Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 24 Tablish 1391 HS/Februari 2012

Di Masjid Baitul Wahid, Felthum-London (UK).

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

          وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Terjemahan ayat-ayat tersebut ialah “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu hanya untuk Allah, maka janganlah kamu berseru kepada siapa pun selain kepada Allah.” Ini adalah sebuah ayat dalam Surah Al-Jinn. (Surah Al-Jinn, 72 : 19)

            Terjemahan ayat selanjutnya yang termasuk dalam Surah al-A’raaf: “Katakanlah Tuhanku memerintahkan berbuat adil. Dan tetap pusatkanlah perhatianmu lurus kepada Allah di setiap masjid (tempat ibadah) dan serulah hanya Dia dengan mengikhlaskan diin (agama) kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu permulaan kali, demikian pula setelah meninggal kamu akan kembali kepada-Nya.” (Al-A’raf, 7 : 30)

            Alhamdu lillaah. Sekarang kita telah mendapat taufik untuk membangun dan meresmikan sebuah Masjid di kawasan ini. Kepada penduduk dunia saya memberitahukan bahwa kawasan ini disebut Felthum. Letaknya berdekatan dengan kota  Hounslow.[2] Dengan demikian para anggota Jemaat di wilayah Utara dan Selatan kawasan ini akan bergabung bersama-sama menggunakan masjid ini; bahkan regional amir shahib (tuan Amir daerah) di sini memperkirakan bahwa mungkin saja masjid ini akan menjadi Masjid Jami’ untuk kawasan ini, sebab sampai saat ini masjid ini terbesar untuk kawasan ini. Orang-orang akan datang di sini untuk menunaikan shalat Jum’at dan shalat-shalat lainnya. Inilah maksud daripada masjid.

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada Jemaat di setiap daerah untuk membangun masjid mereka masing-masing supaya menyempurnakan keinginan-keinginan dan petunjuk-petunjuk Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa masjid-masjid kita menjadi sarana untuk memperkenalkan Islam dan Jemaat, terbukanya medan baru untuk tabligh dan dunia menjadi tahu tentang ajaran Islam yang sejati. Sebab, sekarang pada zaman ini hanya Jemaat Ahmadiyah-lah yang mempersembahkan haqiqi Islam (Islam yang sebenarnya) kepada dunia.

Selain itu pembangunan masjid menjadi perkara penting bagi kita sebagaimana terdapat sebuah riwayat. Hadhrat Aisyah radhiyallahu ‘anhaa menerangkan, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, bahkan memerintahkan untuk membangun masjid di kabilah-kabilah (lingkungan sesuku bangsa) atau di kawasan-kawasan atau di rumah-rumah (pemukiman). [3]

Pada zaman itu biasanya kawasan pemukiman mempunyai corak kabilah-kabilah (suku-suku bangsa), bahkan sekarang juga kita dapat menyaksikan demikian. Banyak kaum atau bangsa yang pergi [merantau] ke suatu negara, di sana mereka lebih suka hidup berkumpul sesama mereka di suatu tempat tertentu. Orang-orang Cina kemana pun pergi di sana mereka membuat China Town tempat mereka tinggal secara berkelompok. Bagaimanapun di dalam riwayat ini ada perintah untuk membangun masjid-masjid. Setelah dibangun Masjid itu harus dijaga kebersihan dan ketertibannya. Demikian juga di beberapa tempat di dalam Alqur’an terdapat perintah untuk membangun masjid-masjid. Jadi, pembangunan Masjid mempunyai arti yang luas dan penting sekali terutama bagi kita yang menamakan diri Muslim Ahmadi. Supaya di satu pihak kita dapat mempersiapkan sebuah tempat yang suci-bersih untuk beribadah secara berjamaah dan di pihak lain kita harus mengemukakan ajaran Islam yang murni dan indah kepada dunia dimana sekarang banyak sekali pemahaman yang salah tentang Islam. Sekalipun tidak jauh dari sini kita sudah mempunyai pusat Jemaat yaitu di kawasan Southhall dan Hounslow, dimana orang-orang datang berkumpul untuk menunaikan shalat berjamaah dan juga untuk mengadakan kegiatan-kegiatan lain dalam Jemaat dan ada juga program-program untuk mengundang tamu-tamu dari luar Jemaat. Keberkahan adanya masjid, usaha-usaha baru untuk kegiatan Jemaat akan terbuka. Dengan karunia Allah Ta’ala di kawasan Hayes juga sudah dibangun sebuah masjid yang peresmiannya akan dilangsungkan minggu yang akan datang, insya Allah.

Masjid dimana sekarang saya sedang berkhotbah bukan sebuah bangunan yang khusus dibangun untuk masjid melainkan sebuah gedung perkantoran dirubah bentuk dan fungsi menjadi Masjid. Begitu juga di Hayes sebuah gedung ‘community centre’ – Pusat Masyarakat dirubah dan direka bentuk menjadi fungsi sebuah masjid. Semoga Allah Ta’ala menjadikan Masjid-masjid ini sarana untuk menyebarluaskan ajaran Islam dan juga menjadikan sarana untuk meningkatkan iman kita. Kemajuan imanlah yang mempunyai kaitan khas dengan Masjid.

        Di dalam ayat-ayat Qur’an yang telah saya tilawatkan tadi Allah Ta’ala menerangkan pentingnya masjid-masjid, “Pentingnya masjid dan mengenai maksud serta fungsi masjid, bagaimana kalian harus selalu memperhatikannya.” Di tempat lain dalam Alqur’an terdapat keterangan tentang itu. Pendeknya di dalam ayat-ayat itu Allah Ta’ala menerangkan bahwa masjid adalah sebuah tempat khas bagi Allah Ta’ala. Siapa saja yang datang kedalam masjid ia harus berlaku sebagai seorang hamba. Di dalam masjid tidak boleh ada orang berbuat kufur, syirik dan juga membicarakan perkara duniawi. Oleh sebab itu Hadhrat Rasulullah saw melarang membicarakan masalah perniagaan bahkan masalah duniawi, mengumumkan barang duniawi yang hilang juga tidak boleh dilakukan di dalam masjid. [4]

Ya, perkara-perkara yang boleh dilakukan di dalam masjid selain beribadah kepada Allah Ta’ala, adalah berkaitan dengan program untuk menyebarluaskan pesan Allah Ta’ala di dunia, membahas untuk mendekatkan [penduduk] dunia kepada Allah Ta’ala dan mempersiapkan diri untuk mengamalkannya. Musyawarah untuk menyediakan barang keperluan yang lebih baik bagi makhluk-makhluk Allah Ta’ala dan menyerahkan diri bagi kepentingan itu semua.

