Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 10 Fatah 1389 HS/Desember 2010

di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا الله وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ (٧)

Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyallahu Ta’ala ‘anhu menulis sebuah syair dalam Bahasa Urdu,

‘Woh tum ko Husain banate heei’ aor aap Yazidi bante heei’

Yeh kiya hii sastah sauda he, dushman ko teer chalaney do’.

“Mereka menjadikanmu Husain, dan mereka menjadikan diri mereka sendiri seperti Yazid. Betapa murahnya jual-beli ini; biarlah musuh melemparkan anak panahnya.”[2]

Ini adalah satu kutipan dari syair nazm panjang karya Hadhrat Mushlih Mau’ud ra untuk menganjurkan Jemaat agar bersabar, memiliki harapan tinggi (positif) dan berhati tegar. Nazm ini beliau sampaikan pada tahun 1935 tatkala Jemaat sedang menghadapi perlawanan musuh yang sedang terjadi dengan keras sekali pada waktu itu. Sesungguhnya, hari ini saya tidak akan menjelaskan mazhmun (bahasan) mengenai nazm ini, melainkan hanya akan berbicara sekitar maksud dari pada dua buah [petikan] syair ini saja.

Dalam sejarah Islam syair ini mengisyaratkan pada sebuah peristiwa yang sangat zhulm (keaniayaan), mengerikan dan sangat menusuk perasaan hati pada pandangan setiap Muslim. Akan tetapi pengambilan kesan-kesan yang dapat melukiskan hakekatnya dengan tepat dari peristiwa yang sangat tragis dan mengerikan itu hanyalah orang-orang yang sedang berada dalam kancah penganiayaan dengan kejam. Atas peristiwa itu setiap orang Muslim tiada diragukan lagi tentu menampakkan perasaan simpati, perasaan duka, perasaan sedih dan prihatin dan orang-orang Syiah setiap tahun di bulan Muharram berusaha menyatakan peristiwa itu dengan cara mereka sendiri yang khas. Sedangkan menurut pandangan kita, perayaan mereka itu sedemikian rupa sehingga sudah merupakan perbuatan yang ghulluw (berlebih-lebihan) dan melampaui batas.[3]

Namun, hal itu sudah merupakan perayaan dengan cara mereka sendiri. Kendatipun, sebagaimana telah saya katakan bahwa hakikat kezaliman dalam peristiwa itu hanya dapat dipahami dengan sesungguhnya oleh orang-orang yang sedang berada didalam kancah penganiayaan dengan kejam. Pada zaman ini golongan manakah selain dari Jemaat Ahmadiyah yang dapat melukiskan dengan sesungguhnya kepiluan peristiwa Karbala yang sangat mengerikan itu. Sebab itu dengan tepat sekali Hadhrat Muslih Mau’ud ra telah melukiskannya dalam bentuk syair, ‘Mereka membuat kamu seperti Husain, mereka sendiri menjadi seperti Yazid’ Siapakah yang dimaksud dengan kedua kelompok orang-orang ini (Husain dan Yazid ini)?

Kedua kelompok orang itu mengucapkan kalimah yang sama, “لا إله إلا الله، محمد رسول الله” ’laa ilaaha illallahu muhammad rasulullah’ – “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya.” Atau kedua kelompok itu menyatakan diri masing-masing mengucapkan kalimah itu. Namun satu daripadanya betul-betul mengerti hakekat kalimah itu dan telah menjadi mazhlum (teraniaya) dan yang satu lagi karena tidak menghargai kalimah itu telah menjadi zhalim. Peristiwa Karbala, dimana Hadhrat Imam Husain ra dan keluarga beliau serta beberapa orang yang menyertai beliau telah disyahidkan pada dasarnya merupakan kelanjutan dari peristiwa syahidnya Hadhrat Khalifah Usman ra.[4]

Sebabnya, apabila takwa sudah berkurang dan kepentingan pribadi sudah mulai menguasai diatas kepentingan umum, dan urusan duniawi didahulukan diatas kepentingan agama, maka timbullah satu hal, yaitu kezaliman dan barbariyat (kekejaman di luar batas kemanusiaan) menguasai nafsu manusia sampai puncaknya. Darah para kekasih Allah ditumpahkan atas nama Allah. Sungguh betapa besar kemalangan yang menyedihkan, orang-orang yang mengucapkan kalimah menyerang dan menganiaya orang-orang yang mengucapkan kalimah yang sama, sampai-sampai mereka tidak merasa bersalah untuk menumpahkan darah orang-orang ma’shum (suci) dan darah anak-anak. Orang-orang yang telah mengorbankan jiwa, harta-benda dan kehormatan mereka semata-mata demi Tuhan dan Rasul telah ditimpakan kedukaan, kesulitan dan musibah-musibah atas nama Tuhan dan Rasul.

Adakah nasib malang yang lebih buruk lagi bagi orang-orang zalim itu daripada perbuatan brutal diatasnamakan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, Hadhrat Muhammad saw? Tentang keburukan seperti itu Alquranul Karim telah berfirman,

وَ مَنۡ یَّقۡتُلۡ مُؤۡمِنًا مُّتَعَمِّدًا فَجَزَآؤُہٗ جَہَنَّمُ خٰلِدًا فِیۡہَا وَ غَضِبَ اللّٰہُ عَلَیۡہِ وَ لَعَنَہٗ وَ اَعَدَّ لَہٗ عَذَابًا عَظِیۡمًا ﴿﴾

“Dan barangsiapa membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, ia akan tinggal lama didalamnya, dan Allah murka kepadanya dan menjauhkannya dari sisi-Nya yakni melaknatnya dan akan menyediakan baginya azab yang sangat besar.” (An Nisa, 4 : 94)

Allah Ta’ala telah menunjukkan kemurkaan-Nya dengan menggunakan kata-kata yang sangat keras terhadap orang seperti itu. Bukan hanya akan dimasukkan ke dalam Jahannam melainkan mereka akan tinggal lama di dalamnya dan kemurkaan Tuhan turun terus-menerus menimpa mereka, dan mereka akan terus-menerus menjadi sasaran laknat Tuhan. Jahannam ini, kemurkaan Allah ini, laknat Allah ini, ini semua bukanlah perkara kecil, melainkan azab yang sangat besar. Ini adalah ‘adzaab ‘azhim (siksaan yang besar). Adakah nasib malang yang lebih buruk lagi daripada seseorang yang mengaku setia kepada Kalimah Syahadah namun dibakar dalam Jahannam terus-menerus dan merasakan kemurkaan, laknat dan azab Tuhan yang sangat berat dan mengerikan sekali? Demikianlah, orang yang demi untuk suatu keuntungannya sendiri dan untuk kedudukan bersifat keduniaan melakukan perbuatan kezaliman sedemikian rupa maka ia menjadi sasaran kemurkaan yang sangat dari Tuhan.

Sebaliknya tentang orang-orang yang tidak berdosa yang telah menjadi sasaran kezaliman dan mangsa barbariyat,

وَ لَا تَحۡسَبَنَّ الَّذِیۡنَ قُتِلُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ اَمۡوَاتًا ؕ بَلۡ اَحۡیَآءٌ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ یُرۡزَقُوۡنَ ﴿﴾ۙ

“…mereka itu hidup di sisi Tuhan mereka dan mereka dianugerahi rezki dari Tuhan mereka.” (Surah Ali Imran, 3 : 170). Inilah perlakuan Allah Ta’ala kepada mereka. Jadi, barangsiapa yang disisi Allah Ta’ala hidup dan mendapat rezeki surga, maka adakah nikmat-nikmat dan ganjaran bagi mereka yang lebih besar dari pada itu. Hadhrat Nabi saw bersabda mengenai Hadhrat Imam Husain dan Hadhrat Imam Hasan ra, “Keduanya adalah pemimpin para pemuda penduduk surga.” (sayyidaa syabaabi ahlil jannah) [5]

Untuk keduanya Hadhrat Nabi saw telah memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, اللهم إني أحبهما فأحبهما ‘Allahumma innii uhibbuhumaa fa ahibbahumaa’ “Ya Allah, sesungguhnya aku menyintai keduanya, dan Engkau juga cintailah mereka berdua.”[6] Jadi, orang yang menerima berkat doa-doa Hadhrat Rasulullah saw sampai batas kecintaan beliau seperti itu lalu meraih martabat syahid, maka pasti menjadi pewaris rezeki surga yang luhur sesuai janji Allah Ta’ala, sebaliknya pembunuh beliau pasti akan menjadi pewaris kemurkaan Allah Ta’ala.

