Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad,

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

20 Februari 2004 di Masjid Baitul Futuh, London, UK

 

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Ali-Imran 135

(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.)

Apabila dalam masyarakat tanggapan atau perasaan akan keburukan-keburukan sudah lenyap, maka setiap orang yang tinggal dalam masyarakat seperti itu pasti sedikit banyak  akan terpengaruh dan  perasaan terkait dengan   pribadi masing-masing  dan hak-hak pribadi menjadi sangat besar  sehingga sedikitpun tidak ingin memaafkan  kekeliruan orang lain; karena itu, perhatikanlah dalam masyarakat dewasa ini, pabila seseorang sedikit saja terlibat dalam suatu  kesalahan  maka  terjadi   keributan, hingga baik dari pihak salah seorang  kerabatnya sekalipun dan sejumlah orang sama sekali tidak  siap untuk memaafkan. Oleh sebab  itulah timbul  keretakan antara suami dan istri, pertengkaran terjadi antara saudara laki dan saudara perempuan, pertengkaran antara tetangga dengan tetngga, perselisihan antara sesama pemegang modal dalam sebuah  perusahaan dan antara sesama  petani dengan petani, sehingga terkadang seorang musafir  tidak mengenal  siapa-siapa  karena akibat hal-hal kecil  sekalipun terjadi pertenkaran. Misalnya, pundak seorang pejalan kaki terkena senggolan akibat keramaian    atau karena  suatu sebab lainnya  atau seseorang terkena kaki maka segera yang lain wajahnya menjadi  merah padam  lalu keluar  ucapan kasar , kemudian orang yang keduapun akibat  dia juga merupakan produk zaman ini di dalam  dirinya pun  tidak ada  kemampuan untuk menahan sabar yang akibatnya   gayungpun bersambut lalu   membalikkan ucapan  itu sebagai  jawaban padanya. Dan terkadang  kasusnya menjadi berkembang dan terus berkembang hingga berakhir dengan  perkelahian  dan  pertumpahan darah.

Kemudian anak-anak saat bermain pun  berkelahi lalu yang dewasapun tampa sebab ikut  terlibat  membela sehingga  akibatnya yang besarpun ikut terlibat di dalamnya,  semoga Allah melindungi. Ketidak- sabaran masyarakat  dan pengaruh tidak memaafkan ini secara tidak terasakan juga menjangkiti anak-anak.

Pada beberapa hari yang lalu seorang kolumnis menulis  di sebuah rubrik  bahwa seorang bapak, yakni seorang temannya menjual  senjatanya hanya karena  di RT  nya dalam perkelahian antar anak-anak ,anaknya yang berumur 10-11 tahun  tatkala  sedang berkelahi dengan teman sebaya nya ,maka orang-orang  ikut merelainya. Sesudah itu anak itu pulang ke rumah lalu mengambil pistol atau senjata lain bapaknya lalu keluar untuk membunuh teman sebayanya itu. Dia menulis, syukur pistolnya tidak jalan,jiwanya selamat. Tetapi lingkungan  ini dan prilaku orang-orang seperti ini    berpengaruh pada anak-anak. Dan kondisi masyarakat  ini sama sekali tidak dapat sabar untuk memaafkan, samasekali  tidak terbiasa; dan pristiwa yang saya terangkan ini adalah  pristiwa  yang terjadi  di Pakistan, tetapi di Eropa juga banyak pristiwa-pristiwa  serupa itu yang contoh-contohnya kita dapatkan dan terkadang dimuat juga dalam surat-surat  kabar. Nah, apabila serupa ini kondisinya  maka cermatilah betapa besarnya tanggung jawab seorang Ahmadi. Perlu upaya yang sangat keras untuk melindungi diri sendiri dan melindungi genersi muda kita dari masarakat yang telah  dihinggapi penyakit akhlak seperti itu. Dan untuk kita betapa  menjadi sangat  pentingnnya bagi  kita berupaya mengamalkan ajaran Al-Quran secara utuh.

 Ayat yang telah saya tilawatkan ini, di dalamnya  Allah berfirman : Orang-orang  yang membelanjakan harta mereka dalam kondisi rezekinya  murah dan  sejahtera  dan juga dalam  keadaan sulit juga,dan dia   merupakan sosok yang menahan marahnya dan  memaafkan orang lain dan Allah mencintai orang yang berbuat ihsan /kebaikan.

Di dalam ayat ini dalam kaitan  dengan orang-orang  yang berbuat ihsan Dia memberitahukan bahwa apabila kamu tidak  melihat, apakah keperluan-keperluan  kamu cukup atau tidak, kamu dalam kondisi  ekonomi  baik  atau tidak, dan   dalam setiap kondisi  kalian akan mulai memperhatikan saudara-saudara  kalian, maka akan lahir ruh untuk melakukan kebaikan; dan kemudian bersabda  bahwa  akhlak yang  besar adalah pabila dapat menahan marah dan memperlakukan orang-orang dengan  maaf   dan memaafkan mereka. Jadi Allah berfirman:Apabila kalian berupaya bersikap   femaaf dan membiasakan diri memberi maaf, dengan niat supaya  jangan berkembang fitnah dalam masyarakat ,dengan maksud dengan sikap kamu itu orang yang kamu  maafkan itu menjadi baik,maka Allah berfirman bahwa Saya mencintai orang-orang yang seperti itu.

Dalam masyarakat dewasa  ini, di mana disetiap arah   nampak kondisi  orang-orang bersifat  masing-masing/acuh tak acuh, hanya mementingkan diri sendiri , akhlak –akhlak yang disebutkan tadi pada pandangan Allah tambah merupakan akhlak yang sangat  dinyatakan disukai dan hari ini jika ada yang dapat menunjukkan  itu maka itu adalah orang-orang ahmadi. Yang mana untuk  menjabarkan segenap perintah-perintah itu telah memperbaharui baiatnya di tangan imam zaman pada saat ini. Allah dengan memperhatikan pentingnnya sifat  pemaaf, di berbagai tempat di dalam Al-Quran telah memberikan perintah-perintah berkaitan dengan itu dan berkenaan dengan   berbagai perkara /perintah dalam berbagai surat. Saya akan menyampaikan satu dua misal lagi.

