Khutbah Jum’ah

Hadhrat Amirul Mu’minin Khalifatul Masih V atba.

Tanggal 31 Januari 2014 dari Baitul Futuh London, U.K.

          

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

 اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ o الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ  oملِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ  o اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُo

 اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَo  صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْ عَمْتَ عَلَيْهِمْ , غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّيْنَo

Di dalam Khutbah Jum’ah yang lalu telah dibahas mengenai reformasi amal atau tarbiyyat akhlaq yang menjadi tanggung jawab para Muballighin termasuk orang-orang yang telah mewaqafkan diri, para Amir dan semua anggota Pengurus. Bagaimana mereka harus memainkan peranan untuk menguasai sarana-sarana dalam melakukan reformasi amal. Dan untuk itu perkara apa saja yang diperlukan dan yang perlu diterapkan di dalam kehidupan para Muballighin para anggota Pengurus kemudian mengajarkannya kepada Jema’at. Perlu juga dijelaskan bahw para Ulama Jema’at dan para Juru Penasihat di zaman Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. terdiri dari para Sahabah Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan pribadi-pribadi yang telah dididik oleh para Sahabah r.a. yang sungguh memiliki standar Qurub Ilahi, iman dan keyakinan yang sangat tinggi. Di dalam hal itu tidak ada suatu kekurangan atau kelemahan. Adapun kelemahan atau kekurangan yang di ingatkan oleh Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. adalah perlunya untuk mengubah kecenderungan segala kehendak atau sebagaimana masalah itikad dan iman selalu diberi perhatian penuh, demikian juga terhadap pentingnya masalah perbaikan amal para anggota Jema’at harus diberi motivasi tarbiyyat melalui tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud a.s., melalui ta’alluq billah pribadi masing-masing dan itha’at terhadap Khilafat serta pentingnya menghargai Nizam Jema’at. Akan tetapi sekarang nampak kepada kita bahwa standar semua kedudukan itu sudah tidak ada lagi. Oleh sebab itu saya katakan bahwa para Muballighin dan para anggota pengurus harus menerapkan hal itu semua pada diri mereka sendiri kemudian beritahukan kepada Jema’at bahwa hal itu sangat penting sekali, yakni merenungkan perkataan menerapkan pada diri sendiri dan mengamalkan dan menegakkan contoh tauladan yang baik, sangat penting sekali. Maka barulah perkataan reformasi mempunyai kesan yang sebenarnya.

Di dalam Khutbah Jum’ah yang lalu telah diingatkan tentang menciptakan tekad yang kuat dan menjauhkan kekurangan ilmu. Sehubungan dengan itu perkara ketiga, menjauhkan kelemahan beramal atau bagaimana meningkatkan kekuatan beramal belum dijelaskan. Sekarang saya ingin menjelaskannya. Sebagaimana telah dijesakan di dalam Khutbah sebelumnya bahwa, perlu adanya pengobatan external atau bantuan dan dukungan dari luar atau dapat dikatakan perlu bantuan orang lain. Dan untuk perbaikan amal bantuan ini mempunyai dua aspek, atau memerlukan dua macam aspek dukungan. Pertama pengawasan dan kedua paksaan. Pengawasan dimaksud adalah mengamati secara tetap atau membimbingnya setiap waktu agar jangan sampai melakukan suatu keburukan. Pengawasan seperti itu biasa dilakukan berkenaan dengan urusan duniawi juga. Di rumah, kedua ibu bapak mengawasi anak-anak mereka. Di sekolah-sekolah, para guru disamping mengajar, berperan mengawasi anak-anak murid mereka juga. Kadangkala para petugas Negara mengawasi orang-orang dan juga memberi tahu, kami akan mengawasi mereka. Di atas jalan-jalan Raya dipasang Camera untuk mengawasi traffic atau lalu-lintas. Dipasang Signboard atau camera juga demi mengawasi jalannya lalu lintas. Orang tua anak-anak yang memperlakuan anak-anak mereka melampaui batas kedua orang tua mereka diawasi dan diperingatkan oleh Organisasi Kesejahteraan Anak-anak, jika perlakuan mereka sangat buruk dan banyak menyusahkan anak-anak mereka, maka anak-anak akan diambil oleh Organisasi itu. Di Negara-negara maju hal seperti itu sudah sangat terbiasa sekali. Menurut pendapat saya pengawasan seperti itu sampai pada taraf tidak wajar dalam perkara anak-anak. Dan kedua ibu-bapak menjadi takut kepada anak-anak ataupun takut kepada Organisasi itu sekalipun untuk menerapkan disiplin secara baik terhadap anak-anak mereka. Dan sebagai natijahnya, kadangkala, keadaan anak-anak juga semakin rusak. Maka kadangkala pengawasan dalam urusan duniawi menjadi penyebab kerugian. Selain itu, terdapat pengawasan terhadap kedua suami-steri yang bertengkar dan pengawasan terhadap para pelaku kejahatan. Pendeknya, maksud dari semua pengawasan itu adalah untuk mencegah manusia dari perbuatan-perbuatan yang dapat menimbulkan kerusuhan. Atau maksudnya untuk menciptakan perdamaian. Walhasil, pengawasan adalah sebuah sumber untuk perbaikan dalam semua peraturan dan undang-undang kemasyarakatan. Dan pengawasan itu juga adalah sarana untuk reformasi amal nyata. Dan banyak sekali manusia terhindar dari perbuatan-perbuatan yang keliru. Kedua ibu-bapak mengadakan pengawasan terhadap anak-anak mereka. Para Muballighin mengadakan pengawasan disekitar kawasan masing-masing. Dan hal itu sangat penting bagi semua sistim Administrasi Jema’at di masing-masing kawasan tugas mereka. Dan apabila pengawasan ini diberikan sesuai dengan ajaran Islam, bahwa setiap juru pengawas akan dimintai pertanggungan jawab mereka masing-masing. Maka natijahnya bukan hanya perbaikan mereka sendiri yang diberi pengawasan, melainkan para pengawas juga akan memperoleh perbaikan. Walhasil untuk perbaikan amal, pengawasan merupakan sebuah sarana yang berkesan.

