Khotbah Jum’at

Sayyidina Amirul Mu’minin 

Hadhrat  Mirza Masroor Ahmad

Hadhrat Khalifatul Masih V Ayyadahulloohu ta’ala binashrihil ‘aziiz [1]

Tanggal 13 Sulh 1391 HS/Januari 2012

Di Mesjid Baitul Futuh, London.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فَأَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

               

          أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللهَ إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ * وَأَن اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ وَإِنْ تَوَلَّوا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

 

Ayat-ayat yang saya bacakan tersebut dari Surah Hud ayat 3 dan 4. Terjemahannya sebagai berikut, ‘al laa ta’buduu illallaha innanii lakum minhu nadziiruw wa basyir. Wa anistaghfiruu rabbakum tsumma tuubuu ilaihi yumatti’kum mataa’an hasanan ilaa ajalim musammaw wa yu-ti kulla dzii fadhlin fadhlahu wa in tawallau fa-inni akhaafu ‘alaikum adzaaba yaumin kabiir’ – “Janganlah kamu menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku bagi kamu adalah pemberi peringatan dan pembawa khabar suka dari-Nya. Dan supaya kamu meminta ampunan kepada Tuhanmu, kemudian kembalilah kamu kepada-Nya. Dia akan menganugerahkan barang-barang perbekalan yang baik kepada kamu sampai saat yang ditentukan dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berhak menerima karunia. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut atas kamu terhadap azab hari yang sangat dahsyat.”

Tujuan Hidup Manusia, Ibadah kepada Allah

Pada masa sekarang ini pelbagai macam corak fasaad (kerusuhan dan kekacauan) sedang merebak di berbagai tempat di atas dunia ini. Dan itulah akibat dari manusia telah melupakan maksud dan tujuan penciptaan mereka ke dunia. Yang dalam arti lain perhatian manusia terhadap ibadah kepada Allah Ta’ala, usaha untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala telah mereka lupakan. Qurb atau kedekatan dengan Allah Ta’ala tidak akan dapat diraih tanpa menunaikan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dan sesungguhnya apakah ibadah itu? Ibadah itu tidak cukup hanya dengan menunaikan shalat lima waktu. Hanya mengerjakan shalat saja tidak cukup. Sungguh, shalat juga harus ditunaikan dengan sangat tertib. Hanya melakukan shalat dengan tertib secara lahiriyah pun tidak dapat dikatakan sudah menunaikan shalat melainkan di dalam menyelesaikan setiap urusan juga harus dikaitkan dengan zat Allah Ta’ala. Manusia juga harus berusaha menyerap sifat-sifat Allah Ta’ala ke dalam dirinya. Manusia harus mengikuti uswah hasanah (teladan terbaik) Hadhrat Rasulullah saw juga dalam setiap urusannya. Sambil mengingat sifat-sifat Allah Ta’ala manusia harus berusaha juga menerapkan sifat-sifat itu ke dalam dirinya. Manusia juga harus berusaha dengan sungguh-sungguh memenuhi hak-hak kewajiban terhadap Allah Ta’ala dan terhadap sesama makhluk-makhluk-Nya. Maka jika keadaan sudah lengkap sampai kepada semua tahap seperti itu barulah orang yang melakukan ibadah itu dapat menjadi manusia atau mukmin sejati. Dalam hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Suatu hal yang sangat menakjubkan bahwa jawaban telah disediakan bagi pertanyaan-pertanyaan tertentu, dalam kata lain betapa banyak penjelasan secara rinci telah dikemukakan oleh Alqur’an mengenai intisari dari semua perkara itu. (Tidak terhitung banyaknya tafsir-tafsir yang dijelaskan, hukum-hukum di dalam Alqur’an telah dikemukakan secara rinci, lalu apa intisari dari semua hukum itu? Bersabda,)  ‘ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا اللهَ’al laa ta’buduu illallah’ – “Janganlah kamu menyembah selain Allah.” (Surah Hud, 11 : 4) Pada pokoknya, maksud dan tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah. (inilah pokok mendasar maksud penciptaan) Sebagaimana di tempat lain Allah Ta’ala berfirman dengan jelas, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإِنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ ‘wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya’buduun’ – “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Surah Adz-Dzaariyaat, 51 : 57) ”Pada dasarnya ibadah yang sesungguhnya adalah seorang insan menjauhkan setiap corak kekerasan [hati] dan kebengkokan lalu menjadikan landasan tanah hati menjadi bersih dan cerah seperti seorang petani membersihkan ladangnya.“ (sebelum ditanami sesuatu) “Orang-orang Arab berkata, مَوْرٌ مُعبَّدٌ maurun mu’abbadun seperti surma (celak) dihaluskan sehalus-halusnya agar dapat disisipkan ke dalam mata. Demikianlah juga apabila dataran kalbu (tanah hati) tidak mengandung kerikil atau pasir-karang dan dataran kalbu itu menjadi landai bersih dan cemerlang seakan-akan hanya terdapat ruh saja bersemayam di dalamnya, maka itulah yang disebut ibadah. Dalam kata lain, jika keadaan kalbu (hati) sudah benar dan bersih cemerlang seperti cermin maka akan nampak bayangan wujud di dalamnya. Dan jika keadaan kalbu itu diumpamakan dengan sebidang tanah maka artinya ia siap menumbuhkan pokok-pokok [tanaman] yang akan mendatangkan berbagai macam bentuk dan jenis buah-buahan. Jadi, manusia yang telah diciptakan untuk beribadah. Jika ia membersihkan kalbunya, mencegahnya dari kebengkokan dan dari kekerasan, ia tidak membiarkannya mengandung pasir dan kerikil di dalamnya maka pastilah Tuhan akan nampak di dalam kalbunya itu.” [2]

Ibadah dan Kebersihan Tanah Hati (Ladang Kalbu)

Jadi itulah ibadah yaitu setiap perkara atau amal dilakukan semata-mata karena Allah Ta’ala. Begitulah yang harus kita lakukan, sebagaimana seorang petani membersihkan ladangnya sebelum menanaminya sesuatu. Demikian jugalah kita harus membersihkan kalbu kita menjadi cemerlang laksana sebuah cermin yang dapat menampakkan bayangan kita di dalamnya. Jika keadaannya sudah demikian maka sebagaimana tanah seorang petani yang sudah betul-betul dipersiapkan untuk bercocok-tanam akan mendatangkan bermacam-macam hasil yang baik-baik, demikianlah juga di dalam kalbu akan mendatangkan hasil dan buah-buahan yang baik pula.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

”Selama apa saja selain Allah baik berupa kerikil atau pasir belum disingkirkan dari dalam ‘zamin dil’ (ladang kalbu, tanah hati) dan belum membuatnya bersih, halus dan cemerlang seperti cermin, dan belum membuat sangat halus seperti celak (surmah) kalian jangan berhenti, kalian harus terus-menerus berusaha keras untuk membuat keadaan seperti itu.” [3]

