Ikhtisar Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Khalifatul Masih al-khaamis

Hadhrat Mirza Masroor Ahmad (ayyadahullahu ta’ala bi nashrihil ‘aziz, aba)

30 Agustus 2013

أَشْهَدُ أَنْ لا إِلٰهَ إلا اللّٰهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ

وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

أَمَّا بَعْدُ فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥) اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦)  صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّيْنَ  (٧)

Setelah membaca tasyahud, ta’awwudz dan Surat Al-Fatihah, Huzur Aqdas (semoga Allah menguatkan beliau dengan pertolongan-Nya yang Perkasa) bersabda bahwa:

Dalam khotbah Jumat sebelumnya Saya telah mengatakan beberapa hal berkaitan dengan tanggungjawab tuan rumah yang harus mereka laksanakan kepada tamu mereka – bahwa, adalah kewajiban kita supaya kita melayani tamu Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam dengan semangat dan ghairat. Hari ini, secara singkat, saya akan menarik perhatian para tamu, peserta Jalsah ini mengenai tanggungjawab mereka supaya mereka juga memberikan perhatian yang semestinya kepada kesucian lingkungan, dimana Jalsah ini akan dilaksanakan, supaya mereka juga mengetahui apa saja kewajiban orang-orang yang ikut serta dalam Jalsah, dan juga menarik perhatian mereka terhadap perlunya mereka bekerja sama dengan panitia.

Jadi ada dua tanggungjawab. Pertama, berkaitan dengan tujuan yang untuk itu mereka datang ke sini, mereka harus bertindak dengan cara yang akan menyebabkan tujuan-tujuan tersebut dipenuhi sehingga mereka bisa memperbaiki diri secara rohaniah, dan pengetahuan – serta mendidik dan menarbiyati diri sendiri. Kedua, mereka harus bekerja sama dengan panitia yang terlibat dalam mengatur dan menjalankan Jalsah ini.

Ketika kita menghubungkan diri kita dengan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam kita harus selalu ingat kenyataan bahwa kita hendaknya tidak hanya memiliki keinginan untuk mendapatkan apa yang menjadi hak kita, hanya selalu dan semata-mata fokus pada, hanya dalam menjamin bahwa hak-hak kita diberikan, melainkan kita harus memberikan perhatian kepada memastikan bahwa kita memberi kepada orang lain apa yang menjadi hak mereka. Kewajiban atau tugas yang jatuh pada kita, harus kita pastikan untuk kita jalankan dan kita penuhi.

Tanggung jawab yang berhubungan dengan para tamu harus dipenuhi. Yang terbesar dari hal ini adalah mengucapkan syukur kepada Allah Taala karena Dia telah membuat semua fasilitas dan pengaturan ini di tempat di mana biasanya tidak ada fasilitas seperti itu, dan kemudian setelah itu kita wajib menyampaikan terima kasih, rasa syukur dan doa kepada semua pekerja yang bekerja keras siang dan malam untuk membuat pengaturan dan fasilitas ini untuk saudara-saudara. Dengan upaya mereka yang tak kenal lelah, mereka menyelesaikan semua pengaturan ini untuk membuat segalanya mudah bagi saudara-saudara dan membuat saudara-saudara nyaman tinggal di sini.

Dalam khotbah saya sebelumnya, dengan merujuk pada sebuah hadits, saya telah mengatakan kepada para pekerja bahwa Hadhrat Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kita untuk berurusan satu sama lain dengan gembira dan wajah tersenyum dan beliau sangat menekankan hal ini dan bersabda bahwa bahwa seseorang berinteraksi satu sama lain dengan wajah tersenyum dan bahagia adalah kebajikan yang besar. Oleh karena itu, perintah Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini harus dilaksanakan oleh setiap Ahmadi. Ini adalah tugas setiap tamu yang datang dan semua yang berpartisipasi dalam Jalsah ini bahwa mereka memegang perintah Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini dan berusaha sebaik-baiknya untuk mengamalkannya.

