Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

07 Juli 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Sebagaimana yang dapat kita telaah dalam sejarah Nabi-Nabi, bahwa para Nabi menghadapi perlawanan setelah pendakwaan mereka. ketika Jemaat mereka tumbuh dan berkembang, api perlawanan dan kecemburuan meningkat. Para penentang pun mengambil berbagai macam cara yang dapat mereka lakukan untuk melakukan pertentangannya. Namun, dikarenakan faktanya para pendakwa tersebut diutus oleh Allah Ta’ala maka Dia memberikan khabar suka dan janji-Nya kepada mereka akan kemajuan dan perkembangan meski bersamaan itu terdapat penentangan sehingga penentangan jenis apa pun tidak akan pernah menjadi penghalang dalam jalan menuju kemajuan mereka. Itu takkan bisa.

Ketika Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi, maka beliau pun menerima perlakuan dari-Nya sesuai dengan Sunnah-Nya ini (kebiasaan Allah Ta’ala). Sebagaimana Allah Ta’ala telah menetapkan bagi beliau as pertolongan dan penguatan dari-Nya juga sesuai Sunnah-Nya tersebut. Kita amati bahwa Allah Ta’ala memperlakukan beliau as demikian di dunia nyata dan juga masih terus memperlakukan demikian terhadap Jemaat beliau as. Hendaknya diketahui bahwa ketika Allah Ta’ala sebelumnya telah dahulu mengabarkan kepada beliau as tentang berbagai macam bentuk penentangan terhadap beliau as dan akhir yang sangat menyedihkan dari para penentang; Dia pun mengabarkan kepada beliau tentang kemajuan dan perkembagan Jemaat beliau meski menghadapi penentangan tersebut.

Allah Ta’ala mengungkapkan banyak sekali wahyu perihal ini, salah satunya berikut ini:  

“Aku akan memperbanyak Jamaah pecinta engkau yang jujur dan tulus ikhlas.”

Lalu ada wahyu lainnya, ’Me tere sath aur tere tamam piyarong ke sath hu.’ (“I am with you and with all your dear ones.”) “Aku bersama engkau dan bersama dengan semua orang yang mengasihi engkau.” (1907)

Kemudian Allah berfirman: ‘Yanshuruka rijaalun nuuhii ilaihim minas samaa-i.’ “Orang-orang yang Kami ilhamkan dari langit akan menolong engkau.” (1900)

Juga Dia berfirman:

‘Me tujhe ‘izzat dungga aur barhaungga..’ – “Aku yang akan menetapkan kemuliaan bagi engkau dan memelihara perkembangan engkau.” (1891)

Dan lagi wahyu lain berbunyi sebagai berikut: ‘YanshurukaLlahu min ‘indi-Hi’ “Allah akan menolong engkau dari diri-Nya sendiri.” (tahun 1900)

Ada juga janji Allah Ta’ala terkait secara istimewa dengan Tabligh dan penyampaian pesan beliau, “Aku akan sampaikan tabligh engkau hingga ke pelosok-pelosok dunia.” Lalu firman-Nya, كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي  “Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku akan menang.’” Banyak sekali ilham dari segi dukungan dan pertolongan ini.

Hal-hal ini bukanlah hanya pendakwaan-pendakwaan belaka dari Hadhrat Masih Mau’ud as, wal ‘iyaadz biLlaah. Tidak demikian! Melainkan kita melihat Allah selalu menyelesaikan janji-janji ini di setiap era, kadang-kadang Allah menunjukkan pemandangan dukungan praktis untuk merobohkan rancangan licik penentang atas mereka, dan kadang-kadang Dia memandu orang-orang dan mengungkapkan pada mereka kebenaran Ahmadiyah, dan kadang-kadang memberi ilham kedalam hati orang-orang non Ahmadi [yang berfitrat baik] untuk mendukung para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as menghadapi serangan dari para penentang terhadap mereka. Jadi kita melihat bahwa janji-janji Allah terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as secara praktis terpenuhi dari waktu ke waktu.