Bulan ini, kita sedang memasuki sepuluh hari pertama bulan Muharram. Di dalam bulan Muharram ini, 1400 tahun lalu pada tanggal 10 seorang yang sangat dicintai oleh Hadhrat Rasulullah saw yakni Hadhrat Imam Husain ra telah disyahidkan oleh orang yang sangat zalim.[7] Jika kita mendengar kisah pembunuhannya badan kita gemetar dan bulu roma kita berdiri karena sangat mengerikan. Orang-orang zalim itu tidak berpikir, “Bagaimanakah kedudukan orang yang sedang kami hunuskan pedang kepadanya?” Tetapi, sebagaimana telah saya katakan, apabila iman sudah terbang, maka semua perasaan dan pertimbangan pun hilang, bahkan rasa takut kepada Allah Ta’ala-pun lenyap dari dalam hati. Jika rasa takut kepada Allah Ta’ala sudah lenyap dari dalam hatinya, maka ia tidak mempertimbangkan, bagaimanakan kedudukan seseorang pada pandangan Allah Ta’ala atau kedudukannya pada pandangan Rasul-Nya saw? Bagaimanakah kisah disyahidkannya Hadhrat Imam Husain ra dan setelah beliau disyahidkan bagaimana perlakuan orang-orang zalim terhadap jenazah beliau yang beberkat? Setelah mendengar peristiwa ini manusia menjadi yakin bahwa, mereka itu mungkin saja telah membaca dua kalimah syahadat, tetapi sesungguhnya mereka itu tidak mempunyai keyakinan terhadap Dzat Tuhan.

Hadhrat Rasulullah saw datang ke dunia untuk menegakkan martabat kemanusiaan. Beliau saw telah menetapkan dasar hukum dan peraturan berperang. Allah Ta’ala memerintahkan kepada kita yang tercantum dalam Alquran yang menekankan untuk bertindak adil dan i’tidaal (moderat) terhadap musuh, dan termasuk musuh yang sekalipun hendak menghancurkan agama Islam serta hendak membunuh Hadhrat Nabi saw. [Bersikap adil dan tidak berlebihan termasuk tatkala] berperang dengan mereka yang memiliki praktek kebiasaan yang telah biasa dilakukan oleh orang-orang Arab dulunya, yaitu mutilasi mayat musuh (memotong-motong dan merusak tubuh musuh yang sudah meninggal) satu kebiasaan tidak terhormat terhadap mayat, yang beliau saw telah melarangnya.[8]

Beliau saw datang untuk menghapus semua adat kebiasaan buruk itu dan mengakhiri riwayatnya yang mana menurunkan wibawa kemanusiaan. Bahkan beliau saw berlaku sangat pemaaf dan pengampun terhadap musuh-musuh dengan cara lemah-lembut. Tetapi, perlakuan terhadap cucu seorang Rasul kesayangan Allah Ta’ala, untuk mana beliau saw berdoa ke hadirat Allah Ta’ala, “Ya Allah! Aku sangat menyintainya, maka Engkaupun cintailah dia!”[9] Lagi, beliau bersabda, “Barangsiapa yang menyintai cucuku, dia menyintaiku, dan barangsiapa yang menyintaiku dia menyintai Allah, dan disebabkan ia menyintai Allah maka ia akan dimasukkan ke dalam surga, demikian juga barangsiapa yang membencinya akan dibenci oleh Allah Ta’ala.”[10]

Orang yang betul-betul menyintai seseorang, maka orang yang menjadi kesayangan orang yang dicintainya itu tentu akan menjadi kesayangannya juga. Tidak mungkin satu pihak ia menyatakan cinta terhadap seseorang namun di pihak lain ia membenci anak-keturunan orang yang dicintainya itu. Atau ia menyatakan diri menyintai orang-orang yang dicintai oleh orang yang dicintainya pada waktu orang yang dicintainya itu masih hidup, namun apabila orang yang dicintainya itu sudah menutup mata semua kesan kecintaan terhadap mereka lenyap. Maka, pernyataan cintanya itu hanya tinggal di mulut saja. Cara hidup yang demikian dapat terjadi di kalangan orang duniawi, sedangkan orang-orang yang memiliki hubungan dengan Allah Ta’ala tentu tidak akan seperti itu.

Riwayat-riwayat menyebutkan, suatu ketika Hadhrat Abu Bakar Siddiq ra di zaman Khilafat beliau tengah berjalan ke suatu tempat. Di perjalanan, beliau melihat cucu tercinta Hadhrat Nabi saw sedang bermain-main bersama anak-anak lainnya. Beliau angkat anak itu dan memangkunya dengan kasih sayang seraya bersabda, “Junjunganku, Hadhrat Muhammad Mushthafa saw, sangat menyayangi anak ini, sebab itu aku pun sangat menyayanginya.”[11] Demikianlah cara menyatakan kesetiaan dan kasih sayang yang sesungguhnya terhadap buah hati orang yang betul-betul dicinta beliau.

Tetapi, bagaimana perlakuan terhadap beliau ra di Karbala? Bagaimana pelanggaran yang telah dilakukan terhadap ajaran yang telah ditegakkan oleh Rasulullah saw? Riwayat-riwayat menyebutkan ketika pasukan beliau ra dikalahkan oleh musuh [dibunuh habis], beliau (Hadhrat Imam Husain ra) mengarahkan kuda yang ditungganginya ke arah Furat [Sungai Euphrat, bukan melarikan diri tetapi mengambil air untuk diminum karena beliau dan rombongan beliau kehausan-Red]. Seseorang berteriak, “Mari kita halangi antara mereka dengan sungai!” Orang-orang memblokade (menutup dengan barisan prajurit pada) jalan yang akan beliau lalui, dan beliau tidak diberi jalan lewat mencapai sungai itu. Orang itu pun telah melepaskan anak panah kearah Hadhrat Husain ra sehingga menusuk leher tepat dibawah dagu beliau.

Mengenai keadaan pertempuran beliau, perawi menceritakan, “Hadhrat Husain ra dalam keadaan luka-luka, mengeratkan ikatan sorbannya terus melakukan perlawanan terhadap musuh sambil berjalan kaki melakukan serangan dengan gagah berani mengelakkan panah-panah yang menghujani tubuh beliau. Sebelum beliau syahid saya mendengar beliau berkata, ‘Demi Allah! Setelah aku, siapapun kalian bunuh dari antara para pencinta Allah Ta’ala, kemurkaan Allah Ta’ala terhadap kalian tidak akan lebih keras seperti kalian membunuhku. Demi Allah! Aku harap Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan atas kalian dan Dia akan memberi kemuliaan kepadaku. Tuhan akan membalas atas kejahatan kalian terhadapku sehingga kalian akan merasa heran. Demi Allah! Jika kalian membunuhku, Allah Ta’ala akan menciptakan suasana perang di tengah-tengah kalian dan darah kalian akan tumpah. Allah Ta’ala tidak akan ridha sebelum Dia melipatgandakan azab-Nya yang sangat pedih diatas kalian.’”[12]

Setelah Hadhrat Husain ra disyahidkan bagaimana perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang Kufah? Orang-orang Kufah mulai mengadakan penjarahan dan perampokan terhadap kemah-kemah Hadhrat Imam Husain ra, bahkan mereka mulai menyerang dan merampas kain-kain cadar penutup kepala orang-orang perempuan. Seorang bernama Umar Bin Sa’ad berteriak, “Siapakah orang-orang yang akan menginjak-injak tubuh Imam Husain ra dengan kuda mereka?” Mendengar seruan itu maka datanglah sepuluh orang penunggang kuda lalu dengan kejamnya menginjak-injak tubuh Hadhrat Imam Husain r.a dengan kaki kuda mereka, sehingga dada dan punggung jasad beliau ra menjadi remuk-redam dan pecah-belah.

