Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

tanggal 13 Februari 2015 di Masjid Baitul Futuh, Morden, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ[، آمين.

Suatu kali Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ‘anhu menyampaikan satu khotbah sehubungan dengan kelemahan dan kekurangan yang terjadi secara القومية qaumiyah (kebangsaan, umum). Dalam khotbah itu, beliau ra mengarahkan perhatian agar mengenali sebab-sebab kelemahan dan penyelamatan Jemaat dari kelemahan tersebut. Tema ini sangat urgent (mendesak) saat ini oleh karena itu bahasan tersebut hendak saya sampaikan dengan mengambil manfaat dari khotbah beliau ra. Kelemahan dan kekurangan selalu ada dua jenis yakni: pertama, kelemahan secara individu (fardi kamzuriya) dan kedua: kelemahan dan kekurangan secara berkelompok (qaumi kamzuriya aur naqaa-ish). Demikian pula, kelebihan juga memiliki dua jenis yakni secara individu (perseorangan) dan secara kelompok (umum atau banyak orang atau bangsa). Kelemahan dan keburukan pribadi merupakan hal yang berada dalam pribadi secara perseorangan. Namun, secara qaumi (kemasyarakatan) dapat bebas dari kelemahannya itu. Demikian pula, kebaikan, keistimewaan dan kelebihan seseorang. Jika seseorang mempunyainya tidak pula seluruh kaum otomatis tersifati dengan keistimewaan tersebut. Orang-orang dapat menciptakan keistimewaan-keistimewaan atau kelebihan-kelebihan dalam dirinya melalui usahanya dan ilmunya.

Begitu juga sebab-sebab dan latar belakang terjadinya kelemahan ialah keadaan-keadaan setiap orang dan lingkungan tempat ia tinggal. Mengenai kebaikan dan keburukan atau kelebihan dan kelemahan (kekurangan), maka hendaknya senantiasa harus mengingat hal ini bahwa itu semua timbul sebagai akibat dari pengaruh lingkungan. Perumpamaannya ialah sebagaimana suatu bibit (benih) tidak akan bisa tumbuh tanpa adanya tanah, atau di masa sekarang ada sarana dan cara baru [rekayasa genetika pertanian dan sebagainya], yang kenyataannya biji (benih) tersebut memerlukan sarana, suasana dan pemeliharaan khusus. Pendeknya, tanpa sarana itu semua, benih tidak tumbuh. Manfaat dan perkembangan biji apa saja dengan cara yang tepat dan meraih tujuan penanamannya memerlukan pemeliharaan yang juga tepat dan lingkungan yang sesuai. Tanpa itu, meskipun bisa tumbuh sebentar, ia akan mati dengan cepat.

Serupa dengan itu, dalam perkembangan kebaikan atau keburukan faktor pengaruh dan suasana lingkungan adalah satu hal yang mutlak. Maka, kebaikan atau keburukan tidak akan mampu berkembang selama faktor-faktor lingkungan tidak menyediakan suasana yang cocok untuk itu. Lingkungan pun ada dua jenis; satu jenis lingkungan hanya dapat memberikan dampak (pengaruh) pada individu saja dan tidak mempengaruhi setiap orang di dalam suatu kelompok. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menyebutkan sebagai contoh, lahan di tempat-tempat tertentu baik untuk menumbuhkan jenis tanaman tertentu saja. Contohnya Za’faran (kunyit, kurkuma), hanya bisa tumbuh di tempat tertentu di Hindustan saja, bukan seluruh tanah Hindustan. Tumbuhan itu hanya ditanam di wilayah Kashmir, dan bahkan, di Kashmir ini ada satu wilayah khusus tempat Za’faran jenis khusus tumbuh. Suatu jenis yang bermutu tinggi.[1]

Para petani Pakistan dan para pedagang beras pun tahu beras Basmati yang harum baunya terdapat di wilayah Kohler saja namun tanaman padinya tersebut tidak ada di tempat lain di Pakistan. Para ahli pertanian telah membuat berbagai usaha dan percobaan, namun sejauh ini belum berhasil. Ringkasnya, Allah Ta’ala telah menyediakan qanun qudrat (hukum alam) lingkungan dan suasana khusus bagi tumbuhnya biji-bijian tertentu, yang jika diupayakan untuk ada di tempat lain takkan muncul keistimewaan atau kekhasan tersebut. Selanjutnya, bumi atau tanah dan musim serta hal-hal berpengaruh lainnya mempengaruhi biji atau tanaman tersebut. Berlawanan dengan tanaman jenis itu, terdapat sebagian tanaman, contohnya gandum atau jenis tertentu tanaman perkebunan yang dapat ditanam di seluruh wilayah suatu negeri, namun, terdapat jenis variasi yang berbeda dalam hasil panennya.

Kebaikan ataupun keburukan juga berkembang dan menyebarluas sebagai akibat situasi dan pengaruh-pengaruh tertentu di lingkungan kelompok bangsa dan menjadi penyebab bangun dan jatuhnya bangsa-bangsa. Seorang manusia dapat berkembang dan maju melalui usahanya untuk menjauhkan kelemahan atau kekurangannya, bahkan bukan hanya menjauhi keburukan dan memperbaiki diri, ia pun dapat menimbulkan keistimewaan-keistimewaan dalam dirinya. Namun demikian, usaha yang dilakukan oleh satu orang itu tidak dapat cukup kuat untuk menghilangkan keburukan yang terjadi dalam pengaruh lingkungan secara berkelompok. Seorang individu hanyalah satu bagian dari keseluruhan kelompok dan kelemahan yang terjadi pada suatu keseluruhan kelompok tidak dapat diperbaiki hanya melalui perbaikan satu bagian atau satu orang saja. Jika terdapat suatu kerusakan lingkungan di suatu wilayah, maka sebagai dampaknya, semua warga di sana akan terpengaruh.