Sekarang saya ingin mengisahkan beberapa peristiwa yang dua diantaranya menyebutkan soal konsekuensi berat para penentang. Kejadian ini di satu sisi menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan para Ahmadi dan di sisi yang lain menjadi tanda kebenaran Ahmadiyah bagi orang-orang lain.

Nazir Da’wat Ilallah di Qadian menulis bahwa salah seorang Mu’allim pergi ke desanya sebelum bulan Ramadhan untuk memberitahukan sanak keluarganya tentang waktunya Ramadhan. Seorang kiyai non-Ahmadi bernama Maulvi Iqbal berkunjung ke rumah keluarganya. Sang Muallim memperkenalkan dirinya dan mengatakan bahwa “saya adalah muallim Jemaat Ahmadiyah”. Mendengar hal Itu sang kiyai begitu marah. Ia menjadi kurang ajar dan mencaci maki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan Ahmadiyah.

Muallim Jemaat tersebut mengatakan, ‘Kami diajarkan untuk membalas caci-maki dengan doa.’ Kiyai muda memperingatkan Muallim dengan berkata, ‘Jika kamu terlihat lagi di desa ini maka kamu akan meghadapi sebuah akhir yang buruk.’ Sang Muallim menjawab bahwa hanya waktu-lah yang akan menjelaskan siapakah yang akan menghadapi akhir yang buruk. Setelah itu, Maulvi Iqbal, kiyai muda yang mencaci maki Jemaat, tiba-tiba meninggal akibat serangan jantung. Kejadian tersebut tidak hanya meningkatkan keimanan para anggota Jemaat yang berada di desa kecil tersebut, tapi juga sangat mempengaruhi orang-orang non-Ahmadi karena mereka menyaksikan dukungan Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as.

Contoh serupa disampaikan oleh Tn. Ghanim dari Yaman yang menulis mengenai akhir para penentang, “Semenjak saya baiat (menjadi Ahmadi), saya senantiasa bertabligh. Saya menerima penentangan keras dan ancaman khususnya dari kalangan pemuda. Pada bulan Ramadhan tahun 2010, tetangga saya dan beberapa kawannya meminta saya untuk berdialog dengan seorang Syekh di sebuah universitas bernama Jamiatul Iman. Hadir juga Syaikh lainnya. Saya mengajukan terlebih dahulu dalil-dalil kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as lalu bahasan tentang pembunuhan orang murtad, jihad dan kewafatan Al-Masih. Mereka menyampaikan pendirian-pendirian mereka tanpa satu dalil pun sementara saya selalu mengajukan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits. Sementara orang termulia mereka (Sang Syekh) bersikap cukup respek [menghargai], namun yang lainnya yaitu anak-anak muda yang hadir dalam dialog itu berkata kasar, bahkan menantang saya untuk bermubahalah. Saya katakan, ‘Mubahalah harus dari pihak Imam.’ Meski demikian, saya tetap menerima tantangannya takut orang-orang menyangka saya tidak yakin akan kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan perkara pun selesai. Setelah itu para pemuda ini mulai mengintimidasi saya, mengancam saya, mencaci saya dan menghalang-halangi saya dalam bertabligh.

Pada akhir bulan Ramadhan suatu hari ketika saya keluar dari rumah, seorang anak mengatakan kepada saya: ‘Hai paman saya, mereka bersekongkol terhadap Anda.’ Kemudian, seseorang dari mereka datang kepada saya dan mengancam membunuh saya dan mengutuk Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya kembali ke rumah dengan hati remuk. Sesampainya di rumah, saya shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah tampakanlah kuasa-Mu atas mereka.’ Setelah satu atau dua hari kemudian para pemuda tersebut saling bertengkar diantara mereka sendiri dengan bersenjatakan khanjar (pisau kecil khas Yaman). Dalam perkelahian tersebut, seorang anak terkena pisau. Setelah itu para pemuda tersebut pergi dari wilayah itu dan tidak pernah saya lihat lagi. Tetangga saya juga menjual rumahnya dan pindah ke tempat lain. Golongan Houthi (Hutsyi, Syiah Yaman) menduduki Jamiah (universitas) mereka. Maka semua dari mereka melarikan diri ke Arab Saudi. Jamiah (universitas) mereka pun menjadi tumpukan puing-puing akibat serangan bom.”