Dalam pertempuran itu Hadhrat Imam Husain ra terlukai tembakan anak panah sejumlah 45 buah banyaknya pada tubuh beliau. Riwayat lain menyebutkan tubuh beliau terkena 33 buah tusukan tombak dan sebanyak 47 buah luka terkena bacokan pedang, disamping luka-luka terkena anak panah. Kekejaman yang paling biadab lagi ialah kepala Hadhrat Imam Husain ra dipenggal dipisahkan dari tubuhnya lalu dikirim kepada Ubaidullah Bin Ziyad, Gubernur Kufah. Keesokan harinya kepala Hadhrat Imam Husain ra itu dipancangkan oleh Gubernur itu diatas tanah kota Kufah. Setelah itu kepala Hadhrat Imam Husain ra dikirim kepada Yazid melalui Zahr Bin Qais.[13]

Demikianlah kekejaman yang dilakukan terhadap jenazah Hadhrat Imam Husain ra setelah disyahidkan. Perlakuan zalim apa lagi yang dapat dilakukan lebih kejam dari itu? Jenazah beliau tergeletak tanpa kepala. Penghinaan sangat kejam terhadap jenazah seperti itu barangkali hanya musuh yang paling jahat akan melakukannya, bukan orang yang telah mengucapkan dua Kalimah Syahadah dan mengaku telah beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw, yang telah memberi nasehat dengan tegas untuk menegakkan kehormatan manusia dan dengan tegas melarang perbuatan kejam seperti itu.

Sesungguhnya perbuatan kejam itu dilakukan oleh orang-orang gila duniawi dan mereka telah melakukan pelanggaran-pelanggaran di luar batas demi meraih maksud dan tujuan pribadi mereka, sedikitpun tidak ada sangkut-pautnya dengan kepentingan agama. Hadhrat Imam Husain ra menganggap bahwa mereka telah bergelimang dalam kecintaan terhadap duniawi secara berlebihan, itulah sebabnya beliau menolak untuk baiat di tangan Yazid. Hadhrat Masih Mau’ud as di satu tempat bersabda, “Hadhrat Imam Husain ra tidak suka baiat di tangan orang yang fasik dan pendosa sebab dengan itu iman akan menjadi rusak.” [14]

Beliau as bersabda, “Baiat kepada Yazid peleed (Yazid an-najis, Yazid najis, Yazid orang kotor) sudah dilakukan oleh banyak orang secara ijma’, tetapi Imam Husain ra dan Jemaat beliau tidak menerima ijma’ semacam itu dan tetap memisahkan diri.”[15]

Tapi meskipun tidak melakukan baiat, Hadhrat Imam Husain ra berusaha untuk perdamaian. Namun demikian, ketika beliau melihat gejala akan terjadi pertumpahan darah diantara orang-orang Muslim, maka orang-orang yang setia kepada beliau diminta segera pulang. Beliau berkata, “Kalian semua yang bisa pergi, tinggalkanlah saya dan pergilah!” Kini, keadaan-keadaannya adalah demikian. Beberapa orang [bukan keluarga yang] tetap tinggal bersama beliau ialah sekitar 30-40 orang dan mereka bersikukuh [tidak mau pergi meninggalkan beliau], itu selain orang-orang yang termasuk dari keluarga beliau.

Kemudian beliau menyampaikan kepada perwakilan Yazid, “Saya tidak ingin terjadi perang. Biarkanlah saya pulang untuk melakukan ibadah kepada Allah Ta’ala. Atau biarkanlah saya pergi ke sebuah perbatasan supaya mendapat kesempatan syahid demi mempertahankan Islam. Atau bawalah saya dan pertemukanlah dengan Yazid supaya dapat saya jelaskan langsung kepadanya apa perkara yang sesungguhnya.” Tetapi para wakil [Yazid] itu tidak menerima permintaan tersebut. [16]

Akhirnya Imam Husain mulai diserang dan ketika peperangan mulai pecah, beliau tidak menemukan jalan lain kecuali beliau terjun ke medan perang sebagai pahlawan yang gagah berani menghadapi penyerangan musuh. Sungguh! Mereka dengan jumlah yang sedikit seperti telah saya sampaikan, semuanya kira-kira hanya 70-72 orang saja melawan pasukan yang sangat besar. Bagaimana mungkin [pasukan kecil] ini dapat melawan mereka? Sesungguhnya mereka (Hadhrat Imam Husain ra beserta para pengikut beliau) – sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as telah jelaskan – berkorban jiwa untuk tujuan yang benar dan satu demi satu pun menjadi syahid.

Allah Ta’ala memiliki cara-Nya sendiri untuk membalas kezaliman mereka sebagaimana Hadhrat Imam Husain ra telah bersabda, “Allah Ta’ala akan membalas untukku”, dan sesuai dengan sabda beliau ra, itu Allah Ta’ala telah membalas untuknya, Yazid memperoleh kemenangan hanya untuk sementara, tetapi sekarang adakah orang yang memanggil nama Yazid itu dengan sebutan yang baik? Jika Yazid mendapat penilaian nama baik, tentu orang-orang Muslim menggunakan nama itu untuk anak keturunan mereka. Akan tetapi sampai sekarang tidak ada orang Muslim yang memberi nama Yazid kepada anaknya. Jika ingin mengetahui tentang Yazid, Hadhrat Masih Mau’ud as menyebutnya ‘Yazid Peleed’ – “Yazid Kotor”.

Hadhrat Imam Husain mempunyai suatu tujuan (cita-cita). Beliau tidak menginginkan kekuasaan pemerintahan. Beliau bermaksud ingin menegakkan hak (kebenaran) dan beliau pun benar-benar telah melaksanakannya. Hadhrat Mushlih Mau’ud, Khalifatul Masih II ra telah menjelaskan dengan sangat baik. Beliau bersabda bahwa, “Ushuul (Peraturan, prinsip) yang Hadhrat Imam Husain ra ingin tegakkan ialah bahwa hak pemilihan Khilafat terletak di tangan ahli mulk (rakyat suatu Negara) atau sebuah Jemaat. Seorang bapak tidak dapat mewariskan kursi Khilafat itu kepada anaknya. Prinsip ini kini sungguh suci seperti juga di masa sebelumnya. Bahkan, dengan syahidnya Hadhrat Imam Husain ra, sistim yang benar ini semakin nampak jelas. Jadi, yang berhasil adalah Hadhrat Imam Husain ra, bukan Yazid.[17]

Kemudian perhatikanlah bagaimana Qudrat (Yang Maha Kuasa) telah menindak balas dengan cara yang lain lagi, sebuah pembalasan yang mengerikan. Mengenai peristiwa itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra telah menulis dalam buku beliau ‘Khilafat Rasyidah’, “Tertulis dalam tarikh (kitab-kitab sejarah Islam), setelah kematian Yazid, anaknya Muawiyah, yang namanya sama dengan nama kakeknya, yaitu Muawiyah juga. Setelah Muawiyah bin Yazid (bin Muawiyah) ini mengambil baiat dari masyarakat, ia pulang ke rumahnya dan selama 40 hari ia tidak pernah keluar dari rumahnya. Suatu ketika ia keluar, lalu ia berdiri di mimbar dan mulai berpidato, ‘Memang betul saya telah mengambil baiat dari kalian semua, namun bukan karena saya menganggap diri saya layak untuk mengambil baiat dari kalian. Akan tetapi dengan tujuan agar tidak timbul perpecahan diantara kalian semua. Dan dari sejak itu sampai sekarang saya tidak berhenti berpikir bahwa jika ada seseorang diantara kalian yang layak menerima baiat dari masyarakat, maka tongkat kepemimpinan ini akan saya serahkan kepadanya, dan saya akan bebas dari tanggung jawab. Namun setelah berulangkali merenungkan saya tidak melihat seorangpun yang layak dari antara kalian. Oleh sebab itu wahai saudara-saudara! Dengarlah baik-baik bahwa saya tidak layak untuk manshab (kedudukan) ini.

Selain itu, saya ingin berkata bahwa bapakku dan kakekku pun tidak layak untuk memegang tampuk pimpinan ini. Derajat bapakku jauh lebih rendah dari Imam Husain dan derajat bapaknya (kakekku) jauh lebih rendah dari derajat ayah Hasan dan Husain (Hadhrat Ali ra). Ali ra sungguh lebih berhak (lebih pantas dan tepat) menjadi Khalifah di zamannya dan sesudah itu dibandingkan dengan kakekku dan bapakku, Hasan dan Husain lebih berhak menjadi Khalifah. Oleh sebab itu saya sekarang melepaskan diri dari imarat (kepemimpinan) ini’.”[18]

Perhatikanlah sekarang bagaimana perkataan seorang anak telah menampar muka bapak dan kakeknya sendiri. Sebabnya dia mempunyai rasa takut kepada Tuhan, sebabnya terdapat sekelumit takwa dalam hatinya. Dari seorang yang bergelimang dengan kehidupan duniawi sekarang juga dapat lahir anak keturunan yang jujur dan baik hati, melaksanakan kewajiban dengan adil seperti itu.

