Khutbah Jum’ah

Hadhrat Amirul Mu’minin Khalifatul Masih V atba.

Tanggal 14 Maret 2014 dari Baitul Futuh London, U.K.

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ o الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ oملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ o اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُo

 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَo صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ , غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ لضَّالِّيْنَo

Sebelum ini saya telah menyampaikan beberapa kali Khutbah tentang perbaikan amal. Di dalam khutbah-khutbah itu saya telah menjelaskan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s telah memperkenalkan Allah Ta’ala kepada kita dan telah memberitahu cara-cara untuk memperoleh ma’rifat dan kecintaan Ilahi dan bagaimana beliau telah membimbing kita untuk meraih qurub-Nya. Begitu juga Kalam Allah Ta’ala yang masih segar dan tanda-tanda mu’jizat yang telah diperlihatkan kepada beliau yang telah sempurna dengan sangat cemerlang juga telah dijelaskan di dalam Khutbah-khutbah sebelumnya. Untuk meningkatkan iman dan amal, kita harus berusaha untuk memahami perkara itu semua berdasarkan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Sehubungan dengan ma’rifat Allah Ta’ala pada hari ini saya akan mengemukakan beberapa intisari dari tulisan-tulisan dan sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Karya tulis tentang pembahasan ini meliputi ratusan halaman banyaknya, namun pada hari ini saya hanya akan mengemukakan beberapa contoh petunjuk-petunjuk beliau berkenaan dengan ma’rifat Ilahi. Para Anbiya dan para Wali Allah mempunyai kedudukan yang sangat istimewa sekali berkenaan dengan ma’rifat Ilahi. Namun Hadhrat Masih Mau’ud a.s. menjelaskan bagaimana standar yang harus dimiliki oleh para Muslim awam berkenaan dengan ma’rifat Ilahi itu.

Sambil memberi bimbingan untuk dapat sampai kepada Allah Ta’ala Hadhrat Masih Mau’ud.a.s bersabda:” Untuk dapat sampai kepada Allah Ta’ala, manusia memerlukan dua perkara. Pertama, menjauhkan diri dari keburukan. Kedua, melakukan amal kebaikan. Semata-mata hanya meninggalkan keburukan, sedikitpun tidak mempunyai suatu keistimewaan. Hal yang sesungguhnya adalah, semenjak manusia dilahirkan kedunia, kedua factor itu sudah terwujud di dalam fitrat-nya. Di satu fihak, ghairah nafsu yang cenderung kepada dosa dan di fihak lain sebuah nyala api kecintaan Ilahi terpendam di dalam fitratnya, yang membakar hangus semua sampah-sampah dosa, seperti api membakar hangus sampah-sampah zahiryah. Akan tetapi nyala api ruhani yang membakar dosa-dosa ini, bergantung kepada ma’rifat Ilahi, sebab kecintaan serta pujian terhadap sesuatu benda berkaitan erat dengan pengenalan dan pengetahuan tentang benda itu. Jika kalian tidak mengetahui keindahan dan kualitas suatu benda, kalian tidak akan mencintai dan memuji kelebihan benda itu. Maka, ma’rifat atau pengetahuan tentang keindahan dan kesempurnaan sifat-sifat Allah Ta’ala Yang Maha Agung dan Maha Mulia, menciptakan api kecintaan-Nya yang dapat membakar hangus dosa-dosa. Akan tetapi sunnah Allah Ta’ala adalah, ma’rifat itu dianugerahkan kepada manusia melalui para Nabi Allah, mereka memperoleh cahaya dari cahaya para Anbya itu dengan mengikuti tauladan mereka, sehingga manusia memperoleh apapun yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada para Anbiya itu.”

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Saya telah menela’ah dan mempelajari semua Agama sedalam-dalamnya. Sehingga saya dapat mengambil kesimpulan bahwa, pada zaman ini hanyalah Islam yang dapat menciptakan ma’rifat yang sejati pada setiap zaman. Sebabnya tiada lain, karena Islam adalah sebuah Agama yang Nabi-nya juga hidup dan ajarannya juga tetap hidup. Dan Allah Ta’ala berfirman bahwa berkat mencintai serta mengikuti teladan Muhammad Rasulullah saw kalian dapat menerima anugerah kalam-Nya dan pintu-pintu nur-Nya dapat terbuka bagi kalian serta dapat meraih berkat-berkat dari padanya.”

