Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu Ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

21 Juni 2013

      َشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Hadhrat Khalifatul Masih menilawatkan ayat-ayat dari Surah Al Ahzab

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا[

‘Hai orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah Ta’ala dan ucapkanlah perkataan yang benar. Dia akan memperbaiki untuk kamu amal-amal kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barangsiapa menaati Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, pasti mendapat kemenangan besar. “(Al-Ahzab 33:71-72)

Allah Ta’ala telah menyatakan dalam ayat-ayat ini untuk menjalankan ketakwaan dan mengatakan apa yang benar dan jelas

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam  menulis:

Qaul sadiid (perkataan yang benar) mengharuskan mengucapkan apa yang seluruhnya benar dan tepat, dan tidak ada unsur laghaw, tidak berguna dan kedustaan.”

‘Hai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah Ta’ala dan katakan apa yang didasarkan pada kebenaran, kejujuran, keadilan dan kebijaksanaan. ‘

“Jangan bicara hal laghaw, dan berbicaralah pada waktu dan tempat yang tepat.”[1]

Pernyataan di atas [dari Hadhrat Masih Mau’ud] membuat jelas bahwa ketakwaan dicapai ketika kebenaran ditegakkan dalam setiap situasi, pada waktu kesulitan atau kemudahan; baik itu ketika memutuskan ketika dalam kapasitas pengambil keputusan, pada saat memberikan kesaksian, di rumah dengan istri dan anak-anak, dengan teman dan keluarga, dalam bisnis saat menjual atau membeli, dan dengan bosnya. Dalam urusan sehari-hari segala hal, segala sesuatu harus benar-benar jujur ​​dan tanpa ambiguitas (mendua arti), supaya tidak mengakibatkan yang lain mengambil kesimpulan sendiri-sendiri. Seseorang harus jujur ​​bahkan jika itu menentang dirinya. Beberapa orang berpikir bahwa sedikit memalsukan dalam urusan sehari-hari tidak masalah. Allah Ta’ala menyatakan, itu masalah. Praktek-praktek seperti itu menurunkan standar ketakwaan, membawa orang pada kedustaan, dan jauh dari Tuhan atau ditolak oleh Allah Ta’ala. Mukmin sejati tetap teguh pada qaul sadiid (perkataan yang benar).

Sebuah patokan qaul sadiid adalah bahwa apa pun yang dikatakan adalah relevan dan tepat. Tidaklah penting untuk mengatakan semuanya yang benar. Jika tidak relevan dan tepat dapat menyebabkan perpecahan dan perselisihan. Dengan membocorkan rahasia orang lain hubungan menjadi rusak. Namun, kadang-kadang sesuatu mungkin tidak tepat dalam satu situasi tetapi menjadi penting dalam situasi lain. Sebagai contoh, beberapa hal disampaikan ke hadapan Khalifah-e-Waqt yang (tujuannya) untuk perbaikan. Hal-hal ini tidak untuk membocorkan (seperti) dalam situasi lain tapi di sini pengungkapannya menjadi relevan dan tepat. Masalah adalah relevan dan tepat ketika, dengan dasar qaul sadiid, sesuatu yang tidak penting tidak disampaikan dan tidak ada pernyataan berlebihan yang disampaikan dengan kedok penjelasan. Kadang-kadang orang menarik perhatian pada suatu hal untuk perbaikan, tetapi dalam prosesnya menjadi menyampaikan secara berlebihan. Dalam kondisi seperti itu masalahnya tidak lagi qaul sadiid, melainkan menjadi cemoohan dari qaul sadiid. Bahkan penyampaian secara berlebihan dengan kata-kata yang aneh menjadikan suatu masalah jauh dari kebenaran, dan sebagai akibatnya, bukannya mengambil sarana yang benar, justru mengambil cara yang salah untuk perbaikan. Kadang-kadang, perbaikan bisa dilakukan dengan nasihat yang lembut, dengan memaafkan atau dengan hukuman ringan. Namun, ketika kata-kata yang salah digunakan untuk memberitahu orang yang membuat keputusan, itu mendorongnya untuk menetapkan hukuman yang keras. Oleh karena itu kebijaksanaan juga harus diperhatikan bersama dengan kebenaran dan keadilan, dan kebijaksanaanlah yang menjaga perdamaian masyarakat di setiap tingkat. Kebijaksanaan semacam ini menuntut bahwa semuanya dikatakan menurut waktu dan tempat dan kesesuaian. Mengucapkan hal yang benar tanpa kebijaksanaan dan ketepatan/kesesuaian, bukanlah qaul sadiid. Sebaliknya ini jusru sembrono (kecerobohan), dan bukannya meraih keridhaan Allah Ta’ala, ini dapat menjadi sebab yang menimbulkan kemurkaan-Nya. Kecintaan Allah Ta’ala dicapai dengan memiliki pemahaman yang baik tentang ketakwaan dan qaul sadiid.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Manusia hendaknya cenderung pada jalan-jalan halus ketakwaan, di dalamnyalah ada keselamatan. Bila seseorang tidak memperhatikan hal-hal kecil maka suatu hari hal-hal kecil ini akan membuatnya melakukan dosa besar. Kelemahan dan kelalaian akan timbul dan menyebabkan kehancuran seseorang. Kalian harus memperhatikan pencapaian standar tinggi ketakwaan, dan untuk itu, kecenderungan kepada jalan-jalan halus ketakwaan sangat penting.”[2]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. juga bersabda: “Kesejahteraan dan kebahagiaan sejati tidak dapat dicapai tanpa ketakwaan. Sementara tetap teguh pada ketakwaan sungguh seperti minum secangkir racun. Allah Ta’ala Ta’ala mengatur segala sarana kebahagiaan bagi orang-orang mutaki4.

ومَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ (الطَّلاق 3-4)

 “… Orang yang bertakwa kepada Allah Ta’ala – Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan akan memberi rezeki kepadanya dari mana ia tidak menyangka-nyangka…” (65:3-4). Jadi, Taqwa adalah prinsip di belakang kesejahteraan, tapi kita tidak hendaknya tidak membuat persyaratan untuk meraih ketakwaan. Jalankan ketakwaan dan kalian akan mendapatkan apa yang kalian minta. Allah Ta’ala Ta’ala adalah Maha Pemurah dan Maha Karim, jalankan ketakwaan dan Dia akan memberikan pada kalian apa yang kalian inginkan.”[3]

Jangan ada perintah Ilahi yang dianggap kecil, apalagi perintah untuk qaul sadiid yang merupakan dasar perdamaian sosial serta dasar perbaikan (ishlah). Itulah sebabnya Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memasukkan ayat ini dalam khotbah Nikah. Pentingnya Nikah adalah bahwa itu adalah waktu bersatunya pria dan wanita dalam perkawinan Islami dan juga merupakan sarana untuk kelanjutan generasi mendatang. Namun, sebagaimana disebutkan sebelumnya, ruang lingkup qaul sadiid hendaknya tidak terbatas pada kehidupan keluarga, bahkan mencakup seluruh masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting untuk menjalankannya seperti yang Tuhan inginkan. Allah Ta’ala menyatakan bahwa mencari jalan-jalan halus detail ketakwaan menjadikan seseorang penerima rahmat Allah Ta’ala, dan amalannya diperbaiki, dan dia juga menghindari hal-hal yang laghaw.

Kita sering mendengarkan hadis yang menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menasehatkan seorang pria untuk berjanji mulai hari itu untuk selalu teguh pada kejujuran. Beliau bersabda jika orang itu mengikuti nasehat ini semua kelemahan dan kekurangannya akan hilang. Pria itu mengikuti nasehat tersebut dan menyingkirkan semua dosanya besar dan kecil. Ketika kondisi seperti ini terjadi, Allah Ta’ala menghendaki untuk memperbaiki amalan seseorang. Mereka yang menjalankan ketakwaan dan tetap teguh pada kejujuran, Allah Ta’ala juga mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu. Oleh karena itu, bukan saja seseorang seseorang diperbaiki tetapi dosa-dosanya di masa lalu juga diampuni. Seseorang menjadi mukmin sejati dengan mengikuti petunjuk Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw., menjalankan ketakwaan, melakukan amal baik, menghindari perselisihan dan mengikuti semua hukum yang Hadhrat Masih Mau’ud a.s. katakan sebagai 700 perintah Al-Qur’an. Hal ini juga member taufik untuk diampuninya dosa seseorang di masa depan. Karena perbaikan diri, seseorang terus jauh dari dosa. Sungguh, Istighfar memberi kita kekuatan melawan laku dosa.