Demikianlah penjelasan bagi ayat yang pertama diatas. Allah Ta’ala berfirman فَلا تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا “Janganlah kamu berseru kepada siapapun selain kepada Allah.”- bahwa apabila kita keberkahana; masjid kita terbuka bagi setiap orang, dan umumnya kita selalu keberkahana demikian kepada dunia maksudnya bahwa siapapun dan dari agama apapun atau sekalipun orang yang tidak beragama diperbolehkan datang ke masjid kita. Apabila mereka datang, siap diadakan program untuk mereka juga. Akan tetapi kita harus ingat dan harus berpegang kepada hukum Allah Ta’ala yaitu masjid-masjid dipergunakan hanya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala. Akan tetapi jika kita memberi izin kepada pemeluk agama lain untuk beribadah maka mereka boleh melakukan kegiatan ibadahnya. Sebab, dalam setiap agama terdapat pengertian tentang Satu Tuhan. Mereka yang mau mengerjakan semata-mata ibadah kepada Allah Ta’ala, tidak diragukan lagi bahwa mereka dapat melakukannya di masjid kita. Akan tetapi mereka yang melakukan sesuatu yang merupakan bagian dari ibadah, yang termasuk kedalam sesuatu syirik tentu mereka harus keluar dari masjid pergi ke tempat lain. Jadi, siapa saja dan dari penganut agama apa saja boleh datang ke masjid untuk beribadah dengan syarat-syarat tersebut diatas. Masjid adalah tempat dimana tidak diizinkan untuk melakukan syirik seperti firman-Nya,  وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ للهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللهِ أَحَدًا “Dan sungguh masjid-masjid hanyalah untuk Allah. Tujuan membangun masjid adalah supaya manusia berkumpul untuk beribadah kepada Tuhan Yang Satu.” Ini adalah rumah Tuhan dan Tuhan sendiri telah memerintahkan, “Jika seseorang datang untuk beribadah maka beribadahlah hanya dan hanya kepada-Ku. Amalkanlah perintah-perintah-Ku.” Di dalam ayat pertama yang telah saya tilawatkan juga menerangkan pokok bahasan yang sedang berjalan ini bahwa Allah Ta’ala adalah Zat Yang Tunggal; siapapun yang menjauhkan diri dari-Nya ia akan menerima akibatnya sebagai hukuman. Dan setelah kedatangan Hadhrat [Muhammad] Rasulullah saw perkara ini menjadi lebih bercahaya dan jelas lagi dan Allah Ta’ala telah memutuskan bahwa Dia akan menegakkan keesaan-Nya di dunia  melalui Hadhrat Rasulullah saw; dan masjid-masjid adalah satu sarana untuk menyempurnakan maksud dan tujuan itu. Dan wahdaaniyyat (keesaan) Allah Ta’ala dan kebenaran akan tersebar luas diatas dunia ini hanya dan hanya melalui masjid-masjid.

Maka orang-orang yang menda’wakan diri beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw dan kita yang untuk menyempurnakan maksud-maksud Hadhrat Rasulullah saw itu menda’wakan diri telah bergabung kedalam Jemaat ‘ghulam shadiq’ – pelayan sejati beliau saw (Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as pelayan sejati Hadhrat Muhammad Rasulullah saw, Red.). Sekarang kewajiban kita dan hanya inilah kewajiban (tugas) kita dan inilah maksud yang seharusnya demikian bahwa dimana saja kita rajin datang ke masjid dengan ikhlas untuk beribadah supaya mutu ibadah kita semakin tinggi dan menegakkan hubungan yang hidup dengan Allah Ta’ala; maka di sana (di sisi lain) juga menjadi sarana menyebarkan nur kebenaran ini. Jadi, jika kita bermaksud untuk menyebarluaskan nur kebenaran diatas dunia ini tidak cukup hanya dengan menda’wakan telah beribadah secara lahiriah saja, bahkan  kita harus berusaha membuat diri kita bercahaya dengan nur itu.

            Di dalam ayat kedua yang telah saya tilawatkan dari surah Al-A’raaf, Allah Ta’ala memerintahkan kita untuk berbuat adil. Friman-Nya, قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ “Katakanlah! Tuhanku memerintahkan berbuat adil.” Perintah yang diberikan kepada Hadhrat Rasulullah saw ini ditujukan kepada orang-orang mukmin sejati juga yang menda’wakan diri telah beriman kepada Hadhrat Rasulullah saw.

Di sini [dalam ayat ini], yang pertama dari semuanya adalah perintah untuk mengumumkan terlebih dahulu, “Kami adalah orang-orang yang menegakkan keadilan, memenuhi hak-hak tanpa diskriminasi, menjadi yang terbaik dalam setiap perilaku kebaikan, dan melaksanakan perintah untuk beramal diatas jalan ketakwaan.” Orang-orang yang sudah demikian keadaannya maka mereka itulah yang sungguh-sungguh menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala dengan penuh perhatian. Jadi, hanya orang-orang yang berhati suci bersih yang dapat menunaikan hak-hak ibadah dengan sempurna kepada Allah Ta’ala. Orang-orang yang didalam tabiatnya tidak terdapat kebaikan, kesucian dan keadilan tidak dapat menunaikan hak-hak sesama makhluk dan tidak pula hak-hak Allah Ta’ala. Jika mereka berlaku adil didalam satu perkara maka sebaliknya didalam perkara lain mereka tidak berlaku adil.