Dalam menjelaskan bahwa terdapat sebuah hubungan antara hakikat Islam dan ma’rifat Ilahi, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: ”Allah Ta’ala telah menyatakan bahwa ilmu atau ma’rifat adalah sarana untuk menghasilkan hakikat Islam. Sekalipun banyak sekali sarana-sarana untuk menghasilkan hakikat Islam, misalnya puasa, salat, do’a dan semua hukum-hukum Allah Ta’ala yang jumlahnya lebih dari 600 buah. Akan tetapi untuk menghasilkan ilmu Tauhid dan ilmu keagungan Allah Ta’ala, menghasilkan ma’rifat Allah Ta’ala, menghasilkan ma’rifat atau ilmu sifat-sifat Allah Ta’ala, semuanya bertumpu kepada ma’rifat Allah Ta’ala. Dan itulah sarana-sarana untuk mengenal Allah Ta’ala sebagaimana Dia berhak untuk dikenal. Orang yang hatinya lalai dan bernasib malang sepenuhnya dari ma’rifat Ilahi, bagaimana dia akan mendapat taufiq untuk menunaikan kewajiban salat, puasa, dan berdo’a atau menaruh perhatian untuk mengeluarkan sedekah. Penggerak semua amal kebaikan itu adalah ma’rifat Ilahi dan semua sarana-sarana lainnya juga tercipta karena ma’rifat Ilahi itu. Dan ma’rifat Ilahi itu tercipta melalui sifat Rahmaniyyat (kemurahan Allah Ta’ala) bukan karena sesuatu amal dan bukan juga karena suatu do’a atau suatu kebaikan, melainkan semata-mata hanya melalui anugerah Allah Ta’ala atau melalui Rahmaniyyat-Nya. Allah swt berfirman :  Artinya: Maka sesungguhnya Allah membiarkan sesat kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia sukai.(Al Fatir:9) Maka, ma’rifat ini semakin meningkat karena amal saleh dan karena keindahan iman. Pertama ma’rifat diperoleh dari Allah Ta’ala, melalui sifat Rahmaniyyah-Nya. Namun apabila ma’rifat ini telah diperoleh maka manusia harus banyak melakukan amal saleh dan harus berusaha menciptakan keindahan di dalam imannya. Apabila iman sudah mencapai keindahannya dan dipupuk dengan amal-amal saleh, maka ma’rifat-pun akan semakin bertambah maju. Akhirnya ia akan meningkat berupa ilham dan kalam Ilahi yang turun menerangi taman hatinya menjadi cemerlang penuh dengan cahaya yang namanya adalah Islam. Berkenaan dengan ma’rifat Ilahi, terlepas dari dosa-dosa, taufiq untuk berbuat kebaikan dan mutu do’a-do’a, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “ Hakikat yang sesunguhnya adalah, tidak ada manusia yang sungguh-sungguh dapat terlepas dari dosa dan dengan sungguh-sungguh mencintai Allah Ta’ala serta tidak pula sungguh-sungguh takut dari pada-Nya, selama ma’rifat tidak dia peroleh melalui karunia dan kasih sayang-Nya dan kekuatan tidak dia peroleh dari pada-Nya. Dan hal ini sangat jelas sekali bahwa aspek setiap takut dan aspek setiap cinta dapat dihasilkan melalui ilmu atau ma’rifat Ilahi. Perasaan cinta atau perasaan takut bahkan ingin lari menjauh dari suatu benda dunia, timbul di dalam hati manusia setelah ia memperoleh ilmu atau ma’rifat. Memang betul, ma’rifat tidak dapat diperoleh tanpa karunia Allah Ta’ala dan tidak pula berfaedah jika tidak ada karunia dari pada-Nya. Dan ilmu atau ma’rifat itu dihasilkan melalui karunia Allah Ta’ala, barulah dengan karunia-Nya itu pintu untuk mengenal dan mencari kebenaran menjadi terbuka, dan pintu itu akan terus terbuka karena berulangnya turun karunia Tuhan. Dengan terus berlangsungnya karunia Tuhan turun maka pintu ma’rifat itu-pun akan selalu tetap terbuka, tidak akan tertutup. Pendeknya ilmu atau ma’rifat diperoleh melalui karunia Tuhan dan tetap terpelihara melalui karunia-Nya. Karunia Allah Ta’ala membuat ilmu atau ma’rifat menjadi sangat murni dan cemerlang sekali, dan menyingkapkan tabir yang menutupinya dan melenyapkan sampah kotor nafsu ammarah. Dan memberi kekuatan serta kehidupan terhadap ruh, dan membebaskan-nya dari cengkeraman nafsu ammarah dan membersihkan-nya dari keinginan-keinginan kotor dan buruk dan menyelamatkan dari derasnya banjir keinginan-kenginan pribadi. Barulah timbul perobahan baik di dalam diri manusia. Dan dengan sendirinya ia merasa jijik terhadap kehidupan kotor dan perkara pertama yang menarik dia setelah Karunia Tuhan adalah do’a. Janganlah menganggap diri kalian sudah cukup banyak berdo’a setiap hari dan semua Salat yang dikerjakan lima waktu juga adalah do’a. Sebab do’a yang dipanjatkan setelah mendapat ma’rifat Ilahi dan timbul melalui Karunia Tuhan mempunyai warna dan corak lain. Ia membuat fana, ia sebuah api yang membuat benda meleleh, ia daya magnit yang dapat menarik Rahmat Tuhan. Ia adalah maut yang akhirnya membawa kehidupan. Ia adalah air bah dahsyat yang menakutkan yang akhirnya menjadi sebuah bahtera. Setiap perkara yang sudah berantakan tersusun rapih kembali melaluinya dan setiap racun berubah menjadi obat penawar karenanya.” Demikianlah kedudukan do’a setelah mendapat ma’rifat itu.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Mengapa manusia banyak cenderung terhadap perbuatan dosa. Mengapa nafsu ammarah menguasai kalbu-kalbu manusia. Keberanian berbuat dosa juga disebabkan kalbu manusia kosong dari perasaan takut kepada Tuhan. Namun bagaimanakah rasa takut itu bisa timbul di dalam kalbu? Untuk itu diperlukan ma’rifat Ilahi. Lebih banyak ma’rifat Ilahi diperoleh, semakin lebih banyak timbul perasaan takut kepada Tuhan. Lebih banyak irfan Ilahi diperoleh, seperti itu pula banyaknya rasa takut tertanam di dalam kalbu manusia. Ma’rifat Ilahi adalah titik central segala sesuatu, yang membuahkan rasa takut kepada Tuhan. Jika manusia memperoleh ma’rifat dan ia mengenal Tuhan serta mengetahui hakikat Allah Ta’ala, maka di dalam hatinya akan timbul rasa takut kepada Tuhan. Ma’rifat adalah suatu yang membuat manusia takut kepada makhluk kecil sekalipun seperti kepada seekor nayamuk. Yakni jika manusia memiliki pengetahuan tentang sesuatu dan apa hakikatnya, maka ia akan merasa takut juga kepadanya, seperti kepada seekor kutu atau nyamuk dan lain-lain, dan ia berusaha menghindarkan diri dari setiap benda itu. Jadi, apa sebabnya manusia tidak merasa takut kepada Tuhan Yang Memiliki segala kekuatan, Maha Mengetahui, Maha Melihat serta Pemilik langit dan semua lapisan bumi. Betapa berani manusia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hukum-hukum Aallah Ta’ala. Jika manusia berfikir tentang itu semua kemudian melihat maka akan diketahui bahwa manusia itu tidak memiliki ilmu atau ma’rifat, ia tidak mempunyai pengertian sebenarnya tentang Allah Ta’ala karena itu perhatiannya cenderung kepada perbuatan-perbuatan dosa. Banyak orang yang secara lisan mengaku telah beriman kepada Tuhan, namun jika diteliti dengan cermat akan diketahui bahwa di dalam diri mereka terdapat dahriyyat (tidak percaya kepada Tuhan). Sebab jika mereka sibuk dalam urusan duniawi, maka mereka lupa kepada kemurkaan dan keagungan Allah Ta’ala. Oleh sebab itu perlu sekali kalian memohon ma’rifat melalui do’a kepada Allah Ta’ala. Iman yang kamil sekali-kali tidak akan dapat diperoleh tanpa ma’rifat. Iman yang kamil itu akan dapat diperoleh apabila sudah memiliki ilmu atau ma’rifat bahwa memutuskan hubungaan dengan Allah Ta’ala adalah satu kematian. Dimana kalian memanjatkan do’a untuk menghindarkan diri dari dosa, disana tadbir atau usaha juga jangan kalian tinggalkan. Semua Majlis dan Pertemuan-pertemuan yang dengan mengikutinya menjurus terhadap perbuatan-perbuatan dosa, harus ditinggalkan sambil banyak memanjatkan do’a. Pada zaman sekarang di dunia ini terdapat sedikit sekali Majlis yang tidak cenderung kepada dosa.” Di mana-mana terdapat TV, internet, Facebook, yang sekarang dunia mulai menyadari keburukan-keburukannya. Beberapa hari yang lalu telah diterima berita bahwa di USA, Facebook telah menggelisahkan banyak orang sehingga terpaksa 600.000 buah rekening/account Facebook telah ditutup.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Dimana kalian memanjatkan do’a untuk menghindarkan diri dari dosa, disana tadbir atau usaha juga jangan kalian tinggalkan. Semua Majlis dan Pertemuan-pertemuan yang dengan mengikutinya menjurus terhadap perbuatan-perbuatan dosa, harus ditinggalkan sambil banyak memanjatkan do’a. Dan ketahuilah dengan sebaik-baiknya bahwa, jika tidak ada pertolongan Allah Ta’ala, sekali-kali manusia tidak akan dapat melepaskan diri dari musibah yang telah ditetapkan melalui Qada dan Taqdir Tuhan bersamaan dengan waktu kelahiran manusia.”