Allah di tempat lain dalam Al-Quran berfirman

   خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ –Surat Al-A’raf 200 (Jadilah engkau pema`af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh). Yakni maafkanlah, perintahkanlah pada kebaikan dan menjauhlah dari orang-orang  jahil. Disini berfirman, gunakanlah  sifat pemaaf dan perintahkanlah untuk melakukan kebaikan dan jika melihat perkara yang keliru , maka maafkanlah dan janganlah tergesa-gesa  marah lalu menimbulan pertikaian  dan bersama itu pula bagi yang melakukan pelanggaran  berilah pengertian dengan  tenang bahwa lihatlah,apa yang baru kamu ucapkan itu tidak tepat /layak dan jika dia tidak berhenti maka merupakan  orang yang jahil/dungu,untuk kamu sepatutnya tinggalkanlah dia,biarkanlah  dia pada kondisinya. Lihatlah betapa indahnya perintah ini dan  jika dalam corak apapun dilakukan maaf maka tidak akan mungkin dalam masyarakat terjadinya fitnah dan kerusuhan. Tetapi disini kemudian  timbul masaalah  bahwa jika demikian maka para penebar fitnah dan pelaku tindak  kerusuhan  akan mendapatkan angin segar dan leluasa   sepenuhnya. Dan mereka akan terus menjadi malapetaka bagi  orang-orang  yang mencintai kedamaian dan orang-orang yang memiliki tatakerama /beradab akan tersingkir. Tidaklah dapat difahami pabila para pelaku tindak kerusuhan tetap berada   dalam masyarakat lalu terus melakukan aktivitasnya ,  perbaikan terhadap  mereka seyogianya harus ada dan jika dengan perlakuan maaf  kamu tidak menjadikan mereka baik maka untuk tujuan perbaikan mereka    Allah pun tidak melepaskan orang-orang seperti itu.

 وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ             الظَّالِمِينَ

Surat As-syura 41 Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barangsiapa mema`afkan dan berbuat baik maka pahalanya ada pada /atas tanggungan Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang aniaya.

Kini, jelas bahwa tidak setiap orang  dapat menuntut  balas atas suatu keburukan, sebab andaikata dia melihat bahwa si fulan tidak  ada perubahan atau perbaikan,   tidak  mau berhenti  lalu  dia sendiri   (secara sepihak) andaikata  ingin mengupayakan  perbaikan orang itu  maka dapat terjadi   fitnah dan kekacauan    dalam masyarakat dan itu merupakan hal-hal yang melanggar   undang-undang dan akibat dari itu akan berkembang kondisi tidak berlakunya   undang-undang. Apabila sudah demikian  maka harus mengambil perlindungan   hukum/undang-undang  negara dan  undang-undang sendiri yang akan menghukum  orang-orang seperti itu. Dan kebanyakan disaksikan  bahwa pada umumnya seperti itulah yang terjadi, yakni  mereka  merupakan orang-orng  yang  menganggap diri mereka paling hebat/berwibawa, dan  merupakan orang-orang yang menabur fitnah dan kekacauan ,   dan para penebar anti undang-undang ini  apabila undang-undang menjerat mereka maka mereka kembali pada perdamaian , mulai berdatangan rekomendasi-rekomendasi  bahwa berdamailah dengan  kami;  bersabda. pada hakekatnya  tujuan kamu adalah perbaikan,karena itu  jika kamu  meyakini  bahwa dengan perlakuan  maaf kamu  itu dapat terjadi   perbaikan ,maka maafkanlah,namun  jika kalian  berfikir bahwa dengan memaafkan  perbaikan bagi dirinya tidak akan bisa,orang ini    sebelumnya  gerakan-gerakan negatif  terus dia lakukan  dan sebelumnya pun juga beberapa kali telah dimaafkan, tetapi sama sekali  tidak menghiraukan ,dia ini merupakan sosok   yang  tidak dapat diperbaiki , maka bagaimanapun juga  orang  seperti itu harus mendapat hukuman dan sesuai dengan itu organisasi Jematpun dapat memberikan sangsi/ hukuman, berlaku mekanisme penerapan hukuman.Yakni  apabila anda  tidak mengindahkan  hukum-hukum Tuhan, apabila anda  merampas hak –hak orang lain, apabila  anda berupaya menahan tanah  saudara-saudara  kalian atau berupaya menguasai harta mereka, pabila kalian menyakiti istri-istri kalian maka anda  akan mendapat hukuman dari organisi. Bagi seorang yang mendapat hukuman  dia  mulai menyampaikan   permohonan bahwa Allah suka memaafkan ,segera saja serta merta perintah memaafkan itu segera ada dihadapannya dan dia mulai menjadi mufassirnya/menjadi orang yang ahli mengomentari. Dia lupa hal yang selanjutnya  bahwa untuk perbaikan memberikan hukuman juga merupakan perintah Tuhan. Setiap Ahmadi seyogianya memperhatikan hal itu  bahwa apabila dalam masayarakat yang mengerikan itu pun dia tidak berupaya memperbaiki sikapnya maka sesuai dengan sabda Hadhrat Masih Mauud a.s.  dia akan dicampakkan . Walhasil demi untuk perbaikan memberi maaf adalah  sikap  yang lebih baik. Tetapi jika ingin menuntut balas maka ini bukanlaah merupakan pekerjaan setiap orang untuk semaunya berbuat dengan  undang-undang. Ini merupakan tugas/ pekerjaan undang-undang bahwa demi untuk perbaikan dilakukan evaluasi hukum atau jika kasusnya ada pada organisasi Jemaat maka nizam Jemaat  sendiri akan melihat bahwa setiap orang bagaimanapun juga tidak ada hak setiap orang untuk saling  menghukum satu dengan yang lain..

Sebagaimana pada awalnya saya juga telah katakan bahwa terhadap kekeliruan-kekeluruan yang kecil-kecil  seyogianya memberikan maaf supaya dalam masyrakat  dapat lahir kondisi rukun dan  tercipta lingkungan damai. Pada umumnya pelaku tindak kejahatan yang tidak terbiasa,  baru pemula (dalam operasionalnya), dia menjadi malu apabila diperlakukan dengan perlakuan maaf dan merekapun mulai memperbaiki dirinya  dan merekapun meminta maaf.

