Khotbah Jum’at

Hadhrat Khalifatul Masih Vatba

Tanggal 3 Agustus 2007/Zhuhur 1386 HS

Di Masjid Baitul Futuh, London, UK

 

Kita panjatkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah, karena berkat ihsan dan karunia-Nya semata, Jalsah Salanah Jama’at UK yang ke-41 sudah selesai; Jalsah Salanah ini, dari segi perwakilan, telah mengambil bentuk Jalsah Internasional; dan sebagaimana saya telah katakan pada Khutbah yang lalu bahwa selama Khalifah tetap berada/tinggal di sini, maka status Jalsah ini akan tetap menjadi sebuah bentuk Jalsah Internasional; dan dari segi itu tanggung jawab-tanggung jawab Jama’at UK pada Jalsah juga telah menjadi bertambah dan dengan karunia dan kemurahan Allah Ta’ala, setiap anggota Jama’at, baik pria maupun wanita, pemuda maupun anak-anak memahami benar akan tanggung-jawab itu dan mereka menunaikannya dengan sebaik-baiknya. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada semua petugas tersebut, karena dalam bentuk apapun mereka telah melayani para tamu, dan sampai saat ini mereka pun masih terus melakukan pengkhidmatan.

Kali ini, sebagaimana semua peserta Jalsah yang hadir dalam Jalsah, mereka telah menyaksikan bahwa beberapa minggu sebelum Jalsah dan selama Jalsah berlangsung, rangkaian hujan yang luar biasa terus menerus mengguyur. Bahkan kondisi cuaca yang tidak bersahabat ini, siapapun, setiap Ahmadi di seluruh dunia yang telah menyimak program Jalsah ini, mereka telah menyaksikan kondisi buruk cuaca itu melalui MTA. Selama Jalsah ini, akibat cuaca buruk, banyak pihak mengalami sejumlah kendala dalam menjalankan pengelolaan atau rencana-rencana Jalsah, termasuk mereka yang ikut serta dalam Jalsah pun terpaksa mengalami kesulitan-kesulitan, terutama akibat kacau balaunya sistem pengaturan parkir kendaraan, mereka harus terpaksa menghadapi banyak kesulitan.

Tetapi walaupun demikian, bahkan mayoritas peserta, kecuali satu-dua orang, semuanya tidak ada yang mengadu dan mengeluh kepada panitia pelaksana, dan semua tamu yang hadir pada umumnya, hanya memperlihatkan semangat mereka yang begitu penuh antusias, namun sebagian dari pihak para peserta, sepengetahuan saya, ada yang menampakkan ketidaksabaran. Oleh karena itu, mereka tidak meninggalkan kesan baik pada para mubayyi’in baru dan pada orang-orang yang hadir lainnya (termasuk ghair Ahmadi). Kita hendaknya senantiasa ingat bahwa kita merupakan sebuah Jama’at yang sedemikian rupa, yang bisa diumpamakan sehelai kain putih bersih dan pada sehelai kain putih itu jika ada satu tanda kecil atau setetes dari warna yang lain, maka itu akan sangat menyolok. Oleh karena itu, seorang Ahmadi hendaknya banyak menaruh perhatian untuk memperlihatkan contoh akhlaknya yang luhur. Kesabaran seorang Ahmadi dan kelapangan semangatnya merupakan satu keistimewaan dan hendaknya ada semangat yang seperti itu. Dan hendaknya senantiasa menjadi bahan perhatian bahwa status saya adalah sebagai seorang Ahmadi. Jika di manapun ada sedikit orang yang tidak bersabar lalu membuat satu masalah dan panitia/petugas jalsah tidak ada di sana, maka pada kesempatan itu para Ahmadi yang lain hendaknya memberikan pengertian kepada orang itu bahwa untuk tujuan apa anda datang ke mari, dan melakukan hal itu adalah tidak diizinkan. Bagaimanapun juga, jika memang benar bahwa ada sejumlah orang yang memperlihatkan ketidaksabaran, maka orang-orang yang melakukan tindakan seperti itu hendaknya banyak-banyak ber-istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Tetapi sebagaimana yang telah saya katakan bahwa pada umumnya orang-orang akan mengerti berkenaan dengan hakekat jalsah yang sebenarnya dan berkaitan dengan panitia pelaksana, ternyata dari mereka tidak banyak keluhan. Mereka ini telah memperlihatkan kerja-sama yang baik dengan Panitia. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada mereka semua yang telah memperlihatkan semangat yang tinggi dan kesabaran yang tinggi. Saya mengetahui bahwa di beberapa tempat terpaksa mereka harus menahan atau bersabar dalam berbagai macam kesulitan. Bagaimanapun, keadaan cuaca ini telah memberikan satu manfaat dan pengalaman besar kepada panitia pelaksana bahwa dalam sebagian keadaan-keadaan atau dalam situasi cuaca yang sangat sulit seperti ini, dengan keadaan itulah para panitia pelaksana telah diingatkan ke arah masalah-masalah yang bisa terjadi. Jalsah-jalsah sebelumnya telah diadakan di Islamabad dan jalsah di sana tergolong jalsah permulaan ‑kecuali pada satu-dua kali Jalsah. Maka wajar saja kalau sedikit-banyak terjadi kesulitan. Pada umumnya jalsah diadakan dengan sangat khidmat. Biasanya keadaan cuaca pun tidak begitu keras. Kedua, dikarenakan sering dilalui kendaraan dan orang-orang yang berjalan kaki, maka tanah di sanapun menjadi cukup keras, tidak lunak dan jalan aspal pun dekat. Tempat yang bagus dan keras/permanen yang bisa digunakan untuk parkir bisa didapat dari tetangga-tetangga. Kemudian pada tahun 2005, Jalsah diadakan di Rushmore, maka di sana pun karena merupakan lokasi dari Instansi Pemerintah dan memang dirancang untuk mengadakan acara-acara besar, bahkan memang sudah dirancang untuk itu. Kemudian hujan pun hanya turun pada hari-hari itu dan tidak turun pada hari-hari ketika Jalsah sedang berlangsung. Seperti tahun ini, beberapa minggu sebelumnya hujan tidak turun terus-menerus. Jadi, hal-hal itu tampaknya merupakan satu pelajaran. Allah tidak pernah membiarkan panitia pelaksana merasakan bahwa jika terjadi kondisi cuaca yang terburuk, maka Allah mengajarkan apa saja yang akan dikerjakan dan apa yang hendaknya dikerjakan. Betapa pun juga, melalui pengalaman, Allah membuat kita menjalani pengalaman lain, Allah telah menarik perhatian para Pengurus dan para Panitia pelaksana pada banyak hal yang menyangkut tata-cara penyelenggaraan. Pada tahun ini, para ketua panitia pelaksana Jalsah termasuk Tuan Amir, sebagaimana selama 3 atau 4 hari pada hari-hari Jalsah, mereka telah kehilangan nyalinya dan dengan sangat khawatir mereka benar-benar memikirkan hal itu. Saya mengharapkan bahwa ke depan nanti, mereka akan membuat perencanaan yang lebih baik lagi. Bagaimanapun juga, ujian dan cobaan apa pun yang datang dari Allah itu akan membuka jalan-jalan kebaikan dalam pekerjaan; dan kelemahan-kelemahan apa pun yang muncul di hadapan kita ‑dengan karunia Allah‑ hal itu akan ada perbaikan dan ‑insya-Allah‑ saya mengharapkan kinipun akan bisa ada perbaikan dan bukan hanya hal-hal tersebut yang akan ada perbaikan, bahkan dengan merenungkan lebih mendalam lagi, terkadang akan timbul perhatian kepada perkara-perkara seperti itu, yang sangat jauh sekali kemungkinan-kemungkinanya untuk dapat terjadi.

