Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Intisari Pengorbanan Harta, Tahrik Jadid ke-83

oleh Pemimpin Jamaah Muslim Ahmadiyah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad

11 November 2016 di Masjid Baitun Nur, Calgary, Kanada

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ *

صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Masih Mau’ud as suatu kali bersabda ketika sedang menerangkan tentang pengorbanan harta:

“Manusia di dunia sangat mencintai harta kekayaan. Inilah sebabnya mengapa ada tertulis dalam Ilmu Ta’bir ar-Ru-ya (ilmu menjelaskan arti mimpi), jika seseorang melihat dalam mimpi ia mengeluarkan hatinya dan memberikannya kepada seseorang maka ini maksudnya ia memberikan kekayaan kepada orang lain. Inilah sebabnya mengapa dikatakan bahwa untuk meraih ketakwaan sejati dan keimanan, لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ () “Kamu tidak akan meraih kebajikan sejati selama kamu belum membelanjakan harta-bendamu yang sangat kamu cintai.” [QS. Ali Imran,3:93]. Sebabnya, simpati bagi makhluk Ilahi melibatkan perlunya membelanjakan satu bagian besar dari kekayaan dirinya untuk mereka. Simpati kepada makhluk Allah dan kebajikan kepada mereka adalah bagian dari keimanan. Tanpa melakukan itu, iman seseorang tidak sempurna dan tidak merasuk ke dalam hatinya.

Bagaimana seseorang bisa bermanfaat bagi yang lain tanpa memberikan pengorbanan kepada mereka. Untuk bermanfaat bagi yang lain, pengorbanan adalah penting, dan dalam ayat لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ ini terdapat ajaran tentang iitsaar (pengorbanan) dan petunjuk kearah itu pun telah diberikan. Jadi, membelanjakan harta di jalan Allah menjadi ukuran derajat ketakwaan dan kesalehan seseorang. Derajat waqf Lillaahi (dedikasi pengorbanan kepada Allah) ini terlihat dalam kehidupan Abu Bakar ra ketika Nabi saw menyatakan perlunya pengorbanan semacam ini dan beliau membawa segala sesuatu yang berada di rumah beliau dan mempersembahkannya kepada beliau saw.”[1]

Saya akan membacakan sebuah kutipan lagi dari Hadhrat Masih Mau’ud as yang mana beliau bersabda,

“Sebenarnya ridha Allah Ta’ala yang menjadi kegembiraan hakiki itu tidak dapat diraih tanpa menanggung kesulitan-kesulitan sementara dengan sabar dan tabah. Tuhan tidak dapat ditipu. Selamat sejahteralah mereka yang tidak menghiraukan kesulitan demi meraih ridha Allah Ta’ala, sebab kegembiraan kekal dan cahaya ketenteraman abadi hanya dapat diperoleh orang-orang beriman setelah melewati kesulitan-kesulitan yang sifatnya sementara itu.”[2]

Orang-orang zaman sekarang berpikir bahwa untuk mengumpulkan kekayaan dan kemudian membelanjakan untuk ketenteraman dan kepuasannya akan dapat membawa mereka kebahagiaan dan ketenangan. Namun orang yang beriman yang memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang agama memahami bahwa meskipun Allah Ta’ala telah menciptakan fasilitas kenyamanan duniawi untuk manusia namun tujuan hakiki dari hidup adalah memperoleh ridha Allah Ta’ala, menapaki jejak langkah ketakwaan, menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap Allah Ta’ala dan juga memenuhi hak-hak mahluk ciptaan-Nya. Allah Ta’ala telah menyebutkan tentang hal ini pada ayat yang telah disebutkan di atas. Hadhrat Masih Mau’ud as lebih lanjut lagi menjelaskan bahwa ketenangan hakiki datang dari perbuatan baik dan bukan dari mengumpulkan kekayaan. Dan perbuatan-perbuatan baik tidak dapat mencapai penerimaan sampai sesuatu yang paling dicintai dibelanjakan demi Allah Ta’ala dan juga untuk perbaikan dan kemajuan mahluk-mahluk ciptaan-Nya. Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa manusia amat sangat menyintai harta kekayaan.

Jika hari ini kita mengulas situasi di dunia, maka akan tersingkaplah bahwa sebab adanya kepanikan, kekacauan dan gangguan yang ada di dunia ini ialah cinta dan keserakahan terhadap harta kekayaan. Hal lain yang tidak diketahui oleh manusia adalah jika ia telah mengumpulkan banyak harta, bagaimana ia akan membelanjakannya. Di Negara-negara Barat ini, yang dikatakan sebagai maju, ada orang orang yang sangat kaya di sana, namun apa saja pengeluaran mereka? Di sini mereka punya tempat-tempat seperti kasino. Di sana mereka membelanjakan dan menghabiskan uang mereka dengan borosnya untuk kepuasan dan juga untuk berjudi. Negara-negara Muslim juga memiliki situasi yang serupa. Orang Muslim datang ke sini untuk menghabiskan harta demi kepuasan mereka. Bahkan, sekarang Negara-negara Muslim juga telah memiliki tempat-tempat untuk dapat menghabiskan uang secara royal dan boros. Beberapa waktu yang lalu di sebuah jurnal, saya telah membaca sebuah iklan es krim yang diiklankan oleh sebuah hotel di Dubai. Harga es krim yang diiklankan adalah senilai USD 850 (dolar Amerika atau sekitar Rp 10,5 juta) yang terdiri dari hanya 2 atau 3 sendok saja. Disebutkan bahwa es krim tersebut mengandung kunyit (saffron) dari berbagai belahan dunia dan ditutupi dengan daun emas.

Uang USD 850 (atau sekitar Rp 10,5 juta) adalah jumlah yang cukup untuk satu keluarga hidup layak di sebuah negara miskin. Namun, orang-orang itu menghabiskannya untuk semangkuk es krim. Demikianlah, mereka yang memiliki kekayaan yang tidak terbatas tidak tahu bagaimana membelanjakannya dan bagaimana mendapatkan kepuasan dan ketentraman dari uang mereka. Tidak diragukan lagi bahwa mereka memang membelanjakan hartanya, namun untuk memuaskan nafsu mereka dan bukan demi meraih ridha Allah ataupun untuk perbuatan-perbuatan baik. Namun Allah Ta’ala berfirman sebagaimana juga Hadhrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan bahwa untuk pertumbuhan ketakwaan yang hakiki, untuk mencari keimanan yang hakiki, meraih ridha Allah, alih-alih menghabiskan harta untuk nafsu dan hal sia-sia, mereka seharusnya membelanjakan harta mereka untuk simpati (belas kasih) dan perbaikan serta kemajuan mahluk-mahluk ciptaan Allah Ta’ala. Jika bukan demi alasan ini, maka tidaklah dapat memperoleh cinta kasih Allah Ta’ala. Maka dari itu, merupakan suatu hal penting untuk menaruh perhatian pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan duniawi dari orang-orang yang membutuhkan dan juga merawat keimanan dan keyakinan mereka serta membawa mereka mendekat pada Allah Ta’ala.

