Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)[1]

20 September 2013 bertepatan dengan HS di Masjid Baitul Futuh, London

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam pada satu tempat bersabda: “Setiap orang hendaknya merasa takut kepada Tuhan dan rasa takut kepada Tuhan akan membuatnya melakukan banyak kebajikan.” Kemudian Beliau as juga bersabda: “Sesungguhnya orang yang baik dan saleh hanyalah orang yang terbukti baik ketika diperiksa oleh Allah Ta’ala. Banyak orang menipu diri mereka sendiri dan menganggap diri mereka saleh, namun orang yang bertakwa dalam arti sebenarnya hanyalah orang yang namanya masuk dalam daftar menurut pandangan Allah Ta’ala.”[2]

Ini merupakan nasihat penting dan jika ini diperhatikan, kita akan memenuhi hak-hak Allah Ta’ala serta hak-hak sesama umat manusia dengan benar. Namun, jika kita menganggap bahwa ibadah kita kepada Allah Ta’ala adalah baik dan kita memenuhi kewajiban kepada Allah Ta’ala tapi ada semacam kepura-puraan atau kesombongan dalam hal ini, atau meskipun kita menyembah Tuhan, tetapi tidak memenuhi hak-hak umat manusia, hal ini maksudnya bagi orang yang beribadah maka tidak akan diterima dalam pandangan Allah Ta’ala dan tidak dapat meraih keridhaan-Nya.

Saat ini saya akan meriwayatkan sebuah hadis yang panjang kepada anda sekalian berkenaan tentang sebuah nasihat atau tertulis dalam sebuah surat wasiyat dari Hadhrat Muhammad Rasulullah saw kepada Hadhrat Mu’adz r.a.

Yang Mulia Rasulullah saw bersabda: Yaa Mu’aadz innii muhaditstsuka bihadiitsin in anta hafazhtahuu nafa’aka “Hai Mu’adz aku akan memberitahumu sesuatu yang akan menguntungkanmu jika kamu ingat dan jika kamu lupa, kamu tidak akan meraih karunia Allah Ta’ala dan kamu tidak akan memiliki keyakinan atas najat”. Beliau bersabda lagi: “Wahai Muadz! Allah Ta’ala menciptakan tujuh malaikat penjaga sebelum Dia menciptakan tujuh langit dan bumi serta ditempatkan satu malaikat sebagai penjaga masing-masing langit, sesuai dengan kadar dan keagungan masing-masing pintu. Dan para malaikat diperintahkan untuk tetap berada di posisinya sesuai kadarnya dan hanya mengizinkan suatu amalan kerohanian yang murni dari manusia disini untuk melewati hingga sampai disana. Nabi Karim saw telah bersabda bahwa Malaikat-malaikat penjaga amalan manusia (Al Hafadzah) menulis setiap amalan manusia pada setiap harinya dan membawa amalan seseorang yang telah dilakukannya dari pagi hingga sore hari naik ke langit. Para malaikat memandang amalan tersebut sangat tinggi dan juga menganggapnya murni nan bersinar, merupakan amalan yang sangat baik dan terpesona dengan amalan tersebut. Namun, ketika mereka membawa amalan tersebut sampai di langit pertama, mereka mengatakan kepada malaikat penjaga bahwa mereka telah membawa amalan seseorang untuk dibawa di hadapan Allah Ta’ala. Mereka mengatakan amalannya sangat murni nan bersinar. Malaikat penjaga pintu langit berkata kepada malaikat penjaga amal manusia: “Berhenti di sini, kamu tidak diizinkan untuk melangkah lebih jauh! Kembalilah kamu dan lemparkan kembali amalan ini ke muka pemiliknya. Akulah malaikat ghibat. Allah telah memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalan orang yang berghibat untuk lewat pintu langit ini dan orang ini hendak mempersembahkan amalan-amalannya kehadapan Allah Ta’ala padahal orang ini selalu berghibat pada setiap waktu, selalu membicarakan orang-orang dari belakang.”