Tetapi bagaimanapun, kata kebanyakan orang-orang itu adalah benar bahwa pada tahun ini Allah telah menarik perhatian kita untuk mempercantik pengaturan-pengaturan/pengelolaan-pengelolaan Jalsah untuk Jalsah Tahun 2008 dari segala segi. Maka pada tahun depan, jumlah peserta pun mungkin lebih banyak lagi, 4.000 sampai 5.000 orang, lebih banyak dari peserta yang pernah hadir di sini. Sejumlah orang berpikiran bahwa jika kedutaan Inggris memperlihatkan sikap lapang dada dalam memberikan visa, maka mungkin jumlah yang hadir akan menjadi lebih banyak dari itu. Pada umumnya jumlah peserta yang hadir adalah 8.000 atau 10.000 orang atau lebih dari itu. Maka bagaimanapun juga, seberapapun jumlah yang hadir, dengan karunia Allah Ta’ala Jama’at Inggris dapat menangani para tamu. Tetapi dengan zahirnya sejumlah kelemahan-kelemahan, saya mengharapkan bahwa kini akan timbul pengaruh pada segenap pekerja bahwa mereka akan bisa menanganinya secara lebih baik lagi dan berkenaan dengan mutu pengaturan-pengaturan/pelayanan-pelayanan pun akan lebih baik dari sebelumnya.

Sejalan dengan melihat kondisi cuaca tahun ini, dan memperhatikan kondisi tanah akibat hujan di Hadîqa-tul-Mahdi dan untuk tempat parkir mini-mini bus, maka telah diambil keputusan alternatif dan telah diperoleh juga satu lokasi parkir yang letaknya 2 atau 3 mil jauhnya dari Hadiqatul Mahdi. Tetapi disana telah terjadi satu pengambilan keputusan yang salah bahwa mereka yang datang membawa mobil-mobil/kendaraan-kendaraan pribadi terus menurunkan penumpang-penumpangnya di Hadiqatul-Mahdi dan kemudian pengemudi-pengemudi membawa kendaraan-kendaraan ke tempat-tempat parkir, lalu para sopir itu dibawa dari sana dengan bus-bus. Maka akibatnya sedemikian rupa memakan waktu ketika menurunkan para penumpang; sehingga di jalan pemerintah daerah di sana mulai terjadi antrian panjang, dan karenanya petugas-petugas kepolisian menjadi cemas bahwa jalan-jalan di daerah itu mulai tertutup, padahal di sini biasa ada pertandingan sepak bola dan acara-acara lainnya, maka jalan-jalan menjadi tertutup. Karena di sini merupakan persoalan orang-orang Muslim, maka para polisi menampakkan rasa cemas yang berlebihan. Dua kampung kecil yang dekat, di depan rumah-rumah mereka pun mulai terjadi antrian mobil-mobil, dan untuk sementara, mobil-mobil sedikit lama tidak bergerak, yang karenanya maka para pemilik rumah pun menampakkan keresahannya. Pendek kata, cara ini tidak begitu efektif. Dan di waktu malam pada saat kembali pulang; yakni ketika para penumpang mobil dibawa ke tempat parkir dengan transpotasi bus-bus mini, maka terjadi keadaan yang tidak enak untuk waktu yang sedikit lama. Namun bagaimanapun juga, orang-orang memasuki kendaraan dengan tenang. Walaupun ada satu-dua orang dari mereka yang selalu membuat masalah –dan hanya untuk waktu sebentar saja‑ tetap terjadi sedikit rasa yang tidak enak. Dan akibat rasa yang tidak enak itu, para musafir perempuan, anak-anak, dan laki-laki pun semua merasa sedikit cemas dan para panitia pelaksana pun sedikit merasa khawatir. Oleh karena itu, kekhawatiran sesaat yang sedehana/kecil itu tampak menjadi sangat besar dan setelah setiap orang menceriterakan pengalaman mereka masing-masing. Pada waktu siang, akibat sikap atau tindakan petugas kepolisian pun masih terjadi kekhawatiran.