Nabi Muhammad saw biasa merasa sangat sedih perihal ini sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran tatkala Allah Ta’ala berfirman: “Apakah engkau akan membinasakan dirimu sendiri karena bersedih hati atas keadaan umat manusia?”[3] Apa gerangan kondisi orang-orang yang membuat beliau khawatir? Itu adalah sikap masa bodoh dan acuh tak acuh mereka terhadap Allah Ta’ala dan terhadap keimanan. Beliau saw merasa banyak bersedih melihat mereka akan mendapatkan murka dari Allah Ta’ala karena tidak beriman dan percaya kepada-Nya.

Pada masa ini juga mau tak mau kita harus menolong mereka yang berkekurangan dalam hal  harta. Di samping keperluan materi, suatu keharusan bagi kita para Ahmadi untuk membelanjakan harta bagi persediaan ruhani mereka juga. Hal itu karena pada zaman ini tugas penyempurnaan penyebaran petunjuk dipercayakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Ini adalah periode penyempurnaan penyebaran hidayah (bimbingan, petunjuk) yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah saw untuk seluruh umat manusia yang mana beliau saw telah mengungkapkan kekhawatiran demi menyebarluaskan pesan petunjuk itu. Karena penyempurnaan penyebarluasan petunjuk beliau saw itu dipercayakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, maka demikian juga hal tersebut kini dipercayakan kepada para pengikutnya yang menyatakan bahwa mereka mengutamakan agama di atas urusan dan kepentingan duniawi.

Orang-orang kaya membelanjakan harta mereka untuk memuaskan keinginan pribadi mereka. Mereka memiliki begitu banyak kekayaan dan tidak tahu dimana dan bagaimana membelanjakannya. Setelah membelanjakan untuk kebutuhan dan keinginan-keinginan mereka, mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan lagi pada harta mereka. Hal demikian karena kosongnya aspek kerohanian dan kemanusiaan dalam pembelanjaan harta mereka. Kecuali untuk kelezatan nafsu, hal yang aneh atau yang bukan-bukan, mereka tidak tahu hal yang lainnya. Tapi, orang-orang beriman adalah orang-orang yang kepada siapa Allah Ta’ala berfirman bahwa mereka tidak hanya membelanjakan dari harta yang berlebih, namun untuk dapat melakukan perbuatan baik hakiki dan sebagai hasilnya agar dapat meraih ridha Allah Ta’ala, maka letakkanlah diri kalian pada ketidaknyamanan dan belanjakanlah harta kekayaan yang paling mereka cintai.

Meskipun beberapa orang kaya juga membelanjakan harta mereka untuk amal, namun harta yang dibelanjakan untuk amal tersebut sangatlah kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan harta mereka. Dan mereka tidak konsisten dalam pengeluaran untuk amal tersebut. Karena itu, hanya orang yang beriman saja yang membelanjakan harta mereka secara teratur untuk tujuan baik dan demi mendapatkan kebaikan. Dan pada masa ini dan zaman ini, Jemaat Ahmadiyah-lah yang merupakan kelompok dari orang orang beriman yang membelanjakan harta di bawah sebuah sistem untuk penyebaran Islam. Mereka membelanjakan harta untuk banyak tempat yang berbeda. Mereka membelanjakan harta untuk menyebarluaskan Islam dan juga untuk makhluk Allah dengan berpikiran simpati untuk memenuhi hak-hak makhluk Allah.

Kemudian, ada banyak orang Jemaat yang membelanjakan harta mereka dan meletakkan diri mereka pada kesulitan. Mereka membelanjakan harta dengan keyakinan bahwa hal itu akan membawa mereka lebih dekat pada Allah Ta’ala dan ridha-Nya. Mereka memiliki keyakinan ini bahwa dengan demikian mereka telah membelanjakan harta mereka dengan benar. Bahkan orang orang di luar Jemaat Ahmadiyah mengakui bahwa sistem keuangan dan pembelanjaan harta di Jemaat sangat baik.

Mubaligh kita dari Kababir [Haifa, Israel] telah menuliskan tentang sebuah peristiwa, ia berkata,

“Ada dua orang professor yang telah pensiun dari Universitas Yerusalem dengan dua orang kawan mereka mengunjungi rumah misi kita di Kababir. Kami bertemu dan berdiskusi dan kami menunjukkan kepada mereka sistem keuangan di Jemaat. Salah satu dari para tamu tersebut adalah seorang Profesor dari Austria. Di akhir pertemuan tersebut, ia berkata, ‘Hal yang terbaik yang saya sukai dari Jemaat Ahmadiyah adalah sistem keuangannya. Mungkin sudah ditentukan bagi kalian bahwa kalian membuat revolusi dengan kekayaan yang suci dan saya ucapkan selamat untuk itu.’”

Maka dari itu, harta kekayaan yang suci diperlukan untuk berdonasi dan berderma. Allah Ta’ala berfirman, “Kalian harus membelanjakan harta dari kekayaan yang suci, yang didapatkan secara syar’i (benar) dan tidak didapatkan secara curang. Bukan yang disembunyikan dari pajak, dan tidak didapatkan dengan cara-cara lain yang salah.”[4]

Karena itu sumbangan-sumbangan candah diterima hanya dari mereka yang pendapatannya suci atau setidaknya harus diketahui bahwa pendapatan tersebut tidak diperoleh dari cara-cara yang salah. Dan jika didapatkan dari cara-cara yang salah, maka sistem di Jemaat tidak akan menerima sumbangan dari mereka. Dan jika sumbangan yang seperti itu sudah diketahui statusnya kemudian tetap diterima, maka saya akan kembalikan sumbangan mereka, atau akan saya turunkan para pengurus di Jemaat tersebut [yang menerima sumbangan candah yang diketahuinya tidak syar’i itu] dari posisi mereka. Dengan demikian, maka pokok tema adalah, memberikan sumbangan dengan mengorbankan harta kekayaan yang suci. Inilah bagaimana berkat akan bertambah. Orang-orang di luar Jemaat mengakuinya sebagaimana juga sang profesor yang telah saya sebut tadi juga mengakuinya. Hal ini menjadi bukti bagi orang-orang di dunia bahwa Jemaat ini adalah orang-orang yang akan membawa revolusi.

