ahmad Kahlun Sahib adalah Naib Amir Australia. Beliau adalah seorang yang memiliki karakter yang sangat baik. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Berkenaan dengan beliau, seseorang menulis surat kepada saya bahwa beliau memberikan biaya gratis bagi kasus orang-orang yang miskin. Bahkan beliau juga membantu keuangan orang-orang. Pada zaman militer ketika terjadi sebuah kasus karena Lajnah menulis kata “Panjten Pak” (lima sosok yang suci) di lembar ujian Lajnah. Choudry Sahib melakukan pembelaan terhadap kasus itu dengan cara yang terbaik lalu membuat kasus itu selesai. Banyak orang-orang bukan Ahmadi datang untuk takziah beliau. Bahkan sebagian orang yang benci kepada Jemaat juga datang untuk melakukan lawatan. Seorang penasehat yang bertugas di pengadilan di kantor beliau, mengatakan bahwa dia menerima telpon ucapan belasungkawa dari seorang mantan hakim dan lama sekali menyatakan rasa dukanya yang mendalam. Sang penasehat tersebut mengatakan kepada hakim, mohonlah ampunan untuk beliau. Maka jawaban mantan hakim tersebut adalah [perhatikanlah betapa tinggi antipatinya] ‘saya memang menyatakan belasungkawa tapi saya tidak bisa mendo’akan untuk pengampunan’.

Shalat Jum’at beliau lakukan secara teratur di mesjid Baitun Nur, Model Town. Meskipun penglihatan beliau lemah, beliau biasa pergi ke masjid untuk shalat maghrib dengan berjalan kaki. Beliau menunaikan shalat lima waktu di masjid yang ada di lingkungan beliau. Beliau menilawatkan Al-Qur-an berjam-jam. Ketika cucu beliau yang kecil diberitahukan tentang ke-syahid-an beliau, maka ibunya memberitahukan kepadanya, begitulah beliau (alm) pergi ke langit. Setelah beliau syahid maka sedemikian rupa pengaruh pembacaan Al-Qur-an beliau kepadanya, anak tersebut setiap saat melihat dan mengatakan bahwa mungkin beliau sedang duduk di sana membaca Al-Qur-an Syarif. Jadi inilah pengaruh yang hendaknya setiap Ahmadi tegakkan contoh amal ini dengan memperlihatkannya pada anak-anak.

(51.) Syahid berikutnya yang ingin saya sebutkan adalah Choudry Imtiyaz Ahmad Sahib, beliau adalah putra Choudry Nisar Ahmad Sahib. Kakek Al-Marhum Choudry Muhammad Bota dari Bheni Muharramah kabupaten Gudaspur bai’at pada tahun 1935. Kakek beliau hanya sendirian sebagai Ahmadi dan seluruh kampung merupakan penentang. Pada saat kakek beliau wafat, maka para mullah (ulama) berteriak keberatan dan akhirnya kuburan beliau digali, karena itulah pemakaman beliau dilakukan di tanah beliau sendiri.

Sesudah pembagian anak benua India keluarga ini pindah ke sebuah kampung di Sahiwal. Dan pada tahun 1972 ayah beliau datang ke Lahore. Pada waktu syahid, umur Imtiyaz Ahmad Sahib 35 tahun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah mushi. Beliau mendapat taufik terpilih sebagai pembantu qaid kabupaten, nazim tarbiyat mubayyin baru kabupaten, dan mantan nazim athfal, sekretaris Isya’at Difens. Beliau juga syahid di mesjid Darudz Dzikr. Beliau tugas jaga di pintu gerbang utama sebelah kanan. Ketika para teroris telah melakukan penyerangan maka beliau ini berlari untuk menangkap teroris. Pada saat itu akibat tembakan beliau menjadi terluka. Peluru mengenai kepala dan dada beliau sehingga beliau merupakan syahid yang paling pertama dalam peristiwa penyerangan itu. Walhasil beliau senantiasa terdepan dalam pengkhidmatan, beliau juga pernah sebagai wakil syura, dari sejak kecil beliau senantiasa terdepan dalam ambil bagian dalam tugas-tugas athfal. Pada perayaan 100 tahun Jemaat di lingkungan beliau, beliau memperoleh taufik berkhidmat di bagian terdepan. Beliau melaksanakan tugas menjaga pengamanan dengan sangat baik. Pada umumnya beliau bertugas jaga di luar pintu gerbang. Beliau senantiasa rutin dalam pelaksanaan shalat-shalat. Beliau mengikutsertakan kedua putra beliau dalam gerakan waqf-e-nou yang beberkat. Beliau senantiasa sangat memuliakan para pengurus Jemaat. Beliau memiliki kemampuan kepemimpinan yang berkualitas. Beliau sangat ingin mewakafkan diri dan dalam menjalankan tugas jaga pun menganggap diri beliau sebagai waqaf.

Di halaman pertama catatan harian beliau didapatkan tulisan (sesudahnya beliau melihat): orang yang penakut berkali-kali mati, sementara orang yang pemberani hanya sekali kematiaan datang menjemputnya. Kemudian seorang saudara perempuannya tinggal di Amerika. Beberapa lama sebelumnya, saudara perempuannya datang ke Pakistan, dia minta bahwa ‘tulislah sesuatu di catatan harian saya’. Maka syahid marhum menulis di atasnya: “Sikap fana dan kesetiaan yang ada dalam diri kami adalah datang akibat dari do’a seorang Masih.”

Istrinya menceriterakan bahwa sebelum syahid beliau (alm) melihat dalam mimpi bahwa ‘waktu saya adalah sedikit’ dan di masa hidupnya beliau mengatakan kepada saya (istrinya) bahwa berdirilah di atas kaki sendiri. Dan beliau pun merintis sedikit bisnisnya [untuk saudara perempuannya itu]. Beliau senantiasa menunaikan shalat tahajjud dan melaksanakan shalat subuh di shalat center bersama ayah beliau. Pada satu kali beliau datang ke Darudz Dzikr jam setengah dua belas malam dan pagi hari jam tiga tiga puluh kemudian beliau bangun. Saya (istri beliau) katakan pada beliau sesekali istirahatlah sedikit. Maka beliau menjawab bahwa ‘saya tidak peduli dengan kesenangan dunia ini, saya khawatir akan ketenteraman bahwa apa yang saya lakukan ke depannya’.

