Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 19 Tabuk 1393 HS/September 2014

di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك لـه، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Pada suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud (Imam Mahdi) ‘alaihis salaam bersabda, ”Di dalam Al-Quranul Karim, Allah Ta’ala meletakkan iman berdampingan dengan amal saleh. Yang dikatakan Amal Saleh adalah amal yang murni sedikitpun tidak dicampuri oleh suatu keburukan. Ingatlah bahwa amal manusia selalu diintai oleh pencuri. Apakah gerangan pencuri itu? Tiada lain adalah riya (pamer). Itu artinya, apabila manusia berbuat kebaikan itu karena pamer, untuk dilihat orang. Bangga, di dalam hatinya timbul rasa bangga setelah melakukannya. Yakni merasa gembira karena mengharapkan pujian. Akibatnya ia membuka jalan keburukan yang menjurus kepada perbuatan dosa, karenanya amal salehnya itu menjadi bathil. Amal Saleh adalah amal yang murni tidak tercemar oleh suatu keburukan misalnya; khianat, kebanggaan, riya, takabbur, sombong dan tidak tercemar oleh pikiran untuk merampas hak-hak orang lain. Sebagaimana karena Amal Saleh manusia akan mendapat keselamatan di alam akhirat nanti, begitu juga di dunia ini mendapat keselamatan. Yakni, begitu pentingnya amal saleh itu, sehingga apabila manusia melakukan-nya di dunia ini, maka perhitungannya akan ia peroleh di akhirat juga dan di dunia ini juga. Atau amal saleh di dunia ini akan menjadi sarana baginya untuk mendapat ganjaran di akhirat nanti. Atau dapat diartikan juga bahwa amal saleh itu akan membuat kehidupan di dunia ini juga sebagai surga.”

Selanjutnya beliau as bersabda, ”Jika di dalam sebuah rumah ada satu orang saja yang beramal saleh, seluruh rumah itu akan terpelihara. Anggaplah, jika tidak ada amal saleh yang kalian lakukan, hanya beriman saja, tidak mendatangkan faedah apapun. Amal harus dilakukan dengan tekad bulat dan janji yang teguh. Atau harus diucapkan dengan janji yang teguh.”[2]

Beliau as juga telah menjelaskan iman dengan perumpamaan sebatang pohon. Iman itu laksana sebatang pohon. Untuk sebatang pohon yang sangat tinggi mutunya juga diperlukan perhatian yang cukup. Pohon yang mendatangkan faedah akan tetap hidup jika selalu dipelihara dengan penuh perhatian. Begitu juga, supaya iman menjadi sempurna amal sangat diperlukan dan untuk memperkuat iman itu diperlukan juga perhatian penuh terhadapnya. Tanpa amal itu sekalipun manusia mendawakan diri beriman tidak dapat dikatakan mu’min. Tanpa amal manusia laksana sebatang pohon yang dipotong dahan-dahannya sehingga nampak buruk bentuknya. Kesempatan untuk berbuah pun akan tersia-sia dan makhluk-makhluk Allah Ta’ala pun menjadi mahrum dari naungan dahan-dahannya yang teduh dan rindang. Betapapun kuatnya akar-akar pohon itu jika tidak mendapat siraman air pucuk-pucuk muda yang tumbuh dari dahan-dahan dan ranting-ranting-nya akan tersia-sia. Akhirnya pada suatu waktu pohon itu akan mati.”

Akarnya yang kuat itu tidak dapat memberi faedah kepadanya. Jika pohon itu tetap hidup juga untuk beberapa waktu lamanya, disebabkan hilangnya dahan-dahannya itu tidak akan ada orang yang menganggap pohon itu berfaedah. Tidak akan ada orang yang menaruh perhatian kepadanya. Ia akan berdiri sebagai sebatang kayu kering. Sedangkan pandangan mata setiap orang tertuju kepada sebatang pohon yang subur menghijau, yang nampak jelas keindahannya, pohon yang pada musimnya menumbuhkan bunga-bunga dan buah-buahannya, yang di musim panas menciptakan naungan rindang dan teduh di bawahnya. Pohon seperti itulah yang disukai oleh manusia.”

Sungguh, iman itu laksana akar, sekalipun seorang Muslim menyatakan diri, ‘Iman saya kuat’ seringkali kita mendengar pernyataan orang Muslim seperti itu, ia mempunyai gairah terhadap agama juga, namun ia terperosok, siap sedia melakukan pembunuhan atas nama Islam. Pada waktu ini umat Islam telah terpecah menjadi dua buah kelompok dan telah terbentuk banyak sekali organisasi. Berbagai macam pernyataan dikumandangkan, bahwa iman mereka kokoh kuat. Tetapi, apakah iman mereka itu seperti sebatang pohon atau sebuah taman yang indah yang memberi faedah kepada dunia, sehingga banyak manusia datang menghampirinya? Padahal, betapa dahsyat kejamnya mereka, menunjukkan kebringasan dan keganasan sehingga dunia berlari menjauhkan diri dari mereka.

Agama yang telah dibawa oleh Hadhrat Rasulullah saw bukan hanya menarik musuh-musuh sangat biadab dan kejam menjadi sahabat, bahkan menjadikan mereka para pemabuk cinta satu dengan lain yang sangat mengagumkan. Berkat tarbiyyat Hadhrat Rasulullah saw yang sangat berkesan dan mendalam di dasar lubuk hati mereka, telah mengukir sejarah yang tak terlupakan. Suatu ketika sebuah lasykar Muslim memutuskan untuk meninggalkan sebuah wilayah yang telah ditaklukkan yang berpenduduk mayoritas orang-orang Kristen dan Yahudi. Hal demikian karena mereka sudah menganggap sulit untuk melawan Kerajaan Romawi. Atas hal itu, orang-orang Kristen dan Yahudi menangis seraya mencucurkan air mata ketika mereka bersama-sama melepas keberangkatan tentara Muslim dari wilayah mereka itu. Dengan sambil menangis mereka berkata, “Kami berdoa semoga anda semua dapat kembali lagi untuk menguasai wilayah ini! Supaya di bawah kekuasaan anda kami senantiasa dapat menikmati naungan pepohonan rindang yang teduh dan untuk selama-lamanya dapat menikmati buah-buahan dari pohon-pohon yang anda tanam. Sebab, kemudahan-kemudahan yang telah anda sediakan ini tidak disediakan oleh pemerintahan Romawi.”[3]

Pendeknya, lasykar Muslim itu memperoleh penghargaan dan penghormatan yang hangat karena iman mereka dibuktikan dengan setiap amal dan perbuatan yang membawa berkat bagi ummat manusia. Maka, pengakuan dan pernyataan hampa dari iman dan dari kekuatan dasarnya tidak membawa faedah apapun selama dahan-dahan subur menghijau dari amal perbuatan dan buah dari dahan-dahan amal saleh tidak menunjukkan keindahannya dan tidak pula membawa faedah bagi khalayak ramai. Namun, apabila keindahan dan faedahnya sudah nampak jelas maka perhatian dunia pun akan tertarik kepadanya. Manusia akan datang menghampiri dan mengerumuninya bahkan akan siap untuk menjaga dan melindunginya.