Jadi untuk itu harus berusaha terus-menerus secara berkesinambungan. Seorang mukmin jangan duduk berpangku tangan, jangan dulu bersantai sebelum usaha untuk mencapai keadaan kalbunya seperti itu belum berhasil. Untuk menyelamatkan diri dari kekacauan pada masa sekarang ini dan untuk meraih karunia Allah Ta’ala adalah penting untuk menjalin hubungan erat dengan Allah Ta’ala dengan murni. Kadangkala manusia sekalipun secara pribadi tidak terlibat langsung dalam suatu kerusuhan atau suatu tindak kejahatan namun bisa saja terkena dampak kerusuhan atau tindak kejahatan itu melalui lingkungan masyarakat. Dia menjadi bagian dari mereka. Dalam bentuk apapun ia dapat terlibat di dalamnya. Dan disebabkan hal itu bukan hanya kewajiban yang hak tidak dapat dipenuhi bahkan tanpa disadari manusia dapat menjadi bagian dalam tindak kejahatan itu. Sebagai contoh yang jelas pada masa sekarang ini yang sedang terjadi kepada orang-orang Ahmadi di beberapa negara. Banyak orang yang sama-sekali tidak tahu mengenai Ahmadiyah, mereka juga disebabkan penentangan terhadap Ahmadiyah dan khususnya di Pakistan disebabkan undang-undang negara itu, di banyak tempat mereka menggunakan kata-kata yang tidak patut kepada Hadhrat Masih Mau’ud as. Di mana tercantum kata-kata tidak layak di situ mereka membubuhkan tanda-tangan mereka. Maka ibadah orang-orang demikian, tanpa disadari, bukan untuk meraih qurb Allah Ta’ala melainkan dilakukan untuk menghasilkan kedudukan lebih dekat dengan orang-orang duniawi. Secara lahiriah nampak mereka rajin menunaikan shalat akan tetapi tanpa disadari, sekalipun hati tidak mengakui, mereka bukan untuk meraih kebaikan yang diperintahkan Allah Ta’ala kepada mereka.

Tugas Para Nabi

Apabila pekerjaan agama dicampurbaurkan dengan pekerjaan duniawi, karena sudah mulai timbul kerusakan di dalam agama maka dalam keadaan demikian huquuqullah dan huquuqul ‘ibaad kedua-duanya tidak dihormati lagi bahkan diinjak-injak. Demikianlah yang selalu terjadi dalam sejarah agama-agama. Apabila masa seperti itu sudah tiba maka timbullah perubahan buruk yang merusak agama. Itulah sebab utama bagi silsilah turunnya utusan Tuhan terus berjalan didalam bangsa-bangsa di dunia. Setelah berlalunya satu zaman atau kurun apabila keadaan agama sudah berubah dari ajaran asalnya dan spiritnya atau ruhnya sudah tidak ada lagi maka akhirnya untuk memperingatkan bangsa-bangsa itu, untuk membawa mereka kembali kepada agama yang sejati, untuk membangkikan kembali semangat atau ruh ibadah, para Nabi melaksanakan tugas dan membimbing secara gemilang dengan petunjuk dan bimbingan yang diterima langsung dari Allah Ta’ala.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Uswatun Hasanah dan Nabi Pembawa Syariat Terakhir

Dan ketika Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat [Muhammad] Rasulullah saw; beliau saw mengajar orang-orang beriman tata-cara menunaikan ibadah yang hakiki kepada Allah Ta’ala; beliau adalah insan sempurna yang telah menyerap sifat-sifat Allah Ta’ala secara sempurna, sehingga Tuhan dengan firman-Nya mengumumkan, “Dialah uswah hasanah bagi kalian. Jika kalian mengikuti dan mencintainya dengan sungguh-sungguh tentu kalian akan sampai kepada-Ku.” Inilah dia Rasul yang bukan hanya shalat-shalatnya dan nawafil-nawafilnya saja yang merupakan ibadah melainkan setiap perkataan, setiap gerak amal perbuatannya, semuanya adalah ibadah. Maka, hasilkanlah kualitas ibadah seperti itu. Sekalipun sekarang agama ini sampai kiamat dengan syariat yang dibawa oleh Nabi tercinta ini telah sempurna (Islam dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw sempurna dan telah sempurna). Namun demikian Allah Ta’ala sendiri telah berfirman dan Hadhrat [Muhammad] Rasulullah saw pun telah mengumumkan bahwa sebagaimana kebiasaan ini senantiasa berjalan sejak bihari bahwa setelah berlalunya satu zaman manusia mulai meninggalkan ajaran agama yang sejati. Hal serupa telah terjadi di kalangan orang-orang Muslim juga yang sekarang sudah timbul banyak kerusuhan dan mereka telah menjauh dari agama (mereka menjauh dari Islam). Sekalipun beliau saw adalah akhiri nabi (Nabi terakhir), setelah beliau saw tidak bisa datang seorang Nabi pembawa syari’at. Kitab beliau saw (Alqur’an) adalah akhiri syar’i kitab (kitab syariat terakhir).

Kedudukan Asyiq Shadiq Rasulullah saw, seorang ghulam (pelayan) Ahmad (Nabi Muhammad) saw

Namun dalam keadaan demikian, beliau (Rasulullah saw) telah bersabda bahwa keadaan akan timbul apabila manusia semakin menjauh dari agama; maka apabila keadaan manusia dalam hal semakin jauh dari agama ini sudah mencapai puncaknya maka ‘asyiq shadiq’ seorang yang sangat setia dan pencinta sejati beliau saw di kalangan pengikut Hadhrat Rasulullah saw akan datang dari Allah Ta’ala untuk menegakkan kembali agama diatas dunia ini (yaitu Hadhrat Imam Mahdi, Masih Mau’ud as) dan beliau as akan menjelaskan hakikat ibadah kepada manusia. Dan disebabkan beliau as dalam segala hal sebagai hamba sejati Rasulullah saw maka apapun yang beliau lakukan atas nama Junjungan beliau Rasulullah saw [sebagai bentuk ghulaami atau penghambaan kepada Junjungan beliau as, Nabi Muhammad saw]. Akan tetapi sangat disesalkan sekali sebagian besar orang-orang Muslim tidak mau memahami perkara ini. Dan mereka menjauhi orang yang giat mengajak ke arah ibadah yang sejati ini, kemudian mereka mengambil cara sendiri menurut kepercayaan golongan masing-masing. Natijahnya selain dari pada kerusuhan yang selalu timbul dan sedikitpun tidak membawa faedah bagi kemaslahatan dunia, khususnya di kalangan dunia Muslim. Bukan hanya sampai di situ bahkan sebagian dari mereka menjadi penyebab rusaknya nama baik agama Islam. Hadhrat Rasulullah saw sejak 1400 tahun yang lalu adalah seorang Nadziir yakni pemberi peringatan kepada manusia sebagaimana Allah Ta’ala berfirman di dalam ayat pertama diatas: إِنَّنِي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ ‘innanii lakum minhu nadziirun (w) wa basyiir’ – “Sesungguhnya aku bagi kamu sekalian adalah seorang nadzir dan basyir dari-Nya.” Karena zaman beliau saw berlaku sampai Kiamat, maka kedudukan beliau sebagai Nadziir-pun sampai Kiamat. Dan sekarang juga beliau pemberi peringatan baik bagi umat sendiri maupun bagi umat agama lain. Nadziir bukan hanya berarti pemberi kabar takut bahkan banyak-banyak memberi kabar takut akan tetapi artinya juga pemberi ingat supaya kalian selalu waspada; agar kalian terhindar dari segala kerusakan; agar kalian terhindar dari segala keburukan. Beliau saw juga bersabda, “Aku adalah Nadziir. Dengan menjauh dari ajaran Islam hakiki kalian akan menanggung kerugian dunia akhirat, sekalipun kalian telah mengucap dua kalimah syahadat dan kalian beriman kepadaku. Akan tetapi jika kalian tidak bersedia mengamalkan ajaran agama dengan sebaik-baiknya maka kerugian-kerugian yang akan timbul tentu kalian juga akan menanggungnya.” Dengan kata lain [maksudnya]: “Jika kalian paham akan hakikat ini bahwa orang yang dijanjikan akan bangkit di dalam kaum akharin sesuai dengan ajaran Alqur’an, dia pun telah datang untuk mengajak manusia mendekat kepada Allah Ta’ala. Ia datang untuk mengajar tata-cara ibadah yang hakiki, maka ia adalah pembawa khabar suka dunia akhirat bagi kalian.”

