Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat Khalifatul Masih V ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Hadhrat  Mirza Masroor  Ahmad 

tanggal 23 Aman 1391 HS/Maret 2012

di Masjid Baitul Futuh, London-UK

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Hari ini adalah hari yang sangat menggembirakan dan sangat berberkat sekali bagi Jemaat Ahmadiyah yang pada hari ini ditambah dengan berkat-berkat Jum’at juga. Sebab, pada hari ini tepat 123 tahun telah sempurna sebuah nubuatan agung Alquranul Karim untuk kebangkitan Islam kedua kali. Demikian juga nubuatan Hadhrat Rasulullah saw yang telah beliau saw jelaskan secara rinci telah sempurna dan telah lahir (muncul, datang) Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud dan sejak permulaan baiat maka berdirilah Jemaat Akhirin yang mempertemukan dengan Awwalin (kaum terdahulu). Dan lagi, kita pun termasuk orang-orang yang beruntung telah masuk kedalam Jemaat ini dan menjadi penerima berkat-berkatnya.

Maka setiap Ahmadi yang menda’wakan diri telah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as harus ingat dengan sungguh-sungguh bahwa baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as telah memikulkan banyak sekali tanggung jawab diatas pundak kita. Kebangkitan Islam kedua kali yang dimulai oleh Hadhrat Masih Mau’ud as menghendaki inqilaab atau revolusi besar didalam diri para pengikut beliau as juga supaya kita menjadi pewaris dari pada berkat-berkat yang sangat erat sekali kaitannya dengan Hadhrat Masih Mau’ud as.

Maka setiap tahun apabila tiba tanggal 23 Maret maka semua orang-orang Ahmadi jangan gembira hanya dengan melaksanakan peringatan ‘Yaum Masih Mau’ud’ – “Hari Masih Mau’ud” pada hari ini. Atau, hanya mengucapkan, “Alhamdulillah kita sudah menggabungkan diri dengan Jemaat ini.”; atau berkata, “Kita telah mengenal da’wa Hadhrat Masih Mau’ud as pada posisi permulaan dalam tarikh Jemaat.” Tidak cukup hanya dengan pernyataan-pernyataan lisan seperti itu. Atau kita berbangga hati telah menyelenggarakan Jalsah. Tidak cukup dengan semua kebanggaan itu. Bahkan, ada yang lebih penting dari itu kita harus memeriksa diri kita, kita harus bertanya kepada diri kita, “Apa gerangan yang telah kita lakukan terhadap hak-kewajiban baiat itu?” Hari ini adalah hari untuk melakukan koreksi dan review (peninjauan kembali) terhadap diri kita masing-masing. Hari untuk memeriksa bagaimana penyempurnaan hak-hak baiat kita dan hari untuk merenungkan butir-butir syarat baiat juga. Hari untuk mengadakan penyegaran atau pembaharuan terhadap janji-janji kita juga. Hari bertekad  untuk berusaha mengamalkan sayarat-syarat baiat itu. Pada waktu sempurnanya janji-janji Tuhan ini kepada Hadhrat Rasulullah saw dimana merupakan hari untuk bertasbih dan tahmid kepada Tuhan, di sana ratusan ribu duruud (shalawat) dan salam juga harus kita persembahkan kepada ’habib Khuda’ – kekasih Tuhan (yaitu Nabi Muhammad) saw.

Jadi, kita harus senantiasa mengingat betapa pentingnya peristiwa ini dan pentingnya memperhatikan syarat-syarat baiat itu sangat erat kaitannya dengan beramal atas dasar itu. Itulah sebabnya untuk mengingatkan hal itu hari ini akan saya jelaskan syarat-syarat baiat dan akan saya sampaikan beberapa penjelasan dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud as, apa yang beliau as kehendaki dari kita dengan syarat-syarat baiat itu? Saya akan berikan sedikit penjelasannya.

Syarat pertama yang dikerjakan orang yang berbaiat, orang yang masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah berjanji untuk mengamalkannya yaitu, “Orang yang baiat berjanji dengan hati yang benar (tulus), di masa yang akan datang yaitu hingga masuk ke liang kubur senantiasa akan menjauhi syirik.” (akan tetap menyelamatkan diri dari syirik).”  [2]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Tauhid bukan hanya mulut mengatakan “لا إله إلا الله” ’laa ilaaha illallah’ sedangkan didalam hati terkumpul ribuan berhala, yaitu seseorang yang menganggap pekerjaannya, makarnya, penipuannya dan tadbirnya sangat penting dan agung yang seharusnya ia menganggap sangat agung hanya terhadap Tuhan. Atau ia bertumpu sepenuhnya kepada seseorang manusia yang seharusnya ia harus bertumpu hanya kepada Tuhan, atau menganggap dirinya begitu agung yang harusnya ia menganggap demikian kepada Tuhan. Dalam semua posisinya seperti itu disisi Tuhan ia adalah penyembah berhala atau patung. Patung bukan hanya yang terbuat dari mas, dari perak atau dari batu kemudian bertumpu kepada benda-benda itu melainkan setiap benda atau perkataan atau amal perbuatan, percakapan, atau barang sesuatu yang dianggap sangat penting atau dianggap sangat besar selain dari pada Allah Ta’ala, maka hal itu semua di pandangan Allah Ta’ala adalah berhala………….Ingatlah, tauhid hakiki yang pernyataannya dikehendaki Allah Ta’ala dari kita dan dengan pernyataan itu bergantung keselamatan kita ialah memahami bahwa Tuhan dalam Zat-Nya suci bersih dari setiap syarik (sekutu, teman) baik yang berupa patung, yang berupa manusia, berupa matahari, yang berupa bulan atau ego dirinya sendiri atau tadbir (usaha) atau makar (rencananya)dan juga tidak menganggap sesuatu lebih kuat dan kuasa dari Tuhan. Tidak menganggap seseorang sebagai Raziq [pemberi rizki]. Tidak juga menganggap seseorang sebagai pemberi kehormatan atau kehinaan melainkan hanya Allah Ta’ala yang memberi kehormatan dan kehinaan kepada seseorang”. (Yakni tidak menganggap seseorang sebagai pemberi kehormatan atau pemberi kehinaan  bahkan menganggap, bahwa Allah Ta’ala sajalah yang  memberikan kehormatan dan pemberi kehinaan) “Tidak menetapkan seorang penolong  dan seorang pendukung. Dan yang keduanya adalah kecintaannya khusus hanya ditujukan kepada-Nya, ibadahnya khusus kepada-Nya, merendahkan diri hanya di hadapan-Nya, harapan-harapannya hanya bertumpu kepada-Nya dan rasa takut timbul hanya kepada-Nya”. (Hanya dengan-Nya menjalin ikatan) “Ketakutannya hanya khusus kepada-Nya. Jadi, tauhid tidak dapat mencapai kesempurnaan tanpa memiliki tiga macam keistimewaan ini”. (Apakah tiga macam keistimewaan itu – bersabda) “Pertama; Tauhid dari segi Zat, menganggap seluruh wujud (keberadaan, eksistensi) selain wujud-Nya seperti tidak ada” (segala yang maujud di dunia ini tidak ada nilai apa-apa). Segala sesuatu itu haalikatudz dzaat (dzat yang binasa, hancur, habis) dan baathilatul haqiiqah (hakikatnya batil, tidak memiliki hakikat apa-apa).” (semua benda, setiap sesuatu yang menjadi rusak, hancur dan fana di dalam dirinya tidak memiliki nilai apa-apa, sesuatu yang akan berakhir, tidak memiliki hakikat apa-apa, semuanya dibandingkan dengan Allah Ta’ala adalah dusta.) “Kedua, Tauhid dari segi sifat-sifat, yakni tidak menyatakan bahwa Sifat Rabbubiyyat (Tuhan Pencipta Pemelihara) dan Sifat Uluhiyyat (Tuhan Yang Patut Disembah) kepada siapa pun atau sesuatu pun selain Tuhan”. (Dengan kata lain, Rabb adalah hanya Tuhan kita. Dialah yang memelihara kita. Dialah yang mempunyai semua kekuatan dan Dialah sumber segala kekuatan). Bersabda “Dan mereka yang secara zahirnya nampak sebagai rabbul anwaa’ atau pemberi berkat”. (mereka yang nampak sebagai pemelihara berbagai jenis sesuatu atau yang dari mereka kita memperoleh manfaat.) “Kita meyakini ini sebagai satu nizam-Nya (Tuhan)”. (kepada semua orang itu yang dari mereka kita tengah  mendapatkan faedah di dunia, hal itu didapatkan adalah disebabkan salah satu bagian dari nizam Allah Ta’ala.) “Ketiga, Dari segi mahabbat (kecintaan), shidq (ketulusan, keikhlasan) dan shafaa (kemurnian, kesucian) yakni tidak mempersekutukan (menduakan) Tuhan dengan sesuatu dalam segi mencintai dan dalam berbagai segi ubudiyyat (pengabdian dan beribadah). Harus betul-betul terbenam dalam mencintai Tuhan. (Yakni beribadah hanya  ditujukan kepada-Nya  semata.” [3]

Syarat Baiat kedua adalah: “Senantiasa akan menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan buruk, setiap perbuatan fasik, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan kerusuhan (huru-hara) dan memberontak serta tidak akan ditundukkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.” [4]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Jadi, hakikat yang sebenarnya ialah, selama manusia belum terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi yang menjadi hambatan untuk berkata jujur, selama itu ia secara hakiki tidak dapat dikatakan sebagai orang yang lurus hati. Sebab, jika seseorang berkata jujur hanya mengenai hal-hal yang tidak seberapa merugikan dirinya sedangkan ia berkata dusta dan bungkam dari berkata jujur pada saat kehormatan atau harta atau jiwanya ter­ancam kerugian, maka apalah kelebihannya dibandingkan dengan orang‑orang gila dan anak-anak. Tidakkah orang gila dan anak-anak pun suka lurus hati seperti itu?”