Hal ini juga tugas saudara-saudara, bahwa jika pekerja melakukan suatu kesalahan, bahwa saudara-saudara berusaha mengabaikan kekurangan tersebut dan berusaha memahami kondisi pengaturan sementara ini, dan berusaha membuat suasana lingkungan Jalsah menyenangkan, karena kedatangan saudara-saudara ke sini adalah untuk tujuan peningkatan dalam kebajikan dan ini memang harus menjadi tujuan saudara-saudara. Saudara-saudara harus datang ke sini untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala .

Demikian pula para tamu yang telah datang dan semua peserta Jalsah ini harus saling menghormati. Kadang-kadang ketika orang bertemu satu sama lain pada pertemuan besar ini, kesempatan tersebut muncul ketika, konflik dan keluhan sebelumnya yang sudah lama orang miliki, tiba-tiba menyala. Kadang-kadang ini terjadi, yang seharusnya tidak terjadi di lingkungan Ahmadi, bahwa dua pihak berdebat dan pertengkaran tersebut kadang-kadang bahkan meningkat menjadi baku hantam. Ini sangat sangat disayangkan, orang-orang seperti ini, mereka datang ke lingkungan yang suci seperti itu lalu berperilaku sedemikian buruk. Orang tersebut adalah penyebab yang mengotori lingkungan suci Jalsah. Lebih baik orang-orang seperti ini yang hatinya penuh dengan kebencian dan dendam satu sama lain, lebih baik jika orang-orang seperti ini tidak datang ke Jalsah. Dari antara mereka yang datang, jika mereka memilik perasaan sakit hati atau dendam seperti ini, maka orang tersebut harus berjanji hari ini bahwa mereka akan menghapus perasaan tersebut dari hati mereka.

Lingkungan Jalsah ini adalah lingkungan yang menyebarkan kebaikan dan lingkungan yang memperbaiki diri sendiri – dalam lingkungan suci ini jika kita memenuhi hati kita dengan kebencian dan dendam, maka tujuan datang ke sini jadi lenyap dan kehilangan maknanya sama sekali. Tujuan datang ke sini adalah supaya seseorang dapat melakukan kebajikan. Mereka yang datang ke sini harus memperhatikan tujuan yang Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam inginkan untuk kita miliki dengan datang ke Jalsah. Perhatikanlah selalu tujuan untuk menjadi pewaris dari doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam. Jadikan mendengarkan kebenaran ilahi sebagai tujuan saudara-saudara satu-satunya, dan masing-masing dari saudara-saudara harus memiliki tujuan untuk menunjukkan akhlak tertinggi selama beberapa hari ini.

Kemudian, mendengarkan dengan perhatian dan keseriusan semua pidato yang disampaikan pada Jalsah adalah tujuan lain yang sangat besar yang harus diperhatikan. Saya ingin menarik perhatian setiap orang kepada hal ini dengan kata-kata Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam sendiri. beliau bersabda: “Setiap orang harus mendengarkan dengan penuh perhatian.” Maksud beliau selama acara Jalsah. “Dengarkan dengan penuh perhatian dan renungkan apa yang saudara-saudara dengarkan dengan hati-hati karena ini ada hubungannya dengan keimanan kita, di mana kemalasan, kurangnya perhatian atau kelalaian menimbulkan akibat dan konsekuensi yang sangat buruk. Mereka yang tidak peduli terhadap hal-hal yang berhubungan dengan keimanan mereka, yang, ketika disampaikan pidato dan diberitahu beberapa hal-hal, tidak mendengarkannya dengan penuh perhatian, mereka tidak akan mendapatkan manfaat sama sekali dari pidato tersebut, tidak peduli betapapun hebat, dan berharga dan efektifnya orang yang memberikan petunjuk tersebut. Inilah orang-orang yang mengenainya dikatakan bahwa mereka memiliki telinga tetapi mereka tidak mendengar dan mereka memiliki hati tetapi mereka tidak mengerti. Jadi ingat bahwa apapun yang dikatakan harus didengarkan dengan penuh perhatian dan kepedulian, karena orang yang tidak mendengarkan dengan perhatian tidak akan memperoleh manfaat sama sekali bahkan jika ia menghabiskan waktu yang lama bersama wujud yang sangat baik.