Selanjutnya sambil menjelaskan tentang melepaskan diri dari dosa-dosa tanpa ma’rifat Ilahi tidak mungkin, Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda: “ Ingatlah! Taufiq agar terlepas dari dosa-dosa dapat diterima apabila manusia beriman secara sempurna kepada Allah Ta’ala. Maksud yang sangat besar dari kehidupan manusia tiada lain adalah agar terlepas dari cengkeraman dosa. Tengoklah seekor ular, yang nampaknya menarik hati, seorang anak kecil berusaha memegangnya, akan tetapi seorang yang berakal mengetahui bahwa ular itu berbahaya akan mematuk dan membinasakannya, sama sekali ia tidak akan berani untuk memeganggnya. Bahkan jika seseorang mengetahui di sebuah rumah terdapat seekor ular, maka ia tidak akan masuk kedalam rumah itu. Begitu juga seseorang tidak akan berani meminum racun yang akan mematikan. Maka, begitu juga dengan dosa, manusia tidak dapat terhindar dari padanya jika tidak diyakininya sebagai racun yang sangat berbahaya dan mematikan. Keyakinan itu tidak akan tercipta tanpa ma’rifat. Jika tidak ada ilmu atau ma’rifat, keyakinan-pun tidak akan timbul. Jadi, mengapa manusia begitu berani melakukan dosa, sekalipun ia beriman kepada Allah Ta’ala padahal dosa juga dianggapnya sebagai dosa. Penjelasan yang patut diberikan tiada lain adalah, karena manusia itu tidak mempunyai ma’rifat dan basirat atau pengertian yang dapat menghancurkan kecenderungan terhadap dosa. Jika manusia tidak dapat meraih kedudukan itu maka terpaksa harus menyatakan bahwa, na’uzubillahi min zalik, Islam kosong dari maksud asalnya yang sangat luhur. Akan tetapi saya berkata, bahwa sebetulnya bukan begitu. Melalui Islam-lah semua maksud itu dapat dihasilkan sampai puncak kesempurnaan yang paling tinggi. Dan untuk itu hanya ada satu sarana yaitu melalui mukallamah wa mukhotobah Ilahiyah yakni wawancakap dan rabtah dengan Allah Ta’ala. Sebab dengan itulah timbulnya keyakinan yang kamil terhadap Allah Ta’ala. Dan dengan itulah dapat kita ketahui bahwa Allah Ta’ala benci dan jijik terhadap dosa dan Dia menghukumnya. Dosa sebuah racun yang pertama kalinya sangat kecil kemudian menjadi besar akhirnya mambuat manusia menjadi kufur.” (Lecture Ludhiana, pp. 55-56)