Bersabda, “Tidak ada seorang pun di dunia ini yang begitu saja ber­dusta tanpa sebab. Jadi, kejujuran yang ditinggalkan pada saat terancam suatu kerugian, sama sekali tidak tergolong dalam akhlak sejati. Keadaan dan kesempatan yang sangat tepat untuk lurus hati ialah pada saat jiwa atau harta atau kehormatannya terancam bahaya. Berkenaan dengan itu ajaran Allah adalah sebagai berikut:

[فاجتنبوا الرّجس من الأوثان واجتنبوا قول الزور] (22 : 31)

[ ولا يأب الشّهداء إذا ما دُعُوا] (2 :283)

[ولا تكتموا الشهادة ومن يكتمها فإنه آثم قلبه] (2 : 284)

[وإذا قلتم فاعدلوا ولو كان ذا قربى] (6 : 153)

[كونوا قوامين بالقسط شهداء لله ولو على أنفسكم أو الوالدين والأقربين] (4 : 136)

[ولا يجرمنّكم شنآن قوم على ألا تعدلوا] (5 : 9)

[والصادقين والصادقات] (33:36)

[وتواصوا بالحقّ وتواصوا بالصّبر] (103 : 4)

[لا يشهدون الزور] (25 : 73)

Dalam menterjemahkan ayat-ayat tersebut Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Hindarilah perbuatan menyembah berhala‑berhala dan berkata dusta (Al-Hajj, 22:31). Yakni, dusta pun merupakan sebuah berhala; orang yang bertumpu padanya berarti telah melepaskan tumpuan terhadap Allah. Jadi, dengan berkata dusta, Tuhan pun terlepas dari tangan.”

Dan kemudian difirmankan, apa-bila engkau di­panggil untuk memberi kesaksian yang benar, maka janganlah engkau menolak untuk pergi (Al-Baqarah, 2:283). Dan janganlah engkau sembunyikan kesaksian benar dan barangsiapa menyembunyikannya berdosalah hatinya (Al-Baqarah, 2:284). Dan apabila engkau berkata, maka ucapkanlah sama sekali kata‑kata jujur serta adil, sekalipun kesaksian yang engkau berikan itu untuk salah seorang kerabatmu (Al-An’am, 6:153). Berdirilah engkau di atas kebenaran serta keadilan, dan hendaknya tiap-tiap kesaksianmu itu adalah karena Allah, jangan engkau berkata dusta walaupun dengan berkata jujur itu jiwamu akan mendapat kerugian, atau dengan itu ibu-bapakmu serta kerabat-kerabatmu — seperti anak dan sebagainya — akan mendapat kemudaratan (An-Nisa, 4:136). Dan hendaknya permusuhan terhadap suatu kaum tidak menghalangi engkau untuk memberi kesaksian yang jujur (Al-Maaidah, 5:9). Laki‑laki yang lurus hati dan wanita‑wanita yang lurus hati akan mendapat pahala-pahala besar (Al-Ahzaab, 33:36). Kebiasaan mereka adalah menasihati orang lain agar lurus hati (Al-‘Ashr, 103:4). Mereka tidak ikut di dalam majelis-majelis para pendusta (Al-Furqaan, 25: 73).” [5]

Selanjutnya mengenai hal ini beliau lebih lanjut menjelaskan. Didalam syarat yang kedua termasuk juga semua perkara yang lain.  Beliau as bersabda, ”Janganlah mendekati zina yakni jauhilah acara-acara (pertemuan, perayaan) yang dapat menimbulkan pikiran kearah itu didalam hati. Dan janganlah mencari-cari kesempatan yang akan membawa kearah jalan yang membahayakan itu. Orang yang berbuat zina ia telah melakukan keburukan sampai ke puncaknya.” (Pada zaman sekarang banyak program-program TV yang disalurkan melalui internet. Semua program itu membawa kepada keburukan. Ini juga adalah satu perbuatan zina mata (penglihatan). Harus menghindarkan diri dari pandangan kearah itu. Pendeknya setiap benda seperti ini yang membawa kearah keburukan, beliau as bersabda, “Jagalah diri dari hal itu semua..”)

Beliau as bersabda, ”Perbuatan zina adalah jalan yang sangat buruk, ia menghalangi jalan menuju tujuan akhir dan ia sangat berbahaya dan menghalangi untuk mencapai tujuan akhir.” [6] (Sesungguhnya apa yang harus menjadi maksud dan tujuan akhir kalian? Tiada lain yaitu keridhaan Allah Ta’ala. Itulah tujuan akhir kalian. Dan perbuatan zina itu sangat menghalangi jalan untuk mencapai tujuan akhir itu.) Di syarat kedua itu terdapat ‘bad nazhari’ (pandangan buruk/birahi, pikiran kotor), tentang itu beliau as bersabda, “Dalam Alqur’anul Karim yang menerangkan tentang tuntutan fitrat manusia dan mengingat kepada kelemahannya Alqur’an telah memberi ajaran yang sangat indah sesuai dengan keadaannya. Tuhan berfirman, قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ  “Katakanlah kepada orang-orang beriman bahwa tundukkanlah selalu pandangan kalian dan jagalah farji kalian.” (An Nur, 24 : 31) Inilah amal saleh yang akan menjadi sarana tazkiyah (penyucian) bagi nufus (jiwa-jiwa) mereka. Furuj (jamak dari farj) maknanya bukan hanya aurat atau bagian terhormat (kemaluan) dari badan manusia saja melainkan setiap bagian yang menjadi jalan keluar masuk sesuatu (lubang) seperti telinga dan sebangsanya. Didalamnya terdapat perkara yang mereka dilarang melakukannya yaitu mendengar nyanyian suara dan lain-lain dari perempuan bukan muhrim. Dan ingatlah bahwa melalui beribu-ribu kali pengalaman telah terbukti bahwa perkara apapun yang dilarang oleh Allah Ta’ala akhirnya manusia terpaksa harus menghentikannya. ”  [7]

Selanjutnya beliau as bersabda, ’’Allah Ta’ala telah menegaskan perintah yang sama terhadap lelaki maupun perempuan. Sebagaimana perempuan diharuskan memakai pardah untuk menutup muka mereka, demikian juga lelaki harus ‘ghadhdhu bashar’ (menundukkan pandangan mata di waktu berjumpa dengan perempuan bukan muhrim). Shalat, puasa, zakat, hajji, perbedaan antara halal dan haram, menghindari perbuatan, adat, kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah Ta’ala, dan lain-lain; semua larangan itu membuat pintu Islam sempit sekali. Itulah sebabnya tidak setiap orang dapat masuk pintu itu.” [8]

Beliau as bersabda untuk menghindari kefasikan dan kedurhakaan, “Apabila kefasikan dan kedurhakaan telah melampaui batas (pada orang-orang Muslim atau orang-orang yang beragama lainnya) dan mereka sudah tidak menghormati perintah Allah Ta’ala dan pada mereka telah  membenci pada tanda-tanda kebesaran Allah Ta’ala dan mereka telah  tenggelam dalam kemabukan akan keindahan dunia maka Allah Ta’ala telah menghancurkan mereka juga (beliau mengingatkan kepada orang-orang Muslim) dengan perantaraan tangan Hulako, Jenghis Khan dan lainnya. Ditulis  pada waktu itu datang suara dari langit “أيّها الكُفّار، اقتلوا الفُجّار”. ‘ayyuhal kuffaar  uqtulul fujjaar’ (yakni wahai orang-orang kafir, perangilah orang-orang ’fujjar’ – durhaka) pendek kata dalam pandangan Tuhan orang durhaka itu lebih hina dari pada orang kafir)”. [9]

Kemudian beliau as bersabda mengenai menghindari fasad (kerusakan),

“Hendaknya engkau [berlaku demikian], yaitu mereka yang meninggalkan engkau terpisah dari engkau dikarenakan hanya engkau  telah memilih masuk  kedalam silsilah (Jemaat) yang telah didirikan oleh Allah Ta’ala. Janganlah berbuat jahat (menganggu) pada mereka dan bertengkar dengan mereka bahkan doakanlah mereka secara sembunyi-sembunyi supaya Allah Ta’ala menganugerahkan kepada mereka penglihatan rohani dan makrifat yang Dia, dengan karunia-Nya telah menganugerahkannya kepada engkau. Setelah engkau  membuktikan dengan contoh  kesucian dan akhlak yang luhur yaitu engkau berada pada jalan yang baik. Lihatlah, aku telah diutus untuk  pekerjaan ini yakni aku berkali-kali memberikan petunjuk kepada engkau yaitu teruslah menghindar dari setiap tempat beraneka macam kejahatan dan kerusuhan  dan bersabarlah mendengar caci-maki. Jawablah keburukan dengan kebaikan dan bersabar saat diperlakukan jahat adalah lebih baik.  Menghindarlah engkau dari tempat demikian dan berikanlah jawaban dengan lemah lembut……..