Akhirnya dia mengatakan, “Sekarang terpulang kepada kehendak kalian, siapapun yang hendak dijadikan pimpinan dan baiat di tangannya, lakukanlah sesuai dengan itu!” Ketika itu ibunya pun di belakang hijab (tirai pardah ruangan) sedang mendengarkan pidato anaknya itu. Ketika ia mendengar kata-kata yang diucapkan anaknya itu, dengan sangat marah ia berkata, “Hai anak celaka! Engkau telah memotong hidung keluarga! dan engkau telah menaburkan debu dalam seluruh kewibawaan keluarga!” [engkau telah menjatuhkan kehormatan keluarga!] Ia [Muawiyah] menjawab, “Ibu, apa yang telah saya katakan justru itulah yang benar. Sekarang terserah, apa yang ingin ibu katakan tentang saya katakanlah sekehendak hati ibu!” Setelah itu ia segera pulang ke rumahnya dan tidak pernah keluar sampai beberapa hari kemudian meninggal dunia.

Sungguh kesaksian dahsyat bahwa terpisah dari orang-orang lain yang rela dengan Khilafat Yazid ternyata anak kandung Yazid sendiri tidak setuju dengan Khilafatnya. Anaknya itu telah mengeluarkan pernyataan demikian bukan karena serakah dengan kemewahan duniawi dan tidak pula ia berbuat demikian karena takut terhadap timbulnya permusuhan, melainkan ia mengeluarkan kebijakan itu setelah merenungkan dengan tekun dan serius keadaan dan situasi yang sebenarnya, “Ali ra lebih berhak menjadi Khalifah daripada Muawiyah, kakekku itu. Hasan dan Husain lebih berhak menjadi Khalifah daripada bapakku. Sedangkan aku sama sekali tidak sanggup memikul tanggung jawab ini.” Jadi pengangkatan Muawiyah (bin Abu Sufyan) terhadap Yazid sebagai Khalifah tidak dapat dikatakan hasil pemilihan. Adakah hal lain yang lebih besar dari kenyataan ini sebagai bukti untuk menunjukkan kehinaan seseorang, yaitu anak sendiri membuka hakikat kelemahan bapak kandungnya.

Kita dapat mengambil banyak sekali pelajaran dari pengorbanan Hadhrat Imam Husain ra. Beliau berdiri diatas kebenaran dan menyebarkannya kepada dunia. Beliau telah bernazar untuk mengorbankan nyawa beliau demi menegakkan kebenaran. Kita pun dengan perantaraan doa-doa hendaknya selalu memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, agar Dia senantiasa membimbing kita kearah jalan yang lurus. Pada satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Hadhrat Al-Masih as telah disamakan (tasybiih) dengan Hadhrat Imam Husain ra dengan digunakannya lafaz-lafaz isti’aarah. Dari penyerupaan ini mengindikasikan bahwa Al-Masih (Al-Mahdi) yang akan datang yaitu Masih Mau’ud ini juga mendapatkan bagian persamaannya. Atas hal itu pun dari satu segi benar adanya persamaan dengan Imam Husain ra. Tetapi, pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud as insya Allah tidak akan terulang lagi hal-hal seperti itu.” [19]

Inilah taqdir Ilahi bahwa peristiwa-peristiwa yang melemahkan agama Islam itu sekarang tidak akan terjadi lagi. Tetapi, kita harus banyak-banyak berdoa kepada Allah Ta’ala agar kita terlindung dari hal-hal itu yang akan memunculkan kerugian dalam keimanan. Telah saya katakan bahwa di zaman Masih Mau’ud as, Allah Ta’ala tidak akan mengulangi lagi peristiwa yang telah terjadi di masa lampau diantaranya ialah keberlangsungan Khilafat yang salah satu jalannya ialah juga dengan pemilihan Khalifah sesuai dengan lembaga pemilihan Khilafat. Hal demikian telah dinubuatkan oleh Hadhrat Rasulullah saw bahwa setelah Masih dan Mahdi wafat akan berdiri mata rantai [Khilafat] yang terus-menerus ada. Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah menjelaskan bagaimanakah jalannya bahwa peristiwa-peristiwa di masa lampau tidak akan terulang lagi? Misalnya Adam pertama telah dikeluarkan dari Jannat (surga) maka Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah Ta’ala telah memberiku nama Adam juga, supaya jalan masuknya anak keturunan Adam ke dalam Surga dipersiapkan kembali.”

Selanjutnya beliau as bersabda, “Al-Masih yang dulu telah disalib oleh orang-orang Yahudi. Namun dengan diberinya aku nama Al-Masih, Allah Ta’ala menyediakan sarana bagiku untuk mematahkan Salib. Demikianlah, Allah Ta’ala membalas  kekalahan di waktu lampau dengan kemenangan dan kejayaan di masa yang kedua kalinya ini.” [20]

Jika Husain pertama telah disyahidkan oleh Yazid karena mengatakan haq (kebenaran), maka melalui Husain kedua, Allah Ta’ala akan mengalahkan lasykar Yazid, insya Allah! Maka, kita tegak dengan keimanan akan hal ini. Jadi, jika bulan Muharram memberi pelajaran kepada kita, maka kita haruslah senantiasa mengirim shalawat dan salam kepada Hadhrat Rasulullah saw dan kepada aal (keluarga) beliau saw. Sesuai dengan nasehat Hadhrat Imam Zaman, kita harus banyak-banyak membaca shalawat dan salam, memanjatkan doa-doa dan mengadakan perubahan suci dalam diri kita masing-masing serta memperbaiki kelakuan kita.

Kita harus menunjukkan keteguhan iman, kesabaran dan ketabahan menghadapi orang-orang yang mempunyai sifat seperti Yazid. Kita yakin, sekarang Yazidi (orang-orang bertabiat Yazid) tidak akan meraih keberhasilan, melainkan Husaini (orang-orang yang bertabiat Husain) lah yang akan mendapat kemenangan. Taufik keteguhan dan ketetapan hati juga dapat diperoleh hanya melalui pertolongan Allah Ta’ala dan untuk mendapatkan pertolongan dari Allah Ta’ala, Allah Ta’ala telah memberi petunjuk agar kita banyak bersabar dan memanjatkan doa.

Sabar bukan hanya berarti menahan kezaliman dan bukan bersikap diam lalu tetap duduk-duduk saja, melainkan dengan tetap mengamalkan kebaikan dan menyatakan hal-hal yang benar tanpa rasa takut dan tanpa khawatir dengan resiko, ini disebut sabar juga. Jadi, Hadhrat Imam Husain ra telah menegakkan contoh teladan di hadapan kita bagaimana menyatakan kebenaran sehingga kita harus berpegang kepadanya setiap waktu. Jika kita tetap dalam keadaan demikian maka kita akan mendapat bagian dari kemenangan yang telah dijanjikan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Insya Allah.

Demi terkabulnya doa-doa, membaca shalawat adalah sangat penting. Hadhrat Masih Mau’ud as juga mengingatkan kearah itu. Banyak sekali Hadis-hadis juga menegaskan kearah itu, dan yang paling jelas lagi dalam Alquranul Karim Allah Ta’ala telah menegaskan untuk banyak membaca shalawat itu. Sebab itu kita semua setiap waktu harus selalu ingat membaca shalawat dan khususnya di bulan ini menaruh perhatian kearah itu sebagaimana sebelumnya Hadhrat Khalifatul Masih lV rh juga pernah menganjurkannya secara khusus, maka, saya ingin mengulangi lagi anjuran beliau itu bahwa di bulan ini banyak-banyaklah membaca shalawat. Hal itu menjadi sarana yang sangat baik untuk menimbulkan perasaan dan kesan tentang peristiwa Karbala, untuk memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala demi menghapuskan kezaliman-kezaliman.

