Download

Idul Fitri, Hari Pertobatan dan Turunnya Karunia-Karunia

Khotbah Idul Fitri

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

 Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahulloohu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 1 Tabuk 1390 HS/September 2011 di Masjid Baitul Futuh, London-UK.

“Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah”

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم. بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

ا إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ * (فصلت:)لرَّحْمَن

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata; ‘Tuhan Kami Allah’ kemudian mereka istiqamah, turun kepada mereka Malaikat-malaikat sembari berkata; ‘Jangan kamu takut dan jangan pula kamu bersedih; dan bergembiralah dengan kabar suka tentang Surga yang telah dijanjikan kepada kamu.” (Surah Haa Miim as-Sajdah, Fushilat [41] : 31)

Kehidupan manusia kadangkala diliputi kegembiraan kadang-kadang diliputi kesedihan. Sarana kegembiraan juga terdapat berbagai macam jenisnya. Demikian juga sebab-sebab kesedihan terdapat berbagai macam jenisnya. Baik kegembiraan dan kesedihan itu secara pribadi maupun kegembiraan itu secara keluarga juga. Terdapat kegembiraan dan kesedihan yang dialami oleh Jemaat dan kegembiraan serta kesedihan yang dialami oleh Bangsa atau Negara juga. Terdapat kegembiraan secara rohaniah juga yang menyangkut dengan agama. Kemurkaan dan ridha Allah Ta’ala bagi seorang mukmin yang bertaqwa menjadi sarana kesedihan dan kegembiraan juga baginya. Pendeknya jenis kegembiraan dan kesedihan itu tidak terhitung banyaknya dan ada juga banyak sekali penyebab kegembiraan dan kesedihan itu.

Tetapi, kegembiraan dan kesedihan rohani, kemurkaan dan ridha Alah Ta’ala mempunyai kedudukan teramat penting bagi seorang Mukmin sejati. Anak-anak dan kaum kerabat terdekat juga menjadi sarana kegembiraan rohani bagi orang-orang Mukmin. Hal itu jika mereka melihat ta’lim dan tarbiyyat anak-anak mereka mengalami kemajuan. Ibu-bapak, kaum-kerabat dan orang-orang yang mencintai mereka juga merasa gembira sekali melihat mereka. Lebih dari itu, Khalifa-e-Waqt juga sangat gembira melihat warga Jemaat yang sedang maju itu, yang menjadi sarana bagi kekuatan dan kemajuan Jemaat secara menyeluruh.

Demikian juga anak-anak dan kaum kerabat terdekat menjadi sarana kesedihan, apabila Ibu-bapak dan orang-orang yang mencintai mereka menyaksikan kemunduran atau kerusakan iman dan rohani mereka. Mereka mengalami kesedihan yang sangat mengherankan, misalnya banyak orang-orang yang mengirim surat kepada saya, surat dari seorang Istri atau Suami yang menceritakan kegelisahan dan kekecewaan yang mendalam tentang anak-anak mereka, atau tentang kaum keluarga dekat mereka atau kaum keluarga yang mereka cintai sudah menunjukkan lemahnya iman dan jauhnya hubungan mereka dengan ajaran agama, yang telah membuat kami sangat gelisah. Mereka memohon doa agar keadaan mereka menjadi berubah. Kebanyakan diantara anak-anak mereka sangat berubah dan akhlak mereka menjadi rusak. Dengan menyaksikan keadaan yang tidak wajar dan tidak menyenangkan itu akhirnya mereka berkata, “Kami tidak mempunyai hubungan lagi dengan mereka. Jika anak-anak itu sudah menyimpang dari Jemaat atau dari agama maka hubungan kami dengan mereka pun menjadi terputus.”

Seperti itulah mereka menulis surat dan seperti itu pula mereka berkata, sehingga saya tahu benar bahwa dengan menyatakan demikian dan menyatakan hubungan sudah terputus, kesedihan mereka telah mencapai puncak yang sangat memprihatinkan. Kejadian demikian karena kesalahan manusia sendiri yang telah membuat jatuhnya iman dan rusaknya moral. Apabila seseorang sudah sadar dan mata mulai terbuka baru berkata sembari mengusap dada, “Aduhai mengapa sampai begini keadaan iman dan moralku!” Maka pada waktu itu manusia jatuh terbenam kedalam kesedihan yang sangat mendalam.

Apabila kesalahan itu karena tidak menghormati peraturan Jemaat atau disebabkan merampas hak-milik orang lain, lalu mendapat hukuman, barulah timbul kesadaran, “Sekarang aku sedang jatuh terperosok kedalam jurang kehancuran.” Barulah mereka mulai mengirim surat-surat kepada saya, merengek meminta dimaafkan. Mengirimkan pernyataan yang kuat dan sangat memprihatinkan sekali, hati mereka menggelepar laksana ikan dilempar ke darat dan berkata, “Aduhai! Kami sudah terbuang dari Jemaat. Kami terputus dari ikatan dengan Jemaat! Dunia kami juga telah menjadi gelap!”

Dengan karunia Allah Ta’ala kesadaran seperti itu terdapat pada orang Ahmadi yang hatinya mempunyai kecintaan terhadap Jemaat dan mempunyai rasa takut terhadap Allah Ta’ala. Dan, illa maasyaa Allah, kesadaran seperti itu tertanam dalam hati setiap orang Ahmadi. Ketika kesalahan mereka telah dimaafkan, timbullah kegembiraan yang sangat meluap-luap didalam keluarga itu laksana Hari Id bagi mereka. Maka, pesta pora dan kehidupan tamasya ria adalah sarana kegembiraan bagi orang-orang duniawi. Akan tetapi bagi orang-orang yang takut kepada Allah Ta’ala dan bagi orang-orang yang mengharapkan ridha-Nya dan bagi orang-orang Ahmadi yang telah beriman kepada Imam Zaman as ada pesan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw, bahwa kegembiraan yang hakiki bagi mereka adalah apabila kehidupan dunia akhirat mereka sudah terpelihara dan hubungan mereka sudah terikat sangat erat dengan Jemaat. Itulah sarana kegembiraan hakiki bagi mereka.

