Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz pada 24 Juni 2016 di Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

 

Dalam Khotbah Jumat lalu telah saya sampaikan bahwa Allah menyatakan suatu hal yang penting untuk para pendoa supaya doa-doa mereka dikabulkan oleh-Nya yaitu berdoalah hanya kepada-Nya dan kerjakanlah segala perintah-Nya seraya beriman kepada-Nya dengan sesempurna-sempurnanya dan mengingat bahwa Dia-lah Pemilik Segala kekuasaan. Apa perintah-perintah Tuhan tersebut? Telah saya sebut dalam khotbah yang lalu bahwa Allah telah memberikan kita Kitab agung, yaitu Al-Quran yang berisi semua hukum-Nya, dalam corak الأوامر (perintah-perintah) dan النواهي (larangan atau yang tidak boleh dikerjakan).

Allah Ta’ala berfirman, فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي artinya, hamba-hamba Allah harus menerima semua perintah-Nya yang ada dalam al-Quran yang sebagai hasilnya, doa-doa mereka dikabulkan oleh-Nya dan Dia juga menganugerahi mereka dengan petunjuk yang benar.

Allah berfirman, apakah hasil akhirnya? لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ ‘semoga mereka mendapat petunjuk’ supaya hamba-hamba Allah meraih petunjuk dan juga melihat kedekatan-Nya sebagai hasil petunjuk tersebut maka mereka harus melangkah pada jalan yang lurus, mengerjakan amal saleh, menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan buruk, memahami tujuan dari diciptakannya mereka dan memenuhi janji mereka dengan mengikuti standar akhlak yang tinggi. Mengapakah semua ini disebutkan secara khusus di bulan Ramadhan? Apakah semua itu diperlukan hanya selama bulan Ramadhan? Akankah kita tetap terbimbing selamanya jika kita hanya mengamalkan perintah-perintah Tuhan di bulan Ramadhan saja?

Sesungguhnya, Ramadhan datang untuk mengingatkan kita tentang perkara-perkara tersebut supaya kita mengembangkan diri dan berjuang di bulan ini yang merupakan bulan pelatihan dan pendidikan, atau kita berusaha untuk berjuang, serta berupaya dan mencari jalan kedekatan kepada Allah Ta’ala dengan saling menyaksikan satu sama lain. Sebagian dari kalangan kita, dibandingkan sebagian orang kita yang lain sangat bagus dalam hal amal salehnya, dalam hal ibadahnya dan dalam hal akhlaknya. Selama hari-hari ini, kita bersama-sama dan berkesempatan untuk saling mengamati satu sama lainnya, karena itu kita menjadi peduli akan perbaikan keadaan diri kita sendiri, mendekatkan diri dengan Allah dengan mengikuti perintah-Nya, baik secara individu maupun bersama-sama dan mencoba memperoleh ‘standar pengabulan doa’ supaya memperoleh Qurb-Nya selamanya harus menjadi baik di dunia ini dan juga di akhirat.

Ada perintah yang tak terhitung banyaknya di dalam al-Quranul Karim yang berisi tentang perintah-perintah Allah dan larangan-larangan-Nya dimana kita sesekali harus teliti membacanya. Pada kesempatan ini saya telah menyeleksi beberapa diantaranya. Pertama dan paling utama yang kita harus selalu ingat dan ini pun merupakan tujuan diciptakannya kita yaitu beribadah kepada Allah sebagaimana firman-Nya, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ yang juga Hadhrat Masih Mau’ud as telah jelaskan sebagai berikut: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaKu” (51:57).[1]

Saya telah mengulangi tema ini berulang kali dan saya arahkan perhatian terhadapnya berkali-kali dan menyoroti masalah ini namun banyak dari kita hanya ingat beberapa hari saja setelah itu melupakannya. Saya banyak tahu orang seperti itu. Telah saya lihat sebagian dari mereka yang telah mewakafkan kehidupan mereka, mempelajari ilmu-ilmu agama, mengimani dan memahami pentingnya hal ini tapi tidak memperhatikan hal tersebut sebagaimana seharusnya. Mereka harus memperhatikan hal ini.

Kemudian, terdapat para pengurus yang mencoba untuk menunjukan kekuatan pengetahuannya di beberapa pertemuan tetapi apabila diajukan bahasan seseorang yang menerangkannya dari sudut pandang al-Quran dan Hadits; beberapa dari mereka tidak mematuhi perintah dasar ini sebagaimana mestinya. Pada titik pandangan ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Pahamilah dengan baik bahwa tujuan Allah menciptakan kalian yaitu agar beribadah hanya kepada-Nya saja. Janganlah kalian menjadikan dunia sebagai kecemasan dan tujuan terbesar kalian. Saya katakan pada kalian lebih dari sekali ini, sebab saya lihat inilah perkara yang untuk itu manusia diciptakan, dan juga yang manusia menjauhinya.”[2]

Beliau as telah menjelaskan bahwa hal itu bukan berarti kita tidak perlu mengerjakan hal-hal duniawi. Kita boleh melakukannya namun kita harus menjadikan kewajiban ibadah sebagai prioritas utama karena itulah tujuan dan maksud diciptakannya kita.