Jadi, menurut saya, bagaimanapun juga panitia penyelenggara kini mengetahui bahwa mungkin tidaklah tepat kalau terlampau dekat parkir di tempat seperti itu, atau kemudian mobil-mobil langsung saja ke tempat parkir. Dimana ada tempat tunggu, seharusnya di sana ada disediakan teh dll, disediakan kamar mandi, karena perempuan-perempuan dan anak-anak memerlukan sarana itu dan dari sana kemudian semuanya dibawa dengan bus-bus ke tempat Jalsah. Bagaimanapun juga, uji coba atau percobaan ini tidak begitu efektif dan kemudian karena mereka itu membuat/menyusun rencana pengaturan alternatif dengan tergesa-gesa, maka karena itu relawan dan tenaga panitia kemudian terus ada yang kekurangan di tempat parkir ini. Tempat ini dinamakan M.O.D yang tidak terbukti baik. Kemudian, pada hari berikutnya tempat itu harus digunakan sebagai tempat untuk memarkir kendaraan. Sebagaimana saya telah katakan bahwa akibat dari parkir lebih lama berdiri (berhenti) di depan rumah-rumah, maka sebagian orang memarkir kendaraannya di jalan dan kemudian pada saat membawa dan menaikkan para penumpang, sedikit banyak akan timbul rasa yang tidak enak akibat ketergesa-gesaan, disiplin pun tidak bisa dijalankan dan keadaan lalu-lintas menjadi macet.

Setiap orang seyogianya berpikir bahwa kemuliaan nama Ahmadiyah yang melekat bersama seorang Ahmadi, sesudah itu status individu warga Jama’at tidak lagi sebagai pribadi dan khususnya pada saat acara atau kegiatan Jama’at, bahkan gerakan apapun yang dilakukan oleh seorang individu Ahmadi manapun akan berdampak/berpengaruh pada Jama’at, tindakan apapun yang dilakukan maka tidak akan ada yang mengatakan bahwa si fulan berperilaku begini dan begitu, tetapi jika orang-orang luar memandang maka mereka akan mengatakan bahwa ‘orang Ahmadi’ yang telah melakukan begini dan begitu, atau individu anggota Jama’at Ahmadiyah yang telah melakukan begini dan begitu. Oleh karena itu, setiap Ahmadi hendaknya senantiasa ingat dan sebagaimana yang terjadi dengan pengalaman hari kedua, dapat diketahui bahwa hendaknya dari sebelumnya pengaturan/penyediaan parkir hendaknya di Islamabad. Dan untuk orang-orang London, disediakan di Baitul Futuh, serta untuk orang-orang yang tinggal di dekat mesjid Fadhal London, hendaknya memarkir kendaraan di Baitul Futuh. Seperti itu pula, pada sebagian tempat-tempat yang lain juga hendaknya dapat ditentukan tempat parkir darimana (yang dari tempat itu) bus-bus bisa dibawa ke sana lebih banyak. Demikian pula di Hadiqatul Mahdi, dari sekarang hendaknya ada perencanaan untuk tahun depan. Pada tahun ini juga, ada banyak kendaraan yang di parkir di Hadiqatul Mahdi, tetapi akibat adanya lumpur, maka banyak sekali kendaraan/mobil-mobil yang dengan susah payah dikeluarkan dari tempat yang berlumpur itu. Jika ada perencanaan, maka beberapa ribu orang diangkut dengan perantaraan bus-bus dari Islamabad dan London, kemudian 2000 atau 3000 mobil bisa diatur di Hadiqatul Mahdi. Mereka yang tidak ingin kembali setiap hari, mobil-mobil mereka dapat tinggal/parkir di sana karena sebagian mereka itu tinggal di sana. Mereka yang tinggal di Islamabad, biarkan mobil-mobil mereka tetap di Islamabad, maka karena mereka datang dengan coaches (baca: kouch)/bus-bus mini, maka orang-orang yang pertama tinggal dekat daerah tersebut tidak akan merasa khawatir, karena di sana terdapat jalan-jalan sempit dan itu pun tidak akan tertutup/macet, sehingga polisi tidak akan mencemaskan orang-orang, jalan mini-mini bus yang membawa makanan dan peralatan-peralatan lainnya itupun tidak akan macet/terhalang. Bus-bus yang berangkat dari Islamabad itupun akan dengan mudah dan cepat sampai di Hadiqatul Mahdi. Pengaturan makan dan memasak itu dilakukan di Islamabad dan setelah makanan masak, lalu itu dibawa dari Islamabad. Dan di sana juga disediakan tempat untuk tamu-tamu yang menginap.