Rasul Karim saw bersabda bahwa ada beberapa malaikat naik ke langit dengan amalan seorang hamba yang lain dan mereka berkata satu sama lain betapa murni amalan tersebut dan bagaimana orang itu banyak sekali melakukannya. Karena amalan tersebut tidak mengandung sedikitpun ghibat sehingga malaikat penjaga dari langit pertama membiarkan mereka melewati pintu langit pertama. Ketika mereka sampai di langit kedua, Malaikat penjaga pintu langit berkata kepada malaikat penjaga amal manusia: “Berhenti di sini, kamu tidak diizinkan untuk melangkah lebih jauh! Kembalilah kamu dan lemparkan kembali amalan ini ke muka pemiliknya. Malaikat itu mengatakan: “Akulah malaikat kesombongan/ kebanggaan diri dan Allah Ta’ala telah menempatkan saya disini sehingga saya tidak akan membiarkan lewat amalan setiap orang yang memiliki kesombongan/kebanggaan di dalamnya; sebagaimana orang yang duduk di pertemuan dan dengan sombong membicarakan kebajikannya. Orang ini adalah orang  yang amalannya telah kamu bawa, duduk dalam majlis dan dengan memperlihatkan kebanggaan dan kesombongan menceritakan tentang berbagai amalannya.

Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa kemudian ada beberapa malaikat naik ke langit dengan amalan seorang hamba yang lain. Malaikat-malaikat itu menilai juga amalan tersebut bersinar dengan sempurna, sehingga begitu menyilaukan. Amalan ini terdiri dari sedekah beserta berbagai kebaikan, puasa dan shalat juga. Dan para malaikat penjagapun kagum pada ketekunan hamba Allah tersebut demi meraih keridhaan Tuhannya. Karena amalan ini tidak memiliki unsur ghibat dan kesombongan maupun membanggakan diri, oleh karena itu para malaikat penjaga langit pertama dan kedua membiarkan mereka lewat. Namun, ketika mereka mencapai pintu langit ketiga, malaikat penjaga pintu langit berkata: “Berhenti disini dan kembalilah! Orang ini hendak mempersembahkan amalannya ke hadapan Allah Ta’ala. Pukulkan amalan ini kepada pemiliknya dan lemparkan ke wajahnya!” Malaikat itu berkata: “Akulah malaikat ketakaburan. Allah Ta’ala telah menempatkan saya di pintu langit ketiga dengan perintah supaya tidak membiarkan lewat amalan yang mengandung unsur ketakaburan dan orang yang amalannya telah kamu bawa ini sangat takabur dan sangat memandang tinggi dirinya sendiri serta memandang rendah orang lain. Orang ini memperlakukan mereka dengan takabur dan congkak. Dia duduk dengan congkak dalam majlis. Meskipun amalannya kelihatan sangat baik di matamu, tetapi tidak diterima dalam pandangan Allah.”

Kemudian Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa ada kelompok malaikat keempat naik ke langit dengan amalan orang lain. Amalan tersebut tampak oleh para malaikat seperti bintang bersinar terang yakni begitu cantiknya amalan itu. Amalan tersebut terdiri juga dari berbagai shalat, tasbih juga, haji dan umrah juga. Para malaikat penjaga amalan manusia melewati langit demi langit, satu demi satu pintu langit dengan amalan tersebut dan mencapai pintu langit keempat. Malaikat penjaga pintu langit disana mengatakan: “Berhentilah! Kembalikan amalan ini ke pemiliknya dan lemparkan ke wajahnya! Akulah malaikat keangkuhan diri dan Allah Ta’ala telah memerintahkanku bahwa amalan seseorang hamba yang memiliki keangkuhan diri (ujub), seolah-olah ia menganggap dirinya sama dengan Allah Ta’ala dan berlebihan memandang baik dirinya dan tidak memiliki rasa penghambaan kepada Allah Ta’ala, tidak diizinkan melewati pintu langit keempat. Ini adalah perintah dari Tuhanku kepadaku, setiap kali orang ini melakukan suatu amal, dia mencampurkan unsur keangkuhan diri didalamnya, amalannya tidak diterima dalam pandangan Allah.”