Hari-hari sekarang ini di bulan Ramadhan, hal tersebut secara umum sedang dilaksanakan. Di negara-negara Barat waktu Isya pada akhir malam, sekitar 11 malam sampai dengan jam 11 malam lebih seperempat hingga shalat selesai. Sebagian orang lagi melanjutkan dengan melaksanakan Tarawih karena dilakukan di masjid dan saat mereka pulang ke rumah selepas Tarawih waktu sudah tengah malam. Bersiap untuk tidur menjelang pukul 12.30 dini hari. Kemudian mereka bangun Sahur sekitar jam 2 dini hari atau 02.30 dan banyak dari mereka melaksanakan shalat Nawafil. Selanjutnya, mereka datang ke masjid untuk Shalat Shubuh berjamaah. Hal ini membuktikan jika seseorang bertekad kuat dan tidak hanya semata-mata merasa cukup mengetahui pentingnya pengetahuan tersebut, bahkan berupaya praktis maka mereka tidak akan memperlihatkan kemalasan terhadap shalat yang merupakan puncaknya Ibadah, melainkan akan bersungguh-sungguh dalam hal itu.

Penegakan shalat berjamaah di masjid itu termasuk juga hukum-hukum Allah. Maka dari itu, di bulan Ramadhan ini, mereka yang telah mendedikasikan (mewakafkan) hidup mereka, yang berjanji akan berusaha keras dengan semua sumber daya mereka untuk lebih mengutamakan agama daripada urusan-urusan duniawi, harus menjadi teladan pelari terdepan diantara mereka yang mendahulukan kepentingan agama dibanding duniawi.

Dan juga, para pengurus yang mana para anggota memandang mereka dan telah memilih mereka karena menganggap mereka lebih baik dari antara anggota umumnya, harus menjadi teladan bagi para anggota. Para pengurus berusaha hingga derajat yang setinggi-tingginya dan bukan hanya selama Ramadhan mereka perlu memfokuskan diri beribadah sesuai ketentuan Allah.

Mereka tidak menghitung hari yang telah mereka lewati sambil mengatakan, “Kini hanya tersisa tiga belas atau dua belas hari lagi, kemudian kita akan kembali kepada rutinitas kita atau kebiasaan lama kita.” Melainkan, mereka harus berusaha untuk menjadikan pelatihan dan perjuangan di bulan Ramadhan ini berupa memperelok perhatian mereka terhadap ibadah menjadi bagian dalam kehidupan mereka secara permanen. Mereka juga harus menjadi teladan dalam pengamalan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah saya sampaikan dan di dalamnya beliau as mengarahkan perhatian ke arah ini dan berkata dengan keprihatinan yang kuat, “Saya katakan kepada kalian hal ini berkali-kali.”

Saya akan menyajikan kutipan-kutipan lainnya dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang menjelaskan tentang perkara tersebut. Hadhrat Masih Mau’ud as pada satu tempat bersabda, “Seorang yang beriman tidak perlu menjadikan sesuatu yang lain sebagai tujuannya karena tujuan Tuhan untuk menciptakan manusia hanya untuk beribadah kepada-Nya. Pemenuhan hak bagi dirinya sendiri adalah benar namun sikap yang tidak tepat adalah tidak benar. Sebab dibalik pemenuhan hak-hak diri manusiawi ialah supaya jiwa mereka tidak melemah sehingga tersia-siakan. Kalian harus memanfaatkan hal-hal ini untuk sebab satu-satunya, yaitu memungkinkan kita agar tetap beribadah dan bukan untuk menjadikannya tujuan hidup.[3]

Dalam Hadits juga terdapat penjelasan tentang memenuhi hak-hak jiwa. Hadhrat Rasululah saw bersabda, لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا “Diri kalian memiliki hak atas kalian.”[4]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Pemenuhan hak atas diri sendiri harus dikerjakan dengan i’tidaal (seimbang dan tidak berlebihan).” Kita juga harus memenuhi hak-hak jiwa sebagaimana yang disyariatkan. Sebab, kita harus mengerjakannya demi kebaikan diri kita sendiri karena ada hal-hal tertentu yang ketika tidak bekerja sepenuhnya maka beberapa indra tertentu pun akan bekerja di luar dari tindakannya. Suatu keharusan untuk menggunakan karakteristik dan kekuatan yang dianugerahkan Tuhan bersamaan dengan maksud dan tujuan beribadah; dan tidak menggunakannya akan menjadi sebuah pengingkaran (ketidakbersyukuran) atas nikmat-nikmat-Nya.

Hal demikian karena Allah Ta’ala telah meletakkan naluri-naluri ini dalam fitrat manusia. Maka dari itu, penunaian hak-haknya adalah suatu hal yang sangat diharuskan walau bagaimana pun keadaannya. Carilah keuntungan darinya dan pergunakanlah itu semua. Jika tidak, maka akan ada beberapa hal yang jika tidak dipergunakan dan dipenuhi hak kejiwaannya akan melemahkan sebagian dari indra-indra yang akibatnya tidak akan mencapai tujuan akhir penciptaan manusia. Mengambil manfaat dari itu semua adalah suatu keharusan untuk mencapai tujuan penciptaan insan. Suatu keharusan pula untuk mendayagunakan kemampuan dan kekuatan yang telah Allah ciptakan. Bila tidak menggunakannya maka itu ingkar terhadap nikmat-nikmat Allah.