Ketika saya mendengar si Fulan, seorang dari Jemaat ini  berkelahi, aku sama sekali tidak menyukai dan Allah Ta’ala sendiri tidak ingin bahwa Jemaat ini yang telah ditetapkan didunia sebagai contoh ia telah mengusahakan jalan seperti ini  yang bukannya jalan ketakwaan. Bahkan aku  mengatakan kepada engkau bahwa Allah Ta’ala akan terus menolong Jemaat ini.       Kalau ada seseorang berada dalam Jemaat ini kemudian ia tidak dapat bekerja dengan kesabaran dan keteguhan  maka hendaknya  mereka ingat bahwa ia tidak masuk dalam Jemaat. Hal ini dapat disebabkan karena terlalu semangat dan sangat marah. (mengenai diri pribadinya sendiri beliau as bersabda bahwa aku dicaci maki) yaitu aku dicaci maki dengan kotor maka dalam menghadapi hal ini semua urusan aku serahkan pada Allah Ta’ala. Engkau tidak dapat memutuskan urusan ini. Urusanku ini  aku serahkan pada Allah Ta’ala. Hendaknya engkau juga setelah mendengar caci makian bekerja dengan bersabar dan bertahan dalam keteguhan. [10]

(Hal inilah yang berkali-kali saya katakan bagi orang-orang Ahmadi di Pakistan  dalam menghadapi penentang, disana  sekarang  orang-orang memberi bentuk caci makian salah yang telah sampai pada  puncaknya yang ditujukan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as dan untuk membersihkan keadaannya hanyalah dengan doa-doa dan terus-menerus banyak berdoa).

Kemudian untuk menundukan hawa nafsu beliau as bersabda,

“Yakinilah akan hal itu yang akal dan hati memberikan kesaksian dan sesuai dengan kitab-kitab Tuhan” Bersabda, “Janganlah berzina, janganlah berdusta, jangan memandang dengan pandangan birahi, hindarilah segala macam perbuatan fasik, aniaya, khianat, kekacauan dan huru hara. Janganlah ditaklukkan oleh hawa nafsu, dirikanlah shalat 5 waktu karena datangnya revolusi pada fitrat manusia ada pada yang lima waktu ini.  Haturkanlah rasa syukur (terima kasih, penghargaan) pada  Nabi Karim [Muhammad] saw kita; kirimkanlah shalawat untuknya; sebab, beliaulah yang mengajarkan kepada kita untuk sampai pada jalan baru berjumpa dengan Allah Ta’ala setelah melewati zaman kegelapan.[11]

Syarat Baiat ketiga: ”Senantiasa akan mendirikan shalat lima waktu dengan tidak ada kecualinya sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dan dengan sekuat tenaganya berikhtiar senantiasa akan menunaikan shalat tahajjud dan membaca shalawat terhadap Nabi junjungannya Yang Mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setiap hari akan berusaha secara tetap memohon ampun dari segala dosanya dan terus dawam beristighfar dan dengan kecintaan hati yang sesungguhnya akan membiasakan diri mengingat kemurahan-kemurahan Allah Ta’ala dan senantiasa mengucapkan pujian dan sanjungan kepada-Nya.” [12]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Wahai sekalian manusia yang telah menganggap diri kalian sebagai anggota Jemaatku! Di langit nama kalian baru akan dicatat sebagai anggota Jemaatku apabila dengan sesungguhnya kalian melangkah diatas jalan takwa. Maka tunaikanlah kewajiban shalat lima waktu dengan penuh rasa takut dan penuh konsentrasi seakan-akan kalian tengah meyaksikan Allah Ta’ala. Sempurnakanlah puasa-puasa kalian dengan niat yang benar demi Allah Ta’ala. Setiap orang yang telah memenuhi syarat untuk membayar zakat bayarlah zakat itu. Dan barangsiapa yang sudah wajib menunaikan ibadah hajji tanpa ada suatu halangan pada dirinya maka tunaikanlah ibadah hajji itu. Lakukanlah semua amal kebaikan dengan cermat dan penuh perhatian. Cegahlah setiap keburukan dan singkirkanlah ia dari dalam hati kalian. Ingatlah sebaik-baiknya, tidak ada suatu amal yang hampa dari takwa dapat sampai kepada Allah Ta’ala. Akar setiap kebaikan adalah takwa. Amal yang tidak luput dari akar itu maka amal itu pun tidak akan sia-sia.” [13]

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Shalat mempunyai kekuatan demikian ampuhnya sehingga langit pun tunduk kepada manusia. (Maksudnya jika  shalat  dilaksanakan dengan sebaik-baiknya maka Allah Ta’ala menjadi sangat dekat terhadap hamba-Nya.) Orang yang menunaikan hak-hak shalat merasakan, ‘Aku sudah fana’ dan ruhnya meleleh jatuh di hadapan singgasana Tuhan … Jika di dalam rumah terdapat orang yang menunaikan shalat semacam itu maka rumah itu tidak akan mengalami kehancuran. Dikatakan dalam sebuah Hadis bahwa jika di zaman Nabi Nuh sudah ada ibadah shalat seperti ini maka kaum itu tidak akan mengalami kebinasaan. Ibadah haji juga ada syarat-syaratnya bagi manusia. Puasa juga mempunyai syarat-syaratnya. Zakat juga mempunyai syarat-syaratnya. Akan tetapi shalat tidak mempunyai syarat apapun. Semua kewajiban itu dalam setahun hanya satu kali dilaksanakan, namun perintah shalat setiap hari lima kali harus dilaksanakan. Oleh karena, itu apabila shalat tidak dilaksanakan sepenuhnya sesuai dengan ketentuannya maka berkat-berkatnya tidak akan dapat diraih dan baiatnya pun tidak akan membawa hasil apa-apa jika kewajiban itu semua tidak dilaksanakan.” [14]

Sejanjutnya mengenai Tahajjud Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Bangunlah tengah malam dan panjatkanlah doa agar Allah Ta’ala menunjukkan jalan-Nya kepada kalian. Para Sahabat Hadhrat saw juga memperoleh tarbiyyat secara perlahan-lahan, setahap demi setahap. Sebelumnya mereka itu apa? Mereka itu seumpama benih (biji) yang ditanam oleh seorang petani. Kemudian Hadhrat Rasulullah saw mengairinya kemudian beliau saw banyak memanjatkan doa untuk mereka itu. Biji-biji itu sangat baik seumpama benih unggul dan tanahnyapun sangat mulus lagi subur dan Hadhrat Rasulullah saw menyiraminya dengan air rohani segar baru turun dari langit dan beliau saw pun banyak memanjatkan doa-doa bagi mereka. Bagaimana Hadhrat Rasulullah saw berjalan seperti itu juga mereka berjalan, mereka tidak menunggu siang atau malam. Bertaubatlah kalian dengan hati yang tulus, bangunlah tengah malam untuk tahajjud, banyak-banyaklah berdoa, luruskanlah hati kalian, jauhkanlah kelemahan-kelemahan pribadi kalian dan jadikanlah perkataan dan perbuatan kalian sesuai dengan keridhaan Tuhan.” [15]

Kemudian mengenai duruud (shalawat), Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Sesungguhnya manusia itu pada dasarnya adalah bandah (hamba, budak) atau ghulam (pelayan). Kewajiban seorang ghulam adalah apabila majikan memerintahkan sesuatu untuk dikerjakan maka ghulam pun harus siap menyambut perintah itu kemudian melaksanakannya. Demikian juga jika kalian ingin memperoleh berkat-berkat dari Nabi Suci Muhammad saw maka haruslah kalian menjadi ghulam sejati beliau. Dalam Alqur’anul Karim Allah Ta’ala berfirman, قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنفُسِهِمْ “Katakanlah, Hai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, Janganlah engkau berputus asa akan Rahmat Allah.” (Az Zumar : 54). Dalam ayat ini yang dimaksud dengan ‘abd’ (hamba) adalah ghulam bukan makhluk. Untuk menjadi hamba Rasulullah saw perlu sekali membaca duruud (shalawat) dan mengirim selawat sebanyak-banyaknya kepada Hadhrat Rasulullah saw dan jangan membantah atau menentang perintah-perintah beliau. Apapun yang beliau perintahkan kita harus siap melaksanakannya.” [16]