Jadi, ketakwaanlah yang membuat manusia mampu menegakkan keadilan; dan ketakwaanlah yang membuat perhatian manusia cenderung kepada Tuhan; dan ketakwaanlah yang membuat manusia cenderung untuk menunaikan hak-hak ibadah kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, apabila waktu shalat sudah tiba dan kalian pergi ke masjid untuk beribadah, lalu jika kepentingan-kepentingan pribadi dan urusan-urusan duniawi memalingkan perhatian kalian kesana-kemari, namun di waktu shalat dimulai palingkanlah semua perhatian kalian kearah hukum-hukum Allah Ta’ala dan berusahalah kalian untuk menjadi hamba-Nya yang sejati. Jika tidak, semua  amal ibadah itu tidak ada gunanya, kedatangan kalian ke masjid tidak mendatangkan faedah apapun. Jadi, tatkala kalian sudah memurnikan agama (iman kalian murni) dan ada perintah untuk menyeru Tuhan, maka untuk meraih mutu (standar tinggi) ibadah-ibadah, berpegang teguh disiplin mengamalkan perintah-perintah Ilahi juga merupakan syaratnya. Harus mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Rasa takut kepada Tuhan dan ketakwaanlah yang mendorong manusia untuk memenuhi kewajiban-kewajiban dan hak-hak sesama hamba-hamba Allah Ta’ala. Dan hal itu semua yang mendorong manusia untuk menunaikan kewajiban ibadah terhadap Allah Ta’ala.

           Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman: كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ “Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada kali pertama demikian pula setelah meninggal kamu akan kembali kepada-Nya.” (Al-A’raaf : 30) Manusia harus selalu ingat bahwa amal perbuatan yang dilakukan didunia ini akan menjadi bahan untuk menerima hukuman atau ganjaran dari Allah Ta’ala di akhirat nanti. Jadi, Allah Ta’ala berfirman, berbagai tingkatan didalam kehidupan jasmani dan jalannya kehidupan kalian harus menjadi peringatan bagi kalian bahwa kehidupan di alam akhirat juga mempunyai bermacam-macam tingkatan yang akan dihadapi oleh ruh kalian. Jadi, untuk kehidupan di alam akhirat nanti dan untuk keadaan di sana yang lebih baik kalian harus memikirkannya  di alam dunia ini. Dan pikiran itu akan menjadi murni dan hakiki keadaannya apabila hak dan kewajiban ibadah terhadap Allah Ta’ala dilaksanakan dengan baik. Dan ibadahnya itu dilakukan semata-mata demi meraih keridhaan Allah Ta’ala. Kalian harus berusaha melaksanakan hukum-hukum-Nya dengan sebaik-baiknya. Ketika berdiri menunaikan shalat harus diingat dalam benak, “Saya sedang berdiri di hadapan Allah Ta’ala. Dengan perhatian yang murni ditujukan kepada Allah Ta’ala,  hanya ibadahlah yang akan membuat saya berhasil untuk meraih karunia-karunia Allah Ta’ala di dunia ini dan juga di akhirat nanti.”

Bagaimanakah ibadah yang murni dan ikhlas harus dilakukan? Sambil melukiskan hal ini dalam menjawab pertanyaan dari seorang penanya; ketika berdiri untuk shalat harus bagaimana gambaran tentang Allah Ta’ala dalam benak kita? Hadhrat Masih Mau’ud as menjawab pertanyaan ini:

”Ini perkara besar dan penting sekali. Allah Ta’ala berfirman didalam Alqur’anul Karim, ادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ ud’uuhu mukhlisiina lahud diin “Serulah Dia dengan mengikhlaskan agama kepada-Nya.” Harus mengingat Allah Ta’ala dengan hati ikhlas dan harus banyak menelaah kebaikan-kebaikan-Nya.” [5]

Kebaikan-kebaikan Allah Ta’ala tidak terhitung banyaknya terhadap manusia dan terutama kepada orang-orang yang tinggal di negeri ini dimana terdapat kebebasan beragama dan untuk kehidupan duniawi juga Allah Ta’ala menurunkan karunia dan kebaikan.

Bersabda, ” Banyak-banyaklah kalian menelaah kebaikan-kebaikan-Nya” Hal itu harus dilakukan dengan  ikhlas, dengan ihsan dan harus kembali kepada-Nya dengan penyerahan diri karena Dialah Penolong Sejati. Intisari perintah ibadah adalah menciptakan keadaan diri sendiri demikian rupa seakan-akan sedang berdiri melihat Tuhan atau ia tahu bahwa Tuhan sedang melihatnya. Suci bersih dari pikiran yang campur baur dan suci dari setiap macam syirik dan hanya ingat kepada Keagungan-Nya dan kepada segala aspek Rabbubiyyat-Nya. Doa-doa matsuuraat dan doa-doa lainnya harus banyak-banyak dipanjatkan kepada Tuhan; banyak-banyak bertaubat dan istighfar harus dilakukan kepada-Nya; berulang-ulang menyatakan kelemahan diri di hadapan-Nya, supaya membuat nafs (jiwa) menjadi suci bersih. Dan selalu terikat hubungan yang sejati dengan Allah Ta’ala. Dan terbenam dalam kecintaan terhadap-Nya.” [6]

Keadaan-keadaan demikianlah yang harus tercipta setiap waktu di dalam diri setiap orang mukmin dan Masjid adalah sarana yang terbaik untuk menciptakan keadaan demikian dan untuk mengingatkan manusia ke arah itu.

Jadi harus selalu kita ingat bahwa dengan dibangunnya sebuah Masjid tanggung jawab dan kewajiban kita semakin bertambah banyak. Dimana kita harus giat menunaikan kewajiban ibadah di sana perhatian kita harus ditingkatkan untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum Allah Ta’ala yang lainnya juga. Pertama dari semuanya ialah memfokuskan pada agama, jika tidak maka kita tidak akan menjadi pelaksana dengan keikhlasan dan ketaatan kepada-Nya (mukhlishiina lahud diin).

