Tim Ahmadiyah.id bertanggung jawab penuh atas kesalahan atau miskomunikasi dalam sinopsis Khotbah Jumat ini.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

24 Februari 2017 di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

Keadaan dunia pada masa ini telah kita ketahui. Kita lihat kerusakan dan perselisihan yang lazim di tiap tempat di dunia. Kekuatan anti Islam melemparkan tanggungjawab kesalahan itu terhadap umat Islam sebagaimana telah pernah saya katakan berkali-kali. Tentu saja, memang benar, beberapa kelompok yang menyebut diri Muslim atas nama Islam melakukan kekejaman dan tindakan barbar di dunia Muslim dan non-Muslim. Kekejaman tersebut tidak ada hubungannya dengan Islam, baik hubungan dekat maupun jauh.

Namun hal ini juga benar bahwa ada rancangan dan situasi yang sengaja dibuat untuk menciptakan keadaan yang demikian diantara umat Muslim. Memang, golongan Muslim tertentu yang mementingkan diri sendiri (radikalis) dan bersikap munafik paling bertanggungjawab atas kesalahan yang menyebabkan kerusakan pada nama Islam karena mereka menjadi alat dari pihak-pihak kuat yang menggunakan mereka. Ringkasnya, keadaan terkini di dunia tengah genting. Disebabkan kelakuan buruk sebagian umat Islam, kekuatan anti Islam mendapat kesempatan memburuk-burukkan nama Islam. Umumnya orang di dunia juga menghitung kita, Muslim Ahmadi sebagai umat Muslim secara keseluruhan dan dengan demikian Ahmadiyah juga menjadi sasaran kritik.

Sementara itu, mereka yang akrab dengan kita mengenali kita hanya mempromosikan kedamaian dan kecintaan. Namun banyak orang yang membuat persepsi yang sama kepada kita seperti gambaran yang media massa lukiskan pada mereka mengenai Islam dan umat Muslim pada umumnya. Lebih lanjut, gerakan-gerakan dan partai-partai Nasionalis ekstrim [menjunjung tinggi kecintaan terhadap negara secara fanatik] di beberapa negara tidak mau mendengarkan alasan serta mendesak tindakan dan pemikiran yang negatif serta berperilaku berdasarkan hal itu. Jenis penentangan yang signifikan ini terjadi di Jerman Timur dan di Belanda yang sedang menghadapi pemilihan dalam waktu dekat. Demikian pula, partai-partai beraliran kanan di negara-negara Eropa lainnya pun menguat. Adapun keadaan yang tengah terjadi di Amerika Serikat juga telah jelas bagi semua orang.

Sebagai Ahmadi, kita harus menghadapi kesulitan dalam dua hal: sebagai orang Islam yang tinggal di negara-negara Barat, dan sebagai seorang Muslim Ahmadi di negara-negara Muslim yang mana kita tertindas karena menjadi Ahmadi. Hal tersebut penyebab satu-satunya ialah karena kita telah beriman kepada Munadi (sang penyeru) yang datang sesuai dengan janji Allah. Contohnya, di Pakistan kita diperlakukan aniaya di bawah hukum yang tidak adil yang memberikan izin gratis kepada para ulama Muslim untuk memusuhi kita dan pengadilan terpaksa memutuskan dengan zalim karena takut terhadap para ulama.

Namun sekarang di Aljazair keadaan yang serupa telah muncul. Karena pengadilan di sana ketakutan terhadap yang mereka sebut ulama; mereka memenjarakan para Ahmadi dengan tuduhan yang tak berdasar. Setidaknya, 16 orang Ahmadi yang tidak bersalah telah dipenjarakan di Aljazair hanya karena mereka bergabung dengan Jemaat. Jadi apa yang harus seorang Ahmadi dalam semua keadaan ini? Kita perlu memberikan penekanan untuk beribadah, Istighfar (mencari pengampunan dari Allah) dan sedekah (pengorbanan keuangan dan memberi sedekah).

Kita tidak punya pemerintahan duniawi. Kita tidak punya kekayaan harta duniawi yang melimpah. Kita tidak punya kekayaan minyak. Namun, terdapat hal yang bisa setiap Ahmadi lakukan yakni mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan beribadah, bersedekah dan beristighfar. Inilah yang dapat menarik kasih sayang Allah Ta’ala dan untuk datang kedalam perlindungan-Nya. Dalam khotbah-khotbah saya sebelumnya, telah saya uraikan pengarahan pandangan pada ibadah, terutama pada shalat. Sementara hari ini saya akan berfokus pada soal memberikan sedekah dan Istighfar serta akan saya jelaskan bahwa itu ialah sarana untuk meraih kedekatan Ilahi.