Kita perhatikan satu perumpamaan lainnya. Jika suatu racun yang sangat berbahaya diminum maka akan berakibat fatal terhadap seluruh bagian tubuh bukan hanya tangan saja, atau kaki saja atau otak saja. Demikian pula makanan yang baik dan sehat juga memberikan pengaruh baik terhadap tubuh seluruhnya. Karena, anggota tubuh itu adalah bagian dari tubuh itu sendiri. Begitulah, racun dan makanan yang baik berpengaruh pada tubuh. Dengan demikian, satu kebaikan ataupun keburukan yang timbul di dalam lingkungan suatu kelompok akan memberikan pengaruh terhadap seluruh bagian kelompok tersebut. Sesuatu yang terjadi secara menyeluruh pastinya berdampak pada semua bagiannya. Pada dasarnya keuntungan dan kerugian yang terjadi secara menyeluruh juga berdampak pada keuntungan dan kerugian bagi setiap individu (setiap orang dari keseluruhan tersebut).

Seorang individu dapat memperbaiki dirinya sendiri namun demi perbaikan keseluruhan (bangsa atau Jemaat), seluruh warga masyarakat (seluruh orang, anggota) harus mengintrospeksi dan mengoreksi diri mereka serta berupaya untuk mengadakan perbaikan bersama-sama dan menyeluruh. Jika secara menyeluruh dan bersama-sama tidak mengadakan usaha menghapuskan keburukan-keburukan; jika secara menyeluruh dan bersama-sama tidak mengadakan usaha perbaikan dan pengobatan, maka kelemahan, penyakit dan keburukan akan timbul secara menyeluruh, dan akan datang masanya ketika itu semua menjadi penyebab kehancuran kaum tersebut.

Ketika menjadi hal yang penting untuk mengadakan introspeksi diri bagi setiap orang, maka juga menjadi hal yang penting pula untuk mengintrospeksi kelemahan-kelemahan yang terjadi di lingkungan kelompok, lalu menganalisa dan mendiagnosanya (menyelidiki dan memeriksa asal, penyebab dan obatnya), mengarahkan perhatian seluruhnya agar memperhatikan dan mengetahui kelemahan itu dan kemudian memperbaikinya. Tidak akan ada kesuksesan tanpa adanya perbaikan secara bersama-sama! Perhatikanlah hukum duniawi, hanya seorang petani saja tidak bisa melindungi tanahnya dari bencana alam, seperti banjir dan sebagainya, dengan cara membuat bendungan dan lainnya. Sebab, pekerjaan besar seperti membuat bendungan adalah pekerjaan sebuah pemerintahan.[2]

Nama dan berdirinya pemerintahan ialah dengan usaha orang-orang kebanyakan dan bersama-sama karena pemerintahan adalah perwujudan masyarakat. Wilayah-wilayah yang pemerintahannya rusak, akan berdampak besar bagi warganya. Banyak pemerintahan berupaya untuk menghindari kerugian akibat bencana alam dan sebagainya. Jika pemerintahan tersebut tidak mengambil tindakan, seperti yang terjadi pada banjir musim panas lalu di Pakistan, orang-orang akan sangat menderita.

Menyelamatkan diri dari bencana alam masih mungkin, namun sangat sulit menyelamatkan diri dari sebagian bencana alam saat sedang datang. Sebelum sebagian bencana itu datang, dengan bekal pengetahuan atau informasi, mereka dapat menyelamatkan diri. Namun, karena ketidakpeduliannya, orang-orang tidak menaruh perhatian dan akhirnya menderita kerugian karena bencana itu. Jika bangsa atau pemerintah tidak peduli dan tidak mengambil langkah-langkah pencegahan dan tidak sungguh-sungguh dalam berbuat demikian, maka kerugian yang dialami masyarakat akan semakin hebat. Tanpa itu, maka akan terjadi kerugian dan bahaya berkali lipat. Inilah yang umum terjadi di dunia jika kita memperhatikannya.

Singkatnya, qaumi ihsaas (solidaritas kebangsaan, kepedulian menyeluruh) adalah mutlak harus ada demi perbaikan. Hadhrat Mushlih Mau’ud as bersabda mengingatkan dan mengarahkan perhatian Jemaat perihal keburukan-keburukan dan bagaimana kita harus memikirkannya. Sabda beliau ra, “Hal ini bisa menjadi bermanfaat jika Jemaat memperhatikan secara khusus dan merenungi kelemahan-kelemahan dari banyak segi dan kemudian memperbaikinya. Ada berbagai macam sarana untuk itu. Berbagai cara dan sarana itu dapat mendiagnosa penyakit-penyakit dalam Jemaat. Setelah mendiagnosa penyakit-penyakit tersebut lalu dilakukanlah pengobatan. Sarana diagnosa pertama ialah perihal ajaran-ajaran apa yang berlaku di suatu bangsa (masyarakat, Jemaat) sehingga setiap mereka menganggap harus melaksanakan atas dasar itu. Jika terdapat suatu keburukan ajaran atau dampak buruk dari ajaran- ajaran itu atau dampak buruk yang terjadi yang muncul dari ajaran-ajaran itu, sebagaimana yang terjadi di banyak agama. Karenanya, keburukan timbul darinya. Berbagai bid’ah (inovasi baru) muncul dalam suatu agama, dan karenanya menyebabkan tersebarnya keburukan. Jika di dalam suatu agama atau kepercayaan, muncul akidah-akidah atau hal-hal yang salah dan keliru, maka itu akan memberikan pengaruh kepada setiap orang yang memeluk atau mengimani agama atau kepercayaan tersebut, dan hal ini juga dapat berpengaruh buruk terhadap kehidupan peradaban dan kebudayaan serta kemasyarakatan.

Bagaimanapun juga, kita adalah umat Muslim. Kita mengimani Al-Quran sebagai firman Allah. Kita percaya bahwa seluruh ajaran Al-Quran adalah tanpa cacat. Tidak mungkin ajarannya menghasilkan pengaruh dan dampak yang buruk, atau tidak mungkin mengarahkan kepada keburukan, karena ajarannya jauh dari setiap cacat, sehingga jelas bahwa hal itu tidak akan menyebabkan hasil yang buruk. Orang-orang Islam (Muslim) beranggapan bahwa tidak mungkin keburukan akan menyusup memasuki mereka. Namun apakah semua umat Islam telah terbebas dari keburukan? Malahan, umumnya umat Islam sekarang ini terlibat dalam tindak keburukan.