Hadhrat Rasulullah saw bersabda kelompok malaikat kelima naik ke langit dengan amalan seorang hamba. Para malaikat menganggap amalan-amalan seperti pengantin yang cantik, terhias, harum semerbak yang dibawa kepada pengantin pria. Namun, setelah melewati langit keempat, ketika mereka mencapai langit kelima. Malaikat penjaga pintu langit disana mengatakan: “Berhentilah! Ambil kembali amalan ini dan lemparkan ke muka pemiliknya, dan katakan kepadanya bahwa Allah Ta’ala tidak siap menerimanya. Akulah malaikat iri dengki dan Allah Ta’ala telah memerintahkanku untuk tidak membiarkan amalan setiap orang yang memiliki rasa iri dengki melewati pintu langit kelima. Orang ini adalah orang yang memiliki rasa iri dengki pada setiap orang yang meraih pengetahuan dan setiap orang yang melakukan perbuatan maupun pekerjaan baik. Oleh karena itu aku tidak akan membiarkan amalannya melewati pintu ini.”

Kemudian Hadhrat Rasulullah saw bersabda bahwa ada kelompok malaikat keenam naik ke langit dengan amalan seseorang dan setelah melewati lima pintu pertama, mencapai langit keenam. Amalan begitu indahnya yang meliputi juga puasa, shalat juga, zakat juga, haji dan umroh juga. Para malaikat berpikir semua amalan ini akan diterima oleh Allah Ta’ala. Namun, setelah sampai di langit keenam. Malaikat penjaga pintu langit berkata: “Berhentilah, jangan pergi lebih jauh! Orang ini tidak memiliki belas kasihan terhadap setiap hamba Allah dan Allah Ta’ala telah menunjuk saya di sini supaya saya tidak membiarkan amalan yang mengandung unsur kekejaman didalamnya melewati pintu ini. Kembali dan lemparkan amalan ini kemuka orang tersebut dan katakan kepadanya bahwa kamu dalam kehidupanmu, bukannya bersikap baik kepada hamba Allah, malah bersikap kejam kepada mereka. Bagaimana Allah Ta’ala mau berbelas kasih kepadamu dan menerima amalanmu? Sementara kamu tidak mempunyai belas kasih terhadap sesama manusia, maka Allah Ta’alapun tidak akan berbelas kasih kepadamu.

Nabi Akram saw bersabda bahwa ada beberapa malaikat lain naik ke langit dengan amalan seseorang dan melewati langit demi langit dan pintu demi pintu langit hingga mencapai langit ketujuh. Amalan tersebut juga termasuk shalat, puasa, fiqah, ijtihad dan wara’/ kesederhanaan juga. Amalan ini mengeluarkan suara seperti suara lebah dan bercahaya seperti cahayanya matahari, yakni para malaikat bersenandung karena mereka membawa sesuatu yang baik untuk dipersembahkan dihadapan Allah. Amalan itu bersinar seperti sinar matahari dan tiga ribu malaikat menyertainya. Maksudnya, amalan itu begitu banyak dan begitu berat sehingga tiga ribu malaikat membawa wadahnya. Ketika mereka sampai di langit ketujuh. Malaikat penjaga pintu langit yang ditugaskan disana mengatakan: “Berhentilah, kalian tidak bisa pergi lebih jauh. Kembali dan lempar amalan ini ke wajah pemiliknya dan kunci hatinya karena Tuhan telah memerintahkan saya untuk tidak membawa kehadapan-Nya suatu amalan yang tidak dilakukan dengan ikhlas demi meraih keridhaan Allah Ta’ala dan yang mengandung kepalsuan didalamnya. Orang ini melakukan amalan ini untuk selain Allah. Dia duduk dengan angkuh di majlis fiqah dan berbicara tentang masalah fiqih dan ijtihad sehingga ia mencapai kedudukan tinggi dan kemuliaan diantara orang-orang. Ia tidak melakukan amalan ini untuk keridhaan-Ku, tetapi hanya untuk menyombongkan diri. Tujuannya adalah untuk menjadi terkenal di dunia sebagai orang yang dihormati diantara para ‘alim yang berilmu, yang dibicarakan dalam majlis keilmuan. Setiap amalan yang dilakukan semata-mata tidak untuk Allah Ta’ala, yang didalamnya telah bercampur dengan riya/ pamer dan kemunafikan sehingga tidak diterima oleh Allah Ta’ala. Aku telah diperintahkan untuk tidak membiarkan amalan tersebut lewat, kalian harus kembali dan melempar amalan itu ke muka pemiliknya.”