Tidak diragukan lagi bahwa terdapat jenis-jenis kelemahan pada diri manusia. Pada suatu ketika seseorang tidak menunaikan hak ibadah karena kesibukan duniawinya. Namun, ketika mereka menghadapi kesulitan pribadi, mulailah ia bersedekah sedikit sementara jika tidak dalam kesulitan, ia tidak bersedekah. Demikian pula, mereka tidak menunaikan hak istighfar sebagaimana mestinya. Jika kita memeriksa diri kita sendiri pasti akan tampak jelas sekali banyak dari kita yang tidak menunaikan kewajiban-kewajiban. Jika Anda sekalian ingin meraih karunia-karunia Allah dan menarik rahmat-Nya serta membuat frustasi (gagal) usaha-usaha para musuh dan penentang maka mau tak mau harus memperhatikan setiap keadaan yang mengarah pada perkara-perkara yang membuat kita dapat menarik ridha Allah dan ampunan-Nya.

Tatkala Allah Ta’ala berfirman, “Aku menerima pertobatan, permohonan ampun dan sedekah-sedekah dari para hamba-Ku. Maka dari itu, Fokuskanlah perhatian kalian pada pertobatan dan istighfar supaya Aku mengangkat kesulitan-kesulitan kalian. Aku jauhkan kecemasan-kecemasan kalian. Aku buat kalian semakin maju dalam mendekatkan kalian pada-Ku. Aku mengampuni kesalahan-kesalahan masa lalu kalian. Aku memberi taufik pada kalian untuk menjadi hamba-hamba sejati-Ku. Aku mengasihani kalian. Sebagaimana firman-Ku: أَلَمْ يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ هُوَ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهِ وَيَأْخُذُ الصَّدَقَاتِ وَأَنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ  ‘Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima taubat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang?’” (Surah At-Taubah, 9:104)

Pada suatu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda menjelaskan pentingnya sedekah dan doa: “Sedekah diambil dari kata shidq (benar). Ketika seseorang memberikan sedekah di jalan Allah Ta’ala maka dari tindakannya tampak jelas ia seorang yang benar dalam pandangan Allah. Hal kedua ialah doa. Dengan doa, terciptalah api gejolak, keluwesan dan kelembutan dalam hati. Doa menuntut pengorbanan dan jika hal-hal ini terjadi di dalam hati seseorang maka itu menjadi iksiir (eliksir, ramuan obat ajaib atau ampuh).[1]

Maka dari itu, istighfar juga adalah jenis doa dan ketika seseorang berdoa [beristighfar] sembari mempersembahkan dosa-dosanya dan pokok-pokok kelemahannya maka di dalam hati pendoa itu akan tercipta kelembutan dan semangat. Semacam kepedihan memang harus ditimbulkan di dalam hatinya saat itu. Jika tidak demikian, maka hanya mengucapkan ‘Astaghfirullah’, ‘Astaghfirullah’ secara lisan saja dan posisi fokusnya ke arah selain Allah maka tidak akan mencapai sasaran yang dituju. Demikianlah, sesungguhnya Allah Ta’ala menerima doa-doa dan sedekah-sedekah yang ditunaikan oleh seseorang dalam keadaan tertekan demi menarik rahmat Allah Ta’ala.

Melalui Nabi Muhammad saw, Allah Ta’ala telah memberikan kabar suka mengenai pengabulan doa dan sedekah-sedekah. Allah Ta’ala menambahkan bahasan mengenai pengabulan doa dan sedekah-sedekah sebagai berikut, وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً “…katakanlah kepada para hamba-Ku bahwa jika ia mendekat kepadaKu sejengkal maka Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepadaKu sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepadaKu dengan berjalan cepat, maka Aku datang dengan berlari.”[2]

Selanjutnya, Nabi Muhammad saw juga bersabda, إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا “Sesungguhnya Rabb-mu (Allâh) Maha Pemalu. Maha Dermawan. Maha Mulia, Dia malu terhadap hamba-Nya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepada-Nya kemudian Dia menolaknya dengan hampa .”[3]

Namun, bukan suatu keharusan bagi Dia untuk senantiasa memperlihatkan natijah (hasil) doa sesuai yang diinginkan oleh pendoa dan mengabulkan dengan segera. Terkadang hasil-hasil doa dan sedekah terlihat sesuai hikmah Allah Ta’ala setelah beberapa waktu dan dalam bentuk berbeda dengan apa yang diinginkan oleh hamba yang berdoa. Sementara terkadang Dia menampakkan hasil doa dengan segera dan sesuai dengan permintaan hamba-Nya.