Pada tahun depan, Insya-Allah, akan diadakan Jalsah Tasyakur Sebad Khilafat ‑sebagaimana saya telah katakan‑ karena itu para Panitia, dan individu Jama’at dari segi itu hendaknya juga mempersiapkan diri mereka supaya sedapat mungkin berada di bawah penanganan yang terbaik, semua proses pelaksanaan Jalsah dapat berjalan dengan baik. Sebagaimana saya telah contohkan di dalam khutbah yang lalu bahwa Jalsah-jalsah di Afrika, Jalsah-jalsah di Pakistan, dan juga Jalsah-jalsah Qadian, betapa orang-orang telah memperlihatkan kesabaran dan kini mereka sedang perlihatkan. Jadi, di dalam Jalsah ini, anggota-anggota Jama’at di sini dan orang-orang yang datang dari bermacam-macam negara pun telah juga memperlihatkan pemandangan kesabaran seperti ini. Kaum ibu dan anak-anak menjadi basah kuyup kehujanan sampai berjam-jam dan dengan sangat tenang mereka terus berdiri saat menunggu bus-bus. Mungkin ada, entah di mana, terjadi peristiwa kecil, namun pada umumnya mereka terus berdiri dengan tenang pada saat menunggu, sebagian ada orang-orang yang terus berdiri menunggu hingga selama 4 atau 5 jam, bahkan kebanyakan dari mereka mungkin tidak makan malam. Maka melihat mereka berdiri seperti itu, saya pun sedikit lama menemui mereka, maka mereka berdiri tersenyum dan gembira, seolah-olah mereka sedang berdiri dalam cuaca atau musim yang sangat enak, padahal saat itu hujan sedang turun.

Jama’at Hadhrat Masih Mau’udas. ini juga merupakan Jama’at yang mengagumkan. Di dalam diri terasa tertanam rasa penuh cinta pada Jama’at ini. Melihat anak-anak, orang-orang tua dan kaum ibu dalam keadaan basah, saya mulai menjadi gelisah bahkan sepanjang malam saya gelisah. Saya terus memanjatkan istighfar, terus memanjatkan dan memohon kesehatan dan keselamatan untuk mereka di hadapan Tuhan agar akibat musim ini mereka jangan mendapatkan kesulitan. Dengan melihat orang-orang yang hadir pada hari berikutnya, saya pun menjadi terhibur bahwa Allah telah menurunkan karunia-Nya dan pada umumnya orang-orang selamat dari ganasnya musim yang kemarin, wajah-wajah itulah yang kebanyakan terlihat. Jadi, atas hal itu, kita hendaknya bersyukur kepada Allah sebanyak-banyaknya bahwa secara umum Dia telah menyelamatkan kita dari pengaruh-pengaruh buruk dari cuaca tersebut.

Sebagaimana yang telah saya katakan bahwa selain satu-dua orang, secara umum orang-orang yang hadir pada Jalsah dan para tamu itu tidak menyatakan keluhan dalam bentuk apapun perihal pengaturan-pengaturan atau dalam hal penataan dan pelaksanaannya. Saya pun mengetahui bahwa di sejumlah tempat, para tamu dikarenakan oleh pengaturan alternatif yang dikerjakan secara mendadak, maka mereka tidak memperoleh makanan dengan cepat atau tidak memperoleh makanan dengan benar. Akibat cuaca buruk di Islamabad, tenda disiapkan untuk sejumlah orang, lalu di sana diperdengarkan khutbah, ada yang diperdengarkan bagi sebagian peserta Jalsah di Baitul Futuh dan ada sebagian yang karena tidak sengaja mereka datang ke Mesjid Al-Fazal London karena berpikir bahwa bus-bus akan membawa mereka dari sana; tetapi dari sana tidak ada pengaturan, sehingga mereka terpaksa mendapatkan kesulitan. Bagaimana pun juga, apa pun situasi yang terjadi di berbagai tempat, panitia dan Amir Sahib telah meminta maaf atas kejadian itu, dan beliau menginstruksikan untuk menyampaikan permohonan maaf kepada semua tamu dan dari mereka di sejumlah tempat terdapat juga kekurangan-kekurangan kecil, atas hal itu pun mereka merasa malu. Maka saya berharap bahwa semua tamu yang telah melalui bermacam kesulitan dalam bentuk apapun, sambil tetap menegakkan tradisi-tradisi, mereka akan mengabaikan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh Panitia, dan akan memaafkan mereka.

Sebagaimana yang sudah saya katakan bahwa karena tindakan polisi, maka sedikit urusan itu menjadi kacau-balau, mereka menampakkan ketergesa-gesaan, pada tahun yang lalu kadang juga terjadi antrian yang panjang tetapi karena kepala polisi tahun yang lalu itu sedikit memiliki temperamen yang tidak cepat marah, jika pada tahun ini kepala polisi yang memiliki temperamen seperti itu juga yang bertugas, maka mungkin 75% dari urusan lalu-lintas dengan tenang dapat terselesaikan. Bagaimanapun juga, ini merupakan sebuah pengalaman. Dari pengalaman ini dapat diketahui bahwa dalam segala macam pengaturan, kita perlu mendalaminya dengan lebih jauh lagi. Dalam hubungan dan kontak dengan para pemuka aparat pemerintah pun jangan hanya menggunakan imajinasi/pandangan yang sia-sia. Setiap manusia memiliki temperamen yang berbeda. Oleh karena itu dalam perencanaan, saudara-saudara perlu memperhatikan dan mempertimbangkan pada keadaan yang terburuk dan dengan perencanaan seperti itu, kita akan berhadapan dengan kecemasan yang seminim mungkin. Kelemahan-kelemahan yang tengah saya perlihatkan ini maksudnya bukanlah bahwa di sana banyak permasalahan yang telah tampak, hal-hal kecil pun hendaknya menjadi bahan pemikiran agar langkah kita terus-menerus meningkat ke arah yang lebih baik.