Tetapi, jika masuk kedalam Jemaat Ahmadiyah hanya dengan menyatakan diri baiat saja, atau hanya dengan mencatatkan diri kepada Jemaat, apakah cukup untuk mendapatkan kegembiraan yang hakiki, atau menjadikan laksana Id kita setelah setiap hari berpuasa? Tidak, sama sekali tidak! Melainkan untuk itu sangat diperlukan adanya hubungan hakiki dengan Agama, hubungan hakiki dengan Allah Ta’ala, dan dengan taubat hakiki dimohon kepada Allah Ta’ala setiap waktu. Dan harus paham juga apa yang dimaksud dengan taubat hakiki itu. Dan harus faham juga perkara apa saja yang sangat diperlukan untuk meraih ridha Allah Ta’ala agar memperoleh kegembiraan hakiki yang berkekalan.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Kegembiraan hakiki bagi manusia adalah hari bertaubat.” Tentang itu beliau as bersabda, “Semua orang harus ingat bahwa Allah Ta’ala telah menetapkan suatu hari yang dipandang sebagai hari bergembira-ria didalam Islam. Dan didalam hari itu Allah Ta’ala menurunkan berkat yang lebih menakjubkan dari semua hari, yaitu hari Jum’at karena hari itu mengandung berkat sangat besar sekali. Demikian juga didalam Islam terdapat dua hari Id yang dirayakan dengan penuh gembira. Didalam kedua Id itu juga Allah Ta’ala menanamkan berkat-berkat yang mengherankan sekali.

Tetapi, ingatlah! Sungguh pun di dalam kedua Id yang terpisah itu mengandung berkat dan menjadi Hari yang menggembirakan, akan tetapi ada satu hari lain lagi yang lebih penuh berkat dari semua dan hari itu juga adalah hari bergembira-ria. Namun sangat disesalkan sekali sebab manusia tidak banyak mengharapkan kedatangan hari itu dan tidak pula mereka mencarinya. Sebab jika manusia tahu betapa penuh berkatnya hari itu tentu mereka menaruh banyak perhatian kepadanya, sebab hari itu sangat nubarak sekali dan terbukti sebagai hari yang sangat menguntungkan sekali bagi mereka, sehingga manusia menganggapnya sebagai ghanimah.

Hari apakah itu, yang kedudukannya jauh lebih baik dari hari Jumat dan dari kedua Hari Id dan hari itu Hari yang sangat Mubarak? Sekarang saya beritahu, yaitu Hari bertaubat manusia. Hari yang lebih baik dari setiap hari Id. Mengapa? Sebab catatan semua perbuatan dosa yang dapat menjerumuskan manusia kedalam Jahannam dan membawa manusia kedalam kancah kemurkaan Ilahi, semuanya dicuci bersih sampai terhapus semuanya. Dan semua dosa-dosanya dimaafkan. Maka tidak ada hari Id yang lebih besar dari Hari itu bagi manusia, yang memberi najat atau keselamatan dari Neraka Jahannam atau dari kemurkaan Allah Ta’ala yang kekal-abadi. Orang berlumuran dosa kemudian bertaubat dan sebelumnya ia jauh dari Allah Ta’ala dan telah menjadi sasaran Kemurkaan-Nya, sekarang dengan karunia-Nya ia menjadi dekat kepada-Nya dan ia telah dijauhkan dari Azab dan dari Neraka Jahannam. Jadi, betapa beruntungnya orang yang mendapatkan Hari beberkat itu.”

Bagaimana taubat itu harus dilakukan? Dalam menjelaskan hal itu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Apabila manusia bertaubat, ia harus bertaubat secara murni. Sesungguhnya taubat itu adalah ruju’ (kembali). Bertaubat atau istighfar hanya dengan mulut saja hanya merupakan adat kebiasaan, tidak membawa faedah apapun. Oleh sebab itu Allah Ta’ala tidak berfirman, “Taubat, taubatlah dengan mulut.” Melainkan Dia berfirman, “Ruju’-lah kalian sebagaimana kamu harus ruju’ dengan sebaik-baiknya.” Dan apa artinya ruju’ itu? Ruju’ artinya kembali atau pulang ketempat asal.

Disebabkan angan-angannya buruk dan amal perbuatannya juga buruk, manusia menjadi jauh dari Allah Ta’ala. Atau ia telah terjerumus kedalam perangkap Setan. Namun apabila perhatian manusia secara tetap selalu bertaubat kepada Allah Ta’ala dan ia terus-menerus berusaha untuk menyelamatkan diri dari godaan Setan dan selalu mendekatkan diri hanya kepada Allah Ta’ala sembari memohon pertolongan hanya kepada-Nya maka itulah yang disebut taubat (ruju’) hakiki.

Selanjutnya beliau as bersabda,

“Dalam arah yang berlawanan manusia meninggalkan arah yang satu beralih kepada arah lain yang berlawanan, atau meninggalkan arah timur lalu menuju kearah barat, atau meninggalkan arah Utara lalu beralih kearah Selatan, maka akhirnya tempat yang pertama itu akan semakin menjauh dan arah yang dia tujupun akan semakin mendekat. Itulah maksud dari pada Taubat itu. Artinya, apabila manusia ruju’ kepada Allah Ta’ala dan setiap hari melangkah kearah-Nya maka sebagai natijahnya ia akan menjauh dari Setan dan ia menjadi dekat dengan Allah Ta’ala.