Dalam setiap kasus seseorang harus mengimani dengan kepercayaan sempurna terhadap apa yang telah Allah firmankan bahwa Dia pasti mengabulkan doa-doa kita, menerima Istighfar kita dan sedekah kita. Maknanya, ketika seorang manusia memohon pengampunan atas dosa-dosanya dan mengimani secara kuat dan mendalam serta jujur lalu berusaha dengan sungguh-sungguh untuk menjauhi dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan di masa mendatang, Allah akan mengabulkan permohonan dari orang tersebut dan menyelamatkannya dari kesulitan-kesulitannya semuanya.

Kita harus selalu ingat bahwa Allah mengetahui keadaan hati kita. Tindakan yang dilakukan untuk riya (pamer) tidak akan Dia terima. Seseorang yang melakukan perbuatan yang dilakukan secara tulus demi meraih ridha Allah tidak akan Dia tinggalkan tanpa hasil dan ganjaran sebagaimana disabdakan oleh Nabi Muhammad saw.

Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Baik bagi para hamba-Nya hingga sampai ke tingkat yang disabdakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa mereka yang tidak punya harta cukup untuk membayar sedekah maka amal perbuatan baik mereka dan penahanan diri mereka dari keburukan membuat mereka menerima pahala sedekah juga.[4]

Ibadah, istighfar dan perbuatan baik mereka yang bermanfaat bagi orang lain dalam corak dua segi yaitu diterima oleh Allah Ta’ala sebagai ibadah dan istighfar dan demikian pula amal perbuatan baik mereka mendapatkan ganjaran sedekah juga. Sebagaimana usaha seorang kaya untuk mendapatkan ganjaran dengan bersedekah, demikian pula orang miskin berusaha mendapatkan ganjaran serupa karena kebaikan niatnya [untuk bersedekah] dengan syarat ia mengamalkan perintah-perintah lainnya.

Dengan demikian, kita harus sangat bersyukur kepada Allah yang Maha Menyayangi hingga ke tingkat ini! Tuhan itu Yang bukan hanya sudah mengajarkan kepada kita metode menjaga diri dari dosa-dosa, tetapi Dia juga berfirman bahwa Dia menerima upaya yang kita lakukan untuk menjauhi kita dari kekurangan dan dosa-dosa serta menyelamatkan kita dari musibah-musibah dan ujian di masa depan. Satu-satunya cara kita dapat mengeluarkan diri dari situasi-situasi sulit ialah dengan sujud di hadapan Allah yang Mahakuasa dengan ketulusan hati dalam ibadah-ibadah dan doa-doa kita kepada-Nya serta kita juga harus menaruh perhatian khusus terhadap Istighfar [mencari pengampunan] dan shadaqah [sedekah] baik dalam Nizham Jemaat maupun secara pribadi juga.

Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan banyak hal dan menjelaskan kedalaman tema sedekah dan istighfar dalam sejumlah kesempatan. Saya sampaikan sebagian daripadanya tentang penjelasan beliau mengenai hakekat istighfar: “Dosa adalah ibarat cacing (ulat atau sejenis serangga) yang berjalan di dalam darah manusia. Tidak ada obatnya kecuali dengan istighfar saja. Apa itu Istighfar?

Ketahuilah! Istighfar ialah permohonan seseorang kepada Allah agar Dia melindunginya dari dampak-dampak keburukan dosa (bagi yang telah melakukan dosa); sedangkan bagi yang belum berbuat dosa dan ada dalam jangkauan kekuatannya (yaitu kemungkinan melakukannya atau semua kekuatan yang ada dalam diri bisa sampai mengarah pada hal-hal dosa) harus menyeru kepada Allah agar tidak membuat dosa-dosa pada kesempatan membuat dosa itu ada; dan (istighfar ini) membakarnya dari dalam serta menghancurkannya berkeping-keping.” (Artinya, istighfar ialah permohonan pengampunan atas dosa-dosa yang telah lalu dan pemberian taufiq [kekuatan dan kesempatan] untuk dapat menjauhinya di masa yang akan datang supaya rahmat Allah teralirkan dan Dia memuliakan kita dengan rahmat-Nya dan karunia-Nya senantiasa.)