(52.)Syahid selanjutnya adalah I’jazul Haq Sahib, beliau adalah putra Rahmat Haq Sahib. Hubungan syahid marhum adalah dengan Hadhrat Ilahi Bakhs Sahibr.a., seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Kampung kelahiran beliau adalah Patyalah, kabupaten Amritsar. Ayah beliau bekerja sebagai karyawan di stasiun kereta api dan berdomisili di Lahore. Di Hall Road beliau membuka toko reparasi elektronik. Pada hari-hari itu beliau tengah bekerja sebagai teknisi satelit di sebuah channel (saluran) pribadi. Pada saat beliau syahid umurnya 46 tahun dan beliau meraih syahid di mesjid Darudz Dzikir. Pada hari kejadian itu saat acara yang ditayangkan mengenai Janji Setia Khilafat di MTA, beliau meletakkan handuk di atas kepalanya lalu berdiri mulai mengulangi janji itu. Dan istrinya pun melihat beliau ikut serta mengulangi janji itu. Di masjid Darudz Dzikr-lah beliau biasa menunaikan shalat jum’at dan pada hari kejadian pun beliau langsung pergi ke Darudz Dzikr dari pekerjaannya untuk menunaikan shalat Jum’at. Di luar di bawah tangga beliau terus duduk. Begitu para teroris datang, beliau menelpon ke rumah dan mengatakan kepada kakaknya bahwa ‘bawalah senjata lalu cepatlah datang ke Darudz Dzikr’ dan bersama itu beliau terus memberikan laporan ke TV-nya. Dan persis pada saat terjadi rentetan hujan peluru beliau syahid di tempat. Keluarganya memberitahukan bahwa beliau merupakan sosok yang penuh rasa empati dan bersikap periang, suka bergaul. Beliau memperlakukan setiap orang dengan sangat baik. Pelunasan candah-candah, beliau lakukan secara teratur. Dan beliau selalu mengambil bagian besar dalam setiap pengorbanan. Beliau pernah menjabat sebagai nazim athfal. Berkenaan dengan beliau, nazim athfal memberitahukan bahwa ‘kapan saja saya memanggil anak-anak beliau untuk kerja bakti atau untuk tugas Jemaat, maka ketika beliau datang mengantar anak-anaknya secara khusus beliau mengucapkan terima kasih kepada saya bahwa tuan telah memberikan kesempatan kepada kami untuk berkhidmat’.

(53.) Bahasan syahid selanjutnya adalah Nadim Ahmad Tariq Sahib, beliau adalah putra Syeikh Muhammad Minsya’ Sahib. Nenek moyang syahid merupakan penduduk Chiniot. Untuk urusan bisnis beliau pergi ke Kalkutta. Sesudah tahun 1947 ayah beliau dari Kalkutta pindah ke Dakka dan di tahun 1971 beliau pindah ke Lahore. Keluarga istri syahid marhum juga adalah dari Kalkutta. Kakek istri beliau Seth Muhammad Yusuf Bani Sahib yang merupakan adik Siddiq Bani Sahib dari Kalkutta. Almarhum setelah bekerja AI, mulai membuka toko onderdil. Pada waktu syahid beliau berumur 40 tahun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah mushi. Beliau syahid di Darudz Dzikir. Beliau senantiasa shalat di Darudz Dzikir. Dan beliau menunggu di masjid sampai khotbah Jum’at saya yang ditayangkan secara langsung dan setelah mendengar khotbah baru beliau pulang. Pada waktu kejadian beliau duduk dengan Amir Sahib. Lengan kanan beliau bengkak besar dan seluruh badan beliau tidak ada yang luka. Sangkaan umum bahwa akibat peluru yang mengenai lengannya mengakibatkan pendarahan sehingga beliau syahid. Beliau adalah seorang yang suka berdamai, berakhlak luhur dan tanpa cacat serta lembut dan santun dalam bicara. Tatkala dalam pekerjaan maka beliau menelpon anak-anaknya menanyakan perihal penunaian shalat mereka. Ketika beliau dalam keadaan tengah duduk bekerja, lalu tiba waktu shalat maka beliau menelpon kepada anak-anak untuk menunaikan shalat. Inilah tanggung jawab yang hendaknya dilakukan oleh setiap ayah. Dengan cara inilah terjadi kebiasaan berdo’a dan beribadah kepada Tuhan. Beliau sangat memperhatikan shalat tahajjud. Kurang lebih 4 km yang beliau harus tempuh untuk menunaikan shalat berjamaah. Di sini jarak seperti itu tidak begitu terasa, karena jalan-jalan dan kendaraan-kendaraan juga ada. Tetapi walaupun beliau mempunyai kendaraan namun kondisi dan kendaraan-kendaraan lalu lintas sedemikian rupa sehingga membuat sulit. Beliau senantiasa banyak mengambil bagian dalam gerakan-gerakan pengorbanan. Beliau telah mendapat taufik yang menonjol memenuhi keperluan-keperluan masjid jamaat di wilayahnya. Untuk keperluan Jemaat manakala sepeda motor diminta dari beliau maka beliau menyediakannya dan kemudian beliau sendiri naik kendaraan bajaj. Beliau melaksanakan khidmat khalaq dengan sangat sabar dan tekun. Keluarga ini sesuai dengan kemampuan senantiasa terdepan dalam membelanjakan hartanya.

(54.) Syahid berikutnya adalah Amir Latif Pracah Sahib, beliau adalah putra Abdullatif Pracah Sahib. Ayah almarhum syahid adalah penduduk kabupaten Sargodha. Dan ayah beliau merupakan pengurus aktif di kabupaten Sargodha. Beliau memiliki ikatan dekat dengan Khalifatul Masih III. Tatkala Hudhur IIIr.a. pergi ke Jabah maka di jalan kebanyakan waktu-waktu beliau pasti menginap di rumah Abdullatif Sahib, ayah almarhumn syahid. Datuk ayah almarhum syahid Babu Muhammad Amin Sahib bai’at di tangan Hazrat Khalifatul Masih Ir.a.. Syahid marhum menempuh pendidikan pertama di Sargodha dan gelar MA, beliau dapatkan di Lahore. Beliau membayar candah-candah kepada Jemaat dan sedekah dengan teratur; mengkhidmati para sepuh; dan biasa bekerja bersama Amir Sargodha, Mirza Abdul Haq Sahib.

Pada waktu kejadian, beliau menelpon saudaranya bahwa di sekeliling beliau tergeletak jenazah para syuhada. Ketika datang lalu dilihat, maka di wajahnya terlihat bekas gagang senapan. Mungkin terjadi pergumulan dengan seorang teroris dan pada saat itu teroris memukulnya. Atau untuk melihat apakah telah syahid atau tidak pada saat itu beliau dipukul. Sebagian orang terus menyaksikan teroris memukul seperti itu dengan gagang senapan. Begitu juga ada sebuah granat yang mengenai tangannya. Tangan beliau itu terluka. Di Darudz Dzikr beliau duduk di bawah tangga luar dan di situlah beliau syahid.

