Hakikat Keberkatan di Bulan Ramadhan

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 4 Juli 2014 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ*

]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ[

 “Hai orang yang beriman! Puasa diwajibkan atas kamu, seperti yang telah diwajibkan untuk orang-orang sebelum kamu, sehingga kamu dapat menjadi orang-orang yang bertakwa.” (Surah al-Baqarah; 2: 184).

Hal ini semata-mata karena karunia Allah Ta’ala semata sehingga kita telah sedang mengalami bulan Ramadhan lagi; satu bulan yang keberkatannya tak terbatas. Allah menyatakan bahwa puasa diwajibkan dalam bulan ini bukan hanya untuk berlapar-lapar dari fajar sampai malam tapi untuk meraih ketakwaan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Seseorang yang berpuasa harus selalu memiliki pemikiran bahwa puasa tidak hanya ditandai dengan berlapar-lapar saja. Sebaliknya, orang tersebut harus terlibat dalam mengingat Allah sehingga ia dapat mencapai pengabdian kepada Allah dan mampu meninggalkan keinginan duniawi.”

Beliau as bersabda: “Tujuan puasa adalah bahwa manusia meninggalkan satu jenis makanan yang hanya memelihara tubuh jasmani dan meraih makanan lain yang merupakan sumber ketenteraman dan kebahagiaan rohaniah. Mereka yang berpuasa hanya demi Allah, bukan karena adat kebiasaan, hendaknya terus sibuk dalam tahmid (memuji Allah), tasbih (subhanallah) dan tahlil (Laa illaha illallaah) kepada Allah Ta’ala, yang melaluinya mereka akan mendapatkan makanan yang lain.”[2]

Memang, orang-orang beriman yang sejati harus terlibat dalam tahmid dan tasbih selama bulan Ramadhan lebih dari sebelumnya dan meningkatkan standar ibadah mereka dalam rangka untuk mencapai kebaikan dari bulan suci ini. Baginda Nabi Muhammad saw (damai dan berkah Allah atasnya) bersabda bahwa الصيام جنة وحصن حصين من النار ‘ash-shiyaamu junnatun wa hushnu hashiinin minan naar.’ – “Puasa adalah perisai dan itu adalah benteng yang kuat terhadap api neraka.”[3]

Namun, hal ini akan menjadi demikian ketika semua yang manusia lakukan adalah demi Allah dan malam dan harinya dihabiskan mengingat Allah dan ia melewati jalan kebenaran.

Allah menyatakan, ketika seorang yang berpuasa berpola pikir ini dan juga memenuhi hak-hak manusia, puasanya menjadi demi Allah dan Allah sendiri menjadi ganjaran untuk puasanya.[4]

Kebajikan-kebajikan orang tersebut tidak bersifat sementara; mereka tidak mematuhi kebajikan-kebajian tersebut hanya selama bulan Ramadhan. Mereka memiliki wawasan yang nyata terhadap ketakwaan dan mereka menghubungkan satu Ramadhan dengan Ramadhan berikutnya. Inilah yang harus kita jadikan sebagai tujuan; tidak mencapai ketakwaan untuk sementara, tidak berpuasa hanya pada pada tingkat yang dangkal untuk tetap lapar dan haus saja. Kita harus memahami esensi dari semangat Ramadhan, bukan hanya berharap satu sama lain mengucapkan ‘Ramadhan Mubarak – Selamat memasuki bulan Ramadhan’ dan tetap lalai. Pencapaian ketakwaan harus hadir dalam pikiran kita di setiap hari ketika mulai berpuasa di pagi hari dan hingga saat berbuka puasa di malam hari. Kita seharusnya tidak menanggapi dengan balasan setimpal bagi siapa pun yang menyerang kita. Sebaliknya, kita harus tetap diam dan hanya mengatakan kepada mereka bahwa kita sedang berpuasa.[5]