Sesuai dengan kenyataan, barangsiapa yang sudah dekat dengan seseorang, dia mendengar apa yang dikatakan olehnya. Oleh karena itu manusia seperti itu, keadaannya sudah jauh dari Setan dan dia menjadi dekat dengan Allah Ta’ala. Dan karunia serta keberkahan-keberkahan Allah Ta’ala turun kepadanya. Dan noda kotor akibat perbuatan akhlak rendahnya dicuci bersih oleh-Nya.”

Jadi, maksud dan tujuan inilah yang harus kita usahakan untuk mencapainya. Dan kegembiraan atau kesedihan tidak terbatas hanya karena kesulitan-kesulitan secara lahiriah atau mendapat ni’mat-ni’mat atau mendapat peringatan berupa ancaman atau pengampunan dari Jemaat. Melainkan kesedihan hakiki adalah kesedihan karena kemurkaan Allah Ta’ala. Dan kegembiraan hakiki adalah mendapat ridha Allah Ta’ala dan terkabulnya permohonan taubat.

Oleh sebab itu, setiap orang Ahmadi harus berusaha dengan penuh perhatian untuk meraih kedudukan seperti itu. Bahwa kita ingin mendekat dengan Allah Ta’ala dan menjauh dari Setan, barulah usaha itu akan berhasil mendapat kegembiraan yang hakiki. Dan barulah kita akan menjadi orang-orang yang merayakan Id hakiki. Sebab karena taubat itulah yang dapat membawa kita menjadi orang yang dicintai Allah Ta’ala dan menjadi dekat dengan-Nya. Apabila Allah Ta’ala mulai mencintai hamba-Nya maka tidak ada kegembiraan yang lebih besar dari itu baginya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Taubat hakiki membuat manusia menjadi kekasih Tuhan. Dengan taubat itu manusia mendapat taufiq untuk mensucikan dirinya. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ “Sesungguhnya Allah mencintai (menjadi sahabat) mereka yang banyak bertaubat dan Dia mencintai (menjadi sahabat) orang-orang yang menjaga kebersihan dirinya (orang-orang yang bersih dari pada dosa-dosa).” (Al Baqarah ayat 223).

Taubat adalah suatu perkara yang apabila dilakukan dengan ketentuan-ketentuannya yang murni maka dalam diri manusia akan tertanam benih-benih kesucian yang mewariskan kebaikan-kebaikan kepadanya. Sesuai dengan itu Hadhrat Rasulullah saw telah bersabda, “Orang yang bertaubat dari dosa-dosanya seakan-akan ia tidak pernah berbuat dosa apapun.”[2] Artinya, semua dosa yang telah dilakukan sebelumnya dimaafkan. Menjadi sebuah perjanjian dengan Allah Ta’ala untuk shulh (damai) dan catatan yang baru akan dimulai. Dosa-dosa yang lalu dimaafkan, perhitungan baru akan mulai dibuka. Jadi, jika usaha taubat dilakukan seperti itu maka tidak ada hari kegembiraan yang lebih besar dari itu, bahwa setelah Allah Ta’ala mengampuni semua dosa-dosa kita di masa lampau Dia menjadi sahabat kita.

Allah Ta’ala membuat kita menjadi pewaris kebaikan-kebaikan yang telah Dia perintahkan untuk mengamalkannya. Apabila Allah Ta’ala telah menjadi Sahabat kita maka setiap benda yang tidak disukai Allah Ta’ala kitapun membencinya. Dan kita mencintai setiap benda yang menjadi kesayangan Allah Ta’ala. Jadi seorang mukmin yang mencari ridha Allah Ta’ala akan berusaha untuk melakukan amal perbuatan yang telah diperintahkan Allah Ta’ala untuk mengamalkannya. Disertai rasa takut dan gentar seorang mukmin hakiki yang mencari ridha Allah Ta’ala akan selalu mewaspadai perintah-perintah dan juga larangan-larangan Allah Ta’ala. Akan selalu mencari perintah-perintah yang telah diwajibkan Allah Ta’ala untuk melakukannya agar ia dapat melaksanakan sepenuhnya. Dan akan selalu mencari peraturan-peraturan yang Allah Ta’ala melarang melakukannya agar terhindar dari padanya. Supaya Allah Ta’ala Yang telah mengeluarkan aku dari keburukan kepada kebaikan dan Yang telah memaafkan dosa-dosa-ku dimasa lampau, jangan menjadi marah disebabkan suatu perbuatan buruk-ku.

Sekalipun keprihatinan manusia itu tersembunyi didalam pikirannya, namun keprihatinan itu timbul karena terdorong rasa takut kepada Allah Ta’ala, yang terus-menerus mengarah kepada taubat. Rasa prihatin itu membawa kegembiraan baginya, sebab kesedihan ini adalah stándar kesedihan yang dapat meraih kedudukan hamba hakiki Allah Ta’ala. Kesedihan ini adalah jalan baru untuk mencari kecintaan Allah Ta’ala yang akan membawa ribuan bahkan ratusan ribu kegembiraan. Kesedihan itu bukan timbul karena suatu kesulitan atau keburukan, melainkan demi menegakkan kecintaan Allah Ta’ala kepadanya yang telah ia peroleh. Kesedihan semacam itu berfungsi untuk memelihara kehidupan dunia dan akhirat. Kesedihan itu demi meningkatkan kegembiraan Id. Sebetulnya hal itu bukan kesedihan melainkan harapan dan semangat untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

Isi fikr me rehte hei’ roz o syab Keh raazi Woh Dildaar hota he kab

Siang dan malam kuhabiskan untuk memikirkan hal ini Kapankah Sang Kekasih Itu (Tuhan) ridha (senang) kepadaku![3]

Karenanya, alangkah baik nasib orang itu, yang kesedihannya juga dirasakan demi meraih ridha Allah Ta’ala. Dan untuk itu doa yang keluar dari lubuk hatinya telah menggoncang Arasy Ilahi. Didalam bulan suci Ramadhan itu banyk sekali doa-doa dan usaha yang dilakukan untuk meraih kecintaan dan ridha Allah Ta’ala dan banyak doa-doa yang dipanjatkan untuk meraih kasih sayang Allah Ta’ala, dan banyak usaha untuk menerapkan amal saleh sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala. Maka alangkah baik nasib orang yang berusaha keras untuk itu semua, sebab Id hakiki adalah Id orang-orang yang berusaha keras seperti itu. Demikianlah orang-orang yang memahami makna Rabbunallah, dan mendendangkannya juga.