Mengenai istighfar beliau as bersabda,

”Apabila ingin memohon kekuatan kepada Allah Ta’ala bacalah istighfar sebanyak mungkin maka kelemahannya itu akan dapat dijauhkan melalui dukungan dan pertolongan Ruhul Qudus dan dia akan selamat dari perbuatan dosa seperti para Nabi dan para Rasul Allah selamat. Jika ada orang yang sudah terlanjur berbuat dosa kemudian ia membaca istighfar maka faedahnya adalah dia diselamatkan dari azab akibat buruk perbuatan dosanya itu”. (Dalam kata lain jika manusia terlanjur sudah berbuat dosa maka ia dapat diselamatkan dari azab sebagai akibat buruk dari dosanya itu melalui istighfar. Dia akan terhindar dari azab Allah Ta’ala.) “Sebab dengan datangnya nur maka kegelapan akan sirna, tidak akan tersisa. Orang-orang yang berbuat kejahatan atau dosa kemudian tidak membaca istighfar yakni tidak memohon ampun kepada Allah Ta’ala maka mereka akan menderita hukuman sebagai akibat perbuatan dosa mereka itu.” [17]

Syarat Baiat keempat: Tidak akan mendatangkan kesusahan apapun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah seumumnya dan kaum Muslimin khususnya, karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apapun juga.” [18]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Khulq pertama (akhlaq pertama) adalah ‘afw’ yakni memaafkan. Maksudnya adalah memaafkan kesalahan atau dosa seseorang. Misalnya: Seorang yang berdosa ia telah menyakiti seseorang, sehingga ia juga patut dibalas dan disakiti atau dihukum, dipenjarakan, didenda atau langsung dipukul dengan tangan. Maka ia dapat dimaafkan jika memang patut dimaafkan, maka dalam hal itu dia bernasib baik atau beruntung. Dalam hal ini Alqur’an telah mengajarkan وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ

 “Dan yang menahan marah dan yang memaafkan manusia.” (Ali Imran:135 )  وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ

“Ingatlah, bahwa pembalasan terhadap suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal dengan itu, tetapi barangsiapa yang memaafkan dan karena itu mendatangkan perbaikan, maka ganjarannya ada pada Allah.” (Asy Syura:41) Yakni orang yang baik adalah yang menahan kemarahannya dan memaafkan orang yang berbuat kesalahan terhadapnya. Pembalasan keburukan dikenakan kepada orang sesuai dengan keburukan yang ia lakukan. Akan tetapi orang yang memaafkan dosa orang lain dan dengan dimaafkannya ia menjadi baik dan tidak menimbulkan suatu keburukan, yakni sesuai dengan ‘afw’ dan bahkan membawa faedah dari perbuatan ‘‘afw’ nya itu maka ia akan memperoleh ganjaran dari Allah Ta’ala.[19]

Selanjutnya Beliau as bersabda:

”Hendaknya manusia jangan ‘syukh’ nakal,  jangan berbuat sesuatu yang memalukan. Jangan berlaku buruk terhadap sesama makhluq, tampillah di hadapan manusia dengan perangai yang baik dan cinta-kasih, jangan berlaku dengki terhadap orang lain demi kepentingan-kepentingan pribadi, bersikaplah keras atau lemah lembut sesuai dengan situasi dan kondisinya.” [20]

Kemudian mengenai ‘aajizi’ (merendahkan diri), beliau as bersabda: ”Bertaubatlah sebelum azab Ilahi tiba dan pintu taubat ditutup. Jika merasa begitu takutnya dengan undang-undang dunia mengapa manusia tidak takut kepada undang-undang Allah Ta’ala? Apabila bala-musibah sudah sampai diatas kepala maka terpaksa akan merasainya. Hendaknya setiap orang berusaha untuk menunaikan shalat tahajjud. Dan bacalah juga doa qunut didalam shalat lima waktu setiap hari. Setiap orang bertaubatlah dari setiap perkara yang dapat menimbulkan kemarahan Tuhan. Taubat artinya manusia meningggalkan keburukan-keburukan dan meninggalkan perkara-perkara yang membuat Allah Ta’ala marah kemudian menimbulkan perubahan yang sesungguhnya dalam diri pribadi dan maju terus kehadapan didalam kebaikan.  Dan berusahalah menjadi orang bertakwa, sebab dengan takwa itu terbit kasih sayang Allah Ta’ala. Luruskanlah adat kebiasaan insani. (yakni berusahalah merubah adat kebiasaan insani itu menjadi akhlak yang baik.) “Tinggalkan kemarahan, gantilah ia dengan merendahkan diri dan sifat lemah lembut”. Sambil meluruskan akhlaq berusahalah memberi sedeqah sesuai dengan kemampuan. Sebagaimana firman Tuhan

 وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا “Dan mereka memberi makan karena cinta kepada-Nya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan.” (Ad Dahr, 76: 9)  Dan mereka berkata: Demi meraih keridahaan Allah Ta’ala kami memberi makan kepada mereka itu. Dan kami sangat takut kepada Hari yang sangat menakutkan. Sedikit bicara namun perbanyaklah berdoa sambil menjalankan kewajiban. Dan sering-seringlah memberi sadqah kepada faqir miskin agar supaya Allah Ta’ala berurusan dengan kalian dengan penuh kasih sayang.”[21]

Syarat Baiat kelima: Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala dalam segala keadaan susah ataupun senang, duka atau suka, nikmat atau musibah, pendeknya akan ridha atas putusan Allah Ta’ala dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah Ta’ala. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa oleh suatu musibah bahkan akan terus melangkah maju ke muka.” [22] (Dalam hubungannya dengan Allah)

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, ”Dari antara manusia yang mempunyai derajat sangat luhur adalah dia yang terbenam dalam kecintaan terhadap Allah Ta’ala. Dia menjual dirinya kepada Allah Ta’ala demi mengambil keridhaan Allah Ta’ala. (Yakni dia menjual dirinya kemudian membeli keridhaan Allah Ta’ala. Dia tidak mempedulikan dirinya.) Itulah orang yang menerima rahmat dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala dalam ayat ini berfirman (Walaupun tidak diterangkan mengenai ayat akan tetapi singkatnya beliau as menjelaskan mengenai ayat itu) bahwa orang yang telah menjual jiwa-raganya di jalan-Ku itulah orang yang terlepas (selamat) dari semua penderitaan (duka-cita) dan dengan menyerahkan jiwa-raganya kepada Tuhan, ia telah membuktikan bahwa dia adalah manusia kepunyaan Tuhan. Dan ia menganggap seluruh wujudnya sebagai makhluk yang telah diciptakan demi ketaatan kepada Sang Pencipta dan demi berkhidmat kepada makhluk-Nya”. [23]

Selanjutnya untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala beliau bersabda, ”Hamba kecintaan Tuhan menyerahkan jiwanya di jalan Allah Ta’ala dan sebagai imbalannya dia membeli keridhaan Allah Ta’ala. Itulah orang yang menjadi pewaris rahmat Allah Ta’ala yang khusus.” [24]

Selanjutnya sehubungan dengan ketha’atan terhadap Allah Ta’ala beliau as bersabda, ”Itulah keadaan setiap orang mukmin. Jika ia dengan ikhlas dan dengan penuh setia menjadi milik-Nya, maka ia menjadi wali Allah Ta’ala. Akan tetapi jika bangunan imannya lapuk maka tentu ia dalam keadaan sangat berbahaya. Kita tidak tahu rahasia hati seseorang,……… akan tetapi jika ia murni menjadi milik Tuhan maka Tuhan melindunginya secara khusus. Sekalipun Dia adalah Tuhan bagi setiap orang, akan tetapi orang yang membuat dirinya khusus menjadi milik Tuhan maka manifestasi Tuhan nampak pada dirinya. Untuk menjadi milik Tuhan ia harus menghancurluluhkan nafs (ego)nya jangan ada sisa yang tertinggal. Oleh sebab itu saya telah berulang kali berkata bahwa janganlah kalian merasa bangga atas baiat kalian jika hati tidak suci-bersih. (yakni apabila baiat hanya dengan meletakkan tangan dibawah tanganku apa faedahnya.) Akan tetapi orang-orang yang pernyataan baiatnya dengan hati yang sungguh-sungguh maka banyak dosa mereka yang besar-besar pun telah dimaafkan Tuhan dan mereka mendapat kehidupan baru.” [25]

Syarat Baiat keenam: ”Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu dan betul-betul akan menjunjung tinggi perintah Alqur’an Suci diatas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.”[26]