Untuk menghentikan dosa dan pentingnya ma’rifat, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Ma’rifat juga adalah sebuah perkara yang menahan manusia dari pada dosa. Sebagaimana seorang manusia telah mengetahui sebuah racun, ular dan harimau sangat membahayakan, maka ia tidak akan mendekatinya. Begitu juga jika kalian mempunyai ilmu atau ma’rifat tentang dosa, maka kalian tidak akan mendekatinya. Sangat penting sekali bagi kalian untuk meningkatkan iman dan meningkatkan do’a. Dan sesungguhnya Salat adalah do’a. Semakin baik kalian menunaikan Salat dengan tertib dan penuh perhatian, semakin terbuka jalan bagi kalian untuk melepaskan diri dari pada dosa. Ma’rifat tidak dapat dihasilkan hanya melalui perkataan mulut saja. Banyak cendekiawan besar yang meninggalkan Tuhan, sebab mereka telah menciptakan benda-benda lain dalam pandangan mereka dan mereka tidak menaruh perhatian lagi terhadap do’a, sebagaimana telah kami terangkan di dalam Kitab Barahin Ahmadiyyah. Bagi benda-benda ciptaan manusia juga harus ada wujud Zat Pencipta, akan tetapi tidak terbukti apakah memang Dia itu ada. ‘Harus ada’ dan ‘ada’ adalah dua buah perkara yang berbeda. Ilmu untuk ‘ada’ tidak dapat diperoleh kecuali melalui do’a. Dalam kata lain, ilmu tentang adanya Tuhan dapat diperoleh hanya dengan do’a. Orang yang hanya menggunakan akal tidak akan dapat memperoleh ilmu bahwa Dia itu ‘ada.’ Itulah sebabnya dalam peribahasa dikatakan :”khuda ra bkhuda tawan syanaa’ yakni Tuhan dapat dikenal melalui Tuhan lagi. Itulah juga yang dimaksud dengan firman Tuhan yakni penglihatan mata tidak sampai kepada-Nya (Al An’am ayat 104). Maksudnya Dia tidak dapat dikenal hanya menggunakan akal semata. Sebaliknya Dia dapat dikenal melalui sarana-sarana yang telah Dia Sendiri sediakan. Dan untuk itu tidak ada do’a selain do’a ini:  Hai Tuhan tunjukkanlah kami kearah jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka. (Al Fatihah 6-7).”