Keluarganya memberitahukan bahwa beliau merupakan sosok yang sangat jujur dan pemegang amanah. Akibat dari sikap beliau yang ahli memegang amanat atau kejujurannya, orang-orang menitipkan perhiasan-perhiasannya sampai seharga berpuluh-puluh juta rupiah. Beliau tidak pernah menyembunyikan Ahmadiyah. Ayah beliau dari sejak lama sakit. Sampai wafat beliau sangat banyak mengkhidmati ayahnya. Begitu juga ibu beliau pun sakit. Tidak terhitung beliau (alm) mengkhidmati ibunya. Sampai beliau wafat dalam keadaan sakit beliau banyak menghkhidmati mereka. Beliau banyak ikut mengambil bagian dalam candah-candah dan ikut serta dalam gerakan-gerakan pengorbanan harta. Sedekah dan derma pada umunya senantiasa beliau berikan secara sembunyi-sembunyi. Banyak orang-orang yang sakit di kampung kelahirannya di Sargodha, beliau bawa ke Lahore lalu mengobati mereka dengan gratis. Beliau memiliki gejolak atau semangat pengorbanan yang sangat tinggi. Beliau sangat teratur dalam shalat dan teratur membaca Al-Qur-an. Orang-orang rumah beliau mengatakan bahwa mereka melihat beliau menunaikan shalat tahajjud dan membaca Al-Qur-an pada malam jam 2.30 dan jam 3.00. Ibu almarhum menceriterakan, “Saya berkali-kali terus menerus melihat ayah almarhum dalam mimpi”. Seorang pembantu syahid marhum memberitahukan bahwa beberapa hari sebelum wafat, beliau membawa 4 pasang baju. Maka ibunya mengatakan bahwa saya mempunyai banyak baju. Beliau mengatakan bahwa ‘ibu, saya tidak tahu sampai kapan hidup saya, ibu gunakanlah baju yang saya bawa ini’.

(55.) Syahid selanjutnya adalah Mirza Zafar Ahmad Sahib. Beliau adalah putra Mirza Safdar Jang Himayun Sahib. Almarhum Syahid lahir pada tahun 1954 di Mandi Bahauddin. Awal mula Jemaat dalam keluarga beliau dari sejak zaman Khilafat Hadhrat Mushlih Mau’udr.a. dengan perantaraan kakek beliau Mirza Nazir Ahmad Sahib. Mirza Nazir Ahmad Sahib bai’at di tangan Hadhrat Khalifatul Masih IIr.a.. Beliau menyelesaikan pendidikan kelas 10 di Lahore kemudian menempuh pendidikan di universitas Lailpur selama dua tahun. Akibat beberapa kesulitan di asrama, beliau meninggalkan perguruan tinggi dan pergi ke Karachi. Di mana beliau mengambil diploma bidang mekanik selama 3 tahun. Sesudah itu beliau menambah lagi kursus 1 tahun. Sesuai dengan bidangnya beliau bekerja pada satu pekerjaan di Karachi. Sesudah itu beliau pergi ke Jepang.

Dari tahun 1981 beliau tinggal dan bekerja di Jepang selama 21 tahun sebagai insinyur di energi surya. Di sana beliau memperoleh taufik untuk berkhidmat kepada Jemaat. Ketika misi di Tokyo ditutup, maka rumah beliau digunakan sebagai rumah misi. Pada tahun 1983 beliau mendapat kesempatan waqaf ardhi (sementara) di Korea. Pada tahun 1985 di Jalsah Jemaat Inggris beliau mendapat taufik untuk mewakili Jemaat Jepang. Pada tahun 1993 sebagai Sadr Khuddamul Ahmadiyah beliau mendapat taufik untuk menaklukkan puncak sebuah gunung lalu mengumandangkan azan di sana. Pada tahun 1999 pada waktu peletakan batu pertama masjid Baitul Futuh, beliau dan istri beliau mendapat taufik untuk mewakili Jepang.

Di Jepang selain menjadi Sadr Jemaat dan sekretaris keuangan dari tahun 2001 hingga 2003, beliau mendapat taufik berkhidmat sebagai Naib Amir Jepang. Pada satu kesempatan Hadhrat Khalifatul Masih IVr.h. dalam menzahirkan kegembiraan beliau berkenaan dengan contoh ketaatan dan ketakwaan almarhum bersabda, semoga Allah Ta’ala menganugerahi Jemaat Jepang berjalan sesuai dengan contoh beliau. Selama 21 tahun tinggal di Jepang, selain bekerja beliau terus menerus melakukan upaya-upaya pendidikan lain. Pada tahun 2003 beliau pindah ke Pakistan dan tinggal di Kiyulri Ground. Rumah beliau juga sebagai shalat center di sana. Pada waktu syahid umur beliau berusia 56 tahun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah seorang yang mushi. Beliau mendapatkan syahid di Darudz Dzikir. Beliau senantiasa duduk di saf pertama dan di sana duduk di dekat imam. Peluru bersarang di bagian kepala belakang dan tangan kanan luka dengan granat yang mengakibatkan terjadi ke-syahid-an.

Istri almarhum memberitahukan bahwa beliau merupakan sosok yang sangat mencintai Khilafat. Kapan saja pergi ke London, maka beliau berupaya supaya senantiasa bisa shalat di belakang Khalifah. Beliau mendengar khotbah-khotbah dengan sangat serius. Kapan saja beliau ke London maka usaha beliau adalah menunaikan shalat di saf pertama di belakang Hudhur. Khotbah-khotbah yang secara langsung dari sini, ketika karena suatu sebab tidak dapat mendengarnya langsung maka sampai pada waktu itu dia tidak akan duduk dengan tenang. Istri beliau mengatakan bahwa beliau merupakan penyempurnaan dari moto ‘Cinta kepada semua, tidak ada benci kepada siapapun’. Semua anak-anak, orang-orang tua setiap orang bersikap hormat, beliau adalah teman semua. Beliau merupakan sosok penjaga amanah, sosok yang menepati janji-janji dan sosok yang memiliki standar yang tinggi dalam pengorbanan. Sederhana dalam segala sesuatu merupakan ciri khas beliau. Beliau seorang suami yang sangat mencintai. Istrinya mengatakan bahwa ‘kata-kata saya yang kecil sekalipun beliau memperhatikannya. Dan manakala saya cape maka beliau juga membuatkan makanan. Tidak ada kebiasaan mengadu’.