Itulah sebabnya Allah Ta’ala memerintahkan setiap orang Muslim agar tidak hanya memiliki iman yang kuat, sebab di setiap tempat dimana iman disebut, di sana selalu dikaitkan dengan amal saleh dan keduanya dijadikan syarat mutlak. Allah Ta’ala mengutus Nabi-nabi-Nya ke dunia untuk menciptakan keadaan manusia seperti itu. Keadaan yang demikian itu akan tercipta di kalangan orang-orang mu’min apabila hubungan mereka terjalin erat dengan Nabi yang diutus di zaman mereka.

Sebagaimana telah saya katakan, kebanyakan golongan yang berjumlah besar, atas nama agama dan keimanan, menyatakan dengan lantang bahwa dasar-dasar hukum mereka sangat kuat. Tetapi, apa gerangan yang sedang terjadi? Di kalangan mereka bukan hanya terjadi pergolakan saling membenci satu sama lain yang semakin meningkat, bahkan sebuah golongan demi mempertahankan supremasinya di atas golongan lain, melakukan kekejaman dan penganiayaan dengan segala macam cara, dengan khianat, aniaya, atau dengan melakukan pelanggaran yang melampaui batas, sehingga orang-orang Non Muslim juga merasa takut dari Islam disebabkan ulah mereka yang biadab itu. Agama yang didirikan untuk menghimpun kecintaan semua orang-orang Non Muslim, dan demi melindungi pemerintahan mereka, orang-orang ghair Muslim pun siap bahu-membahu membantu mereka untuk berperang, kini keadaannya sudah sangat berubah dan terbalik sedemikian rupa, jangankan untuk menarik orang-orang ghair, keadaan perilaku orang-orang Muslim sendiri sudah demikian rusak dan berantakan, disebabkan hilangnya amal saleh dan hampanya kebaikan antara sesama mereka, sehingga telah menyempurnakan gambaran tepat yang dinubuwatkan oleh Al-Quranul Karim, “قلوبهم شتى” quluubuhum syata “hati mereka sudah terpecah-belah.” (Al Hasyr: 15).

Sekarang tugas kewajiban setiap orang Ahmadi untuk menampilkan gambaran sejati amal saleh dan kebaikan itu, sebab ia telah beriman kepada Imam dan Nabi di zaman ini. Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud as, yakni Jemaat Ahmadiyah-lah sesungguhnya pohon yang telah ditanam oleh Allah Ta’ala. Yang akar-akarnya kokoh-kuat dan dahan-dahannya subur menghijau, naungannya sangat rindang dan teduh, sangat indah dipandang mata serta berbuah lebat. Yang sangat menarik perhatian dunia. Keadaan seperti itu semua telah berhasil diraih karena Hadhrat Masih Mau’ud a.s telah memperkenalkan kita dengan ajaran Islam yang sejati dan telah menganjurkan kita dengan tegas untuk mengikuti jejak langkah suri teladan Hadhrat Rasulullah saw, telah selalu mengingatkan kami kearah itu dan telah menjelaskan betapa pentingnya hal itu kepada kami. Maka, sekarang Jemaat Ahmadiyah-lah satu-satunya Jemaat yang akar-akarnya kokoh-kuat dan dahan-dahannya juga subur menghijau, sangat indah dipandang mata serta menghasilkan banyak buah, menarik perhatian dunia terhadapnya. Itulah pohon yang dengan menyaksikannya khalayak manusia di setiap tempat berkata:” Betapa indahnya Islam yang kalian persembahkan ini!

Banyak sekali peristiwa-peristiwa muncul kehadapan kita bahwa dengan menyaksikan keindahan Islam sejati yang kita tampilkan, khalayak manusia merasa heran dan kagum. Di suatu tempat di Africa, sebuah Masjid sedang diresmikan oleh Jemaat Ahmadiyah di sana. Chief (Kepala Suku) kawasan setempat, seorang beragama Kristen diundang juga untuk menghadiri peresmian Masjid itu. Beliau berkata, ”Saya datang bukan karena mencintai anda sekalian, melainkan untuk menyaksikan siapa gerangan orang-orang Muslim di zaman ini yang telah mengundang orang-orang Non Muslim termasuk juga orang Kristen untuk menghadiri peresmian Masjid mereka. Setelah sampai di sini saya terperanjat melihat banyak orang dari berbagai macam agama juga hadir, sungguh mengherankan hati saya. Para Ahmadi, sebagai orang-orang Muslim juga tengah menampilkan akhlak luhur yang begitu indahnya, tidak ada tandingannya. Mereka bertemu dengan setiap orang, baik orang besar maupun kecil, kaya ataupun miskin, dengan perasaan cinta persaudaraan dan kasih sayang, dan mereka menjalin hubungan persaudaraan satu dengan yang lain luar biasa eratnya, seraya menunjukkan perangai dan akhlaq yang begitu tinggi yang tidak dapat saya saksikan di tempat lain di manapun juga.”

Selanjutnya Chief itu berkata, “Masjid dan Islam seperti ini sangat diperlukan oleh manusia zaman sekarang. Semua keraguan saya tentang Islam sekarang sudah hilang dari benak saya. Anda semua bukan hanya memberikan sebuah Masjid di kawasan ini, melainkan telah memberikan sebuah kehidupan baru kepada kami. Anda telah mengajarkan perilaku dan memberi panduan cara menjalankan kehidupan yang sangat luhur kepada kami.”