Karena itu, asalkan niat kita tetap suci, asalkan kita tetap mendapatkan pendapatan secara benar dan membelanjakannya di jalan Allah Ta’ala maka pastilah kita akan dapat membawa revolusi yang mana revolusi ini telah ditakdirkan bersama kita. Sebab, ini adalah janji Allan Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Kita tidak membicarakan mengenai membawa revolusi duniawi – namun yang kita bawa adalah revolusi keruhanian. Yaitu kita harus menyebarluaskan pesan Nabi Muhammad saw ke seluruh dunia. Dirikanlah ketauhidan Allah Ta’ala dan tunaikanlah hak mahluk-mahluk ciptaan-Nya. Dan ini bukanlah hanya slogan-slogan duniawi. Namun Allah Ta’ala telah berjanji kepada Hadhrat Masih Mau’ud as untuk mendirikan kumpulan orang yang benar-benar setia dan tulus ikhlas akan menyelesaikan tugas ini. Mereka adalah orang-orang yang akan memberikan pengorbanan demi terpenuhinya tugas-tugas ini.

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud as,

“Para Sahabat Nabi Muhammad saw menunjukkan contoh dalam kebenaran dan kesetiaan yang tidak dapat dibandingkan di dunia ini. Mereka menganggap berbagai penderitaan yang mereka alami sebagai hal yang mudah atas diri mereka sendiri, sedemikian tupa sehingga mereka meninggalkan negeri yang mereka cintai, terpisahkan dari rumah, harta keluarga dan juga orang-orang tercinta mereka. Dan, saya lihat Jemaatku dianugerahi oleh Allah Ta’ala antusiasme ini yang sesuai dengan level dan statusnya … dan dengan itu mereka menunjukkan teladan kebenaran dan kesetiaan mereka.”

Hadhrat Masih Mau’ud as berbicara mengenai pengorbanan harta, beliau bersabda,

“Untuk tujuan-tujuan keagamaan, para anggota Jemaatku memberikan sumbangan mereka dengan hati terbuka dan dermawan. Setiap orang mengambil bagian sesuai dengan kapasitas dan kemampuan mereka. Allah lebih mengetahui ketinggian derajat kesetiaan dan keimanan mereka yang ambil bagian dalam berbagai sumbangan pengorbanan. Saya mengetahui dengan baik bahwa Jemaatku telah menunjukkan kesetiaan dan keimanan yang ditunjukkan oleh para Sahabat Hadhrat Rasulullah saw ketika dalam masa-masa sulit.”

Pada suatu ketika Hadhrat Masih Mau’ud as melihat level pengorbanan yang tinggi dari para sahabatnya, “Bagaimana mereka ini telah mencapai jumlah besar dalam pengorbanan mereka.”

Demikianlah Hadhrat Masih Mau’ud as menanamkan revolusi sedemikan rupa dalam diri para pengikutnya sehingga mereka melemparkan hasrat-hasrat duniawi di belakang mereka dan lebih mengutamakan agama. Namun semangat pengorbanan yang beliau tanamkan dalam diri para sahabatnya yang secara langsung mengambil sumpah baiat dari tangan Hadhrat Masih Mau’ud as itu apakah semangat tersebut telah luntur? Apakah berakhir pada masa itu dan hanya untuk masa itu saja? Jika memang benar, maka tidak akan ada kemajuan dalam Jemaat. Allah Ta’ala menjanjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa Dia menyampaikan reputasi dan kabar beliau ke pelosok dunia. Dan untuk itu, diperlukan Jemaat yang setia dan penuh pengorbanan. Begitu juga setelah menerima kabar berita ini dari Allah Ta’ala, beliau as menyampaikan kabar gembira ini kepada Jemaat beliau – bahwa setelah kepergian beliau as, kekhalifahan akan dimulai yang akan menyelesaikan tugas-tugas beliau as dan bersamaan dengan itu, para anggota yang tulus ikhlas akan membantu memenuhi dan menyelesaikan tugas tugas ini. Karena itu, hari ini kita melihat bagaimana Allah Ta’ala memenuhi janji-Nya. Ada sebuah Jemaat yang para anggotanya tulus ikhlas yang terikat dengan Khilafat dan mengorbankan harta kekayaan dan waktu mereka.

Saya akan mengumumkun Tahun baru Tahrik Jadid dan untuk itu saya akan menyebutkan beberapa peristiwa pengorbanan yang berhubungan dengan pengorbanan harta.  Peristiwa-peristiwa ini bukanlah terbatas dari negara negara kaya, namun dari negara-negara yang sangat miskin dan juga para mubayyi’ baru. Orang-orang takjub melihat bagaimana Allah Ta’ala merubah hati mereka begitu luar biasa. Meskipun mereka sangat miskin, tapi mereka juara dalam pengorbanan harta.

Salah satu kepala para Mubaligh yang bertugas di Guinea Konakri menulis,

 “Sebuah Jemaat lokal di negara kami bernama Soneb Yawi. Di sana seorang Imam masuk Jemaat bersama dengan masjidnya juga diserahkan ke Jemaat. Ketika ia diberitahukan tentang pengorbanan harta Jemaat dan Tahrik Jadid, ia berkata, ‘Saya sendiri telah memberikan ceramah dan pelajaran tentang infaq dan Zakat. Namun, saya tidak pernah melihat sistem keuangan yang begitu kuat di tempat lain dan belum pernah mendengar sistem yang demikian. Karena itu saya memberikan sumbangan dan berjanji setiap bulan tidak hanya saya, namun juga seluruh Jamaahnya akan membayar sumbangan secara teratur.’”

Mereka ini adalah orang-orang yang tingkat kemiskinannya jauh lebih rendah dari orang-orang termiskin di Negara-negara Barat, namun dalam soal pengorbanan harta, mereka yang terunggul dan teratas. Ini bukanlah sebuah cerita dari satu negara saja, ‘angin’ ini meniup di banyak negara di dunia.

 Tadi telah saya sampaikan contoh kisah dari Guinea Conakry, sekarang Mubaligh di Pantai Gading menulis bahwa mereka pergi ke sebuah desa bernama Kobenggo untuk bertabligh menghantarkan pesan Jemaat. Semua kaum pria dan wanitanya mendengarkannya dengan sangat perhatian dan hati-hati. Salah satu dari mereka berkata, ‘Seringkali sebelumnya banyak orang yang sudah datang untuk bertabligh di sana namun tidak pernah mendengar pesan yang begitu bagus.’

Sekitar 300 orang menerima Ahmadiyah. Setelah itu mereka diberitahukan mengenai sistem (Nizham) keuangan dan sistem-sistem lain dalam Jemaat. Dan selama berlangsungnya diskusi juga disebutkan bahwa hari tersebut adalah hari terakhir untuk Tahrik Jadid. Mengetahui hal tersebut, Ketua dan Imam dari masjid tersebut berkata; “meskipun kami baru menerima Ahmadiyah hari ini, namun dengan segala upaya kami akan ikut ambil bagian dalam skema yang terberkati ini. Kemudian, orang-orang desa tersebut segera mengumpulkan 10.000 Franks (sekitar Rp21,8 juta)  dan membayar Tahrik Jadid.