Berkenaan dengan tobah sejati Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Orang yang dengan hati teguh mencari Tuhan, dia akan mendapatkan-Nya. Bukan hanya mendapatkan-Nya saja, bahkan saya yakin bahwa ia akan melihat-Nya juga. Banyak sekali kesulitan dan banyak sekali biaya dikeluarkan untuk memperoleh ilmu pengetahuan duniawi. Hal itu memberitahukan dengan jelas pedoman untuk memperoleh ilmu ruhani.” Yakni untuk mencari ilmu pengetahuan duniawi harus menghadapi banyak kesulitan dan banyak mengeluarkan biaya, maka itulah pedoman yang diperlukan untuk memperoleh ilmu ruhani juga.

Cara kita bagi seorang yang baru memulai ilmu ruhani, pertama sekali dia harus berusaha mengenal Tuhan kemudian Sifat-sifat-Nya. Kesadaran kenal dengan Tuhan harus sampai kepuncak keyakinan yang pasti, barulah ia akan menemukan Allah Ta’ala dan Sifat-sifat-Nya yang kamil dan ruhnya akan berseru bahwa dia telah menemukan Allah Ta’ala dengan penuh ketenteraman. Apabila kalbu manusia telah menerima kehadiran Tuhan disertai iman yang bermutu, maka sampailah kepada keyakinan sedemikian rupa sehingga merasa seolah-olah ia telah melihat Tuhan dan penuh yakin terhadap Sifat-sifat-Nya. Maka ia membenci semua jenis dosa, yang sebelumnya selalu tunduk kepada dosa, sekarang ia berbalik dari padanya kemudian membencinya. Dan itulah yang disebut tobah!”

Untuk memperoleh ma’rifat Ilahi, sambil menjelaskan lebih lanjut tafsir ayat (Al Fatihah 6-7), Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Inilah do’a yang diajarkan di dalam Surah Al Fatihah untuk dibaca di dalam Salat Fardhu lima waktu setiap hari  Hai Tuhan tunjukkanlah kami kejalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka. (Al Fatihah 6-7).” Kemudian mengapa seorang Ummati yang telah memperoleh ni’mat ini harus di-ingkari? Apakah ni’mat yang diminta dari Allah Ta’ala setiap hari bahkan setiap waktu di dalam Surah Al Fatihah, apakah yang diberikan kepada para Nabi itu berupa wang Dirham atau Dinar? Jelaslah bahwa para Nabi memperoleh ni’mat berupa mukallamah wa mukhotobah Ilahiyah, wawancakap dengan Allah Ta’ala dan rabtah dengan-Nya, dengan perantaraan mana ma’rifat mereka sampai kepada martabah haqqul yaqin. Manifestasi wawancakap dengan Tuhan diikuti tembus pandang (kepada-Nya).” Yakni manifestasi mukallamah Ilahiyah menjadi pengganti tembus pandang kepada Allah Ta’ala disebabkan cinta yang bergelora, hatinya sudah sangat dekat sekali dengan Allah Ta’ala. Jadi, do’a yang dipanjatkan ini: Hai Tuhan-ku! Tunjukkanlah jalan itu yang dengannya kami juga menjadi pewaris ni’mat itu yakni: anugerahkanlah kepada kami juga ni’mat mukallamah wa mukhotobah Ilahiyah ! adakah arti lain selain dari ini? Tentang do’a ini banyak orang-orang jahil berkata bahwa arti do’a ini hanyalah begini: “Hai Tuhan! Kuatkanlah iman kami dan berilah taufiq kepada kami untuk beramal saleh, dan tunjukkanlah pekerjaan kepada kami, agar dengan itu Engkau ridha kepada kami!” Akan tetapi orang-orang jahil ini tidak tahu bahwa kekuatan iman dan melakukan amal saleh dan melangkah diatas jalan sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala, semua itu merupakan buah dari pada ma’rifat kamil atau sempurna. Hati yang tidak memperoleh bagian dari ma’rifat Allah Ta’ala Yang Mahakuasa, hati itu akan bernasib malang, iman tidak kuat dan tidak akan mampu melakukan suatu amal soleh. Hanya melalui ma’rifat-lah rasa takut kepada Allah Ta’ala timbul di dalam kalbu manusia. Melalui ma’rifat-lah gejolak kecintaan terhadap Allah Ta’ala timbul di dalam kalbu manusia. Sebagaimana kita dapat melihat di atas dunia ini bahwa rasa takut dan cinta terhadap sesuatu benda timbul melalui ilmu atau ma’rifat tentang benda itu. Jika seekor singa berdiri dekat kalian dalam keadaan gelap gulita dan kalian tidak tahu bahwa itu seekor singa, melainkan kalian anggap seekor kambing maka kalian sedikit-pun tidak akan takut kepadanya. Dan apabila sudah tahu bahwa ia adalah seekor singa, maka tanpa sadar kalian akan segera berlari terbirit-birit dari padanya. Begitulah juga jika kalian mengira sebutir mutiara yang tergeletak di dalam sebuah hutan yang mempunyai harga beratus ribu Rupiah, dianggap semata-mata sebutir kerikil, maka sedikitpun kalian tidak akan menghiraukannya. Akan tetapi jika kalian mengetahui bahwa itu adalah sebutir mutiara yang sangat cemerlang dan berharga sekali, maka kalian akan menjadi tergila-gila karena mencintainya dan sedapat mungkin kalian akan berusaha untuk memilikinya. Maka dapat kita ketahui bahwa semua kecintaan dan takut bertumpu kepada ma’rifat. Manusia tidak akan memasukkan tangannya kedalam sebuah lubang jika ia tahu bahwa di dalamnya terdapat seekor ular berbisa. Dan tidak pula ia meninggalkan sebuah rumah jika ia mengetahui bahwa dibawahnya terkubur sebuah khazanah besar. Karena semua kecintaan dan takut tergantung kepada ilmu atau ma’rifat, oleh sebab itu manusia dapat tunduk secara sempurna dihadapan Allah Ta’ala, apabila ia telah mempunyai pengetahuan atau ma’rifat yang sempurna tentang Tuhan. Apabila manusia telah memperoleh ma’rifat Allah Ta’ala yang sesungguhnya, maka perasaan takut dan kecintaan kepada-Nya mulai bersemi di dalam lubuk hatinya. Pertama, harus mengetahui tentang Wujud-Nya kemudian mengetahui tentang Sifat-sifat-Nya, tentang kekuatan-Nya dan tentang keistimewaan Kudrat-Nya yang kamil. Bagaimana ma’rifat seperti ini dapat diraih seseorang tanpa memperoleh kehormatan mukallamah wa mukhotobah Ilahiyyah, kemudian melalui ilham Ilahi ia yakin bahwa Tuhan adalah Alimul Ghaib dan memiliki segala Kekuatan, Dia kerjakan sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Jadi, ni’mat yang sejati, yang padanya bertumpu kekuatan imaan dan amal saleh, adalah mukallamah wa mukhotobah Ilahiyah, dengan perantaraannya pertama, Tuhan dapat diketahui kemudian manusia dapat mengenal Qudrat atau Kekuatan-Nya, kemudian sesuai dengan ilham itu manusia dapat melihat Kekuatan-kudrat-Nya itu dengan matanya sendiri. Itulah ni’mat yang pernah diberikan kepada para Anbiya ‘alaihimussalam, kemudian kepada Ummat ini telah diperintahkan: ”Minta-lah ni’mat ini dari pada-Ku, maka Aku akan memberikannya kepada-mu juga!” Jadi, siapa saja yang mempunyai keinginan untuk memperoleh ni’mat ini, tidak ragu lagi, pasti ia akan memperoleh ni’amt itu.”