Dalam topik ini pertama saya akan mengetengahkan sebuah Hadis. Diriwayatkan oleh Hadhrat Amr Bin Auf ra, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang menghidupkan satu sunnah dari sunnah-sunnahku sehingga orang-orang lain mulai ikut mengamalkannya, maka dia akan menerima ganjaran sama seperti orang-orang yang ikut mengamalkan sunnah itu menerima ganjaran tidak akan dikurangi sedikitpun. Barangsiapa yang memperkenalkan suatu bid’ah sehingga orang-orangpun mulai mengamalkan bid’ah itu maka dosa orang-orang yang mengamalkan bid’ah itu diapun akan menerima hukumannya seperti hukuman terhadap orang-orang yang mengamalkan bid’ah itu, sedikitpun tidak akan dikurangi.”[27]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda lagi, “Perhatikanlah! Dalam Alqur’an asy Syarif Allah Ta’ala berfirman, قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ ‘Katakanlah (hai Muhammad): Jika engkau mencintai Allah maka ikutilah aku, kemudian Allah akan mencintaimu.’ (Ali Imran ayat 32) Untuk menjadi orang yang dicintai Allah hanya ada satu jalan yaitu mengikuti Rasulullah saw. Tidak ada jalan lain yang dapat mempertemukan kalian dengan Allah Ta’ala. Pendirian manusia harus satu yakni mencari Tuhan Yang Tunggal tidak ada sekutu bagi-Nya. Harus menjauhkan diri dari syirik dan bid’ah. Jangan menjadi orang yang mengikuti adat kebiasaan dan patuh taat kepada hawa nafsu. Ingatlah, saya berkata sekali lagi bahwa manusia tidak dapat memperoleh sukses dalam kehidupannya melalui jalan lain selain mengikuti jalan benar yang diajarkan oleh Hadhrat Rasulullah saw. Kita hanya memiliki seorang Rasul kita dan hanya satu Alqur’anul Karim yang turun kepada Rasul ini dan dengan mengikutinya kita dapat sampai kepada Tuhan. Pada zaman sekarang cara-cara bid’ah yang dilakukan oleh para Sufi berupa wirid, tasbih serta doa-doa yang diajarkan oleh para pemimpin orang-orang sufi semuanya adalah alat-alat atau sarana-sarana untuk membuat manusia sesat dan menyimpang dari jalan yang lurus. Maka jauhilah perbuatan demikian oleh kalian. Mereka ingin menghapuskan kedudukan Rasulullah saw sebagai Khatamul Anbiya. Seolah-olah mereka telah membuat syariat lain yang baru. Kalian ingatlah baik-baik, bahwa menaati ajaran Alqur’an Syarif dan menaati sabda Rasulullah saw serta mengikuti cara-cara shalat, puasa dan sebagainya yang telah ditetapkan adalah kunci untuk membuka pintu rahmat-rahmat dan karunia Allah Ta’ala, tidak ada kunci lain selain dari pada itu. Sesatlah orang  yang mengikuti jalan lain selain jalan yang telah ditetapkan itu. Orang yang tidak mengikuti dan mematuhi jalan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya saw dan hanya mengikuti jalan-jalannya sendiri akan berakhir dengan kegagalan.” [28]

Syarat Baiat ketujuh: ”Betul-betul akan meninggalkan takabbur dan bangga diri, akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan santun.” [29]

Mengenai takabbur Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Aku berkata dengan sesungguhnya bahwa pada hari kiamat setelah syirik tidak ada dosa lain yang paling besar selain takabbur. Hal itu sebuah dosa yang membuat manusia jatuh kedalam jurang lumpur kehinaan baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Rahmat dan kasih sayang Tuhan menyelimuti setiap muwahhid (orang berpegang teguh pada tauhid) akan tetapi orang yang takabbur tidak dihiraukan Tuhan.” (Yakni orang yang menganggap Tuhan Esa atau Tunggal dengan sepenuh hati dia ditolong oleh-Nya dan dimaafkan dosa-dosanya. Akan tetapi Allah Ta’ala tidak memaafkan orang-orang takabbur.) Selanjutnya beliau as bersabda, ”Setan juga mengaku beriman kepada Tuhan Yang Tunggal. Akan tetapi sifat takabbur memadati rongga didalam kepalanya, ketika ia memandang hina terhadap Adam as yang menjadi kekasih Tuhan dan melemparkan tuduhan-tuduhan palsu kepada beliau akhirnya ia mati dan di lehernya dibelenggu dengan laknat dan kehinaan dari Allah Ta’ala. Jadi, dosa pertama yang telah membuat manusia binasa untuk selama-lamanya tiada lain adalah takabbur.” [30]

Beliau as bersabda, ”Jika dalam diri kalian terdapat sifat takabbur, atau riya, atau membanggakan diri, maka kalian tidak patut diterima di sisi Tuhan. Jangan kalian terpedaya oleh angan-angan sendiri bahwa dengan memperoleh sesuatu sedikit saja kalian menganggap telah berjaya dan apa yang harus dikerjakan dengan bangga menganggap telah selesai kalian kerjakan”.  (Atau kalian menganggap sudah cukup hanya dengan baiat secara lisan saja.) “Sebab, Allah Ta’ala menghendaki agar setelah baiat timbul perubahan sepenuhnya dalam diri kalian dan untuk itu kalian dituntut kematian yang kemudian Dia akan membuat kalian hidup.” [31]

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai orang-orang miskin, “Jika kalian ingin mencari Tuhan maka carilah Dia disekitar hati yang lemah lembut dan merendahkan diri. Itulah sebabnya perangai para Anbiya selalu bersifat lemah-lembut dan merendahkan diri. Demikianlah pula hendaknya bangsa-bangsa yang besar jangan menertawakan dan menganggap rendah atau hina terhadap bangsa-bangsa yang kecil dan lemah. Dan juga jangan ada orang yang berkata, ‘Keluarga (bangsa) saya sangat besar!’ Allah Ta’ala berfirman, ‘Apabila kalian akan menghadap kepada-Ku tidak akan Aku tanya apa nama bangsa kalian? Tiada lain yang akan Kutanya yaitu apa amal saleh kalian?’ Demikian juga Rasul Allah Ta’ala saw telah bersabda kepada putri beliau saw, ‘Hai Fatimah! Allah Ta’ala tidak akan menanyakan hal-hal pribadi (asal-muasal keturunan atau marga). Jika engkau berbuat keburukan maka Allah Ta’ala tidak akan memaafkan hanya karena engkau putri seorang Rasul. Maka setiap waktu engkau harus melakukan pekerjakan dengan hati-hati sekali.’”[32]

Syarat Baiat kedelapan: ”Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih dari jiwanya, harta-bendanya, anak-anaknya dan dari segala  yang dicintainya.” [33]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Kebangkitan Islam menuntut fidyah (pengorbanan) dari kita. Apakah itu? Yaitu kita mati di jalannya. Kematian itulah yang menjadi asas kehidupan Islam, kehidupan orang-orang Muslim dan manifestasi Tuhan Yang Hidup. Itulah yang disebut Islam dan Islam inilah yang sekarang Allah Ta’ala ingin menghidupkannya kembali. Untuk menyempurnakan karya sangat agung ini sebuah perencanaan agung yang akan mencakup semua aspek harus dibina atas inisiatif-Nya sendiri. Maka Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana telah melakukannya dengan mengutus hamba yang lemah ini demi mengadakan reformasi terhadap umat manusia.” [34]

Ringkasnya, maksud beliau as melakukan perbaikan bagi dunia dan kita yang menerima beliau as penting hendaknya menyimak kata-kata  ini.

Syarat kesembilan: ”Akan selamanya  menaruh belas kasihan terhadap makhluk Allah umumnya dan sedapat mungkin akan mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan ni’mat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.” [35]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ingatlah bahwa Allah Ta’ala sangat menyukai amal saleh dan Dia menghendaki untuk berlaku simpati terhadap makhluk-Nya. Jika Dia menyukai keburukan Dia mendukung kita untuk berbuat keburukan, akan tetapi Keagungan Allah Ta’ala suci-bersih dari hal itu. (Subhaanahu Ta’aala Syaanah, Maha Suci Allah dan Maha Agung) …Oleh sebab itu kalian yang telah menggabungkan diri denganku, ingatlah bahwa kalian harus berlaku simpati terhadap setiap orang dari penganut agama manapun juga. Dan berlakulah baik terhadap setiap orang tanpa pilih-kasih sebab itulah ajaran Alqur’an, وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا “Dan mereka memberi makan karena cinta kepada-Nya kepada orang miskin, anak yatim dan tawanan.” (Ad Dahr ayat 76: 9) Tawanan perang yang ada pada waktu itu sebagian besar adalah orang-orang kuffar. Sekarang lihatlah,  bagaimanakah keadaan simpati Islam yang paling tinggi? Menurut pendapat saya ajaran akhlak yang paling sempurna tidak terdapat didalam agama lain selain dari Islam.”