Manusia Senantiasa dan Selamanya Memerlukan Muzakki an-Nafs (Penyuci Jiwa) seperti Nabi dan Rasul serta Silsilah Penerusnya 

Mengenai sarana-sarana untuk meraih qurb Allah Ta’ala, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“Sungguh benar, tanpa bantuan muzakki an-nafs (yang berjiwa suci) manusia tidak dapat mencapai tahap yang dimaksud itu. Oleh sebab itu untuk mengatur dan menyediakan sarana itu Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Rasulullah saw sebagai teladan yang sempurna dan untuk mengekalkan seterusnya beliau saw telah membentuk silsilah para pengganti beliau saw (yaitu Khilafat).” Selanjutnya beliau as bersabda, ”Sebagaimana perkara ini telah terbukti kebenarannya, jika seorang anak muda yang bukan dari keluarga petani akan menebang tanaman yang harus dijaga seperti memotong semak-belukar di waktu menyianginya (tentu tidak bisa atau tidak sempurna). Demikian juga pertanian rohani, tidak akan ada kesempurnaan jika tidak dipimpin oleh seorang insan sempurna yang telah menyelesaikan penanaman benihnya, pengairannya dan menyianginya. Dari gambaran itu dapat diketahui bahwa manusia memerlukan seorang mursyid atau guru yang sempurna. Tanpa bantuan seorang guru (pembimbing) yang sempurna nilai ibadah manusia seperti seorang anak yang dungu dan tidak tahu sesuatu, duduk di sebuah ladang kemudian menebangi tanaman yang dipelihara dan mengira ia sedang menyiangi tanaman (membersihkan tanaman tak berguna yang menjadi pengganggu tanaman yang dipelihara. Karena ketidaktahuannya ia malah menebangi tanaman yang dipelihara pemiliknya). Sekali-kali jangan mengira bahwa kalian akan dapat melakukan ibadah yang baik dengan sendirinya. Sekali-kali tidak! Selama Rasul tidak mengajarkan, jalan untuk inqitha ilallah dan tabattal taam (melakukan konsentrasi terhadap Allah Ta’ala secara sempurna meninggalkan atau tidak mempedulikan apa saja dan siapa saja yang menghalanginya) tidak akan diperoleh dengan sendirinya.” (Dan perhatian serta konsentrasi terhadap Allah Ta’ala tidak dapat diperoleh sepenuhnya. Manusia tidak dapat mengenal Allah Ta’ala sekalipun Dia ada di hadapannya.) “Maka dengan sendirinya timbul pertanyaan, Bagaimana cara memecahkan pekerjaan yang sulit ini.” [4]

Dan bagaimana Allah Ta’ala memberitahukan obatnya? Cara atau obatnya yaitu istighfar. Beristighfarlah. Dengan ikhlas lagi murni beristighfarlah! Sembari berusaha mengikuti Rasul Allah Ta’ala, mohonlah ampun dari semua dosa-dosa kalian dan dengan tekad bulat di masa yang akan datang akan senantiasa menjauhkan diri dari perbuatan dosa, barulah ia akan disebut istighfar hakiki. Akan tetapi harus dipahami dengan jelas, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa Allah Ta’ala mengutus pemimpin pengganti sejati (khalifah). Allah Ta’ala mula-mula mengutus Hadhrat Rasulullah saw setelah itu Dia melantik (memilih) pengganti-pengganti sejati (yaitu Khulafa Rasyidin) setelah beliau saw  dan kemudian pada zaman sekarang ini bahkan sampai hingga zaman yang akan datang Dia mengutus Hadhrat Masih Mau’ud as yang merupakan Khalifah sejati Hadhrat Rasulullah saw; yang mana ia juga disebut Khatamul Khulafa. Jadi, sesungguhnya Allah Ta’ala akan membimbing orang-orang yang beristighfar dengan sebenarnya dan orang-orang yang berusaha memperoleh standar dalam beribadah supaya mereka menjadi orang-orang yang betul-betul taat kepada pengganti  sejati yakni Khalifah, dan berjalan diatas perintah-perintahnya dan menerima utusan Allah Ta’ala serta mengikuti ajaran-ajarannya dengan patuh. Sebenarnya, sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda bahwa solusinya telah diberitahukan oleh Allah Ta’ala yaitu istighfar.

 Makna Istighfar dan Taubat Hakiki, Tidak Sekedar Ucapan

Di dalam ayat kedua yang telah saya tilawatkan di dalamnya diajarkan cara istighfar. Bagaimana beristighfar. Terjemahannya ialah “Beristighfarlah kepada Tuhanmu kemudian tunduklah sambil bertaubat Dia akan menganugerahkan barang-barang perbekalan yang baik kepada kamu sampai saat yang ditentukan dan Dia akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berhak menerima karunia. Dan jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut atas kamu terhadap azab hari yang sangat dahsyat.”

Jadi, seperti telah saya katakan bahwa Allah Ta’ala memberi bimbingan kepada orang yang beristighfar yang hakiki (dengan cara yang benar). Pada permulaan ayat tersebut Allah Ta’ala telah menjelaskan hakikatnya bahwa mohonlah ampunan dari Allah Ta’ala, mintalah pertolongan kepada-Nya dan banyak-banyaklah berdoa kepada-Nya agar hati kalian menjadi bersih dari karat-karat kotor lalu Dia menjadikan kalian hamba yang murni. Maka Allah Ta’ala menurunkan pertolongan sesuai dengan janji-Nya. Akan tetapi jika pada hari ini seseorang berusaha mencari jalan lain, besok dan lusa berusaha mencari jalan lain lagi dan ia tidak selalu beristighfar dengan tetap (teguh) maka di pandangan  Allah Ta’ala, itu bukan istighfar.

Jadi istighfar hakiki adalah memohon perlindungan (penyelamatan) kepada Allah Ta’ala dari perasaan dan pikiran-pikiran yang tidak disukai oleh Allah Ta’ala dan yang menjadi penghalang untuk sampai kepada Allah Ta’ala. Maka apabila standar itu sudah diperoleh atau sudah tercipta kemampuan untuk menekan semua perasaan buruk maka akan timbul keadaan تُوبُوا إِلَيْهِ “kembali kepada-Nya” dan untuk itu akan timbul kebiasaan secara dawam kemudian ia akan berusaha mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Jika keadaannya sudah mencapai peringkat demikian maka ia menjadi hamba yang sangat dekat dengan Allah Ta’ala.