Allah Ta’ala menyatakan bahwa bagi manusia, meraih keridhaan Allah Ta’ala adalah ‘keberhasilan besar’. sungguh, ketaatan sempurna kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. sangat penting untuk ‘keberhasilan besar’ ini, dan untuk menjalankannya, perlu memohon pertolongan kekuatan dari Tuhan. Kekuatan ini dapat diperoleh melalui Istighfar. seseorang ditarik untuk melakukan perbuatan baik dan Allah Ta’ala membimbingnya dan memasukkannya di antara mukmin sejati, yaitu orang-orang yang jujur, yang menyebarkan kebenaran dan yang menjalankan ketakwaan. Ketakwaan membawa orang pada ‘keberhasilan besar’ ini dan mereka yang mencapai ‘keberhasilan besar’ ini adalah mutaki. kita harus berusaha dan meraih kedudukan ini.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda tentang kejujuran: ‘Yang sebenarnya yakni, firasat adalah hal yang baik, ini memberikan manusia pemahaman yang melekat dalam dirinya tentang kejujuran orang lain. Ada keberanian dalam kejujuran sementara pembohong adalah pengecut. Orang yang hidupnya terlibat dalam kenajisan dan kekotoran selalu ketakutan dan tidak bisa bersaing. Dia tidak bisa mengungkapkan kejujurannya dengan berani seperti orang yang benar (sadiq), dan tidak bisa memberikan bukti kesuciannya. renungkanlah hal-hal duniawi yang kecil saja. Apakah ada orang yang Tuhan telah memberikan kedudukan baik dalam hidup, yang tiada orang yang iri kepadanya? Setiap orang dengan kedudukan yang baik pasti memiliki orang-orang yang iri yang mengikutinya. Begitu juga masalah agama. Setan adalah musuh bagi perbaikan. Manusia hendaknya menjaga kitab hisabnya bersih dan menjaga urusannya dengan Allah Ta’ala tetap benar dan membuat Allah Ta’ala ridha, maka tidak perlu takut pada seorangpun atau mempedulikan siapa pun. Hindari hal-hal yang akan menjadikannya pantas diazab. Namun, semua ini tidak bisa terjadi tanpa pertolongan dari Yang Maha Gaib dan taufik Ilahi. Kecuali dengan karunia Allah Ta’ala, usaha manusia semata tidak akan memberikan banyak faedah. خُلق الإنسان ضعيفا ‘…wa khuliqal insaanu dha’iifa’  Manusia diciptakan lemah. “(04:29) Manusia itu lemah dan penuh kekurangan, dan kesulitan mengelilingi dirinya dari segala sisi. Jadi, dia harus berdoa semoga Allah Ta’ala Ta’ala member taufik dan menjadikannya penerima pertolongan Yang Maha Gaib dan kebaikan karunia-Nya.” (Diterjemahkan dari Malfuzat, Vol. 10, hal. 252)