Nabi Karim saw bersabda ada beberapa malaikat lain naik ke langit dengan amalan seorang hamba. Malaikat penjaga dari tujuh langit membiarkan mereka lewat. Mereka tidak keberatan dengan amalan tersebut dan setiap malaikat penjaga mengatakan amalannya baik, nampak semua baik-baik saja. Amalan tersebut termasuk juga zakat, puasa, shalat, haji, umrah, akhlak luhur dan dzikir Ilahi juga. Ketika malaikat berangkat untuk menyampaikan amalan ini di hadapan Allah Ta’ala, malaikat-malaikat di langit bergabung dengan mereka dan mereka melintasi setiap pintu dan mencapai pengadilan Allah Ta’ala. Para malaikat berdiri di hadapan Allah Ta’ala dan berkata: “Wahai Tuhan kami, hamba Engkau ini selalu sibuk dalam ibadah kepada-Mu dan kami menjadi saksi ketulusan dalam setiap amalan salehnya. Dia melakukan banyak amalan saleh dan menghabiskan seluruh waktunya yang berharga dalam ketaatan kepada-Mu. Dia adalah seorang hamba yang sangat tulus dan tidak ada cacat dalam dirinya.” Singkatnya, mereka sangat memujinya. Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah menetapkan kamu sebagai pengawas (Al Hafadzah) amalan dari hamba-Ku (Antumul Hafadzotu ‘alaa ‘amali ‘abdii) dan mencatatnya, kamu hanya melihat amalan dzahir manusia lalu mencatatnya. Kemudian Aku melihat apa yang ada di hati hamba-Ku (Anar Roqiibu ‘alaa qolbin). Orang ini tidak melakukan amalannya untuk mencari keridhaan-Ku bahkan hal ini tidak terdapat sedikitpun dalam niat dan tujuannya. Sebaliknya niat dan tujuannya adalah sesuatu yang lain selain daripada Aku dan ia ingin menyenangkan orang lain. Laknat-Ku atasnya (Fa’alaihi la’natii). “Atas hal ini malaikat berseru: “Laknat Engkau dan laknat kami atas dirinya (‘Alaihi la’natu-Ka wa la’natunaa).” Wahai Tuhan kami! Laknat Engkau atas dirinya dan demikian juga laknat kami. Tujuh langit dan semua makhluk yang hidup di dalamnya mulai melaknatnya atau semua makhluq akan mulai melaknatnya.”

Mendengar nasihat dan wasiyat dari Hadhrat Rasulullah saw ini hati Hadhrat Mu’adz ra berdebar dan ia bertanya: (Ya Rasulallah! Kaifa lii bin najati wal kholashi) “Ya Rasulullah, jika demikianlah bagaimana saya bisa memperoleh najat dan ketulusan? Bagaimana pula saya bisa meraih untuk terhindar dari murka Tuhanku?” Hadhrat Rasulullah saw menjawab: (Iqtadi bii) “Amalkan sunnahku! Dan yakinkan dirimu untuk itu! Bahwa tidak peduli seberapa baik amalan seorang hamba Allah Ta’ala, ia pasti memiliki beberapa kelemahan. Oleh karena itu jangan merasa puas dengan amalan kamu! Sebaliknya, yakinlah bahwa Allah dan Maulaa kita adalah sedemikian rupa mengampuni hamba-hamba-Nya meskipun terdapat banyak kelemahan. (Wa haafidz ‘alaa lisaanika ‘alaihim) Dan perhatikan untuk menjaga lidahmu/ ucapanmu! Dan jangan menyakiti siapapun dengannya! Supaya tidak mengakibatkan banyak keburukan. (Wa laa tuzakki nafsaka ‘alaihim) Dan janganlah kamu menganggap dirimu lebih bertakwa dan zuhud daripada yang lain! Dan janganlah meneriakkan kezuhudanmu! (Wa laa tudkhil ‘amalad dunya bi’amalil aakhiroh) Dan janganlah mencampurkan amalan yang kamu lakukan untuk keridhaan Allah Ta’ala dan ukhrowi untuk mencapai hasil-hasil keduniawian! (Wa laa tumazziqin naasa fayumazzaquka kilaabun naari) Dan janganlah berupaya menciptakan fitnah dan kekacauan di antara manusia! Jika kamu melakukannya, pada hari kiamat anjing jahannam akan mencabik-cabikmu. (Wa laa turo-I bi’amalikan naas) Dan janganlah memperlihatkan amalanmu secara riya kepada dunia. Jika ini semua dilakukan maka kemudian karunia Allah Ta’ala senantiasa menyertai kamu sekalian.[3]