Jadi orang-orang yang datang ke Jalsah harus tetap fokus dan memberikan perhatian hanya untuk berusaha mendapatkan manfaat yang ditujukan untuk peserta Jalsah dan mendengarkan dengan penuh perhatian jalannya Jalsah dan meninggalkan semua kekhawatiran dan keasyikan pribadi dan mendengarkan program Jalsah dalam rangka untuk membuat kemajuan dalam kerohanian saudara-saudara. Dan berusaha dan membuat manfaat ini bagian dari kehidupan sehari-hari saudara-saudara dan mensucikan hati saudara-saudara dari setiap jenis kotoran rohaniah.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam telah menyatakan dengan sangat jelas bahwa kelemahan dan kemunduran di kalangan umat Islam muncul dan menguat karena dimanapun pertemuan keagamaan berlangsung, meskipun mereka pergi ke sana dan berpartisipasi tetapi mereka tidak pergi dengan ketulusan – yakni tidak ada ketulusan dalam diri orang yang menyampaikan pidato maupun dalam diri orang-orang yang pergi untuk mendengarkan.

Tapi Jalsah kita bebas dari hal-hal seperti dan memang seharusnya seperti itu. Dengan karunia Allah, pembicara datang dengan persiapan matang dan memberikan pidato yang sangat bagus dan sebagian besar pendengar juga , dengan karunia Allah , terdiri dari orang-orang yang penuh ketulusan dan mereka datang dengan maksud memperoleh manfaat dari berkah Jalsah.

Tapi ada beberapa yang tujuannya adalah hanya untuk berkumpul dan ngobrol dan duduk-duduk. Jika ada orang-orang seperti ini, mereka perlu memperhatikan hal-hal ini sehingga lingkungan dan suasana Jalsah kita menjadi 100 persen terdiri dari orang-orang yang datang hanya demi Allah.

Jadi saya juga ingin mengatakan satu hal ini, yakni sementara acara Jalsah berlangsung ada sebagian orang yang sangat ingin untuk meneriakkan na’raas [berteriak keras menyatakan kebesaran Allah seperti nare takbir dll ] selama pidato. Dengarkanlah pidato dengan perhatian dan renungkan kata-kata yang disampaikan. Beberapa pidato sifatnya serius dan mendiskusikan topik-topik tertentu dimana tidak perlu ada yang meneriakkan na’raa pada waktu itu – kecuali jika  muncul kesempatan di mana ghairat kita benar-benar mengharuskan meneriakkan na’raa. Tapi ada beberapa orang di sini yang menjadi bersemangat pada setiap hal kecil dan besar yang dikatakan, mereka harus berhati-hati.

Para tamu juga harus ingat bahwa semua pekerja ini, semua orang yang berkomitmen untuk menkhidmati mereka, telah datang ke sini untuk mengkhidmati mereka dan membantu mereka dengan senang hati, dengan meninggalkan mata pencaharian, pekerjaan, dan tanggung jawab mereka yang lain. Jadi tolong beri mereka dukungan penuh dan bekerja samalah dengan mereka dalam setiap kesempatan. Hal ini terutama diperlukan di pos pemeriksaan keamanan. Mungkin terjadi bahwa pemeriksaan yang berulang-ulang dan memakan banyak waktu dapat menyebabkan saudara-saudara rasa tidak nyaman dan menderita, tetapi harap diingat bahwa pengaturan ini telah dilakukan untuk memastikan keamanan Saudara-saudara sendiri. Jadi mohon tahan ketidaknyamanan ini dengan sabar dan berikan kerjasama Saudara-saudara sepenuhnya kepada para pekerja.

Terkadang scanning memakan banyak waktu, juga saat saudara-saudara sendiri atau barang-barang saudara-saudara sedang dipindai harap jalani semua proses dengan sabar.

Demikian juga situasi mengenai sistem kontrol lalu lintas. Meskipun kita berusaha memperbaiki hal ini setiap tahun dan saya yakin bahwa banyak perbaikan telah dicapai tahun ini juga, tapi beberapa kekurangan masih tetap ada. Kadang-kadang orang yang tiba, karena mereka tidak tahu di mana mereka harus pergi, atau karena mereka tidak memiliki izin parkir yang benar, dan kadang-kadang hanya karena sangat terburu-buru, banyak waktu habis, dan muncul kesulitan dan kadang-kadang bahkan bisa memakan waktu beberapa jam.