Maka, itulah pohon-pohon yang keadaannya dijelaskan di dalam Al-Quranul Karim bahwa akar-akarnya sangat kokoh kuat dan disebabkan iman serta amal saleh, jika manusia dimisalkan dengan sebatang pohon, dahan-dahannya yang subur menghijau juga sampai menjangkau ketinggian langit. Jadi, sebagaimana telah saya katakan bahwa disebabklan telah beriman kepada Hadhrat Imam Zaman, menjadi kewajiban setiap orang Ahmadi, agar disertai iman dan amal saleh yang kuat menjadi dahan-dahan yang subur menghijau, menjadi daun-daun yang indah menghiasi dahan-dahan yang subur itu, dan agar menjadi tempat munculnya tangkai bunga-bunga yang cantik dipandang mata dan buah-buahnya yang ranum. Dunia bukan hanya memandangnya indah bahkan juga menerima berkat-berkat dari padanya. Jika tidak, sekalipun iman dan keyakinan sudah sempurna namun tanpa disertai amal tidak akan mendatangkan faedah.

Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya, sekalipun iman dan kepercayaan manusia nampaknya sempurna atau menyatakan diri memiliki iman dan keyakinan sempurna, tetapi mereka menjadi penyebab tergelincirnya manusia di dunia. Sebagai Ahmadi kita baru dapat melaksanakan kewajiban secara sempurna apabila berkat amal-amal saleh kita menjadi manusia yang mampu menampilkan akhlaq dan budi pekerti yang luhur terhadap setiap orang. Apabila kita dapat menjadi orang-orang di lorong-lorong, di kota-kota dan di seluruh negeri kita yang menunjukkan keindahan Islam melalui amal-amal saleh kita.

Kita tidak boleh menjadi seperti orang-orang yang terlibat di dalam perselisihan dan pertengkaran tidak pula terlibat di dalam mengumpat, buruk sangka atau menganggap hina orang lain. Jangan menjadi orang yang tidak tahu belas kasih dan jangan menjadi orang yang berbuat kebaikan kemudian menuntut ganjaran atau balasan dari kebaikan itu. Kita harus menjauhkan diri dari semua perkara tersebut, bahkan sebaliknya harus menjadi orang-orang yang menampilkan akhlaq yang tinggi. Al-Quranul Karim berulang kali mengingatkan kita untuk memiliki akhlaq yang setinggi-tingginya.

Banyak orang yang mempunyai kebiasaan untuk berbuat suatu kebaikan atau memberi pertolongan atas dorongan perasaan yang timbul secara tiba-tiba, namun setelah itu berkata kepada orang yang telah diberinya pertolongan itu, ‘Saya pun pernah berbuat kebaikan ini atau itu kepada-mu.’ Atau ia mengharapkan balasan dari orang yang pernah ia beri pertolongan kepadanya, seakan-akan wajib baginya untuk mengembalikan pemberiannya itu sebagai balasan. Jika orang yang telah menerima kebaikan itu tidak memenuhi kewajiban mengembalikan apa yang diharapkannya itu, ia tanpa malu akan menimpakan suatu kesulitan kepadanya. Perbuatan seperti itu bukanlah ajaran Islam. Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Quranul Karim: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى} Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan sedeqah-sedeqah kamu sia-sia dengan menyebut-nyebut jasa baik dan menyakiti perasaan hati orang lain.” (Al Baqarah; 265). Sebab hal itu dilakukan oleh orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan Hari Akhirat, imannya lemah bahkan bukan hanya lemah iman melainkan kosong dari iman.

Di berbagai tempat di dalam Al-Quranul Karim Allah Ta’ala telah berulang kali menjelaskan berbagai macam masalah terhadap orang-orang mu’min bahwa bersama iman, amal saleh juga sangat perlu dan mempunyai banyak sekali faedahnya. Di satu segi orang mu’min menjadi sumber faedah bagi orang lain melalui amal saleh, di segi lainnya ia sendiri juga menikmati buah dari amal saleh itu. Misalnya, Allah Ta’ala berfirman mengenai orang-orang yang beriman dan beramal saleh, mereka inilah yang meraih maghfirah dari Allah Ta’ala. Mereka itulah yang akan memperoleh martabat tinggi di Surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai dan mereka akan menjadi pemilik sungai-sungai itu. Kemudian Allah Ta’ala berfirman, orang-orang yang beriman dan beramal saleh itu akan memperoleh ganjaran-ganjaran yang tidak dapat dibayangkan sebelumnya.”

Orang yang hanya menyatakan beriman sebagai pengakuan saja tidak berhak menerima ganjaran yang baik, melainkan manusia akan menerima ganjaran yang sangat baik jika iman disertai dengan amal saleh. Ia akan memperoleh Surga dan juga maghfirah dari Allah Ta’ala. Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman, orang-orang yang beriman dan beramal saleh akan dianugerahi rizki yang suci murni di dunia ini dan juga rizki di alam akhirat nanti. Mereka yang beramal saleh tidak akan merasa takut. Mereka berada dalam suasana aman. Tidak ada suatu kegelisahan akan menimpa mereka. Tidak akan ada perasaan takut di dunia ini dan di akhirat juga, bahwa mereka tidak bisa melakukan suatu amal kebaikan. Allah Ta’ala akan menganugerahkan ketentraman di dalam kalbu mereka. Bagaimana pula mereka akan merasa takut karena orang-orang yang beramal saleh itu tujuannya demi meraih ridha Allah Ta’ala. Setiap kali melakukan amal saleh mereka akan semakin dekat dengan Allah Ta’ala.

Di satu tempat Allah Ta’ala berfirman: {إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا} “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mereka beramal saleh, Allah Yang Maha Pengasih menciptakan ‘wudd’ di dalam kalbu mereka.” (Surah Maryam; 19 : 97). الود ‘wudd’ artinya kecintaan dan hubungan yang sangat dalam, kecintaan yang disertai hubungan sangat erat dan mendalam. Hubungan itu demikian kuat dan erat yang tidak pernah putus. Begitu kuat dan eratnya seperti sebuah tiang pancang yang ditanam sekuat-kuatnya ke bumi. Begitulah kecintaan pun harus ditanam sedalam-dalamnya di dalam hati.

Maka, makna ayat tersebut adalah, Allah Ta’ala menanamkan kecintaan-Nya di dalam kalbu orang beriman dan beramal saleh, laksana menanamkan sebuah tiang pancang sekuat-kuatnya ke dalam bumi. Seperti itu pula mereka akan mencintai Allah Ta’ala dan iman mereka serta amal saleh mereka-pun akan semakin terus bertambah dan bertambah maju.