Di Jepang, Muluk Munir Sahib menulis bahwa Mirza Zafar Ahmad Sahib ketika pergi ke Jepang pada saat itu beliau belum nikah. Beliau merupakan sosok yang berpenampilan sederhana dan sangat pendiam. Seorang yang yang berfitrat soleh dan mulia. Semangat pengkhidmatan pada agama bergejolak di dalam fitrat beliau. Beliau setiap saat tampak siap sedia demi untuk meraih maksud itu. Beliau merupakan sosok yang berada pada standar ketaatan yang tinggi. Mulai dari karyawan Jemaat yang serendah-rendahnya dan hingga pada karyawan yang setinggi-tingginya beliau perlakukan sama dan bersikap hormat kepada mereka. Beliau tidak pernah mengingkari pengkhidmatan terhadap Jemaat dalam corak apapun. Satu tahun beliau pernah dinyatakan sebagai khadim terbaik Jemaat Jepang. Timbul rasa cemburu terhadap beliau kata (Hudhur). Kapan saja beliau mengambil tugas Jemaat yang dibebankan kepada diri beliau, maka beliau melakukan pekerjaan itu dengan jujur dan berusaha untuk menyelesaikannya dengan cara yang terbaik. Sebelum pergi dari Jepang secara permanen beliau telah mewakafkan diri untuk berkhidmat pada agama.

Maghfur Ahmad Munib Sahib adalah seorang muballigh. Beliau tinggal di Rabwah sebagai murabbi. Beliau ini juga pernah tinggal di Jepang. Beliau menulis bahwa Muzaffar Ahmad Munib Sahib yang cukup lama tinggal di Jepang, pengkhidmatan agama beliau dalam corak apapun tidak kurang dari orang-orang yang mewakafkan diri. Bahkan pengorbanan-pengorbanannya untuk saudara-saudara Ahmadi layak ditiru. Beliau paling terdepan dalam pengorbanan harta dan dalam pengorbanan waktu. Beliau pernah menyandang gelar sebagai muballigh kehormatan, sekretaris mal Jemaat Jepang dan Sadr Jemaat Tokyo. Beliau fana sepenuhnya pada Khilafat dan penuh perhatian dalam berdo’a pada waktu shalat sehingga mata beliau menjadi berkaca-kaca. Beliau merupakan sosok yang memiliki cinta kasih, mata beliau menjadi berkaca-kaca mendengar kesusahan setiap orang.

(56.) Syahid selanjutnya adalah Mirza Mahmud Ahmad Sahib. Beliau adalah putra Akbar Ali Sahib. Beliau merupakan penduduk Badumali kabupaten Narowal. Kakek beliau Hadhrat Inayatullahr.a. Sahib merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Beliau mempunyai jalinan dengan departemen telekomunikasi atau sebagai karyawan di kantor telepon. Beliau pensiun pada tahun 2008. Dan dari sejak 35 tahun yang lalu beliau tinggal di Lahore. Pada waktu syahid umur beliau 58 tahun. Beliau syahid di masjid Baitun Nur, Model Town. Shalat Jum’at beliau biasa laksanakan di masjid Model Town. Pada hari kejadian beliau duduk di ruangan bagian belakang. Pada saat itu sebuah peluru mengenai kening beliau sehingga beliau syahid di tempat. Keluarganya memberitahukan bahwa beliau senantiasa terdepan dalam mengkhidmati Jemaat. Beliau berkali-kali memperoleh taufik untuk melakukan waqaf ardhi (wakaf sementara). Beliau merupakan orang yang berhati lembut dan sosok yang senantiasa berpenampilan sangat sederhana serta sangat tekun. Putra beliau Qaisar Mahmud Sahib yang tengah berada di tempat tugas pada saat itu yang selamat dari peristiwa itu. Empat hari sebelum syahid, istrinya melihat dalam mimpi bahwa ada sebuah taman indah yang di dalamnya terdapat udara sejuk dan istana megah yang di dalamnya mengalir sungai-sungai. Mahmud Sahib mengatakan kepada saya bahwa ‘ini saya telah membangun rumah untuk kalian semua. Ini adalah istana saya dan sekarang saya ingin tinggal di sini. Di segenap taman itu di mana-mana merebak aroma harum’. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajatnya.

(57.) Syeikh Muhammad Akram Atsar Syahid Sahib. Beliau adalah putra Syeikh Syamsuddin Sahib. Ayah syahid marhum adalah penduduk Canggranwala, kabupaten Sargodha. Ketika semua keluarga beliau wafat karena tha’un, maka beliau datang ke Mudhrancha, kabupaten Sargodha. Ayah Syahid Marhum mendapat taufik berkhidmat, yakni memijit Hadhrat Masih Mau’uda.s. dan Hadhrat Mushlih Mau’udr.a.. Namun karunia bai’at baru beliau dapatkan di zaman Hadhrat Mushlih Mau’udr.a.. Mertua syahid marhum, Khawajah Muhammad Syarifr.a. Sahib adalah sahabat Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Akibat dari tabligh Syeikh Syamsuddin Sahib, ayah beliau, maka Ahmadiyah diterima di keluarga Hadhrat Mirza Abdul Haq Sahib. Maulwi Athaullah Khan Sahib, Darwisy Qadian, adalah saudara beliau dan Munir Ahmad Munawar Sahib, murabbi jamaat yang pernah tinggal (di Jerman) yang saat ini berada di Polandia adalah keponakan beliau. Waktu di-syahid-kan umur beliau 66 tahun. Beliau wafat di masjid Darudz Dzikir, Ghari Sahu. Beliau duduk di kursi persis di ruang utama masjid Darudz Dzikir. Akibat dari usia lanjut, pada hari tragedi itu, beliau bangun paling akhir. Tapi pada saat itu peluru-peluru teroris mengenai tulang rusuk dan kepala beliau sehingga beliau syahid. Keluarga beliau memberitahukan bahwa syahid marhum mengatakan bahwa ‘waktu saya telah dekat’. Dari sejak beberapa hari beliau sama sekali diam.

Menantu perempuannya melihat dalam mimpi bahwa ‘di Rabwah ada aula atau gedung pertemuan Ansharullah [yang sebelumnya tidak pernah dia lihat] maka dari sana saya mendapatkan dua, tiga hadiah dan setelah mengambil itu saya berangkat ke Lahore’. Dan jenazah-jenazah semua syuhada juga adalah di gedung Ansharullah. Syahid marhum sangat gemar bertabligh. Beliau pergi ke daerah-daerah pedesaan yang dekat, mengadakan kontak ke rumah-rumah dengan berbagai macam kalangan lalu menyampaikan tabligh. Khususnya surat kabar Al-Fazal beliau masukkan di kantong lalu dibawa.