Jadi sebagaimana para pekerja berusaha untuk melayani Saudara-saudara dengan tenang dan sejuk, kepercayaan, demikian juga para tamu harus memeberikan kerja sama penuh dengan ketenangan, kesejukan dan kepercayaan yang sama. Bahkan jika ada satu orang yang membuat kekacauan, timbul antrian yang panjang sebagai akibatnya. Bahkan jika seorang pemilik mobil membuat keributan, muncul barisan panjang di belakangnya, jadi setiap orang harus menyadari bahwa mereka hendaknya tidak menjadi sumber kesulitan bagi siapa pun.

Saya berbicara tentang keamanan sebelumnya. Setiap peserta dalam Jalsah harus menyadari bahwa ia harus mengawasi lingkungannya. Jangan merasa puas bahwa sekarang ada begitu banyak pemeriksaan yang berjalan dan sistem yang sangat luas telah disiapkan, sehingga tidak perlu khawatir tentang apa pun, jadi kita tidak perlu mengawasi lingkungan kita. Seorang mukmin sejati, selalu sadar, waspada dan siap, jadi selalu ada kebutuhan untuk mengawasi lingkungan kita. Pengaturan keamanan yang dibuat oleh Jemaat Ahmadiyah efektif karena setiap orang memahami tanggung jawabnya, dan memang perlu memahaminya.

Hal penting lain adalah bahwa kita harus mengerjakan semua shalat kita dan datang sebelum waktunya untuk mengerjakan shalat atau setidaknya tiba beberapa menit sebelum shalat dimulai. datang saat shalat sudah mulai mengganggu orang-orang yang sedang mengerjakan shalat. Ini juga menimbulkan kebisingan terus-menerus.

Kemudian, meskipun saya pikir panitia telah mengumumkan tentang hal ini, saya akan mengatakan sesuatu tentang hal itu juga, Bendera Ahmadiyah dikibarkan, banyak sekali peserta yang meninggalkan tenda untuk menyaksikan upacara ini dan bergabung dalam doa yang dipanjatkan pada saat itu dan kemudian orang-orang ini kembali ke tenda .

Hampir sepertiga peserta melakukan hal ini, dan kemudian ketika mereka kembali, ini membutuhkan waktu yang akibatnya terjadi keterlambatan 10 sampai 15 di awal acara. Jadi sekarang telah diputuskan bahwa setiap orang akan tetap duduk di tenda kecuali orang-orang yang telah diminta oleh panitia untuk keluar dan menonton upacara pengibaran bendera Ahmadiyah pada layar besar (big screen) dan bergabung dalam doa-doa yang dipanjatkan di kesempatan itu sehingga menghemat waktu dan acara dapat dimulai tepat waktu.

Kondisi kebersihan tempat Jalsah selama penyelenggaraan Jalsah memiliki dampak yang besar pada orang-orang luar yang datang dan banyak dari mereka berbicara tentang hal ini dan menyebutkannya. Jadi setiap orang juga harus memberikan perhatian yang semestinya pada hal ini. Ini bukan hanya tugas para pekerja yang telah ditugaskan untuk pekerjaan ini. Setiap orang dari saudara-saudara harus memperhatikan kebutuhan penting ini. Jika setiap orang melakukan ini dan kapanpun mereka melihat sampah, piring, serbet, sendok, kertas, plastik dll mereka harus mengambilnya dan meletakkannya di tempat sampah. Dengan cara ini, selain Saudara-saudara akan membantu menjaga tempat Jalsah bersih, saudara-saudara juga akan mendapatkan pahala di sisi Allah dan bagaimanapun Hadhrat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda bahwa kebersihan adalah sebagian dari iman.

Jika seseorang melihat tas besar yang tampak mencurigakan, maka daripada menyentuhnya Saudara-saudara harus menunjukkannya kepada petugas terdekat, adalah tugas mereka untuk mengurus menyingkirkannya dari tempat itu.