Seseorang benar-benar mendapat taufik untuk melakukan kebajikan dan menemui segala amalannya diterima ketika teladan (Uswah Hasanah) beberkat Hadhrat Rasulullah saw diperhatikan. Terlepas dari kesuksesan beliau dan kabar suka yang beliau terima, beliau terus berdoa dengan penuh kepedihan atas kelemahan beliau dan umat beliau. Meskipun Allah Ta’ala menerima doa-doa beliau juga dan beliau diberi berbagai kabar suka tentang masa depan juga, kemudian dalam sujud-sujud beliau juga diisi dengan doa yang penuh isakan tangis dan kepedihan. Ketika beliau ditanya alasan kenapa terdapat bekas guratan-guratan tangis di wajah beberkat beliau maka beliau selalu menjawab dengan sabdanya bahwa Allah Ta’ala itu Maha Kaya, yang pertama adalah rasa takut kepada-Nya, yang kedua adalah apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang senantiasa bersyukur atas segala karunia yang telah diberikan Allah Ta’ala kepadaku. Allah Ta’ala telah menganugerahkan banyak kenikmatan dan berbagai janji untuk ummat ini. Mengapa saya tidak boleh bersyukur atas semua ini. Demikianlah teladan/ uswah beberkat yang telah beliau persembahkan di depan kita.

Mengenai soal hak-hak hamba maka diperhatikan dari sisi duniawi beliau selalu membantu setiap orang tanpa diskriminasi, semua orang yang kekurangan merasakan bantuan materi. Ada juga soal lain yang muncul berkaitan dengan belas kasih sesama, semua orang merasakan kasih sayang beliau, setiap orang merasakan cinta dan belas kasih beliau. Beliau mengajarkan kepada kita dalam sabdanya: “Jagalah rasa takut kepada Allah Ta’ala sedemikiam rupa dengan beribadah kepada-Nya seperti yang telah aku lakukan! Jadilah hamba yang pandai bersyukur sebagaimana aku melewatkan kehidupan dengan bersyukur! Jadilah ‘Abdi Rahman/ hamba dari Tuhan Yang Maha Pemurah dengan memenuhi hak-hak-Nya! Sebagaimana dengan teladan yang aku tunjukkan maka kalian akan menjadi manusia yang layak untuk menerima berbagai karunia dari Allah Ta’ala. Oleh karena itu penuhilah hak-hak hamba/ umat manusia tanpa pamrih sebagaimana aku memenuhi hak-hak hamba, jika kalian menjalani teladanku dengan penuh perhatian dan penuh kesadaran diri maka Allah Ta’ala akan memenuhi hak-hak hamba-Nya kemudian Allah Ta’ala sendirilah yang akan menjadikan kita menjadi manusia yang layak menerima karunia-karunia-Nya. Jika seseorang hanya mengetahui berbagai kebaikan/ kesalehan diri sendiri dengan bangga menyatakan bahwa saya sudah banyak berbuat kebajikan dan berbagai ibadah, maka kemudian sebagai hasilnya kita tidak bisa menjadi pewaris berbagai karunia Allah Ta’ala.

Dalam rangka mengikuti Sunnah, kita harus mengintrospeksi diri dan berbalik kepada Allah memohon kemurahan-Nya karena kita tidak tahu apakah amalan kita mencapai standar yang Allah Ta’ala harapkan dari kita. Kita harus berdoa supaya Allah Ta’ala menjadikan amalan kita sesuai dengan keridhaan-Nya dan kemudian semata-mata atas karunia-Nya, sehingga amalan-amalan kita bisa diterima. Semoga amalan kita tidak seperti amalan mereka yang karena terdapat campuran keduniawian sehingga dilemparkan di wajah kita. Kita harus berdoa agar kita dapat meraih surga Allah Ta’ala di dunia ini, dan dengan membentuk setiap amalan kita sesuai dengan keridhaan-Nya, semoga kita bisa meraih kebaikan demi kebaikan Allah Ta’ala juga dan juga menjadi penerima surga Allah Ta’ala di kehidupan yang akan datang. Semoga Allah menerima doa-doa kita semata-mata karena karunia Allah Ta’ala.