Kita harus sadar bahwa tidak ada kehormatan dalam merendahkan seseorang dan menjawab ketus kepada mereka, melainkan kehormatan adalah dalam meraih ridha Allah. Kita harus kita harus ingat, siapakah yang dimuliakan oleh Allah. Seperti dinyatakan: إن أكرمكم عند الله أتقاكم “…Sesungguhnya, yang paling mulia di antara kamu, di sisi Allah, adalah yang paling bertakwa di antara kamu …” (Surah al-Hujuraat, 49:14)

Kutipan dari Hadhrat Masih Mau’ud as. yang akan mengguncang siapa pun dengan rasa takut kepada Tuhan, berbunyi: “Orang yang mulia di sisi Allah Ta’ala hanyalah orang yang bertakwa. Allah hanya akan menjaga jemaat yang saleh dan akan menghancurkan yang lain. Ini adalah aspek yang sensitif dan dua hal tidak bisa bersama-sama di sini, yaitu, orang bertakwa dan orang jahat dan buruk tidak bisa di tempat yang sama. Sangat penting bahwa orang-orang benar tegak dan orang fasik hancur. Karena, Tuhan tahu siapa yang benar dalam pandangan-Nya, ini adalah hal yang sangat memprihatinkan! Beruntunglah orang yang bertakwa dan celakalah orang yang jatuh dalam laknat [Tuhan].”[6]

Puasa memajukan ketakwaan, dan demikianlah karunia dan rahmat Allah kepada umat manusia bahwa Dia membelenggu setan selama bulan Ramadhan sehingga ketakwaan dapat diraih dengan mudah. Namun, jika hal-hal lain dipentingkan selama puasa dan dia terlibat dalam jaring palsu egoisme, maka puasa tidak akan berfaedah.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah mengatakan bahwa adalah munafik, tidak melepaskan diri dari jaring palsu tersebut setelah berbai’at kepada beliau. Secara lahiriah menyatakan telah menjalankan ketakwaan tetapi memiliki kekotoran dalam hati! beliau memang menyebutnya sebagai hal yang membuat sangat prihatin, bahwa hanya Allah yang memutuskan siapa yang bertakwa. Oleh karena itu, satu-satunya jalan adalah pertobatan, istighfar, tasbih dan tahmid, berpegang teguh kepada keesaan Allah dan menuntut diri kita agar siang hari dan malam hari yang kita lewati berada dalam keadaan takut kepada Allah.

Kita mengorbankan diri dan jiwa kita kepada Allah Tersayang Yang berfirman, “Aku sangat dekat kepada hamba-hamba-Ku selama Ramadhan, carilah kebaikan sebanyak yang ia bisa dari kedekatan ini. Carilah jalan-jalan yang telah Ku-jelaskan kepada kalian untuk meraih ketakwaan hingga itu menetap dalam dirimu dan mempercantik dunia dan akhirat kalian.” Daurah Tarbawiyah (Kamp pelatihan kerohanian) ini berlangsung selama satu bulan dan harus sepenuhnya dimanfaatkan. Selama bulan ini amal kebaikan (yang dilakukan) demi Allah menuai pahala berlipat ganda dibandingkan dengan hari-hari biasa. Karena itu, bangkit dan hiasilah ibadah kalian sesuai dengan perintah Allah dengan janji bahwa perhiasan ini akan permanen. Bangkit, dan percantik amal kalian sesuai dengan ridha Allah dengan niat untuk berusaha menjadikannya bagian dari kehidupan kalian. Bangkit dan raihlah pemahaman dan makrifat yang benar tentang mendahulukan keimanan atas hal-hal duniawi selama bulan ini dan letakkanlah dalam pemikiran bahwa inilah yang menjadi tujuan hidup dan terus perhatikan hal ini, ولا تشتروا بآياتي ثمنا قليلا وإياي فاتقون “…dan jangan menukar tanda-tanda-Ku dengan harga yang rendah…” (Surah al-Baqarah, 2:42). Inilah proses berpikir yang memberikan manfaat sebenarnya dari Ramadhan. Allah tidak hanya memerintahkan ketakwaan, Dia memberitahu kita bahwa ketakwaan adalah untuk kebaikan kita sendiri. Jika kita mengikuti Syariah, maka Allah akan menjadi Sahabat kita, sementara orang-orang duniawi tidak dapat memberi manfaat kepada kita dengan cara apapun! Dinyatakan: إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا “Sesungguhnya, mereka tidak akan memberikan manfaat sedikitpun kepada engkau terhadap Allah …“ (Surah al-Jaatsiyah, 45:20)