Dalam khotbah sebelumnya saya telah menyebutkan bahwa sekarang, dengan karunia Allah, suatu Langar (Khana) permanen Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam telah dibangun disini, di Hadeeqatul Mahdi untuk tujuan melayani kebutuhan Jalsah. Sebuah mesin roti sudah dipasang, dan sampai sekarang, dengan karunia Allah Ta’ala, roti yang baik sedang dibuat. Memang benar bahwa kadang-kadang kualitas roti sedikit kurang dari apa yang seharusnya. Jadi hal pertama dalam hal ini yang perlu dikatakan adalah bahwa kita harus menanggung ini dengan penuh kesabaran. Tapi jika tidak bisa dimakan maka, Saudara-saudara hendaknya, dengan segala cara, memberitahu panitia, dan mereka (panitia) hendaknya tidak marah begitu diberitahu.

Biasanya roti yang dibuat di sini mencapai tamu sekitar lima sampai enam jam setelah keluar dari mesin, karena dalam pekerjaan yang demikian besar sangat sulit untuk menyediakan roti yang benar-benar baru dibuat untuk semua orang. Namun demikian, laporan yang diterima sampai saat ini menunjukkan bahwa semua orang menyukai roti yang diberikan kepada mereka untuk makan. Semoga Allah memberkati mesin roti ini untuk terus berfungsi dengan baik dan para tamu tidak mengalami kesulitan, tidak pula menyebabkan panitia merasa khawatir.

Bagaimanapun, saya ingin menyebutkan di sini, bahwa dalam khotbah terakhir saya telah menyebutkan mengenai roti yang disajikan di Jerman selama Jalsah mereka dan saya telah mengatakan bahwa mereka biasanya segera merespon pertanyaan seperti ini, dan seperti yang diharapkan jawaban mereka sudah ada malam itu juga. Mereka mengatakan bahwa roti mereka selalu segar dan disiapkan hanya lima atau enam jam (sebelumnya). Namun, secara bersamaan, saya telah mendapat faks dari seorang wanita yang menyatakan bahwa, “Anda telah mengatakan dengan benar bahwa roti mereka basi dan tidak layak dimakan.” Saya pikir ada kedua pihak ini melebih-lebihkan. Rotinya tidak begitu basi dan cukup layak untuk dimakan, dengan karunia Allah, jadi para tamu juga harus belajar untuk menanggung hal-hal seperti. Saya telah menyebutkan hal ini supaya panitia tahu, dan saya menduga mereka semua sudah tahu, bahwa setiap hal kecil yang terjadi, diperhatikan oleh anggota dan dan mereka sampaikan kepada saya.

Hal umum lainnya yang dikatakan kepada semua tamu hampir setiap tahun, tapi sekarang hal-hal spesifik tertentu sudah mulai terjadi dan muncul ke permukaan, jadi saya ingin mengatakan hal ini, terutama tahun ini, bahwa visa yang Pemerintah Inggris berikan untuk Jalsah biasanya diberikan selama enam bulan dan visa itu biasanya mendapat cap  double atau multiple entry, dan visa Jalsah diberikan dengan pemikiran atau dengan syarat, bahwa visa ini tidak akan digunakan untuk tujuan suaka. Ketika kita mendapatkan visa bagi perwakilan Jemaat kita,  sudah dipahami bahwa para pejabat ini tidak akan menggunakan visa ini untuk tujuan semacam itu (suaka).

Tahun ini, beberapa pejabat Jemaat tidak mendapat visa dan ketika kami menghubungi pejabat pemerintah, dan meskipun mereka menerima permintaan kami dan memberikan mereka visa, namun mereka mengeluh bahwa ada satu atau dua orang yang melakukan hal ini dan bahwa ada banyak orang lain yang datang dengan visa Jalsah dan kemudian menggunakannya untuk tujuan suaka, bertentangan dengan persetujuan. Mereka memanfaatkan double entry dan meskipun mereka pergi, tapi kemudian mereka kembali dengan memanfaatkan double entry dan kemudian mencari suaka.