Saat ini saya akan memimpin tiga shalat jenazah ghaib setelah Shalat Jumat. Pertama adalah seorang jenazah syahid dan kedua adalah kewafatan seseorang. Syahid kita adalah Mukarom I’jaz Ahmad Kayani Sahib ibnu Mukarom Basyir Ahmad Kayani disyahidkan di Kota Orangi, Karachi pada tanggal 18 September. Innalillahi wa innailaihi rooji’uun. Beliau disyahidkan di Kota Orangi oleh seorang penyerang tak dikenal yang menembak beliau. Saat Mukarom I’jaz Ahmad Kayani berangkat kerja di pagi hari tanggal 18 September 2013 diatas sepeda motor beliau, baru keluar dari rumahnya, tidak jauh dari rumah. Menurut saksi mata mengatakan bahwa beliau baru pergi dan telah melambat karena batasan kecepatan di jalan ketika itu beliau didekati dua penyerang yang juga naik motor kemudian beliau ditembak beberapa kali. Penembakan itu berlanjut saat beliau jatuh dan berjuang untuk bangun. Seorang saksi lain menerangkan bahwa saat beliau keluar, tiba-tiba ada seseorang yang di tangannya terdapat senjata api dan menembakkan kepada beliau kemudian disusul tiga orang penyerang yang menyerang beliau dengan tembakan juga. Ketika beliau berupaya akan bangun dari jatuh, maka disusul tembakan yang mengenai pada leher dan wajah beliau, lalu beliau tak sadarkan diri dan disyahidkan pada kesempatan ini. Innalillahi wa innailaihi rooji’uun.

Bulan lalu tepatnya tanggal 21 Agustus kakak ipar Muhtarom Zahoor Ahmad Kayani Sahib juga disyahidkan di daerah yang sama. Setelah kesyahidan saudaranya tersebut maka Mukarom I’jaz Ahmad Kayani bersemangat menablighi berkenaan kebenaran Ahmadiyah dua paman beliau yaitu Mukarom Muhammad Yusuf Kayani Sahib dan Mukarom Muhammad Sa’id Sahib. Hal mana keduanya telah bai’at ke dalam Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1936. Paman beliau ini merupakan seorang yang berilmu, bahkan seorang ahli dalam keilmuan. Sehingga sang Paman tersebut memperoleh taufiq berbai’at setelah banyak melakukan penelitian beserta mutholaah. Almarhum syahid tersebut dimakamkan di Primcott Mazfar Abad Azaam – Kasymir. Almarhum Syahid  lahir pada bulan Desember tahun1984 di Karachi, menempuh pendidikan juga di Karachi. Kemudian beliau sebelumnya sempat bekerja di Ordonansi Militer Pakistan selama lima tahun, disyahidkan pada usia 29 tahun. Menikah dengan seorang putrid dari Abdur Rahman Sahib dari Kotala Kasymir bernama Tsaubiyah Sahibah. Almarhum Syahid dikenal dengan karakter mukhlis, shaleh, lemah lembut dan pendiam. Dalam pengkhidmatan jemaat, orangnya sangat kooperatif, saat ada anjuran dari jemaat, beliau selalu mempertunjukkan ketaatannya. Mukarom I’jaz Ahmad Kayani sangat terpengaruh oleh kesyahidan saudara iparnya tersebut yakni Mukarom Zahoor Ahmad Kayani. Kesyahidan Zahoor Kayani sangat berkesan dan diingat sebagai kakak sekaligus menempati posisi sebagai bapak. Seusai kesyahidan beliau, keadaan keagamaan anak istri di rumah sedemikian rupa tidak ketinggalan dalam peribadatan dan tidak diketahui betapa hebatnya ghairah anak-anak beliau dalam pengkhidmatan. Kesyahidan beliau memberi pengaruh yang sangat besar terhadap keluarga yang ditinggalkan. Ibu dari Syahid almarhum mengatakan bahwa beliau lahir dengan banyak do’a setelah kelahiran empat saudari, sangat baik dan penuh perhatian kepada ibu beliau dan berkaitan dengan aqidah, sangat menjaga program-program jemaat. Menjaga seluruh anggota keluarga, saudari-saudari perempuan beliau sehingga beliau dikenal sebagai saudara besar. Beliau bertabiat lemah lembut, ketika keluarga keberatan membawa sesuatu beliau menolong dengan suka cita. Istri beliau juga mengatakan bahwa beliau bertabiat sangat baik, seorang yang menunaikan segala kewajiban. Anak yang baik, saudara yang baik, bapak yang baik dan suami yang baik. Dia mengatakan beliau sangat mendukung dan menghibur setiap kali dia punya kekhawatiran apapun dan menarik perhatian kepada Tuhan. Beliau meninggalkan seorang janda, putri bernama Azizah Dar ‘Adn I’jaz berusia empat tahun dan seorang putra bernama Burhan Ahmad berumur satu setengah tahun.