Oleh karena itu, daripada mencari perlindungan sementara dari orang-orang, carilah perlindungan sempurna dari Allah, yang merupakan “Sahabat orang-orang yang bertakwa” (Surah al-Jaatsiyah, 45:20) Allah menyatakan bahwa Dia mengasihi mereka yang melakukan sesuatu demi Dia dan dengan ketakwaan: إن الله يحب المتقين (Surah at-Taubah, 9:4) ‘… sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang takut akan Allah’ (3:77).. Apa lagi yang orang inginkan setelah menerima kecintaan Tuhan? Dan setelah menemukan berkah dunia dan akhirat! Allah menyatakan bahwa orang-orang duniawi tidak dapat meraih akhir orang-orang yang bertakwa, mereka yang menanggung penganiayaan dari orang-orang duniawi dan hanya mencari pertolongan Allah dan tidak tunduk pada kekuatan lahiriah orang-orang duniawi. Orang-orang seperti itu akan diberikan kekuatan di dunia ini dan akhirnya mereka yang akan menang, Insya Allah.

Dewasa ini para Ahmadi dianiaya di Pakistan dan di negara-negara lainnya dan mereka diberitahu bahwa jika mereka menerima kata-kata para penganiaya mereka maka semua masalah mereka akan dihapus dan mereka akan dipeluk (diterima) oleh para penganiaya itu. Namun, kita harus sadar semua itu penipuan. Apa yang hari ini mereka anggap keberhasilan mereka akan menjadi kegagalan mereka. Para pendukung mereka yang sangat bersifat duniawi yang mereka andalkan dalam membuat penganiayaan ekstrim akan ditiup hingga berdebu seperti sampah kayu busuk.

Allah memerintahkan kesabaran dan mencari sendiri bantuan-Nya dan menjanjikan bahwa mereka yang mematuhi akan dijadikan penerus di bumi. Inilah janji yang diberikan kepada Baginda Nabi saw dan karena karunia-Nya, janji itu dibuat untuk Hadhrat Masih Mau’ud as juga. Memang, pengorbanan- pengorbanan harus dilakukan tetapi pengorbanan itulah yang akan membawa kesuksesan dan meningkatkan tingkat ketakwaan dan memberikan kabar suka وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ “…Dan kesudahan itu bagi orang-orang yang takut akan Allah.” (Surah al-A’raaf, 7:129).

Kita merasa berbahagia bahwa Tuhan bersama kita dan Dia memberikan kabar suka bahwa akhir yang baik menjadi milik kita. Jika umat Islam memahami hakekat ini dan menjadi penolong Hadhrat Masih Mau’ud as semua kegelisahan di negara-negara dan orang-orang Muslim akan hilang. Gangguan dan kekacauan atas nama Jihad akan berubah menjadi cinta dan kedamaian! Baik pemimpin maupun ulama tidak memiliki ketakwaan dan sebagai hasilnya masyarakat yang berada di bawah pengaruh mereka juga tidak punya ketakwaan.