Perkara kedua, yang diperlukan untuk perbaikan amal adalah paksaan. Bisa saja timbul di dalam hati seseorang bahwa dari satu segi tidak ada paksaan dalam urusan Agama, sedangkan dari segi lain paksaan digunakan untuk perbaikan amal. Maka jelaslah bahwa paksaan di sini bukan mengenai menerima atau meninggalkan Agama. Di dalam Islam seseorang mempunyai kebebasan untuk menerima atau meninggalkan iman. Islam telah memberi kebebasan secara jelas. Akan tetapi paksaan di sini adalah setelah menerima Agama, kemudian tidak mengamalkan hukum-hukumnya dan melanggarnya. Dalam satu segi menyatakan diri sebagai Anggota Jema’at kemudian melanggar peraturan-peraturan Nizam Jema’at. Jika hal seperti itu terjadi, maka terpaksa harus dikenakan sangsi. Itulah yang dimaksud dengan paksaan di sini. Apakah seseorang ingin tetap menjadi bagian dari pada Nizam maka ia harus mengamalkan ajaran-ajarannya, jika tidak ia akan dikenai hukuman atau denda bahkan dikenakan beberapa sekatan juga terhadapnya. Dan maksud dari semua itu adalah  untuk perbaikan, agar kelemahan melakukan perbaikan amal dapat dicegah. Di dalam Jema’at juga apabila Nizam Jema’at memberi hukuman tujuannya tiada lain demi perbaikan. Bukan menimpakan kesulitan kepada seseorang tanpa sebab. Paksaan ini juga diterapkan di dalam Undang-undang Pemerintah. Manusia dikenakan hukuman, dimasukkan kedalam penjara dan dikenakan wang denda juga. Kadangkala orang tahanan itu dipukuli juga. Tujuannya untuk menegakkan keamanan dikalangan masyarakat, dan jangan sampai dia melakukan suatu tindakan yang merugikan orang lain. Bahkan kadang-kala perbuatan manusia yang merugikan terhadap dirinya sendiri juga dikenai hukuman. Dan berbagai macam sarana digunakan untuk mengadakan reformasi selama menjalani hukuman. Jika seseorang dikenai hukuman mati karena pembunuhan, tujuannya agar keamanan masyarakat terjamin, jika tidak si pembunuh itu akan mendapat kesempatan lagi untuk melakukan pembunuhan berikutnya. Dan mungkin saja akan timbul beberapa orang pembunuh lainnya lagi. Maka dengan menerapkan hukuman mati terhadap si pembunuh, banyak orang menjadi baik atau mereka berhenti dari perbuatan yang menjurus kepada pembunuhan. Walhasil, paksaan ini adalah sebuah sisi dari islah atau reformasi, yang diterapkan diatas dunia sebagai sarana untuk reformasi. Tidak ada kaitannya antara paksaan hukuman duniawi dengan iman. Akan tetapi yang menisbahkan dirinya kepada iman apabila ia dipaksa dan dikenakan hukuman dibawah undang-undang Agama atau suatu jenis hukuman, didenda atau dikenai suatu hukuman lain atau beberapa sekatan dikenakan kepadanya. Kadang-kadang Jema’at mengenakan sekatan membayar candah terhadap beberapa orang. Memang nampaknya pekerjaan itu dilakukan secara paksa, namun apabila hal itu atau amal itu membawa kearah kebaikan, mereka diberi perhatian penuh dan seseorang yang melakukan demikian agar ia terhindar dari hukuman atau dari kemarahan Khalifae waqt atau terhindar dari kemurkaan Tuhan, maka lambat laun didalam hatinya timbul iman dan kesadaran terhadap kebaikan. Dan orang seperti itu meninggalkan amal-amal buruk, kemudian dengan senang hati melakukan amal-amal kebaikan.

