Ringkasan Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

tanggal 10 Ikha 1393 HS/Oktober 2014

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Tuhan telah menarik perhatian orang-orang yang beriman sejati agar menjadi abid (penyembah Tuhan) dan agar mengadopsi nilai-nilai moral yang tinggi karena tanpa hal ini seseorang yang mengatakan dirinya beriman tidak dapat dikatakan sebagai orang beriman. Tanda-tanda orang-orang beriman sejati adalah mereka menyembah Tuhan dan juga menghindari perkara-perkara yang tidak perlu dan sia-sia. Tidak bisa seseorang yang mempunyai iman sejati, tetapi juga kasar dan kurang ajar. Biasanya kekasaran dan kekurangajaran lahir karena kesombongan dan inilah mengapa Tuhan menyatakan tentang para pelayan Tuhan bahwa mereka: يمشون على الأرض هونا ‘… berjalan di muka bumi dengan merendahkan diri…’ (25:64) dan orang yang merendahkan diri dan juga rendah hati selalu menghindari pertengkaran, mencari jalan keluar dengan damai dan rukun, serta sopan kepada orang lain, bahkan, mereka menghiasi diri dengan akhlak-akhlak luhur lainnya. Kaifiyat (kondisi, kualitas) seorang beriman sejati adalah bersamaan dengan diamalkan olehnya nilai-nilai moral yang tinggi, pencapaian ridha Tuhan merupakan tujuannya dan ia berusaha untuk beribadah kepada Tuhan dengan segala kewajiban-kewajibannya.

Karena itu, sifat-sifat orang dengan iman sejati adalah menjadi abid dan rendah hati. Adalah juga benar bahwa setiap orang mempunyai tingkat kapasitas kerohanian dan fisik yang berbeda-beda. Sewaktu-waktu dalam situasi-situasi tertentu menyurutkan kapasitas ini dan manusia tidak bisa mempertahankan konsistensi keadaan moralnya yang tinggi dan tidak bisa mengikuti standar-standar perkembangan ruhani seperti yang dituntut dari orang beriman sejati. Untuk hal ini Tuhan menjamin kemudahan-kemudahan kepada orang beriman. Sesungguhnya Ia tidak akan membebani seseorang melebihi kemampuan dan kapasitas mereka. Karenanya mengatakan bahwa hal-hal tertentu adalah tidak mungkin dilakukan oleh manusia adalah tidak benar menurut ajaran Islam.

Tuhan memang mewajibkan shalat, tetapi juga memberikan banyak kebijaksanaan berkaitan dengan hal itu. Sebagai contoh, jika seseorang tidak bisa Shalat dengan berdiri, mereka boleh sambil duduk. Jika mereka tidak bisa shalat sambil duduk dikarenakan lemah atau sakit, mereka diperbolehkan dengan berbaring. Dan tidak ada ketentuan khusus mengenai bagaimana mereka harus berbaring. Ketika seseorang bepergian atau sakit atau lemah atau padanya ada kesulitan lain yang bersifat sementara, shalat bisa dipendekan atau dijamak.

Pendeknya, bagaimanapun juga tidak ada orang yang dapat mengatakan bahwa tidak memungkinkan untuk melaksanakan shalat dalam keadaan bagaimanapun. Orang-orang yang pekerjaannya membuat pakaian mereka kotor dan tidak dapat dibersihkan di tiap waktu shalat boleh melaksanakan shalat dengan pakaian mereka tersebut. Jika air tidak tersedia, diperbolehkan untuk tayammum sebagai pengganti wudhu. Karenanya orang yang berakal sehat tidak akan membuat alasan untuk melalaikan shalat. Jika mereka dalam keadaan dimana akalnya sehat, maka mereka harus melaksanakan shalat. Banyak orang membuat banyak alasan berkaitan dengan hal ini, dan inilah yang membuat mereka jauh dari iman. Setiap dari kita harus memperhatikan masalah ini!

Selepas Khutbah Jumat saat diresmikannya masjid kita di Irlandia – dalam pidato peresmian itu, saya (Hudhur) telah menyampaikan mengenai tema ini (menarik perhatian untuk beribadah dan menyembah Tuhan), saya menerima surat dari Murrabi Sahib (Tn. Muballigh) di Amerika dan surat-surat lainnya yang mengatakan bahwa ada peningkatan kehadiran orang-orang di masjid setelah khotbah itu. Adalah jelas bahwa ketidakhadiran yang terjadi sebelumnya bukanlah karena halangan atau ketidakbisaan – dan sekalinya perhatian dipusatkan dan terus-menerus untuk hal ini, maka hal itu berhasil. Salah satu sifat orang beriman ialah bila diarahkan perhatian kepada suatu hal baik, maka ia akan bersiteguh. Sekarang momentum tersebut harus dapat dipertahankan – dan untuk hal ini Majlis Khudam dan Lajnah harus membuat usaha-usaha khusus dalam menanamkan praktek pelaksanaan shalat di kalangan muda.