Hal ini perlu untuk diketahui bahwa Al-Quran terbebas dari segala kelemahan serta telah membawa syariat agama yang sempurna. Tak terhitung banyaknya apa-apa yang Al-Quran nyatakan telah terjadi. Firman Allah Ta’ala yang mengatakan bahwa ajarannya terbebas dari kekurangan juga benar. Lalu timbul pertanyaan, dimana letak kelemahannya? Tentu kelemahannya dan kesalahannya adalah adanya ketidakbenaran dalam pemahaman ajarannya dan adanya ketidakbenaran atau kesalahan pengamalan ajarannya.

Kendatipun tidak terdapat kelemahan dalam Al-Quran itu sendiri, tapi tanpa diragukan lagi bisa terjadi kesalahan dalam pemahaman dan pengamalan kita. Tidak diragukan lagi, tidak terdapat cacat di dalam Al-Quran, namun suatu bangsa rusak karena keburukan pemikiran dan pemahaman mereka sendiri. Penyebab munculnya berbagai kekeliruan ini ialah karena pemahaman yang buruk dan salah dari ulama perihal Al-Qur’an, baik ulama yang telah lalu maupun yang sekarang. Dampak keburukan pemahaman dan pemikiran para ulama tersebut dapat kita saksikan sekarang di dunia Muslim.

Para ulama dan ahli tafsir masa dahulu memiliki sudut pandang pemahaman mereka sendiri begitu juga ulama di masa kini. Pemikiran dan pemahaman mereka itu secara pribadi namun suatu bangsa atau masyarakat tidak berkata bahwa itu pendapat pribadi para ulama tersebut, melainkan mereka mengikuti begitu saja para ulama itu. Oleh karena itulah, dengan mengikuti orang-orang yang berpemahaman salah itu atau dikarenakan tidak memahami tafsir-tafsir, meskipun telah ada pada mereka sebuah Ajaran Luhur (yaitu Al-Qur’an), tetap saja mereka tidak mendapatkan manfaat dan faedah daripadanya, bahkan mereka menderita kerugian dan kerusakan, lalu karenanya, tersebarlah keburukan di kalangan bangsa tersebut. Kesalahan atau kekeliruan pemikiran dan pemahaman menjadi adat kebiasaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan Islam. Mereka terpengaruh oleh lingkungan sekitar atau karena pengaruh buruk agama-agama lain yang diambil dan diamalkan atau karena pengaruh nilai-nilai kebudayaan yang kemudian secara salah dianggap sebagai bagian dari agama. Kemudian muncul dan berkembang keburukan dan kelemahan karenanya.

Merupakan karunia dari Allah Ta’ala bahwa kita beruntung menjadi bagian dari Jemaat Masih Mau’ud as sehingga riwayat-riwayat lama [yang salah] dan segala tafsir-tafsir yang kosong dari hikmah kebijaksanaan tidak mempengaruhi dan mengesankan kita dan hendaknya jangan sampai mempengaruhi kita. Bagaimanapun juga, kita juga tidak sepenuhnya sudah selamat dan terlindungi dengan adanya berbagai macam orang dengan sudut pandang berbeda-beda masuk ke dalam Jemaat yang dalam beberapa kesempatan dan perkara mereka mengajukan keraguan dan keberatan. Mereka berpendapat, “Tidak apa-apa menjelaskan ini dengan cara demikian.” Beberapa orang Jemaat yang baru masuk, yang dulunya mereka adalah ulama menafsirkan berbagai masalah sesuai dengan pikiran mereka sendiri.

Memang, penafsiran baru itu tidak dilarang; namun ada beberapa prinsip dan kaidah yang perlu diikuti dalam hal ini. Hal demikian karena kekeliruan tersebut dapat menimbulkan kesalahan pandangan, sehingga untuk menyelamatkan diri dari keburukan dan kesalahan, hendaknya para ulama Jemaat (cendekiawan dalam Jemaat, termasuk Muballigh) mengungkapkan pandangan mereka di bawah bimbingan Khilafat dan Nizam Jemaat agar terhindar dari memberikan konsep yang salah. Dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat kita secara umum terbebas dari kesalahan-kesalahan pandangan (pemikiran-pemikiran yang salah), namun ada suatu kebutuhan agar secara terus-menerus memperhatikan hal ini, yaitu terbebas dari kesalahan-kesalahan pemikiran. Caranya ialah kita harus melihat dan merenungkan qaumi naqa-ish (kekurangan atau keburukan bersama, keburukan nasional) yang terjadi pada orang-orang yang hidup di sekitar kita, baik itu mereka yang ada hubungan dengan agama atau tidak; percaya kepada agama atau tidak; percaya kepada Tuhan atau tidak.[3]

Kita juga harus meluaskan pandangan untuk mengamati kelemahan-kelemahan yang terdapat di negeri-negeri tetangga. Bahkan, dunia telah menjadi global village (kampung mendunia). Jarak yang ada di dunia ini telah semakin sempit dengan adanya sarana-sarana modern informasi dan komunikasi. Kita dapat melihat segala kelebihan maupun kekurangan penduduk dunia. Semua orang dapat terlihat dengan jelas dan tentunya satu dengan yang lain akan saling mempengaruhi.

Anak-anak kita pasti dipengaruhi oleh anak-anak di lingkungan tempat kita tinggal. Para orang tua bisa saja menanamkan nilai-nilai mereka kepada anak-anak mereka namun lingkungan juga memberikan pengaruh kepada mereka termasuk yang bersifat keburukan. Anak-anak menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka di sekolah atau bermain bersama teman-teman mereka atau di rumah, tetapi kendatipun di rumah, teman-teman mereka juga dapat menjadi sarana yang bisa memberikan pengaruh buruk kepada mereka dengan adanya sarana televisi dan sebagainya. Dan begitu juga halnya dengan orang dewasa. Begitu juga dengan adanya lingkungan yang rusak. Akibatnya ialah anak-anak tidak mendengar orang tua mereka dan beberapa orang tua berbalik dengan sikap yang tidak baik, aniaya serta menekan anak-anak dan hal ini membuat anak-anak menjadi tidak hormat kepada orang tua.