Sangat keras berjihad menentang rokok, sambil berjalan melarang orang-orang dan dengan memberikan barang makanan lainnya mengatakan ‘makanlah ini dan tinggalkanlah rokok’. Sosok yang rajin shalat tahajjud. Akibat akhlak baiknya mendapatkan jodoh, yakni akibat rajin ibadah dan bertabligh. Seorang yang banyak berdo’a dan rajin shalat tahajjud. Khususnya banyak nama orang-orang yang disebutkan lalu mendo’akan mereka. Teratur dalam melunasi candah-candahnya, begitu mendapatkan gaji pertama beliau pergi dulu ke rumah sekretaris keuangan dan membayar candah. Inilah cara yang benar dalam pelunasan candah-candah. Bukan ketika menjadi penunggak dan kepadanya ditanya bahwa kenapa menjadi penunggak atau kenapa ada tunggakan; maka kebalikannya ada keluhan darinya bahwa ‘sekretaris keuangan tidak mengingatkan kepada kami, kalau tidak kami tidak akan menjadi penunggak atau kami tidak punya tunggakan’. Ini sesungguhnya merupakan kewajiban setiap orang itu sendiri untuk membayar candah. Pada 100 tahun Khilafat beliau telah menulis artikel yang di dalamnya beliau mendapatkan ranking A.

(58.) Bahasan berikutnya adalah Mirza Mansur Beg Syahid Sahib. Beliau adalah putra dari Almarhum Mirza Sarwar Beg Sahib. Nenek moyang syahid marhum adalah dari Pai, kabupaten Amritsar. Paman beliau, Mirza Munawar Beg Sahib, bai’at sebelum tahun 1953. Paman beliau juga telah di-syahid-kan oleh seorang penentang Ahmadiyah tahun 1985. Beliau memiliki toko benang emas atau bahan baku hiasan. Pada waktu syahid umur Mansur Beg Sahib 29 tahun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang mushi. Pernah memperoleh taufik berkhidmat sebagai Sekretaris Isya’at, nazim Tahrik Jadid dan bagian penjagaan umum. Beliau syahid di Baitun Nur, Model Town. Pada pagi Jum’at, Qaid Majlis beliau mengatakan kepada beliau untuk pergi tugas. Kemudian mendekati jam sebelas Qaid Majlis menelpon untuk mengingatkan kembali. Maka beliau menjawab, ”Qaid Sahib, jangan khawatir jika perlu maka peluru pertama akan menembus dada saya.” Di Baitun Nur beliau bertugas di bagian pengecekan, berdiri di luar pintu gerbang utama dekat penghalang pertama. Ditugaskan untuk mengawasi khuddam, tiba-tiba teroris datang langsung melepaskan tembakan kepada beliau. Beliaulah yang paling pertama terkena tembakan. Akibat dari terkena beberapa peluru akhirnya beliau syahid.

Syahid marhum sebelum tragedi itu, di rumah pada waktu subuh memperdengarkan mimpinya, “Ada yang tengah memukul saya dan di belakang saya ada anjing hitam yang mengejar saya”. Syahid marhum merupakan sosok pengkhidmat Jemaat dan mempunyai gejolak ketaatan. Beliau berpembawaan lembut selalu senyum dan teratur dalam shalat. Usia istri beliau 26 tahun. Beliau telah menikah dan mengharapkan kelahiran anak. Semoga Allah Ta’ala menganugerahi pada beliau anak yang saleh, sehat dan panjang umur. Ibu dan istri beliau menyaksikan kebahagiaan-kebahagiaan.

(59.) Paparan syahid selanjutnya adalah Mia Muhammad Munir Sahib. Beliau adalah putra Maulwi Abdus Salam Sahib. Syahid marhum adalah cicit Hadhrat Khalifatul Masih Ir.a.. Beliau lahir pada tanggal 11 oktober 1940 di rumah buyut beliau Hadhrat Maulwi Mir Muhammad Sahib. Buyut beliau Hadhrat Mir Muhammad Sa’id r.a. Sahib yang mana Hadhrat Masih Mau’uda.s. telah memberikan izin kepada beliau untuk menerima bai’at. Akibat dari kakek beliau itu banyak orang yang tadinya adalah murid beliau telah menjadi Ahmadi.

Pendidikan beliau sampai ke jenjang BA dan pada tahun 1962 beliau pindah ke Lahore. Ketika syahid umur beliau 70 tahun. Beliau syahid di Baitun Nur, Model Town. Untuk menunaikan shalat Jum’at beliau keluar dari rumah jam 12 . Pada waktu peristiwa itu, akibat kondisi badan beliau tidak sehat, kurang lebih jam 1 beliau sampai di Baitun Nur, Model Town. Di beranda masjid beliau duduk bersama Jendral Nasir Sahib di kursi. Pada waktu penyerangan syahid marhum masuk di aula utama mesjid lalu duduk di shaf pertama. Pada waktu itu pada saat upaya untuk menutup pintu, teroris mengetuk pintu dengan ujung senapan dan diarahkan ke pintu dan terus melepaskan tembakan. Peluru pertama mengenai kepala beliau yang karenanya beliau syahid di tempat .

Kurang lebih 10 tahun sebelumnya beliau telah melihat dalam mimpi bahwa bersama kuburan Hadhrat Umar Faruq(r.a.) digali kuburan, ketika ditanya maka jawabnya ‘inilah kuburan tuan’. Sesudah syahid, ta’bir ini baru dimengerti bahwa itu pada kenyataannya merupakan kuburan beliau, sebab beliau adalah dari keturunan Hadhrat Umar Faruq(r.a.) dan dengan ke-syahid-an ini juga keduanya ada kesamaannya. Sesudah syahid, anak perempuannya juga melihat dalam mimpi bahwa ayah beliau yang syahid datang dalam mimpi dan mengatakan, “Kamar saya [yang merupakan kamar rumah] siapkanlah”, maka pembantu membereskan kamar itu. Dan dia mengatakan bahwa tidak lama kemudian ada tamu yang datang dan mereka menzahirkan keinginannya untuk melihat kamar.