Di masa modern ini kita amati bahwa orang-orang menjauh dari agama disebabkan kemajuan materi. Namun, di masa yang sama terdapat pula orang-orang di dunia yang gemar akan agama. Mereka menyelidiki jalan yang benar. Allah pun memberitahukan ke hati-hati mereka dengan melapangkan hati mereka untuk menerima da’wa Imam Zaman. Ketika Allah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as maka itu supaya dunia menerima beliau dan hal ini terjadi sesuai karunia Allah.

Seorang Dai Islam Ahmadi dari Pantai Gading mengatakan: “Saya pergi, disertai dengan mubaligh lokal ke sebuah desa untuk bertabligh dan mengabarkan kepada mereka tentang kedatangan Al-Masih yang dijanjikan dan Imam Mahdi.  

Setelah periode kami pergi ke sana lagi awalnya lima belas orang menerima Ahmadiyah, termasuk imam desa tersebut. Kami mengatakan kepada mereka bahwa di bulan ini akan mengadakan pertemuan tahunan (Ijtima) tingkat nasional Majlis Khuddamul Ahmadiyah di Abidjan. Orang-orang di desa tersebut berkata: ‘Kita harus mengirim orang ke Abidjan untuk melihat Jemaat dari dekat sehingga dapat mengidentifikasi fakta tentang orang-orang ini.’

 Salah seorang dari desa ini menghadiri Ijtima. Setelah kembali dari Ijtima ia mengatakan kepada penduduk desa kesaksiannya mengenai kecintaan dan persaudaraan yang dikembangkan para anggota Jemaat. Hal ini meninggalkan kesan positif di kalangan mereka. Ketika para Ahmadi pergi ke mereka lagi untuk bertabligh setelah diadakan majlis tanya-jawab setelah shalat Isya dan setelah fajar mengenai kedatangan Al-Masih yang dijanjikan, dan tanya-jawab semakin lama berlangsung. Hasilnya, 26 orang lainnya bergabung dengan Jemaat. Dengan demikian, timbullah sebuah Jemaat yang terdiri dari empat puluh satu orang.”

Bagaimana usaha para penentang untuk menghabisi Jemaat dan bagaimana Allah Ta’ala sesuai janji-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as menambahkan para pecinta beliau as. Saya hendak menyampaikan sebuah peristiwa sebagai dalil atas itu. Tn. Anshar, Mubaligh Jemaat di Benin menulis, “Saya mendirikan sebuah Jemaat baru di sebuah desa pada Januari 2016. Sejumlah 85 orang telah baiat. Imam mereka telah kami berikan daras-daras dan ta’lim-ta’lim. Di sana telah diadakan shalat berjamaah secara teratur. Meski mendapatkan perlawanan, Jemaat berkembang pesat. Lalu para kiayai non-Ahmadi mendatangi raja yang menguasai daerah tersebut. Sang raja pun memanggil ketua jemaat Ahmadiyah setempat dan berkata kepadanya untuk meninggalkan Ahmadiyah atau ia akan mengusir para Ahmadi dari desa tersebut. Ketua Jemaat menjawab, ‘kami akan meninggalkan desa ini, namun kami tidak akan pernah meninggalkan Ahmadiyah.’ Lalu sang raja pun berubah hatinya dan berkata kepada ketua Jemaat bahwa ‘anda tidak perlu meninggalkan desa ini dan lakukanlah apa yang anda inginkan.’”

Mubaligh Benin menulis sebuah peristiwa mengenai akibat akhir penentang dan tentang pertolongan Allah, ‘Kami bertabligh melalui program radio setiap minggunya. Direktur radio tersebut mulai menentang kami. Rencana Tuhan sedemikian rupa sehingga direktur tersebut dipecat karena tuduhan korupsi. Kami pun mengundang direktur yang baru diangkat untuk datang ke rumah Misi dan memberikan informasi kepadanya tentang ajaran Isalam dan Ahmadiyah. Selang beberapa waktu kemudian sang direktur baru tersebut mengatakan bahwa ia mengijinkan kami untuk memiliki program lainnya setiap minggu tanpa dipungut biaya sepeser pun.