Maka kita harus selalu ingat bahwa untuk membiasakan melakukan amal baik dipergunakan berbagai macam sarana. Tanpa berusaha menggunakan sarana-sarana itu tidak akan berhasil di dalam reformasi amal. Maka, penting sekali menggunakan sarana-sarana itu. Yaitu; menanamkan iman, menciptakan ilmu yang benar dan mengadakan pengawasan serta menerapkan pakasaan. Inilah empat macam sarana, tanpa empat macam sarana ini perbaikan amal akan sulit sekali. Jika kita analisa secara mendalam, akan diketahui bahwa terdapat sebuah tingkatan manusia diatas dunia ini yang tidak memiliki kekuatan iman di dalam hati mereka. Yakni tidak mempunyai standard yang diperlukan manusia untuk mengadakan reformasi amal. Jika kekuatan iman bertambah di dalam hati orang-orang seperti itu maka amal mereka akan menjadi baik. Dan ada sebuah tingkatan manusia yang bergelimang di dalam dosa disebabkan tidak memiliki ilmu, baginya diperlukan ilmu yang benar. Ada sebuah tingkatan manusia lagi yang memerlukan bantuan orang lain untuk melakukan amal baik. Dan keperluannya dapat dipenuhi dengan dua macam cara. Atau pertolongan dari luar terdapat dua macam cara. Pertama, diberi pengawasan, sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya. Dengan usaha pengawasan itu manusia akan terhindar dari keburukan dan mulai menaruh perhatian kepada amal kebaikan. Namun ada sebuah tingkatan manusia yang keadaannya betul-betul sudah jatuh, yang tidak bisa berobah sekalipun dengan pengawasan ketat. Selama tidak dikenakan hukuman dia tidak akan merubah sikap menjadi baik. Maka empat macam cara untuk reformasi itu sangat diperlukan oleh Jema’at juga. Dan pengobatan setiap orang, sangat perlu sekali disesuaikan dengan keadaan penyakit ruhani mereka masing-masing. Sangat perlu diingat bahwa diwaktu Agama tidak mempunyai pemerintahan dan tidak pula memiliki kekuatan senjata, keempat cara pengobatan itu sangat perlu sekali.

Sebagaimana telah saya jelaskan di dalam Khutbah Jum’ah yang lalu bahwa pertama bagi sarana pengobatan perlu sekali meniciptakan iman yang kuat melalui tarbiyyat. Dan untuk itu tanda-tanda Hadhrat Masih Mau’ud a.s., wahyu beliau, ta’alluq billah beliau dan melalui beliau timbulnya revolusi ruhani para pengikut beliau harus di kemukakan. Jema’at harus diberitahu apa saja faedah dari pada qurub Ilahi. Sebagaiamana telah saya jelaskan di dalam khutbah Jum’ah yang lalu bahwa di dalam zaman ini dimana Syetan sedang melakukan serangan dengan gencarnya maka sangat perlu sekali menjelaskan secara berulangkali cara-cara untuk meraih kecintaan Allah Ta’ala kepada Jema’at. Hal itu harus dilakukan secara berulangkali bagaimana dan bilamana kecintaan Allah Ta’ala dapat diperoleh. Apabila kecintan Allah Ta’ala telah tertanam di dalam kalbu seseorang maka Allah Ta’alapun berlaku secara istimewa terhadapnya. Mengenai itu Hadhrat Masih Mau’ud a.s pun telah menjelaskannya kepada kita. Orang-orang Ahmady baru, terutama Ahmady dari Negara Africa dan Negara Arab telah melaporkan kisah mereka bahwa setelah membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. keadaan mereka telah mengalami perobahan-perobahan dan iman mereka semakin meningkat. Bagaimana salah faham dan keraguan mereka telah tersingkap dan keimanan mereka telah semakin bertambah kuat dan jalan-jalan baru untuk meningkatkan iman semakin nampak jelas kepada mereka berkat membaca buku-buku Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Akan tetapi terciptanya kekuatan iman itu dengan menyaksikan tanda-tanda kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud a.s., dengan memahami hakikat wahyu-wahyu beliau dan dengan menjiwai ta’aluq billah beliau (hubungan erat beliau a.s. dengan Allah Ta’ala). Kemudian Allah Ta’ala dengan memperlihatkan banyak tanda-tanda menunjukkan pemandangan qurub-Nya. Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. menjelaskan pentingnya tanda-tanda, wahyu-wahyu dan pentingnya hubungan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dengan Allah Ta’ala yang membuat nur iman di dalam kalbu kami lebih cemerlang  dalam kata-kata berikut ini  bersabda: Hadhrat Isa bisa saja duduk-duduk dengan baik di atas langit. Hidupnya Nabi Isa di atas langit tidak begitu berbahaya sebagaimana bahayanya penampakan Zat Allah Ta’ala sudah mati di dalam kalbu kita. Jadi, apakah faedahnya kalian terus mempertahankan wafat Nabi Isa a.s. sedangkan kalian membunuh Allah Ta’ala di dalam kalbu manusia dan tidak berusaha untuk membuat-Nya Hidup. Allah Ta’ala adalah Hayyu, Hidup dan Qayyum, Berdiri Sendiri, kematian tidak akan pernah menjamah-Nya. Akan tetapi dari segi keadaan manusia Dia mati juga. Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. menceritakan kisah dari Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. bahwa salah seorang guru Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. yang berasal dari Bopal (sebuah kota di India) berkata, katanya guru itu melihat sebuah mimpi. Di dalam mimpi itu dia melihat seorang leper (seorang berpenyakit kusta ) duduk diatas sebuah jembatan di luar kota Bopal.  Leper itu matanya buta dan hidungnya terpotong dan semua jari-jari tangannya terpotong dan seluruh tubuhnya penuh dengan nanah dan lalat-lalat mengerumuninya. Guru itu berkata: Saya merasa jijik melihatnya. Saya bertanya kepadanya: Hai orang tua, siapakah engkau ini? Leper itu menjawab: Saya adalah Tuhan ! Mendengar jawaban itu, badan saya tiba-tiba gemetar ketakutan. Saya berkata kepadanya: Betulkah engkau ini Tuhan? Dan berkata: Semua Nabi yang datang kedunia ini selalu berkata bahwa Allah Ta’ala adalah Zat Yang Sangat Rupawan. Dan tidak ada yang lebih Rupawan dari Zat-Nya. Kami yang sangat mencintai Allah Ta’ala, apakah Dia begini rupa bentuknya? Leper itu menjawab: Para Nabi yang datang dan selalu berkata seperti itu, sungguh betul perkataan mereka itu! Saya bukan Tuhan yang sesungguhnya, tetapi saya adalah Tuhan orang-orang Bopal, yakni di dalam hati orang-orang Bopal saya dianggap Tuhan seperti ini. Yakni di dalam pikiran manusia, Tuhan tidak dianggap penting. Jadi, Allah Ta’ala tidak mengalami kematian. Namun apabila manusia telah melupakan-Nya, maka bagi orang itu Tuhan sudah mati.