Mereka terjerat oleh para ekstrimis dan melakukan tindakan yang sangat jauh dari ketakwaan. Para ulama mengiming-imingi mereka dengan kedekatan kepada Allah untuk melakukan perbuatan jahat. Tidak ada yang menasehati para pemuda dan umat Islam lainnya bahwa apa yang mereka lakukan adalah bukan kesalehan, itu bukan Jihad, dan sebenarnya itu sangat jauh dari ketakwaan. Dan Allah telah menyatakan orang-orang beriman sebagai orang-orang yang:: “رحماء بينهم” ‘…ruhamaa-u bainahum’ … “…lembut di antara mereka sendiri … “( Surah al-Fath, 48:30)! Tuhan tidak pernah akan menjadikan akhir dari orang-orang seperti itu baik, dan tidak akan pernah menjadikan orang-orang keji semacam itu sebagai khalifah di bumi! Mungkinkah Tuhan menjadikan orang-orang yang mengangkat slogan ‘Khilafat’ tersebut sebagai Khalifah di bumi? Mungkinkah Tuhan Yang Maha Pemurah menolong para penindas? Tuhan yang mengutus Rasulullah saw sebagai ‘rahmat bagi seluruh dunia’! Mungkinkah Dia mengizinkan para penindas berkembang di dunia atas nama Nabi-Nya tercinta? Jelas sekali, tidak akan.

Khilafat harus didirikan dengan pertolongan dan bantuan Ilahi sesuai nubuatan Rasulullah saw melalui Hadhrat Masih Mau’ud as, dan ini telah didirikan. Setiap slogan lain yang diangkat atas nama Khilafat adalah cara untuk memperoleh keuntungan duniawi dan merebut pemerintahan atas nama agama.

Hudhur mengatakan bahwa Jumat lalu beliau diwawancarai oleh sebuah saluran TV dan beliau mengatakan kepada mereka bahwa Khilafat yang benar sudah didirikan. Khilafat tidak dapat dibangun melalui penindasan, itu didirikan melalui pertolongan dan bantuan Ilahi. Kalau saja umat Islam juga memahami hal ini, perkelahian dan perebutan kekuasaan diantara mereka akan berhenti. Kita perlu juga berdoa bagi umat Muslim selama bulan Ramadhan; karena mereka, kelompok anti-Islam mendapatkan kesempatan untuk memburukkan nama Islam dan Rasulullah saw. Baru-baru ini, berdasarkan kehebohan tentang khilafat ini, seorang profesor studi agama membuat beberapa pernyataan yang menyerang tentang Khulafaur Rasyidin dan Rasulullah saw. Para pemimpin ulama dan pemerintah Muslim terlalu sibuk dengan meraih kekuasaan dan kemudian menjaga kekuasaan itu [sehingga ‘tak sempat’ membalas dengan tanggapan atas profesor tadi]. Jika ada yang menanggapi tuduhan ofensif seperti itu, itulah Jemaat Ahmadiyah dan kita telah meresponnya.

Orang-orang yang anti-Islam dan menaruh kedengkian pada Rasulullah saw sekarang telah membuat sebuah film baru tentang Rasulullah saw dan Hadhrat ‘Aisyah ra yang sedang dirilis secara bersamaan hari ini di Washington dan Berlin. Orang-orang ini menganggap mereka bisa dengan sukses – Na’udzubillah – menjadikan Rasulullah saw sasaran olok-olok. Hidup mereka di dunia ini dan di akhirat akan hancur, tapi mereka tidak bisa melihat akhir mereka. Allah menyatakan orang-orang seperti ini akan mendapatkan akhir yang buruk. Protes terhadap film ini – namun tetap dalam koridor hukum – akan diadakan. Hudhur baru mengetahui tentang hal ini kemarin dan telah menginstruksikan Jemaat Jerman tentang hal itu, dan Hudhur mengatakan bahwa Jemaat USA juga harus melakukan upaya penuh dalam hal ini [yaitu protes terhadap film itu].

