Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

07 Juli 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Sebagaimana yang dapat kita telaah dalam sejarah Nabi-Nabi, bahwa para Nabi menghadapi penentangan setelah pendakwaan mereka. Seiring dengan menyebarnya Jemaat mereka, api permusuhan dan kecemburuan meningkat. Para penentang pun mengambil berbagai macam cara yang dapat mereka lakukan untuk melakukan permusuhannya. Namun, dikarenakan faktanya para pendakwa tersebut diutus oleh Allah Ta’ala maka Dia memberikan khabar suka dan janji-Nya kepada mereka berupa kemajuan dan perkembangan meski bersamaan itu terdapat penentangan sehingga penentangan jenis apa pun tidak akan pernah menjadi penghalang di jalan menuju kemajuan mereka. Itu takkan bisa.

Ketika Allah Ta’ala mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad) sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi maka beliau as pun menerima perlakuan dari-Nya sesuai dengan Sunnah-Nya ini. Sunnah Allah Ta’ala dalam pertolongan dan penguatan dari-Nya juga sebagaimana perlakuan-Nya pada masa dahulu.

Kita amati bahwa Allah Ta’ala memperlakukan beliau as demikian di dunia nyata dan juga masih terus memperlakukan demikian terhadap Jemaat beliau as. Hendaknya diketahui bahwa ketika Allah Ta’ala sebelumnya telah dahulu mengabarkan kepada beliau as tentang berbagai macam bentuk penentangan terhadap beliau as dan akhir yang sangat menyedihkan dari para penentang; Dia pun mengabarkan kepada beliau tentang kemajuan dan perkembagan Jemaat beliau meski menghadapi penentangan tersebut. Allah Ta’ala mengungkapkan banyak sekali wahyu perihal ini, salah satunya berikut ini:

‘Me tere khalis aur dilli muhibbong ka garwah bhi barhaungga.’ “Aku akan memperbanyak Jamaah pecinta engkau yang jujur dan tulus ikhlas.”

Lalu ada wahyu lainnya, ’Me tere sath aur tere tamam piyarong ke sath hu.’ (“I am with you and with all your dear ones.”) “Aku bersama engkau dan bersama dengan semua orang yang mengasihi engkau.” (1907)

Kemudian Allah berfirman: ‘Yanshuruka rijaalun nuuhii ilaihim minas samaa-i.’ “Orang-orang yang Kami ilhamkan dari langit akan menolong engkau.” (1900)

Juga Dia berfirman: ‘Me tujhe ‘izzat dungga aur barhaungga..’ – “Aku yang akan menetapkan kemuliaan bagi engkau dan memelihara perkembangan engkau.” (1891)

Dan lagi wahyu lain berbunyi sebagai berikut: ‘YanshurukaLlahu min ‘indi-Hi’ “Allah akan menolong engkau dari diri-Nya sendiri.” (tahun 1900)

Ada juga janji Allah Ta’ala terkait secara istimewa dengan Tabligh dan penyampaian pesan beliau, ‘Me teri tabligh ko zamin ke kinarung tak pahuncaungga.’ – “Aku akan sampaikan tabligh engkau hingga ke pelosok-pelosok dunia.” Lalu firman-Nya, كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي “Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku akan menang.’” Banyak sekali ilham dari segi dukungan dan pertolongan ini.

Hal-hal ini bukanlah hanya pendakwaan-pendakwaan belaka dari Hadhrat Masih Mau’ud as, wal ‘iyaadz biLlaah. Tidak demikian! Melainkan kita melihat Allah selalu menyelesaikan janji-janji ini di setiap era, kadang-kadang Allah menunjukkan pemandangan dukungan praktis untuk merobohkan rancangan licik penentang atas mereka, dan kadang-kadang Dia memandu orang-orang dan mengungkapkan pada mereka kebenaran Ahmadiyah, dan kadang-kadang memberi ilham kedalam hati orang-orang non Ahmadi [yang berfitrat baik] untuk mendukung para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as menghadapi serangan dari para penentang terhadap mereka. Jadi kita melihat bahwa janji-janji Allah terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as secara praktis terpenuhi dari waktu ke waktu.

Sekarang saya ingin mengisahkan beberapa peristiwa yang dua diantaranya menyebutkan soal konsekuensi berat para penentang. Kejadian ini di satu sisi menjadi sarana untuk meningkatkan keimanan para Ahmadi dan di sisi yang lain menjadi tanda kebenaran Ahmadiyah bagi orang-orang lain.

Nazir Da’wat Ilallah di Qadian menulis, “Tn. Ishaq, salah seorang Mu’allim Jemaat pergi ke kerabatnya di desa sekitarnya menjelang bulan Ramadhan untuk memberitahukan mereka tentang waktu-waktu sahur dan berbuka. Saat tengah menguraikan perihal keberkatan-keberkatan Ramadhan setelah melewati imsak Ramadhan, seorang pemuda non Ahmadi bernama Iqbal berkunjung ke rumah tersebut. Setelah mendengarkan percakapan Muallim itu, Iqbal bertanya kepada tuan rumah, ‘Siapa orang ini?’

Mungkin tuan rumah berpandangan tidak perlu menjelaskan detil mengenai Muallim tersebut bahwa ia seorang Muallim Ahmadi sehingga tuan rumah berkata, ‘Ia datang dari desa Fulan.’ Namun, Sang Muallim memperkenalkan dirinya dan mengatakan, “Saya adalah muallim Jemaat Ahmadiyah.” Mendengar hal itu, Iqbal begitu marah. Muallim Jemaat itu ingin menyempurnakan perkenalannya dan menghilangkan kesalahpahaman, tapi Iqbal menolak. Tatkala sang Muallim menyebut-nyebut mengenai Islam, Al-Qur’an dan Nabi Muhammad saw dalam percakapannya, Iqbal mengatakan, ‘Anda tidak berhak menggunakan istilah-istilah Islam tersebut.’ (Ia terpengaruh Maulwi-Maulwi Pakistan). Ketika Dai kita itu menyebut Hadhrat Masih Mau’ud as maka Iqbal melontarkan caci-maki terhadap beliau as dan berkata, ‘Saya telah pernah tinggal di Saudi, Bahrain dan Qatar. Saya jauh lebih tahu banyak hal dibandingkan Anda. Seluruh negara Islam telah menerbitkan fatwa melawan kalian (Ahmadiyah). Mereka mengatakan,”Jika di sebuah jalan kalian bertemu dengan ular dan seorang Qadiani maka yang harus kalian tinggalkan ialah ularnya sementara orang Qadiani itulah yang harus kalian bunuh.”’

Dengan perkataannya itu ia memotivasi orang-orang untuk membunuh saya karena menurutnya berpahala besar bila seseorang dapat membunuh orang Qadiani kecuali jika tidak berhasil dalam hal itu. Saya mendengar perkataan orang itu dengan sabar dan menahan diri. Namun, ketika kata-kata kotor dan kerasnya telah mencapai puncaknya, saya berkata, ‘Jika saya bukan seorang Dai Ahmadi, keinginan membunuh saya dalam diri Anda pasti sudah terpenuhi. Kami para Ahmadi diajarkan untuk membalas caci-maki dengan doa.’ Ia terdiam dan duduk sambil memperhatikan sekeliling serta memperingatkan dengan berkata, ‘Jika Anda terlihat lagi di desa ini maka Anda akan meghadapi sebuah akhir yang buruk.’ Saya (Muallim) menjawab bahwa hanya waktu-lah yang akan menjelaskan siapakah yang akan menghadapi akhir yang buruk. Saya pun pergi dari tempat itu dengan diam. Iqbal juga mendorong para Ahmadi untuk meninggalkan ‘Qadiyaniah’ namun mereka tidak menganggap penting terhadapnya.

Setelah itu, 15 hari Ramadhan saya mengadakan perjalanan ke suatu tempat lalu pulang. Saat pulang, seorang ibu tua mengabarkan bahwa Maulvi Iqbal, kiyai muda yang mencaci maki Jemaat, tiba-tiba meninggal akibat serangan jantung. Kejadian tersebut tidak hanya meningkatkan keimanan para anggota Jemaat yang berada di desa kecil tersebut, tapi juga sangat mempengaruhi orang-orang non-Ahmadi karena mereka menyaksikan dukungan Allah Ta’ala terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as dan melihat bagaimana yang berupaya menghinakan beliau as malah terhinakan dan hancur.

Contoh serupa disampaikan oleh Tn. Ghanim dari Yaman yang menulis mengenai akhir para penentang, “Semenjak saya baiat (menjadi Ahmadi), saya senantiasa bertabligh. Saya menerima penentangan keras dan ancaman khususnya dari kalangan pemuda. Pada bulan Ramadhan tahun 2010, tetangga saya dan beberapa kawannya meminta saya untuk berdialog dengan seorang Syaikh di sebuah universitas bernama Jamiatul Iman.

Hadir juga Ulama lainnya. Saya mengajukan terlebih dahulu dalil-dalil kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as lalu bahasan tentang pembunuhan orang murtad, jihad dan kewafatan Al-Masih. Mereka menyampaikan pendirian-pendirian mereka tanpa satu dalil pun sementara saya selalu mengajukan dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits. Sementara orang termulia mereka (Sang Syekh) bersikap cukup respek [menghargai], namun yang lainnya yaitu anak-anak muda yang hadir dalam dialog itu berkata kasar, bahkan menantang saya untuk bermubahalah. Saya katakan, ‘Mubahalah harus dari pihak Imam.’ Meski demikian, saya tetap menerima tantangannya takut orang-orang menyangka saya tidak yakin akan kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as dan perkara pun selesai. Setelah itu para pemuda ini mulai mengintimidasi saya, mengancam saya, mencaci saya dan menghalang-halangi saya dalam bertabligh.

Pada akhir bulan Ramadhan suatu hari ketika saya keluar dari rumah, seorang anak mengatakan kepada saya: ‘Hai paman! Mereka tengah bersekongkol terhadap Anda.’ Kemudian, seseorang dari mereka datang kepada saya dan mengancam membunuh saya dan mengutuk Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya kembali ke rumah dengan hati remuk. Sesampainya di rumah, saya shalat dua rakaat dan berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah tampakanlah kuasa-Mu atas mereka.’ Setelah satu atau dua hari kemudian para pemuda tersebut saling bertengkar diantara mereka sendiri dengan bersenjatakan khanjar (pisau kecil khas Yaman). Dalam perkelahian tersebut, seorang anak terkena pisau. Setelah itu, sebulan kemudian para pemuda tersebut pergi dari wilayah itu dan tidak pernah saya lihat lagi. Tetangga saya juga menjual rumahnya dan pindah ke tempat lain. Golongan Houthi (Hutsyi, Syiah Yaman) menduduki Jamiah (universitas) mereka. Maka semua dari mereka melarikan diri ke Arab Saudi. Jamiah mereka pun menjadi tumpukan puing-puing akibat serangan bom.”

Di masa modern ini kita amati bahwa orang-orang menjauh dari agama disebabkan kemajuan materi. Namun, di masa yang sama terdapat pula orang-orang di dunia yang gemar akan agama. Mereka menyelidiki jalan yang benar. Allah pun memberitahukan ke hati-hati mereka dengan melapangkan hati mereka untuk menerima da’wa Imam Zaman. Ketika Allah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as maka itu supaya dunia menerima beliau dan hal ini terjadi sesuai karunia Allah.

Seorang Dai Islam Ahmadi dari Pantai Gading mengatakan: “Saya pergi, disertai dengan mubaligh lokal ke sebuah desa untuk bertabligh dan mengabarkan kepada mereka kedatangan Al-Masih yang dijanjikan dan Imam Mahdi.

Setelah periode kami pergi ke sana lagi awalnya lima belas orang menerima Ahmadiyah, termasuk imam desa tersebut. Kami mengatakan kepada mereka bahwa di bulan ini akan mengadakan pertemuan tahunan (Ijtima) tingkat nasional Majlis Khuddamul Ahmadiyah di Abidjan. Orang-orang di desa tersebut berkata: ‘Kita harus mengirim orang ke Abidjan untuk melihat Jemaat dari dekat sehingga dapat mengidentifikasi fakta tentang orang-orang ini.’

 Salah seorang dari desa ini menghadiri Ijtima. Setelah kembali dari Ijtima ia mengatakan kepada penduduk desa kesaksiannya mengenai kecintaan dan persaudaraan yang dikembangkan para anggota Jemaat. Hal ini meninggalkan kesan positif di kalangan mereka. Ketika para Ahmadi pergi ke mereka lagi untuk bertabligh setelah diadakan majlis tanya-jawab setelah shalat Isya dan setelah fajar mengenai kedatangan Al-Masih yang dijanjikan, dan tanya-jawab semakin lama berlangsung. Hasilnya, 26 orang lainnya bergabung dengan Jemaat. Dengan demikian, timbullah sebuah Jemaat yang terdiri dari empat puluh satu orang.”

Bagaimana usaha para penentang untuk menghabisi Jemaat dan bagaimana Allah Ta’ala sesuai janji-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as menambahkan para pecinta beliau as. Saya hendak menyampaikan sebuah peristiwa sebagai dalil atas itu.

Tn. Anshar, Mubaligh Jemaat di Benin menulis, “Saya mendirikan sebuah Jemaat baru di sebuah desa pada Januari 2016. Sejumlah 87 orang telah baiat. Imam mereka telah kami berikan daras-daras dan ta’lim-ta’lim. Di sana telah diadakan shalat berjamaah secara teratur.

Para Ulama setelah mengetahui hal ini berusaha mengosongkan orang-orang itu dari Ahmadiyah. Namun, para Mubayyi’ baru semakin kokoh dalam keimanan mereka. Gagak dalam usaha mereka lalu para Ulama non-Ahmadi mendatangi raja yang menguasai daerah tersebut memintanya untuk melarang orang-orang menjadi Ahmadi. Sang raja pun memanggil ketua Jemaat Ahmadiyah setempat dan berkata kepadanya, ‘Jika kalian ingin punya Masjid, para Ulama non Ahmadi akan membangunkannya untuk kalian. Tapi kalian harus meninggalkan Ahmadiyah.’

Ketua Jemaat berkata, ‘Apa yang anda ketahui mengenai Ahmadiyah?’

Raja berkata, ‘Saya tidak tahu apa-apa tentang Ahmadiyah. Namun, para Ulama berkata bahwa orang-orang Ahmadi bukanlah orang Muslim melainkan mereka itu teroris ‘Boko Haram’ yang akan membunuh kami semua.’

Ketua Jemaat menjelaskan kepada Raja tentang Ahmadiyah yang merupakan Islam sejati dan informasi salah telah diberikan para Ulama kepada sang Raja. Awalnya, sang Raja tidak menerima perkataan ini dan berkata, ‘Kalian harus keluar dari Ahmadiyah atau saya akan mengusir kalian dari desa ini.’

Ketua Jemaat menjawab, ‘Kami akan meninggalkan desa ini, namun kami tidak akan pernah meninggalkan Ahmadiyah.’ Demikianlah keimanan orang-orang ini yang merupakan orang-orang miskin dan tinggal di wilayah terpencil. Mendengar hal ini, sang raja pun berubah hatinya dan berkata kepada ketua Jemaat, ‘Anda tidak perlu meninggalkan desa ini. Lakukanlah apa yang anda inginkan.’ Dengan demikian, Allah Ta’ala mengokohkan langkah-langkah orang-orang beriman, menguatkan keimanan mereka dan bukan hanya menambahkan kecintaan terhadap Jemaat di hati orang-orang bahkan sang Raja pun hatinya melembut setelah tadinya menentang keras juga. Allah Ta’ala pun menyediakan sarana-sarana dukungan dan pertolongan terhadap Jemaat.”

Mubaligh Benin menulis sebuah peristiwa mengenai akibat akhir penentang dan tentang pertolongan Allah, ‘Kami bertabligh melalui dua program di dua buah stasiun radio besar di wilayah kai setiap minggunya. Dengan cara itu Tabligh Jemaat sampai ke orang-orang dalam jumlah banyak. Kami mengisi acara selama setengah jam di radio tiap hari Rabu, namun wakil Direktur radio tersebut mulai menentang kami. Ia berusaha menghalangi jalannya acara kami. Rencana Tuhan sedemikian rupa sehingga Wakil Direktur tersebut dipecat dengan tuduhan membuat kerusuhan di kantor radio tersebut dan diajukan ke pengadilan yang lalu pengadilan memutuskan memenjarakannya. Setelah Wakil Direktur yang baru diangkat, kami pun mengundangnya untuk datang ke rumah Misi dan memberikan informasi kepadanya tentang akidah-akidah Islam dan Ahmadiyah. Kami pun menghadiahinya buku-buku dan selebaran-seleberan serta memberitahu kepadanya tujuan tabligh kami.

Setelah itu, program tabligh kami berjalan lagi di Radio tersebut. Selang beberapa waktu kemudian ketika kami berjumpa lagi dengan sang direktur baru tersebut, ia mengatakan, ‘Saya terkesan sekali dengan Dakwah kalian. Cara Tabligh kalian sangat indah. Oleh karena itulah, saya menawari kalian program independen lainnya lainnya setiap minggu tanpa dipungut biaya sepeser pun hal itu supaya orang-orang secara umum tahu ajaran agama yang sebenarnya dan supaya ajaran-ajaran salah yang dikait-kaitkan dengan Islam bisa menghilang.’

Tadinya kami khawatir berhentingnya kelanjutan satu acara kami namun Allah menurunkan karunia-Nya sehingga waktu ditambah untuk Tabligh seruan Hadhrat Masih Mau’ud as dan pesan Islam sejati.”

Dia memperlihatkan di tiap tempat berupa pemandangan-pemandangan dukungan-Nya yang Dia janjikan itu kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Lalu ada sebuah peristiwa yang menunjukkan bagaimana Allah melapangkan hati seseorang. Tn. Ahmad dari Mesir mengatakan [melalui surat kepada Hadhrat Khalifatul Masih V atba]: “Saya berterima kasih kepada Anda untuk menyediakan penjelasan yang benar dan sederhana mengenai Islam. Penjelasan tersebut menunjukkan apa itu ajaran Islam yang benar, yang dibawa oleh Rasulullah saw, rahmat untuk dunia. Kami sudah bosan dengan Daesh dan perbuatan-perbuatan mereka. Tidak semua dari kami berpemikiran seperti Anda sekalian. Saya melaksanakan shalat Istikharah dua rakaat sesuai dengan apa yang saya dengar dalam program pada saluran televisi (MTA). Pada malam yang sama saya melihat di dalam mimpi saya rumah-rumah di depan rumah saya mulai mundur bahkan hingga melewati tempat di depan rumah saya.

Lalu, saya melihat Dar-ul-Masih yaitu rumah Hadhrat Masih Mau’ud as di Qadian yang tampil pada layar sebagai latar belakang untuk banyak program [di MTA]. Saya melihat Dar-ul-Masih keluar dari bumi sebagaimana keluarnya anak, dan saya terkejut melihat bagaimana ia keluar, dan kemudian saya melihat cahaya keluar dari rumah tersebut. Saya melihat orang-orang mengatakan bahwa bulan datang di siang hari itu. Saya melihat di belakang saya matahari juga terbit. Saya berkata kepada mereka, ‘Matahari dan bulan, keduanya telah terbit.’ Saya sangat bersukacita untuk mimpi ini karena untuk pertama kalinya saya berdoa istikhaarah dan mendapat jawaban dari Allah. Tidak ada keraguan bahwa saya adalah seorang Muslim sejak awal, tapi baru kali ini saya pertama kali meraih kedekatan dengan Allah. Semua ini karena Jemaat Ahmadiyah, saya berterima kasih untuk itu.”

Ada peristiwa lainnya tentang bagaimana Allah Ta’ala membukakan hati seseorang untuk menerima Ahmadiyah. Tn. Ahmad Darwisy dari Syiria (Suriah) menyampaikan, “Meskipun saya seorang Muslim, namun saya jauh dari agama (tidak begitu relijius). Pada tahun 2008 saudara saya menerima Ahmadiyah. Meski saya jauh dari agama, saya marah pada saudara saya. Saya berdebat dengannya secara sengit. Perdebatan begitu keras sehingga saudara saya akhirnya mengakhirinya untuk menghindari situasi panas.

Pada tahun 2011 keadaan di Suriah memburuk. Saya bergabung dengan kelompok yang menentang pemerintah Syiria. Pada masa ini saya melihat sendiri kelompok-kelompok keagamaan yang ada di masyarakat Suriah. Setiap kelompok dikafirkan oleh yang lain. Di kepercayaan tiap kelompok terdapat hal-hal yang buruk.

Karena keadaan, keluarga saya berpindah ke Halp (Aleppo) dan saya berjumpa dengan saudara saya lagi serta terlibat perdebatan soal agama. Tiap kali saya bertanya soal agama, jawaban dari dia masuk akal. Saya mengakui itu jawaban yang benar namun karena penentangan keras saya, saya pun tidak mampu berkata bahwa itu benar. Perdebatan sampai ke tema kewafatan Nabi Isa as. Setelah itu, inilah pertama kalinya saya meminta buku-buku Jemaat kepadanya. ‘Buku-buku Jemaat tertinggal di rumah yang kita tinggalkan karena takut pengeboman’, kata saudaraku. Saya pun pergi ke rumah tersebut yang terletak di zona peperangan, pembunuhan, penghancuran dan terorisme. Saya tidak mempedulikan semua itu. Saya pun tidak mencemaskan nyawa.

Sesampainya di rumah itu, saya mengambil buku-buku Jemaat [dan pergi dari sana]. Saya pun mulai membaca buku-buku jemaat, yang langsung menyentuh hati saya, hingga saya pun menerima Ahmadiyah dalam hati saya. Saya beritahukan saudara saya. Namun, dalam kondisi perang, saya tidak bisa mengirim surat baiat ke pusat. Sebelumnya saya adalah penentang pemerintahan Suriah dan sibuk melakukan tindakan-tindakan melawan pemerintah. Tapi, setelah keputusan saya menerima Ahmadiyah dan saya menyaksikan khotbah-khotbah Khalifatul Masih [tentang kepatuhan terhadap pemerintah dan larangan memberontak serta huru-hara dst] maka segera saya menarik diri dari gerakan melawan pemerintahan tersebut.

Ayah saya sangat marah dengan baiat saya. Beliau berkata suatu hari, ‘Pergilah! Dengan takdir Allah, saya tidak mau melihat wajahmu lagi. Jangan pernah kembali ke saya!’ Saya tidak pernah menganggap perkataan ayah saya ini dibandingkan iman saya dan saya tetap menjaga pendirian saya dengan karunia Allah. Saya pun berpindah ke Turki. Hal pertama yang saya lakukan di sana ialah mengisi formulir baiat dan mengirimkannya kepada Anda (Khalifatul Masih V atba).”

Seorang pria Maroko (Marakesh), Tn. Abdul Karim meriwayatkan sebuah peristiwa lain yang dengan itu ia menjelaskan bagaimana Allah Ta’ala menggagalkan rencana para penentang dan melapangkan dada orang-orang, “Setelah melakukan penelitian, akhirnya saya sampai pada satu kesimpulan bahwa Jemaat Ahmadiyah adalah Jemaat Tuhan. Ketika tengah mencari jawaban atas tuduhan, saya menemukan buku Jemaat berbahasa Arab, Minhaj-ul-Talibin. Ketika membacanya, timbul keinginan membaca penuh buku itu. Di bagian awal buku itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menanggapi berbagai kritik terhadap beliau yang mengatakan beliau menganggur dan tidak bekerja sedikit pun. Sebagai jawaban atas hal itu beliau merinci kegiatan-kegiatan sehari-hari dari Shubuh hingga sore, bahkan hingga malam hari.

Saya membaca buku itu dan pada segi lainnya Tafsir Kabir selalu terbesit di pemikiran saya dan bertanya-tanya, ‘Seseorang yang kegiatan hariannya penuh dengan pekerjaan-pekerjaan agung sampai ke tingkat mampu melakukan sebuah karya dahsyat seperti menulis Tafsir Kabir yang mana menuntut adanya bahasan mendalam dan kajian menyeluruh.

Perlu diperdebatkan bahwa jika Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian itu pendusta – na’udzu biLlah – mengapa terjadi bahwa putranya demikian serajin dan setekun itu? Jika Mirza itu bohong maka mengapa putranya siang malam mengeluarkan kedalaman Al-Qur’an beserta makrifat-makrifatnya untuk kemajuan Islam lalu menyajikannya kepada dunia siang-malam tanpa mempedulikan diri beliau sendiri, keluarga beliau, anak-anak beliau dan tidak memperhatikan kesehatan beliau sendiri.

Saat memikirkan hal ini, saya pun terbesit dengan sabda Nabi Muhammad saw, yatazawwaju wa yuuladu lahu.’ yang artinya Al-Masih yang akan datang akan menikah dan dikaruniai keturunan yang luar biasa. Saat memikirkan nubuatan ini, hati saya dipenuhi dengan perasaan aneh yang susah untuk dijelaskan. Saya pun menjadi yakin bahwa pahlawan agung ini yang melalui perantaraannya tersebar makrifat-makrifat firman Allah di dunia dan memperlihatkannya kepada orang-orag sebuah Tafsir Agung seperti Tafsir Kabir yang tidak ada bandingannya. Setelah membaca ‘Minhajuth Thalibin, semua halangan yang ada di jalan baiat menjadi hilang dan saya siap dengan lapang dada. Dengan cara-cara yang ajaib, Allah Ta’ala membuka jalan itu.

Demikian pula, Allah Ta’ala juga membimbing sebagian orang melalui jalur ru-ya. Seorang wanita dari Yaman, Iman Sahibah, mengatakan, “Sejak kecil, saya mendambakan hidup hingga masa Imam Mahdi, dan saya pun berdoa untuk hal itu. Suatu hari saya menyaksikan sebuah saluran televisi yang di dalam satu acaranya terdapat dialog agama. Sebuah pertanyaan diajukan kepada seorang ulama terkenal mengenai Jemaat Ahmadiyah tanpa menyebut nama Jemaat. Penanya mengatakan, ‘Ada sebuah golongan yang mempercayai Imam Mahdi sudah datang dan sebuah Khilafat telah berdiri setelahnya.’ Ulama itu berkata, ‘Mereka itu memikul keraguan dan kepalsuan. Mereka pembohong. Anda tidak harus menaruh perhatian pada mereka melainkan hidup secara biasa. Saat Imam Mahdi datang, semua orang akan mengenalinya tanpa perlu mencari-carinya.’

Perkataannya tersebut melekat dalam hati saya begitu kuat bertanya-tanya dan cemas. Pada tahun 2009 adik laki-laki saya berkata bahwa ia menonton di sebuah stasiun Televisi yang terdapat acara perbincangan dan beberapa orang mengumumkan tentang kedatangan Imam Mahdi.

Saat  itu saya menjadi teringat sebuah pertanyaan yang telah diajukan kepada seorang Ulama dan apa yang dia jawab kepadanya dan mengerti bahwa pertanyaan tersebut sebenarnya adalah sebuah kelompok yang mengumumkan kemunculan Imam Mahdi. Saya mengambil dari saudara saya frekuensi saluran itu dan ketika itu saya menyimak program “dialog langsung” yang tengah disiarkan. Lalu saya merenungi  para tamu program ini satu per satu dan melihat kemuliaan wajah mereka bercahaya dan mempunyai cahaya yang aneh. Tapi saya merasa kasihan pada mereka karena mereka tersesat dalam perjalanan padahal keadaan mereka begitu baik sebagai ulul albaab (cerdas).

Saya berkata kepada diri sendiri: ‘Hari ini kita memerlukan persatuan, tapi mereka membentuk kelompok-kelompok baru, dan apakah perbedaan kelompok itu sedikit dalam Islam sebelum mereka membentuk kelompok lain? Ini di satu sisi, di sisi lain, saya terkesan dengan apa yang mereka katakan. Setelah berakhirnya acara disiarkan Qashidah berbahasa Arab yang dikatakan sebagai puisi Imam Mahdi. Kata-kata puisi dan pengaruhnya sangat luar biasa. Saya mulai menonton saluran ini bersama suami saya dan kami semakin terikat padanya setiap hari sampai kami menghentikan penayangan saluran lainnya di rumah kami dan hanya tersisa saluran ini. Semua orang di rumah mulai menyukai konsep yang disiarkan. Efek dari kata-kata yang dijanjikan Hadhrat Masih Mau’ud as benar-benar menakjubkan. Mata saya menangis saat mendengar puisi beliau as karena kata-kata semacam itu hanya bisa keluar dari mulut utusan Tuhan Yang Maha Esa dan di luar kemampuan orang awam untuk menyusun kalimat-kalimat sedemikian berpengaruh dan fasih seperti itu.

Saya menulis surat baiat setelah penelitian dan keyakinan atas semua hal pada Januari 2010. Suami saya mencoba lagi dan lagi untuk mengirim itu via internet tapi tidak berhasil. Ketika usaha berulangnya tidak berhasil, saya teringat sebuah ru-ya yang pernah saya lihat di masa muda saya, ketika saya melihat di depan saya bayangan panjang di tanah kakek saya, dan saya merasakan dalam ru-ya tersebut bahwa itu adalah Rasulullah saw. Lalu bayangan itu mengulurkan tangannya ke arah saya, dan saya berlari untuk memegangnya. Saya jatuh dalam proses itu dan kemudian bangkit dan mulai berlari lagi, dan kemudian saya terbangun dari tidur dalam perjuangan ini.”

Ia meriwayatkan lagi: “Saya berpikiran bahwa bayangan yang saya lihat adalah Hadhrat Masih Mau’ud as karena beliau as adalah bayangan sempurna Hadhrat Rasulullah saw dan beliau as juga seorang Nabi zhilli. Merupakan karunia Allah semata yang memberi saya kekuatan untuk memegang tangan beliau karena kami telah berhasil mengirim surat baiat setelah pada bulan Maret 2010. Sejak kami telah baiat, kami melihat karunia Allah turun bak hujan, dan melihat keajaiban kekuasaan-Nya sejauh yang tidak dapat saya gambarkan. Tuhan kita benar-benar menakjubkan. Kapan pun saya menyeru Tuhan saya melihat tanda-tanda jawabannya. Tuhan kita sangat penyayang.”

Kemudian dia menceritakan meriwayatkan sembari menujukan perkataannya kepada saya (Hudhur V atba): “Saya mencintai Anda. Saya mencintai semua orang beriman daripada diri saya sendiri, keluarga, orang tua dan anak-anak saya sendiri serta semua orang dan air nan sejuk.”

Penduduk Yaman lainnya, yaitu seorang pria, berkata, “Saya telah pernah bergabung dengan berbagai macam kelompok Islam, namun tidak pernah menemukan Islam yang sesungguhnya. Selanjutnya, saya mengenal Jemaat Ahmadiyah melalui paparan MTA yang membuat saya merasakan sesuatu. Saya merasa kagum sekaligus heran.

Beberapa hari setelah itu saya bermimpi tentang diri saya. Di tengah-tengah perasaan shock dan tertegun yang saya alami, satu malam saat sedang tidur saya melihat saya berada di tengah-tengah halaman yang sangat besar. Di tempat itu umat Islam tengah riuh bertengkar, saling melempar, berteriak dan berdebat. Suara mereka keras menjengkelkan mereka terlibat dalam pertempuran kata-kata. Kebingungan itu bercampur aduk. Keributan dan kebisingan memenuhi atmosfer, seolah-olah kita berada di pasar tipis yang menyerupai tanah beku. Ini berayun kanan dan kiri. Saya menemukan platform tinggi di depan alun-alun.

Di mimbar itu saya ke sana dan saya mulai berteriak dengan segenap suaraku: ‘Wahai manusia, wahai manusia, wahai umat Muslim, Imam Mahdi telah muncul!’ Saya mengulangi kata-kata ini berulang-ulang, tapi tidak ada yang mendengar kabar dari saya dan memperhatikan saya. Suara saya hilang di tengah kebisingan mereka. Kemudian saya melihat seorang pemuda lain yang juga mengumumkan kedatangan Imam Mahdi. Pemuda itu sangat tampan dan warnanya warna orang-orang Eropa. Dia mengenakan pakaian putih dan topi putih di kepalanya. Dia mengayunkan dahinya begitu saya melihatnya. Yang aneh adalah saya bertanya kepadanya: ‘Apa yang Anda inginkan?’ Pada saat yang sama, pemuda tersebut mengajukan pertanyaan yang sama kepada saya. Saya berkata, ‘Al-Masih yang dijanjikan telah muncul.’ Dan saya menyatakan kepada orang-orang hal agung ini.

Ketika ia mendengar hal itu, wajahnya cerah dan bersukacita dengan amat gembira, dan kemudian menawarkan kepada saya untuk menemani saya. Saya menyadari ia seorang Ahmadi. Ada momen kebahagiaan dan ketentraman dan keamanan saat ia menemani saya. Lalu saya bertanya kepadanya: ‘Apakah Anda  Ahmadi?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Saya berkata kepadanya: ‘Apakah Anda berasal dari Eropa?’ Dia berkata: ‘Ya.’ Saya berkata: ‘Apa yang Anda lakukan di sini?’ Dia berkata: ‘Saya datang untuk memberitahu orang-orang Arab tentang kedatangan Al-Mahdi dan Al-Masih yang dijanjikan.’

Lalu dia berkata kepada saya: ‘Saya akan menyampaikan kepada mereka, tapi Anda pergi dan bergabung dengan Jemaat ini terlebih dahulu.’ Saya berkata: ‘Dan di mana Jemaatnya?’ Dia berpaling ke dataran tinggi rendah di ujung alun-alun timur, dan menunjukinya dengan tangannya, dan berkata: ‘Pergi ke daerah ini sekarang.’

Saya turun dari podium dan berlari menuju dataran tinggi, dan belum jauh pergi sampai saya mendengar Ahmadi itu berseru dari belakang saya, mengatakan: ‘Waspadalah terhadap setan .. ia akan mencoba untuk menghalangi jalan Anda.’ Ketika saya mendengar perkataannya, saya melihat dari kejauhan ada setan, dan itu adalah makhluk yang mengerikan tampak seperti anjing, tapi wajahnya jelek menakutkan. Ia memiliki taring dan cakar menonjol mengerikan. Ia berwarna gelap hitam. Dengan kecepatannya ia turun dari ujung kanan dataran tinggi. Tampaknya ia bertekad mendahului saya untuk menghadang dalam perjalanan saya ke dataran tinggi. Saya merasa kedinginan, dan  naluri saya gemetar. Saya berlari dengan segenap kekuatan ke dataran tinggi, dan berteriak dengan segenap suaraku, ‘Demi Allah! Kamu tidak akan mencegahku, dan tidak akan mengubah tujuanku.’ Saya mulai berlari menuju dataran tinggi dengan kekuatan penuh,

Ketika saya melihat di balik dataran tinggi, saya menemukan karpet hijau yang indah datar sejauh mata memandang, dan saya melihat barisan teratur dari orang-orang semuanya berpakaian putih-putih. Ketika saya melihat mereka saya ingat deskripsi orang-orang berimana bahwa mereka itu bunyaanum marshuush (bangunan yang solid), dan saya juga ingat apa yang disebut dalam Hadits bahwa mereka ibarat gigi-gigi sisir.

Cahaya dan kemegahan meliputi mereka dan memenuhi karpet hijau sepenuhnya, dan sementara saya mengagumi pemandangan yang indah dan mengagumkan itu, tiba-tiba setan berjingkrak melompati saya lalu menghalangi saya. Ia mencakar di tubuh saya. Saya merasaksn cakar dan taring setan itu dalam daging saya, dan saya merasa darah  menetes dari tubuh saya, saya merasa takut, dan saya merasa dia hampir mengalahkan saya.

Saya mengumpulkan kekuatan saya dan memenuhinya dengan iman, tekad dan amarah, dan berteriak dengan semua suara saya, ‘Demi Allah! Kamu tidak akan mencegahku, dan tidak akan memalingkanku dari tujuanku ke tempat teman-temanku. Demi Allah saya akan sampai ke tempat mereka meski engkau memotong tubuh saya sepotong demi sepotong.’ Saya meraih cengkeramannya, yang menanamkan cakar di tubuh saya dan kemudian melepaskannya lalu saya mendorongnya dengan semua kekuatan saya. Selanjutnya, saya bergerak menuju grup Jemaat, tapi dia menyerang saya dari belakang lagi.

Saat kami dalam bentrokan dengan kekerasan, saya terbangun. Saya merasa berkeringat dan saya merasakan cakar setan di tubuh saya. Saya merasa kelelahan. Saya duduk ngeri dan merenungkan interpretasi ru-ya saya, yang jelas setan akan menghalangi jalan saya, dan akan lama berperang dengannya. Ru-ya  saya secara penuh telah terjadi dalam kenyataan. Saat saya telah meyakini kebenaran ketika menonton saluran televisi Jemaat dan membaca beberapa baris dari salah satu buku Hadhrat Masih Mau’ud as, namun, saya belum juga berbaiat kepada Hadhrat Khalifah, kecuali setelah satu tahun setengah kemudian. Setan telah membuat pemikiran saya beralih dari itu.

Penjelasan rinci atas penundaan ini adalah bahwa saya mengenal komunitas Ahmadiyah di hari-hari revolusi Arab Spring (Unjuk rasa besar-besaran di beberapa negara Arab menuntut perubahan kepemimpinan pemerintahan). Saat itu saya salah satu revolusioner yang paling bersemangat karena pengaruh pemikiran sebelumnya. Setiap kali saya menyaksikan saluran Televisi itu dan mendengar Khalifah menyeru untuk tidak pergi keluar menentang pemerintahan, dan benci untuk berpartisipasi dalam revolusi-revolusi, saya mengganti saluran televisi.

Saya tidak mengetahui kedudukan kekhalifahan dan belum menghormati statusnya serta saya benar-benar tidak menaati perintahnya. Dengan demikian, saya kehilangan mendekat pada Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as meski saya mengimani kebenarannya. Ketika hasil revolusi tampak bahwa para revolusioner hanya mendapatkan kekecewaan dan kerugian, maka saya menyadari akan kekeliruan jalan yang saya tempuh, dan Allah Ta’ala mengaruniakan kesempatan kepada saya untuk berbaiat pada tahun 2012.”

Jadi, terlepas dari semua serangan dahsyat bersifat setan yang dilakukan para penentang, Allah Ta’ala membimbing pribadi-pribadi yang memiliki fitrat bersih dengan cara membuka hati mereka dan memberikan karunia kepada mereka untuk menerima Ahmadiyah dan Dia memperlihatkan pemandangan-pemandangan dukungan dan pertolongan-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as.