Kami telah berusaha meredakan kekhawatiran para pejabat dan dengan karunia Allah Ta’ala, visa ternyata telah diberikan juga, tetapi kita harus menghadapi beberapa kesulitan dan kekhawatiran, dan kita harus menderita hal ini karena ada banyak yang mendapatkan visa ini dengan maksud menggunakannya untuk tujuan suaka. Meskipun orang semacam ini ditindak oleh Jemaat, dan hukuman diberikan, tapi tetap saja nama baik Jemaat rusak dan setiap Ahamdi harus berhati-hati tentang hal ini. Dan orang-orang yang dengan tulus dan murni ingin datang hanya untuk berpartisipasi dalam Jalsah dan hanya memiliki niat seperti itu, perilaku orang lain ini menjadi kendala bagi orang-orang yang bermaksud murni.

Tidak diragukan lagi bahwa keadaan Pakistan adalah sedemikian rupa sehingga para Ahmadi menjalani kehidupan mereka di bawah kesulitan besar. Mereka dianiaya di tempat-tempat kerja mereka. Pemilik, meskipun puas dengan pekerjaan seorang karyawan Ahmadi, kadang-kadang memecat mereka hanya karena takut pada para pekerja lain atau para mullah setempat, dan jika mereka tidak dipecat mereka terus-menerus disiksa dan mereka harus menderita berbagai caci-maki oleh rekan kerja mereka. Mereka menggunakan kata-kata tidak senonoh dan tidak pantas mengenai Pendiri Jemaat Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam dan menjadi sangat sulit untuk mentolerir dan menanggung caci-maki semacam ini, dan sebagian terpaksa meninggalkan pekerjaan mereka karena hal-hal seperti ini.

Ada banyak Ahmadi yang memiliki bisnis sendiri atau mereka memiliki toko sendiri. Para Ahmadi tersebut secara terbuka diejek dan nama baik mereka difitnah dan orang-orang diberitahu hal-hal dusta bahwa mereka adalah orang-orang yang ingin merendahkan kedudukan luhur Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bahwa mereka tidak mengakui beliau sebagai Khataman Nabiyyiin (meterai/segel para nabi). Kenyataannya, tentu saja, adalah bahwa Ahmadiyah-lah yang memiliki pengetahuan dan kesadaran terbesar akan makna sejati dan keluhuran Khataman Nabiyyiin dan mengangggap setiap orang yang tidak mengakui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai Khataman Nabiyyiin sebagai orang kafir. Tanpa adanya keyakinan ini, Jemaat Muslim Ahmadiyah tidak memiliki dasar.

Kemudian, di sekolah , anak-anak Ahmadi harus menghadapi segala macam kesulitan dan kekerasan mental.

Jadi meskipun adanya semua kesulitan ini, setiap Ahmadi harus memberikan perhatian yang semestinya terhadap nama baik Jemaat Muslim Ahmadiyah dalam segala situasi dan kondisi. Jika seseorang harus mencari suaka karena keadaan mereka maka ada banyak cara lain untuk mendapatkannya. kapanpun, dan jika Saudara-saudara ingin datang ke sini untuk itu, lakukanlah. Tapi saya akan mengulangi, dan saya telah mengatakan hal ini pada banyak kesempatan sebelumnya, dan saya akan mengatakannya lagi, bahwa ketika Saudara-saudara datang dan mengajukan permohonan suaka tidak perlu memberikan pernyataan palsu dan panjang lebar. justru, pernyataan singkat yang didasarkan sepenuhnya pada kebenaran adalah yang terbaik. Sebagian besar petugas di sini dan hakim juga, memiliki sudut yang sangat lembut dalam hati mereka untuk simpati manusia – mereka sangat  bersimpati kepada kemanusiaan dan menerima permohonan suaka.