Di sini perlu diterangkan kepada anak-anak muda bahwa, mereka jangan mengira apabila manusia sudah melupakan Tuhan maka Tuhan beralih rupa seperti itu, dan berakhirlah masalah sampai di situ. Sebetulnya bentuk rupa di dalam mimpi itu adalah bentuk rupa mereka yang telah melupakan Tuhan. Seperti halnya seseorang berdiri dihadapan sebuah cermin, akan melihat bentuk rupanya sendiri. Rupa yang diperlihatkan di dalam mimpi itu adalah bentuk rupa orang-orang yang secara ruhani telah menjadi leper. Dan orang-orang seperti itu sampai kepada akhir kehidupannya-pun demikian.

Na’uzubillah, Allah Ta’ala tidak mengalami kematian dan tidak meninggalkan mereka. Orang-orang yang melupakan Tuhan kadangkala di dunia ini juga mereka menerima hukuman daripada-Nya. Di banyak tempat di dalam Alqur’an telah dijelaskan bahwa orang-orang yang melupakan Tuhan akan masuk Jahannam. Jadi, dari permisalan tersebut diatas jangan mengira bahwa meninggalkan Tuhan atau menganggap Tuhan tidak berdaya, tidak akan ada akibatnya. Habis sampai disitu. Allah Ta’ala mengambil tindak pembalasan juga dan menghukum juga. Apabila kemurkaan Tuhan sudah mulai berkobar, maka tidak akan ada manusia yang dapat terhindar dari pada hukuman-Nya. Maka dari segi ini, bukanlah perkara kecil bahwa manusia melupakan Tuhan tidak akan ada akibatnya, lalu menganggap masalah habis sampai disitu. Hadhrat Muslih Mau’ud r.a. bersabda: Aneh sekali, para ulama kita berusaha keras mempertahankan kematian Hadhrat Isa a.s. namun mereka tidak berusaha membawa Tuhan mereka hidup dalam diri manusia. Mereka tidak menghidupkan spirit yang dapat menimbulkan pengertian dan pemahaman wujud Tuhan yang Maha Mulia. Usaha kita yang paling utama adalah membawa Tuhan kedalam kehidupan dan untuk menciptakan hubungan yang sangat erat dengan-Nya. Jika kita memiliki hubungan yang hidup dengan Allah Ta’ala, maka bagaimanapun ramainya orang menganggap Hadhrat Isa a.s. masih hidup di atas langit tidak menjadi masalah. Iman kita tidak akan terpengaruh sedikitpun. Sebab Tuhan selalu menjaga dan membimbing kita dalam setiap langkah. Tidak dapat diragukan bahwa untuk mengetahui masalah wafat Isa Al Masih, Khatamun Nubuwwat dan masalah-maslah lainnya yang erat hubungannya dengan itikad, sangat penting sekali. Dan berpegang teguh dengan dalil-dalilnya juga sangat penting sekali. Akan tetapi untuk reformasi amal kita harus menjalin hubungan erat dengan Allah Ta’ala. Dan untuk itu kita harus menggunakan sarana yang telah diajarkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. di zaman ini kepada kita. Kita harus mengikis habis perbedaan antara qaul dan fi’il kita yang betolak belakang satu sama lain. Apa yang dikatakan kepada orang lain itu pula yang akan diterapkan kepada diri kita, dan kita harus mengadakan analisa terhadap diri pribadi kita. Sampai dimanakah hal ini sedang kita amalkan.