Masa muda adalah waktunya dimana kesehatan masih baik dan ibadah dapat dilakukan dengan persyaratan dan ketentuannya. Di masa selanjutnya, dimana usia makin bertambah, orang akan mulai dihinggapi penyakit-penyakit yang menghalanginya untuk melaksanakan shalat sesuai dengan persyaratan dan ketentuannya. Hadhrat Masih Mau’ud as secara khusus menarik perhatian kita akan kenyataan bahwa ibadah yang dilaksanakan ketika usia muda dan sehat bisa dilakukan dengan persyaratan dan ketentuannya yang lengkap.[2]

Seseorang harus berusaha berupaya melaksanakan perintah-perintah Tuhan bahkan jika harus memaksakan diri. Apalagi jika orang tersebut dikaruniai berbagai keleluasaan dan kemudahan oleh Tuhan dalam hal ini! Memang sesungguhnya seseorang harus menyembah Tuhan sebagai tanda terima kasih dan bersyukur atas kesehatannya! Usaha-usaha keras harus dibuat berkaitan dengan ibadah kepada Allah dan bertekun dalam shalat karena iman tidak bisa lengkap tanpanya.

Aspek lainnya yang ingin saya sampaikan adalah mengenai الأخلاق الفاضلة akhlak fadhilah atau nilai-nilai moral yang tinggi. Kualitas utama dari mereka yang mempunyai moral tinggi adalah kejujuran – yang juga merupakan sifat dari orang yang mempunyai iman sejati. Hal ini hanya dimungkinkan jika seseorang membenci kebohongan dan dusta. Orang-orang berbohong pada waktu berbeda di dalam hidupnya dan kemudian mengatakan bahwa mereka tidak berniat untuk mengatakan hal yang tidak benar – dan bahwa itu adalah keselo lidah saja. Mereka yang maunya selamat melakukan hal ini. Tuhan memang Maha Pengampun dan memaafkan mereka yang menyesali kesalahan-kesalahan mereka. Tentu saja penting untuk menunjukkan penyesalan dalam perkara-perkara demikian. Bagaimana seseorang dapat dikatakan termasuk orang-orang yang mempunyai nilai-nilai moral tinggi, beriman teguh dan berjalan diatas jalan lurus jika orang tersebut tidak menunjukkan penyesalan setelah berbohong atau jika kebohongan seseorang sudah merugikan atau membahayakan orang lain, ia tidak memperbaiki keadaan. Sebaliknya, malah berusaha untuk mencari alasan untuk memperkuat kebohongan-kebohongannya atau mengatakan bahwa karena situasi dan kondisi tertentu, maka mau tak mau harus berdusta!

Tuhan berfirman: “قولوا للناس حسنا” ‘… dan ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia…’ (2:84) Orang-orang yang mempunyai sifat dasar pemarah dan bertemperamen buruk tidak menunjukkan ketidaksabarannya di setiap waktu. Ketika Tuhan memerintahkan untuk berbicara dengan kata-kata baik – maka kepada Orang-orang seperti inilah Tuhan mengatakan hal ini dan memerintahkan untuk berkata lembut dan tidak cepat marah akan hal hal sepele. Karena sifat dasarnya yang demikian, beberapa orang memang cepat marah. Namun, jika mereka menunjukkan penyesalan dan berusaha memulihkan rasa sakit yang mereka telah timbulkan dan juga menyesali dan bertobat, maka Tuhan mengatakan bahwa pintu taubat selalu terbuka. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak mengindahkan perintah ini dan dengan tidak perlu dan terus-menerus berucap dan berlaku kasar dan tidak menunjukkan penyesalan, tidak saja orang ini berakhlak rendah, namun juga berdosa dengan mengabaikan perintah Tuhan. Ibadah mereka tidak akan berfaedah. Tuhan memberikan harapan pengampunan kepada mereka yang menunjukan amarah dibawah pengaruh semangat akan sesuatu hal, namun kemudian merasa malu telah melakukannya dan berusaha memperbaiki keadaan. Sedangkan bagi mereka yang tidak malu ataupun menyesal bahkan ketika akal sehat mereka sudah kembali, alasan-alasan mereka tidak akan berlaku di hadapan Tuhan. Kita harus banyak-banyak mawas diri, bercermin diri dan mengoreksi diri.