Lalu ada sebuah peristiwa yang menunjukkan bagaimana Allah melapangkan hati sendiri, Tn. Ahmad dari Mesir mengatakan [melalui surat kepada Hadhrat Khalifatul Masih V atba]: “Saya berterima kasih kepada Anda untuk menyediakan penjelasan yang benar dan sederhana mengenai Islam. Penjelasan tersebut menunjukkan apa itu ajaran Islam yang benar, yang dibawa oleh Rasulullah saw, rahmat untuk dunia. Kami sudah bosan dengan Daesh dan perbuatan-perbuatan mereka. Tidak semua dari kami berpemikiran seperti Anda sekalian. Saya melaksanakan shalat Istikharah dua rakaat sesuai dengan apa yang saya dengar dalam program pada saluran televisi (MTA). Pada malam yang sama saya melihat di dalam mimpi saya rumah-rumah di depan rumah saya mulai mundur bahkan hingga melewati tempat di depan rumah saya.

Lalu, saya melihat Dar-ul-Masih yaitu rumah Hadhrat Masih Mau’ud as di Qadian yang tampil pada layar sebagai latar belakang untuk banyak program [di MTA]. Saya melihat Dar-ul-Masih keluar dari bumi sebagaimana keluarnya anak, dan saya terkejut melihat bagaimana ia keluar, dan kemudian saya melihat cahaya keluar dari rumah tersebut. Saya melihat orang-orang mengatakan bahwa bulan datang di siang hari itu. Saya melihat di belakang saya matahari juga terbit. Saya berkata kepada mereka, ‘Matahari dan bulan, keduanya telah terbit.’ Saya sangat bersukacita untuk mimpi ini karena untuk pertama kalinya saya berdoa istikhaarah dan mendapat jawaban dari Allah. Tidak ada keraguan bahwa saya adalah seorang Muslim sejak awal, tapi baru kali ini saya pertama kali meraih kedekatan dengan Allah. Semua ini karena Jemaat Ahmadiyah, saya berterima kasih untuk itu.”

Ada peristiwa lainnya tentang bagaimana Allah Ta’ala membukakan hati seseorang untuk menerima Ahmadiyah. Tn. Ahmad Derwaish dari Syiria (Suriah) menyampaikan, “Meskipun saya seorang Muslim, namun saya jauh dari agama (tidak begitu relijius). Pada tahun 2008 saudara saya menerima Ahmadiyah. Meski saya jauh dari agama, saya marah pada saudara saya. Saya berdebat dengannya secara sengit. Perdebatan begitu keras sehingga saudara saya akhirnya mengakhirinya untuk menghindari situasi panas.

Pada tahun 2011 keadaan di Suriah memburuk. Saya bergabung dengan kelompok yang menentang pemerintah Syiria. Pada masa ini saya melihat sendiri kelompok-kelompok keagamaan yang ada di masyarakat Suriah. Setiap kelompok dikafirkan oleh yang lain. Di kepercayaan tiap kelompok terdapat hal-hal yang buruk. واهية

Karena keadaan, keluarga saya berpindah ke Halp (Aleppo) dan saya berjumpa dengan saudara saya lagi serta terlibat perdebatan soal agama. Tiap kali saya bertanya soal agama, jawaban dari dia masuk akal. Saya mengakui itu jawaban yang benar namun karena penentangan keras saya, saya pun tidak mampu berkata bahwa itu benar. Perdebatan sampai ke tema kewafatan Nabi Isa as. Setelah itu, inilah pertama kalinya saya meminta buku-buku Jemaat kepadanya. ‘Buku-buku Jemaat tertinggal di rumah yang kita tinggalkan karena takut pengeboman’, kata saudaraku. Saya pun pergi ke rumah tersebut yang terletak di zona peperangan, pembunuhan, penghancuran dan terorisme. Saya tidak mempedulikan semua itu. Saya pun tidak mencemaskan nyawaku.