Secara umum pengaturan atau penanganan Jalsah sangat baik, dan jika kita memperhatikan kelemahan-kelemahan kita sebelumnya, maka kita akan dapat memperbaikinya lebih jauh ‑insya-Allah. Kebanyakan para peserta yang hadir dan para tamu dari ghair dan sesudahnya para pejabat kepolisian pun menghargai dan telah memberikan pujian pada pengaturan-pengaturan kita itu dan kita hendaknya bersyukur bahwa Allah Sendiri yang telah menciptakan sarana untuk keperluan training atau pelatihan kita dan Dia senantiasa menciptakan sarana dengan berbagai macam cara. Inilah tugas seorang yang beriman bahwa dengan memperhatikan kelemahan-kelemahan, dia terus melangkah maju ke arah yang lebih baik.

Sebagaimana cara saya pada umumnya bahwa di dalam khutbah setelah Jalsah, sesuai dengan tema syukur, saya biasa mengucapkan terima kasih pada para Panitia Jalsah, karena itu pada hari ini saya akan menyampaikan ucapan terima kasih kepada para Ketua Panitia, para Pengurus dan kepada para mu’awin (relawan) atau orang-orang yang memberikan bantuan bahwa semuanya telah bekerja keras serta telah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Di dalam berbagai seksi, mereka merupakan sukarelawan dari berbagai kalangan atau lapisan. Tugas mereka adalah memasak makanan, melayani orang-orang yang makan, menyampaikan makanan ke tempat-tempat penginapan, menyiapkan transportasi, begitu juga mengurus kebersihan, mengurus air, menyiapkan akomodasi, tidak terhitung pengaturan-pengaturan, di dalam pekerjaan itu terdapat bebagai macam sukarelawan. Setiap orang, dengan karunia Allah Ta’ala, sesuai dengan kemampuannya telah berkerja dengan sebaik-baiknya dan keadaan cuaca yang amat buruk tidak mengganggu atau menghentikan pekerjaan mereka. Setiap orang, tanpa mengemukakan alasan dan tanpa bermanja-manja, telah menjalankan segala macam tugas. Mereka yang tempat kelahirannya di sini, yang mengenai mereka sejumlah orang-orang tua merasa khawatir bahwa apakah mereka akan memiliki tingkatan hubungan kontak yang berkualitas tinggi dengan Jama’at atau tidak, di antara mereka terdapat orang-orang yang berpendidikan tinggi, semuanya telah memperlihatkan perilaku yang sangat bagus. Semua muawinin/relawan telah bekerja lebih dari para buruh, di sebagian tempat, sedemikian banyak terdapat lumpur, mungkin baru untuk pertama kali mereka lihat, dan di sana kemudian mereka tidak hanya sekedar melihat, bahkan untuk bekerja mereka harus pergi ke lumpur itu dan kemudian mobil-mobil pun harus mereka keluarkan dari sana. Dan tatkala lumpur beterbangan dari roda-roda mobil, maka terjadilah percikan deras lumpur-lumpur itu dan muka para petugas yang mendorong dari belakang menjadi belepotan tetutup lumpur. Tetapi setiap hari, dengan karunia Allah, para relawan ini terus-menerus bekerja keras dengan tekun hingga jam setengah dua malam dan jam dua malam.

Menteri dari Uganda yang hadir, yang mana dia juga telah membacakan amanat Presidennya, telah mengatakan kepada saya, bahwa beliau sangat terkesan setelah melihat para relawan, mengenai para pengurus yang bekerja, mereka merupakan orang-orang yang terdiri dari bebagai kalangan dan terdiri dari berbagai disiplin ilmu. Dan tanpa adanya tujuan faedah-faedah duniawi dan keinginan duniawi, hanya demi untuk Jama’at dan demi untuk Tuhan mereka, mereka bekerja keras dan dengan sangat rendah hati mereka melakukan pekerjaan seperti itu, yang mungkin bagi sebagian orang dengan dibayar sekalipun tidak akan mau melakukannya. Saya katakan kepadanya bahwa inilah keindahan Ahmadiyah. Inilah Revolusi yang Hadhrat Masih Mau’udas. ingin ciptakan di dalam diri para pengikutnya. Untuk melaksanakan pekerjaan Jama’at, mereka memiliki semangat yang mengagumkan, tidak perduli apa yang di depan mereka itu. Mereka telah meniatkan suatu pekerjaan, lalu langsung terjun melakukannya dan semangat ini, dengan karunia Allah, dapat ditemukan di dalam diri setiap orang Ahmadi yang tinggal di dunia, di Jama’at setiap negara. Sebagian pekerja/petugas pada kali ini, disebabkan oleh hujan yang terus-menerus turun sepanjang hari dan sepanjang malam terus basah kuyup diguyur hujan, tetapi pekerjaan yang diserahkan kepada mereka itu tidak mereka biarkan terbengkalai/terabaikan. Ada sebagian orang yang tidak membawa jas hujan. Bahkan saya katakan juga kepada Sadr Khuddamul Ahmadiyah agar memberikan kepada mereka jas hujan, karena dengan membawa payung mereka tidak bisa bekerja, sekurang-kurangnya berilah kepada mereka jas hujan, tetapi mereka tidak bisa mendapatkan jas hujan, bahkan di toko-toko setempat, di London dan di kota-kota lainnya sepatu boot tinggi, yang disebut Wellington-boot pun (baca: Wellington but) kurang-lebih –menurut saya‑ orang-orang yang datang ke Jalsah dan para sukarelawan juga sudah membelinya dan itu telah kosong (habis) dibeli dari semua toko-toko. Jadi satu keuntungan dari Jalsah kita bagi Industri Wellington-boot itu adalah bahwa semua persediaan mereka itu habis terjual. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran-Nya yang terbaik kepada semua pekerja ini dan memberikan kepada mereka kemajuan dan peningkatan dalam keimanan dan mereka memperoleh taufik untuk memberikan pelayanan lebih dari sebelumnya kepada para tamu Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Jadi sesuai dengan sabda-sabda Rasulullahs.a.w.من لا يشكر الناس لا يشكر الله  man lâ yasykurun-nâsa lâ yasykurullâh. Yakni, barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada orang, maka ia tidak bersyukur kepada Allah. Saya mengucapkan terima kasih kepada semua para Petugas dan para Pekerja. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran yang terbaik kepada semuanya.