Sebuah peristiwa dari Tanzania. Ada seorang anggota yang berjanji sebesar 200.000 Shilling (sekitar Rp 26 juta). Dia sudah membayar 100 ribu dan masih kurang sebesar 100 ribu lagi. Mereka berkata bahwa pada bulan Oktober ia diingatkan bahwa perjanjiannya masih kurang bayar 1 lacks (100 ribu) dan tahun Tahrik Jadidnya hampir berakhir. Ia berkata bahwa ia sedang bepergian namun ia akan mengatur uangnya. Lantas ia mengirim uang sebesar 1 lacks tersebut lewat seorang supir Bis. Ia memberitahu supirnya bahwa itu adalah uang sumbangannya dan harus diantarkan hari ini. Jadi setibanya ia di sana, ia harus mengantarkan uang tersebut ke Muballigh. Ia memberikan supir tersebut nama dan alamat sang Mubaligh. Kemudian setibanya sang supir di stasiun bis, ia menelpon sang Mubaligh dan memberitahukan kepadanya bahwa ia memegang uang anggota tersebut dan Mubalighnya dapat datang dan mengambil uangnya. Ketika sang Mubaligh datang untuk mengumpulkan uangnya, supir tersebut berujar bahwa ia juga ingin menjadi seorang Ahmadi.

Anak-anak dan juga istri dari sang Supir sebenarnya sudah menerima Ahmadiyah, namun ia belum puas. Supir tersebut bilang kepada sang Mubaligh, ‘Saya tergerak hati masuk Ahmadiyah karena peristiwa ini amat mengesankan hati saya. Sebab, di dunia yang materialistik ini umat manusia amat sangat mencintai kekayaan, apalagi mereka datang dari daerah miskin. Tapi, bagaimana di Negara-negara miskin, Allah Ta’ala telah menjadikan orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan-Nya dan dengan pengorbanan tersebut mereka mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan hakiki.’

Inilah contoh bagaimana kiriman sumbangan dari seorang Ahmadi menjadi sarana bagi seseorang untuk menjadi Mubayi’in Jemaat. Demikianlah bahwa ini adalah sumbangan yang diberikan dengan niat yang baik yang membawa hasil secara langsung dengan segera. Pengorbanan harta yang diberikan dari kekayaan yang dicintai menjadi alasan bagi petunjuk untuk jiwa yang berfitrat baik. Inilah bagaimana Allah Ta’ala mendatangkan buah-buah dari sarana-sarana yang berbeda.

Tn. Amir negara Senegal menuliskan,

“Ayah Tn. Umar – salah satu anggota dari Jemaat mereka – datang dari kota lain dengan penyakit yang serius. [sang Ayah non Ahmadi] Setelah melakukan medical check up dasar, Dokter menyarankan untuk dioperasi prostat. Namun Tn. Umar tidak punya cukup uang untuk biaya operasinya. Dan sulit juga untuk mengambil pinjaman sejumlah yang dibutuhkan. Ia sangat khawatir.”

Tn. Amir menulis,

“Pada minggu pertama Oktober selama berlangsungnya Sholat dan Khotbah Jumat, beliau mengingatkan para anggota Jemaat (mengenai Tahrik Jadid). Keesokan harinya, Tn. Umar datang dan meminta saya untuk menerima sumbangan darinya. Karena saya mengetahui keadaan keuangannya, saya bertanya, ‘Ayah Anda sedang sakit dan Anda memerlukan uangnya untuk perawatan beliau… dalam situasi yang demikian, bagaimana Anda akan mengorbankan harta Anda?’ Dia menjawab, ‘Kemarin pada khotbah Jumat, Anda berkata bahwa ini adalah perjanjian dengan Allah Ta’ala, dan saya sekarang datang untuk membuat perjanjian ini dengan Allah Ta’ala. Tolong terima sumbangan saya dan saya minta tanda terimanya.’”

Tn Amir lebih lanjut menuliskan,

“Dua hari kemudian, ketika saya bergi ke rumah Tn. Umar untuk menjenguk ayahnya, Ayahnya sedang duduk di sebuah kursi di luar rumahnya. Saya datang kemudian dan ia berkata, ‘Hari ini transaksi saya dengan Allah Ta’ala berhasil karena ayah saya tidak menderita sakit dan merasa lebih baik.’ Setelah dua hari ketika mereka membawanya ke dokter untuk check up, dokternya berkata bahwa operasi tersebut tidak lagi diperlukan. Setelah kejadian ini, ayahnya pun juga masuk Ahmadiyah.

Terkadang, ‘transaksi – transaksi’ yang dilakukan dengan Allah Ta’ala menghasilkan keuntungan begitu cepat. Minggu lalu pada saat peresmian masjid, saya diberitahu tentang sebuah kejadian dari seseorang yang memberikan teladan untuk melayani masjid dan Allah Ta’ala mengatur untuknya uang yang amat banyak. Orang duniawi mungkin berpikir bahwa hal tersebut adalah kebetulan saja, namun orang yang beriman mempercayai bahwa sudah pasti hal tersebut adalah karunia dan berkat dari Allah Ta’ala.

Begitu juga, Tn Ayub seorang anggota Jemaat di Kongo, Kinshasa berkata,

“Sebelumnya saya tidak ikut ambil bagian dalam aktivitas-aktivitas Jemaat apapun. Putra saya sakit terus-menerus dan sudah banyak uang yang dikeluarkan untuk biaya perawatannya. Ketika ia diberikan tanggung jawab sebagai Sekretaris keuangan, saya berpikir bahwa pengorbanan harta saya haruslah menjadi contoh bagi Jemaat.”

Di belahan dunia yang terpencil dan kecil, ketika seseorang diberikan tanggung jawab sebagai Sekretaris Keuangan, maka pengorbanan hartanya akan menjadi contoh.

 Ia lebih lanjut berkata,

“Saya mulai memberikan sumbangan secara teratur, dan dengan berkat Karunia Allah Ta’ala, keadaan keuangan saya mulai membaik. Hidup saya mulai menjadi tenang dan bahagia. Sekarang putra saya juga sembuh dari penyakitnya. Saya berpikir bahwa hal ini adalah karena layanan kepada jemaat dan pengorbanan harta yang telah saya lakukan.”

Ada sebuah pepatah dalam bahasa Urdu yang artinya, ‘Laparkanlah jiwamu’. Namun sangat sulit untuk benar-benar memahami kedalaman artinya kecuali dialami sendiri. Namun, melihat pengorbanan-pengorbanan dari orang orang miskin, maka pepatah tersebut menjadi lebih mudah untuk dimengerti.

Seorang wanita dari sebuah desa di Gambia berbaiat menerima Ahmadiyah dan ketika ia diberitahukan mengenai Tahrik Jadid, ia berkata bahwa ia hanya memiliki uang sejumlah 100 Dalasi (sekitar Rp 31,000) untuk membeli beras dan dia tidak memiliki beras. Lebih lanjut ia berkata,

‘Putra saya satu-satunya telah menghilang selama dua tahun terakhir. Orang-orang berkata bahwa putra saya tersebut mungkin sudah meninggal karena sudah dua tahun tidak ada kabar tentangnya. Dengan ini, saya mempersembahkan semua uang yang saya miliki untuk Tahrik Jadid. Allah Ta’ala akan mengatur urusan saya untuk saya.’