Ada sahabat wanita Rasulullah saw (Khaulah binti Hakim) yang selalu berpenampilan buruk. Ia tidak pernah berdandan atau menyisir rambutnya. Seseorang (Hadhrat Aisyah rha) memberitahu Rasulullah saw atas kelakuannya tersebut. Ketika Rasulullah saw menanyakan kepada sahabat wanita tersebut mengenai hal itu, sang sahabat wanita pun menjawab, “Mengapa saya harus berhias diri sedangkan suami saya sibuk dalam beribadah siang dan malam.” Rasulullah saw memanggil suaminya (Utsman bin Mazh’un) dan bersabda kepadanya, لِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ “Diri engkau mempunyai hak yang harus engkau tunaikan. Istri engkau pun memiliki hak yang harus engkau penuhi.”[5]

Semua jenis pemenuhan hak memang harus diperhatikan. Tetapi, seseorang harus senantiasa menempatkan tujuan penciptaannya di benaknya. Kesehatan akan terjaga dan ibadah-ibadah yang dilaksanakan pun akan baik jika hak-hak atas diri sendiri terpenuhi. Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Penggunaan yang tidak semestinya (berlebihan) akan merubah sesuatu yang halal menjadi haram. Firman-Nya وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ‘Manusia diciptakan hanya untuk beribadah kepada Allah.’ Jelas bahwa untuk memenuhi tujuan ini jika sesuatu diambil lebih daripada yang seharusnya, maka sesuatu yang halal yang diberikannya tersebut menjadi haram karena kelebihannya itu.

Bagaimanakah seseorang yang menghabiskan sepanjang waktu dalam kesenangan duniawi dapat beribadah sesuai dengan waktu-waktunya dan memenuhi hak ibadah? Penting kiranya bahwa orang beriman harus menghadapi sejenis kegetiran dalam hidupnya, sebab ia tidak bisa melakukan hak ibadah apabila ia terus terlibat dalam kemewahan dan kesenangan hidup sepanjang waktunya.”

Lantas beliau as bersabda, “Tujuan hakiki penciptaan manusia adalah agar dia mengenali Tuhannya dan menaati-Nya. Sebagaimana firman-Nya, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ Tetapi, sangat disayangkan banyak yang ketika beranjak dewasa tidak memahami tanggungjawab dan merenungkan tujuan asli penciptaan mereka, malah condong kepada harta duniawi dan keagungannya sampai derajat mencampakan Tuhan atau tidak menyisakan sedikit pun dalam hati mereka. Ketika mereka begitu terlibat dan tenggelam dengan duniawi sehingga lupa akan keberadaan Tuhan. Tetapi, mereka baru menyadarinya di saat kematian dan ruh-ruh mereka tengah ditarik.”[6]

Maksudnya, saat hendak mati baru mereka meninggalkan keduniaan, bahkan mayoritas orang duniawi masih memikirkan harta bendanya hingga saat kematiannya. Tetapi, orang beriman tidak berlaku seperti itu. Banyak juga orang yang lupa tujuan hidupnya di kala sehat sedangkan ia orang beriman tetapi pemikirannya melekat pada tujuan-tujuan duniawi sja. Kita semua harus lebih khawatir perihal supaya menjadi orang-orang yang memenuhi tujuan hidupnya dan penciptaannya. Selama dan setelah Ramadhan kita harus fokus dalam beribadah kepada Tuhan dan karena tujuan ini lah kita harus berpikir tentang perintah mengenai mengisi dan meramaikan masjid.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Seseorang harus memiliki gairat untuk meraih Qurb Ilahi, yang akan membuatnya berharga di mata Tuhan.” Jadi jika seseorang menjadi bernilai di pandangan Tuhan, ia akan mendapatkan petunjuk yang benar.

Allah Ta’ala telah berfirman dalam surah An-Nur (24:38), رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ الْقُلُوبُ وَالأَبْصَارُ “Orang laki-laki yang perniagaan dan jual-beli mereka tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah dan mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut pada hari, ketika hati dan mata mereka penuh dengan ketakutan.”

Dalam ayat ini ada contoh bagi mereka, orang-orang yang berharga dimata Tuhan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as). Dan perbedaan ini diperoleh oleh para sahabat Rasulullah saw lebih daripada siapapun. Mereka menjadi kekasih Allah dan untuk mereka Rasulullah saw bersabda bahwa mereka adalah panduan kalian ke jalan itu maka ikutilah mereka. Hadhrat Masih Mau’ud as mengutip contoh dari kitab “تذكرة الأولياء” Tadzkiratul Auliya tentang beberapa orang yang sibuk dalam bisnis, berurusan dengan ribuan rupiah namun tidak melupakan Tuhan meski untuk sesaat sekalipun.

Keberhasilan tertinggi seseorang adalah tetap sibuk dalam urusan duniawi dan juga tidak pernah melupakan Tuhan. Sebuah kuda muatan tidak akan berguna jika berlari di saat tidak ada muatan namun berjalan ringan, duduk atau terjatuh di saat penuh muatan! Seorang fakir (petapa) yang meninggalkan duniawi karena pekerjaan-pekerjaan (berupa ibadah) yang ia terlibat di dalamnya malah menunjukan kelemahannya.