Kita hendaknya senantiasa ingat bahwa hamba Allah yang bersyukur kepada Allah adalah orang-orang yang berterima kasih kepada orang-orang yang darinya mereka memperoleh manfaat dalam bentuk apapun. Para pembantu/relawan ini telah melupakan waktu istirahatnya, lalu sebagian ada yang bekerja selama 24 jam secara terus-menerus, atau barangkali dari 24 jam itu mereka hanya tidur 1 atau 2 jam. Mereka telah bekerja untuk memberikan ketenteraman kepada orang-orang. Oleh karena itu, merupakan kewajiban setiap Ahmadi yang hadir di dalam Jalsah bahwa mereka hendaknya berterimakasih kepada para relawan itu. Dan cara terbaik untuk mengungkapkan rasa terima kasih ialah dengan mendoakan mereka. Semoga Allah Ta’ala menjadikan mereka semuanya sebagai pewaris karunia-karunia-Nya lebih dari pada sebelumnya; dan jika seseorang telah berbuat suatu kesalahan kepada seseorang, seseorang telah memperoleh pengalaman akan hal itu, maka lupakanlah kesalahan-kesalahan itu. Anak-anak perempuan, ibu-ibu, orang-orang laki-laki semuanya dengan tidak mementingkan diri sendiri telah memberikan pelayanan ini. Dan kepada para Pekerja pun saya juga katakan bahwa mereka itu juga hendaknya mengucapkan syukur kepada Tuhan, dan kepada para petugas saya katakan bahwa kalianpun bersyukurlah kepada Tuhan bahwa Allah telah memberi taufik kepada kalian untuk bergabung di dalam lasykar Hadhrat Masih Mau’uda.s. dan Allah telah menganugerahkan kemampuan kepada saudara-saudara untuk melayani tamu-tamu Hadhrat Masih Mau’uda.s.

Ingatlah bahwa tantangan untuk tahun depan itu sangat besar. Oleh karena itu, dengan semangat antusiasme ini, saudara-saudara harus selalu siap sedia untuk berbakti dan janganlah sampai membuat semangat ini mendingin. Semoga Allah Ta’ala memberi kemampuan kepada semuanya.

Para kru MTA juga telah bekerja untuk menyiarkan semua acara dan program ini selama 24 jam untuk mengadakan peliputan ini; atas hal itu diterima banyak surat untuk MTA. Saya pun menerima banyak surat. Mereka langsung menyampaikan ucapan terima kasihnya. Para Ahmadi yang tesebar di seluruh dunia, jiwa mereka dipenuhi dengan keharuan dan emosionalnya dan hati mereka penuh dengan gejolak rasa syukur atau terima kasih; terutama yang dari Pakistan tidak terhitung surat-surat yang diterima yang mengatakan, kami mendoakan bagi para petugas MTA yang mana mereka tidak memahrumkan kami dari berkat hidangan khazanah ruhani dan makanan spiritual/ruhani ini. Dan kondisi para pekerja itu adalah bahwa mereka sedemikian rupa telah bekerja keras dan menekuninya tanpa mengenal lelah. Dan ini pulalah ungkapan orang-orang bahwa kami ini tampak seolah-olah sedang duduk di tempat Jalsah (berkat kerja keras mereka). Jadi, para pekerja MTA juga berhak menerima ucapan rasa terima kasih dari orang-orang Ahmadi di seluruh dunia. Berkenaan dengan sebagian petugas, saya mengetahui bahwa akibat mereka selama beberapa hari terus jaga/tidak tidur, karena semua pengaturan itu harus mereka siapkan di dalam hujan, yang memerlukan banyak waktu sehingga mereka dapat menayangkan program itu langsung ke seluruh dunia. Jadi beberapa hari sebelumnya, mereka sejak awal telah mulai bekerja. Jadi, dikarenakan terus-menerusnya bangun dan berjaga sehingga ada orang yang menjadi begitu lemahnya dan sebagian dikarenakan karena keletihan, akibat dikuasai kantuk kondisinya menjadi benar-benar berada dalam keadaan yang memprihatinkan. Ada juga yang sampai terjatuh di dalam lumpur, dan tidak mengetahui bahwa mereka terjatuh, dan disitulah, di lumpur itu, mereka tidur tergeletak. Sesudah beberapa lama, kawan-kawan melihatnya, maka ternyata dia terbaring tergeletak di tanah. Ia dibangunkan lalu dibawa, kemudian ditanya apa yang telah terjadi? Jawabannya, bahwa saya keluar untuk suatu pekerjaan, saya ini tidak mengetahui apakah kaki saya yang terpeleset atau saya jatuh akibat dikuasai kantuk, saya bagaimanapun juga sama sekali tidak mengetahui; tetapi ketika dia jatuh di sana maka disitulah dia tertidur di udara bebas dan terbuka. Jadi, apakah contoh-contoh seperti ini dapat diperlihatkan untuk maksud duniawi? Oleh karena itu untuk petugas-petugas atau kru MTA perbanyaklah doa dan inilah ucapan terima kasih kepadanya. Kebanyakan dari antara mereka merupakan para sukarelawan.