Setelah 3 hari dari kejadian ini, putranya yang hilang kembali ke rumahnya dengan membawa 10 karung beras dan uang yang banyak. Putranya berkata bahwa selama kurun 2 tahun hilangnya ia, ia belajar tentang konstruksi bangunan dan sekarang ia mendapatkan kontrak-kontrak bangunan dengan nilai yang besar-besar di dalam kota. Pada hal ini wanita tersebut berkata, ‘Semua ini adalah karena pengorbananku, dan mulai sekarang saya akan selalu melakukannya.’

Apakah ini bukan sebuah inqilaab (revolusi, perubahan luar biasa) yang dengan menerima Hadhrat Masih Mau’ud as, Allah menciptakan pada hati-hati orang-orang yang hidup di daerah terpencil seperti itu?

Sudah pasti demikian.

Lihatlah wanita ini… betapa tingginya tingkat pengorbanan harta yang telah dicapai wanita ini… Ia tidak peduli terhadap rasa laparnya dan kemudian perhatikanlah! Bagaimana Allah Ta’ala merahmati dan memberkatinya dengan belas kasih-Nya dalam corak yang luar biasa.

 Mubaligh dari Mali menulis bahwa ada seorang wanita yang berusia 80 tahun dan memberikan sumbangan candah secara teratur. Suatu hari ia datang berjalan kaki sejauh 1 km di bawah terik matahari yang garang untuk memberikan sumbangannya. Sang Mubaligh berkata kepadanya, ‘Saya bisa saja datang untuk mengambil sumbangan wanita tersebut’, namun wanita itu berkata, ‘Karena saya sudah mendengar tentang pentingnya pengorbanan harta, saya tidak ingin membuang berkat dan rahmat dari pengorbanan tersebut – sehingga saya berpikiran harus datang sendiri untuk mengantarkan sumbangan tersebut.’

Wanita tersebut berjalan ke rumah misi di bawah terik matahari untuk menghemat ongkos transportasi dan bisa ditambahkan ke dalam jumlah candahnya. Inilah status dari orang-orang yang hidup di daerah-daerah terpencil. Cara Allah memperteguh dan menguatkan iman dari para Ahmadi lewat pengalaman pribadi mereka adalah terbukti dari setiap peristiwa dan kejadian.

 Mubaligh dari Benin yaitu Tn. Zakaria menceritakan sebuah kejadian dan berkata bahwa Ketua dari salah satu cabang kehilangan pekerjaannya dan ia menjadi khawatir. Selama waktu tersebut ia diingatkan tentang Tahrik Jadid. Setelah beberapa hari, ia dipanggil dan berkata bahwa ketika ia diingatkan tentang sumbangan Tahrik Jadid, ia merasa sangat khawatir dan berdoa kepada Allah Ta’ala untuk menyediakan untuknya sumber-sumber pendapatan agar ia dapat membayar sumbangan tersebut. Ia berkata bahwa ia menghabiskan malam itu dengan penuh penderitaan. Pada pagi hari setelah sholat Subuh, ia pergi ke desa terdekat untuk mencari pekerjaan. Ia berkata bahwa ia tidak mendapatkan pekerjaan di sana, namun ada seseorang yang akan pergi ke pasar untuk menjual binatang-binatang ternaknya. Ia berkata bahwa ia membantu orang tersebut dan sebagai balasan, orang tersebut memberikannya 500 Franks (sekitar Rp 1 juta). Dari situ ia mengambil 200 Franks untuk makanan dan memberikan 100 Franks untuk anaknya yang pergi ke sekolah dan sisa 200 Franks dibayarkannya untuk sumbangan Tahrik Jadid. Ia berkata bahwa karena menyumbang Tahrik Jadid, Allah memberikannya karunia dan berkat – dan tepat setelah 4 hari kemudian, ia mendapatkan pekerjaan. Ia berkata bahwa itu bukanlah sebuah kebetulan, namun pastilah karunia dan rahmat dari Allah Ta’ala.

 Selain Afrika, ada juga kejadian kejadian yang terjadi di India. Inspektor mereka, Tn. Shahabuddin adalah Inspektur Tahrik Jadid untuk daerah Talangana dan Andhra, menulis bahwa seorang kawan dari Hyderabad yang dari sebuah keluarga miskin memulai bisnis dengan uang senilai 20,000 Rupee (sekitar Rp 3,9 juta). Ia kemudian menjalankan toko kecil. Pada waktu waktu shalat, ia menutup tokonya. Inilah kemuliaan seorang yang beriman. Orang tersebut memberikan satu bulan pengeluaran secara penuh untuk sumbangan Tahrik Jadid. Tahun ini ia membayar sebesar 60,000 Rupee (sekitar Rp 11,8 juta) untuk Tahrik Jadid. Ia tinggal di rumah kontrakan. Tuan Inspektur berkata suatu hari: kenapa ia tidak membeli rumahnya sendiri. Orang tersebut menjawab, ‘Biar saja berjalan seperti ini karena toh dunia juga sedang menuju kehancuran. Jadi kenapa saya harus mengumpulkan uang untuk saya sendiri? Lebih baik saya membelanjakan uang tersebut di jalan Allah Ta’ala.’

Demikian juga dari Pakistan, Naib Wakilul Mal menulis bahwa ia bertemu dengan seorang Khadim dari Sialkot yang telah berjanji untuk menyumbangkan sebesar 20,000 Rupee Pakistan (sekitar Rp 2,5 juta). Ia meminta Khadim tersebut meningkatkan sumbangannya menjadi 100,000 Rupee Pakistan (sekitar 12,7 juta) yang disetujui oleh Khadim tersebut. Khadim tersebut memulai bisnis ekspor dimana tadinya ia menyumbang sebesar 5000 Rupee, kemudian 10,000 Rupee dan kemudian 15,000 Rupee dan kemudian ia meningkatkannya menjadi 100,000 Rupee. Khudam tersebut berkata bahwa adalah karena berkat dari sumbangan yang diberikannyalah maka ia dapat membeli pabrik yang tadinya ia sewa.

Begitu juga dari Indonesia. Seorang Mubaligh menulis bahwa ada seseorang yang berkata bahwa jika ia memiliki motor, maka akan mudah baginya untuk pergi sholat Jumat dengan putranya. Mubaligh tersebut mengatakan kepada orang tersebut untuk berdoa dan teratur untuk beramal memberikan sumbangan candah. Mubaligh tersebut berkata bahwa orang tersebut kemudian membayar sumbangan untuk dirinya dan keluarganya secara teratur. Setelah beberapa hari Allah Ta’ala mengaruniainya dan ia dapat membeli sebuah motor. Pendapatan rumah tangganya meningkat dan ia juga telah ikut wasiyat dan sekarang ia memiliki 3 motor di rumahnya.