“Ini adalah masa-masa yang menakutkan. Maka dari itu, kalian bersegeralah sibuk dalam bertobat dan beristighfar. Periksalah dirimu sendiri. Pengikut setiap agama, kepercayaan dan penganut Kitab suci tertentu mengimani bahwa adzab dapat hilang dengan sedekah-sedekah dan derma-derma dengan syarat dibayarkan sebelum turunnya adzab. Namun, bila adzab telah turun maka tak dapat dibatalkan selamanya. Dari sekarang, sibuklah dalam istighfar dan bertobat sehingga kesialan tidak datang padamu dan Allah menjagamu.”[5]

Hingga sekarang kita menanggung kesulitan-kesulitan kecil dan kita melihatnya di depan mata kita. Arah yang dituju oleh dunia yang membuat orang-orang menikmati kebebasan secara mutlak dan yang dari itu timbul perbuatan-perbuatan yang memancing kemurkaan Allah, sehingga mengarahkan pada kehancuran yang mereka buat sendiri. Sebagaimana keadaan dunia saat ini, bagaimana kemurkaan Allah Ta’ala sedang menampakkan wajahnya. Dalam keadaan demikian merupakan tugas murid-murid Hadhrat Masih Mau’ud as untuk berdoa bagi penduduk dunia, semoga orang-orang ini diberikan akal oleh Allah Ta’ala, fokus pada tobat dan istighfar supaya menyelamatkan mereka dari akhir hidup yang buruk.

Lebih lanjut menguraikan subyek Istighfar, Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan, “Ketahuilah! Dalam Al-Quranul Karim, Allah telah menyebut dua nama-Nya, yaitu Al-Hayyu [Maha Hidup] dan Al-Qayyum [Penegak dan menyokong semua]. Sifat Al-Hayyu maksudnya ialah Dia Maha Hidup Dengan Sendiri-Nya dan menganugerahi kehidupan bagi yang lain. Pengertian Al-Qayyum ialah Dia Tegak dengan Sendirinya dan Penyebab Asli tegaknya yang lain. Keberlangsungan eksistensi segala sesuatu secara lahiriah dan batiniah dan kehidupan mereka ialah berkat kedua sifat-Nya ini. Sifat Al-Hayyu menuntut kita menyembah Allah saja dan manifestasi penyembahan itu tercantum dalam Surah Al-Fatihah ‘iyyaaKa na’budu’ (kami menyembah Engkau saja). Sedangkan sifat Al-Qayyum menuntut bahwa kita harus mencari bantuan-Nya. Telah jelas pengertian ini dari kalimat ‘iyyaaKa nasta’iin’.

Sifat “Al-Hayyu” menginginkan supaya kita beribadah kepada-Nya karena Dia adalah Pencipta segala sesuatu dan setelah penciptaan tersebut, Dia tidak meninggalkannya sama sekali. Permisalannya sebagaimana ketika pembangun telah selesai membangun sebuah bangunan, tidak masalah bagi bangunan itu jika pembangunnya pun mati.

Namun, manusia selalu memerlukan Allah dalam tiap keadaan. Maka dari itu, kita berkewajiban untuk terus meminta kekuatan dari Allah Ta’ala. Inilah istighfar yang sesungguhnya. (Jika kita masih meminta kekuatan kepada Allah untuk melindungi diri dari dosa-dosa dan kita rajin meminta kekuatan juga kepada-Nya untuk beribadah kepada-Nya maka inilah dia istighfar.) Inilah hakekat istighfar. Kemudian pokok masalahnya diperluas bagi mereka yang telah berdosa meminta perlindungan dari Allah supaya terselamatkan dari dampak-dampak buruk dosa. Hal pokoknya ialah permohonan seseorang agar selamat dari keburukan-keburukan yang bisa terjadi dari kelemahan manusiawi. Mereka yang tidak menghargai istighfar padahal dia manusia maka ia adalah seorang mulhid (Ateis) yang tanpa adab.”[6]

Hadhrat Masih Mau’ud as menguraikan mengenai pencapaian kedekatan kepada Allah, pentingnya Istighfar dan bertobat bahwa manusia telah diciptakan untuk tugas yang sangat mulia. Beliau as menjelaskan bahwa pada diri seseorang harus tercipta perubahan suci. Dalam tugas agung manusia agar terjadi perubahan suci dalam dirinya, berhubungan damai dengan Allah dan tidak ada kemurkaan di dalamnya. Apakah tujuan seseorang datang ke dunia? Tujuan ini ialah sebagaimana yang telah kita ketahui dan telah dijelaskan oleh Allah Ta’ala sendiri dan itu adalah untuk mencapai kedekatan dengan Allah melalui ibadah kepada-Nya.