Situasi di Karachi sangat buruk. Tampaknya sebuah kelompok telah ditunjuk untuk target membunuh para Ahmadi. Semoga Allah Ta’ala segera menghukum mereka! Asal muasalnya semua ini terjadi atas perintah dari Maulwi yang didukung oleh pemerintah. Semoga Allah Ta’ala juga segera menghukum kelompok yang kejam ini! Kita harus banyak berdoa, situasi di Karachi secara khusus sangat mengerikan tetapi pada umumnya di Pakistan juga sangat buruk, demikian juga di Lahore sangat buruk perlakuan terhadap para ahmadi, mereka berusaha untuk membunuhnya. Semoga Allah Ta’ala menjaga keimanan dan seluruh ahmadi disana.

Jenazah kedua adalah Mukarom Abdul Hamid Mukmin Sahib, beliau adalah seorang darwis bin Mukarom Data Sahib dari Qadian yang meninggal pada tanggal 11 September 2013. Beliau wafat pada umur 97 tahun. Innalillahi wa innailaihi rooji’uun.

Beliau lahir pada tahun 1916 di Sindh. Kemudian hijrah ke Faisal Abad, menetap disana, sambil belajar taklim dan tarbiyat. Pada tahun 1945 beliau datang ke Qadian untuk menempuh pendidikan agama. Pernah menikah sekali tanpa memiliki anak karena sebab tertentu, pada pernikahan kedua beliau menikahi dua orang putri dari dua darwis yakni Mukarom Sayyid Syafiquddiin Sahib yang merupakan sahabat dari Hadhrat masih Mau’ud as dan Mukarom Sayyid Muhyiddin Sahib. Meninggalkan seorang istri bernama Umatullah Fahmidah Sahibah, seorang bayi 8 bulan dalam kandungan, 5 orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Beliau selalu membawa kelima anaknya dalam pengkhidmatan terhadap jemaat. Beliau adalah orang yang sabar, sangat taat, sangat rajin dan kreatif dalam kerja. Senantiasa rajin masuk kantor dan suka bertabligh terhadap ghair muslim. Beliau juga mendapat taufiq menjabat sebagai mubaligh di daerah pedesaan. Memperoleh karunia dengan gelar degree juga. Beliau rajin sholat, puasa, seorang yang mukhlis dan seorang yang setia. Meskipun kesehatan yang lemah di usia lanjut, beliau selalu mengerjakan shalat berjamaah. Kecintaan terhadap Qur’an Kariimpun tidak ketinggalan, bahkan merupakan seseorang yang bagus dalam bacaannya. Almarhum adalah seorang Musi juga.