Atau, ayat itu juga bermakna, Allah Ta’ala menyintai orang mu’min yang demikian dengan kecintaan yang tidak pernah putus. Jadi, jika kecintaan Allah Ta’ala telah tertanam demikian kuat di dalam hati seorang manusia atau Allah Ta’ala sendiri mencintai seorang mu’min sedemikian rupa hingga derajat seolah-olah kecintaan itu telah tertanam di dalam kalbu-Nya, siapakah gerangan yang dapat menggambarkan pencapaian kesuksesan dan keberuntungan yang lebih besar dari itu? Orang itu sendiri menjadi bak sebatang pohon indah dan rindang yang dapat memberi faedah kepada orang lain. Sebab setiap perbuatannya, disebabkan kecintaan Allah Ta’ala, mendatangkan ganjaran dari Allah Ta’ala yang memberi faedah kepada orang lain.

Ayat itu juga berarti, Allah Ta’ala menanamkan dengan kuat kedalam hati orang mu’min (orang beriman) dan beramal saleh kecintaan kepada umat manusia. Karenanya, seorang mu’min sejati tidak pernah berpikir untuk membuat orang lain menderita. Cinta terhadap sesama manusia menghendaki agar setiap waktu berusaha untuk mendatangkan faedah kepada orang lain. Sebagaimana sebelumnya telah saya katakan, jika semua hal itu tertanam dalam benak orang-orang Muslim, maka merampas hak orang lain, berlaku zalim, membunuh orang lain yang dilakukan oleh pemerintah mereka juga, dan oleh yang menamakan diri dari suatu golongan, dan oleh masyarakat awam juga – yang sering kita saksikan di zaman ini – tentu tidak akan pernah terjadi. Mereka itu tidak mengamalkan perintah-perintah Allah Ta’ala.

Oleh sebab itu, keburukan apapun semua telah terjadi. Kezaliman yang paling parah adalah, apapun yang tengah mereka lakukan itu dibebankan atas nama Allah Ta’ala. Sedangkan Allah Ta’ala sendiri berfirman, “Ciptakanlah ‘wudd’, artinya ciptakanlah kecintaan, yaitu kecintaan yang tertanam di dalam lubuk hati yang dalam. Jadilah manusia yang dapat memberi faedah kepada orang lain. Maka, jika amal perbuatan manusia sesuai dengan ajaran Islam yang sejati, kita tidak akan menyaksikan kesusahan dan penderitaan yang mereka timpakan terhadap satu sama lain di kalangan dunia Muslim dan keindahan pohon Islam yang teduh dan rindang akan tumbuh di benak manusia di seluruh permukaan dunia. Maka ayat ini juga dapat berarti bahwa di dalam hati umat manusia akan tertanam kecintaan yang kokoh kuat terhadap orang-orang Muslim seperti kokoh-kuatnya sebuah tiang yang dipancangkan kedalam bumi. Sesungguhnya Allah Ta’ala memiliki kekuasaan mutlak untuk menciptakan susana seperti itu. Akan tetapi untuk meraih keadaan seperti itu syaratnya adalah iman disertai amal saleh.

Sebagaimana telah saya katakan, orang-orang Muslim di zaman kurun pertama sangat dicintai oleh manusia, karena Allah Ta’ala telah menanamkan kecintaan di dalam lubuk hati orang-orang Kristen dan Yahudi, mereka senantiasa menangis, merasa sedih di kala menyaksikan kepergian orang-orang Muslim meninggalkan kawasan Muslim di negeri mereka, bahkan mereka mendoakan agar tentara Muslim itu kembali lagi menduduki tanah air mereka. Bahkan sejarah telah mencatat pernyataan orang-orang Yahudi bahwa: “Kami bersedia menyerahkan jiwa raga kami untuk menjaga tentara Muslim. Sebaliknya, kami tidak akan memperkenankan tentara Romawi Kristen memasuki kawasan kota-kota kami. Jangan khawatir, tentara Muslim tinggallah di sini bersama kami.”[4]

Itulah kesan-kesan amal saleh yang diimplimentasikan oleh orang-orang Islam di setiap level. Yang telah menarik perhatian dunia kearah pohon Islam yang sangat indah itu, dan telah memberi banyak faedah kepada dunia.

Sekarang telah menjadi kewajiban setiap Ahmadi, hamba pencinta sejati Hadhrat Rasulullah saw, sembari memperkuat akar-akar iman harus berusaha menjadi daun-daun, ranting dan dahan-dahan serta buah-buah ranum dari pohon amal saleh yang dapat menarik dunia terhadap keindahan Islam, yang dapat memberi faedah kepada dunia. Kita juga harus menjadi pencinta dan peraih kecintaan Allah Ta’ala juga. Prioritas kita harus ditujukan pada mencintai umat manusia dan harus menjadi orang-orang yang mendapat perhatian umat manusia. Sebabnya ialah, tanpa melakukan hal demikian kita tidak dapat menyempurnakan tujuan baiat kita kepada Hadhrat Masih Mau’ud as

Telah berulang kali Hadhrat Masih Mau’ud as memberi nasihat, baik di dalam tulisan-tulisan beliau maupun di dalam pertemuan-pertemuan beliau agar kita menaruh perhatian penuh terhadap perbuatan baik dan amal-amal saleh. Harus menaruh perhatian terhadap amal-amal kita juga. Harus melakukan perbuatan-perbuatan yang sesuai dengan kehendak dan ridha Allah Ta’ala, yang dapat menyelamatkan dunia dari kesulitan dan penderitaan. Saya telah membaca kutipan dari tulisan-tulisan beliau as sebelumnya dan sekarang saya akan mengemukan beberapa kutipan lain dari tulisan-tulisan beliau juga.

Di dalam suatu peristiwa Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Orang-orang yang masuk kedalam Jemaat-ku adalah mereka yang menjadikan ajaran kami sebagai panduan hidupnya dan berusaha mengamalkannya dengan penuh semangat sesuai kemampuannya. Tetapi orang yang merasa cukup hanya dengan nama saja dan tidak beramal sesuai dengan ajaran kami, ia harus ingat bahwa tujuan Allah Ta’ala mendirikan Jemaat ini sebuah Jemaat yang khas dan siapapun yang hanya karena nama saja tidak sungguh-sungguh menjadi anggota dari Jemaat ini, ia tidak dapat tinggal di dalam Jemaat ini. Akan tiba waktunya ketika ia sendiri akan terlepas dari Jemaat ini.