Di sini, di Kanada juga ada orang-orang yang meningkatkan sumbangan mereka. Seseorang meningkatkan sumbangannya dari $1000 (sekitar Rp 9,9 juta) menjadi $5000 (sekitar Rp 49,5 juta) dan untuk menuai berkat dan Karunia Allah Ta’ala ia membayarnya di awal. Ia juga membayar sebesar $20,000 (sekitar 198 juta) untuk pembangunan masjid ini.

Begitu juga ada beberapa kejadian dan peristiwa yang menginsiparasi iman yang terjadi di Kanada sini. Ada seorang wanita yang berjanji untuk memberikan sumbangan sebesar $1000 (sekitar Rp 9,9 juta). Namun ia tidak punya uangnya. Di malam hari suaminya memanggil wanita tersebut dan berkata bahwa ada orang yang memberikannya cek. Wanita itu berkata, ‘Apakah jumlahnya sebesar $1000?’ Suaminya menjawab, ‘Iya.’ Tapi bagaimana kamu tahu?’ Tanya suaminya. Wanita itu berkata, ‘Saya sedang khawatir karena harus membayar perjanjian Tahrik Jadid sebesar $1000. Saya pikir pasti itu adalah sesuatu yang sudah diatur oleh Allah Ta’ala, jadi jumlahnya pasti sama.’

Begitu juga ada Jemaat baru yang terbentuk di negara-negara Eropa. Mubaligh di Mikronesia menulis bahwa dikarenakan kemiskinan di sana, pekerjaan sangatlah sulit dan jarang. Ada banyak sekali orang yang tidak memiliki sumber pendapatan. Entah mereka bergantung kepada saudara-saudara mereka untuk mendapatkan uang atau bekerja harian serabutan. Diantara orang orang ini ada seorang tua yang suka sekali bekerja untuk Jemaat dan menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk melayani Jemaat. Bahkan jika tidak ada pekerjaan untuk Jemaat, ia berusaha untuk melakukan sesuatu yang akan memberikan manfaat bagi Jemaat. Selama setahun kemarin, ia mengumpulkan kaleng-kaleng kosong untuk menjualnya agar didaur ulang untuk mendapatkan uang. Selama setahun penuh itu ia mengumpulkan kaleng-kaleng tersebut dan kemudian menjualnya untuk didaur ulang sebesar $30 (sekitar Rp 300 ribu). Lalu ia pergi ke rumah misi dan memberikan $10 (sekitar 100 ribu) untuk sumbangan Tahrik Jadidnya. Selama setahun itu, berapapun yang ia dapatkan, maka ia akan menyumbangkan sepertiga dari penghasilannya kepada Jemaat.

Dari Sekretaris Tahrik Jadid Jerman menuliskan bahwa ada seorang wanita yang tidak ingin diketahui namanya datang ke kantor Tahrik Jadid dan menyumbangkan semua perhiasannya. Begitu banyaknya perhiasan tersebut sehingga seluruh permukaan meja tertutupi dengan perhiasan tersebut. Ada kalung-kalung, gelang-gelang emas yang besar dan kecil, cincin, dan banyak lagi jenis perhiasan lainnya. Namun ia berkata untuk tidak memberitahu namanya sehingga pengorbanan hartanya akan hanya demi Allah Ta’ala. Kaum wanita sangat menyukai perhiasan. Namun adalah para wanita Ahmadi yang melakukan pengorbanan-pengorbanan ini.

Di sini [Kanada] seorang wanita Ahmadi bertemu saya dan mengatakan bahwa ia telah menyumbangkan seluruh perhiasannya. Namun para iparnya atau mertuanya tidak menyukai hal tersebut dan mereka mencela juga menyalahkannya. Allah Ta’ala memberkati mereka yang membelanjakan hartanya di jalan-Nya dan Dia sudah pasti akan memberkati juga wanita ini. Namun orang-orang yang berusaha untuk menghentikan orang lain dari melakukan pengorbanan harta haruslah khawatir. Tuhanlah yang memberikan kekayaan dan Dia jugalah yang dapat mengambil kekayaan itu kembali dari orang orang yang tidak bersyukur. Ingatlah selalu hal ini. Karena itu, bagi mereka yang hatinya memiliki pemikiran demikian (ingin menghentikan orang lain dari melakukan pengorbanan harta), mereka harus bertobat dan banyak meminta ampun.

Di Rusia juga ada banyak peristiwa dan kejadian yang serupa. Seorang kawan bernama Sdr. Lenar sangat miskin. Ia hidup di rumah sewaan dan mengalami banyak masalah keuangan. Namun ia memberikan kontribusi candah wajib dan Tahrik Jadid sesuai dengan kemampuannya. Ia berkata bahwa dikarenakan berkat dari kontribusi-kontribusi yang diberikannya tersebut, istrinya mendapat pekerjaan di pemerintah segera setelah menyelesaikan kuliah kedokterannya. Dan pemerintah memberikan mereka mereka pinjaman untuk tempat tinggal anak-anak mereka. Dan sekarang mereka juga memiliki dua mobil. Ia berkata bahwa semuanya karena karunia dan beberkat dari Allah Ta’ala karena sumbangan candah yang diberikan. Sebelumnya mereka sudah memberikan sumbangan dalam situasi dan waktu yang sulit namun sekarang situasi yang dihadapi sudah lebih mudah.

Anda sekalian lihat bagaimana Allah Ta’ala memberkati mereka yang hidup di Rusia, di Afrika, di Indonesia dan juga di negara negara lain di Eropa dan selainnya. Ini adalah perlakuan Tuhan yang menjadi dalil bahwa Dia menyempurnakan apa-apa yang telah dijanjikan-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as bahwa Ia akan menyediakan sebuah Jemaat orang-orang yang mempunyai kecintaan dan meningkatkan juga keimanan mereka. Allah Ta’ala juga meningkatkan keimanan orang-orang yang berjalan maju menuju-Nya.

Ada banyak kejadian dan peristiwa dari pengorbanan harta yang diberitahukan ke saya dan sulit bagi saya untuk memilih yang mana yang diambil dan yang mana yang tidak diambil. Bagaimanapun, saya sudah mengetengahkan beberapa diantara kisah pengorbanan harta tersebut kepada Anda sekalian. Seperti yang saya katakan, di semua negara, Allah Ta’ala memperlakukan sama. Allah Ta’ala akan menganugerahi karunia yang melimpah bagi mereka yang beriman kepada-Nya. Bagi siapapun yang waras dan berakal, ini adalah bukti yang cukup akan kebenaran dari Ahmadiyah dimana Allah Ta’ala memberkati dan mengaruniai orang orang yang berkorban di jalan-Nya. Hal ini karena sumbangan-sumbangan ini dibelanjakan untuk menyebarluaskan agama Allah Ta’ala. Orang orang dari Negara-negara miskin tidak diragukan lagi memberikan sumbangan mereka. Namun pengeluaran mereka sangatlah tinggi dibandingkan dengan nilai sumbangan mereka. Inilah kenapa kantor Jemaat pusat membelanjakan kontribusi-kontribusi sumbangan dari negara negara kaya kepada Negara-negara miskin yang mana anggaran belanja mereka tidak masuk dengan kebutuhan mereka. Ratusan sekolah, belasan rumah sakit, ratusan rumah misi, ratusan masjid dibangun setiap tahunnya dan uang dibutuhkan untuk mereka yang dibelanjakan dari sumbangan-sumbangan Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid.