Sesampainya di rumah itu, saya mengambil buku-buku Jemaat [dan pergi dari sana]. Saya pun mulai membaca buku-buku jemaat, yang langsung menyentuh hati saya, hingga saya pun menerima Ahmadiyah dalam hati saya. Saya beritahukan saudara saya. Namun, dalam kondisi perang, saya tidak bisa mengirim surat baiat ke pusat. Sebelumnya saya adalah penentang pemerintahan Suriah dan sibuk melakukan tindakan-tindakan melawan pemerintah. Tapi, setelah keputusan saya menerima Ahmadiyah dan saya menyaksikan khotbah-khotbah Khalifatul Masih [tentang kepatuhan terhadap pemerintah dan larangan memberontak serta huru-hara dst] maka segera saya menarik diri dari gerakan melawan pemerintahan tersebut.

Ayah saya sangat marah dengan baiat saya. Beliau berkata suatu hari, ‘Pergilah! Dengan takdir Allah, saya tidak mau melihat wajahmu lagi. Jangan pernah kembali ke saya!’ Saya tidak pernah menganggap terhadap perkataan ayah saya ini dibandingkan iman saya dan saya tetap menjaga pendirian saya dengan karunia Allah. saya pun berpindah ke Turki. Hal pertama yang saya lakukan di sana ialah mengisi formulir baiat dan mengirimkannya kepada Anda (Khalifatul Masih V atba).”

Seorang pria Maroko, Abdul Karim berkata bahwa, ‘setelah melakukan penelitian, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah jemaat Tuhan. Setelah membaca Minhaj-ul-Talibin maka keragu-raguan yang menghalangi saya untuk berbaiat pun hilang, dan kini saya siap untuk berbaiat dengan sepenuh hati saya.’

Seorang wanita dari Yaman, Iman Sahibah, mengatakan bahwa ‘sejak kecil, saya mendambakan hidup hingga masa Imam Mahdi, dan saya pun berdoa untuk hal itu. Pada tahun 2009 adik laki-laki saya berkata bahwa ia menonton di sebuah channel Televisi bahwa beberapa orang mengumumkan tentang kedatangan Imam Mahdi. Saya mulai menyaksikan MTA dan setelah memperoleh kepuasan dari semua poin yang saya miliki, saya pun menulis pernyataan baiat pada bulan Januari 2010.’

Penduduk Yaman lainnya, yaitu seorang pria, berkata, “Saya bergabung dengan berbagai macam kelompok Islam, namun tidak pernah menemukan Islam yang sesungguhnya. Ketika saya menyaksikan ajaran islam yang dipaparkan melalui MTA, saya melihat ada perubahan dalam keadaan saya. Selama hari-hari itu saya bermimpi tentang diri saya. Dan saya menyadari akan kekeliruan jalan yang saya tempuh, dan Allah Ta’ala mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk berbaiat pada tahun 2012.”

Jadi, terlepas dari semua serangan-serangan dahsyat bersifat setan yang dilakukan oleh para penentang, Allah Ta’ala membimbing pribadi-pribadi yang memiliki fitrat bersih dengan cara membuka hati mereka dan memberikan karunia kepada mereka untuk menerima Ahmadiyah dan Dia memperlihatkan pemandangan-pemandangan dukungan dan pertolongan-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Allah Ta’ala mengabarkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as:

“Tuhan akan menegakkan namamu dengan kemuliaan hingga hari ketika dunia ini berakhir dan akan menyampaikan tabligh engkau hingga ke ujung-ujung dunia.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman:

“Mereka yang hendak menghinakanmu, dan berniat menjatuhkanmu dan menghancurkanmu, akan hancur sendiri. Mereka akan mati dengan kekecewaan dan kekalahan.”

Lalu Dia berfirman:

‘Me tere khalis aur dilli muhibbong ka garwah bhi barhaungga aur un ke nufuus-o-amwaal me barkat dungga aur un me katsrat bakhsyungga aur woh Musulmaanong ke is dusre garwah parta baroz qiyamat ghalib rahengge jo hasidung aur mu’anidong ka garwah he.’ – “Aku akan menganugerahi kepadamu para pengikut yang di dalam hati mereka benar-benar tulus bersih. Aku akan memberkati jiwa para pengikutmu dan kekayaan mereka. Aku akan memperbanyak jumlah mereka. Aku akan menganugerahi mereka kemenangan diatas kelompok-kelompok Muslim lainnya yang membenci dan memusuhi engkau hingga hari kiamat.” Maksudnya bahwa kelompok-kelompok lainnya di kalangan umat Islam akan tetap ada. Siapa mereka? Yaitu golongan yang mendengki dan memusuhi. [Insya Allah, Jemaat Ahmadiyah yang akan unggul.]