Ada beberapa orang yang keras kepala dan jika mereka sudah memutuskan untuk tidak bergerak maka sulit untuk membuat mereka bergerak atau berubah pikiran. Tapi ini adalah orang-orang yang tidak akan mempertimbangkan kembali bahkan jika suatu cerita diada-adakan dan disampaikan kepada mereka. Mereka tetap tak tergerak. Tapi Ahmadi menjadi berdosa karena membuat pernyataan yang salah dan palsu. Jadi kita harus mengusahakan yang terbaik untuk mengatakan kebenaran dan mengatakannya sesingkat mungkin, dan sampaikan semua penyiksaan ini yang Ahmadiyah harus menderita. Tidaklah mesti bahwa ada ancaman langsung terhadap saudara-saudara untuk diberi suaka. Saudara-saudara dapat diberi suaka bahkan tanpa ada ancaman langsung. Jadi, jika saudara-saudara mendasarkan permohonan suaka Saudara-saudara diatas kebenaran, maka dengan karunia Allah Ta’ala, kasus ini akan terus menang.

Jadi bagaimanapun, adalah tanggung jawab kita, kita semua dan terutama bagi kita yang tinggal di luar Pakistan supaya mendoakan para Ahmadi yang menjalani kehidupan mereka dalam kondisi yang serba kekurangan dan sulit, semoga Allah Ta’ala dapat menghilangkan kesulitan mereka dan dan memberikan segala sarana kepada mereka .

Semoga Allah Ta’ala, melimpahkan berkah Jalsah kepada semua orang yang telah datang untuk menghadiri Jalsah tersebut. Semoga Allah menerima doa semua orang yang datang dari tempat jauh untuk bergabung dalam Jalsah ini . Mereka yang menunggu untuk datang dan berharap untuk datang tetapi tidak mendapat visa, semoga Allah menerima niat suci mereka dan mengabulkan doa-doa mereka dan mengabulkan doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud untuk mereka .

Pada akhirnya saya menyampaikan pernyataan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersabda bahwa :

Kebaikan harus dilakukan semata-mata dengan alasan supaya Allah Ta’ala senang dengannya dan kita bisa memenangkan keridhaan-Nya dan agar perintah-Nya dapat terpenuhi . Seseorang hendaknya tidak memikirkan sama sekali, apakah itu melakukan kebaikan itu akan menarik pahala dari Allah atau tidak. Iman kita baru sempurna ketika ketika keraguan ini , kekhawatiran ini hilang dari pikiran kita .

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam bersbda bahwa keimanan kita akan menjadi sempurna ketika kita melakukan perbuatan baik semata-mata demi meraih keridhaan Allah, dan melupakan, serta sama sekali tidak peduli dengan apakah perbuatan baik kita menarik pahala dari Allah atau tidak.

Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam selanjutnya  bersabda bahwa :

Meskipun benar bahwa Allah tidak menyia-nyiakan perbuatan baik seseorang, seperti yang difirmankan: اِنَّ اللّٰہَ  لَا یُضِیۡعُ  اَجۡرَ  الۡمُحۡسِنِیۡنَ

Sesungguhnya, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik. (9:121), tetapi orang yang melakukan perbuatan baik hendaknya tidak memperhatikan pahala yang diteima perbuatan baik itu dari Allah. Dengar, jika tamu datang semata-mata untuk alasan bahwa ia akan diberikan kenyamanan dan minuman manis dingin, maka ia sebenarnya datang untuk hal-hal itu; meskipun itu adalah tugas tuan rumah bahwa, sejauh mungkin dan sejauh kemampuannya, ia ia tidak melewatkan satu usahapun untuk melayani setiap kebutuhan tamu dan melakukan semua yang ia bisa untuk memberikan tamunya segala kenyamanan yang dia bisa – dan ini dilakukan, tetapi, bagi tamu, berpikir demikian menyebabkan dirinya merugi .

Jadi para tamu dan tuan rumah perlu memperhatikan seperti apa motif dan niat mereka.

Semoga tuan rumah juga mendapat taufik untuk melaksanakan tanggung jawab mereka dan mereka melakukannya dengan tujuan semata-mata meraih keridhaan Allah, dan semoga para tamu menjadi orang yang ikut berpartisipasi dalam Jalsah murni demi Allah saja dan mereka tidak mencampurkan tujuan atau motif pribadi dengan niat murni datang semata-mata demi Allah ini.

Penerjemah               : Mln. Fadhal Ahmad Nuruddin

Editor                         : Dildaar Ahmad, Editor Khotbah Jumat Jemaat Indonesia

Referensi                    : www.alislam.org