Sekarang dengan karunia Allah Ta’ala banyak sekali anak-anak muda kita telah mendaftarkan diri masuk Jamia Ahmadiyah khususnya di Pakistan dalam jumlah cukup besar masuk Jamia Ahmadiyya yang akan dipersiapkan untuk menjadi para Muballighin yang akan disebar seluruh dunia. Banyak diantara mereka para pemuda Waqafe Nau. Kadang terjadi, dengan banyaknya jumlah bilangan mempengaruhi kualitas dan kadangkala terjadi juga beberapa contoh kejadian bahwa dengan tidak berusaha meningkatkan mutu iman yang diperlukan bahkan disebabkan amal perbuatan yang tidak baik atau disebabkan kurangnya ilmu pengetahuan yang tepat, bagaimana seharusnya nilai kesucian seorang Murabbi atau Muballigh, maka apabila gerak-gerak anak-anak terlibat dalam perbuatan yang mengecewakan akhirnya dikeluarkan dari Jamia. Jadi, zaman ini adalah zaman kemajuan bagi masa depan Jema’at Ahmadiyyah, insya Allah Ta’ala. Untuk menjelang masa depan itu banyak sekali jumlah murabbiyan dan muballighin yang harus mempersiapkan diri mereka sendiri. Pekerjaan yang akan dilimpahkan kepada mereka itu bukanlah pekerjaan ringan. Mereka harus menjalin sebuah hubungan yang erat dengan Allah Ta’ala mulai dari sekarang juga. Untuk itu harus berusaha jauh lebih banyak dari sebelumnya. Tanda-tanda yang telah diperlihatkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s kepada kita yang merupakan ajaran Islam hakiki dijelaskan kembali secara terbuka kepada kita, harus selalu terpampang dihadapan mata kita. Janganlah membatasai diri dengan hanya menghafal beberapa masalah saja.

Seorang ‘Alim dari Qadian telah menulis surat kepada saya katanya, “Dimasa lampau Jalsa diselenggarakan untuk menjawab serangan musuh-musuh Jema’at di Hindustan, sekarang tidak diadakan lagi. Di dalam Jalsa itu kami menjawab serangan-serangan para ulama ghair Ahmady dengan kuat dan  serba cepat sekali. Setelah menjawab seorang penyerang kami beralih menjawab serangan yang lainnya lagi.” Pekerjaan yang mereka lekukan ini memang bagus sekali. Para penentang harus diberi jawaban dengan baik, bahkan semua tuduhan mereka harus dibantah atau dijawab dengan bukti-bukti dan dalil-dalil yang kuat. Namun, hal ini lebih penting dan sangat perlu sekali bahwa para muallimin kita, muballighin dan para Murabbiyan harus memahami betul maksud kebangkitan Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan meningkatkan mutu iman dan keruhanian mereka sedemikian rupa sehingga setiap wujud dari mereka menjadi sebuah tanda kebenaran. Untuk itu harus diusahakan betul-betul dan terus maju menjadi sebuah tanda sehingga dengan menyaksikan perangai saja akan banyak orang yakin dan masuk Jema’at Ahmadiyyah. Akan tetapi sangat disesalkan sekali bahwa standar yang diharapkan itu tidak terbukti. Oleh sebab itu banyak sekali para muallimin di India terpaksa dibebas-tugaskan. Nampak kepada Jema’at bahwa kehidupan duniawi telah mempengaruhi mereka. Maka orang ‘alim yang telah menulis surat itu dan setiap orang dari kita harus memeriksa keadaan diri peribadi masing-masing, dan ketahuilah apa tanggung jawab kita. Para muallimin dan muballighin harus merenungkan usaha apa gerangan yang telah dilakukan untuk menciptakan mutu iman di dalam kalbu. Kita jangan merasa gembira karena telah dapat memberi kesan baik kepada orang-orang melalui dalil-dalil dan membuat para mullah yang menentang lari tidak bisa menjawab. Melainkan, kita harus menunjukkan existensi Tuhan kepada dunia melalui tanda-tanda Tuhan yang hidup dan mu’jizat-mu’jizat-Nya yang kita miliki. Dan meyakinkan manusia melalui bukti-bukti nyata dukungan Allah Ta’a terhadap Hazrat Masih Mau’ud a.s.