Kelemahan dan kekurangan ini tidak lagi menjadi kelemahan individu namun sudah menjadi kelemahan/penyakit bersama dan banyak rumah tangga yang menjadi hancur. Para orang tua membunuh anak-anak mereka secara ruhani dan juga jasmani. Beberapa Ahmadi juga sedang terpengaruh oleh penyakit masyarakat dunia Barat yang sedang menuju kehancuran (akhlak dan moralitas). Sebelum kelemahan-kelemahan ini mempengaruhi kita lebih jauh sehingga kita kembali kepada kejahiliyahan setelah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, maka kita perlu memberikan upaya yang lebih keras untuk memperbaikinya.

Seluruh bagian dalam Nizham Jemaat Ahmadiyah ini hendaknya memikirkan secara bersama-sama serta merencanakan upaya menghapuskan penyakit-penyakit dari bangsa-bangsa Barat ini sebelum masuk ke dalam Jemaat kita sebagai penyakit komunal. Kita telah mengambil tanggungjawab untuk menyehatkan dunia seluruhnya. Kita telah baiat (berjanji setia) dan menyatakan untuk mengobati dunia dari segala penyakitnya. Bagaimana hal ini dapat terjadi jika orang-orang yang hendak mengobati dunia malah juga terkena penyakitnya!

Selanjutnya, hal ini pun hendaknya menjadi bahan perenungan kita bahwa kebaikan dan keburukan dapat timbul dalam sesuatu kaum atau bangsa dikarenakan keadaan-keadaan khusus mereka. Hadhrat Mushlih Mau’ud ra memberikan contoh bahwa Jemaat kita, dengan karunia Ilahi, telah tersebar di tiap tempat, dan Dia telah membukakan hati orang-orang yang sejauh-jauhnya untuk menerima Jemaat. Dengan karunia Allah, wilayah keberadaan Jemaat telah sangatlah luas. Dan bersamaan dengan itu, ini merupakan akidah Jemaat bahwa mereka harus tidak akan pernah shalat bermakmum di belakang orang yang bukan Ahmadi. Sebab, Imam shalat bukan Ahmadi tidak menerima Imam Zaman yang diutus oleh Allah Ta’ala. Bukan hanya tidak menerima, bahkan mereka menggunakan bahasa yang keras dalam menentang Imam Zaman tersebut.

Oleh karena itulah, kita tidak akan pernah berusaha mengutamakan para Imam yang ditetapkan oleh manusia diatas Imam Zaman yang telah diutus Allah Ta’ala. Kita tidak akan pernah shalat bermakmum di belakang mereka. Secara umum, Jemaat kita telah mempunyai banyak masjid dan pusat di seluruh dunia sehingga mereka dapat shalat berjamaah, namun ada beberapa wilayah yang hanya ada beberapa rumah Ahmadi saja. Para Ahmadi yang hanya dua atau tiga rumah itu bukannya berkumpul di suatu tempat untuk mendirikan shalat secara berjamaah, mereka malah melaksanakannya di rumah masing-masing sendiri-sendiri. Telah saya katakan dalam khotbah sebelumnya demi mengarahkan perhatian Jemaat terhadap shalat berjamaah bahwa [dalam beberapa situasi] tidak mengapa bila mereka shalat berjamaah di rumah-rumah.

Terjadinya shalat sendiri-sendiri (tidak berjamaah) karena beberapa orang sibuk dalam pekerjaan atau aktifitas mereka sementara yang lainnya biasa menjamak shalat mereka disebabkan oleh pekerjaan yang padat. Sebab atas semuanya itu ialah kecilnya perhatian untuk datang ke masjid dan mendirikan shalat berjamaah, ketiadaan masjid Jemaat di berbagai tempat, jauhnya masjid Jemaat dari tempat tinggal. Adapun, bila ada masjid non Ahmadi yang dekat, para Ahmadi tidak diperkenankan shalat di dalamnya. Ada juga sebab-sebab lainnya. Bagaimanapun, para Ahmadi tetap mengerjakan shalat walau di rumah-rumah mereka. Umumnya, mereka tidak menaruh perhatian untuk shalat berjamaah atau menaruh kecenderungan untuk banyak menjamak shalat-shalat tanpa sebab. Kendatipun telah ada pengarahan perhatian dan nasehat berkali-kali agar shalat berjamaah, namun, sejumlah besar [para Ahmadi] tidak terdapat dzauq-o-syauq (ketertarikan dan kegemaran) untuk itu, seolah-olah hal ini sedang menjadi kelemahan-kelemahan kita bersama. Ada suatu kebutuhan yang sangat mendesak untuk memperbaiki hal ini.

Ini bukanlah kelemahan perseorangan Ahmadi namun sedang mengarah pada kegagalan serta kelemahan bersama secara Jemaat. Keadaan-keadaan yang terjadi mengarah pada penurunan atau mengecilnya perhatian akan makna pentingnya mendirikan shalat berjamaah. Meskipun memang ada dari para Ahmadi yang mendirikan shalat mereka di rumah dengan penuh kelembutan dan kerendahan hati yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh sejumlah besar Muslim lainnya, namun bagaimanapun, para Muslim bukan Ahmadi yang shalat itu sangat teratur datang ke masjid walaupun bisa jadi hanya datang karena riya (pamer).[4]

Suratkabar-suratkabar dari Pakistan memberitahukan kepada kita kehadiran kaum Muslim ke masjid di Pakistan mengalami kenaikan jumlah. Kita tidak tahu apakah mereka shalat dengan penuh perhatian seperti yang semestinya dilakukan ataukah tidak. Tetapi, yang jelas mereka hadir di masjid-masjid. Dan tentu terkadang di masjid mereka menyatakan atau mendengar hal-hal omong kosong dan salah tentang Jemaat. Hal ini malah menciptakan penyakit kebencian di kalangan mereka sendiri. Jadi, keburukan timbul di kalangan mereka, namun mereka tetap rajin pergi ke masjid. Sedangkan kita pergi ke masjid adalah untuk menghilangkan penyakit-penyakit keburukan kita. Ada jarak yang jauh antara kehadiran kita dan kehadiran mereka ke masjid. Akan tetapi, mereka (non Ahmadi) menaruh perhatian pentingnya terbiasa hadir di masjid sementara perhatian kita (internal Ahmadi) untuk hadir di masjid terdapat kekurangan besar.