Shalawat yang dikirimkan kepada Hadhrat Rasulullah saw menjadi sarana untuk menjadi ketenangan dan ketenteraman anak keturunan jasmaniah dan rohaniah beliau saw. Pemandangan kemajuan-kemajuan juga akan nampak kepada kita, dan hal itu menjadi salah satu jalan terbaik untuk menampakkan kecintaan kepada orang-orang yang telah menjadi kecintaan dan kesayangan Hadhrat Rasulullah saw juga. Shalawat ini juga membawa berkat dalam pelaksanaan tujuan dibangkitkannya Hadhrat Masih Mau’ud as pada zaman sekarang ini, insya Allah Ta’ala. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua untuk membaca shalawat, sebanyak-banyaknya membaca shalawat khususnya pada hari-hari ini, dan shalawat ini akan menjadi keberkatan bagi pribadi kita juga.

Pada akhirnya saya akan membacakan kutipan dari tulisan Hadhrat Masih Mau’ud as mengenai Hadhrat Imam Husain ra, mengenai maqam (kedudukan) Hadhrat Imam Husain ra yang setiap orang Ahmadi harus selalu menaruh perhatian penuh kepadanya bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as memberi penjelasan tentang kedudukan Hadhrat Imam Husain ra itu.

Seseorang menyampaikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa ada orang Ahmadi yang dengan salah menyebut-nyebut mengenai kedudukan dan kehormatan Hadhrat Imam Husain. Maka atas hal itu, beliau as bersabda, “Telah disampaikan kepada saya, sebagian orang tuna ilmu (naadaan admi) yang menganggap diri mereka anggota Jemaatku dengan mulut mereka sendiri menyebut-nyebut na’udzubillah, ‘Hadhrat Imam Husain ra pemberontak karena tidak baiat kepada Khalifah-e-Waqt, Yazid, sedangkan Yazid ada di pihak yang benar.’ لعنة الله على الكاذبين La’natullahi ‘alal kaadzibiin – ‘Laknat Allah atas para pendusta’

Saya tidak mengharapkan, kata-kata buruk seperti itu keluar dari mulut orang-orang lurus dari Jemaat saya…Namun, melalui isytihar (selebaran) ini saya memberitahukan kepada para anggota Jemaat bahwa kita beritikad Yazid adalah seorang bertabiat kotor, ulat dunia, zalim dan pada dirinya tidak ada tanda-tanda bagi seseorang yang dapat dikatakan mu’min (beriman). Untuk menjadi orang mu’min bukanlah perkara mudah. Mengenai orang seperti itu Allah Ta’ala berfirman,

قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ قُوۡلُوۡۤا اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾

“Orang-orang Arab gurun berkata, ‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum sungguh-sungguh beriman; akan tetapi hendaknya kamu berkata, ‘Kami telah tunduk patuh’; karena iman sejati belum masuk ke dalam kalbu kamu.’” (Al-Hujarat 49:15)

Orang mu’min adalah mereka yang amal perbuatan mereka memberi kesaksian bahwa di dalam hatinya ada tertulis iman, dan ia mendahulukan kepentingan Allah Ta’ala dan keridhaan-Nya diatas setiap kepentingan pribadinya, dan ia berusaha melangkahkan kakinya diatas jalan takwa kendati pun susah dan sempit demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, dan ia terbenam dalam lautan kecintaan-Nya, dan ia singkirkan sejauh-jauhnya setiap benda seperti patung berhala yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Tuhan, apakah berupa keadaan akhlak, ataupun perbuatan fasik, atau kemalasan dan kelalaian. Tetapi, Yazid yang malang itu bagaimana dapat memperolehnya. Kecintaan terhadap dunia telah membutakannya.

Namun, Imam Husain ra adalah thahir dan muthahhar (suci dan tersucikan) dan tanpa ragu beliau adalah salah seorang manusia terpilih yang Tuhan sendiri telah menyucikannya melalui tangan-Nya, dan Dia telah menjadikannya hamba pilihan-Nya yang Dia cintai, dan tanpa ragu beliau salah seorang pemimpin ahli surga, dan jika satu dzarrah (sangat sedikit) saja menyimpan rasa benci dalam hati kepadanya akan mengakibatkan hilangnya iman.

Ketakwaan, kecintaan kepada Tuhan, kesabaran, istiqamah (teguh pendirian) dan zuhd (kesederhanaan), serta ibadah dari Sang Imam ini bagi kita merupakan uswah hasanah (teladan yang baik), dan kita adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk yang diterima Imam mashum (suci terjaga dari dosa) ini. Rusaklah hati orang yang menjadi musuhnya dan berjayalah hati yang menaruh kecintaan kepadanya serta menampakkannya dalam corak amal perbuatan. Iman beliau, akhlak beliau, keberanian beliau, ketakwaan dan istiqamah beliau serta kecintaan beliau kepada Tuhan; gambaran semuanya itu telah terlukis secara sempurna dalam diri beliau, laksana bayangan seorang yang tampan atau cantik terlihat di sebuah cermin yang jernih.

Orang ini tersembunyi dari mata dunia. Siapa yang dapat mengetahui martabat orang ini, selain mereka yang daripadanya. Mata orang dunia tidak akan dapat mengenalnya sebab beliau sangat jauh dari dunia. Itulah yang menyebabkan kesyahidan Husain ra sebab beliau tidak dikenal. Dunia pada zamannya telah menyintai orang-orang suci dan saleh sehingga kepada Husain ra pun dicintai juga. Ringkasnya, merendahkan Husain ialah perkara yang membuat seseorang masuk kedalam tingkat yang sangat dari kemalangan dan ketiadaan iman, dan barangsiapa yang menghina Husain ra atau siapa pun wali yang termasuk dari a-immah (para imam) yang muthahharin (tersucikan) atau sekalipun secara halus menggunakan kata-katanya maka ia menyia-nyiakan imannya.

Sebab, Allah Yang Gagah Perkasa menjadi musuh orang-orang seperti itu, yang memusuhi hamba pilihan dan orang-orang yang dicintai-Nya. Siapa yang mengatakan hal-hal buruk kepada saya atau melaknat dan mengutuk, bahkan, sungguh, penggunaan kata-kata buruk kepada siapa pun dari antara orang suci dan dicintai Tuhan, adalah maksiat besar. Memaafkan dan berdoa adalah lebih baik dalam menanggapi musuh yang bodoh seperti itu karena bila orang itu mengetahui saya itu dari Siapa maka ia tidak akan mengatakan kata-kata buruk.”[21]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa memberi taufik kepada kita untuk menyintai Hadhrat Nabi saw dan aal (keluarga) beliau. Semoga Dia memberi taufik kepada kita untuk selalu mengirim salam dan shalawat kepada beliau saw. Kita juga harus berdoa semoga Allah Ta’ala melenyapkan semua penganiayaan dan kekejaman yang dilakukan dengan mengatasnamakan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya di Pakistan dan di beberapa Negara lainnya, dan khususnya di bulan [Muharram] ini di Pakistan dan juga di beberapa tempat di dunia, kerusakan yang kerap terjadi diantara orang-orang Syiah dan Sunni dan golongan lainnya, saling membunuh satu sama lain, saling merusak, saling menyerang satu dengan yang lain guna menimbulkan ketakutan dalam pertemuan-pertemuan yang diadakan, semoga Allah Ta’ala melindungi mereka juga.

Semoga bulan ini menjadi bulan yang aman bagi semua negeri Muslim dan semua orang Muslim sehingga terbukti menjadi bulan yang penuh kebaikan. Semoga mereka betul-betul memahami tujuan kesyahidan Hadhrat Imam Husain ra dan mereka juga menjadi orang-orang yang beriman kepada Imam di zaman sekarang ini.