Sebagaimana saya telah contohkan bahwa ada seorang Menteri, ia ghair Ahmadi dan berasal dari Uganda. Ia telah datang sebagai tamu, begitu juga sejumlah profesor dan pejabat-pejabat yang datang dari berbagai negeri yang bukan merupakan orang Ahmadi. Mereka datang dari Kirgistan, Kazakstan, Nigeria, Maroko dan datang dari negeri-negeri lainnya. Saya bertanya kepada mereka semua mengenai kesan-kesannya pada saat bertemu/mulaqat, mereka mengatakan bahwa mereka sangat terkesan terhadap segenap pengaturan/penanganan Jalsah dan program jalsah dan inilah yang mereka katakan bahwa Islam yang kalian kemukakan itu, pada hakekatnya inilah Islam. Ada seorang profesor dari Kirgistan, kesannya adalah bahwa musim ini akan bisa berbuat apa untuk mengganggu kalian. Jika kalian mengatakan kepada orang-orang itu, bahwa bukannya di dalam tenda tetapi bersujudlah di luar, di atas lumpur, maka semua orang ini akan keluar lalu akan bersujud juga di atas lumpur, dan akan menunaikan shalat-shalat dan mereka tidak akan menghiraukan apa-apa. Inilah merupakan hal yang telah membuat saya menjadi terkesan. (Saya berpikir bahwa orang ini bukan datang dari Kirkiztan, tetapi datang dari negeri lain.) Jadi bagaimanapun juga, ini merupakan kesan beliau.

Jadi, hal–hal ini meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah bahwa Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada Hadhrat Masih Mau’uda.s. kekuatan pensucian yang sedemikian rupa, yang karenanya Dia telah menganugerahkan kepada beliau satu Jama’at yang dapat memperlihatkan semangat keitaatan dan pengkhidmatan yang sedemikian rupa. Pada saat ini dari Amerika datang juga satu delegasi orang-orang Ahmadi Amerika. Cukup besar delegasi mereka, kebanyakan adalah orang-orang Afro-American (kulit hitam). Sebagian orang Ahmadi baru juga termasuk di dalamnya dan benar-benar masih remaja juga, yang setelah melihat pemandangan Jalsah. Dan setelah berjumpa dengan saya, mereka dikuasai oleh rasa emosional sambil mengatakan bahwa ini memang sungguh-sungguh merupakan pemandangan yang menakjubkan. Mereka sudah melihat Jalsah di negara mereka sendiri, tetapi menurut keterangan mereka bahwa efek Jalsah ini adalah sedikit berbeda, yang sampai kini kami sedang rasakan. Kepada mereka terasakan bahwa lingkungan Jalsah ini sama sekali berbeda. Kemudian kendati kondisi cuaca buruk, keikhlasan dan ketulusan para peserta dan khususnya para petugas, di dalam dirinya timbul satu semangat baru. Setiap orang di antara mereka memiliki pengalaman masing-masing tentang melihat pemandangan-pemandangan orang yang menonjol dalam kecintaan dan persaudaraan. Ini akan sangat panjang jika diterangkan dan sangat sulit karena itu merupakan hal yang dapat dirasakan namun mengungkapkan dalam kata-kata, merupakan hal yang tidak mungkin.

Demikian juga Tuan Amir Sahib dari Canada menulis surat kepada saya bahwa, saya pikir dikarenakan oleh cuaca yang buruk itu maka orang-orang yang datang akan sedikit, tetapi saya melihat seperti itulah yang hadir. Ibu-ibu pun membawa anak-anak kecil mereka dengan mendudukkan anak-anak mereka di tempat khusus anak di dalam mobil, lalu mereka menyetir mobil sendiri, dari dekat lewat mobil-mobil, maka percikan air dan lumpur menimpa mereka, tetapi mereka itu tidak menghiraukannya dan dengan karunia Allah mereka ikut serta dalam program Jalsah. Ada juga orang yang memberitahukan kepada saya bahwa ibu-ibu tidak akan datang, akan sangat sedikit yang akan datang. Maka jawaban saya adalah bahwa mereka yang akan memamerkan perhiasan dan baju-bajunya, mereka itu tidak akan datang, sedangkan yang lain ‑dengan karunia Allah‑ akan hadir[1].