Ekspresi sejati kecintaan seorang Ahmadi kepada Rasulullah saw dan penegakkan kemuliaan dan kebesarannya adalah dengan bershalawat sebanyak-banyaknya, “سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم اللهم صل على محمد وآل محمد” Subhanallaahi wa bihamdihii Subhanallaahil ‘adziim Allahumma shalli alaa Muhammadin wa aali Muhammad“Mahasuci Allah dan dengan pujian-Nya, Mahasuci Allah Yang Maha Agung, ya Allah sampaikanlah shalawat atas Muhammad [saw] dan keluarga Muhammad [saw]”

 Setiap Ahmadi di dunia harus mengisi udara hari ini dan selama bulan Ramadhan dengan shalawat. Inilah jawaban kita terhadap serangan musuh, selain itu, ini juga menanamkan ketakwaan dalam diri kita dan ketakwaaanlah yang memberi kita kabar suka akhir yang baik. Musuh-musuh Islam akan porak-poranda dan hancur sementara keberhasilan dan akhir yang baik menjadi untuk orang yang benar-benar bertakwa. Insya Allah!

Umat ​​Islam perlu memahami bahwa kekuatan setan telah memperdaya mereka untuk berkelahi satu sama lain. Dari mana kekerasan sektarian (berdasarkan sekte) seperti ini tiba-tiba muncul? Hal ini dikobarkan oleh kekuatan luar tertentu sehingga Islam dapat dihinakan. Kekuatan ini menyerang dari dalam dengan menimbulkan pertempuran sektarian sementara serangan eksternal mereka berupa pembuatan film yang menghina tentang Rasulullah saw. Mereka sadar bahwa sebagai reaksi terhadap film seperti ini dunia Muslim akan dicengkeram gelombang kemarahan dan akan ada kerusuhan dan kekacauan yang akan memberikan lebih lebih lanjut bagi kekuatan-kekuatan itu untuk memburukkan Islam. Kekuatan-kekuatan setan telah menciptakan angin puyuh setani dan tidak ada satupun yang menarik keluar umat Muslim dari itu. Mereka (umat Muslim) menolak satu-satunya jalan keluar yang ada untuk mereka! Doa hendaknya dipanjatkan supaya mereka sadar dan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as dan merasakan kemenangan Islam.

Sementara itu para Ahmadi hendaknya tidak hanya puas dengan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as dan terhubung ke Khilafat. Kita perlu meningkatkan derajat ketakwaan sementara kita berpuasa dan untuk menjadi hamba Allah yang sejati, ketakwaan adalah kunci dan Ramadhan adalah sumber besar untuk maju dalam ketakwaan dan orang harus sepenuhnya memanfaatkan hal itu. Untuk ini Allah telah memberikan petunjuk: وَهَذَا كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ “Dan inilah kitab yang Kami turunkan; itu penuh dengan berkah. maka ikutilah ia, dan berlindung dirilah terhadap dosa supaya kamu mendapat rahmat.” (Surah al-An’aam, 6:156)

Jika kita ingin meraih kebaikan Ramadhan, jika ingin mendapatkan akhir yang baik, jika ingin pintu kemakmuran terbuka dan jika ingin mendapatkan kemurahan Tuhan, dan kita tidak ignin menjadi seperti orang-orang yang tidak memiliki pemimpin dan yang tertipu oleh orang-orang yang menghasut emosi mereka atas nama Islam, maka Tuhan menyatakan, lihatlah perintah-perintah dalam Al-Qur’an dan raihlah makrifatnya yang sejati dan renungkanlah perintah-perintah Al-Qur’an melalui mata Hadhrat Masih Mau’ud as yang diutus oleh Allah di zaman ini dalam penghambaan sejati kepada Rasulullah saw.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa beliau tidak menganggap seseorang yang sengaja meninggalkan salah satu dari tujuh ratus perintah Al-Qur’an, sebagai bagian dari beliau. Sebagaimana disebutkan sebelumnya dalam khotbah, ini merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan. Allah adalah Maha Penyayang dan berfirman bahwa pintu rahmat-Nya tetap terbuka untuk orang-orang yang menjalankan ketakwaan.[7]

Kadang-kadang orang tidak menganggap penting beberapa perintah karena keuntungan duniawi. Kekayaan, anak-anak, bisnis dan kegiatan duniawi lainnya tampak menarik bagi mereka dan mereka akhirnya melakukan sesuatu yang berada di luar batas moralitas, apalagi ketakwaan. Semua rezeki berasal dari Allah; Dia adalah sumber semua kekayaan. Jika seseorang menumpuk kekayaan dengan berkata dusta, dengan merebut hak orang lain atau melalui penipuan, kekayaan semacam itu bukanlah sumber kebaikan, itu akhirnya menjadi sumber keburukan.