Beliau bersabda, “Manusia telah diciptakan untuk tujuan yang sangat mulia. Namun, ketika telah datang waktu yang ditentukan dan manusia tidak memenuhi tujuan ini maka Allah akan mengakhirinya. Ambillah contoh seorang pelayan. Saat ia tidak menyelesaikan pekerjaannya dengan semestinya, pasti majikannya akan memecatnya. Bagaimana mungkin Allah akan tetap menjaga mereka yang tidak menunaikan kewajibannya?

Tn. Mirza kami (ayahanda Hadhrat Masih Mau’ud as yang telah Almarhum) sebagai tabib telah melakukan pengobatan terhadap orang-orang selama 50 tahun. Beliau biasa berkata bahwa beliau tidak menemukan suatu resep yang tepat dan benar. Betapapun lamanya penelitian dan pengobatan, benar bahwa tanpa perintah dan karunia Allah Yang Maha Kuasa, maka setiap partikel yang kita telan dan cerna tidak akan memberikan manfaat.

Kita harus sangat terlibat dalam mencari ampunan dari Tuhan sehingga Dia berkenan untuk menganugerahi rahmat-Nya. Ketika rahmat Allah datang, maka doa-doa pun akan diterima. Allah Ta’ala berfirman bahwa Dia akan menerima doa-doa dan Dia juga berfirman bahwa Ketetapan-Nya harus diterima. Inilah mengapa kecuali jika perintah Allah Ta’ala akan datang, saya tidak berharap banyak atas diterimanya doa. Manusia sangatlah lemah dan rapuh. Kita harus selalu mendekatkan diri pada karunia Allah Ta’ala[7]

Hadhrat Masih Mau’ud as juga menyatakan bahwa doa adalah sarana untuk memperoleh keselamatan. Kaum nabi Yunus selamat dari hukuman Tuhan yang akan datang sebagai hasil dari doa permohonan yang merendah-rendah dan tangisan. Saya berpandangan bahwa kemurkaan itu artinya teguran (penampakkan kemarahan dan teguran). Hut artinya ialah ikan. Sedangkan Nun berarti impulsif dan juga ikan. Keadaan Nabi Yunus as saat itu dalam kemarahan.

Hal yang sebenarnya terbetik pemikiran dalam diri beliau disebabkan adzab yang tidak turun atas kaumnya yang juga mengeluhkan bahwa doa dan nubuatan Nabi Yunus as itu sia-sia. Beliau berpikiran juga bahwa perkataan beliau tidak terjadi. Inilah keadaan kemarahan. Dalam hal itu ada sebuah pelajaran penting bahwa Allah dapat merubah taqdir-Nya. Sikap merendahkan diri, memohon-mohon dalam berdoa dan sedekah-sedekah dapat membatalkan hukuman atas dosa-dosa telah jelas terbukti. Dari hal ini tersedia prinsip dikeluarkannya sedekah-sedekah. Ini adalah jalan-jalan ridha Ilahi.

Makna hati dalam ilmu menjelaskan arti mimpi ialah harta. Maka, mengeluarkan uang untuk sedekah itu seperti mengorbankan jiwa. Betapa seseorang menegaskan kebenaran dan keteguhannya saat memberi sedekah! Faktanya, kata-kata saja tidak akan bermanfaat bagi seseorang sedikit pun selama tidak dia buktikan dengan amal perbuatan. Sedekah dinamai shadaqah karena ia menjadi tanda bagi orang benar. Dalam kitab ‘Ad-Durrul Mantsur saat membahas riwayat Nabi Yunus as tercantum sabda Hadhrat Yunus, ‘Sudah aku ketahui sebelumnya bahwa jika seseorang datang kepadamu maka kamu akan dirahmati.’ Rahmat Allah Ta’ala pun turun.“[8]

Hadhrat Masih Mau’ud as berbicara di sebuah majlis dan rincian itu diterbitkan di Suratkabar Al-Badr bahwa beberapa orang datang dari luar Qadian dan setelah shalat Jumat duduk-duduk bersama beliau as. Suratkabar tersebut menuliskan, “Setelah Shalat Jumat penduduk desa sekitar berbaiat lalu Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai tema menegakkan shalat dan puasa serta menjauhi keaniayaan dan lain sebagainya. Dan beliau as menganjurkan untuk menasehati para Ahmadi baik perempuan, laki-laki, remaja putri dan putra agar berbuat kebaikan dan kesalehan di rumah-rumah. Sebagaimana pohon dan batang-batangnya tidak diairi dengan baik itu tidak berbuah, demikian pula bila hati tidak diairi dengan air kebaikan, maka itu tidak bermanfaat bagi manusia sedikit pun.”