Banyak kasus yang sampai kepada saya (Hudhur) dimana beberapa diantaranya adalah konflik masalah perkawinan, masalah lainnya adalah mengenai perjanjian-perjanjian bisnis yang memicu orang menjadi begitu gusar dan marah sehingga mereka tidak memperhatikan apa-apa yang mereka katakan atau yang mereka lakukan. Para suami secara emosional melukai hati para istri dan kasar secara fisik. Ketika Komite Ishlah atau Badan Qadha mengintervensi (ikut turun tangan), mereka (para suami tersebut) bahkan tidak berusaha untuk mengerti dan tetap keras dengan sikap dan perilaku mereka. Ketika dan jika ada tindakan تعزير ta’zir (pendisiplinan, pemberian sanksi) yang diambil terhadap mereka, baru kemudian mereka sadar, menuliskan surat permohonan maaf dan berusaha untuk memperbaiki keadaan sebisanya. Adalah benar bahwa orang-orang tersebut menyelamatkan diri mereka dengan memohon maaf setelah didisiplinkan – tapi mereka telah tercatat sudah menjalankan hukuman. Jika saja mereka tidak mengacau dalam jebakan keakuan mereka, perkara tersebut tentu dapat diselesaikan dengan saling pengertian dan saling bekerjasama. Kemudian ada juga orang-orang Jemaat lainnya yang tidak mampu untuk paham cara apa pun dan tetap bersikeras dalam kebandelan mereka kemudian mereka menjauh dari Jemaat.

Dunia ini dan keuntungan-keuntungannya adalah sementara. Kita harus khawatir akan akhir hidup kita! Saya seringkali menarik perhatian untuk meninggikan standar moral dan akhlak kita dan tidak terbelit dalam jebakan egoisme untuk hal-hal sepele. Setiap orang Jemaat harus berusaha untuk menjadi panutan dalam hal kemanusiaan. Adalah wajar merasa marah sesekali tapi Tuhan telah memerintahkan orang-orang yang beriman agar selalu menjaga emosi mereka. Sedangkan untuk perkara-perkara yang berkaitan dengan perkawinan, di dalam ayat Quran yang dibacakan saat upacara akad nikah, perintah-perintah yang berkaitan dengan kebaikan dan ketakwaan telah diberikan – dimana hal ini adalah sangat penting baik bagi suami maupun istri. Namun, banyak orang yang tidak menganggap hal ini penting. Mereka menganggap setelah akad nikah lalu menjadi suami-istri, ya, sudah cukup. Mereka merasa bangga tetap berada dalam sikap mereka dan merendahkan pihak lain. Mereka menganggap perasaan dan pendirian mereka adalah benar, dan tidak mempertimbangkan akan perasaan dan pendirian orang lain – karena di dalam pikiran mereka, orang lain pantas mendapatkan apa-apa yang dijatuhkan atas mereka. Jika pandangan dan sikap mereka diterima, berarti keagamaan mereka tidak benar – karena agama mengatakan satu hal dan mereka mengatakan hal lain. Mereka tentu saja dapat mengatakan sulit bagi mereka untuk mengikuti apa-apa yang diperintahkan agama dalam situasi tertentu. Namun, mempertahankan pendirian bahwa apapun yang mereka lakukan itu tidak dapat dihindari dan tidak ada jalan keluar lain adalah sama saja dengan memalsukan agama mereka.

Tuhan memerintahkan kita untuk menekan amarah, memperlakukan orang lain dengan sopan, tidak keras kepala akan kesalahan-kesalahan kita dan berusaha untuk melakukan kewajiban-kewajiban umat manusia. Hadhrat Masih Mau’ud as bahkan mengatakan bahwa seseorang yang tidak menjalankan kewajibannya kepada sesama manusia, tidak menunjukkan kesopanan seperti yang telah diperintahkan Tuhan – juga akan tidak menjalankan kewajiban-kewajibannya terhadap Tuhan.[3] Ibadahnya hanya kepura-puraan karena tidak akan membawa perubahan baik bagi dirinya, tidak akan tertanam kerendahan hati di dalam dirinya! Video kamera saat ini tersedia bebas. Jika seseorang membuat video mereka sendiri saat dalam keadaan amarah dan memutar kembali saat mereka dalam keadaan sadar, mereka akan sangat malu atas apa yang telah mereka lakukan!