Tambahan dari Redaksi: Rujukan sejarah al-Kamil fit Tarikh dan Usdul Ghaabah karya ibn Atsir, Thabaqat Kubra karya ibn Saad, Tarikh karya ath-Thabari, al-Bidayah wan Nihaayah karya ibn Katsir, Tarikhul Khulafa karya Imam Suyuti, al-Ishabah, Naasikhut Tawaarikh dan Baladhuri menceritakan semua atau sebagian dari detail berikut ini: pertengahan bulan Rajab 60 H: pembaiatan Yazid dari para gubernur (istilah zaman itu, Amir atau Wali) secara langsung atau via surat; pengiriman surat dan utusan agar para gubernur meminta baiat kepada masyarakat untuk Yazid; tekanan Yazid kepada gubernur Madinah supaya bersikap keras kepada Hadhrat Husain ra dan anak sahabat besar lainnya; gubernur Madinah (dulunya diangkat oleh Muawiyah), al-Walid ibn Utbah ibn Abu Sufyan bersikap enggan saat didesak oleh Yazid dan petinggi Bani Umayyah untuk membunuh Imam Husain dan mengirimkan penggalan kepalanya ke Damaskus; perpindahan Hadhrat Abdullah ibn Zubair dari Madinah ke Makkah di malam hari diam-diam melewati jalan yang tak biasa;

akhir bulan Rajab 60 H: perpindahan Hadhrat Husain ra dan rombongan dari Madinah ke Makkah di siang hari melewati jalan umum dan sampai pada 3 Sya’ban, 5 hari perjalanan; Sya’ban 60 H dan seterusnya: surat-surat tokoh-tokoh Kufah kepada Hadhrat Husain ra di Makkah berisi undangan untuk datang ke Kufah dan permintaan kepada beliau agar membimbing dan memimpin mereka; Ramadhan 60 H: gubernur Madinah, al-Walid dicopot dan diganti; Hadhrat Husain ra mengirim wakilnya ke Kufah, Muslim bin Aqil; sesampai di Kufah, Muslim bin Aqil mengirim kabar baik sambutan dan baiat ribuan penduduk Kufah kepada Hadhrat Husain ra; pencopotan gubernur Kufah (dulu diangkat oleh Muawiyah), an-Nu’man bin Basyir yang lunak diganti Ubaidullah ibn Ziyad yang kejam; Qadhi Syuraih tetap menjadi Hakim kota Kufah; jalan-jalan dan perbatasan kota Kufah dijaga tentara ibn Ziyad; terjadi perubahan situasi, penduduk Kufah menjauhi Muslim; Muslim tidak bisa mengirim kabar situasi terbaru kepada Hadhrat Husain ra; Muslim dieksekusi.

8 Dzul Hijjah 60 H dan seterusnya: keberangkatan Hadhrat Husain ra dari Makkah ke Kufah; jumlah dan detail rombongan ke Kufah; tempat-tempat transit dan percakapan yang terjadi; rombongan bertambah di tiap transit tapi demi mendengar kabar penduduk Kufah banyak yang menyeberang ke pihak ibn Ziyad dan kesyahidan beberapa kurir dan utusan yang dikirim Imam Husain ke Kufah, jumlah rombongan berkurang drastis dari 1000 orang lebih sampai malam terakhir di Karbala tinggal 72-73 laki-laki (32 berkuda dan 40 pejalan kaki) belum termasuk kaum wanita dan anak-anak; 2 Muharram 61 H: rombongan Hadhrat Husain ra dicegat masuk kota Kufah oleh pasukan perintis utusan gubernur Kufah dipimpin al-Hurr; sempat terjadi pembicaraan antar keduanya; rombongan Hadhrat Husain ra berkemah dan memberi air minum kepada pasukan al-Hurr yang kehausan; al-Hurr dan pasukan ikut shalat berjamaah di belakang Imam Husain sebagai imam; Al-Hurr dan pasukannya juga menghadang ketika rombongan Hadhrat Husain ra hendak pulang ke Madinah dan meminta Hadhrat Husain ra menghadap gubernur Kufah untuk baiat atau tetap di wilayah itu dan berkemah di arah yang ditentukannya; Hadhrat Husain membeli sebidang tanah ke perkampungan terdekat dan meminta tolong mereka mengurus jenazah beliau dan rombongan nantinya; 3 Muharram: kedatangan Umar bin Sa’ad disertai pasukan besar mengambil alih komando pasukan ibn Ziyad di Karbala dan kemah-kemah pasukan gubernur Kufah didirikan di daerah itu; Umar bin Sa’ad, komandan lapangan pengepungan dan pembunuhan Hadhrat Husain, putra Sa’ad ibn Abi Waqqash ra. Sa’ad sahabat senior, pernah menjadi gubernur Kufah. 7-9 Muharram: pembicaraan antara Hadhrat Husain ra dengan Umar bin Sa’ad; blokade makanan dan air minuman dimulai; dua malam dua kali blokade air dapat ditembus, berkantong-kantong air dibawa pasukan berkuda pihak Imam Husain;

9 Muharram: Kamis sore hari, 6.000 pasukan dipimpin Syimir Dzil Jausyan (ia terlibat pemberontakan terhadap Hadhrat Khalifah Utsman) datang ke lokasi; terjadi lagi pembicaraan antara Hadhrat Husain ra dengan Umar bin Sa’ad; malam hari Imam Husain berpidato kepada pengikut beliau mempersilakan mereka jika ingin meninggalkan beliau demi keselamatan mereka, lampu-lampu penerang dimatikan biar mereka tak malu untuk pergi;

Jumat, 10 Muharram: al-Hurr meminta ijin kepada atasannya, Umar bin Sa’ad, untuk memberi air minum kepada rombongan Imam Husain tapi ditolak; al-Hurr dan beberapa pasukan ibn Ziyad menyeberang ke pihak Hadhrat Husain ra; di detik-detik terakhir ia baru tahu setelah bertanya kepada atasannya bahwa membunuh Imam Husain adalah pilihan pasti kebijakan atasan dari atasannya itu; Hadhrat Husain ra berkuda ke pasukan musuh dan berpidato memberikan nasehat; berkali-kali beliau memberikan nasehat dan juga peringatan termasuk juga pasukan beliau ra kepada mereka; pecahnya pertempuran dimulai serangan anak panah oleh Umar bin Sa’ad diikuti panah-panah pasukannya; dari waktu pagi hingga waktu sore/ashar; jeda sejenak pertempuran untuk shalat zhuhur khauf; shalat berjamaah Imam Husain diganggu lontaran anak panah musuh hingga 2 anggota jamaah syahid; detail pertempuran termasuk cara, proses dan pelaku pensyahidan Hadhrat Husain ra dan pasukannya; semua laki-laki rombongan Husain memperlihatkan ketangguhan dan kegigihan; umumnya mereka dibunuh dengan cara diserang serentak dan bertubi-tubi oleh pasukan bersenjatakan panah, tombak, pedang dan batu;

Hadhrat Husain ra berperang sambil mengendarai kuda; saat banyaknya luka anak panah yang mengenai beliau; beliau turun dari kuda dan berjalan; pasukan musuh mengerumuni beliau; saat proses disyahidkannya Imam Husain sedang terjadi, kemah-kemah pun diserang; ada anak-anak dan kaum wanita yang dibunuh; Hadhrat Husain ra syahid, tubuh beliau tidak utuh, para penyerang menjarah apa pun yang ada di tubuh beliau termasuk baju dan celana; pasukan ibn Ziyad tidak membunuh Ali bin Husain (masih remaja dan tergolek sakit); pasukan ibn Ziyad mengirim laporan ke Kufah; gubernur Kufah mengirim laporan ke Damaskus; blokade air minum dilonggarkan sehingga bisa minum; pasukan ibn Ziyad mengumpulkan kepala-kepala tanpa tubuh dari rombongan Hadhrat Husain ra yang syahid dan menancapkan pada tombak-tombak mereka atau diikatkan di kuda mereka; detail nama dan asal suku pasukan berkuda pembawa kepala-kepala tersebut; umumnya, pasukan ibn Ziyad bukan orang asal dari Makkah dan dari Madinah; imbalan lebih kepada para pasukan yang berperan aktif mensyahidkan rombongan Hadhrat Imam Husain ra.

hari selanjutnya rombongan Hadhrat Husain ra yang masih hidup ditawan dibawa ke kota Kufah; Hadhrat Zainab ra sebagai tameng hidup segera berdiri di depan Ali Zainal Abidin ketika gubernur Kufah memerintahkan untuk menghabisi laki-laki yang masih hidup dari keluarga Imam Husain; perjalanan ke Damaskus; di istana Damaskus; Yazid mengumpulkan para pembesar, pidato Yazid syukur atas ‘kemenangan’ dan celaan kepada Husain dan keluarganya; tanggapan Zainab bin Ali, saudari Husain bin Ali; permintaan hadirin untuk mendengar kata-kata Ali bin Husain (Zainul Abidin); setelah pidato Ali bin Husain dan kata-kata Hadhrat Zainab, serta ungkapan celaan dari sebagian keluarga dan beberapa tokoh di Damaskus atas peristiwa itu, Yazid yang tadinya bersikap bangga sesekali terlihat berduka; Majelis duka para wanita bani Umayyah di istana Damaskus; Yazid memberikan perbekalan dan pengawalan bagi rombongan Hadhrat Husain ra yang hendak kembali ke Madinah.