Oleh sebab itu sedapat mungkin perilaku kalian harus sesuai dengan ajaran yang diberikan. Amal perbuatan itu seumpama sayap, tanpa amal perbuatan manusia tidak dapat terbang untuk meraih kemajuan rohaninya dan tidak akan dapat sampai ke puncak martabatnya yang sangat tinggi yang Allah Ta’ala telah meletakkannya dibawah amal-amal saleh itu. Sebagaimana Allah Ta’ala menganugerahkan kecerdasan kepada binatang-binatang bersayap, namun jika tidak menggunakan kecerdasan yang telah dianugerahkan Tuhan itu mereka tidak dapat melakukan apa yang harus mereka kerjakan. Misalnya; jika kumbang madu tidak mempunyai pengertian seperti itu, ia tidak akan dapat menghasilkan madu dan begitu juga burung-burung merpati pos, yakni burung merpati yang mengirimkan surat-surat, bagaimana ia harus melaksanakan pekerjaannya, bagaimana ia harus terbang menyampaikan surat-surat itu ketempat tujuan setelah menempuh jarak terbang yang jauh-jauh. Demikianlah, banyak pekerjaan yang sangat ajaib dilakukan oleh binatang-binatang bersayap juga.

Maka, hal pertama dan paling utama yang sangat penting adalah manusia harus menggunakan pengertian dan akal sehat dalam menjalankan pekerjaannya, dan harus berpikir; apakah pekerjaan yang sedang dilaksanakan itu sesuai dengan perintah Allah Ta’ala dan demi meraih ridha-Nya atau tidak? Jika hal itu telah dikerjakan dengan penuh pengertian maka akhir penyelesaiannya barulah dilakukan oleh tangan. Jangan bersikap malas dan lalai. Ya, memang perlu diteliti dengan rinci bahwa pendidikan itu memang harus betul. Kadangkala terjadi juga, pendidikannya memang betul, akan tetapi manusia disebabkan kedunguan dan kebodohannya, atau disebabkan kenakalan atau kejahatan seseorang atau disebabkan salah bimbingan ia menjadi korban penipuan. Oleh sebab itu harus senantiasa mengadakan penelitian yang wajar dengan pikiran sehat dan bersih.”

Demikianlah beliau as telah memberi nasihat kepada semua baik kepada para anggota Jemaat maupun kepada ghair juga. Di tempat lain beliau as bersabda, “Setiap orang harus merasa takut kepada Allah Ta’ala. Sebab takut kepada Allah Ta’ala membuat manusia menjadi pewaris banyak sekali kebaikan. Orang yang takut kepada Allah Ta’ala, itulah orang yang sangat baik, sebab berkat rasa takut itu manusia diberkati ma’rifat tinggi oleh Allah Ta’ala sehingga dengan perantaraannya ia terhindar dari perbuatan dosa. Banyak sekali manusia yang merasa malu kepada Allah Ta’ala setelah merenungkan banyak karunia, banyak kebaikan-kebaikan dan ni’mat-ni’mat serta kehormatan yang telah dianugerahkan kepada mereka, dan mereka menjauhi diri dari pelanggaran serta pembangkangan terhadap-Nya. Tetapi ada juga jenis orang-orang yang takut kepada hukuman-Nya.

Yang sebenarnya adalah, orang yang baik dan saleh adalah dia yang ditetapkan baik oleh Allah Ta’ala sendiri. Banyak sekali orang-orang yang menipu diri mereka sendiri dan menganggap diri mereka sendiri orang-orang muttaqi (yang takut kepada Tuhan). Namun sebenarnya orang muttaqi itu adalah orang yang namanya sudah tertulis di dalam registrasi Allah Ta’ala sebagai orang muttaqi. Pada waktu ini sifat Allah Ta’ala yang sedang muncul di dunia adalah Sifat as-Sattaar الستار, menutupi kelemahan dan kesalahan-kesalahan manusia. Tetapi, apabila semua tirai penutup disingkapkan pada Hari Kiamat nanti, pada waktu itu semua keadaan yang sebenarnya akan terbuka. Pada waktu itu akan tersingkap keadaan yang sesungguhnya, yang di dunia ini nampak seperti orang-orang yang sangat muttaqi dan saleh di sana akan kelihatan betapa zalim dan pendurhaka sangat besar.”

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai bagaimana cara setan menyesatkan dan setiap saat dan tempat selalu mengganggu manusia, dan untuk itu bagaimana setiap orang mu’min harus berusaha menjaga imannya, ”Setan selalu berusaha untuk menyesatkan dan merusak amal manusia sehingga di dalam amal-amal kebaikan juga ingin mengacau dan menyesatkannya. Setan selalu berusaha mencari jalan untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Kepada orang yang sedang menunaikan shalat pun, padahal shalat adalah amal ibadah kepada Allah Ta’ala, namun setan selalu datang menghampiri untuk menggodanya dan berusaha menanamkan perasaan ragu dan pamer di dalamnya. Terhadap seorang yang sedang mengimami shalat pun setan datang dan mencoba untuk melibatkannya kedalam pikiran dan perasaan demikian.

Maka, sekali-kali jangan lengah dan harus waspada, harus selalu takut terhadap godaan-godaan setan. Sebab serangannya sangat cepat dan terbuka terhadap orang-orang fasik dan pendurhaka. Orang-orang seperti itu dianggap sasaran buruannya yang empuk. Tapi, orang-orang saleh juga tidak lepas dari serangan-serangannya. Dalam keadaan bagaimanapun setan selalu mencari-cari peluang untuk melakukan serangan terhadap mereka. Namun orang-orang yang berada di bawah naungan karunia Allah Ta’ala selalu waspada dari serangan-serangan setan itu walaupun kecil sekalipun. Mereka banyak memanjatkan doa-doa kepada Allah Ta’ala agar selamat dari serangan setan. Tetapi orang-orang yang lemah dan tidak berdaya, kadang-kadang menjadi mangsanya yang mudah diperdaya.”[5]

Beliau as bersabda menenai keharusan amal perbuatan, “Orang-orang menganggap sudah cukup (sebagai Muslim) hanya dengan mengucapkan dua kalimah syahadat saja dengan lisannya. Atau hanya dengan membaca “أستغفر الله” ‘Astaghfirullah’ (aku mohon ampun kepada Allah) sudah cukup untuk membersihkan diri dari pada dosa. Tetapi ingatlah! Pernyataan hanya sekedar dengan mulut komat-komit tidak akan memadai. Sekalipun manusia membaca istighfar – ‘Astaghfirullah’ seribu kali, atau membaca tasbih seratus kali sedikit pun tidak akan memberi faedah, sebab Allah Ta’ala menciptakan manusia sebagai manusia, bukan menciptakan mereka sebagai burung beo. Kebiasaan burung beo selalu mengulang-mengulang perkataan atau suara. Sedikitpun ia tidak mengerti maksudnya.