Orang-orang yang memahami betul makna Rabbunallah atau mendendangkannya dengan suara keras maka merekalah yang meraih Id hakiki itu. Id hakiki seperti itulah yang orang-orang mukmin harus berusaha meraihnya. Sekarang jika pada Hari Id ini kita menyadari bahwa peringkat Id yang harus kita raih tidak berhasil meraihnya, maka sekarang juga kita harus segera berusaha melakukan taubat hakiki dengan perhatian sepenuhnya. Dan Id ini telah mengingatkan kita untuk berjanji, bahwa mulai hari ini kita akan menjadikan setiap tutur kata dan setiap amal akan dijadikan sarana untuk meraih ridha Allah Ta’ala. Dan akan bertaubat yang sesungguhnya kepada Allah Ta’ala sembari merundukkan kepala di hadapan-Nya.

Maka membaca Astaghfirullaha Rabbi min kulli dzanbin wa atubu ilaih yang keluar dari lubuk hati yang ikhlas dan dengan doa yang khusyu akan menciptakan Id hakiki seperti yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as. Tetapi, sebagaimana telah saya katakan dan Hadhrat Masih Mau’ud as juga telah sabdakan bahwa taubat atau ruju’ (kembali) kepada Tuhan harus dilakukan dengan segala kekuatan yang ada, seraya meninggalkan semua kelemahan dan selalu maju kedepan mencari ridha Allah Ta’ala. Selalu mencari perintah dan larangan Allah Ta’ala yang terkandung dalam Alqur’anul Karim. Selalu mencari hukum-hukum yang Allah Ta’ala perintahkan untuk mengamalkannya dan mencari hukum-hukum Allah Ta’ala yang dilarang mengamalkannya agar terhindar dari padanya.

Sebab taubat sejati yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala adalah mengamalkan semua kebaikan dan berusaha menghindari semua perbuatan yang dilarang. Apabila sudah yakin bahwa semua kegembiraan duniawi ini hanya bersifat sementara, maka dengan menjalin hubungan erat dengan Allah Ta’ala dapat menjadi pewaris kegembiraan dan kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat yang sifatnya kekal. Dialah Tuhan yang ditangan-Nya terletak semua kegembiraan. Dialah Allah yang karena kemarahan-Nya semua keadaan duniawi dan ukhrawi menjadi gelap gulita dan semua bukit kesedihan menjulang tinggi. Maka menjalin hubungan erat dengan Tuhan secara kekal dan menjadi hamba-Nya yang hakiki menjadi sarana untuk meraih kegembiraan yang sejati. Jadi, hal itu semua harus selalu timbul didalam pikiran kita.

Ayat Alqur’an yang telah saya tilawatkan pada permulaan khotbah ini Allah Ta’ala mengingatkan kita kearah pokok pembicaraan itu semua, bahwa Allah adalah Rabb kita. Pernyataan ini menjauhkan ketakutan dan kesedihan. Namun dijelaskan bahwa hanya dengan slogan atau dengan mulut saja berkata ‘Tuhan kami adalah Allah’ tidak dapat menjauhkan ketakutan dan kesedihan. Melainkan pernyataan ini harus dengan hati yang teguh dan tetap secara dawam, tidak cukup hanya satu kali atau beberapa hari atau hanya dengan mulut menyatakan demikian atau hanya di bulan Ramadhan saja banyak memanjatkan doa sembari menyatakan ‘Rabbunallah’ Tuhan kami adalah Allah. Harus menyatakan dengan tetap dan dawam serta harus menunjukkan istiqamah dan istiqlal. Jika sudah memperoleh istiqlal maka semua keburukan akan dibencinya dan usaha kearah kebaikan akan menjadi perhatiannya.

Seperti telah saya jelaskan dalam Khotbah Jumat yang lalu mengenai sabda Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa apabila seorang hamba mendahulukan setiap kebaikan demi meraih ridha Allah Ta’ala maka dengan mengucapkan Rabbunallah menganggap Rabbubiyat Allah Ta’ala itu lebih tinggi dari segala jenis rabbubiyyat. Dengan itu barulah dipahami bahwa Allah adalah nama Yang Agung, Dia diutamakan dari segala benda lain. Apabila Allah Ta’ala diutamakan dari semua benda lain, dan secara tetap dan istiqamah manusia tunduk kepada-Nya, dan setiap saat berusaha meraih ridha-Nya, selalu berusaha mengamalkan hukum-hukum-Nya maka istiqamat itu menjadi nama keagungan baginya. Sehingga keadaan hubungan manusia dengan Tuhan menjadi sangat erat dan kuat sekali. Apabila kedua-dua nama keagungan itu bertemu maka akan dirasakan lezatnya berdoa. Dan pada waktu itu, seruan Allah Ta’ala: ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ‘ud’uuni astajib lakum’ – “Mohonlah kepada-Ku maka Aku akan mengabulkan doa kamu”, akan dirasakan lezat sekali. (Surah Ghafir/al-Mukmin; 40:61) Pengalaman rasa lezat demikian akan menjadi pengalaman yang sangat mengherankan.