Jadi, ingatlah selalu bahwa istighfar dan taubat yang hakiki tidak cukup mulut membaca, “أستغفر الله” “أستغفر الله” “Astaghfirullah…astaghfirullah!” berulang kali, melainkan perlu sekali disertai dengan mengadakan perubahan-perubahan keadaan dirinya. Perubahan-perubahan itulah yang dapat membawa manusia lebih dekat dengan Allah Ta’ala. Tatkala seorang manusia menciptakan perubahan-perubahan dalam keadaan dirinya maka untuk manusia itu sendiri [perubahan-perubahan] itu dapat membawa faedah di bidang duniawi dan ukhrawi. Manfaat dunia dan akhirat terdapat di dalamnya (perubahan tersebut). Dapat menjadikan manusia pewaris karunia Allah Ta’ala.

Berdasarkan ayat tersebut mengenai istighfar Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda,

“وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ  (Hud, 11 : 4) Ingatlah! Telah diberikan dua maçam perkara kepada umat ini. Pertama untuk menghasilkan kekuatan. Kedua, menggunakan kekuatan yang telah dihasilkan itu dan memperlihatkannya secara amal nyata.” (Satu perkara untuk menghasilkan kekuatan dan kemampuan, dan dengan kekuatan itu manusia terlindung dari keburukan-keburukan dan dosa. Perkara kedua, apabila kekuatan dan kemampuan sudah dihasilkan tentu ia akan diperlihatkan melalui  amal nyata. Sesudah itu setiap perkataan dan perbuatannya akan selalu sesuai dengan hukum-hukum Allah Ta’ala yang telah ditetapkan untuk meraih keridhaan-Nya.) Beliau as bersabda, “Untuk memperoleh kekuatan itu adalah istighfar, yang dalam istilah lain disebut juga isti’aanah atau istimdaad.” (Meminta pertolongan atau bantuan dari Allah Ta’ala. Jadi nama kedua istighfar ialah meminta pertolongan kepada Allah Ta’ala.) “Para Sufi mengatakan bahwa dengan latihan berolah raga atau berulangkali mengangkat besi halter (dumb-bell) badan dan otot-otot manusia bertambah kuat, demikian juga besi halter rohani atau latihan olah raga rohani adalah istighfar.” (Dengan terus-menerus membaca istighfar keadaan ruhani dan iman manusia akan semakin baik dan semakin kuat.) Bersabda, ”Dengan istighfar itu ruh manusia memperoleh kekuatan dan di dalam hati manusia timbul istiqamah. Barangsiapa yang ingin memperoleh kekuatan beristighfarlah.” (Barangsiapa yang ingin meningkatkan kekuatan ruhaninya ia harus membaca istighfar sebanyak-banyaknya.) “Istighfar berasal dari pada kata “غَفَرَ”  ghafara maknanya “غطّى” و”سَتر” menutup dan/atau menekan. Dengan istighfar manusia berusaha menutup atau menekan dorongan perasaan dan pikiran-pikiran yang menghalangi jalan menuju Allah Ta’ala.” (Bacalah istighfar terus-menerus maka kalian dapat menekan perasaan-perasaan yang menghalangi kalian untuk menaati perintah-perintah Allah Ta’ala dan yang menghalangi untuk berbuat kebaikan-kebaikan. Penjelasannya secara rinci terdapat dalam Kitab Suci Alqur’an dalam bentuk berbagai jenis hukum-hukum yang tidak terhitung banyaknya. Di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, jika satu macam saja perintah atau kebaikan diabaikan oleh kalian dan tidak menganggapnya penting artinya kalian tidak berusaha dengan sungguh-sungguh.) Beliau as bersabda lagi, “Pendeknya, istighfar tiada lain maknanya adalah menguasai atau mengatasi elemen-elemen beracun yang hendak menyerang manusia untuk membinasakannya.” (Apakah yang dimaksud dengan elemen-elemen beracun itu? Yaitu berbagai macam serangan setan, berbagai macam kehidupan dunia yang tak bermoral dan larangan-larangan Allah Ta’ala di dalam Alqur’anul Karim yang harus dicegah dan harus dihindarinya, namun tidak dicegah dan tidak dihindarinya. Semua itu adalah elemen-elemen beracun. Oleh sebab itu jika manusia membaca istighfar sejati terus-menerus maka manusia akan selamat dari elemen-elemen beracun dan dari semua keburukan-keburukan. Dan natijahnya kebaikan-kebaikan akan mengalahkan semua keburukan-keburukan itu.) Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud a.s bersabda, ”Apabila manusia sudah bebas dari hambatan-hambatan dan dari elemen-elemen beracun maka dengan sungguh-sungguh dia akan melaksanakan hukum-hukum Allah Ta’ala. Oleh sebab itu harus diingat bahwa Allah Ta’ala telah meletakkan dua macam elemen. Pertama, elemen yang beracun. Elemen ini dipengaruhi dan dikuasai oleh setan.” (Jadi, elemen beracun adalah setan yang selalu membujuk dan mempengaruhi serta mengajak kepada keburukan. Demikianlah keadaan elemen yang beracun itu.) “Yang kedua adalah elemen obat penawar atau penyembuh.” (Bagaimana caranya agar keburukan-keburukan dapat diobati dan apa obat penawarnya untuk itu? Dan kedua macam elemen ini yakni elemen beracun dan elemen penawar atau penyembuh sudah terdapat di dalam diri manusia. Keburukan juga terdapat di dalam diri manusia dan kebaikan juga terdapat di dalamnya. Jika kalian tidak menekan keburukan dengan kebaikan, kalian tidak menekan amal buruk dengan amal baik, dan kalian tidak menghadap kepada Allah Ta’ala untuk memohon ampun dari pada-Nya, maka keburukan-keburukan akan menguasai dan mengalahkan kalian.)

Ketiadaan Istighfar dan Munculnya Takabbur

Beliau as bersabda lagi, “Apabila manusia berlaku takabbur dan menganggap dirinya mempunyai suatu kelebihan dan ia tidak meminta pertolongan dari sumber obat penawar, maka kekuatan racun pasti mendominasi dan menguasainya.” (Jadi, jika seseorang tidak beristighfar maka hati akan tercengkeram sesuatu yaitu takabbur. Begitu pula orang yang berhenti beristighfar. Orang takabbur selalu menganggap dirinya sesuatu (penting) dari orang lain. Dan jika ia tidak minta pertolongan dari sumber obat penawar yakni istighfar, maka kekuatan beracun akan menguasai dan mengalahkannya.) Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Akan tetapi jika manusia menganggap dirinya hina dan lemah, akan timbul perasaan di dalam hatinya bahwa pertolongan Allah Ta’ala sangat diperlukan sekali. Maka pada waktu itu akan memancar sebuah mata air dari Allah Ta’ala yang menyebabkan ruhnya meleleh dan memancar keluar. Dan itulah makna hakiki dari pada istighfar.”