Berkenaan dengan melakukan kebaikan dan mencegah keburukan, sambil menjelaskan lebih lanjut tentang ma’rifat Ilahi Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Tumpuan semua kebaikan terletak pada pengenalan terhadap Tuhan. Dan hanya satu hal yang dapat menghindari ghairah nafsu serta gerak-tipu syaitan yaitu ilmu atau ma’rifat Ilahi yang kamil. Dari itu dapat diketahui bahwa Tuhan itu ada, Dia Maha Qadir (Maha Perkasa) Dia adalah Dzul Azabi Syadid, Dia sangat keras dalam memutuskan Azab. Hanya itulah sebuah formula yang laksana halilintar jatuh menyambar dan menghanguskan kehidupan manusia pemberontak dan keras kepala. Yakni barangsiapa yang dijatuhi halilintar ia menjadi hancur-lebur menjadi debu. Maka selama manusia tidak keluar dari kedudukan ‘amantu billahi’ yakni beriman kepada Allah’ dan melangkah kepada ‘araftu billah’ yakni aku mengenal Allah’ (keluar dari batas beriman kepada Allah kemudian tidak berusaha untuk meraih kedudukan ‘mengenal dan ma’rifat’) tidak mungkin baginya untuk menghindarkan diri dari dosa-dosa. Yakni sangat sulit baginya untuk menyelamatkan diri dari dosa-dosa. Sebuah kebenaran yang tidak dapat kita tolak adalah kita tidak dapat selamat dari dosa tanpa ilmu atau ma’rifat Allah Ta’ala dan yakin terhadap Sifat-sifat-Nya. Pengalaman kita sehari-hari menjadi bukti sebagai dalil bahwa manusia tidak dapat mendekati sesuatu yang ditakutinya. Misalnya, jika seseorang mengetahui bahwa gigitan ular sangat membahayakan, maka orang yang berakal bijak jangankan akan meletakkan tangannya kedalam mulut ular itu, bahkan dia tidak suka mendekati tongkat yang dengannya telah membunuh ular berbisa itu. Ia fikir jangan-jangan racun ular berbisa itu masih melekat pada tongkat itu. Jika seseorang mengetahui bahwa di dalam sebuah hutan terdapat harimau, tidak mungkin ia akan berani berjalan melalui hutan itu, atau sekurang-kurangnya ia tidak akan pergi sendirian. Anak-anak juga mempunyai perasaan takut terhadap sesuatu, jika telah diberitahukan dengan yakin bahwa benda itu sangat berbahaya, mereka-pun merasa takut kepadanya. Jadi, selama ilmu atau ma’rifat Tuhan dan tentang keyakinan racun dosa tidak tertanam di dalam hati manusia, tidak ada jalan lain, apakah seseorang dengan bunuh diri atau dengan darah kurban, tidak dapat memberi keselamatan, dan tidak dapat membunuh kehidupan berdosa. Ingatlah baik-baik! Banjir dosa-dosa dan sungai ghairah nafsu tidak dapat dibendung kecuali, jika iman yang bersinar cemerlang telah diperoleh, bahwa Tuhan itu ada dan hukuman-Nya juga ada yang jatuh laksana halilintar keatas orang-orang durhaka. Selama hal ini tidak tertanam di dalam kalbu, manusia tidak dapat terhindar dari dosa. Jika seseorang berkata: ‘Saya beriman kepada Tuhan dan juga beriman bahwa Dia menghukum orang-orang berdosa, namun mengapa dosa tidak terlepas dari kami.’ Untuk menjawabnya saya akan berkata:“ Ini adalah dusta dan penipuan nafsu (pribadi). Terdapat permusuhan antara iman yang benar, keyakinan yang benar dengan dosa. Dimana terdapat ma’rifat sejati dan keimanan yang cemerlang kepada Tuhan, disana tidak mungkin dosa tetap tinggal.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Harus mempercepat langkah untuk segera mengenal Tuhan. Orang yang telah mengenal Tuhan dapat meni’mati kecintaan Tuhan dan do’a orang yang tidak melangkahkan kaki kearah Tuhan dengan tulus dan setia, tidak akan terkabul seluruhnya dan suatu bagian dari kegelapan akan tetap melekat pada dirinya. Jika kalian akan bergerak sedikit saja kearah Tuhan, maka Dia akan akan bergerak lebih banyak kearah kalian. Akan tetapi yang penting kalian harus pertama yang bergerak kearah-Nya. Adalah pendapat sia-sia seseorang yang mengharapkan sesuatu dari Allah Ta’ala tanpa melakukan suatu gerak usaha. Selalu menjadi sunnatullah bahwa pertama manusia melakukan suatu aksi kemudian sebagai natijahnya Allah Ta’ala Yang Mahakuasa melakukan reaksi terhadapnya. Jika seseorang menutup semua pintu rumahnya, maka menutup pintu itu adalah perbuatannya sendiri. Sedangkan perbuatan Allah Ta’ala akan zahir sebagai akibatnya bahwa di dalam rumah itu akan menjadi gelap. Namun manusia yang terdampar di jalan sempit ini harus mengambil pelajaran dari padanya.