Tidak ada petapaan di dalam Islam. Saya tidak pernah berkata bahwa tinggalkanlah wanita dan anak-anak serta berhentilah dari pekerjaan duniawi. Tidak! Tetapi saya katakan, para pekerja harus memenuhi kewajibannya dan para pedagang harus melakukan bisnisnya namun mereka harus tetap mengutamakan agama daripada dunia. Keduanya harus berjalan beriringan.[7]

Allah berfirman tentang penjagaan shalat-shalat, حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلاةِ الْوُسْطَى وَقُومُوا للهِ قَانِتِينَ “Jagalah shalat-shalat kalian dan shalat yang tengah-tengah. Dan berdirilah di hadapan Allah dengan patuh.” (Surah Al-Baqarah, 239) Ayat ini mengandung pengarahan perhatian pada penjagaan shalat-shalat kita, khususnya yang sulit dari shalat tersebut. Contohnya, jika dikarenakan sahur yang lama di malam hari, atau karena kemalasan, atau berat melaksanakannya tepat waktu, menjadikan kita sulit untuk shalat subuh berjamaah, maka shalat Shubuh itulah yang menjadi shalatul wushtha (fokus dalam shalatnya).

Apabila seorang pedagang karena pekerjaannya lalu Shalat Zuhur dan Ashar menjadi sulit untuk dia laksanakan maka kedua shalat itulah yang menjadi shalatul wushtha (titik sentral) dalam shalatnya. Makna dari ‘haafizhuu’ (memelihara) artinya melindungi sesuatu dan menyelamatkannya dari hal yang sia-sia. Maka dari itu, ketaatan seorang beriman terbukti apabila ia mengerjakan shalat tepat waktu dan menunaikan hak-hak shalat dan tidak melakukan sujudnya seperti orang yang sedang memukul-mukul tanah dengan kepalanya begitu cepat lalu ia keluar dari tempat shalat.

Kemudian, ada perintah lainya dalam Al-Qur’an perihal memenuhi dan mematuhi perjanjian yang dilakukan diantara kalian. Termasuk di dalamnya ikatan dengan Allah dan perjanjian dengan manusia. Janji dengan Allah berkaitan dengan agama Allah. Yaitu janji seseorang untuk menggabungkan diri dengan Islam. Setelah Islam, kemudian ada kewajiban untuk berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang dijanjikan secara khusus oleh para Ahmadi, dan berikrar untuk mengutamakan agama diatas dunia, beramal diatas ajaran Islam dan memenuhi kewajiban kita kepada Tuhan. Dan juga menarik perhatian kita akan kewajiban kita kepada hamba-Nya.

Syarat-syarat baiat mengandung hal-hal yang mengarahkan perhatian kita pada penunaian hak-hak Allah. Kita harus memperhatikannya secara sungguh-sungguh. Allah berfirman di dalam al-Quran (16:92), وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللهِ إِذَا عَاهَدْتُمْ وَلا تَنْقُضُوا الأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ اللهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلا إِنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ “Dan sempurnakanlah perjanjian dengan Allah apabila kamu telah berjanji, dan janganlah kamu melanggar sumpah-sumpah setelah diteguhkannya, padahal telah kamu jadikan Allah sebagai jaminan atas kamu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Hal yang jelas, sangat jelas ialah pemenuhan dua perjanjian. Pertama, janji kepada Allah, beramal sesuai ajaran Islam lalu janji baiat. Janji itu ialah, “Saya setelah masuk Islam dan disebut (menyebut diri) sebagai orang Muslim akan berlaku sesuai perintah-perintah Allah sepenuhnya.”

Hal kedua yang disebutkan di sini ialah pemenuhan perjanjian-perjanjian dan kesepakatan-kesepakatan yang terjadi diantara kalian. Memang benar di saat seseorang menjadikan Allah sebagai jaminan dalam sebuah urusan, mau tak mau harus dia penuhi. Namun, hal ini bukan berarti saat kalian tidak mengucapkan nama Tuhan dengan jelas (dalam sebuah perjanjian) sebagai penjamin, kalian dapat melanggar perjanjian kalian dan hal itu tidak apa-apa. Itu bukan berarti tidak apa-apa juga merusak sumpah dan janji. Tidak demikian! Melainkan, pertama, setiap perjanjian yang dibuat harus berdasarkan pada keadilan dan kebenaran. Inilah pula yang Allah perintahkan kepada kita. Orang-orang beriman harus berpegang teguh pada keadilan dan kejujuran senantiasa.

Dalam kata lain, kita harus berpegang teguh pada keadilan dan kejujuran baik saat berjanji dan bersumpah itu atas nama Allah atau pun tidak. Dikarenakan Allah mengajarkan kita untuk berpegang teguh pada keadilan dan kejujuran di setiap keadaan, maka itu berarti setiap perjanjian yang didasarkan pada keadilan dan kejujuran berada dibawah garansi (jaminan) dari-Nya. Ada satu keperluan untuk memahami tema ini bagi setiap orang beriman supaya memenuhi tiap janjinya. Jika saja arti penting dan kenyataan dari hal ini dipahami maka masyarakat dapat dibersihkan dari segala jenis perselisihan, penipuan dan tuduhan.

Problem di tengah-tengah keluarga muncul karena ada perjanjian yang dilanggar. Saya telah mengamati baru-baru ini bahwa insiden melanggar perjanjian, menipu dan tidak memenuhi janji lisannya meningkat karena keserakahan duniawi bahkan diantara kita sendiri. Insiden-insiden seperti ini bukan hanya membawa buruk nama Jemaat kita tapi juga kadang beberapa orang dari kita kehilangan keimanan mereka (menjauh dari Jemaat). Ketika seseorang melanggar janjinya, ia bergantung pada kebohongan. Allah melarang dusta dengan peringatan yang keras.