Jadi, apakah istighfar hakiki itu? Dengan istighfar hakiki itu ruh meleleh dan memancar keluar. Ruh meleleh bukanlah karena istighfar secara lisan atau hanya di mulut saja melainkan karena istighfar dengan semangat (iman) yang bergelora keluar dari dalam hati. Itulah istighfar hakiki. Jika kualitas istighfar mencapai tahap demikian, hati tunduk di hadapan Tuhan sambil meneteskan air mata, maka istighfar ini dapat menimbulkan perubahan atau reformasi yang sesungguhnya.”

Beliau as bersabda, “Setelah meraih kekuatan itu manusia mampu mengalahkan elemen-elemen beracun.” (Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa dengan istighfar timbul kekuatan, yaitu istighfar dengan iman yang bergelora di dalam hati, yang dinampakkan dengan tetesan air mata sambil menangis. Itulah istighfar hakiki yang membuat perubahan baik dan suci di dalam diri manusia.)

Selanjutnya beliau as bersabda, “Walhasil, maknanya adalah demikian, tegakkanlah ibadah. Pertama, taatlah kepada Rasul, dan kedua mintalah selalu pertolongan kepada Allah Ta’ala setiap waktu. Ya, terlebih dahulu mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dan apabila telah mendapat kekuatan maka  توبوا إليه  “kembalilah kamu kepada Tuhan.[5]

Sesuai dengan cara-cara yang telah diberitahukan Tuhan, manusia harus taat kepada Rasul. Maka apabila seseorang memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala ia harus tunduk taat kepada Rasul. Sebagai natijahnya apabila manusia secara dawam menundukkan kepalanya di hadapan Allah Ta’ala, terus-menerus meminta pertolongan kepada-Nya, barulah akan timbul keadaan تُوبُوا إِلَيْهِ “kembalilah kepada Allah” supaya setelah mengabulkan taubatnya, Allah Ta’ala menjauhkan keburukan-keburukannya.

Istighfar dan Kaitannya dengan Taubat

Lebih lanjut Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan mengenai تُوبُوا إِلَيْهِ “kembalilah kepada-Nya”,

Istighfar dan taubat adalah dua hal [yang penting dan berbeda], karena alasan tertentu istighfar mempunyai prioritas pertama kemudian taubat.” (Yakni istighfar didahulukan sebelum taubat dan merupakan hal penting) “Sebab, istighfar artinya mohon pertolongan dan kekuatan dari Tuhan dan taubat atau penyesalan artinya berdiri di atas kaki sendiri.” (Istighfar dilakukan lebih dahulu agar manusia mendapat pertolongan dan kekuatan. Untuk itu manusia menangis sambil mencucurkan air mata di hadapan Allah Ta’ala sehingga hati menjadi bersih dari setiap elemen yang kotor. Istighfar didahulukan untuk memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, apabila hal itu sudah dilakukan maka langkah kedua manusia adalah taubat yakni penyesalan dan berdiri di atas kaki sendiri. Untuk taubat sangat diperlukan istighfar dengan dawam agar dapat melindungi permohonan taubat atau penyesalan itu. Namun hanya berkata, ‘Taubat..taubat..’ berulang kali sambil memegang kedua belah kuping seperti sekarang banyak dilakukan orang sebagai kebiasaan bukanlah taubat yang sesungguhnya. Melainkan sebelum melakukan taubat hasilkanlah kekuatan dengan istighfar, berusahalah untuk mendekat dengan Tuhan dan timbulkanlah perhatian untuk berbuat banyak kebaikan. Barulah itu namanya taubat. Dan apabila tahap demikian sudah diperoleh maka untuk mempertahankannya sangat diperlukan istighfar.) Beliau as bersabda, “Demikianlah kebiasaan Allah Ta’ala apabila manusia ingin mendapat kekuatan ia memohon kepada Allah Ta’ala maka Dia memberi kekuatan kepadanya. Dan setelah memperoleh kekuatan itu manusia dapat berdiri di atas kakinya sendiri. Dan untuk melakukan kebaikan-kebaikan ia telah mempunyai kekuatan yang disebut, تُوبُوا إِلَيْهِ “kembali kepada Allah”. Demikianlah susunannya secara alami. Pendeknya untuk itu ada sebuah cara yang telah ditetapkan bagi orang-orang suci karena orang suci dalam setiap keadaan selalu meminta pertolongan dari Allah Ta’ala. Orang suci selama belum memperoleh kekuatan dari Allah Ta’ala tidak dapat berbuat apa-apa. Taufik untuk bertaubat atau penyesalan diperoleh setelah banyak istighfar. Ingatlah baik-baik, jika tidak ada istighfar matilah kekuatan untuk bertaubat. Dan jika kalian istighfar seperti itu kemudian bertaubat maka natijahnya adalah: يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى ‘yumatti’kum hasanan ilaa ajalim musammaa’ – (“Allah Ta’ala akan menganugerahkan barang-barang perbekalan yang baik kepada kamu sampai saat yang ditentukan.”) Beliau as bersabda, “Begitulah berlakunya sunnah Allah Ta’ala. Jika kalian istighfar dan bertaubat maka kalian akan memperoleh tingkatan-tingkatan masing-masing. Bagi setiap orang masing-masing ada daerah sendiri-sendiri.” (Setiap kekuatan untuk menghasilkan sesuatu, kekuatan untuk meminta sesuatu, kekuatan untuk meraih, kekuatan untuk mencapai, kekuatan, untuk itu ada daerahnya.) “Yang di daerah itu ia dapat menghasilkan tahapan-tahapan kemajuan kemajuan.” (Sesuai perbekalan masing-masing ada batas wilayah di mana manusia menghasilkan kemajuan martabat atau derajatnya.)