Kebanyakan orang mengeluh bahwa mereka telah melakukan semua kebaikan, menunaikan Salat, Puasa, memberi sedeqah dan sumbangan bahkan berusaha keras di bidang keruhanian, namun kami tidak memperoleh apapun. Mereka itu adalah orang-orang bernasib malang secara fitrati. Mereka tidak beriman kepada sifat Rabbubiyyat Allah Ta’ala. Dan mereka tidak melakukan semua amal itu karena Allah Ta’ala. Jika sesuatu dikerjakan karena Allah Ta’ala, tidak mungkin akan sia-sia dan tidak mungkin Allah Ta’ala tidak memberi pembalasannya di dunia ini juga. Itulah sebabnya banyak orang yang tinggal dalam keraguan bahkan mereka tidak yakin apakah Tuhan itu ada atau tidak. Manusia mengetahui bahwa jika sebuah pakaian telah dijahit pasti akan ada orang yang menjahitnya. Sebuah jam yang menunjukkan waktu, jika manusia sekalipun menemukannya di sebuah hutan, maka ia akan yakin bahwa pasti ada pembuatnya. Maka periksalah kinerja Tuhan, betapa banyak makhluk telah Dia ciptakan, dan betapa banyak keajaiban Qudrat-qudrat-Nya ! Di satu pihak banyak bukti dalil-dalil aqliyah (intellectual proofs) tentang kehadiran Wujud-Nya dan dipihak lain banyak tanda-tanda yang meyakinkan manusia bahwa ada Tuhan Yang memiliki kekuatan yang luar biasa. Pertama Dia menzahirkan kehendak-Nya kepada orang pilihan-Nya dan itulah perkara yang sangat berbobot yang dibawa oleh para Anbya yang disebut prophecy atau nubuatan!”