Allah berfirman (22:31), فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ “Maka dari itu jauhilah kenajisan berhala, dan jauhilah ucapan-ucapan dusta.” Perihal hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Saya tidak perlu menasehatkan pada kalian dalam hal ini supaya jangan menumpahkan darah atau melakukan pembunuhan, tidak ada yang mengangkat tangannya untuk menumpahkan darah dengan lalim kecuali bagi orang yang begitu jahat. Namun saya katakan bahwa janganlah membunuh kebenaran dengan menuntut ketidakadilan. Terimalah kebenaran meski seorang anak kecil yang mengatakan itu. Janganlah keras kepala. Andai kalian menemukan kebenaran dari sisi lawanmu, tinggalkan logika kering kalian dan terimalah kebenaran tersebut. Teguhlah dan bersaksilah dengan kebenaran sebagaimana firman-Nya, فَاجْتَنِبُوا الرِّجْسَ مِنَ الْأَوْثَانِ وَاجْتَنِبُوا قَوْلَ الزُّورِ. Dusta sama seperti menyekutukan Allah Ta’ala. Segala sesuatu yang membawa kalian jauh dari kebenaran adalah berhala. Tetap teguhlah dan bersaksilah dengan kebenaran tersebut bahkan jika itu bertentangan dengan ayah, saudara maupun kawan-kawan kalian. Apakah ada kedegilan yang lebih berat daripada mereka yang menjadikan kebohongan sebagai orbit kehidupan mereka. Tetapi, saya katakan dan saya tegaskan pada kalian bahwa kejujuran-lah yang menolong kalian hingga akhir. Di dalamnya ada kebaikan dan pertolongan.”

Kemudian, lebih jauh Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Allah mengibaratkan kebohongan itu seperti penyembahan berhala. Seperti seorang bodoh yang meninggalkan Tuhan dan bersujud di depan sebuah batu, begitu pula yang dilakukan seseorang yang meninggalkan kejujuran dan jalan kebenaran serta membuat sebuah berhala kedustaan, berpikiran bahwa ia akan memperoleh tujuannya dengan jalan seperti itu. Atas dasar itu, Allah telah memperhitungkan kedustaan seperti penyembahan berhala dan menyebut hubungan diantara keduanya. Tiap kali penyembah berhala mencari keselamatan dengan dari berhalanya, demikian pula seorang yang berdusta bahwa ia menyangka akan mendapatkan keselamatan lewat dustanya itu.

Sebuah penyakit telah menjangkiti kita yang ketika kita meminta seseorang untuk meninggalkan kotoran dusta ini, ia berkata, ‘Bagaimana saya dapat bekerja tanpa hal tersebut?’

Namun beliau as ingin meyakinkan kita bahwa itu adalah kebenaran yang berlaku di akhir ini. Ingatlah! Tidak ada yang tercela dari itu seperti halnya kebohongan (Dusta).

Biasanya orang-orang duniawi (materialis) mengatakan, ‘Mereka yang berbicara kebenaran akan ditangkap.’ Namun bagaimana bisa saya menerima hal ini? Sedangkan tujuh tuntutan hukum yang diajukan kepada saya, dengan karunia Allah, saya tidak pernah memerlukan kebohongan bahkan satu ucapan dusta sekalipun, dan tidak pernah kalah dalam kasus-kasus tersebut. Beritahukanlah pada saya apakah saya menderita dengan hebat karena satu saja dari kasus itu? Allah Ta’ala Sendiri yang akan mendukung orang benar dan menolongnya dari pihak-Nya. Apakah mungkin orang jujur akan dihukum? Jika terjadi bahwa kejujuran telah dilakukan tapi ia mendapatkan hukuman, maka tidak ada seorangpun yang akan berkata jujur. (Jika orang-orang yang berkata jujur di dunia dihukum maka takkan ada seorang pun yang berkata benar di dunia ini.) Guna meninggikan iman kepada Allah ketika orang-orang benar wafat, mereka pun hidup.”

“Sebenarnya, sebagian orang yang dihukum meski sudah berbicara benar, maka itu bukan disebabkan karena kejujurannya secara langsung, melainkan akibat sebagian perbuatan buruk mereka lainnya yang tersembunyi yang tengah dilakukannya atau kedustaannya yang lain. Allah Ta’ala tahu betul mata rantai keburukan dan kejahatan mereka, yaitu mereka telah biasa melakukan kesalahan lain yang banyak sehingga dihukum atas dasar itu.”[8]

Maka dari itu, bersujudlah dengan kerendahan diri di hadapan-Nya, kita harus senantiasa beristighfar supaya kita tidak ditangkap oleh Allah dalam hukuman atas perbuatan buruk kita yang tersembunyi. Inilah yang Allah perintahkan kepada kita dan Dia menjelaskan mengenai tanda orang yang bertakwa, وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ “Mereka menahan amarah mereka dan memafkan orang lain.” (Surah Ali Imran, 3:135) Memaafkan artinya benar-benar melupakan kejahatan yang dilakukan orang lain terhadap dirinya dan mengampuninya. Inilah arti ‘afwun. Oleh karena itu, orang bertakwa bukan hanya menahan amarah saja lalu cukup, tetapi juga ia memaafkan orang lain sampai-sampai ia melupakan keburukan yang orang lain timpakan kepadanya.

Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan keuntungan menahan amarah, “Kita harus ingat bahwa ada permusuhan yang sangat sengit dan berbahaya antara aql (intelektualitas, kecerdasan) dan kemarahan. Ketika nafsu dan amarah menguasai seseorang maka intelektualitasnya tidak akan bisa benar. Namun, orang yang bersabar dan menunjukan teladan kesabaran dan kelunakan hatinya, akan dianugerahi cahaya cemerlang yang kemudian menciptakan cahaya baru dalam kekuatan kecerdasan (intelektualitas) dan daya pikirnya. Kemudian cahaya tersebut terjaga tetap terang dan ia dihasilkan dari cahaya. Sedangkan, dalam kondisi amarah dan nafsu, itu akan membuat gelap hati dan pikiran, selanjutnya, kegelapan ini akan mengarah pada kegelapan yang lain lagi.[9]

Selanjutnya beliau as bersabda, “Ingatlah! Orang yang dalam kondisi keras dan jatuh kedalam kemarahan, dari pembicaraannya tidak akan keluar ma’rifat (wawasan ilmu pengetahuan) dan hikmat kebijaksanaan. Orang yang hatinya cepat marah akan kehilangan hal-hal yang berhikmat dibandingkan dengan lawannya. Lidah orang yang biasa berkata-kata kotor dan liar tanpa kendali akan kehilangan dan tidak mendapat bagian dari sumber mata air lathaa-if (kehalusan dan kelembutan). (Jika dari mulut seseorang terus saja keluar kata-kata kotor, vulgar dan caci-maki dan tidak bisa menahan diri sendiri maka ia akan kehilangan ucapan kebaikan, hal-hal baik dan yang disenangi oleh Allah Ta’ala. Orang seperti itu terus saja dalam kevulgaran)

Kemarahan dan hikmat kebijaksanaan tidak bisa tinggal bersama. Orang yang dalam keadaan maghdhuubul ghaddhab (cepat marah) itu punya akal yang tumpul dan pemahamannya tidak tepat. (Dalam kondisi marah maka kapabilitas dan kekuatan berpikir seseorang menjadi luntur dan ia bersifat kekanak-kanakan atau berpikir yang tidak-tidak.) Orang yang cepat marah tidak akan meraih kemenangan dan pertolongan dalam kesempatan apa saja. Kemarahan itu setengah kegilaan yang ketika itu memuncak, akan sempurnalah kegilaannya.[10]

Sabda beliau di tempat lain, “Seseorang harus menggunakan kekuatannya secara tepat dan di kesempatan yang benar. Contohnya kekuatan kemarahan. Ketika itu sudah keluar dari ukuran tepatnya maka yang ada ialah kegilaan. Hanya ada sedikit saja perbedaan antara kemarahan dan penyakit gila. Orang yang sangat marah akan kehilangan hikmat kebijaksanaan. Meskipun terhadap orang yang memusuhi, janganlah berbicara kepadanya dengan kemarahan; berbicaralah dengan bijak.”[11] (Artinya, jangan berbicara dengan marah, tetapi berbicaralah dengan bijak meski terhadap pengkritik)

Jadi, ketika pada satu segi, perintah-perintah Allah membawa kita lebih dekat kepada-Nya, pada segi lainnya, perintah itu pun mengangkat tinggi derajat akhlak kita, mempertajam hati kita dan menghidupkan kembali kebijaksanan kita dan dengan hal itu seseorang diselamatkan dari banyak permusuhan dan kerugian. Kita telah perhatikan bahwa orang yang suka marah-marah itu selalunya menimbulkan kerugian, tidak ada manfaat padanya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa ada dua kekuatan yang membuat seseorang menjadi gila. Pertama ialah buruk sangka dan kedua ialah kemarahan jika melebihi proporsinya. Suatu keharusan bagi manusia untuk menyelamatkan diri betul-betul dari prasangka buruk dan kemarahan.[12]

Allah Ta’ala berfirman kepada kita dalam al-Quran untuk menjauhi prasangka buruk, (Surah Al-Hujurat, 49:13) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman hindarilah banyak prasangka karena sebagian prasangka itu dosa. Dan jangan kamu saling memata-matai dan jangan pula sebagian kamu mengumpat sebagian yang lain. Apakah salah seorang kamu suka memakan daging saudaranya yang mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah berulang-ulang menerima taubat dan Maha Penyayang.” Hal pertama yang diperintahkan untuk harus dihindari dalam ayat ini ialah سوء الظن suu-uzh zhann (berburuk sangka). Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Berburuk sangka adalah seperti penyakit dan musibah yang membutakan mata orang dan melemparkannya ke dalam gelapnya sumur kebinasaan.[13]

Ingatlah! Semua keburukan dan kerusakan ditimbulkan dari buruk sangka. Inilah sebabnya, Allah telah melarang keras buruk sangka tersebut. Seorang insan harus menyelamatkan diri dari berprasangka buruk. Jika rasa buruk sangka muncul pada diri seseorang, maka ia harus banyak-banyak beristighfar.” (Artinya jika timbul padanya prasangka buruk terhadap seseorang, maka bukannya menguatkan sangkaan itu dalam hatinya dan memikirkannya atau menyakiti seseorang berdasarkan prasangka itu, melainkan hendaknya ia bersimpuh memohon ampun dan berdoa kepada Tuhan karena telah berpikiran buruk terhadap seseorang.)