Dalam kaitan ini Hadhrat Muslih Mauud r.a. menyinggung dengan terinci bahwa kepada orang-orang mu’min Dia telah memberikan  petunjuk umum  bahwa seyogianya memaafkan kesalahan-kesalahan orang lain, dan hendaknya  menutupi  kesalahan-kesalahan mereka, tetapi masaalah memafkan merupakan masaalah yang sangat rumit. Sejumlah   orang dengan  kedunguan   keluar dari  satu pihak  dan sejumlah orang dari pihak lain . Orang-orang apabila kesalahannya(yang pernah dia lakukan) ada yang melakukan  ,maka mereka mengatakan bahwa  yang melakukan kesalahan harus  seyogianya  dihukum supaya orang lain mendapat pelajaran, sedangkan  yang melakukan kesalahan  mengatakan,   merupakan perintah Tuhan bahwa kita seyogianya harus memaafkan , Allah sendiri memaafkan hamba-hamba-Nya. Jadi apabila  Allah mamaafkan hamba-hamba-Nya maka andapun tunaikanlah hak-hak hamba-hamba-Nya juga.  Inilah sikap /perlakuan anda  juga seyogianya dengan  hamba-hamba-Nya.  Tetapi semuanya ini merupakan fatwa egois. Seorang  yang mengatakan bahwa Tuhan memaafkan, maka hamba-hamba pun seyogianya pula harus  memaafkan,ungkapan serupa itu  dia katakan  apabila  dia sendiri  sebagai pelakunya. Jika bukan dia sebagai pelaku kesalahan itu,   maka  baru kami akan mengakui perkataannya,tetapi apabila ada yang melakukan kesalahannya, maka baru ungkapan ini   dia  tidak katakan; demikian pula orang yang menekankan pada perkataan,jangan hendaknya memaafkan,bahkan hendaknya memberikan hukuman,itupun pada saat itulah dia katakan ini apabila ada orang lain yang melakukan kesalahannya,tetapi apabila  dia sendiri yang melakukan kesalahan   baru ungkapan  ini tidak akan dia ungkapkan . Pada waktu itu dia inilah yang dia   katakan, bahwa Tuhan apabila memaafkan maka kenapa hamba /manusia tidak memaafkan. Jadi kedua fatwa ini merupakan fatwa yang termasuk dalam fatwa egois. Fatwa itu baru bisa  benar apabila di dalamnya jangan ada keinginan pribadi  dan itu adalah fatwa /ajaran apa yang  Al-Quran berikan  bahwa, siapapun yang  terlibat dalam dosa /kesalahan  maka perhatikanlah,  apakah dalam  memberikan hukuman/menghukum bisa terjadi perbaikan atau dalam memaafkan bisa terjadi perbaikan. Tafsir Kabir jilid 6 hal 285

Kini  berkenaan dengan itu saya sedikit akan menerangkan  dari segi hadis-hadis  dan sikap  Rasulullah saw juga akan  saya sampaikan.

Hadhrat Muaz bin Anas menuturkan bahwa Rasulullah saw bersabda: Kelebihan/keistimewaan  yang paling besar ialah  anda  menegakkan/menyambung  pertalian  dengan orang-orang yang memutuskan hubungan tali kekerabatan dan barangsiapa yang tidak memberikan kepada kamu,maka berilah juga kepada mereka dan maafkanlah orang  yang mencerca  kamu. Musnad Ahmad bin Hanbal.

Bersabda: Kedudukan kamu akan terbentuk /mulia apabila terhadap orang yang dengan cara apapun  dia  menyikapi anda dengan celaan,,memutuskan perhubungan dengan anda ,  siap bertikai  dengan anda dan anda pun mampu untuk itu,namun anda tetap  memaafkan mereka, inilah standar ketakwaan yang paling tinggi. Kemudian bersabda, kamu janganlah menyangka bahwa kelebihan/keistimewan gerakan  kamu itu  hanya ada pada pandangan saya atau pada pandangan Allah; bahkan ingatlah,  andaikata kamu memaafkan orang lain demi untuk Allah maka Allah akan menegakkan/meneguhkan  kehormatan kamu lebih dari sebelumnya,  sebab kemuliaan dan kehinaan adalah berada di tangan Allah.      Musnad Ahmad bin Hanbal.

Tertera dalam sebuah hadis yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw bersabda bahwa dengan membelanjakan harta di jalan Allah harta itu tidak menjadi  berkurang dan hamba Allah seberapa banyak dia memaafkan seseorang maka sebanyak itulah Allah menambah kemuliaannya. Seberapa banyak seseorang merendahkan diri dan bersikap rendah  hati maka sebanyak itulah Allah akan meninggikan derajatnya. Muslim Kitabulbirri washshilah  bab isthbaabul ‘afwi

Kemudian tertera dalam sebuah riwayat yang bersumber dari Hadhrat Abdullah bin Umar bahwa ada seorang yang hadir di hadapan Rasulullah saw  lalu dia bertanya: Ya Rasulullah saw ! saya memiliki seorang khadim yang melakukan perbuatan  yang salah dan melakukan kezaliman apakah saya menyakitinya secara badaniah untuk menghukumnya. Maka atas hal itu Rasulullah saw bersabda kamu maafkanlah dia setiap hari sebanyak tujuh puluh kali.  Musnad Ahmad bin Hanbal.jilid 2 hal 90 Cetakan Beirut

Mereka yang bersikap keras terhadap  para karyawannya mereka seyogianya memperhatikan hadis /hal ini. Seorang  yang berlaku baik pada bawahannya dia  seyogianya memperhatikan hal ini.