Kita perlu memberikan perhatian bahwa masjid adalah tempat yang harus dipenuhi dan dipadati oleh para mu-min sejati. Definisi mu-min sejati ialah mereka yang telah mengimani Imam Zaman, bukan mereka yang atas nama ibadah lalu melakukan kerusakan dan kekacauan. Aib atau kelemahan dan kemungkinan ketidakhadiran di masjid untuk shalat atau kebiasaan sering menjamak shalat-shalat telah demikian banyak berdampak buruk dan berbahaya ketika kita menyaksikan dan mencatat dalam pikiran anak-anak di kalangan kita telah menurun menganggap penting hal ini (shalat berjamaah yang utamanya di masjid). Sampai-sampai ada anak-anak di kalangan kita yang mengatakan, “Shalat itu hanya tiga kali sehari saja.!” Ketika disampaikan kepada anak-anak itu bahwa shalat fardhu itu ada lima, mereka berkata, “Berdasarkan kebiasaan kami menyaksikan orangtua kami mengerjakan shalat, shalat itu tiga kali dalam sehari saja.” Jadi, dibutuhkan perhatian, pemikiran, penelitian serta perencanaan yang cepat dan cermat mengenai hal ini di setiap tempat. Jika tidak, hal ini dapat menjadi penyakit bagi generasi Jemaat mendatang. Ada juga kebutuhan melakukan perencanaan yang disengaja dan luas mencakup banyak bidang guna melakukan penelitian keadaan yang terjadi di Jemaat kita ini.

Kita saksikan situasi dunia terkini, penduduk dunia sedang menjauh dan memisahkan diri dari Tuhan dan agama. Jika kita tidak berupaya keras, berbagai macam keburukan akan masuk kedalam lingkungan kita. Satu penyakit akan menyerang yang lalu penyakit lainnya lagi akan menyerang juga. Keimanan dan agama secara nama memang tetap ada dalam diri semua orang namun kosong dari nilai keruhaniannya. Jika tersebar wabah penyakit di suatu wilayah mana saja, seketika kita kuatir dan mengambil tindakan pencegahan sebagai penjagaan atas diri kita agar tidak terkena penyakit tersebut, maka sejauh mana upaya yang telah kita lakukan dalam hal menghindari penyakit-penyakit rohaniah?

Di dunia tempat kita hidup di masyarakat ini – dunia sekarang seperti kampung besar, global village – ada semacam kebutuhan yang besar dalam menciptakan upaya untuk menghindari penyakit-penyakit yang berjangkit. Mereka yang mengambil langkah-langkah pencegahan, pengobatan dan penyelamatan akan lebih terlindungi dari penyakit-penyakit badaniah dibandingkan orang-orang selain mereka. Dengan demikian, setiap kita dengan memikirkan qaumi (keseluruhan), seperti telah saya katakan, setiap tingkat kejemaatan harus mengambil langkah-langkah pencegahan guna melindungi dari penyakit-penyakit rohaniah.

Sebagian besar kaum Muslimin telah kehilangan arah kendatipun terdapat Kitab dan Ajaran Sempurna (al-Qur’an) pada mereka. Penyebabnya ialah menyusupnya akidah-akidah (kepercayaan-kepercayaan) salah kedalam diri mereka, dan terjadinya perubahan amal perbuatan di kalangan ulama dan umat dari mereka. Setelah mengadakan perubahan diri menuju perbaikan, kita perlu secara terus-menerus melindungi diri dari penyakit-penyakit tersebut. Saya telah mengajukan beberapa contoh. Kita hendaknya mengamati dan mencermati di tempat-tempat dan di bidang-bidang mana saja penyakit-penyakit rohani tersebut dapat masuk ke dalam kehidupan umat Muslim lainnya yang menyebabkan mereka tersesat kehilangan arah, dan bagaimana kita menyelamatkan diri darinya.

Setelah mengenal dan mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as, tak pelak lagi kita harus mempelajari pelajaran-pelajaran beliau dan mengamalkannya. Hendaknya kita jangan terbawa arus dan hanyut oleh situasi di masa modern ini; melainkan hendaknya kita sendiri yang menciptakan situasi yang sesuai dengan diri dan ajaran yang kita peluk. Kita harus dan perlu tetap menjalin hubungan yang kuat dengan Khilafat. Kita juga perlu untuk menjalin ikatan dengan MTA dan website Jemaat (diantaranya ialah http://www.alislam.org/). Sarana-sarana ini telah Allah sediakan bagi kita. Melalui sarana-sarana ini kita dapat menelaah ajaran-ajaran hakiki dari al-Qur’an, ma’rifat-ma’rifat Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita juga dapat memperoleh ajaran yang sebenarnya dari Islam dengan sarana-sarana tersebut.

Perlu untuk diingat bahwa umat Islam telah diberikan sebuah kitab yang sempurna yakni Al-Quran. Kendatipun demikian, terjadi kesalahan di kalangan mereka yang mau tak mau kesalahan ini berakibat munculnya penyakit dan kekurangan. Perkara terbesar yang menjadi sebab munculnya keburukan secara bersama-sama di kalangan umat Muslim ialah keyakinan mereka, bahwa Al-Quran adalah kitab sempurna yang mengandung penjelasan segala hal, petunjuk bagi manusia dari awal hingga akhir. Kelihatannya dari pembicaraan ini sifat keistimewaan Al-Quran dilukiskan dalam kondisi terdapat kekurangan ketika dikatakan bahwa keistimewaan Al-Quran tersebut (yaitu sebagai Kitab Sempurna) mempengaruhi orang-orang Muslim secara negatif (buruk), tetapi jika kita merenungi maka kita akan tahu bahwa sifat keistimewaan tersebut tidak memiliki sedikit pun keraguan, namun memahaminya (sebagai Kitab Sempurna) dengan corak pemikiran yang salah sehingga terjadi kelemahan besar di kalangan umat Muslim.[5]

Tidak diragukan lagi Al-Quran merupakan suatu kitab yang sempurna dan akan menjadi sumber petunjuk hingga hari pembalasan karena segala ajaran luhur terkumpul di dalamnya. Namun demikian, juga tidak diragukan lagi bahwa Allah Ta’ala Yang menciptakan akal manusia Maha Mengetahui jika manusia tidak membiasakan diri menggunakan akalnya untuk berpikir maka dia akan kehilangan fungsi dan kemampuannya untuk berkembang, meraih kemajuan dan kecemerlangan. Oleh karena itu, meskipun Allah menjadikan Al-Quran itu sempurna dan tanpa kekeliruan, namun Dia meninggalkan satu bagian dari setiap perintah-Nya yaitu supaya akal manusia merenungkannya.