Anak syahid marhum, Nurul Amin, memberitahukan bahwa ketika tiba permasalahan nikah syahid marhum, maka sebagian orang berusaha mengaitkan beliau dengan ghair mubayyin bahwa dia ini adalah ghair mubayyin bahwa dia tidak bai’at di tangan Khalifah. Yang karenanya kasus ini sampai kepada Khalifatul Masih III r.h., maka Hudhur(r.h.) dengan penuh kasih sayang bersabda bahwa apa perlunya memperbaharui bai’atnya karena beliau ini adalah cucu dari orang yang paling pertama bai’at. Dan itu sangat dikasihi oleh Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Atas hal itu Hadhrat Maulana Jelandri Sahib menikahkannya.

Seorang keluarga beliau menceriterakan tentang kebaikan beliau bahwa perlakuan baik beliau yakni memberikan pertolongan kepada orang miskin, menerima tamu dan kebaikan-kebaikan beliau dalam menjenguk orang yang sakit adalah sangat menonjol. Pada saat beliau tinggal di Sind beberapa orang anak-anak perempuan miskin yang memerlukan, beliau menikahkannya dan juga mendapat taufik untuk menanggung biaya-biaya pengeluaran pendidikan anak-anak yang memerlukan. Keistimewaan menerima tamu di dalam diri beliau sangat istimewa. Jika ada tamu yang datang, tanpa memberikan makan di rumahnnya beliau tidak membiarkan tamu itu pergi. Beliau teratur dalam shalat tahajjud.

(60.) Paparan syahid selanjutnya adalah Dr. Tariq Basyir Sahib. Beliau adalah putra Choudry Yusuf Khan. Ayah syahid marhum adalah dari Syukargar dan ayah beliaulah yang bai’at bergabung dalam Jemaat. Dan atas anjuran Hadhrat Khalifatul Masih II(r.a.) untuk mengawasi tanah-tanah (tanah Jemaat dan tanah keluarga Mushlih Mau’udr.a.) beliau pergi ke Sind. Beliau tinggal di Karachi. Syahid marhum dilahirkan di Karachi. Namun kemudian keluarga ini datang ke Syukargar. Sesudah pendidikan permulaan beliau pindah ke Lahore di mana selain mendapat gelar MBBS, beliau meraih pendidikan medica lainnya. Lima belas tahun beliau bekerja di rumah sakit pemerintah di Qasur. Pada saat syahid beliau tengah berdinas di Miu Hospital di Lahore sebagai A.M.S. dan di Qasur juga beliau mendirikan klinik. Waktu syahid umur beliau 57 tahun dan beliau syahid di Darudz Dzikir .

 Beliau duduk di aula utama masjid Darudz Dzikr di sebelah kiri mihrab, sehingga setelah penyerangan dari luar, granat pertama yang dilemparkan, disitulah beliau terluka dan dalam kondisi seperti itulah beliau syahid. Istri syahid marhum sebelum syahid melihat dalam mimpi bahwa di langit ada rumah bagus yang melayang-layang di udara dan di dalamnya beliau (alm) itu terbang ke sana kemari. Di mimpi yang kedua dia melihat bahwa topan dan gempa datang dan benda-benda bergerak. Dan saya terus berlari-lari mondar-mandir dan saya tidak menemukan beliau (alm). Istrinya memberitahukan bahwa beliau merupakan sosok yang sangat bersih, tidak pernah berbicara keras terhadap orang-orang. Dengan anak-anak dan khususnya dengan anak-anak perempuan beliau sangat sayang. Beliau berlaku sangat baik dengan orang-orang yang sakit. Beliau sangat empati terhadap setiap orang. Pemilik rumah yang bukan Ahmadi ketika mendengar di lingkungan teman-temannya tentang ke-syahid-an beliau maka sedemikian rupa terkejutnya sehingga dia sampai linglung. Ada beberapa orang yang berfitrat mulia seperti itu. Selama masa 6 tahun beliau membayar sewa rumah dengan pergi ke rumah pemiliknya. Tidak pernah terjadi bahwa pemilik rumah datang untuk mengambil uang sewa. Beliau sangat hobi dan gemar membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’uda.s., membayar candah dengan teratur. Kepada istrinya beliau mengatakan bahwa dari hasil setiap harinya keluarkanlah satu bagian untuk orang-orang miskin. Beliau mendengarkan khotbah saya (Hudhur) secara teratur. Kadang-kadang berkali-kali dia dengarkan. Seorang anaknya juga telah lulus di MBBS dan bekerja sebagai wiraswasta. Dia pun terluka dalam peristiwa itu. Semoga putra yang terluka dan semua yang mengalami luka itu diberikan kesembuhan oleh Allah Ta’ala.

(61.) Paparan syahid selanjutnya adalah Arsyad Mahmud Bat Sahib. Beliau adalah putra dari Mahmud Bat Sahib. Buyut almarhum syahid, Abdullah Bat Sahib, yang telah menerima Ahmadiyah. Beliau penduduk Pasrur, kabupaten Sialkot. Dan buyut [pihak ibu] beliau adalah Hadhrat Jan Muhammad r.a. Sahib, sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s., penduduk Daskah. Ayah beliau sebagai pegawai di angkatan udara. Dalam urusan menjalani dinas kerjanya beliau ditugaskan di berbagai tempat. Syahid marhum dilahirkan di Lahore. Pendidikan I.COM telah beliau selesaikan. Pada waktu syahid umur beliau 48 tahun. Beliau merupakan Naib Zaim Ansharullah di lingkungannya dan mendapat karunia berkhidmat sebagai sekretaris Tahrik Jadid. Beliau syahid di Baitun Nur. Pada hari Jum’at beliau cepat bersiap-siap untuk pergi ke masjid. Biasanya saudara beliau yang menjemput pergi bersama-sama ke mesjid, sebab satu kaki beliau lemah akibat polio. Jika saudara beliau terlambat [datang], maka beliau sendiri pergi dengan wagon. Pada hari kejadian beliau duduk di shaf pertama. Dalam serangan-serangan permulaan beliau tekena tiga, empat peluru yang akibatnya beliau syahid di tempat. Keluarganya memberitahukan bahwa syahid mahrum teratur dalam shalat lima waktu. Setiap hari membaca Al-Qur-an dengan suara keras. Meskipun cacat beliau mengerjakan pekerjaannya sendiri. Beliau sangat cinta terhadap Khilafat. Beliau membayar candah melebihi kemampuannya. Kebanyakan seluruh buku-buku Jemaat telah beliau baca. Beliau seorang sosok yang sangat banyak berdo’a. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