Tugas manusia adalah, apa yang diucapkan oleh mulut harus selalu menjadi perhatian, sebelum diucapkan harus dipikir terlebih dahulu dan apa yang telah diucapkan harus diamalkan juga sesuai dengan yang diucapkannya itu. Tetapi, jika perilaku kita seperti burung beo hanya pandai bercakap, maka ingatlah hanya dengan mengulangi perkataan dengan mulut belaka, sama sekali tidak mengandung berkat, selama tidak didukung dengan bisikan hati dan tidak disertai dengan amal nyata sesuai dengan yang telah diucapkan. Jika tidak demikian maka akan dianggap hanya pernyataan lisan belaka tidak mengandung berkat sedikitpun, sekalipun disertai dengan membaca Al-Quran dan istighfar berulang kali. Allah Ta’ala menghendaki amal. Oleh sebab itu, Allah Ta’ala berulang kali mengeluarkan perintah, ‘Berbuatlah amal saleh!’ Selama tidak melakukan demikian manusia tidak dapat menjadi dekat kepada Allah Ta’ala.

Kebanyakan orang-orang yang tuna ilmu berkata, ‘Hari ini kami telah menamatkan Al-Quran.’ Jika ditanya, ‘Faedah apa yang telah diperoleh dari padanya? Kalian hanya membaca dengan mulut, sedangkan indra-indra lainnya ditinggalkan tidak berfungsi.’ Padahal Allah Ta’ala telah menciptakan semua indra itu agar difungsikan dan diambil faedah dari padanya. Itulah sebabnya tertulis dalam riwayat Hadis Rasulullah saw, banyak orang membaca Al-Quran namun Al-Quran mengutuk mereka.[6] Sebab, pembacaannya itu hanya ucapan-ucapan mulut belaka sedangkan hukum-hukumnya tidak diamalkan sesuai dengan yang mereka baca. Orang yang perilakunya atau perbuatannya tidak sesuai dengan batas hukum-hukum Allah Ta’ala yang dia baca, ia membuatnya bahan tertawaan, sebab Allah Ta’ala tidak menghendaki hanya membaca saja melainkan amalannya juga.”[7]

Selanjutnya beliau as bersabda: “Ingatlah baik-baik! Hanya berbicara saja dengan mulut secara lisan tidak berfaedah dan tidak membawa kesan, selama tidak disertai dengan amal nyata, dan tidak melakukan amal baik melalui kaki atau tangan. Seperti setelah menurunkan Kitab Suci Al-Quran Allah Ta’ala mengambil pengkhidmatan dari para Sahabat, apakah mereka menganggap sudah cukup hanya dengan membaca Al-Quran dengan mulut mereka ataukah menganggap penting untuk mengamalkannya? Mereka menunjukkan ketaatan dan kesetiaan laksana kambing-kambing yang disembelih. Apa yang telah mereka peroleh dan berapa tingginya penghargaan Allah Ta’ala terhadap mereka, tidak tersembunyi dari pandangan dan pengetahuan orang lain. Jika kalian menginginkan karunia dan berkat-berkat dari Allah Ta’ala, lakukanlah suatu pengkhidmatan, jika tidak, kalian akan dilemparkan jauh-jauh seperti benda-benda tak berguna.”

Beliau bersabda lagi: “Tidak ada orang yang membuang emas, perak atau suatu barang yang baik dan berharga dari rumahnya, melainkan mereka jaga dan simpan baik-baik di tempat yang aman. Tetapi, apabila mereka melihat ada seekor tikus mati di dalam rumah, segera mereka membuangnya ke tempat yang jauh. Begitulah juga Allah Ta’ala sangat mencintai hamba-Nya yang baik dan soleh. Dia memberinya umur panjang dan memberkati bisnis atau perusahaannya, Dia tidak menyia-siakan-nya dan Dia tidak memberi kematian yang tidak terhormat kepadanya. Jika Allah Ta’ala ingin menghargai kalian maka, haruslah kalian menjadi orang baik bagi-Nya, agar menurut pandangan-Nya kalian patut dihargai. Orang yang takut kepada Tuhan dan menaati perintah-Nya, Dia menganugerahkan keistimewaan yang membedakan kalian dari mereka yang lain.

Itulah rahasia bagaimana manusia dapat meraih karunia dari Allah Ta’ala agar terhindar dari keburukan-keburukan. Orang seperti itu dimanapun juga ia tinggal patut dihormati dan dihargai sebab ia mendatangkan faedah kepada orang lain, dan dia berlaku baik terhadap orang-orang lemah, menyayangi orang-orang miskin, mengasihani para tetangga, tidak melakukan kejahatan, tidak mengajukan suatu tuntutan palsu ke sidang Pengadilan, tidak memberi kesaksian dusta melainkan selalu menjaga hati mereka tetap suci bersih, dan perhatian mereka selalu runduk terhadap Allah Ta’ala dan mereka itulah yang disebut para wali Allah Ta’ala.”

Selanjutnya beliau as bersabda, ”Menjadi wali Allah Ta’ala bukanlah pekerjaan mudah, melainkan sangat sulit. Sebab, meninggalkan keburukan-keburukan, melupakan keinginan-keinginan buruk dan meninggalkan dorongan hawa nafsu adalah suatu keharusan yang sangat dan itu pekerjaan yang berat sekali. Meninggalkan akhlaq buruk, dan meninggalkan kebiasaan berbuat keburukan kadangkala sangat sulit. Seorang pembunuh dapat meninggalkan kebiasaan membunuh, seorang pencuri atau perampok dapat meninggalkan pencurian atau perampokan, tetapi bagi seorang yang berakhlaq buruk sulit sekali meninggalkan kemarahan. Atau bagi orang yang takabbur meninggalkan takabbur adalah sangat sulit, sebab ia menganggap orang lain kecil dan hina sedangkan ia menganggap dirinya sendiri orang besar dan berharga.