Allah Ta’ala telah mewujudkan dan menjadikan beberapa hal, prinsip, pokok dan kaidah yang sudah jelas dan tegas, sementara berbagai persoalan yang lainnya akal manusia harus dan perlu merenungkan serta memikirkannya. Hal demikian ialah supaya akal manusia memikirkannya sehingga otaknya tidak menjadi sia-sia karena tidak pernah berpikir dan merenung. Dalam rangka itu, Al-Quran telah turun dalam kata-kata dan kalimat-kalimat yang dengan merenungkannya akan memandu kearah perolehan ma’rifat-ma’rifat, dan penjelasan kedalaman kandungannya. Tetapi tidak demikian, jika tujuan Al-Quran secara sama menyampaikan manfaat bagi semuanya, maka tentu saja ia menyebutkan semua tema dan bahasannya secara sederhana dan mudah dipahami bagi semua yang membacanya, baik mereka menelaahnya atau tidak. Kehendak Ilahi di balik hal ini adalah supaya akal manusia tidak menjadi malfungsi (tanpa guna), sia-sia dan rusak serta berhenti berkembang karena pemiliknya tidak menggunakannya.[6]

Akan tetapi, hendaknya menjadi jelas, seperti telah saya sampaikan juga, terdapat peraturan, kaidah dan juga prinsip-prinsip sehubungan dengan hal ini. Pada zaman ini Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan bimbingan kepada kita perihal peraihan ma’rifat dengan cara menjelaskan banyak sekali pokok-pokok pikiran dan prinsip-prinsip. Selain itu, beliau juga menyampaikan penafsiran yang jelas sendiri sehubungan dengan hal ini. Hendaknya selalu kita perhatikan hal itu. Dan bagi mereka yang ingin mencari poin-poin baru dan ilmu-ilmu baru di dalam Al-Quran maka mau tak mau harus bertindak sejalan dengan bimbingan beliau as. Jika kita seperti orang-orang Muslim lainnya yang hanya berpijak pada tafsir-tafsir kuno terdahulu saja, maka takkan terbuka jalan dan ma’rifat sebagaimana yang telah ditunjukkan Hadhrat Masih Mau’ud as kepada kita. Pada hari ini menjadi hal yang jamak (umum terjadi) bahwa doktor-doktor besar, para ‘alim-ulama, dan para ahli tafsir yang bukan Ahmadi, mereka membaca dan mempelajari buku-buku dan tafsir-tafsir Jemaat, bahkan sebagian ulama juga menelaah Tafsir Kabir.

Al-Quran merupakan kitab sempurna. Tidak terdapat keraguan di dalamnya dan segala hal terdapat di dalamnya. Namun, mereka yang memperoleh hidayat (petunjuk) hanyalah yang membacanya, merenungkan isinya serta berupaya untuk mengamalkannya. Dalam rangka mendapatkan petunjuk dari Al-Quran, tidak cukup hanya berpegang pada sebagian isi Al-Quran lalu menyatakan diri telah menerima hidayah (petunjuk), melainkan harus melaksanakan seluruh perintah Al-Quran. Hal demikian karena Al-Quran memberitahukan kepada kita mengenai penyakit serta kebaikan secara perorangan maupun yang ada pada suatu kaum. Allah Ta’ala telah mengumumkan di dalam Al-Quran bahwa Dia akan mengirimkan utusannya di Akhir Zaman demi mengajarkan kaum aakharin, memperluas akal pikiran mereka dan untuk memberikan pencerahan serta pemahaman Al-Quran kepada mereka.

Namun mereka yang tidak merenungkannya, kendatipun mereka itu disebut ulama (cendikia), tetap saja mereka itu jahil (tuna ilmu), mereka telah menolak orang yang diutus Allah Ta’ala. Dengan berlaku demikian demikian, mereka menjadi kehilangan kesempatan memperoleh keluasan ilmu dan ma’rifat Al-Quran. Mereka hilang dalam ketidaktahuan dan dengan menjelaskan hal-hal yang salah mengenai Islam, bukannya memperlihatkan keindahan Islam, malahan membawa nama Islam dalam citra buruk. Amal perbuatan umat Islam lainnya yang demikian itu hendaknya memacu kita bahkan lebih memacu kita untuk tidak merasa cukup dalam hal-hal lahiriah saja, melainkan seraya memahami semangat ajaran Islam, hendaknya kita menghapuskan setiap penyakit sebelum ia menjadi penyakit komunal (memasyarakat, menyeluruh). Dan, kita juga mengedarkan setiap kebaikan ke seluruh Jemaat dan beramal dengannya supaya itu menjadi hasanah jama’iyyah (kebaikan kolektif, secara umum, Jemaat). Senantiasa dapat menyediakan lingkungan yang bukan hanya jauh dari keburukan yang dengannya tidak tersebar keburukan, bahkan dapat menimbulkan kebaikan dan keindahan serta mengalihkannya kepada anak keturunan kita. Semoga Allah memberi kita taufik untuk itu. Aamiin. آمين.

Setelah Jumat, saya hendak mengimami dua shalat jenazah hadir dan dua shalat jenazah gaib. Jenazah hadir [jenazah ada tempat itu, di komplek Masjid Baitul Futuh. Biasanya ada di luar tempat biasa untuk shalat.] yang pertama adalah Ny. Radhiyah Musarrat Khan, istri Abdul Latief Khan dari Hounslow, Sekretaris Rishtanata di Jemaat Hounslow. Beliau wafat pada tanggal 11 Februari 2015 usianya sekira 79 tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Beliau menantu perempuan Muhammad Zhuhur Khan, salah satu Sahabat Masih Mau’ud as dan putri Tuan Karm Bakhsy. Beliau pindah ke Inggris pada tahun 1962 dan terpilih sebagai Ketua Lajnah Imailah di Hounslow selama dua tahun, setelah itu terus-menerus berkhidmat untuk masa yang lama dalam bidang Sekretaris Dhiafat Lajnah Imailah. Beliau menyambut tamu-tamu dengan gembira dan mengkhidmati mereka dengan senang hati sekalipun di antara berbagai program Jemaat.