Begitu juga jutaan Dollar telah dibelanjakan untuk MTA. Meskipun bagian Tarbiyat dan bagian MTA itu satu dan orang-orang juga menyumbang untuk itu namun pengeluarannya jauh lebih luas. Berkaitan dengan MTA, saya ingin mengatakan secara khusus bahwa menurut survey, penerapan kebiasaan menonton MTA ternyata tidak sebanyak yang seharusnya. Atau setidaknya para anggota Jemaat tidak mendengarkan khotbah saya secara langsung. Jemaat membelanjakan banyak biaya untuk MTA dan penyiaran khotbah Jumat secara langsung demi pendidikan bagi para anggota Jemaat. Jika ada perbedaan waktu maka siaran ulang khotbah Jumat tersebut haruslah ditonton. Banyak orang non Jemaat yang menontonnya dan menulis kepada saya bahwa meskipun mereka non Jemaat, namun mereka mendengarkan khotbah Jumat (dari MTA).

MTA telah Allah jadikan sebagai media bagi terhubungnya Jemaat dengan Khilafat. Jika di dalam rumah kalian tidak memperhatikan hal ini, maka perlahan-lahan anak-anak kalian akan menjauh. Allah Ta’ala pastilah akan memenuhi janji janji-Nya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, Insya Allah – orang-orang baru yang penuh ketulusan dan keikhlasan juga akan datang ke dalam Jemaat.

Kalian telah melihat betapa agungnya ketulusan dan keikhlasan dari para Mubayyin baru. Jangan sampai terjadi para Mubayyin mendapatkan semua berkat dan karunia namun orang-orang Jemaat lama berlindung penuh kebanggaan dibalik fakta bahwa bapak-bapak dan juga nenek moyang mereka adalah Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as, dan bahwa mereka adalah Jemaat Ahmadiyah keturunan [sudah lama]. Allah Ta’ala bukan keluarga siapapun. Jika anggota-anggota Ahmadi keturunan terus-menerus menjauh dari Jemaat, maka tidak ada gunanya bagi mereka bahwa para ayah dan nenek moyang mereka merupakan Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud as. Karena itu, sebelum penyesalan datang, kalian harus menghubungkan diri kalian dengan Nizam Khilafat. Dan untuk itu, sarana terbaik yang telah dianugerahkan oleh Allah Ta’ala adalah MTA. Maka gunakanlah. Ada banyak program bagus lainnya di MTA namun setidaknya dengarkanlah khotbah-khotbah saya. Tidak hanya cukup dengan mengatakan pada diri kalian, “Bapak Mubaligh yang terhormat telah membacakan ringkasan khotbahnya dan kemudian kami sudah tahu apa yang dikatakan dalam khotbah Jumat.”

Ada perbedaan yang besar antara menyimak khotbah dengan mendengarkan kutipan atau ringkasannya.

Sebagaimana telah saya katakan sebelumnya, tahun Tahrik-e-Jadid berakhir dan tahun baru telah dimulai. Kini saya mengumumkan tahun baru Tehrik-e-Jadid. Saya pikir untuk pertama kalinya tahun baru Tehrik-e-Jadid diumumkan dari Kanada. Hal ini adalah termasuk karunia Allah Ta’ala bahwa Jemaat telah berkembang begitu luas. Pada tahun 1934 kelompok Ahrar berbicara untuk menghabisi Jemaat, dan akan membuat Qadian menjadi puing. Pada masa itu Hadhrat Mushlih Mau’ud ra mengumumkan skema Tahrik Jadid dan merencanakan untuk mengirimkan para Mubaligh ke seluruh dunia. Rencana penyebarluasan Islam yang komprehensif kemudian ditetaskan. Dan hari ini dengan rahmat Allah Ta’ala, Jemaat dikenal di seluruh dunia. Jemaat berdiri di 209 negara. Saat ini Jemaat Ahmadiyah adalah satu-satunya Jemaat yang matahari tidak terbenam diatasnya. [karena Jemaat sudah di 209 negara] Ada masa dimana Ahrar bicara akan menghapus suara Jemaat di Qadian dan sekarang dari setiap penjuru dunia, para pelayan Hadhrat Masih Mau’ud as – dan saya adalah yang terendah diantara para pelayan tersebut – menyampaikan pesan beliau ke seluruh dunia di sudut barat bola dunia. Dengan demikian, hal itu sesuai dengan janji yang diberikan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud as yang dipenuhi dengan penuh kehormatan. Karena itu, hal ini harus diingat oleh setiap Ahmadi bahwa hal-hal ini meletakkan tanggungjawab kepada setiap orang dari mereka. Dan untuk memenuhi tanggung jawab ini, merupakan tanggungjawab setiap orang dari kalian.

Sekarang saya hendak mengumumkan mulainya tahun baru Tahrik Jadid. Dengan karunia Allah Ta’ala, Tahrik Jadid periode ke-82 berakhir pada 31 Oktober 2015 dan mulai tanggal 1 November telah dimulai awal tahun baru Tahrik Jadid yang ke-83. Dengan karunia Allah Ta’ala, berdasarkan laporan-laporan yang diterima, tahun lalu total pembayaran perjanjian Tahrik Jadid adalah £ 10.933.000 (Pound Sterling setara dengan sekitar 181 Miliar Rupiah). Alhamdu lillah. Angka ini naik sebesar £ 1.717.000 [lebih dari 28 Miliar Rupiah] dari tahun sebelumnya.

Jemaat di Pakistan selalu menjadi yang pertama diantara semua negara. Di luar Pakistan, Jerman menduduki peringkat pertama. Britania menduduki peringkat kedua, Amerika Serikat mengikutinya, lalu Kanada, Jemaat India ke-5, Australia ke-6, lalu ke-7 sebuah Jemaat dari Negara Timur Tengah, Indonesia di posisi ke-8, lalu ke-9 sebuah Jemaat lain dari Negara Timur Tengah dan pada urutan ke-10 adalah Ghana. Switzerland (Swiss) berada di urutan ke-11. Daftar urutan seharusnya sampai 10, namun karena di Swiss pembayaran per orangnya sangat tinggi maka nama negaranya ditambahkan di bawahnya.