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

”Sekarang tiba zamannya dimana perbuatan riya (pamer kebaikan dengan niat pribadi), ‘ujub (senang dan bangga diri), menonjolkan diri, takabbur, besar kepala, arogan dan sifat-sifat radzillah (sifat-sifat rendah dan buruk) lainnya semakin mengemuka dan مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (mukhlishiina lahud diin, keikhlasan beragama) dan sifat-sifat hasanah lainnya sudah terbang ke langit.” Tawakkul dan penjagaan diri hanya tinggal nama.” Yakni, bertumpu hanya kepada hal-hal duniawi, menyombongkan kebesaran diri masing-masing dan sebagainya  sedang mengalami kemajuan. Tawakkul terhadap Allah Ta’ala sangat berkurang. Penuhanan (penyembahan) kepada dunia semakin bertambah perhatiannya. Perhatian terhadap rabbubiyyat Allah Ta’ala sangat kurang. Kewajiban ibadah kepada Allah Ta’ala juga tidak dilaksanakan dan pekerjaan yang telah diamanatkan oleh Allah Ta’ala yang menyuruh berbuat kebaikan-kebaikan sama sekali tidak mendapat perhatian. Beliau as bersabda, orang-orang seperti itu bagaimana dapat menjadi   مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ (mukhlishiina lahud diin, keikhlasan beragama)? Bagaimana hal itu dapat ditunaikan haknya? Selanjutnya beliau as bersabda, “Sekarang Allah Ta’ala mempunyai iradah agar penyemaian benih kebaikan-kebaikan itu dapat dilakukan.” [7]

Yakni, penyemaian benih-benih pekerjaan-pekerjaan baik dilakukan. Bagaimanakah iradah Allah Ta’ala? Di zaman ini Allah Ta’ala dengan mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as telah menyempurnakan iradah-Nya.

Maka apabila kita menyatakan diri telah mengadakan hubungan (menjadi pengikut) dengan Hadhrat Masih Mau’ud as kita harus menjauhkan diri dari kehidupan yang hanya mengurus kepentingan duniawi dan kita harus ikhlas meninggalkannya. Dan seperti telah saya katakan sebelumnya, barulah [saat itu] kita dapat menyempurnakan maksud dan tujuan membangun Masjid. Bersamaan dengan ibadah-ibadah, kita harus memberi perhatian kearah perbaikan amal perbuatan kita. Barangsiapa yang berbuat demikian maka pasti ia akan menjadi orang yang betul-betul telah menyempurnakan tuntutan-tuntutan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Perkataan Hadhrat Hadhrat Masih Mau’ud as ini, ‘sekarang Allah Ta’ala mempunyai iradah untuk menyemai benih’ kata-kata ini bukanlah hanya merupakan perkataan semata; bahkan, harus tercipta perubahan-perubahan besar didalam tabiat-tabiat manusia sebagai natijah (dampak, hasil) dari penyemaian benih itu. Seratus duapuluh tiga tahun yang lalu telah dilakukan penyemaian benih itu. Natijahnya telah lahir beratus ribu ‘ibaadush shaalihiin (hamba-hamba saleh). buah-buah ‘ibaadush shaalihiin telah dianugerahkan dan perlakuan Allah Ta’ala seperti ini sekarang juga tengah berlangsung. Orang-orang baru menggabungkan diri dengan Jemaat berpikir bagaimana menjalin hubungan yang hidup dengan Allah Ta’ala, bagaimana dapat memperoleh mutu ibadah-ibadah yang setinggi-tingginya. Bagaimana untuk meraih kualitas yang luhur agar seorang hamba dapat meraih keridhaan Allah Ta’ala? Sekarang orang-orang yang sedang duduk di hadapan saya, sebagian besar terdiri dari para Ahmadi yang orang tua dan kakek-nenek mereka adalah orang-orang Ahmadi yang telah memahami iradah Allah Ta’ala dan telah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan telah menegakkan mutu pelaksanaan huquuqullah dan huquuqul ‘ibaad. Maka untuk meningkatkan buah dari ibadah-ibadah para sesepuh Jemaat  itu menjadi kewajiban generasi penerus mereka. Bahwa mereka bukan hanya harus menegakkan hubungan sejati dengan Allah Ta’ala melainkan mereka harus meningkatkannya juga. Dan hal itulah keistimewaan yang membedakan antara Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as dengan golongan-golongan Islam lainnya. Jika tidak demikian, toh banyak orang yang mengamalkan shalat secara lahiriah (kelihatan, kasat mata), puasa secara lahiriah, membaca atau tilawat Alqur’an secara lahiriah. Perbedaan antara kita dengan mereka baru akan nampak secara lahiriah apabila setiap amal perbuatan kita hanya dilakukan karena Allah Ta’ala. Demikian juga didalam setiap urusan duniawi dilakukan demi keridhaan Allah Ta’ala. Maka di waktu kita datang ke masjid pun untuk menunaikan ibadah semua perhatian dan semua perasaan kita ditujukan hanya kepada Allah Ta’ala dan kita hanya kepada-Nya akan berseru sambil mengikhlaskan hati bagi agama. Di waktu menunaikan ibadah-ibadah shalat perhatian kita tidak akan teringat kepada masalah dunia, tidak akan teringat kepada pekerjaan kita, tidak akan teringat kepada keinginan-keinginan nafsu kita, dan tidak pula akan tertuju kepada usaha tindak pembalasan, melainkan semua perkara diserahkan kepada Allah Ta’ala sambil bersujud di hadapan-Nya. Semoga demi meraih keridhaan-Nya kita menjadi para pelaksana hukum-hukum Allah Ta’ala; menjadi pelaksana hukum yang telah diperintahkan-Nya kepada kita. Semoga kita semakin maju dalam amal kebaikan dan menjadi orang-orang yang maju dalam ketakwaan. Menjadi orang-orang yang selamat dari dosa-dosa dan perbuatan yang berlebih-lebihan. Dan kita harus berjihad untuk menentang itu semua. Bukan hanya menghindarkan diri dari padanya bahkan harus berjihad juga menentang dosa. Allah Ta’ala berfirman didalam Alqur’anul Karim Surah Al Maidah ayat 3:

ولا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآَنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَاب

“Dan janganlah kebencian suatu kaum mendorongmu melampaui batas karena mereka mencegah kamu dari Masjid Haram. Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan; dan janganlah kamu tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Dan berketakwaanlah kepada Allah; sesungguhnya Allah sangat keras dalam hukuman-Nya.”