Beliau diberikan taufik mengajarkan Al-Qur’an kepada putra-putri Ahmadi dan juga Ghair Ahmadi. Beliau santun akhlaknya, menghadapi orang dengan muka berseri-seri dan ramah. Beliau seorang salehah dan mukhlisah. Beliau memiliki ikatan yang ikhlas dan setia dengan Khilafat. Beliau menarbiyati anak-anaknya dengan tarbiyat yang baik, anak-anaknya disiapkan untuk mengkhidmati Jemaat dalam beragam cara. Beliau meninggalkan suami, dua orang putri dan empat orang putra. Salah satu putranya Zahir Khan adalah Presiden Jemaat Hounslow dan bertindak sebagai Wakil Officer Jalsah Gah (Naib Ketua). Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat Almarhum. Aamiin.

Jenazah hadir kedua, yang mulia Tn. Amir Syīraz Ibn Syahid Mahmud dari Morden South yang meninggal pada 12 Februari 2015 karena kanker, usianya kira-kira 29 tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Kakeknya dari pihak bapak, Mestri Hasan Din ra merupakan seorang Sahabat Masih Mau’ud as dan Hakim Jalaluddin ra merupakan kakek buyutnya dari pihak ibu. Almarhum berkhidmat di Jemaat Lokal tempatnya menjadi anggotanya seperti melakukan pengkhidmatan pengawasan di tengah berlangsungnya Jalsah dengan penuh semangat dan antusias. Beliau memiliki akhlak yang santun, ramah dan ikhlas. Selain meningggalkan kedua ibu bapaknya, meninggalkan juga istri dan putrinya yang baru dua setengah tahun. Almarhum mengidap kanker, beliau melewatkan masa sakit yang panjang dan melelahkan dengan penuh keceriaan. Di sela-sela sakitnya beliau juga datang kepada saya (Hudhur V atba) dan selalu datang dengan wajah berseri dan senyum. Beliau pemuda yang sangat baik, semoga Allah Ta’ala mengampuninya dan memberikan nikmat kepadanya dengan kasih sayang-Nya, mengaruniakan kurnia-Nya kepadanya, memelihara istri serta putrinya dengan kedamaian dan menganugerahi ibu bapaknya kesabaran.

Dua jenazah gaib yang akan saya shalatkan, yang pertama Haji Rasyid Ahmad yang meninggal di Milwaukee, Amerika pada tanggal 7 Februari 2015. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Usianya kurang lebih 91 tahun. Beliau lahir di Kota St Louis Amerika tahun 1923 dan masuk Islam melalui Ahmadiyah pada 1947. Setelah baiat selama dua tahun, beliau mengadakan perjalanan ke Rabwah untuk mendapatkan pelajaran agama pada 1949. Hadhrat Muslih Mau’ud ra sendiri yang menyambutnya di Stasiun Kereta Api. Beliau belajar selama lima tahun di Jamiah Ahmadiyah sampai lulus menjadi mubalig. Ia mempelajari Bahasa Urdu dan Punjabi di sela-sela bermukim di Pakistan.

Dengan demikian, beliau mendapatkan kehormatan menjadi mahasiswa pertama dari Amerika Serikat yang bergabung di Jamiah Ahmadiyah. Di antara tahun-tahun kelima menetap di Rabwah, beliau mendapatkan kehormatan bergaul secara khas dengan Hadhrat Muslih Mau’ud r.a.. Hudhur ra menikahkannya dengan Sayidah Sarah Qudsiah putri Mubalig Ahmadi, Haji Ibrahim Khalil, dan beliau dikaruniai tiga orang anak, seorang putra dan seorang putri, keduanya masih hidup dan bermukim di Amerika Serikat, sementara seorang lagi dari kedua anak laki-lakinya telah meninggal. Setelah lulus dari Jamiah Ahmadiyah, Almarhum ditugaskan ke Amerika Serikat sebagai mubalig.

Ketika meninggalkan Rabwah, Hadhrat Muslih Mau’ud ra menuliskan beberapa nasihat untuknya, begitu pun beliau ra menghadiahinya sebuah sorban yang dijahitkan padanya potongan kain Sayidina Masih Mau’ud as. Almarhum menjaga sorban tersebut sampai wafatnya dan sorban itu kini ada pada anak-anaknya. Di Jemaat kita, beliau adalah Mubalig pertama asal Amerika di Amerika Serikat. Di sana ia mengkhidmati Jemaat sebagai Mubalig di Chicago, St Louis dan kota-kota lainnya, begitu pun ia juga berkhidmat sebagai seorang Amir Jemaat kita di seluruh Amerika Serikat. Sebagaimana Allah Ta’ala memberi taufik kepadanya untuk mengkhidmati Jemaat dalam waktu lama sebagai Presiden Jemaat kita di Malwa serta berbagai tugas pada staf administrasi nasional di Amerika Serikat. Ia menikah lagi dengan Sayidah Azizah Ahmad putri Khalid Utsman, mantan Ketua Jemaat Lokal kita di St Louis dan dikaruniai dua putra dan dua orang putri. Ia sangat gandrung pada dakwah dan tablig. Berbagai kesempatan untuk dakwah tidak akan pernah ia lewatkan. Pada masa kepemimpinannya di Jemaat kita di Malwa, kita mempunyai Jemaat besar yang beranggotakan orang-orang Muslim Ahmadi asli Amerika dan terus-menerus menjadikan Jemaat kita menjadi besar yang mayoritas anggotanya berasal dari Amerika.

Pada tahun 1998 Allah Ta’ala memberi taufik kepadanya untuk melaksanakan kewajiban ibadah haji. Beliau memperoleh kedudukan penting dalam kemasyarakatan di antara para pengikut agama-agama yang lain di Malwa di samping pada anggota-anggota Jemaat kita. Selama 20 tahun secara rutin berpartisipasi dalam Acara TV yang berjudul “Islam Life”. Hingga saat-saat terakhir kesadarannya menjelang kewafatan selalu melaksanakan dakwah Islam kepada para perawat.