Tidak Semua Orang Bisa Menjadi Nabi, Rasul, Shiddiq dan Syahid

Hudhur as bersabda, “Setiap orang tidak bisa menjadi nabi, rasul, siddiq atau syahid.” (Sepenuhnya benar, namun beliau bersabda,) “Pendeknya tidak ada suatu keraguan bahwa saling berlomba dalam martabat adalah perkara yang haq.” (Sungguh benar, setiap orang tidak dapat sampai kepada setiap kedudukan, sedangkan kelebihan dalam kedudukan untuk dicapai tetap tersedia. Beliau as bersabda,) “Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman bahwa dalam perkara-perkara itu orang-orang suci akan mencapai derajat sesuai dengan kemampuan mereka.” (Dalam kata lain, dalam urusan yang telah diterangkan oleh Allah Ta’ala itu jika manusia terus berusaha secara dawam atau terus-menerus tanpa berhenti untuk mencapai pertemuan dengan Allah Ta’ala maka setiap orang akan meraih keudukannya sesuai dengan usaha dan kemampuan masing-masing.) “Dan itulah maksud ayat berikut ini, وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ‘wa yu-ta kulla dzi fadhlin fadhlahu’  (“Dan Dia (Allah) akan memberikan karunia-Nya kepada setiap orang yang berhak menerima karunia.” (Surah Hud, 11 : 4) Dan sebagaimana telah dikatakan bahwa di dunia ini juga setiap orang dapat memperoleh berkat-berkat agama atau berkat-berkat rohani dan di hari kemudian juga dapat diperoleh disebabkan kelebihan martabat yang telah mereka hasilkan.) Selanjutnya beliau as bersabda, “Akan tetapi jika seseorang berusaha lebih keras dan lebih banyak maka berkat mujahadahnya (usaha kerasnya) itu Allah Ta’ala juga akan memberi lebih banyak pula kepadanya.” (Ini merupakan karunia Allah betapa besar pemberian-Nya kepada siapa saja. Karunia-Nya masih berlaku. Jika Allah Ta’ala dengan karunia-Nya ingin meningkatkan untuk memberi lebih banyak lagi berkat istighfar dan taubatnya itu maka tentu Allah Ta’ala akan meningkatkan pemberian-Nya lebih banyak lagi kepadanya. Namun syarat utamanya adalah ia harus mujahadah, istighfar dan juga taubat, maka Allah Ta’ala akan meningkatkan anugerah-Nya.) Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Orang itu akan mendapat berkat dan karunia dari Allah Ta’ala sesuai dengan apa yang telah dia lakukan.” (Allah Ta’ala adalah al-Maalik, yang memiliki segala sesuatu. Dia Maha Kuasa dan Maha Perkasa. Dia meningkatkan anugerah-Nya kepada siapa saja yang Dia sukai, bukan karena  ia rajin atau semangat beramal namun disebabkan Dia adalah Malik, Pemilik segala-sesuatu, Dia menurut kehendak-Nya sendiri meningkatkan anugerah-Nya itu kepada siapa yang Dia sukai dan Dia anggap berhak menerimanya. Hal itu menunjukkan bahwa Allah Ta’ala dengan karunia-Nya meningkatkan anugerah-Nya terhadap hamba-hamba-Nya yang berusaha keras, yang istighfar dan taubat secara terus-menerus.) Beliau as bersabda, “Peningkatan anugerah dari Dzul Fadhl (Pemilik Karunia, Allah) adalah Malkii. Maksudnya, Allah Ta’ala tidak membiarkan Diri-Nya mahrum.” (Dia tetap akan memberi, tidak kikir dan tidak berkurang khazanah karunia-Nya) Kemudian bersabda, “Banyak orang berkata, ‘Hendak menjadi walikah kita? Atau kita akan menjadi orang sucikah dengan berbuat seperti itu semua?’ Berdosalah atau kafirlah orang yang berkata demikian itu. Patutlah manusia bekerja (berbuat) sambil berpegang kepada hukum-hukum Allah Ta’ala.” [6]

Allah Ta’ala telah membuat satu undang-undang-Nya, pintu istighfar dan pintu taubat telah dibuka lebar. Manusia harus menggunakannya dan berusaha mengambil faedah dari padanya. Kewajiban kita adalah beusaha sekuat tenaga kita. Selanjutnya adalah karunia Allah Ta’ala. Dia menurunkan karunia-Nya kepada siapapun sesuai dengan keadaan, derajat dan kemampuan masing-masing.

Majlis Pertemuan Hadhrat Masih Mau’ud as dan Pembicaraan mengenai Istighfar

Sekarang saya (Hudhur V atba) hendak menerangkan hal-hal bersifat keilmuan dan kerohanian yang dibahas dalam beberapa majlis Hadhrat Masih Mau’ud as. Di dalam majlis itu orang-orang biasa bertanya kepada Hadhrat Masih Mau’ud as, seperti dalam satu majlis bagaimana beliau as memberi penjelasan tentang istighfar. Mengenainya ada satu riwayat bahwa seseorang bertanya, “Wazhifah (wirid, bacaan doa tertentu) apa yang harus sering saya baca?” Pada zaman itu orang-orang sangat senang sekali membaca wazhifah-wazhifah. Sekarang juga demikian. Maka beliau as bersabda,

“Banyak-banyaklah membaca istighfar. Manusia mempunyai dua macam keadaan;  manusia jangan berdosa atau Allah Ta’ala melindunginya dari akibat buruk perbuatan dosa.” (Dalam kata lain, manusia mempunyai dua keadaan yakni jangan berbuat dosa dan apabila sudah berbuat dosa dan sudah menyadari perbuatan dosa itu maka manusia memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala dari akibat buruk perbuatan dosanya itu.) Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda, “Di waktu membaca istighfar kedua makna itu harus diperhatikan.” (Ia/istighfar merupakan wazhifah (wirid) yang sangat besar, pertama janganlah manusia berbuat dosa dan kedua bacalah doa untuk minta perlindungan dari perbuatan dosa. Dan jika sudah terlanjur berbuat dosa, maka mintalah perlindungan kepada Allah Ta’ala dari akibat buruk perbuatan dosa itu.) Beliau as bersabda, “Pertama manusia harus meminta agar Allah Ta’ala menutupi dosa-dosa yang sudah lampau dan kedua mintalah taufik kepada Allah Ta’ala agar di masa depan terhindar dari perbuatan dosa. Istighfar hanya di mulut saja tidak cukup melainkan harus dari hati. Mohonlah di dalam shalat-shalat dengan memakai bahasa sendiri. Hal ini sangat penting.” [7]

Jadi maksud istighfar di sini ialah memohon ampun dari dosa [yang telah diperbuat] dan memohon perlindungan atau penyelamatan dari dosa [di masa depan]. Dan untuk mengetahui rincian bermacam-macam dosa perlu merenungkan secara mendalam firman Allah Ta’ala di dalam Kitab Suci Alqur’an.

Pada suatu waktu seseorang datang ke satu majlis. Hadhrat Maulwi Abdul Karim ra yang duduk di majlis mengenal orang itu. Tatkala beliau ra menemui orang itu maka beliau ra membawanya ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud as sembari berkata, “Beliau ini telah bertemu dengan para pir, faqir, tokoh-tokoh agama. Sekarang telah datang ke sini.” Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri bertanya kepadanya, “Apa yang anda hendak katakan, sampaikanlah!” Katanya, “Hudhur ! Saya sudah pergi berjumpa dengan banyak sekali Pir (tokoh agama) saya mempunyai beberapa keburukan. Pertama; apabila berjumpa dengan seorang tokoh Agama saya tinggal dengannya. Beberapa hari kemudian saya pergi lagi dari sana karena saya tidak yakin kepadanya dan tabiat saya pun berubah menjadi tidak baik. Kedua; saya mempunyai kebiasaan melakukan ghibat. Ketiga; hati saya tidak cenderung terhadap ibadah. Banyak lagi aib saya yang lainnya.”