Tertera  sebuah riwayat berkenaan dengan Hadhrat Abu Bakar r.a. bahwa tidak ada sahabah, rekan dan kesayangan Rasulullah saw lebih dari Abu Bakar r.a.. Pada saat hijrah Hadhrat Abu Bakar menyertai Rasulullah saw dan senantiasa beserta beliau dan memberikan pengorbanan. Hadhrat Rasulullah saw sangat menghargai beliau, tatkala berimanpun tampa suatu dalil,jadi meskipun adanya semua hal-hal itu beliau r.a. sangat erat ikatan  dengan Rasulullah saw dan kecintaan beliau r.a. sangat dalam  dan beliau saw tegak pada akhlak yang mulia.karena itulah  dari kerabat beliaupun beliau mengharapkan akhlak yang mulia.

Tertera dalam sebuah hadis  yang bersumber dari   Hadhrat Abu Hurairah  r.a. bahwa pada suatu hari seorang pada saat keberadaan Rasulullah saw, dia mencerca Hadhrat Abu Bakar r.a. Hudhur saw mendengar  caciannya itu dengan   tersenyum. Tatkala orang itu sudah mengatakan banyak sekali maka  Hadhrat Abu Bakar menjawab satu atau setengah dari kata-katanya. Atas hal itu beliau marah lalu pergi dari majlis itu. Hadhrat Abu Bakar berjumpa dengan Rasulullah saw , lalu menanyakan, ya  Rasul Allah  ! dia menjelek-jelekkan saya di hadapan Tuan dan Tuan duduk lalu terus tersenyum dan tatkala saya menjawabnya maka Tuan menjadi marah. Maka beliau bersabda : Dia tengah mencerca, anda terus diam, maka  seorang malaikat Allah terus  memberikan jawaban dari pihakmu /terus membela  kamu,tetapi tatkala engkau sebaliknya yang memberikan jawaban maka malaikat lari dan syaitan datang. (karena itu saya pergi) Misykat Abu Hurairah

Dan tatkala syaitan datang maka duduknya Rasyululah disana sudah tidak ada artinya. Inilah standar yang Rasulullah saw ciptakan  pada para sahabah beliau dan  berupaya  menciptakan dan inilah standar yang untuk meraihnya Allah telah memberikan taufik pada kita untuk ikut serta dalam kelompok orang-orang  akhirin.

Kemudian tertera sebuah riwayat dari Hadhrat Abdullah bin Umar dimana ditanyakan mengenai tanda-tanda  yang telah diterangkan dalam Taurat, maka beliau menerangkan bahwa nabi itu sangat penyabar / tidak lekas marah dan tidak keras hati,bukan merupakan orang yang suka berteriak di pasar-pasar, tidak akan membalas  keburukan dengan keburukan bahkan dia akan  banyak memberi maaf dan  ampunan. Bukhari Kitabulbuyu’ karaahiyatusya’bi fissuwq  Kehidupan Rasulullah merupakan saksi bahkan beliau memaafkan hingga orang yang menjadi musuh bebuyutan beliau.

Hadhrat Aisyarh meriwayatkan bahwa Rasulullah saw tidak pernah menuntut balas demi untuk dirinya atas keaniayaan yang ditimpakan pada beliau  Muslim Kitabul fazaail bab 20 hal 29 Kini perhatikanlah, perempuan tua yang  memasukkan racun pada daging kambing lalu memberikan  itu  kepada beliau dan sahabah-sahabah beliau juga memakan itu, dan terkena  dampaknya juga ,walhasil beliau juga memafkannya.

Hadhrat Muaz bin Rufa’ah meriwayatkan dari bapaknya bahwa Hadhrat Abu Bakar naik ke mimbar kemudian serta merta  menangis lalu  berkata  bahwa Rasulullah saw tatkala tahun pertama beliau naik ke mimbar maka beliau menangis lalu bersabda mohonlah ampunan dan kesehatan  pada Allah, sebab sesudah yakin tidak ada sesuatu yang lebih baik yang seseorang  dapat peroleh. Rasulullah saw bersabda kepada  orang-orang yang berdoa buruk untuk musuh-musuhnya  bahwa saya tidak dikirim ke dunia sebagai  laknat bahkan saya dikirim sebagai  rahmat. Sahih Bukhari baktsunnabi saw ba’tsunnabiyyi saw

Sebagaimana sebelumnya juga saya telah sampaikan pada kalian bahwa ampunan Rasulullah saw juga melingkupi musuh pribadi beliau juga. Oleh karena itu musuh-musuh  beliaupun  mengetahui akan akhlak beliau bahwa  beliau memiliki akhlak yang sangat luhur.  Oleh karena itu  mereka menjadi berani pada beliau sehingga meskipun mereka merupakan  musuh berat mereka datang di hadapan beliau untuk meminta maaf.

Lihatlah sebuah contoh  bahwa Habar bin Al-Aswad menyerang putri beliau dengan tombak pada saat hijrah, yang mengakibatkan  gugurnya kandungan hamil beliau dan pada akhirnya luka inilah yang mengakibatkan beliau  wafat. Atas kesalahannya itu Rasulullah saw memutuskan untuk membunuhnya. Pada saat penaklukan kota Mekah dia lari lalu sembunyi entah dimana, tetapi tatkala Rasulullah saw kembali ke Madinah maka Habar hadir di hadapan Rasulullah saw dan sambil memohon belas kasih dia berkata bahwa sebelumnya saya lari karena takut tetapi fikiran akan sifat pemaaf Tuan yang membawa  saya kembali kemari. Hai nabi  Allah ! kami tadinya berada dalam  kejahilan dan kemusyrikan kemudian  dengan perantaraan Tuan Allah telah memberikan petunjuk kepada kami dan menghindarkan kami dari kehancuran. Saya mengakui akan pelangaran- pelangaran saya, maka maafkanlah  kejahilan saya. Maka dari itu Rasulullah saw memaafkan pembunuh anak perempuan beliau itu dan beliau bersabda: Hai Habar ! pergilah Saya telah memafkan engkau. Ini merupakan kebaikan Allah bahwa Allah telah menganugerahkan  taufik untuk masuk Islam. Assiratulhalbiyyah jilid 3 hal 106 Cetakan Baeirut

Memaafkan pembunuh anak perempuan sendiri bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah. Akan tetapi karena  beliau memberikan pengajaran maaf karena itu beliau sendiri yang  menunjukkannya, sebab tujuan utama adalah perbaikan,karena itu tatkala beliau melihat bahwa telah terjadi perbaikan maka darah anak pun beliau maafkan dan dalam  sejumlah kondisi beliau pun  mengajarkannya.