Hazrat Muslih Mau’ud r.a. telah memberi sebuah misal, bahwa jika matahari sudah terbit, lalu seorang bertanya, apa bukti dalilnya bahwa matahari sudah terbit. Orang yang ditanya itu mulailah menerangkan dalil-dalilnya dengan panjang lebar bahwa matahari sudah terbit. Penanya maupun orang yang ditanya kedua-duanya bodoh sekali. Sebetulnya tidak perlu memberi dalil-dalil panjang lebar, dagu sipenanya itu cukup ditengadahkan saja keatas lalu katakan kepadanya: Tengok, itulah matahari! Jadi, dihadapan kita juga Allah Ta’ala nampak Cemerlang. Dia telah menyingkapkan diri-Nya melalui semua sifat-sifat-Nya dihadapan dunia dan Dia telah menzahirkan semua keindahan-Nya yang cemerlang melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Maka tugas para Juru Penasihat adalah bukan seperti orang bodoh yang membuktikan terbitnya matahari, tetapi membuktikan kebenaran melalui tanda-tanda yang segar yang telah zahir melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s. dan bukti amal nyata dukungan Allah Ta’ala terhadap Hazrat Masih Mau’ud a.s. Selain itu keadaan diri pribadi juga hendaknya dibuat sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala. Dan perkuatlah kemampuan Jema’at untuk beramal. Kemukakanlah perkara itu semua secara berulang kali dihadapan anak-anak, kaum perempuan maupun kaum laki-laki Jema’at. Dan beritahukan kepada mereka, bagaimana Allah Ta’ala menampakkan jalaal atau kegagahan-Nya di atas dunia melalui Hadhrat Masih Mau’ud a.s., beri tahu kepada mereka apakah sarana untuk meraih qurub Allah Ta’ala dan bagaimana kecintaan Allah Ta’ala dapat dihasilkan. Kemudian tengoklah para pemuda yang cenderung kepada dunia akan segera tunduk perhatian mereka kehadapan Allah Ta’ala. Dengan demikian bukan hanya beberapa orang muballighin dan para ulama yang manaklukkan hati para Moulvy ghair Ahmady, melainkan para pemuda kita, para wanita dan anak-anak juga akan mempunyai peranan untuk menarik perhatian dunia! Maka perhatian untuk memperbaiki amal adalah langkah paling utama yang sangat diperlukan. Dengan menjalin diri sendiri dengan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kemudian kamil ithaat terhadap Khilafat adalah faktor paling utama yang sangat diperlukan. Dan itulah yang menjadi sarana bagi teguhnya Jema’at dan sarana untuk meraih kemajuan Jem’at. Mengenal kedudukan, pengetahuan dan pemahaman sebenarnya tentang Khilafat harus diusahakan sedemikian rupa oleh Jema’at sehingga dengan gembira Jema’at menerima semua keputusan Khalifae Waqt. Dan tidak timbul suatu keraguan apapun di dalam hati. Menanamkan pengertian dan pemahaman tentang Khilafat-pun adalah tugas para Muballighin yang sangat penting. Dan para anggota pengurus-pun harus menaruh perhatian penuh terhadapnya. Sebuah misal bisa dikemukakan dimana orang berkata Khalifae Waqt telah melakukan kesalahan ini dan itu dan ia telah memberi keputusan yang salah, keputusan seharusnya begini atau begitu. Beberapa orang mengemukakan keberatan terhadap keputusan Dewan Qada. Atau ada juga yang berkata; Mengapa si Fulan telah diberi tugas untuk pekerjaan ini di sana. Seharusnya si Fulan lain ditugaskan di sana. Khalifae Waqt mengetahui banyak sekali masalah ini dan itu,  akan tetapi tentang si Fulan telah mengambil kepurutsan sambil menutup mata, sekalipun sudah tahu mengenai urusannya. Yang berkata-kata demikian itu hanya segelintir orang saja, akan tetapi mereka telah merusak citra lingkungan Jema’at. Jika para Murabbiyyan dan para anggota pengurus Jema’at dan anggota pengurus setiap badan-badan di dalam Jema’at memahami tanggung jawab masing-masing, maka keraguan tidak akan timbul di dalam hati para anggota. Adalah tugas khusus para Murabbiyyan untuk memberi pngertian dan penjelasan kepada mereka bahwa semua berkat terletak di dalam Nizam. Apabila Allah Ta’ala hendak menimpakan laknat di atas suatu Kaum maka Dia merampas kembali Nizam itu dari mereka. Dan apabila perkara ini sudah dikenal oleh semua orang maka kebanyakan orang yang tergelincir akan selamat. Kelompok orang semacam itu selalu ada saja walaupun hanya segelintir yang menganggap diri mereka tahu segala-galanya, dan pergi kesana-kemari bercakap tidak keruan. Mereka berkata, Khalifah bukan Tuhan, ia juga bisa saja melakukan kesalahan, seperti manusia biasa melakukan kesalahan. Baiklah memang demikian. Tentang itu Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. telah menjawab dengan baik sekali, jika Khilafat ini benar, maka jawaban ini akan tepat bagi setiap waktu dan setiap tempat, yaitu, jika seseorang menerima Khilafat itu sebagai berkat dari Allah Ta’ala. Beliau bersabda, Allah Ta’ala berfirman: Khulafa apabila memberi keputusan tentang suatu perkara maka Kami tegakkan perkara itu diatas dunia. Dia berfirman :  Yakni : Kami bersumpah atas Zat Kami, bahwa akan Kami tegakkan di atas dunia Agama dan dasar-dasar yang ingin ditegakkan oleh Khulafa. (An Nur 24) Maka perkara ini harus tertanam dengan kuat di dalam kalbu setiap orang Ahmady dan merupakan tugas kewajiban para Muballighin dan para Ulama Jema’at untuk berusaha menanamkannya di dalam hati setiap anggota Jema’at. Maka pahamilah tanggung jawab ini dengan tekun untuk menzahirkan berkat-berkat dan anugerah Hadhrat Masih Mau’ud a.s kepada manusia dan menyampaikan penjelasan-penjelasannya secara berulang kali kepada mereka tentang tanda-tanda Allah Ta’ala yang hidup dan harus beritahu juga kepada mereka apa sumbernya untuk meraih qurub Allah Ta’ala. Dan patuh ta’at kepada Khalifae Waqt dan Nizam Jema’at dalam setiap keadaan sangat penting sekali dan harus berusaha menjelaskannya kepada setiap orang. Maka apabila hal itu semua telah berjalan dengan baik maka semua keraguan akan lenyap dari dalam hati. Dan dengan cara demikian banyak orang akan membuang keraguan dari dalam hati mereka dan setiap fitnah dengan sendirinya akan mati. Dan akan nampak reformasi amal dalam setiap segi Jema’at yang merupakan salah satu maksud paling besar dari kebangkitan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. kedunia. Harus diingat bahwa kita perlu sekali memahami  masalah Kahatamun Nubuwwat dan wafat Isa Al Masih a.s. untuk menjawab para penentang. Akan tetapi usaha untuk melaksanakan amal-amal saleh dan meningkatkan ilmu pengetahuan juga sangat penting bagi Jema’at. Berapapun banyaknya perhatian kita curahkan untuk pertahanan serangan dari luar, maka sebanyak itu pula bahkan lebih banyak lagi perhatian harus dicurahkan untuk membina pertahanan di dalam iman kita. Kesucian ruhani kita, reformasi amal kita akan menjadi sarana untuk menimbulkan perobahan lebih besar dibanding dengan usaha Tabligh.