Hadhrat Aqdas (Masih Mau’ud as bersabda), ”Saya paham, penyakit utama anda adalah ‘tidak sabar’. Yang lainnya merupakan dampak dari padanya. Ingatlah, apabila dalam urusan duniawi manusia tidak menunjukkan kesabaran dan menunggu hasil pekerjaannya dengan tidak sabar dan tanpa ketetapan hati, bagaimana ia bisa bersabar berjumpa dengan Allah Ta’ala? Apakah seorang petani sehari setelah menanamkan benih ia segera memikirkan untuk memetik hasil atau buahnya? Atau sehari setelah anaknya lahir berkata, ‘Sekarang bayi akan cepat besar dan akan menolong saya!’ Di dalam undang-undang kekuasaan Tuhan tidak terdapat contoh ketergesa-gesaan dan ketidaksabaran seperti itu. Sangat dungu sekali orang yang ingin terburu-buru dalam setiap urusan dan pekerjaannya seperti itu. Manusia juga harus menganggap dirinya beruntung apabila ia dapat menyadari perbuatan aibnya dalam bentuk aib.” (Sesungguhnya seseorang sangat beruntung sekali atau bernasib baik sekali apabila aib atau keburukannya itu nampak kepadanya sebagai keburukan.) “Jika tidak demikian setan memperlihatkan pekerjaan buruknya itu sebagai kebaikan yang sangat cemerlang sekali.” (Sungguh suatu kelebihan yang sangat baik apabila seorang manusia melihat keburukan-keburukannya sendiri. Sebab setan sesuai dengan pekerjaannya selalu memperlihatkan keburukan-keburukan itu sebagai kebaikan yang indah.) Beliau as bersabda, “Sekarang tinggalkanlah sifat tidak sabar itu, lalu mintalah taufik kepada Allah Ta’ala untuk berlaku sabar dan istiqlal serta mohonlah ampun bagi dosa-dosa yang telah diperbuat. Tanpa itu semua tidak ada artinya apa-apa. Orang yang berjumpa dengan manusia Ilahi atau seorang wali Allah untuk tujuan mendapatkan jampi agar dengan satu kali tiupan mulutnya semua perkara menjadi baik, berarti ia ingin memerintah Allah Ta’ala. Datang di situ ia harus berlaku sebagai hamba. Jika ia tidak meninggalkan semua perintah seperti itu ia tidak akan mendapatkan apa-apa. Apabila seorang sakit pergi ke-dokter ia ceritakan semua keluhan-keluhannya. Mendengar itu semua, dokter memahami apa jenis penyakit utamanya itu, maka dokter pun mulai mengobatinya. Oleh sebab itu penyakit utama anda adalah ‘tidak sabar’. Jika anda mengobati penyakit ini sampai sembuh, maka penyakit lainnya juga dengan sendirinya akan ikut sembuh, jika Allah Ta’ala menghendakinya. Mazhab kami tiada lain: Manusia jangan sekali-kali putus asa terhadap rahmat Allah Ta’ala. Jangan berhenti memohon kepada-Nya sampai kepada nafas penghabisan. Manusia tidak akan menghadapi kegagalan selama permohonan dan kesabarannya itu ditanggung sampai nafas penghabisan.” (Itulah artinya sabar. Yakni manusia terus berusaha sampai nafas penghabisan.) Beliau as bersabda, ”Memang Allah Ta’ala itu Qadir, Maha Kuasa. Jika Dia kehendaki sekerlip mata (sekejap mata) saja segala sesuatu boleh terjadi dan manusia tidak perlu berusaha sampai nafas penghabisan sebab Allah Ta’ala itu ‘alaa kulli syaiin qadir Maha Kuasa atas segala sesuatu. Memang sering terjadi hanya dengan sekali sujud saja dihadapan Tuhan doa dikabulkan oleh-Nya. Akan tetapi tuntutan ‘isyq shadiq (kecintaan sejati) dalam urusan permohonan kepada Tuhan harus berjalan terus-menerus secara tetap. Sa’di berkata (seorang penyair Persia atau Iran),

Gar nawayed dost ra ha burden

Syarthi ‘isyq hast dard thalab-e murden.

(Jika untuk sampai jumpa dengan teman tidak mungkin maka syarat mendasar untuk itu mati dalam pencariannya. Untuk mendapatkannya, dalam mencarinya, mati dalam keinginan inilah syarat mendasarnya.) [8]

Dua Macam Penyakit Dosa

Beliau bersabda, ”Penyakit ada dua macam. Pertama penyakit Mustawi dan satu lagi Mukhtalif. (dua macam penyakit, yang satu dinamai mustawi dan satu lagi mukhtalif. Bukan nama melainkan jenis atau macam. Dua keadaan orang sakit; satu dinamai mustawi dan satu lagi mukhtalif.) “Penyakit mustawi adalah penyakit yang nyerinya terasa. Apabila sakitnya terasa secara jelas, penyakit itu disebut mustawi. Manusia segera memikirkan untuk pengobatannya. Sedangkan penyakit Mukhtalif sedikitpun tidak terasa.” (Penyakit itu tersembunyi dan senyap tidak terasa apa-apa. Sehingga manusia tidak menghiraukannya.) “Demikian juga dosa, sebagian terasa dan sebagian sedemikian rupa sehingga banyak manusia yang tidak merasa bahwa ia telah berbuat dosa. Oleh sebab itu sangat perlu sekali agar manusia setiap waktu beristighfar … Untuk perbaikan manusia Allah Ta’ala telah mengirimkan Alqur’an. Jika sesuatu menjadi baik hanya dengan tiupan mulut adalah undang-undang Allah Ta’ala, maka mengapa utusan Allah Ta’ala, Hadhrat Muhammad saw harus menanggung kesulitan dan penderitaan selama 13 tahun di Mekkah? Mengapa tidak ditiupkan melalui doa berpengaruh diatas kepala Abu Jahl dan yang lainnya? (doa tersebut tidak otomatis berpengaruh tanpa yang didoakan tidak berubah hati dan sikapnya, Red.) “Jangankan Abu Jahl, Abu Thalib yang mencintai Rasulullah saw” (yakni, beliau saw mencintai Abu Thalib. Namun dalam keadaan demikian Abu Thalib tidak menjadi Muslim). Pendeknya tidak sabar itu tidak baik. Akibatnya akan membawa kehancuran.” [9]

Manfaat Istighfar dan Pintu-Pintu Kemajuan

Pada suatu waktu di dalam majelis beliau as, ada seseorang memohon doa berkaitan dengan hutang, “Saya menanggung banyak beban hutang.” Beliau as bersabda kepadanya, “Banyak-banyaklah anda istighfar. Untuk manusia guna mengurangi kesedihan-kesedihan inilah caranya.” (Cara manusia untuk menjauhkan kebingungan. Yakni untuk menghilangkan atau mengurangi kebingungan, kesedihan hendaklah beristighfar. Selanjutnya bersabda) ”Istighfar adalah kunci kemajuan dan kejayaan.” Yakni kunci kemajuan kalian terletak pada istighfar. [10]

Maka harus diingat bahwa pintu kemajuan-kemajuan akan terbuka apabila istighfar dilakukan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bagaimana manusia harus tunduk di hadapan Allah Ta’ala dengan hati penuh ikhlas.

Seseorang telah berkata, “Berdoalah untuk saya agar saya mempunyai anak keturunan.” Beliau as bersabda, “Banyak-banyaklah beristighfar. Dengan itu dosa pun dimaafkan. Allah Ta’ala pun akan memberikan anak keturunan. Ingatlah, keyakinan adalah satu hal yang sangat besar dan penting sekali.” (Yakni jika kalian sedang istighfar di waktu itu kalian harus yakin betul kepada Allah Ta’ala.) “Orang yang sempurna keyakinannya Allah Ta’ala sendiri yang menolongnya.” [11]

Pada suatu kesempatan beliau as bersabda bahwa untuk menghindarkan diri dari kelemahan-kelemahan manusia harus banyak sekali istighfar, “Untuk menyelamatkan diri dari azab dosa kedudukan membaca istighfar adalah seperti seorang tahanan penjara yang membebaskan dirinya dari hukuman penjara dengan membayar uang denda.” [12]

Dalam suatu peristiwa sambil memberi nasihat beliau as bersabda, ”Banyak orang yang mendapat kesusahan karena dipukul orang sebagai akibat dari perbuatannya sendiri.

 وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ  ‘wa may ya’mal mitsqaala dzarratin syarray yarah’ – “Dan barangsiapa yang berbuat keburukan sebesar dzarrah ia akan menyaksikan hasilnya.” Maka bagi seorang manusia haruslah dia terus-menerus menyibukkan diri dalam istighfar. Dan harus dicermati jangan-jangan perbuatan buruk itu melampaui batas sehingga mengundang kemarahan Allah Ta’ala. Apabila Allah Ta’ala memandang seseorang dengan karunia-Nya maka pada umumnya Dia menanamkan kecintaan-Nya kedalam kalbu-kalbu.” (Apabila karunia Allah Ta’ala turun kepada seseorang maka Allah Ta’ala menanamkan kecintaan ke dalam hati orang-orang untuk mencintainya.) “Akan tetapi apabila keburukan manusia sudah melampaui batas maka pada waktu itu juga diatas langit timbul gejolak untuk menentangnya dan sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala hati orang-orang pun menjadi keras terhadapnya.” (Jadi, apabila Allah Ta’ala sudah tidak memperhatikannya lagi dan tidak mau menurunkan karunia-Nya lagi kepadanya maka hati manusia pun menjadi keras terhadapnya.) “Akan tetapi bila saja ia bertaubat disertai istighfar memohon perlindungan kepada Allah Ta’ala sambil merebahkan diri di hadapan-Nya, maka secara diam-diam timbul belas kasih kepadanya dan siapapun tidak mengetahui Allah Ta’ala telah menanamkan kecintaan terhadapnya di dalam hati manusia.” (Ya, apabila hati manusia mulai keras dan karunia Allah Ta’ala terlepas dari padanya dan rasa tidak suka serta kebencian manusia mulai timbul maka hati manusia mulai keras terhadapnya. Akan tetapi jika ia istighfar dan taubat maka Allah Ta’ala pasti mengabulkan istighfar dan taubatnya. Dan sebagai natijahnya timbul belas kasih terhadapnya di dalam hati manusia dan timbul kecintaan juga kepadanya.) Beliau as bersabda, ”Benih kecintaan terhadapnya ditanamkan Tuhan di dalam kalbu manusia. Pendeknya taubat dan istighfar adalah sebuah resep yang sangat mujarrab (ampuh) yang tidak pernah gagal.” [13]

Doa dan Istighfar, Menyempurnakan Ibadah dan Penangkal Kekacauan Di zaman Ini

Pada masa sekarang ini perbuatan buruk orang-orang dunia yang terjadi di berbagai negara akibatnya telah menimbulkan kerusuhan dan fitnah. Para pemimpin bangsa yang menganggap diri mereka menjadi orang-orang yang dicintai bangsa mereka sebaliknya mereka sekarang telah menjadi makhluk yang paling buruk di pandangan rakyat awam dan pemimpin yang sekarang menganggap kedudukannya tegak dan kuat. Sampai sekarang ia memandang dirinya, “Kami sangat dicintai dan dikehendaki oleh rakyat.” Namun sekarang tanda-tanda sedang mulai muncul bahwa dia juga akan segera mendapat giliran. Pendeknya natijah dari kerusuhan yang timbul diatas dunia ini beberapa pemerintahan telah berganti. Namun pemerintahan yang baru berdiri itu semakin bertambah parah dari pemerintahan sebelumnya. Dan di masa yang akan datang apa yang akan terjadi apakah kerusuhan dan kekacauan akan semakin bertambah di sana, hanya Tuhanlah Yang Maha tahu. Oleh sebab itu kita harus memanjatkan doa sebanyak-banyaknya semoga Allah Ta’ala menyelamatkan dunia ini dari kehancuran.

Jadi, istighfar dimana ia menyempurnakan maksud ibadah kepada Allah Ta’ala, ia mengingatkan kearah penyempurnaan kewajiban huquuqullah dan huquuqul ‘ibaad juga. Istighfar menjadi sarana untuk menegakkan jalinan hubungan yang kuat dengan utusan Allah Ta’ala dan menyelamatkan manusia dari kerusuhan zaman dan dari kemarahan Allah Ta’ala. [Istighfar] memperjalankan manusia  diatas jalan-jalan untuk mendapatkan qurb Allah Ta’ala yang dengannya mendatangkan kemaslahatan bagi dunia dan akhirat; di sana istighfar juga menjadi sarana untuk memenuhi keperluan-keperluan pribadi manusia dan menjadi sarana untuk terlepas dari kesulitan-kesulitan seperti telah saya baca mengenai berbagai peristiwa yang di dalamnya Hadhrat Masih Mau’ud as menasehatkan. Dengan istighfar juga manusia menjadi pewaris karunia yang tidak terhitung dari Allah Ta’ala.  Allah Ta’ala telah menurunkan karunia-Nya kepada kita orang-orang Ahmadi sehingga kita telah mengenal dan beriman kepada Imam zaman ini yang telah membimbing kita untuk menunaikan ibadah-ibadah dan untuk mencapai qurb Allah Ta’ala serta untuk meraih rahmat dan karunia-Nya. Akan tetapi untuk memperoleh lebih banyak lagi faedah hakiki dari itu perlu sekali kita istighfar terus-menerus secara dawam. Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada kita semua. [Aamiin]

Alihbahasa oleh Mln. Hasan Basri, Shd

[1] Semoga Allah Ta’ala menolongnya dengan kekuatan-Nya yang Perkasa

[2] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 346-347, edisi 2003, terbitan Rabwah

[3] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 348, edisi 2003, terbitan Rabwah

[4] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 348, edisi 2003, terbitan Rabwah

[5] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 348, edisi 2003, terbitan Rabwah

[6] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 349-350, edisi 2003, terbitan Rabwah

[7] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 525, edisi 2003, terbitan Rabwah

[8] Nama lengkapnya Musharifuddin bin Muslihuddin Abdullah al-Shirazi. Dia menggunakan takhallus (nama pena) Sa`di untuk menghormati pelindungnya seorang atabeq atau gubernur provinsi Pars pada awal abad ke-13 yaitu Abu Bakar Sa`d. Penyair ini lahir di Shiraz sekitar tahun 1200 M dan wafat di kota yang sama pada tahun 1291 M. Negerinya hancur diserbu tentara Mongol dan ia hidup mengembara ke banyak negeri lalu pulang ke negerinya. Ia menulis tidak kurang dari dua puluh buku, puisi dan prosa. Karya-karyanya yang terkenal ialah Gulistan (Taman Bunga Mawar) dan Bustan (Kebun Buah-Buahan).

[9] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 528-529, edisi 2003, terbitan Rabwah

[10] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 442, edisi 2003, terbitan Rabwah

[11] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 444, edisi 2003, terbitan Rabwah

[12] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 507, edisi 2003, terbitan Rabwah

[13] Malfuuzhaat jilid awwal halaman 196-197, edisi 2003, terbitan Rabwah