            Sekarang inilah keberatan dan kritikan terhadap Islam bahwa Islam adalah agama yang menyukai kekerasan dan agama yang menyukai peperangan dan na’udzubillah Islam disebarkan begitu keras dengan cara kekerasan dan menggunakan pedang. Islam melawan dengan menggunakan pedang [senjata, kekerasan] semua penentangnya, yaitu agama-agama lainnya yang menentang agama Islam. Di dalam ayat tersebut Allah Ta’ala menentang tuduhan itu. Di bagian ini dalam ayat itu, hamba-hamba mukhlis Allah Ta’ala yang selalu mencari keridhaan Allah Ta’ala dan ibadah mereka semata-mata karena Tuhan, bagaimanapun kepada musuh mereka akan memperlakukan demikian bahwa mereka tidak akan melakukan tindakan melampaui batas kepada siapa pun. Siapapun yang melakukan tindakan dengan kekuatan (kekerasan), mereka tidak akan membalas melakukan kekerasan.

Jadi, seorang Muslim, dia adalah seorang beriman sejati yang semata-mata menghendaki keridhaan Allah Ta’ala; dalam hal kebaikan dan ketakwaan mereka dengan sungguh-sungguh siap-sedia bekerja sama dengan siapapun baik dengan kalangan sendiri (sesama Muslim) maupun dengan orang ghair [non Muslim]. Dan mereka menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa dan keburukan-keburukan. Dan mereka sama-sekali tidak dapat bekerja sama didalam perbuatan-perbuatan buruk demikian. Sebab hal itu bertentangan dengan ketakwaan dan sama dengan mensia-siakan ibadah dan amal baik mereka. Orang-orang yang menjadi penghalang terhadap ibadah-ibadah shalat dan membantu dalam perbuatan-perbuatan yang melampaui batas, mereka kosong dari ketakwaan, shalat-shalat mereka hanya untuk pamer belaka. Ibadah dan shalat-shalat mereka sedikitpun tidak memiliki nilai di sisi Allah Ta’ala. Dan mengenai orang-orang yang melakukan ibadah seperti itu Allah Ta’ala berfirman فويل للمصلين ‘fa wailul lil mushalliin’ – “Kehancuranlah [celakalah] bagi orang-orang yang menunaikan shalat demikian.” Kita yang sudah beriman kepada Imam Zaman dan telah memperbaharui janji untuk mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala, dariantara kita tidak bisa terjadi demikian bahwa apabila datang ke masjid tujuannya hanya untuk beribadah dan memenuhi maksud dibangunnya Masjid itu kemudian dia akan terlibat dalam perbuatan dosa dan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas. Maka orang-orang Jemaat yang tinggal berdekatan dengan Masjid ini berkewajiban menjaga untuk menjauhkan semua tuduhan seperti itu.

Dibangunnya Masjid baru disini disamping membuka jalan-jalan baru pertablighan bisa jadi juga membuka pintu penentangan terhadap Islam dan Jemaat yang lebih keras lagi. Timbulnya penentangan dari masyarakat awam Islam terhadap Jemaat Ahmadiyah disebabkan para pemimpin agama mereka telah menyebarkan pandangan yang sangat keliru dan bertolak belakang dengan keadaan yang sebenarnya. Dan mereka mengatakan, ‘na’udzubillah’ Jemaat Ahmadiyah merampas atau menyerang kedudukan Khatamiyyat Nubuwwat Hadhrat Rasululah saw. Padahal kita orang-orang Ahmadiyah selalu mengumumkan, Jemaat Ahmadiyah mempunyai keyakinan yang paling kuat dari semuanya perihal kedudukan Hadhrat Rasulullah saw sebagai Khatamun Nabiyyin. Pemahaman dan pengertian ini telah kita peroleh dari ‘asyiq shadiq’ – pecinta sejati beliau saw, Hadhrat  Masih Mau’ud as (Imam Mahdi). Bagaimanapun kita harus menghadapi semua penentangan dari pihak kaum Muslimin. Demikian juga orang-orang non Muslim disebabkan gambaran Islam yang salah yang dibuat-buat oleh mereka sendiri dengan penuh kebencian melakukan perbuatan-perbuatan yang melampaui batas menentang kita. Selain itu ada juga orang-orang rasist [segolongan orang yang membenci atau menganggap musuh suku bangsa lain] yang memusuhi bangsa lain, memusuhi para pendatang dari luar negeri mereka yang melancarkan tindak kekerasan juga terhadap kita. Maka kita orang-orang Jemaat menjadi sasaran dari setiap penjuru. Kemarin lusa pada malam hari, di dinding pagar Masjid terdapat coretan kata-kata yang tidak patut dan melemparkan cat dan sampah (kotoran) lainnya ke Masjid untuk membuatnya kotor; hal demikian disebabkan rasa benci dan permusuhan orang-orang non Muslim terhadap Islam. Kewajiban kitalah untuk menjauhkan segala jenis syak-wasangka dan keraguan dari semua pihak. Hal itu dapat dilaksanakan apabila ibadah-ibadah kita semata-mata karena Allah Ta’ala dan apabila kita menjadi pelaksana-pelaksana untuk menyempurnakan hak-hak maksud pembangunan Masjid.

Oleh karena itu harus selalu diingat bahwa keindahan Jemaat terletak pada perlombaan satu dengan yang lain di bidang kebaikan dan bidang ketakwaan. Demi meraih keridhaan Allah Ta’ala hubungan persaudaraan satu sama lain harus dijalin sedemikian rupa sehingga setiap orang yang melihat kita akan terkesan dengan baiknya hubungan persaudaraan yang khas didalam Jemaat ini.

Salah satu dari pentingnya perintah datang ke Masjid adalah untuk shalat berjamaah agar dengannya nampak pemandangan sebuah Jemaat dan nampak laksana satu wujud sehingga timbul kecintaan antara sesama mereka dan permusuhan pun menjadi jauh.