(Beliau as bersabda bahwa suatu keharusan untuk menceritakan kebaikan-kebaikan secara kontinyu di dalam rumah masing-masing supaya tercipta ikatan kuat pada doa, istighfar dan pengutamaan pada perbuatan baik lainnya. Hal-hal itu air yang menyirami pohon kebaikan dan kesalehan serta menguatkan iman.) Penulis riwayat ini menjelaskan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud as berpesan agar menjauhi duduk-duduk di pertemuan orang-orang yang menertawakan dan mengejek orang lain.

Selanjutnya, beliau as menyebutkan wasiat para Nabi bahwa bala bencana dapat ditolak dengan sedekah dan doa. Sabda beliau, “Jika Anda sekalian tidak mempunyai uang, Anda dapat memenuhi ember orang lain dengan air. (menimba air dari sumur lalu memenuhi ember seseorang dengan air. Hal ini juga termasuk sedekah.) Membantu orang lain dengan uang dan kekuatan jasmani juga bentuk sedekah.”[9]

Pada satu segi berpegang teguh pada ibadah itu suatu keharusan demi meraih karunia Allah Ta’ala; demikian pula pada segi lainnya merupakan suatu keharusan untuk menolong orang lain. Bukannya menghabiskan waktu dalam obrolan sia-sia dan pembicaraan duniawi suatu keharusan pula untuk menganjurkan kebaikan dalam obrolan di rumah-rumah. Begitu pula menghindari pertemuan-pertemuan yang saling mengolok dan mengejek. Sebagaimana telah disabdakan oleh Nabi Muhammad saw bahwa itu semua merupakan kebaikan dan terhitung sedekah. Menjulurkan tangan menolong orang lain juga sedekah. Menghilangkan kesulitan orang lain juga sedekah. Maka dari itu, kita harus memperhatikan hal ini.

Hadhrat Masih Mau’ud as menyatakan, “Merupakan kesepakatan semua agama bahwa pemberian sedekah dan pertobatan dapat menghapus bala bencana. Jika bala bencana itu sudah dititahkan oleh Tuhan beberapa waktu sebelumnya maka itu adalah Nubuatan wa’iid (ancaman). Nubuatan jenis ancaman ini pun bisa terhapus dengan sedekah dan tobat serta kembali kepada Allah Ta’ala. Seratus dua puluh empat ribu (124.000) Nabi semuanya setuju bahwa bala bencana bisa dihapus dengan sedekah-sedekah. Orang-orang Hindu juga bersedekah kala mendapat musibah.” [10]

Jika bala bencana tidak terhapus dengan sedekah-sedekah maka semua sedekah pasti sia-sia saja. Ketika Allah berfirman bahwa Dia menerima sedekah-sedekah maka Dia Maha Kuasa mengabulkannya bahkan hingga setelah memberi peringatan melalui para Nabi-Nya dan utusan-Nya. Dia hapuskan nubuatan ancaman juga sebagaimana terjadi pada kaum Nabi Yunus yang selamat disebabkan doa, sedekah, kerendahan hati dan jeritan permohonan mereka sehingga nubuatan kehancuran mereka dihapus. Jika merupakan hal yang mungkin bahwa nubuatan para Nabi terhapus dengan sedekah maka mengapa tidak hilang jua kesulian – yang terjadi sebagai dampak perbuatan manusia dan dampak kelupaannya terhadap Allah – dengan karunia kembali kepada Allah, istighfar, pertobatan dan sedekah akan hilang sepenuhnya dengan syarat merendah-rendahkan diri, permohonan, doa dan sedekahnya sesuai hukum Allah Ta’ala.