Diriwayatkan dari Wakil bin Hajar bahwa pada saat saya bersama nabi saw maka seorang pembunuh yang dililitkan catatan  di dilehernya dibawa kepada beliau. Perawi berkata bahwa Rasulullah saw menyuruh  memanggil waris yang terbunuh  lalu beliau menanyakan:  Apakah kamu mau memaafkan ?  Dia menjawab : Tidak . Beliau bertanya  : Apakah kamu mau mengambil diyat ? Dia berkata: Tidak . Beliau menanyakan : Apakah kamu akan membunuhnya ?  Dia menjawab:Ya ! Rasulullah saw bersabda,  bawalah dia.Tatkala orang itu beranjak pergi membawa sang pembunuh ,  maka Rasulullah saw untuk kedua kali menanyakan: Apakah kamu memaafkannya ?  Dia berkata: Tidak. Beliau bersabda: Apakah kamu mau mengambil diyat ? Dia berkata: Tidak. Apakah kamu hanya mau membunuhnya ?  Dia menjawab,ya ,Hudhur !  Rasulullah saw bersabda,  bawalah dia,keempat kalinya sambil menghimbau untuk memaafkan beliau bersabda bahwa jika kamu memaafkannya maka dia ini akan kembali dengan dosanya dan dosa temannya  yang terbunuh. Sunan Abu Daud Kitabuddiyat ya’muru bil’afwi

Kemudian lihatlah sebuah misal yang sangat luhur.Abdullah bin Sa’ad Ibni Abi Sarah seorang penulis wahyu, namun sambil melakukan perlawanan dan murtad dia bersatu dengan orang-orang kafir Mekah dan sesampai disana dia mengumumkan secara terbuka bahwa apa yang saya katakan  sesuai dengan itu ditulis dijadikan wahyu,na’uzubillah. Atas gerakan-gerakannya itu dia dinyatakan wajib dibunuh.Dan sejumlah orang-orang Islam bernazar /meniatkan bahwa mereka ingin membunuh musuh Allah dan Rasul itu, tetapi dia dengan meminta perlindungan dari saudara susuannya Hadhrat Usman Ghani dia memohon maaf. Pertama-tama Rasulullah saw mengelak untuk memberikan maaf  ,tetapi atas permohonan Hadhrat Usman yang berkali-kali bahwa saya telah memberikan aman padanya, Hudhur saw pun memaafkannya dan menerima baiatnya. Setelah penerimaan  baiatnya  Abdullah akibat dosa-dosanya dia  enggan datang pada Rasulullah saw ,tetapi setelah beliau memafkannya maka lihatlah bagaimana sikap. Beliau dengan nada penuh cinta mengirim amanat padanya bahwa dengan menerima Islam maka semua dosa-dosa seorang yang sebelumnya dia lakukan Allah maafkan, karena itu  janganlah takut karena malu dan jangan diam. Aaassiratulhalbiyyah jilid 3 hal. 102-104 Beirut

Kemudian istri Abu Sufyan Hindah putri Utbah telah melaksanakan kewajiban dengan benar-benar sempurna membakar dan menghasut orang-orang kafir Quraisy dalam peperangan-peperangan  melawan orang-orang Islam. Dia biasa membaca syair untuk  menghasut  dan membakar semangat orang-orang laki-laki kafir Quraisy bahwa jika kamu kembali dengan kemenangan maka kami akan menyambut kalian  kalau tidak maka kami untuk selama-lamanya menjauhkan diri dari kalian.assiratunnbawaiyyah ibni Hisyam jilid 3 hal 151Darulmarfah ,Beirut

Pada saat Perang Uhud Hinda inilah yang telah melakukan matslah,memotong telinga  jenazah paman Rasulullah saw,dia memotong hidung,telinga dll dan  organ lainnya dia merusak bentuknya dan dia keluarkan lalu di kunyahnya. Sesudah penaklukan kota Mekah tatkala Rasulullah saw mengambil baiat perempuan-perempuan , maka Hinda pun datang sambil  menutup mukanya,sebab akibat dari dosa-dosanya dia dinyatakan wajib dibunuh.Pada saat berlangsungnnya baiat dia menanyakan mengenai syarat-syarat baiat. Rasulullah mengenalnya bahwa selain dari Hinda yang sedemikian berani tidak akan ada yang dapat melakukan. Apakah kamu adalah istri Abu Sufyan Hind ? Dia menjawab: Ya, ya Rasulullah ! kini saya  telah masuk Islam dari hati kecil saya sendiri apa sebelumnya yang telah berlalu itu maafkanlah Allahpun akan memperlakukan Tuan sepertti itu. Rasulullah saw pun memaafkan Hinda  dan maaf serta belas kasih  beliau sedemikian rupa pengaruhnya pada diri Hinda  sehingga terjadi perobahan total pada dirinya. Sekembalinya ke rumah dia memecahkan semua berhala.

Pada malam itulah setelah baiat dia menyiapkan undangan makan untuk Rasulullah saw  dan secara khusus dia  menyuruh menyembelih dua ekor kambing lalu dipanggang dan  mengirimkannya kepada  Hudhur saw dan bersama itu pula dia juga berkata bahwa dewasa ini hewan jarang, karena itu saya mengirim oleh-oleh/hadiah yang sangat sederhana. Maka Hudhur mendoakannya dan  perhatikanlah sikap maaf  Hudhur ini bahwa Hudhur tidak hanya memaafkan bahkan beliau juga mendoakannya. Ya Allah,berkatilah  sebanyak-banyaknya pada kawanan  kambing-kambing dan domba Hinda, karena itu  akibat doa itu banyak sekali keberkatannya dan berkat doa itu  kambing-kambingnya sampai tidak terurus.Siratulhalbiyah jilid 3 hal.118 Cetakan Beirut