Sekarang saya hendak menyampaikan nasehat-nasehat Hadhrat Masih Mau’ud as. Beliau mengatakan: “Ingatlah bahwa akal sehat (kebijaksanaan) dan amarah itu saling bermusuhan secara keras. Pada saat seseorang itu marah dan bangkit amarahnya niscaya akalnya tidak bekerja. Tetapi, barangsiapa yang bersabar dan menunjukkan contoh watak yang santun dan pandai menguasai diri diberikan cahaya yang menciptakan lagi cahaya baru di dalam kekuatan akal dan pikirannya, dan cahaya tersebut berefleksi terus menciptakan cahaya yang lain. Adapun amarah dan kegeraman menggelapi hati dan pikiran, dan kegelapan ini terus melahirkan kegelapan lagi!”[4]

Beliau juga mengatakan: “Ingatlah bahwa seseorang yang kasar dan bertemperamen keras serta dalam kemarahan, dari dalam hatinya tidak akan pernah melahirkan kebijaksanaan dan kearifan. Hati yang melompat ke dalam amarah permusuhan akan kehilangan kebijaksanaan. Dan mulut yang secara serampangan mengatakan kata-kata kotor (kasar) akan kehilangan kecerdasan. Amarah dan kebijaksanaan tidak dapat berdiri berdampingan. Akal orang yang bertemparen cepat marah adalah sempit dan mempunyai pemahaman yang tidak baru-baru. Ia tidak akan pernah unggul dan tidak akan berhasil dalam bidang apapun. Amarah adalah setengah dari kegilaan dan ketika tersulut menjadi besar, dapat berubah menjadi kegilaan seutuhnya.”[5]

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan: “Dua faktor menuntun seseorang kepada keadaan kegilaan: ketika dia memikirkan keburukan orang lain dan ketika amarahnya berlebihan. Karenanya sangatlah penting untuk seseorang menghindari berpikiran atau berprasangka buruk kepada orang lain dan juga hindarilah amarah!”[6]

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan Dalam mendefinisikan tanda orang-orang yang beriman yaitu tidak kalah oleh kemarahan: ”Manusia harus menggunakan daya upaya dan kemampuannya dalam kesempatan kesempatan yang tepat, baik dan terjamin. Sebagai contoh, amarah yang berlebihan adalah pendahulu kegilaan. Hanya ada sedikit kegilaan antara amarah berlebihan dengan kegilaan. Orang dengan temperamen buruk kehilangan kebijaksaan. Seseorang tidak boleh berbicara dalam keadaan amarah meskipun terhadap para penentang (orang-orang yang memusuhi).”[7] Beliau juga mengatakan mengenai tanda orang beriman sejati: “والكاظمين الغيظ….dan mereka yang menekan amarah dan memaafkan sesama manusia…” (3:135). Ajaran maaf dan pengampunan di dalam Injil adalah khusus untuk para Yahudi. Nabi Isa as tidak memiliki urusan dengan simpati kepada sesama manusia secara luas dan beliau dengan jelas mengatakan bahwa beliau tidak mengkhawatirkan orang-orang selain dari orang-orang Israel – terlepas apakah yang lain hancur atau selamat.”[8]

Lingkaran cakrawala dari Masih Muhammad adalah untuk seluruh dunia – dan karenanya kita harus memperluas belas kasih kita. Jika kita berharap untuk mendapatkan manfaat dari cahaya Tuhan maka ini adalah standar-standar yang harus kita miliki. Kita harus menanamkan kesabaran, ketabahan dan keteguhan hati, serta ketenangan dan penguasaan diri. Jika kita berharap dapat melahirkan kebijaksanaan dan kearifan dan membawa misi Hadhrat Masih Mau’ud as maju ke depan, kita harus menjauhkan diri dari kekasaran dan amarah dalam kehidupan keseharian kita bersama keluarga, maupun orang lain. Jika kita tidak ingin kapasitas mental kita hancur, kita harus menghindari berpikir buruk tentang orang lain dan juga menghindari amarah. Jika kita berharap ingin menjadi orang yang beriman sejati, kita harus menggunakan kemampuan kita di dalam waktu dan tempat yang tepat. Amarah harusnya diarahkan secara tepat untuk perubahan baik dan tidak didorong kepada keadaan kegilaan. Amarah yang dikeluarkan secara gegabah menuntun kepada keadaan kegilaan. Sikap sederhana dan tidak berlebih-lebihan diperlukan untuk mengontrol emosi. Amarah harus disalurkan untuk tujuan perbaikan dan tidak untuk “memberi makan” ego seseorang.

Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan bahwa amarah yang melebihi batas menuntun seseorang untuk kehilangan iman mereka. Beliau juga mengatakan bahwa keindahan Islam ada pada nilai akhlak yang tinggi, menekan amarah yang tidak perlu, dan mendorong pemaafan. Hadhrat Masih Mau’ud as telah memerintahkan hal ini di dalam berbagai wacana, ceramah dan tulisan. Tapi merupakan kelemahan kitalah sehingga kita tidak melakukan hal yang seharusnya kita lakukan ini, baik anggota, maupun para pengurusnya. Beberapa orang ada yang memaparkan kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud as kepada orang lain dan menasihati agar mengontrol emosi. Namun mereka melupakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as mengatakan bahwa bahkan jika kamu berada dalam pihak yang benar, rendahkanlah diri dan hatimu seakan-akan engkaulah yang pendusta.[9]

Beberapa orang ada yang berusaha dan membuktikan diri bahwa mereka adalah orang yang benar dan tertindas – padahal sesungguhnya merekalah yang penindasnya dan berbohong. Bagaimana bisa mereka disebut beriman? Karena iman menuntut, ketika seseorang sadar dan mempunyai akal sehat, daripada tetap kaku (mempertahankan kesalahannya), orang tersebut harus memperbaiki hal-hal salah yang telah dilakukannya. Jika ada orang lain yang sakit hati atau terluka secara emosi, harus diringankan. Atau setidaknya harus merasakan penyesalan. Kita harus bercermin diri dan melihat berapa banyak dari kita yang berpikir dalam garis pemikiran yang demikian!

Jika seseorang berbuat tidak adil karena amarah yang sementara dan setelah amarahnya surut orang itu tidak memperbaiki keadaan dan bahkan tidak menunjukkan penyesalan maka seperti yang sudah dikatakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as, iman orang tersebut adalah kepura-puraan. Hal ini adalah seperti gelembung air yang tidak memiliki isi selain udara di dalamnya! Saya (Hudhur) ulangi dan tekankan bahwa kita perlu bercermin diri dan melihat: jika ada orang yang berbuat tidak adil pada kita, apakah kita sudah bersikap toleran dan tidak merespon dengan amarah? Atau jika kita adalah pengurus, berapa kalikah kita sudah mengambil keputusan berdasarkan keadilan – meskipun ada orang-orang yang bersikap tidak adil? Toleransi tidak hanya dengan mudahnya kita mengatakan, kita sangat toleran; toleransi adalah tidak menghukum orang lain ketika ia mempunyai wewenang untuk menghukum!

Adalah perkara yang lain lagi jika pengurus Jemaat merekomendasikan untuk mendisiplinkan seseorang [yaitu pelaporan kepada khalifah agar seseorang diberi sanksi] dengan memenuhi asas-asas keadilan – karena dalam hal ini, kesalahan diperbaiki dengan mendisiplinkan – dan justru jika ampunan diberikan pada situasi dan keadaan yang demikian, dapat menjadi berdosa. Ketika seseorang tidak adil, seorang hakim menghukum mereka, seperti layaknya orang tua dan guru mendisiplinkan anak-anak dan murid mereka. Tindakan hukuman seperti itu diambil ketika seseorang melanggar Syariah atau merampas hak-hak orang lain. Adalah penting untuk mengklarifikasi dan menjelaskan perbedaan hal ini [yaitu antara memaafkan dan memberikan sanksi dalam Jemaat], karena ketika seseorang melakukan tindakan tidak adil kepada orang lain, melanggar Syariah dan merampas hak-hak orang lain dan, dan administrasi Jemaat mengambil tindakan mendisiplinkan dan saya (Hudhur) memberikan khotbah mengenai pengampunan dan memaafkan, dsb – mereka mulai menulis kepada saya karena saya mengatakan bahwa mereka mungkin melakukan seperti yang disebutkan saat ini. Mereka mengatakan, “Karena Hudhur berkhotbah tentang pengampunan, maka mereka harus dimaafkan dan diampuni!”

Saya sudah berbicara tentang hal ini sebelumnya bahwa saya tidak mempunyai kebencian (perseteruan, permusuhan) pribadi dengan siapapun. Beberapa orang menulis kepada saya yang penuh berisi tentang cacian – tapi saya bahkan tidak pernah merasakan amarah kepada mereka. Surat-surat mereka bahkan tidak menghasilkan perasaan amarah di dalam diri saya. Orang-orang seperti itu biasanya menulis secara anonim atau nama samaran. Bahkan, jika mereka menulis nama mereka yang sebenarnya, saya bisa pastikan kepada mereka bahwa tidak akan ada tindakan yang akan diambil terhadap mereka berkaitan dengan hal ini – meskipun mereka menuliskan surat yang berisi caci-maki. Sungguh, saya merasa kasihan kepada mereka dan saya mendapatkan kesempatan khusus untuk mengikutsertakan istighfar dan hal ini terbukti bermanfaat bagi saya. Hukuman hanya diberikan atau tindakan pendisiplinan diambil jika ada perampasan dan pelanggaran hak-hak orang lain, pelanggaran hukum Syariah dan penghukuman (pemberian sanksi) ini saya lakukan dengan berat hati dan tidak dengan senang hati.