Maka bagi seorang mukmin lezatnya Id hakiki akan dirasakan sangat istimewa sekali apabila doa-doanya dikabulkan oleh Allah Ta’ala, apabila ia memanjatkan doa itu disertai keperihan hatinya. Pada bulan Ramadhan banyak dari kita yang selalu bangun di tengah malam memanjatkan doa seperti itu. Dengan karunia Allah Ta’ala kita lihat anak-anak muda kita juga mempunyai semangat untuk memanjatkan doa sembari duduk i’tikaf di mesjid. Disebabkan terbatasnya tempat terpaksa banyak anak-anak muda kita yang ditolak permohonan mereka untuk i’tikaf. Walhasil, kegiatan dan semangat beribadah di bulan Ramadhan timbul dalam diri setiap orang.

Apabila keadaan mereka sudah mencapai istiqamah maka hakikat Rabbunallah (Tuhan kami Allah) juga dapat diperoleh. Lezatnya diwaktu memanjatkan doa-doa kepada Allah Ta’ala dan lezatnya diwaktu mendapat pengabulan doa dari Allh Ta’ala tentu lain lagi rasanya. Hakikatnya setiap orang mu’min harus berusaha meraih Id hakiki seperti itu sebab ia diiringi kabar suka tentang Surga yang akan dianugerahkan oleh-Nya.

Sebab di akhir ayat itu Allah Ta’ala berfirman: وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ bergembiralah dengan Surga yang telah dijanjikan kepadamu. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Yang dimaksud dengan Surga di sini adalah Surga dunia. Di dunia ini juga Allah Ta’ala menyediakan sarana kegembiraan bagi orang-orang m’min dengan menyaksikan kemaqbulan doa-doa mereka. Orang-orang yang telah menjalin hubungan hakiki dengan Allah Ta’ala, maka didunia ini juga Surga diperlihatkan kepada mereka. Betapa baik nasib mereka itu. Surga di dunia-lah yang menjadi sarana khabar suka bagi Surga diakhirat nanti.

Di dalam dan setelah usai bulan Ramadhan banyak sekali para anggota Jemaat yang menulis surat kepada saya menceritakan doa-doa yang dipanjatkan selama Ramadhan dan tentang karunia Allah Ta’ala yang turun kepada mereka. Jadi Id hakiki itu adalah apabila telah berhasil menjalin hubungan erat dengan Allah Ta’ala. Dan Id seperti itulah yang harus dicari oleh setiap orang sehingga menyatakan Rabbunallah (Tuhan kami Allah) meresap betul didalam hati sanubari. Dan raihlah kelezatan seruan ud’uni astajib lakum juga. Jika tidak, ibadah Ramadhan hanya menunggu datangnya Id untuk bersuka ria, berpesta pora, memakai pakaian baru dan sebagainya, maka Ramadhan itu akan berlalu tanpa mendatangkan berkat apapun. Id seperti itu hanya menampakkan kegembiraan secara lahiriyah saja namun kosong dari kabar suka tentang Surga. Kosong dari hubungan yang istimewa dengan Allah Ta’ala yang menjadikan tangan hamba-Nya menjadi tangan-Nya dan kaki hamba-Nya menjadi kaki-Nya.

Sebagaimana terdapat hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman, ‘Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku maka Aku umumkan untuk berperang dengannya. Hamba-Ku sangat dekat kepada-Ku dengan mengamalkan yang telah Aku wajibkan. Dan hamba-Ku menjadi sangat dekat dengan-Ku melalui nafal-nafal sehingga Aku mulai mencintainya. Apabila Aku mencintainya maka Aku menjadi pendengaran yang untuk mendengarnya, penglihatan yang untuk melihatnya, tangan yang untuk menamparnya dan kaki yang untuk berjalan olehnya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-­benar memberinya. Jika ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku benar-benar melindunginya dan Aku tidak merasa ragu-ragu dalam pekerjaan apapun kecuali di waktu mencabut nyawa seorang mu’min yang tidak menghendaki kematian dan Aku membenci bila menyakitinya.” [4]

Maka orang beruntung nasibnya diantara kita adalah orang yang ibadah Ramadhan-nya menghasilkan kegembiraan seperti itu. Allah Ta’ala tidak menutup jalan nikmat hamba-hamba-Nya. Rahmat-Nya sangat luas sekali dan meliputi setiap benda. Pintu-Nya selalu terbuka untuk bertemu dengan-Nya baik didunia ini maupun diakhirat nanti. Jika manusia menghadap kepada Allah Ta’ala sembari bertaubat dan menunjukkan rasa takut kepada-Nya maka Allah Ta’ala menyambut dan merangkulnya. Dia mendapat Surga didunia dan diakhirat juga. Sebagaimana firman-Nya:

وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ

“Orang yang takut kepada keagungan Rab-nya baginya ada dua buah Surga, di dunia ini juga dan di akhirat nanti.” (Ar Rahman ayat: 47)

Hanya orang demikianlah yang takut kepada Allah Ta’ala bahwa Allah Ta’ala Pemilik segala kekuatan. Ia mempunyai pengertian yang sesungguhnya tentang Allah Ta’ala. Slogan Rabbunallah dikumandangkannya dengan suara tinggi. Sembari menunjukkan istiqamah dia mengikat hubungan hanya dengan Allah Ta’ala.

Diketahui dari Hadis bahwa qurb Allah Ta’ala diraih oleh manusia melalui ibadah fardu dan nawafil sehingga Allah Ta’ala mulai mencintainya, dan bagi manusia tidak ada Surga yang lebih besar dari itu. Maka dalam suasana Ramadhan kita harus berusaha meraih qurb dan kecintaan Allah Ta’ala melalui ibadah nawafil. Dan sebagaimana Allah Ta’ala berfirman didalam Hadis itu bahwa barangsiapa yang memusuhi wali atau sahabat kecintaan-Nya, Dia mengumumkan untuk berperang dengan-nya. Hamba itu berada di bawah naungan-Nya.