Kaab bin Zuhaer merupakan seorang penyair ternama, yang  sambil   menyerang kehormatan  perempuan-perempuan Islam dia suka  meggubah syair-syair yang kotor,maka   faktor itulah Rasulullah saw memerintahkan untuk membunuhnya. Saudara Kaab menulis surat padanya bahwa kini kota Mekah telah di taklukkan karena itu datanglah dan  mintalah maaf pada Rasulullah saw. Maka dia datang ke Madinah lalu menginap  di rumah salah seorang yang dikenalnya dan shalat subuh dia lakukan bersama nabi saw di Mesjid Nabwi. Dan tampa memperkenalkan diri di hadapan Rasulullah saw dia berkata: ya Rasulullah saw !  Kaab bin Zuhair datang dalam keadaan taubah dan datang untuk memohon maaf. Jika  dizinkan maka dia dibawa  di hadapan Tuan.( Rasulullah saw tidak mengenal wajahnya ) Beliau bersabda,ya. Maka dia melanjutkan  bahwa sayalah Kaab bin Zuhar.  Begitu mendengar ini –sebab ada perintah untuk membunuhnya –maka dia berdiri untuk membunuhnya ,tetapi Rasulullah saw bersabda lepaskanlah dia sebab dia ini datang untuk memohon ampun. Kemudian dia mengemukakan /memperdengarkan sebuah  syair   di hadapan Rasulullah saw .Dan sebagai hadiah untuk menzahirkan kegembiraannya beliau menyelimutkan selimut beliau  diatasnya. Dengan demikian  musuh inipun sambil permohonan maaf dikabulkan  dia kembali  dengan membawa hadiahnya. Siratulhalbiyah jilid 3 hal.214-215

Kemudian Abdullah bin Abi Sulul apa pelanggaran – pelanggaran  yang pernah dia lakukan terhadap Rasulullah saw., setiap orang mengetahui, tetapi itupun beliau maafkan,ada dalam sebuah riwayat bahwa meskipun adanya  segenap kelancangan-kelancangannya dan kelicikan-kelicikannya itu pada saat wafatnya Hudhur saw melakukan shalat jenazahnya. Hadhrat Umar sangat marah atas sikap  itu dan berkali-kali beliau memohon bahwa Hudhur ! jangalah menyalatkan jenazahnya dan Hadhrat Umar pun membeberkan pelanggaran-pelanggaranyang telah  mAbdullah bin Abi Sulul. Tetapi Rasulullah saw sambil tersenyum bersabda: Wahai Umar !    mundurlah ke belakang saya diberikan wewenang bahwa untuk orang-orang seperti itu kamu beristigfar atau tidak beristigfar  adalah sama,kendatipun  kamu 70 kali sekalipun beristigfar, maka Allah tidak akan memaafkannya. Kemudian bersabda bahwa jika saya mengetahui bahwa lebih tujuh puluh kali (dilakukan) istigfar   ini akan dimaafkan maka saya akan beristigfar (lebih?) tujuh puluh kali.Namun,  beliau tetap menyembahyangkan jenazahnya dan beliau pergi  ke kuburan bersama jenazahnya. Bukhari Kitabuljanaaiz

Contoh-contoh maaf Rasulullah saw jelas tidak terhitung jumlahnya, yang mana pun   diterangkan setiap contoh itu lebih unggul /bagus dari yang lain. Ini merupakan contoh amaliah/praktis  ajaran yang beliau  bawa datang ke dunia.  Ajaran itu hari ini kembali setiap Ahmadi harus menerapkannya dalam masyarakat, harus mengaplikasikan   dalam dirinya sendiri; sebab, kita telah mengikat  janji dengan imam zaman bahwa kita dengan contoh pribadi kita sendiri akan menunjukkan  ajaran itu. Oleh karena itu sambil berdoa  dan  itaat/  tuduk padanya perbanyaklah perhatian ke arah itu. Biasakanlah memaafkan dan menutupi kelemahan orang lain. Jangan lah berfikir bahwa karena di dalam Jemaat ada lembaga dewan qadha  ,umur ammah,ishlah wa irsyad dan  lembaga dewan tarbiat Jemaat  karena itu lalu harus menjadikan mereka sibuk/punya pekerjaan sehingga perselisihan- perselisihan kecil sampai kepada mereka. Menurut hemat saya apabila  sediki saja menahan sabar /menahan emosi  maka setengah perselisihan dan pertengkaran dapat teratasi,meskipun dibandingkan dengan  di luar Jemaat perselisihan dalam Jemaat itu  sangat sedikit. Dengan  itupun setengah akan dapat teratasi.

Hadhrat Masih Mauud a.s berkenaan dengan contoh Hadhrat Abu Bakar bersabda bahwa berkenaan dengan Hadhrat Aisyah r.a.  orang-orang munafik telah menebarkan   fitnah yang bertentangan dengan kenyataan karena hanya akibat kotornya niat  mereka. Dalam  kasus itu sejumlah sahabah yang lugu pun ikut terlibat di dalamnya. Dan  seorang dari mereka ada yang makan roti dua waktu dari Hadhrat Abu Bakarr.a. Abu Bakar.a. atas kekeliruan  sahabah itu beliau  bersumpah dan   sebagai peringatan  beliau berjanji bahwa sebagai hukuman dari  tindakannya yang tidak senonoh ini saya,kara Abu Bakar, tidak akan memberikan roti padanya. Maka turunlah ayat ini  Kemudian Abu bakar melanggar  janjinya itu/tidak memenuhi janjinya.

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ(22)

Dan dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.Lampiran Barahin Ahmadiyah jilid 5 Ruhani Hazain jilid 21 hal.181

Kemudian Hadhrat Masih Mauud a.s. bersabda: Para kekasih Tuhan dengan sangat luar biasa mereka dicaci maki dan dicerca . Mereka benar-benar diganggu/disakiti,tetapi mereka disapa oleh Allah dengan gelar sebagaimana firman-Nya  وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ  (serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.) Manusia sempurna junjungan kita nabi saw benar-benar disakiti dicaci maki ,kata-kata lancang /kata tak senonoh dilontarkan pada beliau. Beliau dicerca,dicaci maki dengan kata-kata yang tidak senonoh,  tetapi wujud yang merupakan perwujudan dari akhlak mulia itu apa tindakan  beliau dalam   menjawabnya ? Beliau mendoakan untuk mereka. Dan oleh sebab Tuhan telah berjanji bahwa dia (Muhammad saw) akan berpaling dari orang-orang jahil maka Kami akan menyelamatkan  kehormatan dan jiwa kamu dan orang-orang pasar ini tidak akan dapat menyerangnya. Oleh karena itu seperti itulah yang terjadi bahwa para penentang sedikitpun tidak dapat  menghinakan beliau. Dan mereka sendiri takluk menyerah  hina  di hadapan telapak kaki beliau.