         Hadhrat Masih Mau’ud as dalam memberi nasihat kepada kita bersabda:

”Harus dibuat peraturan untuk membantu orang-orang lemah dan memberi kekuatan kepada mereka. Alangkah tidak patut terjadi, apabila dua orang bersaudara, yang seorang tahu berenang dan seorang lagi tidak, yang tahu berenang tidak mau menyelamatkan saudaranya yang sedang tenggelam ataukah dia membiarkan saudaranya tenggelam? Kewajiban dialah untuk menyelamatkannya agar tidak tenggelam. Itulah sebabnya terdapat firman Tuhan didalam Alqur’an, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى  “Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan.” (Surah al-Maaidah, ayat 3) Yakni tolong angkatlah beban orang-orang yang lemah. Bekerja samalah dalam menanggulangi kelemahan amaliah (amal perbuatan), imaniah (keimanan) dan maliah (harta benda) orang lain. Obatilah orang-orang yang mempunyai kelemahan-kelemahan badaniah. Suatu Jemaat tidak dapat dikatakan Jemaat yang benar jika ia tidak memberi dukungan terhadap orang-orang lemah. Ada salah satu caranya yaitu tutupilah kelemahannya. Para Sahabat Rasulullah saw telah menerima tarbiyyat agar jangan mengusik perasaan orang-orang lemah dan miskin yang baru masuk Islam. Sebab keadaan kalian juga dahulu lemah dan miskin seperti itu. Demikianlah, seharusnya orang-orang besar menolong orang-orang kecil dan lemah dan berlaku dengan lemah-lembut dan kasih sayang terhadap mereka.

Kemudian beliau as bersabda, “Perhatikanlah! Sebuah Jemaat tidak dapat dikatakan Jemaat bila satu dengan yang lain saling memakan [berlaku kejam terhadap yang lain]. Apabila ada empat-lima orang duduk berkumpul, diantaranya mulai menghina teman-temannya yang lemah dan miskin dan terus-menerus melemparkan kritikan-kritikan kepada mereka serta merendahkan dan memandang mereka dengan penuh kebencian Sekali-kali jangan berbuat seperti itu. Melainkan bersatulah, didalam persatuan terdapat kekuatan dan timbul perpaduan yang akan menciptakan cinta-kasih satu dengan yang lain. Akhirnya pasti akan mengundang keberkahan dari Alah Ta’ala. … Mengapa tidak dilakukan dimana kekuatan akhlak harus diperluas ruang lingkupnya. Dan hal itu semua baru akan terbukti hasilnya apabila rasa simpati, kecintaan, sifat pemaaf dan kebaikan diperluas ditengah-tengah masyarakat. Simpati dan menutupi kelemahan-kelemahan orang lain didahulukan dari amal perbuatan lainnya. Jangan hendaknya melakukan tindak balas terhadap kesalahan-kesalahan kecil yang dapat melukai perasaan hati orang dan menimbulkan kekecewaan. … Sebuah Jemaat baru akan menjadi Jemaat yang benar apabila sebagian orang menaruh simpati terhadap orang-orang lain dan saling menutupi kesalahan orang lain. Apabila keadaan dan suasana seperti itu telah melembaga barulah semua akan menjadi sebuah wujud yang saling menjaga dan memelihara dan akan saling mencintai satu sama lain lebih dari mencintai saudara kandung  sendiri. Dan akan menganggap saudaranya lebih baik dan lebih terhormat dari pada dirinya sendiri. … Allah Ta’ala juga telah mengingatkan para sahabat dengan cara dan sistim yang membawa keberkahan seperti itu. Jika mereka membelanjakan mas sebesar gunung-pun persatuan dan persaudaraan tidak akan dapat diperoleh seperti yang telah mereka peroleh melalui tarbiyyat Hadhrat Rasulullah saw. Demikianlah Allah Ta’ala telah mendirikan Silsilah (Ahmadiyah) ini dan persaudaraan seperti itulah yang akan ditegakkan disini.” [8]

Maka untuk menciptakan perubahan seperti itulah Hadhrat Masih Mau’ud as telah datang yaitu menegakkan ketakwaan di dunia untuk kedua kali dan untuk menciptakan kelompok ibaadurrahmaan yang mukhlis yang menunaikan huquuqullah serta huquuqul ‘ibaad. Jadi kegembiraan kita tidak terbatas dengan hanya rampungnya pembangunan masjid ini melainkan bersamaan membangun masjid sembari mengamalkan مخلصين له الدين  ’mukhlishiina lahud diin’ – keikhlasan beragama hanya untuk-Nya menjadi abd (hamba) hakiki. Di era madiah (zaman materialisme) ini dimana manusia sibuk berusaha untuk mendapatkan materi. Meraih standar [iman dan amal seperti] itu sungguh menjadi sarana untuk meraih karunia-karunia Allah Ta’ala. Sekarang dengan karunia Allah Ta’ala melalui Hadhrat Masih Mau’ud as amanat Islam hakiki sedang menyebar ke setiap penjuru dunia. Dimana orang-orang non Muslim juga sedang ramai masuk Islam dan menjadi ‘ibaadurrahmaan melalui silsilah atau Jemaat ini dan orang-orang Muslim juga banyak yang telah meninggalkan bid’ah-bid’ah dan memahami ajaran Islam hakiki kemudian baiat masuk kedalam Jemaat beliau as. Sebagaimana telah saya katakan pada permulaan khotbah ini bahwa Islam yang sebenarnya pada zaman ini dipersembahkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as mewakili Hadhrat Rasulullah saw. Kemarin lusa saya menerima sepucuk surat dari Ahmadi Uzbek [Uzbekistan, Asia Tengah); di dalamnya ia menyampaikan hal demikian bahwa bagaimana Allah Ta’ala telah merubah keadaannya yang luar biasa setelah masuk Ahmadiyah. Hal itu membuktikan bagaimana Allah Ta’ala dengan karunia-Nya sedang menarik hamba-hamba-Nya yang berfitrat baik dan suci menjadi bagian dari Jemaat-Nya dan membersihkannya dari bid’ah-bid’ah. Beliau menulis dalam bahasa Uzbek terjemahannya sebagai berikut: ”Di dalam kehidupan yang sedang kami jalani ini terdapat juga sesuatu yang kami sendiri sepenuhnya tidak mengetahuinya. Kata-kata yang sampai sekarang belum pernah seseorang memperdengarkannya misalnya membaca Alqur’an atas kematian seseorang (beliau menyebut berbagai bid’ah yang dikerjakannya), atau mempercayai Isa as sudah wafat dan lain-lain. Akan tetapi dengan sabar dan tabah kami menelaah buku-buku itu [yakni beberapa buku Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah diterjemahkan kedalam bahasa mereka, Uzbek].” Katanya, “Semakin banyak kami membacanya semakin banyak nur dan cahaya masuk kedalam kalbu kami dan memberi kekuatan iman kepada kami. Alhamdu lillaah setelah membaca buku-buku itu kami merasa bahwa sejak lama kami telah melantur jauh sekali dari jalan Allah Ta’ala. Kami mohon dengan hormat kepada tuan [Hudhur] untuk mendoakan kami sehingga kami mendapatkan kekuatan Ilahi dan nur dari Jemaat yang memancar ke seluruh badan kami.” Beliau menulis, “Kami bersyukur kepada Allah Ta’ala bahwa kami telah terlepas dari bid’ah-bid’ah yang berat yang telah menguasai diri kami untuk waktu yang sangat lama. Alhamdu lillaah. Akan tetapi di lorong-lorong kampung kami nampak orang-orang terbelenggu dengan bid’ah-bid’ah ini.”