Manusia menghadapi kesulitan dalam urusan-urusan duniawi dan agama. Dengan karunia Allah Ta’ala, dengan taqwa dan kejujuran, kesulitan-kesulitan ini dapat dihilangkan. Kadang-kadang berbicara benar dapat menempatkan seseorang dalam kesulitan, tetapi jika dia jujur ​​dia akan keluar dari (kesulitan) itu. Kadang-kadang mengatakan hal yang benar di antara orang itu sendiri juga menempatkan dirinya dalam kesulitan, karena orang-orang ini memiliki berbagai macam watak. Ini timbul dari kurangnya ketakwaan. Misalnya, hari ini pemilihan Jemaat sedang diadakan di seluruh dunia, dan Hadhrat Khalifatul Masih menerima keluhan. Orang mengatakan mereka memilih seseorang atau seorang pengurus. Ada yang bertanya mengapa mereka memilih ini dan itu? Dalam sistem pemilihan Jemaat setiap orang memiliki hak untuk memilih secara jujur ​​siapa saja yang mereka anggap cocok dan tidak ada satupun atau seorang penguruspun yang berhak bertanya kepada mereka mengapa mereka memilihnya. Jika kelemahan ini ditemukan pada seseorang maka waktu berikutnya mereka tidak akan datang supaya kelemahan dan kegagalan mereka tidak nampak. Hal ini juga mungkin karena kurangnya ketakwaan, seperti kadang-kadang orang mengatakan bahwa mereka khawatir pengurus mungkin menyimpan kebencian tertentu terhadap mereka. Ini adalah kurangnya ketakwaan dan kurangnya kejujuran. Hendaknya selalu diingat bahwa jika seseorang telah menggunakan hak mereka dalam memberikan pendapat, maka tuntutan kejujuran dan ketakwaan adalah, tidak merasa khawatir. Memang, hendaknya memohon karunia Allah Ta’ala, dan jika ada karunia Allah Ta’ala, tidak ada seorang pun yang bisa melakukan sesuatu. Mereka yang menyimpan kebencian tersebut kadang-kadang masuk dalam ketetapan Allah Ta’ala. Nizam Jemaat tidaklah sedemikian rupa sehingga orang bebas melakukan apapun yang mereka inginkan, dengan satu dan lain cara mereka pasti dihukum.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. berkata: “Hal ini umumnya terlihat bahwa orang yang yakin bahwa ‘Tidak ada yang patus disembah selain Allah Ta’ala’ dan juga mengaku menerima Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga secara lahiriah mengerjakan Salat dan berpuasa. Namun, kenyataannya adalah tidak ada keruhanian yang tertinggal. Disisi lain, tindakan yang bertentangan dengan amal saleh ini menjadi saksi bahwa amal tersebut tidak dilakukan dengan ruh amal saleh tetapi sebagai adat kebiasaan, karena amalan itu bahkan tidak memiliki aroma keikhlasan dan keruhanian. Jika tidak, apa sebabnya berkat-berkat dan caya rohani amal saleh ini hilang? Ingatlah baik-baik bahwa kecuali amal tersebut dilakukan dengan hati yang benar dan dengan keruhanian, tidak akan ada manfaatnya dan amal-amal ini akan menjadi sia-sia. Amal saleh adalah amal saleh (sejati) ketika tidak ada kerusakan (fasad) didalamnya. Kerusakan (fasad) adalah lawan dari perbaikan (shalah). orang shaleh adalah orang yang bebas dari kerusakan (fasad).[4]

Ketika orang-orang yang dihukum atas hal-hal sepele dan diusik, itu masuk dalam kategori fasad. Orang harus mengintrospeksi diri bahwa dia harus melakukan amal saleh. Amalan seseorang akan diishlah ketika Allah Ta’ala menghendaki. Tanda dari orang yang menjalankan ketaqwaan adalah, mereka menganggap suatu amal itu baik Tuhan menganggapnya demikian, dan untuk itu dia membutuhkan karunia Allah Ta’ala dengan kembali kepada-Nya dan melalui Istaghfar.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ‘Manusia berpikir bahwa mengucapkan syahadat semata atau hanya mengatakan “أستغفر الله”  Astaghfirullah sudah cukup. Tapi ingat bahwa sekedar mengucapkan secara lisan saja tidaklah cukup. Tidak peduli seseorang mengatakan “أستغفر الله”  Astaghfirullah seribu kali atau membaca tasbih seratus kali, tidak akan mendapatkan apa-apa, karena Allah Ta’ala telah menciptakan manusia sebagai manusia dan bukan burung beo. Seekor burung beo mengucapkan sesuatu berulang-ulang meskipun ia tidak mengerti apa-apa. Manusia hendaknya berpikir sebelum berbicara dan kemudian juga mengamalkan sesuai dengan itu. Namun, jika ia hanya mengucapkan sesuatu berulang-ulang seperti burung beo maka ingatlah bahwa tidak ada berkat dalam mengaku dengan mulut semata. Kecuali hatinya dengan apa yang dia katakan dan dia juga mengamalkan sesuai dengan itu, apa pun yang dia katakan akan dianggap kata-kata belaka tanpa kualitas atau berkat, bahkan jika yang dia baca adalah Al-Qur’an atau Istighfar. Allah Ta’ala Ta’ala menghendaki tindakan, dan itulah mengapa berulang kali diperintahkan melakukan amal saleh, yang tanpa itu seseorang tidak akan bisa meraih qurub Ilahi. Beberapa orang bodoh mengatakan bahwa mereka khatam membaca Al-Qur’an dalam satu hari. Mereka harus ditanya apa yang mereka peroleh darinya? Mereka hanya membacanya dengan lidah mereka tapi sama sekali mengabaikan [penggunaan] anggota badan lainnya, sedangkan Allah Ta’ala Ta’ala telah menciptakan semua anggota badan supaya dapat dimanfaatkan. Inilah sebabnya ada Hadis yang menceritakan bahwa ada orang yang membaca Al-Qur’an tapi Al-Qur’an mengutuk mereka karena bacaan mereka hanya kata-kata belaka dan tanpa amalan apapun.”[5]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjadikannya sebagai tanda untuk masuk Jemaat beliau, atau menjadikannya sebagai tanda bagi orang-orang Jemaat bahwa mereka mengikuti 700 perintah Al-Qur’an. Setiap orang perlu memperhatikan amalan mereka dan menyesuaikannya dengan ajaran ini.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Seseorang yang tidak menyesuaikan amalannya dengan batas-batas yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala Ta’ala hanyalah mencemooh, karena hanya membaca (sesuatu] bukanlah kehendak Allah Ta’ala Ta’ala, karena Dia menginginkan tindakan. Jika seseorang membaca hukum pidana India setiap hari tetapi tidak mengikuti hukum tersebut, sebaliknya melakukan kejahatan seperti menerima suap dll. dan ketika orang ini tertangkap dia berdalih bahwa dia membaca hukum pidana setiap hari apakah itu dapat diterima? Atau apakah dia akan diberikan hukuman yang lebih keras untuk melakukan kejahatan meskipun telah mengetahuinya? Dia akan dihukum selama empat tahun, bukannya satu tahun.[6]