Apabila keadaan seorang hamba sudah demikian di sisi Allah Ta’ala maka setiap hari menjadi Id baginya. Karena itu perlu sekali untuk memahami kedudukan Id setelah Ramadhan atau disebut juga Idul Fitr atau Id yang disebut Id Qurban. Maksudnya bukan dihimbau kepada kedua Id ini melainkan dihimbau kepada Id yang tidak akan pernah berakhir.

‘Id yang tidak pernah berakhir ini dapat diraih melalui keteguhan secara tetap menjadi hamba milik Allah Ta’ala. Id ini dapat diraih dengan pengorbanan yang berkelanjutan tanpa putus. Id ini diperoleh berkat menunaikan ibadah-ibadah fardhu. Id ini diraih berkat menunaikan ibadah nawafil sebagai hiasan bagi ibadah fardhu. Id ini didapatkan berkat memenuhi perjanjian-perjanjian sekalipun sedang menghadapi permusuhan keras dari pihak para penentang Jemaat. Id ini diperoleh berkat kuatnya hubungan dengan Allah Ta’ala sekalipun banyak tantangan dan godaan-godaan Setan yang berusaha mengelincirkan iman. Kegembiraan Id ini dihasilkan berkat kuatnya berpegang teguh kepada tali Allah Ta’ala secara terus-menerus. Jadi, Id ini dihasilkan berkat usaha yang telah kita lakukan di dalam bulan Ramadhan dengan bangun di malam hari dengan niyat yang tulus banyak memanjatkan doa dan berzikir kepada Allah Ta’ala.

Di bulan Ramadhan, demi meraih ridha Allah Ta’ala kita telah menahan diri di waktu siang hari dari bermacam-macam makanan dan minumam dan dari perkara-perkara yang jaiz (diperbolehkan). Di dalam bulan Ramadhan demi meraih kasih sayang Allah Ta’ala kita telah membelanjakan harta demi membantu keperluan suadara-saudara kita yang tidak mampu dan juga untuk kepentingan Agama. Dari semua perkara kitu yang telah menciptakan adat kebiasaan yang baik dan melakukan semua itu secara dawam adalah istiqamah dan itulah ciri keunggulan seorang Mukmin yang menjadi kabar suka bagi mendapatkan Surga dan menjadi pemicu untuk meraih Id hakiki.

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita penerima kabar yang menggembirakan itu dan semoga Id kita ini menjadi Id hakiki dan semoga Allah Ta’ala sendiri menjadi Pembalas kejahatan para penentang dan musuh-musuh kita. Semoga kita menjadi orang-orang berjaya meningkatkan martabat kerohanian baru yang tinggi. Dan mendapat karunia untuk menyaksikan kemajuan-kemajuan baru Jemaat Ahmadiyah yang lebih gemilang. Berkat pelajaran yang kita peroleh dari ketaatan di bulan Ramadhan semoga kita menjadi teladan yang tinggi dalam ketaatan terhadap Khilafat dan Nizam Jemaat.

Semoga dengan mengabulkan doa-doa, ibadah puasa dan nawafil yang kita lakukan selama bulan Ramadhan, Allah Ta’ala menggabungkan kita kedalam golongan yang dikisahkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik ra bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Di malam hari menjelang Idul Fitri Allah Ta’ala memberi ganjaran orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.[5]

Kemudian Allah Ta’ala memerintahkan para Malaikat-Nya di pagi hari Idul Fitri agar turun ke bumi, mereka berdiri di lorong-lorong tempat bertemu sembari berseru dengan suara yang didengar oleh semua makhluk kecuali manusia dan jin. Mereka berseru, ‘Wahai umat Muhammad! Keluarlah menuju Tuhanmu Yang Terhormat dan Maha Mulia, Yang mengabulkan amal sedikit, Yang memberi ganjaran yang sangat banyak dan Yang memaafkan dosa-dosa besar!’

Ketika mereka berjalan menuju tempat Id dan di sana menunaikan shalat sembari berdoa maka Allah Maha Pemurah, Maha Penuh Berkat dan Maha Agung mencukupi semua yang mereka perlukan dan tidak ada permohonan yang tidak Dia jawab atau kabulkan dan tidak ada dosa yang tidak dimaafkan. Kemudian mereka pulang dalam keadaan Maghfurun lahum (sudah diampuni dan dimaafkan).”[6]

Terdapat riwayat lain bahwa Hari Id itu adalah يوم الجائزة Yaumul Jaizah yakni Hari turun ni’mat-ni’mat.[7]

Kita berdoa semoga sekalipun dalam ibadah puasa dan menunaikan kewajiban ibadah-ibadah kita terdapat kekurangan-kekurangan namun berkat Yaumul Jaizah, berkat Hari turun ni’mat-ni’mat, semoga Dia semata-mata dengan karunia-Nya menganugerahkan ni’mat-ni’mat-Nya kepada kita dan semoga Dia selalu menganugerahkan Rahmat dan Kasih Sayang-Nya kepada kita. Hari ini kita kembali ke rumah masing-masing sembari membawa nimat yang sangat besar ini, semoga kita termasuk kedalam golongan orang-orang yang dijuluki maghfurun lahum. Semoga kita semua menjadi para pewaris semua rahmat Allah Ta’ala agar Id kita menjadi Id kegembiraan yang hakiki.

Kini kita akan berdoa bersama dan sebelum berdoa saya mengucapkan Id Mubarak kepada hadirin semua dan semua warga Jemaat di seluruh dunia yang sedang bersama-sama merayakan Id ini. Semoga Id ini menjadi Id hakiki yang menjadi sarana kegembiraan hakiki dan menjadi sarana pengampunan bagi kita semua. Kita harus berdoa untuk kemajuan Jemaat, semoga Allah Ta’ala setiap saat menganugerahkan kemajuan terus-menerus dan semoga kita dapat menyaksikannya juga.