Tuduhan (fatwa) Yazid atas Husain: خرج من الدين kharaja minad diin (keluar dari agama), قطع رحمي وجهل حقي ونازعني سلطاني (memutus silaturrahmi dll) Tuduhan dan fatwa Ubaidullah ibn Ziyad dan petinggi pasukannya atas Husain: al-kadzaab (sangat pendusta), مرق من الدين وخالف الإمام maraqa minad diin wa khaalafal imam (merusak agama dan menentang Pemimpin) dan shalatnya tidak diterima jadi percuma shalat (Thabari). Permintaan Hadhrat Imam Husain ra kepada musuh yang ditolak diantaranya: 1. Membiarkan beliau dan rombongan pergi keluar dari negeri Islam atau ke perbatasan; 2. Tidak ada dominasi atas air minum, biarkanlah wanita dan anak-anak menikmati air minum dari sungai Furat. Di perang Badr, Nabi saw tidak melarang pihak musuh mengambil air dari sumber air yang beliau kuasai. Begitu juga sikap Hadhrat Ali kepada pasukan Muawiyah dulu; Permintaan Hadhrat Imam Husain ra yang diterima: 1. Menghabiskan malam hari sebelum diserang dalam ibadah dan doa; 2. Berperanglah dengan satria, satu lawan satu. Permintaan ini akhirnya diingkari oleh Umar ibn Saad karena kekalahan para pasukannya. Sikap pendamai Hadhrat Husain ra: 1. Sengaja membawa rombongan yang bukan pasukan untuk perang; 2. Menolak beberapa kali saran beberapa pengikut beliau ra untuk menyerang lebih dulu pasukan perintis dan pasukan selanjutnya; 3. Berpindah dari tempat semula karena pasukan musuh yang bertambah banyak ingin berkemah di dekat sungai Furat. Mereka nanti mendominasi air sungai Furat.

Para kurir, pengendara kuda yang cepat mengantar surat perintah dan laporan kepada dan dari para pemimpin pasukan-pasukan. Dari Umar bin Sa’ad ada kurir kepada dan dari Ubaidillah bin Ziyad di Kufah dan dari Kufah juga ada kurir kepada Yazid. Secepatnya, semua keadaan dan perubahan keadaan dilaporkan dan juga dimintai perintah. Peran kurir juga sebagai mata-mata memastikan perintah dilaksanakan.

Beberapa peristiwa setelah pensyahidan Imam Husain: 1. Umar ibn Saad frustasi berat hampir gila, surat keputusan pengangkatannya sebagai walikota Ray dan Jurjan dibatalkan karena saat peristiwa Karbala, ia mengadakan pembicaraan dengan Imam Husain tanpa ijin atasannya. Menurutnya, itu tak masalah karena detail perintah atasannya semua telah dilaksanakan, contohnya, blokade air minum dan juga menginjak-injak jasad Imam Husain dengan kuda-kuda; 2. Pada 64 H, Yazid meninggal tiba-tiba. Ia 3 tahun lebih menduduki ‘Khilafat’ (kerajaan). Mendengar ini, pasukannya yang sedang menyerang Makkah untuk kedua kalinya mundur; 3. Pada 66-67 H, bangkit gerakan Mukhtar Abu Ubaid ats-Tsaqafi, saudara istri (ipar) Hadhrat Abdullah ibn Umar ibn al-Khaththab ra dan juga ex-perwira Abdullah ibn Zubair. Setelah dua kali dipenjara di masa Yazid dan di masa Mush’ab ibn Zubair, dan bebas atas surat permohonan iparnya, ia mendirikan pemerintahan sendiri di Irak. Kebijakannya, mengeksekusi eksekutor pensyahidan Imam Husair ra dan rombongannya. Ia mengirim panglima Ibrahim bin Malik Asytar memerangi dan berhasil membunuh Ubaidullah ibn Ziyad. Umar ibn Saad dan yang lainnya akhirnya dieksekusi, termasuk yang memanah salah satu putra Imam Husain yang masih bayi.

[1] Semoga Allah Ta’ala mengokohkannya dengan kekuatan-Nya yang agung

[2] Kalaam-e-Mahmud, Majmu’ah Manzhuum Kalaam Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani ra, nazm ke-94, halaman 218

Mushlih Mau’ud (Pembaharu yang Dijanjikan) ialah sebutan untuk Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih II. Beliau hidup dari tahun 1889 sampai dengan 1965. Memimpin Jemaat Ahmadiyah sebagai Khalifah dari tahun 1914 hingga wafatnya. Beliau bertempat tinggal di Qadian, India (hingga 1948) dan Rabwah, Pakistan (mulai 1948).

[3] Peringatan kesyahidan Imam Husain yang diadakan di beberapa negara oleh orang Syiah diwarnai dengan atraksi di jalan-jalan dengan melukai diri sendiri. Perayaan sangat tragis terjadi di Irak, Iran dan Pakistan. Kota Kufah berada di Irak. Pada masa Hadhrat Husain ra, ribuan orang-orang Kufah yang tadinya bersumpah setia kepada Imam Husain berbalik menentang Imam Husain dan bergabung dengan tentara Ubaidillah bin Ziyad, perwira Yazid. Beberapa waktu setelah syahidnya Imam Husain, mereka mengalami kesedihan dan penyesalan luar biasa karena telah ikut memerangi Imam Husain dan para pengikut beliau.

[4] Syahidnya Khalifah Utsman ra (655 M) membuat umat Islam terbagi menjadi beberapa golongan; 1. Yang mendukung Khalifah Ali ra yang terpilih setelahnya; dan 2. Yang menunda berbaiat hingga tuntutan hukuman terhadap pembunuh Khalifah Utsman terpenuhi seperti Muawiyah di Damaskus, Syria dan Aisyah di Makkah. Sebelum beliau ra syahid telah ada golongan yang menimbulkan dan menambah kekeruhan diantara kaum Muslim yang dipimpin Abdullah bin Saba, seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam, jumlah mereka dua-tiga ribuan. Merekalah otak perencana dan eksekutor pembunuhan Khalifah Utsman ra. Menurut Hudhur II ra dalam pidato beliau ra berjudul ‘Khilafat ‘Alawi’ menyebutkan bahwa mereka sangat pandai, licin dan halus dalam berpolitik untuk menimbulkan fitnah (kekacauan).

 Khalifah Ali ra berpindah ibukota dari Madinah ke Kufah (Irak). Hingga Khalifah Ali ra wafat (660) umat Islam masih terbagi menjadi beberapa golongan. Beberapa bulan kemudian, lewat perjanjian dengan lebih dari 5 poin syarat, Hadhrat Hasan putra Ali menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah agar umat Islam bersatu. Dua puluh tahun kemudian, sebelum Muawiyah wafat (680), ia telah mengangkat putranya Yazid sebagai penggantinya tanpa musyawarah pemuka-pemuka Islam keturunan sahabat awwalin. Orang-orang Kufah yang dulu mendukung Khalifah Ali ra mengundang Hadhrat Imam Husain ra datang ke Kufah. Secara bergelombang, Ubaidullah bin Ziyad mengirim ribuan pasukan (4.000-30.000) untuk mencegat dan mengepung Imam Husain yang baru sampai di Karbala, 70 km dari Kufah dekat Sungai Eufrat. Tragisnya, orang-orang Kufah yang dulu menyatakan setia dan mendukung Hadhrat Husain ra berbalik membela musuh disebabkan tawaran menggiurkan Ubaidullah dan ancaman hukuman bila menolak. Selain mereka yang diam di rumah atau dipenjara bagi yang menolak, ribuan penduduk Kufah lainnya bergabung dengan pasukan Yazid. Hanya segelintir saja yang berhasil datang dan membela Husain.