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Selanjutnya bersabda: “Singkatnya, kata-kata belaka tidak akan berguna. Maka hendaknya manusia pertama-tama berjalan melalui kesulitan sehingga ia membuat Allah Ta’ala Ta’ala ridha. jika ia melakukannya, Allah Ta’ala SWT akan memanjangkan umurnya. Allah Ta’ala Ta’ala tidak mengingkari janji-Nya. Dia telah berjanji: وَأَمَّا مَا يَنْفَعُ النَّاسَ فَيَمْكُثُ فِي الأَرْضِ (الرعد: 18) wa ma yanfa’un naasa fa yamkutsu fil ardhi “… apa yang bermanfaat bagi manusia, itu tetap tinggal di bumi … ‘dan itu sepenuhnya benar. Ini juga merupakan hukum umum bahwa tidak ada orang menyia-nyiakan sesuatu yang bermanfaat. Siapa yang akan menyembelih kuda, banteng, sapi atau kambing jika menguntungkan dan bermanfaat? Namun, ketika [binatang-binatang itu] sudah tidak bisa digunakan dan tidak bermanfaat maka jalan terakhir adalah menyembelihnya. “

Hadhrat Khalifatul Masih bersabda hal ini perlu direnungkan.

“Demikian pula, ketika seseorang sudah tidak ada gunanya dalam pandangan Allah Ta’ala Ta’ala dan dia tidak bermanfaat bagi orang lain, Allah Ta’ala Ta’ala tidak peduli padanya, bahkan Dia akan menghancurkannya karena pantas dibuang. Singkatnya, ingatlah hal ini baik- baik bahwa hanya bicara kosong semata tidak akan memberi manfaat atau pengaruh kecuali ucapan ini diamalkan ,dan tangan, kaki serta anggota badan lainnya digunakan untuk melakukan amal saleh. Allah Ta’ala Ta’ala menurunkan Al-Qur’an dan menjadikan para sahabat melayaninya. Apakah mereka menganggap cukup untuk sekedar membaca Al-Qur’an ataukah mereka menganggap amal itu penting? Mereka menunjukkan kesetiaan dan ketaatan sampai tahap bahwa mereka mengorbankan diri seperti binatang. Apa yang mereka capai setelah itu dan betapa Allah Ta’ala menghargai mereka bukanlah hal yang tersembunyi.