Jenazah ketiga adalah Mukarom Syeikh Rahmatullah Sahib yang meninggal pada 12 September setelah sakit singkat pada usia 94 tahun. Innalillahi wa innailaihi rooji’uun. Beliau menerima Ahmadiyah pada tahun 1943 dengan usia 24 tahun. Beliau bekerja di Delhi sebagai Clark dan kemudian pada tahun 1946 pindah ke Lahore. Setahun kemudian pindah ke Karachi dan bekerja dengan Chaudhry Shahnawaz Sahib dalam impor obat-obatan. Pada tahun 1950 dengan bantuan Chaudhry Shahnawaz sahib memulai usaha beliau sendiri yang sangat diberkati oleh Allah Ta’ala. Meskipun beliau belajar duniawi hanya sampai matriks semua orang berpikir beliau berpendidikan tinggi. Syeikh Rahmatullah sahib menjadi Naib Amir Jamaat Karachi dibawah Chaudhary Abdullah Khan sahib pada tahun 1950. Selama kerusuhan tahun 1953 Hadhrat Muslih Mau’ud ra mengangkat beliau sementara sebagai Amir Jemaat Karachi karena Chaudhry Abdullah Khan sahib adalah seorang pegawai pemerintah dan ada kekhawatiran bahwa ia mungkin kehilangan pekerjaannya. Setelah itu beliau melanjutkan sebagai Amiir pengganti selama Chaudhry Abdullah Khan sahib sakit. Setelah kewafatan Chaudhry Abdullah Khan sahib menjadi Amir Karachi dan terus menjadi Amir sampai 1964. Tertulis dalam sejarah Jamaat Karachi bahwa selama kerusuhan 1953 karena ada kekhawatiran bahwa Rabwah dapat ditutup, Khalifatul Masih II membentuk Sadr Anjuman Ahmadiyah terpisah di Karachi. Syeikh Rahmatullah sahib ditunjuk juga sebagai Nazir A’la Anjuman ini.

Beliau juga anggota Dewan Nigran (Dewan Pengawas) yang dibentuk selama sakit panjang Hadhrat Muslih Mau’ud ra. Dia punya kesetiaan yang kuat dengan khilafah dan memiliki hubungan yang khas dengan Hadhrat Khalifatul Masih V selama Khilafat beliau, sangat sensitif, tanggap terhadap masalah yang Huzur hadapi, banyak berdo’a dan banyak berkorban. Beliau adalah orang yang sangat jujur dan mukhlis. Beliau merupakan orang yang menjaga persahabatan setelah kesetiaan terhadap khilafah dan mempunyai banyak teman dan kenalan dan membantu siapa saja yang sedang membutuhkan. Pergaulan beliau cukup luas, banyak memilki sahabat karib di dunia ini, maka beliau mengembangkannya dengan selalu banyak bertabligh juga. Salah satu putra beliau Nasim Rahmatullah Sahib telah menjadi Sadr Jamaat Cleveland serta Naib Amir Amerika untuk waktu yang lama. Beliau juga menjabat sebagai Ketua situs website Jemaat yakni alislam.org. Putra beliau yang kedua adalah Syeikh Farhatullah Sahib berkhidmat sebagai Naib Amir Faisal Abad dan juga Sadr Dewan Mashawerti (membidangi Shana’ah dan Tijarat, Perindustrian dan Perdagangan). Salah satu putri beliau, Jamila Rahmani Sahibah berkhidmat di Lajnah di Inggris. Ghulam Rahmani Sahib menjabat sebagai sekretaris Wasiyyat untuk jangka panjang di sini di Inggris. Putri bungsu beliau Nadarat Malik Sahibah menjabat sebagai Sadr Lajnah Columbus dan Sadr Lajnah Wilayah East Midwest di Amerika Serikat.

Semoga Allah Ta’ala mengangkat kedudukan semua almarhum dan menganugerahkan taufik kesabaran kepada yang ditinggalkan, terutama orang tua syuhada yang putranya telah syahid. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kesabaran dan ketabahan serta menjadi Pelindung keempat anak-anak beliau dan menjaga mereka beserta keimanannya dalam naungan perlindungan-Nya!

Kedua, Insya Allah Ta’ala saya akan berangkat untuk kunjungan selama beberapa minggu. Do’akan semoga Allah Ta’ala menjadikan kunjungan ini sangar berberkat dalam segala hal dan dapatlah memenuhi berbagai tujuan kunjungan ini dengan karunia-Nya.

Penerjemah Ikhtisar : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Penerjemah lengkap : Mln. Ahsan A. Anang STY (Versi Urdu)

[1] Semoga Allah Ta’ala mengokohkannya dengan pertolongan-Nya yang perkasa.

[2] Malfuzhat, j. 3, hal. 629-630, Edisi 2003, Mathbu’ah Rabwah.

[3] Ruhul Bayan j. 1, hal. 78 – 80, Surat Al Baqoroh ayat 22 Darul Kitabul ‘Alamiyah – Beirut 2003. At Targhibu wat Tarhiibu lilmundzari, j. 1, hal. 54 -56, Babut tarhiibu minar riyaa-I wa maa yaguuluhu man khoofa syai-am minhu hadiits, number 57, Darul hadiits – Qohiroh 1994.