Namun sungguh benar, orang yang demi keagungan Allah Ta’ala menganggap dirinya kecil dan hina, Allah Ta’ala sendiri akan menjadikannya besar dan terhormat. Ingatlah baik-baik! Tidak ada orang yang menjadi besar selama ia tidak membuat dirinya merasa kecil dan lemah. Itulah sebuah sarana yang karenanya seberkas cahaya turun kedalam lubuk hati orang seperti itu dan ia ditarik kearah Allah Ta’ala. Di masa lampau berapa banyaknya wali-wali telah berlalu di dunia ini dan sekarang ratusan ribu orang mengenal dan menghormati mereka. Sebab, mereka menganggap diri mereka hina bahkan lebih hina dari seekor semut. Karenanya, karunia Allah Ta’ala turun kepada mereka dan mereka dianugerahi martabat ruhani luhur yang menjadi hak mereka. Takabbur, sombong dan akhlaq-akhlaq buruk juga jika terdapat pada diri mereka akan merupakan bagian dari pada syirik. Oleh sebab itu, orang yang terlibat di dalam moral yang buruk seperti itu tidak akan mendapat bagian dari karunia Allah Ta’ala. Bahkan, ia akan selalu luput dari padanya. Sebaliknya orang yang miskin dan selalu merendahkan diri menjadi pewaris kasih sayang Allah Ta’ala.”[8]

Selanjutnya beliau as bersabda kepada tiga orang yang datang untuk Baiat. Setelah menerima Baiat mereka, beliau bersabda kepada mereka, ”Orang yang sudah melakukan baiat jangan hanya percaya bahwa Jemaat ini adalah benar dan dengan itu dapat memperoleh berkat dari padanya. Hanya dengan percaya saja Allah Ta’ala tidak gembira jika tidak berbuat amal saleh. Apabila sudah masuk kedalam Jemaat ini harus berusaha menjadi orang baik, menjadi orang bertaqwa, menjauhkan diri dari setiap keburukan. Lewatkanlah waktu dengan doa-doa, sibukkanlah diri siang malam dalam berzikir kepada Tuhan. Apabila sudah tiba waktu turunnya cobaan, kemurkaan Tuhan juga berkobar. Dalam keadaan demikian panjatkanlah doa-doa, banyak-banyaklah memberi sedeqah, berkatalah benar dan lemah-lembut, biasakanlah membaca istighfar, panjatkanlah doa-doa di dalam sembahyang. Hanya menyatakan diri beriman tidak akan membawa faedah. Jika setelah seseorang beriman kemudian melupakan semua janji-janji Baiat tidak akan mendatangkan faedah sedikitpun kepadanya. Jika ada yang mengeluh bahwa tidak dirasakan ada faedahnya setelah Baiat, sebab Allah Ta’ala tidak senang hanya dengan menyatakan Baiat saja, Dia menghendaki amal nyata.”[9]

Dalam menarik perhatian terhadap amal saleh Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Pahamilah bahwa selama di dalam diri kalian tidak terdapat kebaikan dan amal saleh, hanya beriman belaka tidak membawa faedah apapun. Apabila seorang dokter menuliskan sebuah resep dan memberikannya kepada seorang pasien, tujuannya ialah supaya pasien itu harus mengambil obat sesuai dengan yang telah dituliskan resepnya kemudian obat itu diminum. Jika ia tidak menggunakan obat itu, apa faedahnya ia hanya memegang resep tersebut?”

”Sekarang kalian sudah bertobat, maka Allah Ta’ala ingin membuktikan sampai dimana kalian membersihkan diri kalian setelah melakukan tobat ini. Di zaman sekarang ini Allah Ta’ala ingin membedakan kalian berdasarkan Taqwa. Banyak manusia yang mengajukan keluhan kepada Allah Ta’ala dan mereka tidak melihat bagaimana keadaan tanggung jawab diri sendiri. Manusia melakukan kezaliman terhadap dirinya sendiri sedangkan Allah Ta’ala Maha Pemurah dan Maha Penyayang.”[10]

Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda, “Orang-orang yang masuk kedalam Silsilah (Jemaat) ini dan menjalin hubungan persaudaraan dengan saya dan menjadi murid saya, tujuannya tidak lain adalah agar mereka berperilaku baik, menjadi orang baik, memperoleh derajat taqwa yang tinggi, tidak ada kerusuhan atau perbuatan buruk yang mempengaruhi mereka. Mereka harus patuh menunaikan shalat fardu lima waktu, tidak berkata dusta, tidak menyakiti hati orang melalui mulut mereka, tidak terlibat di dalam suatu perbuatan buruk. Mereka tidak melakukan suatu kejahatan, kezaliman, kerusuhan, dan tidak sampai timbul pikiran untuk melakukan huru-hara. Pendeknya, mereka tidak melakukan maksiat, perbuatan dosa, tidak melakukan kejahatan melalui lisan maupun perbuatan dan menghindarkan diri dari semua jenis dorongan nafsu dan perbuatan sia-sia. Mereka menjadi hamba Allah yang berhati bersih tanpa keburukan dan menjadi hamba Allah yang rendah hati dan tiada unsur beracun di dalam tabiat mereka.”[11]

Ringkasnya, inilah nasihat-nasihat yang harus senantiasa kita ingat setiap waktu di dalam benak kita. Inilah perkara-perkara yang akan membuat dahan-dahan subur menghijau dari pohon Hadhrat Masih Mau’ud as dan dengan itu tujuan baiat kita akan menjadi sempurna. Itulah sarana-sarana untuk membuat kita mampu meraih kecintaan Allah Ta’ala dan dengan amal-amal saleh itulah kita akan mampu menarik perhatian dunia kearah kita. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita orang-orang Mu’min sejati yang dikenal karena iman dan amal-amal salehnya dan semoga kita menjadi peraih qurb Allah Ta’ala.

Setelah shalat Jumat, saya hendak mengimami shalat jenazah satu jenazah, yaitu jenazah Mukarram Rasyid Ahmad Khan Shahib ibni Mukarram Muhammad Iqbal Khan Shahib Marhum yang tinggal di Inner Park, London. Beliau wafat pada tanggal 16 September di usia 91 tahun. إنا لله وإنا إليه راجعون Inna lillaahi wa inna ilaihi raji’uun. Almarhum lahir di Agra, India. Beliau memulai pendidikan dasar di Qadian. Selanjutnya, beliau datang ke Inggris pada 1955. Di sini beliau bertugas sebagai chief engineer (kepada insiyur) di dalam angkatan laut. Beliau pensiun pada 1980. Ketika tanah Islamabad dibeli pada 1980, Hadhrat Khalifatul Masih ar-Raabi’ menetapkan beliau sebagai nigran (pengawasnya) dimana beliau berkhidmat dengan sangat giat dan rajin. Beliau termasuk penduduk awal Islamabad.