Nabi saw suatu kali bersabda, إِنَّ الصَّدَقَةَ لَتُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ وَتَدْفَعُ عَنْ مِيتَةِ السُّوء “Memberi sedekah dapat mendinginkan murka Tuhan dan mencegah kematian buruk.”[11] Pada kesempatan lain Nabi saw bersabda, اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ وَالْقَلِيلِ مِنْ الصَّدَقَة “Selamatkan diri dari api neraka dengan memberi sedekah, bahkan jika itu adalah melalui memberikan sepotong buah kurma dan sedikit sedekah.”[12]

Kita juga telah mendengar bahwa Hadhrat Rasulullah saw bersabda, “Mengamalkan perbuatan-perbuatan baik dan menahan diri untuk tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk. Ini akan menjadi sedekah bagi diri seseorang yang melakukannya.”[13]

Ringkasnya, kita harus mengingat di benak kita hal ini. Namun seiring dengan itu hendaklah kita ingat apa-apa yang sudah dijelaskan bahwa menaruh perhatian pada istighfar dan doa-doa juga adalah hal yang diharuskan.

Istighfar yang dilakukan dari hati yang mendalam melindungi seseorang dari kemaksiatan dan menarik rahmat Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya.

Di satu kesempatan, Hadhrat Rasulullah saw bersabda, مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَمَا سُئِلَ اللَّهُ شَيْئًا يَعْنِي أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يُسْأَلَ الْعَافِيَةَ “Seseorang yang untuknya pintu doa telah dibukakan, pintu rahmat juga terbuka untuknya. Apapun yang kalian minta dari Allah, yang paling disukai-Nya ialah meminta perlindungan dari-Nya. ”[14]

Kemudian, Hadhrat Rasulullah saw juga bersabda, إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللَّهِ بِالدُّعَاءِ “Doa yang dipanjatkan di saat menghadapi turun ibtila (ujian), apakah telah terjadi atau yang belum akan datang itu sangat bermanfaat. Ini merupakan kewajiban dari setiap hamba Allah Ta’ala untuk senantiasa memanjatkan doa.”[15]

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Ingatlah! Dosa ghaflat (dalam kelalaian) itu lebih hina dibandingkan dosa yang dilengkapi dengan penyesalan. Dosa jenis tersebut lebih beracun dan membunuh. Orang yang benar-benar bertobat seolah-olah tidak melakukan dosa apapun. Sementara seseorang yang tidak menyadari apa-apa yang tengah ia lakukan maka ia berada dalam bahaya besar. Suatu keharusan yang sangat bagi kalian untuk meninggalkan kelalaian (kehidupan tanpa kesadaran), bertobat dari dosa-dosa dan bertakwa secara terus-menerus. Seseorang yang meluruskan keadaannya dengan tobat maka ia akan selamat dibandingkan orang-orang lain. Secara ekslusif doa itu bermanfaat bagi orang yang memperbaiki dirinya dan menjalin hubungan yang benar dengan Allah. Jika Hadhrat Rasulullah saw memberi syafaat kepada seseorang tapi orang yang disyafaati tidak memberbaiki diri dan keluar dari kehidupan penuh kelalaian maka syafaat itu takkan menolong.”[16]

Semoga Allah Ta’ala memberi kita taufik untuk menjadi orang-orang yang memahami hakikat doa, bersujud di hadapan-Nya dengan penuh ketulusan, menaruh perhatian pada istighfar dan senantiasa memohon pengampunan atas dosa-dosa yang lalu, berjanji menjauhi keburukan-keburukan di masa mendatang lalu berusaha keras memenuhi janji ini. Semoga kita senantiasa dapat bersedekah yang dikabulkan oleh Allah Ta’ala untuk menolak bala bencana. Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari segala macam rencana jahat musuh dan melemparkan kembali itu kepada mereka. Semoga Dia menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mengamalkan khasy-yatuLlah dalam hati kita dan menjadikan kita pewaris doa-doa Hadhrat Rasulullah saw dan Hadhrat Masih Mau’ud as serta meraih aliran berkat-berkatnya. آمين Aamiin

Setelah shalat Jumat saya akan memimpin shalat jenazah gaib untuk Ibu Sa’da Bartawi, yang merupakan istri Tn. Murree Bartawi. Beliau menderita luka bakar parah akibat kebocoran gas. Ketika dibawa ke rumah sakit kesehatannya membaik secara signifikan. Namun, empat hari kemudian dia menderita serangan jantung dan akibatnya ia meninggal dunia pada 10 Desember 2017. Allah kita milik dan kepadanya kami akan kembali.

Almarhumah baiat masuk Ahmadiyah setelah baiat suaminya pada 2004 lalu. Namun, dalam hal kesetiaan dan ketulusan terhadap Jemaat, beliau melebihi suaminya dan anak-anaknya.