Allah berfirman bahwa untuk menghindari hukuman-Nya, rezeki harus diperoleh melalui cara-cara yang benar, dan orang bertakwalah yang diberikan rezeki melalui cara-cara yang benar; Rezeki ini datang dari Allah melalui cara dan sarana yang di luar bayangan (manusia). Alquran menyatakan: وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ (Surah ath-Thalaq, 65:3-4) “… Dan orang yang takut Allah – Dia akan membuat baginya jalan keluar,” (65: 3) “… Dan orang yang takut kepada Allah – Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan akan memberikan rezeki kepadanya dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Dan orang yang bertawakal kepada Allah – Dia mencukupi baginya. Sesungguhnya Allah akan menyempurnakan tujuan-Nya. Untuk segala sesuatu Allah telah menetapkan ukuran. “(65:4)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, bahwa adalah nikmat Allah bahwa Dia membebaskan orang bertakwa dari hal yang menjijikkan di dunia, dan Dia sendiri memberikan rezeki untuk orang seperti itu. Allah menciptakan jalan bagi orang yang takut kepada-Nya setiap kali ada kesulitan dan memberikan rezeki kepadanya dari mana orang itu bahkan tidak bisa membayangkan.[8] Dia berfirman bahwa orang yang mengaku bertakwa, tetapi juga mengatakan bahwa mereka mengalami kesengsaraan, mereka memiliki terlalu banyak keinginan duniawi atau pendakwaan mereka sebagai orang bertakwa tidak benar. bagaimanapun apa yang Tuhan nyatakan tidak mungkin salah![9]

Beberapa orang mungkin mengatakan bahwa orang-orang kafir memiliki kekayaan besar dan mereka menjalani kehidupan yang mewah. Namun, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, bahwa mereka mungkin tampak bahagia dari luar tetapi sebenarnya mereka tenggelam dalam kesusahan.[10]

Orang-orang seperti ini kemudian mencari-cari cara untuk mencapai kedamaian dan ketenangan batin seperti yang dilakukan pecandu narkoba. Jika seseorang benar-benar bertakwa ia akan memiliki kedamaian batiniah sekalipun dalam keadaan kekurangan. Memang, itu adalah berkat Tuhan, ketika seseorang tidak memiliki terlalu banyak keinginan yang tidak perlu! Para Ahmadi harus berusaha menanamkan nilai-nilai ini selama bulan Ramadhan di mana kesenangan duniawi dibatasi hanya pada apa yang diperbolehkan. Memang, orang-orang bertakwa yang kaya, menafkahkan hartanya untuk ridha Allah.

Hudhur bersabda bahwa beliau telah membaca sebuah buku beberapa hari lalu tentang Chaudhry Zafrulla Sahib yang ditulis oleh Bashir Rafiq Sahib. Itu kejadian tentang seorang pemimpin politik yang kaya-raya yang ketika mengunjungi London bersama keluarganya biasa mem-book (menyewa) seluruh sisi dari sebuah hotel [hotel yang terdiri dari banyak kamar disewa semua olehnya]. Suatu kali politisi itu datang sendiri tapi masih memesan seluruh sisi hotel dan mengatakan ia memiliki uang untuk membayarnya sehingga dia tidak bisa hidup dalam kondisi sesak. Dia bertanya kepada Chaudhry Sahib di mana beliau menginap. Chaudhry Sahib mengatakan kepadanya, beliau tinggal di rumah misi dengan Bashir Rafiq Sahib dan beliau juga makan disitu. Politisi kaya itu berkomentar mengapa Chaudhry Sahib tidak memanfaatkan kekayaan beliau dan tinggal dalam kondisi terbatas seperti itu! Chaudhry Sahib mengatakan kepada politisi itu bahwa sementara ia menghabiskan uang dengan boros, Chaudhry Sahib menyimpan dan menggunakannya untuk pendidikan siswa-siswa dan memenuhi kebutuhan orang-orang miskin dan membantu orang yang tak berdaya. beliau menambahkan bahwa ketenangan batin yang diberikan hal ini kepada beliau, tidak dapat diraih oleh orang duniawi, dan beliau mengatakan bahwa beliau mendoakan supaya politisi kaya itu juga mendapatkan ketenangan batin ini.[11]