Selanjutnya beliau as bersabda, “Saya sangat merasa sedih apabila melihat atau mendengar seseorang telah berbuat sesuatu yang betul-betul di luar ajaran Islam. Saya merasa tidak senang dengan kejadian seperti itu.” Bersabda, “Saya menganggap keadaan Jemaat masih seperti kanak-kanak yang baru belajar berjalan. Baru berjalan dua langkah terjatuh empat kali. Akan tetapi saya yakin bahwa Allah Ta’ala pasti akan menyempurnakan Jemaat ini. Oleh sebab itu tetaplah kalian berjuang, melakukan tadbir, dan banyak-banyaklah berdoa agar Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya, sebab tidak mungkin kita dapat meraih sesuatu tanpa karunia-Nya. Apabila karunia-Nya mulai turun maka terbukalah semua pintu kemajuan.” [36]

Selanjutnya beliau as bersabda, “Kasihanilah hamba-hamba Allah Ta’ala dan janganlah berlaku zalim terhadap mereka melalui mulut, tangan atau melalui cara bagaimanapun. Dan teruslah berjuang untuk kebaikan makhluk. Dan janganlah berlaku takabbur atau sombong terhadap siapapun sekalipun terhadap bawahan kalian. Janganlah menggunakan bahasa kasar atau caci maki terhadap siapapun sekalipun ia mencaci maki engkau. Bersikaplah merendahkan diri, lemah-lembut, baik hati,  dan pemaaf serta simpati terhadap semua orang dan berdoalah bagi kebaikan mereka agar kalian diterima disisi Tuhan……..Jika kalian menjadi pembesar kasihanilah orang-orang kecil dibawah kalian dan janganlah menghina atau memandang rendah terhadap mereka. Jika kalian menjadi orang-orang terpelajar dan menjadi ilmuwan berilah nasihat terhadap orang-orang buta huruf dengan kata-kata hikmah dan bijaksana. Jangan sekali-kali menghina mereka sambil menyombongkan diri. Jika kalian menjadi orang kaya khidmatilah orang-orang miskin jangan menonjolkan diri sambil takabbur dan takutilah jalan-jalan yang membawa kehancuran.” [37]        

Syarat Baiat kesepuluh: ”Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba Allah Ta’ala ini semata-mata karena Allah dengan pengakuan ketaatan dalam hal ma’ruf (segala yang baik) dan akan tetap berdiri diatas perjanjian ini hingga mautnya. Jalinan tali persaudaraan ini begitu tinggi derajatnya (mulianya) sehingga tidak akan diperoleh bandingannya  baik  dalam ikatan persaudaraan dunia, maupun dalam kekeluargaan atau dalam segala macam hubungan antara hamba dengan tuannya.” [38]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda tentang Hadhrat Rasulullah saw, “Nabi ini memerintahkan sesuatu yang tidak bertentangan dengan akal manusia.” (Beliau as bersabda mengenai Hadhrat saw) “dan beliau saw melarang sesuatu yang akal juga melarangnya. Beliau saw menghalalkan barang-barang yang suci bersih dan mengharamkan yang tidak suci-bersih. Beliau saw menghapuskan beban bangsa yang menyiksa mereka. Beliau saw telah membebaskan belenggu yang mengikat leher yang karenanya leher mereka tidak dapat tegak lurus. Maka barangsiapa yang akan beriman kepadanya dan memperkuatnya dengan menggabungkan diri dengannya dan mengikuti cahaya yang telah dibawanya, maka mereka akan memperoleh keselamatan dari beban kesusahan di dunia ini maupun di akhirat nanti.” [39]

Yakni perintah-perintah syar’i ini dan inilah perintah-perintah ma’ruf yang dengan beramal atas dasar itu adalah sangat penting dan seorang manusia juga terselamatkan dari belenggu-belenggu duniawi.

Selanjutnya beliau as bersabda, “Sekarang bergegaslah datang kepadaku. Masih ada waktu, barangsiapa yang bergegas datang kepadaku, aku memberi misal seperti orang yang naik ke dalam bahtera tepat pada waktu badai dan taufan sedang mengamuk. Akan tetapi orang yang tidak percaya kepadaku maka aku menyaksikan badai dan taufan melandanya dan tidak ada sarana apapun yang dapat menyelamatkannya. Aku adalah Syafi (penyembuh) yang benar yang adalah refleksi dari Syafi Utama dan Mulia itu” (yakni Hadhrat Rasulullah saw) “Dan aku juga zhilli (bayangan) beliau saw yang orang-orang buta di zaman beliau saw itu tidak menerima dan sangat merendahkan beliau; yakni Hadhrat Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam (Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat-Nya atas beliau saw).” [40]

Selanjutnya beliau as bersabda lagi, “Sekarang aku menasihati di bagian penjelasan terakhir, ‘Wahai saudara-saudaraku tercinta! Wahai cabang-cabang yang menghijau dari pohonku! Yang karena rahmat Allah Ta’ala telah masuk kedalam silsilah baiatku dan sedang mengorbankan kehidupan kalian, harta kalian dan waktu istirahat kalian di jalan-Nya. (Kemudian bersabda  mengenai hal itu, siapa yang disayangi) Siapakah kawan-kawanku dan siapakah saudara-saudaraku itu? Mereka itulah yang telah mengenalku. Siapakah yang telah mengenalku itu? Hanya mereka yang yakin kepadaku bahwa aku telah diutus oleh Tuhan. Mereka telah menerima aku seperti utusan-utusan Allah telah diterima. Aku diterima seperti ini seperti halnya orang itu yang telah diutus diterima. Dunia tidak dapat menerimaku. Sebab aku bukan dari orang-orang dunia. Akan tetapi mereka yang mempunyai fitrat yang telah diberi bagian dari alam ini mereka menerima aku. Barangsiapa yang meninggalkan aku maka Dia Yang telah mengutus aku meninggalkan dia. Dan barangsiapa yang menjalin ikatan dengan aku maka Dia Yang telah mengutus aku menjalin ikatan dengannya. Di tanganku ada sebuah pelita. Barangsiapa yang datang kepadaku pasti dia akan menerima pancaran cahayanya. Akan tetapi orang yang lari menjauh dariku karena ragu dan berprasangka buruk dia akan dilemparkan kedalam kegelapan. Aku adalah kubu (benteng) pertahanan yang kuat di zaman ini. (Aku adalah kubu pertahanan yang memberi keselamatan dan perlindungan.) Barangsiapa yang memasukinya maka dia akan diselamatkan dari pencuri, perampok dan dari binatang buas. Akan tetapi orang yang menjauhkan diri dari dinding-dindingku kematian mengancamnya dari setiap penjuru. Mayatnya juga tidak akan selamat. Dan orang yang masuk ke dalam kubuku? Itulah dia yang meninggalkan keburukan, berikhtiar melakukan kebaikan-kebaikan, meninggalkan kebengkokan dan melangkahkan kaki diatas jalan kebenaran dan melepaskan diri dari ajakan setan. Menjadi hamba Allah Ta’ala yang patuh. Setiap orang yang berbuat demikian dia bersamaku dan aku bersama dia. Akan tetapi yang mampu melakukannya hanyalah dia yang Tuhan memasukkannya di bawah naungan jiwa penyuci. Selanjutnya Dia meletakkan ‘kaki-Nya’ di dalam api neraka jiwa [hawa nafsu] orang itu barulah saat itu api di dalam diri orang itu menjadi dingin seolah-olah di dalamnya tidak pernah ada api.” (manusia menjadi suci tatkala Dia (Tuhan) menginjakkan ‘kaki-Nya’ diatas neraka jiwa orang itu maka bagaimanapun panasnya api neraka jiwa orang itu akan menjadi dingin.) [41] Bersabda, “Maka barulah ia terus menerus mendapat kemajuan hingga ruh Allah Ta’ala bersemayam didalamnya dan manifestasi Rabbul ‘aalamiin secara khusus memancar dari dalam kalbunya. (Allah Ta’ala menegakkan ’Arasy-Nya didalam kalbunya.) Barulah saat itu kemanusiaannya yang lama hangus dan insaniyatnya yang baru dan suci dianugerahkan kepadanya oleh Allah Ta’ala. Allah Yang Maha Kuasa menjadi Tuhan baru baginya lalu ia menjalin hubungan secara khusus dan sangat erat dengan-Nya dan semua sarana kehidupan surgawi yang suci ia peroleh di alam ini juga.” [42]

Jadi, itulah ajaran Hadhrat Masih Mau’ud as yang mana beliau as sangat mengharap-harapkan kita untuk meraih martabat seperti itu dan beliau telah menetapkan standar baiat hakiki seperti itu. Sekarang kita harus memeriksa dan mengoreksi keadaan diri kita apakah kita sedang berusaha menjalani kehidupan sesuai dengan syarat-syarat baiat itu? Semoga Allah Ta’ala memaafkan semua kelemahan dan kesalahan-kesalahan kita dan semoga Allah Ta’ala menjauhkan semua kelemahan-kelamahan kita dan semoga Dia memberi taufiq untuk mengadakan perbaikan-perbaikan didalam diri kita. Jika ada kebaikan-kebaikan didalam diri kita semoga mutunya akan semakin tinggi dan semoga Allah Ta’ala memberi taufiq untuk meningkatkannya, supaya kita dapat menyempurnakan maksud dan tujuan baiat kita terhadap Hadhrat Masih  Mau’ud as.

Hari ini saya dengan kehati-hatian ingin menyampaikan mengenai Pakistan untuk dijadikan sebagai catatan. Tanggal 23 Maret di Pakistan juga sedang dirayakan sebagai Hari Pakistan. Sehubungan dengan itu saya anjurkan kepada Ahmadi Pakistani untuk memanjatkan doa-doa bagi Negara Pakistan yang sedang melewati keadaan yang sangat kritis dan berbahaya sekali. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan Negara itu, demi anggota Jemaat Ahmadiyah semoga Allah Ta’ala menyelamatkan mereka. Sebab, orang-orang Ahmadi banyak memanjatkan doa demi keselamatan negara itu. Saya ingin mengemukakan beberapa bukti sampai dimana orang-orang Ahmadi berusaha terus-menerus demi terbentuknya Negara Pakistan?