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang yang beriman:

‘Khuda unhei bhulega aur faramusy nehi karega aur woh ‘ala hasbil ikhlash apna apna ajr paengge.’ “Tuhan tidak akan mengabaikan atau melupakan mereka melainkan Dia akan menganugerahi mereka ganjaran sesuai derajat ketaqwaan dan keikhlasan mereka.”

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada tiap Ahmadi untuk meningkatkan ikatan erat mereka dengan Jemaat hari demi hari dengan ikhlas dan setia. [آمين Aamiin.]

Ketika kita menelaah bagaimana telah terpenuhinya banyak dari janji-janji yang Allah berikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as maka menjadi yakinlah kita bahwa pasti akan terpenuhi pula janji-janji Allah mengenai akan bertambah banyak anggota kelompok beliau as. Kita telah tetap unggul diatas mereka yang dengki dan memusuhi dalam corak dalil dan bukti. Para penentang tidak memiliki dalil – dan saya telah memperdengarkan tentang peristiwa-peristiwa yang telah disebutkan, yang mana para penentang mengatakan, “Kami menentang Jemaat tanpa harus memiliki dalil dan bukti yang tersedia.” Dan, Insya Allah, kita akan terus unggul selalu dalam hal dalil dan bukti. Meskipun demikian, jika ada keharusan yang harus kita perhatikan, hal itu adalah bahwa kita harus meningkatkan pengabdian dan keikhlasan kita kepada Allah guna meraih karunia-karunia-Nya dan membuat kita menjadi ahli waris karunia-karunia tersebut. Semoga Allah membantu kita untuk melakukannya dengan taufiq-Nya. [آمين Aamiin.]

Saya akan menyampaikan kutipan dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dimana beliau bersabda: “Apakah mereka (para penentang kita) yakin bahwa melalui makar, pengada-adaan, perolok-olokan dan kebohongan mereka yang tanpa dasar itu akan dapat merubah kehendak Allah? Apakah mereka melalui tipu muslihat akan mampu untuk mencegah apa-apa yang sudah ditetapkan Allah di langit kepada dunia? Jika di masa lalu para penentang kebenaran meraih beberapa keberhasilan dengan cara-cara itu, maka pada hari ini pun mereka mungkin bisa meraih keberhasilan itu. Tapi, ini adalah fakta yang tidak bisa dimungkiri bahwa para musuh Allah dan yang menentang keputusan yang telah ditetapkan-Nya di langit selalu mengalami kehinaan dan kegagalan, maka bagi orang-orang seperti itu tidak ada bagian kecuali kegagalan, kejatuhan dan kehinaan pada hari yang ditetapkan untuk kejatuhan mereka. Keputusan Allah ini tidak akan pernah meleset baik di masa lalu, sekarang maupun nanti.

Allah Ta’ala berfirman: كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي  yang artinya, “Sejak semula Allah telah menetapkan dan itu Dia jadikan sebagai hukum-Nya yang abadi dan sunnah-Nya yang tetap bahwa Dia dan rasul-rasul-Nya akan senantiasa menang. Maka dari itu, karena saya adalah Rasul (Utusan) dari Allah namun tanpa syariat baru, tanpa pendakwaan baru dan tanpa nama baru—malah sebaliknya saya memikul nama Nabi Karim, Khatamul Anbiya saw dan saya datang sebagai pengikut beliau saw dan mazhhar beliau saw — maka dari itu, saya berkata kepada kamu sekalian bahwa sebagaimana ayat ini telah terbukti benar di masa sebelumnya yaitu sejak masa Adam as hingga Nabi saw, maka hal itu pun terbukti kebenarannya di jaman saya juga.” إن شاء الله تعالى Insya Allah.

Yusuf Awwab & Dildaar Ahmad

(Visited 139 times, 1 visits today)