“Ia wajib untuk beristighfar sebanyak-banyaknya dan berdoa kepada Allah supaya menyelamatkannya dari dosa dan dampaknya yang serius. Ia harus menjauhi dosa buruk sangka ini dan akibat-akibat buruk sangka. Seseorang harus tidak meremehkan buruk sangka karena itu penyakit yang sangat berbahaya.”[14]

Selanjutnya, hal kedua yang Allah larang dalam ayat ini ialah التجسس tajassus (memata-matai). Artinya, menyelidiki kelemahan seseorang atau memata-matai, mengintai orang lain dan berusaha mencari tahu urusan-urusannya. Atau, berusaha menyadap urusan orang lain yang ia sendiri tidak ingin orang lain tahu tentangnya. Semua itu adalah kesalahan dan akan menimbulkan keburukan lainnya juga.

Perintah ketiga yaitu janganlah ghibat (backbitting, bergunjing, membicarakan orang lain di belakangnya). Bergunjing seperti makan daging saudaranya sendiri yang mati dan kita akan jijik memakannya. Ketika ditanyakan tentang hal itu, يَا رَسُولَ اللَّهِ وَ مَا الْغِيبَةُ ؟ Ya RasuluLlah! Mal ghiibah? “Wahai Rasul Allah! Apa itu ghibat?

 Rasulullah saw bersabda, ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ dzikruka akhaaka bimaa yakrahu.’ “Bergunjing adalah menceritakan hal yang benar tentang seseorang yang jika orang tersebut mendengarnya ia pasti tidak akan menyukainya.” Ditanyakan lagi, يَا رَسُولَ اللَّهِ فَإِنْ كَانَ فِيهِ الَّذِي يُذْكَرُ بِهِ ؟ “Dan bagaimana jika hal yang diceritakan tersebut tidak ada dalam dirinya?” Jawaban Nabi saw, اعْلَمْ أَنَّكَ إِذَا ذَكَرْتَهُ بِمَا هُوَ فِيهِ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ ، وَ إِذَا ذَكَرْتَهُ بِمَا لَيْسَ فِيهِ فَقَدْ بَهَتَّهُ “Ketahuilah jika ia tidak suka dengan apa pun yang kalian bicarakan tentangnya [termasuk hal yang memang benar ada padanya], maka itulah ghibat, jika ia membencinya atas pembicaraan yang tidak benar tentangnya maka itu yang disebut buhtaan (tuduhan atau fitnah).[15] Orang yang beriman tidak mengatakan suatu yang dapat menciptakan masalah atau gangguan atau kerusakan dalam masyarakat. Bahkan, ia akan menjauhi bergunjing atau memfitnah.

Di bulan Ramadhan ketika kita ingin bertakwa kepada Allah, dekat dengan-Nya, dan melihat doa-doa kita dikabulkan oleh-Nya, maka kita harus berusaha keras untuk menjauhkan diri kita dari bentuk kejahatan-kejahatan ini dan berusaha sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya. Semoga Allah menganugerahi kita kemampuan agar dapat melaksanakan perintah-perintah-Nya, semoga kita meraih kedekatan dengan-Nya dan terus melakukan amal saleh bahkan setelah Ramadhan ini berlalu. Semoga kita menjadi hamba-Nya yang sejati dan menjadi orang yang mengikuti-Nya dengan sempurna dan tulus. آمين

Setelah shalat Jumat, saya hendak mengimami shalat Jenazah gaib bagi seorang Syahid yaitu Tn. Choudri Khalique Ahmad bin Choudri Basyir Ahmad dari Ghulzarhijri di Karachi. Beliau syahid pada umur 49 tahun dalam sebuah penembakan dari pihak anti Ahmadiyah yang masuk ke klinik pengobatan almarhum pada jam setengah 10 malam pada 20 Juni 2016. إنا لله وإنا إليه راجعون

Rincian laporan menyebutkan bahwa Chaudhri Khaliq Ahmad telah memperoleh ijazah Diploma dalam bidang kedokteran. Ia telah mendirikan sebuah klinik khusus di dekat rumahnya dengan pengobatan tradisional dan Homoeopathi. Pada hari kejadian, ia dalam kepulangannya seperti biasa ke kliniknya yang terletak di Golzar Hijri setelah berbuka puasa. Saat ia tengah memeriksa dua orang pasien di kliniknya, tepat pukul 9:30 waktu malam datang dua orang tak dikenal mengenakan helm dan pelindung yang lalu menembaki Almarhum. Keduanya melarikan diri setelah Almarhum mereka tembak dengan dua peluru di kepala dan dua peluru di dada.

Pemilik apotek yang terletak dekat dengan klinik dengan segera membawa Almarhum dengan sepeda motor ke rumah Syahid Almarhum dan menjelaskan tentang apa yang telah terjadi. Putra Almarhum datang dengan mobil dan segera membawanya ke rumah sakit terdekat tapi beliau wafat sebelum tiba di rumah sakit. إنا لله وإنا إليه راجعون. Pensyahidan Tn. Daud putra Tn. Haji Ghulam Muhyiddin juga di Ghulzarhijri, daerah yang sama pada 25 Mei lalu.