Beliau telah bekhidmat dalam waktu lama sebagai Sekretaris Mal di Spen Valley. Seorang manusia yang mukhlis dan baik hati. Ayahanda beliau, Tn. Iqbal Muhammad Khan berasal dari Gujranwala dan orang yang mukhlis juga. Beliau telah membangun masjid di Jamiah Ahmadiyah Rabwah dan menamainya dengan nama istri beliau, ‘Hasan Iqbal’ . Selain istri beliau, beliau juga mempunyai putra bernama Syamim Iqbal. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau dan memperlakukan beliau dengan maghfirat. Semoga Allah juga memberi taufik kepada putra beliau untuk menjalin hubungan dengan Jemaat secara ikhlas dan setia. Semoga Allah mengilhami keduanya, istri dan anak almarhum agar senantiasa sabar dan berharapan positif. [Aamiin! Alihbahasa Hasan Basri]

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 274-275, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[3] Kitab Futuhul Buldan h. 87-88, bab yaum al-Yarmuk, penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2000. Penulis kitab ini, Ahmad Ibn Yahya al-Baladhuri, wafat antara 278-279 H/892 M, beliau orang Persia dan tinggal di Baghdad.‏

“لما جمع هرقل للمسلمين الجموع وبلغ المسلمين إقبالهم إليهم لوقعة اليرموك، ردوا على أهل حمص ما كانوا أخذوا منهم من الخراج، وقالوا شغلنا عن نصرتكم والدفع عنكم فأنتم على أمركم..
فقال أهل حمص: لولايتكم وعدلكم، أحب إلينا مما كنا فيه من الظلم والغشم، ولندفعن جند هرقل عن المدينة مع عاملكم،

Saat perpisahan dengan penduduk Himsh yang mayoritas Kristen dan Yahudi, Abu Ubaidah memerintahkan pasukan Muslim untuk mengembalikan pajak hasil pungutan dari penduduk karena tidak bisa melindungi mereka. Namun, penduduk Himsh menjawab, “Kami lebih menyukai pemerintahan dan keadilan kalian. Jauh lebih baik daripada keadaan sebelumnya dibawah Romawi yang penuh penindasan dan tirani. Dengan bantuan perwira anda, kami dapat memukul mundur pasukan Heraklius.”

Peristiwa diatas terjadi pada 15 H (636) di masa Khalifah Umar ra. Dalam serangkaian perang dengan Romawi, saat itu pasukan Islam menguasai Himsh (Homs), Damaskus dan Urdun setelah sebelumnya menaklukkan kota-kota lainnya. Heraklius, Kaisar Romawi mengumpulkan para panglimanya dan pasukan yang sangat banyak, melebihi 200.000 orang di Antiokia. Mereka hendak melibas satu per satu pasukan Islam yang jumlahnya jauh lebih kecil dan tersebar di beberapa wilayah.

Niat Heraklius tercium oleh Panglima Muslim lewat kabar dari para informan, termasuk dari informan Kristen dan Yahudi yang memihak pasukan Muslim. Setelah bermusyawarah dengan para panglimanya, Panglima Abu Ubaidah ibn Jarrah bersepakat agar seluruh pasukan Islam di berbagai wilayah, termasuk yang berada di Himsh agar pindah ke Yarmuk yang lebih strategis. Jumlah total pasukan Islam sekitar 40.000 orang berkumpul dan menyatukan diri di sana. Yarmuk juga jalur lewatnya pasukan bantuan dari Madinah. Yarmuk adalah padang terbuka yang luas. Tempat yang memihak bagi pihak Muslim, terutama bagi ribuan pasukan khusus berkuda dibawah Khalid ibn Walid. Sebaliknya, pasukan Romawi memang banyak dan kuat, tetapi gerakannya lebih lambat karena bentuk formasi tempurnya dan seragam berat tentaranya. Sebagian tentara Muslim ada yang membawa keluarganya tinggal di wilayah itu. Kaum ibu/wanita Muslim ikut terlibat di garis belakang bidang pengobatan, konsumsi, air, motivator bahkan beberapa kali juga terpaksa berperang atau bertarung. Sementara kaum wanita dan anak-anak yang tidak bisa berperang diungsikan ke perbukitan yang sulit dijangkau tentara Romawi.

[4]Futuhul Buldan h. 87-88, yaum al-Yarmuk, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2000.

ونهض اليهود فقالوا: والتوراة لا يدخل عامل هرقل مدينة حمص إلا أن نغلب ونجهد.
فأغلقوا الأبواب وحرسوها، وكذلك فعل أهل المدن التي صولحت من النصارى واليهود، وقالوا: إن ظهر الروم وأتباعهم على المسلمين، صرنا الى ما كنا عليه، وإلا فإنا على أمرنا ما بقي للمسلمين عدد، فلما هزم الله الكفرة وأظهر المسلمين فتحوا مدنهم وأخرجوا المفلسين فلعبوا وأدوا الخراج”

Dalam perpisahan dengan Panglima Abu Ubaidah, pihak Yahudi bangkit berdiri dan berkata, “Kami bersumpah demi kitab suci Taurat, tidak ada satu pun Gubernur dari pihak Heraklius yang dapat masuk kota Hims kecuali mereka terlebih dahulu mengalahkan dan menghabisi kami!” Sembari mengatakan ini, mereka menutup gerbang kota dan menjaganya. Penduduk kota-kota lain – yang beragama Kristen dan Yahudi – yang telah takluk kepada pihak Islam, melakukan hal yang sama, mengatakan, “Jika Heraklius dan para pengikutnya bisa mengalahkan orang-orang Islam, kita akan kembali ke kondisi sebelumnya, kalau tidak, kita akan mempertahankan keadaan kita yang sekarang selama kita bersama orang-orang Islam.” Ketika dengan pertolongan Allah, orang-orang Romawi dikalahkan dan kaum Islam menang, mereka (warga kota yang beragama Kristen dan Yahudi) membuka gerbang-gerbang kota, keluar dengan para penyanyi dan pemain musik, bernyanyi dan memainkan alat musiknya, dan mereka membayar kharaj (pajak).

[5] Malfuuzhaat, jilid 6, halaman 425-426, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[6] Riwayat Anas bin Malik dalam ‘Ihya Ulumiddin karya Imam al-Ghazali ditemukan hadits dengan teks berikut, “رب تال للقرآن والقرآن يلعنه”. ’rubba taala lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’. Riwayat hadits lain, “رُبَّ قارئ للقرآن والقرآن يلعنه” ’rubba qaari-in lil qur’aani wal qur’anu yal’anuhu’ terjemahannya, “Banyak sekali pembaca Alqur’an yang bersamaan dengan itu Alqur’an pun melaknatnya.”

[7] Malfuuzhaat, jilid 6, halaman 398-399, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[8] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 400-401, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[9] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 274, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[10] Malfuuzhaat, jilid 4, halaman 275, edisi 1985, terbitan Inglistan.

[11] Majmu’ah Isytihaaraat, jilid dom (II), h. 220, isytihar no. 191