Kita harus berdoa bagi para waqifin zindegi (orang-orang yang mewaqafkan kehidupan mereka) dan bagi para Waqafi Nou juga yang telah menyatakan janji-janji mereka semoga Allah Ta’ala memberi taufiq untuk menyempurnakannya dan dapat melaksanakan hak-hak kewajiban mereka, semoga mereka mampu memikul semua kewajiban mereka semat-mata murni karena Allah Ta’ala tanpa dicampuri unsur kepentingan duniawi. Semoga Allah Ta’ala menjauhkan semua kesulitan-kesulitan dan keprihatinan mereka dan menjauhkan hambatan-hambatan yang menghalangi kegiatan mereka.

Bagi para penyumbang pengorbanan juga harus dipanjatkan doa, semoga Allah Ta’ala mengabulkan pengorbanan-pengorbanan mereka. Semoga Dia melimpahkan keberkahan sebanyak-banyaknya diatas jiwa dan harta mereka. Bagi keluarga para Syuhada juga harus dipanjatkan doa semoga Allah Ta’ala menjadi penjaga dan pelindung mereka dan semoga mereka diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi kehidupan mereka dan semoga Allah Ta’ala meningkatkan martabat para Syuhada setinggi-tingginya. Bagi para asiran-e-rah-e-Maula (yang dipenjara di jalan Tuhan) juga harus dipanjatkan doa semoga Allah Ta’ala segera memberi jalan kebebasan bagi mereka.

Berdoalah untuk keselamatan dunia dari kezaliman. Semoga Allah Ta’ala melindungi dan menyelamatkan para Ahmadi dari setiap jenis kezaliman. Bagi para Ahmadi di Qadian juga harus dipanjatkan doa semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada mereka untuk menjaga semua Sya’airullah (tempat-tempat suci). Kini tinggal empat atau lima orang Darwesy di Qadian, semoga Allah Ta’ala memberkati umur dan kehidupan mereka dengan sehat wal ‘afiat.

Bagi para Ahmadi Rabwah juga harus dipanjatkan doa yang dahulu secara langsung mereka selalu berdampingan dengan Khilafat dan semenjak tahun 1984 menjadi terpisah jauh, semoga Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa mereka sehingga kesibukan bersama Khilafat di sana dapat segera kembali seperti semula. Bagi para Ahmadi Pakistan secara umum juga harus dipanjatkan doa yang banyak memberikan pengorbanan yang besar-besar khususnya para pemuda secara tetap menjalankan tugas menghadapi berbagai macam permusuhan dan rintangan. Semoga Allah Ta’ala melindungi dan menjaga mereka. Menyelamatkan mereka dari setiap kejahatan Setan. Keadaan negara Pakistan setiap hari semakin memburuk dan kacau, semoga Allah Ta’ala melindungi semua Ahmadi disana dari bahaya kekacauan.

Bagi para Ahmadi di Indonesia juga harus dipanjatkan doa. Mereka juga sedang banyak memberikan pengorbanan-pengorbanan secara terus-menerus disertai iman dan keyakinan sangat kuat. Kezaliman-kezaliman merebak di setiap tempat di seluruh dunia atas dasar Agama terhadap para Ahmadi, bagi semua Ahmadi disana harus banyak-banyak memanjatkan doa semoga Allah Ta’ala memberi keselamatan kepada mereka dari kezaliman-kezaliman itu. Berdoalah bagi keselamatan dunia dari mara-bahaya perang global yang dengan cepat sekali sedang menuju kedalam jurang kehancuran. Berdoalah bagi setiap kesulitan para Ahmadi yang sedang dihadapi baik dibidang Agama maupun dunia. Bagi para anggota Jemaat yang tidak mampu juga harus dipanjatkan doa semoga Allah Ta’ala menyediakan dan memenuhi bahan-bahan keperluan mereka.

Bagi anak keturunan sendiri juga harus memanjatkan doa semoga Allah Ta’ala memberi pemahaman kepada mereka untuk menjadi hamba-hamba Allah yang hakiki. Dan semoga hubungan mereka dengan Jemaat tetap terjalin dengan setia dan ikhlas. Semoga Allah Ta’ala memberkati usaha-usaha kita untuk menyempurnakan Missi Hadhrat Masih Mau’ud a.s Semoga sembari menutupi kelemahan-kelemahan kita Allah Ta’ala memberi taufiq untuk menyaksikan kemenangan-kemenangan kepada kita. Semoga Allah Ta’ala menjadikan dunia seluruhnya mengenal Hadhrat Rasulullah saw. [Aamiin]

 

Khotbah II, Setelah Khotbah kedua ini, Hudhur atba memimpin doa dan setelah mengucapkan salam, beliau pergi. (Harian Al-Fadhl-Rabwah, 7 September 2011)

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Sunan Ibni Maajah

[3] Nisyaan-e-Asmaani, Ruhani Khazain jilid 4, halaman 407

[4] Shahih al-Bukhari Kitab ar-Riqaaq, Bab at-Tawadhu (Kerendahan Hati):

 عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِي بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَىْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ‏”‏‏.