Pada 1985-1986 beliau mengadakan suatu pertemuan untuk seluruh orang Muslim di suatu Universitas Negeri terbesar di Washington. Beliau selalu berkomunikasi dengan para mahasiswa Universitas Negeri ini dan secara berkala menyampaikan presentasi di Aulanya, yang mampu memberikan pengertian kepada ribuan mahasiswa perihal ajaran-ajaran Islam yang menyeru kepada kedamaian. Almarhum selalu menjalin komunikasi dengan para pebisnis properti lokal dan pebisnis properti level Negara, setiap hari beliau mengadakan suatu pertemuan, kebanyakan diikuti oleh para pengikut agama-agama yang lain selain para anggota Jemaat kita dan mereka mengambil manfaat dari presentasinya.

Sesuai permintaan orang-orang yang mencintainya, dengan berkoordinasi dengan Markaz Jemaat kita dan mengerahkan segala kemampuan, beliau asyik bertahun-tahun mempersiapkan sebuah buku dari catatan-catatannya, terkandung kenangan-kenangan perjalanan-perjalanannya bergaul dengan Hadhrat Muslih Mau’ud ra di beberapa tempat di Pakistan, seminar-seminar agama yang dilaksanakannya dan pertanyaan-pertanyan serta jawaban-jawaban yang tercatat padanya. Buku ini kini sudah siap cetak setelah mendapat izin Markaz.

Mubalig kita Tuan Faran Rabbani menulis, “Saya berjumpa dengannya pertama kali sembilan bulan sebelumnya, ketika datang di sini sebagai mubalig, meskipun umur saya muda, beliau menjumpai saya dengan penuh kasih sayang dan hormat. Manakala saya meminta nasihatnya mengenai beberapa hal tentang Jemaat kita di Malwa, beliau berbicara dengan saya dalam Bahasa urdu dan mengatakan, ‘Anda, Wahai Maulana! Adalah representasi Khalifah-e Waqt dan untukmu hanyalah semata-mata taat dalam setiap apa pun yang kita beliau perintahkan.’ Almarhum begitu taat.”

Mubalig Sayid Syamsyad menulis, “Ketika saya datang ke Amerika Serikat, saya selalu mendengarkannya membicarakan tentang Hadhrat Muslih Mau’ud r.a., beliau memformula hidupnya juga sesuai dengan sabda-sabda Hudhur r.a.. Pada Jalsah Salanah yang lalu, ceramahnya seputar kenangan-kenangan Hadhrat Muslih Mau’ud ra dan pesan yang terkandung bagi generasi sekarang dan mendatang. Saya tidak akan pernah mengabaikan hakikat itu sekalipun Almarhum senantiasa sibuk dalam berdakwah. Beliau adalah pedang yang selalu terhunus untuk menjaga Ahmadiyah dan Khilafah. Beliau akan keluar sendiri untuk berdakwah walaupun keadaannya sepuh, tua lagi kurus. Beliau terkenal dengan Tuan ‘Tablig’. Dengan karunia Allah, banyak orang ikut dalam shalat jenazah di sana.”

Jenazah yang lainnya juga yaitu jenazah gaib yaitu Tuan Hasan Abdullah dari Detroit Amerika Serikat, yang mana meninggal pada 30 Januari 2015. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Lahir dalam keluarga Kristen pada tanggal 26 Desember 1929 dan namanya William Henry. Pada tahun tujuh puluhan mendapat kehormatan menerima Islam dengan perantaraan seorang teman seangkatannya yang Ahmadi, Tuan Wahhab, dan namanya setelah menerima Islam adalah Hasan Abdullah.

Almarhum berhiaskan banyak sifat yang terpuji. Seorang Ahmadi yang sangat mukhlis. Beliau sangat mencintai Al-Quran dan selalu membacanya setiap hari tak pernah ketinggalan. Beliau mengatakan, “Saya tiap hari membaca permulaan Surat Al-Kahfi dan sepuluh ayat yang terakhirnya.” Beliau tekun menjalankan shalat Jumah. Beliau akan hadir di masjid sebelum orang-orang yang lainnya dan azan dengan suara yang indah. Beliau akan datang untuk shalat Jumah sangat awal dan melaksanakan tilawat Al-Quran serta mengerjakan shalat-shalat nafal. Beliau mengenakan pakaian yang sangat bersih dan indah.

Suatu saat beliau sakit, dan ketika keluar dari rumah sakit, beliau langsung menuju masjid untuk shalat jumah ketimbang pergi ke rumah. Suatu kali di masjid kita di Detroit terjadi kebakaran, maka masjid dibangun kembali. Pada masa-masa pembangunan masjid itu, dengan segenap ketulusan beliau mempersilakan rumahnya dipakai supaya para anggota Jemaat melaksanakan shalat di rumahnya. Beliau membaca buku-buku dan majalah-majalah Jemaat dengan begitu semangat. Beliau termasuk orang yang memiliki keistimewaan, yang jiwanya benar-benar punya hasrat besar untuk kebenaran, untuk itulah Allah Ta’ala memberikan taufik untuk menerima dakwah Hadhrat Masih Mau’ud as dan beliau menyempurnakan janji baiat hingga akhir kesempatan hidupnya. Istrinya sudah meninggal dan anak-anaknya bukan Ahmadi. Semoga Allah Ta’ala memberikan maghfirah dan kasih sayang-Nya kepada Almarhum serta mengangkat derajat setiap orang-orang yang menyempurnakan janji dan kesetiaannya. Amin.

[1] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 13, halaman 74-75

[2] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 13, halaman 75-76

[3] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 13, halaman 78-79

[4] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 13, halaman 78-79

[5] Keyakinan umat Muslim bahwa Al-Quran merupakan suatu kitab yang sempurna dan menjadi sumber petunjuk adalah benar. Titik besar kesalahan pada corak memahaminya. Keyakinan kesempurnaan Al-Qur’an malah menjadi dalih bagi kalangan Muslim untuk tidak merenungkannya dan gagal memahami isinya, termasuk menolak kedatangan imam zaman beralasan Al-Qur’an sudah cukup dan sempurna.

[6] Khuthubaat-e-Mahmud, jilid 13, halaman 80