Jadi, mereka itulah pendatang-pendatang baru ke dalam Jemaat ini bagaimana mereka sedemikian rupa telah melepaskan diri [dari bid’ah-bid’ah) dan saudara-saudara seperti yang pernah saya katakan bahwa di sini banyak terdapat anak-anak para sesepuh [tokoh] Jemaat kita; maka secara khusus saudara-saudara harus berusaha meninggalkan bid’ah-bid’ah yang terpendam di dalam diri masing-masing. Jauhilah adat kebiasaan lahiriah. Janganlah berjalan hanya dibawah pengaruh trend zaman. Jika tidak, para pendatang baru dalam Jemaat ini akan meninggalkan kalian jauh di belakang.

Pengirim surat ini menuliskan namanya ‘Rasul Jaan’. Selanjutnya beliau menulis, ”Saya termasuk kedalam keluarga yang mempunyai nama keluarga Artikov. Saya berumur 68 tahun. Keluarga kami semua telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan kami memohon doa semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada kami anak keturunan yang menjadi para ulama Islam dan para doktor (cendekiawan, intelektual) Muslim dimana sekarang sedang kekurangan doktor.” Sebelumnya beliau telah menyebut orang-orang yang dinamakan ulama (ulama-ulamaan), akan tetapi beliau memohon doa untuk [semoga Allah Ta’ala menciptakan] para ulama hakiki [dari antara keturunannya] yang betul-betul menjadi ibaadur rahman yang berjalan diatas hukum-hukum hakiki Allah Ta’ala, yang menunaikan hak-hak ibadah kepada Allah Ta’ala. Muballigh di sana menulis bahwa orang ini sebelumnya keras sekali menentang Jemaat. Anak beliau telah baiat sebelumnya dan beliau menentang sangat keras bahkan mengancam anak beliau terus-menerus untuk mengusirnya dari rumah. Akan tetapi pada tahun 2008 yang lalu entah bagaimana beliau telah mengikuti Jalsah Jubilee Khilafat (Perayaan 100 Tahun Khilafat). Dan dengan karunia Allah di waktu menghadiri Jalsa Seabad Khilafat itulah beliau sangat terkesan dan langsung meminta baiat. Kondisi saat ini mubaligh telah menulis surat, “Kesetiaan dan ketaatannya maju demikian cepatnya sehingga beliau mempunyai kecintaan yang sangat khas terhadap Hadhrat Rasulullah saw dan juga terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as.” Mengatakan, “Sebelum masuk Jemaat ketika sedang bertukar pikiran tentang Jemaat, beliau sangat membenci Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun sekarang telah berubah sangat luar biasa sehingga telah menjadi pencinta sejati Sayyidina Hadhrat Masih Mau’ud as dan siap berkorban. Mula-mula beliau sangat keberatan diberi buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun sekarang ketika diberi buku Filsafat Ajaran Islam terjemahan Bahasa Uzbek beliau mengatakan, ‘Satu kali membaca saya paham, dua kali membaca hati saya merasa sangat sejuk sekali dan sekarang saya sedang membaca untuk ketiga kalinya.’”

         Jadi, demikianlah keadaan iman pendatang baru dalam Jemaat. Dengan karunia Allah Ta’ala, mereka terus-menerus sedang mengalami kemajuan. Mereka itu di negara-negara bagian Russia. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita dapat menyaksikan sempurnanya ilham Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa banyaknya benih Ahmadiyah di negara itu seperti pasir di tepi laut.

Jadi, di zaman ini Islam hakiki tengah diketahui oleh dunia melalui perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud as. Inilah wilayah di mana tidak ada Masjid kita; bahkan, tabligh secara terbuka juga tidak diizinkan dan perkenalan Ahmadiyah juga tidak dapat dilakukan. Akan tetapi Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud as. Dengan karunia Allah Ta’ala perhatian orang-orang di sana dengan sendirinya mulai timbul [terhadap Ahmadiyah] dan kemenangan Ahmadiyah juga akan diperoleh melalui doa-doa, insya Allah Ta’ala. Kita yang sedang tinggal di negara-negara Barat ini mendapat kebebasan beragama dan untuk ibadah juga tidak ada suatu hambatan apapun. Kita harus mendoakan bagi penduduk negara-negara bagian Rusia yang telah saya sebutkan dan juga bagi negara-negara Muslim lainnya dimana tabligh Jemaat secara bebas tidak diizinkan semoga Allah Ta’ala menyingkirkan semua pembatasan-pembatasan dan hambatan-hambatan di sana dan semoga mereka juga dengan bebas dapat menjadi para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud as. Semoga Allah Ta’ala memberi kemampuan kepada mereka untuk membangun masjid-masjid di sana. Di sini di negeri-negeri ini kebebasan beragama disebutkan, namun bersamaan dengan itu Undang-Undang di sini mereka memberi kebebasan memilih kepada Council lingkungan (semacam badan musyawarah RT/RW) yang jika mereka menghendaki mereka juga dapat melarang (menghentikan) siapa pun yang membangun suatu gedung (bangunan). Untuk membangun Masjid kita di sini juga setelah mendapat izin dari Council, kita mendapat hambatan-hambatan dari Council itu juga yang melancarkan protes dan mencabut kembali izin itu sehingga penyelesaian pembangunan menjadi terlambat. Namun, saya beranggapan Allah Ta’ala telah mendengar doa-doa para Ahmadi di sini dan mengabulkannya. Ketika kasus ini diajukan ke pengadilan kita dinyatakan menang dan berada di pihak yang benar. Bahkan pengadilan juga telah memutuskan biaya sidang seluruhnya ditanggung oleh Council.