Pada hari ketika di dalam kotak surat saya terdapat surat dari Nazarat Umur Aamah atau para Amir dari berbagai negara berisi rekomendasi untuk memaafkan seseorang setelah orang-orang yang bersangkutan memperbaiki kesalahan mereka adalah hari yang membahagiakan bagi saya. Karena itu jangan memaksa saya dalam situasi-situasi dimana tangan saya terikat pada peraturan yang berlaku yang merupakan kewajiban saya. Saya akan menekankan untuk mengatakan ini – bahwa ketika pihak-pihak yang bersangkutan membawa perkara mereka kepada Badan Qadha, dan Badan Qadha serta administrasi kemudian mengambil keputusan berdasarkan keadaan dan situasi yang ada, dan membebankan tanggung jawab kepada satu pihak untuk membayar uang dalam perkara finansial (keuangan) atau melepaskan tanggung jawab-tanggung jawab yang lain, maka pihak satunya sebagai penerima uang tersebut atau orang-orang yang mendapatkan haknya harus memberikan kelonggaran sebesar-besarnya jika pihak yang berkewajiban membayar sedang mengalami kendala keuangan. Ketidakfleksibelan (kekakuan) tidak seharusnya ditunjukkan dalam kasus-kasus seperti ini. Inilah perintah Allah dan rasul-Nya, bahwa hendaknya mempertahankan keakuan sehingga menyebabkan keaniayaan bagi yang lain.”

Kita harus selalu bersyukur kepada Tuhan dan merenungi perihal bahwa Dia telah membuat kita sebagai pengikut dari orang yang telah Dia namakan sebagai ‘al-Masih’ (Masih, Messias yaitu Hadhrat Masih Mau’ud as, Pendiri Jemaat Ahmadiyah). Kita harus memikirkan dan merenungkan kenapa beliau dinamakan dengan ‘al-Masih’? Perihal apakah tentang beliau yang membedakan beliau dari Nabi-Nabi lainnya? Tidak ada keraguan, tentu saja sifat-sifat dan karakter-karakter dari Rasulullah saw lebih tinggi dan lebih besar dari semua Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul lainnya. Hal demikian karena beliau saw telah mencapai puncak dari akhlak mulia, manusia sempurna dan syariat beliau saw adalah syariat yang paling sempurna. Namun, bila kita melayangkan pandangan kepada setiap Nabi, kita dapati bahwa setiap Nabi juga memiliki sifat atau keistimewaan yang khas dibanding Nabi-Nabi yang lainnya. Salah satu sifat Nabi Isa as dapat merupakan alasan mengapa Hadhrat Masih Mau’ud as disamakan dengan beliau.

Hal ini telah dijelaskan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dengan cara yang paling indah. Beliau ra bersabda, “Injil mengatakan, ‘Tetapi Aku berkata kepadamu, janganlah melawan orang yang berjahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu. Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena menginini bajumu, maka serahkanlah juga kepadanya jubahmu. Jika seseorang memaksamu untuk pergi sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil.’[10] Tidak diragukan lagi bahwa semua Nabi dan Rasul Tuhan mengajarkan tentang rifq dan layyin (kesopanan, kesantunan dan kelemahlembutan, kindness – kebaikan hati), tapi pada masanya, Nabi Isa as mengajarkan kebaikan hati yang jauh lebih besar.

Ketika Tuhan mengirimkan Hadhrat Masih Mau’ud as dan menamakan beliau as ‘a-Masih’, dan menyamakan beliau dengan Nabi Isa as – makna utamanya adalah beliau juga dikirimkan ke dunia dengan ajaran akan kebaikan hati yang sangat besar. Beliau dinamai al-Masih juga karena sebab yang lain, yaitu beliau diutus untuk memandu umat Kristen – dan dijuluki Krishna karena beliau juga diutus untuk orang-orang Hindu. Sama juga halnya, beliau datang untuk seluruh umat Muslim dan seluruh umat manusia lainnya di dunia, dalam posisi beliau sebagai naib (pembantu) dan taabi’ (pengikut) Baginda Nabi Muhammad saw. Namun, secara ringkas, ada penekanan pada nama ‘al-Masih’, dan atas dasar hal itu Hadhrat Masih Mau’ud as mengemukakan ajaran kebaikan hati, kesantunan dan kelemahlembutan serta nasehat untuk meninggalkan kekasaran dan kekerasan!”