(62.) Syahid selanjutnya adalah Muhammad Husain Malhi Sahib. Beliau adalah putra Muhammad Ibrahim Sahib. Syahid marhum dari Gathiyaliya, kabupaten Sialkot. Ayah beliau bai’at lalu masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Beberapa tahun beliau pernah juga tinggal di Sindh. Selama 34 tahun beliau tinggal di Lahore. Beliau juga mandapat kesempatan untuk mengajar di sekolah-sekolah Jemaat. Pada saat syahid usia beliau 68 tahun. Beliau syahid di masjid Baitun Nur, Model Town. Dimakamkan di Bandugujar, Lahore. Pada hari tragedi terjadi, mendekati jam satu, beliau berangkat dari rumah dengan menggunakan sepeda motor dan duduk di shaf pertama aula utama masjid Baitun Nur; tiba-tiba dengan rentetan tembakan para teroris, peluru mengenai lengan dan perut beliau dan terjadi luka serius. Dalam keadaan terluka, beliau dibawa ke Rumah Sakit Miu di mana beliau syahid di ruang operasi. Keluarganya memberitahukan bahwa beliau seorang yang teratur dalam shalat lima waktu dan teratur dalam melakukan shalat tahajjud. Beliau merupakan sosok yang selalu berlomba dalam melakukan kebaikan. Pekerjaan beliau sebagai ahli kelistrikan. Pekerjaan-pekerjaan orang-orang miskin beliau lakukan tanpa memungut biaya. Masjid di lingkungan beliau dibangun di bawah pengawasan beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

(63.) Paparan syahid berikutnya adalah Mirza Muhammad Amin Sahib, beliau adalah putra Haji Abdul Karim Sahib. Pada tahun 1952 beliau bai’at dan bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Sesudah beberapa lama ayahnya bai’at, lalu syahid marhum juga bai’at. Pada saat syahid usia beliau 70 tahun dan di-syahid-kan di mesjid Darudz Dzikr. Pada umumnya beliau shalat di masjid Daruz Dzikr. Beliau duduk di shaf pertama, tiba-tiba dalam serangan granat dan rentetan peluru beliau terluka parah. Tiga hari dalam perawatan di rumah sakit. Pada tanggal 31 Mei 2010, beliau syahid di rumah sakit. Dua hari sebelum tragedi itu, pada malam hari ketika tengah tidur tiba-tiba beliau bangun mengangkat kedua belah tangan sambil mengumandangkan Allah Ta’ala Akbar. Dengan gelisah beliau bangun meneriakkan slogan Allahu Akbar. Beliau merupakan sosok yang berakhlak luhur dan pandai bergaul dan selalu banyak ambil bagian dalam tugas-tugas Jemaat. Di berbagai macam perlombaan-perlombaan Jemaat beliau juga meraih hadiah-hadiah.

(64.) Syahid berikutnya adalah Muluk Zubair Ahmad Sahib, beliau adalah putra Muluk Abdur Rasyid Sahib. Syahid marhum berasal dari kabupaten Faisalabad. Kakek beliau Muluk Abdul Majid Khan Sahib menerima Ahmadiyah di zaman Hadhrat Masih Mau’uda.s., namun beliau tidak dapat berjumpa dengan Hudhura.s.. Syahid marhum bekerja di wapda (pengairan) dan sebulan sesudah pensiun beliau pindah ke Lahore sebelum kejadian itu. Di Faisalabad dalam pembangunan masjid Baitul Fazal, nama ayah beliau termasuk dari antara orang-orang yang berperan sebagai penggagas. Pada permulaannya beliau senantiasa menunaikan shalat Jum’at di lingkungan-lingkungan Jemaat yang lain, tetapi setelah melihat masjid Baitun Nur, Model Town beliau sangat gembira karena di sini orang-orang Ahmadi menyatu dan cukup banyak jumlahnya dan beliau mengatakan kepada anaknya ‘bawalah saya selalu kemari’. Waktu syahid umur beliau 61 tahun dan beliau disyahidkan di masjid Baitun Nur.

Syahid marhum duduk di aula utama dan putra beliau di ruang lain. Pada waktu penembakan beliau ini jatuh atau duduk di antara aula yang menuju ke arah ruangan pemanggangan daging. Bagaimana pun juga di sanalah beliau duduk. Anaknya terus mondar-mandir mencari tahu keadaan beliau, namun anaknya tidak melihat beliau sementara itu beliau melihat sang anak dan dengan suara lantang beliau brteriak, “Ke mana kamu lari, jika ada sesuatu yang akan terjadi maka kita akan syahid dan di sini kita akan syahid bersama dengan saudara-saudara kita”. Pada saat itu peluru mengenai jantung beliau, beliau terluka parah. Pada saat itulah dibawa ke rumah sakit di mana beliau syahid. Keluarganya memberitahukan bahwa beliau seorang yang rajin shalat dan rajin shalat tahajjud. Beliau tidak pernah lepas dalam melaksanakan shalat tahajjud. Kebanyakan waktunya beliau gunakan untuk melihat MTA. Syahid marhum senantiasa mengatakan bahwa ketika beliau tidak bangun karena kelelahan maka tampak terasa bahwa ‘ada seseorang dengan paksa membangunakan saya’. Tahajjud sedemikian rupa terbiasa beliau lakukan sehingga beliau senantiasa bangun tepat pada waktunya. Ketika anaknya membeli mobil maka beliau menasehatkan pada anaknya, “Nak di dalam itu jangan meletakkan radio atau tape recording atau DVD macam apapun. Sebagai gantinya bacalah Subhanallah dan shalawat dan inilah yang senantiasa beliau lakukan. Adiknya memberitahukan bahwa pada masa kanak-kanak ketika berjalan menggunakan mainan kayu, maka beliau biasa mengatakan ‘bacalah shalawat’. Bacalah do’a anu dan bacalah do’a ini. Anaknya bertanya padanya ‘apakah mobil harus diasuransikan?’. Maka beliau menjawab, “Asuransikanlah, tapi orang-orang asuransi itu lemah. Coba kamu bayarlah candah atas nama mobil itu setiap bulan karena Allah Ta’ala Yang Maha Menjaga.” Maka diamalkan juga sesuai dengan petunjuk itu. Beliau merupakan pemain tinju yang bagus. Dan cukup banyak hadiah-hadiah yang telah beliau raih.