Nasihat Hazrat Musleh Mau’ud r.a. berikut ini sungguh sangat penting sekali, beliau bersabda:  Jika para Ulama dan Muballighin mengadakan perbaikan kalbu dan menciptakan ilmu pengetahuan dan meningkatkan kecintaan terhadap Allah Ta’ala di dalam kalbu Jema’at, maka berpuluh-puluh juta manusia akan berbondong-bondong masuk kedalam Jema’at Ahmadiyyah. Sebagaimana Allah Ta’ala sndiri berfirman:

 Jika kalian akan mengembangkan Agama melalui Tabligh, maka hasilnya satu atau dua orang  manusia akan datang kepada kalian. Akan tetapi jika kalian banyak istighfar dan bertasbih dan menghapuskan dosa dari kalangan Jema’at, maka hasilnya manusia akan datang secara berbondong-bondong kepada kalian, dan akan menggabungkan diri dengan kalian.

Orang ‘alim kita yang selalu mengalahkan orang-orang ghair di waktu berdialog, hanya dengan kemenangan yang diperoleh di dalam dialog itu tidak memberi kesan banyak, tidak seperti dengan reformasi amal kita sendiri. Oleh sebab itu berilah perhatian penuh terhadap reformasi amal dan jadilah para wakil Khilafat kemudian berusahalah menjadi para penolong Khalifae Waqt. Kita tidak bisa hanya terlibat didalam kegiatan pendidikan, melainkan jika kita ingin memajukan Jema’at, dan insya Allah Jema’at akan maju, maka kita harus berikhtiar jalan lainnya lagi, yaitu perbaikan amal. Apa yang kita perlukan adalah amal yang baik. Kita perlu meningkatkan mutu keikhlasan dan kejujuran. Kita perlu berusaha mencari sarana untuk memperoleh pendapatan rizki yang halal. Bukan dengan jalan menipu Council (pemerintah Daerah) demi mendapatkan beberapa keping wang dan menawarkan kebenaran dan kejujuran demi memperoleh keuntungan. Atau demi menghasilkan wang mengajukan suatu kasus ke Pengadilan. Tugas apapun yang diserahkan kepada kita harus dilaksanakan dengan senang hati, dengan giat dan penuh semangat serta kejujuran. Jika keadaan sudah demikian maka akan terbuka jalan kemajuan duniawi maupun ruhani kita. Insya Allah!