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “ Akar iman adalah pengenalan Tuhan dan ma’rifat ni’mat Ilahi. Dan cabang-cabangnya, amal soleh dan bunganya adalah akhlaq fadhillah dan buahnya adalah berkat-berkat ruhaniah dan kecintaan yang sangat halus yang tercipta diantara Tuhan dan hamba-Nya. Dan faedah yang diraih dari buahnya itu adalah sebuah natijah dari kesucian dan kebersihan ruhani. Kecintaan yang sempurna tercipta oleh ma’rifat istimewa dan kecintaan Ilahi bergelora karena ma’rifat dan apabila timbul kecintaan pribadi seseorang terhadap Tuhan sudah tertanam di dalam kalbunya, maka baginya hari itu adalah hari pertama kelahiran baru dan waktu itulah waktu pertama terciptanya alam baru baginya!”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda:” Tuhan adalah sebuah mutiara. Setelah memperoleh ma’rifat-Nya manusia memandang barang-barang dunia demikian hina dan tidak berharga. Tabi’at merasa terpaksa jika hati ingin melihat mereka. Maka carilah ma’rifat Allah Ta’ala dan melangkahlah maju kearah-Nya sebab di situlah terletak kemenangan. Aku berkata dengan sesungguhnya bahwa taqwa manusia, iman, ibadah dan kesucian seluruhnya datang dari Langit. Dan semua itu dapat diraih tergantung kepada karunia Allah Ta’ala. Jika Dia menghendaki Dia tetap memeliharanya dan jika tidak, Dia melenyapkannya. Maka, ma’rifat sejati manusia itu adalah apabila ia menganggap dirinya tidak berharga dan sangat rendah dan sambil merebahkan diri diambang pintu Ilahi dan dengan sangat merendahkan diri selalu memohon karunia Allah Ta’ala, dan apabila ia meminta nur ma’rifat yang membakar hangus ghairah nafsu dan menciptakan sebuah nur didalam jiwa, dan menciptakan kekuatan untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Jika ia memperoleh bagian dari karunia Allah Ta’ala dan pada suatu waktu ia diberi kesempatan untuk memperoleh kegembiraan dan lapang dada maka pada waktu itu janganlah ia takabbur dan sombong melainkan harus lebih merendahkan diri dan lemah lembut, sebab lebih banyak ia menganggap diri tidak berharga dan sangat rendah maka lebih banyak pula keadaan dan nur akan turun kepadanya dari Allah Ta’ala yang akan memberi kekuatan dan cahaya kepadanya. Jika manusia tetap berpegang teguh kepada akidah itu maka mudah-mudahan dengan karunia Allah Ta’ala keadaan akhlaq-nya akan menjadi sangat indah. Di dunia ini menganggap diri sebagai seseorang-pun adalah takabbur dan seperti keadaan inilah dibuatnya terkenal. Kemudian keadaan manusia demikian rupa buruknya sehingga saling melaknat satu sama lain dan menganggap hina satu sama lain. Saya berulang kali berkata bahwa sebuah Jema’at yang Allah Ta’ala ingin menegakkannya, tiada lain maksudnya adalah untuk menegakkan kembali ma’rifat hakiki yang telah hilang lenyap di atas dunia ini dan mengembalikan taqwa serta kesucian sejati yang sudah tidak dijumpai lagi.

Selanjutnya beliau a.s. bersabda:” Karena dosa dan kelemahan-kelemahan moral sudah sangat meningkat di atas dunia pada waktu ini dan jalan-jalan untuk mengenal Tuhan tidak dapat dilihat lagi, Allah Ta’ala mendirikan Silsilah (Jema’at) ini dan semata-mata karunia Allah Ta’ala saya telah diutus oleh-Nya agar saya memberi tahu kepada orang-orang yang sudah lengah dan jauh dari Allah Ta’ala. Bahkan bukan hanya memberi tahu mereka tentang Tuhan melainkan saya harus menunjukkan Allah Ta’ala kepada mereka yang datang kearah ini dengan kebenaran, kesabaran dan kepatuhan. Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman kepada saya: “ Anta minni wa ana minka” yakni ‘engkau dari pada-Ku dan Aku dari pada engkau’

Untuk maksud itulah beliau a.s. telah diutus oleh Allah Ta’ala, agar ditanamkan ma’rifat Allah Ta’ala pada diri kita, seolah-olah kita melihat Allah Ta’ala. Agar kita melakukan setiap amal yang berdasarkan cinta dan takut kepada Allah Ta’ala dan agar kita memiliki ilmu atau ma’rifat Allah Ta’ala yang membakar hangus semua dosa kita dan agar kita menyempurnakan maksud-maksud kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s.. Semoga Allah Ta’ala memberi kemampuan kepada kita untuk mengamalkan semua perkara itu dan memahami intisarinya!

Setelah salat Jum’ah akan dilaksakan Salat Jenazah ghaib Abdul Subhan Mannan Din Sahib yang wafat kemarin dalam umur 72 tahun. Beliau salah seorang yang datang permulaan ke Negeri UK ini pada tahun 1945. Beliau telah berkhidmat dalam Departemen Amanat Jalsa Salana untuk selama 30 tahun. Beliau kemanakan Nasir Din Sahib. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau. Amin !

Alihbahasa oleh Hasan Basri