Hadhrat Masih Mau’ud as menulis: “Sebab Tuhan menghendaki agar di dalam diri kamu terjadi revolusi yang dahsyat dan menyeluruh. Dia menuntut dari diri kamu suatu maut (kematian), yang sesudah maut itu kamu akan Dia hidupkan kembali. Segeralah berdamai antara satu sama lain dan maafkanlah kesalahan-kesalahan saudara kamu. Sebab, jahatlah dia yang tidak sudi berdamai dengan saudaranya. Ia akan diputuskan perhubungannya, sebab ia menanam benih perpecahan. Tinggalkanlah keinginan hawa-nafsu kamu dalam keadaan apa pun, dan lenyapkanlah ketegangan antara satu dengan yang lain. Walaupun seandainya kamu ada di pihak yang benar bersikaplah merendahkan diri seakan-akan kamu seorang pendusta, agar kamu diampuni. Lepaskanlah segala sesuatu yang bakal menggemukkan hawa-nafsu, sebab pintu itu – yang melalui pintu itu kami diperkenankan masuk — tidak dapat dilalui oleh orang yang gemuk hawa-nafsunya.”[11]

Kita perlu mereformasi dalam diri kita dan kita harus memberikan contoh dimana dunia akan mengatakan bahwa kita telah meraih kontrol utuh atas emosi kita. Saya telah menyatakan ketika peresmian masjid di Irlandia, saat kita memberikan Tabligh kepada orang lain, mereka mungkin akan bertanya, “Mengenai Muslim-Muslim lainnya, Anda mungkin akan mengatakan bahwa mereka tanpa bimbingan karena mereka belum menerima Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun perubahan revolusioner seperti apa yang terjadi pada Anda setelah Anda menerima beliau as?”

Apa yang kita lakukan harus sesuai dengan apa yang menjadi ajaran kita. Kita harus merenungkan kembali apakah orang-orang dari agama lain, atau yang tidak beragama, semua umat Hindu dan semua umat Kristen menyukai konfrontasi (permusuhan, pertengkaran)? Tidak. Banyak dari mereka yang cinta damai, adil dan tidak berat sebelah. Jika diantara kita juga ada orang-orang yang cinta damai, dan juga ada yang suka berbantah-bantahan dan ada juga yang berakhlak buruk, maka apa bedanya kita dengan mereka? Bedanya akan muncul ketika kita mengamalkan ajaran-ajaran kita dan benar-benar menyingkirkan praktek-praktek yang sifatnya konfrontatif– atau setidaknya mengurangi hal ini sehingga tidak terlalu kentara dan setiap orang akan merasa jijik dengan orang yang berlaku konfrontatif. Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Jika engkau melihat kejahatan dan mempunyai kemampuan, singkirkanlah dengan tanganmu. Jika engkau tak sanggup, hentikan dengan lisanmu. Jika engkau tidak juga dapat melakukannya, engkau harus memiliki perasaan tidak suka di dalam hatimu.[12]

Para Ahmadi juga harus dapat melakukan perwujudan dari tindakan menghentikan gerakan-gerakan yang salah dan akhlak yang buruk, dan untuk menasihati tentang hal ini, dan memberantasnya dan mempunyai perasaan tidak suka akan hal ini. Jika semua orang melakukan hal ini, maka bahkan orang yang anehpun tidak akan memanjakan dirinya di dalam tindakan tindakan immoral atau akhlak yang buruk dan setiap orang berusaha untuk meningkatkan standar mereka. Kita harus mengambil jalan yang mana Tuhan dan Rasul-Nya telah perintahkan dan yang mana Hadhrat Masih Mau’ud as telah tekankan pada masa-masa ini.

Kita harus melakukan tindakan-tindakan pengampunan dan memaafkan, kelembutan dan cinta kasih. Jika melihat seseorang melakukan ketidakadilan, kita harus merasa seakan-akan hal itu diberlakukan kepada kita, bahkan kita seharusnya merasa bahwa umat Hadhrat Masih Mau’ud as-lah yang diserang. Adalah tugas kita untuk menghentikan serangan orang-orang yang demikian, jika tidak dengan tangan kita sendiri, maka dengan lisan kita dan dalam hati kita merasa tidak suka terhadap tindakan-tindakan tersebut – juga berdoa agar para korban selamat dari para penyerang dan penindas. Jika kita bereaksi terhadap tindakan-tindakan amoral, masyarakat kita juga akan bereaksi terhadap mereka. Pelanggaran dan dosa ini akan dihilangkan dari antara kita atas kehendak mereka sendiri. Namun kita menyadari bahwa khususnya untuk perkara-perkara perkawinan, orang tua dan saudara juga terlibat dalam konflik – dan bukannya melakukan konseling, orang lain pun ikut campur atas nama persahabatan. Agar dapat mereformasi masyarakat – alih-alih ikut terlibat dalam ketidakadilan seperti itu, kita harus menganggap bahwa serangan terhadap orang yang teraniaya adalah serangan terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Jika kita mematuhi hal ini, maka masyarakat kita akan memperbaiki dirinya dengan sangat cepat. Perilaku dan sikap kita akan dapat ikut serta dalam pencapaian tujuan dari Hadhrat Masih Mau’ud as.