(65.) Bahasan syahid berikutnya adalah Choudry Muhammd Nawwaz Sahib yang merupakan putra dari Choudrry Ghulam Rasul Jajjah. Nenek moyang syahid marhum adalah dari penduduk Uncha Jajjah, Sialkot. Suami saudari perempuan ayah beliau Hadhrat Choudry Ghulam Ahmad Mihar Sahib dan ayah beliau Hadhrat Choudry Syah Muhammad Mihar Canderkemanggule Sahib(r.a.) dari kabupaten Naruwal merupakan sahabat Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Ayah dan kakak beliau telah bai’at di zaman Khilafat Hadhrat Mushlih Mau’udr.a. dan sebelumnya di kampung telah diadakan diskusi yang karenannya keluarga beliau bai’at. Setelah menyelesaikan gelar BA dan BI-ED, beliau bekerja di Departemen Pendidikan. Pada tahun 1991 beliau pensiun sebagai kepala sekolah SLTP pemerintah di Kasymir dan pada Oktober 1992 beliau pindah ke Lahore. Beliau mendapat taufik sebagai Muhasib di lingkungannya. Pada waktu syahid umur beliau 80 tahun dan di-syahid-kan di masjid Darudz Dzikr.

Beliau mempunyai jalinan yang khusus dengan mesjid Darudz Dzikr. Beliau senantiasa mengatakan bahwa ketika sedang menempuh pendidikan di Lahore, maka dalam kaitan pembangunan Darudz Dzikr beliau ikut kerja bakti karena itu beliau mempunyai ikatan yang khusus dengan Darudz Dzikr. Pada hari tragedi itu beliau menggunakan baju baru dan sepatu baru. Hampir jam satu beliau sampai di ruang utama mesjid Darudz Dzikr, beliau tengah duduk di kursi tiba-tiba dengan pecahnya granat beliau menjadi syahid. Beberapa bulan sebelumnya istri beliau melihat dalam mimpi bahwa ada suara yang datang, “Semoga anda memperoleh keselamatan suami anda hidup”. Keluarga lebih lanjut memberitahukan bahwa beliau sosok yang bersih dari ucapan dusta, sehat dan aktif. Beliau tampak lebih muda 20 tahun ketimbang usianya. Beliau merupakan kapten di tim gulat Perguruan Ta’limul-Islam. Beliau memiliki kemahiran dalam berbagai bahasa. Selain literatur-literatur Jemaat beliau juga memutalaah (mengkaji) buku-buku bukan Jemaat.

(66.)Bahasan selanjutnya adalah syahid marhum Syeikh Mubasysyir Ahmad Sahib, beliau adalah putra Syeikh Hamid Ahmad Sahib. Nenek moyang almarhum adalah penduduk Qadian. Sesudah pembagian India-Pakistan beliau datang ke Rabwah dan selama 35 tahun tinggal di Lahore. Kemudian dari Rabwah pindah ke Lahore. Kakek beliau Syeikh Abdurrahman Sahib mendapat taufik bai’at di masa Khilafat II. Hadhrat Meher Bibi Sahibahr.a. merupakan nenek seorang sahabah perempuan Hadhrat Masih Mau’uda.s.. Pada saat syahid usia beliau 47 tahun dan beliau syahid di mesjid Baitun Nur, Model Town. Beliau duduk di shaf ke tiga di aula belakang masjid Baitun Nur. Karena teroris datang, maka beliau berusaha menutup pintu tapi satu peluru mengenai bagian kanan di perut beliau lalu tembus ke belakang. Sesudah itu dengan pecahnya granat juga beliau menjadi tambah terluka dan dari telinga cukup lama darah terus keluar. Meskipun demikian sesudah itu pun dua tiga jam beliau ini hidup, sambil meletakkan tangan di perutnya beliau sendiri yang berjalan sampai ke mobil ambulan, tetapi saat dalam perjalanan ke rumah sakit beliau syahid. Pada hari terjadinya tragedi itu walaupun kondisinya dalam corak yang sulit pergi untuk menunaikan shalat Jum’at, tetapi Tuhan ingin menganugerahkan kedudukan atau maqam syahid. Oleh karena itu pada akhirnya beliau sampai ke Baitun Nur. Syahid marhum setiap Jum’at membawa mertuanya yang sakit untuk shalat. Pada kali ini kondisi [mertua] beliau sedang dalam keadaan tidak sehat dan beliau mengatakan bahwa ‘kali ini saya tidak pergi ke Jum’at’. Sesuai dengan itu beliau sendiri pergi untuk menunaikan shalat Jum’at. Di jalan mobil rusak maka beliau membawa mobil ke bengkel. Sesudah itu beliau pergi ke tempat keluarga dekatnya bekerja supaya beberapa perkara bisa beliau selesaikan. Ketika sampai di sana ternyata pekerjaan baru saja dimulai dan tiba-tiba lampu mati. Ketika keluar dari sana maka beliau berjumpa dengan saudaranya dan dia mengatakan bahwa ‘sayapun akan pergi shalat Jum’at, bawalah’. Baru pembicaraan ini sedang berlangsung, lampu menyala. Tapi bagimanapun juga beliau terus pergi ke Jum’at. Ketika listrik menyala, beliau tidak memulai perkerjaan bahkan berangkat ke Jum’at. Jika beliau sibuk dalam pekerjaan maka bisa jadi beliau tidak mengetahui waktu atau menjadi lupa waktu.

Istrinya memberitahukan bahwa ‘suami saya merupakan seorang suami teladan. Kami telah menikah 20 tahun sebelumnya. Ikatan kami adalah family sistem. Suami saya memperhatikan setiap anggota keluarga. Dan tidak ada pernah seseorang memperoleh kesempatan untuk mengeluh’. Sepupunya sebelum syahid melihat dalam mimpi bahwa Mubasyir Sahib berada di mobil yang berwrna hijau yang terus terbang ke langit. Sesudah syahid dua hari kemudian anaknya Mariah Mubasyir melihat dalam mimpi, “Ayah berdiri di pintu sambi tertawa, maka kepada beliau ditanyakan apakah tuan hidup, maka beliau menjawab bahwa saya baik dan saya bersama kalian.” Syahid marhum merupakan sosok yang berpenampilan sangat sedehana, hatinya penyayang, sosok yang solider (peduli) kepada orang miskin. Menghormati orang-orang kecil dan orang-orang besar dan dicintai oleh semua orang.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat para syuhada. Semoga Allah Ta’ala menjadi penolong dan penjaga anak dan istri mereka. Dan bagi mereka yang ayah ibunya hiduppun, semoga Allah Ta’ala menganugerahkan taufik untuk teguh dan semangat dalam menghadapi kesedihan ini dan meneguhkan iman generasi mereka. Dan semoga dengan kesabaran dan istiqamah semuanya senatiasa tegak dalam agama dan semoga semuanya diletakkan pada perlindungan-Nya.

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa