Bukti-bukti Kebenaran Ahmadiyah

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis أيده الله تعالى بنصره العزيز (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz)

Pada Jumat, 15 September 2017 di Masjid Baitul Futuh, UK

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Pada hari-hari ini, media dan pers Barat berkata bahwa para Ahmadi berbicara tentang ajaran Islam yang damai, tetapi mayoritas umat Islam tidak membicarakan ajaran tersebut, bahkan mayoritas umat Islam tidak memandang para Ahmadi sebagai Muslim. Selanjutnya, mereka mengatakan para Ahmadi jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan umat Islam lainnya. Ketika kondisinya seperti ini, maka bagaimana benar klaim (pernyataan) para Ahmadi bahwa mereka adalah orang-orang yang mengikuti ajaran Islam yang asli?

Baru-baru ini saat lawatan saya ke Jerman, pertanyaan yang sama muncul. Mereka mengkritik: “Bagaimana cara anda meyakinkan umat Islam lainnya untuk mengamalkan ajaran ini, yang mana itu Anda percayai dan selalu bicarakan sebagai ajaran Islam yang sebenarnya?”

Jawaban kita terhadap kritikan mereka akan selalu tetap bahwa ajaran Islam yang selalu kita bicarakan ini dan kita buktikan dapat ditemukan di dalam al-Quran, Hadits dan Sunnah serta pengamalan oleh Hadhrat Muhammad Rasulullah saw. Perkataan kita bukan tanpa dasar. Ketika kita mengatakan Islam tidak mengajarkan ekstremisme maka kita mengatkaan itu bukan demi membuat orang lain berkesan atau untuk menjawab kritikan mereka atau tidak masalah bila kita memegang pendirian ini karena situasi terkini memaksa demikian. Tidak demikian! Melainkan kita akan buktikan melalui dalil-dalil dan bukti-bukti bahwa ajaran Islam selalu memerintahkan untuk memenuhi hak-hak Allah dan ciptaan-Nya.

Oleh karena itu, jawaban atas pertanyaan bagaimana cara meyakinkan umat Muslim lainnya tentang ajaran tersebut, adalah hal itu telah ditakdirkan sesuai kabar dari Hadhrat Rasulullah saw yang telah menubuatkan ketika orang-orang Islam ada dalam kerusakan maka Al-Masih yang dijanjikan yang juga Imam Mahdi akan diutus untuk mereformasi mereka dan mempersembahkan kepada dunia ajaran Islam hakiki yang juga beliau sampaikan kepada umat lain. Demikianlah, nubuatan Nabi Karim saw ini telah tergenapi dengan cara yang amat agung. Zaman ini, ketika umat Islam tidak lagi mengikuti (mengamalkan) ajaran Islam yang sesungguhnya, Allah Ta’ala mengutus Imam Mahdi dan Masih Mau’ud as. Beliau as membuat kita menjunjung tinggi ajaran Islam dan al-Quran Karim dengan sebenar-benarnya. Beliau menjelaskan hikmah di balik setiap perintah al-Quran Karim.

Kita sebagai Muslim Ahmadi yang telah mengimani Al-Masih yang dijanjikan, menyajikan ajaran-ajaran ini (Islam yang sebenarnya) kepada umat Islam maupun bukan Islam sesuai pendirian dan pemahaman ini. Merupakan suatu keharusan bagi kita untuk bertabligh. Tugas kita adalah mengabarkan pesan tersebut. Jadi kita akan mengabarkan Islam ini ke seluruh dunia dan Insya Allah akan terus melakukannya.

Kemajuan sebuah Jemaat Ilahi dan para pengikut Nabi tidak terjadi dalam hitungan hari, melainkan Jemaat tersebut akan tersebar dan maju secara perlahan. Kepada para pengkritik (media Barat) yang mengatakan, “Bagaimana cara kalian mendorong umat Islam lainnya untuk mengamalkan ajaran ini?” Jawaban kita ialah, “Jemaat kami tersebar di dunia berjumlah jutaan orang. Sebagian besar dari mereka yang ikut bergabung kedalam Jemaat Muslim Ahmadiyah berasal dari berbagai kelompok Islam lainnya. Ketika orang-orang tersebut memahami pesan yang dibawa oleh kami ini dan tampak jelaslah ajaran Islam sejati ini bagi mereka, lalu mereka sadar kebenaran pendakwaan Hadhrat Masih Mau’ud as dan mulai memahami kebenaran sabda nubuatan Rasulullah saw tersebut, maka mereka (umat Muslim) dari berbagai golongan itu akan bergabung kedalam Jemaat ini dengan jumlah yang besar. Umat-umat dari agama lainnya pun akan bergabung dengan Jemaat ini. Pengalaman ini akan berlanjut tanpa putus. Akan kalian lihat satu hari nanti keminoritasan kami akan berbalik menjadi mayoritas. Insya Allah.”

Ini adalah janji Allah dan kita melihat janji tersebut tergenapi setiap harinya. Setiap tahun, ratusan ribu orang bergabung kedalam Jemaat kita dan sebagian besar dari mereka berasal dari umat Islam lainnya. Meski sarana-sarana kita sedikit dan jumlah dai kita juga sedikit, namun Allah Ta’ala mendatangkan hasil-hasil yang melebihi usaha kita. Diantara mereka yang bergabung dengan Jemaat kita terdapat yang Allah Ta’ala bimbing langsung menuju Jemaat kita. Terdapat sejumlah besar yang mengenal Hadhrat Masih Mau’ud as dan Jemaat beliau serta mengetahui kebenarannya melalui mimpi-mimpi yang mereka lihat dalam jangka waktu lama.

Sebagian mereka melihat mimpi pada masa kecilnya atau masa mudanya atau sebelum mengenal Jemaat dalam jangka waktu lama. Mereka menyebutkan hal itu setelah itu karena satu sebab atau sebab lainnya lalu berbaiat. Sebagian mereka mencari tahu tentang Jemaat lalu beristikharah kemudian masuk Jemaat berdasarkan isyarat Rabbaniyah. Sebagian mereka menyimak tabligh para Dai kita, para Muballigh kita atau para anggota Jemaat yang rajin bertabligh atau melalui stasiun televisi kita atau stasiun radio kita lalu Allah Ta’ala melapangkan hati mereka menerima tabligh tersebut. Sebagian orang lain menerima tabligh Ahmadiyah malahan melalui penyaksian mereka atas penentangan para penentang dan akibat akhir mereka yang tidak baik. Sebagian lagi melalui tanda-tanda yang Allah perlihatkan atas mereka.

Allah Ta’ala telah berfirman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Me tujhe ‘izzat dungga aur barhaungga..’ – “Aku yang akan menetapkan kemuliaan bagi engkau dan memelihara perkembangan engkau.” (1891) Dia juga telah berfirman, كَتَبَ اللَّهُ لَأَغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي “Allah telah menetapkan, ‘Aku dan rasul-rasul-Ku akan menang.’”

Ilham ini saat beliau as belum mendirikan Jemaat bahkan saat beliau belum menyatakan satu pun pendakwaan dan belum mengumumkan sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi dan yang mengenal beliau pun hanya sedikit orang saja. Sebagaimana Dia juga berfirman, لَّا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ “Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-Nya.” Ada juga ilham-ilham lain dalam jumlah banyak yang mengabarkan kabar gembira perkembangan dan kemajuan Jemaat, diantaranya ialah ‘Me tere khalis aur dilli muhibbong ka garwah bhi barhaungga.’ “Aku akan memperbanyak golongan pecinta engkau yang jujur dan tulus ikhlas.”

Ketika Allah telah menjanjikan kepada beliau yang mana saat itu beliau hanya seorang saja perihal perkembangan dan kemajuan Jemaat lalu tersebarnya Jemaat beliau pada hari ini di tiap negeri dan masih saja bertambah jumlahnya secara terus-menerus dan tiap hari bergabung dengan Jemaat sejumlah besar orang-orang baru maka keraguan apa lagi yang tersisa atas kemajuan dakwa beliau. Saya akan menyampaikan beberapa contoh tentang cara Allah Ta’ala membuka jalan dan petunjuk kepada orang-orang yang bergabung kedalam Jemaat ini. Akan saya bacakan sebagian kisah mereka yang masuk Jemaat dan beberapa orang yang baiat tersebut memperoleh petunjuk lewat mimpi.

Missionary In charge dari Kazan, Rusia menulis: “Kami menablighi dan menjalin kedekatan dengan seorang kawan bernama Tn. Safi Loif. Kami selalu terlibat dalam diskusi dan tanya jawab. Setelah beberapa lama berlalu, ia pun berbaiat. Lalu ia menceritakan kejadian atas baiatnya itu, ‘Tuhan telah memperlihatkan dalam mimpi saya sedang berada di Syiria. Saya melihat ada dua kelompok saling bertempur satu sama lain. Di tengah-tengah pertempuran tersebut, datanglah kelompok ketiga yang memberikan pemahaman kepada dua kelompok itu bahwa saling membunuh merupakan tindak kejahatan. Lalu menyarankan agar mereka berhenti bertempur dan berdamai satu sama lain. Kemudian dua kelompok tersebut mengikuti anjuran kelompok ketiga. Mereka membuang senjata dan saling berpelukan. Lalu saya bertanya kepada seseorang yang ada dalam mimpi itu, siapakah kelompok ketiga yang mendamaikan kedua kelompok yang sedang bertikai tersebut? Orang itu menjawab, ‘Kelompok tersebut adalah Jemaat Ahmadiyah.’” Tn. Safi juga menceritakan, “Saya juga melihat dalam mimpi lain berupa hujan amat deras dan berhembus angin kencang lalu terdengar suara bergelombang, ‘Ahmadiyah, akidahnya benar!’.” Setelah itu, orang tersebut berbaiat.

Nona Malikah dari Prancis menceritakan peristiwa baiatnya, ia berkata: “Pesan Ahmadiyah telah mencapai semua keluarga saya. Anggota keluarga kami biasa membicarakan soal si fulan yang mendapat hidayah melalui ru-ya (mimpi) lalu masuk Jemaat. Saya dengarkan pembicaraan mereka namun saya tidak bicara apa-apa. Suatu hari saya memohon kepada Allah Ta’ala untuk diberikan petunjuk, apakah Ahmadiyah itu jalan yang benar atau bukan.

Kemudian, selama tiga hari berturut-turut Allah Ta’ala memperlihatkan pada saya tiga buah mimpi, pertama saya bermimpi tentang terjadinya kiamat dan kerusuhan dimana-mana. Saudara laki-laki dan perempuan saya yang sudah menerima Ahmadiyah nampak tidak cemas sama sekali bahkan terlihat tenang dan gembira. Disisi lain, saya terus-menerus menangis dan menjerit ketakutan karena melihat situasi yang sangat berbahaya tersebut. Saudara-saudara saya yang telah berbaiat sama sekali tidak khawatir, malahan mereka mengatakan akan menghadiri Jalsah Jemaat Ahmadiyah. Di dalam mimpi itu, saya diselimuti ketakutan yang luar biasa, dan di tengah-tengah ketakutannya itu saya berpegangan kepada mereka. Kemudian, di mimpi saya yang lain, saudari saya mengatakan pada saya, ‘Shalatlah! Itu jalan satu-satunya.’ Di malam ketiga saya bermimpi melihat duduk-duduk bersama saudara dan saudari saya. Saya merasa Allah Ta’ala menulis sesuatu di tangan saya. Setelah itu, mimpi-mimpi tersebut memberikan saya kepuasan, karena berkaitan sekali dengan kebenaran Jemaat. Saya pun baiat dan kini seluruh keluarga kami telah menerima Ahmadiyah.”

Tn. Abdul Aziz Traore, yang mendapat taufik dari Allah berkhidmat kepada Jemaat di desa Shapo, Pantai Gading berkata: “Salah seorang tetua desa, Waamaar Traore melihat dalam mimpi beberapa orang Arab mengunjungi desa mereka. Dalam mimpi tersebut, ia mendengar orang-orang lain di desa itu berkata bahwa mereka bukan orang Arab, dan harus menjauh dari mereka. Namun dalam mimpi itu ia mendengar sebuah suara yang mengatakan, ‘Jika kamu mencari Tuhan, maka kamu hanya akan menemukannya melalui orang-orang tersebut saja.’ Beberapa hari setelah itu, ada beberapa mubaligh Ahmadiyah yang datang ke desa mereka, beberapa penduduk mengetahui jika yang datang adalah para Mubaligh Ahmadiyah, namun mereka berkata, ‘Orang-orang itu bukanlah orang Muslim. Jauhi mereka! Inilah yang difatwakan oleh para Syaikh kita.’ Ketika tetua desa menemui dan melihat para mubaligh kita, ia teringat dengan mimpinya dan setelah itu ia pun baiat masuk kedalam Ahmadiyah. Ia menghadiri Jalsah Salanah Pantai Gading dengan tekad dan komitmen yang besar.”

Tn. Bashir Sakala dari Brazzaville, Kongo, menulis: “Saya mendapat taufik dari Allah Ta’ala untuk menghadiri Jalsah Salanah nasional pada 2014 pertama kali. Di sana saya pun baru tahu bahwa Isa ‘alaihis salaam telah wafat dan takkan turun dari langit hidup-hidup. Saya juga baru tahu bahwa Nabi Muhammad saw telah mengabarkan bahwa akan datang kepada orang-orang suatu zaman ketika orang-orang Muslim akan berkelompok-kelompok, Islam tinggal namanya saja dan pada saat itulah akan datang Al-Masih yang dijanjikan ‘alaihis salaam dan satu-satunya Jemaat yang berada dalam petunjuk ialah Jemaat beliau saja.

Saya mulai mempelajari literature dan buku-buku Jemaat Ahmadiyah dan membuat saya memahami kebenaran Ahmadiyah. Selama periode tersebut, pada satu malam, saya bermimpi ada seseorang yang memberikan saya hadiah berupa pakaian yang sangat indah penuh dengan warna warni merah muda dan putih. Lalu saat bulan Ramadhan saya bermimpi berpergian menggunakan bus yang sangat mewah. Mimpi tersebut memberikan saya kepuasan karena bus merupakan sarana untuk melakukan perjalanan, oleh karena itu perjalanan yang harus saya tempuh adalah sesuatu yang agung dan mulia. Setelah mimpi tersebut saya pun memutuskan menerima Ahmadiyah.”

Seorang Mubayyin baru dari Jemaat Kyrgyzstan, Tn. Ashlan Ramil menceritakan kisah baiatnya ke dalam Ahmadiyah. Ia berkata, “Saya lahir dari keluarga Muslim. Oleh karena itu, agama Islam bukanlah sesuatu yang asing bagi saya. Tapi dulu saya tidak pernah perduli dengan tujuan dan keperluan agama. Saya bertemu dengan Ketua Jemaat Kyrgzstan di tempat kerja saya. Kami terus terlibat diskusi mengenai berbagai topik.

Ketika kami berdiskusi tentang agama, saya perlahan-lahan mulai memahami kebenaran Islam, dan menyadari kenyataan yang ada bahwa umat Islam saat ini tidak mempraktikan ajaran Islam yang sebenarnya. Setelah pembicaraan dengan beliau tersebut, saya mulai mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan saya. Selanjutnya, saya mulai mempelajari pandangan Ahmadiyah yang disampaikan kepada saya berupa keterangan ayat-ayat al-Quran, sunnah Rasulullah saw, riwayat-riwayat kitab-kitab Hadits yang shahih, buku-buku Masih Mau’ud as dan berbagai macam khotbah Khalifah. Saya pun memeriksa dan mempelajari hal itu, dan karena itu saya mulai belajar membaca al-Quran untuk pertama kalinya, dan setelah itu saya memutuskan untuk baiat.

Pada malam harinya, saya bermimpi bahwa kawan ayah saya menunjuk kearah tertentu dan berkata kepada saya bahwa ada tanda di tempat tersebut. Akan tetapi ia menyuruh saya jangan menceritakan kepada siapapun tentang tanda tersebut karena para teroris akan datang dan menghancurkannya. Kemudian saya pergi untuk melihat tempat tanda tersebut berada. Ternyata tempat tersebut merupakan kebun yang amat luas dimana kupu-kupu seperti makhluk-makhluk yang beterbangan kesana kemari. Oleh karena itu, saya mulai berfikir bagaimana kami dapat menyembunyikan tanda Allah Ta’ala ini.

Sementara itu, di dalam mimpi tersebut saya mulai terbang layaknya burung ke rumah teman-teman ayah saya. Mereka sedang minum teh dan saat melihat saya, mereka hanya menganggap saya seekor burung. Tapi saya mengucapkan ‘Allahu Akbar’ kepada mereka tiga kali, yang membuat mereka menjadi takut karena bagaimana bisa burung dapat bicara. Lalu saya terbang ke langit dan ketika itu juga saya berubah menjadi malaikat. Kemudian saya melihat ke bumi dan mendapati semua orang telah mati serta tidak ada seorang pun yang hidup. Selanjutnya saya terbang ke rumah saya, dan saat memasuki rumah, saya pun terbangun. Setelah mimpi tersebut saya berkeyakinan bahwa Allah Ta’ala menganugeri saya kekuatan ruhani. Maka dari itu saya menyatakan baiat dan bergabung kedalam Ahmadiyah.”

Tn. Abdul Hadi dari Mesir berkata, “Jauh sebelum mengenal Ahmadiyah, saya bermimpi bahwa saya sedang melangkah di jalan yang sepi dan tak terpakai kearah tujuan yang tidak jelas. Kemudian, tiba-tiba ada orang suci yang mendekati saya dan mengarahkan saya ke jalan yang lainnya. Anehnya saya sama sekali tidak keberatan sama sekali. Malah dengan senang hati melangkah pada jalan yang diarahkan orang suci itu. Akibat tindakan welas asihnya tersebut membuat saya merasa bahwa ia telah menyelamatkan saya dari ketersesatan dan mengarahkan saya ke jalan keberuntungan dan penuh dengan keberkatan. Setelah melangkah di jalan tersebut dan mencapai tempat yang lebih tinggi, saya menoleh ke arah jalan yang sebelumnya dilalui dan melihat seorang yang lalim sedang menindas banyak orang. Melihat hal tersebut membuat saya berfikir bahwa seandainya orang suci tersebut tidak mengarahkan saya ke jalan ini, sekarang saya pun pasti menjadi korban dari tindak kezaliman tersebut sebagaimana orang-orang itu. Di dalam mimpi itu saya merenung bahwa kemungkinan orang suci tersebut adalah nabi Musa as. Selang beberapa lama kemudian, saya bertemu dengan Jemaat dan menyadari jika jalan yang saya tempuh sebelumnya selama ini menuju kepada kerusakan dan kehancuran. Setelah itu saya baru paham jika orang suci yang ada di dalam mimpi adalah Hadhrat Masih Mau’ud as, dan jalan baru yang diarahkan tersebut adalah Ahmadiyah yaitu Islam yang hakiki.”

Jadi inilah beberapa contoh yang saya telah sampaikan, mereka berasal dari Kazan, Kyrgyzstan, (bekas republik Soviet Rusia), sebuah Negara Eropa, Afrika Barat, Afrika Tengah dan satu lagi dari Negara Arab. Mereka merupakan orang-orang yang berasal dari berbagai bangsa dan bahasa yang berbeda; tetapi seluruhnya memperoleh petunjuk dengan cara yang sama. Siapa yang mengarahkan mereka? Tentu saja Allah Ta’ala, Dia lah yang menganugerahi petunjuk kepada mereka, dan Dia berfirman kepada hamba-Nya, Hadhrat Masih Mau’ud as, ‘Me tere khalis aur dilli muhibbong ka garwah bhi barhaungga.’ “Aku akan memperbanyak golongan pecinta engkau yang jujur dan tulus ikhlas.”

Kemudian, seorang Ahmadi dari Moroko, Tn. Asykur, menulis, “Saat saya masih dalam tahap pengenalan terhadap Jemaat, hal pertama yang saya saksikan dengan teratur ialah program Liqa Ma’al Arab (Berjumpa dengan orang Arab, acara di stasiun televisi MTA, Muslim Television Ahmadiyya). Saya melihat dalam kasyaf bahwa Hadhrat Khalifat-ul-Masih IV berjalan di sepanjang jalan, menuju puncak sebuah gunung. Beliau mengenakan pakaian Pakistani berwarna putih. Saya mengikuti beliau hingga hampir mencapai puncak gunung. Dari sana, kami melihat cahaya terang yang muncul dari balik puncak gunung, yang membentang di atas cakrawala. Tampak seolah-olah itu adalah cahaya fajar. Saya agak ketakutan dan melambatkan langkah saya. Merasakan hal tersebut, Hadhrat Khalifatul Masih IV menoleh dan tersenyum seraya berkata, ‘Terus ikuti saya dan jangan takut!’ saat saya lihat wajah beliau bercahaya maka keadaan saya menjadi takjub. Saya berkata kepada beliau, ‘Saya tidak tahu apa yang ada dibalik gunung ini sehingga memancar cahaya darinya.’ Hadhrat Khalifatul Masih IV tersenyum seraya berkata, ‘Terus ikuti saya dan jangan takut!’

Alhamdu lillah saya terus saja mengikuti program acara Liqa ma’al Arab meski merasa takut sesuai yang saya lihat dalam mimpi sampai saya ke tujuan akhir yaitu menerima Ahmadiyah. Saya telah memutuskan baiat segera setelah mengenal Ahmadiyah. Saya pun baiat melalui layar kaca televisi saat Baiat Intenasional dengan melafalkan kalimat-kalimat baiat. Namun, hati saya belum tentram karena kalimat-kalimat baiat yang saya lafalkan ialah dengan bahasa Inggris dan saya tidak paham sepenuhnya. Maka dari itu, saya belum puas dengan baiat ini. Sementara itu, saya berpandangan bahwa baiat hakiki ialah mengimani kebenaran Al-Masih yang dijanjikan dan berusaha untuk teguh dalam mengamalkan syarat-syarat baiat dan saya mengamalkan hal itu. Kemudian, saat saya mulai kontak dengan Jemaat, Allah Ta’ala mengaruniai istri saya taufik untuk menerima kebenaran dan pada awal tahun 2010, kami mengisi formulir baiat dan kami mengirimkannya dan dengan demikian kami baiat secara resmi.”

Selanjutnya, Doktor Hijaz Karim, seorang pria terhormat dari Aljazair, menceritakan kisah baiatnya. Beliau Sekretaris Umum di Jemaat Aljazair. Baru-baru ini dia ditangkap dan dipenjara di jalan Allah. Karena kondisi Jemaat yang sulit di sana [penindasan dari pemerintah], dia terus mengalami situasi yang sama. Kita berdoa semoga Allah membebaskan Ahmadi di sana.

Beliau mengatakan: ‘Saya sungguh kecewa dengan ajaran yang menyimpang dan penafsiran yang salah terhadap Alquran. Saya pernah memikirkan setelah menyimak penjelasan para Ulama, apakah mungkin itu kalam (firman) Allah. Suatu waktu saya mengetahui cara Ahmadi yang menunjuki saya Ahmadiyah dan memberitahu saya buku-buku pendiri Ahmadiyah. Sebelum saya membaca tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as atas Al-Qur’an, saya terlebih dahulu berdoa dalam shalat-shalat nafal supaya Allah membimbing saya ke jalan yang benar. Saat saya terus membaca Tafsir tersebut, hati saya pun menjadi lapang. Tubuh saya gemetar terpengaruh kehebatan kalimat-kalimat itu dan saya menjadi yakin bahwa itu bukan kalimat umumnya manusia melainkan itu wahyu dari Allah. Saat saya beristikharah tatkala telah memutuskan untuk masuk Ahmadiyah melalui baiat, saya bermimpi bahwa saya bersama teman-teman saya melewati sebuah kota pada malam hari dan sebuah cahaya menemani kami.

Di tengah kejadian tersebut, telepon berdering dan saat saya memeriksanya, saya melihat ada sebuah nomor yang merupakan nomor telpon Imam Mahdi as. Saya memutuskan untuk balik menelepon; apabila beliau tidak menjawab panggilan, artinya beliau benar-benar seorang Nabi, namun jika sebaliknya artinya bukan. Saya tidak tahu mengapa, dalam mimpi tersebut, saya berpikiran para Nabi tidak akan menjawab panggilan pembicaraan lewat telepon. Jadi, saya memanggilnya. Telepon terus berdering untuk waktu yang lama tapi beliau tidak mengangkat panggilan telepon tersebut. Kemudian, beliau menampakan dengan wujud yang menakjubkan lagi agung. Saya pun mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an dan berta’awudz khawatir itu ialah setan yang menyamar dalam wujud Imam Mahdi. Saya pun terbangun karena ketakutan. Itu adalah waktu shubuh. Saya yakin mimpi itu benar adanya. Lalu saya pun baiat.”

Bagaimanakah muncul tanda-tanda yang menyebabkan baiatnya orang-orang, Missionary in Charge Senegal menulis tentang sebuah kejadiana: “Ahmadiyah berdiri di tiga desa di wilayah Casamance Senegal. Setelah menyaksikan kemajuan Jemaat di desa-desa tersebut, ulama anti-Ahmadiyah, bersama dengan kepala [desa], memutuskan untuk berdoa melawan Jemaat. Mereka semua ini orang Islam. Setelah mereka membaca Alquran, kemudian memukul lantai dengan tangan mereka sambil berdoa kepada Allah, ‘Semoga Allah Ta’ala menghancurkan Jemaat Ahmadiyah dan para Mubalighnya.’ Namun, Allah Ta’ala bertindak dengan cara-Nya, hingga hanya selang beberapa hari setelah doa minta kehancuran tersebut, imam besar (pemimpin para Imam) mereka disengat seekor ular. Para Imam semuanya berkumpul dan berdoa kepada Allah lagi supaya menyelamatkan Imam mereka namun Imam tersebut meninggal setelah mengeluarkan darah. Beberapa hari kemudian, pemimpin mereka lainnya yang ikut serta dalam doa menentang Jemaat akhirnya digigit ular. Para Ulama merendahkan diri dalam doa-doa demi keselamatannya juga namun itu tidak mampu menyelamatkannya dari kematian.

Setelah memperhatikan hal itu, orang-orang ini mulai merasa takut gentar dan berkata satu sama lain diantara mereka, ‘Kejadian itu akibat berdoa buruk terhadap Ahmadiyah dan para Dai (Muballigh)nya.’ Namun, para Ulama mengingkari mereka dan mulai berkata, ‘Itu semua bukan dari Allah. Itu jin yang menyamar jadi ular lalu mematuk orang-orang sampai mati.’ Beberapa hari kemudian, wakil ketua kelompok mereka pun dipatuk ular dan meninggal. Setelah itu, orang-orang datang ke para mubaligh kita. Para mubaligh ini tidak tahu bahwa orang-orang ini telah berdoa melawan Jemaat. Penduduk di ketiga desa itu sendiri yang menceritakan keseluruhan kejadian secara rinci kepada para Mubaligh seraya memohon: ‘Selamatkan kami karena doa buruk ini telah berbalik kepada kami dan membuat kami terganggu. Lakukanlah sesuatu untuk kami! ‘ Oleh karena itu, para mubaligh pergi ke desa-desa itu dan memberi tahu mereka tentang sabda Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa Allah Ta’ala akan mengembalikan doa laknat orang-orang yang memusuhi kepada mereka lagi dan Dia akan memberikan kemajuan kepada Jemaat. Sekarang, dengan Karunia Allah, lebih dari 700 orang dari, ketiga desa tersebut, baiat masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah.

Terkadang permusuhan mereka sendiri membuka pintu bagi orang-orang yang berhati bersih untuk mencari dan menemukan kebenaran. Seorang Mualim lokal (guru agama) dari Wilayah Goromu di Burkina Faso menceritakan segi ini: “Seorang putra seorang Imam Wahabi di desa Bora menghadiri program Tabligh Jemaat dan menyaksikan sendiri seorang Ulama bukan Ahmadi bergelar Doktor menyampaikan caci-maki terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as, bukannya mengemukakan dalil-dalil (argumentasi-argumentasi layaknya orang terpelajar-pent.). Kejadian ini amat mempengaruhi remaja itu amat mendalam. Ia mulai mencari tahu soal Jemaat. Ia menjadi rajin mendengarkan Tabligh Ahmadiyah di sebuah siaran radio. Suatu hari, ia bertanya kepada ayahnya mengenai Ahmadiyah. Ayahnya, seorang Imam Wahabi, menjawab, ‘Orang-orang Ahmadiyah itu bukan Muslim. Janganlah sekali-kali mendekati mereka.’

Namun, ia tetap mendengarkan siaran radio itu. Ia menghubungi Muballigh Jemaat dan berbaiat bergabung dengan Jemaat. Setelah ayahnya tahu hal ini, ia mencaci-maki anaknya itu dan mengusirnya dari rumah. Beberapa hari kemudian, pemuda itu menerima telepon dari ibunya yang mengatakan ketenangan rumah menghilang setelah kepergiannya. Ibunya berkata, ‘Kembalilah ke rumah dan berdamailah dengan ayahmu!’

Setelah pulang memenuhi permintaan ibunya, ia melihat ayahnya telah mengumpulkan penduduk desa semuanya dan berkata, ‘Anak ini sudah bukan anak saya. Ia telah menjadi kafir.’ sesuai adat kebiasaan orang Afrika, sang ayah yang amat marah akan mencaci-maki keras. Karena itulah, anak yang baru masuk Ahmadi ini sangat khawatir dan mulai berdoa. Ia melihat ru-ya (mimpi) bertemu seseorang, dan orang itu berkata kepadanya: ‘Jika kamu ingin selamat tetaplah berpegang teguh pada Ahmadiyah.’ Mimpi tersebut menumbuhkan tekad yang lebih besar dalam dirinya dan dia berkata kepada ayahnya, ‘Lakukan apapun yang ayah suka, namun sekarang saya tidak akan bisa meninggalkan Ahmadiyah.’”

Jadi, ketika Allah Yang Maha Kuasa mengukuhkan Ahmadiyah di dalam hati orang-orang yang tinggal bahkan ribuan mil jauhnya, Dia juga memberi mereka ketabahan.

Jika pada satu segi Allah Ta’ala telah menciptakan sebuah Jemaat besar pecinta Hadhrat Masih Mau’ud as maka pada segi lainnya Dia pun telah melekatkan kecintaan satu sama lain di hati mereka. Amir Jemaat Benin menuliskan laporan mengenai kecintaan diantara anggota Jemaat, “Di wilayah Barako terdapat sebuah desa terpencil yang terletak di pelosok. Desa itu jaraknya 114 KM dari kota Barako. Jalan ke sana tidak begitu mudah. Pada tahun lalu, kami pergi ke sana. Sebagian penduduk telah baiat. Pada tahun ini kami menyelenggarakan Jalsah di bawah naungan pepohonan dan kami mengundang para Mubayyi’ baru di desa sekitar juga. Ketika delegasi dari pusat (yaitu kami) sampai ke sana dengan memotong jalan yang lama itu, para penduduk desa pun menyambut dengan suka cita. Keikhlasan mereka itu menghapuskan kelelahan kami.

Pada waktu Jalsah, ketua Jemaat Makara, yang seorang Mubayyi’ baru berkata dalam pidatonya, ‘Wahai saudara-saudara! Ini adalah jalan kebenaran yang memberikan kita kehidupan. Inilah Islam yang sebenarnya yang mengajari kita kecintaan. Imam non Ahmadi telah berusaha menghapus kecintaan ini melalui penyebaran fitnah diantara kita namun Ahmadiyah telah menyatukan hati kita.’

Demikian pula, Ketua Jemaat Doro mengatakan hal yang sama. Ia juga Mubayyi’ baru, ‘Ahmadiyah telah mengajarkan kepada kita Islam yang sebenarnya. Ketika kita menghadiri Jalsah Salanah, tidak ada satu pun yang membeda-bedakan kita. Penduduk desa dan kota semuanya berada di tempat yang sama dan tidak ada kebencian atau pertengkaran. Ahmadiyah mengajari kita pengetahuan agama. Kita pun mulai shalat, dengan karunia Allah.’

Seorang Mubayyi’ baru lainnya berkata, ‘Kita bersyukur (berterima kasih) kepada Ahmadiyah yang menjadikan kita, penduduk udik macam kita berupah menjadi benar-benar manusia beradab. Di sini dulu belum pernah ada seorang anak yang mengucap salam kepada ayahnya. Namun, para Dai dan para Muballigh Ahmadiyah mendidik kami sehingga terdengar ucapan salam di tiap tempat.’” Perhatikanlah! Bagaimana Allah Ta’ala meyakinkan umat Muslim dan non Muslim untuk menerima Ahmadiyah kemudian Dia menguatkan keimanan mereka.

Amir Jemaat Sierra Leone menulis, “Pada tahun lalu sebuah cabang Jemaat dibentuk di Silo, di wilayah Borijan, Sierra Leone. Tapi, Imam masjid lokal di sana belum baiat. Beberapa waktu kemudian, Imam itu mengumumkan bergabungnya ia ke Jemaat. Beberapa orang jahat datang ke sana untuk menimbulkan fitnah. Mereka berkata kepada sang Imam, ‘Masjid yang Anda Imami ini bermadzhab fiqh Malikiyah. Maka dari itu, Anda harus meninggalkan Ahmadiyah atau mencopot diri dari keimaman di Masjid ini.’ Imam itu pun menjawab, ‘Saya menerima Ahmadiyah setelah penelitian dan pembelajaran yang cukup lama. Karena saya Imam maka saya lebih paham soal-soal agama lebih banyak dibandingkan kalian. Maka dari itu, saya katakan kepada kalian bahwa Ahmadiyah ialah Islam hakiki. Saya berikan pada kalian Masjid dan Keimaman masjid ini. Merupakan hal yang mustahil saya yang melepaskan diri dari Ahmadiyah.’”

Ada juga Imam dan Ulama yang dikaruniakan Allah berupa firasat untuk memahami kebenaran dan menelitinya. Ada pun ulama Pakistan, tidak memfokuskan perhatian kecuali ke arah pemenuhan keperluan ekonomi mereka semata.

Muallim lokal dari Benin, Taufeeq, menulis: “Seorang kenalan yang berasal dari Kristen, Tn. Bamaisoor Kareem, masuk kedalam Ahmadiyah. Dia mengundang kami ke desanya, Haitee, untuk bertabligh di sana, ia mengatakan, ‘Saya seorang Ahmadi. Meski tidak ada seorang pun di desa ini yang menerima Ahmadiyah, ataupun seberapa besar penentangan yang saya hadapi, saya tetap seorang Ahmadi dan saya akan terus bertabligh.’” (Inilah semangat untuk tabligh di kalangan Ahmadiyah baru, yang mana para Ahmadi lama pun harus memperoleh pelajaran dari ini.)

“Selesai bertabligh di desanya, 20 orang pun baiat. Beberapa lama kemudian, dikirimlah kepada mereka seorang mahasiswa Jamiah Ahmadiyah di Nigeria untuk memberikan tarbiyat. Sejumlah 100 orang lain lagi menerma Ahmadiyah. Imam Masjid lokal melihat bertambahnya jumlah Jemaat, mulailah ia menentang Jemaat dan menyampaikan kalimat penentangan terhadap Jemaat tiap hari yaitu di dini hari Shubuh. Namun, keimanan para Ahmadi tetap kokoh. Tn. Bamaisura Kareem berkata, ‘Jemaat belum mempunyai masjid maka saya menyerahkan rumah saya kepada Jemaat sebagai Masjid. Dengan karunia Allah, para Ahmadi shalat Jumat dan shalat Ied di dalamnya.’

Imam Masjid lokal melihat terus bertambahnya jumlah Jemaat, ia pun pergi ke rumah Tn. Bamaisura dan mulailah ia mengkafirkan beliau. Tn. Bamaisura berkata, ‘Ketika saya masih beragama Kristen, tidak ada satu pun orang yang mengenalkan saya soal Islam. Anda pun belum pernah. Namun, sekarang, ketika saya telah masuk Islam melalui Ahmadiyah, Anda mengkafirkan saya. Saya seorang Ahmadi dan akan mati sebagai Ahmadi.’

Imam Masjid lokal itu pun keluar dari sana dengan kegagalan. Tn. Bamaisura pun menjadi dai yang aktif dengan karunia Allah. Ia mempunyai semangat kuat untuk bertabligh. Dengan bersemangat ia bertabligh meski terdapat penentangan Imam tersebut dan orang-orang baru yang berbaiat pun bertambah.”

Dai lokal dari Burkina Faso, Tn. Konati Abdul Hayyi menuliskan laporan, “Seorang Mubayyi’ baru, Tn. Jiyalo Ibrahim mengabarkan bahwa ia dulunya biasa meminum khamr (minuman keras) meski ia seorang Muslim sampai-sampai orang-orang Muslim lainnya menganggapnya seorang gila dan tidak ada seorang pun yang mendekatinya . Suatu kali ia sakit dan tak ada satu pun yang menengoknya. Ia mendengarkan radio Ahmadiyah. Kemudian, ia pun mendapatkan hidayah dari Allah Ta’ala sehingga bergabung dengan Jemaat. Ia berhenti meminum khamr. Namun, ia menderita sakit yang kedua kalinya. Sakit tersebut demikian keras sehingga ia menyangka akan mati. Ia lalu berdoa, ‘Ya Rabb! Jika Imam Mahdi yang mana saya berbaiat kepadanya itu seorang yang benar, anugerahilah saya hidup yang lama.’ Allah Ta’ala pun mengabulkan doanya. Bukan hanya ia selamat dari penyakitnya saja bahkan menjadi sehat dan dapat menghadiri Jalsah Salanah setelah itu. Ia berkata, ‘Ini semua berkat iman kepada Imam Mahdi. Jika saya hidup hari ini maka itu karena keimanan kepada kebenaran.’”

Seorang kenalan dari Pantai Gading, Tn Demayla menceritakan peristiwa masuknya kedalam Ahmadiyah. Ia berkata, “Saya biasa menyembah berhala. Suatu hari saya melihat dalam mimpi bahwa seorang wanita tua memberi saya panci air dan sebuah sajadah, lalu berkata, ‘Anda harus melaksanakan shalat.’ Saya tidak paham mimpi ini. Saya pun pergi ke seorang Muslim yang cendekia dan menanyakan takwil mimpi itu. Dia menjawab, ‘Makna mimpi ini sederhana saja. Anda harus melaksanakan shalat.’ Oleh karena itu, saya mulai shalat di Masjid Ghair Ahmadi tapi saat itu perhatian saya untuk menyembah berhala tidak hilang juga. Beberapa hari kemudian, saya mengalami mimpi lagi yagn sama. Seseorang perempuan datang dan berkata, ‘Anda harus shalat.’

Saya menjadi cemas dan bertanya-tanya pengertian mimpi ini karena bukankah saya telah melaksanakan shalat? Lalu, saya menceritakan mimpi ini kepada saudara laki-laki saya yang adalah seorang Ahmadi. Dia berkata, “Interpretasi mimpi ini adalah bahwa Anda harus bergabung Ahmadiyah.’ Oleh karena itu, saya mengambil nasehatnya dan menghubungi seorang muballigh Jemaat dan mengambil baiat setelah melakukan penelitian.

Meski saya telah shalat pada masa sebelumnya namun seiring itu hati saya cenderung pada berhala. Tetapi, setelah menerima Jemaat, pikiran saya pun dapat menghapus perihal berhala. Shalat hakiki pun dimudahkan. Saya pun dapat mengenal Tuhan secara hakiki setelah menerima Ahmadiyah. Saya menemukan Tuhan Hakiki berkat Ahmadiyah saja.” Dalam peristiwa para Mubayyi’ baru terdapat pelajaran bagi para Ahmadi lama.

Seorang Mubaligh dari Kazan menulis, “Pada bulan Juni 2014, Tn. Fareed Ibrahim, yang adalah anggota Jemaat Kazan, memasang foto Hadhrat Masih Mau’ud as di tokonya dan menulis di bawahnya dalam bahasa Rusia kata-kata berikut ini ‘Ini adalah Al-Masih (Imam Mahdi) yang kedatangan sudah lama ditunggu-tunggu.’ Bersamaan dengan itu dia juga menulis link situs Jemaat. Tokonya terletak di area pasar utama dan sekitar sepuluh ribu orang melewatinya setiap hari dan melalui cara tersebut mereka menjalin kontak dengan Jemaat.”

Bukalah cara-cara baru pertablighan dan ini adalah salah satu cara seseorang melakukan tabligh. Seorang Ahmadi Pakistani baru-baru ini datang ke Kazan untuk kepentingan bisnis. Ia mengirimi saya foto toko orang Jemaat itu yang memasang foto hadhrat Masih Mau’ud as dalam ukuran besar. Saya kira itu tempat miliknya. Ahmadi Pakistani itu menulis, “Saya berdiri di sana memandangi foto itu. Orang-orang melewati toko itu. Dua orang bukan Ahmadi dari Pakistan juga ada di sana memandangi foto itu. Salah seorang berkata kepada temannya, ‘Tampaknya ini foto Tn. Mirza dari Qadian.’ Seorang perempuan yang mendengar perkataan mereka berkata sambil menunjuk ke foto, ‘Inilah Imam Mahdi yang telah datang.’ Saya mendengar perkataan ini dan berlalu dari situ.”

Inilah jalan-jalan tabligh yang ditemukan orang-orang.

Tn. Amir dari Burkina Faso menulis: “Salah satu anggota baru kami, Tn. Pareh Idrees yang berkata: ‘Suatu hari setelah mengucapkan janji baiat, saya bermimpi bahwa keadaan saya sebelumnya tertutup kegelapan. Sementara itu tempat saya berpijak sekarang keadaannya dipenuhi cahaya. Setelah itu, saya bangun tidur.’

Sebelum Jemaat, beliau seorang Wahhabi. Setelah melihat mimpi itu, bleiau mulai berkata kepada teman-temannya, ‘Jika kalian hari ini ingin mendapatkan hangatnya cahaya maka cahaya hakiki hanya ada di Ahmadiyah saja. Sebab, di dalam Ahmadiyah ada Nizham Khilafat dan dengan Khilafat, kami akan tertolong.’

Dengan karunia Allah, Tn. Pareh menjadi orang yang rajin bertabligh di jalan Allah dan melakukan usaha besar di bidang Tabligh.”

Jadi, Allah Ta’ala perlahan membawa orang menuju ajaran Islam yang benar dan Insya Allah, melalui Hadhrat Masih Mau’ud as, pesan sejati Ahmadiyah akan tersebar luas dan unggul di seluruh dunia. Semoga Allah memungkinkan kita masing-masing untuk mengambil bagian dari berkat-berkat ini dengan terus-menerus mengundang orang lain menuju jalan Allah.

Setelah shalat Jumat, saya akan mengimami dua shalat jenazah ghaib. Yang pertama adalah Almarhumah Ibu Khurshid Ruqayya Sahiba, istri Maulvi Manzoor Ahmad Sahib Ganokhe, salah satu Darwis Qadian. Sesuai takdir Allah, beliau meninggal pada tanggal 1 September, hari Jumat dan juga hari Haji-e-Akbar. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Almarhumah berasal dari keturunan Mirza Kabiruddin, Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Suami Almarhumah ialah seorang Dai (Muballigh) lokal. Mereka menikah pada 1956. Mereka mewakafkan diri di semua keadaan sulit dan susah dan menghabiskan waktu hidupnya dalam kesabaran dan kesyukuran.

Almarhumah dawam dalam shalat-shalat, Tahajjud dan juga berdoa. Beliau orang yang sangat ramah. Pecinta Khilafat, dan peduli terhadap mereka yang memerlukan. Beliau seorang yang salehah. Beliau biasa mendengarkan khotbah-khotbah saya di MTA dengan rajin dan menasehati anak-anaknya juga untuk menyimak khotbah-khotbah saya (Hadhrat Khalifah). Beliau telah sakit dalam waktu lama. Meskipun Jemaat telah menyediakan kemudahan pengobatannya tapi beliau tidak menerimanya. Beliau meminta anak-anaknya untuk merawatnya dengan sarana pribadi mereka hingga pada waktu akhir. Almarhumah adalah seorang Mushia. Beliau memiliki dua putra dan dua putri. Salah satu menantunya yang saat ini tinggal di Prancis berasal dari Maroko. Semoga Allah Yang Mahakuasa meninggikan derajat almarhumah dan memungkinkan anak-anaknya melanjutkan perbuatan baiknya.

Jenazah kedua adalah Dr Salahuddin Sahib yang tinggal di New Jersey, AS. Beliau adalah putra Maulvi Imam-ud-Din Sahib, Mubaligh yang pernah bertugas di Indonesia. Beliau meninggal pada tanggal 10 September 2017 setelah menderita serangan jantung. إنا لله وإنا إليه راجعون. Almarhum menyelesaikan gelar doktornya di bidang sains dari New Jersey. Pada masa Khalifatul Masih IV (rh) beliau sering berkunjung dan di sela-sela hari liburnya dan berkhidmat di kantor sekretaris pribadi, beliau juga bekerja sebagai bagian dari Staf Keamanan. Entah itu pekerjaan kantor atau tugas pengamanannya, beliau selalu menyelesaikan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Beliau memiliki kualitas mulia yang bisa menarik orang ke arahnya dan membuatnya populer di kalangan orang-orang.

Dia tinggi dan memiliki pengetahuan yang produktif, Doctor, yang kompeten dalam keahliannya, dan sebagai tambahan spesialisasinya ialah dia pendidik.

Terlepas dari sifat-sifat ini, beliau memiliki sifat yang sangat rendah hati dan lemah lembut. Beliau memiliki kualitas untuk bisa mengadakan percakapan dengan orang-orang dari semua lapisan masyarakat. Seperti telah saya katakana, beliau berkhidmat di kantor Sekretaris Khas dalam waktu lama khususnya di zaman Khalifatul Masih IV rahimahuLlahu. Beliau juga berkhidmat di bidang security (keamanan) dengan rajin.

Amir Jemaat Amerika menulis, “Doktor Salahuddin anggota Jemaat New Jersey. Beliau bekerja di Jalsah Salanah sebagai panitia bidang Dhiafat. Upayanya amat tulus dan intensif. Pengkhidmatannya dalam Jalsah dapat menjadi contoh bagi kita. Beliau biasa menyiapkan diri mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud as tiap waktu bukannya karena serakah akan kedudukan. Beliau biasa berkata, ‘Saya tidak ingin sesuatu kedudukan. Melainkan saya ingin agar Anda (Amir Jemaat USA) meminta saya berkhidmat di bidang jenis apa yang Anda inginkan.’”

Dia amat setia terhadap Khilafat. Saya mengenalnya dari Rabwah sejak kecil. Bahkan di masa Khilafat saya, saya melihat bahwa dia memelihara hubungan kesetiaan khusus, yang merupakan hubungan kasih sayang dengan Khilafat.

Semoga Allah Yang Mahakuasa meninggikan statusnya. Beliau belum pernah menikah, sehingga, semoga Allah memberikan keteguhan kepada saudara perempuannya. Semoga Allah memungkinkan anak keturunan Maulvi Imam-ud-Din Sahib untuk melanjutkan kebajikannya.

Penerjemah Dildaar Ahmad Dartono & Yusuf Awwab

 

(Visited 142 times, 1 visits today)