Pada tahun 1923 sebuah Surat Kabar ‘Daor-e-Jadid’ telah menulis mengenai Hadhrat Choudhri Zafrullah Khan Sahib: “Semua Muslim di seluruh Provinsi Punjab, dewan yang dianggap berhak mewakili seluruh Punjab ketika merasa perlu bahwa seorang wakil atas nama orang-orang Muslim harus dikirim ke Inggris maka mereka menganggap Hadhrat Choudhri Zafrullah Khan Sahib sesuai betul untuk diutus ke sana. Alhasil Choudhri Zafrullah Khan Sahib pergi ke Britania dengan biaya sendiri dan mengemukakan permasalahan secara langsung dan sangat indah sekali di hadapan penguasa dan para ahli politik Britania yang sesudahnya bukan hanya dipuji oleh Punjab Council (Dewan Punjab) bahkan Pemerintah juga sangat terkesan…” [43]

Itulah peristiwa dan bukti yang sangat gemilang yang sekurang-kurangnya satupun dari persatuan Surat Kabar manapun didunia tidak dapat mengingkarinya.

Ada seorang wartawan terkenal Maulana Muhammad Ali Johar Sahib pemilik Surat Kabar Hamdard pada tanggal 26 September 1927 telah menulis, “Tidak bersyukur rasanya terhadap Janab (Yang Mulia) Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad beserta Jemaatnya jika kita tidak menyatakan di sini sekalipun kita berbeda kepercayaan dengan beliau dalam hal agama bahwa beliau telah berjuang keras mengorbankan waktu dan tenaganya untuk kesejahteraan orang-orang Muslim umumnya diatas dunia………dan tidak jauh lagi waktunya akan tiba kala golongan Islam (Ahmadiyah) yang sangat terorganisir ini terbukti menjadi contoh penunjuk jalan dunia Islam umumnya bagi orang-orang yang duduk didalam mesjid-mesjid berkubah tinggi di kawasan-kawasan tertentu.” [44]

Yakni Maulana Muhammad Ali Jouhar Sahib juga bukan hanya memuji dan menghargai usaha-usaha Jemaat Ahmadiyah bahkan beliau menganggap Jemaat Ahmadiyah adalah salah satu golongan Islam yang patut dicontoh. Sebaliknya, para pemimpin Negara Pakistan yang berkuasa sekarang berusaha untuk menghapuskan nama Jemaat Ahmadiyah dari lembaran sejarah Nasional mereka. Bahkan, bukan hanya dihapus dari sejarah melainkan dikeluarkan dari Islam menurut undang-undang yang dibuat oleh tangan mereka sendiri.

Begitu juga seorang tokoh sastrawan senior bernama Khawajah Hasan Nizami telah menulis tentang Konferensi Meja Bundar, ”Dalam Konferensi Meja Bundar setiap orang Hindu dan Muslim dan setiap orang Inggris mengakui kecerdasan, kecakapan dan kemahiran Choudhri Muhammad Zarullah Khan Sahib yang sangat gemilang dan berkata bahwa jika di kalangan orang-orang Islam ada orang cerdas yang tidak berbicara sia-sia dan paham politik dunia baru di zaman ini maka orang itu hanyalah Choudhri Muhammad Zafrullah Khan Sahib.” [45]

Kemudian Doktor Ashiq Husain Batalwi Sahib menulis, ”Dari antara delegasi Muslim (peserta utusan) yang mengikuti Konferensi Meja Bundar yang paling banyak mendapatkan sukses adalah Agha Khan Sahib [pemimpin Syiah aliran Ismailiyyah] dan Choudry Zafrullah Khan Sahib. [46]

Ada satu buku lain yaitu Iqbal ke Aakhiri do sal’ – “Dua  Tahun terakhir Iqbal”, pencetaknya Iqbal Academic Pakistan.

Selanjutnya mengenai kembalinya Hadhrat Qaid-A’zham (Sang Pemimpin Agung/Besar, julukan untuk Muhammad Ali Jinnah, Pendiri Pakistan, Gubernur Jenderal Pertama) ke dunia politik sepulangnya dari UK ke Hindustan, beliau menulis, ”Ketika saya mulai merasa bahwa kini saya tidak mampu menolong orang-orang Islam di Hindustan dan saya tidak mampu merubah mentalitas mereka dan tidak pula saya mampu membuka mata orang-orang Muslim maka akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke London dan menetap di sana.” [47]

Sebuah buku berjudul ‘Qaid A’zham aur un ka ‘Ehed’   Qaid A’zham dan Janjinya” karya tuan Rais Ja’fari mengutip hal ini. “Pada waktu itu Jemaat Ahmadiyah berusaha membujuk beliau untuk kembali ke Hindustan dan Hadhrat Khalifatul Masih II ra mengutus Maulana Abdurrahim Dard Imam Mesjid London berjumpa dengan Muhammad Ali Jinnah Sahib, Qaid A’zham dan mendesak beliau agar kembali ke Hindustan demi memimpin umat Islam di sana agar hak-hak mereka dapat ditegakkan. Akhirnya Qaid A’zham pun kembali ke Hindustan dan mulai giat mempersatukan ummat Islam demi menuntut hak-hak mereka. Akhirnya Qaid Azham’ kembali ke Hindustan dan mengkhidmati orang-orang  Muslim dengan sepenuh hati. Dengan jujur beliau berkata, ’The eloquent persuasion of The Imam left me no escape.’ – ”Bujuk rayu sang Imam yang sangat fasih dan menawan hati membuat saya tidak melarikan diri.” [48]

Seorang wartawan terkenal bernama Muhammad Syafiq yang dikenal dengan panggilan Miim Syiin telah menulis,

”Mr. Liaqat Ali dan Maulana Abdurrahim Dard Imam Mesjid Fazal London-lah yang telah merubah sikap Muhammad Ali Jinnah dan natijahnya pada tahun 1934 Mr Jinnah kembali ke Hindustan dan tanpa saingan beliau langsung terpilih menjadi anggota National Assembly (Majlis Nasional).” [49]

Para penentang yang sangat keras juga pada waktu itu mengakuinya. Maka pada tahun 1946 golongan Ahrar telah mencetak sebuah buku dengan judul ‘Muslim League aur Mirzaiyong ki Aankh macoli par mukhtashar tabshirah’ secara jelas di dalamnya menulis, “Mr. Jinnah berpidato di Quetta dan beliau memuji kebijakan Mirza Mahmud mendukung Muslim League maka sebagai dampaknya ketika diadakan pemilihan umum seluruh Mirzai (orang-orang Ahmadi) memberi suara kepada Muslim League.” [50]

Seorang Ahli Hadis terkenal bernama Maulwi Mian Noor Ibrahim Sialkoti menulis didalam kitabnya dengan judul Paighame Hidayat bataidi Pakistan Muslim League menulis: “Bernaungnya orang-orang Ahmadi dibawah bendera Islam merupakan dalil untuk membuktikan bahwa Muslim League betul-betul golongan nomor satu yang mewakili umat Islam” yakni dalam pandangan mereka orang-orang Ahmadi itu adalah orang Muslim dan mengorbankan jiwa raga mereka demi terbentuknya Negara Pakistan.

Pengkhidmatan Choudhri Zafrullah Khan Sahib kepada Komisi Perbatasan (India-Pakistan) telah disiarkan oleh Hamid Nizami Sahib Pendiri Surat Kabar “Nawa-e-Waqt” dengan kata-kata yang sangat gamblang. Namun sebaliknya pada zaman sekarang Surat Kabar Nawa-e-Waqt ini seringkali menurunkan tulisan-tulisan yang sedikit banyak menentang Jemaat Ahmadiyah, kebijakan mereka telah berubah sekarang mereka hanya berusaha untuk meraup keuntungan duniawi. Akan tetapi Hamid Nizami Sahib pendiri Surat Kabar itu menulis,

“Pertemuan-pertemuan Komisi Perbatasan sudah selesai………selama empat hari berturut-turut Mukarram Choudhri Zafrullah Khan Sahib atas nama orang-orang Muslim telah menyampaikan solusinya  dengan sangat lantang dan mahir sekali disertai dengan alasan-alasan yang tepat dan diterima akal. Adapun kemenangannya ada di tangan Tuhan. Akan tetapi dengan sangat jitu dan sangat mahir sekali Sir Zafrullah Khan Sahib telah mengemukakan permasalahan orang-orang Muslim. Dengan demikian perasaan hati dan pikiran orang-orang Muslim pasti mendapat ketenteraman bahwa hak-hak dan keadilan mereka telah dikemukakan di hadapan Pemerintah dengan sangat tepat dan dengan cara yang mudah oleh seorang yang tepat dan mahir sekali yakni Sir Zafrullah Khan Sahib. Beliau diberi waktu sangat singkat untuk mempersiapkan dan menyusun kasus-kasus itu namun karena hati beliau sangat tulus-ikhlas dan cerdas disertai kemahiran yang tinggi beliau telah menyelesaikan kewajiban dengan sangat baik. Kami sangat yakin bahwa semua orang Muslim di Provinsi Punjab tanpa menghiraukan akidah akan mengakui dan berterima kasih pada perjuangan beliau.” [51]