Jika kalian ingin meraih karunia dan rahmat dari Allah Ta’ala Ta’ala, maka tunjukkan prestasi, jika tidak kalian akan dibuang seperti barang tak berguna. Tidak ada yang melempar keluar barang rumah tangganya yang berharga, emas dan perak. Sebaliknya semua benda tersebut dan semua benda yang berguna dan berharga dirawat dengan baik. Namun, jika tikus mati ditemukan di rumah, maka akan langsung dibuang. Demikian pula, Allah Ta’ala Ta’ala selalu menyayangi orang-orang-Nya yang saleh, memanjangkan umur mereka dan memberkati bisnis mereka. Dia tidak membiarkan mereka sia-sia dan tidak membiarkan mereka mati dengan tercela. Namun, orang yang menentang perintah Allah Ta’ala Ta’ala dihancurkan. Jika kalian ingin Allah Ta’ala Ta’ala menghargai kalian, adalah penting bahwa kalian menjadi saleh sehingga kalian berharga dalam pandangan Allah Ta’ala. Tuhan membuat perbedaan antara orang-orang yang takut kepada-Nya dan mematuhi perintah-Nya dengan yang lain. Rahasia supaya manusia mendapatkan berkat adalah dengan menghindari keburukan. Orang seperti itu berharga di mana pun dia tinggal karena ia memancarkan kesalehan. Dia penuh kasih kepada masyarakat kurang mampu, baik terhadap tetangganya, tidak jahat, tidak mengajukan kasus pengadilan palsu, tidak memberikan kesaksian palsu, bahkan dia terus mensucikan hatinya dan cenderung kepada Allah Ta’ala dan disebut wali(sahabat) Allah Ta’ala[7]

Semoga kita menjalankan ketakwaan dan tetap teguh pada kebenaran, taat sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw. Semoga Dia menutupi dosa-dosa kita dan semoga amalan kita diterima oleh Allah Ta’ala. Semoga kita menarik rahmat-Nya dan mencapai tujuan tersebut secara nyata yang untuk itu Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan semoga kita juga menjadi penolong tujuan ini dan mendapatkan rahmat kecintaan Ilahi atas kita.

Selanjutnya, syahidnya ‘saudara syahid kita’ Jawad Karim sahib diumumkan. beliau dari Green Town, Lahore dan disyahidkan pada tanggal 17 Juni oleh empat penyerang tak dikenal yang masuk rumah beliau dan menembak beliau. Jawad sahib tinggal di lantai pertama sementara kakak dan ibu beliau tinggal di lantai dasar. Pukul 07.45 para penyerang tak dikenal memasuki rumah dan memanggil beliau. Mereka menembak beliau di jantung. Mendengar keributan itu saudara beliau muncul dari dalam rumah, para penyerang menembak ke udara dan berkata kepada saudara beliau bahwa dia yang berikutnya lalu melarikan diri. Jawad sahib dibawa ke rumah sakit, tetapi beliau syahid dalam perjalanan ke sana.

Ahmadiyah masuk ke keluarga Jawad sahib melalui kakek buyut beliau dari pihak ibu yang Bai’at di tangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Jawad sahib berusia 33 tahun dan seorang Musi. beliau punya bisnis sendiri. Istri beliau adalah seorang dokter dan beliau juga mengurus kliniknya. beliau adalah seorang yang lembut, tulus orang yang berbelas kasih terhadap semua orang. Rumah beliau menjadi tempat Shalat untuk jangka waktu lama. beliau menjabat di Khuddamul Ahmadiyah dalam berbagai posisi. beliau sangat murah hati dalam memberi chandah. Dia meninggalkan seorang janda dan tiga anak-anak.

Ibu beliau, Razia Karim Dehlwi sahibah, lahir pada tahun 1947, mengalami serangan jantung pada saat pemakaman Jawad sahib dan meninggal. beliau adalah pensiunan kepala sekolah sekolah yang aktif dalam pekerjaan Jemaat. Semoga Allah Ta’ala mengangkat kedudukan almarhum dan menjadi Penolong keluarga yang ditinggalkan dan memperkuat hubungan mereka dengan Jemaat. Dalam menanggapi pesan belasungkawa dari Hudhur, saudara Jawad sahib mengatakan bahwa mereka selalu siap untuk memberikan hidup mereka untuk Jemaat. Sementara semoga Allah Ta’ala memberi mereka keberanian, semoga Dia juga menjaga mereka tetap aman! Hudhur bersabda beliau akan memimpin shalat jenazah gaib setelah shalat Jumat.

Penerjemah               : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Editor                         : Dildaar Ahmad, Editor Khotbah Jumat Jemaat Indonesia

Referensi                    : www.alislam.org

[1] Tafsir Al Qur’an, Vol. III, hlm 731-732

[2] dari Malfuzat, Vol. 8, hal. 106

[3] Diterjemahkan dari Malfuzat, Vol. 5, hlm 106-107

[4] Malfuzat, Vol. 6, hlm 237-238

[5] Malfuzat, Vol. 6, hal. 398-399

[6] Malfuzat, Vol. 6, hal. 399

[7] Malfuzat, Vol 6, hal 399 – 401