Allah Ta’ala mengabarkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as:

“Tuhan akan menegakkan namamu dengan kemuliaan hingga hari ketika dunia ini berakhir dan akan menyampaikan tabligh engkau hingga ke ujung-ujung dunia.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman:

“Mereka yang hendak menghinakanmu, berniat menjatuhkanmu dan menghancurkanmu, akan hancur sendiri. Mereka akan mati dengan kekecewaan dan kekalahan.”

Lalu Dia berfirman:

‘Me tere khalis aur dilli muhibbong ka garwah bhi barhaungga aur un ke nufuus-o-amwaal me barkat dungga aur un me katsrat bakhsyungga aur woh Musulmaanong ke is dusre garwah parta baroz qiyamat ghalib rahengge jo hasidung aur mu’anidong ka garwah he.’ – “Aku akan menganugerahi kepadamu para pengikut yang di dalam hati mereka benar-benar tulus bersih. Aku akan memberkati jiwa para pengikutmu dan kekayaan mereka. Aku akan memperbanyak jumlah mereka. Aku akan menganugerahi mereka kemenangan diatas kelompok-kelompok Muslim lainnya yang membenci dan memusuhi engkau hingga hari kiamat.” Maksudnya bahwa kelompok-kelompok lainnya di kalangan umat Islam akan tetap ada. Siapa mereka? Yaitu golongan yang mendengki dan memusuhi. [Insya Allah, Jemaat Ahmadiyah yang akan unggul.]

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang yang beriman:

‘Khuda unhei bhulega aur faramusy nehi karega aur woh ‘ala hasbil ikhlash apna apna ajr paengge.’ “Tuhan tidak akan melupakan mereka melainkan Dia akan menganugerahi mereka ganjaran sesuai derajat ketaqwaan dan keikhlasan mereka.”

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada tiap Ahmadi untuk meningkatkan ikatan erat mereka dengan Jemaat hari demi hari dengan ikhlas dan setia. [آمين Aamiin.] Ketika kita menelaah bagaimana telah terpenuhinya banyak dari janji-janji yang Allah berikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as maka menjadi yakinlah kita bahwa pasti akan terpenuhi pula janji-janji Allah mengenai akan bertambah banyak anggota kelompok beliau as. Kita telah tetap unggul diatas mereka yang dengki dan memusuhi dalam corak dalil dan bukti. Para penentang tidak memiliki dalil – dan saya telah memperdengarkan tentang peristiwa-peristiwa yang telah disebutkan, yang mana para penentang mengatakan, “Kami menentang Jemaat tanpa harus memiliki dalil dan bukti yang tersedia.” Dan, Insya Allah, kita akan terus unggul selalu dalam hal dalil dan bukti. Meskipun demikian, jika ada keharusan yang harus kita perhatikan, hal itu adalah bahwa kita harus meningkatkan pengabdian dan keikhlasan kita kepada Allah guna meraih karunia-karunia-Nya dan membuat kita menjadi ahli waris karunia-karunia tersebut. Semoga Allah membantu kita untuk melakukannya dengan taufiq-Nya. [آمين Aamiin.]

Saya akan menyampaikan kutipan dari tulisan-tulisan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dimana beliau bersabda: “Apakah mereka (para penentang kita) yakin bahwa melalui makar, pengada-adaan, perolok-olokan dan kebohongan mereka yang tanpa dasar itu akan dapat merubah kehendak Allah? Apakah mereka melalui tipu muslihat akan mampu untuk mencegah apa-apa yang sudah ditetapkan Allah di langit kepada dunia? Jika di masa lalu para penentang kebenaran meraih beberapa keberhasilan dengan cara-cara itu, maka pada hari ini pun mereka mungkin bisa meraih keberhasilan itu. Tapi, ini adalah fakta yang tidak bisa dimungkiri bahwa para musuh Allah dan yang menentang keputusan yang telah ditetapkan-Nya di langit selalu mengalami kehinaan dan kegagalan, maka bagi orang-orang seperti itu tidak ada bagian kecuali kegagalan, kejatuhan dan kehinaan pada hari yang ditetapkan untuk kejatuhan mereka. Keputusan Allah ini tidak akan pernah meleset baik di masa lalu, sekarang maupun nanti.

Allah Ta’ala berfirman: كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي  yang artinya, ‘Sejak semula Allah telah menetapkan dan itu Dia jadikan sebagai hukum-Nya yang abadi dan sunnah-Nya yang tetap bahwa Dia dan rasul-rasul-Nya akan senantiasa menang.’Maka dari itu, karena saya adalah Rasul (Utusan) dari Allah namun tanpa syariat baru, tanpa pendakwaan baru dan tanpa nama baru—malah sebaliknya saya memikul nama Nabi Karim, Khatamul Anbiya saw dan saya datang sebagai pengikut beliau saw dan mazhhar beliau saw — maka dari itu, saya berkata kepada kamu sekalian bahwa sebagaimana ayat ini telah terbukti benar di masa sebelumnya yaitu sejak masa Adam as hingga Nabi saw, maka hal itu pun terbukti kebenarannya di jaman saya juga.” إن شاء الله تعالى Insya Allah.

Dildaar Ahmad & Yusuf Awwab

________________________________

[1] Ainah Kamalaat-i-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, h. 648.

[2] Badr, jilid 6, nomor 51, 19 Desember 1907

[3] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22, h. 77

[4] Asmani Faishlah, Ruhani Khazain jilid 4, h. 342.

[5] Haqiqatul Wahyi, Ruhani Khazain jilid 22, h. 77

[6] Al-Hakam, jilid 2, nomor 506, tanggal 27 Maret – 2 April 1898, h. 13

[7] Arba’iin nomor 2, Ruhani Khazain jilid 17

[8] Ainah Kamalaat-I-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, h. 648

[9] Nuzulul Masih, Ruhani Khazain, jilid 18, h. 380-381

(Visited 231 times, 1 visits today)