Pendek kata, Jalsah ini telah berlalu dengan melimpahkan semua keberkatan-keberkatannya kepada kita. Setiap Ahmadi ‑yang dalam status apapun‑ telah ikut hadir dalam Jalsah ini. Mereka hendaknya bersyukur kepada Allah karena dengan rasa syukur inilah kita akan menjadi pewaris untuk menerima hadiah-hadiah lebih banyak lagi dari Allah, sebagaimana yang Allah telah janjikan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an:

… ûÈõs9 óOè?öx6x© öNä3¯Ry‰ƒÎ—V{ (…

‑La-in syakartum la-azîdannakum‑“Jika kalian menjadi orang-orang yang bersyukur, maka pasti Aku akan menambahkan lebih banyak kepada kalian.” (Q.S. Ibrâhîm [14]: 8)

Jadi, senantiasa berdoalah kepada Allah agar dapat menjadi orang yang bersyukur sehingga Allah terus-menerus memperbanyak hadiah-hadiah dan anugerah-anugerah-Nya dan menutupi segala kelemahan dan kekurangan kita. Dan dari pengalaman-pengalaman Jalsah ini, jangan hanya Jama’at di UK atau Inggris saja yang dapat mengambil pelajaran, tetapi Jama’at-Jama’at di seluruh dunia dan anggota panitia Jalsah pun atas dasar referensi atau pengalaman hendaknya mereka melakukan survey, karena mengambil faedah dari pengalaman orang lain pun merupakan kebijaksanaan. Dan pada tahun depan ‑insya Allah sebagaimana yang telah saya katakan‑ akan diadakan Peringatan Tasyakur Seabad Khilafat Ahmadiyah, yang di dalamnya pengaturan-pengaturan dan penatalaksanaan Jalsah pun menjadi tambah luas. Panitia pelaksana Jalsah di sini tentu akan menulis semua kekurangan dan kelemahan–kelamahan mereka di dalam “the red book” (baca: the rêd buk) atau Buku Merah untuk Jalsah ini dan insya Allah, itu akan mereka perbaiki. Tetapi orang-orang lain yang datang ke sini sebagai wakil, merekapun hendaknya memperhatikan kelemahan-kelemahan mereka. untuk perbaikan, mereka pun, seyogianya mencatat supaya pada tahun yang akan datang ‑sebagaimana yang saya katakan‑ bahwa pengaturan Jalsah yang akan bertambah luas, di dalamnya akan terjadi pengaturan yang terbaik. Khususnya di negara-negara ‑di mana saja jika Tuhan menghendaki‑ saya akan hadir di jalsah-jalsah mereka, maka akan menuntut pengaturan-pengaturannya yang lebih luas. Maka akan banyak sisi-sisi yang hendaknya harus direnungkan. Dari segi itu, Jama’at di seluruh dunia hendaknya memerikasa atau mensurvainya dan maksud dari Jalsah-jalsah itu dapat kita raih.

Kita hendaknya senantiasa mengingat bahwa setiap Ahmadi, baik dia tinggal di negara manapun, hendaknya tetap mengingat akan perintah Allah itu bahwa jika terlahir ketakwaan, maka perasaan bersyukur pun akan meningkat, sebagaimana Allah Taala berfirman:

fattaqul-Lôha la’allakum tasykurûn‑ “Maka, bertakwalah kepada Allah supaya kalian menjadi orang-orang yang bersyukur.” (Q.S. Âli-‘Imrân [3]:124)

Jadi, untuk bisa menjadi pesyukur sejati pun syaratnya adalah memiliki rasa takut kepada Allah; Yang mengamalkan perintah-Nya; memiliki pengertian tentang ini. Dan faedah keikutsertaan dalam Jalsah ini baru akan bisa ada, apabila saudara-saudara menjadi orang-orang yang meraih maksud yang untuk itu Hadhrat Masih Mau’uda.s. dibangkitkan. Apabila kita menjalani kehidupan seperti ini, maka sejalan dengan menjadi orang-orang yang benar-benar bersyukur, maka kita akan menjadi orang-orang yang meraih hadiah-hadiah dan berkah-berkah yang lebih banyak lagi sesuai dengan janji-janji Allah. Selain itu akan turun pula hujan hadiah-hadiah dan kebaikan-kebaikan Allah kepada kita semua lebih dari pada sebelumnya ‑insya-Allah.

Jadi, kemudian saya ingin mengatakan bahwa setiap orang Ahmadi hendaknya bersyukur bahwa dia telah menemukan zaman Masih Mau’uda.s., yang dalam keadaan menunggu, orang-orang berlalu dari dunia ini, dan atas panggilan beliaua.s. mereka datang ke Jalsah ini, dan mereka ikut serta di dalamnya, dan melihat karunia-karunia dan berkah-berkah Allah itu turun, melihat ketulusan dan kesetiaan orang-orang yang menjalankan tugas dan melihat orang-orang lain terkesan karenanya. Seberapa meningkatnya gejolak-gejolak rasa ucapan syukur/terima kasih ini dan seberapa banyak rasa syukur sejalan dengan meningkatnya ketakwaan, maka sebanyak itulah kita senantiasa akan terus-menerus menjadi orang-orang yang menarik hadiah-hadiah dan berkah-berkah dari Allah Ta’ala ‑Insya Allah.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat mengerti akan ruh hakiki dan semangat hakiki dari rasa kebersyukuran dan terimakasih ini.

Qamaruddin Syahid