Kini saya akan menyampaikan beberapa misal contoh ampunan Hadhrat Masih Mauud  a.s.

Hadhrat Mlv Abdulkarim bersabda: Pada suatu ketika seorang perempuan  mencuri beras dari rumah Hadhrat Masih Mauud a.s.,  pencuri tidak memiliki  keberanian karena itu  nampak jelas  keresahan  terlihat  dalam  tingkah laku perempuan itu saat menjalaankan aksinya Maka   seorang yang tajam firasatnya  mengamatinya lalu menangkapnya. Dia berada disana. Pandangan /analisanya sangat tajam bahwa pasti terjadi sesuatu.dan  terjadi keributan. Dari ketiaknya keluar kantong berisi beras sebanyak lima belas liter. Dan orang-orang mulai mencerca dan mengutuknya  . Hadhrat Masih Mauud  a.s. karena suatu sebab keluar kesana.lalu bertanya, apa yang telah terjadi. Maka orang –orang memberitahukan lalu bersabda: Ini merupakan orang  yang memerlukan,  berikanlah itu sebagian  padanya  dan janganlah menasehatinya, yakni janganlah mengatakan sesuatu tampa sebab. Dan gunakanlah  sifat sattar  yang ada pada Tuhan. Sirat Hadhrat Masih Mauud a.s. dari Syekh yakub Ali Irfani jilid I hal.105-106

Kemudian Khan Sahib Akbar Khan  menuturkan  bahwa dari sejak  sebelumnya juga terdapat sebuah jalan seperti itu di (samping)   atap bagian atas Mesjid Mubarak yang menuju ke arah  rumah Hadhrat Masih Mauud a.s. . Pada suatu ketika  sambil membawa lampu tempel beliau  menunjuki jalan kepada Hadhrat Masih mauud as. Tiba-tiba  serta merta lampu jatuh dari tangan beliau dan minyak itu mengenai ke kayu  dan api mulai membakar dari bawah ke atas. Beliau berkata bahwa beliau sangat sedih. Sejumlah orang lain pun mulai angkat bicara,tetapi Hudhur bersabda peristiwa seperti itu biasa  terjadi. Rumah selamat dan beliau tidak mengatakan apa-apa kepadanya.             Sirat Hadhrat Masih Mauud a.s. dari Syekh yakub Ali Irfani jilid I hal.103.

Khan Akbar meriwayatkan  bahwa tatkala kami meninggalkan kampung halaman pergi ke Qadian  maka Hadhrat Masih Mauud a,s, menempatkan kami di rumah beliau. Kebiasaan Masih Mauud a.s. adalah menyalakan lilin pada malam hari. Dan banyak sekali lilin-lilin  secara bersamaan  beliau biasa nyalakan. Beliau menyatakan bahwa pada hari hari saya datang pada saat itu anak saya masih kecil dan dalam keadaan sakit keras. Pada suatu saat anak perempuan saya datang  setelah meletakkan  lampu, namun secara kebetulan lilin itu pun jatuh. Dan banyak sekali berkas-berkas ,catatan-catatan untuk buku-buku beliau dan juga banyak sekali barang-barang lain  terbakar yang mengakibatkan  banyaknya kerugian. Tidak lama kemudian diketahui bahwa ternyata mendatangkan banyak sekali kerugian. Semua orang di rumah menjadi cemas dan gelisah. Beliau berkata bahwa istri dan anak perempuan sayapun menjadi cemaskarena ,katanya, Hudhur meletakkan catatan- catatan dengan  sangat  hati-hati itu semuanya tarbakar. Tetapi setelah Hudhur mengetahui maka beliau tidak mengatakan apa-apa kecuali beliau mengatakan bahwa hendaknya banyak besyukur karena kerugian tidak lebih dari  itu.         Sirat Hadhrat Masih Mauud a.s. dari Syekh yakub Ali Irfani jilid I hal.103

Kemudian simaklah penentang keras beliau  Mlv Muhammad Husen Batalwi. Di dalam Jemaat kita beliau sangat dikenal. Pada masa mudanya beliau merupakan rekan  sepermainan dan rekan  belajar beliau a.s.,yakni mereka belajar bersama dan pada saa terbitnya  karangan pertama Barahin Ahmadiyah beliau menulis banyak komentar sehingga   dia menulis bahwa selama tiga belas abad   tidak ada kitab yang ditulis seperti ini dalam mendukung  Islam.. Tetapi pada saat pendakwaan Hadhrat Masih Mauud inilah  Maulvi menjadi musuh. Dan menjadi penentang pun sedemikian rupa  hingga sampai pada batas yang paling menonjol. Dan untuk Hadhrat Masih Mauud  a.s. dia mengeluarkan fatwa kafir dan menyebut beliau a.s.  dajjal dll,nauzubillah. Dengan demikian terjadi api perlawanan di seluruh negeri karena hasutan beliau.  Pada saat sidang upaya pembunuhan Dr Marten Klark Mlv Muhammad Husen Mlv Muhammadd Husen diajukan di pengadilan  sebagai saksi. Pada waktu itu pengacara Hadhrat Masih Mauud a.s  MlV Fazluddin yang adalah seorang  none ahmadi untuk melemahkan kesaksian Mlv Muhammad Husen  dia mulai menanyakan berkenaan dengan silsilah keturunannya dia mulai menanyakan beberapa pertanyaan –pertanyaan dengan maksud untuk memojokkannya.tetapi Hadhrat Masih Mauud a.s. mencegahnya bahwa saya tidak memberikan izin pada Tuan untuk menanyakan pertanyaan seperti itu.dan sambil mengatakan ini beliau dengan cepat meletakkan tangan beliau di muka Mlv Fazluddin supaya jangan dari mulutnya keluar kata-kata seperti itu. Jadi dengan demikian dengan memasukkan diri beliau pada kesusahan beliau memelihara kehormatan musuh bebuyutan beliau.dan disinipun beliau mengatakannya. Sesudah itu Mlv Fazluddin dengan  heran  senantiasa mengenang peristiwa itu.bahwa Mirza sahib  merupakan sosok manusia yang memiliki akhlak mulia yang aneh bahwa seorang menyerang kehormatan bahkan jiwanya dan sebagai jawaban itu untuk melemahkan kesaksiannya padanya ditanyakan beberapa pertanyaan-pertanyaan maka dengan segera mencegahnya bahwa saya tidak mengizinkan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Sirat Tayyibah dari Hadhrat mirza Basyir Ahmad MA r.a. hal 53-55