Dan lagi, dalam menghadapi kerusuhan-kerusuhan pada tahun 1953. Jemaat Ahmadiyah diajukan ke pengadilan. Hakim pada waktu itu bernama Munir. Beliau menulis, “Telah terjadi permusuhan dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar terhadap Jemaat Ahmadiyah sehingga kami telah memberi keputusan dengan mengikutsertakan Distrik Gurdaspur India juga, alasannya Ahmadiyah telah berikhtiar secara khusus dan Qaid-i-A’zam telah mengirim Choudhri Zafrullah Khan Sahib untuk menghadapi masalah Muslim League dan beliau telah mengemukakan dalil-dalil yang khas akan tetapi Pimpinan Pengadilan ini (Hakim Munir) yang telah menjadi anggota Komisi Perbatasan itu (bersama Choudry Zafrulah Khan Sahib) saya menganggap wajib mensyukuri ketenangan dan ketenteraman yang telah dihasilkan oleh perjuangan dan keberanian Choudhri Zafrullah Khan Sahib dalam menangani masalah-masalah di Gurdaspur India. Sebenarnya semua itu adalah dokumen Boundary Commission (Komisi Perbatasan) yang sangat kuat dan jelas sekali dan barangsiapa yang mempunyai niat dan minat untuk memeriksa atau mempelajari dokumen itu dengan senang hati dapat melakukannya. Choudhri Muhammad Zafrullah Khan Sahib tanpa pamrih telah melakukan pengkhidmatan sangat baik demi membela hak dan keadilan orang-orang Muslim. Namun sekalipun hasil penyelidikan itu yang dilakukan dengan cara sangat adil namun beberapa golongan telah menunjukkan reaksi yang memalukan sekali yang menunjukkan tidak ada rasa terima kasih terhadap hasil penyelidikan pengadilan ini.” [52]

Sekarang ini kebanyakan organisasi politik semakin meningkat rasa tidak berterimakasih mereka yang memalukan. Keadaan dan situasi negara [Pakistan] sekarang ini dapat kita ketahui dan saksikan dengan terang dan jelas sekali. Oleh sebab itu mengingat hal itu, semua orang Pakistani harus memanjatkan doa sebanyak-banyaknya untuk negara mereka Pakistan; semoga Allah Ta’ala melindungi dan menyelamatkan negara itu dari jalan yang sedang menuju kehancuran.

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri, Shd

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal halaman 159 isytihaar/selebaran pengumuman ‘Takmil Tabligh’, selebaran nomor 51, terbitan Rabwah.

[3] Siraj-ud-Din ‘Isai ke Char Suwalon ka Jawab (Jawaban atas Empat Pertanyaan Sirajuddin, seorang Isai/Kristen) Ruhani Khaza’in, jilid 12, hlm. 349–350

[4] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah.

[5] Islami Ushul ki Filasafi (Filsafat Ajaran Islam), Ruhani Khazain jilid 10, h. 360-361

[6] Islami Ushul ki Filasafi (Filsafat Ajaran Islam), op.cit., h. 342

[7] Malfuuzhaat, Jilid 4, halaman 105, Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[8] Malfuuzhaat, Jilid 5 hal 614  Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[9] Malfuuzhaat, jilid 3 hal 108,  Edisi 2003, Cetakan Rabwah

Pada abad 12 dan 13, menjelang atau saat banjir penyerbuan bangsa Mongol ke berbagai negeri termasuk negeri Muslim, seorang wali (orang suci) Muslim mendapat ilham berupa suara keras tersebut, ‘ayyuhal kuffaar uqtulul fujjaar’ seolah-olah Allah memang memerintahkan atau menyetujui orang-orang kafir Mongol menyerbu kaum Muslim yang saat itu tenggelam dalam kenikmatan duniawi, pelbagai dosa dan kezaliman.

[10] Malfuuzhaat,  Jilid 4, halaman 157, edisi 2003, Cetakan Rabwah

[11] Dhamimah Taryaaqul Qulub, Ruhani Khazain Jilid 15 hal. 525

[12] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[13] Kisyti Nuh – Ruhani Khazain Jilid 19 halaman 15

[14] Malfuuzhaat jilid 3 halaman 627, Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[15] Malfuuzhaat jilid 1 halaman 28 , Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[16] Al Badr Jilid 2, nomor 14 tanggal 24 April 1903 hal. 109

[17] Kisyti Nuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazain  jilid 19 hal. 34

[18] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[19] Islami Usul ki Filosofi, Ruhani Khazin Jilid 10 hal. 351

[20] Malfuuzhaat Jilid 5 Hal 609 Edisi 2003 Cetakan Rabwah

[21] Malfuuzhaat, Jilid 1 Halaman 134-135  Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[22] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[23] Islami Usul ki Filosofi, Ruhani Khazain Jilid 10 halaman 385

[24] Islami Usul ki Filosofi, Ruhani Khazin Jilid 10 halaman 421

[25] Malfuuzhaat  Jilid 3 halaman 65,  Edisi 2003, Cetakan Rabwah

[26] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[27] Sunan Ibni Maajah, Kitab al-Muqaddimah, bab man ahya sunnah

 عن عمرو بْن عوف المزنيّ. قال حَدَّثنِي أَبِي، عَنْ جدي: أَن رَسُول اللَّه قَالَ: من أحيا سنّةً من سنّتي فعمل بِهَا النَّاس، كَانَ لَهُ مثل أجر من عمل بِهَا لاَ ينقص من أجورهم شيئًا. ومن ابتدع بدعة فعمل بِهَا، كَانَ عَلَيْهِ أوزار من عمل بِهَا لاَ ينقص من أوزار من عمل بِهَا شيئًا. (ابن ماجة، كتاب المقدمة)

[28] Malfuuzhaat, jilid 3 halaman 102-103, edisi 2003, terbitan Rabwah

[29] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[30] Aainah Kamaalaati Islam, Ruhani Khazain 5 jilid 598

[31] Kisyti Nuh, Ruhani Khazaain jilid 19 halaman 12

[32] Malfuuzhaat jilid 3 halaman 370, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[33] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[34] Fatah Islam, Ruhani Khazaain jilid 3 halaman 10-12

[35] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[36] Malfuuzhaat jilid 4 halaman 219, edisi 2003, terbitan Rabwah.

[37] Kisyti Nuuh (Bahtera Nuh), Ruhani Khazain Jld 19 hal 11-12

[38] Majmu’ah Isytihaaraat jilid awwal h. 159 isytihaar ‘Takmil Tabligh’, op.cit., Rabwah

[39] Barahin Ahmadiyah bagian V, Ruhani Khazain jilid 21 halaman 420

[40] Dafi’ul Balaa (Penangkal/Penolak Bala Bencana), Ruhani Khazain jilid 18 h. 233

[41] Kata ‘Kaki-Nya’ (kata kiasan dari rahmat-Nya) disebut oleh Nabi Muhammad saw dalam hadis riwayat Anas bin Malik, Nabi Shallallahu alaihi wassalam bersabda, «لاَ تَزَالُ جَهَنَّمُ تَقُولُ هَلْ مِنْ مَزِيدٍ. حَتَّى يَضَعَ فِيهَا رَبُّ الْعِزَّةِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قَدَمَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ وَعِزَّتِكَ. وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ». Neraka Jahanam selalu berkata: Apakah masih ada tambahan? Sehingga Allah Maha Suci lagi Maha Tinggi meletakkan telapak kaki-Nya, lalu Jahanam berkata: Cukup, cukup! Demi keagungan-Mu! Dan sebagiannya dikumpulkan kepada sebagian yang lain. (Shahih Muslim, Kitab al-Jannah wa shifati na’iimihaa wa ahlihaa, bab an-naar yadkhuluhun jabbaaruun)

[42] Fatah Islam, Ruhani Khazain jilid 3 halaman 34-35

[43] Suratkabar ‘Daur Jadid’ 16-Okt.-1923 dari ‘Pengorbanan Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian Negara Pakistan’ oleh Mirza Khalil Ahmad Qamar h. 11

[44] Suratkabar ‘Hamdardi’ 26 September 1927, rujukan dari ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’ h. 7

[45] Suratkabar Munadi, 24-10-1934 “Sejarah Pakistan dan Jemaat Ahmadiyah”.

[46] Buku Dua Tahun Terakhir Iqbal ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’ halaman 24

[47] ‘Qaid A’zham dan masa hidup beliau’ oleh Rais Ahmad Ja’fari halaman 192 artikel berjudul ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’

[48] Tarikh Ahmadiyah jilid 6 halaman 102 edisi baru.

[49] Pakistan Times 11 September 1981

[50] Moslem League aur Mirzaiyyun ki Aankh macoli par mukhtashar tabshirah halaman 18 artikel ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah..’

[51] Suratkabar ‘Nawae Waqt’ 1 Agustus 1947 artikel berjudul ‘Contoh Jasa-Jasa Jemaat Ahmadiyah dalam Pendirian dan Kemajuan Pakistan’

[52] Laporan Tahqiqaati ‘Adaalat dikenal ‘Munir Report’ h. 305 edisi baru

(Visited 76 times, 1 visits today)