Ahmadiyah masuk kedalam keluarga Almarhum Syahid melalui kakeknya, Tn. Allah Baksyh dari Amritsar. Keluarga beliau pertama kalinya pindah dari Amritsar ke Gujranwala lalu dari sana ke Rahim Yar Khan. Setelah itu, mereka pindah dari sana ke Syahdaadpur di Sangra. Syahid Almarhum lahir pada 1967 di desa Ahmadpur, dekat Syahdaadpur di Sangra. Beliau kuliah hingga Sarjana lalu pindah ke Karachi hingga mencapai Diploma Kedokteran. Beliau mulai bekerja sebagai teknisi di bidang radiografi di sebuah laboratorium khusus. Seiring dengan itu, ia juga menjaga sebuah klinik pada waktu sorenya. Setelah itu, beliau meninggalkan pekerjaan di laboratorium dan bekerja di kliniknya.

Almarhum Syahid ini istimewa dengan banyak sifat baik, dan ia mempunyai kepedulian untuk bertabligh, ia biasa bertabligh kepada para non Ahmadi di kliniknya juga. Ia disiplin shalat berjamaah. Dia adalah seorang manusia yang penuh kasih kepada orang lain. Selain itu, akrab dengan ibadah nawafil dan banyak beribadah. Dia mengobati orang miskin tanpa biaya. Beberapa orang non-Ahmadiyah mengatakan kepadanya, “Anda seorang Qadiani. Tidak ikhlas sebenarnya kami mendapat obat dari Anda, tapi apa yang dapat kami lakukan. Anak-anak kami tidak akan sembuh, kecuali dengan obat dari Anda.”

Almarhum ikut pada Nizham al-Washiyat, dan terdepan dalam mengkhidmati Jemaat. Beliau dikaruniai tugas sebagai Muhashshil (محصِّل, Pemungut) Candah dan Za’im Majlis Ansharullah. Ia juga sibuk berkhidmat di posisi sebagai Sekretaris Waqf-e-Nou di Jemaat lokalnya sejak 18 tahun terakhir.

Istri Almarhum dan anak-anaknya juga menulis, “Almarhum meminta janji dari anak-anaknya untuk shalat dari usia yang sangat dini. Beliau juga shalat lima waktu pada waktunya. Beliau biasa membaca Quran setiap hari bersama dengan terjemahannya kata demi kata. Beliau biasa mendengarkan khotbah Khalifah juga membuat anak-anaknya mendengarkannya dengan menonton MTA pada pagi hari dan malam.”

Kenyataannya, MTA merupakan sarana cara terbaik jika Anda ingin meningkatkan Tarbiyat keluarga Anda.

Almarhum Syahid biasa membantu warga lingkungannya juga. Istri beliau mengatakan, “Saya melihat dalam mimpi minuman penuh dalam dua gelas sebulan yang lalu dan saya bertanya-tanya, ‘Minuman macam apa ini?’ Mungkin sirup khusus dan istimewa. Dikatakan kepada saya dalam mimpi itu, ‘Ini adalah minuman terbaik di dunia.’ Saya mengerti makna mimpi itu ialah gelas kesyahidan. Beberapa hari sebelumnya, Tn. Daud Ahmad menjadi martir di sana. Beliau tinggal di gang yang sama dan dekat dengan rumah Almarhum Syahid Chowdhury Khaliq Ahmad, dan pengertian dua gelas minuman dalam mimpi itu ialah dua kesyahidan.”

Almarhum Syahid meninggalkan di belakangnya – selain saudara dan saudarinya – istrinya, Bu Busyra Khaliq (بشرى خليق) dan dua putra, yaitu yang tersayang Aniq Ahmad (أنيق أحمد) yang tengah belajar di Jamiah Ahmadiyah Rabwah, dan Rahiq Ahmad (رحيق أحمد) yang belajar di tahun ketiga dalam kedokteran gigi, dan putrinya, Syamailah Ahmad (شمائلة أحمد) yang berusia 16 tahun.

Semoga Allah mengangkat derajat-derajat Almarhum dan menginspirasi anak-anak dan keluarganya dengan kesabaran dan penghiburan serta memberi mereka taufik kebaikan yang berkelanjutan. آمين.

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ ‑ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

[1] Barahin Ahmadiyah, Ruhani Khazain jilid 1, hasyiyah som.

[2] Malfuzhat, jilid awal, h. 183-184, edisi 1985, terbitan UK.

[3] Malfuzhat, jilid 5, h. 248-249, edisi 1985, terbitan UK.

الحكم، مجلد7، رقم12، عدد31/3/1903م، ص6

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Shaum, no. 1968

[5] Musnad Ahmad, baqi Musnad Anshar, Hadits Aisyah, 25776.

[6] Al-Hakam, 24-09-1904, h. 1, j. 8, no. 32, Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as j. 4 no. 239

[7] Malfuzhat, jilid 9, h. 206-207, edisi 1985, terbitan UK.

[8] الحكم، مجلد10، رقم17، عدد 17/5/1906م، ص4

[9] Al-Hakam, (الحكم، مجلد4، رقم17، عدد10/5/1902م، ص5-4)

[10] Al-Hakam, 10 Maret 1903, h. 8, jilid 7, nomor 9, rujukan Tafsir Hadhrat Masih Mau’ud as jilid 2, h. 153.

[11] Al-Badr, البدر، مجلد2، رقم10، عدد27/3/1903م، ص73

[12] Malfuzhat, jilid 6, h. 104

[13] Malfuzhat, jilid awal, h. 100, edisi 1985, terbitan UK

[14] Malfuzhat, jilid awal, h. 371-372, edisi 1985, terbitan UK

[15] Shahih Muslim, Kitab tentang al-Birri wash Shilah, bab tahrimul ghibah, 6593