Atas keputusan yang adil itu para Ahmadi di sini harus menyatakan terima kasih kepada Pengadilan tersebut dan harus menunjukkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala juga. Harus lebih banyak menundukkan kepala di hadapan-Nya. Para anggota Jemaat di kawasan ini harus menjadi hamba-hamba Allah Ta’ala yang hakiki dan berusaha menyempurnakan hak-hak Masjid ini. Untuk menyatakan rasa syukur kepada Allah Ta’ala para anggota Jemaat di kawasan ini harus berusaha datang ke Masjid ini untuk menunaikan shalat berjamaah sekurang-kurangnya 5 kali sehari.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللهِ قَالَ الْمَلَائِكَةُ تُصَلِّي عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مُصَلَّاهُ الَّذِي صَلَّى فِيهِ مَا لَمْ يُحْدِثْ؛ تَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.

Terdapat sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Para Malaikat memanjatkan doa bagi setiap orang dari antara kalian selama ia tetap duduk di tempat di mana ia telah menunaikan shalatnya selama ia tidak berhadats (batal wudhu). Malaikat berdoa: Ya Allah ! Ampunilah dia! Ya Allah! Kasihanilah dia!” [9]

Betapa beruntungnya orang yang didoakan oleh Malaikat. Maka apabila doa Malaikat serta doanya sendiri bersatu akan menjadi sarana untuk menarik banyak karunia Allah Ta’ala. Orang yang telah mendapat karunia dan kasih sayang Allah Ta’ala, apa lagi yang dia perlukan? Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk kedalam kelompok orang-orang yang meraih pengampunan dan kasih-sayang-Nya.

            Pada akhirnya saya akan menerangkan dengan singkat beberapa hal yang telah diberitahukan kepada saya mengenai pembangunan Masjid ini, bagaimana pembangunan Masjid ini dan bagaimana sebuah gedung telah dirubah bentuk dan fungsi menjadi sebuah Masjid. Pembelian dan pembangunan gedung ini seharga kurang-lebih 900.000 Pound dan dengan karunia Allah Ta’ala Jemaat telah; dalam pandangan saya 2 Jemaat Hounslow; – ini diberitahukan kepada saya – telah banyak memikul biaya ini. Selain itu beberapa Jemaat lainnya dari beberapa tempat di region ini juga memberi bantuan dana untuk itu. Jika dihitung hanya jumlah pembayar Candah Jemaat Hounslow dan Jemaat Felthum sebanyak mendekati 200 orang. Jumlah seluruhnya ada 600 orang. Mereka inilah yang telah memikul seluruh biaya pembangunan Masjid ini. Jika disatukan dengan semua Jemaat di region ini paling banyak ada 400 orang pembayar Candah. Nilai uang itu cukup besar jumlahnya. Dengan karunia Allah, Jemaat ini telah mengeluarkan pengorbanan cukup besar. Semoga Allah Ta’ala menerima pengorbanan-pengorbanan mereka. Dan khususnya ada empat orang yang paling besar menyerahkan pengorbanan untuk pembangunan Masjid ini yang jumlahnya sekitar 280.000 Pound. Seorang telah menyerahkan 100.000 Pound lebih, yang lainnya ada yang menyerahkan 20.000 Pound sampai 50.000 Pound. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan keberkahan yang tidak terhingga kepada jiwa dan harta mereka.

Akhirnya saya ingin mengingatkan kembali bahwa hak Masjid tidak dapat dihasilkan dengan pembangunan atau dengan pengorbanan 10.000, 50.000 atau 100.000 Pound. Maksud tersebut takkan pernah diraih dengan cara demikian. Maksud utama dengan memakmurkannya harus diraih. Orang-orang yang meramaikan Masjid itu pun melakukannya ikhlas karena Allah semata. Mereka datang ke Masjid murni untuk beribadah kepada Allah Ta’ala maka setelah keluar dari Masjid pun akan berkesan (berpengaruh) sehingga menjadi orang-orang yang memenuhi hak-hak hamba-hamba Tuhan; dan akan menjadi orang yang lebih maju dalam kebaikan dan ketakwaan. Dan hal inilah yang akan menjadikan kita orang-orang yang memenuhi hak-hak baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Untuk itu semua semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua.

Saya ingin menganjurkan untuk banyak berdoa bagi Jemaat kita di Pakistan yang setiap hari keadaannya semakin gawat. Akan tetapi sekarang diperlukan banyak berdoa bagi Jemaat di India juga, pihak ghair berusaha merampas Masjid kita di Hyderabad Dekkan. Dikarenakan jumlah orang Muslim di sana cukup besar sehingga Pemerintah setempat pun nampaknya terkena pengaruh oleh pihak mereka di sana. Semoga Allah Ta’ala melindungi Jemaat kita di sana dari setiap kejahatan mereka.

Penerjemahan oleh Mln. Hasan Bashri, Shd

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Felthum, sebuah kota di London Borough of Hounslow, barat London.

Kota ini terletak sekitar 21 km sebelah barat dari Barat Daya Pusat London di Charing Cross dan 3.2 km dari Heathrow Airport Central.

[3] Sunan Ibni Maajah, Kitaab al-Masaajidi wal Jamaa’aat, bab tathhiiril masaajidi wa tathyiibihaa hadits 758.

[4] Shahih Muslim Kitaabul Masaajid wa mawaadhi’ush shalaati bab nahyi ‘an nasydadh dhaalah fil masjid hadits nomor 1260

[5] Malfuuzhaat jilid panjam (V), halaman 335, edisi 2003, terbitan Rabwah

[6] Malfuuzhaat jilid panjam (V), halaman 335, edisi 2003, terbitan Rabwah. Doa matsuraat, doa yang disebutkan dalam Alqur’an dan hadits Nabi saw.

[7] Al-Badr, jilid 3, nomor 10 tangal 8 Maret 1904 halaman 3

[8] Malfuuzhaat jilid 2 halaman 263-265

[9] Shahih Muslim Kitabul Masaajid wa Mawaadhi’ish Shalaah bab Fadhlish Shalaatil Jamaa’ah wantizhaarish shalaah, hadits nomor 1508. Terdapat juga dalam Shahih al-Bukhari