Dilihat dari pengorbanan perorangan, Amerika Serikat menempati peringkat pertama, kemudian diikuti oleh Switzerland, UK, Finlandia, Singapura, Jerman, Norwegia, Jepang dan Kanada. Namun sebelum itu, ada 5 negara di Timur Tengah yang [karena suatu hal] kami tidak sebut nama-namanya.

Di Negara-negara Afrika, dalam hal pengumpulan jumlah total, nomor satu ialah Mauritius, lalu Ghana, Nigeria, Gambia, Afrika Selatan, Burkina Faso, Kamerun, Sierra Leon, Liberia, Tanzania, dan Mali.

Mengenai jumlah pejanji Tahrik Jadid, sebanyak 90.000 orang baru masuk sehingga jumlah total ialah 1.404.000. Usaha terbaik untuk menambah jumlah pejanji dilakukan oleh Jemaat Benin, Niger, Mali, Burkina Faso, Ghana, Liberia, Senegal, dan Kamerun. Inilah hal yang siapa pun di dunia harus menaruh perhatian.

Daftar awal Tahrik Jadid (memiliki 5.927 peserta) semuanya masih berlanjut. Diantara mereka ada yang masih hidup dan melunasinya sendiri sedangkan lainnya dilunasi oleh keluarga yang masih hidup atas nama kerabat yang telah meninggal.

Berikut adalah 3 Jemaat yang menduduki posisi pertama di Pakistan: Lahore, Rabwah dan Karachi. Sepuluh Jemaat dibawah itu ialah: Islamabad, Multan, Quetta, Peshawar, Gujranwala, Hyderabad, Hafizabad, Mianwali, Kotli, Khaniwal dan Bahawalpur. Berikut adalah 10 wilayah yang menonjol dalam hal pengorbanan di Pakistan: Sialkot, Faisalabad, Sarghoda, Gujrat, Umerkot, Okara, Narowal, Mirpur Khash, Toba Tek Singh, Mandi Bahauddin dan MirpurAzad Kashmir. Tingkat pengorbanan tinggi Pakistan dalam hal keuangan tetap dipertahankan meski termasuk dalam kondisi ekonomi sulit.

Sepuluh kepengurusan lokal terbesar di Jerman [dalam hal chandah]: Rodermark, Nawes, Feinngardan, Rounheim Soth, Flowerzheims, Flrsheim, Lambragh, Koln, Koblez, Neda dan Mahdiabad.

Sepuluh wilayah besar (keamiran) di Jerman: Hamburg, Frankfurt, Grosgrau, Moirfeldn Waldruf, Weizbaden, Datsanburg, Offenbach, Mannheim, Darmstadt dan Radtstadt.

Berikut adalah lima wilayah yang menonjol di UK dalam hal chandah: London B, London A, Midlands, North East dan South Region. Berikut adalah 10 Jemaat besar pertama dalam pemungutan chandah: Fazal Mosque, Worcester Park, Glasgow, Birmingham South, New Malden, Bradford, Islamabad, Gillingham, North West, dan Wimbledon Park. Dilihat dari pengorbanan perorangan, berikut adalah wilayah yang menonjol: South West, Islamabad, Scotland, Midland, and North East. Berikut adalah urutan Jemaat-Jemaat besar di UK: Bromly Alithom, Leamington Spa, Islamabad, Scanth Arb, Birmingham South, Worcester Park, Gillingham, Bornmath, South Hampton, Fazal Mosque, Fazal Mosque bagian Barat.

Di Kanada, berikut ini yang paling menonjol: Peace Village, Vaughn, Calgary, Brampton, Vancouver dan Mississauga. Menonjol dari segi jumlah perolehan kembali tingkat 10 besar ialah: Edmonton West, Pelekadaram, Saskatoon South, Saskatoon North, Milton East, Ottawa West, Ottawa East, dan Regina. Jemaat Lloydminster tidak menempati posisi apa pun sementara ketuanya terlihat aktif sekali dan Jemaatnya juga dan diatas hal itu, kondisi keuangan Jemaat sepertinya juga bagus.

Berikut adalah 10 Jemaat yang menonjol di Amerika Serikat dalam hal pengumpulan rata-rata: Silicon Valley, lalu Oshkosh, Oshkosh Two, Detroit, Seattle, York, Central Virginia, Los Angeles, Silver Spring, Central Jersey, Chicago Southwest, Los Angeles West.

Di India, berikut ini adalah 10 Jemaat pertama: Kerwalai, Kerala, Kalikut Kerala, Hyderabad, Andhra Pradesh, Patheprame Kerala, Qadian, Kannur Town Kerala, Bangari Kerala, Delhi, Kalkutta, Bengal dan Sulur Tamil Nadu. Di India, berikut ini adalah provinsi yang menonjol: Kerala, Karnataka, Andhra Pradesh, Tamil Nadu, Jammu Kashmir, Orissa, Punjab, Bengal, Delhi dan Maharashtra. Dalam beberapa tahun terakhir ini India telah mengembangkan diri begitu dahsyat. Jika tidak mereka akan tertinggal sekali. Dengan karunia Allah, mereka memajukan diri.

Di Australia, berikut adalah sepuluh besar: Melbourne Brook, Castle Hill, ACT Canberra, Maestan Park, Brisbane, Loganbazvick, Melbourne Long Borne, Warn Adelaide, South Blampton, dan Melbourne East. Demikian pula, 10 Jemaat yang tertinggi dalam pemungutan per orang: Tasmania, Brisbane North, ACT Canberra, Sydney Metro, Darwin, Paramata, Melbourne Brook, Perth, Maestan Park, and Castle Hill.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa terus meningkatkan keberkatan bagi semua peserta perjanjian dalam hal diri dan hartanya dan menerima pengorbanan mereka serta mengaruniai taufik pada mereka dengan berkorban lebih banyak lagi di masa datang dan menghubungkan mereka dengan Khilafat tetap erat senantiasa. (آمين Aamiin)

Penerjemah: Dildaar Ahmad Dartono dengan sumber referensi www.Islamahmadiyya.net (Arab) dan & Ratu Gumelar dengan sumber referensi  www.alislam.org (bahasa Inggris).

 


[1] Malfuzhat jilid awwal, halaman 367-368, edisi 2003, terbitan Rabwah

[2] Malfuuzhaat jilid awwal (I) halaman 47, edisi 2003, Terbitan Rabwah. Malfuuzhaat jilid awwal (I) halaman 75-76, edisi 1985, Terbitan UK.

[3] Surah al-Kahfi; 18:7  فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آَثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا “Maka barangkali engkau (Muhammad) akan mencelakakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Quran).”

[4] Surah Al-Baqarah, 2:267; يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَنفِقُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُم مِّنَ الأَرْضِ وَلاَ تَيَمَّمُواْ الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنفِقُونَ وَلَسْتُم بِآخِذِيهِ إِلاَّ أَن تُغْمِضُواْ فِيهِ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.”