Semoga Tuhan mengaruniai kita taufik untuk menjadikan diri kita sebagai teladan yang tinggi dalam hal ibadah kepada Tuhan, teladan nilai-nilai moral yang tinggi, dan juga dapat membuat orang lain menjadi demikian pula serta semoga kita semua tidak menjadi orang-orang yang terlibat dalam dendam, kebencian dan perbuatan merusak sehingga membuat orang-orang lain menghina terhadap Hadhrat Masih Mau’ud as. Semoga Tuhan melindungi kita dari segala bentuk egoisme! [آمين. aamiin]

Saya akan mengimami shalat jenazah hadir setelah shalat Jumat. Yang wafat ialah Asiya Begum Sahiba, istri Tn. Chaudhri Muhammad Abdul Rahman dari Inner Park. Beliau wafat pada tanggal 3 Oktober di usia 69 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون. Almarhumah adalah cucu dari dua orang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, yaitu Ahmad Yar Ahad dan Mehtab Bibi dari Loyari Wala. Beliau orang yang terbiasa berpuasa, teratur dalam melakukan shalat, shalat tahajjud dan berdoa. Beliau orang yang banyak berdzikir Ilahi, bersedekah dan melakukan amal-amal baik. Beliau orang yang penyabar dan suka bersyukur. Beliau teratur membayar candah sesuai waktunya dan banyak melakukan pengorbanan harta. Beliau sangat mukhlis. Tatkala suami beliau dipenjara pada tahun 1978 atas dasar tuduhan palsu, almarhumah tetap bersabar dan berani. Beliau mengikuti Nizam Washiyat dan memenuhi pembayaran pos-pos candah washiyat dengan harta beliau. Beliau meninggalkan lima putri dan dua putra. Putra beliau Ishtiaq Ahmad adalah seorang Muballigh di Pakistan dan putra beliau lainnya, Ijazur Rahman adalah seorang anggota tim keamanan khusus di sini, di Inggris. Almarhumah adalah juga bibi dari Syahid Abdul Quddus. Semoga Tuhan mengangkat derajat beliau dan mengampuni beliau dan mengaruniai anak-anak beliau taufik untuk menempuh jalan kebajikan. [aamiin] (penerjemah: Ratu Gumelar)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuzhaat jilid 4, h. 258, edisi 1985, Inglistan

[3] Malfuuzhaat, jilid 7, h. 350, edisi Inggris 1985.

[4] Al-Hakam, jilid 6, nomor 17, 10 Mei 1902, h. 5-6.

[5] Al-Hakam, jilid 7, nomor 9, edisi 10 Maret 1903, h. 8.

[6] Malfuuzhaat, jilid 7, h. 350, edisi Inggris 1985.

[7] Malfuuzhaat, jilid 5, h. 208, edisi Inggris 1985.

[8] Casymah Ma’rifat, Ruhani Khazain, jilid 23, h. 395.

[9] Kishti e Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazain 19, h. 12.

[10] Perjanjian Baru, Matius; 5:39-41

“لاَ تُقَاوِمُوا الشَّرَّ، بَلْ مَنْ لَطَمَكَ عَلَى خَدِّكَ الأَيْمَنِ فَحَوِّلْ لَهُ الآخَرَ أَيْضًا. * وَمَنْ أَرَادَ أَنْ يُخَاصِمَكَ وَيَأْخُذَ ثَوْبَكَ فَاتْرُكْ لَهُ الرِّدَاءَ أَيْضًا. * وَمَنْ سَخَّرَكَ مِيلاً وَاحِدًا فَاذْهَبْ مَعَهُ اثْنَيْنِ.” (إِنْجِيلُ مَتَّى 5 : 39-41)

[11] Kishti e Nuh, Ruhani Khaza’in Vol. 19, p. 12

[12] Shahih Muslim, Kitab tentang iman, bab bayan kaunin nahy ‘anil mungkar, no. 177

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا وكان يتمتع بالقدرة فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَليكرهه في قَلْبِهِ.