Hudhur a.s. bersabda: وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Majmu’ah isytiharat

Kita melihat di dunia bahwa sebagian orang ada orang yang jika dimaafkan satu dua kali  dan diperlakukan dengan baik maka dia menjadi tambah maju dalam keitaatan dan dia mulai menjalankan kewajiban-kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Dan terdapat sejumlah orang  yang malah tambah lebih maju  dalam kenakalan mereka dan  tampa  menghiraukan hukum-hukum mereka lalu siap  melakukan  pelanggaran. Kini andaikata seorang  pengkhidmat yang merupakan sosok orang yang sangat saleh dan sopan  dan secara kebetulan dari itu terjadi kekeliruan olehnya  lalu mulai  memukul dan membentak maka apakah dia dapat melakukan tugasnya  ? Nah,  memberikan maaf dan menutupi  kelemahanlah  bermamfaat baginya dan menjadi  faktor perbaikan baginya. Tetapi seorang yang nakal yang memiliki  berpuluh-puluh pengalaman dia tidak akan  mengerti dengan pemberian maaf,bahkan  dia akan menjadi tambah maju dalam kenakalan. Maka untuk itu  dia harus diberikan hukuman dan  layak  diberikan hukuman untuknya. Malfuzhat jilid 3 hal.256 Cetakan baru

Kemudian beliau dalam menasehati Jemaatnya beliau bersabda: Tujuan dan  maksud menyiapkan Jemaat ini adalah supaya ketakwaan itu mengalir dari  lidah,telinga,mata,dan dari seganap pancainderanya.  Nur ketakwaan nampak  di dalam pribadi ,baik dari luar maupun dari dalam pribadinya, terdapat  contoh akhlak yang luhur ,dan  sama sekali jangan ada amarah serta  kegusaran dll yang tidak pada tempatnya,saya melihat bahwa kekurangan sifat  suka marah-marah  dalam diri warga Jemaat sampai sekatang masih ada. Karena hal-hal kecil pun timbul kebencian dan kemarahan dan diantara mereka timbul pertengkaran. Orang-orang seperti itu tidak ada bagiannya di dalam Jemaat. Dan saya tidak memahami apa kesulitan yang mereka hadapi  jika ada yang menela dan mencerca maka yang lain diam dan jangan memberikan jawaban. Perbaikan setiap Jemaat adalah mulai dari akhlak ( Yakni perbaikan akhlak warga Jemaat adalah mulai dari perbaikan akhlak mereka )  Hendaknya  mulai dari sejak awal majulah  dalam tarbiat dengan kesabaran dan resep yang paling baik adalah apabila ada yang mencaci maki maka merintihlah berdoa untuk( kebaikan)nya. Bahwa supaya Allah memperbaikinya dan kebencian dalam hati sama sekali jangan pernah biarkan menjadi besar.sebagaimana halnya  undang-undang dunia ada maka seperti itulah undang-undang Tuhan juga ada. Apabila dunia tidak  meninggalkan undang-undangnya, maka bagaimana Tuhan meninggalkan undang-undang-Nya. Jadi selama perubahan tidak ada  maka sampai waktu itu nilai kamu di hadapanya tidak ada artinya. Allah sama sekali tidak menyukai bahwa pada sifat-sifat lemah lembut, sabar dan sifat maaf  itu diganti dengan kebuasan. Jika kalian maju dalam sifat-sifat baik itu maka dengan cepat kalian akan sampai pada Tuhan. Tapi sangat disesalkan bahwa sebagian warga Jemaat masih lemah dalam akhlak itu. Dalam hal-hal itu tidak hanya cercaan lawan-lawan semata,bahkan orang-orang seperti itu dijatuhkan dari tempat yang dekat.  Memang benar bahwa tidak semua orang berada   pada satu jalur .. Oleh karena irtulah tertera dalam  Al-Quran: قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ Katakanlah: “Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing”.Sejumlah orang jika dalam suatu akhlak dia itu baik maka di tempat lain dia itu lemah, jika corak akhlak yang lain itu  baik maka sisi yang lain itu buruk, namun dari tidaklah harus  bahwa perbaikan itu tidak mungkin. Malfuzhat jilid 7 hal 126-129 Berupayalah memperbaiki maka akan timbul perbaikan.

Kemudian beliau bersabda dianrtara kalian yang paling mulia adalah yang banyak memaafkan dosa saudaranya  dan sangat malanglah orang yang bersikeras dan tidak  mau memaafkan. Jadi dia tidak ada bagian dari saya. Bahtera Nuh Ruhani Hazain jilid 19 hal 12 Cetakan Baru

Kemudian beliau bersabda bahwa barangsiapa yang tidak menginginkan untuk memaafkan orang yang berdosa /bersalah dan dia merupakan orang yang pendendam,maka  bukanlah dari Jemaat-Ku. Bahtera Nuh Ruhani Hazain jilid 19 Cetakan Baru

 Semoga Allah menganugerahkan taufik pada kita untuk dapat menampilkan  akhlak-akhlak yang mulia, Menjadi orang yang senantiasa berupa menerapkan hukum-hukum Islam dan menjadi orang yang senantiasa mengikuti sunnah Rasulullah saw  dan menjadi orang yang membentuk diri kita sesuai dengan keinginan Hadhrat Masih Mauud a.s. Amin.

Qamaruddin Shahid