Hanya karunia Allah Ta’ala semata bahwa pada umumnya Jema’at mempunyai kesan-kesan sangat baik dipandangan mata orang lain. Namun jika demi meraih keuntungan duniawi yang tidak berarti kita meninggalkan kejujuran dan amanah, maka kita akan menjadi penyebab kehancuran bagi nama baik Jema’at. Maka dimana para Muballighin juga perlu untuk menaruh perhatian, disana setiap anggota Jema’at juga perlu mengadakan analisa terhadap diri mereka dan melakukan  reformasi amal masing-masing. Dan senjata utama untuk itu adalah do’a, yang harus mendapat perhatian penuh setiap waktu. Dan penggunaannya yang tepat dan untuk mendapatkan faedahnya yang sebaik-baiknya kita harus selalu ingat kepada firman Tuhan bahwa manusia harus meningkatkan terus iman dan menta’ati perintah beramal sesuai dengan cara yang telah diberikan kepadanya. Jadi, amal dan do’a ini, dan do’a serta amal ini jika kedua-duanya berjalan dengan baik maka perbaikan atau reformasi sejati akan diperoleh. Untuk itu kita berdoa, semoga Allah Ta’ala memberi taufiq kepada kita semua. Amin!

Akhirnya saya ingin menarik perhatian semua para anggota Jema’at terhadap suatu hal yang membuat hati orang-orang mu’min sejati sangat gelisah, yaitu keadaan Negara-negara orang Muslim yang sangat menyedihkan. Pada sa’at ini Muslim Ummah sangat memerlukan do’a dari para pengikut Hadhrat Imam Zaman, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Hal ini merupaka kewajiban kita untuk banyak-banyak memanjatkan do’a bagi mereka. Keadaan buruk di Syria sedang meningkat menjadi sangat buruk lagi. Pemerintah disana sedang melakukan tindakan lebih kejam lagi begitu juga para kelompok oposisi semakin meningkat dalam tindak kekejaman mereka. Kezaliman sedang berlaku dari kedua belah pihak. Anak-anak, orang-orang tua dan juga para wanita dari suatu kelompok sedang dijadikan sasaran penganiayaan, apakah mereka itu bersalah ataupun tidak. Mereka ditangkapi lalu dibawa ketempat tertentu, mereka dibiarkan dalam keadaan kelaparan dan dianiaya. Orang-orang Muslim melakukan kezaliman terhadap sesama orang-orang Muslim sendiri. Dan mereka memberi kesempatan kepada orang-orang Non Muslim untuk melakukan tuduhan-tuduhan menentang Islam.

Beberapa hari yang lalu telah diperlihatkan sebuah interview yang dilakukan kepada anak-anak berumur 14-15 tahun yang telah terpisah jauh dari orang tua mereka disebabkan suatu hal. Mereka tidak mendapat sesuatu untuk makan dan minum. Ketika anak-anak berumur 12, 13 tahun ditanya, apabila kalian sudah besar menjadi dewasa, mau menjadi apa kalian? Sambil tertawa mereka menjawab dengan gamblang: Mau menjadi orang criminal, pencuri atau orang bajingan dan orang extremist agar kami dapat melakukan tindak balas terhadap apa yang telah dilakukan kepada kami. Pemerintah berusaha mempertahankan kursi kekuasaan sedangkan para kelompok oposisi berusaha merampas kursi kekuasaan itu. Kedua belah pihak sedang menghancurkan anak-keturunan mereka sendiri. Semoga Allah Ta’ala membalas tindakan orang-orang Zalim dan semoga Dia menyelamatkan masyarakat disana dari cengkeraman orang-orang Zalim. Dan semoga Allah Ta’ala memberi mereka para penguasa yang bijak dan adil.

Di Pakistan juga kezaliman telah sampai kepuncaknya teruma terhadap orang-orang Ahmady. Mereka sedang dianiaya secara phisik maupun mental. Pakistani awam juga sedang mengalami tindak kezaliman, dan nampaknya situasi seperti itu akan terus berlanjut lebih keras lagi. Kelompok extremis adalah ciptaan Pemerintah disana. Maka sulit sekali untuk mengontrol mereka. Hanya do’a yang akan kita panjatkan semoga Allah Ta’ala menghapuskan semua kezaliman diseluruh negeri Pakistan. Begitu juga Negara-negara Muslim lainnya, seperti Egypt, Libya dan Negara lain-lainnya juga. Hampir di semua Negara orang Muslim keadaannya sangat kacau. Semoga Allah Ta’ala memberi akal kepada mereka. Siapapun yang berbuat zalim semoga Allah Ta’ala menjadikan mereka sebagai tanda peringatan bagi yang lain. Semoga Allah Ta’ala melindungi semua orang Ahmady dimanapun mereka berada. Amin !!!

Alih bahasa Hasan Basri