[5]Al-Mustadrak oleh al-Hakim dalam ‘Ma’rifatush Shahaabah’ (Pengetahuan tentang para sahabat), bab al-Hasan wal Husain sayyidaa syabaabi ahlil jannah. Juga tercantum dalam Sunan At-Tirmidzi, Kitabul Manaqib, bab Manaqib al-Hasan wal Husain ‘alaihimas salaam

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ- أَنَّهُ قَالَ‏:‏ ‏”‏ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ إِلَّا ابْنَيِ الْخَالَةِ ‏”‏‏.‏

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ-‏:‏ ‏”‏ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ سَيِّدَا شَبَابِ أَهْلِ الْجَنَّةِ، وَأَبُوهُمَا خَيْرٌ مِنْهُمَا ‏”‏

[6] Sunan At-Tirmidzi, Kitabul Manaqib, bab Manaqib al-Hasan wal Husain ‘alaihimas salaam. “Ini adalah kedua putraku. Putra dari putriku. Ya Allah, sesungguhnya aku menyintai keduanya, dan Engkau juga cintailah mereka berdua dan cintailah sesiapa yang menyintai keduanya.” (‘Allahumma innii uhibbuhumaa fa ahibbahumaa wa ahibba may yuhibbuhuma.’)

 أَخْبَرَنِي أَبِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ طَرَقْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فِي بَعْضِ الْحَاجَةِ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُشْتَمِلٌ عَلَى شَيْءٍ لاَ أَدْرِي مَا هُوَ فَلَمَّا فَرَغْتُ مِنْ حَاجَتِي قُلْتُ مَا هَذَا الَّذِي أَنْتَ مُشْتَمِلٌ عَلَيْهِ قَالَ فَكَشَفَهُ فَإِذَا حَسَنٌ وَحُسَيْنٌ عَلَيْهِمَا السَّلاَمُ عَلَى وَرِكَيْهِ فَقَالَ: «هَذَانِ ابْنَايَ وَابْنَا ابْنَتِي اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُمَا فَأَحِبَّهُمَا وَأَحِبَّ مَنْ يُحِبُّهُمَا». قَالَ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ.

[7] Hadhrat Imam Husain ra disyahidkan pada tahun 61 Hijriyah (680 M), berumur sekitar 57 tahun pada zaman Yazid bin Muawiyah baru bertahta. Hampir 50 tahun setelah wafat Nabi saw (w. 11 H/632 M), 20 tahun setelah wafat ayahnya, Hadhrat Ali ra pada 660 M. (Redaksi)

[8] Shahih Muslim, Kitabul Jihaad was sair (kitab tentang Jihad dan perjalanan) baab ta-miirul imam al-umara ‘alal bu’uts wa washiyyatihi iyyahum bi adabil ghazwi wa ghairiha (bab perintah dari pemimpin tertinggi kepada para Amir/Komandan untuk menegakkan adab/sopan-santun berperang)

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِي خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللَّهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنَ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا ثُمَّ قَالَ: «اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ اغْزُوا وَلاَ تَغُلُّوا وَلاَ تَغْدِرُوا وَلاَ تَمْثُلُوا وَلاَ تَقْتُلُوا وَلِيدًا.

[9] Al-Mustadrak oleh al-Hakim, Kitab Ma’rifatish Shahabah, bab kesyahidan Husain di hari Jumat, 10 Muharram (Asyura)

عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ‏:‏ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ حَامِلٌ الْحُسَيْنَ بْنَ عَلِيٍّ وَهُوَ يَقُولُ‏:‏ ‏”‏ اللَّهُمَّ إِنِّي أُحِبُّهُ فَأَحِبَّهُ ‏”‏‏.

[10] Mustadrak Al-Hakim, jilid 3 halaman 166, kitab ma’rifah Shahabah, manaqib (keistimewaan) Al-Hasan wa Al-Husayn.

الحسن والحسين إبناي من أحبهما أحبني ومن أحبني أحبه الله ومن أحبه الله أدخله الله الجنّة ، ومن أبغضهما أبغضني ومن أبغضني أبغضه الله ومن أبغضه الله أدخله النار. قال : هذا حديث صحيح على شرط الشيخين

“Al-Hasan dan Al-Husain, keduanya puteraku, siapa yang menyintai mereka ia menyintaiku, siapa yang menyintaiku ia dicintai oleh Allah, dan barangsiapa yang dicintai oleh Allah ia akan masuk surga. Barangsiapa yang membenci mereka ia membenciku, barangsiapa yang membenciku ia dibenci oleh Allah, dan barangsiapa yang dibenci oleh-Nya akan masuk neraka.” Al-Hakim berkata: Hadis ini shahih menurut persyaratan Bukhari dan Muslim.

“Barangsiapa menyintai keduanya (Al-Hasan dan Al-Husain), maka aku menyintainya, barangsiapa telah kucintai, maka Allah menyintainya, dan barangsiapa telah dicintai oleh Allah, niscaya Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan. Barangsiapa membenci mereka atau berbuat zalim terhadap mereka, maka aku membencinya, barangsiapa telah kubenci, maka Allah membencinya, dan barangsiapa yang dibenci oleh Allah, niscaya Ia akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam dan baginya siksa yang kekal.” Riwayat Ibn Asakir dan Biharul Anwar, jilid 43, hal. 275.‏

[11] Dikutip dari Daairatul Ma’aarif Islamiyah (Ensiklopedia Islami) pada kata ‘Al-Hasan ibn ‘Ali ra’ jilid VIII, h. 251, Dansygah, Punjab, Lahore, 2003

[12] Tarikh ath-Thabari

أعلى قتلي تحاثون أما والله لا تقتلون بعدي عبدا من عباد الله أسخط عليكم لقتله مني وايم الله إني لأرجو أن يكرمني الله بهوانكم ثم ينتقم لي منكم من حيث لا تشعرون أما والله أن لو قد قتلتموني لقد ألقى الله بأسكم بينكم وسفك دماءكم ثم لا يرضى لكم حتى يضاعف لكم العذاب الأليم

[13] Tarikh ath-Thabari, jilid VI, h. 243-250, Khilaafat Yazid bin Muawiyah, Darul Fikr, Beirut, 2002 dan Akbar Syah Khan Najib Abadi, dalam ‘Tarikh Islam’, halaman 51 s.d. 78, Nafees Academy, Karachi, edisi 1998.

Teks Arab dari Tarikh ath-Thabari dibawah ini menyebut beberapa hal: 1. Shalat Jamaah di masjid besar Kufah; 2. Orang-orang banyak berkumpul di sana; 3. Pidato Ubaidullah bin Ziyad memuji Allah karena telah memenangkannya dan telah membunuh al-Kadzdzaab putra al-Kadzdzaab (pendusta putra pendusta, na’udzu billah, itu sebutan dia utk Husain bin Ali); 4. dipancangkannya kepala Husain di kota Kufah; 5. Pengiriman kepala beliau kepada Yazid di Damaskus.

قال حميد بن مسلم لما دخل عبيدالله القصر ودخل الناس نودي الصلاة جامعة فاجتمع الناس في المسجد الأعظم فصعد المنبر ابن زياد فقال الحمد لله الذي أظهر الحق وأهله ونصر أمير المؤمنين يزيد بن معاوية وحزبه وقتل الكذاب ابن الكذاب الحسين بن علي وشيعته

قال أبو مخنف ثم إن عبيدالله بن زياد نصب رأس الحسين بالكوفة فجعل يدار به في الكوفة ثم دعا زحر بن قيس فسرح معه برأس الحسين ورؤوس أصحابه إلى يزيد بن معاوية وكان مع زحر أبو بردة بن عوف الأزدي وطارق بن أبي ظبيان الأزدي فخرجوا حتى قدموا بها الشأم على يزيد بن معاوية

[14] Malfuzhaat (Kumpulan Sabda), jilid IV (semuanya 10 jilid), h. 580, Rabwah

[15] Majmu’ah Isytihaarat (Kumpulan Selebaran), jilid I (semuanya 3 jiid), h. 178, surat untuk Maulwi ‘Abdul Jabbar, Terbitan Rabwah

[16] Akbar Syah Khan Najib Abadi, ‘Tarikh Islam’, jilid II, h. 68, op.cit.

[17] Kamiyabi, Anwarul ‘Uluum jilid 10 h. 589

[18] ‘Khilafat Rasyidah’, Anwaarul ‘Uluum, jilid XV, h. 557-558

[19] Izalah Auham, Ruhani Khazain jilid III halaman 136-137 Terbitan Rabwah

[20] Khutubaat-e-Mahmud (kumpulan khotbah) jilid XV, h. 498-499, Rabwah

[21] Majmu’ah Isytihaarat jilid III halaman 544-546, selebaran 270, Rabwah

(Visited 14 times, 3 visits today)