Suaminya, Tn. Muree mengatakan, “Almarhumah hamil segera setelah mengimani Jemaat. Suatu hari ia jatuh dari tangga dan ada risiko mungkin mengalami keguguran. Saat malam dalam mimpi dia mendengar suatu suara dari langit yang menyatakan: ‘Jangan takut! Allah akan melindungi janin ini.’ Setelah pengalaman ini kami memutuskan jika dikaruniai seorang anak laki-laki akan kami namai dia Ahmad. Demikian pula Dia melihat satu lagi mimpi di mana suara dari langit menyeru bahwa ‘Allah akan menjaga anak ini’. Suatu hari dia sedang berjalan di sisi jalan dengan anaknya. Anak itu melepaskan tangan ibu-nya dan mulai untuk menyeberang jalan tol. Dia memegang kepalanya dan menutup matanya. Dengan keheranan ketika membuka matanya, dia melihat anaknya dengan aman melintasi jalan Raya dan berdiri di sisi lain.”

Anak menantunya, Tn. She’eri Sahib, yang tinggal di Jerman menyatakan, “Almarhumah adalah seorang wanita sangat saleh dan sederhana yang tidak akan pernah bermusuhan dengan siapa pun. Suaminya ditahan aparat pada tahun 2009 dan sampai 2013. Beliau merawat anak-anaknya dengan cara yang terbaik sesuai kemampuannya. Beliau terdepan dalam amal perbuatan baik. Beliau seorang yang penyayang. Beliau bekerja untuk membesarkan anak-anaknya dan melunasi utang mereka. Rajin membayar Candah. Beliau dimakamkan di wilayah Hosh Arab, Damaskus (ibukota Suriah). Di sana, sebelum pemakaman beliau, pemakaman Ahmadi dan ghair Ahmadi dipisah.”

Semoga Allah yang Mahakuasa mengasihaninya dia dan mengaktifkan anak-anaknya untuk tetap tegas terikat dengan Khilafat.

[1] Malfuzhat, Vol. VII, hal. 87-88, edisi 1985, UK

[2] Shahih Muslim Kitab tentang dzikir, doa dan istighfar. في كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار، باب الحث على ذكر الله تعالى = … عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ حِينَ يَذْكُرُنِي؛ إِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ هُمْ خَيْرٌ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ مِنِّي شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِنْ أَتَانِي يَمْشِي أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً .. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman : “Aku menurut sangkaan hambaKu kepadaKu, dan Aku bersamanya apabila ia ingat kepadaKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam dirinya maka Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika ia ingat kepadaKu dalam kelompok orang-orang yang lebih baik dari kelompok mereka…

Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Tauhid, bab yahdzarukumuLlah, no. 7405

[3] Abu Dâwud no. 1488, at-Tirmidzi no. 3556. Riwayat dari Salmân al-Fârisi ra.

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Zakat, bab sedekah, no. 1445

[5] Malfuzhat, Vol. V, hal. 299, edisi 1985, UK

[6] Malfuzhat, Vol. III, hal. 217, edisi 1985, UK

[7] Malfuzhat, Vol. III, hal. 317-319, edisi 1985, UK

[8] Malfuzhat, Vol. I, hal. 237-238, edisi 1985, UK

[9] Malfuzhat jilid 5 halaman 81-82 edisi 1985 terbitan UK

[10] Malfuzhat jilid 9 halaman 227 edisi 1985 terbitan UK

[11] Sunan At-Tirmidzi, Kitab tentang Zakat, Bab tentang keutamaan sedekah, no. 664

[12] Shahih Bukhari, Kitab tentang Zakat, Bab tentang ittaqun naar, no. 1417

[13] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Zakat, bab tiap kebaikan adalah sedekah, 6022; Kitab tentang Adab, bab , no. 6022; يَعْمَلُ بِيَدِهِ ، فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ ،يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ ، فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ ، وَلْيُمْسِكْ عَنِ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ ” ‘[Dia harus bekerja dengan tangannya sendiri, memberi manfaat untuk dirinya sendiri lalu bersedekah, jika tidak bisa ia membantu orang tertindas yang memerlukan pertolongan; jika tidak bisa, ia mengamalkan perbuatan baik; jika tidak bisa, ia menahan diri dari keburukan, dan itu menjadi sedekah bagi dirinya sendiri]

[14] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang doa-doa, bab tentang doa-doa Nabi saw

[15] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang doa-doa; Mustadrak, al-Baihaqi

[16] Malfuzhat jilid 5 halaman 350 edisi 1985 terbitan UK