[5] Kitab al-‘Ilal al-Mutanahiyat fil Ahaditsil Wahiyat, at-Takhrij al-Hadits, karya Ibn al-Jauzi (Baghdad, 508-597 H), hadits mengenai Tazyin al-Jannah li shawaami ramadhan wa tsawaabihim (Penghiasan Surga untuk orang-orang yang berpuasa Ramadhan dan ganjaran mereka). Riwayat Anas ibn Malik

عَن ابنِ عَباسٍ، أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ: «إِنَّ الجَنَّةَ لَتُنَجَّدُ وتُزَيَّنُ مِنَ الحَولِ إِلَى الحَولِ لِدُخُولِ شَهرِ رَمَضانَ … فَإِذا كانت لَيلَةُ الفِطرِ سُمِّيَت لَيلَةَ الجائِزَةِ، فَإِذا كانت غَداةُ الفِطرِ بَعَثَ اللَّهُ تَبارَكَ وتَعالَى المَلائِكَةَ فِي كُلِّ مَلإٍ، فَيَهبِطُونَ إِلَى الأَرضِ، فَيَقُومُونَ عَلَى أَفواهِ السِّكَكِ، فَيُنادُونَ بِصَوتٍ يَسمَعُهُ جَمِيعُ مَن خَلَقَ اللَّهُ إِلاَّ الجِنَّ والإِنسَ، فَيَقُولُونَ: يا أُمَّةَ مُحَمد، اخرُجُوا إِلَى رَبٍّ كَرِيمٍ يَغفِرِ العَظِيمَ، وإِذا بَرَزُوا فِي مُصَلاهُم يَقُولُ اللَّهُ تَعالَى: يا مَلائِكَتِي، ما أَجرُ الأَجِيرِ إِذا عَمِلَ عَمَلَهُ؟ فَتَقُولُ المَلائِكَةُ: إِلَهَنا وسَيِّدُنا، جَزاؤُهُ أَن يُوَفِّيَهُ أَجرَهُ، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وجَلَّ: أُشهِدُكُم يا مَلائِكَتِي أَنِّي قد جَعَلتُ ثَوابَهُم مِن صِيامِهِم شَهرَ رَمَضانَ وقِيامِهِم رِضائِي ومَغفِرَتِي، فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وجَلَّ: سَلُونِي، وعِزَّتِي وجَلالِي لا تَسأَلُونِي اليَومَ شَيئًا فِي جَمعِكُم هَذا لآخِرَتِكُم إِلاَّ أَعطَيتُكُمُوهُ، ولا لِدُنيا إِلاَّ نَظَرتُ لَكُم، وعِزَّتِي لا سَتَرتُ عَلَيكُم عَثَراتِكُم ما راقَبتُمُونِي، وعِزَّتِي وجَلالِي لا أُخزِيكُم، ولا أَفضَحُكُم بَينَ يَدَي أَصحابِ الجُدُودِ أَوِ الحُدُودِ، شَكَّ أَبُو عَمرٍو، وانصَرِفُوا مَغفُورًا لَكُم، قَد أَرضَيتُمُونِي ورَضِيتُ عَنكُم، قال: فَتَفرَحُ المَلائِكَةُ، ويَستَبشِرُونَ بِما يُعطِي اللَّهُ هَذِهِ الأُمَّةَ إِذا أَفطَرُوا».

[6] Kitab al-‘Ilal al-Mutanahiyat fil Ahaditsil Wahiyat, op.cit. Riw. ibn Abbas.

[7] Mu’jam al Kabir karya Ath-Thabrani, at-Targhib karya al-Ishbahani, Abu Nu’aim dalam Marifatush Shahabah

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَوْسٍ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيْهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ الْلَّهِ صَلَّىَ الْلَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (إِذَا كَانَ يَوْمُ الْفِطْرِ وَقَّفَتِ الْمَلَائِكَةُ عَلَىَ أَبْوَابِ الْطُّرُقِ، فَنَادَوْا: اغْدُوَا يَا مَعْشَرَ الْمُسْلِمِيْنَ إِلَىَ رَبٍّ كَرِيْمٍ يَمُنُّ بِالْخَيْرِ ، ثُمَّ يُثِيْبُ عَلَيْهِ الْأَجْرُ الْجَزِيلَ ، لَقَدْ أُمِرْتُمْ بِقِيَامِ الْلَّيْلِ فَقُمْتُمْ ، وَأُمِرْتُمْ بِصِيَامِ الْنَّهَارِ فَصُمْتُمْ ، وَأَطَعْتُمْ رَبَّكُمْ ، فَاقْبِضُوْا جَوَائِزَكُمْ ، فَإِذَا صَلَّوْا صَلَاةَ الْعِيْدِ ، نَادَى مُنَادٍ : أَلَا إِنَّ رَبَّكُمْ قَدْ غَفَرَ لَكُمْ، فَارْجِعُوَا رَاشِدِيْنَ إِلَىَ رِحَالِكُمْ، وَيُسَمَّى ذَلِكَ الْيَوْمُ فِيْ الْسَّمَاءِ يَوْمَ الْجَائِزَةِ)

“Dari Saed bin Aus Al-Anshari dari ayahnya r.a. Rasulullah Shallahu a’laihi wasallam bersabda, ‘Apabila tiba Idul fitri maka para malaikat berdiri (menyambut kaum muslimin) di setiap jalan seraya berseru, ‘Wahai kaum muslimin pergilah kalian di pagi hari (ini) kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, yang memberikan kebaikan dan memberi pahala atas segala amal baik, kalian telah diperintahkan untuk sholat di malam hari lalu kalian melaksanakannya, kalian telah diperintahkan untuk berpuasa di siang hari dan kalian melaksanakannya, kalian telah menaati Tuhan kalian maka terimalah balasan amal kalian’, dan apabila mereka telah selesai melaksanakan sholat id maka malaikat berseru, ‘Ketahuilah sesungguhnya Tuhanmu telah memberikan pengampunan kepadamu maka kembalilah ke tempat tinggalmu dengan petunjuk dan kebaikan’. ‘Sesungguhnya hari Id adalah (yaumul jaizah) hari pembalasan amal kebaikan dan di langit pun dinamai dengan nama ini’”