Ini adalah orang-orang yang sukses dalam hal duniawi namun mereka tidak condong pada keduniawian. Ini adalah orang-orang bertakwa, yang telah diberi kabar suka surga di dunia ini dan di akhirat. Semoga Allah memberi taufik kepada kita untuk mendapatkan kebaikan dari Ramadhan ini dengan cara sedemikian rupa sehingga standar tinggi ketakwaan menjadi bagian konstan dari kehidupan kita dan semoga kita mendapatkan surga di kedua dunia dan semoga akhir kita menjadi akhir yang baik dan kita menjadi teladan sejati Islam.

Semoga kita membantah dan mementalkan setiap serangan dari musuh-musuh Islam dengan kata-kata dan amalan kita, dan doa-doa kita yang tulus. sekarang ini hanya Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as akan melawan kekuatan-kekuatan setan anti-Islam. masyarakat Muslim tidak memahami makar mereka, mungkin ada sedikit pemimpin yang bermaksud baik di kalangan umat Islam, tapi mereka pun tidak memahami situasi. Mereka menganggap bahwa mereka akan sukses dengan mendapatkan bantuan dari luar! Ketika pada kenyataannya mereka sedang terjerat dalam taktik yang akan menyebabkan kehancuran mereka. Saran kita tidak memiliki dampak; kita sungguh-sungguh peduli pada mereka tetapi mereka melawan kita! Kita perlu berdoa untuk kasih sayang bagi umat Islam dan juga berdoa bagi para Ahmadi yang sedang dianiaya. yang paling utama kita harus berdoa untuk meraih ketakwaan sejati di bulan Ramadhan ini sehingga melaluinya kita dapat mengalami kegagalan penentang Islam. Semoga Tuhan mengadakan perubahan revolusioner sejati dalam diri kita selama bulan Ramadhan!

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuzhat jilid 9 halaman 123, edisi 1984, terbitan Rabwah

[3] Musnad Ahmad ibn Hanbal, jilid 3, h. 458, musnad Abi Hurairah, hadits nomor 9214, Alamul Kutub, Beirut 1998, عن أبي هريرة عن النبي صلى الله عليه و سلم قال الصيام جنة وحصن حصين من النار صحيح وهذا إسناد حسن

[4] Shahih al-Bukhari, kitab Tauhid, bab firman Allah, yuriiduuna…, no. 7492,

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ وَلَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

[5] Shahih al-Bukhari, kitab tentang Shaum (puasa), bab keutamaan puasa, hadits 1894, عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي

[6] Malfuzhat jilid 3 halaman 238-239, edisi 1984, terbitan Rabwah

[7] Kisyti Nuh, Ruhani Khazain jilid 19, halaman 26

[8] Laporan Jalsah Salanah 1897, oleh Hadhrat Yaqub Ali Irfani, h. 34

[9] Malfuzhat jilid 5 halaman 244, edisi 1984, terbitan UK

[10] Malfuzhat jilid 1 halaman 421, edisi 1984, terbitan UK

[11] Cand Khusygwar Yadei, Basyir Ahmad Rafiq, h. 360-362, terbitan Qadian, 2009